Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

8.30.2025

[PART 7] Menggapai Himalaya : Sehari Eksplor Pink City Jaipur !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI

Aku berpose di bagian depan Hawa Mahal, Jaipur


Jaipur, 4 Juli 2016

Esok paginya kami bangun sekitar pukul delapan. Rutinitas kami sederhana. Leyeh-leyeh HP-an, mandi, packing ulang tas, sarapan, lalu keluar hotel mencari auto rickshaw. Hari itu rencananya kami akan pindah basis ke pusat Kota Jaipur. Hari ini kami mempunyai waktu sampai jam 3 sore untuk eksplor kota yang mendapat julukan The Pink City  ini. Jarak Kota Jaipur sekitar sebelas kilometer dari Amer, dan kami berniat mencari penitipan tas di Stasiun Jaipur dulu sebelum eksplor kota.

Perjalanan dengan auto rickshaw selama 30 menit mengantarkan kami ke Stasiun Jaipur. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri kawasan kota tua. Beberapa langkah kemudian, sebuah bangunan tiba-tiba muncul di hadapan kami dan langsung mencuri perhatian. Dari dekat, bangunan berwarna merah muda pucat itu menjulang seperti tirai raksasa dari batu, dipenuhi ratusan jendela kecil yang tersusun rapat dan bertingkat. Inilah Hawa Mahal, tujuan utama kami hari ini.

Bagian luar Hawa Mahal

Dari depan, bangunan ini tampak seperti dinding istana yang berdiri sendiri, menghadap langsung ke jalan utama yang sibuk. Lalu lintas mengalir tepat di bawahnya, sementara Hawa Mahal berdiri tenang, seolah menjadi penonton abadi kehidupan kota. Bentuknya unik, hampir menyerupai sarang lebah raksasa, dengan jendela-jendela kecil berjeruji halus yang menjadi ciri khasnya. Di titik inilah orang-orang biasanya berhenti, menengadah, dan berfoto, karena seluruh wajah ikonik Hawa Mahal memang sengaja dirancang menghadap langsung ke jantung kota tua Jaipur.

Setelah sampai di Stasiun Jaipur, kami baru sadar satu hal yang agak merepotkan: ternyata tidak ada tempat penitipan tas resmi di stasiun itu. Kami sempat kebingungan sebentar, lalu memutuskan bertanya ke beberapa petugas stasiun yang berjaga di sana.

Salah satu dari mereka kemudian menawarkan solusi yang sama sekali tidak kami duga. Tas besar kami boleh dititipkan saja di kantor mereka, semacam ruang kerja petugas atau kantor masinis. Tanpa formulir, tanpa ribet, tanpa biaya. Karena yang menawarkan adalah petugas resmi dan tas kami juga tidak berisi barang berharga, kami akhirnya setuju.

Kami menyerahkan tas dengan perasaan campur aduk antara ragu dan lega. Tapi cara mereka menjelaskan begitu tenang dan ramah, membuat kami merasa cukup percaya. Di perjalanan India ini, kejadian-kejadian kecil seperti ini sering membuatku terenyuh. Di tengah sistem yang kadang terasa semrawut, kebaikan personal justru muncul dari obrolan sederhana.

Kami kembali berjalan kaki menuju Hawa Mahal. Di perjalanan kesana, kami sempat mampir ke sebuah toko oleh-oleh kecil karena aku mau beli tas backpack. Tas slempang yang kupakai sebelumnya talinya putus sejak di Mumbai, jadi mau tidak mau harus mencari pengganti. Akhirnya aku mendapatkan sebuah backpack kecil yang sederhana dan cukup murah. Tidak istimewa, tapi fungsional. Yang penting bisa menampung barang-barang penting, kamera, dompet, dan sebotol air minum.

Seperti kebiasaan yang sering kami temui di India, setelah transaksi selesai, kami malah diajak foto bersama oleh pemilik toko, tentu saja memakai kamera kami sendiri, wkwk. Sampai sekarang aku juga tidak benar-benar tahu gunanya apa untuk mereka. Mungkin sekadar kenang-kenangan, mungkin juga kebanggaan pernah berfoto dengan orang asing yang mampir ke tokonya.

Tidak butuh waktu lama untuk kami sampai di Hawa Mahal. Tiket masuknya sekitar dua ratus Rupee, termasuk tiket komposit yang bisa dipakai untuk beberapa tempat wisata lain di Jaipur. Dan di titik inilah aku harus jujur mengakui satu hal yang agak memalukan.

Saat itu posisi Fredo masih kuliah semester akhir, sementara aku sudah lulus. Fredo jelas masih berstatus mahasiswa dan punya kartu student. Sementara aku? Sudah bukan student sama sekali. Masalahnya, perbedaan harga tiket di Jaipur benar-benar terasa untuk backpacker. Tiket foreign tourist saat itu sekitar Rp 235.000, sementara tiket student foreign tourist hanya sekitar Rp 50.000. Selisihnya jauh sekali.

Dan ya… aku tidak sepenuhnya jujur hari itu.

Ketika petugas tiket bertanya soal student ID, aku ikut mengantre bersama Fredo dan dengan percaya diri menyamar sebagai mahasiswa juga. Saat diminta kartu identitas mahasiswa, aku mengeluarkan KTP Indonesia. Bukan kartu mahasiswa. Bukan kartu pelajar. KTP biasa, dengan tulisan berbahasa Indonesia yang jelas-jelas tidak familiar baginya.

Petugas itu menatap KTP-ku cukup lama. Benar-benar lama. Bolak-balik melihat kartu itu, lalu melihat wajahku. Jujur saja, di kepalaku saat itu hanya ada satu pikiran, “Kalau ditolak ya sudahlah.” Tapi entah karena ia tidak memahami isi tulisannya, atau mungkin tidak terlalu peduli, akhirnya ia mengangguk dan memberikan tiket harga mahasiswa kepadaku.

Selesai. Aku lolos.

Lega? Iya. Tapi bersamaan dengan itu muncul rasa tidak enak yang tipis tapi nyata. Ini benar-benar tindakan tidak terpuji dan jelas tidak patut ditiru. Bahkan sekarang, bertahun-tahun kemudian saat menuliskannya kembali, aku masih merasa perlu memberi catatan kaki moral untuk diriku sendiri.

Entah kenapa aku tetap menuliskannya. Mungkin karena perjalanan bukan hanya soal tempat-tempat indah dan cerita heroik. Tapi juga tentang sisi manusiawi yang kadang pelit, licik, lelah, dan penuh kompromi kecil. India, dengan segala kontras dan tekanannya, sering memunculkan sisi-sisi itu tanpa permisi.

Dengan tiket di tangan dan rasa bersalah kecil yang ikut masuk bersama kami, aku dan Fredo pun melangkah ke dalam Hawa Mahal. Angin dari lorong-lorong sempit mulai terasa, dan Jaipur perlahan terlihat dari balik jendela-jendela kecil yang berjajar rapat.

Hawa Mahal sendiri dibangun pada tahun 1799 oleh Maharaja Sawai Pratap Singh, cucu dari pendiri kota Jaipur, Sawai Jai Singh II. Arsiteknya adalah Lal Chand Ustad. Tujuan bangunan ini bukan sebagai istana tempat tinggal utama, melainkan sebagai perpanjangan dari City Palace. Di sinilah para perempuan kerajaan, sesuai tradisi purdah saat itu, bisa mengamati kehidupan kota tanpa terlihat dari luar. Mereka dapat menyaksikan prosesi kerajaan, arak-arakan, pasar, dan kehidupan jalanan dari balik jendela-jendela kecil yang rapat.

Dari dalam, Hawa Mahal ternyata tidak sempit. Ada lorong-lorong bertingkat, tangga landai yang menghubungkan satu lantai ke lantai lain, serta halaman dalam yang terbuka. Ruang-ruangnya didominasi warna kuning lembut dan putih, dengan garis-garis dekoratif yang halus. Cahaya masuk dari jendela-jendela kecil, menciptakan bayangan lembut di lantai dan dinding. Udara mengalir terus, sejuk dan ringan, benar-benar terasa fungsi bangunan ini sebagai istana angin.

Kami naik ke lantai-lantai atas. Dari balkon dan jharokha kecil itu, pemandangan Kota Jaipur terbentang luas. Dari sini terlihat jelas mengapa Jaipur disebut Pink City, meskipun warna dominannya lebih ke kuning pucat dan merah muda lembut. Bangunan-bangunan kota tua tersusun rapi, atap datar, dinding berwarna hangat, dan jalan-jalan yang tampak sibuk namun teratur. Dari ketinggian ini, hiruk-pikuk kota terasa terasa lebih tenang, seperti miniatur kehidupan yang bergerak pelan.

Di salah satu lantai, terdapat aula dengan lengkungan-lengkungan indah dan jendela kecil di setiap sisi. Ruang ini dulu digunakan sebagai tempat berkumpul, bersantai, dan menikmati angin sore. Aku berdiri cukup lama di sana, membiarkan angin masuk lewat jendela kecil, membayangkan bagaimana ratusan tahun lalu para perempuan kerajaan duduk di tempat yang sama, mengamati kota yang sama, hanya dengan wajah dan cerita yang berbeda.

