Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

1.27.2026

[Part 4] Cam on Vietnam : Eksplor Kota Ho Chi Minh (1) !

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Berpose di pusat kota Ho Chi Minh City. Jujur aku lebih senang foto di jalanan random begini daripada di tempat wisatanya.. hehehe..Berasa lebih autentik.


Ho Chi Minh City, 3 Februari 2023


Hoahmmmm…
Pagi pertama di Ho Chi Minh City akhirnya menyapa.

Aku bangun dengan perasaan cukup ringan—syukurlah, semalam tidurnya enak. Ada rasa yang familiar tapi juga hangat. Aku kembali ke kota ini setelah terakhir kali ke sini di 2017 bersama dua teman kerjaku, Ega dan Ganjar. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar, dan entah kenapa, Saigon tetap terasa seperti Saigon yang aku ingat. Kotanya ramai, hidup, dan nggak pernah benar-benar diam. Terbukti semalam kan di Bui Vien Street. Hehehe..

Rencana hari ini cukup simpel. Eksplor Kota Ho Chi Minh City. Dimulai dari dua ikon paling terkenal di kota ini, Saigon Central Post Office dan Notre-Dame Cathedral Basilica of Saigon. Sebenarnya aku sudah pernah ke sini tahun 2017. Tapi selain faktor nostalgia, travelmate-ku belum pernah sama sekali mengunjungi tempat ini. Dan menurutku, kalau ke Ho Chi Minh City untuk pertama kali, rasanya belum lengkap kalau belum mampir ke dua spot ini.

Pagi kami awali dengan sarapan sederhana di penginapan. Kami masak nasi dan sup dari sayur-sayuran yang kemarin dibeli di pasar menggunakan rice cooker andalan. Salah satu hal yang aku suka dari traveling agak lama begini adalah masak sendiri. Lebih hemat dan simpel. Apalagi penginapan kami kebetulan dekat pasar, jadi sayur segar gampang banget didapat.

Setelah sarapan dan beberes sebentar, kami jalan ke halte dan naik bus kota menuju pusat Ho Chi Minh City. Transportasi umum di kota ini menurutku cukup oke, murah, dan gampang dipahami kalau sebelumnya sudah sedikit riset. Perjalanan menuju pusat kota terasa santai, lalu lintas ramai tapi masih khas kota besar Asia Tenggara.

Tak lama kemudian, kami tiba di depan Saigon Central Post OfficeBegitu melihat bangunannya, aku langsung kelempar ke memori tahun 2017. Gedung ini memang ikonik banget. Arsitekturnya bergaya kolonial Prancis, megah tapi tetap elegan. Kantor pos ini dibangun pada akhir abad ke-19, sekitar tahun 1886–1891, saat Vietnam masih berada di bawah pemerintahan kolonial Prancis. Banyak orang menyebut bangunan ini dirancang oleh Gustave Eiffel—arsitek di balik Menara Eiffel—meskipun sampai sekarang hal itu masih jadi perdebatan sejarah.

Masuk ke dalam, suasananya langsung terasa historikal. Langit-langitnya tinggi dan melengkung, dengan rangka besi besar yang mengingatkanku pada stasiun kereta tua di Eropa. Di dinding kiri dan kanan terpampang peta-peta besar bergaya lama yang menggambarkan jaringan pos dan telegraf Vietnam pada masa kolonial. Rasanya seperti masuk ke lorong waktu.

Di bagian dalam, ada potret besar Ho Chi Minh yang tergantung di dinding utama. Sosok yang sangat dihormati di Vietnam, bapak bangsa yang memimpin perjuangan kemerdekaan dan menjadi simbol persatuan nasional. Potret ini bukan sekadar pajangan, tapi penanda bahwa gedung kolonial ini kini menjadi bagian dari identitas Vietnam modern.

Aktivitas di dalam kantor pos cukup beragam. Masih berfungsi sebagai kantor pos aktif—orang bisa mengirim surat, kartu pos, atau paket—tapi di sisi lain juga jadi tempat wisata. Banyak turis membeli kartu pos, perangko, hingga souvenir khas Vietnam. Ada juga peta-peta tua Indochina yang dipajang di dinding, bikin suasananya terasa seperti kembali ke masa lalu. Aku sendiri lebih banyak menikmati suasananya, mondar-mandir, dan tentu saja… foto-foto.

Dari kantor pos, kami tinggal menyeberang sedikit menuju Notre Dame Cathedral Basilica of Saigon. Sayangnya, kami agak kecewa karena bagian menaranya sedang direnovasi. Jadi tampilannya tertutup perancah. Tapi ya sudahlah, its okay, its fine. Bangunannya tetap cantik.

Gereja ini dibangun pada akhir abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Prancis, seluruh materialnya bahkan didatangkan langsung dari Prancis—mulai dari bata merah hingga kaca patri. Nama “Notre Dame” sendiri berarti Our Lady atau Bunda Maria, merujuk pada Perawan Maria, sosok penting dalam tradisi Katolik. Di halaman depan gereja juga terdapat patung Bunda Maria yang jadi salah satu titik perhatian pengunjung. Suasana di sekitar gereja cukup ramai. Banyak turis lalu lalang, pasangan foto prewedding, dan tentu saja pedagang kaki lima yang menawarkan souvenir, kipas, topi, hingga kartu pos. Kami hanya foto-foto di bagian depan gereja dan tidak masuk ke dalam, lalu lanjut berjalan kaki menyusuri kota.

Saat berjalan, aku makin sadar betapa kuatnya simbol ideologi di kota ini. Banyak sekali bendera merah dengan bintang kuning, dan juga simbol palu arit yang terpampang di berbagai sudut kota. Bendera merah melambangkan revolusi dan perjuangan, bintang kuning melambangkan persatuan rakyat Vietnam. Semua ini mengingatkan bahwa Vietnam adalah negara sosialis, dan Ho Chi Minh City—meski modern dan ramai—tetap sangat kental dengan identitas politik dan sejarahnya.

Di titik ini, udara siang mulai terasa semakin panas. Matahari terik, keringat mulai bercucuran. Tapi anehnya, itu sama sekali tidak menyurutkan niat kami. Justru eksplor kota seperti ini yang bikin perjalanan terasa hidup. Jalan kaki, berhenti sebentar buat foto, melihat bangunan-bangunan tua berdampingan dengan gedung modern—semuanya menyenangkan.

Lalu lintas Ho Chi Minh City juga khas banget. Motor ada di mana-mana. Menyeberang jalan di sini butuh keberanian dan ketenangan. Nggak bisa ragu-ragu. Jalan pelan, konsisten, dan percaya bahwa pengendara motor akan menghindar. Ajaib tapi nyata. Aku sendiri suka berhenti sebentar di tengah kota, sekadar mengamati hiruk-pikuknya, lalu mengabadikannya lewat kamera.

Kami kemudian melewati area People’s Committee Building (Ho Chi Minh City Hall)—bangunan bergaya kolonial Prancis yang megah dengan detail ornamen yang rumit. Bangunan ini dulunya balai kota di masa kolonial, dan sekarang digunakan sebagai kantor pemerintahan kota. Di depannya ada taman rapi dan patung yang jadi landmark penting kota.

Tak jauh dari situ, kami sampai di sebuah taman luas dengan patung Ho Chi Minh berdiri tegap di tengahnya. Patung ini menggambarkan Ho Chi Minh sedang melambaikan tangan, simbol kedekatannya dengan rakyat. Jasanya bagi Vietnam luar biasa besar—memimpin perjuangan kemerdekaan, menyatukan Vietnam Utara dan Selatan, dan menjadi fondasi berdirinya Republik Sosialis Vietnam. Patung ini bukan sekadar monumen, tapi simbol penghormatan nasional.

Dari situ, kami lanjut masuk ke sebuah museum—Museum of Ho Chi Minh City. Di dalam museum, suasananya langsung berubah jadi lebih hening. Lampu temaram, lorong-lorong panjang, dan deretan kaca etalase bikin langkah otomatis melambat. Di balik kaca-kaca itu, tersimpan potongan-potongan kecil dari sejarah  Vietnam—bukan dalam bentuk cerita heroik yang berisik, tapi lewat benda-benda sederhana yang pernah dipakai manusia sungguhan.

Di dalam, kami disambut panel-panel yang menceritakan perkembangan kerajinan tradisional: mulai dari seni keramik, perhiasan, hingga ukiran kayu. Ada vas-vas tua, peralatan produksi sederhana, dan diorama para pengrajin yang digambarkan sedang bekerja dengan penuh ketelitian. Semua ditata rapi, seolah ingin menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari masyarakat juga merupakan bagian penting dari sejarah bangsa.

