Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Skrip-sweetku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skrip-sweetku. Tampilkan semua postingan

4.25.2016

Akhirnya (daftar) sidang juga PART 3 : Kulit Gosong dan Kedatangan Arin


Entah angin apa, hari ini semangat banget buat 'nggambar kue lapis a.k.a MS' singkapan yang kemarin ane temuin. Tujuannya tentu saja satu, supaya cepet ke BROMO CEPET menyelesaikan penderitaan ini dan cepet menyelesaikan skripsi!! Rencananya, teman kuliah ane dari Jogja - Arin - akan nyusul ke Pasuruan sore ini nemenin ane nyari data. Sebenarnya curiga juga sih sama niat dia, emang beneran mau mbantuin ane cari data atau pengen ke Bromonya. Hahaha. Ah bodo amat yang penting cepet selesai dan ke Bromo.

Setelah mandi dan sarapan (lumayan dapat nasi bungkus dua jadi satunya bisa dibawa buat bekel makan siang di lapangan), ane pun melajukan motor butut ane ke Danau Grati. Seperti kemarin, perjalanan ane lalui selama setengah jam.

Sampai di tepi Danau Grati, ane kembali merenung, gimana ya cara ane bisa ke singkapan di seberang danau ini tanpa lewat jalan seram yang kemarin. Akhirnya ane inisiatif nanya-nanya sama beberapa orang. Mereka memberi petunjuk yang gak begitu jelas, katanya bisa lewat jalan kampung sebelah sana (ane nggak tau sananya disana). Bertanya-tanya lagi tanpa hasil, akhirnya ane kendarai aja motor ane tanpa tujuan dan arah. Setelah ane lihat di kompas, singkapan di kejauhan itu menuju ke arah selatan, ane kendarai aja motor butut ke arah selatan lewat gang-gang kecil.

Sekitar satu jam putar sana sini, sempat tersesat dan lewat pedesaan yang pemandangannya yahud banget. Akhirnya ane sampe juga di singkapan yang tadi ane lihat dari seberang danau. Wuaaahhhhh.....sedihnya singkapannya gede banget senengnyaaaa...dapat data melimpah karena singkapannya itu gede banget! Jadi disitu memang ada pertambangan liar gitu gan, yah, meski liar tapi membantu ane membuka bukit sehingga bisa dapat data. Tanpa pikir panjang ane segera melakukan pengukuran stratigrafi di dua singkapan disitu.

Kenapa hanya 2 gan? Kan luas banget tu gan singkapannya?

Yah, ane anggap singkapan itu saling nyambung satu sama lain, jadi ane hanya harus melakukan pengukuran startigrafi di 1 titik aja. Ane hanya mengamati kehadiran struktur sedimen khas pengendapan gunung api maar aja untuk singkapan yang lain.

Okee lanjut, di tempat itu sumpaaah panasnya minta ampun gan. Nggak ada tempat berteduh sama sekali, suasana sepii sekali. Hanya terdapat beberapa pekerja tambang di kejauhan sana yang sesekali memandangi ane dengan bertanya-tanya sekaligus agak curiga gitu soalnya ane kelihatan ngukur-ngukur (jujur ane memang nggak memperkenalkan diri dulu n tujuan ane apa).

Lagi asik-asiknya ngukur, tiba-tiba ane didatangin Bapak-Bapak bermobil dengan penampilan parlente.

"Mbak, darimana ya? Ada perlu apa?" tanya bapak itu.

"Oh Bapak, saya dari UGM. Mau cari data skripsi Pak," jawab ane dengan jujur.

"Oh, skripsi ya. Mau ngapain aja dek?"

"Oh ini Pak, mau ngukur aja sama nggambar, sekaligus ambil sampel sedikit," jawab ane.

" Oh yaudah dek, silahkan."

Ane pun berpikiran, hmm mungkin dia tu manager pertambangan disini kali ya. Dikiranya ane itu suruhan dari perusahaan saingannya untuk meneliti batuan disini. Ane berpikir positif aja, bapak itu pergi dan ane melanjutkan pencarian data ane.

