Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

8.14.2026

Boyolali, 13 Agustus 2026: Hari Ini

Hari ini sebenarnya tidak terjadi apa-apa yang istimewa. Aku sedang kepikiran membuat perpustakaan kecil di rumah. Aku ingin mengisinya dengan buku-buku yang kusukai dan, suatu hari nanti, buku-buku tentang perjalanan hidupku sendiri. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa waktu berjalan cepat sekali. Aku takut terlalu sibuk menjalani hidup sampai lupa bagaimana rasanya hidup di masa ini.

Pagi ini, tidak seperti biasanya, aku sudah terbangun sekitar pukul 06.30. Aku membuka gorden kamar dan melihat semburat keemasan matahari pagi masuk dari luar. Indah juga.

“Wah, harus berjemur nih. Lumayan vitamin D-nya,” pikirku.

Tapi ya beginilah aku. Alih-alih langsung bangkit dan keluar menikmati matahari pagi, tanganku malah mengambil ponsel. Aku membuka game lepas-lepas baut yang belakangan sedang sering kumainkan. Levelku sudah lima puluhan. Niatnya mungkin cuma sebentar, tapi game ini ternyata benar-benar membuatku candu. Tanpa terasa, lebih dari satu jam sudah berlalu.

Setelah akhirnya berhasil melepaskan diri dari game, aku masih sempat keluar sebentar untuk berjemur. Matahari tentu sudah tidak serendah ketika pertama kali aku membuka gorden, tapi setidaknya niat pagiku tidak gagal sepenuhnya. Aku berdiri menikmati hangat matahari beberapa saat sebelum akhirnya masuk lagi dan memulai hari.

Setelah itu aku mandi, memberi makan kucing, lalu sarapan. Hari ini sebenarnya ada satu urusan penting: membawa laptop ke tempat servis.

Kemarin, karena kecerobohanku sendiri, kopi susu tumpah mengenai keyboard laptop. Rasanya kesal juga mengingatnya. Laptop itu akhirnya kutinggalkan di tempat servis dan dijanjikan bisa selesai sore nanti.

Karena laptop sedang diperbaiki sementara ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, aku memutuskan pergi ke Solo. Rencananya aku mau bekerja menggunakan komputer publik di Dinas Perpustakaan. Sudah jauh-jauh ke sana, ternyata mobilku tidak mendapat tempat parkir. Akhirnya batal.

Karena sudah telanjur berada di Solo, aku mampir ke Gramedia. Aku berjalan pelan menyusuri rak-rak buku, melihat satu demi satu koleksinya. Ada sesuatu yang selalu menyenangkan dari berada di antara begitu banyak buku, meskipun hari ini tidak ada satu pun yang benar-benar membuatku ingin membawanya pulang.

Tidak lama kemudian datang kabar bahwa laptopku sudah selesai diperbaiki.

Aku pun kembali ke Boyolali, mengambil laptop, lalu mampir ke Kopi Kenangan. Kupikir akhirnya aku bisa duduk tenang, membuka laptop, dan mulai bekerja.

Ternyata tidak.

Justru dari situlah kekacauan kecil hari ini dimulai.

Beberapa bagian Windows tiba-tiba bermasalah. Word tidak mau membuka file. Global Mapper tidak berjalan sebagaimana mestinya. ArcGIS juga bermasalah. Satu demi satu aplikasi yang kubutuhkan seperti sepakat untuk mogok bersamaan.

Aku stres.

Alih-alih menyelesaikan pekerjaan, waktuku habis untuk mencoba memperbaiki laptop. Aku membuka ChatGPT dan mulai mencari tahu masalahnya satu per satu. Mencoba perintah ini, mengecek pengaturan itu, membuka Command Prompt, mencoba lagi, gagal lagi, lalu mencoba cara berikutnya. Ada beberapa yang akhirnya berhasil diperbaiki, tetapi setiap satu masalah selesai rasanya muncul masalah lain.

Lucu juga kalau dipikir-pikir. Pagi tadi aku kehilangan satu jam karena game baut. Sorenya aku kehilangan berjam-jam karena “bermain” dengan Windows yang rusak. Bedanya, permainan yang kedua sama sekali tidak menyenangkan.

Malam datang tanpa terasa.

Aku mampir ke angkringan untuk makan malam sebelum akhirnya pulang ke rumah. Setelah seharian mondar-mandir Boyolali–Solo, servis laptop, Gramedia, Kopi Kenangan, dan berurusan dengan komputer yang membuat kepala panas, rasanya menyenangkan akhirnya kembali ke rumah.

Malam itu aku sempat mengobrol dengan Bapak. Kami membicarakan hal yang sebenarnya sangat sehari-hari: soal iuran tujuhbelasan di tempat tinggalku yang lama. Di sana rupanya ada iuran untuk menyambut 17 Agustus, sementara di perumahan tempatku tinggal sekarang justru tidak ada yang menarik iuran.

Tumben.

Aku sampai merasa agak lucu sendiri. Biasanya menjelang Agustusan ada saja urusan iuran atau kegiatan lingkungan, tapi kali ini di tempat tinggalku sekarang malah tidak ada. Obrolan kecil seperti itu mungkin terdengar sama sekali tidak penting untuk dicatat. Tapi justru karena itulah aku ingin menuliskannya. Puluhan tahun lagi, siapa tahu aku bahkan sudah lupa seperti apa suasana lingkungan tempatku tinggal sekarang dan hal-hal kecil apa yang biasa dibicarakan di rumah bersama Bapak.

Di sela-sela malam itu aku juga sempat berpikir tentang besok. Mungkin aku ingin mengajak kakakku dan anak-anaknya makan bersama di suatu tempat. Belum tahu mau makan di mana. Bahkan sampai aku menulis ini pun tempatnya belum ketemu. Tidak ada acara khusus sebenarnya. Hanya kepikiran ingin pergi makan bersama mereka.

Mungkin besok jadi. Mungkin juga rencananya berubah.