Semakin ke atas, suasananya semakin sunyi. Tangga-tangga batu membawa kami ke teras terbuka. Dari titik tertinggi ini, langit Jaipur terlihat luas dan terang. Kota di bawah tampak tenggelam dalam warna-warna lembut khas Rajasthan. Tidak ada gedung tinggi, tidak ada kaca mengilap. Yang ada hanya bangunan tua, tembok-tembok berwarna pasir, dan kehidupan yang mengalir di sela-selanya.

Dari Hawa Mahal, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju satu tempat yang sejak awal membuatku penasaran: kompleks astronomi kuno India yang terkenal itu, Jantar Mantar. Jaraknya tidak jauh, masih berada di kawasan kota tua Jaipur. Jalanan ramai, dipenuhi pejalan kaki, pedagang kecil, dan suara klakson yang bersahut-sahutan, tapi langkah kami terasa ringan karena rasa penasaran sudah keburu besar.

Begitu masuk ke dalam kompleks Jantar Mantar, suasananya langsung berubah. Hiruk pikuk kota seakan tertinggal di luar pagar. Di hadapan kami berdiri struktur-struktur batu raksasa dengan bentuk aneh dan tidak lazim. Ada yang seperti segitiga besar menjulang ke langit, ada yang melengkung, ada yang berbentuk setengah lingkaran dengan garis-garis skala di permukaannya. Sekilas tampak seperti instalasi seni modern, padahal semuanya dibangun ratusan tahun lalu.

Jantar Mantar dibangun pada awal abad ke-18 oleh Maharaja Sawai Jai Singh II, penguasa Jaipur sekaligus seorang pengamat astronomi yang sangat serius. Ia bukan hanya raja, tapi juga ilmuwan. Pada masa itu, Jai Singh merasa tabel astronomi yang digunakan di India banyak yang tidak akurat. Alih-alih bergantung pada alat kecil dari logam seperti teleskop Eropa, ia justru merancang instrumen astronomi berukuran raksasa dari batu dan marmer, agar pengukuran posisi benda langit bisa dilakukan dengan presisi tinggi dan minim kesalahan.

Nama Jantar Mantar sendiri berasal dari kata Sanskerta “Yantra Mantra”, yang secara kasar berarti instrumen perhitungan. Tempat ini bukan observatorium simbolik, tapi benar-benar laboratorium astronomi terbuka. Semua bangunan di sini punya fungsi ilmiah yang jelas.

Struktur paling mencolok adalah Samrat Yantra, jam matahari raksasa yang menjulang tinggi. Bayangannya bergerak perlahan mengikuti pergerakan matahari, dan dengan alat ini waktu bisa diukur hingga akurasi hitungan detik. Berdiri di dekatnya membuatku merasa sangat kecil. Bayangkan, ratusan tahun lalu orang sudah bisa membaca waktu dengan ketelitian luar biasa, hanya dengan cahaya matahari dan bayangan batu.

Instrumen lain digunakan untuk menentukan posisi matahari, bulan, dan planet, menghitung gerhana, memprediksi perubahan musim, hingga menentukan kalender keagamaan. Ada alat untuk mengukur deklinasi bintang, ada pula yang dipakai untuk membaca lintang dan bujur suatu tempat. Semuanya bekerja tanpa listrik, tanpa mesin, hanya mengandalkan geometri, bayangan, dan pergerakan langit.

Yang membuatku kagum, semua ini dibangun sebelum teknologi modern seperti jam atom, GPS, atau komputer. Ilmu pengetahuan, arsitektur, dan matematika berpadu dalam bentuk yang sangat fisik. Batu-batu besar ini bukan hiasan, tapi rumus yang diwujudkan dalam ruang tiga dimensi.

Berjalan di antara instrumen-instrumen itu rasanya seperti masuk ke buku sains raksasa yang dibuka di bawah langit terbuka. Aku dan Fredo beberapa kali berhenti, membaca papan penjelasan, lalu saling menatap sambil geleng-geleng kepala. India memang sering identik dengan spiritualitas, tapi di tempat ini, sisi ilmiahnya terasa sangat kuat dan nyata. Di tengah panas Rajasthan dan bangunan-bangunan tua, Jantar Mantar berdiri sebagai pengingat bahwa rasa ingin tahu manusia terhadap langit sudah ada sejak lama, dan pernah diwujudkan dengan cara yang begitu berani dan monumental.

Setelah puas berkeliling Jantar Mantar, perut kami mulai protes. Mata sudah kenyang oleh instrumen astronomi raksasa, sekarang giliran perut yang minta diisi. Kami makan siang sederhana di sekitar kawasan kota tua. Tidak yang istimewa, tapi cukup mengenyangkan. Duduk sebentar, minum, istirahat kaki, lalu lanjut jalan lagi.

Dari sana, kami berjalan menuju satu bangunan yang dari kejauhan sudah terlihat menjulang di antara bangunan-bangunan rendah Jaipur, Isarlat Sargasooli. Menara ini sering luput dari radar turis, padahal lokasinya masih satu kawasan dengan Hawa Mahal dan City Palace. Dari Jantar Mantar menuju Isarlat, kami memilih berjalan kaki. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi perjalanannya cukup menguras fokus. Jaipur, di satu sisi memang benar-benar chaotic dengan lalu lintas yang kacau, tapi di sisi lainnya justru terasa indah dengan caranya sendiri.

Berjalan di jalanan India artinya harus menebalkan telinga. Orang-orang di sini sangat hobi mengklakson. Jalan sepi pun tetap diklakson. Kadang klaksonnya panjang, bisa lebih dari sepuluh detik, mengesalkan dan memekakkan telinga. Beberapa kali aku ingin rasanya memaki ketika ada kendaraan yang mengklakson tepat di belakangku, padahal aku sudah berjalan serapi mungkin di pinggir jalan.

Belum lagi soal rintangan di jalan. Saat berjalan kaki, kami harus sigap menghindari berbagai macam “penghuni” kota yang berkeliaran bebas. Sapi berjalan santai di tengah jalan, kambing bergerombol di sudut, keledai menarik gerobak, babi menyelinap di sela-sela bangunan, bahkan unta sesekali muncul seperti tidak merasa aneh sama sekali berada di kota. Semua harus diantisipasi sambil tetap memperhatikan kendaraan yang lewat.

Di bawah kaki, tantangannya juga tidak kalah seru. Setiap langkah harus waspada menghindari “jackpot hot chocolate” di tanah dan ludahan manusia yang tersebar di mana-mana. Jalan kaki di India memang bukan sekadar soal jarak, tapi soal kewaspadaan penuh dari kepala sampai kaki.

Stress? Tidak juga. Aneh tapi nyata, aku sudah terbiasa dengan semua itu. Lagipula, travelmate-ku selalu mengingatkan satu hal sederhana, saat traveling harus tetap bahagia, bagaimanapun keadaannya. Aku rasa dia benar juga. Hehehe.

Isarlat Sargasooli adalah menara pengamatan yang dibangun pada abad ke-18 oleh Maharaja Sawai Ishwari Singh. Tingginya sekitar 44 meter, ramping, dan berdiri seperti penunjuk arah ke langit di tengah kota tua. Dari bawah, menara ini tampak sederhana, bahkan sedikit tersembunyi di antara bangunan pasar dan rumah-rumah tua. Tapi justru itu yang membuatnya menarik.

Kami naik melalui tangga spiral sempit yang berputar terus ke atas. Langkah demi langkah terasa melelahkan, tapi juga menimbulkan rasa penasaran. Dinding batu di kanan kiri dingin dan agak lembap. Nafas mulai terengah, kaki terasa berat, tapi tidak ada keinginan untuk berhenti. Tangga ini seperti mengajak naik perlahan, tanpa terburu-buru.

Begitu sampai di atas, semua rasa capek langsung terbayar. Dari puncak Isarlat, Jaipur terbentang 360 derajat. Kota tua terlihat jelas dengan bangunan-bangunan rendah berwarna kuning dan merah muda pucat, jalan-jalan sempit yang saling bersilangan, dan keramaian yang dari atas justru terasa jinak. Tidak bising, tidak kacau. Hanya pola-pola kehidupan yang bergerak pelan.

Dari sini terlihat jelas mengapa Jaipur terasa berbeda. Tidak ada gedung tinggi yang mendominasi. Warna kota terasa seragam dan hangat. Di kejauhan, perbukitan Aravalli membingkai kota seperti pagar alami. Angin bertiup cukup kencang di atas menara, membawa debu halus dan udara panas Rajasthan, tapi justru terasa menyegarkan.

Kami berdiri cukup lama di atas sana. Tidak banyak pengunjung. Tidak ada teriakan, tidak ada kerumunan. Hanya kami, beberapa orang lokal, dan kota Jaipur yang terbuka lebar di bawah kaki. Isarlat terasa seperti tempat jeda. Bukan tempat megah seperti istana, bukan pula ikon yang ramai difoto, tapi titik sunyi untuk melihat kota secara utuh.

