Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

8.23.2025

[PART 6] Menggapai Himalaya : Indahnya Amber Fort, Jaipur!

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI

Aku berpose di bagian depan Amer Fort, Rajasthan


Jaipur, 3 Juli 2016

Perjalanan panjang 20 jam dari Mumbai dengan kereta Bct JP Express akhirnya membawa kami ke kota berikutnya. Jaipur. Wow… bisa dibilang perjalanan kami di India ini super ngebut. Bayangkan saja, hanya dalam waktu 4 hari kami sudah menempuh hampir 2500 kilometer. Dari Kochi di India bagian selatan, lanjut ke Mumbai, dan sekarang sudah mendarat di Jaipur!

Tapi demi bisa eksplor kota-kota ini, aku dan Fredo siap menerjang segalanya. Lagipula kereta yang kami gunakan meski kelas ekonomi, modelnya sleeper—jadi sebenarnya lumayan nyaman buat perjalanan panjang. Sepanjang jalur Mumbai–Jaipur ini aku sukses tidur dengan lancar, syukurlahhh. Jadi hari ini aku bangun dengan tenaga full, siap untuk petualangan berikutnya.

Sekitar satu jam sebelum ketibaan, sekitar pukul 1 siang, aku dan Fredo turun ke kursi bawah. Dari jendela kereta, pemandangan luar mulai berubah drastis. Jika sebelumnya jalur didominasi hamparan hijau dan desa-desa kecil khas India, kini berganti dengan nuansa gurun. Pemandangan didominasi oleh tanah kering berwarna kecokelatan, semak belukar jarang, dan pepohonan akasia yang berdiri sendirian seakan sedang berjuang hidup di tengah teriknya Rajasthan.

Sesekali tampak kawanan unta yang digiring perlahan, atau sapi yang tetap santai berjalan di pinggir rel meskipun kereta melaju kencang. Rumah-rumah sederhana berdinding tanah liat muncul di kejauhan, beratap datar dan bercat kusam, seolah menyatu dengan lanskap kering sekitarnya. Langit sore itu biru pucat, sedikit berdebu, memberi kesan khas wilayah padang pasir. Dan semakin dekat ke Jaipur, mulai terlihat bentangan dinding benteng tua dan menara-menara kecil berwarna merah muda pucat—pertanda bahwa Jaipur, si Pink City, sudah hampir menyambut kedatangan kami.

Kreeeepppyarrr… 🎶 ting ting ting

“Your attention please… Train from Mumbai Central is now arriving at Jaipur Junction. Passengers are requested to check their belongings and get down carefully. Thank you.”

“Yātriyoṅ se nivedan hai… yah gāṛī Jaipur Junction par pahuṅch rahī hai. Kr̥pā karke apnā sāman saṃbhāl leṁ aur dhyān se utareṁ.”

Pengumuman dari kereta menunjukkan kami sudah sampai di Stasiun Jaipur. Jaipur. Kota di provinsi Rajasthan ini sering disebut Pink City karena banyak bangunan utamanya, terutama di kawasan tua, dicat dengan warna merah muda. Katanya sih, sebagai simbol keramahan menyambut tamu kerajaan di masa lalu.

Begitu keluar dari Stasiun Jaipur Junction, kami langsung disambut deretan auto rickshaw berwarna kuning-hijau yang berjejer menanti penumpang. Mereka mengerubungi kami menawarkan tumpangan. 

"Where you go? Where you go?" Adalah pertanyaan yang mereka ajukan hampir bersamaan. Well jujur aja karena ga ada clue mau naik transport apa, aku menjawab salah satu dari mereka. Seorang lelaki muda.

"Amer Hotel. You know? How much?" Jawabku 

"Yes, I know. It's 250 Rs."

Setara Rp 50.000. Well, karena menurutku itu masih harga yang wajar untuk jarak 11 km, kami menyanggupinya. Segera kami menuju rickshawnya, mengatur tas-tas berat di bagian belakang dan memulai perjalanan.

Kota Jaipur memberi kesan berbeda dibanding Mumbai. Jalanan tidak sepadat kota besar di pesisir barat itu, namun debu terasa lebih pekat beterbangan setiap kali kendaraan melintas. Warna dominan kota ini adalah coklat muda bercampur pink, khas Rajasthan—mulai dari dinding bangunan tua, gapura, hingga deretan toko kecil di pinggir jalan.

Di sisi jalan, sapi-sapi berkeliaran bebas, berjalan santai seolah mereka pemilik jalan. Sopir rickshaw dengan lihai menghindari sapi yang tiba-tiba berhenti di tengah aspal. Sesekali tampak bangunan usang dengan cat terkelupas, menampilkan wajah tua Jaipur yang penuh cerita. Tak jarang pula kami melewati tumpukan sampah di pojokan jalan, dengan aroma khas yang sulit diabaikan. Meski begitu, ada kehidupan yang terus berdenyut—anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki, penjual teh di warung sederhana, dan pedagang kain berwarna-warni yang duduk di teras toko. 

Sekitar tiga puluh menit berkendara dengan auto rickshaw, akhirnya kami tiba juga di Amer Hotel. Letaknya cukup strategis, tidak terlalu jauh dari Amber Fort, salah satu benteng paling indah di Rajasthan yang memang jadi tujuan utama kami di Jaipur. Proses check-in berjalan lancar. Resepsionis ramah menyambut dengan senyum khas India, lalu menyerahkan kunci kamar. Begitu masuk, aku cukup terkejut—kamarnya luas dengan nuansa industrial. Dinding separuh bata ekspos, furnitur kayu sederhana, dan pencahayaan hangat yang membuat suasana terasa nyaman. Setelah menempuh perjalanan panjang hampir seharian penuh dari Mumbai ke Jaipur, rasanya kamar itu seperti oasis kecil buat kami.

Kami sempatkan makan siang ringan di restoran hotel, lalu kembali ke kamar untuk leyeh-leyeh sejenak. Badan memang butuh istirahat, apalagi tidur di kereta meskipun lumayan nyenyak, tetap tidak bisa menggantikan rebahan di kasur empuk hotel.

“Eh, mas… nanti jam 2.30-an kita langsung ke Amber Fort aja ya. Jadi besok bisa fokus eksplor kota Jaipur. Lagian enak juga kalau sore nggak terlalu panas,” kataku sambil tiduran dan memainkan HP. Fredo hanya mengangguk setuju, masih sibuk bongkar tasnya.

Oh ya, ada satu hal yang cukup menantang di perjalanan India kali ini, kami sama sekali tidak menggunakan internet di luar hotel. Membeli nomor lokal dan paket data ternyata ribet, jadi kami memutuskan untuk jalan “offline” saja, hanya mengandalkan peta offline dan sedikit insting. Anehnya, itu malah bikin perjalanan lebih seru—ada sensasi petualangan yang lebih nyata tanpa notifikasi atau Google Maps yang selalu siaga.

Jadinya, setiap kali kembali ke kamar dan tersambung ke Wi-Fi hotel, rasanya seperti menemukan harta karun. Saat-saat browsing bebas inilah yang kami gunakan untuk mencari informasi tambahan, membaca tips wisata, atau sekadar melepas kangen dengan dunia luar.

Sekitar pukul 2.30 sore, setelah cukup rebahan di hotel, kami mulai berjalan kaki menuju Amber Fort. Letaknya hanya sekitar 500 meter dari Amer Hotel, jadi benar-benar bisa ditempuh santai. Sepanjang jalan, suasananya rame banget—ternyata bukan cuma turis asing, tapi juga banyak warga lokal yang berkunjung sore itu. Aku sempat melihat kereta sederhana yang ditarik sapi, lalu ibu-ibu bersari warna-warni menggandeng anak-anak mereka, semua tampak sumringah seakan sedang liburan keluarga.

“Untung kita datang sore, ya. Kalau siang panasnya pasti bikin gosong,” kataku.

Harga tiket masuknya sekitar 500 Rupee per orang. Dari gerbang, jalan menuju dalam benteng terasa megah. Tembok tinggi menjulang dengan warna keemasan bercampur merah muda, khas batu pasir dan marmer yang dipakai sejak berabad-abad lalu.

Amber Fort atau Amer Fort memang punya sejarah yang cukup panjang dan berlapis. Benteng ini mulai dibangun pada akhir abad ke-16 oleh Raja Man Singh I, salah satu panglima militer paling dipercaya oleh Kaisar Mughal Akbar. Pada masa itu, wilayah Amer merupakan pusat kekuasaan klan Kachwaha Rajput, jauh sebelum kota Jaipur dirancang dan dibangun. Amer berfungsi sebagai ibu kota kerajaan, sehingga benteng ini tidak hanya berperan sebagai pertahanan, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan dan kehidupan istana.

Pembangunan Amber Fort tidak terjadi dalam satu masa saja. Setelah Man Singh I, para penerusnya terus memperluas dan menyempurnakan kompleks ini selama beberapa generasi. Setiap penguasa menambahkan bangunan, halaman, dan paviliun baru sesuai kebutuhan dan selera zamannya. Karena itu, benteng ini memperlihatkan perpaduan arsitektur Rajput dan Mughal, terlihat dari penggunaan batu pasir kuning, marmer, gerbang besar, halaman bertingkat, serta tata ruang yang simetris namun tetap mengikuti kontur bukit.

Letaknya di atas bukit bukan sekadar untuk estetika. Dari posisi ini, benteng memiliki pandangan luas ke sekeliling lembah dan ke arah Maota Lake di bawahnya. Danau tersebut dulunya berfungsi penting sebagai sumber air utama bagi benteng dan kota Amer. Kombinasi ketinggian, dinding tebal, dan jalur masuk yang berlapis membuat Amber Fort sulit ditembus musuh, sekaligus nyaman sebagai kediaman keluarga kerajaan.

Pada awal abad ke-18, pusat kekuasaan kerajaan Kachwaha dipindahkan ke kota baru yang lebih terencana, yaitu Jaipur, oleh Maharaja Sawai Jai Singh II. Sejak saat itu, Amber Fort tidak lagi menjadi istana utama, meskipun tetap digunakan untuk kegiatan tertentu dan upacara kerajaan. Perlahan, perannya berubah dari pusat kehidupan politik menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.

Begitu berdiri di bawah benteng, aku benar-benar terdiam beberapa saat. Ukurannya jauh lebih besar dari bayanganku. Dindingnya menjulang tinggi, memanjang mengikuti kontur bukit, warnanya cokelat keemasan dengan bekas waktu yang jelas terlihat di setiap sudut. Aku sempat berhenti dan berfoto di bawah, sekadar ingin mengabadikan momen berdiri kecil di hadapan bangunan raksasa yang sudah bertahan ratusan tahun ini. Dari posisi itu saja, Amber Fort sudah terasa sangat megah dan sedikit mengintimidasi.

Sore itu ternyata bukan cuma kami yang datang. Banyak sekali warga lokal yang juga baru mulai naik ke atas, sepertinya ini waktu favorit untuk berkunjung karena matahari sudah tidak terlalu terik. Perempuan-perempuan dengan sari warna cerah, keluarga yang membawa anak-anak, pasangan muda, semuanya bergerak perlahan menaiki jalur yang sama. Seperti biasa di India, kami cukup sering dilihatin. Ada yang sekadar menoleh penasaran, ada yang tersenyum, ada juga yang berani minta foto bareng. Sudah jadi hal yang hampir rutin setiap kali kami jalan di tempat wisata.