Tengah hari, karena tidak kuat dengan panas yang semakin membara, ane pun memutuskan berteduh di bawah pohon untuk makan siang dari bekel yang sudah ane bawa tadi. Cukup lama ane istirahat, sejaman. Keadaan tambang udah sepi banget, sama sekali nggak ada orang. Hanya ada suara angin yang terus menderu-nderu. Sesekali ane jumpai anak-anak yang bermain layangan. Mereka nggak ganggu ane dan ane juga nggak terlalu terusik dengan kehadiran mereka. Justru ane lega sih, masih ada manusia disini.

Kelar makan siang dan istirahat, ane segera melanjutkan petualangan mencari data skripsi yang sangat membosankan menyenangkan ini. Paruh kedua ini ane manfaatkan dengan melakukan pengukuran stratigrafi di tempat ketiga. Tempat ketiga ini agak jauh dari tempat kedua tadi gan, jaraknya sekitar 300 meteran. Karena tebingnya nggak terlalu tinggi, ane bisa menyelesaikan dengan cepat.

Selesai melakukan pengukuran dan pengecekan kembali, jam sudah menunjukkan pukul 14.00, 'wah sebentar lagi harus jemput Arin,' batin ane. Segera saja ane membereskan semua perlengkapan dan bersiap kembali ke Kota Pasuruan untuk menuju Stasiun Pasuruan.

Ane menunggu sebentar di Stasiun Pasuruan sebelum akhirnya Arin muncul. Arin naik Kereta Api Sritanjung dari Jogja, dan emang jadwalnya sampai Pasuruan jam 14.30. Setelah ketemu, karena Arin lapar, kami segera melanjutkan perjalanan untuk mencari warung.

Dengan kesoktahuan ane - ceritanya merasa udah hafal jalan di Pasuruan gitu - ane arahkan aja motor agak sedikit keluar kota (nggak tau kenapa pas itu susah banget nyari warung). Keliling kesana kemari nggak ada warung kelihatan nyantai yang buka. Sempet lewat jalan penuh truk-truk kontainer besar, akhirnya kita keluar di perbatasan Pasuruan-Sidoarjo. Sumpah, ane nggak ngerti kok bisa sejauh ini ane berkendara haha. Arin cuma diem aja, tapi dalam hati pasti ngedumel :D.

Selesai makan ane segera arahkan motor kembali ke Hotel Nasional. Dari sini ane cukup hafal jalan sehingga cukup mudah menemukan hotelnya. Malamnya kita hanya ngobrol-ngobrol ringan, sebelumnya ane keluar buat jajan n mbeliin Arin gorengan supaya nggak ngambek, rencana besok akan memastikan kebenaran data dan sorenya kita akan lanjut ke Probolinggo untuk ke BROMO!


3.22.2015

Akhirnya (daftar) sidang juga PART 2 : Tukang Keluh

PART 1 : Bandara Juanda

Kepikiran motor Supra Fit 2005 ane yang dititipin kedinginan n nggak punya temen di Stasiun Gubeng Surabaya, seminggu kemudian (setelah ke Pasuruan pertama kali) ane terpaksa balik ke Pasuruan gan. Terpaksa? Iya terpaksa banget gan. Males banget sebenernya. Maunya bobok kelonan ama kucing ane aja di rumah daripada cari data skripsi. Tapi takdir berkata lain, perasaan ane mengatakan Supra Fit 2005 ane udah memanggil-manggil ane.

Ane naik kereta Gaya Baru Malam gan dari Jogja. Lupa juga gan kenapa nggak naik dari Solo, secara rumah ane di Solo. Perjalanan selama 6 jam ane lalui dengan menyenangkan karena orang di sebelah ane sudah turun sejak di Stasiun Madiun sehingga ane bisa bobok selonjor cantik menghadap dengkul mas-mas depan ane. Pukul setengah 4 pagi, akhirnya nyampe juga Surabaya.

