Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Ternate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ternate. Tampilkan semua postingan

12.23.2024

[5] Journey to Ternate : Snorkeling di Pantai Jikomalamo Episode 2 - Kepulangan (Finished)

Cerita ini merupakan rangkaian perjalanan ke Ternate - Halmahera yang aku lakukan dari 27 April 2018 - 1 Mei 2018. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : Disini


Ternate, 1 Mei 2018
Hari kelima sekaligus hari terakhir (sementara) di Ternate.

Hari ini adalah hari kepulanganku ke Surabaya dimana pesawatku dijadwalkan pukul 13.45 WIT. Sesuai rencana yang udah kita diskusikan semalam, tepat pukul 7 pagi, aku dan Kak Ai sudah bersiap untuk snorkeling terakhir sebelum aku kembali ke Surabaya. Destinasinya adalah Pantai Jikomalamo, tempat kami pernah snorkeling di hari pertama, dimana saat itu airnya buram karena arus yang cukup kencang sehingga kami tidak mendapatkan pemandangan maksimal. Kak Ai bilang hari ini arus lebih tenang, jadi kami bisa menikmati pemandangan bawah lautnya dengan lebih jelas.

Setibanya di Jikomalamo sekitar jam 8, aku tidak pernah benar-benar bosan memandang pemandangannya, dan sangat sedih bahwa hari ini aku sudah akan meninggalkan ini semua untuk kembali ke Surabaya. Pagi itu suasana pantai sangat tenang, dengan air laut yang biru kehijauan tampak berkilauan diterpa sinar matahari pagi. Kami segera bersiap, mengenakan perlengkapan snorkeling, dan masuk ke dalam air. Sesuai omongan Kak Ai, hari ini air laut memang lebih tenang daripada pas hari pertama kemarin. Implikasinya, air laut jadi terlihat lebih biru, jernih, dan kehidupan bawah lautnya terlihat lebih jelas dan menarik.

Birunya air laut Pantai Jikomalamo yang selalu mempersona

Terjaganya alam Pantai Jikomalamo

Karang-karang di sini memang tidak terlalu sebanyak dan sepadat Pantai Bobaneheha, tetapi beberapa masih tampak hidup dengan warna cokelat keemasan dan sedikit sentuhan hijau. Di antara karang-karang itu, aku melihat ikan-ikan kecil berwarna biru terang berenang berkelompok, ada juga ikan warna kuning cerah yang bergerak cepat, dan sesekali ikan dengan garis-garis hitam putih muncul dari balik celah karang. Aku juga melihat berbagai macam bintang laut, bintang ular, teripang, dan berbagai macam bentuk hewan laut yang benar-benar baru kulihat pertama kalinya dalam hidupku.

Saat asyik menikmati pemandangan, Kak Ai tiba-tiba menantangku untuk mencoba berenang tanpa pelampung. “Kamu kan udah pakai fin dan snorkel, pasti bisa kok. Sebenarnya yang bikin kita bisa ngapung itu ya kalau pakai fin. Ayo, kamu pasti bisa” katanya dengan nada yakin. Awalnya aku ragu, tapi akhirnya mencoba juga. Ternyata benar—dengan fin yang membantuku mengayuh dan snorkel yang memastikan aku tetap bernapas, aku bisa berenang tanpa pelampung! Kali ini aku melanjutkan snorkeling sendirian di beberapa titik tanpa Kak Ai. Bebas juga rasanya nggak harus pakai pelampung.  

Aku snorkeling tanpa pelampung di biru kristalnya air laut Pantai Jikomalamo

Bagian yang berwarna gelap itulah terumbu karangnya, sedangkan yang berwarna putih adalah pasir laut

Kami menghabiskan waktu sampai 3 jam untuk snorkeling dan ngobrol setelahnya. Tiba-tiba waktu udah menunjukkan pukul 12 siang aja dimana artinya kami harus segera bersiap kembali ke bandara. Kami sempatkan makan siang dan menempuh 20 menit perjalanan kembali ke Bandara Sultan Babullah. Sepanjang perjalanan menuju bandara entah kenapa aku merasa sedih. Pulau ini benar-benar memberikan pemandangan (di atas laut ataupun bawah laut) yang benar-benar indah, masyarakat yang ramah dan baik, Kak Ai yang sangat baik, makanan yang sangat sangat enak. Huhuhu... Sedih banget rasanya udah harus pulang hari ini.

Selamat tinggal (sementara), Ternate!

Akhirnya kami sampai di Bandara dan tibalah waktunya, aku harus berpisah dengan Kak Ai di area keberangkatan. Aku mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas bantuannya mengajakku keliling (bahkan setiap hari snorkeling) selama 5 hari berturut-turut. Aku juga tak lupa memberikan ucapan terimakasih untuk jasanya. 

Tidak butuh waktu lama untukku menunggu pesawat Sriwijaya Air boarding, dimana aku akan terbang dari Ternate ke Makassar, transit 2 jam di Makassar dan lanjut terbang dari Makassar ke Surabaya. 

Bye!

Sewaktu pesawat Sriwijaya Air perlahan-lahan mulai terbang meninggalkan Pulau Ternate, tak sadar setitik air mata turun dari sudut mataku. Aku terharu dengan pengalaman dan kebaikan orang-orang yang sudah membantuku selama 5 hari terakhir ini. Ingatan pengalaman dari hari pertama saat snorkeling di Pantai Jikomalamo, snorkeling di Pantai Bobaneheha yang penuh warna hingga momen mendebarkan di speed boat menuju Ternate saat badai kembali memenuhi otakku. Aku rasa ini akan menjadi salah satu pengalaman traveling dengan pemandangan alam terbaik, dan tidak kusia-siakan dengan kuabadikan dalam bentuk tulisan di blog ini.

Ternate mungkin hanya sebuah titik kecil di peta Indonesia, tapi bagi hatiku, ia kini menjadi salah satu tempat paling berharga yang pernah aku kunjungi. Good bye and see u again Ternate.....

Ending: Finnaly aku mendarat di Bandara Juanda Surabaya jam 19.30 WIB. Mengambil motorku di penitipan, aku menjalani kembali realita hidup yang penuh dengan kemacetan dan asap motor di Surabaya untuk kembali ke kos. Sesekali bayangan keindahan alam Ternate masih terngiang-ngiang di otakku, dan membuat semangatku kembali membara untuk segera traveling ke tempat lainnya di Indonesia menggunakan Sriwijaya Travel Pass-ku. Indonesia, wait me again!

FINISHED.

[4] Journey to Ternate : Snorkeling di Pantai Falajawa

Cerita ini merupakan rangkaian perjalanan ke Ternate - Halmahera yang aku lakukan dari 27 April 2018 - 1 Mei 2018. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : Disini


Ternate, 30 April 2018

Hari keempat di Ternate.

Setelah peristiwa mendebarkan terombang-ambing di ganasnya Laut Halmahera dan ketinggalan pesawat kemarin, hari ini aku dan Kak Ai mulai lebih santai. Well, mungkin Kak Ai juga ingin menurunkan sedikit ritme, supaya kami ga kelelahan baik dari segi fisik maupun emosional hehehe.. Btw ini hari Senin, seharusnya hari ini aku ada di kantor, sudah bekerja seperti biasanya. Namun karena badai kemarin, takdir menahanku masih tetap disini. Hihihi... Ada rasa ga enak sekaligus bersyukur. Ga enak karena aku terpaksa izin kerja, bersyukur karena ada tambahan 2 hari lagi di Ternate, karena besok adalah tanggal merah lagi.

"Kita sarapan nasi kuning ya di pasar. Habis itu snorkeling di Pantai Falajawa."

"Iya kak", kataku sambil bersiap-siap. Well, sebenarnya kalau hari itu ga ngapa-ngapain juga aku ga masalah hehehe.. tapi mungkin Kak Ai mau memberikan yang terbaik untuk traveler yang datang kesini, dan aku sangat menghargainya.

Kami naik motor ke pasar untuk sarapan nasi kuning, dan setelahnya kembali ke Penginapan Santoso untuk mengambil alat snorkel dan fin. Pantai Falajawa sendiri lokasinya didepan penginapan persis jadi kami langsung jalan kaki saja.