Setelah puas mengeksplor Pink City, kami kembali ke stasiun Jaipur. Kereta kami ke Agra berangkat sore itu juga, pukul 15.45, menggunakan Marudhar Express. Jarak Jaipur–Agra tidak terlalu jauh, sekitar dua ratus empat puluh kilometer, dan ditempuh dalam waktu kurang lebih empat sampai lima jam perjalanan. Setelah mengambil tas yang kami titipkan, kami bergegas naik ke kereta sebelum suasana stasiun semakin ramai.

Perjalanan sore itu berjalan lancar. Gerbong tidak terlalu penuh, jadi kami bisa tiduran santai sambil menikmati sisa-sisa lelah perjalanan. Sesekali aku terlelap, terbangun sebentar, lalu tidur lagi. Kereta melaju stabil, tanpa drama berarti.

Sekitar pukul delapan malam, kami tiba di Agra. Udara terasa sedikit lebih lembap dibanding Jaipur. Dari stasiun, kami langsung naik auto rickshaw menuju Sai Palace, penginapan nyaman yang lokasinya cukup dekat dengan South Gate Taj Mahal. Lokasi ini memang kami pilih sengaja, supaya besok pagi bisa berjalan kaki saja tanpa ribet transport.

Malam itu kami makan di rooftop restoran penginapan. Duduk santai, menikmati makan malam sederhana, sambil melihat lampu-lampu kota Agra di kejauhan. Badan lelah, tapi hati tenang. Setelah itu kami langsung naik ke kamar dan tidur lebih awal.

[7] CHINA TRIP DIARY : Lucunya Panda di Beijing ZOO !

 Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke China yang aku lakukan dari 23 Maret 2017 - 28 Maret 2017. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Giant Panda di Beijing Zoo..

Meskipun kakiku sudah protes keras dan minta istirahat, ambisiku eksplor sebanyak mungkin tempat di Beijing masih membara wkwkwk... Setelah eksplor Beihai Park, tujuanku selanjutnya adalah melihat Giant Panda di Beijing Zoo. Alasannya simpel kenapa aku memasukkan ini ke itinerary, masa ke Beijing nggak lihat panda? Nggak afdol banget kalau pulang tanpa ketemu hewan gemas endemik asal Tiongkok ini. 

Begitu masuk area kebun binatang, suasananya langsung terasa ramai. Orang-orang dari berbagai usia tumpah ruah: anak kecil yang duduk manis di stroller, keluarga yang datang bergerombol, sampai pasangan muda yang asyik ngobrol sambil berjalan. Rasanya seperti lautan manusia yang sama-sama punya tujuan: ingin melihat si superstar hitam-putih.

Di salah satu sudut aku menemukan sebuah patung kepala panda dari perunggu. Simbol sederhana tapi penuh makna, seolah menyambut pengunjung dan mengingatkan bahwa hari ini, bintang utama yang ditunggu-tunggu memang hanya satu: panda. Aku pun menyempatkan diri memotret, karena jarang-jarang ada “prasasti” khusus seperti ini.

Aku terus mengikuti arus pengunjung melewati jalanan berbatu dan taman rindang. Pepohonan menjulang dengan bangku-bangku di bawahnya, cocok banget buat yang ingin rehat sebentar. Tapi aku? No way, tujuan sudah jelas—langsung tancap gas menuju kandang panda.



Akhirnya, bangunan bertuliskan “Asian Games Panda House” muncul di depan mata. Gedung modern dengan lengkung beton besar di atas pintu masuk ini dulunya memang dibangun khusus menyambut Asian Games 1990 di Beijing. Dari sini sudah terasa atmosfer antusiasme pengunjung: semua bergegas masuk, tidak sabar ingin melihat hewan nasional kebanggaan Tiongkok itu.

Aku pun ikut melangkah masuk, dengan hati berdebar seperti anak kecil yang mau ketemu idolanya. Oke, panda... here I come! 🐼

Begitu melewati pintu masuk Panda House, aku langsung disambut dengan pemandangan yang bikin senyumku otomatis mengembang: seekor panda sedang asyik duduk santai di antara tumpukan bambu segar. Tangannya yang besar dan berbulu itu cekatan mematahkan batang bambu, lalu dengan santainya mengunyah sambil sesekali menatap ke arah pengunjung.

Lucunya, dia makan dengan gaya super santai—duduk selonjoran, perutnya bulat menghadap ke depan, sementara mulutnya sibuk menggerogoti bambu. Sesekali dia berhenti, seperti merenung, lalu melanjutkan kunyahannya dengan lahap. Rasanya seperti nonton manusia yang lagi ngemil di depan TV wkwk.

Aku perhatikan lebih lama, dan semakin lama justru makin gemes. Gerakannya lambat, matanya sayu, tapi ada daya tarik yang bikin siapa pun betah berlama-lama melihat. Sungguh kontras dengan image hewan buas, panda ini malah terlihat seperti makhluk paling damai di dunia—makan, tidur, makan lagi.

Di sekitarku, pengunjung lain juga nggak kalah heboh. Anak-anak menunjuk-nunjuk sambil teriak, kamera-kamera berderet diangkat untuk mengabadikan momen. Tapi aku sendiri hanya terdiam sebentar, menikmati momen ketemu hewan yang selama ini cuma bisa kulihat di TV atau internet.

Gemesnya kebangetan! Rasanya pengen nyolek perut gembulnya atau ikut duduk di sampingnya sambil makan bambu bareng. Tapi ya jelas cuma bisa dalam imajinasi, karena realitanya cukup puas dengan foto-foto dari balik kaca.

Aku tersenyum kecil dalam hati: “Akhirnya… ketemu juga sama panda!” 🐼





8.27.2025

[6] CHINA TRIP DIARY : Indahnya Beihai Park!

 Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke China yang aku lakukan dari 23 Maret 2017 - 28 Maret 2017. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Indahnya Beihai Park dengan danau di tengahnya...

Selesai menyantap gulaliku, aku sempat berdiri melamun sejenak di tepi Sungai Tongzi sambil tarik napas panjang. Telapak kaki, betis, sampai paha udah benar-benar protes — rasanya tiap langkah kayak menambah nyeri karena kebanyakan jalan dari kemarin. Sempat banget kepikiran “Aduh enaknya balik ke penginapan, rebahan di kasur dingin sambil ngemil, nggak ngapa-ngapain…” Huhuhu.. Ini menyadarkanku tentang pentingnya olahraga (terutama jalan kaki) sebelum traveling ya.. Apalagi kalau negaranya kayak China begini, dimana transportasi publik udah sangat bagus jadi pasti bakal banyak jalan kakinya.

Tapi logikaku langsung nyamber: “Hei, waktumu di Beijing tinggal hari ini sama besok. Besok malam udah harus terbang balik ke KL. Kalau sekarang nyerah, rugi sendiri. Ingat, waktu = uang.” 😂 Jadi dengan sisa tenaga, aku paksa badan buat berdiri dan mulai melangkahkan kaki lagi. Tempat selanjutnya yang akan kukunjungi adalah Taman Beihai (Beihai Park) yang berjarak 900 meter di sebelah barat Gerbang Utara Forbidden City. Cukup dekat jadi bisa jalan kaki aja.

Aku berjalan menyusuri tepi parit yang berkilau, angin sore meniup ranting pohon willow yang sudah mulai berdaun tipis-tipis. Rasanya kayak masuk ke lukisan tinta klasik Tiongkok, dimana menurutku Beijing ini hampir semua sudutnya kok terlihat cantik banget ya. Pelan-pelan, papan petunjuk menuju Beihai Park mulai terlihat.

Tak lama, tibalah aku di Gerbang Selatan Beihai Park. Membayar tiket masuk yang harganya masih sangat terjangkau (sekitar 20 yuan di tahun 2017, kalau ingin naik ke White Dagoba ada tambahan tiket kecil lagi), aku akhirnya resmi melangkah masuk ke kawasan yang dulunya jadi taman pribadi kaisar.

Sebelum benar-benar masuk lebih dalam, aku berhenti sejenak di sebuah papan informasi besar berwarna emas. Tulisan di situ menjelaskan sejarah singkat Beihai Park. Ternyata taman ini bukan sekadar taman kota biasa, tapi dulunya adalah taman kekaisaran yang sudah berdiri sejak tahun 1166, di era Dinasti Jin. Bayangin, usianya sudah lebih dari 850 tahun! Dahulu disebut Yaoyu, atau Pulau Batu Giok, tempat ini dipakai kaisar dan keluarganya bukan hanya untuk bersantai, tapi juga untuk urusan pemerintahan sekaligus ritual persembahan.

Yang bikin aku kagum, papan itu juga menegaskan kalau Beihai Park adalah taman kekaisaran tertua dan paling terawat di dunia. Jadi langkah kakiku berikutnya seakan-akan masuk ke halaman yang dulu pernah diinjak para kaisar dari Dinasti Liao, Jin, Yuan, Ming, hingga Qing. Rasanya agak merinding, tapi sekaligus excited karena aku bakal lihat langsung sisa-sisa kejayaan itu dengan mata kepala sendiri.