Nyampe Surabaya, semangat nggak muncul-muncul juga gan. Malah tambah males soalnya biasanya turun di Stasiun Surabaya itu lanjut ke bandara buat backpackeran. Tapi ini...pagi-pagi buta dengan kondisi kurang tidur ane harus berkendara dari Surabaya ke Pasuruan. Buat cari data skripsi lagi. Huffttt...hembusan keras nafas ane mengiringi perjalanan ke tempat parkir buat ambil motor. 'Pengen lulus ora, Luh? MANGKATO!!". Untung aja kata hatiku lagi waras.

Setelah mengambil motor dan membayar titipan 35.000, ane segera mengarahkan motor ke Sidoarjo. Kurang lebih sekiloan keluar dari stasiun, ane merasa......kok seperti ada yang kurang ya? Ane pikir-pikir sambil jalan, kecepatan motor ane kencangkan...kemudian ane kecilkan...harapannya pas dikencangkan bisa mengentakkan otak ane. Apa sih yang kurang? Nggak terasa udah 3 kilo jalan di stasiun..otak ane sudah terentak-entak beberapa kali, dan ane masih lupa.

Tiba-tiba ane seperti mendapat dejavu, kalau di film Armageddon kek pas Harry Stamper mau mati kek mendapat flash back gitu tentang masa lalunya dengan anaknya, entahlah dejavu atau flash back, akhirnya ane inget apa yang kurang. TAS ANE!!! OWALAH....tas ane ketinggalan di Stasiun Gubeng, di tempat parkir. Ane memang sengaja naruh tas dulu di meja parkir waktu ambil motor. Ane mengutuki kecerobohan tanpa henti ini sambil mengarahkan motor ke Stasiun Gubeng. Untunglah pas ane kembali tas ane masih ada gan. Sebenarnya nggak penting amat, isinya cuma baju 3, celana 3 sama daleman. Tapi kan males juga kan kalau nggak ganti daleman 3 hari, atau nyari daleman pas di Pasuruan. Niatnya nyari data skripsi malah misinya berubah jadi nyari daleman. Hihihi. Malu gan. Kalau baju atau celana ma ane nggak ganti 3 hari juga nggak masalah.

Perjalanan dari Surabaya ke Pasuruan berlangsung baik gan......awalnya. Satu jam berlalu, mata ane semakin berat gan. Sumpah kayaknya udara di Jawa Timur ini ada sesuatunya deh, kek ada dementor yang sengaja menyebarkan kentutnya gitu di jalan yang ane lewatin. Ngantuk banget gan, keknya sempet ada momen ane tidur deh. Tapi semangat ane tetap membara....segera akhiri penderitaan ini!! Segera cari data skripsi dan PULANG! Akhirnya mata ane melek lagi. Sedetik kemudian, merem lagi.

Ane inget rute yang harus dilewati itu ya Surabaya-Sidoarjo-Bangil-Pasuruan. Sidoarjo lewat, ane berharap akan menjumpai kata 'Selamat datang di Bangil Kota Santri'. Tapi kok....nggak ada ya. Udara juga semakin dingin, perasaan kemarin pas perjalanan dari Pasuruan ke Surabaya nggak sedingin ini deh. Apa pengaruh global warming memang sedemikian besar di Jawa Timur? Ah...ane berusaha cuek dan terus melajukan motor dengan PD. Pasti sebentar lagi bakal ketemu Bangil kok. Oh Bangil, Oh Bangil, dimanakah dirimu? Semakin gue mencari Bangil, udara malah semakin dingin. Ane curiga. Jangan-jangan.....ini mau ke gunung ya. Atau Bangil yang berubah jadi gunung? Penasaran ane terjawab setelah ane tanya ke mas-mas yang lagi nyantai di trotoar.

