Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

4.23.2026

[Part 9] Cam on Vietnam : Deadline dan Damainya Pagoda Chua Ling Uhn..

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Esok paginya, aku bangun cukup pagi. Entah karena sudah kebiasaan atau memang tubuhku tahu ada tanggung jawab yang belum selesai. Begitu tirai jendela aku buka, udara pagi Kota Da Nang langsung merangsek masuk—segar, ringan, dengan aroma laut yang tipis-tipis terasa. Cukup untuk membuat kepalaku terasa lebih jernih.

Aku berdiri sebentar di dekat jendela, menarik napas panjang melihat kota yang mulai bergerak di bawah sana. Aku punya misi pagi ini. Tidak lain dan tidak bukan, melanjutkan pekerjaan semalam yaitu deadline dokumen! Semalam aku sengaja berhenti kerja lebih awal karena tidak mau menukar tidur dengan kesehatan. Aku ingin lanjut pagi ini dengan pikiran yang lebih segar.

Tanpa banyak drama, aku langsung cuci muka dan sikat gigi sampai benar-benar merasa melek. Ritual dimulai dengan membuat teh hangat dari kettle kecil di kamar. Uapnya naik perlahan, memberi sinyal ke otak bahwa hari kerja resmi dimulai. Aku duduk di tepi kasur, membuka laptop, dan kembali berkutat dengan file yang semalam kutinggalkan.

“Pokoknya hari ini harus selesai dan di-upload,” seruku dalam hati. Tidak ada tawar-menawar.

Dokumen perpanjangan izin ini tebalnya ratusan halaman. Isinya meliputi data teknis, tabel produksi, peta koordinat, hingga matriks pengelolaan lingkungan. Jari-jariku bergerak cepat. Aku harus memastikan tidak ada satu angka pun yang meleset, karena instansi tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apa pun.

Sekitar jam sembilan pagi, perut mulai berontak. Di sinilah skill multitasking versi freelancer traveling diuji. Sambil mata menatap layar, telingaku memasang radar ke arah rice cooker mini yang aku bawa dari Indonesia. Ya, aku tipe traveler yang bawa alat masak sendiri kalau tripnya lama hihihi. Sambil menunggu nasi matang, aku tetap fokus ke dokumen. Begitu terdengar bunyi “klik” dari rice cooker, aku langsung santap nasi hangat itu dengan sisa ayam goreng semalam. Sederhana, tapi pas banget untuk menjaga fokus.

Berjam-jam aku lalui dengan fokus ke laptop. Mindsetku simpel, semakin cepat selesai semakin cepat aku bisa lanjut eksplor. Menjelang siang, bagian terakhir akhirnya selesai. Aku melakukan pengecekan final dari halaman pertama sampai terakhir. Dengan perasaan deg-degan, aku klik upload

File besar itu mulai terunggah perlahan. Progress bar bergerak sedikit demi sedikit. Aku menahan napas tanpa sadar sampai akhirnya muncul notifikasi: upload berhasil.

Aku bersandar ke kursi, mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti ada beban berat yang baru saja diangkat dari pundakku!

YESSS! Akhirnya bisa eksplor lagi tanpa kepikiran kerjaan (at least sementara)!

***

Selesai upload jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku merebahkan badan di kasur sejenak, beristirahat untuk melemaskan setiap urat-urat di pundakku wkwk.. Aku mendekat ke arah jendela kamar, kembali menikmati semburan udara sejuk Kota Danang. Udara di luar enak banget, pikirku. Kami sepakat untuk lanjut eksplor ke Pagoda Chùa Linh Ứng setelah ini, yang jaraknya sekitar lima kilometer dari hotel. Tidak terlalu jauh. Cukup untuk motoran santai.

Tapi sebelum itu… karena perut sudah lapar lagi, aku memesan sup kepiting dan tumis daging sapi lewat aplikasi Grab. Perjuangannya lumayan karena harus membedah menu bahasa Vietnam pakai Google Translate, dengan melakukan screen shot menu satu persatu wkwk. Setelah beberapa menit scroll, buka tutup aplikasi, dan membandingkan review, akhirnya aku memutuskan pesan sup kepiting, tumis daging sapi dan segelas kopi Vietnam. Tidak menunggu lama makanan datang. Supnya hangat gurih, dagingnya pun empuk. Tentu saja, nasinya tetap hasil masakan sendiri di rice cooker andalan.