Semakin masuk ke dalam, nuansanya berubah. Di bagian lain museum, kisah Vietnam disajikan lewat benda-benda yang jauh lebih sunyi tapi terasa berat. Ada alat-alat pertukangan lama, lonceng perunggu, cap-cap kayu, hingga alat hitung tradisional—jejak sistem sosial dan ekonomi di masa lampau. Lalu kami tiba di bagian yang menampilkan masa perang. Seragam tentara, tas ransel, perlengkapan logistik, botol air, hingga alat komunikasi tua dipajang di balik kaca. Semuanya terlihat sederhana, bahkan terkesan kasar, tapi justru di situlah terasa betapa kerasnya perjuangan yang pernah dijalani.

Salah satu sudut yang paling membuatku terdiam adalah etalase berisi barang rampasan perang dan foto-foto hitam putih dari hari jatuhnya Saigon. Sepatu-sepatu tentara yang ditinggalkan di jalan, alat komunikasi militer, dan bendera—semuanya menjadi saksi bisu sebuah momen besar dalam sejarah Vietnam. Tidak ada narasi berlebihan, tidak ada dramatisasi. Benda-benda itu dibiarkan berbicara sendiri.

Ada tas ransel lusuh, pakaian lapangan, peralatan dapur darurat, sampai senjata rakitan yang terlihat jauh dari kata canggih. Justru di situ aku berhenti lama. Sulit membayangkan bagaimana orang-orang bisa bertahan hidup, berperang, dan bergerak di tengah hutan dengan perlengkapan sesederhana itu. Semua tampak kasar, berat, dan penuh bekas pemakaian—seolah benda-benda ini masih menyimpan sisa-sisa kelelahan pemiliknya.

Di sudut lain, terpajang berbagai jenis senjata, granat, dan amunisi dari era perang. Bukan untuk mengagungkan kekerasan, tapi sebagai pengingat betapa brutal dan dekatnya perang dengan kehidupan sehari-hari saat itu. Di atasnya, foto-foto hitam putih menampilkan wajah-wajah para pejuang—bukan wajah pahlawan di poster, tapi wajah manusia biasa: lelah, tegang, dan sangat muda.

Aku berjalan pelan dari satu panel ke panel lain, membaca keterangan singkat, lalu menatap fotonya lagi. Banyak adegan yang memperlihatkan perang bukan sebagai pertempuran besar, tapi sebagai rutinitas: bersembunyi, menunggu, menyusuri parit, dan bertahan hidup hari demi hari. Rasanya sunyi, tapi berat.

Udara siang di luar memang semakin panas, tapi di dalam museum waktu terasa seperti melambat. Eksplor kota dengan cara seperti ini selalu menyenangkan buatku—karena bukan cuma melihat bangunan atau tempat ikonik, tapi juga mencoba memahami lapisan sejarah yang membentuk kota itu sendiri. Ho Chi Minh City bukan hanya tentang motor, kafe, dan hiruk-pikuk jalanan, tapi juga tentang cerita panjang yang masih berjejak rapi di ruang-ruang seperti ini.

Setelah keluar dari museum, panas matahari langsung menyambut lagi. Tapi langkah kami terasa lebih mantap—seolah barusan diajak berhenti sejenak, mengingat, lalu melanjutkan perjalanan dengan sudut pandang yang sedikit berbeda.

Selesai eksplor museum yang meninggalkan kesan cukup emosional, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 14.30. Perut mulai protes minta diisi, sementara kepala masih agak penuh oleh cerita-cerita perang yang barusan kami lihat. Kami sempat bengong sebentar di luar museum, mikir mau makan apa. Jujur saja, soal makanan lokal Vietnam saat itu kami masih agak buta—nama menunya asing, cara pesannya juga belum terlalu paham. Akhirnya, dengan sedikit rasa bersalah pada diri sendiri, kami menyerah pada pilihan paling aman: KFC.

Pesan nasi ayam lengkap dengan es krim. Mungkin terdengar banal, tapi di siang Ho Chi Minh City yang panas dan lembap, suapan ayam hangat lalu disusul dinginnya es krim terasa cukup menenangkan. Setidaknya perut kenyang, kepala jadi sedikit lebih ringan.

Karena waktu masih sekitar jam 3 sore, kami sepakat untuk lanjut eksplor. Kali ini tujuannya berbeda: wihara. Kami berjalan ke halte bus terdekat. Perjalanan cukup panjang, harus transit satu kali, dan hampir sepanjang jalan telinga ditemani suara klakson yang seolah nggak pernah berhenti. Bus membelah Ho Chi Minh City dengan ritme khasnya—ramai, padat, dan sedikit semrawut tapi hidup.

Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di tujuan. Begitu turun dari bus, suasana langsung terasa berbeda. Hiruk-pikuk jalanan perlahan tergantikan oleh ketenangan halaman wihara. Di depan, berdiri patung Dewi Kwan Im (Guanyin) berwarna putih, anggun dan tenang, menghadap ke arah halaman luas. Patung ini seolah jadi penjaga pertama, menyambut siapa pun yang datang dengan ekspresi damai. Di sekelilingnya, burung-burung merpati berkeliaran bebas, mematuk sisa makanan di tanah, menambah kesan hidup namun tetap teduh.

Di halaman wihara, mataku tertarik pada sebuah pohon jeruk yang unik. Buah-buah jeruknya dibungkus plastik bening dan diikat pita merah. Rupanya ini adalah simbol doa dan harapan—jeruk dianggap membawa keberuntungan dan kemakmuran, sementara pita merah melambangkan berkah dan perlindungan. Detail kecil seperti ini selalu bikin aku berhenti lebih lama, karena terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Kami lalu melangkah masuk ke aula utama. Awalnya sempat sungkan, takut mengganggu. Tapi setelah diberi isyarat bahwa pengunjung diperbolehkan masuk, kami melepas sepatu dan berjalan pelan. Di dalam, suasananya hening dan sakral. Beberapa warga lokal duduk bersila, melantunkan doa dan chanting dengan suara pelan dan ritmis. Aku tidak mengerti kata-katanya, tapi iramanya menenangkan. Ada sesuatu yang menenangkan dari duduk diam di sana, mendengarkan suara doa yang berulang-ulang, apalagi setelah siang yang cukup emosional di museum.

Kami tidak lama di dalam aula. Setelah itu, kami keluar dan berkeliling ke bagian samping wihara. Di salah satu sudut, tergantung sebuah lonceng besar. Permukaannya sudah tampak tua, warnanya kusam, tapi justru itulah yang membuatnya terasa punya usia dan cerita. Angin sore berembus pelan, dan sesekali lonceng itu bergerak sedikit, meski tanpa bunyi keras. Rasanya seperti jeda yang sempurna—sebuah penutup tenang setelah hari yang penuh suara, cerita, dan langkah kaki.

Setelah puas mengelilingi semua bagian wihara, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. Waktu sudah semakin sore, dan tenaga juga mulai terasa terkuras. Perjalanan pulang kembali diisi dengan bus dan deru klakson khas Ho Chi Minh City, tapi kali ini rasanya lebih kalem—mungkin karena badan sudah benar-benar minta istirahat.

Malam itu kami memilih untuk tidak ke mana-mana. Tidak ada jalan malam, tidak ada nongkrong, tidak ada eksplor tambahan. Kami menghabiskan waktu di kamar saja, rebahan, membiarkan kaki yang seharian dipaksa berjalan akhirnya beristirahat. Setelah hari yang cukup panjang—dari museum yang emosional, makan siang sederhana, sampai wihara yang tenang—rasanya pilihan paling bijak memang berhenti.

Besok, perjalanan akan berlanjut. Hari kedua eksplor Ho Chi Minh City masih menunggu, dan masih ada beberapa tempat menarik yang rasanya sayang kalau dilewatkan. Untuk malam ini, cukup istirahat. Kota ini sudah memberi banyak cerita untuk satu hari saja.


Part Selanjutnya : DISINI

1.26.2026

[1] KENYA - TANZANIA 2026 : Kurasa Ini Saatnya AFRIKA !

Awal Januari 2026..

Seperti rutinitasku setiap tahun, saat libur Idul Fitri, aku selalu merencanakan satu perjalanan jauh. Ini adalah semacam ritual pribadiku. Karena pekerjaanku sebagai freelancer yang berhubungan erat dengan birokrasi dan kantor pemerintahan, libur Idul Fitri adalah satu-satunya waktu di mana 'dunia' benar-benar berhenti mengejarku. Tak ada WA dan dering telepon dari klien, tak ada deadline yang membayangi, dan tak ada jadwal presentasi dadakan yang merusak rencana. Di saat semua kantor tutup, itulah saatnya aku benar-benar bebas. Untuk perjalanan setahun sekali ini, aku selalu mempertimbangkan mengunjungi tempat yang unik, tempat tidak biasa yang memacu andrenalinku. Tahun lalu (2025) aku mengunjungi China dan Tibet, perjalanan yang cukup menguras tenaga dan dana, tapi juga meninggalkan kesan yang sangat dalam. Seperti biasa, karena ini sudah mendekati libur idul fitri, pertanyaan yang sama selalu datang lagi di kepalaku: tahun ini kemana?