Dan entah kenapa, sekarang aku merasa hal seperti itu pun layak dicatat. Sebab kehidupan rupanya bukan hanya kumpulan peristiwa yang benar-benar terjadi. Ada juga rencana-rencana kecil yang muncul malam sebelumnya, keinginan spontan untuk bertemu seseorang, dan hal-hal sederhana yang saat itu sedang kita nantikan.

Malam ini aku juga membeli dua buku: Ikigai dan sebuah buku tentang Buddha.

Entah bagaimana, dari membeli buku itu pikiranku kemudian melompat ke sebuah ide: bagaimana kalau aku membuat perpustakaan mini di rumah?

Aku mulai membayangkan sebuah sudut dengan rak-rak berisi buku yang kupilih sendiri. Buku yang sudah kubaca, buku yang kusukai, buku yang suatu saat ingin kubaca kembali.

Lalu muncul pikiran lain yang jauh lebih menarik.

Bagaimana kalau di antara buku-buku karya orang lain itu, suatu hari ada buku-bukuku sendiri?

Bukan berarti semuanya harus diterbitkan atau dibaca orang lain. Buku-buku itu boleh hanya ada satu eksemplar dan dibuat untuk diriku sendiri.

Aku ingin menulis tentang India. Tentang perjalanan menuju Himalaya. Tentang Tibet dan perjalanan sampai Everest Base Camp. Tentang Afrika yang masih menjadi mimpi. Tentang masa sekolah, olimpiade, kuliah, pekerjaan, perjalanan-perjalanan kecil, dan mungkin juga tentang hari-hari biasa seperti hari ini.

Tiba-tiba perpustakaan kecil itu tidak lagi terasa sekadar sebagai tempat menyimpan buku.

Aku membayangkannya sebagai tempat menyimpan hidup.

Mungkin suatu hari, puluhan tahun dari sekarang, aku akan berdiri di depan rak itu dengan rambut yang sudah memutih. Tanganku mengambil sebuah buku bertuliskan 2026, membukanya secara acak, lalu menemukan halaman ini.

Aku akan membaca tentang pagi ketika aku bangun pukul setengah tujuh dan melihat cahaya keemasan dari balik gorden. Tentang niat berjemur yang sempat tertunda gara-gara game lepas-lepas baut, tetapi akhirnya tetap kulakukan walaupun hanya sebentar. Tentang kopi susu yang membuat laptop masuk tempat servis. Tentang perjalanan sia-sia ke Solo karena tidak mendapat parkir. Tentang berjalan-jalan di Gramedia tanpa menemukan buku yang kusukai. Tentang sore yang kacau karena Word, Global Mapper, ArcGIS, dan Windows. Tentang makan malam di angkringan.

Aku mungkin juga akan membaca kembali tentang obrolan kecil bersama Bapak mengenai iuran tujuhbelasan dan tertawa karena ternyata aku sampai mencatat hal seremeh itu. Lalu membaca bahwa malam itu aku sedang memikirkan akan mengajak kakakku dan anak-anaknya makan keesokan harinya, meskipun bahkan belum tahu mau pergi ke mana.

Hal-hal yang hari ini rasanya sama sekali tidak penting.

Tetapi mungkin pada saat itu aku akan memberikan apa saja hanya untuk bisa kembali sebentar ke hari biasa ini.

Aku tidak tahu akan menjadi seperti apa hidupku nanti. Aku juga tidak tahu berapa banyak tempat yang masih akan kudatangi, berapa banyak orang yang akan kutemui, atau berapa banyak hal yang akan berubah.

Yang kutahu, waktu rupanya memang tidak pernah menunggu.

Mungkin aku tidak bisa membuatnya berjalan lebih lambat. Tapi setidaknya aku bisa meninggalkan beberapa penanda di sepanjang jalan—foto, cerita, buku, atau sekadar beberapa paragraf tentang sebuah pagi yang sebenarnya biasa saja.

Supaya suatu hari nanti, ketika aku menoleh ke belakang, hidupku tidak hanya terasa seperti sesuatu yang pernah berlalu dengan cepat.

Aku masih bisa membuka sebuah halaman dan berkata,

“Oh, ternyata begini rasanya menjadi aku pada 13 Agustus 2026.”

7.04.2026

Solo, 4 Juli 2026 : Ketika Alam Semesta Mengajariku Melepaskan...

Dua minggu yang lalu, aku kehilangan ibuku.

Kalimat itu masih terasa asing untuk kutulis. Rasanya seperti ada bagian dari hidupku yang ikut hilang bersamanya. Rumah yang sama kini terasa berbeda. Ada kasur biasa ibuku berbaring yang kosong, suara yang tak lagi terdengar, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang tiba-tiba berubah menjadi kenangan.

Selama beberapa hari pertama, pikiranku dipenuhi pertanyaan yang mungkin juga pernah muncul dalam hati banyak orang yang kehilangan seseorang.

Kenapa harus ibuku?

Kenapa beliau harus mengalami penderitaan selama itu?

Kenapa hidup bisa terasa begitu tidak adil?

Aku berulang kali mengingat hari-hari terakhirnya. Tubuh yang semakin lemah. Napas yang semakin berat. Semua usaha pengobatan yang telah dilakukan. Sebagai anak, tentu ada bagian dalam diriku yang berharap keajaiban akan datang. Bahwa entah bagaimana, semuanya akan kembali seperti dulu.

Namun waktu terus berjalan, dan kenyataan tetaplah kenyataan.

Suatu hari, aku mulai mencoba melihat semua ini dari sudut pandang yang jauh lebih luas daripada diriku sendiri.

Bukan dari sudut pandang seorang anak yang kehilangan ibu.

Tetapi dari sudut pandang alam semesta.


Kita Selalu Merasa Kematian Adalah Kesalahan...

Aku menyadari sesuatu yang menarik.

Saat seseorang yang kita cintai meninggal, reaksi pertama batin kita hampir selalu sama.

"Ini tidak seharusnya terjadi."

Padahal...

Jika kita melihat seluruh kehidupan di Bumi, justru yang seharusnya memang adalah perubahan.

Setiap daun yang tumbuh suatu hari akan gugur.

Setiap bunga akan layu.

Setiap musim akan berganti.