Selesai makan, kami beres-beres cepat dan keluar kamar. Begitu pintu hotel terbuka dan kami melangkah ke luar, angin sore pesisir langsung menyentuh wajah.

Huft. Akhirnya.

Udara Da Nang sore itu benar-benar menyenangkan. Bisa dibilang pas, sejuk, tidak lembab dan tidak dingin. Anginnya membawa aroma laut —sedikit asin, sedikit segar. Kami naik motor dan mulai menyusuri jalan di sepanjang tepi laut. Langit sore itu juga mulai berubah warna, biru cerah perlahan melembut. Matahari belum tenggelam, tapi sinarnya sudah condong, menciptakan bayangan panjang di jalan. Di sisi kanan, laut terbentang luas dengan ombak kecil yang berkilau terkena cahaya keemasan. Beberapa orang terlihat jogging di trotoar lebar, ada yang berjalan santai berdua, ada keluarga kecil duduk di bangku menghadap laut.

Barisan pohon kelapa berdiri rapi di sepanjang jalan, daunnya bergerak pelan tertiup angin. Gedung-gedung hotel dan apartemen tinggi menjulang di sisi lain jalan, modern tapi tidak terasa sumpek. Jalanannya lebar dan relatif tertib. Motor-motor melaju dengan ritme yang tidak terburu-buru. Tidak ada klakson berlebihan, tidak ada kesan kacau. Ah.. aku sangat menyukai Kota Danang ini!

Motor kami melaju pelan. Aku sengaja tidak ingin ngebut. Rasanya sayang kalau sore seperti ini dilewati begitu saja. Angin menerpa wajah, rambut sedikit berantakan. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan—tenang yang muncul ketika kamu tahu pekerjaan sudah selesai, perut sudah kenyang, dan sekarang kamu hanya perlu menikmati perjalanan tanpa beban.

Tidak butuh waktu lama hingga kami mulai melihat perbukitan kecil di kejauhan. Jalan sedikit menanjak, suasana berubah lebih hijau. Dan akhirnya, bangunan pagoda mulai terlihat dari kejauhan—atap melengkung khas arsitektur Asia Timur dan patung putih tinggi yang berdiri anggun menghadap laut.

Kami akhirnya sampai di kompleks area Pagoda Chùa Linh Ứng. Begitu turun dari motor dan mulai berjalan masuk, kami langsung disambut suasana tenang, damai dan lebih hening. Seolah-olah tempat ini punya ritmenya sendiri, terpisah dari hiruk pikuk kota tadi. Begitu menengadahkan kepala, kami disambut oleh patung Dewi Kuan Im berwarna putih yang menjulang tinggi, sekitar 67 meter. Tinggi banget. Bahkan dari bawah pun rasanya harus mendongak cukup lama untuk bisa melihat keseluruhannya. Patung ini berdiri di atas bunga teratai besar, menghadap langsung ke laut lepas, seolah menjaga seluruh kota Da Nang dari kejauhan. Wajahnya tenang. Tatapannya lembut tapi dalam dan menenangkan.  

Aku sempat berdiri beberapa detik, cuma melihat ke atas. Patung Dewi Kuan Im ini memang jadi ikon utama pagoda ini. Dalam kepercayaan Buddha, Kuan Im dikenal sebagai dewi welas asih—simbol kasih sayang, pelindung, dan penolong bagi mereka yang sedang kesulitan. Makanya tidak heran kalau patungnya dibuat menghadap laut. Konon, ini sebagai simbol perlindungan bagi para nelayan dan masyarakat sekitar dari bahaya laut. Setelah aku browsing, pagoda ini sendiri sebenarnya cukup baru, dibangun sekitar tahun 2004, tapi langsung jadi salah satu tempat spiritual paling penting di Da Nang, terutama karena lokasinya di Semenanjung Son Tra yang menghadap langsung ke laut.