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, pertanyaan itu tidak langsung punya jawaban. Bahkan, aku sempat mempertimbangkan sesuatu yang jarang kulakukan yaitu tidak ke luar negeri di liburan Idul Fitri 2026 ini. Dalam hati aku berpikir, apa tahun ini gausah jauh-jauh ya... Mungkin tetap traveling, tapi cukup di dalam negeri saja. Indonesia juga luas, dan jujur saja masih banyak bagian yang belum pernah kueksplor secara detail.

Pikiranku sempat tertuju kuat ke Pulau Kalimantan, pulau terbesar kedua di Indonesia yang belum pernah kuinjak satu kalipun. Ada sesuatu dari pulau itu yang sejak lama membuatku penasaran. Ada hutan, sungai, desa-desa, dan kehidupan pedesaan yang terasa lebih pelan. Ada Derawan dengan laut jernihnya dan ubur-ubur Kakaban yang berenang tenang tanpa menyengat. Ada Taman Nasional Tanjung Puting dengan sungai panjang, klotok yang berjalan pelan, dan orangutan di habitatnya. Rasanya kok menarik jika semua itu dieksplor tanpa buru-buru. Di titik itu, rencana untuk tetap di Indonesia terasa masuk akal. Lebih dekat, lebih sederhana, dan tidak membuatku pusing berlebihan untuk persiapannya. Bahkan aku sudah hampir membeli tiket Surabaya–Tarakan, kota di Kalimantan Utara tempatku berencana memulai perjalanan.

Namun, sembari memantapkan hati, hampir setiap hari aku membuka kembali blog ini.

Aku membaca ulang cerita-cerita perjalanan yang pernah kutulis. Satu per satu. Dari tulisan lama yang masih canggung ketika pertama kali aku ke luar negeri (Thailand), sampai cerita yang kutulis dengan lebih jujur dan utuh. Aku melihat lagi daftar negara dan kota yang pernah kukunjungi. Tempat-tempat yang dulu terasa begitu jauh, tidak terjangkau, namun aku sudah menapakkan kaki disana. Tanpa kusadari, aku berhenti cukup lama di sana.

Dan tiba-tiba aku sadar satu hal.

Inilah warisan hidupku.

Bukan harta, bukan pencapaian yang bisa dipamerkan, tapi cerita. Pengalaman. Jejak langkah yang benar-benar kujalani. Aku telah mengunjungi banyak tempat, pikirku saat itu, dan aku sedikit terharu. Bukan karena sedih, bukan pula karena bangga berlebihan, tapi karena semuanya berawal dari mimpi. Dari keinginan kecil yang dulu bahkan terasa mustahil.

Di momen itulah aku berkata dalam hati...

aku ingin membuat lebih banyak memori lagi....

Kenapa tidak ya? Pikirku lagi. Selama badanku masih kuat, selama kakiku masih sanggup melangkah, dan selama danaku masih aman, aku ingin membuat lebih banyak memori, terutama di tempat-tempat yang terasa sulit. Inilah juga alasan kenapa aku memilih Tibet sebagai salah satu tujuanku di tahun 2025. Tibet, seperti kita tahu, mendapat julukan "ATAP DUNIA" berada di ketinggian antara 3.600–5.200 mdpl, sebuah elevasi yang sanggup membuat napas terasa pendek dan jantung berdegup lebih kencang hanya karena aktivitas sepele karena minimnya oksigen.

Pegunungan Himalaya dari Tibet (lokasi foto : Jalanan antara Everest Base Camp ke Shigatse). Ketinggian disini sekitar 4500 - 5000 mdpl sehingga membutuhkan fisik yang prima.

Di perjalanan itu, aku membuktikan sendiri bahwa Tibet bukan sekadar destinasi visual, tapi juga ujian ketahanan. Berada di “Atap Dunia” dengan kadar oksigen yang tipis, aku benar-benar menyadari batas tubuhku, dan ternyata tubuhku jauh lebih kuat dari yang kubayangkan. Selama di sana, aku tidak merasakan gejala altitude sickness sama sekali, sesuatu yang awalnya cukup aku khawatirkan. Ada rasa bangga tersendiri menyadari hal itu. Dan justru karena kondisi ekstrem itulah, setiap momen terasa semakin berkesan. Saat memandang jajaran pegunungan salju yang agung, rasa lelah seolah menguap begitu saja, berganti dengan rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Pegunungan Himalaya dari Tibet (lokasi foto : Jalanan antara Everest Base Camp ke Shigatse). Ketinggian disini sekitar 4500 - 5000 mdpl sehingga membutuhkan fisik yang prima.

Pegunungan Himalaya dari Tibet (lokasi foto : Jalanan antara Everest Base Camp ke Shigatse). Ketinggian disini sekitar 4500 - 5000 mdpl sehingga membutuhkan fisik yang prima.

Bayangkan jika aku terus berpikir, “ah, nanti saja mengunjungi A, nanti saja mengunjungi B.” Jika terus ditunda, apakah kondisi fisikku di umur sekarang akan sama saat aku berusia 40, 50, atau 60 nanti? Setelah melihat sendiri bagaimana di usia tua tubuh bisa melemah, mulai bergantung pada obat, bahkan harus berjuang dengan berbagai penyakit, aku jadi semakin sadar… waktu itu tidak bisa ditunda sesuka hati.

Hidup juga penuh ketidakpastian, kan? Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi besok. Karena itu, selagi tubuhku masih sehat, langkahku masih kuat, dan tabunganku masih aman, aku memilih mengambil risiko untuk tujuan-tujuan sulit sekarang. Tujuan yang lebih mudah, biarlah menjadi cerita di waktu lain.

Kenapa aku melakukan semua ini?

Agar suatu hari nanti, di masa tua, aku bisa membaca kembali cerita-cerita ini sambil berkebun, merawat rumah kecilku, dan ditemani kucing-kucingku. Cerita-cerita yang bukan sekadar tentang tempat, tapi tentang hidup yang benar-benar dijalani. Aku ingin memastikan, aku bisa menoleh ke belakang tanpa penyesalan,dengan perasaan puas, karena aku benar-benar sudah menjalani hidup ini sepenuhnya. 

Lantas, tujuanku 2026 ini kemana? 

Jujur aku belum tau.. Akan Segera kuputuskan...

***

Berhari-hari aku lanjutkan dengan mengeksplor Google Maps. Aku memperbesar dan memperkecil peta dunia, menggesernya ke kiri dan ke kanan. Mencoba melihat, menganalisis. Apa yang terlewat? Apa negara yang sebenarnya bisa kukunjungi, yang benar-benar berbeda dari sebelum-sebelumnya? Di momen sederhana itu aku tiba-tiba sadar, sudah cukup lama aku traveling. Kalau dihitung-hitung, sudah hampir 14 tahun. Waktu yang nggak sebentar.

Pelan-pelan aku mulai mengaitkan semua perjalanan itu di kepalaku. Asia, misalnya. Aku sudah menyusurinya cukup jauh, dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Barat, sampai Asia Tengah. Rusia dan Turki pun pernah kusinggahi, negara-negara unik yang berdiri di dua benua (Eropa dan Asia) sekaligus. Eropa juga sudah, dengan kota-kota tuanya. Amerika pun sudah, baik Amerika Utara maupun Amerika Tengah, dengan nuansa yang sama sekali berbeda. Tanpa pernah benar-benar kumerencanakan, rupanya perjalananku selama ini sudah mewakili beberapa benua di dunia.

Aku berhenti menggeser peta.

Mataku tertahan di satu bagian besar yang terasa kosong. Benua Afrika....

Dalam hati aku bergumam, loh, kenapa aku belum pernah kepikiran ke sini ya?

Setelah kupikir-pikir, jawabannya bukan karena aku nggak pernah tertarik. Justru sebaliknya. Afrika selalu terasa terlalu besar, terlalu asing, terlalu luas, terlalu “sekali seumur hidup” untuk sekadar jadi rencana spontan, dan jujur bagiku agak sedikit menakutkan. Selama ini aku lebih sering memilih destinasi yang secara logika terasa aman dan familiar. Visanya bisa diurus, rutenya jelas, dan informasinya melimpah. Tapi di fase hidupku sekarang, dengan pertimbangan diatas, aku mulai mempertimbangkan mungkin saatnya kesini.

Aku juga sadar, ada batasan besar yaitu waktu yang sudah terlalu mepet (tinggal 2 bulan sampai libur Idul Fitri). Aku nggak pengen ribet dengan urusan visa, setidaknya untuk saat ini. Aku juga nggak ingin perjalanan yang terlalu jauh sampai rasanya melelahkan bahkan sebelum berangkat (seperti Amerika Selatan - semoga aku bisa kesini di 2027). Aku ingin perjalanan yang menantang, tapi tetap masuk akal untuk kondisiku sekarang. 

Saat menatap peta Afrika, aku melihat benua yang sangat besar dengan negara-negara yang begitu menarik. Mesir langsung mencuri perhatianku. Negara yang dari dulu sangat ingin kukunjungi. Tapi keinginan itu langsung berbenturan dengan satu hal yaitu kewajiban visa. Aku nggak mau ribet dengan sisa waktu sedikit. Setidaknya bukan sekarang. Itu langsung menggeser pandanganku ke bagian lain Afrika.