Setiap hewan akan menua.

Setiap manusia yang lahir suatu hari akan meninggal.

Tidak ada satu pun yang dikecualikan.

Mengapa ketika itu terjadi pada orang yang kita cintai, kita merasa alam telah berbuat salah?

Jawabannya sederhana.

Karena kita mencintainya.

Dan cinta selalu ingin mempertahankan.


Ibuku Bukan Dipilih Secara Khusus Oleh Alam...

Lalu muncul pemahaman yang perlahan mengubah cara pandangku.

Ibuku bukan dipilih secara khusus oleh alam untuk menderita.

Beliau bukan satu-satunya manusia yang tubuhnya melemah.

Beliau bukan satu-satunya yang pernah mengalami penyakit.

Beliau bukan satu-satunya yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada kehidupan.

Beliau hanyalah satu bagian dari miliaran makhluk hidup yang telah menjalani hukum kehidupan yang sama.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi bagiku, maknanya sangat dalam.

Selama miliaran tahun sejarah Bumi, setiap makhluk yang pernah lahir akhirnya mati.

Dinosaurus.

Pohon-pohon purba.

Ikan pertama yang muncul di lautan.

Burung.

Harimau.

Gajah.

Seluruh leluhur kita.

Raja.

Petani.

Ilmuwan.

Anak kecil.

Semua.

Tidak ada yang berhasil "mengalahkan" kematian.

Karena memang kematian bukanlah musuh.

Ia adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.


Bahkan Matahari Pun Tidak Abadi...

Lalu aku mengangkat pandanganku lebih jauh lagi.

Ke langit.

Matahari tampak begitu kuat.

Setiap pagi ia terbit.

Memberikan cahaya.

Memberikan kehangatan.

Memberikan energi bagi seluruh kehidupan di Bumi.

Namun ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa sekitar lima miliar tahun lagi, Matahari pun akan menghabiskan bahan bakarnya. Ia akan berubah menjadi raksasa merah, melepaskan lapisan-lapisan luarnya, lalu akhirnya menjadi katai putih.

Bintang-bintang lain pun mengalami hal yang sama.

Ada yang lahir dari awan gas.

Ada yang bersinar selama jutaan atau miliaran tahun.

Lalu mati.

Sebagian menjadi bintang neutron.

Sebagian menjadi lubang hitam.

Sebagian hanya meninggalkan kabut gas yang kelak akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang baru.

Tidak ada tragedi di sana.

Tidak ada kemarahan alam.

Tidak ada ketidakadilan.

Yang ada hanyalah perubahan.

Siklus.

Transformasi.

Jika benda-benda yang massanya jutaan kali lebih besar daripada Bumi saja tunduk pada hukum perubahan, mengapa aku berharap manusia dapat menjadi pengecualian?


Kita Semua Terbuat Dari Debu Bintang...

Semakin banyak membaca tentang alam semesta, aku justru merasa semakin dekat dengan ibuku.

Tubuh kita tersusun dari karbon, oksigen, nitrogen, kalsium, dan besi.

Unsur-unsur itu tidak muncul begitu saja di Bumi.

Karbon dalam tubuh kita ditempa di dalam inti bintang miliaran tahun lalu.

Oksigen yang kita hirup berasal dari proses yang berlangsung di generasi-generasi bintang sebelum Matahari lahir.

Besi dalam darah kita juga berasal dari ledakan bintang-bintang masif.

Artinya...

Sebelum menjadi manusia, atom-atom yang kini menyusun tubuh kita pernah menjadi bagian dari bintang.

Lalu menjadi bagian dari awan gas antarbintang.

Kemudian menjadi Bumi.

Menjadi tanah.

Menjadi tumbuhan.

Menjadi makanan.

Lalu menjadi tubuh kita.

Dan ketika kita meninggal, atom-atom itu tidak benar-benar lenyap.

Mereka kembali ke alam.

Berubah bentuk.

Menjadi bagian dari siklus yang jauh lebih besar daripada kehidupan satu orang.

Dalam arti tertentu, tidak ada yang benar-benar "keluar" dari alam.

Kita selalu berada di dalamnya.


Yang Berakhir Adalah Bentuknya, Bukan Kisahnya...

Tentu saja, semua pemahaman ini tidak membuatku berhenti merindukan ibuku.

Aku tetap merindukan suaranya.

Tetap merindukan keberadaannya.

Tetap berharap sesekali bisa mendengar beliau memanggil namaku.

Kesedihan itu tidak hilang.

Namun kesedihan itu berubah.

Ia tidak lagi dipenuhi pertanyaan:

"Kenapa harus ibuku?"

Melainkan berubah menjadi:

"Ternyata beginilah hukum kehidupan yang dijalani semua makhluk."

Perubahan kecil dalam cara berpikir itu ternyata mengubah banyak hal dalam batinku.

Aku berhenti melihat kematian sebagai kegagalan.

Aku mulai melihatnya sebagai penyelesaian sebuah perjalanan.


Beliau Tidak Gagal Bertahan Hidup...

Kalimat yang paling sering kembali ke pikiranku sekarang adalah ini.

Ibuku tidak gagal bertahan hidup.

Beliau telah menyelesaikan siklus kehidupan yang sama yang dijalani setiap manusia sebelum beliau.

Yang dijalani setiap burung.

Setiap pohon.

Setiap paus di lautan.

Setiap bunga di taman.

Bahkan setiap bintang di langit.

Beliau bukan korban dari alam.

Beliau adalah bagian dari alam.

Dan seperti seluruh makhluk hidup lainnya, beliau mengikuti hukum yang sama.

Lahir.

Bertumbuh.

Mencintai.

Berjuang.

Menjadi tua.

Lalu kembali.


Yang Tersisa Adalah Cara Kita Melanjutkan Hidup...

Mungkin tujuan hidup bukanlah menghindari kematian.

Karena itu mustahil.

Mungkin tujuan hidup adalah menggunakan waktu yang diberikan dengan sebaik-baiknya.

Mencintai selama masih bisa mencintai.

Memeluk selama masih bisa memeluk.