Di sepanjang jalur naik, ada cukup banyak pengemis. Beberapa duduk diam di pinggir tembok sambil menadahkan tangan, sebagian lain berjalan pelan mengikuti arus pengunjung. Ada yang membawa anak kecil, ada yang sudah tua. Rasanya campur aduk. Di satu sisi aku sedang menikmati keindahan sejarah dan arsitektur, di sisi lain realitas sosial terasa sangat dekat dan nyata, bahkan sebelum kami benar-benar masuk ke dalam.

Tangga demi tangga kami lewati. Jalurnya landai tapi panjang, dibatasi dinding batu rendah di kiri kanan. Dari sini, pemandangan mulai terbuka. Di belakang, terlihat kawasan permukiman di kaki bukit, rumah-rumah kecil dengan warna kusam, menyatu dengan lanskap kering Rajasthan. Di kejauhan, tembok panjang benteng terlihat membentang mengikuti kontur bukit, seperti ular batu yang melingkari perbukitan.

Setelah melewati jalur naik, kami tiba di sebuah lapangan luas di dalam kompleks benteng. Area ini terasa seperti halaman penyambutan. Ruang terbuka lebar dengan lantai batu, dikelilingi bangunan-bangunan tua berwarna pasir. Orang-orang duduk, berjalan santai, anak-anak berlarian, sebagian berfoto dengan latar dinding benteng.

Lapangan ini bernama Jaleb Chowk. Di masa lalu, inilah alun-alun utama di dalam Amer Fort. Tempat berkumpulnya pasukan, lokasi apel militer, sekaligus area penyambutan tamu dan rombongan kerajaan yang baru tiba dari luar benteng. Letaknya memang strategis, tepat setelah akses tangga masuk, seolah menjadi ruang peralihan sebelum orang benar-benar masuk ke jantung istana. Secara tata ruang, Jaleb Chowk dibuat sangat luas dan terbuka. Bukan tanpa alasan. Area ini dulu harus mampu menampung banyak orang, pergerakan pasukan, bahkan gajah-gajah kerajaan. Dari sini, barulah akses menuju bagian-bagian istana yang lebih privat terbuka ke atas dan ke dalam.


Di Jaleb Chowk ini kami sempat berhenti cukup lama. Bukan cuma karena capek setelah naik, tapi karena suasananya memang hidup. Saat aku berdiri agak ke tengah lapangan, tiba-tiba sekelompok orang lokal menghampiri. Mereka tersenyum, sedikit malu-malu, lalu minta foto bersama. Aku mengangguk sambil tertawa kecil. Momen seperti ini selalu terasa hangat. Bukan sekadar turis dan tempat wisata, tapi pertemuan singkat antar manusia yang sama-sama penasaran satu sama lain.

Dari sisi lapangan, pandangan terbuka ke arah luar benteng. Dari ketinggian ini, kota Amer terlihat jelas. Rumah-rumah berwarna pucat dan pastel menyebar di kaki bukit, bertumpuk rapat mengikuti kontur lembah. Di kejauhan, dinding benteng memanjang mengikuti punggungan bukit, seperti ular batu yang melilit perbukitan kering Rajasthan. Garis tembok itu tegas, panjang, dan terasa sangat defensif, mengingatkan bahwa tempat ini dulu dibangun bukan hanya untuk keindahan, tapi untuk bertahan hidup.

Di seberang lapangan, tampak sebuah bangunan berwarna putih pucat dengan lengkungan-lengkungan tinggi dan lampu gantung di tengah ruangannya. Bangunan ini adalah Chand Pol, atau Moon Gate, gerbang penting yang dahulu menjadi pintu masuk utama bagi masyarakat umum ke dalam kompleks istana. Di lantai atas gerbang ini dulu terdapat Naubat Khana, ruang musik kerajaan tempat genderang dan alat musik dibunyikan pada waktu-waktu tertentu sebagai penanda ritual, upacara, atau peristiwa penting. Musik di sini bukan sekadar hiburan, tapi bagian dari sistem istana yang penuh aturan dan simbol.

Sebelum naik ke lantai dua, kami melewati area transisi di bawah gerbang ini. Orang-orang duduk di bangku batu, melepas alas kaki, berbincang santai. Anak-anak berlarian tanpa beban, sementara wisatawan mondar-mandir mencari sudut foto terbaik. Ruang ini terasa seperti jeda. Bukan lagi gerbang luar, tapi belum sepenuhnya masuk ke area istana yang lebih privat.

Dari lapangan besar itu, kami mulai naik tangga batu yang mengarah ke bagian atas kompleks. Dari atas, pemandangan lapangan tadi terlihat makin jelas. Bentangan batu yang luas, pohon-pohon kecil yang ditanam simetris, dan orang-orang yang bergerak perlahan di bawah sana membuat tempat ini terasa hidup, bukan sekadar situs sejarah yang beku.

Begitu sampai di atas, kami masuk ke area yang lebih “istana”. Di sinilah nuansa Amber Fort benar-benar terasa sebagai kediaman kerajaan, bukan cuma benteng. Bangunan-bangunan mulai lebih halus detailnya. Dinding berwarna kuning keemasan dengan sentuhan merah muda, lorong-lorong panjang dengan lengkungan khas Rajput, dan paviliun kecil beratap kubah yang berdiri anggun di sudut-sudut halaman. Paviliun-paviliun ini dulu digunakan sebagai tempat berteduh, menunggu, atau sekadar menikmati angin sore sambil memandang ke arah lembah dan Maota Lake.

Kami berjalan menyusuri balkon dan selasar atas, dari sini terlihat jelas perbukitan Aravalli di kejauhan, lengkap dengan tembok panjang yang menjalar mengikuti punggungan bukit. Dari sudut tertentu, tembok itu tampak seperti ular raksasa yang memeluk bukit-bukit kering Rajasthan. Angin bertiup cukup kencang di bagian atas ini, membawa sedikit debu, tapi juga memberi rasa sejuk yang sangat menyenangkan setelah berjalan naik.

Di salah satu sisi, kami melewati bangunan aula besar yang dulunya berfungsi sebagai ruang audiensi publik, tempat raja bertemu rakyat atau menerima tamu penting. Ruang ini terbuka, penuh pilar, dan terasa megah tanpa harus berlebihan. Tak jauh dari situ, terlihat gerbang besar dengan ornamen lukisan dan motif bunga. Gerbang ini adalah salah satu pintu menuju bagian paling privat dari istana, area kediaman raja dan keluarga kerajaan.

Di sinilah kami menemukan satu area yang untuk masuk ke dalamnya harus membeli tiket tambahan sekitar 500 Rupee per orang. Dari luar saja sudah terlihat bahwa itu adalah bagian istana dengan interior paling mewah, terkenal dengan hiasan cermin, lukisan detail, dan dekorasi halus. Namun kami hanya saling pandang dan tertawa kecil. Rasanya sudah cukup. Dari luar pun kami sudah merasa puas. Cahaya sore yang jatuh di dinding-dinding tua, bayangan kubah kecil, dan pemandangan lapangan luas di bawah sana sudah memberi pengalaman yang lengkap.

Tak jauh dari situ, kami melewati sebuah bangunan berwarna lebih terang, dominan putih, dengan halaman kecil dan air mancur di tengahnya. Area ini dulunya merupakan bagian dari ruang hunian dan tempat bersantai keluarga kerajaan. Air mancur di tengah halaman berfungsi sebagai pendingin alami, membantu menurunkan suhu udara di sekitarnya. Dikelilingi serambi beratap dan pilar-pilar ramping, tempat ini terasa jauh lebih intim dibanding Jaleb Chowk yang luas dan terbuka. Bisa dibayangkan, di masa lalu, area seperti ini menjadi ruang istirahat, tempat berbincang, atau sekadar menikmati angin sore setelah aktivitas istana.

Dari lantai atas ini, kami kemudian mulai turun kembali ke area bawah. Tangga batu yang kami lewati cukup lebar, dengan pijakan yang sudah aus dimakan waktu. Di sinilah sifat extrovert Fredo kembali bekerja dengan sempurna. Saat kami berhenti sejenak di salah satu bangku, ia dengan santainya mengajak ngobrol sebuah keluarga India yang sedang beristirahat juga. Obrolan mengalir ringan, dari asal kami, perjalanan kami di India, sampai rencana liburan mereka hari itu.

Mereka sangat ramah. Bahkan sempat mengundang kami untuk mampir ke rumah di Kota Jaipur. Sebuah tawaran yang terasa tulus dan hangat, meskipun akhirnya Fredo menolak dengan halus karena hari sudah semakin sore. Anak perempuan mereka cantik sekali, dengan mata besar dan senyum malu-malu. Kami sempat berbincang cukup lama sebelum akhirnya berpisah, saling melambaikan tangan dengan perasaan hangat yang anehnya menetap cukup lama.

Perjalanan turun menuju gerbang keluar terasa lebih santai. Di sepanjang jalur, kami mulai sering bertemu monyet-monyet liar yang duduk santai di tembok, atap, dan sudut-sudut bangunan. Mereka terlihat begitu terbiasa dengan manusia, mengamati setiap orang yang lewat dengan ekspresi waspada tapi malas. Beberapa melompat ringan dari satu dinding ke dinding lain, sementara yang lain duduk diam menikmati sore.

Semakin ke bawah, pemandangan Danau Maota mulai terbuka lebar. Airnya tenang, memantulkan cahaya langit sore yang lembut, dengan perbukitan kering mengelilinginya seperti pelukan raksasa. Benteng Amber berdiri kokoh di atas segalanya, sementara danau dan lembah di bawahnya menciptakan kontras yang menenangkan. Suasana saat itu terasa sangat damai. Hanya angin, cahaya sore, perbukitan, dan rasa puas setelah berjalan jauh menyusuri sejarah berabad-abad.

Tanpa terasa, matahari sudah hampir tenggelam di balik perbukitan Aravalli, meninggalkan semburat jingga keemasan di langit Jaipur. Siluet benteng yang megah tampak semakin dramatis, berdiri kokoh dengan pantulan cahaya senja di dindingnya. Di jalan keluar, masih terlihat rombongan ibu-ibu bersari warna-warni, langkah mereka perlahan, kainnya berkibar lembut diterpa angin sore. Pemandangan itu bikin Jaipur terasa begitu hidup, indah sekaligus sederhana.

Perjalanan turun menuju gerbang keluar terasa jauh lebih santai. Di sepanjang jalur batu yang menurun, kami mulai benar-benar berbagi ruang dengan penghuni asli benteng ini yaitu monyet abu-abu India, atau langur. Tubuhnya ramping, bulunya abu-abu keperakan dengan wajah dan tangan berwarna hitam pekat. Mereka duduk berjejer di atas tembok bergerigi, di kubah kecil, bahkan di pagar pembatas jalan, seperti penjaga benteng yang sudah kelelahan bertugas berabad-abad. Langur-langur ini memang banyak di Amber Fort karena kawasan perbukitan, pepohonan, dan bangunan tua menyediakan tempat berlindung alami, sementara wisatawan—sadar atau tidak—membuat mereka terbiasa dengan kehadiran manusia.