Aku melanjutkan langkah naik melewati tangga-tangga batu yang lebar. Tangga ini terasa kokoh, membawaku perlahan menuju gerbang utama pagoda. Dari bawah sini saja, gerbangnya sudah terlihat sangat megah dengan ornamen khas Tiongkok-Vietnam. Ada ukiran naga di bagian atas dan tulisan kanji di sisi-sisinya. Warna hijau kebiruannya yang sedikit memudar dimakan waktu justru memberi kesan klasik dan berkarakter, seolah gerbang ini sudah menjadi saksi bisu ribuan doa yang dipanjatkan di sini. Ketika berada diatas, kubalikkan badan dan aku disambut pemandangan laut terbentang luas tanpa batas tepat di hadapanku. Warna airnya perlahan berubah dari biru cerah menjadi keemasan, karena matahari sudah mulai condong ke barat. Angin dari arah laut berhembus pelan, menyapu wajah dengan rasa adem yang susah dijelaskan—tidak dingin, tapi cukup untuk membuat tubuh rileks dan pikiran ikut melambat. Aku sempat berhenti beberapa detik di sana, berdiri tanpa banyak bicara, cuma menikmati pemandangan yang terasa sederhana tapi entah kenapa sangat menenangkan.

Dari situ, aku melangkah masuk lebih dalam ke kompleks pagoda. Ternyata area di dalamnya jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Halamannya terbuka dengan lantai batu yang rapi. Tapi, yang paling menarik perhatianku adalah deretan pohon bonsai yang ditata berjajar di kanan dan kiri. Ini bukan sekadar bonsai kecil biasa, ya. Banyak di antaranya yang terlihat sudah berumur sangat tua. Batangnya besar dan berkelok-kelok, dengan akar-akar tua yang muncul ke permukaan seperti sedang mencengkeram tanah. Siluetnya unik banget. Setiap pohon terlihat berbeda, seolah masing-masing punya cerita panjang yang diam-diam mereka simpan.

Aku berjalan pelan di antara deretan bonsai itu. Suasananya tenang sekali. Tidak ramai, tidak berisik. Hanya ada suara langkah kaki sesekali, desir angin yang menyentuh daun, dan obrolan pelan dari beberapa pengunjung. Ada yang duduk santai di pinggir, ada yang sibuk mengambil foto, tapi ada juga yang memilih diam saja, sekadar menikmati suasana tanpa distraksi HP sama sekali.

Di bagian ujung terdapat bangunan utama kuil. Arsitekturnya luar biasa cantik, khas kuil-kuil Asia Timur dengan atap tumpuk berwarna hijau tua yang ujungnya melengkung ke atas, dihiasi ukiran naga-naga yang terlihat gagah di bawah langit sore. Pilar-pilar penyangganya juga unik banget, berbentuk naga putih raksasa yang melilit batang pilar berwarna merah. Di sela-sela pilar itu, bergelantungan lampion-lampion kuning cerah. Di atas pintu utama, terpasang papan nama bertuliskan huruf kanji berwarna emas yang berkilau terkena cahaya matahari. 

Suasana sore itu terasa cukup ramai, baik oleh wisatawan maupun warga lokal. Aku sempat berdiri di tengah tangga untuk berfoto sebentar, mengambil posisi di antara pot-pot tanaman hias yang tertata rapi. Di belakangku, terlihat beberapa orang bersiap masuk ke dalam kuil. Di teras kuil, terlihat orang-orang melepaskan alas kaki mereka sebelum melangkah masuk. Sebenarnya, aku penasaran sekali ingin mengintip ke dalam. Dari pintu masuk yang terbuka lebar, samar-samar aku bisa melihat kemilau keemasan dari patung-patung di dalamnya. Interior kuilnya terlihat luas, didominasi warna merah marun dengan pilar-pilar besar. Di dinding bagian dalam, terdapat ukiran emas yang sangat rumit dan detail. Yang paling menarik perhatian adalah barisan patung Buddha berwarna emas yang duduk berjejer di atas meja kayu berukir, lengkap dengan persembahan dan bunga-bunga segar. Di depan patung-patung itu, di atas lantai keramik yang berkilau, tertata rapi matras-matras meditasi kecil lengkap dengan bantal duduk, siap digunakan oleh para peziarah untuk berdoa.