Pantai Falajawa (sumber gambar : Disini)

Setelah tiba di tepi laut, kami langsung memasang alat snorkeling yang sudah kami bawa sebelum perlahan masuk ke air laut yang cukup jernih. Siang itu beberapa anak-anak terlihat juga berenang santai di tepian laut. Suasana yang mulai sering aku jumpai disini dan membuatku nyaman.

Riuhnya suasana kurang lebih seperti ini (sumber gambar : Disini)

Sekilas, kondisi bawah laut di sini cukup menarik, meskipun karangnya tidak sebanyak dan secantik Pantai Bobaneheha dan Pantai Sulamadaha. Aku masih menjumpai beberapa karang yang berwarna-warni, ikan-ikan kecil dan ikan karang, dan bulu babi cukup banyak.

Saat asyik menjelajahi bawah laut, aku melihat hewan seperti ular berwarna putih dengan bintik hitam dan ukurannya cukup besar. Well, sebenarnya jaraknya cukup jauh dibawahku, namun langsung membuatku anxiety seketika, takut digigit atau gimana wkwkwk. Aku buru-buru berenang menjauh dengan panik, dan sepertinya Kak Ai juga melihatnya. Namun, Kak Ai memberi kode. “Itu belut, belut,” katanya sambil tetap mendorong ane dari belakang. Aku sebenarnya masih bingung, 'Belut sebesar itu tidak berbahaya kah? Haruskah aku kuatir?' aku tetap ketakutan dalam hati.

Sayangnya, snorkeling kali ini dihiasi ironi. Di sela-sela air yang jernih dan beberapa ikan kecil berwarna cerah, banyak sampah plastik berserakan di dasar laut. Pemandangan itu membuat hati sedikit miris. Kak Ai, tanpa ragu, mulai memunguti sampah-sampah yang bisa dia raih, seperti kantong plastik dan bungkus makanan, untuk disimpan di kantong baju selamnya. “Nanti kita buang di darat,” katanya sambil melanjutkan pencarian sampah di antara karang. Aku sendiri sangat salut namun tidak bisa membantu apa-apa karena kebanyakan posisi sampah ada di dasar laut yang itu perlu menyelam, sedangkan aku cuma bisa ngapung pakai pelampung hehehee..

Kami terus snorkeling hingga mencapai pantai di sebelah timur Taman Nukila.

"Kita kesana yuk, dibawahnya ada reruntuhan. Biasanya banyak ikan," kata Kak Ai sewaktu mengangkat kepala dari pemandangan bawah laut. Kita bergerak mengarah ke laut di sebelah timur Masjid Raya Al Munawwar. 

Suasana di sini terasa sunyi, hampir seperti tenggelam dalam waktu. Beberapa ikan kecil berenang di sekitar reruntuhan, termasuk ikan-ikan dengan warna perak yang berkilau terkena sinar matahari yang tembus dari permukaan air. Karang-karang di sekitarnya mulai menunjukkan sedikit kehidupan, dengan warna oranye, ungu, dan hijau pucat.

Di antara reruntuhan, suasananya terasa berbeda—sedikit misterius, seolah menyimpan banyak cerita masa lalu. Kak Ai menunjuk ke arah beberapa ikan yang bersembunyi di sela-sela reruntuhan. Aku melihat ikan badut kecil bermain di antara anemon, bintang ular dengan berbagai macam warna dan seekor ikan trigger yang cukup besar melintas cepat, bulu babi yang berdiam diri di dasar laut dengan kenampakan hitamnya yang menakutkan, membuatku sedikit tersenyum dalam air. Pengalaman snorkeling di Maluku Utara ini memang menurutku memberikan pemandangan bawah laut terlengkap bagiku. Seakan-akan ketika sedang snorkeling aku punya dua dunia yang berbeda, dunia bawah laut dengan berbagai macam makhluk aneh-aneh dan dunia manusia diatasnya.

Kami menghabiskan waktu sekitar dua jam di laut ini, meski rasanya lebih singkat karena asyiknya. Kami kembali ke pantai di seberang Taman Nukila lagi sebelum naik ke permukaan. Hal yang membuatku miris, banyak sampah kulit jagung dan plastik yang dibuang oleh orang-orang yang nongkrong diatas taman. Hmmmmmm...... Haruskah manusia berbuat seperti itu? Padahal ditaman udah ada tempat sampah lo😕.

Selesai snorkeling dan mandi di penginapan, kami makan siang. Dan ternyata petualangan belum berakhir.

"Kita istirahat sebentar ya. Nanti agak sorean ke Benteng Oranje. Ini udah hari terakhir kan, besok udah balik."

"Siaap kak,".

Setelah berbaring-baring sejenak, sekitar jam 5 sore kita mulai jalan lagi ke Fort Oranje. Lokasi benteng ini tidak jauh, hanya 10 menit berkendara dari penginapan. Tidak seperti Benteng Tolukko dan Benteng Kalamata yang lokasinya berada di tepi laut, Fort Oranje ini lokasinya berada di tengah kota, dan meskipun cukup dekat juga ke laut namun tidak berbatasan persis. Menilik namanya, tentunya bisa ditebak kepunyaan siapa dong ya. 

Sedikit cerita sejarah, Benteng Oranje adalah benteng peninggalan kolonial Belanda yang terletak di Kota Ternate, Maluku Utara. Dibangun pada tahun 1607 oleh Cornelis Matelieff de Jonge, benteng ini awalnya didirikan di lokasi bekas benteng Portugis. Benteng Oranje menjadi markas utama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) di wilayah timur Indonesia dan merupakan pusat administrasi Belanda pertama di Nusantara sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia (Jakarta). 

Dengan bentuk persegi dan dikelilingi oleh tembok tebal, benteng ini dirancang untuk melindungi kepentingan Belanda dalam perdagangan rempah-rempah, khususnya cengkih dan pala, yang melimpah di Ternate. Benteng ini juga menyimpan banyak cerita sejarah, termasuk konflik antara Belanda dan Kesultanan Ternate.

Sore itu, suasana di depan Benteng Oranje terasa hidup. Banyak orang terlihat duduk-duduk santai di area depan benteng, menikmati angin sepoi-sepoi yang membawa kesejukan di tengah aktivitas kota. Beberapa anak muda berkumpul sambil mengobrol dan tertawa, sementara pedagang kecil menjajakan jajanan lokal di pinggir jalan.

Kak Ai mengajakkku masuk ke dalam benteng. Begitu tiba di depan benteng, struktur bangunan yang kokoh dengan dinding batu tebal langsung mencuri perhatian. Meski dikelilingi oleh kesibukan kota, suasana di dalam area benteng terasa lebih tenang. Memasuki benteng, halaman luas dengan pohon-pohon rindang menyambut, memberikan kesejukan di sore yang sejuk. Di beberapa sudut, masih terlihat sisa-sisa arsitektur asli seperti dinding tebal dan lorong-lorong kecil yang membawa bayangan masa lalu. Pemandangan ini membuat benteng terasa hidup dengan cerita sejarah yang pernah berlangsung di dalamnya.

Keluar dari benteng, Lampu-lampu jalan mulai menyala, menambah kehangatan suasana malam itu. Ada yang terlihat asyik berfoto dengan latar benteng, memanfaatkan arsitektur kolonial yang masih terjaga. Sebagian lainnya duduk di bawah pohon besar, berbincang sambil menikmati suasana yang tenang namun tetap ramai. Aku dan Kak Ai masih duduk-duduk cerita di depan benteng sebelum malamnya aku diantarkan kembali ke penginapan. 

Well, perjalanan yang sangat berkesan!


Part Setelahnya : Disini

12.22.2024

[3] Journey to Ternate : Snorkeling di Pantai Bobaneheha dan Terombang-Ambing di Ganasnya Laut Halmahera

Cerita ini merupakan rangkaian perjalanan ke Ternate - Halmahera yang aku lakukan dari 27 April 2018 - 1 Mei 2018. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : Disini



Resort di Pantai Bobaneheha, Halmahera


Ternate, 29 April 2018

Hari ketiga di Ternate.. Well, sebenarnya ini juga menjadi hari kepulanganku karena pesawatku ke Surabaya dijadwalkan take off jam 4 sore ini. Tapi sebelum aku bersantai-santai untuk siap pulang, ternyata Kak Ai masih punya rencana besar untuk hari ini.

"Hari ini kita ke Jailolo ya, nyebrang ke Pulau Halmahera. Nanti kita snorkeling di Pantai Bobaneheha. Disana terumbu karang sama ikannya bagus banget!"Kata Kak Ai.