Semakin ke bawah, pemandangan Danau Maota mulai terbuka lebar. Airnya tenang, memantulkan cahaya langit sore yang lembut, dengan perbukitan kering mengelilinginya seperti pelukan raksasa. Benteng Amber berdiri kokoh di atas segalanya, sementara danau dan lembah di bawahnya menciptakan kontras yang menenangkan. Suasana saat itu terasa sangat damai. Tidak ada tergesa-gesa, tidak ada kebisingan kota besar. Hanya angin, cahaya sore, perbukitan, dan rasa puas setelah berjalan jauh menyusuri sejarah berabad-abad.

Sesampainya di bawah, kami duduk sejenak di rerumputan. Melepas lelah, mengamati orang-orang yang berlalu, monyet yang masih setia mengawasi dari kejauhan, dan benteng yang kini berdiri sunyi di atas bukit. Tak ada rencana besar, hanya kesepakatan diam-diam bahwa hari ini sudah cukup penuh. Dari situ, kami pun memutuskan berjalan kembali ke penginapan—membawa pulang rasa tenang, debu batu di sepatu, dan potongan kecil India yang entah kenapa terasa hangat.

Di jalan pulang menuju hotel, sekitar lima ratus meter dari area benteng, kami kembali diingatkan bahwa India selalu punya kejutan kecil di sudut-sudut paling biasa. Di tengah jalan aspal yang tenang, seekor unta berjalan santai menarik gerobak sederhana, dipandu seorang pria tua berpakaian putih. Langkahnya pelan, anggun, seolah tidak tergesa oleh klakson motor atau lalu lintas di sekitarnya.

Pemandangan itu terasa kontras sekaligus sangat India: bangunan tua berwarna kuning kusam di belakangnya, motor dan pejalan kaki berbagi ruang, dan seekor unta yang masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar atraksi. Kami sempat memperlambat langkah, memperhatikan bagaimana masa lalu dan masa kini berjalan berdampingan tanpa canggung.

Sampai di hotel, kami tidak banyak melakukan apa-apa. Hanya membuka bermain HP, memanfaatkan Wi-Fi yang terasa seperti “kemewahan” setelah seharian offline. Kami browsing sebentar, update informasi, lalu rebahan untuk mengisi tenaga.

Malamnya, kami memutuskan makan di restoran hotel yang berada di lantai atas. Dari sana, pemandangan kota terlihat berbeda: Jaipur dalam balutan malam. Lampu-lampu jalan berkelip di kejauhan, membentuk garis-garis samar di antara bangunan tua. Udara lebih sejuk, angin malam membawa aroma gurun yang khas. Jika menoleh ke arah utara, samar-samar Amber Fort masih terlihat—sebagian dindingnya diterangi lampu kuning temaram, membuat benteng itu tampak anggun, seolah masih berjaga di atas bukit sejak ratusan tahun lalu.

Kami makan malam sederhana sambil menikmati pemandangan itu, lalu memutuskan tidur lebih awal. Besok, agenda kami adalah menjelajahi kota Jaipur sepenuhnya, dan untuk itu, tubuh harus benar-benar segar.

Thank you Amer Fort, you are so beautiful !


Part Selanjutnya : DISINI

[PART 5] Menggapai Himalaya : Perjalanan Panjang ke Mumbai !

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI


Kochi, 30 Juni 2016

Sore itu, setelah seharian puas mengeksplor Kochi, kami akhirnya kembali ke Hotel Srinivas. Salah satu hal yang bikin aku senang dengan hotel ini adalah kebijakan 24 jam check in mereka. Maksudnya gimana? Jadi kalau kami masuk jam sepuluh malam, otomatis check out juga besok jam sepuluh malam.Wow banget kan! Aku baru jumpai disini. Padahal hampir semua hotel kan kebijakannya tamu harus keluar maksimal jam dua belas siang. Kebijakan yang sangat menguntungkan buat kami, karena setelah seharian eksplor, kami masih bisa santai, leyeh-leyeh, bersih-bersih, bahkan mandi sore sebelum cabut ke stasiun. Ya, malam ini kami akan naik kereta untuk bergeser ke kota selanjutnya, Mumbai.

Sekitar pukul setengah tujuh kami sudah naik taksi menuju Stasiun Ernakulam Town. Jalanan sore itu cukup ramai, tapi tidak sampai macet. Begitu tiba, suasana stasiun langsung menyambut dengan khasnya: hiruk pikuk penumpang, bau chai manis yang diseduh di gelas kertas, pedagang kecil yang menenteng kacang dan chapati, suara pengumuman yang menggema dengan aksen India yang kental. Lampu-lampu peron mulai menyala, menambah nuansa ramai tapi hangat. Aku sempat menoleh ke Fredo sambil berkata, “Untung kita berangkat agak awal, kalau mepet pasti ngos-ngosan.” Dia hanya tertawa, “Iya, mending nunggu lama daripada lari-larian kayak di film India.”

Kami menunggu Netravati Express nomor 19259 yang dijadwalkan berangkat pukul 20.10. Perjalanan panjang menanti, hampir 25 jam lamanya, menyeberangi India dari Kerala sampai Mumbai, jaraknya sekitar 1.250 kilometer. 

Begitu kereta tiba dan kami masuk ke gerbong, aku dan Fredo langsung naik ke sleeper atas. Aku di S6-43, Fredo di S6-46. Syukurlah tempat kami masih kosong, jadi bisa langsung selonjoran tanpa ribut dengan orang lain. “Lumayan kan, bisa kaya markas kecil,” kataku sambil rebahan. Fredo hanya mengangguk sambil sibuk mengatur tasnya.

Ketika kereta bergerak, suasana khas kereta India langsung terasa. Getaran mesin yang keras, kipas tua di langit-langit yang berdengung tanpa henti, dan lampu kabin yang tak pernah dimatikan. Rasanya jauh berbeda dengan kereta di Indonesia. Malam itu aku mencoba tidur, tapi selalu gagal. Setiap kali hampir terlelap, aku terbangun lagi. Kadang karena was-was menjaga barang, kadang karena hentakan rel, atau silau lampu. Tengah malam kondektur masuk, memeriksa tiket dan paspor satu per satu. Setelah itu suasana kembali hening, hanya tersisa suara roda besi beradu dengan rel.

***

Mumbai, 1 Juli 2016

Pagi harinya aku bangun dengan kepala agak berat. Pergi ke toilet kereta, bergoyang-goyang sedikit sambil sikat gigi dan cuci muka. Kami sarapan dengan bekal sederhana yang sudah disiapkan dari malam sebelumnya. Tidak lama, ada pedagang masuk menjajakan roti chapati hangat. Aku beli satu, karena aromanya terlalu menggoda untuk dilewatkan. Dari atas sleeper, aku memperhatikan keluarga-keluarga India di bawah. Mereka duduk berhadapan, membuka wadah baja penuh makanan, saling menyuapi anak, sambil ngobrol riuh. Rasanya seperti piknik berjalan, hanya saja lokasinya di dalam kereta yang melaju.

Siang sampai sore kami lebih banyak menghabiskan waktu di sleeper atas. Kadang rebahan, kadang ngobrol ringan, kadang melamun menatap kipas berputar. Penjual bergantian masuk menawarkan chai, samosa, atau kacang rebus. Aku sempat mencoba tidur siang, tapi tetap saja hanya tidur-tidur ayam. Waktu terasa berjalan sangat lambat.

Baru sekitar satu jam sebelum tiba di Mumbai kami turun dari “markas” atas itu. Tubuh pegal tapi lega karena perjalanan hampir usai. Di kursi bawah, kami akhirnya bercakap dengan keluarga India yang sejak awal duduk berhadapan. Seperti biasa, Fredo yang supel langsung mencairkan suasana. Mereka bertanya, “From which country are you?” Fredo dengan enteng menjawab, “Indonesia.” Obrolan pun mengalir tentang tujuan kami di India, rencana perjalanan, sampai kebiasaan hidup di negara masing-masing.

Ada satu sosok pria muda yang menonjol, namanya Kamlesh. Mungkin karena dia yang paling lancar berbahasa Inggris. Ia sangat ramah dan penuh semangat. Dari ceritanya, mereka sedang menuju Jaipur untuk menghadiri acara lamaran, karena Kamlesh sebentar lagi menikah. Dengan mata berbinar, ia bahkan sempat berkata sambil tertawa, “If you have time, you should come to my wedding!” Kalimat sederhana itu bikin kami merasa begitu diterima, meski baru kenal di gerbong kereta.

Tepat pukul 21.20, sesuai jadwal, kereta panjang itu akhirnya tiba di Mumbai Panvel. Setelah hampir 25 jam hidup di atas rel, rasanya seperti keluar dari dunia lain dan masuk ke hiruk pikuk kota metropolitan India.

Begitu kereta berhenti di Stasiun Panvel, suasana langsung terasa berbeda. Hiruk pikuk khas stasiun India menyambut kami. Peron penuh dengan penumpang yang baru turun maupun yang sedang menunggu keberangkatan berikutnya. Suara peluit petugas, bau chai manis bercampur dengan aroma gorengan, dan derap langkah orang-orang yang seakan tidak pernah berhenti membuat kepala agak pening setelah 25 jam duduk di kereta. Lampu stasiun terang benderang, tapi suasana tetap terasa sumpek dan melelahkan.

Kami segera keluar dari stasiun dan mencari jalan menuju metro Mumbai. Tujuan kami adalah kawasan dekat Gateway of India, tempat yang lebih strategis untuk mencari penginapan. Metro datang tepat waktu, tapi kondisinya cukup mengejutkan. Bagian dalam tampak kotor, cat dinding kusam, dan beberapa pintu bahkan tidak bisa menutup dengan benar. Meski begitu, kereta tetap melaju. Perjalanan singkat sekitar dua puluh menit terasa lebih lama karena tubuh sudah capek.

Begitu turun dari metro, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalanan malam Mumbai. Lampu toko-toko dan suara klakson mobil menemani langkah kami mencari penginapan. Untungnya, tidak lama kami menemukan sebuah penginapan kecil yang cukup bersih dan nyaman. Harganya seribu rupee per malam, kira-kira dua ratus ribu rupiah. Tanpa pikir panjang kami langsung okein dan check in.

Begitu masuk kamar, aku langsung rebahan di kasur. Rasanya seperti hadiah besar setelah semalaman tidur tidak maksimal di sleeper kereta. “Ahhh… nyaman banget,” pikirku dalam hati, tubuhku akhirnya bisa benar-benar istirahat. Setelah membersihkan diri sebentar, aku pun segera terlelap. Besok pagi masih ada agenda menjelajahi Mumbai, meski hanya beberapa jam tapi semoga bisa maksimal mengunjungi beberapa tempat. Jaiho!


Mumbai, 2 Juli 2016

Esoknya...

Esoknya kami bangun kesiangan, sekitar jam sepuluh pagi. Aku bersyukur semalam bisa tidur dengan nyenyak, jadi hari ini tenagaku terasa full. Meski waktunya hanya beberapa jam sebelum harus naik kereta lagi menuju Jaipur, setidaknya kami bisa memanfaatkan sisa waktu untuk menjelajah. Ya, trip ini memang agak dikebut karena keterbatasan hari, jadi setiap jam terasa begitu berharga.