Afrika Timur.

Ada Kenya, Tanzania, Uganda, Rwanda, Burundi.

Wow… dalam hati aku bergumam. Dari daftar itu, dua nama di depanlah yang paling sering kudengar. Sisanya jarang sekali. Aku mulai berpikir, kenapa ya harus ke negara-negara ini? Apa yang sebenarnya kucari?

Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Adik kelasku.

Aku ingat pernah melihat IG story-nya beberapa waktu lalu, saat dia mengunjungi Afrika Timur. Yang paling kuingat adalah satu nama. Taman Nasional Serengeti di negara Tanzania. Aku langsung membuka kembali Instagram-nya, melihat ke highlight story-nya saat saat melakukan game drive di savana. Jeep terbuka. Hamparan padang rumput sejauh mata memandang. Hewan-hewan liar yang kulihat selama ini hanya di buku dan dokumenter.

Aku melihat singa, gajah, kerbau Afrika, macan tutul, dan badak—lima hewan yang dikenal sebagai Big Five. Aku melihat mereka hidup di habitat alaminya. Bebas. Tenang. Tidak dikurung. Tidak dipertontonkan. Aku melihat bagaimana rantai ekosistem makanan berjalan apa adanya, tanpa intervensi manusia.

Entah kenapa, dadaku terasa penuh.

Ada rasa haru yang sulit kujelaskan. Rasa excited yang berbeda dari biasanya. Dan saat aku melihat foto seekor gajah, menatap lurus ke kamera dengan mata yang begitu dalam, aku terdiam cukup lama. Dalam hati aku berkata pelan, kok rasanya… mengharukan tanpa bisa dijelaskan, ya?

Di momen itulah aku sadar.

Aku harus ke sini 2026 ini.

Bukan nanti. Bukan suatu hari entah kapan. Tapi benar-benar harus.

Tanzania.....dan.. Kenya!

***

12 Januari 2026..

Hunting Tiket..

Keputusan ini....tentu saja harus dilanjutkan dengan langkah nyata. Salah satunya adalah membeli tiket pesawat keberangkatan kesana. Akhirnya aku mulai membuka aplikasi Skyscanner, mencoba berbagai kombinasi tanggal dan kota keberangkatan. 

Jakarta – Nairobi. Surabaya – Nairobi. Bahkan sempat coba Denpasar juga, siapa tau dapat harga yang lebih masuk akal. Seperti biasa, ritual ini selalu jadi bagian paling seru tapi bikin pusing di awal perencanaan.

Beberapa opsi mulai muncul di layar. Dan yang paling sering keluar, sekaligus paling simpel secara rute, adalah Jakarta – Mumbai – Nairobi, menggunakan maskapai India, IndiGo. Secara logika, ini opsi yang cukup masuk akal. Transit hanya sekali di Mumbai, durasi perjalanan tidak terlalu panjang, dan harganya pun relatif lebih murah dibanding opsi lain yang harus transit 2–3 kali. Dari segi efisiensi, harusnya ini pilihan paling ideal.

Tapi entah kenapa… aku agak ragu.

Beberapa waktu terakhir aku cukup sering lihat konten viral di media sosial tentang maskapai-maskapai India. Mulai dari kursi yang goyang, interior yang terlihat kurang terawat, sampai cerita-cerita pengalaman penumpang yang kurang menyenangkan. Awalnya aku anggap biasa aja. Namanya juga internet, kadang suka dibesar-besarkan. Tapi semakin memikirkannya, aku semakin ragu.

Ini bukan sekadar flight pendek 2–3 jam. Ini perjalanan panjang, lintas benua, dan akan jadi langkah pertama menuju sesuatu yang sudah aku tunggu-tunggu. Rasanya aku ingin memulai semuanya dengan lebih tenang. Bukan dengan rasa was-was yang nanti terbawa sampai tujuan.

Ya… mungkin ini bukan soal maskapainya. Aku yakin sebagian besar aman. Ini lebih ke perasaan dan keyakinanku sendiri.

Dari proses pencarian tiket itu, aku mulai menyadari satu hal. Hampir sebagian besar maskapai yang berangkat dari Asia Tenggara tetap akan transit di India terlebih dahulu sebelum melanjutkan penerbangan ke Nairobi. Entah itu lewat Mumbai, Delhi, atau kota besar lainnya.

Aku bolak-balik membandingkan rute, jam transit, harga, dan maskapai. Kadang sudah merasa cocok, tapi pas dicek ulang ada yang kurang sreg. Entah durasinya terlalu panjang, harganya naik tiba-tiba, atau maskapainya kurang meyakinkan. Prosesnya benar-benar trial and error, buka-tutup aplikasi berkali-kali sampai mata rasanya mulai lelah 😅.

Sampai akhirnya… aku menemukan satu kombinasi yang pas.

Delhi – Bahrain (transit) – Nairobi, menggunakan Gulf Air, maskapai dari Bahrain.

Begitu lihat rute ini, aku langsung merasa yakin. Transitnya di Bahrain, salah satu negara di Timur Tengah yang aku belum pernah kunjungi (lumayan bisa menambah jumlah negara yang kukunjungi). Maskapai asal Timur Tengah juga terasa lebih meyakinkan, dan secara keseluruhan lebih bikin tenang. Harganya juga masih masuk akal yakni 2,5 juta rupiah untuk sekali jalan.

Tapi di titik itu, pencarian tiketku belum selesai. Meskipun aku sudah menemukan tiket utama menuju Afrika, aku masih harus menyusun potongan awalnya. Jangan sampai tiket Delhi – Nairobi murah, tapi justru tiket dari Indonesia ke Delhi malah jauh lebih mahal dan merusak semuanya.

Akhirnya aku kembali ke Skyscanner. Kali ini fokusnya berubah. Bukan lagi Indonesia ke Nairobi, tapi bagaimana caranya sampai ke Delhi dengan cara yang tetap masuk akal, baik dari segi harga, waktu, maupun tenaga. Aku kembali membuka berbagai kombinasi, membandingkan rute, jam transit, dan harga, sambil sesekali berhenti hanya untuk memastikan bahwa semua ini masih dalam batas yang bisa aku jalani. Ini harus aku lakukan dengan cepat karena takutnya harga tiket Delhi - Nairobi nanti berubah naik.

Sampai akhirnya, setelah berbagai pertimbangan, mencoba banyak kemungkinan, dan tentu saja sedikit gambling, aku mengambil keputusan. Aku akan berangkat dari Surabaya ke Bangkok pada 8 Maret 2026, kemudian lanjut dari Bangkok ke Delhi pada 10 Maret 2026, dan setelah itu melanjutkan penerbangan dari Delhi ke Bahrain pada 12 Maret 2026. Kenapa jatuhnya malah muter-muter? Wkwkwk.

Sebenarnya ada alasan lain yang membuatku memilih rute mutar-mutar ini. Aku cukup kangen dengan Thailand. Terakhir kali aku ke sana tahun 2019, dan entah kenapa rasanya ingin sedikit bernostalgia, merasakan lagi suasana kota yang familiar sebelum benar-benar masuk ke perjalanan yang lebih liar di Afrika.

India juga begitu. Terakhir kali aku ke sana tahun 2018 waktu ke Kashmir… sudah lama banget ya 😅. Anehnya, di tengah segala keruwetannya, aku justru kangen. Kangen dengan suasananya, dengan hiruk pikuknya, bahkan dengan suara klakson yang seolah nggak pernah berhenti itu... Hihihi. Jadi semakin nggak sabar. Setidaknya dengan beli tiket berangkat ini, aku sudah fix akan berangkat. 

Lanjut ke langkah selanjutnya!

***

8 Februari 2026

E-Visa India dulu..



Awal Maret 2026

Dilema Perang...

Dua minggu setelah aku membeli tiket-tiket keberangkatan di atas, semuanya terasa akan berjalan lancar. Aku sudah mulai membayangkan alur perjalananku, dari Surabaya, Bangkok, Delhi, sampai akhirnya menuju Afrika. Rasanya tinggal menunggu hari keberangkatan saja, sambil sesekali membuka kembali detail itinerary dan membayangkan setiap transisinya.

Sampai tiba-tiba muncul berita itu.

Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya. Dalam bayanganku, ini seperti konflik-konflik sebelumnya yang sering muncul di berita—ramai sebentar, lalu perlahan mereda. Aku tetap menjalani hari seperti biasa, hanya sesekali membaca update tanpa benar-benar merasa itu akan berdampak langsung ke perjalananku.

Namun, semakin hari berlalu, beritanya justru semakin gencar. Bukan mereda, tapi semakin intens. Mulai dari kabar serangan balasan, peningkatan eskalasi militer, hingga berbagai pernyataan keras dari masing-masing pihak yang terus bermunculan di media. Berita yang biasanya cepat tenggelam, kali ini justru bertahan dan terus berkembang.