Suasananya di dalam sana terasa begitu sakral dan sunyi, berbeda dengan keramaian di luar. Ada beberapa orang yang terlihat sedang berlutut di atas matras, khusyuk berdoa di depan patung Buddha. Aroma dupa yang harum tercium samar sampai ke tempatku berdiri. Melihat betapa sakral dan tenang suasana di dalam, aku akhirnya memutuskan untuk tidak masuk terlalu dalam. Rasanya sungkan kalau sampai mengganggu keheningan mereka yang sedang berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Berdiri di ambang pintu, melihat dari kejauhan, dan merasakan aura ketenangan yang terpancar dari dalam sudah cukup bagiku. 

Kami lanjutkan berjalan menyisir bagian samping kompleks pagoda. Di sana terdapat sebuah taman kecil yang cantik dengan bunga-bunga berwarna merah cerah. Ada juga sebuah bangunan kayu sederhana menyerupai pendopo dengan hiasan lampion dan pohon sakura buatan. Aku sempatkan duduk sejenak di sana, sekadar meluruskan kaki sambil menikmati semilir angin sore sebelum lanjut jalan lagi.

Aku kemudian memutar menuju bagian belakang kompleks pagoda. Di sebuah area terbuka yang cukup luas, aku menemukan barisan patung yang unik. Salah satunya adalah patung Buddha kecil yang berdiri di atas kelopak bunga teratai pink yang sedang mekar. Patung ini menggambarkan sosok Siddharta Gautama saat masih bayi. Posisi tangannya yang menunjuk ke langit melambangkan momen kelahiran beliau yang membawa cahaya bagi dunia. Di sekelilingnya, terdapat patung-patung murid atau pengikut Buddha yang sedang dalam posisi berdoa, menciptakan suasana yang sangat sakral di bawah pohon-pohon besar yang rindang.

Langkahku berlanjut menuju area yang lebih tinggi. Di sana, aku disambut oleh sebuah Pagoda Sembilan Lantai yang berdiri megah. Untuk mencapainya, aku harus menaiki tangga batu yang cukup panjang. Tangga ini dihiasi dengan ukiran naga raksasa di sisi kanan dan kirinya, lengkap dengan pot-pot bunga krisan kuning yang berjejer rapi di setiap anak tangga. Kombinasi warna abu-abu batu, hijaunya pohon bonsai, dan kuningnya bunga benar-benar memanjakan mata.

Tak jauh dari situ, aku menemukan patung Buddha Sakyamuni berwarna putih bersih yang sedang bermeditasi di atas bunga teratai. Patung ini tampak begitu tenang dengan latar belakang langit biru yang mulai bersih dari awan. Pohon-pohon di belakangnya seolah membentuk payung alami bagi sang Buddha. Berada di titik ini membuatku merasa sangat kecil sekaligus damai. Rasanya semua lelah setelah seharian mengejar deadline izin tambang tadi pagi langsung luntur begitu saja digantikan rasa syukur bisa sampai di titik ini.

Sore itu, aku benar-benar membiarkan waktu tercuri. Aku duduk cukup lama di salah satu bangku taman, sekadar diam dan menarik napas panjang. Ada rasa hangat yang menjalar di dada—karena rasa syukur yang tumpah ruah. Di tengah perjalanan jauh ini, semuanya berjalan lancar. Pekerjaan beres, perizinan klien terkirim, dan sekarang aku duduk di salah satu tempat paling damai di Vietnam.

Aku menghabiskan waktu dengan people watching. Melihat peziarah yang khusyuk, wisatawan yang sibuk berfoto, sampai biksu yang melintas tenang. Tanpa sadar, langit mulai berubah warna menjadi jingga pekat. Matahari yang mulai tenggelam di cakrawala Da Nang adalah sinyal tak terbantahkan, aku harus segera kembali ke kota sebelum jalanan semenanjung menjadi terlalu gelap.