Hotel tempat kami menginap memberikan sarapan gratis. Setelah mandi, Fredo langsung ke resepsionis dan meminta sarapan diantar ke kamar. Tidak lama datanglah seporsi roti sandwich sederhana dan segelas teh chai hangat. Sambil menyantap itu, aku sempat berujar, “Lumayanlah, gratis tapi tetap bikin perut terisi.”

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit ketika kami selesai sarapan. Dari jendela kamar, terlihat Mumbai sejak pagi diguyur hujan. Kami menunggu sejenak, berharap hujan reda, tetapi ternyata hanya mengecil menjadi gerimis. Sementara itu Fredo tampak masih ogah-ogahan untuk bangun dan bersiap. Padahal rencana awal, kami ingin menyeberang ke Elephanta Island, sebuah pulau di Laut Arab yang terkenal dengan gua-gua batu dan kuil Hindu kuno. Lokasinya berada sekitar sepuluh kilometer di lepas pantai Mumbai, bisa dicapai dengan kapal feri selama kurang lebih satu jam dari dermaga dekat Gateway of India.

“Mas, ayolah. Ini sudah hampir jam dua belas. Waktu kita di Mumbai cuma sebentar. At least kita harus lihat sesuatu,” kataku agak memaksa.

Fredo akhirnya bangkit, meskipun wajahnya masih malas-malasan. Kami akhirnya berjalan keluar dari hotel. Ternyata gerimis kecil terlihat masih mengguyur Kota Mumbai siang itu.

 “Eh, kita beli payung aja ya. Ntar sakit kalau jalan gerimis-gerimis gini.”

“Okesiap,” jawabku sambil tertawa kecil. Tau sebenarnya dia mungkin males jalan kondisi begini wkwk.

Kami mampir ke kedai pinggir jalan yang menjual payung. Kami masing-masing membeli satu. 

"Bisa jadi properti foto juga nanti," tambah Fredo.

"Iya juga sih," jawabku.

Kami melanjutkan berjalan kaki. Hmmm ternyata nyaman juga pake payung ini, hehehe.. tujuan utama kami hari ini adalah menuju India Gate. Well, sebenarnya rencana awalku, dari India Gate kita akan menyeberang naik kapal untuk menuju ke Elephanta Island untuk mengunjungi Elephanta Caves. Tapi dengan cuaca begini, aku sangat ragu ada kapal yang berangkat. Yah setidaknya liat Gate of India ajalah! Masa udah 20 jam perjalanan dari Kochi kita nggak liat apapun disini.

Perjalanan menuju Gateway of India kami tempuh dengan berjalan kaki, menyusuri jalanan Mumbai yang masih basah oleh gerimis. Payung yang tadi kami beli benar-benar terasa jadi penyelamat. Gerimisnya tidak deras, tapi cukup konstan. 

"Kita jangan sampai sakit, Luh. Perjalanan masih panjang," kata Fredo sewaktu meyakinkanku beli payung tadi.

'Hmm.. benar juga ya,' kataku dalam hati, 'bakal kacau semua rencana kalau sampai sakit gara-gara hujan ini.'

Kami mulai berjalan mengikuti rute google maps melewati pusat Kota Mumbai. Di sepanjang jalan, Mumbai menampilkan wajahnya apa adanya. Di salah satu sudut, dua ekor sapi berdiri santai di pinggir jalan, mengunyah rumput yang entah dari mana asalnya. Tidak ada yang mengusir, tidak ada yang menatap aneh. Di India, sapi memang biasa berkeliaran bebas, mencari makan di tengah kota. Bagi warga lokal, ini pemandangan normal. Bagi kami, tetap saja terasa unik meskipun sudah mulai terbiasa juga hehe. Di antara genangan air, sampah daun, dan sisa sayuran di aspal, sapi-sapi itu tampak seperti bagian alami dari lanskap kota.

Kami terus melewati kawasan Ballard Estate, salah satu area bersejarah peninggalan kolonial Inggris. Bangunan-bangunan besar berdiri kokoh dengan gaya Eropa klasik. Jendela tinggi, balkon besi, dan dinding yang warnanya sudah kusam dimakan usia. Salah satunya adalah gedung bertuliskan Gresham Life, bangunan perkantoran tua yang dulu menjadi bagian dari pusat bisnis Bombay di awal abad ke-20. Meski catnya mengelupas dan tanaman liar tumbuh di beberapa sudut, aura kolonialnya masih terasa kuat.

Di persimpangan jalan, lalu lintas bergerak perlahan. Motor, taksi hitam-kuning khas Mumbai, dan bus kota saling berbagi ruang di jalan basah. Para pengendara motor mengenakan jas hujan seadanya, sebagian hanya menutup kepala dengan helm dan membiarkan tubuhnya basah. Klakson tetap bersahutan, meski hujan turun pelan.

Tak jauh dari sana, kami melewati kawasan dekat India Government Mint, tempat pencetakan uang logam India sejak era kolonial. Bangunannya tertutup pagar hitam tinggi, tampak serius dan kaku, kontras dengan jalanan di depannya yang ramai dan agak semrawut. Rasanya menarik, di satu sisi tempat uang negara dicetak, di sisi lain kehidupan kota berjalan dengan segala ketidakteraturannya.

Semakin mendekati pusat kota lama, suasana terasa sedikit lebih tenang. Kami melewati bangunan putih bergaya neoklasik, Asiatic Society of Mumbai. Gedung ini adalah perpustakaan dan pusat kajian yang berdiri sejak awal 1800-an, menyimpan naskah-naskah kuno dan arsip penting sejarah India. Pilar-pilar putihnya berdiri anggun, meski langit kelabu dan hujan membuat warnanya tampak sedikit suram. Beberapa orang berjalan cepat di depannya, payung terbuka, seolah gedung megah itu sudah terlalu biasa untuk dihentikan sejenak.

Gerimis masih setia turun. Daun-daun pohon meneteskan air ke trotoar, menciptakan bunyi pelan yang bercampur dengan suara kota. Aku sempat berpikir, untung juga tadi kami memaksa diri untuk jalan. Meski capek, meski basah, namun ini satu-satunya kesempatan kami untuk menjelajah Kota Mumbai, karena malam ini kita harus melakukan perjalanan panjang kembali naik kereta selama 20 jam menuju Kota Jaipur di Provinsi Rajasthan.

Gerimis semakin deras ketika kami berhenti sejenak di depan Asiatic Society of Mumbai. Bangunan putih besar dengan pilar-pilar tinggi itu berdiri tenang, sementara tangga depannya terlihat basah dan licin. Aku tetap naik dan berdiri di tengah, membuka payung sambil menunggu Fredo siap ambil foto.

Tiba-tiba Fredo nyeletuk,
“Eh, lempar payungnya ke atas dong pas aku foto.”

Aku langsung menoleh, agak bingung.
“Hah? Ngapain dilempar?”

“Coba aja. Biar beda,” katanya santai.

Awalnya kupikir idenya aneh dan nggak jelas. Tapi ya sudahlah, lagi hujan, lagi capek, sekalian aja nurut. Aku lempar payung ke udara dan malah ketawa sendiri begitu melihat hasilnya. Ternyata lucu juga. Nggak kepikiran sebelumnya, tapi justru terasa pas buat momen siang itu.

Gedung ini sudah berdiri sejak awal 1800-an, menyimpan perpustakaan dan arsip tua India. Tapi saat itu aku nggak sedang memikirkan sejarah atau usia bangunan. Ia cuma jadi latar foto basah-basahan, tawa kecil, dan langkah kaki kami yang sebentar berhenti sebelum lanjut jalan lagi.

Kami lanjut berjalan. Di beberapa persimpangan, bangunan kolonial muncul satu per satu—tua, besar, dan tidak semuanya terawat. Ada yang catnya mengelupas, ada yang jendelanya tertutup rapat, ada juga yang masih dipakai aktif. Pemandangan seperti ini cukup wajar di Mumbai. Kota ini memang lama berada di bawah kekuasaan Inggris, sejak abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20. Bombay—nama lama Mumbai—pernah menjadi pelabuhan penting dan pusat administrasi kolonial, jadi wajar kalau arsitektur Eropa, khususnya gaya Inggris, masih tersebar di banyak sudut kota sampai sekarang.

Di salah satu sudut, kami melewati kompleks Bombay Natural History Society. Dari luar tampak sederhana, nyaris terlewat kalau tidak sengaja menengok papan namanya. Padahal lembaga ini sudah lama jadi pusat kajian alam dan satwa di India. Aku berhenti sebentar di depannya, payung terbuka, membaca tulisan di dinding batu yang basah oleh hujan. Rasanya agak kontras—di tengah kota yang ramai dan lembap, ada tempat yang sejak ratusan tahun lalu mencatat burung, hutan, dan kehidupan liar. Sayang sekali kami tidak punya waktu untuk mampir masuk. Jadwal kami terlalu sempit, dan perjalanan ke Jaipur sudah menunggu.

Tak jauh dari sana, bangunan batu gelap dengan kubah dan jendela melengkung berdiri kokoh. Ini bekas rumah sakit kolonial yang kini menjadi bagian dari fasilitas kota. Bentuknya berat dan kaku, terlihat makin muram di bawah langit abu-abu. Air hujan mengalir pelan di selokan, memantulkan siluet bangunan di aspal. Lagi-lagi, hanya bisa dilihat dari luar, lalu ditinggal.

Kami kemudian melewati Dhanraj Mahal, bangunan bergaya Art Deco yang sekarang dipenuhi kantor dan kafe. Di area ini suasana mulai terasa berbeda. Ada orang keluar-masuk, tanaman rambat di dinding, dan pintu-pintu yang terbuka. Rasanya seperti potongan Mumbai yang lebih “hidup”, meski tetap dibalut hujan. Andai waktu kami lebih longgar, mungkin menyenangkan untuk duduk sebentar di salah satu kafe. Tapi hari itu, semua hanya lewat pandang.

Mendekati kawasan Colaba, suasana berubah lagi. Jalanan makin ramai pejalan kaki, payung-payung gelap bergerak pelan. Kami diarahkan melewati jalur berpagar kuning menuju area pemeriksaan dekat Colaba Police Station. Air menggenang di jalan setapak, sepatu kami sudah pasti basah. Masuk ke area sekitar Gateway of India memang harus melewati pemeriksaan polisi. Pengamanan di sini cukup ketat, dan itu ada alasannya.

Kami akhirnya masuk ke kawasan Gateway of India. Di pintu masuk, kami sempat bertanya ke petugas soal kapal ke Elephanta Island. Jawabannya sudah bisa ditebak. Ombak sedang tinggi, feri tidak beroperasi hari itu. Petugas hanya mengangkat bahu sambil bilang singkat, “Not today.” Ya sudah. Nggak ada drama. It’s okay, no problem. Kadang perjalanan memang berhenti sampai di sini saja.

