Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

6.13.2026

Sadar Setiap Hari (SSH) 23: Paññā (Kebijaksanaan) - Melihat Kehidupan Apa Adanya

 Jika ada satu kualitas batin yang paling sering dibicarakan dalam Buddhisme namun paling sering disalahpahami, mungkin itulah paññā atau kebijaksanaan. Banyak orang menganggap kebijaksanaan adalah kemampuan mengetahui banyak hal, memiliki pengetahuan luas, atau mampu memberikan nasihat yang terdengar dalam dan menginspirasi. Padahal dalam Buddhisme, kebijaksanaan memiliki makna yang jauh lebih mendasar daripada sekadar kecerdasan intelektual.

Seseorang bisa menguasai banyak bahasa, memiliki gelar akademik tinggi, membaca ratusan buku, bahkan menjadi pakar di bidangnya, namun tetap hidup dalam kecemasan, kemarahan, iri hati, dan berbagai bentuk penderitaan batin lainnya. Sebaliknya, ada orang-orang sederhana yang mungkin tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, tetapi mampu menjalani hidup dengan tenang, lapang, dan penuh penerimaan. Perbedaan di antara keduanya sering kali bukan terletak pada seberapa banyak yang mereka ketahui, melainkan pada seberapa dalam mereka memahami kehidupan.

Dalam bahasa Pali, paññā biasanya diterjemahkan sebagai kebijaksanaan atau pemahaman yang benar. Namun terjemahan tersebut sebenarnya belum sepenuhnya mampu menggambarkan maknanya. Paññā bukan sekadar mengetahui sesuatu, melainkan melihat sesuatu sebagaimana adanya. Ia adalah kemampuan untuk menembus lapisan-lapisan ilusi yang selama ini menutupi cara kita memandang dunia.

Kita sering mengira bahwa sumber penderitaan terletak di luar diri kita. Kita merasa tidak bahagia karena pekerjaan yang berat, pasangan yang tidak sesuai harapan, kondisi ekonomi yang belum ideal, atau berbagai masalah lain yang datang silih berganti. Namun menurut Buddhisme, akar penderitaan yang sesungguhnya bukan terletak pada keadaan eksternal, melainkan pada cara kita memandang dan bereaksi terhadap keadaan tersebut.

Buddha mengajarkan bahwa manusia hidup dalam ketidaktahuan atau avijjā. Ketidaktahuan ini bukan berarti tidak memiliki pendidikan atau tidak memahami ilmu pengetahuan. Ketidaktahuan yang dimaksud adalah ketidakmampuan melihat hakikat kehidupan sebagaimana adanya. Kita menganggap yang tidak kekal sebagai sesuatu yang dapat dipertahankan selamanya. Kita menganggap yang pada dasarnya tidak mampu memberikan kepuasan abadi sebagai sumber kebahagiaan permanen. Kita juga menganggap berbagai hal yang terus berubah sebagai "aku" dan "milikku".

Di sinilah kebijaksanaan berperan. Paññā perlahan membantu kita melihat bahwa segala sesuatu berada dalam arus perubahan yang tidak pernah berhenti. Tubuh berubah, perasaan berubah, hubungan berubah, kondisi ekonomi berubah, bahkan pandangan dan keyakinan kita sendiri berubah seiring waktu. Tidak ada satu pun yang benar-benar tetap.

Secara intelektual, hampir semua orang memahami hal ini. Semua orang tahu bahwa suatu hari mereka akan menua. Semua orang tahu bahwa orang yang dicintai suatu saat akan meninggal dunia. Semua orang tahu bahwa keberhasilan tidak berlangsung selamanya. Namun mengetahui dan memahami adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang mungkin mengetahui bahwa semua manusia akan menua, tetapi tetap panik ketika melihat kerutan pertama muncul di wajahnya. Seseorang mungkin memahami bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan, tetapi tetap hancur ketika sesuatu yang dicintainya pergi. Pengetahuan semacam ini masih berada di tingkat pikiran. Kebijaksanaan baru muncul ketika pemahaman tersebut benar-benar meresap ke dalam cara seseorang menjalani hidup.

Karena itulah dalam Buddhisme dikenal tiga tingkat kebijaksanaan. Tingkat pertama adalah kebijaksanaan yang diperoleh melalui belajar, membaca, atau mendengarkan ajaran. Tingkat kedua adalah kebijaksanaan yang lahir dari perenungan dan pemikiran mendalam. Sedangkan tingkat ketiga adalah kebijaksanaan yang muncul dari pengalaman langsung. Tingkat terakhir inilah yang dianggap paling penting.

Misalnya seseorang membaca bahwa kemarahan pada akhirnya hanya menyakiti dirinya sendiri. Itu adalah pengetahuan. Kemudian ia merenungkan pengalaman hidupnya dan menyadari bahwa setiap kali marah, justru dirinya yang paling menderita. Itu adalah pemahaman yang lebih dalam. Namun kebijaksanaan yang sesungguhnya baru muncul ketika suatu hari ia melihat kemarahan muncul dalam batinnya, menyaksikan bagaimana kemarahan itu membakar pikirannya, lalu perlahan mereda dan menghilang. Pada saat itulah ia memahami secara langsung sifat kemarahan, bukan lagi sebagai teori, tetapi sebagai kenyataan yang dialaminya sendiri.

Kebijaksanaan juga tidak berarti menjadi orang yang dingin dan tidak memiliki emosi. Ini adalah kesalahpahaman yang cukup umum. Banyak orang membayangkan bahwa orang bijaksana adalah orang yang tidak lagi merasa sedih, tidak pernah kecewa, tidak pernah marah, dan selalu tenang dalam segala keadaan. Gambaran tersebut sebenarnya kurang tepat.

Orang yang memiliki kebijaksanaan tetap bisa merasakan kesedihan ketika kehilangan orang yang dicintai. Ia tetap bisa merasa kecewa ketika rencananya gagal. Ia tetap bisa merasakan rasa takut, cemas, atau bahkan iri hati. Yang berbeda adalah hubungan mereka dengan emosi tersebut.

Ketika rasa iri muncul, misalnya, orang yang tidak memiliki kebijaksanaan biasanya langsung terbawa arus oleh emosi tersebut. Ia mungkin mulai membandingkan dirinya dengan orang lain, merasa tersaingi, atau diam-diam berharap orang lain gagal. Sebaliknya, orang yang memiliki kebijaksanaan mampu melihat bahwa rasa iri sedang muncul di dalam batinnya. Ia tidak perlu menyangkal atau membencinya. Ia hanya melihatnya dengan jernih.

Kesadaran sederhana semacam itu sering kali menjadi awal dari kebebasan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebijaksanaan sering muncul dalam bentuk yang sangat sederhana. Ketika seseorang mengkritik kita, kebijaksanaan membantu kita membedakan antara kritik yang berguna dan kritik yang memang tidak perlu dipedulikan. Ketika mengalami kegagalan, kebijaksanaan membantu kita melihat bahwa kegagalan tersebut hanyalah satu peristiwa dalam perjalanan hidup yang panjang, bukan definisi dari diri kita. Ketika melihat orang lain lebih sukses, lebih kaya, atau lebih beruntung, kebijaksanaan membantu kita memahami bahwa kebahagiaan bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan.

Semakin seseorang bertumbuh dalam kebijaksanaan, semakin ia menyadari bahwa sebagian besar penderitaan berasal dari kemelekatan. Kita melekat pada berbagai hal seperti uang, status, hubungan, reputasi, bahkan identitas yang kita bangun tentang diri sendiri.