Di titik itu, aku mulai merasa… ini berbeda.

Tanpa sadar aku membuka kembali detail tiketku. Delhi – Bahrain – Nairobi. Transit di Timur Tengah.

Perlahan, rasa tidak nyaman mulai muncul.

Dan kemudian, kekhawatiran itu benar-benar terasa nyata ketika aku membaca kabar bahwa beberapa maskapai besar dari Timur Tengah seperti Emirates dan Etihad mulai membatalkan sejumlah penerbangan mereka. Aku membaca berita itu berulang kali, mencoba memastikan bahwa aku tidak salah paham. Tapi semakin kubaca, semakin jelas bahwa situasinya memang tidak bisa dianggap sepele.

Pikiranku langsung dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana kalau rute yang kupilih ikut terdampak? Bagaimana kalau penerbanganku dibatalkan secara mendadak? Bagaimana kalau aku sudah sampai Delhi, tapi tidak bisa melanjutkan perjalanan ke tahap berikutnya?

Untuk pertama kalinya sejak merencanakan perjalanan ini, aku benar-benar merasa ragu karena sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendaliku.

***

Kekhawatiranku perlahan mulai menjadi kenyataan. 

Beberapa hari kemudian aku membaca berita bahwa Bahrain juga mulai terdampak konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Iran diberitakan meluncurkan serangan ke sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Beberapa laporan bahkan menyebutkan adanya ledakan di wilayah perkotaan dan kerusakan pada bangunan di sekitar area terdampak.

Begitu membaca berita itu, aku langsung berpikir, wah... sepertinya aku tidak bisa melanjutkan perjalanan ini lewat Bahrain. Terlalu beresiko! Bagaimana aku bisa terbang melewati wilayah udara yang sewaktu-waktu bisa menjadi lokasi serangan rudal? Bagaimana kalau pesawatku memang berhasil terbang dan mendarat dengan selamat di Bahrain, tetapi kemudian aku justru terjebak di sana karena penerbangan lanjutan ke Nairobi dibatalkan atau wilayah udaranya ditutup mendadak?

Bagaimanapun juga, Bahrain adalah negara tempatku transit sebelum menuju Nairobi. Meskipun situasinya belum sepenuhnya jelas, aku merasa risikonya sudah terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.

Semakin kupikirkan, semakin banyak skenario yang muncul di kepala.

Tidak ada pilihan lain, tiket ini (Delhi - Manama - Nairobi) harus dibatalkan!

Namun ada sedikit masalah. Kalau aku membatalkan sendiri, uang tiket maskapai Gulf Air (Delhi–Nairobi) akan hangus karena tiketnya non refundable. Di titik ini aku sadar bahwa aku tidak boleh menjadi pihak yang membatalkan tiket tersebut. 

Karena itu aku memilih menunggu.

Kalau memang situasinya semakin memburuk dan Gulf Air memutuskan membatalkan penerbangan, setidaknya aku masih berhak mendapatkan pengembalian dana penuh. Jadi untuk sementara waktu, yang bisa kulakukan hanyalah memantau perkembangan berita dan mengecek status penerbangan hampir setiap hari.

Sambil berharap ada kejelasan.

Karena terus terang saja, saat itu aku sudah mulai berpikir bahwa rencana menuju Afrika tahun ini mungkin harus berubah total. Atau, bahkan gagal?

1.03.2026

Boyolali, 3 Januari 2026: Memilih Masalah

Beberapa tahun ini aku merasa sudah bekerja keras. Dan seperti hukum alam, semakin keras kita bekerja, semakin banyak penghasilan yang kita dapatkan, semakin banyak pula masalah yang ikut menyertainya. Tanggung jawab bertambah, ekspektasi meningkat, orang-orang mulai datang dengan kebutuhan dan permintaan mereka. Masalah tidak lagi datang satu per satu, tapi berlapis-lapis, saling tumpang tindih.

Ada satu titik di mana aku benar-benar muak. Muak dengan semua pekerjaan itu, muak dengan ritmenya, muak dengan kebisingan yang tidak pernah berhenti. Aku ingin melepas semuanya. Aku ingin hidup tanpa diganggu apa pun. Hidup tanpa masalah. Bukankah itu terdengar sangat menyenangkan? Bangun tidur tanpa agenda berat, mandi dengan tenang, memasak untuk diri sendiri, ngopi tanpa memikirkan jam berapa harus buka laptop, membaca buku, berolahraga, menonton film, tanpa ada pesan masuk yang menuntut, tanpa ada konflik yang harus dibereskan. Setelah bertahun-tahun bekerja keras, rasanya aku pantas mendapatkan hidup seperti itu. Entah hanya beberapa bulan, atau mungkin selamanya. Aku sendiri tidak tahu.

Fase ini membuatku sangat sensitif. Sensitif terhadap setiap permintaan bantuan, seolah-olah itu hanyalah beban tambahan. Sensitif ketika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana. Sensitif terhadap serangan, kritik, atau bahkan sekadar komentar orang lain. Rasanya semua itu hanya menambah masalah dalam hidupku, bukan memperkaya. Aku lelah terus menjadi orang yang 'harus kuat'. Sampai suatu hari aku membaca sebuah buku tentang seni untuk bersikap bodo amat karya Mark Manson. Bodo amat? Kesan pertamaku sebenarnya agak buruk, kok seakan-akan mau cuek dengan kehidupan? Namun semakin aku membaca lembar demi lembar, definisi bodo amat menurut Mark Manson ternyata berbeda. Bodo amat disini bukan dalam arti cuek tanpa hati, tapi dalam arti memilih dengan sadar. Bodo amat disini adalah memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan, dan mau mengambil tindakan. Dan di situlah aku mendapatkan satu pencerahan sederhana tapi jujur, yaitu selama kita hidup, masalah akan terus ada. Tidak peduli kita bekerja keras atau memilih hidup sederhana, masalah tidak pernah benar-benar menghilang—yang berubah hanyalah bentuknya.

Kupikir-pikir, benar juga ya. Pada tahun-tahun ketika aku masih bekerja keras dengan deadline yang bertumpuk, aku mengira sumber lelahku adalah pekerjaan. Kupikir, kalau pekerjaan dikurangi, hidup akan otomatis menjadi lebih ringan.

Nyatanya tidak sesederhana itu. Ketika aku mulai mengurangi drastis jumlah pekerjaanku, masalah tidak menghilang, namun ia hanya berganti wajah. Masalah keluarga muncul ke permukaan. Amarah yang dulu tertahan mulai terasa. Hal-hal pribadi yang selama ini tertutup kesibukan justru meminta perhatian. Otakku malah seperti.. mencari-cari masalah! Aku mulai menyadari bahwa pekerjaan bukan satu-satunya sumber masalah; ia hanya salah satu bentuknya.

Disinilah aku sadar, selama kita hidup, masalah tidak akan pernah benar-benar habis. Satu selesai, yang lain muncul. Kadang kecil dan sepele, kadang besar dan melelahkan. Masalah bukan sesuatu yang datang karena kita salah hidup, tapi justru karena kita hidup. Selama kita bernapas, berpikir, dan berinteraksi dengan dunia, selama itu pula masalah akan selalu ikut hadir sebagai bagian dari perjalanan. Yang sering tidak kita sadari adalah: umur kita terbatas. Energi kita juga terbatas. Waktu kita tidak sebanyak yang kita bayangkan. Tapi kita sering bertindak seolah-olah punya persediaan tanpa ujung—menghabiskan pikiran untuk hal-hal yang sebenarnya tidak membawa kita ke mana-mana. Kita marah pada hal yang tak bisa kita kendalikan, terpancing oleh ego orang lain, terseret konflik yang tidak pernah kita pilih dengan sadar.

Padahal, hidup ini bukan soal menghilangkan semua masalah. Itu mustahil. Hidup adalah soal memilih masalah mana yang layak kita perjuangkan. Masalah mana yang, ketika kita hadapi dan selesaikan, benar-benar membawa kita bertumbuh. Masalah mana yang membuat kita lebih jujur pada diri sendiri, lebih matang, lebih damai, atau lebih dekat dengan hidup yang kita inginkan.

Tidak semua masalah pantas mendapat energi kita. Ada masalah yang jika diselesaikan, hanya memuaskan ego sesaat. Ada konflik yang jika dimenangkan, tidak menambah makna apa pun dalam hidup. Ada kekhawatiran yang kita rawat bertahun-tahun, padahal dampaknya nol. Menghabiskan energi di sana bukan tanda kuat, melainkan tanda boros. Penyelesaian masalah yang tepat selalu membawa kebahagiaan yang tenang.