Aku yang di perjalanan ini ga ada rencana apapun, dan sejak hari pertama mempasrahkan rencana perjalanan sepenuhnya ke Kak Ai ya oke-oke saja wkwkwk...Aku berpikir Kak Ai kan udah tau jadwal kepulanganku nanti sore, pasti dia bisa mengatur waktu dengan baik kapan kita harus pulang kembali ke Ternate. Karena kalau menuju Pulau Halmahera artinya, kita akan berpindah pulau. Kita akan naik kapal speedboat dari Pelabuhan Ahmad Yani Ternate ke Pelabuhan Jailolo yang akan menempuh 1 jam perjalanan laut.

Pagi hari jam 7.30 Kak Ai sudah menjemput. Hal pertama yang kita lakukan adalah mencari sarapan. Pagi itu Kak Ai mengajakku sarapan nasi kuning khas Ternate. Well, selain pisang goreng sambal, nasi kuning juga merupakan salah satu makanan khas Ternate. Bedanya dengan daerah lain adalah, disini lauk nasi kuningnya menggunakan suwiran ikan cakalang pedas. Rasanya jangan ditanya... hmmmm... enyaaak! Aku bener-bener puas dengan semua kuliner yang kujajal disini.

Selesai makan, kami segera menuju Pelabuhan Ahmad Yani untuk naik speedboat ke Jailolo. Suasana pelabuhan benar-benar hidup. Suara mesin perahu bercampur dengan teriakan para penjual yang menawarkan berbagai dagangan, mulai dari makanan kecil hingga buah-buahan segar. Orang-orang tampak sibuk memindahkan barang-barang ke perahu, sementara beberapa wisatawan seperti kami menunggu giliran naik. Cuaca pagi itu meskipun sedikit mendung namun masih cukup kondusif.

Rute dan Jarak Pelabuhan Ahmad Yani Ternate ke Pelabuhan Speedboat Jailolo

Angin laut yang segar menyapa kami begitu speed boat mulai bergerak. Perjalanan melintasi lautan biru itu menyenangkan meski sesekali ada hentakan kecil karena ombak. Setibanya di Jailolo, kami menyewa bentor (becak motor) untuk menuju Pantai Bobaneheha. Perjalanan dengan bentor memberikan kesempatan untuk menikmati pemandangan desa-desa di Halmahera yang masih asri dan alami.

Kota Jailolo dengan patung wanita

Pantai Bobaneheha ternyata cukup sepi ketika kami tiba, mungkin karena masih pagi. Sebuah resort baru tampak berdiri di tepi pantai, menambah kesan eksklusif di tempat ini. Pasir putih yang lembut berpadu dengan air laut yang begitu jernih, membuat aku langsung tak sabar untuk snorkeling.

Pantai Bobaneheha, Halmahera

Resort di Pantai Bobaneheha, Halmahera

Kak Ai, yang selalu sigap membawa perlengkapan snorkeling, mengajak aku langsung nyebur ke laut. Dengan perlahan, dia membantu mendorongku menuju perairan dangkal dekat tebing. Awalnya aku agak canggung, terutama karena takut menyentuh dasar laut. 

Begitu aku memasukkan wajah ke dalam air, aku langsung terpesona. Ini benar-benar pemandangan bawah laut terindah yang pernah kulihat. Karang-karangnya sehat dan beragam, dari bentuk kipas laut yang besar hingga karang-karang kecil berbentuk bulat seperti meja. Warnanya pun mencolok—ada ungu, kuning, merah muda, dan hijau, seolah-olah ada pelangi di dasar laut. 

Berbagai jenis ikan berenang di sekitarku, mulai dari ikan badut yang lucu, ikan parrotfish berwarna-warni, hingga gerombolan ikan kecil yang bergerak serempak seperti koreografi alami. Di beberapa sudut, aku juga melihat bintang laut biru besar yang menempel di karang. Sungguh menakjubkan!

Meski pemandangan begitu indah, aku tetap agak tegang karena perairan ini sangat dangkal, mungkin hanya 50 cm dibawah perutku. Gatau kenapa, aku takut banget pahaku, atau kakiku terkena hewan beracun/karang yang tajam atau bahkan menginjak bulu babi. Namun, Kak Ai dengan sabar terus mendorongku dari belakang, memberitahuku untuk tetap tenang dan menikmati momen ini.

"Kamu luruskan aja kakimu, aku dorong dari belakang. Tetap tenang," ujar Kak Ai berkali-kali saat kami mengambil nafas.

Saat kami masih asyik snorkeling menikmati keindahan bawah laut, gerimis mulai turun perlahan. Kami masih tetap menikmati pemandangan bawah laut beberapa saat sampai 1 jam setelahnya. Saat hampir seluruh bagian laut dangkal kami jelajahi, Kak Ai memutuskan kami harus segera menyudahi eksplorasi bawah laut.

 “Ayo, kita balik dan bersih-bersih dulu. Takutnya nanti speed boat terakhir nggak jalan kalau cuaca makin buruk,” katanya. Dengan berat hati, aku setuju. Kami naik ke daratan, membilas diri, dan bersiap kembali ke pelabuhan.

Naik bentor lagi, kami menyusuri jalanan yang mulai basah oleh hujan. Angin bertiup makin kencang, memberi tanda bahwa hujan deras sebentar lagi akan datang.  Setibanya di pelabuhan, suasananya berubah menjadi sangat kacau. Hujan gerimis telah berubah menjadi badai, dengan angin kencang dan hujan lebat yang mengguyur tanpa ampun. Para calon penumpang terlihat kebingungan dan berdesakan berteduh di bawah atap pelabuhan yang kecil.

Kami segera bertanya kepada petugas pelabuhan tentang keberangkatan speed boat, tetapi kabar yang kami dapat tidak menyenangkan. “Maaf Kak speed boat-nya belum berani jalan. Cuacanya terlalu buruk, ombak di laut tinggi,” ujar petugas dengan nada menyesal.

Aku dan Kak Ai hanya bisa saling pandang, mencoba mencari solusi di tengah suasana penuh ketidakpastian. Penumpang yang lain mulai gelisah, beberapa terlihat menelepon keluarga mereka untuk memberi kabar, sementara yang lain hanya duduk diam menunggu situasi membaik.

'Wah sepertinya aku bakal kehilangan tiket pesawatku kalau gini,' kataku dalam hati. 'Wah mana besok udah kudu masuk kerja lagi, meskipun lusa libur. Tapi ga enak aja nih kalau izin lagi.'

Kami pun ikut menunggu di salah satu sudut pelabuhan. Hujan terus mengguyur, sesekali disertai suara guntur di kejauhan. Angin semakin kencang, membuat udara terasa dingin. Suasana di pelabuhan benar-benar penuh kecemasan. Penumpang tampak frustrasi karena tidak ada kepastian kapan cuaca akan membaik.

Setelah 2 jam menunggu tanpa kejelasan, aku akhirnya sadar bahwa sudah tidak mungkin mengejar jam keberangkatan pesawat yang harusnya membawaku pulang ke Surabaya sore itu. Rasanya berat, tetapi situasinya memang tidak memungkinkan. 

"Wah maaf ya jadi gini. Gimana terkait tiket pesawatmu?" tanya Kak Ai.

"Gpp Kak namanya alam kan ga bisa kita tebak. Aku batalkan aja, beli tiket baru lagi Kak. Kebetulan kan aku punya Sriwijaya Travel Pass jadi hanya bayar pajaknya aja," ujarku.

Meski kecewa harus menunda perjalanan, aku mencoba mengambil sisi positifnya. Aku masih di Maluku Utara, tempat yang luar biasa indah, meski saat ini cuaca tidak bersahabat. Aku harus tenang dan berpikir positif.

Sekitar 1 jam kemudian, sekitar jam 5 sore akhirnya hujan mulai sedikit mereda. Tiba-tiba ada informasi bahwa para kru speed boat memutuskan untuk memberangkatkan kapal, meskipun kulihat di laut sana langit masih mendung tebal dan ombak masih cukup tinggi. Aku dan Kak Ai berdiskusi singkat sebelum akhirnya memutuskan untuk naik. “Kalau nggak sekarang, bisa-bisa kita terjebak lebih lama lagi di sini,” ujar Kak Ai sambil membantuku naik ke kapal.