"Wah...ini jalan ke Pandaan gan. Ke arah Malang, kalau ke Pasuruan harusnya nggak lewat sini. Lewat sono." katanya sambil menunjuk arah nggak jelas di rerimbunan pepohonan.

"Waduh mas, salah ya. Waduh. Trus gimana mas? Ane harus putar balik lagi kah buat ke arah rerimbunan pepohonan itu?"

"Owh nggak gan..Ini aja ane terus dikit, itu ada pertigaan belok kiri, perempatan belok kanan. Nanti ada pertigaan ketiga lurus aja. Nggak ada pertigaan jangan belok ya gan.  "

Yang ane ingat dari omongannya cuma belokan pertama sama kalau nggak ada pertigaan jangan belok. Ane pun nurut. Sebelum pergi masnya memberi wejangan lagi, 

"Tapi hati-hati ya...saya kasi tau rahasia sesuatu..sini...di jalan itu bahaya. Banyak penjahat. Hiiyyy." katanya sambil menggerak-nggerakkan bahunya.

GLEK. "Oke mas makasih ya."

Ane pun lewat jalan yang mas itu maksud, dan ........ramenya. Banyak motor seliweran, di kanan kiri jalan itu kampung. Malah sempet lewat pasar. Mana penjahatnya? Ane udah nyari sampe gang-gang kecil juga nggak nemu penjahatnya. Ah sialan masnya bohong nih. Niat ane mau nyeramahin penjahatnya biar berubah jadi baik malah tertunda.

Seperti keajaiban yang jadi nyata, setelah melalui jalan kecil ini selama kurang lebih 1 jam, akhirnya jalan ini berakhir di pertigaan jalan besar. Dan kata pertama yang ane lihat adalah......BANGIL!! Huaa nggak nyangka bakal sesenang ini saat lihat Bangil. Duh Bangil kita udah nggak ketemu berapa lama ya? Kok kamu udah berubah sih? Dulu kayaknya disini ada penjual lontong kupang kok sekarang nggak ada lagi, padahal rangka tempat jualannya masih ada. Bangil..kamu udah benar-benar berubah..Aku nggak nyangka..

Sudahlah, lupakan BANGIL! Aku harus move on. Akhirnya satu jam berkendara sampai juga di PASURUAN. Ane udah kenal sedikit dong, kan kemarin udah kesini, jadi santai aja. Udah tau pas ada pertigaan pom bensin belok kanan aja buat isi bensin, ada perempatan warung ayam menepi dulu buat makan ayam. Setelah isi bensin dan makan ayam, ane bakal ingat harus belok kanan, belok kiri atau lurus. Pokoknya ane udah hafal banget lah luar dalam.

Ane kembali nginap di Hotel Nasional, tapi kali ini menginap di kelas ekonomi yang paling ekonomi yang paling murah. Pokoknya yang paling ekonomi.  Ane dapat harga 75.000/malam (sialnya kemarin nggak tau kalau ada yang 75.000/malam). Menginap 3 hari 2 malam. Bayar pakai uang 100.000, masnya bilang kurang ane tambahin 100.000, masnya bilang lebih ane tinggal. Niatnya gan..mau tidur dulu. Paling nggak sampai jam 12 siang lah. Nanti sorean baru ke Danau Grati lagi. Tapi ane ingat disini uang=waktu, jadi ane ke ATM, ambil uang dan membeli waktu terus tidur nyenyak.
###

Krroookkkk...krookkk...entah kenapa disaat ane tertidur lelap wajah kedua orangtua ane melayang-layang manja diatas kepala ane. Wajah dospem ane "Galuh, piye skripsine? Piye skripsine?". Uwahh! Sampe akhirnya Mars CIMB Niaga tiba-tiba terputar di otak ane, ane langsung terloncat!


Ane harus segera berangkat. Ane harus segera berangkat. Cepet-cepet. (Ceritanya CIMB Niaga ini pemberi beasiswa ane, dimana kalau ane lulusnya telat, ane harus mengembalikan sejumlah persen beasiswa ane ke mereka). Nggak mau donk ya soalnya  duitnya udah habis  menyangkut gengsi.