Aku melanjutkan langkah kakiku, dan tiba-tiba terhenti karena aku langsung disambut pemandangan yang bikin napas agak tertahan. Sebuah danau luas membentang di depan mata, airnya tenang dan bersih, memantulkan langit biru Beijing yang cerah siang itu. Di kejauhan, sebuah pulau kecil dengan pagoda dan pepohonan rimbun berdiri, di atasnya menjulang White Dagoba (Bai Ta) berwarna putih mencolok.


"Wow.. cantiknya.." kataku dalam hati sambil mengambil beberapa foto untuk mengabadikan.

Di sisi tepi danau, ada jembatan-jembatan putih yang anggun, melengkung halus menghubungkan daratan dengan pulau di tengah. Aku berjalan pelan di atasnya, menikmati suara gemericik air, tiupan angin, dan hiruk-pikuk orang lokal maupun turis yang sibuk berfoto. Suasana yang tadinya penuh wibawa dan kaku di Forbidden City berubah jadi rileks dan damai di sini. Cocok sekali jadi tempat kaisar dulu melepas penat dari urusan politik istana. Seketika aku sedikit melupakan rasa capek di kakiku dan benar-benar merasa damai dan tenang memandangi danau ini.

Pas aku terus berjalan dan melihat maps, akhirnya aku sadar bahwa Beihai Park ini sebenarnya terbagi jadi dua area utama. Di bagian selatan, dekat gerbang masuk utama, ada Round City (Tuancheng). Bentuknya bulat, seperti pulau kecil di tepi danau. Dulu, di masa Dinasti Jin sampai Ming, tempat ini digunakan sebagai bagian dari istana dan ruang persembahan. Di dalamnya bahkan pernah disimpan patung Buddha dari giok putih dan sebuah poci giok bersejarah dari zaman Yuan. Sayangnya, saat Beijing diserang pasukan Aliansi Delapan Negara pada tahun 1900, banyak benda berharga di sini yang dijarah. Setelah itu, pemerintah Tiongkok merenovasinya, dan sejak 1961 Round City ditetapkan sebagai situs warisan budaya nasional.

Lalu, di bagian utara, ada Qionghua Island (kadang juga disebut Qiongdao Island—keduanya merujuk ke pulau yang sama). Pulau inilah yang jadi pusat perhatian Beihai Park dengan White Dagoba yang menjulang di atas bukitnya. Kedua area ini dipisahkan oleh Jembatan Yong’an yang anggun berwarna putih. Jadi, saat masuk dari selatan, pengunjung biasanya melewati Round City dulu, baru menyeberang lewat Yong’an Bridge untuk menuju Qionghua/Qiongdao Island.



Aku melanjutkan langkah memutari Round City, tapi tanpa sadar perut mulai memberontak. Udara juga makin dingin, bikin badan rasanya pengen rebahan aja sambil istirahat. “Mie kayaknya enak deh… bayangin kuah panasnya mengalir ke kerongkongan,” batinku sambil celingak-celinguk mencari kios makan. Untungnya nggak sulit kujumpai penjual mie kuah di sekitar taman, dan harganya pun cukup ramah di kantong.

Tanpa pikir panjang, aku langsung beli satu. Kuahnya mengepul hangat, aroma kaldunya menyeruak, bikin aku makin nggak sabar. Aku duduk di kursi kayu sederhana di tepi danau, lalu mulai makan dengan khidmat, perlahan-lahan, sambil menikmati suasana damai di sekeliling. Rasanya sederhana, tapi nikmatnya luar biasa — apalagi ditemani angin sepoi-sepoi dan pemandangan air yang tenang.

Liburan tuh harusnya begini,” batinku sambil menyeruput kuahnya pelan. “Bukan maraton 6–7 km tiap hari sampai kaki mau copot.” Aku nyengir sendiri membayangkan itinerary yang seringkali kelewat ambisius. Sesekali aku hembuskan napas panjang, rasa penat dan dingin pun larut bersama hangatnya mie.

Selesai makan dan merasa tenagaku cukup pulih, aku pun melanjutkan langkah menuju Yong’an Bridge, jembatan putih yang melengkung anggun di atas danau. Jembatan ini bukan hanya penghubung daratan dengan pulau Qiongdao, tapi juga punya makna simbolis: melangkah ke jembatan seolah meninggalkan hiruk pikuk dunia luar dan masuk ke ruang yang lebih tenang, tempat kaisar dulu mencari keseimbangan batin.


Setelah menyeberang, aku sampai di Qiongdao Island, sebuah pulau yang ternyata bukit buatan manusia hasil rekayasa lanskap pada masa Dinasti Yuan, Ming, dan Qing. Para kaisar Tiongkok memang suka bikin taman bergaya lanskap buatan: bukit ditimbun dari tanah galian, bebatuan hias (biasanya batu karst/limestone dari Taihu Lake) ditata untuk memberi kesan alami, dan stupa dibangun di atasnya untuk memperkuat makna spiritual. Biasanya orang datang ke pulau ini dengan tujuan utama: mendaki sampai ke White Dagoba (stupa putih) yang berdiri di puncak bukit, simbol perdamaian dan salah satu ikon Beijing. White Dagoba sendiri dibangun pada tahun 1651 atas perintah Kaisar Shunzhi (Dinasti Qing) untuk menyambut kedatangan biksu lama dari Tibet dan sebagai simbol penerimaan agama Buddha aliran Tibet (Lamaisme/gelugpa) di istana kekaisaran.

Aku pun mulai berjalan pelan di jalur menanjak. Jalannya berliku di antara pepohonan pinus tua dan batu-batu karst yang disusun artistik. Di sepanjang jalan, aku melewati beberapa bangunan penting termasuk Yong’an Temple, kompleks kuil yang memang menjadi pintu masuk utama sebelum mendaki ke arah White Dagoba. Di halaman depannya langsung mencolok sebuah wadah batu besar penuh gantungan papan doa berwarna merah. Papan-papan ini biasa ditulis oleh pengunjung dengan harapan atau doa tertentu—mulai dari kesehatan, keselamatan, rezeki, sampai urusan pribadi—lalu digantungkan sebagai simbol agar doa itu tersampaikan.

Aku tidak berhenti lama, hanya melihat-lihat sebentar suasana orang yang sibuk menulis dan menggantungkan papan doanya, sebelum melanjutkan langkah menembus halaman kuil ini. Dari sini jalannya mulai menanjak lebih curam ke arah puncak pulau tempat stupa putih berdiri.



 Di bagian samping area Yong’an Temple, aku melihat sebuah wadah perunggu raksasa berdiri di tengah halaman. Bentuknya bulat besar seperti guci, dengan penutup kisi-kisi di atasnya. Setelah aku browsing, dulu wadah ini dipakai untuk membakar dupa dalam ritual keagamaan, bagian dari tradisi doa di kuil Buddha. Sekarang, orang-orang yang datang biasanya berhenti sejenak di depannya, ada yang berdoa, ada juga yang hanya penasaran melihat lebih dekat. Aku ikut melangkah pelan melewati halaman ini, sambil membayangkan suasana ketika wadah itu masih dipenuhi asap dupa dan lantunan doa para biksu.

Di perjalanan turun, aku juga sempat berhenti sejenak di paviliun terbuka (gazebo kecil bercat merah) tempat orang-orang duduk bercengkerama sambil menikmati pemandangan danau. Dari sini, jalannya mulai semakin curam, menandakan puncak dengan stupa putih sudah tidak jauh lagi. Konon, paviliun di bawah jalur ini berfungsi lebih sebagai tempat perhentian, doa, dan perenungan, semacam rest area para biksu sebelum menuju pusat utama pemujaan di White Dagoba. Biksu-biksu Tibet yang diundang ke Beijing oleh kaisar biasanya akan langsung menuju White Dagoba untuk melakukan ritual keagamaan. Sedangkan paviliun-paviliun kecil di sekitarnya dipakai pengunjung atau umat untuk menyiapkan sesajen, beristirahat, atau sekadar menikmati suasana sebelum melanjutkan perjalanan spiritual ke atas bukit.

Setelah menuruni jalur berbatu dan kembali ke tepi danau, aku memutuskan untuk memutar lewat jalan lain menuju Round City. Tak lama kemudian, aku sampai di sebuah gerbang megah penuh warna. Atapnya hijau berlapis, tiang-tiang merah kokoh menjulang, dan di atasnya ukiran kayu penuh detail cat biru, hijau, serta emas yang berkilau ketika terkena sinar matahari. Inilah salah satu paifang khas Tiongkok yang menjadi pintu menuju area penting di Beihai Park. Rasanya setiap gerbang seperti ini bukan sekadar pintu lewat, tapi semacam penanda simbolis bahwa aku akan memasuki babak baru dalam perjalanan di dalam taman. 

'Oya.. aku kan belum foto yaa dari tadi. Harus ada kenang-kenangannya dong biarpun satu aja,' kataku dalam hati.

Bersamaan dengan keinginanku untuk foto, ada beberapa cowok chinese yang lewat. Dengan cepat aku meminta tolong dan untungnya dia orangnya cukup ramah menfotokan.

"Xie-xie." kataku sembari menerima kameraku lagi.