Begitu speed boat mulai bergerak, perasaan tidak nyaman langsung menyergap. Semakin maju ke arah laut, angin bertiup semakin kencang, dan gelombang laut dengan cepat mengombang-ambingkan kapal. Speed boat itu melaju sedikit ngebut, mungkin karena kru ingin segera mencapai pelabuhan di Ternate sebelum cuaca memburuk lagi. Namun, setiap kali speed boat menghantam ombak tinggi, suara benturannya terdengar keras, membuat seluruh penumpang terpaku ketakutan.

Di bagian belakang kapal, seorang ibu mulai menangis, memegangi anak kecil yang juga terlihat ketakutan. Beberapa penumpang lain mulai membaca doa dengan suara pelan, sementara sisanya hanya terdiam dengan wajah tegang. Aku sendiri mencoba tetap tenang, meskipun hatiku terus berdebar kencang.

Kak Ai, yang duduk di sebelahku, tampaknya juga khawatir. Dia menyuruhku segera mengenakan pelampung. “Pakai pelampung ini,” katanya tegas sambil memberi pelampung ditasku juga karena disitu ada laptop. Aku mengikuti sarannya, memasang pelampung dengan tangan gemetar, meskipun aku tahu pelampung itu hanya bisa memberi sedikit rasa aman di tengah amukan laut.

Gelombang makin liar, sesekali speed boat terasa seperti terangkat dan kemudian terhempas kembali ke air. Suara hempasan itu begitu keras, seperti pukulan palu raksasa ke permukaan laut. Air laut sesekali terciprat ke dalam kapal, membuat kami semua basah kuyup.

Dalam kegelapan yang mulai menyelimuti sore itu, suasana di kapal terasa mencekam. Aku hanya bisa memegang erat sisi bangku, mencoba menjaga keseimbangan sambil sesekali memejamkan mata setiap kapal melompat di atas ombak. Satu jam terasa seperti seumur hidup, dengan ketegangan yang tak kunjung reda.

Akhirnyaaa, lampu pelabuhan Ternate mulai terlihat di kejauhan. Rasanya seperti melihat harapan di tengah situasi yang menakutkan. Ketika speed boat akhirnya merapat, semua penumpang menghela napas lega. Beberapa bahkan menangis bahagia, tak percaya kami berhasil selamat dari perjalanan yang begitu menegangkan.

Aku turun dari kapal dengan kaki sedikit gemetar, masih tak percaya kami telah melalui perjalanan yang begitu mendebarkan. Kak Ai tersenyum kecil sambil berkata, “Pengalaman ekstrem lagi buat kamu, ya?” Aku hanya mengangguk, masih terbayang suara hempasan ombak tadi. Meski menakutkan, perjalanan ini memberiku pelajaran berharga tentang keberanian, kesabaran, dan rasa syukur untuk sampai dengan selamat di daratan.

Dari pelabuhan, tidak berlama-lama kami langsung mampir membeli makan malam dan setelahnya kembali ke Penginapan Santoso. Ya, aku menambah 2 malam lagi karena ketinggalan pesawat sore ini. Malam itu kuhabiskan sambil cerita-cerita banyak hal sama Kak Ai sebelum akhirnya aku beristirahat. Aku bersyukur banget hari ini bisa terlalui dengan baik dengan segala hal positif dan negatifnya.

Besok aku masih disini. Kemana lagi ya?


Part Setelahnya : Disini

[2] Journey to Ternate : Batu Angus, Pantai Sulamadaha, Benteng Portugis, Danau Ngade dan Kebun Cengkeh

Cerita ini merupakan rangkaian perjalanan ke Ternate - Halmahera yang aku lakukan dari 27 April 2018 - 1 Mei 2018. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : Disini


Ternate, 28 April 2018

Hari kedua di Ternate. Hoahhmmm tidurku semalam di Penginapan Santoso cukup nyenyak karena kemarin benar-benar seharian beraktivitas dari pagi-pagi buta (berangkat bandara) sampai malam hari (ngobrol-ngobrol di Taman Nukila). 

"Udah bangun Luh? Setengah jam lagi ya aku otw kesana," kata Kak Ai melalui chat.

"Udah kak. Siaap," jawabku.

Chat dari Kak Ai memaksaku untuk segera mengangkat badan dan mandi. Hari ini Kak Ai rencana akan mengajakku eksplor lagi, masih di seputaran Pulau Ternate. Aku sendiri masih gatau tempat apa aja yang akan dikunjungi. Karena perencanaan trip kali ini benar-benar kupasrahkan semua ke Kak Ai. Aku percaya dia bisa menunjukkan tempat-tempat terbaik disini. Kemarin hanya mengunjungi 2 tempat aja (Pantai Jikomalamo dan Danau Tolire Besar) udah bagus kok. Kita nantikan kejutan hari ini.

Tidak menunggu lama Kak Ai pun datang di Penginapan Santoso. Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar sebelum mulai meninggalkan hotel jam 11.29. Kami sempatkan makan sebelum menuju destinasi pertama yaitu Batu Angus. Dari penginapan ternyata kami melewati kembali Bandara Sultan Babullah, yaa.. di Ternate seperti inilah. Karena jalan utama hanya 1 yaitu melingkari gunung, kita akan melewati jalan yang sama berulang kali. Ternyata tujuan pertama kita hari ini adalah Geowisata Batu Angus.

Geowisata Batu Angus dengan background Pulau Hiri

Batu Angus ini merupakan padanan kata untuk lava hitam hasil letusan efusif Gunung Gamalama dengan permukaan kasar dan bentuk tidak beraturan 

Batu Angus bisa dibilang merupakan salah satu lokasi paling unik di Ternate. Batu Angus merupakan kumpulan batuan lava hitam yang membentang luas, sisa dari letusan Gunung Gamalama ratusan tahun lalu. Nama "Batu Angus" sendiri berasal dari penampilannya yang seperti hangus terbakar. Konon, letusan besar yang terjadi pada abad ke-17 ini memuntahkan lava yang meluncur hingga ke laut, meninggalkan jejak abadi berupa lautan batu hitam yang kini menjadi destinasi wisata. 

"Nggak ada penjaganya," kata Kak Ai setelah ngecek pos penjaga. Jalan masuk menuju Batu Angus juga terlihat ditutup portal.

Gerbang masuk Kawasan Wisata Batu Angus (sumber : google street view)

Sepertinya entah hari itu sedang tutup, atau memang belum buka karena mungkin belum ada wisatawan yang sedang berkunjung.

"Kita buka aja, masuk aja gpp," kata Kak Ai lagi.

"Iya kak, nanti pas keluar aja kalau penjaganya udah ada kita bayar tiket masuk," sambungku.

Selanjutnya kami memasuki kawasan Batu Angus yang cukup luas. Sudah tersedianya jalan aspal mempermudah karena kita bisa eksplor menggunakan motor dan bisa sewaktu-waktu berhenti kalau ada spot foto yang bagus. Semakin masuk kedalam, sinar matahari semakin berasa menyengat. Dengan batuan seperti ini, jangan harapkan ada pohon yang bisa tumbuh menaungi kan ya hehehe..

Kawasan Batu Angus ini berbatasan langsung dengan Laut Halmahera

Sebagai lulusan Teknik Geologi, sebenarnya aku cukup tertarik dan penasaran dengan proses vulkanisme yang menyebabkan terbentuknya batu angus ini. Karena menurut geologi, batuan merupakan bukti sejarah proses alam yang tidak bisa diganggu gugat. Warna batuan yang kehitaman, banyak mengandung rongga-rongga, sehingga kuidentifikasikan ini merupakan lava basaltik dan letusan bersifat efusif (tidak eksplosif/meledak dahsyat). Setelah aku baca referensi, ternyata Batu Angus terbentuk dari letusan vulkanik Gunung Gamalama yang menghasilkan lava pijar. Letusan tersebut merupakan letusan efusif, yang ditandai dengan keluarnya lava cair dari rekahan gunung berapi dan mengalir ke permukaan bumi. Lava ini kemudian membeku dan menjadi batuan basaltik berwarna hitam pekat, yang dikenal sebagai "Batu Angus."

