Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Malaysia2012. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaysia2012. Tampilkan semua postingan

4.30.2025

[Part 19] Tinta Hindustan : Hari Kepulangan, Hampir Dilarang Boarding! (Finished)

 Trip ini merupakan cerita perjalananku menjelajah India dari 21 Agustus 2012 - 2 September 2012. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku berikan link-nya di bawah.

Part sebelumnya : Disini

Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba: hari kepulangan dari India! Setelah perjalanan yang cukup menguras mental — ya ampun, jujur saja traveling di India memang penuh tantangan fisik dan mental wkwk. Aku, Mbak Piksan, dan Sony naik taksi dari hotel menuju bandara di Kolkata. Hari ini kita akan terbang dari Kolkata ke Kuala Lumpur. Rasanya campur aduk, antara lega, excited, dan kangen banget sama Indonesia.

Oya sejak sebelum berangkat, aku sudah melakukan check in online untuk penerbangan-ku di website Air Asia, dan sudah mendapatkan boarding pass. Boarding pass tersebut juga sudah aku cetak, jadi kupikir aman lah ya. 

Sampai di bandara, kami langsung menuju area check-in. Mbak Pixan dan Sony langsung sibuk urus check-in dan memasukkan bagasi. Tapi aku, karena sudah memegang boarding pass hasil check in online, jadi santai-santai saja. Karena pengalamaku sebelumnya di Kuala Lumpur juga lancar dengan boarding pass hasil check in online, jadi kupikir hal yang sama akan berlaku untuk penerbangan dari Kolkata ke Kuala Lumpur.

Aku pun santai-santai aja. Tidak ikut antri dengan mereka. Mungkin malah kelihatan paling tenang pagi itu—sampai akhirnya semua selesai dan kami jalan bersama menuju imigrasi.

Nah, sebelum masuk ke bagian imigrasi, ada satu pos pemeriksaan awal. Di sini petugas akan mengecek dokumen dan tiket sebelum diperbolehkan masuk ke area imigrasi. Dengan percaya diri aku serahkan paspor dan boarding pass cetakanku. Tapi wajah petugas berubah.

Dia melihat ke print-an boarding passku, lalu berkata, “This is not valid. You must get your boarding pass from the check-in counter.”

Hah?

Aku sempat bengong. “But I already did web check-in,” kataku, mulai panik.

Tapi petugas tetap tegas. No valid boarding pass, no entry.

Waduh.

Dalam hati aku langsung was-was. Jangan-jangan counter check-in-nya udah tutup? Gawat banget kalau dianggap no-show pas check in. Bisa-bisa gagal terbang pulang...

Tanpa pikir panjang, aku langsung lari balik ke area check-in. Bagian itu sudah mulai sepi. Tidak ada antrian. Tapi untung banget—masih ada petugas AirAsia yang berjaga. Aku langsung menghampiri, sambil menunjukkan boarding pass online dan paspor. Petugasnya sempat mengecek daftar, lalu mengangguk dan membuka laci kecil di meja. Dan di situ... ya ampun, boarding pass-ku ada!

Ternyata, mereka memang sudah mencetak dan menyimpannya. Mungkin aku satu-satunya penumpang yang belum ambil. Aku diberikan boarding pass resmi, dan akhirnya bisa kembali ke jalur imigrasi dengan napas yang sedikit ngos-ngosan tapi lega bukan main.

Setelah berhasil mendapatkan boarding pass resmiku tadi—yang nyaris membuatku gagal berangkat—aku langsung balik ke area imigrasi. Kali ini dengan langkah agak terburu tapi hati lebih tenang. Pemeriksaan paspor berjalan cukup lancar. Petugasnya hanya memeriksa beberapa detik, stempel ditempel, dan aku dipersilakan lanjut. Satu rintangan terlewati.

Berikutnya adalah pemeriksaan barang bawaan. Aku membawa beberapa oleh-oleh, salah satunya yang cukup mencolok: miniatur Taj Mahal yang kubeli waktu di Agra. Miniatur itu terbuat dari bahan semacam lilin padat—entah kapur, gips, atau parafin, aku juga nggak yakin. Tapi tampilannya elegan, detail, dan terlihat rapuh sekaligus misterius. Mungkin karena bentuknya unik dan agak padat, tasku sempat disuruh dibuka oleh petugas. Mereka penasaran mungkin, takut benda itu aneh-aneh. Aku jelaskan bahwa itu oleh-oleh, dan setelah diperiksa sebentar, mereka membiarkanku lanjut. Fiuh, lolos lagi.

Tapi ternyata… belum selesai juga.

Begitu sampai di pemeriksaan terakhir sebelum masuk ruang tunggu boarding, aku dan rombongan diminta menunjukkan tas jinjing atau tas kabin yang kami bawa. Petugas di pos itu berkata, “You need the AirAsia cabin bag tag on your luggage.”

Dan aku langsung membatin, ya ampun, apalagi ini?

Ternyata, untuk semua tas yang dibawa ke dalam kabin, harus ada tag kecil dari AirAsia—semacam stiker atau pita label yang menunjukkan bahwa tas tersebut sudah diverifikasi sebagai bagasi kabin. Karena tadi aku cuma ambil boarding pass di detik terakhir, tentu saja tasku belum dikasih tag sama sekali.

Petugasnya tegas, “You can’t bring your bag in without the tag.”

Wah, panik lagi. Aku udah di depan pintu terakhir sebelum boarding. Tapi harus putar balik. Lagi.

Aku buru-buru lari balik ke area check-in. Ini udah kayak misi bolak-balik penuh adrenalin di bandara. Untungnya, petugas AirAsia yang tadi masih di sana. Aku langsung menjelaskan, “They need the cabin tag for my bag,” sambil menunjuk tasku.

Dan dengan ekspresi sedikit capek tapi tetap profesional, si petugas langsung mengambil satu label kecil dan menempelkannya di tas jinjingku. “Here you go,” katanya.

Akhirnya! Semua urusan beres.

Dengan langkah sedikit ngos-ngosan dan napas campur tawa pahit, aku kembali ke gerbang keberangkatan. Tas sudah berlabel, boarding pass sudah resmi, dan semua pemeriksaan sudah dilewati. Tak lama kemudian, kami pun naik ke pesawat. Kursiku di baris tengah, dan begitu duduk, aku bersandar sambil menghembuskan napas panjang.

India, kau memang penuh kejutan sampai detik terakhir wkwkwk...

Tidak menunggu lama, kami dipersilahkan boarding. Penerbangan dari Kolkata ke Kuala Lumpur berjalan lancar—sekitar 4 jam-an di atas udara. Meski sempat ada sedikit turbulensi di tengah-tengah, tapi jujur aja, aku udah terlalu excited buat peduli. Rasanya kepala ini udah penuh bayangan kepulangan. Dan benar aja, begitu pesawat mulai menuruni ketinggian dan aku bisa melihat pemandangan KLIA yang familiar dari jendela rasanya kayak pulang ke dunia nyata.

Tapi karena penerbangan ke Jakarta baru esok harinya, ya... aku harus nginep semalam di KLIA. Dan namanya juga backpackeran, ya ngemper jadi pilihan. Cari spot yang agak nyaman di pojokan, deket colokan, lalu gelar jaket jadi alas duduk. Tidur seadanya, dengan tas kupeluk erat dan suara pengumuman bandara jadi lagu pengantar tidur. Nggak mewah, tapi memorable.

Besok paginya, aku lanjut terbang dari Kuala Lumpur ke Jakarta. Penerbangan yang juga lancar dan tenang. Tapi cerita belum berakhir sampai situ—dari Jakarta, aku masih punya satu leg lagi: naik pesawat Air Asia promo super murah (beneran murah, cuma seratus ribu rupiah!) dari Jakarta ke Jogja. Gila, mana dapet harga segitu lagi coba?

