Pernah gak kita sering berhenti sejenak dan mikir:
Sebenarnya hidup itu untuk apa sih?
Apa tujuan spesifik kita lahir di dunia ini, dengan tubuh, wajah, dan kesadaran seperti yang kita punya sekarang?
Kalau aku melihatnya dari kacamata evolusi, jawabannya justru sederhana, bahkan cenderung dingin. Hidup itu sendiri tidak punya tujuan filosofis bawaan. Tidak ada misi khusus. Tidak ada alasan agung kenapa “aku” atau “kamu” harus ada. Kita lahir karena secara biologis, spesies kita masih berlanjut. Itu saja.
Sekarang kalau dibandingkan dengan skala alam semesta, manusia itu kecil sekali. Umur alam semesta 13,8 miliar tahun, sementara Homo sapiens baru muncul sekitar 300 ribu tahun lalu. Bumi pun hanyalah satu titik kecil di galaksi yang luasnya tidak ada yang tau. Bahkan tubuh kita, yang sering kita anggap sebagai identitas paling personal, tersusun dari unsur-unsur dasar seperti karbon, hidrogen, dan oksigen—unsur yang asalnya bukan dari Bumi. Karbon itu terbentuk di dalam bintang-bintang raksasa yang meledak sebagai supernova miliaran tahun sebelum Tata Surya ada. Jadi secara harfiah, kita ini debu kosmik yang kebetulan hidup dan sadar.
Kalau ditarik ke sejarah biologisnya, perjalanan manusia itu panjang dan penuh seleksi kejam. Kehidupan di Bumi berawal dari organisme bersel tunggal di laut, miliaran tahun lalu. Seiring perubahan suhu, tekanan, kimia lingkungan, dan bencana yang datang silih berganti, organisme-organisme ini dipaksa beradaptasi. Yang gagal, punah. Yang cocok, bertahan. Tidak ada belas kasihan di sini.
Dari proses panjang itu, akhirnya muncul kelompok hominin, nenek moyang awal manusia. Sekitar dua juta tahun lalu, muncullah Homo erectus (manusia yang berjalan tegak). Ini titik penting. Mereka sudah berjalan tegak sepenuhnya, tubuhnya lebih proporsional untuk berjalan jauh, otaknya lebih besar dibanding pendahulunya, dan mereka mulai menggunakan alat batu dengan lebih konsisten. Homo erectus juga manusia pertama yang keluar dari Afrika dan menyebar ke Asia serta Eropa. Mereka bertahan sangat lama (lebih dari satu juta tahun) yang artinya secara evolusi, mereka cukup berhasil.
Seiring waktu, populasi Homo erectus ini berubah dan bercabang. Sekitar 700 sampai 400 ribu tahun lalu, muncul Homo heidelbergensis. Spesies ini sering dianggap sebagai penghubung penting. Otaknya makin besar, cara hidupnya makin kompleks, dan kemungkinan besar mereka sudah berburu secara terkoordinasi dan hidup dalam kelompok sosial yang lebih terstruktur.
Dari Homo heidelbergensis inilah evolusi manusia benar-benar bercabang. Di Eropa dan Asia Barat, sebagian populasi berkembang menjadi Neanderthal. Mereka hidup di lingkungan dingin, bertubuh kekar, kuat, dan sebenarnya sangat mampu. Mereka bukan makhluk primitif seperti yang sering digambarkan. Mereka merawat yang sakit, punya budaya, dan mungkin juga ritual. Sementara itu, di Afrika, cabang lain dari Homo heidelbergensis berkembang ke arah yang berbeda. Tubuhnya lebih ramping, pola hidupnya lebih fleksibel, dan cara berpikirnya perlahan berubah. Sekitar 300 ribu tahun lalu, muncullah Homo sapiens, spesies manusia modern sekarang.
Secara fisik, Homo sapiens tidak jauh lebih kuat dibanding Neanderthal. Tapi kita punya satu keunggulan besar yaitu kemampuan kognitif dan sosial yang sangat fleksibel. Kita bisa menggunakan bahasa simbolik, bekerja sama dalam kelompok besar, berbagi pengetahuan lintas generasi, dan membangun struktur sosial yang kompleks. Itu membuat kita lebih cepat beradaptasi ketika lingkungan berubah.
Ketika iklim berubah drastis, sumber daya menipis, dan tekanan lingkungan meningkat, Neanderthal perlahan punah sekitar 40 ribu tahun lalu. Homo sapiens bertahan dan menyebar ke seluruh dunia. Bukan karena kita lebih “mulia”, tapi karena dalam kondisi tertentu, kita lebih adaptif.
Evolusi tidak punya arah moral. Ia tidak menuju kesempurnaan. Ia hanya terus mencoba bertahan. Tubuh manusia hari ini adalah hasil kompromi panjang. Cukup tahan penyakit tapi tidak kebal, cukup pintar tapi mudah cemas, cukup kuat tapi rapuh terhadap lingkungan ekstrem. Dan ke depan pun tidak ada jaminan. Bumi sudah berkali-kali mengalami kepunahan massal. Pendinginan global, pemanasan ekstrem, asteroid, letusan supervulkan, semuanya pernah terjadi. Kalau suatu hari kondisi planet ini tidak lagi cocok untuk tubuh manusia, evolusi tidak akan peduli. Spesies mati itu hal biasa.
Jadi, kalau ditarik ke inti yang paling biologis, kita hidup untuk satu hal yang sangat sederhana yaitu meneruskan evolusi. Bukan dalam arti sadar atau mulia, tapi sebagai bagian dari mekanisme alam yang sudah berjalan miliaran tahun. Tubuh kita, gen kita, dan keputusan-keputusan hidup kita—suka atau tidak—ikut menentukan apakah garis genetik itu berlanjut atau berhenti.
Namun perlu diluruskan satu hal penting. Evolusi tidak “berniat” menciptakan Homo sapiens yang lebih kuat atau lebih cerdas secara absolut. Evolusi tidak punya arah tujuan ke depan. Yang terjadi hanyalah variasi genetik yaitu mutasi kecil yang muncul secara acak saat reproduksi. Sebagian mutasi kebetulan menguntungkan dalam kondisi tertentu, sebagian netral, dan sebagian justru merugikan. Mereka yang kebetulan membawa kombinasi gen yang lebih cocok dengan lingkungan zamannya cenderung bertahan hidup lebih lama, lebih sehat, dan punya peluang lebih besar untuk menghasilkan keturunan. Gen-gen itu pun ikut diwariskan. Bukan karena mereka “lebih pantas”, tapi karena secara statistik, mereka lebih kompatibel dengan kondisi yang ada saat itu.
Sebaliknya, individu yang membawa kombinasi gen yang tidak cocok—entah karena rentan penyakit, tidak mampu beradaptasi dengan tekanan lingkungan, atau gagal bertahan hidup sampai usia reproduktif—perlahan gugur dari populasi. Bukan sebagai hukuman, tapi sebagai konsekuensi alamiah. Seleksi alam bekerja tanpa emosi.
Dalam jangka panjang, proses inilah yang perlahan membentuk Homo sapiens hari ini yaitu tubuh yang cukup tahan, otak yang cukup kompleks, dan perilaku sosial yang cukup fleksibel untuk bertahan di berbagai kondisi ekstrem. Tapi “cukup” di sini bukan berarti optimal, apalagi sempurna. Kita adalah hasil kompromi evolusi, bukan puncaknya. Dan ke depan pun, evolusi tetap berjalan. Mutasi akan terus muncul. Lingkungan akan terus berubah. Tekanan baru berupa penyakit baru, iklim, teknologi, bahkan cara hidup kita sendiri akan menentukan gen mana yang bertahan dan mana yang berhenti. Tidak ada jaminan bahwa bentuk Homo sapiens hari ini adalah bentuk akhir.
Jadi bisa dibilang, hidup ini adalah fase sementara dalam arus panjang evolusi. Kita hanyalah satu generasi kecil yang membawa gen-gen lama, menambahkan sedikit variasi baru, lalu menyerahkannya ke generasi berikutnya, jika memang masih ada. Dan kalau suatu hari Homo sapiens pun punah, alam semesta tidak akan berubah sikap. Evolusi akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kita.
Jadi pada akhirnya, mungkin memang tidak perlu terlalu memusingkan apa makna dan tujuan hidup ini. Alam semesta tidak menuntut kita menemukan jawaban besar. Evolusi tidak peduli apakah kita bahagia, sukses, atau merasa “bermakna”. Ia hanya berjalan.
Kalau begitu, tidak apa-apa menjalani hidup apa adanya. Dengan penuh kesadaran, tanpa tergesa-gesa. Santai, sejauh yang kita bisa. Melakukan hal-hal yang kita cintai, sekecil apa pun itu. Mempercayai apa yang ingin kita percayai, selama itu membantu kita bertahan dan tidak melukai orang lain. Kita tidak perlu menjadi luar biasa untuk dianggap berhasil oleh semesta. Cukup hidup, cukup hadir, cukup bernapas hari ini.
Dan mungkin, di titik itu, semuanya terasa lebih ringan.
All is well.