Batuan basaltik

Ciri khas letusan yang membentuk Batu Angus:
1. Aliran lava basaltik: Lava yang keluar cenderung encer sehingga dapat mengalir jauh dari kawah. (Ini sesuai karena lokasi batu angus berada di ujung timur laut Pulau Ternate, sudah berbatasan dengan laut)

2. Proses pendinginan: Lava yang mengalir ke permukaan mendingin secara perlahan, menghasilkan tekstur kasar dan bentuk yang tidak beraturan (ini juga sesuai karena hampir seluruh batuan bertekstur kasar dan tidak beraturan)

Lava ini mempunyai tekstur permukaan kasar dan bentuk tidak beraturan, serta minim material piroklastik.

3. Minim material piroklastik: Tidak terlalu banyak abu vulkanik atau letusan eksplosif karena tipe letusan lebih dominan efusif (ini juga benar karena aku hampir ga menjumpai material piroklastik seperti debu vulkanik, kerikil vulkanik, fragmen - fragmen vulkanik seperti bomb dan block)

Bagaimanapun aku terus menikmati hasil proses geologi yang terbentuk didepan mataku ini. Kontras antara hitamnya batu dan birunya langit menciptakan lanskap indah untuk dipandang maupun berfoto. Kak Ai beberapa kali berhenti dan menyuruhku berfoto di sudut ini dan itu. Aku sendiri harus cukup berhati-hati menaiki formasi lava yang cukup tajam ini. Kalau terpeleset, akibatnya bisa cukup fatal.

Salah satu pemandangan cantik di sudut Batu Angus yang berbatasan dengan laut. Pulau didepan itu adalah Pulau Hiri (Sumber: google maps - aku kehilangan beberapa database foto)

Beberapa saat kemudian kita sudah berada di ujung jalan dan harus dilanjutkan dengan jalan kaki. Berjalan menyusuri jalur setapak, aku mencoba menaiki beberapa batu lava yang terlihat lebih tinggi untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih luas. Disini spot sempurna untuk foto karena pemandangan disempurnakan oleh gagahnya Gunung Gamalama di kejauhan. Hanya sayang.. sebagian tertutup awan. Aku lihat di internet sih waktu paling bagus untuk berfoto disini dengan view Gunung Gamalama tanpa tertutup awan adalah pagi-pagi sebelum - sesaat matahari terbit. 'Nantilah kalau sempat kesini lagi kalau Kak Ai mau ngantarin pagi-pagi,' kataku dalam hati.

Berfoto dengan batu angus dan background Gunung Gamalama. Sayang gunungnya tertutup awan.

Gunung Gamalama

"Kita lanjut ke Pantai Sulamadaha ya," kata Kak Ai. "Disana bagus juga pantainya, nanti kita snorkeling disana."

"Siap kak".

Kebetulan pas kami melewati loket, penjaganya sudah ada sehingga aku sekalian membayar tiket masuk dan parkir untuk kita berdua. 

Perjalanan ke Sulamadaha hanya memakan waktu 10 menit, ternyata dia terletak cukup dekat dengan Pantai Jikomalamo kemarin. Sewaktu masuk kawasan pantai sebenarnya aku agak kecewa,

'yahh kok biasa aja yaa.. ga biru bersih kayak Pantai Jikomalamo kemarin,' kataku dalam hati.

Belum sempat aku ngomong apapun, Kak Ai sudah menimpali,

"Pantainya bukan disini luh, kita masih masuk 500 meteran lewat jalan kecil disana," kata Kak Ai sambil terus melajukan motor.

"Wah iya kak, takpikir pantainya yang tadi,".

Selanjutnya Kak Ai membawa motor melintasi jalan selebar 1 meter ini sampai di ujung jalan. Dan.... Disinilah ternyata letak Pantai Sulamadaha sebenarnya yang airnya berwarna hijau kebiruan. Ombaknya tenang, beberapa anak kecil terlihat berenang dengan senang.

Biru dan beningnya air laut di Pantai Sulamadaha

Kapal-kapal nelayan yang sedang menepi di Pantai Sulamadaha

"Wah.. cantik banget pantainya ya."

"Iya memang. Kamu inget pernah ada foto yang kapal seakan-akan mengapung itu saking bersihnya air lautnya? Nah salah satu titik pengambilannya itu disini."

Aku mengamati sekilas perahu-perahu yang terparkir di tepi. Dan setelah ane amati memang benar. Perahu-perahu tersebut terlihat melayang saking bersihnya air laut. Memang benar-benar aku ga berhenti dibuat kagum oleh kecantikan Pulau Ternate sejak kemarin. Aku bener-bener bersyukur memutuskan kesini.

Saking beningnya air laut, kapal seperti melayang

Saking beningnya air laut, kapal seperti melayang

"Kita snorkeling lagi ya, nanti di seberang sana dekat tebing. Terumbu karangnya lebih bagus disana."

"Siaap kak", kataku sambil menata barang untuk dititipkan di warung.

Kami mengenakan set snorkel yang selalu dibawa Kak Ai kemanapun. Seperti biasa, begitu nyebur aku langsung didorong sama Kak Ai dari belakang. Kami berenang sampai ke tepi tebing yang Kak Ai maksud dan ane langsung menemukan jawabannya. Begitu mendekati tebing laut menjadi sedikit lebih dangkal dan terumbu karang dengan berbagai macam warna mulai terlihat. Terumbu karangnya masih sangat terjaga, dan berbagai jenis ikan berenang dengan lincah di antara karang-karang tersebut. Ketika sedan snorkeling, aku memang selalu merasa seperti berada di dunia lain, tenang dan damai di bawah permukaan air. Ketika mengangkat wajah untuk melihat keadaan luar, kadang seperti merasa kembali ke realita.

Kami snorkeling selama kurang lebih 1.5 jam sebelum akhirnya kembali ke arah pantai.

"Aku beli pisang goreng mulut bebek ya kak," kataku 

Beningnya air laut di Pantai Sulamadaha

Setelah badan kering dan perut cukup terisi pisang, kami kembali berjalan. "Kita lanjut ya. Ke Benteng Tolukko. Bagus juga pemandangannya disana," kata Kak Ai.

Perjalanan dari Pantai Sulamadaha ke Benteng Tolukko memakan waktu 20 menit dengan jarak 11 km. Aku bener-bener salut sih dengan niat Kak Ai, benar-benar pengen menunjukkan semua sudut Pulau Ternate ke traveler-traveler yang datang kesini. Tidak berapa lama kita pun sampai di Kawasan Benteng.

Sedikit cerita, Benteng Tolukko adalah salah satu benteng peninggalan Portugis yang terletak di Kota Ternate, Maluku Utara. Benteng ini dibangun pada tahun 1540 oleh Francisco Serrão, seorang pelaut Portugis, sebagai pos pertahanan dalam mengontrol perdagangan rempah-rempah di kawasan Maluku. Awalnya, benteng ini dikenal dengan nama Benteng Santo Lucas, tetapi kemudian lebih dikenal dengan nama Tolukko.

Benteng ini sempat dikuasai oleh Belanda pada abad ke-17, yang kemudian memperluas dan memperbaiki strukturnya. Benteng Tolukko memiliki posisi strategis di atas bukit kecil yang memberikan pemandangan luas ke arah laut dan Pulau Tidore. Setelah kemerdekaan Indonesia, benteng ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik, menggambarkan masa lalu yang penuh dinamika di kawasan Maluku.

Perjalanan menuju Benteng Tolukko dimulai dengan jalan kecil yang menanjak, dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk dan pohon-pohon yang teduh. Suasana di sekitar terasa tenang, hanya ada suara kendaraan sesekali dan aktivitas warga yang terlihat dari kejauhan. Setibanya di lokasi, benteng ini langsung terlihat dengan tembok batu kokoh yang berdiri di atas bukit. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi strukturnya terlihat terawat. Dari area benteng, terlihat pemandangan laut yang luas dengan Pulau Tidore di kejauhan. Di sisi lainnya, Gunung Gamalama tampak menjulang, menambah daya tarik panorama.

Begitu masuk ke dalam benteng, suasana terasa sederhana namun bersejarah. Dinding-dinding batu yang dingin dan struktur bangunan yang tua memberikan gambaran nyata tentang masa lalu tempat ini. Rasanya seperti berada di ruang yang pernah menjadi saksi berbagai peristiwa penting di Ternate.

"Naik yuk keatas, pemandangannya bagus buat foto disana," kata Kak Ai.