Seseorang yang melekat pada identitas sebagai orang pintar akan merasa terganggu ketika bertemu orang yang lebih pintar. Seseorang yang melekat pada identitas sebagai orang sukses akan merasa terancam ketika orang lain melampauinya. Kebijaksanaan tidak menghilangkan identitas-identitas tersebut. Ia hanya membantu kita melihat bahwa semua itu bukanlah inti diri yang sesungguhnya. Semua itu hanyalah peran yang kita jalani untuk sementara waktu.

Pada akhirnya, kebijaksanaan bukanlah kemampuan menjawab semua pertanyaan tentang kehidupan. Justru sering kali kebijaksanaan membuat seseorang lebih rendah hati karena ia menyadari betapa banyak hal yang tidak diketahuinya. Kebijaksanaan bukan membuat hidup menjadi sempurna, melainkan membuat kita mampu hidup berdampingan dengan ketidaksempurnaan.

Orang yang bijaksana tetap menghadapi masalah, tetap mengalami kehilangan, tetap menua, dan suatu hari tetap akan meninggal dunia. Namun ia tidak lagi berperang dengan kenyataan tersebut. Ia memahami bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan, bahwa kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti, dan bahwa tidak ada satu pun yang bisa digenggam selamanya.

Mungkin itulah mengapa dalam Buddhisme, paññā dianggap sebagai puncak dari jalan spiritual. Bukan karena kebijaksanaan membuat seseorang menjadi lebih hebat daripada orang lain, tetapi karena kebijaksanaan memungkinkan seseorang melihat kehidupan dengan jernih. Dan ketika seseorang mulai melihat dengan jernih, banyak penderitaan yang selama ini terasa begitu besar perlahan kehilangan kekuatannya.


Contoh dalam kehidupan sehari-hari:

Ketika mendengar kata kebijaksanaan, banyak orang membayangkan sesuatu yang tinggi dan sulit dicapai. Padahal dalam praktiknya, paññā justru hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Kebijaksanaan bukan hanya ditemukan di ruang meditasi atau dalam kitab-kitab kuno, tetapi juga dalam cara kita menghadapi pekerjaan, hubungan, uang, kesehatan, dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya ketika terjebak kemacetan. Tanpa paññā, seseorang mungkin akan menghabiskan waktu dengan mengeluh, marah, membunyikan klakson berulang kali, atau menyalahkan keadaan. Dengan paññā, seseorang menyadari bahwa kemacetan sudah terjadi dan kemarahannya tidak akan membuat jalan menjadi lebih lancar. Ia mungkin tetap merasa kesal, tetapi tidak menambah penderitaan dengan perlawanan batin yang tidak perlu.

Contoh lain adalah ketika menerima kritik dari orang lain. Tanpa kebijaksanaan, kritik sering dianggap sebagai serangan terhadap harga diri sehingga memunculkan kemarahan atau keinginan untuk membalas. Dengan paññā, seseorang mampu melihat kritik secara lebih objektif. Jika kritik tersebut benar, ia dapat mengambil pelajaran darinya. Jika tidak benar, ia dapat melepaskannya tanpa perlu menyimpan dendam.

Dalam urusan keuangan, paññā membantu seseorang membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika melihat barang yang menarik atau promo yang menggiurkan, seseorang yang memiliki kebijaksanaan tidak langsung mengikuti dorongan sesaat. Ia bertanya kepada dirinya sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya keinginan yang muncul karena emosi sesaat.

Kebijaksanaan juga berperan ketika kita membandingkan diri dengan orang lain. Di era media sosial, sangat mudah merasa tertinggal setelah melihat teman membeli rumah baru, memperoleh promosi jabatan, atau berlibur ke tempat-tempat yang kita impikan. Tanpa paññā, perbandingan tersebut dapat menimbulkan iri hati dan ketidakpuasan. Dengan paññā, seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda dan kebahagiaan tidak dapat diukur hanya dari apa yang tampak di layar ponsel.

Dalam hubungan dengan orang yang dicintai, paññā membantu kita memahami bahwa setiap orang memiliki pikiran, perasaan, dan pilihan hidupnya sendiri. Kita tidak dapat mengendalikan pasangan, anak, sahabat, ataupun anggota keluarga sesuai keinginan kita. Semakin kita memaksakan harapan yang tidak realistis, semakin besar pula potensi kekecewaan yang muncul. Kebijaksanaan mengajarkan keseimbangan antara mencintai dan melepaskan.

Ketika menghadapi penuaan, paññā juga menjadi penuntun yang berharga. Tubuh yang dulu kuat perlahan berubah. Rambut memutih, tenaga berkurang, dan berbagai keluhan fisik mulai muncul. Tanpa kebijaksanaan, perubahan ini dapat menjadi sumber ketakutan dan penolakan. Dengan paññā, seseorang memahami bahwa penuaan bukanlah kegagalan, melainkan bagian alami dari kehidupan yang dialami oleh semua makhluk.

Bahkan ketika menghadapi kehilangan, kebijaksanaan tetap memiliki peran yang penting. Kehilangan pekerjaan, berakhirnya hubungan, menurunnya kondisi kesehatan, atau wafatnya orang yang dicintai tetap akan menimbulkan kesedihan. Paññā tidak menghilangkan rasa sedih tersebut, tetapi membantu kita memahami bahwa kehilangan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Dengan demikian, kita dapat berduka tanpa tenggelam dalam keputusasaan.

Paññā bukanlah kemampuan untuk menghindari semua masalah, melainkan kemampuan untuk menghadapi masalah dengan cara yang lebih jernih. Kebijaksanaan tidak membuat hidup menjadi bebas dari penderitaan, tetapi membantu kita mengurangi penderitaan yang sebenarnya berasal dari cara kita memandang dan bereaksi terhadap kehidupan. Semakin paññā berkembang, semakin kita mampu menjalani hidup dengan tenang, lapang, dan penuh penerimaan terhadap segala sesuatu yang datang dan pergi.

6.11.2026

[PART 16] Menggapai Himalaya : Bhaktapur, Kota Tercantik di Lembah Kathmandu!

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                           Part Sebelumnya: DISINI

Aku di Bhaktapur Durbar Square, Nepal

Kunjungan ke Swayambhunath pada sore hari sebelumnya akhirnya menutup eksplorasi kami di Kathmandu. Memang, waktu yang kami miliki di ibu kota Nepal ini sangat terbatas. Kami hanya mengalokasikan satu hari penuh untuk menjelajahi kawasan kota tua, mulai dari lorong-lorong Thamel yang ramai, kompleks bersejarah Kathmandu Durbar Square, hingga perbukitan tempat Swayambhunath berdiri mengawasi seluruh Lembah Kathmandu dari kejauhan.

Pagi itu kami kembali bangun dengan semangat baru. Hari ini petualangan akan berlanjut ke Nagarkot, sebuah kota kecil di perbukitan timur Kathmandu yang terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk menikmati panorama Pegunungan Himalaya.

Namun kami tidak terburu-buru menuju Nagarkot.

Ada satu tempat yang sejak awal sudah masuk dalam daftar kunjungan wajib kami selama berada di Nepal.

Bhaktapur Durbar Square.

Jika Kathmandu Durbar Square sering dianggap sebagai jantung sejarah Nepal, maka Bhaktapur Durbar Square bisa dibilang sebagai mahakaryanya.

Dari Thamel menuju Bhaktapur jaraknya sekitar 15 kilometer. Di peta terlihat dekat, tetapi seperti biasa di Nepal, jarak tidak selalu berbanding lurus dengan waktu tempuh. Jalanan Kathmandu yang padat, sempit, serta dipenuhi kendaraan membuat perjalanan bisa memakan waktu hampir satu jam dengan sepeda motor.

Untungnya pagi itu lalu lintas belum terlalu padat.

Kami pun melaju meninggalkan kawasan wisata Thamel yang mulai ramai oleh backpacker dan toko-toko perlengkapan trekking. Perlahan suasana kota tua Kathmandu berganti menjadi kawasan permukiman yang lebih padat. Jalanan dipenuhi sepeda motor, minibus lokal, becak, pejalan kaki, hingga truk-truk kecil yang sesekali mengeluarkan kepulan debu ketika melintas.

Di beberapa sudut terlihat kuil-kuil kecil berdiri di tengah permukiman. Tidak jarang pula kami melewati stupa-stupa Buddha berwarna putih yang muncul begitu saja di pinggir jalan. Pemandangan seperti itu sangat umum di Nepal. Bangunan keagamaan seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Semakin menjauh dari pusat Kathmandu, lalu lintas mulai sedikit longgar. Dari atas motor aku bisa melihat hamparan lembah yang dikelilingi perbukitan hijau. Rumah-rumah bata merah khas Nepal berdiri rapat di berbagai sisi jalan, sementara aktivitas pagi warga sudah berjalan seperti biasa. Ada yang membuka toko, mengangkut barang dengan sepeda, hingga sekadar duduk berbincang di depan rumah.

Perjalanan menuju Bhaktapur terasa menyenangkan karena untuk pertama kalinya aku bisa melihat kehidupan sehari-hari warga Nepal di luar kawasan wisata utama.

Sekitar satu jam kemudian kami akhirnya tiba di Bhaktapur.

Kesan pertamaku sederhana.

Cantik.

Bahkan sebelum memasuki kawasan Durbar Square, suasananya sudah terasa berbeda dibandingkan Kathmandu. Jalan-jalan kecil berbatu, rumah-rumah bata merah berusia ratusan tahun, jendela-jendela kayu berukir khas Newari, serta minimnya bangunan modern membuatku merasa seperti sedang melangkah masuk ke masa lalu.

Bhaktapur sendiri merupakan salah satu dari tiga kota kerajaan kuno yang pernah menguasai Lembah Kathmandu, bersama Kathmandu dan Patan. Kota ini mencapai masa kejayaannya pada abad ke-14 hingga ke-15 ketika menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat kebudayaan Kerajaan Malla.

Nama Bhaktapur berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "Kota Para Penganut Bhakti" atau "Kota Para Pemuja". Selama berabad-abad kota ini berkembang menjadi salah satu pusat seni, arsitektur, dan kebudayaan terpenting di Nepal.

Ketika kerajaan Nepal masih terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil, para raja Malla berlomba-lomba membangun kuil, istana, halaman kerajaan, dan berbagai monumen megah untuk menunjukkan kejayaan mereka. Hasil dari persaingan itulah yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.

Banyak orang bahkan menyebut Bhaktapur sebagai kota tua terindah di Nepal.

Dan setelah melihatnya sendiri, aku bisa memahami alasannya.

Jika Kathmandu terasa hidup, semrawut, dan penuh energi, maka Bhaktapur terasa jauh lebih utuh. Bangunan-bangunan tradisionalnya masih mendominasi hampir seluruh kawasan kota tua. Kendaraan bermotor juga jauh lebih sedikit. Suasananya lebih tenang, lebih tertata, dan lebih mudah membuat pengunjung membayangkan seperti apa kehidupan di Nepal beberapa ratus tahun yang lalu.

Tidak berlebihan jika kawasan ini sering disebut sebagai museum terbuka terbesar di Nepal.

Dan saat aku melangkahkan kaki memasuki Bhaktapur Durbar Square pagi itu, aku langsung merasa bahwa satu atau dua jam jelas tidak akan cukup untuk menjelajahi semua sudutnya.

***

Setelah hampir satu jam berkendara dari Thamel, perut kami mulai memberikan sinyal protes. Sejak pagi kami belum sempat sarapan yang benar-benar mengenyangkan. Maka sebelum mulai menjelajahi Bhaktapur Durbar Square, kami memutuskan mencari tempat makan terlebih dahulu di salah satu kafe kecil yang berada tidak jauh dari pintu masuk kawasan kota tua.

Sebuah pizza hangat berukuran sedang dan dua gelas es teh menjadi sarapan sekaligus makan siang kami hari itu. Mungkin terdengar aneh datang jauh-jauh ke Nepal lalu makan pizza, tetapi itulah salah satu hal yang kusukai dari perjalanan. Kadang yang paling diingat justru bukan makanan khasnya, melainkan momen sederhana ketika duduk santai setelah perjalanan panjang sambil menikmati makanan yang kebetulan lewat di depan mata.

Selesai menghabiskan pizza dan es teh, kami akhirnya melangkah masuk lebih jauh ke kawasan Bhaktapur Durbar Square. Semakin jauh berjalan, semakin aku mengerti mengapa banyak orang menyebut Bhaktapur sebagai kota tua tercantik di Nepal.

Bhaktapur sendiri merupakan salah satu dari tiga kota kerajaan kuno di Lembah Kathmandu, bersama Kathmandu dan Patan. Pada masa Kerajaan Malla, kota ini pernah menjadi pusat kekuasaan yang sangat penting sekaligus pusat seni dan budaya masyarakat Newari. Jejak kejayaan itu masih terlihat jelas hingga sekarang. Hampir setiap sudut kota dipenuhi bangunan bata merah, jendela kayu berukir, kuil-kuil kuno, serta halaman-halaman luas yang seolah tidak banyak berubah selama ratusan tahun.

Berjalan di Bhaktapur terasa seperti berjalan di dalam sebuah kota yang lupa menjadi modern.

Bangunan-bangunan tua berdiri berdampingan tanpa terganggu papan reklame besar atau gedung beton tinggi. Jalanannya masih menggunakan bata merah. Banyak warga lokal yang duduk santai di teras rumah, bercengkerama, atau sekadar mengamati wisatawan yang lalu-lalang.

Yang membuatku semakin terkesan adalah suasana kota ini terasa sangat hidup. Bhaktapur bukan kawasan bersejarah yang dibangun ulang khusus untuk turis. Ini adalah kota tua yang benar-benar masih dihuni dan digunakan oleh masyarakat sehari-hari.

Di tengah kawasan durbar square berdiri berbagai bangunan bersejarah yang usianya mencapai ratusan tahun. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah paviliun kayu bertingkat bergaya pagoda yang berdiri di tengah alun-alun. Detail ukiran kayunya luar biasa rumit. Hampir tidak ada bagian bangunan yang dibiarkan polos. Setiap sudut, tiang, dan bingkai jendela dipenuhi pahatan yang menunjukkan betapa tingginya kemampuan para pengrajin Newari pada masa itu.

Ketika aku berkunjung, proses pemulihan pasca Gempa Nepal 2015 masih berlangsung. Beberapa kuil terlihat disangga balok-balok kayu besar. Tumpukan bata masih terlihat di beberapa sudut lapangan. Ada bangunan yang sedang direstorasi dan ada pula yang masih menunggu giliran diperbaiki.

Namun anehnya, pemandangan itu tidak mengurangi keindahan Bhaktapur. Justru sebaliknya.

Tumpukan bata dan penyangga kayu itu seperti menjadi pengingat bahwa kota ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan budaya yang sedang diperjuangkan agar tetap hidup.

Kami terus berjalan menyusuri alun-alun. Sesekali berhenti untuk memotret kuil, mengamati ukiran kayu, atau memperhatikan detail-detail kecil yang mungkin terlewat jika berjalan terlalu cepat.

Di salah satu sudut, aku menemukan deretan toko yang menjual berbagai kerajinan logam khas Nepal. Patung Buddha, mangkuk singing bowl, lonceng kuil, lampu minyak, hingga berbagai ornamen perunggu dipajang memenuhi etalase. Cahaya matahari siang yang memantul dari permukaan logam membuat jalanan kecil itu terlihat begitu menarik.

Tidak jauh dari sana, seekor kambing berbulu putih sedang berbaring santai di atas pondasi bata tua. Tidak ada yang memperhatikannya. Orang-orang berlalu lalang begitu saja, seolah keberadaannya merupakan bagian alami dari pemandangan kota.

Dan mungkin memang begitu.

Nepal adalah salah satu negara paling unik yang pernah aku kunjungi. Di sini, kuil berusia ratusan tahun, kambing yang tidur di tengah situs bersejarah, pedagang suvenir, wisatawan asing, dan warga lokal bisa berbagi ruang yang sama tanpa terlihat janggal sedikit pun.

Semua terasa berjalan dengan ritmenya sendiri.

Semakin lama berada di Bhaktapur, semakin aku merasa bahwa daya tarik Nepal bukan hanya terletak pada Himalaya atau Gunung Everest. Justru yang membuat negara ini begitu berkesan adalah bagaimana sejarah, budaya, agama, dan kehidupan sehari-hari masih menyatu secara alami dalam satu ruang yang sama.

6.09.2026

[PART 15] Menggapai Himalaya : Menatap Kathmandu dari Puncak Swayambhunath..

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

       Part Sebelumnya: DISINI 


Motor matik kami kembali berjalan menembus kepadatan Kota Kathmandu. Motor, mobil, manusia, bangunan usang, debu saling bercampur di jalanan kota yang nyaris tanpa lampu pengatur lalu lintas ini. Untaian kabel-kabel melilit di tiang listrik yang ukurannya tidak seberapa. Matahari bersinar menyengat, klakson motor bersahut-sahutan. Pemandangan yang cukup klasik dan biasa di Kathmandu. Kami sudah terbiasa.

Semakin lama jalanan yang kami lewati terasa semakin menanjak. Rumah-rumah penduduk berjajar di sepanjang jalanan aspal yang cukup halus ini. Setelah setengah jam berkendara, kami telah sampai di Stupa Swayambunath. Tidak seperti sebelumnya, disini kami bisa memarkir motor karena disediakan tempat parkir yang luas dan gratis. Rupaya Stupa Swayambunath berada di salah puncak Bukit Swayambhunath di Lembah Kathmandu.

Suasana stupa terlihat sangat tenang dan damai. Begitu masuk, pemandangan pertama yang kami lihat adalah sebuah kolam melingkar dengan patung Buddha ketika masih berusia belia di bagian tengahnya. Pada bagian bawah patung terdapat sebuah lempengan besi yang penuh dengan uang logam. Beberapa uang logam yang dilemparkan pengunjung meluncur masuk ke kolam. Aku sendiri kurang paham maksudnya untuk apa, mungkin sebagai bentuk persembahan, keberuntungan?

Kami melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam kuil. Menurutku Kuil Swayambunath ini sangat damai dan menarik. Di bagian bawah aku bisa melihat monyet-monyet berlompatan dan berenang dengan bebas. Turis lokal maupun turis asing saling berjajar di pagar untuk melihat aktraksi menarik tersebut.

Petualangan kami berlanjut ke puncak bukit Swayambunath. Karena posisi kuil yang berada di puncak, kita bisa melihat pemandangan Lembah Kathmandu dari atas. Bendera-bendera doa warna-warni berkibar tertiup angin gunung yang segar. Penjual berbagai pernak-pernik mulai dari alat bersembahyang umat Buddha (mulai dari patung Buddha berbagai ukuran, roda doa, kalung doa, cawan-cawan kuningan), lukisan minyak, kalung, gelang, topeng dengan berbagai macam ukiran, kartu pos, dan masih banyak lagi.

Menaiki anak tangga yang cukup banyak dan curam, akhirnya kami sampai di bagian atas kuil yang merupakan tempat ziarah utama yakni Stupa Swayambhunath. Sebuah mandala berbentuk setengah bola berwarna putih menjadi alas bagi Stupa Swayambunath. Di sekeliling mandala terlihat dikelilingi oleh pagar dan roda doa. Bendera-bendera doa saling dibentangkan dari ujung stupa ke sekeliling arah, menyebarkan mantra-mantra yang diharapkan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi makhluk hidup di dunia. Berdasarkan tulisan di lempengan sekitar stupa, untuk melakukan ziarah mengelilingi stupa atau memutar roda doa diharapkan searah dengan jarum jam.

Dari stupa kami beranjak ke bagian ujung kuil yang langsung menghadap pegunungan dan Lembah Kathmandu. Pemandangan sangat indah dan damai, ditambah cuaca sedang sedikit mendung sehingga kami terhindar dari terik matahari. Ribuan rumah berbentuk kotak-kotak bertumpuk di Lembah Kathmandu. Banyak bangunan bertingkat-tingkat disini, mungkin seperti rumah susun. 

Aku memandang ke bawah, aku memandang ke gunung. Hatiku berdesir, hatiku bahagia. Terimakasih Tuhan telah mengizinkanku kesini.

Kolam dengan patung Buddha di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Monyet-monyet berlompatan dan berenang di kolam (GALUH PRATIWI)

Naik puluhan anak tangga menuju puncak bukit (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Buddha Siddharta Gautama (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Berfoto bersama penjual lukisan minyak (GALUH PRATIWI)

Stupa Swayambhunath yang berwarna kuningan dengan lukisan Buddha (GALUH PRATIWI)

Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Stupa Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Langit mendung menggelayuti Lembah Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Bendera doa berkibar tertiup angin (GALUH PRATIWI)

PBendera doa berisi mantra-mantra. Ketika berkibar tertiup angin diharapkan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi dunia (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

[PART 14] Menggapai Himalaya : Mengitari Boudhanath, Jantung Buddhisme Tibet di Nepal !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                           Part Sebelumnya: DISINI

Stupa Boudhanat sedang dalam renovasi setelah gempa dahsyat pada 25 April 2015

 Kathmandu kota yang cukup luas dan berdebu untuk ditelusuri dengan berjalan kaki. Karena jujur, tersesat di kawasan Thamel saja sudah membuat kakiku gempor, apalagi kalau harus berjalan keliling kota untuk mengunjungi tempat-tempat menarik disini.

Sewa motor menjadi pilihan kami untuk menghemat tenaga sekaligus uang. Menghemat tenaga karena kami berencana akan mengunjungi beberapa tempat wisata yang lokasinya cukup berjauhan dari hostel tempat kami menginap. Menghemat uang karena jika tidak menggunakan motor sewaan/jalan kaki, satu-satunya transportasi ke tempat-tempat tersebut adalah taksi yang mematok harga 200-400 Npr (Rupee Nepal) sekali berangkat (sekitar Rp 20.000 sampai Rp 40.000). Apalagi jika dapat supir nakal yang suka mematok harga seenaknya ke turis asing, tambah apes lagi.

Cukup banyak persewaan motor yang berjajar di ruko-ruko padat Thamel. Setiap ruko menawarkan harga dan jenis motor yang berbeda-beda, tapi kebanyakan adalah motor matik, motor bajaj, dan motor tril. Paling murah tentunya motor matik.

Setelah berkeliling sesaat kami mendapatkan sewa motor yang menurut kami cukup murah, berada di sebuah ruko yang menjual bahan makanan di dekat Dharmadhaatu Stupa. Di depan ruko tersebut ada sebuah plang kecil bertuliskan "Rent Motorcycle". Pemiliknya lelaki Nepal bernama Mr. Sunil. Ramah dan informatif. Harga sewa motornya adalah 500 Npr/sampai sore. Cukup fair untuk sebuah motor matik (bentuknya seperti Honda Beat dengan perawakan yang lebih gemuk). Kami menyewa motor selama tiga hari. Hari ini berkeliling Kota Kathmandu, dua hari setelahnya untuk menuju Bhaktapur Durbar Square dan Nagarkot yang berada 32 kilometer di sebelah timur laut Kathmandu.

Motor matic yang kami sewa di Thamel. Plat nomornya gimana cara bacanya? Wkwk

Paspor adalah syarat yang diminta Mr. Sunil untuk menyewa motornya. Karena kami berdua dan pasporku akan kugunakan untuk check in di hotel Nagarkot nanti, temanku yang meninggalkan paspornya. Kami sempat mengecek dan menfoto kondisi motor sebelum diberi dua buah helm dan fotocopy surat kendaraan.

" Bagaimana jika kita melakukan pelanggaran lalu lintas dan polisi menangkap kita? Apakah fotocopy surat motor ini bisa digunakan?" tanyaku penasaran. Bagaimanapun aku tidak mau berurusan dengan birokrasi disini.

"Tenang saja. Bilang saja Mr. Sunil. Mereka (polisi) teman saya. Pasti akan baik-baik saja," jawab Mr. Sunil.

Antara percaya dan tidak percaya, aku pasrah. Kami akan berusaha mengemudi sebaik mungkin, menghindari melanggar lalu lintas. Setelah menanyakan arah keluar dari Thamel menuju jalan raya utama dan menerima dua buah helm, kami segera meninggalkan ruko Mr. Sunil.

Mungkin ini kesalahan terbesar kami. Menyewa motor tapi sama sekali tidak tau arah. Memang banyak informasi arah di Kathmandu (seperti papan hijau penunjuk arah di Indonesia), tetapi semuanya nama-nama asing yang belum pernah kudengar. Tujuan kami adalah Stupa Bouddhanat. Kami sama sekali tidak tau arah, hanya berputar-putar kesana kemari.

Debu Kota Kathmandu yang tebal dan menggumpal sedikit membuatku pusing. Aku mengusulkan ke travelmate untuk mencari ruko yang menjual kartu internet. Harus menggunakan google map. Susah sekali jalan tanpa arah dan tujuan seperti ini. Untung saja google bukanlah sesuatu yang diblokir di negara ini.

Setelah berputar-putar cukup lama, kami mendapati sebuah warung kelontong yang menjual kartu internet. Setelah bertanya-tanya cukup banyak tentang kartu internet terbaik di Nepal, kami disarankan menggunakan NCell. Katanya sinyal NCell bisa menjangkau sampai ke Nagarkot (tujuan kami besok). Tetapi karena untuk menggunakan kartu internet harus aktivasi dahulu, penjual warung tersebut - seorang lelaki muda Nepal berperawakan tinggi - menyarankanku untuk membeli kartu perdana sekaligus pulsa internet di konter NCell langsung. Kami mengikuti arahannya dan menemukan konter yang dimaksud.

Seperti di India, membeli kartu perdana di Nepal harus melewati prosedur yang lumayan ribet. Aku diharuskan memberikan paspor dan visa nepal untuk difotocopy, mengisi formulir yang meliputi data diri, memberikan foto close up (waktu kuberi foto dengan kertas foto tipis mereka sempat menolak). Setelah melalui proses yang lama, akhirnya mereka memberikanku kartu perdana seharga 150 Npr. Tentu saja itu hanya kartu perdana yang berisi pulsa reguler, aku masih harus membeli paket internet. Karena hanya untuk 3 hari, aku membeli paket internet 100Mb seharga 100 Npr. Penjaga konter mengaktivasi nomorku dan akhirnya aku bisa menggunakan internet!

Tetapi, bukan berarti masalah selesai....

" Aahh, sinyal internetnya hilang muncul terus!" kataku setengah emosi dari belakang motor.

"Sabar.....sabar.. Kita berhenti saja dulu buat nyari sinyal," kata travelmateku dengan sabar.

Aku pikir karena kita sudah membeli internet dengan kartu perdana terbaik disini, perjalanan akan lancar. Tapi ternyata perjalanan kami tersendat. Titik biru penunjuk lokasi di google map tidak mau jalan mengikuti laju motor.

Tujuan pertama kami adalah Stupa Boudhanath yang terletak di Kota Boudha, 6 kilometer sebelah timur Thamel. Sebenarnya cukup dekat dan cepat jika sinyal internet ini lancar, tidak hilang muncul seperti ini.

" Sampe pengen takbanting ni HPku," kataku lagi dengan kesal.

"Bukan salah HPmu kok. Santai aja bro," kata travelmateku lagi.

Setelah menunggu beberapa saat dan akhirnya titik biru di google map mau berjalan juga, kami melanjutkan perjalanan menuju Stupa Boudhannat. Tentu saja google map tidak selalu lancar, sehingga kami sempat tersesat sehingga harus bolak-balik jalan yang sama dua kali.

Melewati jalanan kecil berkelok-kelok dan berdebu, akhirnya sampai juga kami di Stupa Boudhannat. Aku cukup terkejut karena meskipun merupakan salah satu destinasi wisata utama di Kathmandu, tapi pintu masuk Stupa Boudhannat sangat kecil. Hampir tidak bisa dibedakan dari bangunan di sekitarnya. Stupa Buddha berwarna emas yang menjulang tinggi menjadi petunjuk kuat kami bahwa ini adalah tempatnya.

Karena tidak ada tempat parkir motor resmi, kami menitipkan motor pada lelaki tua penjaga ruko di depan Stupa Bouddhanat. Pasrah saja. Pasti semua akan baik-baik saja.

Kami menghabiskan waktu sekitar 45 menit di Stupa Boudhanath. Tidak ada biaya masuk yang ditarik sewaktu kami memasuki gerbang, padahal ada penjaga di pintu gerbang. Aku rasa disini mereka hanya mengandalkan kejujuran. Kamu jujur kamu bayar, demikian juga sebaliknya. Prinsip yang baik di sebuah negara yang percaya adanya karma.

Stupa Boudhanath bisa dibilang merupakan salah satu tempat paling suci di Nepal. Stupa ini mempunyai gelar stupa terbesar di Nepal, sekaligus Kuil Buddha Tibet tersuci di luar Tibet sendiri. Hal itu bisa terinterpretasi dari banyaknya simbol Buddhisme disini.

Stupa Boudhanath berbentuk persegi dengan mandala berbentuk setengah bola. Bagian utama stupa terlihat sedang direnovasi karena rusak akibat gempa dahsyat berskala 7,8 SR yang meluluhlantahkan Nepal pada 25 April 2015. Tapi rupanya itu sama sekali bukan penghalang, karena masih banyak umat Buddha yang menjalankan ritual mengelilingi stupa sembari berkomat-kamit dan memutar roda doa. Bagi mereka, perjalanan ini adalah suatu perjalanan devosional, perjalanan untuk menuju pencerahan. Kontras dengan kami para turis yang hanya berfoto disana-sini.

Pemandangan di sebelah kiri jalur jalan kaki peziarah didominasi oleh puluhan ruko, cafe, hostel, tempat yoga dan meditasi, restoran, bahkan tempat penukaran uang. Dua konsep berbeda yang dipaksakan berada di satu tempat yang sama.

Kami melangkahkan kaki searah jarum jam mengelilingi stupa. Tanganku beberapa kali memutar roda doa yang banyak terdapat di sekeliling stupa. Rasanya begitu damai dan tentram disini.

Kami memasuki bagian dalam stupa untuk menuju tingkat kedua. Pada bagian dalam, terdapat roda doa yang lebih besar dan tempat bersembahyang. Aku menikmati suasana religi yang benar-benar terasa disini. Bagaimanapun, ini adalah perjalanan yang indah.

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Setelah memberi 'uang parkir' 20 Npr kepada penjaga toko, kami mengarahkan motor ke barat menuju Swayambhunath Stupa. Jarak yang harus kami tempuh sekitar 10 kilometer. Terasa cukup jauh dengan keadaan Kathmandu yang cukup macet dan berdebu dimana-mana....

Stupa Swayambhunath, kami datang!

Memutar roda doa atau roda mani yang berisi mantra suci (GALUH PRATIWI)

Memutar roda doa harus searah jarum jam (GALUH PRATIWI)

Berziarah mengelilingi Stupa Boudhanat sembari membawa kalung doa (GALUH PRATIWI)

Kami mengikuti jalan para peziarah mengelilingi Stupa (GALUH PRATIWI)

Toko pernak-pernik untuk sembahyang umat Buddha (GALUH PRATIWI)

Berziarah seakan tidak memperdulikan keadaan sekitar yang ramai oleh turis (GALUH PRATIWI)

Kehidupan duniawi di sekitar Stupa Boudhanat (GALUH PRATIWI)

Memutar roda doa atau roda mani yang berisi mantra suci (GALUH PRATIWI)

Monasteri di dalam Stupa Boudhanat (GALUH PRATIWI)

Stupa Boudhanat sedang dalam renovasi setelah gempa dahsyat pada 25 April 2015 (GALUH PRATIWI)

Part Selanjutnya: DISINI

[PART 13] Menggapai Himalaya : Menjelajah Jantung Kota Tua Kathmandu !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                           Part Sebelumnya: DISINI

Bermain bersama merpati di Kathmandu Durbar Square, dengan latar salah satu kuil yang masih dalam proses pemulihan pasca gempa Nepal 2015

Menjelang pukul lima pagi, setelah hampir semalaman berguncang di jalanan pegunungan Nepal yang rusak dan berliku, bus akhirnya memasuki Kathmandu. Aku langsung menoleh ke luar jendela. Langit masih gelap kebiruan, sementara lampu-lampu jalan masih menyala samar. Jalanan terlihat lengang, jauh berbeda dengan bayanganku tentang ibu kota Nepal yang selama ini hanya kulihat dari foto dan cerita para backpacker.

Beberapa menit kemudian bus memasuki kawasan Thamel. Inilah kawasan yang sejak awal menjadi tujuan kami. Hampir semua backpacker yang datang ke Kathmandu pasti mengenal nama ini. Thamel adalah jantung wisata Kathmandu, tempat berkumpulnya hotel murah, agen trekking, restoran, money changer, hingga toko perlengkapan pendakian Himalaya.

Bus berhenti dan kami segera turun sambil memanggul ransel masing-masing.

Meski tidak tidur hampir semalaman, entah kenapa aku justru tidak merasa mengantuk. Atau mungkin lebih tepatnya, rasa kantuk itu kalah oleh rasa penasaran dan antusiasme. Ada kota baru yang menunggu untuk dieksplorasi. Ada pengalaman-pengalaman baru yang mungkin akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Udara pagi Kathmandu terasa jauh lebih dingin dibandingkan Lumbini. Aku langsung merapatkan jaket sambil berjalan menyusuri lorong-lorong Thamel yang masih sepi.

Suasananya terasa unik.

Deretan toko berjajar di kanan kiri jalan dengan pintu rolling door yang masih tertutup rapat. Beberapa papan nama hotel, restoran, money changer, dan toko perlengkapan gunung menggantung di atas jalan sempit yang hampir kosong. Sesekali terlihat satu dua orang berjalan kaki, sementara sebagian besar kota tampaknya masih tertidur.

Kami berjalan perlahan sambil mencari penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Saat itu GPS di ponsel belum secanggih sekarang dan internet juga tidak selalu tersedia. Jadi kami beberapa kali berhenti untuk mencocokkan alamat yang kami bawa dengan papan-papan nama yang ada di sepanjang jalan.

Akhirnya penginapan itu ditemukan.

Sayangnya ada satu masalah kecil.

Pintunya masih tertutup rapat.

Aku melihat jam tangan. Baru pukul lima pagi.

Tentu saja terlalu pagi untuk check-in.

Kami sempat mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Mau tidak mau kami akhirnya duduk di depan penginapan sambil menunggu pemiliknya bangun atau resepsionis mulai bekerja.

Dan justru saat itulah rasa kantuk mulai datang menyerang. Kepalaku terasa berat. Mataku mulai sulit terbuka. Setelah semalaman berjaga di dalam bus yang melaju di tepi jurang, tubuhku akhirnya mulai menagih istirahatnya.

Aku duduk bersandar di dinding sambil memperhatikan Thamel yang perlahan mulai terbangun dari tidurnya. Satu per satu toko mulai membuka rolling door. Seorang pria tua terlihat menyapu trotoar di depan tokonya. Dari kejauhan terdengar suara motor pertama pagi itu. Cahaya matahari perlahan mulai menyusup di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri rapat di sepanjang jalan.

Aku menarik napas panjang.

Beberapa jam yang lalu aku masih berada di jalan pegunungan yang membuatku berpikir tentang kematian. Kini aku duduk di jantung Kathmandu, menunggu sebuah penginapan dibuka.

Begitulah perjalanan.

Kadang dalam satu malam saja, hidup bisa membawa kita dari rasa takut menuju rasa bahagia. Dan pagi itu, meski mataku nyaris tertutup karena kantuk, ada satu perasaan yang jauh lebih kuat daripada rasa lelah.

Aku akhirnya sampai di Kathmandu. Kota yang selama bertahun-tahun hanya menjadi titik kecil di peta dan daftar mimpi seorang mahasiswa yang gemar membaca buku-buku perjalanan. Aku benar-benar disini.

***

Sekitar pukul sepuluh pagi, aku akhirnya terbangun. Entah berapa lama aku tertidur setelah berhasil check-in pagi tadi. Yang jelas, rasa lelah akibat perjalanan panjang dari Lumbini sudah jauh berkurang. Setelah mandi dan membereskan barang-barang seperlunya, kami memutuskan untuk langsung keluar mengeksplorasi Kathmandu.

Tujuan pertama tentu saja kawasan Thamel.

Kalau Khao San Road adalah jantung backpacker di Bangkok, maka Thamel bisa dibilang versi Nepalnya. Kawasan ini sudah menjadi pusat wisatawan asing sejak era 1970-an, ketika gelombang hippie dan pelancong dari Eropa mulai berdatangan ke Nepal untuk mencari petualangan, spiritualitas, maupun sekadar menikmati suasana Himalaya. Sejak saat itu, gang-gang sempit Thamel berkembang menjadi labirin hotel, restoran, toko suvenir, agen perjalanan, money changer, hingga toko perlengkapan gunung.

Begitu mulai berjalan kaki, aku langsung paham kenapa banyak backpacker betah berhari-hari tinggal di sini.

Hampir setiap bangunan di sepanjang jalan menawarkan sesuatu. Ada toko yang menjual pashmina, syal kasmir, dan kerajinan tangan khas Nepal. Di sebelahnya berdiri agen trekking yang menawarkan pendakian ke Everest Base Camp, Annapurna Circuit, hingga Langtang. Tak jauh dari sana ada money changer, toko buku bekas, rental sepeda, hingga restoran dengan menu dari berbagai penjuru dunia.

Satu hal yang langsung menarik perhatianku adalah kondisi kabel listriknya.

Aku sudah cukup sering melihat kabel semrawut di berbagai negara Asia, tetapi yang ada di Kathmandu benar-benar berada di level yang berbeda. Di beberapa persimpangan, kabel-kabel hitam menggantung kusut membentuk gumpalan raksasa yang sulit dibedakan mana kabel listrik, mana kabel telepon, dan mana kabel internet. Kalau tidak melihat langsung, mungkin aku akan mengira itu sarang burung berukuran raksasa yang menempel di tiang listrik.

Meski terlihat semrawut, justru pemandangan seperti itulah yang membuat Kathmandu terasa memiliki karakter yang kuat. Kota ini sama sekali tidak berusaha tampil rapi atau modern seperti Singapura. Ia tampil apa adanya.

Menjelang siang, perut kami mulai kembali mengingatkan bahwa sejak pagi belum ada makanan yang benar-benar mengenyangkan masuk ke lambung. Kami akhirnya mampir ke salah satu restoran di kawasan Thamel dan memesan steak yang harganya sekitar empat dolar Amerika.

Bagi ukuran backpacker dengan anggaran terbatas, menu itu sebenarnya sudah tergolong mewah.

Aku masih ingat piring besi panas yang mengepulkan asap saat diantar ke meja. Dagingnya disiram saus lada hitam, ditemani kentang goreng dan sayuran rebus. Setelah beberapa hari terakhir lebih sering makan makanan India dan Nepal, menyantap steak sederhana seperti itu terasa seperti hadiah kecil untuk diri sendiri.

Selesai makan, kami kembali melanjutkan eksplorasi.

Semakin jauh berjalan dari pusat Thamel, suasana kota mulai berubah. Jalan-jalan yang kami lewati terlihat jauh lebih berdebu. Di beberapa titik tampak proyek perbaikan jalan yang masih berlangsung. Tumpukan pasir, batu, dan material bangunan terlihat di pinggir jalan. Kendaraan, sepeda motor, pejalan kaki, hingga becak barang berbagi ruang yang sama di jalanan yang sempit.

Sesekali kami harus menepi memberi jalan pada motor yang melintas dari arah berlawanan.

Meski terlihat kacau, kehidupan kota berjalan dengan ritmenya sendiri.

Pedagang membuka toko, pekerja mengangkut barang menggunakan gerobak dorong, anak-anak pulang sekolah, dan para wisatawan berjalan sambil sesekali melihat peta atau bertanya arah.

Aku juga cukup menikmati melihat etalase toko-toko kecil yang menjual berbagai macam barang. Ada toko alat tulis, toko mainan, toko pakaian, hingga kios-kios kecil yang bahkan sulit kutebak apa sebenarnya yang mereka jual. Banyak di antaranya menempati bangunan tua yang usianya mungkin sudah puluhan tahun.

Berjalan kaki di Kathmandu saat itu terasa seperti menyusuri kota yang sedang berusaha bangkit.

Kurang dari satu setengah tahun sebelumnya, Nepal baru saja diguncang gempa besar pada April 2015 yang menewaskan ribuan orang dan merusak banyak bangunan bersejarah di Kathmandu Valley. Meski kehidupan sudah kembali berjalan normal, jejak-jejak bencana tersebut masih bisa ditemukan di berbagai sudut kota.

Dan tak lama kemudian, kami melihat salah satu contohnya secara langsung.

Di sebuah area terbuka yang dipagari sementara, tampak hamparan bata merah dan puing-puing bangunan tua yang masih dalam proses penataan. Beberapa warga terlihat sedang melakukan ritual keagamaan di dekatnya, sementara papan informasi menjelaskan bahwa lokasi tersebut adalah Kasthamandap.

Konon, bangunan bersejarah inilah yang menjadi asal-usul nama Kathmandu. Kasthamandap merupakan paviliun kayu kuno yang dipercaya dibangun pada abad ke-12 dan selama berabad-abad menjadi salah satu ikon kota. Sayangnya, bangunan tersebut runtuh saat gempa besar Nepal tahun 2015.

Saat kami berdiri di sana, yang tersisa hanyalah area reruntuhan dan proses pemulihan yang masih berlangsung. Sulit membayangkan bahwa bangunan yang pernah bertahan selama ratusan tahun bisa roboh hanya dalam hitungan menit.

Namun di sisi lain, melihat warga yang tetap beraktivitas, beribadah, dan melanjutkan kehidupan di sekitar reruntuhan itu juga menunjukkan sesuatu yang lain. Kathmandu memang terluka oleh gempa. Tapi jelas dia tidak menyerah.

Dari Thamel kami terus berjalan kaki menuju Kathmandu Durbar Square. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar belasan menit berjalan santai melewati gang-gang tua Kathmandu yang terasa hidup sekaligus semrawut. Semakin dekat ke pusat kota lama, suasananya mulai berubah. Bangunan-bangunan modern perlahan berganti dengan rumah-rumah bata merah berusia ratusan tahun, jendela kayu berukir khas Newari, serta kuil-kuil kecil yang muncul hampir di setiap sudut jalan.

Ketika akhirnya memasuki kawasan Durbar Square, kesan pertama yang muncul justru bukan kekaguman, melainkan rasa haru. Aku datang ke Nepal hanya sekitar satu tahun setelah Gempa Nepal 2015, salah satu bencana terbesar dalam sejarah negara itu. Gempa berkekuatan 7,8 magnitudo tersebut menewaskan ribuan orang dan menghancurkan banyak bangunan bersejarah di Lembah Kathmandu yang telah berdiri selama berabad-abad.

Dan jejak bencana itu masih terlihat jelas di mana-mana. Beberapa kuil masih ditopang balok-balok kayu besar agar tidak roboh. Sebagian bangunan hanya menyisakan pondasi dan tumpukan batu bata. Di beberapa titik berdiri papan informasi yang menjelaskan bangunan mana yang rusak, mana yang sedang direstorasi, dan mana yang hancur total akibat gempa.

Namun yang menarik, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Di salah satu sudut lapangan, aku melihat beberapa perempuan sedang melakukan ritual keagamaan di depan api kecil yang menyala. Orang-orang lalu lalang, berdoa, berbincang, atau sekadar duduk menikmati sore. Bagi warga Kathmandu, kawasan ini bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Kathmandu Durbar Square sendiri merupakan jantung Kerajaan Kathmandu pada masa lalu. Selama berabad-abad kawasan ini menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja Dinasti Malla sebelum Nepal dipersatukan oleh Prithvi Narayan Shah pada abad ke-18. Karena nilai sejarah dan budayanya yang sangat tinggi, kawasan ini kemudian ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Berjalan di sini rasanya seperti berjalan di sebuah museum terbuka.

Hampir setiap bangunan memiliki cerita. Hampir setiap sudut menyimpan sejarah.

Salah satu bangunan yang menarik perhatianku adalah Kasthamandap, bangunan kuno yang konon menjadi asal-usul nama "Kathmandu". Menurut legenda, bangunan tersebut dibangun dari kayu satu pohon raksasa pada abad ke-12. Sayangnya ketika aku datang, yang tersisa hanya area reruntuhan dan proses restorasi. Gempa 2015 menghancurkan bangunan bersejarah tersebut hingga rata dengan tanah.

Melihat foto-foto kondisi sebelum gempa yang dipasang di papan informasi lalu membandingkannya dengan kondisi di depanku membuatku benar-benar menyadari betapa dahsyatnya bencana itu.

Tidak jauh dari sana berdiri beberapa kuil tua yang masih bertahan. Sebagian terlihat miring, sebagian lagi ditopang balok-balok kayu darurat. Anehnya, justru kondisi itulah yang membuat tempat ini terasa begitu nyata. Aku tidak sedang melihat bangunan bersejarah yang sempurna, melainkan melihat sebuah kota tua yang sedang berjuang bangkit.

Di antara bangunan-bangunan kuno itu, ada satu hal lain yang tidak mungkin dilewatkan.

Merpati.

Jumlahnya luar biasa banyak.

Atap-atap kuil seolah berubah menjadi rumah bagi ribuan merpati. Mereka bertengger di setiap sudut genteng, memenuhi halaman kuil, bahkan nyaris menutupi tumpukan batu bata bekas bangunan yang runtuh. Para pedagang menjual biji-bijian untuk wisatawan yang ingin memberi makan mereka.

Tentu saja aku ikut mencobanya.

Beberapa genggam biji-bijian langsung mengubah suasana. Dalam hitungan detik puluhan merpati berhamburan mendekat. Sayap mereka mengepak ke segala arah, menciptakan suara gemuruh yang khas. Aku tertawa sendiri melihat betapa agresifnya mereka berebut makanan.

Mungkin terdengar sederhana, tetapi momen itu menjadi salah satu kenangan yang paling kuingat dari Kathmandu.

Di sekelilingku berdiri kuil-kuil berusia ratusan tahun yang sebagian masih luka akibat gempa. Di atasnya ribuan merpati beterbangan tanpa peduli pada sejarah, politik, maupun bencana yang pernah terjadi. Dan di tengah semua itu, aku berdiri sebagai seorang backpacker yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Nepal.

Kadang-kadang kebahagiaan memang sesederhana itu.

Tidak perlu naik gunung. Tidak perlu mencapai tujuan besar. Cukup berdiri di sebuah tempat yang selama bertahun-tahun hanya ada dalam imajinasi, lalu menyadari bahwa akhirnya kita benar-benar berada di sana.

Setelah puas berkeliling dan bermain bersama merpati, kami melanjutkan langkah menyusuri bagian lain Kathmandu Durbar Square. Semakin jauh berjalan, semakin banyak detail menarik yang bermunculan. Toko-toko kecil menjual lukisan thangka berwarna-warni, ukiran kayu khas Nepal, patung-patung Buddha dan Hindu, hingga berbagai kerajinan tangan yang memenuhi teras bangunan tua di sepanjang alun-alun.

Dan tanpa sadar, hampir setengah hari telah berlalu hanya untuk menjelajahi satu sudut kecil Kathmandu.

Padahal masih banyak tempat lain yang menunggu untuk kami lihat.

Setelah puas berkeliling di sekitar Kathmandu Durbar Square, aku terus melangkah menyusuri lorong-lorong dan halaman-halaman kecil yang saling terhubung satu sama lain. Semakin jauh berjalan, semakin terasa bahwa kawasan ini bukan sekadar sebuah alun-alun bersejarah. Seluruh area ini seperti sebuah kota tua yang masih hidup, tempat sejarah, agama, dan kehidupan sehari-hari bercampur menjadi satu tanpa batas yang jelas.

Di salah satu sudut, aku menemukan sebuah gerbang bata merah yang cukup mencolok. Gerbang itu dihiasi ukiran warna-warni yang rumit, sementara sepasang singa putih berdiri menjaga pintu masuknya. Dari kejauhan bangunan tersebut terlihat megah, namun ketika didekati, bekas-bekas gempa bumi yang mengguncang Nepal setahun sebelumnya masih tampak jelas di berbagai sudutnya.

Sebagian bangunan di sekitarnya masih disangga balok-balok kayu besar. Tumpukan bata merah terlihat di sana-sini. Beberapa kuil tampak kehilangan bagian atap atau ornamen yang dulu menghiasinya. Namun yang menarik, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Warga duduk santai di teras bangunan bersejarah, pedagang menawarkan dagangannya, sementara wisatawan dan peziarah lalu-lalang memenuhi kawasan tersebut.

Pemandangan seperti ini membuatku terus teringat bahwa Kathmandu bukanlah kota yang dibangun untuk wisatawan. Ini adalah kota yang benar-benar hidup.

Bangunan-bangunan tua di sini bukan museum yang dipagari dan dijaga ketat. Kuil-kuil masih digunakan untuk beribadah. Halaman-halaman kuno masih menjadi tempat berkumpul warga. Bahkan beberapa bangunan yang sedang direstorasi pun tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kathmandu.

Di tengah kawasan aku juga menemukan beberapa kuil khas Nepal yang bentuknya sangat berbeda dengan kuil-kuil yang biasa kulihat di Asia Tenggara. Atapnya bertingkat-tingkat seperti pagoda dengan dominasi kayu berukir yang luar biasa detail. Sulit membayangkan bahwa sebagian besar bangunan tersebut dibangun ratusan tahun lalu oleh para pengrajin Newari yang terkenal akan kemampuan seni pahat mereka.

Setiap sudut seolah memiliki cerita.

Ada kuil yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Malla saat Kathmandu masih berupa kerajaan-kerajaan kecil yang saling bersaing. Ada bangunan yang menjadi bagian dari kompleks Hanuman Dhoka, istana kerajaan Nepal selama berabad-abad. Ada pula bangunan keagamaan yang menjadi saksi berbagai upacara kerajaan, penobatan raja, hingga festival-festival besar yang masih berlangsung sampai sekarang.

Yang membuatku semakin terkesan adalah bagaimana kawasan ini berhasil bertahan melewati begitu banyak peristiwa sejarah. Gempa bumi besar berkali-kali mengguncang Kathmandu selama ratusan tahun, termasuk gempa dahsyat tahun 2015 yang meruntuhkan banyak bangunan bersejarah. Namun masyarakat Nepal selalu membangunnya kembali, batu demi batu, kayu demi kayu.

Di beberapa lokasi bahkan aku bisa melihat langsung proses restorasi yang masih berlangsung. Balok penyangga dipasang di dinding bangunan tua, sementara tumpukan bata merah menunggu untuk digunakan kembali. Pemandangan itu mungkin terlihat biasa bagi warga setempat, tetapi bagiku justru menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sesuatu yang bisa bertahan dengan sendirinya. Selalu ada orang-orang yang bekerja keras untuk menjaganya tetap hidup.

Tak jauh dari sana berdiri sebuah stupa putih yang bentuknya cukup kontras dibandingkan bangunan bata merah di sekitarnya. Stupa tersebut dikenal sebagai Kathesimbhu Stupa, salah satu stupa Buddha penting di pusat Kathmandu. Konon stupa ini dibangun sebagai replika dari Swayambhunath yang berada di atas bukit sebelah barat kota. Pada masa lalu, tidak semua orang mampu melakukan perjalanan ke Swayambhunath, sehingga dibangunlah stupa ini agar masyarakat tetap bisa beribadah di pusat kota.

Suasananya terasa jauh lebih tenang dibandingkan area utama Durbar Square. Beberapa warga berjalan memutari stupa sambil berdoa, sementara yang lain duduk santai menikmati sore yang mulai mendung.

Aku berhenti cukup lama di sana.

Bukan karena ada aktivitas khusus yang ingin kulihat, melainkan karena aku mulai menyadari betapa menariknya Kathmandu. Kota ini memang tidak selalu cantik dalam pengertian yang biasa. Jalanannya berdebu, kabel listrik semrawut menggantung di mana-mana, bangunan tua berdempetan dengan bangunan modern yang seadanya, dan bekas gempa masih terlihat jelas di berbagai sudut.

Namun justru semua ketidaksempurnaan itu yang membuat Kathmandu terasa begitu nyata.

Kota ini tidak mencoba menjadi rapi atau megah untuk menyenangkan wisatawan. Ia tampil apa adanya. Penuh sejarah, penuh luka, penuh kehidupan.

Dan semakin lama aku berjalan di antara kuil-kuil tua, stupa, rumah-rumah bata merah, serta keramaian warga lokal, semakin aku merasa bahwa inilah alasan mengapa banyak orang jatuh cinta pada Kathmandu. Bukan karena kotanya sempurna, melainkan karena kota ini memiliki jiwa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata...


Part Selanjutnya: DISINI