Perjalanan motoran turun dari Son Tra terasa jauh lebih sejuk. Begitu sampai di pusat kota, perutku mulai memberikan sinyal lapar. Karena sedang malas makan berat yang ribet, pilihanku jatuh pada Banh Mi—sandwich khas Vietnam yang legendaris itu. Aku membelinya di salah satu kedai pinggir jalan. Roti baguette-nya garing di luar tapi lembut di dalam, diisi dengan páté, daging, dan sayuran segar yang melimpah. Rasanya? Lumayan enak banget! Pas untuk menutup hari yang produktif sekaligus kontemplatif ini.

Malam itu tidak ada agenda spesifik. Aku benar-benar mendedikasikan waktu untuk mengistirahatkan tubuh. No deadline, no drama. Syukurlah, aku bisa tidur lebih awal dari biasanya. Besok kami berencana akan mengunjungi Ba Na Hills, destinasi ikonik dengan jembatan emasnya yang viral itu. Jarak dari kota Da Nang ke Ba Na Hills sendiri sekitar 30 kilometer. Kalau lancar, perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 1 jam naik motor. Jaket sudah siap, helm sudah di tangan, dan tangki motor rencananya akan aku isi penuh besok pagi. Ba Na Hills, tunggu aku! Kami benar-benar siap!

Part Selanjutnya : DISINI

4.10.2026

Sadar Setiap Hari (SSH) 23 : Kebahagiaan dan Penderitaan Diciptakan oleh Pikiran

Sering kali manusia percaya bahwa sumber kebahagiaan dan penderitaan berasal dari luar dirinya. Dari keadaan, dari orang lain, dari situasi yang tidak berjalan sesuai harapan, atau justru dari pencapaian yang dianggap membawa rasa puas. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa jika kondisi eksternal membaik, maka batin juga akan ikut membaik. Sebaliknya, ketika keadaan memburuk, kita merasa wajar jika hati ikut jatuh dan pikiran ikut kacau. Namun, jika ditelusuri lebih dalam melalui sudut pandang Buddha Dhamma, asumsi ini perlahan runtuh. Yang menentukan kualitas pengalaman hidup bukanlah apa yang terjadi di luar, melainkan bagaimana pikiran memaknai dan meresponsnya.

Dalam ajaran , dijelaskan bahwa pikiran adalah pelopor dari segala kondisi batin. Segala pengalaman—baik yang terasa menyenangkan maupun yang terasa menyakitkan—berawal dari proses mental. Pikiran memberi label, membentuk persepsi, lalu melahirkan reaksi emosional. Tanpa proses ini, suatu kejadian hanyalah kejadian. Ia tidak membawa penderitaan, juga tidak membawa kebahagiaan. Makna yang kita tempelkanlah yang mengubahnya menjadi sesuatu yang terasa berat atau ringan.

Penderitaan dalam Buddha Dhamma dikenal dengan istilah dukkha. Dukkha bukan hanya tentang rasa sakit yang nyata, tetapi juga ketidakpuasan halus yang sering tidak disadari. Akar dari dukkha ini bukan terletak pada dunia luar, melainkan pada tiga hal utama dalam batin manusia: keinginan yang melekat, penolakan terhadap kenyataan, dan ketidaktahuan akan sifat sejati kehidupan. Ketika seseorang menginginkan sesuatu terjadi sesuai harapannya, namun kenyataan tidak mengikuti, maka muncullah ketegangan. Ketika seseorang menolak keadaan yang tidak disukai, tetapi tidak bisa menghindarinya, maka muncullah konflik batin. Dan ketika seseorang tidak memahami bahwa segala sesuatu bersifat berubah, maka ia akan terus-menerus berharap pada sesuatu yang tidak pernah stabil.

Dari sini terlihat bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang “diberikan” oleh dunia, melainkan sesuatu yang “dibentuk” oleh pikiran. Dua orang dapat menghadapi situasi yang sama, tetapi mengalami perasaan yang sangat berbeda. Hal ini terjadi karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda. Pikiran yang penuh keterikatan akan cenderung memperbesar masalah, sedangkan pikiran yang lebih jernih dan terbuka akan mampu melihat keadaan dengan lebih seimbang.