Masuk ke area Gateway of India harus melewati pemeriksaan polisi. Tas dibuka, orang-orang diarahkan lewat jalur tertentu. Awalnya terasa sedikit kaku, tapi masuk akal. Kawasan ini memang dijaga ketat sejak serangan teroris di Mumbai tahun 2008, yang salah satu titiknya berada tak jauh dari sini, di hotel ikonik yang menghadap langsung ke Gateway. Sejak saat itu, area ini jadi ruang publik yang selalu diawasi. Bukan untuk menakuti, tapi untuk memastikan semua orang bisa datang dan pergi dengan aman.

Gateway of India sendiri bukan sekadar gerbang batu besar di tepi laut. Monumen ini dibangun pada masa kolonial Inggris, awal abad ke-20. Tujuan awalnya sederhana tapi sarat simbol: menyambut kunjungan Raja George V dan Ratu Mary ke India pada tahun 1911. Ironisnya, konstruksinya baru selesai tahun 1924, jauh setelah kunjungan itu berlalu. Arsitekturnya memadukan gaya Indo-Saracenic—campuran unsur India, Islam, dan Eropa—terlihat dari lengkungan besar, kisi-kisi batu, dan kubah-kubah kecil di bagian atasnya.

Lebih ironis lagi, tempat yang awalnya dibangun untuk menyambut kekuasaan kolonial justru menjadi saksi momen sebaliknya. Pada tahun 1948, pasukan Inggris terakhir meninggalkan India melalui gerbang ini. Dari simbol kedatangan penjajah, Gateway of India berubah menjadi simbol perpisahan mereka.

Hari itu, Gateway berdiri menghadap Laut Arab yang sedang tidak ramah. Ombak terlihat gelap, angin membawa bau asin yang kuat. Kami datang di musim hujan, dan Mumbai tidak berusaha menyembunyikannya sama sekali. Langit abu-abu, hujan turun hampir sepanjang hari, aspal basah memantulkan cahaya, dan sepatu kami sudah lama menyerah.

Satu hal yang langsung terasa kuapresiasi dari orang-orang India ini adalah... semangatnya! Hujan tidak mengurangi jumlah pengunjung. Justru sebaliknya. Banyak keluarga, pasangan, rombongan teman datang lengkap dengan payung. Ada yang foto-foto sambil ketawa, ada yang basah kuyup tapi tetap pose, ada yang sekadar berdiri menatap laut. Rasanya seperti nonton adegan film Bollywood versi kehidupan nyata. Basah, ramai, tapi penuh energi.

Aku sempat terpikir, mungkin karena bagi orang Mumbai, tempat seperti ini bukan sekadar destinasi wisata. Ini ruang publik. Lapangan kota. Tempat orang datang untuk merasa hidup, meskipun hujan.

Di sekitar kami, burung-burung beterbangan rendah. Banyak burung dara, dan tentu saja gagak. Gagak ada di mana-mana di India. Bahkan kami sempat melihat seekor gagak mematuki bangkai kecil di jalan basah. Pemandangan yang mungkin bikin orang lain risih, tapi entah kenapa terasa sangat jujur. Hidup ya seperti itu. Tidak selalu rapi.

Fredo, seperti biasa, dengan mode ekstrovertnya, beberapa kali mengajak orang India foto bareng. Ada yang langsung setuju, ada yang ketawa dulu baru mendekat. Aku kadang ikut, kadang cuma berdiri di samping sambil pegang payung. Rasanya hangat. Meski baru kenal, interaksi itu ringan, tanpa jarak.


***

Jam sudah menunjukkan pukul 1.30 siang ketika kami selesai berputar-putar di kawasan Gateway of India. Hujan masih turun pelan, terus membasahi Kota Mumbai yang seharian ini muram. Karena kereta kami ke Jaipur baru berangkat jam 8 malam, aku merasa sayang kalau waktu sisa ini cuma dihabiskan duduk bengong di penginapan atau stasiun.

Aku buka Google Maps, iseng melihat apa lagi yang “menyala” sebagai tempat wisata di sekitar kota. Satu nama muncul cukup mencolok: Haji Ali Dargah. Review-nya tinggi, fotonya menarik—bangunan putih berdiri di tengah laut. Aku sendiri sebenarnya belum benar-benar paham ini tempat apa. Masjid? Makam? Tempat ziarah? Tapi kelihatannya ikonik.

“Mas, ini gimana kalau kita ke sini?” kataku sambil nunjuk layar.
Fredo mengangguk, “Boleh. Tapi makan dulu ya. Laper.”

Kami akhirnya makan siang di sebuah kafe yang kelihatannya cukup bersih—penting, terutama setelah jalan kaki di hujan dan genangan air sejak pagi. Menunya sederhana, tapi perut terisi. Setelah itu, kami keluar dan naik rickshaw menuju arah Haji Ali.

Perjalanan dengan rickshaw di Mumbai… yah, seperti biasa, cukup chaos. Jalanan padat, klakson bersahutan tanpa henti, motor dan mobil saling serobot celah sekecil apa pun. Kadang rasanya rickshaw ini melaju tanpa aturan yang jelas, tapi entah kenapa selalu berhasil lolos. Aku cuma bisa pasrah sambil pegangan, memperhatikan kota bergerak cepat di sekeliling kami—basah, ramai, dan agak semrawut. Kami diturunkan di dekat sebuah pusat perbelanjaan tua, Heera Panna Shopping Centre. Dari sini, rickshaw sudah tidak bisa masuk lebih jauh. Sisanya harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Dari titik itu, kami berjalan menuju jalan sempit buatan manusia yang menjorok ke laut, seperti tanggul panjang. Inilah satu-satunya akses menuju Haji Ali Dargah. Panjangnya kira-kira 500 meter, dan kami berjalan sekitar 10–15 menit dengan langkah pelan karena kondisi jalannya licin dan ramai. Di kiri-kanan jalan, deretan penjual kain, syal, sajadah, bunga, dan cendera mata berjejer rapat di bawah terpal biru. Warna-warni kain kontras dengan langit abu-abu. Banyak peziarah dan wisatawan berjalan berdesakan, sebagian membuka payung, sebagian lain membiarkan diri basah kuyup.

Di sisi kanan, laut terbuka… dan jujur saja, kondisinya cukup bikin aku nggak nyaman. Airnya keruh, pantainya becek, penuh sampah plastik, kain, sisa makanan, bahkan bangkai kecil yang terdampar. Bau asin bercampur anyir. Kakiku beberapa kali hampir menginjak genangan air yang aku nggak mau tahu isinya apa. Aku sempat meringis dan berkata ke Fredo, “Kok kotornya parah banget ya.”
Fredo cuma nyengir, “Iya… tapi kayaknya orang sini udah biasa.”

Dan memang, orang-orang tetap berjalan santai. Anak kecil, orang tua, keluarga besar—semuanya melintas seolah kondisi ini bukan masalah besar. Aku pribadi agak jijik, tapi ya ini bagian dari pengalaman. Mumbai nggak berusaha tampil cantik. Ia tampil apa adanya, terlalu apa adanya heheh.

Semakin mendekat ke ujung jalan, bangunan putih itu makin jelas. Haji Ali Dargah berdiri di atas pulau kecil di Laut Arab, tampak tenang meski dikepung keramaian. Kubah putihnya menjulang, dikelilingi menara kecil dan dinding marmer yang mulai kusam dimakan usia dan cuaca. Di depan kompleks, orang-orang mulai melepas alas kaki. Ada yang mencuci kaki, ada yang membawa bunga dan dupa, ada yang berdoa singkat sebelum masuk. Suasananya berubah. Dari hiruk pikuk pasar dan jalan becek, mendadak terasa lebih khusyuk.

Haji Ali Dargah adalah makam sekaligus tempat ziarah seorang wali Muslim bernama Haji Ali Shah Bukhari, seorang pedagang kaya dari Asia Tengah yang hidup sekitar abad ke-15. Konon, setelah melakukan perjalanan ke Mekah, ia memilih meninggalkan kehidupan dunianya dan mengabdikan diri pada spiritualitas. Setelah wafat, jasadnya dimakamkan di pulau kecil ini. Legenda setempat mengatakan, peti jenazahnya sempat hanyut di laut dan akhirnya berhenti tepat di lokasi berdirinya dargah sekarang—yang kemudian dianggap sebagai pertanda ilahi.

Kami akhirnya masuk ke bagian dalam Haji Ali Dargah. Begitu melangkah melewati pintu, suasana langsung terasa berbeda. Hiruk pikuk dari luar perlahan meredam, digantikan aroma bunga dan dupa yang samar, bercampur dengan lantunan doa pelan dari berbagai sudut ruangan.

Di tengah ruang utama, makam Haji Ali Shah Bukhari terletak sederhana namun penuh penghormatan. Makam itu dipenuhi kalungan bunga berwarna kuning cerah yang bertumpuk-tumpuk, kontras dengan kain hijau yang menutupinya. Warna kuningnya begitu mencolok, hangat, seolah menandai bahwa tempat ini terus didatangi doa dan harapan, hari demi hari.

Orang-orang bergerak perlahan, hampir tanpa suara. Satu per satu mendekat. Ada yang menyentuhkan ujung jari ke penutup makam, lalu menempelkannya ke dahi. Ada yang mencium kain hijau atau kisi pembatas, matanya terpejam, bibirnya berbisik pelan. Beberapa berdiri lama, tak bergerak, seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat. Yang lain datang singkat, menyentuh sebentar, berdoa, lalu memberi jalan bagi peziarah berikutnya.

Aku berdiri agak ke belakang, mengamati semua itu. Wajah-wajah di sekelilingku terlihat serius dan khusyuk. Tidak ada kamera, tidak ada gaya-gayaan. Yang tampak hanyalah iman yang diekspresikan lewat tubuh, lewat sentuhan, lewat dahi yang menempel, lewat ciuman kecil penuh harap. Ruangan itu terasa padat, bukan oleh keramaian, tapi oleh niat dan doa yang saling bertumpuk.

Di saat itu aku mulai paham kenapa tempat ini begitu penting bagi banyak orang. Bukan semata karena sejarah atau bangunannya, melainkan karena di sinilah mereka merasa paling dekat, dengan Tuhan, dengan harapan, dengan jawaban yang mungkin tak mereka temukan di tempat lain.

Yang menarik, tempat ini bukan hanya dikunjungi umat Muslim. Banyak orang Hindu, bahkan non-religius, datang ke sini untuk berdoa, memohon kesembuhan, jodoh, rezeki, atau sekadar mencari ketenangan. Di India, hal seperti ini cukup lazim. Tempat suci sering melampaui batas agama.

Kami berdiri sebentar di depan, mengamati orang-orang yang keluar masuk. Ada yang wajahnya serius, ada yang penuh harap, ada yang tampak lega setelah berdoa. Setelah keluar dari bangunan utama, kami berjalan ke bagian samping lalu belakang Haji Ali Dargah. Di sisi ini, suasananya terasa jauh berbeda dibandingkan area depan yang penuh doa dan peziarah. Tidak ada lantunan doa, tidak ada antrian rapi. Yang ada justru hamparan batuan hitam besar yang menonjol di tepi laut.

Aku sendiri sebenarnya tidak tahu apa menariknya tempat ini. Tidak ada papan informasi, tidak ada keterangan apa pun. Tapi karena melihat banyak orang lokal berjalan ke arah sana, memanjat batu, lalu berfoto, kami ikut saja. Kadang rasa penasaran memang sesederhana itu, ikut arus.