Pada kunjungan lapangan kedua yang super malas semangat ini, ane memutuskan akan mencari singkapan lain untuk dilakukan pengukuran stratigrafi. Melalui lokasi pertama, sebenarnya ane udah nemu singkapan kedua. Tapi lokasinya di ujuuung seberang danau sana. Sehingga ane harus berenang jika ingin ambil data disana. Alternatif lainnya, naik kapal bebek-bebekan yang banyak bersandar di tepi Danau Grati. Menunggu sejenak, karena tidak ada bebek yang berangkat, ane terpaksa muter-muter kampung untuk cari jalan ke singkapan kedua disono. Uhhh...seandainya Indonesia punya musim salju! Ane bisa deh, langsung sepatu rodaan diatas danau yang membeku. Huft, nasib negara dengan 2 musim aja.


Akhirnya ane memutuskan kembali ke singkapan yang kemarin ane ukur (kemarin itu pas PART 1, pas ane pertama datang ke Pasuruan) untuk ambil sampel tambahan dan melengkapi data. Sialnya karena ane ngukurnya di dekat kandang kambing kampret, karena mereka tau ane orang asing, tu kambing teriak-teriak semua keras banget. Sumpah gan, padahal ane nggak apa-apain mereka. Mereka di kandang dan ane di pinggir jalan kampung. Karena lama-lama teriakannya makin keras, ane segera percepat ambil sampel dan kabur dari tempat itu. 

"Kampret lu mbing!" batin ane.

"Benar-benar nggak support sama orang yang ambil data skripsi lu mbing! Lu enak ma lu kambing, nggak perlu kerjain skripsi! " Ane sempat omong gitu ke kambing sebelum ane lanjut jalan cari singkapan berikutnya.

Selesai semua urusan disini, ane segera mengarahkan motor ke utara untuk mencari keberadaan singkapan yang di seberang danau tadi. Ane berjalan tanpa arah dan tujuan. Jalanan yang ane lewatin pada awalnya masih aspal dengan lebar 1,5 meter. Tetapi kelamaan, aspal tersebut berubah jadi batu, akhirnya tanah, dan akhirnya jalan setapak. Asem! Cobaan mulai datang. Ane merinding juga soalnya jalan begitu sepi.

Bagaimanapun, ane teruskan mencari singkapan itu. Karena ane motoran lewat jalan super sempit - jalannya mungkin hanya muat untuk satu orang jalan kaki aja - , ane banyak menjumpai warga-warga di ladang.

"gan, gan, mau kemana? awas bahaya kalau lewat sana sendirian," kata salah seorang peladang.

"Mas, ane mau kesono tuh, ke pertambangan batu." jawab ane.

"Hati-hati yo, disana bahaya, jalannya licin."

GLEK!! "Iyoo mas."

Asem, dalam hati udah takut banget sebenarnya gan. Tapii, ah masa bodo! Kalau ane takut nih skripsi nggak akan selesai-selesai. Sumpah udah males banget sama yang namanya skripsi.

Semakin masuk mendekati singkapan (kalau belum tau, singkapan itu semacam tebing yang bisa dilihat batunya dengan jelas gitu gan), jalanan setapak yang ane paksain untuk dilalui motor ini semakin sepi. Kalau tadi kiri kanan ane berupa ladang, sekarang di kiri ane bukit, di kanan hutan. Nyali ane udah sangat ciut. Seandainya ada orang jahat, nggak akan ada yang bisa tolongin ane.

Setengah jam kemudian, tiba-tiba jalan yang udah ane cari susah-susah itu BUNTU!!!! Huahahaha, di depan ane terbentang singkapan yang sangat indah..................tapiiii.....itu di bawaaaahhhh sanaaaa! Artinya, ane mengamati singkapan itu dari atas, untuk turun harus lewat tebing setinggi 15 meteran dan sangat curam!