Mengucapkan terima kasih sebelum terlambat.

Menjaga kesehatan bukan karena kita ingin hidup selamanya, tetapi karena kita menghargai kehidupan yang masih kita miliki.

Dan ketika suatu hari nanti giliranku tiba, aku berharap dapat menerimanya dengan hati yang sama.

Bukan sebagai kekalahan.

Bukan sebagai hukuman.

Melainkan sebagai selesainya perjalanan yang memang sejak awal ditujukan untuk memiliki akhir.


Untuk Ibu...

Dulu aku selalu berpikir tugasku adalah membuat Ibu tetap tinggal selama mungkin, mengantarkannya kontrol, terapi, menebuskan obatnya, membelikannya makanan bergizi..

Sekarang aku mengerti.

Tugasku bukan melawan hukum alam.

Tugasku adalah mencintai Ibu selama beliau ada, merawat beliau semampuku, dan ketika perjalanan beliau selesai, belajar melepaskan dengan penuh hormat.

Aku masih menangis.

Aku masih merindukanmu.

Mungkin akan tetap begitu untuk waktu yang lama.

Tetapi di balik semua kerinduan itu, perlahan tumbuh sebuah kedamaian.

Karena aku sadar...

Engkau tidak sedang "dikalahkan" oleh kehidupan.

Engkau telah menyelesaikan perjalanan yang sama yang dijalani seluruh kehidupan sejak miliaran tahun lalu.

Selamat beristirahat, Bu.

Terima kasih telah menjadi bagian terindah dalam 34 tahun perjalanan hidupku...

6.13.2026

Sadar Setiap Hari (SSH) 23: Paññā (Kebijaksanaan) - Melihat Kehidupan Apa Adanya

 Jika ada satu kualitas batin yang paling sering dibicarakan dalam Buddhisme namun paling sering disalahpahami, mungkin itulah paññā atau kebijaksanaan. Banyak orang menganggap kebijaksanaan adalah kemampuan mengetahui banyak hal, memiliki pengetahuan luas, atau mampu memberikan nasihat yang terdengar dalam dan menginspirasi. Padahal dalam Buddhisme, kebijaksanaan memiliki makna yang jauh lebih mendasar daripada sekadar kecerdasan intelektual.

Seseorang bisa menguasai banyak bahasa, memiliki gelar akademik tinggi, membaca ratusan buku, bahkan menjadi pakar di bidangnya, namun tetap hidup dalam kecemasan, kemarahan, iri hati, dan berbagai bentuk penderitaan batin lainnya. Sebaliknya, ada orang-orang sederhana yang mungkin tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, tetapi mampu menjalani hidup dengan tenang, lapang, dan penuh penerimaan. Perbedaan di antara keduanya sering kali bukan terletak pada seberapa banyak yang mereka ketahui, melainkan pada seberapa dalam mereka memahami kehidupan.

Dalam bahasa Pali, paññā biasanya diterjemahkan sebagai kebijaksanaan atau pemahaman yang benar. Namun terjemahan tersebut sebenarnya belum sepenuhnya mampu menggambarkan maknanya. Paññā bukan sekadar mengetahui sesuatu, melainkan melihat sesuatu sebagaimana adanya. Ia adalah kemampuan untuk menembus lapisan-lapisan ilusi yang selama ini menutupi cara kita memandang dunia.

Kita sering mengira bahwa sumber penderitaan terletak di luar diri kita. Kita merasa tidak bahagia karena pekerjaan yang berat, pasangan yang tidak sesuai harapan, kondisi ekonomi yang belum ideal, atau berbagai masalah lain yang datang silih berganti. Namun menurut Buddhisme, akar penderitaan yang sesungguhnya bukan terletak pada keadaan eksternal, melainkan pada cara kita memandang dan bereaksi terhadap keadaan tersebut.

Buddha mengajarkan bahwa manusia hidup dalam ketidaktahuan atau avijjā. Ketidaktahuan ini bukan berarti tidak memiliki pendidikan atau tidak memahami ilmu pengetahuan. Ketidaktahuan yang dimaksud adalah ketidakmampuan melihat hakikat kehidupan sebagaimana adanya. Kita menganggap yang tidak kekal sebagai sesuatu yang dapat dipertahankan selamanya. Kita menganggap yang pada dasarnya tidak mampu memberikan kepuasan abadi sebagai sumber kebahagiaan permanen. Kita juga menganggap berbagai hal yang terus berubah sebagai "aku" dan "milikku".

Di sinilah kebijaksanaan berperan. Paññā perlahan membantu kita melihat bahwa segala sesuatu berada dalam arus perubahan yang tidak pernah berhenti. Tubuh berubah, perasaan berubah, hubungan berubah, kondisi ekonomi berubah, bahkan pandangan dan keyakinan kita sendiri berubah seiring waktu. Tidak ada satu pun yang benar-benar tetap.

Secara intelektual, hampir semua orang memahami hal ini. Semua orang tahu bahwa suatu hari mereka akan menua. Semua orang tahu bahwa orang yang dicintai suatu saat akan meninggal dunia. Semua orang tahu bahwa keberhasilan tidak berlangsung selamanya. Namun mengetahui dan memahami adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang mungkin mengetahui bahwa semua manusia akan menua, tetapi tetap panik ketika melihat kerutan pertama muncul di wajahnya. Seseorang mungkin memahami bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan, tetapi tetap hancur ketika sesuatu yang dicintainya pergi. Pengetahuan semacam ini masih berada di tingkat pikiran. Kebijaksanaan baru muncul ketika pemahaman tersebut benar-benar meresap ke dalam cara seseorang menjalani hidup.

Karena itulah dalam Buddhisme dikenal tiga tingkat kebijaksanaan. Tingkat pertama adalah kebijaksanaan yang diperoleh melalui belajar, membaca, atau mendengarkan ajaran. Tingkat kedua adalah kebijaksanaan yang lahir dari perenungan dan pemikiran mendalam. Sedangkan tingkat ketiga adalah kebijaksanaan yang muncul dari pengalaman langsung. Tingkat terakhir inilah yang dianggap paling penting.

Misalnya seseorang membaca bahwa kemarahan pada akhirnya hanya menyakiti dirinya sendiri. Itu adalah pengetahuan. Kemudian ia merenungkan pengalaman hidupnya dan menyadari bahwa setiap kali marah, justru dirinya yang paling menderita. Itu adalah pemahaman yang lebih dalam. Namun kebijaksanaan yang sesungguhnya baru muncul ketika suatu hari ia melihat kemarahan muncul dalam batinnya, menyaksikan bagaimana kemarahan itu membakar pikirannya, lalu perlahan mereda dan menghilang. Pada saat itulah ia memahami secara langsung sifat kemarahan, bukan lagi sebagai teori, tetapi sebagai kenyataan yang dialaminya sendiri.

Kebijaksanaan juga tidak berarti menjadi orang yang dingin dan tidak memiliki emosi. Ini adalah kesalahpahaman yang cukup umum. Banyak orang membayangkan bahwa orang bijaksana adalah orang yang tidak lagi merasa sedih, tidak pernah kecewa, tidak pernah marah, dan selalu tenang dalam segala keadaan. Gambaran tersebut sebenarnya kurang tepat.

Orang yang memiliki kebijaksanaan tetap bisa merasakan kesedihan ketika kehilangan orang yang dicintai. Ia tetap bisa merasa kecewa ketika rencananya gagal. Ia tetap bisa merasakan rasa takut, cemas, atau bahkan iri hati. Yang berbeda adalah hubungan mereka dengan emosi tersebut.

Ketika rasa iri muncul, misalnya, orang yang tidak memiliki kebijaksanaan biasanya langsung terbawa arus oleh emosi tersebut. Ia mungkin mulai membandingkan dirinya dengan orang lain, merasa tersaingi, atau diam-diam berharap orang lain gagal. Sebaliknya, orang yang memiliki kebijaksanaan mampu melihat bahwa rasa iri sedang muncul di dalam batinnya. Ia tidak perlu menyangkal atau membencinya. Ia hanya melihatnya dengan jernih.

Kesadaran sederhana semacam itu sering kali menjadi awal dari kebebasan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebijaksanaan sering muncul dalam bentuk yang sangat sederhana. Ketika seseorang mengkritik kita, kebijaksanaan membantu kita membedakan antara kritik yang berguna dan kritik yang memang tidak perlu dipedulikan. Ketika mengalami kegagalan, kebijaksanaan membantu kita melihat bahwa kegagalan tersebut hanyalah satu peristiwa dalam perjalanan hidup yang panjang, bukan definisi dari diri kita. Ketika melihat orang lain lebih sukses, lebih kaya, atau lebih beruntung, kebijaksanaan membantu kita memahami bahwa kebahagiaan bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan.

Semakin seseorang bertumbuh dalam kebijaksanaan, semakin ia menyadari bahwa sebagian besar penderitaan berasal dari kemelekatan. Kita melekat pada berbagai hal seperti uang, status, hubungan, reputasi, bahkan identitas yang kita bangun tentang diri sendiri.

Seseorang yang melekat pada identitas sebagai orang pintar akan merasa terganggu ketika bertemu orang yang lebih pintar. Seseorang yang melekat pada identitas sebagai orang sukses akan merasa terancam ketika orang lain melampauinya. Kebijaksanaan tidak menghilangkan identitas-identitas tersebut. Ia hanya membantu kita melihat bahwa semua itu bukanlah inti diri yang sesungguhnya. Semua itu hanyalah peran yang kita jalani untuk sementara waktu.

Pada akhirnya, kebijaksanaan bukanlah kemampuan menjawab semua pertanyaan tentang kehidupan. Justru sering kali kebijaksanaan membuat seseorang lebih rendah hati karena ia menyadari betapa banyak hal yang tidak diketahuinya. Kebijaksanaan bukan membuat hidup menjadi sempurna, melainkan membuat kita mampu hidup berdampingan dengan ketidaksempurnaan.

Orang yang bijaksana tetap menghadapi masalah, tetap mengalami kehilangan, tetap menua, dan suatu hari tetap akan meninggal dunia. Namun ia tidak lagi berperang dengan kenyataan tersebut. Ia memahami bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan, bahwa kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti, dan bahwa tidak ada satu pun yang bisa digenggam selamanya.

Mungkin itulah mengapa dalam Buddhisme, paññā dianggap sebagai puncak dari jalan spiritual. Bukan karena kebijaksanaan membuat seseorang menjadi lebih hebat daripada orang lain, tetapi karena kebijaksanaan memungkinkan seseorang melihat kehidupan dengan jernih. Dan ketika seseorang mulai melihat dengan jernih, banyak penderitaan yang selama ini terasa begitu besar perlahan kehilangan kekuatannya.


Contoh dalam kehidupan sehari-hari:

Ketika mendengar kata kebijaksanaan, banyak orang membayangkan sesuatu yang tinggi dan sulit dicapai. Padahal dalam praktiknya, paññā justru hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Kebijaksanaan bukan hanya ditemukan di ruang meditasi atau dalam kitab-kitab kuno, tetapi juga dalam cara kita menghadapi pekerjaan, hubungan, uang, kesehatan, dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya ketika terjebak kemacetan. Tanpa paññā, seseorang mungkin akan menghabiskan waktu dengan mengeluh, marah, membunyikan klakson berulang kali, atau menyalahkan keadaan. Dengan paññā, seseorang menyadari bahwa kemacetan sudah terjadi dan kemarahannya tidak akan membuat jalan menjadi lebih lancar. Ia mungkin tetap merasa kesal, tetapi tidak menambah penderitaan dengan perlawanan batin yang tidak perlu.

Contoh lain adalah ketika menerima kritik dari orang lain. Tanpa kebijaksanaan, kritik sering dianggap sebagai serangan terhadap harga diri sehingga memunculkan kemarahan atau keinginan untuk membalas. Dengan paññā, seseorang mampu melihat kritik secara lebih objektif. Jika kritik tersebut benar, ia dapat mengambil pelajaran darinya. Jika tidak benar, ia dapat melepaskannya tanpa perlu menyimpan dendam.

Dalam urusan keuangan, paññā membantu seseorang membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika melihat barang yang menarik atau promo yang menggiurkan, seseorang yang memiliki kebijaksanaan tidak langsung mengikuti dorongan sesaat. Ia bertanya kepada dirinya sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya keinginan yang muncul karena emosi sesaat.

Kebijaksanaan juga berperan ketika kita membandingkan diri dengan orang lain. Di era media sosial, sangat mudah merasa tertinggal setelah melihat teman membeli rumah baru, memperoleh promosi jabatan, atau berlibur ke tempat-tempat yang kita impikan. Tanpa paññā, perbandingan tersebut dapat menimbulkan iri hati dan ketidakpuasan. Dengan paññā, seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda dan kebahagiaan tidak dapat diukur hanya dari apa yang tampak di layar ponsel.

Dalam hubungan dengan orang yang dicintai, paññā membantu kita memahami bahwa setiap orang memiliki pikiran, perasaan, dan pilihan hidupnya sendiri. Kita tidak dapat mengendalikan pasangan, anak, sahabat, ataupun anggota keluarga sesuai keinginan kita. Semakin kita memaksakan harapan yang tidak realistis, semakin besar pula potensi kekecewaan yang muncul. Kebijaksanaan mengajarkan keseimbangan antara mencintai dan melepaskan.

Ketika menghadapi penuaan, paññā juga menjadi penuntun yang berharga. Tubuh yang dulu kuat perlahan berubah. Rambut memutih, tenaga berkurang, dan berbagai keluhan fisik mulai muncul. Tanpa kebijaksanaan, perubahan ini dapat menjadi sumber ketakutan dan penolakan. Dengan paññā, seseorang memahami bahwa penuaan bukanlah kegagalan, melainkan bagian alami dari kehidupan yang dialami oleh semua makhluk.

Bahkan ketika menghadapi kehilangan, kebijaksanaan tetap memiliki peran yang penting. Kehilangan pekerjaan, berakhirnya hubungan, menurunnya kondisi kesehatan, atau wafatnya orang yang dicintai tetap akan menimbulkan kesedihan. Paññā tidak menghilangkan rasa sedih tersebut, tetapi membantu kita memahami bahwa kehilangan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Dengan demikian, kita dapat berduka tanpa tenggelam dalam keputusasaan.

Paññā bukanlah kemampuan untuk menghindari semua masalah, melainkan kemampuan untuk menghadapi masalah dengan cara yang lebih jernih. Kebijaksanaan tidak membuat hidup menjadi bebas dari penderitaan, tetapi membantu kita mengurangi penderitaan yang sebenarnya berasal dari cara kita memandang dan bereaksi terhadap kehidupan. Semakin paññā berkembang, semakin kita mampu menjalani hidup dengan tenang, lapang, dan penuh penerimaan terhadap segala sesuatu yang datang dan pergi.

6.11.2026

[PART 16] Menggapai Himalaya : Bhaktapur, Kota Tercantik di Lembah Kathmandu!

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                           Part Sebelumnya: DISINI

Aku di Bhaktapur Durbar Square, Nepal

Kunjungan ke Swayambhunath pada sore hari sebelumnya akhirnya menutup eksplorasi kami di Kathmandu. Memang, waktu yang kami miliki di ibu kota Nepal ini sangat terbatas. Kami hanya mengalokasikan satu hari penuh untuk menjelajahi kawasan kota tua, mulai dari lorong-lorong Thamel yang ramai, kompleks bersejarah Kathmandu Durbar Square, hingga perbukitan tempat Swayambhunath berdiri mengawasi seluruh Lembah Kathmandu dari kejauhan.

Pagi itu kami kembali bangun dengan semangat baru. Hari ini petualangan akan berlanjut ke Nagarkot, sebuah kota kecil di perbukitan timur Kathmandu yang terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk menikmati panorama Pegunungan Himalaya.

Namun kami tidak terburu-buru menuju Nagarkot.

Ada satu tempat yang sejak awal sudah masuk dalam daftar kunjungan wajib kami selama berada di Nepal.

Bhaktapur Durbar Square.

Jika Kathmandu Durbar Square sering dianggap sebagai jantung sejarah Nepal, maka Bhaktapur Durbar Square bisa dibilang sebagai mahakaryanya.

Dari Thamel menuju Bhaktapur jaraknya sekitar 15 kilometer. Di peta terlihat dekat, tetapi seperti biasa di Nepal, jarak tidak selalu berbanding lurus dengan waktu tempuh. Jalanan Kathmandu yang padat, sempit, serta dipenuhi kendaraan membuat perjalanan bisa memakan waktu hampir satu jam dengan sepeda motor.

Untungnya pagi itu lalu lintas belum terlalu padat.

Kami pun melaju meninggalkan kawasan wisata Thamel yang mulai ramai oleh backpacker dan toko-toko perlengkapan trekking. Perlahan suasana kota tua Kathmandu berganti menjadi kawasan permukiman yang lebih padat. Jalanan dipenuhi sepeda motor, minibus lokal, becak, pejalan kaki, hingga truk-truk kecil yang sesekali mengeluarkan kepulan debu ketika melintas.

Di beberapa sudut terlihat kuil-kuil kecil berdiri di tengah permukiman. Tidak jarang pula kami melewati stupa-stupa Buddha berwarna putih yang muncul begitu saja di pinggir jalan. Pemandangan seperti itu sangat umum di Nepal. Bangunan keagamaan seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Semakin menjauh dari pusat Kathmandu, lalu lintas mulai sedikit longgar. Dari atas motor aku bisa melihat hamparan lembah yang dikelilingi perbukitan hijau. Rumah-rumah bata merah khas Nepal berdiri rapat di berbagai sisi jalan, sementara aktivitas pagi warga sudah berjalan seperti biasa. Ada yang membuka toko, mengangkut barang dengan sepeda, hingga sekadar duduk berbincang di depan rumah.

Perjalanan menuju Bhaktapur terasa menyenangkan karena untuk pertama kalinya aku bisa melihat kehidupan sehari-hari warga Nepal di luar kawasan wisata utama.