Aku melanjutkan perjalanan lagi. Di tengah perjalanan aku malah menemukan sebuah tempat yang tidak kalah menarik yang aku lihat di papan namanya Pavilion of Ancient Works. Bangunan ini didirikan pada masa Kaisar Qianlong tahun 1753, fungsinya untuk menyimpan pahatan batu yang berisi kaligrafi kuno bernama Sanxitangfatie. Jadi semacam perpustakaan batu, di mana karya-karya kaligrafi dari zaman Wei–Jin sampai Dinasti Ming dikumpulkan lalu dipahat di atas 495 lempeng batu, kemudian dipajang di sini. Kalau dipikir, ini seperti museum terbuka yang menyimpan harta intelektual Tiongkok kuno, bukan buku kertas, tapi “buku” dari batu.


Arsitektur paviliunnya sendiri berbentuk setengah lingkaran dua lantai dengan puluhan ruangan kecil yang memanjang ke samping. Warnanya dominan merah dengan jendela-jendela panjang, dan di dalamnya berjajar kaca berisi lempengan batu kaligrafi. Teks berhuruf Cina yang terlihat di balik kaca itu adalah ukiran karya para kaligrafer besar—jadi setiap panel yang aku foto bukan sekadar dekorasi, tapi betulan teks klasik yang dianggap pusaka. Rasanya seperti berjalan di antara dinding yang berisi jejak pikiran orang-orang ratusan tahun lalu.

Melangkah keluar, aku kembali dibuat terpesona. Bangunan bergaya menara dengan atap bertingkat menjulang di tepi danau tampak sangat anggun. Di bawahnya ada gerbang melengkung, seolah menjadi pintu kecil menuju dunia lain. Aku berhenti sejenak, mengangkat kamera, dan klik—hasilnya memang cantik banget. Tak jauh dari situ, aku juga menemukan sebuah komplek dengan dinding putih, jendela bulat-bulat, dan pintu kayu merah yang kontras. Entah kenapa, setiap sudut di sini terasa fotogenik; mau difoto dari sudut mana pun tetap terlihat artistik. Awhhh... China, tepatnya Beijing yang kukunjungi ini, emang cantik banget!



Setelah puas berkeliling dan menyerap keindahan Danau Beihai untuk terakhir kalinya, aku akhirnya keluar taman. Sambil meringis sedikit karena kaki yang mulai nyeri lagi, aku tersenyum kecil dalam hati: “Oke, Beihai Park checked.”

Next stop? Melihat panda! 🐼 Kaki, sabar ya.. wkwkwk...


Part Selanjutnya : DISINI

[5] CHINA TRIP DIARY : Mengunjungi Forbidden City !

 Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke China yang aku lakukan dari 23 Maret 2017 - 28 Maret 2017. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Aku berfoto di Tiananmen Square dengan background foto Mao Zedong

Part Sebelumnya : DISINI


Beijing, 26 Maret 2017
Hotel King Joy

Hoaaahmmm… aku terbangun sambil menguap panjang. Syukurlah, sesuai harapanku tidurku semalam benar-benar nyenyak tanpa gangguan apa pun. Seakan-akan tubuhku berterima kasih atas keputusanku untuk menginap di hotel alih-alih memaksakan diri naik kereta sleeper. Kalau semalam aku ada di kereta, mungkin sekarang aku bangun dengan badan pegal, mata panda, badan lengket dan perasaan cranky. Tapi hari ini aku merasa sangat positif. Badanku segar, tenang, dan siap memulai hari.

Aku terbangun dengan suara televisi yang masih menyiarkan saluran olahraga. Aku sempat heran sih, lah sejak semalam masih olahraga aja hehehe..Tapi inilah yang semalam jadi penolong kecilku. Suaranya yang konstan menemaniku melewati rasa takut di hotel yang sepi. 

Udara dingin pagi itu membuatku malas bergerak. Rasanya ingin terus meringkuk di balik selimut, menikmati hangatnya kasur empuk dan melupakan dunia luar. Tapi lama-kelamaan aku tersadar, waktuku di Beijing sangat singkat. Kalau aku terus menuruti rasa malas ini, bisa-bisa rugi besar karena banyak tempat tidak terjelajahi. Dengan sedikit perjuangan, akhirnya kupaksakan diri bangun dan langsung mandi air panas.

Begitu air hangat membasuh tubuhku, rasa malas tadi perlahan hilang. Tubuh terasa lebih segar, pikiranku lebih jernih, dan semangatku langsung naik. Aku pun bergegas bersiap-siap dengan penuh antusias. Hari ini aku bertekad untuk eksplor sebanyak mungkin tempat, sejauh kakiku kuat melangkah. Dan destinasi pertama, yang sudah lama masuk daftar impianku setelah Great Wall, tentu saja Forbidden City.

Aku keluar kamar dengan perasaan jauh lebih ringan dari semalam. Badanku segar, pikiranku juga lebih tenang. Saat melewati resepsionis, aku kembali bertemu dengan satpam yang semalam sempat membuatku agak tersinggung karena tatapannya yang seperti mengukur dari atas ke bawah. Kali ini aku memilih tidak terlalu memikirkan, mungkin memang perasaanku saja yang kemarin terlalu sensitif gara-gara kecapekan.

Aku melangkah keluar hotel, menembus udara pagi Beijing yang masih dingin, lalu berjalan menuju stasiun metro. Setelah beberapa kali berganti jalur, akhirnya aku tiba di stasiun yang mengantarku ke tujuan utama hari ini. Begitu naik ke permukaan, mataku langsung tertuju pada sesuatu yang begitu ikonik—gerbang megah Forbidden City dengan Tiananmen Square di depannya!

Dinding merahnya menjulang kokoh, atap genteng kuning keemasan berkilau diterpa matahari pagi, dan tepat di tengahnya terpampang potret besar Mao Zedong yang seakan menjadi “penjaga” abadi gerbang ini. Rasanya seperti sedang menatap wajah sejarah Tiongkok itu sendiri. Pemandangan ini membuat langkahku otomatis melambat. Aku hanya berdiri beberapa saat, menatap gerbang itu sambil berbisik dalam hati, “Akhirnya, aku sampai juga di Forbidden City.”

Aku terus melangkah mendekati gerbang ikonik dengan foto Mao Zedong yang menjulang besar di dinding merahnya. Dari jauh rasanya semangat banget, tapi semakin dekat, aku mulai melihat kerumunan manusia yang nggak ada habisnya. Awalnya aku kira mereka cuma lagi ngantri sesuatu yang ga kupahami. Tapi makin kuperhatikan, barisan itu ternyata mengular rapi, dijaga dengan pembatas, dan panjangnya gila-gilaan.


'Eh, ini mereka ngantri apaan sih panjang banget? Aku sih ogah ngantri sampe kek gitu' aku membatin. Aku sempat jalan di sisi barisan itu, kepo ingin tahu ujungnya di mana. Dan ternyata… astaga, aku baru sadar, itu semua adalah antrian masuk Forbidden City! Wkwk, rasanya aku langsung ketampar sama omonganku barusan, yang sempat bilang ogah kalau harus ngantri. Nyatanya, kalau mau masuk ke ikon nomor satu Beijing ini, ya harus rela ikut antri bersama ribuan orang lainnya.

Jujur, sempat down. Aku berdiri sejenak, mikir keras. Kalau aku ikut ngantri, bisa-bisa berjam-jam berdiri dingin-dingin begini. Tapi kalau aku menyerah, artinya aku ke Beijing tanpa menginjakkan kaki di Forbidden City. Rasanya kayak rugi besar sebagai traveler. Otakku langsung perang, satu sisi bilang “udah skip aja, males ngantri,” tapi sisi lain berteriak lebih keras, “Masa kamu ke Beijing nggak masuk Forbidden City?”

Akhirnya aku menarik napas panjang. Oke lah, meski harus berdiri berjam-jam, aku akan tetap ikut antri. Mumpung udah sampai sini, nggak ada alasan lagi buat mundur. Perlahan tapi pasti aku ikut merayap maju bersama ribuan orang di barisan panjang itu. Awalnya aku sudah pasrah kalau harus nunggu berjam-jam, tapi ternyata antrian bergerak lumayan cepat. Petugas di Forbidden City sigap banget mengatur arus manusia. Dalam waktu sekitar setengah jam, aku sudah sampai ke area penyeberangan bawah tanah. Lorongnya panjang dengan lampu putih dingin, di sisi kanan ada tentara berjaga dengan wajah serius. Rasanya seperti masuk ke area yang sangat terkontrol dan disiplin.

Begitu naik ke permukaan lagi, aku langsung sampai di Tiananmen Square, sebuah halaman luas dengan  gerbang ikonik atap kuning emas, dinding merah bata, dan tentu saja potret besar Mao Zedong yang menggantung di tengah. Rasanya takjub, karena gambar ini bukan sekadar foto, tapi merupakan simbol kuat dari sejarah modern Tiongkok. Mao Zedong dikenal sebagai pendiri Republik Rakyat Tiongkok tahun 1949, sosok revolusioner yang membawa China keluar dari perang saudara panjang. Jasanya besar bagi negeri ini, meski penuh kontroversi, tapi tak bisa dipungkiri dia adalah tokoh yang mengubah arah sejarah bangsa.