"Uasem!!! " Gerutuku dalam hati.

Bagi calon geolog, kenapa ya pas menemukan singkapan itu ada rasa senang dan sedih sekaligus. Senangnya karena akhirnya dapat data, sedihnya karena harus melakukan pengukuran stratigrafi (MS). Pengukuran startigrafi itu kayak kita disuruh ngukur dan nggambar batu yang berlapis-lapis kecil itu gan jadi kayak kue lapis. Sumpah, selain harus ngorek-ngorek fosil kecil-kecil lewat mikroskop, MS sebenarnya adalah kegiatan yang paling malesin buat ane.

Seakan cuaca ngerti dengan perasaan ane, tiba-tiba mendung yang dari tadi menggantung manja turun dengan begitu derasnya! "Wah, pas banget. Bodo amat, basah ya basah, sakit ya sakit."

Aaahhhhh......!! ane berteriak sambil merem melek karena seluruh pakaian langsung basah kuyup seketika. Huft, nasib hidup di negara yang punya curah hujan tinggi. Akhirnya karena hari udah sore dan hujan semakin deras, ane putuskan akan melanjutkan pencarian ini besok. Ane bertekad, besok harus menemukan jalan baru! Besok harus ngukur itu semua (singkapannya gede banget).


Malemnya ane hanya menghabiskan waktu ngalamun di kasur. Ane dapet kamar di bagian belakang, dan sialnya ane sendirian (jadi beberapa kamar di spenajang lorong itu cuma ane yang nempatin). Sampe kebelet pipis aja harus mikir seribu kali mau keluar kamar, takutnya tiba-tiba dicaplok pocong hihihi...........ssssshhhhhhhhhhhhh......hihihi......

1.07.2015

Akhirnya (daftar) sidang juga PART 1 : Bandara Juanda


Bagi sebagian besar mahasiswa/i, skripsi mungkin menjadi salah satu penyebab kegalauan utama mereka di tahun terakhir kuliah. Well, mungkin nggak semuanya, mungkin mereka-mereka yang masuk kategori 'mahasiswa/i yang nggak rajin-rajin amat'. Ini termasuk ane gan. Ane itu termasuk orang yang terkesan 'dong-dongan' dalam mengerjakan skripsi. 'Dong-dongan' itu maksudnya, kalau niat ya ngerjain, kalau lagi nggak niat yaudah ditinggal aja. Ninggalnya itu bisa 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, hehehe. Sedangkan niatnya paling cuma 1 hari, 2 hari, maksimal 4 hari hahaha.

Perjuangan ane mengerjakan skirpsi dimulai pada November 2013 saat dosen pembimbing ane menawarkan topik skripsi di Jawa Timur, tepatnya di Pasuruan. Ane yang saat itu berada dalam kebimbangan, kegalauan, tak tau harus apa, seperti telur di ujung tanduk, segera saja meng-iya-kan tawaran dosen ane. Meski masih nggak tau gimana nanti caranya cari data di Jawa Timur, gimana nanti uang buat kesana, pokoknya ane udah tentram kalau udah ada topik gan.

Ketentraman itu tentulah berlanjut dengan kesantaian wkwk. Bisa ane ingat, ane baru ke Pasuruan pertama kali itu pertengahan bulan Maret 2014. Jeda waktu yang cukup lama setelah mendapatkan topik di bulan November 2013 hehehe. Bisa ane ingat, naik Sritanjung dari Solo ke Pasuruan, ane bawa juga motor yang diangkut sama kereta. Sampai Pasuruan hujan deras sehingga belum bisa cari penginapan (masih buta juga gan, ga tau sama sekali mau nginap dimana, berapa hari, dan lain-lain). Akhirnya hujan lumayan mereda jadi gerimis, eh warung bensin eceran yang di dekat stasiun tutup juga gan! Kan kalau ngirim motor lewat ekspedisi itu bensinnya dikosongin gan. Jadi akhirnya ane harus nuntun motor ke kota yang baru aja ane kenal buat nyari bensin eceran, kehujanan lagi, jas hujannya yang egois lagi jadi tas ane yang besar basah semua. Huaa, baru mulai aja udah bikin frustasi gan.

