Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Kochi akan ditempuh selama 4 jam. Aku dan Fredo masuk pesawat dengan perlahan setelah peristiwa mendebarkan tadi, termasuk membawa nasi kari ayam yang kami bungkus dari KL Sentral tadi.
"Eh ini beneran gpp ini bawa makanan? Ga enak aku sama pramugarinya. Soalnya mereka juga jualan makanan," kataku ke Fredo.
"Gpp.. udah santai aja makan aja."
Pesawat belum take off, tapi karena sudah kelaparan akibat andrenalin mengucur deras takut ketinggalan pesawat tadi, aku langsung menghabiskan nasi kari itu dengan cepat. Tidak menunggu lama proses boarding selesai dan proses take off berjalan dengan lancar. Di pesawat, aku mencoba memejamkan mata. Harapannya, tidur bisa membantu waktu terasa lebih cepat berlalu. Tapi, seperti biasa, bagiku tidur di pesawat/mode transportasi lainnya bukan hal yang mudah. Suara dengung mesin, lampu kabin yang tidak terlalu redup, dan posisi duduk yang kurang nyaman (terlalu tegak dan sempit jaraknya dengan kursi depan) membuat tidurku hanya setengah berhasil. Beberapa kali aku melirik ke arah Fredo yang terlihat lebih santai. Sesekali kami mengobrol ringan untuk menghabiskan waktu.
Menjelang akhir penerbangan, perasaan lelah bercampur antusias mulai muncul. Pukul 23.30 waktu India (1,5 jam lebih lambat dari KL), pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Kochi. Walau hari sudah larut, bandara terlihat masih ramai dengan hiruk-pikuk penumpang dari beberapa pesawat yang baru saja landing. Dengan rasa lega, kami mengambil barang bawaan dan melangkah menuju imigrasi.
Mengamati situasi sejenak, aku menemukan tanda ini, E-Tourist Visa. Karena setauku aku dan Fredo memegang visa ini untuk masuk India, kami mengikuti tanda tersebut ke loket imigrasi khusus pemegang ETV. Di dalam loket tersebut sudah ada petugas yang dengan sigap langsung meminta paspor, ETV dan bukti penginapan malam pertama kami di India. Petugas itu melakukan verifikasi data lewat komputernya selama 20 menit, setelah itu meminta cap kesepuluh jari dan foto wajah sebelum memberikan cap masuk selama 30 hari di India
Ternyata kami harus mengantri untuk mendapatkan taksi kami. Supir kami seorang pria India paruh baya yang cukup ramah. Di sepanjang perjalanan, taksi melaju melewati jalanan yang masih dipenuhi motor, mobil, auto rickshaw (seperti bajai/tuk-tuk), cycle rickshaw (yang dikayuh pakai sepeda). Klakson menjadi suara dominan, saling sahut menyahut antara satu kendaraan dengan kendaraan lain seakan-akan tidak ada yang mau kalah. Bahkan di suatu persimpangan, kendaraan-kendaraan itu terlihat saling memotong, tidak ada yang mau mengalah jadi membentuk kemacetan di perempatan wkwkwk.
"Welcome to India," kataku ke Fredo dengan meringis.
"Buseeet," kata Fredo sambil terheran-heran dengan kondisi didepannya ini.
Sopir taksi kami cukup cekatan, memotong jalan di sela-sela kendaraan lain dengan gerakan yang sangat licin. Menjauh dari stasiun, jalanan yang tadinya ramai mulai lancar. Lampu-lampu jalan terlihat memantul di genangan kecil di tepi jalan, warung-warung pinggir jalan masih buka, melayani pelanggan yang mungkin juga baru tiba dari perjalanan panjang. Sepanjang perjalanan, aku merasa seperti di tengah-tengah adegan film. Ramai, riuh, tapi penuh kehidupan. Wkwkwk.. Ini merupakan perasaan yang khusus kurasakan kalau pas traveling ke India.
Setelah setengah jam berkendara, akhirnya kami tiba di Hotel Srinivas yang terletak di Kawasan Ernakulam, hotel yang sudah kubooking sebelumnya.
"Jadi, total semuanya 950 Rupee (Rp 200.000)," kata lelaki resepsionis Hotel Srinivas. Perawakannya tegap, berkacamata dengan kumis yang lebat.
"Tetapi di internet dikatakan totalnya 800 Rupee," protesku.
"Tidak, tidak. Itu belum termasuk pajak," kata lelaki itu lagi.
"Hmmmm....baiklah," kataku dengan pasrah.
Kami memesan sebuah kamar ekonomi dengan dua kasur terpisah (twin bed). Menurutku kondisi kamar cukup bersih dan bagus. Fasilitas yang kami dapatkan meliputi dua kasur dengan sprei, bantal dan selimut bersih; kamar mandi dalam dengan kondisi air lancar, ada air panas, dapat dua buah sabun juga; air panas untuk minum; fasilitas check in 24 jam; televisi.
WI-FI? Tidak ada. Sarapan? Tidak dapat. Mengecewakan sih dengan ketidakhadiran Wi-Fi, tetapi kekurangan itu ditutupi dengan fasilitas check in yang 24 jam, jadi jika check in jam 12 malam, maka bisa check out keesokan harinya jam 12 malam juga. Cukup adil kan?
Kenapa memilih Hotel Srinivas? Well, sebenarnya aku memilih hotel ini karena lokasinya yang berada di Ernakulam. Coba lihatlah peta wilayah Kochi di bawah ini, dengan bentuk wilayah yang berpulau-pulau (ada Ernakulam, Panangad, Kochi, Willingdon, Vypin), maka jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lain memang cukup jauh. Hotel Srinivas di Ernakulam kami pilih karena kami memang mempunyai rencana mengikuti paket tour mengunjungi Pulau Kochi dengan perahu esok pagi. Kebetulan titik keberangkatan perahunya ada di Ernakulam Boat Jetty yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari hotel ini (lokasinya di peta dekat dengan Panampilly Nagar). Jadi rencana besok kami akan berjalan kaki kesana.