Lapangan di depanku dipenuhi orang-orang yang berlomba mencari sudut terbaik untuk berfoto dengan latar gerbang megah itu. Aku sempat bingung, “Aduh, siapa yang bisa kuminta tolong ya?” Karena hampir semua orang di sekitarku sibuk dengan grupnya masing-masing, dan aku sadar betul kemungkinan besar mereka nggak bisa bahasa Inggris. Tapi aku nekat juga, aku mendekati seorang lelaki muda Chinese dan meminta bantuan dalam Bahasa Inggris sambil menyerahkan kameraku. Untungnya dia langsung paham maksudku tanpa banyak bicara. Jepret! Satu kali klik, kameraku kembali ke tanganku.

“Xie-xie,” ucapku sambil tersenyum, menerima kamera lagi. Aku lihat hasilnya di layar, cukup bagus lah fotonya. Lumayan bisa jadi kenangan, bukti kalau aku beneran sudah sampai di Forbidden City, salah satu ikon paling legendaris di dunia. 

Begitu melewati keramaian Tiananmen Square, aku terus mengikuti arus manusia menuju pintu masuk Kota Terlarang. Dari kejauhan gerbang merah yang menjulang sudah kelihatan, lengkap dengan penjaga berseragam yang berdiri tegak. Satu per satu orang diarahkan masuk melewati pintu besar, lalu menyusuri lorong panjang dengan dinding tebal berwarna kusam. Rasanya benar-benar seperti melangkah ke masa lalu, seakan pintu itu adalah batas antara Beijing modern dan dunia kekaisaran Tiongkok ratusan tahun silam.

Keluar dari lorong itu, aku kira langsung sampai di area utama, ternyata belum. Masih ada halaman luas lain, dengan bangunan besar yang lagi-lagi harus dilewati. Arsitekturnya khas. Dinding merah pekat, atap kuning keemasan, dan hiasan detail penuh ornamen Tiongkok. Semakin aku melangkah, semakin terasa betapa kompleks ini dibangun dengan skala raksasa. Tidak heran, karena memang sejak pertama kali dibangun pada tahun 1406 oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming, Kota Terlarang memang dirancang sebagai pusat kekuasaan terbesar di Tiongkok.


Di halaman berikutnya aku bertemu antrean panjang untuk membeli tiket. Orang-orang berbaris rapat, menunggu giliran. Awalnya agak malas lihat antrian yang bejibun begitu, tapi apa boleh buat, semua orang ingin merasakan masuk ke istana yang selama hampir 500 tahun menjadi rumah bagi 24 kaisar, dari Dinasti Ming hingga Qing. Akhirnya setelah beberapa lama, tiket pun ada di tangan.

Belum selesai, ternyata masih ada satu tahap lagi yaitu antrean panjang yang meliuk-liuk menuju pemeriksaan keamanan terakhir. Ribuan orang berjalan serempak, tiket di-scan, barang diperiksa satu per satu, hingga akhirnya kami diperbolehkan masuk. Rasa capek jelas ada, tapi begitu berhasil melewati kerumunan itu dan melangkah maju, rasa lega langsung datang, apalagi ketika mataku disambut oleh gerbang megah berwarna merah dengan atap kuning keemasan yang merupakan Meridian Gate.

Meridian Gate atau dalam bahasa Mandarin disebut Wu Men, adalah pintu gerbang utama sekaligus gerbang terbesar di seluruh kompleks Forbidden City. Tingginya menjulang dengan lima buah pintu masuk. Dulu, tidak semua orang boleh lewat dari pintu ini. Bagian tengah, yang paling besar, hanya boleh dilewati oleh kaisar sendiri. Para pejabat tinggi atau tamu negara hanya bisa lewat pintu samping sesuai status mereka. Aturan ini begitu ketat, menunjukkan betapa sakralnya posisi kaisar dalam struktur pemerintahan Tiongkok.

Gerbang ini juga punya sejarah yang cukup "seram". Di masa Dinasti Ming dan Qing, Meridian Gate sering dipakai untuk upacara militer dan penyambutan besar. Tapi di sisi lain, di halaman depannya pernah dilakukan eksekusi terhadap pejabat atau perwira yang dianggap berkhianat. Bayangkan, berdiri di bawah gerbang megah ini, aku bisa merasakan perpaduan antara wibawa, kekuasaan, sekaligus aura kelam sejarah yang pernah terjadi di sini.

Dibangun pertama kali pada awal abad ke-15 oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming, gerbang ini tetap berdiri kokoh hingga sekarang. Ia menjadi simbol bahwa siapa pun yang melangkah masuk, sudah benar-benar meninggalkan dunia luar dan memasuki pusat kekuasaan kekaisaran Tiongkok. Dan di balik Meridian Gate inilah, kompleks istana megah dengan aula-aula raksasa dan halaman marmer putih mulai tersingkap.

"Tiitt...," akhirnya tiket masukku discan juga. Dengan langkah pasti akhirnya aku benar-benar masuk ke bagian dalam Forbidden City! Huft..akhirnya setelah berlapis-lapis keamanan!

Peta Forbidden City
Sumber Gambar : DISINI

Begitu masuk, aku langsung disambut pemandangan lapangan luas yang membentang. Ribuan orang bergerak serempak, dan di depanku tampak kanal berair yang melingkar indah. Inilah Golden Water River, kanal berbentuk lengkung yang dibangun di depan istana utama sebagai simbol kesucian dan harmoni. Airnya berkilau diterpa sinar matahari, sementara jembatan-jembatan marmer putih, yang dikenal dengan sebutan Golden Water Bridge, membentang anggun di atasnya. Dari atas jembatan ini, aku bisa merasakan bagaimana dulu kaisar dan rombongan istananya berjalan dengan penuh wibawa, melangkah menuju jantung kekuasaan Tiongkok.

Pemandangan pertama saat masuk Forbidden City via Meridien Gate

Golden Water River

Golden Water River

Setelah melewati jembatan, bangunan besar dengan atap kuning emas langsung berdiri megah di hadapan. Banyak turis berhenti di sini untuk berfoto, termasuk aku, karena suasananya benar-benar ikonik. Bangunan yang kulihat itu adalah Gate of Supreme Harmony (Taihe Men), gerbang menuju halaman terdalam istana. Letaknya tepat setelah Golden Water Bridge, sebelum akhirnya mencapai aula tertinggi, yaitu Hall of Supreme Harmony (Taihe Dian) di belakangnya.

Gate of Supreme Harmony dulu berfungsi sebagai pintu masuk resmi menuju area upacara besar. Di sinilah pejabat istana berkumpul, menunggu panggilan, atau menata barisan sebelum kaisar tampil di depan rakyatnya. Bentuknya khas arsitektur kekaisaran Tiongkok yaitu atap bersusun dengan ubin kuning (warna khusus kaisar), pilar merah besar yang menopang bangunan, serta detail ukiran berwarna hijau, biru, dan emas yang membuatnya tampak megah.

Gate of Supreme Harmony (Taihe Men)

Berdiri di depan bangunan ini, aku benar-benar merasa seperti dibawa kembali ke masa lalu. Rasanya luar biasa membayangkan bahwa di halaman ini dulu ribuan pejabat berdiri dengan penuh khidmat, menantikan perintah dari seorang kaisar yang dianggap sebagai "Putra Langit". Tak heran kompleks ini disebut Forbidden City atau Kota Terlarang, karena dulunya rakyat biasa tidak boleh sembarangan masuk. Hanya keluarga kekaisaran, pejabat tinggi, atau orang tertentu yang punya izin. Warna merah pada dindingnya melambangkan keberuntungan, sedangkan kuning di atap menjadi simbol kekuasaan kaisar. Kini, tempat ini telah berubah menjadi Palace Museum, situs warisan dunia UNESCO, sekaligus salah satu destinasi wisata paling ramai di Beijing.

Gate of Supreme Harmony (Taihe Men)

Pada bagian dalam Gate of Supreme Harmony, terdapat lorong luas dengan dinding merah menjulang tinggi di kanan-kiri, pintu-pintu kayu besar berwarna merah tua dengan paku emas yang berbaris rapi, khas arsitektur kekaisaran Tiongkok. Selain itu, dari sini juga terlihat jelas halaman utama yang mengarah ke Hall of Supreme Harmony (Taihe Dian), bangunan paling utama dan paling megah dari Forbidden City.

Gate of Supreme Harmony (Taihe Men)

Begitu melewati Gate of Supreme Harmony dan berjalan maju, pandangan langsung tersedot pada bangunan yang jauh lebih besar dan megah di hadapan: Hall of Supreme Harmony atau Taihe Dian. Dari kejauhan saja sudah terasa aura wibawanya. Atapnya berlapis kuning keemasan, menjulang dengan lekukan khas arsitektur istana Tiongkok yang simetris sempurna. Tiang-tiang merahnya berdiri tegak menopang balok-balok kayu berukir warna biru, hijau, dan emas, berpadu indah seakan seluruh detailnya dibuat untuk menunjukkan kebesaran kekaisaran.