Batu-batu itu berupa singkapan basalt, berwarna hitam gelap, tersusun kasar dan bersudut. Permukaannya licin karena hujan dan air laut. Di beberapa bagian, batuan tampak seperti terbelah membentuk celah-celah memanjang, menciptakan jalur alami tempat orang-orang berdiri atau duduk. Aku melangkah pelan, hati-hati agar tidak terpeleset.

Dari sini, Laut Arab terbentang lebar. Airnya tampak coklat keruh, membawa lumpur dan sedimen, dengan ombak bergulung pelan tapi konstan. Tidak biru, tidak jernih, tapi terasa kuat dan berat. Angin laut membawa bau asin yang bercampur anyir. Langit masih abu-abu, cahaya matahari tertutup awan, membuat seluruh pemandangan terlihat kusam dan lembap.

Orang-orang tampak santai di atas batu. Ada yang berdiri menatap laut, ada yang duduk diam, ada juga yang sibuk berfoto. Beberapa anak muda melompat dari satu batu ke batu lain. Seorang pria membuka payung hitam dan duduk sendirian di atas batu paling menjorok ke laut, seperti sedang mencari ketenangan di tengah kekacauan.

Namun ketika kami kembali bergerak ke arah depan kompleks, suasana kembali berubah. Di bagian depan, dekat jalur utama dan pintu masuk, banyak pengemis duduk berjejer. Ada yang sendirian, ada yang membawa anak kecil. Sebagian menengadahkan tangan, sebagian hanya duduk diam dengan tatapan kosong. Beberapa dibungkus plastik tipis untuk melindungi diri dari hujan. Kontrasnya terasa kuat. Di satu sisi orang datang membawa harapan dan doa, di sisi lain ada orang-orang yang hidupnya bergantung pada belas kasihan pengunjung.

Aku berjalan melewati mereka dengan perasaan campur aduk. Tidak nyaman, tidak tahu harus berbuat apa. Pemandangan ini membuat kunjungan ke Haji Ali Dargah terasa semakin nyata dan kompleks. Tempat suci, laut yang kasar, batuan hitam, doa, harapan, dan kemiskinan, semuanya hadir di satu ruang yang sama.

Dari kawasan Haji Ali, kami kembali berjalan menyusuri kota. Di salah satu persimpangan, bangunan besar bergaya Eropa itu kembali menarik perhatianku. Menara-menara batu menjulang, jendela lengkung bertumpuk, ornamen rumit yang tampak berat dan megah. Bangunan itu adalah kantor pusat pemerintah kota Mumbai, Brihanmumbai Municipal Corporation Building. Di tengah hujan dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti, gedung ini berdiri seperti potongan masa lalu yang masih hidup, saksi era kolonial yang belum sepenuhnya pergi dari wajah kota.

Tak lama setelah itu, kami memutuskan menyudahi petualangan singkat di Mumbai. Waktu sudah sore, dan perjalanan panjang berikutnya sudah menunggu. Kami kembali ke penginapan untuk mengambil tas-tas besar yang sejak pagi kami titipkan. Dari sana, kami naik rickshaw menuju stasiun.

Perjalanan sore itu justru meninggalkan kesan paling kuat. Di beberapa ruas jalan, tepi jalan dipenuhi tenda-tenda plastik biru, terpal kusam yang dipasang seadanya. Di bawahnya, hidup banyak sekali manusia. Ada yang duduk berkelompok, ada yang memasak dengan kompor kecil, ada anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Air hujan menggenang di aspal, bercampur sampah dan sisa makanan. Lingkungannya terlihat sangat kotor dan lembap.

Aku menatap keluar rickshaw dengan perasaan berat. Di musim hujan seperti ini, mereka tetap harus bertahan di sana. Tidur, makan, hidup di bawah tenda tipis, dengan tanah basah dan bau yang menusuk. Tidak ada dinding, tidak ada pintu, tidak ada jarak antara hujan, kotoran, dan tubuh mereka. Pemandangan itu membuat dadaku terasa sesak. Terlalu kontras dengan gedung-gedung megah yang baru saja kami lewati.

Sampai di penginapan, kami sempat meminta izin untuk numpang ke toilet. Kami hanya ingin BAK dan mandi sebentar sebelum berangkat ke stasiun. Untungnya, penjaga penginapan mengizinkan. Air mengalir, tubuh terasa segar kembali. Hal sederhana yang tiba-tiba terasa sangat mewah, setelah melihat bagaimana sebagian orang di kota ini hidup tanpa akses sesederhana itu.

Setelah itu, tanpa banyak jeda, kami langsung naik rickshaw lagi menuju stasiun. Malam mulai turun, hujan masih setia menemani. Di depan kami, papan besar bertuliskan Mumbai Central railway station menyambut. Peron ramai, orang-orang duduk di lantai bersama tas dan kardus, menunggu kereta masing-masing. Bau logam basah, suara pengumuman, dan langkah kaki bercampur jadi satu.

Di sinilah kami mengakhiri cerita Mumbai. Kota yang melelahkan, keras, penuh kontradiksi, tapi juga jujur. Kami bersiap naik kereta lagi, menempuh perjalanan panjang berikutnya.

See you soon, again, Provinsi Rajasthan. Jaipur, kami datang.


Part Selanjutnya: DISINI

8.21.2025

Boyolali, 21 Agustus 2025 : Hewan Peliharaan sebagai Teman Jiwa

 Ada satu fase hidup yang sering bikin kita merasa kosong, yaitu usia dewasa di rentang akhir dua puluhan sampai lima puluhan. Pada fase ini, apalagi kalau kamu masih single, rasa kesepian sering datang tanpa permisi. Atau mungkin jika menikah dengan 'orang yang dirasa tidak tepat', rasa kesepian juga datang tiap hari, kalau ini bahkan dibalut ekspetasi.

Di masa ini, kepala kita biasanya dipenuhi banyak hal. Soal pekerjaan, target yang katanya harus segera tercapai, standar keberhasilan versi orang lain, kesehatan orangtua yang menurun, sampai soal kesehatan mental. Kadang kita membandingkan diri dengan teman-teman sebaya. Si A sudah menikah, si B sudah punya rumah besar, si C sudah pegang jabatan tinggi. Sementara mungkin kita masih menata diri. Atau mungkin sebenarnya kita sudah berkecukupan. Tapi rasa membandingkan, atau perasaan merasa kecil dan tak berdaya itu, sering kali masih saja menyelinap. Dari situ tekanan datang, berubah jadi stres, lalu bisa merembet ke depresi.

Kesepian ini semakin terasa kalau kita adalah seorang introvert. Memang kita tidak suka keramaian, lebih suka mengisi ulang energi dengan kesendirian. Tapi bukan berarti tidak mendambakan seseorang yang bisa diajak ngobrol panjang tentang hidup, mimpi, atau keresahan. Sayangnya kesempatan itu jarang ada. Orang lain punya kesibukan dan prioritasnya sendiri, dan akhirnya kita kembali duduk sendirian, mencoba berdamai dengan sunyi.

Aku sendiri percaya ada dua cara sederhana untuk sedikit meredam badai dalam kepala itu. Meditasi vipassana dan memelihara hewan.

Kalau meditasi vipassana mengajarkan kita untuk melihat pikiran datang dan pergi sebagaimana adanya, memelihara hewan memberikan sandaran dalam bentuk nyata.

Bayangkan kamu pulang kerja dengan kepala penuh pikiran. Begitu membuka pintu, ada kucingmu yang langsung menyambut, menggesekkan badan ke kakimu. Atau anjingmu yang meloncat-loncat heboh seakan kamu adalah orang paling penting di dunia. Hewan peliharaan memang punya obsesi unik dengan tuannya. Mereka ingin selalu dekat, ingin diperhatikan, dan itu membuat kita merasa berarti, penting, dan dibutuhkan.

Ada momen sederhana yang terasa dalam. Memeluk kucing di pangkuan, membelai bulu lembut kelinci, atau mengajak anjing berlari sore hari. Kehangatan itu nyata, seolah memberi pesan bahwa kamu tidak sendirian.


Saat Lelah dengan Manusia

Kadang kita sampai di titik paling jenuh menghadapi manusia dan segala omong kosongnya. Rasanya capek dengan drama, ekspektasi, atau bahkan sekadar basa-basi. Pada saat itu, hewan berbulu hadir dengan cara yang polos. Mereka datang hanya untuk minta dipeluk.

Kamu bisa curhat panjang lebar, bahkan sampai menangis, dan mereka hanya diam. Tidak menghakimi, tidak memberi nasihat klise, tidak memotong cerita. Ada yang percaya hewan bisa mengerti kesedihan kita, mungkin benar, mungkin tidak. Tapi seringnya mereka hanya duduk diam atau sekadar minta makan, minta dielus. Sederhana. Namun justru kesederhanaan itu terasa melegakan, apalagi kalau kita sudah terlalu lelah dengan betapa rumitnya hubungan antar manusia.

Memelihara hewan bukan hanya soal hiburan. Mereka bisa jadi alasan untuk bangun lebih pagi, untuk punya rutinitas, bahkan untuk merasakan cinta tanpa syarat. Saat dunia terasa terlalu bising dengan tuntutan yang tak ada habisnya, hewan hadir dalam keheningan. Mereka tidak menuntut kamu harus kaya, sukses, atau menikah. Mereka hanya butuh kamu ada.

Kadang, ketika kepala penuh beban, kita cuma butuh hal sederhana. Ada yang menyambut kita pulang. Ada yang menunggu di rumah. Ada yang bisa kita peluk tanpa takut dihakimi, tanpa ditanya kenapa. Karena terkadang yang kita butuhkan hanya sandaran lembut itu.

Kalau kamu sedang berada di fase quarter life atau mid life crisis, merasa terjebak di antara ekspektasi dan kenyataan, mungkin jawabannya bukan mencari validasi dari luar. Bisa jadi cukup dengan memelihara makhluk kecil berbulu, atau meluangkan waktu untuk duduk tenang bersama diri sendiri.

Pada akhirnya, kesepian memang bagian dari hidup. Tapi kesepian itu bisa jadi lebih ringan kalau kita punya sahabat yang selalu hadir. Entah lewat meditasi yang menenangkan pikiran, atau lewat peliharaan yang setia menemani tanpa kata.

8.18.2025

Probolinggo, 27-29 Oktober 2017 : Eksplor Gili Ketapang !

“Gili Ketapang?"

Dahiku sempat mengernyit saat pertama kali melihat ada tawaran day trip murah  di Instagram ke pulau ini dari Probolinggo. Hanya dengan Rp90.000 sudah termasuk kapal penyeberangan PP, alat snorkeling, pelampung, sampai makan siang. Serius nih?!”

Rasa penasaran langsung membawaku buka Google Maps. Ternyata benar, di sebelah utara Kota Probolinggo memang ada sebuah pulau kecil memanjang bernama Gili Ketapang. Jaraknya hanya sekitar 8 km dari bibir pantai, ditempuh dengan kapal motor sekitar 30 menit.