Aku menurut dan kita menaiki tangga batu benteng sampai di lantai atas. Dan memang benar, sekali lagi kita disuguhi oleh pemandangan lautan membiru yang tanpa batas, dan ketika berbalik badan disuguhi oleh Gunung Gamalama yang menjulang tinggi.

Bagian atas Benteng Tolukko dengan background Laut Halmahera dan Pulau Tidore di kejauhan


"Kamu tetap diatas ya. Aku foto dari bawah," kata Kak Ai lagi.

Benteng Tolukko

"Kak aku lompat ya. Tolong difoto pas lompat," tambahku. Maklum, pengen punya kenangan sebanyak mungkin disini dengan berbagai macam gaya. Hehehe..

Benteng Tolukko

Kami menghabiskan waktu sekitar 45 menit disini sebelum bergeser ke destinasi selanjutnya, Danau Ngade. Seperti halnya Danau Tolire Besar, Danau Ngade ini juga merupakan danau vulkanik jenis kaldera, yaitu terbentuk setelah letusan besar dari gunung berapi yang menyebabkan bagian dari gunung tersebut runtuh atau meledak, membentuk cekungan yang dalam. Cekungan tersebut selanjutnya akan terisi air hujan atau air dari sumber lain, membentuk danau yang luas. Inilah yang terjadi pada Danau Tolire, yang memiliki bentuk cekungan yang luas dan dalam, hasil dari proses vulkanik tersebut. Aktivitas vulkanisme pada Danau Tolire Besar ini tentu saja tidak terpisahkan dengan aktivitas vulkanisme pada Gunung Gamalama sendiri.


Seperti gambar diatas, ibaratnya Gunung Gamalama adalah nomor 1, dan Gunung Ngade (sebelum meledak dan menjadi kaldera) adalah nomor 2. Kemudian terjadilah ledakan dahsyat yang membuat Gunung Ngade runtuh dan membentuk cekungan, sebelum terisi air dan jadilah Danau Ngade seperti yang kita lihat sekarang.

Danau Ngade dengan background Pulau Maitara (kecil depan) dan Pulau Tidore (dibelakangnya)

Seperti halnya Danau Tolire Besar, Danau Ngade ini dikelilingi oleh perbukitan hijau dan memiliki ekosistem air tawar yang kaya karena letaknya masih terisolasi dari laut. Letaknya yang berdekatan dengan laut menciptakan kontras pemandangan yang unik, di mana warna hijau air danau berpadu dengan birunya Laut Halmahera di kejauhan. Aku baca Danau Ngade juga menjadi salah satu lokasi penting dalam sistem hidrologi Ternate, karena berperan sebagai sumber air bagi masyarakat sekitar.

Danau Ngade di Ternate dikenal sebagai salah satu objek wisata ikonik yang gambarnya pernah menghiasi uang kertas pecahan Rp1.000 keluaran tahun 2000. Pada uang tersebut, pemandangan Danau Ngade terlihat menampilkan keindahan danau yang dikelilingi oleh bukit hijau dengan latar belakang laut biru dan Pulau Maitara serta Pulau Tidore di kejauhan. Seperti kebanyakan orang, sebenarnya aku ingin menfoto uang Rp 1.000 dengan background Danau Ngade, tapi nggak ada jadi pakai uang Rp 100.000. Nggak nyambung yah hehehe...


Terakhir sebelum pulang ke Penginapan Santoso Kak Ai sempat mengajakku mampir ke Kebun Cengkeh. 

"Sekalian ya, mumpun dekat," kata Kak Ai sambil menyiapkan motor.

Seperti kita bersama tahu cengkeh telah menjadi komoditas utama Ternate sejak zaman Kesultanan, bahkan menjadi alasan mengapa bangsa Eropa dulu berlomba-lomba menguasai wilayah ini. Cengkeh adalah salah satu rempah utama yang membuat Maluku, khususnya Ternate dan Tidore, dikenal sebagai "Kepulauan Rempah-rempah." Pada abad ke-15 hingga 17, cengkeh menjadi komoditas yang sangat berharga di pasar internasional, terutama di Eropa. Lokasi Pulau Ternate adalah salah satu pusat kerajaan maritim yang menguasai perdagangan rempah-rempah. Gunung Gamalama di pulau Ternate memberikan tanah vulkanik yang subur, menjadikannya ideal untuk pertumbuhan tanaman cengkeh.

Kebun Cengkeh (Sumber: google maps - aku kehilangan beberapa database foto)

Tidak berapa lama kami sampai. Suasana disini cukup rindang karena barisan pohon cengkeh yang cukup rapat. Well, karena ini berupa perkebunan, sebenarnya tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain duduk bersantai dan ngobrol ditemani rindangnya naungan-naungan pohon. Sedikit cerita tentang cengkeh, Kerajaan Ternate-lah yang dahulu mengendalikan produksi dan distribusi cengkeh. Mereka menggunakan kebun cengkeh sebagai sumber utama kekayaan dan kekuasaan. Cengkeh juga menjadi alat diplomasi dan negosiasi dengan bangsa asing. Bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda datang ke Ternate untuk menguasai perdagangan cengkeh. Belanda, melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), memaksakan monopoli dengan membatasi produksi cengkeh hanya di beberapa lokasi tertentu. Mereka bahkan melakukan "hongi tochten" atau patroli untuk menghancurkan kebun cengkeh di wilayah lain agar harga tetap tinggi. Produksi cengkeh menciptakan sistem ekonomi yang kompleks, tetapi monopoli VOC juga membawa penderitaan bagi masyarakat lokal. Banyak kebun dihancurkan, dan masyarakat dipaksa bekerja di bawah sistem yang tidak adil.

Saat ini, cengkeh masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Ternate. Selain sebagai bahan rempah dan penghasil minyak atsiri, cengkeh digunakan dalam produk khas Indonesia seperti rokok kretek. Kebun-kebun cengkeh tradisional masih dapat ditemukan di lereng Gunung Gamalama, salah satunya kebun yang kami kunjungi ini.

Kami tidak menghabiskan waktu lama disini karena memang selain berfoto tidak ada hal lain yang bisa dilakukan lagi. Hari sudah gelap ketika Kak Ai melajukan motor kembali ke Penginapan Santoso. Well, benar-benar hari yang berkesan! Capek banget tapi puas banget banyak tempat yang dikunjungi!


PART Setelahnya : Disini

7.19.2024

[1] Journey to TERNATE : Pantai Jikomalamo dan Danau Tolire

Indahnya Pantai Jikomalamo.....

Setelah resmi membeli paket membership Swirijaya Air (Sriwijaya Travel Pass), hal pertama yang ane lakuin tentunya adalah hunting tiket. Kenapa hunting? Karena meskipun kita udah punya Sriwijaya Travel Pass, namun tidak semua tanggal itu harga base fare tiketnya gratis. Ada yang gratis, ada yang masih berbayar murah, bahkan berbayar normal. 

Ane sebenarnya masih belum menentukan, mau mengunjungi daerah mana karena ane belum memetakan tanggal liburan. Namun setelah berpikir sejenak, ane rasa ane pengen mengunjungi tempat yang sama sekali belum pernah kesana. Setelah berpikir sejenak, ane memutuskan : MALUKU UTARA yakni Pulau Ternate. Seru juga kayaknya kesana. Ane langsung saja booking tiket pesawatnya. Saat itu ane beli di tanggal 26 April 2018 jam 3 pagi untuk keberangkatan tanggal 27 April jam 6 pagi dengan rute Surabaya - Makassar - Ternate. Busett, berarti besok berangkatnya! Wkwk.. Ya tapi inilah keuntungannya beli Sriwijaya Travel Pass, kan? Kita bisa random aja tiba-tiba pergi, wong base fare tiket pesawatnya gratis. Cuma bayar pajak, IWJR, admin aja hihihi.

Saat itu total yang harus ane bayar untuk tiket pesawat Surabaya - Ternate adalah Rp 425.800 untuk perjalanan pulang pergi. Ane rencana berangkat tanggal 27 April 2018, dan pulang dari Ternate tanggal 29 April 2018. Iyaa cuma 2,5 hari karena keterbatasan waktu liburku karena saat itu ane masih kerja kantoran.. hikzz..