Bukan euforia besar, tapi rasa lega. Rasa lapang. Rasa “aku sudah melakukan bagian yang memang perlu aku lakukan”. Kebahagiaan semacam ini tidak berisik, tapi menumbuhkan. Ia membuat hidup terasa maju, meski perlahan.
Karena itu, memilih masalah adalah keterampilan hidup. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah masalah ini layak diperjuangkan? Apakah ia membawa aku lebih dekat ke versi diriku yang lebih baik? Apakah ia akan masih relevan lima tahun lagi? Jika jawabannya tidak, mungkin masalah itu tidak perlu diselesaikan, cukup dilepaskan.

Menghemat energi bukan berarti menyerah. Justru sebaliknya. Menghemat energi adalah bentuk tanggung jawab pada hidup kita sendiri. Kita memilih dengan sadar ke mana tenaga, waktu, dan perhatian kita diarahkan. Kita berhenti membuktikan diri pada dunia, dan mulai merawat arah hidup kita sendiri.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak masalah yang kita hadapi, tapi tentang masalah mana yang kita pilih untuk diselesaikan. Karena di sanalah pertumbuhan terjadi. Di sanalah kebahagiaan yang sederhana tapi nyata bisa kita temukan—bukan karena hidup bebas masalah, tapi karena kita hidup dengan pilihan yang lebih bijak.

1.01.2026

Sains 3: Mana yang duluan, Ayam atau Telur?

Pertanyaan 'mana yang duluan, ayam atau telur?' kelihatannya sederhana dan sudah sering ditanyakan. Namun bagaimana jawaban pastinya?

Masalahnya ada di cara kita membayangkan pertanyaannya. Kebanyakan orang langsung membayangkan ayam modern dan telur ayam modern, seolah dua-duanya muncul utuh dari ketiadaan. Padahal alam tidak bekerja seperti itu. Semuanya berawal dari evolusi. Perubahan sedikit demi sedikit selama ribuan tahun, ratusan ribu tahun, jutaan tahun, bahkan milyaran tahun. Evolusi tidak pernah lompat. Ia selalu bertahap. Sedikit demi sedikit tanpa bisa kita (mata manusia) sadari.

Kalau kita tarik garisnya jauh ke belakang, awal semua kehidupan di Bumi bukan ayam, bukan telur, bahkan bukan hewan. Awalnya adalah organisme bersel satu yang muncul 3,8 milyar - 3,5 milyar tahun yang lalu. Sangat sederhana. Tidak punya organ. Tidak punya otak. Bahkan belum punya inti sel yang rapi. Hanya membran, reaksi kimia, dan kemampuan membelah diri.

Organisme bersel satu ini berkembang biak lewat pembelahan. Saat membelah, kadang terjadi kesalahan kecil, sering disebut mutasi. Kebanyakan mutasi tidak berguna, sebagian berbahaya, tapi sedikit sekali yang kebetulan menguntungkan. Mutasi yang menguntungkan ini membuat organisme lebih mampu bertahan hidup dan bereproduksi. Dari sinilah seleksi alam bekerja.

Seiring waktu yang sangat, sangat panjang (jutaan hingga miliaran tahun) sebagian organisme bersel satu mulai bekerja sama, membentuk organisme multiseluler. Dari sini muncul bentuk kehidupan yang makin kompleks seperti ganggang, tumbuhan sederhana, hewan lunak, ikan, amfibi, reptil, mamalia, dan burung. Semua lewat perubahan kecil yang ditumpuk terus-menerus selama milyaran - jutaan tahun.

Sekarang kita fokus ke garis keturunan ayam. Ayam bukan makhluk unik yang muncul tiba-tiba. Ia bagian dari keluarga burung, dan burung sendiri berevolusi dari reptil purba. Jauh sebelum ada ayam, sudah ada hewan yang bertelur. Reptil bertelur. Dinosaurus bertelur. Burung awal bertelur. Jadi secara biologis, telur sudah ada jauh sebelum ayam ada.

Lalu dari mana ayam muncul?

Nenek moyang ayam modern adalah burung liar yang sangat mirip ayam, tapi belum sepenuhnya ayam seperti yang kita kenal sekarang. Populasi burung ini terus berkembang biak. Di setiap generasi, selalu ada variasi kecil akibat mutasi genetik. Bentuk paruh sedikit beda. Warna bulu sedikit beda. Ukuran tubuh sedikit beda. Nyaris tak terlihat perbedaannya.

Sampai pada suatu titik, lahirlah satu individu yang secara genetik sudah bisa kita sebut 'ayam modern'. Tapi individu ini menetas dari telur, yang dihasilkan oleh induk yang hampir ayam, tapi belum sepenuhnya ayam. Telurnya? Sudah ada duluan.

Artinya secara ilmiah telur yang mengandung ayam modern pertama sudah ada (ayam modern belum ada sampai telur itu menetas). Jadi kesimpulannya...telur lebih dulu daripada ayam. Namun bukan telur ayam modern dari ayam modern, tapi telur dari makhluk pra-ayam yang membawa mutasi kecil dimana mutasi itu melahirkan ayam pertama.

Dan ini bukan pengecualian. Semua spesies muncul seperti ini. Tidak pernah ada 'makhluk pertama' yang muncul utuh tanpa leluhur. Setiap spesies adalah transisi yang dibekukan oleh waktu, lalu kita beri nama karena kebetulan kita hidup di titik tertentu dalam sejarah evolusi.

Jadi pertanyaan 'mana duluan, ayam atau telur?' sebenarnya bukan teka-teki. Ia hanya jebakan imajinasi kita yang ingin dunia serba instan. Alam tidak peduli definisi kita. Alam hanya peduli satu hal yaitu siapa yang bisa bertahan dan bereproduksi.

Tapi kalau masih ada pertanyaan, terus telur yang berasal dari induk pra-ayam, dan kemudian menetas jadi ayam modern itu dari mana lagi?

Well, semuanya ketika ditarik ke 0 lagi akan kembali ke organisme bersel satu , seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Jadi, itulah jawabannya.

Sains 2 : Bagaimana Kita dan Benda di Sekitar Kita ini Nyata?

Suatu waktu aku sedang duduk, seperti biasa ngalamun, trus lihat tanganku. Pandanganku kemudian bergeser ke meja, kursi, kasur, tembok, kucing, tanaman. Tiba-tiba terbersit pertanyaan:

kok semua ini bisa nyata ya?

Maksudku, coba lihat diriku. Aku benar-benar ada, nyata, punya tubuh. Bisa megang tangan sendiri. Terus pandangan pindah ke sekitar. Meja kursi di depanku. Kasur. Tembok. Kucing yang lagi tidur. Tanaman di sudut ruangan.

Kok semuanya bisa nyata? Bisa punya bentuk. Bisa keras, lembut, hidup, atau diam. Kenapa alih-alih nyata, kenapa tidak menjadi 'tidak nyata' saja?

Kalau ditarik mundur banget dalam skala penyusun terkecil, awalnya mereka ini semua apa sih? dan terbentuknya gimana?

***

Aku berusaha mencari jawabannya pelan-pelan. Ternyata, kalau kita kupas sampai ke level paling dasar, semua benda nyata yang kita lihat seperti meja, batu, pohon, tubuh kita sendiri, tersusun dari satu hal yang sama ---> atom.

Atom itu kecil banget. Bukan kecil versi 'mikroskop', tapi kecil di level yang hampir mustahil dibayangkan. Ukurannya sekitar 0,1 nanometer, atau 0,0000000001 meter. Angka yang bahkan sulit dibaca, apalagi divisualisasikan. Satu meter dibagi sepuluh miliar bagian, dan satu bagian itulah kira-kira ukuran satu atom. Di dalam atom, ada struktur yang ternyata tidak seperti gambaran 'bola pejal' yang sering kita bayangkan. Atom punya inti di tengah, yang berisi proton dan neutron. Proton bermuatan positif, neutron netral, dan keduanya hampir menampung seluruh massa atom. Identitas suatu unsur, apakah itu hidrogen, karbon, atau oksigen, ditentukan oleh jumlah proton di inti ini. Satu proton berarti hidrogen, enam proton berarti karbon. Sesederhana itu, tapi dampaknya membentuk seluruh alam semesta yang kita kenal.

Identitas suatu unsur ditentukan oleh jumlah protonnya (angka di sebelah kiri atas setiap unsur)

Di luar inti, ada elektron. Elektron bermuatan negatif dan massanya sangat kecil dibanding proton dan neutron. Tapi yang menarik, elektron ini tidak 'mengelilingi' inti seperti planet mengelilingi matahari. Dalam fisika modern (teori mekanika kuantum), elektron tidak punya lintasan pasti. Ia hadir sebagai probabilitas, sebuah kemungkinan. Kita tidak bisa menunjuk satu titik dan berkata 'elektronnya ada di sini.' Yang bisa kita katakan hanyalah, 'di wilayah ini, kemungkinan elektronnya besar.'