Sebaliknya, kebahagiaan juga tidak berasal dari luar. Banyak orang menganggap bahwa kebahagiaan adalah hasil dari terpenuhinya keinginan. Namun dalam praktiknya, pemenuhan keinginan hanya memberikan kepuasan sementara. Setelah satu keinginan terpenuhi, akan muncul keinginan berikutnya. Siklus ini terus berulang tanpa akhir. Oleh karena itu, kebahagiaan yang bergantung pada kondisi eksternal cenderung tidak stabil. Ia mudah muncul, tetapi juga mudah hilang.

Buddha Dhamma menawarkan sudut pandang yang berbeda: kebahagiaan sejati bukanlah hasil dari mendapatkan apa yang diinginkan, melainkan dari berkurangnya keterikatan terhadap keinginan itu sendiri. Ketika pikiran tidak lagi terus-menerus menuntut, membandingkan, atau menolak, maka muncul ruang untuk ketenangan. Dalam kondisi ini, kebahagiaan tidak lagi bergantung pada apa yang terjadi, tetapi muncul dari cara batin berada dalam setiap keadaan.

Hal ini tidak berarti bahwa dunia luar tidak memiliki pengaruh sama sekali. Keadaan tetap dapat menjadi pemicu munculnya reaksi batin. Namun, pemicu bukanlah penyebab utama. Penyebab utamanya tetap berada di dalam, yaitu bagaimana pikiran menanggapi pemicu tersebut. Dengan kata lain, dunia luar mungkin menghadirkan kondisi, tetapi pikiranlah yang menentukan apakah kondisi itu menjadi sumber penderitaan atau tidak.

Pemahaman ini membawa konsekuensi yang cukup mendalam. Jika penderitaan dan kebahagiaan berakar pada pikiran, maka keduanya bukan sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali. Artinya, manusia memiliki kemungkinan untuk melatih batinnya agar tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan. Dalam Buddha Dhamma, latihan ini dikenal melalui praktik seperti kesadaran penuh (mindfulness), konsentrasi, dan pengembangan kebijaksanaan.

Melalui kesadaran, seseorang belajar untuk mengenali apa yang sedang terjadi di dalam pikirannya tanpa langsung bereaksi. Ia mulai melihat bahwa pikiran hanyalah fenomena yang muncul dan berlalu, bukan sesuatu yang harus selalu diikuti. Dengan konsentrasi, pikiran menjadi lebih stabil dan tidak mudah terseret oleh arus emosi. Dengan kebijaksanaan, seseorang mulai memahami sifat dasar kehidupan—bahwa segala sesuatu tidak kekal (anicca), tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, dan tidak layak untuk digenggam secara berlebihan.

Ketika pemahaman ini semakin dalam, perlahan muncul perubahan dalam cara mengalami hidup. Keadaan yang sebelumnya memicu reaksi berlebihan mulai terasa lebih netral. Keinginan yang dulu terasa mendesak mulai melemah. Penolakan yang sebelumnya kuat mulai melunak. Bukan karena dunia berubah, tetapi karena cara melihat dunia berubah.

Pada akhirnya, ajaran ini mengarah pada satu kesimpulan yang sederhana namun radikal: tidak ada yang benar-benar bisa membuat seseorang menderita selain pikirannya sendiri, dan tidak ada yang benar-benar bisa membuat seseorang bahagia selain pikirannya sendiri. 

Dimanapun seseorang berada, dalam kondisi apapun ia hidup, kualitas batinnya tetap ditentukan dari dalam.

Pemahaman ini bukan sekadar konsep filosofis, melainkan sesuatu yang dapat diamati langsung dalam kehidupan sehari-hari. Setiap reaksi, setiap emosi, setiap pengalaman batin selalu memiliki jejak pikiran di baliknya. Dengan menyadari hal ini, seseorang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dunia luar untuk merasa baik-baik saja. Ia mulai menemukan bahwa sumber ketenangan sebenarnya selalu ada di dalam dirinya sendiri.

2.26.2026

Boyolali, 25 Februari 2026 : "Langkah Pelan"

Langkah Pelan..