Setelah aku browsing lebih lanjut, ternyata pulau ini unik. Konon dulunya masih menyatu dengan daratan Jawa sebelum akhirnya terpisah akibat aktivitas vulkanik Gunung Semeru ratusan tahun lalu. Kini luasnya tinggal sekitar 68 hektar, tapi dihuni ribuan penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Budaya mereka kental dengan tradisi Madura pesisir – bahasa sehari-hari banyak memakai bahasa Madura.


Melihat fotonya di media sosial - air laut jernih, biota bawah laut yang berwarna-warni, dan paket snorkeling murah meriah, aku langsung janji pada diriku: suatu hari aku harus ke sana! Apalagi target pribadiku adalah menjelajah sebanyak mungkin destinasi di Jawa Timur selama masih tinggal di Surabaya. Tinggal siapin motor, temen seperjalanan, dan bensin secukupnya… berangkat! Menunggu dengan sabar, akhirnya kesempatan itu pun datang juga.


Jumat, 27 Oktober 2017

Hari itu, sepulang kerja (di kantor pemerintahan Surabaya), aku langsung pulang, mandi, packing seperlunya, dan bersiap berangkat. Travelmate-ku sudah siap, kami akan motoran bareng dengan tujuan ke Kota Pasuruan/Probolinggo. Kenapa pilihannya di antara 2 kota ini? Karena kalau motoran dari Surabaya – Probolinggo langsung, jaraknya sekitar 100 km. Sedangkan Surabaya – Pasuruan itu lebih pendek, kira-kira 65 km. Jadi, kalau badan nggak kuat, rencananya kami akan berhenti dulu dan nginap di Pasuruan, baru besok pagi lanjut. Tapi target utamanya jelas: Gili Ketapang!

Habis magrib, kami tancap gas keluar kota. Suasana Surabaya malam Jumat itu rame banget. Jalanan arah selatan menuju Sidoarjo dipadati arus kendaraan pekerja yang hendak pulang kampung. Lampu rem mobil berderet panjang seperti ular merah tak berujung, sesekali klakson bersahutan, dan motor-motor lain pun sama-sama berebut celah.

Ruas Surabaya – Sidoarjo benar-benar padat merayap. Si Merah, motor andalan kami, harus sabar ekstra. Nyoba nyalip susah, mau agak ngebut juga nggak bisa. Kadang malah harus berhenti total di persimpangan besar, nunggu lampu hijau atau karena saking macetnya arus. Udara malam itu sebenarnya cukup adem, tapi suasana jalan yang sesak bikin kepala rasanya ikut panas.

Begitu masuk wilayah Sidoarjo, lalu lintas mulai agak lega, meski tetap ramai. Jalur menuju Porong – Bangil dipenuhi truk-truk besar dan bus antar kota yang saling kebut, bikin pengendara motor harus ekstra waspada. Sesekali kami terjebak di belakang truk pasir yang jalannya pelan tapi asapnya bikin batuk. Tapi ya namanya juga perjalanan, harus dinikmati.

Sekitar Bangil, kami sepakat berhenti sejenak di sebuah kafe sederhana pinggir jalan. Bukan kafe hits ala kota besar, tapi cukup untuk duduk sebentar dan ngilangin pegal. Kami pesan kentang goreng sama segelas susu dingin, menyerapnya untuk menjadi energi. Masih ada ruas Bangil - Pasuruan/Probolinggo yang harus kami lalui .

Sekitar pukul 21.45 akhirnya kami sampai di Kota Pasuruan. Badan sudah agak pegal dan mata mulai berat. Setelah mempertimbangkan waktu dan tenaga, kami sepakat untuk tidak memaksakan diri lanjut ke Probolinggo malam itu. Lebih baik cari penginapan, istirahat, dan besok pagi berangkat lagi dengan kondisi segar.

Aku segera buka ponsel, mencari penginapan sederhana yang bersih dan layak. Syukurlah, ketemu satu hotel kecil dengan harga 200 ribu per malam sudah dapat kamar ber-AC. Tanpa pikir panjang, langsung ku-booking. Begitu tiba, kami disambut suasana kota Pasuruan yang khas. Jalanan masih ramai dengan lalu lintas malam, lampu kendaraan berderet, warung dan toko kelontong beberapa masih buka, tapi sebagian sudah tutup dengan pintu besi rapat. Udara pantura bercampur dengan aroma gorengan dari warung kaki lima yang masih berjualan di pinggir jalan.

Setelah check-in, kami segera masuk kamar. Kamarnya sederhana, kasur dengan sprei bermotif cerah, dinding putih polos, dan pendingin udara yang langsung kami nyalakan begitu masuk. Rasanya seperti oase setelah perjalanan panjang motoran. Aku meletakkan tas di sudut kasur, lalu langsung cuci muka dan membersihkan diri seadanya.

“Besok kita jam enam udah otw lagi ke Probolinggo ya. Usahakan tidur cepat,” ucapku pada travelmate sambil setel alarm di ponsel.
“Iya,” jawabnya singkat, sama-sama sudah kelelahan.

Malam itu tidak ada agenda lain. Kami hanya rebahan, memastikan semua perangkat elektronik terisi penuh, lalu membiarkan kantuk menelan tubuh yang lelah. Aku tersenyum kecil sebelum terpejam, akhirnya mimpi untuk menjejak Gili Ketapang sudah di depan mata.


Sabtu, 28 Oktober 2017

Keesokan paginya aku terbangun sekitar pukul 06.00. Setelah bermalas-malasan sebentar di kasur, akhirnya aku paksa tubuhku untuk bangun dan bersiap mandi. Sesuai jadwal, peserta day trip ke Gili Ketapang diwajibkan berkumpul di Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo jam 9 pagi. Sementara jarak dari Pasuruan ke Probolinggo masih sekitar 40 km dengan waktu tempuh motoran kurang lebih 1 jam. Jadi supaya masih sempat sarapan dan tidak tergesa-gesa, aku harus gerak lebih cekatan pagi itu.

Aku mandi duluan, dilanjutkan oleh travelmate, lalu sekitar pukul tujuh lebih sedikit kami sudah siap berangkat. Udara pagi terasa sejuk, belum banyak kendaraan besar melintas, jadi perjalanan cukup lancar. Jalur pantura pagi itu masih bersahabat, hanya sesekali ada truk dan bus antar kota yang lewat. Di kiri-kanan jalan, warung kopi dan toko kelontong mulai buka, terlihat aktivitas warga yang baru memulai hari. Rasanya jauh lebih lega dibanding perjalanan malam sebelumnya yang penuh sesak.

Sekitar pukul 08.15 akhirnya kami memasuki Kota Probolinggo. Waktu sebenarnya sudah agak mepet, tapi kami tetap memutuskan untuk sarapan dulu di dekat alun-alun kota. Aku tahu risikonya, bisa jadi mepet banget sampai pelabuhan. Tapi menurutku lebih bahaya kalau langsung snorkeling tanpa isi perut sama sekali. Bisa lemes di tengah laut, kan gawat juga. Jadi kami duduk sebentar, menikmati sarapan seadanya, sambil sesekali melirik jam.

Belum selesai makan, notifikasi WhatsApp mulai masuk. Panitia trip sudah menanyakan posisi kami. Dengan buru-buru kami habiskan sarapan, langsung tancap gas menuju pelabuhan. Untungnya jarak dari alun-alun ke Pelabuhan Tanjung Tembaga tidak terlalu jauh. Jam tepat menunjukkan pukul 09.00 ketika akhirnya kami sampai di pelabuhan. Pas banget. Lega rasanya.

Sesampainya di Pelabuhan Tanjung Tembaga, ternyata semua peserta sudah berkumpul rapi dan bahkan sudah standby di kapal nelayan yang akan membawa kami menyeberang ke Gili Ketapang. Jadi agak nggak enak rasanya, ternyata tinggal kami berdua yang ditunggu wkwk. Tanpa banyak basa-basi, kami langsung naik ke atas kapal, mencari posisi duduk yang lumayan nyaman. 

Pagi itu matahari mulai terasa terik, sinarnya mantul di permukaan air laut. Dari dermaga, air laut tampak hijau agak keruh, bercampur dengan aktivitas pelabuhan yang padat. Bau khas laut dan solar dari kapal nelayan bercampur jadi satu, benar-benar atmosfer pesisir yang khas. Tapi begitu kapal mulai melaju menjauh dari pelabuhan, pemandangan perlahan berubah.

Air yang semula kehijauan dan keruh perlahan berganti menjadi biru tua yang lebih jernih. Ombak kecil bergelombang tenang, memantulkan cahaya matahari pagi. Di kejauhan, garis daratan Jawa mulai tampak mengecil, sementara hamparan laut lepas di utara semakin mendominasi pandangan. Angin laut menerpa wajah, rasanya campur aduk antara segar, asin, dan bikin rambut acak-acakan. 

Kapal nelayan terus melaju dengan suara mesin yang monoton, tapi justru jadi irama pengantar perjalanan. Dari kejauhan mulai terlihat siluet pulau kecil memanjang. Itulah Gili Ketapang, tujuan kami pagi itu.

Semakin dekat dengan Gili Ketapang, rasa kagum itu makin menjadi. Laut yang tadinya biru tua kini berubah gradasi jadi biru muda dan toska, jernih sekali, bahkan dasar karang terlihat samar-samar dari atas kapal. Rasanya benar-benar beda jauh dengan air laut di Pelabuhan Tanjung Tembaga yang tadi masih hijau agak keruh.

Di kejauhan terlihat deretan perahu nelayan yang bersandar di tepi pulau, bendera merah putih berkibar di tiang-tiangnya. Beberapa nelayan tampak sibuk, ada yang memperbaiki jaring, ada juga yang mengangkut barang ke gubuk-gubuk sederhana di tepi pantai. Suasana begitu hidup, seakan menyambut kedatangan kami para tamu akhir pekan.

Pasir putih pulau mulai tampak jelas, berkilau disinari matahari yang siang itu terasa menyengat. Kontras sekali dengan birunya laut. Aku sampai terpana beberapa kali, benar-benar tak menyangka kalau pulau kecil di utara Probolinggo bisa punya panorama secantik ini.

Akhirnya kapal menepi dan kami turun satu per satu, menginjakkan kaki di pasir putih yang terasa panas sekali di telapak kaki. Angin laut berhembus kencang, tapi tidak cukup untuk mengalahkan teriknya matahari. Kami lalu diarahkan menuju sebuah bale-bale bambu beratap rumbia yang sepertinya akan jadi tempat makan siang nanti. Suasananya sederhana tapi teduh, cukup untuk berkumpul bersama.

Di sana, pemandu tour membagikan pelampung dan alat snorkeling kepada kami yang jumlahnya sekitar sepuluh orang. “Kita langsung snorkeling ya setelah ini, silakan ambil yang ukurannya pas. Nanti akan ada dua sampai tiga spot. Setelah snorkeling baru kita makan siang,” jelasnya. Aku mendengarkan sambil menatap laut jernih di depan mata, rasanya sudah tidak sabar untuk segera nyebur.

Setelah semua peserta mendapatkan pelampung dan alat snorkel masing-masing, kami kembali naik ke perahu. Suasana jadi lebih heboh, ada yang sibuk menyesuaikan masker, ada yang bercanda soal takut tenggelam meskipun sudah pakai pelampung. Mesin kapal kembali meraung, membawa kami ke tengah laut untuk menuju spot snorkeling pertama.