Inti atom tersusun atas proton dan neutron, dikelilingi oleh elektron sebagai awan probabilitas di sekelilingnya. Inilah penyusun paling dasar semua hal nyata yang bisa kita lihat (Sumber : DISINI)

Tapi atom sendirian tidak berarti apa-apa. Satu atom sendirian tidak akan menjadi meja, kasur, atau tubuh manusia. Ia hanya ada, tanpa bentuk yang berarti. Di sini aku mulai menyadari satu pola yang menarik, salah satu hukum fisika dasar dari alam, yaitu selalu bergerak menuju keseimbangan. Segala sesuatu cenderung mencari keadaan dengan energi serendah mungkin, keadaan yang stabil. Atom pun begitu. Banyak atom berada dalam kondisi tidak seimbang, entah karena kekurangan atau kelebihan elektron. Kondisi ini membuat energinya tinggi, dan seperti benda di lereng, ia ingin turun.

Karena dorongan menuju kestabilan inilah atom-atom mulai saling terikat. Ikatan ini tidak hanya satu macam. Cara atom mencapai keseimbangan ternyata berbeda-beda, tergantung sifat masing-masing atomnya. Salah satunya adalah ikatan ion. Dalam ikatan ini, ada atom yang rela melepaskan elektron dan ada atom lain yang menerimanya. Setelah elektron berpindah, atom yang kehilangan elektron menjadi bermuatan positif, sementara atom yang menerima elektron menjadi bermuatan negatif. Muatan yang berlawanan ini saling tarik-menarik dengan kuat. Dari proses yang tampak sederhana ini, terbentuklah zat baru yang sifatnya sama sekali berbeda dari atom penyusunnya. Zat yang padat, stabil, dan bisa disentuh. Contoh klasik ikatan ion --> garam dapur.

Misalnya atom natrium yang mudah melepaskan satu elektron, dan atom klor yang sangat ingin menerima satu elektron. Ketika elektron berpindah, natrium menjadi bermuatan positif, klor bermuatan negatif. Muatan yang berlawanan ini saling tarik-menarik kuat. Hasilnya adalah kristal garam.

Sumber Gambar : DISINI

Menariknya, natrium murni itu logam yang sangat reaktif. Klor murni itu gas beracun. Tapi ketika mereka berikatan demi stabilitas, lahirlah zat baru dengan sifat yang sama sekali berbeda yaitu garam dapur (NaCl). Padat. Stabil. Bisa dimakan. Sifat lama hilang. Identitas baru muncul. Selain garam juga ada juga kalsium karbonat CaCO3 yang menyusun batu kapur dan cangkang kerang, serta magnesium oksida MgO yang merupakan hasil reaksi pembakaran magnesium. Semua zat ini padat, nyata, dan sifatnya sangat berbeda dari atom penyusunnya.

Selain ikatan ion, ada juga ikatan kovalen. Pada ikatan ini, atom-atom tidak saling memberi atau mengambil elektron, melainkan memilih berbagi. Mereka menggunakan elektron bersama-sama agar masing-masing merasa cukup dan berada pada kondisi energi yang lebih rendah. Pola berbagi ini membentuk molekul-molekul yang lebih fleksibel dan beragam. Salah satu contohnya adalah air (H2O) yang merupakan hasil ikatan kovalen antara dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Zat yang terlihat biasa, tapi sebenarnya sangat menentukan kehidupan. Air bisa mengalir, membeku, menguap, melarutkan banyak zat, dan menjadi medium hampir semua proses biologis. Contoh lain ikatan kovalen adalah karbon dioksida CO2 yang kita hembuskan saat bernapas, amonia NH3, metana CH4. 

Sumber Gambar : DISINI

Dari ikatan ion dan kovalen itulah terbentuk molekul. Molekul kemudian bisa dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu molekul anorganik dan molekul organik. Keduanya sama-sama tersusun dari atom, tetapi memiliki karakteristik dan peran yang berbeda.

Molekul anorganik umumnya tersusun dari atom-atom dengan struktur yang relatif sederhana. Ikatannya bisa berupa ikatan ion maupun ikatan kovalen sederhana. Molekul jenis ini tidak memiliki rangka karbon panjang dan tidak membentuk struktur bercabang yang kompleks. Sifatnya cenderung stabil, kaku, dan mengikuti hukum fisika serta kimia secara langsung. Contoh molekul anorganik antara lain air H2O, garam dapur NaCl, karbon dioksida CO2, amonia NH3, oksigen O2, nitrogen N2, serta mineral seperti kalsium karbonat CaCO3 dan kalsium fosfat Ca3(PO4)2. Molekul-molekul anorganik ini banyak berperan sebagai medium dan lingkungan. Air menjadi pelarut utama. Garam mengatur keseimbangan ion. Gas-gas menopang respirasi dan fotosintesis. Mineral memberi kekuatan struktural. Mereka tidak hidup, tetapi tanpanya kehidupan tidak mungkin berjalan.

Molekul organik memiliki ciri utama berupa berbasis rangka karbon (C). Kenapa harus karbon? Karbon merupakan unsur dasar penyusun kehidupan karena karena sifat fisika dan kimianya membuatnya menjadi unsur paling cocok untuk membangun struktur kompleks yang stabil sekaligus hidup. Keunggulan karbon ini bisa dilihat dari beberapa hal dasar.

Pertama, karbon memiliki empat elektron valensi, sehingga mampu membentuk empat ikatan kovalen. Dengan empat ikatan ini, satu atom karbon bisa mengikat atom lain ke empat arah berbeda. Ia bisa membentuk rantai lurus, bercabang, atau cincin. Struktur seperti ini hampir tidak terbatas variasinya. Dari susunan yang sama, karbon bisa membentuk molekul kecil seperti metana, sampai molekul raksasa seperti protein dan DNA. Unsur lain jarang punya kemampuan membangun kerangka sefleksibel ini.

Kedua, kekuatan ikatan karbon berada di titik yang pas. Ikatan karbon–karbon cukup kuat untuk bertahan lama dan tidak mudah putus, sehingga molekulnya stabil. Tapi ikatan ini juga tidak terlalu kuat, sehingga masih bisa diputus dan dibentuk kembali dalam reaksi kimia. Inilah keseimbangan yang sangat penting. Sistem hidup membutuhkan kestabilan agar tidak hancur, tapi juga membutuhkan perubahan agar bisa bereaksi, beradaptasi, dan berevolusi. Karbon menyediakan keduanya.

Ketiga, karbon mampu membentuk ikatan tunggal, rangkap dua, dan rangkap tiga. Variasi ikatan ini membuat struktur molekul karbon sangat beragam, baik dari segi bentuk maupun sifat. Ikatan rangkap memungkinkan molekul menjadi lebih kaku dan reaktif, sementara ikatan tunggal memberi fleksibilitas. Kombinasi ini menciptakan dinamika kimia yang kaya, sesuatu yang sulit dicapai oleh unsur lain.

Keunggulan berikutnya adalah ukuran atom karbon yang relatif kecil. Ukuran ini membuat orbital elektronnya saling tumpang tindih dengan baik saat membentuk ikatan kovalen. Hasilnya adalah ikatan yang kuat dan stabil. Pada unsur yang lebih besar seperti silikon, tumpang tindih orbitalnya kurang efektif, sehingga ikatannya lebih lemah dan strukturnya kurang tahan lama.

Karbon juga sangat fleksibel dalam berikatan dengan unsur lain. Ia mudah berikatan dengan hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, dan sulfur. Dari kombinasi ini lahir molekul-molekul seperti glukosa C6H12O6, asam lemak, asam amino, dan nukleotida. Glukosa menjadi sumber energi. Asam amino menyusun protein. Nukleotida menyusun DNA dan RNA. Kombinasi ini menghasilkan molekul dengan fungsi yang sangat berbeda-beda. Ada yang menyimpan energi, ada yang membentuk struktur, ada yang mempercepat reaksi, dan ada yang menyimpan informasi. Semua fungsi dasar kehidupan muncul dari kombinasi ikatan karbon dengan unsur-unsur ini.

Contoh molekul organik --> GLUCOSA (C₆H₁₂O₆)

Selain itu, karbon tidak mudah terkunci dalam satu bentuk yang terlalu stabil. Ikatan karbon–oksigen cukup kuat, tapi tidak membuat karbon terjebak selamanya seperti silikon yang hampir selalu berakhir sebagai silikon dioksida. Karbon bisa berpindah bentuk, dari CO2 menjadi glukosa, lalu menjadi lemak, lalu kembali lagi menjadi CO2. Fleksibilitas ini memungkinkan siklus kimia yang panjang dan berkelanjutan.

Karbon unggul karena ia berada di titik tengah yang hampir sempurna. Ia cukup kuat untuk membangun struktur, cukup fleksibel untuk berubah, cukup kecil untuk stabil, dan cukup serbaguna untuk menciptakan kompleksitas. Dari sifat-sifat inilah, karbon mampu membangun molekul organik, sel, jaringan, hingga akhirnya organisme yang bisa duduk diam dan bertanya tentang keberadaannya sendiri.

Awal mula molekul organik ini diyakini berasal dari reaksi kimia sederhana di lingkungan awal bumi, ketika molekul-molekul kecil seperti CO2, H2O, NH3, dan CH4 bereaksi dengan bantuan energi dari panas, petir, atau radiasi matahari. Dari molekul sederhana ini, terbentuk senyawa karbon yang makin kompleks. Lama-kelamaan, molekul-molekul organik ini mulai berkumpul, berinteraksi, dan membentuk sistem yang mampu mereplikasi diri dan mempertahankan keseimbangannya sendiri.

Dari molekul organik terbentuk struktur yang lebih besar. Kita ambil contoh saja molekul penyusun makhluk hidup, dalam lamunanku diatas, manusia dan kucing.

  1. Protein
    Protein tersusun dari rantai panjang asam amino.
    Asam amino sendiri dibangun dari C, H, O, N (kadang S).
    Protein berfungsi sebagai:

    • enzim (pemicu reaksi kimia)

    • pembentuk otot

    • pengangkut oksigen

    • reseptor saraf

    Bentuk protein sangat menentukan fungsinya. Sedikit saja susunannya berubah, fungsinya bisa hilang total.

  2. Lemak (lipid)
    Lemak tersusun dari karbon dan hidrogen dalam jumlah besar.
    Ikatan kovalen C–H menyimpan energi tinggi.
    Lemak membentuk:

    • cadangan energi

    • membran sel

    • pelindung organ

    Otak manusia dan kucing sama-sama kaya lemak. Itu sebabnya lemak bukan musuh, tapi bahan struktural penting.

  3. Karbohidrat
    Tersusun dari C, H, dan O.
    Digunakan sebagai sumber energi cepat dan bahan struktural tertentu.
    Gula darah, glikogen, dan struktur sel tertentu berasal dari sini.

  4. DNA dan RNA
    Inilah molekul paling ikonik kehidupan.
    DNA tersusun dari C, H, O, N, dan P.
    Ikatan kovalen membentuk tulang punggung DNA, sementara ikatan hidrogen mengikat pasangan basa.

    DNA menyimpan informasi:

    • bagaimana sel membelah

    • bagaimana protein dibuat

    • bagaimana bentuk tubuh berkembang

    DNA manusia dan kucing berbeda urutannya, tapi bahasa kimianya sama.

Molekul-molekul diatas kemudian tersusun menjadi sel. Sel adalah unit dasar kehidupan. Setiap sel dibungkus oleh membran lipid yang memisahkan bagian dalam dan luar, menciptakan batas yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Di dalamnya terdapat air, ion, protein, dan DNA yang terus berinteraksi. Tidak ada satu bagian pun yang berdiri sendiri. Semua bekerja sebagai sistem kimia yang saling bergantung. Sel kemudian bergabung membentuk jaringan, jaringan membentuk organ, dan organ bekerja bersama membentuk tubuh seperti yang aku dan kucing punya sekarang. Well cukup panjang ya ceritanya dari atom? Hehehe...


Meja Kayu

Oke sekarang ke benda di sekitar kita. Ambil saja contoh meja kayu. Apa yang menjadikan dia nyata? 

Kayu berasal dari pohon. Dan pohon, seperti semua makhluk hidup, tersusun dari atom-atom yang sama dengan benda lain di alam semesta. Atom utama penyusun kayu adalah karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Dalam jumlah kecil juga ada nitrogen dan mineral lain, tapi tulang punggung kayu itu tiga unsur ini.

Ceritanya dimulai dari daun. Pohon menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara dan air (H₂O) dari tanah. Dengan bantuan cahaya matahari, pohon melakukan fotosintesis. Dari reaksi inilah pohon merakit atom-atom karbon, hidrogen, dan oksigen menjadi molekul gula. Gula ini bukan sekadar makanan, tapi juga bahan bangunan.

Dari gula-gula sederhana ini, pohon membangun molekul besar bernama selulosa. Selulosa adalah rantai panjang yang tersusun dari ribuan unit glukosa yang saling terhubung lewat ikatan kovalen. Ikatan kovalen ini kuat dan stabil karena atom-atomnya berbagi elektron, bukan saling memberi atau merebut. Selulosa inilah yang menjadi rangka utama dinding sel tumbuhan.

Selain selulosa, ada dua komponen penting lain yaitu hemiselulosa dan lignin. Hemiselulosa membantu mengikat serat-serat selulosa satu sama lain. Lignin berfungsi seperti lem keras alami. Lignin mengisi ruang antar serat dan membuat kayu menjadi kaku, keras, dan tahan tekan. Tanpa lignin, kayu akan lembek seperti kapas basah.

Jadi di level molekul, kayu itu bukan benda pejal. Ia adalah jaringan serat panjang yang tersusun sangat rapi. Serat-serat ini tersusun sejajar mengikuti arah pertumbuhan pohon. Itulah sebabnya kayu punya serat, bisa dibelah searah, dan bisa patah tidak beraturan jika dipaksa berlawanan arah seratnya.

Kalau kita turunkan lagi ke level atom, semua molekul penyusun kayu itu diikat oleh ikatan kovalen yaitu ikatan karbon–karbon, karbon–oksigen, karbon–hidrogen, dan oksigen–hidrogen. Tidak ada ikatan ion dominan seperti pada garam. Karena itu kayu tidak menghantarkan listrik dan tidak larut dalam air seperti kristal ionik.

Dan meskipun meja kayu terasa keras saat disentuh, pada level atomik ia tetap sebagian besar adalah ruang kosong. Kekerasan meja muncul karena rantai molekulnya panjang dan saling terkait, lignin mengunci struktur agar tidak mudah berubah, saat tangan kita menyentuh meja, elektron di tanganmu dan elektron di kayu saling menolak. Bukan karena atom-atomnya saling bertabrakan, tapi karena gaya elektromagnetik bekerja sangat kuat pada jarak yang sangat kecil.

Jadi serangkaian proses inilah yang membuat meja kayu bisa nyata di depan kita.


Kursi Aluminium

Sekarang kita pindah ke kursi aluminium. Benda yang kelihatannya modern, dingin, ringan, dan kuat. Tapi kalau diturunin ke level paling dasar, ceritanya tetap dimulai dari atom. Kursi aluminium hampir seluruhnya tersusun dari atom aluminium (Al). Unsurnya cuma satu, bukan campuran kompleks seperti kayu. Setiap atom aluminium punya 13 proton di intinya, dikelilingi elektron, dengan 3 elektron valensi di kulit terluarnya. Dan tiga elektron inilah yang jadi kunci sifat logam aluminium.

Berbeda dengan kayu yang dibangun dari molekul-molekul panjang, aluminium tidak membentuk molekul diskret. Atom-atom aluminium tidak berikatan sebagai pasangan atau rantai kecil. Mereka membentuk kisi kristal logam—susunan atom yang sangat teratur, berulang ke segala arah. Ikatan yang menyatukan atom-atom aluminium ini disebut ikatan logam (metallic bonding).

Cara kerjanya agak unik. Atom aluminium melepaskan elektron valensinya, tapi bukan ke atom tertentu. Elektron-elektron ini menjadi elektron bebas, bergerak ke seluruh kisi logam. Sering dianalogikan sebagai lautan elektron. Di dalam lautan ini, inti-inti atom aluminium yang bermuatan positif tersusun rapi dan direndam bersama-sama. Jadi ikatan logam itu bukan saling memberi elektron seperti ikatan ion ataupun  saling berbagi pasangan elektron seperti ikatan kovalen melainkan berbagi secara kolektif, massal, dan tidak terlokalisasi.  Inilah yang membuat aluminium punya sifat khas logam kuat tapi ringan → karena inti-inti atom terikat oleh medan elektron bersama; mudah ditempa dan dibentuk → lapisan atom bisa bergeser tanpa memutus ikatan; menghantarkan listrik dan panas → karena elektron bebas bisa bergerak; mengkilap → elektron memantulkan cahaya

Ketika aluminium dibentuk menjadi kursi (dicor, diekstrusi, dilas) yang terjadi hanyalah penataan ulang posisi atom dalam kisi logam, bukan perubahan jenis atom atau ikatannya. Atomnya tetap aluminium. Ikatannya tetap ikatan logam. Dan seperti kayu, walaupun kursi aluminium terasa padat dan keras, di level atomik ia tetap sebagian besar ruang kosong. Inti atomnya kecil, jarak antar inti relatif besar, dan kekerasannya bukan karena 'penuh', melainkan karena gaya tarik antara inti positif dan lautan elektron negatif.

Saat kita duduk di kursi aluminium, tubuh kita tidak benar-benar menyentuh atom aluminium. Yang terjadi adalah elektron di tubuh kita mendekati elektron di kursi --> elektron-elektron itu saling menolak --> tolakan elektromagnetik itu kita rasakan sebagai keras.

Pertanyaan selanjutnya, kalau tubuh ini cuma kumpulan atom, lalu kesadaran itu muncul dari mana? Kok bisa ada rasa 'aku' di dalam kepala. Kok bisa ada pikiran, ingatan, rasa takut, rasa tenang? Mari kita bahas di postingan selanjutnya.