Sudah tahun 2026 ya... Dengan pekerjaanku sebagai seorang konsultan freelance yang bertugas menyusun dokumen dengan tebal ratusan halaman, berarti...sudah hampir sepuluh tahun aku hidup dalam ritme kerja yang cepat. Deadline datang seperti gelombang yang tidak pernah benar-benar surut. Satu selesai, satu lagi muncul. Ada target, ada ekspektasi, ada revisi, ada keputusan yang harus diambil dalam waktu singkat. Dalam prosesnya, aku belajar banyak hal. Aku belajar tangguh. Aku belajar menyelesaikan masalah. Aku belajar berdiri tegak ketika ekspektasi tidak terpenuhi, ketika rasa tidak puas muncul, ketika ada amarah yang harus ditelan, ketika merasa tidak diperlakukan adil tapi tetap harus profesional.

Semua itu membentukku....

Tapi diam-diam, intensitas itu juga mengikis sesuatu yang lebih halus: ketenanganku.

Dengan deadline bertumpuk, aku terbiasa hidup dalam mode siaga. Bahkan ketika hari terlihat biasa saja, pikiranku jarang benar-benar istirahat. Ada saja yang dipikirkan. Ada saja yang direncanakan. Ada saja yang harus dikuatirkan. Produktif, iya. Bertumbuh, iya. Overthingking? Pasti iya. Tapi stabil? Belum tentu.

Di satu titik, aku mulai bertanya pada diriku sendiri dengan jujur: kapan terakhir kali aku hidup tanpa tekanan konstan? Tanpa merasa dikejar waktu? Tanpa harus membuktikan sesuatu?

Dari pertanyaan itu lahir sebuah rencana yang sangat sederhana, hampir terasa sepele: tinggal di kota asing selama dua minggu atau satu bulan. Tidak secara khusus untuk jalan-jalan. Tidak untuk memperluas jaringan. Tidak untuk mengejar ambisi berikutnya. Hanya untuk hidup pelan..

Hidup pelan bagaimana? Maksudku..Contohnya seperti ini..Bangun pagi tanpa alarm yang bernada mendesak. Jalan kaki menyusuri jalan yang belum pernah kulalui. Sarapan sederhana yang sehat tanpa memikirkan setelah ini harus buka laptop. Pergi ke gym bukan untuk membentuk tubuh secara agresif, tapi untuk menggerakkan badan dengan tenang. Duduk di cafe beberapa jam hanya untuk membaca atau menulis tanpa target. Menonton film di malam hari tanpa merasa bersalah karena “harusnya” sedang produktif.

Aku menyebut rencana ini sebagai "langkah pelan".

Kenapa kota asing? Karena aku ingin ruang yang netral. Ruang yang tidak menyimpan memori tentang diriku sebagai pekerja yang harus cepat, harus kuat, harus bisa. Di kota yang tidak mengenalku, aku hanya seseorang yang sedang berjalan. Tidak ada reputasi. Tidak ada cerita lama. Tidak ada ekspektasi yang menggantung di udara.

Kupang muncul pertama kali dalam pikiranku. Bukan semata karena jauh. Bukan hanya karena lautnya luas dan langitnya terang. Kupang muncul karena aku punya memori masa lalu dengan kota itu yang cukup melekat. Ada bagian dari hidupku yang pernah beririsan dengannya. Ada jejak perasaan yang tertinggal di sana. Entah kenapa aku senang mengingat diriku dahulu sewaktu disini. Mungkin itulah sebabnya namanya muncul lebih dulu dibanding kota lain. Seolah-olah ada sesuatu yang belum selesai, atau mungkin justru sesuatu yang ingin kuingat kembali dengan versi diriku yang sekarang.

Setelah Kupang, pikiranku melayang ke langkah pelan di Labuan Bajo dengan bukit-bukitnya yang menghadap laut dan senja yang terkenal indah. Ke Ambon yang terasa lebih dalam, lebih hening, dengan energi timur yang khas. Ke Manado dengan lautnya yang biru jernih dan ritme kota yang tidak terlalu tergesa. Ke Bali bagian timur, yang lebih sepi dibanding pusat keramaian, dengan pantai-pantai yang tenang dan desa-desa yang masih sederhana. Ke Muntilan di sekitar Candi Borobudur yang dikelilingi Perbukitan Menoreh..Kota-kota itu seperti titik-titik di peta yang memanggil dengan cara yang berbeda, tapi menawarkan hal yang sama: ruang untuk melambat. 