Ane udah nuntun motor sekitar 200 meter tetep juga ga nemu bensin eceran gan. Akhirnya karena capek harus nuntun terus, ane letakin motor di depan warung yang cukup rame n ane jalan kaki cari bensin eceran. Akhirnya nemu gan, 100 meteran dari situ. Dan penjual bensinnya awalnya ga percaya sama ane gan, karena ane minta ijin bawa botolnya untuk dibawa ke motor ane yang diparkir. Akhirnya supaya dia percaya ane kasi 50rb gan, ane janji akan kembalikan botolnya n minta kembaliannya nanti.

Apakah karena sudah dapat bensin terus penderitaan ane berakhir gan? Of course not haha. Ane harus berjuang cari penginapan. Ane mulai muter-muter, cari hotel kelas melati untuk ane berteduh malam ini. Ampunn gan, susahnyaa...Ane sampai berencana mau tidur di mushola pom bensin karena sudah kebingungan tingkat dewa. Akhirnya karena frustasi dan kelaparan, ane berhenti makan dulu gan. Selesai makan ane segera searching di internet, nyari-nyari penginapan murah di Kota Pasuruan. Dan akhirnya NEMU gan!! Seneng banget, cuma 40rb semalem. Akhirnya ane telfon tu hotel n minta ancer-ancer buat kesana. ane pun segera bergegas karena langit sudah menggelap gan, hujan juga masih mengguyur tapi udah nggak terlalu deras.

Ane sudah muter-muter berapa kali tetep aja nggak nemu penginapan murah itu gan. Langit semakin menggelap dan ane semakin putus asa aja gan. Akhirnya ane telfon itu hotel lagi, memastikan apakah lokasinya di Kota Pasuruan. Owalahhhh, ternyata mereka tu lokasinya di PANDAAN gan!! Itu di jalan menuju ke Malang. Owalaahhh, pantesan aja nggak nemu-nemu dari tadi. Ane semakin frustasi aja gan.

Keputus-asaan yang memuncak itu sempat membuat gue berhenti cukup lama di perempatan yang mungkin udah 4 atau 5 kali gue lewatin. Ane bingung. Mau terus, belok kanan, belok kiri atau balik. Ane melihat ada bapak becak yang sedang bersantai, akhirnya ane bertanya ke dia. 

"Pak, disini tu ada penginapan nggak ya?" tanya ane.

"Wah disini penginapan cuma ada 4 dek, itu aja mahal semua. Ada satu hotel ekonomi di sana (sambil menunjuk jalan)." Dalam hati ane ngomong, 'wah muka ane ini emang ekonomi banget hahaha'

"Namanya hotel apa pak? ancer-ancernya gimana?"

"Hotel Nasional. Bla-bla-bla....."

Akhirnya ane segera menuju ke Hotel Nasional yang dimaksud bapak itu. Dan....akhirnya hotel itu memang ada gan. Ane bersyukur banget. Segera saja ane merapikan rambut yang berantakan (karena dari tadi pakai helm, kehujanan), jaket yang udah basah ane lipat, supaya nggak kelihatan 'ekonomi-ekonomi' banget gan pas di resepsionis entar haha.

Akhirnya ane dapat kamar gan, nggak murah-murah amat si gan, 120 rb semalem (2014). Saat itu ane nggak mikir, mau berapa hari di Pasuruan, apa duitnya cukup, yang penting malam itu ane dapat penginapan dulu gan. Badan udah meriang rasanya kehujanan dari tadi. N setelah mandi akhirnya ane terlelap gan.. Ini foto kenampakan kamar Hotel Nasional gan..

kasurnya ada 2 gan...mubazir satunya.. alhasil buat menempatkan barang-barang aja.

ada tivinya gan..lumayan buat pelipur lara hehehe.

kamar mandi dalem gan..