Sekitar satu jam kemudian kami akhirnya tiba di Bhaktapur.

Kesan pertamaku sederhana.

Cantik.

Bahkan sebelum memasuki kawasan Durbar Square, suasananya sudah terasa berbeda dibandingkan Kathmandu. Jalan-jalan kecil berbatu, rumah-rumah bata merah berusia ratusan tahun, jendela-jendela kayu berukir khas Newari, serta minimnya bangunan modern membuatku merasa seperti sedang melangkah masuk ke masa lalu.

Bhaktapur sendiri merupakan salah satu dari tiga kota kerajaan kuno yang pernah menguasai Lembah Kathmandu, bersama Kathmandu dan Patan. Kota ini mencapai masa kejayaannya pada abad ke-14 hingga ke-15 ketika menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat kebudayaan Kerajaan Malla.

Nama Bhaktapur berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "Kota Para Penganut Bhakti" atau "Kota Para Pemuja". Selama berabad-abad kota ini berkembang menjadi salah satu pusat seni, arsitektur, dan kebudayaan terpenting di Nepal.

Ketika kerajaan Nepal masih terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil, para raja Malla berlomba-lomba membangun kuil, istana, halaman kerajaan, dan berbagai monumen megah untuk menunjukkan kejayaan mereka. Hasil dari persaingan itulah yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.

Banyak orang bahkan menyebut Bhaktapur sebagai kota tua terindah di Nepal.

Dan setelah melihatnya sendiri, aku bisa memahami alasannya.

Jika Kathmandu terasa hidup, semrawut, dan penuh energi, maka Bhaktapur terasa jauh lebih utuh. Bangunan-bangunan tradisionalnya masih mendominasi hampir seluruh kawasan kota tua. Kendaraan bermotor juga jauh lebih sedikit. Suasananya lebih tenang, lebih tertata, dan lebih mudah membuat pengunjung membayangkan seperti apa kehidupan di Nepal beberapa ratus tahun yang lalu.

Tidak berlebihan jika kawasan ini sering disebut sebagai museum terbuka terbesar di Nepal.

Dan saat aku melangkahkan kaki memasuki Bhaktapur Durbar Square pagi itu, aku langsung merasa bahwa satu atau dua jam jelas tidak akan cukup untuk menjelajahi semua sudutnya.

***

Setelah hampir satu jam berkendara dari Thamel, perut kami mulai memberikan sinyal protes. Sejak pagi kami belum sempat sarapan yang benar-benar mengenyangkan. Maka sebelum mulai menjelajahi Bhaktapur Durbar Square, kami memutuskan mencari tempat makan terlebih dahulu di salah satu kafe kecil yang berada tidak jauh dari pintu masuk kawasan kota tua.

Sebuah pizza hangat berukuran sedang dan dua gelas es teh menjadi sarapan sekaligus makan siang kami hari itu. Mungkin terdengar aneh datang jauh-jauh ke Nepal lalu makan pizza, tetapi itulah salah satu hal yang kusukai dari perjalanan. Kadang yang paling diingat justru bukan makanan khasnya, melainkan momen sederhana ketika duduk santai setelah perjalanan panjang sambil menikmati makanan yang kebetulan lewat di depan mata.

Selesai menghabiskan pizza dan es teh, kami akhirnya melangkah masuk lebih jauh ke kawasan Bhaktapur Durbar Square. Semakin jauh berjalan, semakin aku mengerti mengapa banyak orang menyebut Bhaktapur sebagai kota tua tercantik di Nepal.

Bhaktapur sendiri merupakan salah satu dari tiga kota kerajaan kuno di Lembah Kathmandu, bersama Kathmandu dan Patan. Pada masa Kerajaan Malla, kota ini pernah menjadi pusat kekuasaan yang sangat penting sekaligus pusat seni dan budaya masyarakat Newari. Jejak kejayaan itu masih terlihat jelas hingga sekarang. Hampir setiap sudut kota dipenuhi bangunan bata merah, jendela kayu berukir, kuil-kuil kuno, serta halaman-halaman luas yang seolah tidak banyak berubah selama ratusan tahun.

Berjalan di Bhaktapur terasa seperti berjalan di dalam sebuah kota yang lupa menjadi modern.

Bangunan-bangunan tua berdiri berdampingan tanpa terganggu papan reklame besar atau gedung beton tinggi. Jalanannya masih menggunakan bata merah. Banyak warga lokal yang duduk santai di teras rumah, bercengkerama, atau sekadar mengamati wisatawan yang lalu-lalang.

Yang membuatku semakin terkesan adalah suasana kota ini terasa sangat hidup. Bhaktapur bukan kawasan bersejarah yang dibangun ulang khusus untuk turis. Ini adalah kota tua yang benar-benar masih dihuni dan digunakan oleh masyarakat sehari-hari.

Di tengah kawasan durbar square berdiri berbagai bangunan bersejarah yang usianya mencapai ratusan tahun. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah paviliun kayu bertingkat bergaya pagoda yang berdiri di tengah alun-alun. Detail ukiran kayunya luar biasa rumit. Hampir tidak ada bagian bangunan yang dibiarkan polos. Setiap sudut, tiang, dan bingkai jendela dipenuhi pahatan yang menunjukkan betapa tingginya kemampuan para pengrajin Newari pada masa itu.

Ketika aku berkunjung, proses pemulihan pasca Gempa Nepal 2015 masih berlangsung. Beberapa kuil terlihat disangga balok-balok kayu besar. Tumpukan bata masih terlihat di beberapa sudut lapangan. Ada bangunan yang sedang direstorasi dan ada pula yang masih menunggu giliran diperbaiki.

Namun anehnya, pemandangan itu tidak mengurangi keindahan Bhaktapur. Justru sebaliknya.

Tumpukan bata dan penyangga kayu itu seperti menjadi pengingat bahwa kota ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan budaya yang sedang diperjuangkan agar tetap hidup.

Kami terus berjalan menyusuri alun-alun. Sesekali berhenti untuk memotret kuil, mengamati ukiran kayu, atau memperhatikan detail-detail kecil yang mungkin terlewat jika berjalan terlalu cepat.

Di salah satu sudut, aku menemukan deretan toko yang menjual berbagai kerajinan logam khas Nepal. Patung Buddha, mangkuk singing bowl, lonceng kuil, lampu minyak, hingga berbagai ornamen perunggu dipajang memenuhi etalase. Cahaya matahari siang yang memantul dari permukaan logam membuat jalanan kecil itu terlihat begitu menarik.

Tidak jauh dari sana, seekor kambing berbulu putih sedang berbaring santai di atas pondasi bata tua. Tidak ada yang memperhatikannya. Orang-orang berlalu lalang begitu saja, seolah keberadaannya merupakan bagian alami dari pemandangan kota.

Dan mungkin memang begitu.

Nepal adalah salah satu negara paling unik yang pernah aku kunjungi. Di sini, kuil berusia ratusan tahun, kambing yang tidur di tengah situs bersejarah, pedagang suvenir, wisatawan asing, dan warga lokal bisa berbagi ruang yang sama tanpa terlihat janggal sedikit pun.

Semua terasa berjalan dengan ritmenya sendiri.

Semakin lama berada di Bhaktapur, semakin aku merasa bahwa daya tarik Nepal bukan hanya terletak pada Himalaya atau Gunung Everest. Justru yang membuat negara ini begitu berkesan adalah bagaimana sejarah, budaya, agama, dan kehidupan sehari-hari masih menyatu secara alami dalam satu ruang yang sama.

6.09.2026

[PART 15] Menggapai Himalaya : Menatap Kathmandu dari Puncak Swayambhunath..

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

       Part Sebelumnya: DISINI 


Motor matik kami kembali berjalan menembus kepadatan Kota Kathmandu. Motor, mobil, manusia, bangunan usang, debu saling bercampur di jalanan kota yang nyaris tanpa lampu pengatur lalu lintas ini. Untaian kabel-kabel melilit di tiang listrik yang ukurannya tidak seberapa. Matahari bersinar menyengat, klakson motor bersahut-sahutan. Pemandangan yang cukup klasik dan biasa di Kathmandu. Kami sudah terbiasa.

Semakin lama jalanan yang kami lewati terasa semakin menanjak. Rumah-rumah penduduk berjajar di sepanjang jalanan aspal yang cukup halus ini. Setelah setengah jam berkendara, kami telah sampai di Stupa Swayambunath. Tidak seperti sebelumnya, disini kami bisa memarkir motor karena disediakan tempat parkir yang luas dan gratis. Rupaya Stupa Swayambunath berada di salah puncak Bukit Swayambhunath di Lembah Kathmandu.

Suasana stupa terlihat sangat tenang dan damai. Begitu masuk, pemandangan pertama yang kami lihat adalah sebuah kolam melingkar dengan patung Buddha ketika masih berusia belia di bagian tengahnya. Pada bagian bawah patung terdapat sebuah lempengan besi yang penuh dengan uang logam. Beberapa uang logam yang dilemparkan pengunjung meluncur masuk ke kolam. Aku sendiri kurang paham maksudnya untuk apa, mungkin sebagai bentuk persembahan, keberuntungan?

Kami melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam kuil. Menurutku Kuil Swayambunath ini sangat damai dan menarik. Di bagian bawah aku bisa melihat monyet-monyet berlompatan dan berenang dengan bebas. Turis lokal maupun turis asing saling berjajar di pagar untuk melihat aktraksi menarik tersebut.

Petualangan kami berlanjut ke puncak bukit Swayambunath. Karena posisi kuil yang berada di puncak, kita bisa melihat pemandangan Lembah Kathmandu dari atas. Bendera-bendera doa warna-warni berkibar tertiup angin gunung yang segar. Penjual berbagai pernak-pernik mulai dari alat bersembahyang umat Buddha (mulai dari patung Buddha berbagai ukuran, roda doa, kalung doa, cawan-cawan kuningan), lukisan minyak, kalung, gelang, topeng dengan berbagai macam ukiran, kartu pos, dan masih banyak lagi.

Menaiki anak tangga yang cukup banyak dan curam, akhirnya kami sampai di bagian atas kuil yang merupakan tempat ziarah utama yakni Stupa Swayambhunath. Sebuah mandala berbentuk setengah bola berwarna putih menjadi alas bagi Stupa Swayambunath. Di sekeliling mandala terlihat dikelilingi oleh pagar dan roda doa. Bendera-bendera doa saling dibentangkan dari ujung stupa ke sekeliling arah, menyebarkan mantra-mantra yang diharapkan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi makhluk hidup di dunia. Berdasarkan tulisan di lempengan sekitar stupa, untuk melakukan ziarah mengelilingi stupa atau memutar roda doa diharapkan searah dengan jarum jam.

Dari stupa kami beranjak ke bagian ujung kuil yang langsung menghadap pegunungan dan Lembah Kathmandu. Pemandangan sangat indah dan damai, ditambah cuaca sedang sedikit mendung sehingga kami terhindar dari terik matahari. Ribuan rumah berbentuk kotak-kotak bertumpuk di Lembah Kathmandu. Banyak bangunan bertingkat-tingkat disini, mungkin seperti rumah susun. 

Aku memandang ke bawah, aku memandang ke gunung. Hatiku berdesir, hatiku bahagia. Terimakasih Tuhan telah mengizinkanku kesini.

Kolam dengan patung Buddha di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Monyet-monyet berlompatan dan berenang di kolam (GALUH PRATIWI)

Naik puluhan anak tangga menuju puncak bukit (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Buddha Siddharta Gautama (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Berfoto bersama penjual lukisan minyak (GALUH PRATIWI)

Stupa Swayambhunath yang berwarna kuningan dengan lukisan Buddha (GALUH PRATIWI)

Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Stupa Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Langit mendung menggelayuti Lembah Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Bendera doa berkibar tertiup angin (GALUH PRATIWI)

PBendera doa berisi mantra-mantra. Ketika berkibar tertiup angin diharapkan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi dunia (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)