27 April 2018
Hari ini adalah keberangkatan ane ke Ternate. Jadwal pesawat ane adalah jam 6 pagi, artinya, ane harus berangkat super pagi dari kos. Saat itu ane masih kos di Surabaya Pusat, jadi ane berangkat ngojek sekitar jam 4.25.

Ane sampai T1 Bandara Juanda tepat waktu dan tidak menjumpai masalah berarti saat check in. Ane langsung mendapatkan 2 boarding pass yaitu Surabaya - Makassar, dan Makassar - Ternate. Ane dijadwalkan transit di Makassar selama 1 jam dan dijadwalkan mendarat di Ternate tepatnya di Bandara Sultan Babullah jam 12.15 WIT.

Suasana pagi itu di Bandara Juanda. Foto itu adalah pesawat Sriwijaya Air yang akan membawaku terbang ke Makassar.

Transit di Makassar. Ini adalah pesawat Wings yang ane foto pas turun dari Sriwijaya. Pesawat ane dari Makassar ke Ternate tetap menggunakan Sriwijaya Air 

Penerbangan berlangsung dengan mulus selama total 3 jam. Oya sebelum pesan tiket pesawat, ane sempet nanya-nanya di grup Backpacker tentang Ternate dan ada satu kakak ini - Kak Ai - yang menawari menemani ane berkeliling pulau. Jadi rencana Kak Ai akan jemput ane pas landing, dan langsung diajak berkeliling. Ane langsung setuju karena setelah mencari informasi di grup, Kak Ai ini udah sering nganterin traveler keliling Ternate. Ane sendiri ga punya klue mau diajak kemana karena ane sendiri ga bikin rencana perjalanan. Kak Ai sendiri sebenarnya bukan agen tour resmi yang sudah ada tarif pastinya, tapi dia lebih ke pemuda lokal yang siap mengantarkan traveler-traveler untuk keliling Maluku Utara. Jadi masalah berapa tarifnya? Saat itu lebih ke kesadaran dan keikhlasan dari para traveler aja.

"Selamat datang di Bandara Sultan Babullah di Ternate. Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIT. Syukur doku-doku ngoni sudah terbang dengan Sriwijaya Air," seru pramugari saat ane sudah mendarat. Lokasi bandaranya ternyata berada di tepi laut persis. Dan sejak mendarat ane udah disambut dengan gagahnya Gunung Gamalama yang menjulang tinggi. 'Kayaknya bakal cantik banget ini pulau,' kata ane dalam hati dengan excited.

Sambutan Gunung Gamalama dari Bandara Sultan Babullah Ternate

Langit yang sangat cantik❣️

Keluar dari area kedatangan bandara, tiba-tiba ada seorang pemuda yang mendekati ane,

"Mau naik ojek mbak ke pusat kota?"

Ane langsung aja jawab dengan agak cuek, "Oh nggak kak, uda dijemput temen."

Tanpa ane sadar bahwa itu adalah Kak Ai yang ngerjain ane wkwk..

"Woalah.. Kak Ai! Hahaha. Maaf-maaf kak.Salam kenal ya, aku Galuh."

Kak Ai hanya ketawa aja setelah ngerjain ane, dan selanjutnya kita segera motoran ke pusat kota untuk check in penginapan dulu. Ane sendiri gatau penginapannya dimana karena semua diatur Kak Ai. Katanya penginapan ini murah, bersih, dan lokasinya di pusat kota (depan Pantai Nukila persis). 

Sepanjang perjalanan ane banyak bertanya-tanya tentang Pulau Ternate ini ke Kak Ai. Orangnya ramah dan selalu menjawab semua pertanyaan ane dengan jelas. Kesan pertama ane tentang Pulau Ternate ini adalah tenang, jalanan tidak terlalu ramai dan sedikit adem. Sepertinya ane bakalan suka disini. Karena belum makan siang, akhirnya kita mampir dulu di Kedai Ayam Bakar Jawa Timur yang menurut Kak Ai sih salah satu yang paling enak dan laris di Pulau Ternate. Selain rasa ayam bakarnya pas, nasinya juga bisa nambah sepuasnya, jadilah paket combo! Dan setelah ane berhenti dan makan emang enak banget, rasanya pengen nambah nasi terus hehehe..

Setelah makan akhirnya Kak Ai drop ane juga di Penginapan Santoso yang berada di seberang Pantai Nukila persis. Saat itu (2018) tarifnya adalah Rp 100.000/malam dan sesuai penuturan Kak Ai, tempatnya emang simpel, minimalis dan bersih banget. Sebenarnya lebih seperti kos sih, tapi karena terlalu bersih jadilah nyaman banget. Ibunya juga memelihara beberapa kucing yang lucu-lucu banget! Hehe.

Setelah check in, ane pikir kita bakalan santai-santai dulu. Tapi ternyata Kak Ai langsung minta ane ganti baju yang kotor karena kita bakalan langsung snorkeling di Pantai Jikomalamo. Ane seneng-seneng aja sih, wong semua sudah diatur hehe.. karena ane belum ada baju yang kotor, Kak Ai pinjemi bajunya dan kita berangkat ke Pantai Jikomalamo motoran. Sepanjang perjalanan pemandangan yang mendominasi adalah Gunung Gamalama, laut biru yang bersih, dan kehidupan yang cukup sederhana. Ane suka banget sih situasi kayak begini. 

Pemandangan sepanjang jalan ke Pantai Jikomalamo. Pemandangan inilah yang umum kita lihat saat berkeliling Pulau Ternate.

Sekitar setengah jam mengemudi, akhirnya kita sampai di Pantai Jikomalamo. Dan sampai parkirannya aja ane udah dibuat melongo dengan keindahannya.. Oh My Lorddd..... Airnya benar-benar biru bersih dan sejernih itu, ane bahkan bisa melihat dasar lautan dengan jelas. Disempurnakan dengan cantiknya sulur-sulur dari pepohonan dan Pulau Hiri yang berdiri gagah menjulang di depan..
Pemandangan Pantai Jikomalamo dari parkiran motor

Pemandangan Pulau Hiri dari Pantai Jikomalamo

Meskipun pemandangannya udah sebagus itu, dan airnya sejernih itu, Kak Ai bilang spot snorkelingnya bukan disini. Kemudian dia membawaku jalan lagi sekitar 100 meter melewati jalan setapak menuju ke bagian ujung pantai. Katanya disitulah spot snorkeling yang bagus karena banyak karangnya. Aku sih manut-manut aja.

Mengambil memori dulu sebelum snorkeling. Di belakangku itu adalah Pulau Hiri.

Sesaat kemudian kita telah sampai, dan tanpa menunggu lama Kak Ai yang udah bawa fin dan mask langsung ajak ane nyebur. Karena ane gak bisa renang, Kak Ai benar-benar pegangin dan dorong ane selama snorkeling wkwk.. berasa punya jet dalam air karena ane tinggal diam aja udah jalan. Saat itu kondisi laut sedikit kurang bersahabat. Ombak agak kencang sehingga membuat kondisi perairan agak keruh. Namun ane masih bisa melihat berbagai macam terumbu karang seperti karang lunak dengan warna-warna cerah, seperti kuning, merah, dan ungu; terumbu karang otak, terumbu karang meja dan sebagainya. Namun arus laut yang cukup kencang agak mengaburkan pemandangannya, ditambah mata ane minus wkwkwk..

Kami snorkeling sekitar 1 jam sebelum Kak Ai bilang arus semakin kencang jadi sebaiknya kita segera naik. Ane pun berbilas, membeli air tawar seharga Rp 20.000/galon karena kamar mandinya ga ada air tawar yang diangkut sampai sini.

Dari sini ane memantapkan diri sisa tahun 2018 akan ane gunain untuk keliling Indonesia.

Dari Pantai Jikomalamo, Kak Ai membawa ane melanjutkan petualangan ke sisi bagian barat Pulau Ternate, tepatnya ke Danau Tolire Besar. Perjalanan ditempuh dalam 15 menit dan begitu sampai, ane udah disambut danau dengan air kehijauan yang sangat cantik dengan background Gunung Gamalama yang untungnya sore itu tidak ditutupi awan. Ada legenda mistis yang berkembang di masyarakat Ternate terkait danau ini. Menurut cerita yang beredar, meskipun seseorang melemparkan batu sekuat dan sejauh apapun, batu tersebut tidak akan pernah mencapai tengah danau. Batu tersebut akan tetap terhenti di dekat tepi atau bahkan terperangkap di sekitar bibir danau, seolah-olah ada kekuatan yang menghalanginya untuk melintasi danau menuju bagian tengah. Ane sendiri mencoba melemparnya dan bisa ditebak, memang batunya tidak pernah mencapai tengah danau. Batunya seakan-akan menghilang saat sudah ditengah jalan.