Dan kalau langkah pelan itu ingin kucoba di luar negeri, ada dua kota yang langsung muncul di kepalaku: Danang dan Hoi An, Vietnam. Aku pernah ke sana, dan entah kenapa, dua kota itu meninggalkan rasa yang lembut di dalam ingatanku. Danang dengan pantainya yang panjang dan bersih, tempat orang-orang berjalan santai di pagi hari tanpa tergesa. Kota itu terasa modern tapi tidak berisik. Lautnya luas, jalannya rapi, dan ada ketenangan yang aneh ketika melihat ombak datang dan pergi. Oh.. bahkan aku selalu berjanji ke diriku akan kembali lagi ke kota ini untuk sekedar bersantai..

Lalu Hoi An. Kota kecil dengan sungai Thu Bồn yang mengalir pelan, lampion-lampion yang menyala hangat di malam hari, dan kehidupan yang terasa sederhana. Aku suka berjalan di tepi sungainya, melihat perahu lewat tanpa perlu ke mana-mana. Hoi An tidak membuatku merasa harus menjadi apa-apa. Ia hanya membiarkanku ada. Dan mungkin itu yang membuatku sangat menyukainya.

Ada satu kota lagi yang selalu terasa nyaman setiap kali kuingat: Istanbul. Kota yang berdiri di antara dua benua itu entah bagaimana selalu terasa pas. Suhu udaranya sering kali tepat—tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin. Langitnya luas, dan aku suka melihat burung-burung pencari ikan terbang rendah di atas air, terutama di sekitar selat dan pelabuhan. Ada ritme yang hidup di sana, tapi tidak menekan. Orang-orang berjalan, kapal berlalu-lalang, burung berputar di udara—semuanya bergerak, tapi tetap terasa tenang. Istanbul membuat siapa pun merasa bisa duduk diam dan hanya mengamati.

Aku bukan berniat traveling dengan itinerary padat. Tidak harus mengejar spot-spot populer. Justru aku ingin hari-hariku biasa saja. Pagi, siang, sore, malam. Rutinitas sederhana yang berulang. Jalan yang sama mungkin kulewati beberapa kali. Cafe yang sama mungkin kukunjungi lagi dan lagi. Karena tujuannya bukan eksplorasi luar, tapi penataan dalam.

Sebenarnya, kota hanyalah latar. Yang benar-benar ingin kuubah adalah tempo hidupku...

Selama ini aku hidup dalam kecepatan. Cepat berpikir, cepat merespons, cepat mengambil keputusan. Kecepatan itu membuatku efisien dan adaptif, tapi juga membuatku jarang benar-benar diam. Aku ingin tahu seperti apa rasanya hidup dengan ritme yang tidak selalu menuntut percepatan. Aku ingin tahu apakah aku bisa merasa cukup tanpa harus selalu mengejar capaian berikutnya.

Langkah pelan bukan bentuk menyerah pada ambisi. Aku tetap mencintai pekerjaanku. Aku tetap menghargai proses yang telah membawaku sampai di titik ini. Tapi mungkin setelah hampir sepuluh tahun berlari, tubuh dan batinku butuh fase berjalan. Bukan berhenti total, bukan menghilang, tapi memberi ruang untuk bernapas lebih panjang.

Mungkin di hari-hari awal aku akan merasa canggung. Ada kemungkinan aku gelisah karena tidak sedang mengejar apa-apa. Bisa jadi ada rasa kosong yang muncul ketika intensitas harian tiba-tiba turun. Tapi mungkin justru di situlah prosesnya. Belajar duduk dengan diri sendiri tanpa distraksi. Belajar menerima bahwa hidup tidak selalu harus dipacu.

Aku tidak sedang mencari kehidupan baru. Aku hanya ingin merasakan versi hidup yang lebih seimbang. Jika setelah dua minggu atau satu bulan aku kembali dengan tidur yang lebih teratur, pikiran yang lebih jernih, dan hati yang lebih ringan, itu sudah cukup. Tidak perlu perubahan dramatis. Tidak perlu deklarasi besar.

Dan jika rencana ini benar-benar terwujud, aku ingin menjadikannya seri tulisan di blog ini. