Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

1.27.2026

[Part 4] Cam on Vietnam : Eksplor Kota Ho Chi Minh (1) !

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Berpose di pusat kota Ho Chi Minh City. Jujur aku lebih senang foto di jalanan random begini daripada di tempat wisatanya.. hehehe..Berasa lebih autentik.


Ho Chi Minh City, 3 Februari 2023


Hoahmmmm…
Pagi pertama di Ho Chi Minh City akhirnya menyapa.

Aku bangun dengan perasaan cukup ringan—syukurlah, semalam tidurnya enak. Ada rasa yang familiar tapi juga hangat. Aku kembali ke kota ini setelah terakhir kali ke sini di 2017 bersama dua teman kerjaku, Ega dan Ganjar. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar, dan entah kenapa, Saigon tetap terasa seperti Saigon yang aku ingat. Kotanya ramai, hidup, dan nggak pernah benar-benar diam. Terbukti semalam kan di Bui Vien Street. Hehehe..

Rencana hari ini cukup simpel. Eksplor Kota Ho Chi Minh City. Dimulai dari dua ikon paling terkenal di kota ini, Saigon Central Post Office dan Notre-Dame Cathedral Basilica of Saigon. Sebenarnya aku sudah pernah ke sini tahun 2017. Tapi selain faktor nostalgia, travelmate-ku belum pernah sama sekali mengunjungi tempat ini. Dan menurutku, kalau ke Ho Chi Minh City untuk pertama kali, rasanya belum lengkap kalau belum mampir ke dua spot ini.

Pagi kami awali dengan sarapan sederhana di penginapan. Kami masak nasi dan sup dari sayur-sayuran yang kemarin dibeli di pasar menggunakan rice cooker andalan. Salah satu hal yang aku suka dari traveling agak lama begini adalah masak sendiri. Lebih hemat dan simpel. Apalagi penginapan kami kebetulan dekat pasar, jadi sayur segar gampang banget didapat.

Setelah sarapan dan beberes sebentar, kami jalan ke halte dan naik bus kota menuju pusat Ho Chi Minh City. Transportasi umum di kota ini menurutku cukup oke, murah, dan gampang dipahami kalau sebelumnya sudah sedikit riset. Perjalanan menuju pusat kota terasa santai, lalu lintas ramai tapi masih khas kota besar Asia Tenggara.

Tak lama kemudian, kami tiba di depan Saigon Central Post OfficeBegitu melihat bangunannya, aku langsung kelempar ke memori tahun 2017. Gedung ini memang ikonik banget. Arsitekturnya bergaya kolonial Prancis, megah tapi tetap elegan. Kantor pos ini dibangun pada akhir abad ke-19, sekitar tahun 1886–1891, saat Vietnam masih berada di bawah pemerintahan kolonial Prancis. Banyak orang menyebut bangunan ini dirancang oleh Gustave Eiffel—arsitek di balik Menara Eiffel—meskipun sampai sekarang hal itu masih jadi perdebatan sejarah.

Masuk ke dalam, suasananya langsung terasa historikal. Langit-langitnya tinggi dan melengkung, dengan rangka besi besar yang mengingatkanku pada stasiun kereta tua di Eropa. Di dinding kiri dan kanan terpampang peta-peta besar bergaya lama yang menggambarkan jaringan pos dan telegraf Vietnam pada masa kolonial. Rasanya seperti masuk ke lorong waktu.

Di bagian dalam, ada potret besar Ho Chi Minh yang tergantung di dinding utama. Sosok yang sangat dihormati di Vietnam, bapak bangsa yang memimpin perjuangan kemerdekaan dan menjadi simbol persatuan nasional. Potret ini bukan sekadar pajangan, tapi penanda bahwa gedung kolonial ini kini menjadi bagian dari identitas Vietnam modern.

Aktivitas di dalam kantor pos cukup beragam. Masih berfungsi sebagai kantor pos aktif—orang bisa mengirim surat, kartu pos, atau paket—tapi di sisi lain juga jadi tempat wisata. Banyak turis membeli kartu pos, perangko, hingga souvenir khas Vietnam. Ada juga peta-peta tua Indochina yang dipajang di dinding, bikin suasananya terasa seperti kembali ke masa lalu. Aku sendiri lebih banyak menikmati suasananya, mondar-mandir, dan tentu saja… foto-foto.

Dari kantor pos, kami tinggal menyeberang sedikit menuju Notre Dame Cathedral Basilica of Saigon. Sayangnya, kami agak kecewa karena bagian menaranya sedang direnovasi. Jadi tampilannya tertutup perancah. Tapi ya sudahlah, its okay, its fine. Bangunannya tetap cantik.

Gereja ini dibangun pada akhir abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Prancis, seluruh materialnya bahkan didatangkan langsung dari Prancis—mulai dari bata merah hingga kaca patri. Nama “Notre Dame” sendiri berarti Our Lady atau Bunda Maria, merujuk pada Perawan Maria, sosok penting dalam tradisi Katolik. Di halaman depan gereja juga terdapat patung Bunda Maria yang jadi salah satu titik perhatian pengunjung. Suasana di sekitar gereja cukup ramai. Banyak turis lalu lalang, pasangan foto prewedding, dan tentu saja pedagang kaki lima yang menawarkan souvenir, kipas, topi, hingga kartu pos. Kami hanya foto-foto di bagian depan gereja dan tidak masuk ke dalam, lalu lanjut berjalan kaki menyusuri kota.

Saat berjalan, aku makin sadar betapa kuatnya simbol ideologi di kota ini. Banyak sekali bendera merah dengan bintang kuning, dan juga simbol palu arit yang terpampang di berbagai sudut kota. Bendera merah melambangkan revolusi dan perjuangan, bintang kuning melambangkan persatuan rakyat Vietnam. Semua ini mengingatkan bahwa Vietnam adalah negara sosialis, dan Ho Chi Minh City—meski modern dan ramai—tetap sangat kental dengan identitas politik dan sejarahnya.

Di titik ini, udara siang mulai terasa semakin panas. Matahari terik, keringat mulai bercucuran. Tapi anehnya, itu sama sekali tidak menyurutkan niat kami. Justru eksplor kota seperti ini yang bikin perjalanan terasa hidup. Jalan kaki, berhenti sebentar buat foto, melihat bangunan-bangunan tua berdampingan dengan gedung modern—semuanya menyenangkan.

Lalu lintas Ho Chi Minh City juga khas banget. Motor ada di mana-mana. Menyeberang jalan di sini butuh keberanian dan ketenangan. Nggak bisa ragu-ragu. Jalan pelan, konsisten, dan percaya bahwa pengendara motor akan menghindar. Ajaib tapi nyata. Aku sendiri suka berhenti sebentar di tengah kota, sekadar mengamati hiruk-pikuknya, lalu mengabadikannya lewat kamera.

Kami kemudian melewati area People’s Committee Building (Ho Chi Minh City Hall)—bangunan bergaya kolonial Prancis yang megah dengan detail ornamen yang rumit. Bangunan ini dulunya balai kota di masa kolonial, dan sekarang digunakan sebagai kantor pemerintahan kota. Di depannya ada taman rapi dan patung yang jadi landmark penting kota.

Tak jauh dari situ, kami sampai di sebuah taman luas dengan patung Ho Chi Minh berdiri tegap di tengahnya. Patung ini menggambarkan Ho Chi Minh sedang melambaikan tangan, simbol kedekatannya dengan rakyat. Jasanya bagi Vietnam luar biasa besar—memimpin perjuangan kemerdekaan, menyatukan Vietnam Utara dan Selatan, dan menjadi fondasi berdirinya Republik Sosialis Vietnam. Patung ini bukan sekadar monumen, tapi simbol penghormatan nasional.

Dari situ, kami lanjut masuk ke sebuah museum—Museum of Ho Chi Minh City. Di dalam museum, suasananya langsung berubah jadi lebih hening. Lampu temaram, lorong-lorong panjang, dan deretan kaca etalase bikin langkah otomatis melambat. Di balik kaca-kaca itu, tersimpan potongan-potongan kecil dari sejarah  Vietnam—bukan dalam bentuk cerita heroik yang berisik, tapi lewat benda-benda sederhana yang pernah dipakai manusia sungguhan.

Di dalam, kami disambut panel-panel yang menceritakan perkembangan kerajinan tradisional: mulai dari seni keramik, perhiasan, hingga ukiran kayu. Ada vas-vas tua, peralatan produksi sederhana, dan diorama para pengrajin yang digambarkan sedang bekerja dengan penuh ketelitian. Semua ditata rapi, seolah ingin menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari masyarakat juga merupakan bagian penting dari sejarah bangsa.

Semakin masuk ke dalam, nuansanya berubah. Di bagian lain museum, kisah Vietnam disajikan lewat benda-benda yang jauh lebih sunyi tapi terasa berat. Ada alat-alat pertukangan lama, lonceng perunggu, cap-cap kayu, hingga alat hitung tradisional—jejak sistem sosial dan ekonomi di masa lampau. Lalu kami tiba di bagian yang menampilkan masa perang. Seragam tentara, tas ransel, perlengkapan logistik, botol air, hingga alat komunikasi tua dipajang di balik kaca. Semuanya terlihat sederhana, bahkan terkesan kasar, tapi justru di situlah terasa betapa kerasnya perjuangan yang pernah dijalani.

Salah satu sudut yang paling membuatku terdiam adalah etalase berisi barang rampasan perang dan foto-foto hitam putih dari hari jatuhnya Saigon. Sepatu-sepatu tentara yang ditinggalkan di jalan, alat komunikasi militer, dan bendera—semuanya menjadi saksi bisu sebuah momen besar dalam sejarah Vietnam. Tidak ada narasi berlebihan, tidak ada dramatisasi. Benda-benda itu dibiarkan berbicara sendiri.

Ada tas ransel lusuh, pakaian lapangan, peralatan dapur darurat, sampai senjata rakitan yang terlihat jauh dari kata canggih. Justru di situ aku berhenti lama. Sulit membayangkan bagaimana orang-orang bisa bertahan hidup, berperang, dan bergerak di tengah hutan dengan perlengkapan sesederhana itu. Semua tampak kasar, berat, dan penuh bekas pemakaian—seolah benda-benda ini masih menyimpan sisa-sisa kelelahan pemiliknya.

Di sudut lain, terpajang berbagai jenis senjata, granat, dan amunisi dari era perang. Bukan untuk mengagungkan kekerasan, tapi sebagai pengingat betapa brutal dan dekatnya perang dengan kehidupan sehari-hari saat itu. Di atasnya, foto-foto hitam putih menampilkan wajah-wajah para pejuang—bukan wajah pahlawan di poster, tapi wajah manusia biasa: lelah, tegang, dan sangat muda.

Aku berjalan pelan dari satu panel ke panel lain, membaca keterangan singkat, lalu menatap fotonya lagi. Banyak adegan yang memperlihatkan perang bukan sebagai pertempuran besar, tapi sebagai rutinitas: bersembunyi, menunggu, menyusuri parit, dan bertahan hidup hari demi hari. Rasanya sunyi, tapi berat.

Udara siang di luar memang semakin panas, tapi di dalam museum waktu terasa seperti melambat. Eksplor kota dengan cara seperti ini selalu menyenangkan buatku—karena bukan cuma melihat bangunan atau tempat ikonik, tapi juga mencoba memahami lapisan sejarah yang membentuk kota itu sendiri. Ho Chi Minh City bukan hanya tentang motor, kafe, dan hiruk-pikuk jalanan, tapi juga tentang cerita panjang yang masih berjejak rapi di ruang-ruang seperti ini.

Setelah keluar dari museum, panas matahari langsung menyambut lagi. Tapi langkah kami terasa lebih mantap—seolah barusan diajak berhenti sejenak, mengingat, lalu melanjutkan perjalanan dengan sudut pandang yang sedikit berbeda.

Selesai eksplor museum yang meninggalkan kesan cukup emosional, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 14.30. Perut mulai protes minta diisi, sementara kepala masih agak penuh oleh cerita-cerita perang yang barusan kami lihat. Kami sempat bengong sebentar di luar museum, mikir mau makan apa. Jujur saja, soal makanan lokal Vietnam saat itu kami masih agak buta—nama menunya asing, cara pesannya juga belum terlalu paham. Akhirnya, dengan sedikit rasa bersalah pada diri sendiri, kami menyerah pada pilihan paling aman: KFC.

Pesan nasi ayam lengkap dengan es krim. Mungkin terdengar banal, tapi di siang Ho Chi Minh City yang panas dan lembap, suapan ayam hangat lalu disusul dinginnya es krim terasa cukup menenangkan. Setidaknya perut kenyang, kepala jadi sedikit lebih ringan.

Karena waktu masih sekitar jam 3 sore, kami sepakat untuk lanjut eksplor. Kali ini tujuannya berbeda: wihara. Kami berjalan ke halte bus terdekat. Perjalanan cukup panjang, harus transit satu kali, dan hampir sepanjang jalan telinga ditemani suara klakson yang seolah nggak pernah berhenti. Bus membelah Ho Chi Minh City dengan ritme khasnya—ramai, padat, dan sedikit semrawut tapi hidup.

Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di tujuan. Begitu turun dari bus, suasana langsung terasa berbeda. Hiruk-pikuk jalanan perlahan tergantikan oleh ketenangan halaman wihara. Di depan, berdiri patung Dewi Kwan Im (Guanyin) berwarna putih, anggun dan tenang, menghadap ke arah halaman luas. Patung ini seolah jadi penjaga pertama, menyambut siapa pun yang datang dengan ekspresi damai. Di sekelilingnya, burung-burung merpati berkeliaran bebas, mematuk sisa makanan di tanah, menambah kesan hidup namun tetap teduh.

Di halaman wihara, mataku tertarik pada sebuah pohon jeruk yang unik. Buah-buah jeruknya dibungkus plastik bening dan diikat pita merah. Rupanya ini adalah simbol doa dan harapan—jeruk dianggap membawa keberuntungan dan kemakmuran, sementara pita merah melambangkan berkah dan perlindungan. Detail kecil seperti ini selalu bikin aku berhenti lebih lama, karena terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Kami lalu melangkah masuk ke aula utama. Awalnya sempat sungkan, takut mengganggu. Tapi setelah diberi isyarat bahwa pengunjung diperbolehkan masuk, kami melepas sepatu dan berjalan pelan. Di dalam, suasananya hening dan sakral. Beberapa warga lokal duduk bersila, melantunkan doa dan chanting dengan suara pelan dan ritmis. Aku tidak mengerti kata-katanya, tapi iramanya menenangkan. Ada sesuatu yang menenangkan dari duduk diam di sana, mendengarkan suara doa yang berulang-ulang, apalagi setelah siang yang cukup emosional di museum.

Kami tidak lama di dalam aula. Setelah itu, kami keluar dan berkeliling ke bagian samping wihara. Di salah satu sudut, tergantung sebuah lonceng besar. Permukaannya sudah tampak tua, warnanya kusam, tapi justru itulah yang membuatnya terasa punya usia dan cerita. Angin sore berembus pelan, dan sesekali lonceng itu bergerak sedikit, meski tanpa bunyi keras. Rasanya seperti jeda yang sempurna—sebuah penutup tenang setelah hari yang penuh suara, cerita, dan langkah kaki.

Setelah puas mengelilingi semua bagian wihara, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. Waktu sudah semakin sore, dan tenaga juga mulai terasa terkuras. Perjalanan pulang kembali diisi dengan bus dan deru klakson khas Ho Chi Minh City, tapi kali ini rasanya lebih kalem—mungkin karena badan sudah benar-benar minta istirahat.

Malam itu kami memilih untuk tidak ke mana-mana. Tidak ada jalan malam, tidak ada nongkrong, tidak ada eksplor tambahan. Kami menghabiskan waktu di kamar saja, rebahan, membiarkan kaki yang seharian dipaksa berjalan akhirnya beristirahat. Setelah hari yang cukup panjang—dari museum yang emosional, makan siang sederhana, sampai wihara yang tenang—rasanya pilihan paling bijak memang berhenti.

Besok, perjalanan akan berlanjut. Hari kedua eksplor Ho Chi Minh City masih menunggu, dan masih ada beberapa tempat menarik yang rasanya sayang kalau dilewatkan. Untuk malam ini, cukup istirahat. Kota ini sudah memberi banyak cerita untuk satu hari saja.


Part Selanjutnya : DISINI

0 comments:

Posting Komentar