Setelah mendarat di Bandara Adi Sucipto, Jogja, aku melangkah keluar dari bandara sambil menenteng tas. Rasanya badan udah capek tapi hati masih hangat. Perjalanan panjang dari India, transit di KL, lanjut ke Jakarta dan Jogja, akhirnya hampir selesai. Tapi masih ada satu perjalanan terakhir: naik kereta Prameks ke Solo.

Waktu itu aku menunggu kereta di Stasiun Maguwo, yang terletak di sebelah Bandara Adi Sucipto.  Suasananya cukup tenang. Ada beberapa orang duduk di bangku peron, sebagian sibuk dengan HP, sebagian lagi hanya melamun menunggu kereta datang. Tapi jumlahnya nggak banyak, dan semuanya terasa... rapi. Tertib. Teratur.

Dan di saat itulah pikiranku otomatis membandingkan—mengingat kembali suasana stasiun-stasiun kereta di India yang baru saja kulewati beberapa hari sebelumnya. Di sana, hampir setiap stasiun selalu penuh sesak. Koper, tas karung, anak kecil, dan orang dewasa bercampur jadi satu. Ramai banget, bahkan bisa dibilang membludak.

Belum lagi soal kebersihannya—atau lebih tepatnya, ketidakbersihannya. Di banyak stasiun India, terutama di peron, aku sering melihat bekas ludahan merah di mana-mana, mulai dari dinding, lantai, bahkan kadang di tangga. Awalnya aku bingung, kok bisa sebanyak itu? Tapi kemudian aku tahu, itu adalah bekas dari pan atau gutka—semacam campuran tembakau, kapur, dan pinang yang dikunyah lalu diludahkan. Masyarakat India memang banyak yang mengonsumsi itu, dan sayangnya, membuang ludahnya sembarangan seperti sudah jadi kebiasaan umum.

Jadi waktu aku duduk di peron Stasiun Maguwo yang sepi, bersih, dan teratur itu, aku merasa sangat... bersyukur. Bahwa aku tinggal di Indonesia. Bahwa aku bisa pulang ke rumah dengan kereta yang nyaman, tanpa harus menapaki lantai yang penuh ludah atau dorong-dorongan dengan puluhan orang lain hanya untuk masuk ke gerbong.

Kadang, setelah melihat dunia luar yang lebih keras dan berantakan, kita jadi lebih menghargai rumah sendiri. Dan sore itu, menunggu Prameks di Jogja, aku benar-benar merasakan rasa syukur yang sederhana tapi dalam.

Akhirnyaa.. tidak menunggu lama kereta datang dan di sore hari aku sudah sampai kotaku tercinta, Solo. Aku dijemput ayahku di stasiun dan berkendara selama 20 menit, akhirnyaa sampai juga di rumah. Ibuku menyambutku dengan senang. Well, bagaimana tidak? Semester 2 kuliah udah berani backpackeran ke India wkwkwk.. Sore itu perasaanku sangat lega. Lega karena akhirnya bisa istirahat di rumah sendiri. Senang karena semua berjalan lancar. Tapi juga... ada sedikit rasa kosong. Seperti: "Lho, udah selesai aja?" Padahal kemarin masih lari-larian di bandara Kolkata.

Tapi satu hal yang pasti: perjalanan ini penuh cerita. Penuh warna. Dan penuh kenangan yang nggak akan pernah kulupakan seumur hidup.

Backpackeran ke India 2012: selesai.
Tapi efeknya? Masih nempel sampai sekarang. Apakah kedepannya aku akan ke India lagi?

Hmmmmm.... YES! Absolutely! 🤣🤣


-- FINISHED --

Perjalananku selanjutnya, berbekal tiket pesawat promo Rp 0 yang kudapatkan dari Bandung–Singapura, aku akan memulai perjalanan solo backpacking pertamaku ke luar negeri.

Berbekal keberanian yang mungkin sedikit lebih besar daripada isi dompet saat itu, aku menyusun perjalanan melintasi Singapura, Malaka, Kuala Lumpur, hingga Manila di Filipina. Sebuah perjalanan yang memberiku banyak pelajaran tentang kemandirian, keberanian mengambil keputusan, dan tentu saja berbagai cerita menarik yang hingga kini masih kuingat.

Bagaimana kisah solo backpacking pertamaku tersebut?

Simak ceritanya pada seri perjalanan berikutnya DISINI

[4] Sawadee Malaysia : Hampir Jadi Korban? (Finished)

Trip ini merupakan rangkaian trip Thailand - Kamboja - Malaysia yang kulakukan dari 23 Januari 2012 - 2 Februari 2012. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku berikan linknya di bagian paling bawah postingan.

Part Sebelumnya : DISINI


Kuala Lumpur, 1 Februari 2012

Hari ini adalah malam terakhirku dan Alfi di Kuala Lumpur. Setelah dua hari muter-muter ke hampir semua bangunan penting di sekitar Pasar Seni—bahkan sebelumnya udah muter-muter Thailand dan Kamboja juga—sejujurnya kami udah capek banget. Sebagian besar siang itu kami habisin cuma tiduran nggak jelas di hotel. Niatnya mau leyeh-leyeh total, recharge tenaga sebelum pulang.

Tapi sekitar jam 5 sore, entah kenapa tiba-tiba aku berubah pikiran, pengen keluar lagi. Ada daerah di Kuala Lumpur namanya Little India yang kemarin belum sempat kami jelajahi. 

"Fi, mau nggak kita keluar eksplor Little India?Mumpung hari terakhir ni," kataku.

"Boleh, yuk siap-siap sekalian cari makan," kata Alfi dengan semangat.

Di tengah perjalanan, kami mampir dulu makan nasi goreng India (nasi briyani)—yang porsinya seabrek! Lengkap sama teh tarik panas yang sangat lezat. 

Kami melanjutkan langkah kaki, dan tak lama kemudian, aku menemukan Gereja St. Andrew’s Presbyterian Church. Ini adalah salah satu tempat yang menarik untuk aku sambangi selama perjalanan. Gereja ini punya sejarah panjang dan mendalam yang menggambarkan perkembangan iman di kota ini.

St. Andrew's Presbyterian Church didirikan pada tahun 1825, menjadi salah satu gereja tertua di daerah ini, dengan arsitektur yang sangat menonjol, menggabungkan elemen klasik dan modern. Sejak awal berdirinya, gereja ini telah menjadi pusat rohani yang penting bagi komunitas Skotlandia yang tinggal di kota ini. Sebagai tempat ibadah, gereja ini juga berperan dalam kegiatan sosial dan pendidikan, memberikan pengaruh yang besar dalam membentuk komunitas di sekitar kawasan.


Gereja St. Andrew’s Presbyterian Church yang bergaya 'gothic revival', Kuala Lumpur

Langkah kaki kami membawa kami melewati salah satu bangunan yang langsung menarik perhatian—Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur. Dari kejauhan saja, bangunannya sudah mencolok dengan arsitekturnya yang unik dan penuh ornamen. Bentuknya seperti perpaduan antara istana dan masjid, dengan kubah-kubah putih, menara ramping, dan jendela-jendela melengkung bergaya Mughal yang khas.


Aku nggak masuk ke dalam, cuma berfoto dari luar. Tapi bahkan dari luar saja, bangunan ini benar-benar punya aura sejarah yang kuat. Jalan di depannya tidak terlalu ramai sore itu, jadi aku bisa berdiri dengan leluasa untuk mengambil beberapa foto. Alfi membantuku motret dengan latar menara yang menjulang di belakang, dan aku sempat beberapa kali cuma berdiri memandangi bangunan ini sambil membayangkan zaman ketika kereta-kereta uap mungkin masih berhenti di stasiun ini.

Sedikit sejarahnya, Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur dibuka pada tahun 1910 dan dirancang oleh arsitek Inggris bernama Arthur Benison Hubback. Arsitektur bangunan ini menggabungkan gaya Indo-Saracenic atau Mughal Revival—sebuah gaya yang populer di masa kolonial Inggris di Asia Selatan. Dulu, bangunan ini adalah pusat utama perkeretaapian di Malaysia sebelum KL Sentral dibangun.

Meskipun perannya kini sudah banyak tergantikan, stasiun ini tetap berdiri gagah sebagai simbol warisan kolonial yang masih dirawat. 

Di seberang Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur, kami menjumpai bangunan megah lainnya yang ternyata adalah bangunan KTM Berhad, atau dikenal juga sebagai Kantor Pusat Kereta Api Tanah Melayu. Letaknya persis di seberang Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur, dan arsitekturnya nggak kalah mencolok. Begitu melihat fasad bangunannya yang simetris dan penuh lengkungan khas arsitektur Indo-Saracenic, aku langsung berhenti dan mengajak Alfi untuk mengambil beberapa foto dari seberang jalan.

Kami memang nggak masuk ke dalam, hanya berfoto dari luar. Tapi tetap saja, berdiri di depan bangunan bersejarah yang megah seperti ini memberi sensasi tersendiri—seolah sedang menyaksikan potongan sejarah kolonial yang masih berdiri gagah di tengah kota modern.

Sedikit sejarahnya, bangunan ini dibangun pada tahun 1917 dan dirancang oleh arsitek yang sama dengan stasiun di seberangnya, yaitu Arthur Benison Hubback. Gaya arsitektur Mughal yang dipadukan dengan unsur Eropa benar-benar menjadikan gedung ini salah satu landmark arsitektur kolonial paling ikonik di Kuala Lumpur. Saat ini, bangunan ini menjadi kantor pusat dari Keretapi Tanah Melayu Berhad (KTMB), perusahaan kereta api nasional Malaysia. Warna lampu yang menyala saat menjelang malam membuat bangunan ini cukup cantik. 

Setelah sempat berfoto-foto dan berjalan kaki melewati beberapa bangunan kolonial yang ikonik, Alfi bilang, “Aku sekalian sholat ya.” Maka kami pun mengarah ke masjid ini yang lokasinya tak jauh dari Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur.

Masjid Negara langsung mencuri perhatian dengan bentuk arsitekturnya yang unik dan modern. Atap masjid ini berbentuk seperti bintang bersudut 18, dan menaranya menjulang tinggi, menjadi salah satu landmark utama kota Kuala Lumpur. Masjid ini selesai dibangun pada tahun 1965 sebagai simbol kemerdekaan Malaysia, menggantikan ide pembangunan monumen kemenangan. Sebagai masjid nasional, tempat ini bukan hanya pusat ibadah tapi juga simbol persatuan dan kemajuan bagi negara.

Sayangnya, aku nggak bisa ikut masuk karena pakaian yang kupakai saat itu tidak memenuhi syarat masuk ke area suci. Aku nggak bawa jaket, dan kepala juga nggak tertutup. Alhasil, aku hanya duduk-duduk santai di area luar, di bawah pohon palem dan di dekat kolam air mancur berbentuk bintang yang menjadi bagian dari lanskap halaman depan masjid.

Duduk di sana sore hari cukup menenangkan. Angin sepoi-sepoi mulai terasa setelah seharian berjalan kaki. Sambil menunggu Alfi selesai sholat, aku memperhatikan suasana sekitar. Ada beberapa wisatawan lain juga yang duduk-duduk di luar, sebagian sibuk memotret, sebagian hanya diam seperti aku, menikmati suasana sakral dan hening di tengah hiruk pikuk kota besar.

 Setelah Alfi selesai shalat, kami memutuskan buat balik ke hotel karena waktu udah menunjukkan jam 8 malam.

Tapi saat balik itulah semuanya mulai terasa aneh.

Rute yang tadi siang rame, sekarang jadi sepi dan gelap. Jalanan hanya diisi mobil-mobil melintas dengan kecepatan tinggi. Kami sempat bingung karena merasa tersesat. Semuanya terlihat berbeda di malam hari. Dan parahnya… kami lupa arah pulang.

Pas lagi jalan, ada seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul, jalan mendahului kami. Awalnya aku nggak terlalu curiga. Tapi tiba-tiba dia berhenti, balik arah, dan kami pun berpapasan. Dia nanya kami mau ke mana, aku jawab aja seadanya, “Ke arah Little India.”

Dia ngasih arahan, tapi nggak jelas. Feeling aku langsung bilang: ini arahnya justru makin jauh dari KL Sentral, dari hotel kami. Apalagi pas supir taksi yang kami tanya juga bilang arah yang dia tunjuk itu malah menjauh. Aku mulai waspada.

Kami pun putuskan untuk balik arah. Anehnya, si mas-mas itu juga berhenti lagi, bersandar di tembok gitu aja. Kami makin nggak nyaman, langsung nyebrang ke sisi lain jalan. Eh, dia ngikutin, tapi nggak nyebrang. Dia cuma berdiri di seberang, ngeliatin.

Kami nyebrang lagi, makin menjauh. Tapi... dia ikut nyebrang juga. Mulai saat itu, aku beneran deg-degan. Parno level maksimal. Jantung deg-degan, keringat dingin. Aku udah ngebayangin semua skenario terburuk—dicopet, dijambret, atau lebih parah.

Akhirnya, dengan sisa harapan, aku coba nyetop taksi. Tapi apes, taksi pertama nolak karena udah ada penumpang. Kami lari lagi. Nyetop taksi kedua... akhirnya berhenti. Tanpa mikir panjang, kami langsung masuk. 10 ringgit? Aku rela bayar berapapun asal bisa selamat.

Dalam waktu 10 menit, kami tiba di penginapan. Masih shock tapi sedikit lebih tenang. Aku sempat beli minuman di mini market depan hotel. Dan saat itulah, brak! Aku liat si laki-laki itu—lagi!—lewat depan market, matanya langsung nyasar ke aku. Tatapannya tajem banget, kayak elang ngeliatin mangsa. Gila, jantung aku rasanya copot lagi.

Atau sebenarnya itu aku berhalusinasi aja karena terlalu terguncang kejadian tadi?? Maksudnya, mungkin itu orang yang berbeda. Kebetulan memang lagi kontak mata dengan aku. Aku yang ketakutan menginterpretasikan begitu.

Malam itu, aku hampir nggak bisa tidur.

Aku kunci kamar rapat-rapat. Aku takut dengan jendela kamar mandi yang ngarah ke luar . Sepanjang malam cuma ditemani ESPN. Tiap dengar suara kecil di luar, mata aku langsung melek, deg-degan nggak karuan.

Namun ternyata tubuhku terlalu lelah. Sekitar jam 3 pagi, dengan ketakutan yang masih tersisa, aku perlahan tertidur...

Esoknya.. 2 Februari 2012
Finally, setelah kejadian mendebarkan semalam.. yang entah kita akan mendapatkan kejadian kriminal atau tidak, hari ini kami bisa bernafas lega.. Hari ini adalah kepulanganku dan Alfi kembali ke Indonesia, tepatnya kita akan langsung mendarat di kota kami tercinta, Solo. Pesawat kami Kuala Lumpur - Solo dijadwalkan terbang jam 1 siang ini, dan jadwalnya akan menempuh 3 jam penerbangan sebelum mendarat sekitar pukul 4 sore. Sejak pagi kami sudah cukup sibuk mengatur semua barang-barang kami di tas backpack. Perjalanan pertama ini, aku membawa cukup banyak oleh-oleh untuk keluargaku. Beberapa miniatur khas negara tersebut, beberapa makanan.

Setelah check out dan sarapan, sekitar jam 10 kita langsung naik bis menuju KLIA2. Perjalanan berlangsung selama 1 jam, dan seketika aku sadar akan segera meninggalkan negara ini, dan petualanganku akan berakhir. Pikiranku langsung flashback ke hari pertama kami sampai di Bangkok, makan Tom Yam Soup yang begitu asamnya, keliling Kota Bangkok sampai lutut geter, mengunjungi Angkor Wat, kehabisan bus Bangkok-Phuket, perjalanan panjang Phuket-Penang, dan akhirnya berakhir disini. Benar-benar petualangan panjang yang akan menjadi memori abadi di kehidupan kami. Aku berjanji di diriku, entah membutuhkan waktu lama atau tidak, aku harus menulis pengalaman ini di blog untuk mengabadikannya. 

Singkat cerita, kami sudah duduk di dalam pesawat Air Asia. Pesawat Air Asia sedikit demi sedikit mulai mengudara, meninggalkan Kuala Lumpur dan segala kenangannya secara perlahan. Aku bisa melihat semakin pesawat meninggi, perkebunan sawit terhampar dengan luas di bawah sana.

Penerbangan berlangsung dengan lancar dan minim turbulensi. Mendekati jam 4 sore, pesawat sedikit demi sedikit mulai menurunkan ketinggian. Area persawahan yang menghampar luas terlihat dari jendela pesawat, khas banget daerah Boyolali dan sekitarnya hehehe.. akhirnya aku pulang juga ke negaraku. Benar-benar kangen!

Pesawat AirAsia kami sudah hampir landing di Solo

Pesawat akhirnya landing dengan mulus di Bandara Adi Soemarmo, Solo. Setelah melewati proses imigrasi, aku dan Alfi berpisah di area kedatangan internasional. Aku mengucapkan terimakasih atas semuanya kepada dia. Sesaat kemudian aku dijemput oleh ayahku dan pulang kerumah membawa sejuta memori.

Apakah aku kapok traveling setelah kejadian semalam?

Aku malah....sudah tidak sabar memulai perjalanan kedua, yaitu ke INDIA di Agustus 2012 besok! Hehehe....

Jawabannya adalah "TIDAK KAPOK". Tapi akan lebih waspada kedepannya, contoh tidak jalan terlalu malam lagi di tempat yang sepi!

Lesson learned!

-- FINISHED.... --

4.28.2025

[3] Sawadee Malaysia : Keliling Bangunan Bersejarah di Kuala Lumpur !

Trip ini merupakan rangkaian trip Thailand - Kamboja - Malaysia yang kulakukan dari 23 Januari 2012 - 2 Februari 2012. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku berikan linknya di bagian paling bawah postingan.

Part Sebelumnya : DISINI

Berpose di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, Malaysia


Kuala Lumpur, 31 Januari 2012

Keesokan paginya, kami memutuskan untuk memulai hari dengan lebih santai. Karena ini adalah hari terakhir kami di Kuala Lumpur sebelum pulang ke Indonesia, rasanya ingin menikmati suasana tanpa terburu-buru. Kami baru mulai beraktivitas sekitar jam 11 siang. Bangun pun tanpa alarm, menikmati sarapan perlahan, dan menyiapkan diri untuk keliling kota lagi. Rencana hari ini sederhana: menjelajahi beberapa sudut Kuala Lumpur yang belum sempat kami datangi kemarin. Target kami adalah di area sekitar Pasar Seni dan Dataran Merdeka.

Penginapanku dan Alfi di Bukit Bintang

Dari penginapan, kami memulai perjalanan dengan naik Monorail, sebuah transportasi praktis yang melayang di atas jalanan Kuala Lumpur. Kami turun di Stesen Maharajalela, yang lokasinya cukup strategis dekat beberapa tempat bersejarah. Begitu keluar stasiun, kami langsung disambut pemandangan Stadium Merdeka. Stadion ini bukan stadion biasa. Stadium Merdeka adalah tempat bersejarah di mana pada 31 Agustus 1957, deklarasi kemerdekaan Malaysia dibacakan untuk pertama kalinya. Stadion ini pernah menjadi saksi momen penting ketika rakyat Malaysia resmi mengumumkan kemerdekaan mereka dari penjajahan Inggris. Bangunannya sendiri bergaya klasik, dengan tiang-tiang tinggi dan tribun terbuka yang terasa sederhana tapi penuh makna sejarah. Kami berhenti sejenak untuk berfoto.

Selesai berfoto di sekitar stadion, kami melanjutkan perjalanan ke Chan She Shu Yuen Clan Ancestral Hall yang jaraknya tidak terlalu jauh. Bangunan ini adalah sebuah klenteng klan — tempat untuk menghormati leluhur marga Chan, terutama bagi komunitas Tionghoa yang bermigrasi ke Malaysia. Fungsinya bukan hanya sebagai tempat berdoa, tetapi juga sebagai pusat pertemuan keluarga besar, tempat acara budaya, dan simbol penghormatan terhadap asal-usul mereka.



Kami masuk ke dalam dan langsung disambut suasana yang tenang, dengan ukiran kayu huruf Mandarin, patung-patung dewa-dewi yang dihias rapi, lampion-lampion merah yang menggantung cantik, serta aroma dupa yang memenuhi udara. Desain interiornya didominasi warna merah dan emas, membuat tempat ini terasa sangat hidup sekaligus sakral. Rasanya seperti sejenak dibawa ke suasana klasik Tiongkok di tengah hiruk pikuk Kuala Lumpur.

langkah kami membawa kami ke sebuah kuil tua dengan pintu merah menyala yang mencolok. Begitu masuk, suasana berubah drastis. Wangi dupa menyambut dari kejauhan, dan nuansa damai langsung terasa. Di salah satu sisi kuil, mataku tertumbuk pada detail ukiran kayu berlapis emas yang luar biasa indah.


Ukiran itu menampilkan makhluk mirip qilin, hewan mitologis dalam budaya Tiongkok yang dipercaya sebagai simbol keberuntungan dan kedamaian. Bentuknya setengah rusa, setengah naga, berdiri di atas pohon dengan posisi dinamis, dikelilingi bunga, daun, dan elemen alam lain yang menggambarkan keharmonisan hidup. Warna emasnya terlihat kontras dengan latar merah, sebuah kombinasi warna yang sarat makna dalam kepercayaan Tionghoa—melambangkan rejeki, kekuatan, dan perlindungan dari energi jahat.
Di samping ukiran itu juga tertera aksara Mandarin, yang kemungkinan adalah doa atau nama penyumbang keluarga bagi kelestarian kuil ini. Detailnya begitu halus dan penuh makna, aku sempat terpaku beberapa menit hanya untuk mengagumi karya tangan pengrajin zaman dulu.

Dari sini, kami kembali berjalan santai menuju arah Petaling Street, area pecinan (Chinatown) yang terkenal di Kuala Lumpur. Dalam perjalanan, kami sempat melewati Old China Cafe, sebuah kafe bersejarah yang mempertahankan nuansa kolonialnya. Bangunan tua ini tampak unik dengan pintu kayu besar dan ornamen vintage, membuat kami tidak tahan untuk berhenti sejenak dan berfoto di depannya sebelum melanjutkan langkah. Maklum, ini rangkaian perjalanan kami pertama kali ke luar negeri, jadi setiap ada bangunan otentik, rasanya pasti pengen berfoto aja hehehe..

Tak lama kemudian, langkah kaki kami sampai di Petaling StreetMeskipun matahari siang cukup terik, suasana di sini tetap ramai. Deretan kios dan toko memenuhi sepanjang jalan, menawarkan berbagai macam barang — dari suvenir, pakaian, tas, jam tangan, hingga jajanan lokal. Teriakan para pedagang yang menawarkan dagangannya bercampur dengan aroma makanan khas Malaysia, membuat suasana Petaling Street terasa hidup dan penuh warna.
Kami berjalan pelan menyusuri lorong-lorongnya, sambil sesekali berhenti melihat-lihat barang unik dan mencicipi jajanan yang menarik perhatian. Oya sebenarnya Petaling Street ini best-nya dikunjungi kalau malam, karena warna lampu dan lampion yang menyala akan membuatnya semakin estetik. 

Dulu, katanya, Petaling Street bukan seperti sekarang — awalnya hanyalah lorong kecil tempat para imigran Tiongkok menetap di abad ke-19. Mereka datang mencari rezeki dari tambang-tambang timah yang waktu itu sedang booming. Dari sanalah, perlahan-lahan kawasan ini tumbuh, bukan cuma jadi tempat tinggal, tapi juga pusat perdagangan kecil. Orang-orang lokal menyebutnya Chee Cheong Kai, yang artinya "Jalan Pabrik Tapioka," karena memang banyak pabrik olahan tapioka di sini.

Aku membayangkan, di masa itu, Petaling Street pasti dipenuhi aroma tepung tapioka, suara pedagang yang sibuk menawarkan barang, dan orang-orang yang bercita-cita membangun hidup baru. Bahkan saat masa kolonial Inggris datang, jalan ini tetap hidup — malah makin ramai.

Sekarang, Petaling Street sudah berubah. Ada atap besar berwarna hijau dan merah yang menaungi seluruh jalan — orang-orang menyebutnya Green Dragon Roof. Tapi di balik tampilan baru itu, aku masih bisa merasakan napas lamanya. Di antara lapak-lapak yang jualan jam tangan KW, tas tiruan, dan berbagai suvenir murah, ada sisa-sisa sejarah yang tetap bertahan.

Setiap aku berjalan, aku selalu ingat: ini bukan cuma tempat belanja, tapi tempat di mana Kuala Lumpur dulu bertumbuh dari tanah keras, dari mimpi-mimpi para pendatang yang tak pernah menyerah.

Dari riuhnya Petaling Street, langkah kami membawa lebih jauh ke arah pusat kota lama. Melewati gang-gang kecil dan bangunan tua, akhirnya kami tiba di sebuah ruang terbuka yang terasa berbeda — Medan Pasar, atau yang lebih dikenal dengan Old Market Square.

Di sanalah, berdiri sebuah menara kecil sederhana berbentuk kotak, berwarna abu-abu tua, dengan sebuah jam bundar di puncaknya: Old Market Square Clock Tower.

Old Market Square Clock Tower, Kuala Lumpur

Awalnya menara ini mungkin terlihat biasa saja — tidak semewah menara jam di kota-kota besar Eropa — tapi ternyata, menara ini menyimpan kisah penting dalam sejarah Kuala Lumpur.

Clock Tower ini dibangun pada tahun 1937, di masa kolonial Inggris, sebagai bagian dari upaya mempercantik pusat perdagangan Kuala Lumpur. Dulu, Medan Pasar adalah jantung aktivitas jual-beli kota ini, bahkan sebelum kawasan seperti Petaling Street berkembang pesat. Di sekelilingnya, berdiri deretan toko bergaya art deco dan kolonial yang dulu dipenuhi oleh pedagang emas, tekstil, dan kebutuhan sehari-hari.

Gaya arsitektur menara ini juga unik — bergaya Art Deco, yang pada masa itu menjadi simbol kemajuan dan modernitas. Kalau dilihat lebih dekat, pintu di dasar menaranya punya ukiran pola sinar matahari, khas desain art deco era 1930-an. Bentuknya mungkin tampak kaku, tetapi justru sederhana itulah yang mencerminkan semangat era itu: tegas, praktis, namun penuh makna.

Dari Old Market Square Clock Tower, aku dan Alfi berjalan menyusuri trotoar kota hingga akhirnya tiba di depan bangunan berarsitektur unik dan mencolok ini—Masjid Jamek Sultan Abdul Samad, salah satu masjid tertua di Kuala Lumpur. Dengan kubah-kubah putihnya yang berkilau dan menara bergaris merah-putih bergaya Mughal, masjid ini langsung mencuri perhatian siapa pun yang melintas.

Masjid ini dibangun pada tahun 1909 dan dulunya merupakan masjid utama kota sebelum adanya Masjid Negara. Lokasinya tepat di pertemuan dua sungai besar, yaitu Sungai Klang dan Sungai Gombak, yang dikenal sebagai titik awal lahirnya Kuala Lumpur. Arsitekturnya dirancang oleh A.B. Hubback, arsitek Inggris yang juga merancang bangunan bersejarah lain di kota ini.

Saat kami sampai, Alfi menoleh dan berkata, “Aku masuk salat dulu ya, Luh.”
Aku mengangguk dan ikut melangkah mendekati pintu masuk, berniat untuk sekalian masuk dan melihat bagian dalam masjid. Tapi begitu sampai di area pengunjung perempuan, aku dihentikan oleh petugas dan diberi tahu bahwa pengunjung perempuan yang ingin masuk wajib memakai pakaian berlengan panjang dan penutup kepala.

Karena aku saat itu cuma pakai kaus dan tak membawa jaket ataupun syal, aku pun akhirnya memutuskan menunggu di luar saja. Sambil duduk di bangku dekat pagar putih, aku memandangi masjid ini dengan lebih seksama. Di balik pagar, suasana tampak tenang dan teduh, kontras dengan jalanan kota yang sibuk hanya beberapa meter jauhnya. Sesekali aku memotret bangunan megah ini dari berbagai sudut, mencoba menangkap keindahan arsitekturnya yang klasik dan fotogenik.

Di bawah bayangan pohon kelapa yang menjulang, aku menunggu Alfi sambil menikmati momen hening yang langka di tengah pusat kota. Rasanya seperti melihat potongan sejarah yang masih hidup berdiri di antara gedung-gedung modern. Sebuah jeda yang menyenangkan sebelum kembali melanjutkan petualangan kami menyusuri Kuala Lumpur.

Setelah melanjutkan perjalanan, langkah kami akhirnya berhenti di depan tanda ikonik "I Love KL". Tanda besar yang berwarna merah mencolok ini mungkin merupakan spot wajib untuk kami berfoto hehehe.. Maklum kan masih traveler pemula. Semua spot ingin dibuat foto untuk mengabadikan momen.

Dari sana, kami melangkah ke arah Perpustakaan Kuala Lumpur, yang tak jauh dari lokasi "I Love KL". Bangunan perpustakaan ini sendiri cukup menarik dengan desain modern yang menyatu dengan suasana kota. Perpustakaan Kuala Lumpur ini sudah berdiri sejak tahun 1989 dan sejak saat itu telah menjadi pusat informasi dan budaya yang penting di kota. Tidak hanya buku-buku yang beragam, tapi juga berbagai program edukasi dan kegiatan budaya yang sering diadakan di sini. Aku merasa bahwa tempat ini lebih dari sekadar tempat membaca; ia adalah wadah yang memungkinkan orang untuk bertumbuh dan belajar, menciptakan ruang bagi pengetahuan dan kreativitas yang berkembang di tengah kota metropolitan ini.

Part Selanjutnya : DISINI

4.27.2025

[2] Sawadee Malaysia : Akhirya Melihat Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur!

Trip ini merupakan rangkaian trip Thailand - Kamboja - Malaysia yang kulakukan dari 23 Januari 2012 - 2 Februari 2012. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku berikan linknya di bagian paling bawah postingan.

Part Sebelumnya : DISINI

Menara Kembar Petronas, Kuala Lumpur

Penang, 30 Januari 2012

Cukup puas kemarin menghabiskan setengah hari keliling Georgetown, Pulau Pinang, hari ini kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju kota terakhir dalam rangkaian traveling kami kali ini: Kuala Lumpur. Kota ini akan menjadi pemberhentian terakhir sebelum akhirnya kami kembali ke Solo pada tanggal 2 Februari 2012.

Pagi itu, setelah proses check out dari penginapan dan sarapan, kami segera bergerak menuju Terminal Bus Penang, tempat kami akan naik bus menuju Kuala Lumpur. Perasaanku rasanya sedikit campur aduk — antara semangat menyambut petualangan baru dan perasaan waktu liburan yang perlahan mendekati akhir. Bagaimanapun rangkaian perjalanan kami dari 23 Januari - sekarang ini cukup melelahkan juga karena kami biasanya tidak berjalan kaki sebanyak ini.

Perjalanan dari Penang ke Kuala Lumpur memakan waktu sekitar 5–6 jam dengan bus, menempuh jarak kurang lebih 350 kilometer. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang kami lewati didominasi oleh hamparan hijau perkebunan, pegunungan di kejauhan, dan sesekali terlihat kota-kota kecil yang kami lintasi. Jalan tol yang mulus membuat perjalanan terasa nyaman, meskipun di beberapa titik bus harus melambat karena lalu lintas yang cukup padat.

Kami tiba di Kuala Lumpur sore hari, tepatnya di daerah Bukit Bintang. Begitu sampai, kami langsung berkeliling untuk mencari penginapan, check-in dan beristirahat sejenak di kamar. Setelah beberapa saat, kami mendapatkan sebuah kamar sederhana ber-AC dengan 2 kasur tingkat dengan harga yang sesuai budget. Okelah. Rasanya sekarang cuma pengen segera istirahat tiduran sebelum nanti malam mulai eksplor. 

Malam harinya, kami memulai petualangan kecil di kawasan Bukit Bintang yang dipenuhi oleh deretan kedai makanan lokal. Malam itu suasana sangat ramai, penuh warna, dan hidup. Deretan kios menawarkan segala macam aroma yang menggoda. Mulai dari sate, nasi lemak, sampai aneka street food yang menggugah selera. Aku benar-benar menikmati vibe malam itu; suasananya hangat, penuh tawa, dan seolah kota ini tidak pernah tidur.


Setelah puas mencicipi beberapa makanan, kami melanjutkan perjalanan dengan naik LRT menuju Suria KLCC Mall. Begitu sampai, aku mengira jalan keluar ke area taman tempat spot foto itu akan mudah ditemukan. Kenyataannya, aku malah tersesat di dalam Suria KLCC. Naik turun eskalator, belok kanan, belok kiri, tapi tetap saja belum menemukan jalan ke luar. Aku hanya bisa melihat sedikit puncak menara dari sela-sela kaca mal, bikin makin penasaran.

Hampir satu jam aku keliling di dalam — kaki mulai terasa lelah, perut lapar, dan mulai sedikit frustasi. Rasanya seperti masuk ke labirin tanpa ujung. Tiap kali menemukan pintu keluar, ternyata malah masuk ke jalan lain atau ke dalam area parkir. Akhirnya, setelah bertanya ke beberapa orang dan mengikuti papan petunjuk kecil menuju "KLCC Park," aku menemukan jalan yang benar. 

Begitu keluar dan melihat menara kembar itu berdiri megah di depan mata... semua rasa lelah langsung hilang seketika. Akhirnya, momen yang kutunggu-tunggu sejak lama benar-benar ada di depan mataku. Mataku langsung tertuju ke atas — ke arah dua menara raksasa yang menjulang tinggi ke langit malam. Petronas Twin Towers berdiri megah, bersinar terang ditimpa ribuan lampu yang memantulkan cahaya ke segala arah. Rasanya sulit untuk mengalihkan pandangan.

Aku takjub melihat betapa kokoh dan elegannya kedua menara itu, berdampingan seolah saling menjaga. Di tengahnya, sebuah jembatan penghubung yang disebut skybridge tampak menggantung anggun, mengikat kedua menara menjadi satu kesatuan yang harmonis.

Ada rasa kagum yang sulit digambarkan — seperti melihat sesuatu yang selama ini hanya ada di gambar atau brosur wisata, sekarang benar-benar ada di depan mata. Pengalaman pertama kali melihat sesuatu memang momen yang tidak bisa tergantikan.

Aku berdiri lama, mendongak ke atas, membiarkan diri larut dalam momen itu. Akhirnya, aku bisa melihat langsung ikon kebanggaan Malaysia ini dengan mata kepala sendiri. Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan.


Setelah akhirnya berhasil menemukan spot foto terbaik untuk mengabadikan momen di depan Petronas Twin Towers, aku duduk sebentar di bangku taman, menikmati suasana malam Kuala Lumpur yang terasa hidup. Banyak orang lalu-lalang, dari wisatawan yang sibuk berfoto sampai warga lokal yang sekadar duduk berbincang. Suasana di sekitar KLCC Park ini memang terasa sangat santai, dengan pemandangan air mancur kecil dan cahaya menara kembar yang memantul di kolam-kolam di sekitarnya.

Setelah cukup beristirahat, aku melanjutkan langkah, berjalan sedikit lebih jauh dari area Twin Towers. Di tengah perjalanan, mataku langsung tertarik pada sebuah gedung tinggi lain yang tak kalah mencuri perhatian. Gedung itu terlihat begitu elegan dengan pencahayaan warna emas yang membalut seluruh sisinya, membuat bentuk berundaknya semakin terlihat tegas di malam hari.
Itulah Menara Public Bank — salah satu gedung bank tertua dan terbesar di Malaysia. Bangunannya terlihat berbeda dibanding gedung-gedung modern kaca lainnya, dengan desain kokoh dan kesan klasik yang tetap kuat.

Tanpa banyak pikir, aku berjalan mendekat. Jalur menuju gedung ini dipenuhi air mancur kecil di kanan kiri jalan, menciptakan suasana yang tenang dan sedikit romantis. Aku berhenti sejenak, mengambil beberapa foto, sambil sekali lagi merasa takjub melihat betapa Kuala Lumpur tidak hanya menawarkan satu ikon, tapi begitu banyak bangunan cantik di sekitarnya.

Dari posisi itu juga, aku bisa melihat Menara KL (KL Tower) menjulang di kejauhan. Meski terlihat lebih kecil dari Petronas jika dilihat dari sini, keberadaannya tetap mencuri perhatian, dengan lampu warna-warni yang berganti perlahan di puncaknya. Rasanya menyenangkan bisa melihat dua landmark terkenal dalam satu malam.

Malam itu, aku menghabiskan waktu dengan santai, hanya berjalan kaki sambil menikmati suasana kota. Meski kaki terasa mulai lelah setelah seharian berpindah kota dari Penang ke Kuala Lumpur, ada rasa puas yang sulit digambarkan. Melihat langsung ikon-ikon yang selama ini hanya kulihat lewat buku atau internet, dan bisa berdiri di tengah-tengahnya, memberi sensasi pencapaian kecil yang membahagiakan.


Setelah merasa cukup puas menikmati suasana malam di sekitar KLCC, kami memutuskan untuk kembali ke Bukit Bintang menggunakan LRT. Malam makin larut, tapi suasana kota masih tetap ramai dan hidup. Kuala Lumpur memang nggak pernah benar-benar tidur.

Dalam perjalanan, kami sempat melewati Pavilion Kuala Lumpur, salah satu pusat perbelanjaan paling terkenal di kota ini. Mal pun tampak megah dengan dekorasi lampu yang indah di bagian depannya.
Sebenarnya, sempat ada keinginan untuk masuk dan melihat-lihat dalamnya, tapi rasa capek sudah benar-benar menguasai badan. Akhirnya kami memilih berfoto sebentar di depan Pavilion saja, sekadar untuk mengabadikan momen, sebelum lanjut berjalan lagi menuju hotel.

Begitu sampai di kamar hotel, rasanya benar-benar lega. Tanpa banyak basa-basi, kami langsung rebahan. Kaki pegal, badan lelah, tapi hati terasa puas. Hari ini benar-benar panjang dan penuh cerita — dari Penang ke Kuala Lumpur, dari terminal bus ke Twin Towers, lalu mengeksplorasi malam kota yang penuh lampu dan kehidupan.

Dan malam itu, di tengah rasa capek yang luar biasa, aku tersenyum kecil sebelum akhirnya tertidur pulas. Perjalanan ini memang melelahkan, tapi semua kenangan yang didapat benar-benar sepadan.



Part Selanjutnya : DISINI

12.21.2024

[1] Sawadee Malaysia : Melintasi Jejak Old China dan Keberagaman Budaya di Penang !

 Trip ini merupakan rangkaian trip Thailand - Kamboja - Malaysia yang kulakukan dari 23 Januari 2012 - 2 Februari 2012. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku berikan linknya di bagian paling bawah postingan.

Part Sebelumnya : DISINI


Penang, 29 Januari 2012

Menaiki travel dengan jarak tempuh 220 kilometer dan waktu tempuh 7 jam dari Hat Yai (Thailand selatan), kami akhirnya tiba di Pulau Pinang atau biasa disebut Penang sekitar pukul 1 siang. Perjalanan menuju pulau ini menurutku cukup menarik karena beberapa saat sebelum sampai, travel yang kami naiki sempat melintasi jembatan tengah laut yang menghubungkan daratan utama Malaysia dengan Pulau Pinang, sering disebut Jembatan Pulau Pinang. Jembatan ini memberikan pemandangan horizon yang luas: birunya laut yang membentang, kapal-kapal yang berlayar, dan langit cerah yang seperti menyatu dengan horizon. Kalau di Indonesia, mungkin seperti Jembatan Suramadu yang menghubungkan Jawa dan Madura. Hanya jalan diatas jembatan lebih lebar disini.

Begitu sampai di area Georgetown - ibukota Pulau Pinang, kami segera turun dari travel dan mencari penginapan. Setelah berjalan beberapa saat, kami menemukan tempat yang nyaman untuk bermalam dan membayar semalam. Rencana kami akan menghabiskan 2 hari 1 malam saja untuk eksplor Pulau Pinang. Besok siang rencana kami akan langsung naik bus ke tujuan akhir dari perjalanan ini, Kuala Lumpur.

Sekitar jam 3 sore, setelah beristirahat sejenak dan makan siang, kami mulai jalan keluar penginapan untuk eksplor Pulau Pinang. Aku cukup bersemangat karena ini adalah negara ketiga yang kueksplor di traveling luar negeri pertamaku. Dari penginapan kami berjalan ke Lorong Seck Chuan, sebuah jalan kecil yang bisa dibilang kaya akan sejarah. Lorong ini dulunya adalah bagian dari pusat perdagangan aktif pada masa kolonial. Suasana di sini sangat unik, dengan bangunan tua yang berjejer rapat, sebagian besar masih mempertahankan arsitektur aslinya. Kami berjalan kaki sembari mengamati pintu-pintu kayu klasik, jendela berjeruji besi, dan mural-mural seni modern yang menghiasi beberapa temboknya. 

Jalanan Kota Penang yang dipenuhi lampion..

Salah satu yang kupahami ketika mulai berjalan-jalan di Lorong Seck Chuan, budaya China sangat kental. Toko-toko berjejer dengan papan nama berbahasa Melayu dan Mandarin, menciptakan suasana otentik yang menunjukkan perpaduan budaya antara Melayu dan China. Wangi dupa dari kuil-kuil kecil, suara percakapan dalam berbagai dialek Tionghoa, dan tampilan arsitektur lama membuat setiap langkah di lorong ini penuh warna budaya. Lorong Seck Chuan sendiri mendapatkan namanya dari seorang tokoh Tionghoa berpengaruh, Koo Seck Chuan. Ia adalah seorang pedagang sukses yang berperan penting dalam perkembangan ekonomi dan komunitas Tionghoa di Penang pada masa kolonial. Namanya diabadikan sebagai penghormatan atas kontribusinya terhadap perkembangan kota, khususnya di bidang perdagangan dan filantropi. Berkat tokoh-tokoh seperti Koo Seck Chuan, kawasan ini berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas bisnis dan budaya Tionghoa yang hidup hingga sekarang.


Dari Lorong Seck Chuan, langkah kami berlanjut, menyusuri jalan-jalan kecil George Town yang penuh sejarah. Tidak lama kemudian, kami sampai di sebuah bangunan megah berpagar hitam dengan menara berkubah hitam pula — Masjid Kapitan Keling. Masjid ini begitu ikonik, dengan arsitektur yang mencerminkan perpaduan budaya India-Muslim, Melayu, dan sentuhan kolonial Eropa. Masjid ini dibangun pada awal abad ke-19 oleh komunitas Muslim India, khususnya keturunan Tamil. Nama "Kapitan Keling" sendiri berasal dari "Kapitan," gelar pemimpin komunitas, dan "Keling," istilah lama untuk menyebut orang India Selatan. Masjid ini mencerminkan perpaduan budaya Melayu, India, dan China yang sangat khas di Malaysia yang tercermin dari gaya arsitekturnya, yaitu kubah hitam besar khas Mughal India, dipadukan dengan sentuhan arsitektur kolonial Eropa (seperti lengkungan bergaya Gothic) dan unsur Melayu dalam desain ukirannya. Kami memutuskan hanya menfotonya dari bagian depan dan eksplor lebih jauh.


Tak jauh dari masjid, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah klenteng yang berdiri anggun di sisi jalan, bernama Han Jiang Ancestral Temple. Kami pun memutuskan untuk masuk. Aroma dupa yang khas segera menyambut begitu kaki melangkah ke dalam, membawa harumnya yang menenangkan. Di sudut-sudut klenteng, beberapa orang terlihat khusyuk berdoa, tangan mereka menggenggam dupa, kepala menunduk dalam hening. Suasana di dalam begitu syahdu, penuh warna merah dan emas, simbol keberuntungan dan penghormatan dalam budaya Tionghoa. Ornamen naga, dewa-dewi, dan lentera menggantung indah.


Sebagai informasi, kuil ini merupakan kuil klan Teochew (suku Tionghoa dari wilayah Chaozhou, Tiongkok selatan) yang dibangun pada tahun 1870 oleh komunitas Teochew imigran di Penang, yang dalam praktik keagamaannya mengikuti ajaran TaoismeFungsi utamanya adalah sebagai tempat penghormatan leluhur dan pusat budaya untuk komunitas Teochew. Taoisme (atau Daoisme) itu adalah agama dan filosofi yang berasal dari Tiongkok kuno, fokus utamanya pada hidup selaras dengan Tao (道), yang artinya "jalan" atau "aturan alam semesta". Kitab utamanya namanya Tao Te Ching, ditulis oleh Laozi (Lao Tzu).

Inti ajaran Tao sendiri mencakup:

  • Alam dan kehidupan punya ritme alami sendiri, manusia sebaiknya mengikuti aliran itu, bukan melawannya.

  • Menekankan kesederhanaan, keseimbangan, harmoni, dan mengurangi ambisi berlebihan.

  • Taoisme banyak berbicara tentang konsep Yin dan Yang — keseimbangan antara dua kekuatan yang berlawanan tapi saling melengkapi.

  • Dalam praktiknya, Taoisme juga melibatkan ritual, pemujaan dewa-dewi, dan kadang pencarian keabadian lewat meditasi atau teknik pernapasan.

Setelah beberapa saat menikmati kedamaian di klenteng, kami berjalan lagi. Tak jauh dari sana, berdirilah Kuil Hindu Sri Mahamariamman, kuil Hindu tertua di Penang. Kuil ini terlihat mencolok dengan gerbang masuknya yang penuh ukiran warna-warni, menampilkan berbagai dewa dan makhluk mitologi Hindu. Kami tidak masuk ke dalam, hanya berhenti sejenak di depan untuk mengambil foto. Dari luar, sudah terasa hidupnya suasana — ornamen-ornamen berwarna cerah dan patung-patung dewa yang terukir dengan detail memancarkan energi budaya yang kuat.

Lelah setelah berjalan kaki, kami akhirnya berhenti untuk makan siang. Pilihan kami jatuh pada sebuah kedai lokal yang terkenal dengan hidangan nasi kari ayam. Rasanya sungguh lezat—kuah kari yang kaya rempah berpadu sempurna dengan ayam yang empuk dan nasi hangat. Makan siang ini menjadi penutup sempurna untuk eksplorasi hari pertama kami di Penang.

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke lorong yang dipenuhi mural-mural artistik. Lorong ini adalah salah satu atraksi terkenal di Penang, menampilkan seni jalanan yang menceritakan kehidupan masyarakat lokal. Beberapa mural menggambarkan anak-anak bermain, pedagang tua, atau adegan kehidupan sehari-hari. Karya-karya ini memberikan kehidupan baru pada bangunan-bangunan tua di sekitarnya, menciptakan perpaduan antara tradisi dan modernitas.

Dari lorong mural, kami berjalan menuju Dewan Sri Pinang, sebuah bangunan bersejarah yang kini sering digunakan untuk acara seni dan budaya. Arsitekturnya yang megah menjadi latar yang sempurna untuk foto.

Kemudian, kami tiba di Town Hall Penang, sebuah bangunan megah bergaya arsitektur kolonial yang merupakan salah satu landmark penting di George Town. Dibangun pada tahun 1880, Town Hall ini awalnya berfungsi sebagai pusat administrasi kolonial Inggris. Kini, bangunan ini difungsikan sebagai tempat acara-acara resmi, pameran, dan konser. Keindahan arsitekturnya yang masih terawat dengan baik menunjukkan dedikasi kota ini untuk melestarikan warisan budaya.


Di seberang Town Hall, kami menemukan Esplanade Penang, yang juga dikenal sebagai Padang Kota Lama. Kawasan ini merupakan ruang terbuka hijau yang sudah ada sejak era kolonial. Pada masa itu, Esplanade digunakan sebagai tempat parade militer dan acara-acara besar. Kini, area ini menjadi tempat favorit warga lokal dan wisatawan untuk bersantai, terutama karena lokasinya yang berada tepat di tepi laut.

Pemandangan laut dari Esplanade sangat memukau. Kami duduk di bangku taman, menikmati angin sepoi-sepoi sambil memandangi kapal-kapal yang berlayar di kejauhan. Suara ombak yang tenang berpadu dengan aktivitas warga lokal yang jogging atau bercengkerama bersama keluarga. Cahaya matahari sore yang memantul di permukaan air laut menambah kesan magis pada tempat ini. 


Dari Esplanade Penang, kami melanjutkan perjalanan ke Padang Kota Lama, sebuah taman yang terletak di tengah-tengah area George Town yang bersejarah. Taman ini merupakan salah satu ruang hijau penting di Penang dan sering dijadikan tempat berkumpul bagi warga lokal maupun wisatawan. Padang Kota Lama memiliki fungsi ganda: sebagai ruang rekreasi dan lokasi untuk berbagai acara umum, seperti konser, pasar malam, atau festival budaya.

Saat kami tiba, taman ini tampak hidup dengan berbagai aktivitas. Di salah satu sudut, beberapa anak kecil bermain bola sambil tertawa riang, sementara di sisi lain terlihat pasangan-pasangan yang duduk di bangku taman di bawah pohon besar yang rindang. Jalan setapak di taman dipenuhi orang-orang yang berjalan santai atau jogging. Beberapa penjual es krim keliling menambah suasana santai sore itu. Kami memutuskan untuk duduk sejenak di atas rumput sambil menikmati pemandangan di sekitar, dengan latar belakang bangunan-bangunan kolonial yang megah.

Setelah menikmati suasana Padang Kota Lama, kami melanjutkan langkah ke Fort Cornwallis, yang hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari taman. Ketika kami mendekati pintu masuk Fort Cornwallis, dinding batu yang kokoh langsung menarik perhatian kami. Benteng ini adalah salah satu situs sejarah paling penting di Penang. Dibangun pada tahun 1786 oleh Kapten Francis Light, Fort Cornwallis awalnya dirancang sebagai benteng pertahanan untuk melindungi George Town dari ancaman serangan musuh, terutama dari bangsa Belanda dan Perancis. Meski benteng ini tidak pernah digunakan untuk pertempuran, ia tetap menjadi simbol penting dari masa kolonial Inggris di Asia Tenggara.

Kami memasuki benteng melalui gerbang kayu besar, dan suasana di dalam langsung membawa kami kembali ke masa lalu. Area benteng ini cukup luas, dengan sisa-sisa struktur tua seperti gudang amunisi, penjara kecil, dan kapel. Beberapa meriam tua masih berdiri kokoh di atas tembok, menghadap ke laut, seolah bersiap menghadapi ancaman yang tak pernah datang. Salah satu meriam yang terkenal di sini adalah Meriam Seri Rambai, yang konon memiliki mitos membawa keberuntungan bagi pasangan yang berdoa di dekatnya.

Saat berjalan-jalan di dalam benteng, kami melihat berbagai panel informasi yang menceritakan sejarahnya, lengkap dengan foto-foto lama dan peta zaman kolonial. Ada juga menara pengawas kecil di salah satu sudut, dari mana kami bisa menikmati pemandangan indah ke arah laut dan George Town.

Sore itu, suasana di Fort Cornwallis terasa damai. Hanya ada beberapa pengunjung lain selain kami, sehingga kami bisa menjelajah dengan leluasa. Angin laut yang sepoi-sepoi membuat udara terasa sejuk, meskipun matahari masih bersinar terang. Kami mengambil beberapa foto, mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang tentara Inggris yang berjaga di benteng ini berabad-abad lalu.

Setelah puas menjelajahi Fort Cornwallis, kami memutuskan untuk keluar dan berjalan kembali menuju pusat kota. Penang memang kota yang penuh cerita dan selalu ada hal menarik di setiap sudutnya.


Dalam perjalanan pulang menuju penginapan, langkah kami terhenti oleh suara tabuhan drum, dentuman simbal, dan sorakan riuh dari kejauhan. Saat berjalan lebih dekat, kami melihat rombongan barongsai yang tengah beraksi di sebuah persimpangan jalan. Rupanya, kami beruntung bisa menyaksikan salah satu atraksi budaya khas yang sangat meriah, apalagi saat itu mendekati perayaan Imlek.



Rombongan barongsai tersebut terdiri dari beberapa kelompok, masing-masing membawa barongsai berwarna-warni. Ada barongsai berwarna merah menyala yang melambangkan keberuntungan, kuning keemasan sebagai simbol kemakmuran, dan hijau cerah yang mewakili harapan. Tidak ketinggalan, barongsai biru yang melambangkan harmoni dan ketenangan. Kostum-kostum mereka sangat mencolok dengan detail yang indah, dihiasi bulu-bulu halus di sekeliling kepala dan ekor, serta pola-pola bersulam yang memancarkan kilauan saat terkena cahaya.


Rombongan barongsai itu ternyata tidak hanya berhenti di satu tempat, tetapi membentuk arak-arakan yang bergerak sepanjang jalanan Kota Penang. Suasana semakin semarak dengan iring-iringan pemain drum dan gong yang terus menabuh ritme dinamis, mengiringi setiap langkah barongsai yang menari-nari di jalanan. Di depan arak-arakan, ada pembawa bendera besar berwarna merah keemasan dengan tulisan Tionghoa yang mengalir megah tertiup angin.

Para pemain barongsai menampilkan gerakan yang lincah dan penuh energi, mengikuti irama tabuhan drum dan suara gong yang bertalu-talu. Penonton yang berkumpul di sekeliling memberikan semangat dengan tepuk tangan dan sorakan setiap kali barongsai melompat-lompat atau membuat gerakan akrobatik. Beberapa anak kecil terlihat sangat antusias, bahkan ada yang berusaha menyentuh kepala barongsai dengan harapan mendapatkan keberuntungan.

Di antara rombongan itu, ada juga para pengiring yang membawa lampion merah besar, menambah suasana semarak malam itu. Pedagang kaki lima di sepanjang jalan pun tampak sibuk melayani pembeli, menjual makanan ringan khas seperti kue keranjang, bakpao, dan permen kapas. Aroma makanan bercampur dengan suasana riuh, menciptakan kombinasi yang menyenangkan bagi semua indra.

Kami memutuskan untuk berhenti sejenak, ikut menikmati pertunjukan tersebut. Rasa lelah setelah seharian menjelajahi Penang seolah hilang dalam suasana yang penuh keceriaan ini. Meski malam mulai larut, semangat rombongan barongsai dan para penonton tak surut.

Setelah pertunjukan selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju penginapan dengan senyum lebar dan hati yang hangat. Malam itu terasa seperti penutup sempurna untuk hari yang penuh petualangan di Penang. Semangat dan keramaian yang kami saksikan seakan menjadi pengingat akan keindahan budaya dan tradisi yang tetap hidup di tengah modernitas kota ini.

Part Setelahnya : DISINI