Tidak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit kemudian mesin mulai melambat. Pemandu berdiri di ujung kapal dan memberi aba-aba. “Silakan, ini spot snorkeling pertama ya. Waktunya sekitar 30 menit,” katanya sambil tersenyum.

Aku segera mengencangkan pelampung, memastikan masker dan snorkel terpasang benar, lalu dengan satu hentakan… byur! Tubuhku langsung terasa segar disambut air laut yang jernih. Dunia langsung berubah total. Di bawah permukaan, terbentang pemandangan karang warna-warni dengan ikan-ikan kecil yang lincah berenang kesana kemari. Ada ikan biru yang bergerombol, ada juga ikan badut yang sesekali keluar masuk anemon laut, persis kayak di film animasi yang terkenal itu. Sinar matahari menembus dari atas, membuat warna karang semakin memikat.

Aku snorkeling kesana kemari mengikuti liukan ombak, mencoba mendekat ke kumpulan ikan yang terlihat sibuk mencari makan di sela-sela karang. Sesekali aku menengadahkan kepala, memastikan posisiku tidak terlalu jauh dari kelompok. Aku juga selalu melirik ke travelmate-ku, memastikan ia aman. Wajar saja, karena ini pengalaman pertamanya snorkeling, ditambah lagi ia tidak bisa berenang. Untungnya pelampung membuatnya cukup percaya diri, meskipun wajahnya masih campur aduk antara grogi dan kagum.

Melihat ekspresinya, aku jadi ikut senang. Rasanya menyenangkan bisa berbagi pengalaman pertama yang indah seperti ini. Aku sempat mengajarinya untuk rileks, hanya mengapung saja, lalu sesekali menundukkan kepala menikmati keindahan bawah laut. Dan ketika ia akhirnya berani melihat lebih lama ke dalam air, aku bisa melihat matanya berbinar di balik kacamata snorkel.

Sekitar tiga puluh menit menikmati pemandangan bawah laut, pemandu mulai memberi aba-aba agar kami kembali naik ke kapal. Masih ada spot lain yang akan dikunjungi. Mesin kapal kembali meraung, membawa kami ke arah berbeda. Kali ini jaraknya tidak jauh, mungkin hanya sepuluh menit perjalanan saja sebelum mesin kembali dimatikan dan pemandu menunjuk ke arah laut.

“Ini spot snorkeling kedua ya. Di sini ada tulisan ‘Gili Ketapang’ di bawah air. Nanti kalian bisa foto satu per satu, pelampungnya dilepas, nanti kami bantu dorong,” jelasnya.

Kenapa adanya fotonya begini wkwkwk... File yang bagus hilang..

Satu per satu peserta bersiap. Kami diarahkan untuk berpegangan pada tali yang dipasang dekat tulisan itu, sementara dari atas kapal pemandu membantu mendorong agar posisi tubuh kami bisa tenggelam. Aku rasa hasilnya pasti keren. Peserta lain menunggu giliran sambil mengapung di sekitar kapal.

Begitu giliranku, aku melepas pelampung, mengencangkan snorkel, lalu byur, tubuhku didorong pemandu ke arah tulisan besar “Gili Ketapang” yang diletakkan di dasar karang. Hal pertama yang kurasakan adalah, telingaku langsung sakit terkena tekanan air di kedalaman 4 meter ini. Aku langsung meraih tali yang disediakan, mencoba tersenyum ke arah kamera meski mulut sedang rapat menahan napas. 'Klik', kamera underwater pemandu menangkap momen itu. 

Setelah semua peserta mendapat jatah foto, kami diberi waktu sebentar lagi untuk snorkeling bebas. Aku kembali menikmati liukan ikan-ikan kecil di sela karang, tapi tak lama pemandu memberi tanda. “Kita kembali ke pulau untuk makan siang ya,” serunya.

Tidak butuh waktu lama kapal sudah mengantarkan kami kembali ke Gili Ketapang, tepatnya di bale-bale bambu tempat kami berkumpul tadi pagi. Sekelompok penyelenggara tur terlihat sibuk memanggang ikan di atas bara. Bau harumnya langsung bikin perut makin meronta. “Kalian bisa mandi dulu atau langsung makan,” kata pemandu.

Aku dan travelmate sepakat, mandi belakangan saja. Perut sudah nggak bisa kompromi. Kami langsung ikut antre, mengambil segepok nasi putih hangat, ikan bakar yang aromanya bikin ngiler, plus sambal kecap pedas manis. Begitu suapan pertama masuk mulut, aku refleks nyeletuk, “Wah enaknyaaa!” Rasa ikan lautnya segar, gurih, dan berpadu sempurna dengan sambal kecap. Kabar baiknya, semua peserta boleh nambah sepuasnya. Aku sampai nambah dua kali saking nikmatnya.

Selesai makan, kami leyeh-leyeh sebentar, baru kemudian bergantian mandi di bilik sederhana yang tersedia. Badan rasanya segar kembali setelah berendam lama di laut. Usai mandi, kami sempat beli minuman dingin di warung kecil dekat bale-bale, lalu pemandu memberi tahu kalau kami punya waktu bebas sekitar satu jam sebelum kapal dijadwalkan kembali ke Pelabuhan Probolinggo jam tiga sore.

Kesempatan itu tentu saja tidak kami sia-siakan. Aku dan travelmate memutuskan jalan kaki menyusuri pulau. Suasananya benar-benar khas pemukiman pesisir sederhana. Rumah-rumah warga terbuat dari tembok bercampur bambu, berjejer rapi meski tampak apa adanya. Jalan utamanya berupa tanah berdebu, dengan pagar bambu di kanan-kiri. Masih banyak warga yang memelihara kambing, tampak beberapa ekor sedang diikat di depan rumah, mencari makan seadanya.

Pepohonan di sepanjang jalan sebagian besar gersang, rantingnya dipangkas, menyisakan daun-daun yang tidak terlalu lebat. Sinar matahari sore menerobos di sela-sela batang, membuat bayangan pagar bambu jatuh ke jalan tanah. Meski sederhana, ada kehangatan tersendiri melihat anak-anak kecil berlarian, warga duduk di teras rumah, dan sesekali menyapa ramah.

Sekitar jam tiga sore, pemandu mulai mengumpulkan kami semua di bale-bale. “Sekarang saatnya kembali ke Pelabuhan Probolinggo ya. Semoga kalian puas dengan trip hari ini, puas dengan snorkelingnya, puas juga sama makanannya,” katanya sambil tersenyum. Aku cuma nyengir, dalam hati mengiyakan.

Saat itu memang belum memungkinkan untuk camping atau menginap di Gili Ketapang, jadi pilihan satu-satunya ya harus pulang lagi sore itu juga. Kami naik ke kapal, duduk di tempat masing-masing, lalu mesin kembali meraung. Perjalanan pulang ditempuh sekitar tiga puluh menit, kali ini terasa lebih tenang. Angin laut sore membelai wajah, matahari sudah mulai condong, dan aku duduk sambil membiarkan pikiran melayang.

Ada rasa puas yang sulit dijelaskan. Perjalanan yang awalnya cuma bermula dari rasa penasaran melihat postingan media sosial akhirnya benar-benar terwujud. Aku sudah menginjakkan kaki di Gili Ketapang, sudah menikmati snorkeling, sudah merasakan makan siang ikan bakar segar di tepi pulau, dan sudah melihat langsung kehidupan sederhana penduduknya. Rasa penasaranku akhirnya terpenuhi. 

Setelah kapal merapat di Pelabuhan Tanjung Tembaga, kami segera turun, mengambil motor yang sejak pagi sudah dititipkan di area parkir. Hari masih sore dan sebenarnya tidak ada agenda lain yang harus kami kejar. Aku menoleh ke travelmate, lalu nyeletuk, “Kita ke kafe aja dulu ya, ngadem.” Dia cuma mengangguk setuju sambil senyum, jelas sama lelahnya dengan aku.

Kami pun melaju ke salah satu kafe di pusat Kota Probolinggo. Rasanya nikmat banget bisa duduk di kursi empuk setelah seharian snorkeling dan jalan kaki keliling pulau. Aku memesan segelas es dingin yang langsung bikin tenggorokan plong, sementara sepiring kentang goreng jadi camilan santai sore itu. Kami ngobrol ringan, ketawa-ketawa kecil, sambil menikmati suasana kota yang lebih kalem dibanding hiruk pikuk Surabaya.

Menjelang malam, kami memutuskan untuk menginap di salah satu hotel sederhana di Kota Probolinggo. Setelah meletakkan barang, kami keluar sebentar untuk cari makan malam. Nggak ada yang spesial, hanya sekadar warung makan lokal dengan menu sederhana, tapi setelah aktivitas seharian, rasanya tetap nikmat luar biasa.

Sisanya malam itu kami habiskan untuk istirahat. Tidak ada agenda lain, tidak ada jalan-jalan tambahan, hanya tubuh yang butuh rebahan. Perjalanan hari itu sudah lebih dari cukup memberi kesan mendalam.


Minggu, 29 Oktober 2017

Esok harinya, sekitar jam 12 siang, setelah check-out dari hotel di Probolinggo kami langsung tancap gas kembali ke Surabaya. Tidak ada lagi yang harus dikejar, jadi aku memilih berkendara dengan santai dan hati-hati saja. Namun perjalanan pulang ini jelas bukan hal yang mudah. Jalur Probolinggo–Surabaya membentang sepanjang kurang lebih 100 km, dan siang itu matahari sedang garang-garangnya.

Begitu keluar dari Kota Probolinggo, hawa panas langsung menyerang. Angin yang berhembus pun rasanya ikut panas, bukan menyejukkan. Jalanan pantura dipenuhi lalu lintas padat: truk besar, bus antar kota, mobil pribadi, dan deretan motor. Sesekali kami harus menyalip kendaraan panjang yang berjalan lambat, sambil tetap waspada karena dari arah berlawanan truk-truk lain melaju kencang.

Memasuki Pasuruan, panas siang semakin terasa menyengat. Debu jalan beterbangan, keringat mulai membasahi punggung meski sudah dilindungi jaket. Kami tetap melaju perlahan, menikmati ritme jalanan meski agak melelahkan. Sekitar daerah Grati, kami memutuskan untuk berhenti sejenak. Perut sudah mulai lapar, tenggorokan kering, jadi mampir ke sebuah warung sederhana di pinggir jalan untuk makan sore. Sepiring nasi, lauk seadanya, dan segelas minuman dingin rasanya jadi energi baru untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah itu kami kembali ke jalan. Rute Bangil–Sidoarjo masih padat merayap, apalagi menjelang sore. Sesekali harus sabar terjebak di belakang kendaraan besar, sesekali berusaha mencari celah untuk menyalip. Tapi kami tidak buru-buru, tujuannya hanya sampai rumah dengan selamat.

Akhirnya, sebelum magrib, kami masuk kembali ke Surabaya. Rasa lega bercampur puas langsung menyeruak. Panas, debu, dan lelah motoran terbayar dengan pengalaman dua hari yang memorable di Gili Ketapang. Sebuah perjalanan sederhana, tapi menyenangkan, dan yang paling penting… rasa penasaranku pada pulau kecil itu akhirnya benar-benar terjawab.

FINISHED..