Hall of Supreme Harmony atau Taihe Dian

Di depan aula terbentang lapangan luas berlapis batu, tempat ribuan pengunjung hari ini berjalan berdesakan. Tangga marmer putih yang menjulur ke atas menuju pintu utama memberi kesan sakral, apalagi dihiasi dengan ukiran naga yang seakan mengawal setiap langkah. Sementara itu di sisi-sisi halaman terlihat bejana perunggu raksasa, dulunya dipakai sebagai wadah air darurat untuk memadamkan kebakaran, tapi kini lebih seperti hiasan bersejarah yang menambah kesan agung.

Hall of Supreme Harmony sendiri adalah bangunan terbesar dan terpenting di Forbidden City. Di sinilah tahta kaisar berada, di ruangan megah dengan langit-langit tinggi berukiran naga emas. Aula ini dipakai untuk upacara-upacara paling sakral seperti penobatan kaisar, perayaan ulang tahun, atau penerimaan duta besar dari negeri-negeri jauh. Bisa kubayangkan dulu ribuan pejabat berdiri berbaris di pelataran ini, sementara sang kaisar duduk di singgasananya yang disebut Dragon Throne, seluruh pandangan tertuju padanya.

Hall of Supreme Harmony atau Taihe Dian

Hall of Supreme Harmony atau Taihe Dian

Sejarah mencatat, Hall of Supreme Harmony pertama kali dibangun pada awal Dinasti Ming (abad ke-15), lalu berkali-kali terbakar dan dibangun ulang. Versi yang berdiri sekarang merupakan hasil rekonstruksi pada Dinasti Qing. Dari masa ke masa, bangunan ini tetap menjadi simbol tertinggi kekuasaan kaisar, seakan-akan satu pusat semesta Tiongkok kala itu.

Aku berjalan menaiki tangga marmer putih yang menjulang tinggi menuju Hall of Supreme Harmony, bangunan paling megah di seluruh Forbidden City. Dari bawah saja sudah terasa wibawanya. Atapnya bertingkat tiga dengan ubin kuning keemasan, tiang-tiang kayu raksasa berwarna merah darah naga, dan detail ukiran yang begitu rumit. Ribuan orang di sekelilingku berdesakan, semua ingin menuju pintu utama untuk melihat apa yang ada di dalam.

Namun, begitu aku sampai di depan pintu, barulah sadar: ternyata kita tidak bisa masuk ke dalam aula ini. Hanya bisa mengintip dari balik pagar kayu, berdiri bersama puluhan turis lain, kamera diangkat tinggi-tinggi berharap menangkap sedikit sudut interior. Awalnya agak kecewa, tapi semakin kupikir wajar juga—bagian dalamnya sangat berharga, terlalu sakral untuk dibiarkan terinjak-injak jutaan kaki pengunjung.

Dari luar, aku bisa melihat sekilas isi aula. Di bagian tengah ada Dragon Throne—tahta naga sang kaisar—berdiri gagah di atas panggung berlapis marmer putih. Kursinya berornamen naga emas, dengan ukiran yang detailnya benar-benar luar biasa. Langit-langit di atas tahta dihiasi panel kayu berlapis emas dengan ukiran naga berpilin di sekitar mutiara api, simbol kekuasaan dan langit. Lampion-lampion besar tergantung, warnanya merah dan emas, menambah suasana megah.

Berpose mengabadikan momen di Hall of Supreme Harmony atau Taihe Dian

Puas melihat-lihat dengan berdesak-desakan, aku turun dan mengitari bagian samping Hall of Supreme Harmony. Mataku tertuju pada sebuah benda besar dari perunggu berwarna hijau tua, berdiri kokoh di atas landasan marmer. Bentuknya unik, bertiga kaki gemuk dengan badan bulat besar dan pegangan di samping, semacam guci raksasa tapi jelas bukan guci biasa. Aku browsing, inilah yang disebut ding, bejana perunggu kuno yang dulu dipakai untuk menyalakan api atau membakar dupa di lingkungan istana.

Ding, bejana perunggu kuno yang dulu dipakai untuk menyalakan api atau membakar dupa di lingkungan istana

Membayangkannya, aku seperti bisa melihat asap tipis mengepul dari dalam bejana ini ratusan tahun lalu, menambah khidmat suasana upacara kekaisaran. Di balik fungsi praktisnya, ternyata ding punya makna simbolis yang dalam yaitu lambang kekuasaan dan legitimasi kaisar. Semakin banyak dan besar bejana seperti ini, semakin tinggi pula wibawa sang penguasa.

Keluar dari Hall of Supreme Harmony (Taihe Dian), aku disambut halaman besar dengan tiga bangunan penting berjajar lurus ke utara. Tiga aula ini dikenal sebagai Trilogi Harmoni yaitu Hall of Central Harmony (Zhonghe Dian), Hall of Preserving Harmony (Baohe Dian), dan tentu saja aula utama yang sudah kulewati tadi, Hall of Supreme Harmony.

Bangunan pertama yang kutemui adalah Hall of Central Harmony (Zhonghe Dian). Dari luar, ukurannya memang jauh lebih kecil dibanding Taihe Dian, tapi posisinya sangat strategis—tepat di tengah poros utama kompleks. Dahulu, kaisar selalu berhenti di sini sebelum menghadiri upacara besar. Fungsinya semacam ruang tunggu sekaligus tempat persiapan, di mana ia duduk di singgasananya, memeriksa dokumen terakhir, menerima briefing singkat dari pejabat istana, dan menenangkan diri sebelum tampil di hadapan ribuan pejabat. Jadi meskipun kecil, Zhonghe Dian punya makna simbolis yaitu pusat keseimbangan dan harmoni.

Hall of Central Harmony (Zhonghe Dian - kiri) dan Hall of Preserving Harmony (Baohe Dian - kanan)

Aku berusaha mendekat, tapi jujur saja, kakiku sudah mulai menjerit. Dari Tiananmen Square, antrean yang super panjang, melewati lapisan gerbang keamanan, lalu terus berjalan di halaman luas—semuanya membuat telapak kakiku terasa perih, seperti ditusuk-tusuk. Akhirnya aku menyerah sebentar, cari tempat agak sepi, duduk leyeh-leyeh sambil minum air dan makan snack kecil yang kubawa. Rasanya nikmat sekali bisa rebahan walau cuma sebentar.

Saking capeknya, aku sempat nekat lepas sepatu. Pijit-pijit telapak kaki yang rasanya panas dan kaku, tapi begitu angin dingin menyentuh kulit, rasanya langsung menggigil! Ga kuat, buru-buru kupakai lagi sepatuku sambil ketawa miris dalam hati. Duduk lebih lama pun bikin tubuh semakin dingin karena angin di pelataran luas ini tak henti-hentinya berhembus. Aku jadi sadar betul: kebiasaanku di Surabaya yang jarang jalan kaki bikin kakiku “kaget” berat. Sekali traveling, sekali jalan panjang, langsung ambruk wkwk.

Setelah cukup istirahat, aku melangkah lagi ke aula berikutnya yaitu Hall of Preserving Harmony (Baohe Dian). Nah, aula ini punya sejarah yang agak unik. Pada masa Dinasti Ming, aula ini digunakan sebagai ruang perjamuan agung, terutama menjelang tahun baru Imlek, di mana kaisar menjamu pangeran dan bangsawan. Sementara pada masa Dinasti Qing, fungsinya berubah—di sinilah diselenggarakan ujian kenegaraan tingkat akhir untuk memilih pejabat sipil terbaik dari seluruh Tiongkok. Bayangin aja, para sarjana muda datang dari berbagai penjuru negeri, lalu duduk di aula megah ini untuk mengerjakan soal ujian. Pemenangnya bisa langsung jadi pejabat tinggi negara. Jadi Baohe Dian itu ibaratnya “ruang sidang kelulusan” yang menentukan masa depan seseorang.

Hall of Preserving Harmony (Baohe Dian)

Di sekitar aula juga terdapat benda-benda monumental yang bikin aku berhenti sejenak karena penasaran, yaitu bejana-bejana perunggu raksasa berhiaskan kepala naga emas. Dulu, bejana ini dipakai sebagai wadah air untuk antisipasi kebakaran istana. Karena seluruh bangunan terbuat dari kayu, api menjadi ancaman terbesar. Ada lebih dari 300 bejana seperti ini tersebar di seluruh kompleks, dan sampai sekarang masih bisa dilihat megahnya. Orang-orang antre untuk melihat lebih dekat, ada juga yang usil mengelus kepala naga emasnya karena dipercaya membawa keberuntungan.

Bejana 

Semakin jauh berjalan, semakin aku sadar betapa detailnya setiap bangunan. Tiang-tiang merah menjulang menopang atap kuning bergaya istana, ukiran naga dan awan memenuhi balok-balok kayu, dan pintu-pintu berlapis cat emas menampilkan pahatan naga dengan detail luar biasa. Semuanya bukan sekadar hiasan, tapi simbol kekuasaan dan keagungan kaisar yang dianggap sebagai “Putra Langit”.

Namun di balik kekaguman itu, kakiku makin terasa berat. Setiap langkah seperti melawan rasa sakit. Aku sempat duduk lagi di tepian tangga, minum sedikit, mengunyah sisa snack, sambil melihat lautan manusia yang juga kelelahan. Rasanya lucu, di satu sisi aku sedang ada di salah satu situs sejarah terbesar dunia, tapi di sisi lain, tubuhku hanya ingin pulang, tidur, dan rendam kaki di air hangat.

Hall of Preserving Harmony (Baohe Dian)

Jalan menurun panjang setelah Hall of Preserving Harmony (Baohe Dian). Dari sini jalurnya lurus menuju Gate of Heavenly Purity (Qianqing Men) yang menjadi pintu masuk ke Inner Court.

Begitu keluar dari Hall of Preserving Harmony (Baohe Dian), ternyata sebenarnya penjelajahan di Forbidden City ini belum selesai. Apa yang baru kulalui barusan masih bagian Outer Court, yaitu area resmi tempat berlangsungnya upacara kenegaraan dan pemerintahan. Sementara itu, di sisi utara kompleks masih terbentang Inner Court, bagian paling privat yang menjadi kediaman keluarga kekaisaran.

Qianqing Gate (Gate of Heavenly Purity) yang merupakan pintu gerbang utama menuju Inner Court di Forbidden City. Gerbang ini jadi pemisah simbolis antara Outer Court (ruang publik tempat upacara kenegaraan, sidang resmi, dan pertunjukan kekuasaan) dengan Inner Court (ruang pribadi, tempat tinggal kaisar, permaisuri, selir, dan keluarga kekaisaran).

Inner Court terdiri dari tiga bangunan utama di garis sumbu utara-selatan. Pertama, Palace of Heavenly Purity (Qianqing Gong) yang dulunya menjadi kediaman Kaisar sekaligus tempat ia mengatur urusan sehari-hari dalam lingkup istana. Kedua, Hall of Union (Jiaotai Dian), aula kecil yang menghubungkan istana Kaisar dan Permaisuri, berfungsi sebagai tempat penyimpanan cap-cap kekaisaran, simbol legitimasi dan kekuasaan. Dan terakhir, Palace of Earthly Tranquility (Kunning Gong) yang semula merupakan kediaman Permaisuri, lalu pada masa Dinasti Qing dialihfungsikan untuk ritual penting, termasuk upacara pernikahan kaisar. Bagian ini aku eksplor dengan cepat karena rasa nyeri di kakiku semakin menjadi-jadi, seakan menagih protes karena aku jarang sekali olahraga jalan kaki selama di Surabaya, sementara disini langsung dibuat jalan kaki berkilo-kilometer sehari. Udara dingin Beijing juga membuat otot kaki cepat kaku. Aku sempat duduk berkali-kali, lepas sepatu sebentar, bahkan memijat-mijat telapak kaki, tapi dinginnya lantai batu membuatku tak bisa lama-lama.

Tak berhenti di situ, di ujung utara Forbidden City ternyata masih ada Imperial Garden (Yuhuayuan). Rasanya agak kontras sekali: setelah tadi berjam-jam melewati aula-aula besar yang megah, kaku, dan penuh wibawa kekaisaran, tiba-tiba aku masuk ke sebuah ruang yang lebih “manusiawi” — sebuah taman kecil di mana kaisar, permaisuri, dan keluarga istana dulu bisa bernapas lega, bersantai, bahkan sekadar jalan-jalan sore.

Hal pertama yang menarik mataku adalah sebuah pohon tua dengan batang hitam dengan bentuk batangnya berliku-liku, bercabang seperti naga yang sedang menari. Karena keunikan bentuknya, pohon ini diberi penyangga agar tetap bisa hidup stabil sampai sekarang. Itu bukan sembarang pohon — konon ini adalah pohon cypress kuno yang sudah berusia ratusan tahun. Aku membayangkan, pohon ini sudah ada sejak zaman Ming atau Qing, mungkin pernah menyaksikan langkah kaki kaisar terakhir Qing, Puyi, yang masih kecil berlari di bawah naungannya. Ada semacam aura “diam tapi tahu segalanya” dari batangnya yang bengkok itu. Dulu, taman ini jadi tempat kaisar, permaisuri, dan keluarga kerajaan berjalan santai, berdoa di kuil kecil, atau sekadar menikmati suasana alami setelah urusan pemerintahan di aula utama. Jadi, meskipun sudah melewati aula megah dan upacara agung, Forbidden City ditutup dengan nuansa teduh nan tenang di taman ini.

Pohon kuno di dalam Imperial Garden (Yuhuayuan), yang berada di bagian utara Forbidden City.

Tak jauh dari situ, berdiri sebuah batuan hias besar yang ditaruh di atas alas berpagar ukiran. Batuan ini bukan sekadar dekorasi: orang Tiongkok sejak dulu menganggap batu dengan bentuk unik, penuh lubang, dan berdiri gagah sebagai simbol kekuatan alam. Kaisar dan keluarganya bisa duduk-duduk di sekitar batu ini, seolah sedang “bertemu” dengan gunung dan alam liar, tanpa harus meninggalkan istana. Mungkin di sinilah mereka menemukan sedikit ilusi kebebasan dari dinding merah tinggi yang mengurung.

Taihu Rock atau Duxiu Rock (独秀石), salah satu elemen penting di taman istana zaman Ming dan Qing. Batu karst ini berasal dari Danau Taihu di Jiangsu, terkenal dengan bentuknya yang berongga, berliku, dan “aneh indah” sehingga dianggap puncak estetika batu taman tradisional Tiongkok.

Lalu ada juga sebuah paviliun kecil beratap indah, dengan tiang merah dan hiasan kayu berwarna emas-hijau. Paviliun ini dulunya tempat untuk beristirahat, membaca, atau sekadar menikmati teh sambil dikelilingi wangi bunga di musim semi. Dibanding aula megah seperti Hall of Supreme Harmony, paviliun ini terasa intim, seolah dirancang untuk percakapan pribadi, atau mungkin untuk momen-momen diam dalam kesendirian seorang kaisar.

Salah satu paviliun kecil dalam taman, contohnya Pavilion of Imperial Scenery (钦安殿) atau Paviliun Zhenshun, yang dibangun dengan gaya atap oktagonal (segi delapan) khas paviliun taman kekaisaran.

Di Imperial Garden ini, aku bisa merasakan sisi lain dari kehidupan istana — bukan sekadar simbol kekuasaan, tapi juga sisi manusiawi: tempat mereka mencari ketenangan, bermain dengan anak-anak, atau sekadar menatap langit biru. Ironisnya, justru di bagian terakhir inilah aku sendiri juga berhenti agak lama, ikut bersandar, mengistirahatkan kaki yang sudah nyeri, sambil membayangkan bagaimana rasanya jadi orang yang tinggal di balik dinding merah itu.

Imperial Garden ini bisa dibilang merupakan penutup dari kompleks Forbidden City. Berjalan ke utara lagi, aku melewati Gerbang Shenwu (Shenwumen / Gate of Divine Might) — pintu terakhir yang jadi jalur resmi keluar kompleks istana. Begitu melewati gerbang ini, langsung tersaji pemandangan parit besar berair biru yang mengelilingi seluruh Forbidden City, namanya Tongzi River. Oya rute untuk turis memang dibuat searah, masuk dari Gerbang Selatan, keluar dari Gerbang Utara. Jadi tidak bisa setengah-setengah eksplornya! Hehe..

Parit yang mengelilingi Forbidden City ini bukan cuma hiasan, tapi dulunya punya fungsi pertahanan. Bayangin aja, dinding merah raksasa setinggi belasan meter itu udah susah ditembus, ditambah lagi ada parit selebar ini mengelilingi, jelas bikin siapa pun yang berniat nyelonong masuk mikir dua kali. Airnya juga jadi semacam batas alami, menjaga kompleks dari kebakaran besar dan sekaligus menambah kesan megah dari luar.

Aku memilih duduk sebentar di taman dekat parit. Rasanya lega banget, habis menempuh ribuan langkah di dalam Forbidden City, akhirnya bisa istirahat. Kaki, betis, paha—semua protes barengan. Lagi asyik rebahan di bangku, mataku tiba-tiba tertuju ke penjual gulali tradisional di pinggir jalan. Dari kemarin aku penasaran sama jajanan ini, akhirnya rasa kepo terbayar.

Gulali itu bentuknya bulat-bulat, ditusuk seperti sate, dan diselimuti gula merah yang mengeras jadi lapisan karamel mengkilap. Begitu kugigit, lapisan gulanya crunchy, langsung pecah manisnya di mulut, lalu ketemu bagian buah di dalam yang agak asam-segar. Jadi rasanya unik banget: perpaduan manis legit dan asam seger, bikin nagih. Manisnya nggak kayak permen biasa, tapi lebih “jadul” dan natural.

Aku habiskan gulali sambil duduk, sesekali lihat air parit yang berkilau kena matahari siang. Badan udah agak pulih, meskipun kaki masih pegal, tapi hatiku semangat lagi. Dari sini, tujuan berikutnya udah jelas yaitu tinggal nyebrang dikit ke barat, masuk ke Beihai Park! Siap menyiksa kaki jilid 2! Wkwkwk...



Part Selanjutnya : DISINI