Kepercayaan ini sering kali dihubungkan dengan kekuatan gaib atau alam yang diyakini melindungi bagian tengah danau. Beberapa orang meyakini bahwa kekuatan gaib tersebut berasal dari buaya putih yang dianggap sebagai penjaga danau, yang berperan untuk menjaga keseimbangan alam dan mencegah gangguan. Bagi sebagian orang, legenda ini juga mengandung pesan tentang keharmonisan dengan alam dan batasan-batasan yang harus dihormati. Oleh karena itu, danau ini sering dianggap sebagai tempat yang sakral dan harus diperlakukan dengan rasa hormat.

Danau Tolire Besar menghadap puncak Gunung Gamalama

"Bukan disini tempat fotonya, kita jalan sedikit keatas ya. Pemandangannya lebih cantik," kata Kak Ai sembari mengajakku berjalan ke sisi timur danau.

Kami selanjutnya berjalan menyusuri bagian timur danau. Ane juga melihat ada pegangan tangga dari bambu yang dibuat untuk akses ke bawah, ke arah danau namun terlihat sudah tidak terawat. Akses turun juga terlihat sudah dipenuhi sulur-sulur tanaman. 'Siapa pula yang mau turun kesitu, pasti rimbun banget,' kataku dalam hati.

Tidak lama kita telah sampai di sudut yang Kak Ai maksud dan memang dari sini pemandangan yang tersajikan jauh lebih cantik. Kami disambut pemandangan danau dengan air menghijau yang memantulkan sebagian bayangan tebing, laut biru di kejauhan, Pulau Hiri yang terlihat di horizon, dan udara segar yang terasa begitu menenangkan. Permukaan air danau yang tenang, dikelilingi oleh tebing dan pepohonan hijau yang rimbun, ane baru tersadar, Danau ini sebenarnya sangat luas!

Danau Tolire Besar dari sisi timur. Sangat Indah..

Bentuk danau yang juga terpisah dari lautan di sebelah baratnya (di foto bagian masuk foto) dapat ane simpulkan bahwa danau ini secara geologis merupakan danau vulkanik jenis kaldera, yaitu terbentuk setelah letusan besar dari gunung berapi yang menyebabkan bagian dari gunung tersebut runtuh atau meledak, membentuk cekungan yang dalam. Cekungan tersebut selanjutnya akan terisi air hujan atau air dari sumber lain, membentuk danau yang luas. Inilah yang terjadi pada Danau Tolire, yang memiliki bentuk cekungan yang luas dan dalam, hasil dari proses vulkanik tersebut. Aktivitas vulkanisme pada Danau Tolire Besar ini tentu saja tidak terpisahkan dengan aktivitas vulkanisme pada Gunung Gamalama sendiri.


Seperti gambar diatas, ibaratnya Gunung Gamalama adalah nomor 1, dan Gunung Tolire Besar (sebelum meledak dan menjadi kaldera) adalah nomor 2. Kemudian terjadilah ledakan dahsyat yang membuat Gunung Tolire runtuh dan membentuk cekungan, sebelum terisi air dan jadilah Danau Tolire seperti yang kita lihat sekarang.

Danau Tolire Besar dari sisi timur danau.

Namun bukan Indonesia rasanya kalau tidak berpisah dengan legenda dan mitos. Menurut cerita rakyat Ternate, Danau Tolire Besar terbentuk dari sebuah peristiwa yang melibatkan seorang putri cantik yang tinggal di sebuah kerajaan di Ternate. Putri ini sangat terkenal karena kecantikannya, dan banyak pangeran yang datang untuk melamarnya. Namun, putri tersebut menolak semua lamaran karena dia sudah jatuh cinta pada seorang pria biasa yang berasal dari desa lain.

Suatu ketika, sang putri dilarang untuk bertemu dengan kekasihnya oleh ayahnya yang sangat menginginkannya menikah dengan pangeran dari kerajaan lain. Karena merasa sangat cinta, sang putri merasa sangat kecewa dan marah. Dalam kesedihannya, dia memutuskan untuk melarikan diri bersama kekasihnya. Namun, perjalanan mereka tidak berjalan mulus karena mereka dihadang oleh peraturan kerajaan dan terpisah.

Dalam perasaan putus asa, sang putri akhirnya menangis tanpa henti. Tangisan putri itu mengalir deras, membentuk sebuah danau yang sangat besar di mana air mata kesedihannya menjadi danau yang dalam. Air mata ini menjadi Tolire Besar yang kita kenal sekarang. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa ketika putri tersebut melarikan diri, dia terjatuh ke dalam jurang yang kemudian terisi air, menjadi danau yang sangat luas.

Beberapa orang juga mempercayai kehadiran 'buaya putih' di Danau Tolire Besar. Beberapa orang dilaporkan sudah pernah melihatnya terapung di permukaan danau. Ada juga cerita bahwa setiap kali buaya putih muncul di permukaan danau, itu merupakan pertanda penting atau suatu peristiwa besar yang akan terjadi di Ternate. Beberapa orang bahkan menganggap bahwa buaya putih tersebut adalah roh penjaga yang menjaga keberlangsungan kehidupan di sekitar danau.Bagi sebagian orang, kehadiran buaya putih di Danau Tolire adalah tanda bahwa danau tersebut memiliki kekuatan magis dan harus dihormati. Masyarakat lokal sangat berhati-hati dalam berinteraksi dengan danau ini, karena mereka percaya bahwa buaya putih bisa membawa berkah atau malapetaka, tergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam sekitar.

Danau Tolire Besar yang banyak menyimpan cerita...

Dari Danau Tolire Besar, Kak Ai kembali memboncengku menuju Danau Tolire Kecil yang hanya berjarak sekitar lima menit berkendara. Danau Tolire Kecil, sesuai namanya, berukuran jauh lebih kecil dan letaknya berbatasan langsung dengan pantai. Ada semacam aliran air tersembunyi yang menghubungkan keduanya, menciptakan campuran rasa asin dan tawar dalam satu kawasan.

Setelah memarkir motor, kami berjalan menuju sebuah warung sederhana di tepi pantai. Meja-meja kayu menghadap langsung ke arah barat, di mana langit mulai menampakkan semburat oranye keemasan. Di sanalah kami duduk, bersandar santai sambil menikmati semilir angin laut yang membawa aroma garam dan suara debur ombak yang pelan-pelan mulai terdengar lebih jelas.

"Aku pesenin pisang mulut bebek ya? Itu khas sini. Sama kamu mau minum apa?" tanya Kak Ai sambil bersiap berjalan ke arah warung.

"Siap kak, aku teh panas aja kak," kataku.

Tidak lama ibu pemilik warung mengantarkan pesanan kami. Aku mencicipi kuliner pisang mulut bebek untuk pertama kalinya—pisang lokal yang bentuknya memang agak unik, yaitu kurus memanjang, tidak seperti pisang lainnya yang agak lebar. Pisang ini digoreng garing dengan balutan tepung tipis, dimana makannya ditemani dengan sambal dan kacang goreng. Rasanya jangan ditanya.... wahhh mantapnya. Pisangnya itu semacam Krenyes di luar tapi masih lembut didalam (tapi bukan benyek ya). Dan sewaktu dicolek sambel... Hmmmm... Ga ada lawan! Kami menyempurnakan sajian kuliner itu dengan menyeruput teh panas. Mantap! Benar-benar tempat yang sempurna untuk mengakhiri hari yang cukup melelahkan.

Selesai dari sini, karena langit sudah menggelap, Kak Ai akhirnya ngajak pulang. Di perjalanan menuju Penginapan Santoso, Kak Ai ngajak makan malam di ayam bakar yang sama dengan tadi siang. Ane sih ngikut aja karena memang seenak itu.. hehe.. jam 9 malam akhirnya petualangan ane selesai saat Kak Ai turunkan ane di Penginapan Santoso. 

"Besok aku jemput lagi ya!" Kata Kak Ai sambil pamitan.

"Siap, terimakasih kak..!" 


PART Selanjutnya : Disini