***
Keesokan harinya....
Keesokan harinya, bangun pagi dengan segar, ane langsung mencari lokasi penelitian ane gan. Lokasinya itu di Kecamatan Grati, sekitar 30 menit dari Kota Pasuruan. Dan syukurlah, ane gak terlalu kesusahan gan menemukan lokasi penelitian ane. Oya FYI penelitian ane itu tepatnya berlokasi di Danau Grati gan. Danau Grati itu dulunya gunung api gan, jadi ane mau neliti endapan letusannya di sepanjang tepi danau gitu gan. Persamaannya gini gan, kan Gunung Merapi meletus ngeluarin material yang akhirnya jadi lahar kan gan. Nah ane neliti lahar itu.

ini dia gan pemandangan Danau Grati, tinggian di kejauhan itu Kaldera Tengger gan (tempatnya Gunung Bromo)

ini dia gan endapan yang mau ane teliti

Ane segera bergerak cepat gan, ane segera melakukan pengukuran stratigrafi ke singkapan ini. Setelah itu ane melakukan sampling. Panasnya minta ampun gan....Sorenya ane sudah menyelesaikan pengukuran stratigrafi dan bersiap untuk pulang gan.

Pulang? Pulang kemana? Haha. Ane cuma nginap 1 hari gan di Hotel Nasional. Artinya, ane udah ga punya tujuan lagi. Sebenarnya waktu itu uang masih ada gan, tapi karena sudah menghabiskan terlalu banyak uang, ane memutuskan akan ke Surabaya. Di Surabaya, ane rencana mau nitip motor di Stasiun Gubeng dan melanjutkan perjalanan dengan kereta malam ke Solo. Jadilah ane melakukan perjalanan Pasuruan - Surabaya malem-malem gan. Sumprit serem gan, apalagi temen di sepanjang perjalanan itu truk, bus, mobil gan. Ane cuma bisa pasrah dan melanjutkan perjalanan dengan optimis.

Perjalanan ke Surabaya membutuhkan waktu 3 jam gan, akhirnya nyampe jam 9 malem dan udah ga ada kereta malem gan. Ane bingung harus kemana, akhirnya ane ingat bisa nginap di Bandara Juanda gratis. Akhirnya ane mengarahkan motor ke Bandara Juanda, nitipin motor (gratis) n tidur di ruang tunggu gan. Emang jiwa backpacker masih melekat kuat di gue sehingga selalu cari apa-apa yang gratis. Hahaha.

***
Keesokan paginya ane telepon temen ane gan, minta tolong untuk booking tiket kereta pagi ini ke Solo. Katanya kursi untuk ke Solo masih ada, tapi gak bisa booking online gan karena udah terlalu mepet. Jadi harus beli tiket langsung di stasiun. Ane pun segera bergegas keluar dari Bandara Juanda untuk menuju Stasiun Gubeng. Ane yang baru pertama kali mengenal jalanan Surabaya kaget gan, sumpah cabangnya banyak banget, ruwet banget. Tapi dengan bertanya-tanya kepada beberapa orang, akhirnya ane sampai Stasiun Gubeng Lama dengan selamat gan. Ane segera menitipkan motor, kemudian mengantri untuk membeli tiket n pulang ke Solo dengan selamat gan...

*kebodohan yang ane baru sadari: kenapa malam itu nggak langsung menuju Terminal Purabaya aja, nitip motor disana, n langsung pulang ke Solo setelah itu dengan Bus EKA. Hahaha.

Di petualangan pertama ini, saya hanya 1 hari di Pasuruan karena kehabisan cash (doewit) dan semangat. Saya kembali lagi ke Pasuruan seminggu setelahnya (pertengahan maret) dan bulan Juli 2014 (ya, saya menitipkan motor di Stasiun Pasuruan selama 3 bulan, sampe motor saya mau dilaporin polisi sama yang jaga parkir, dikira motor curian hahaha).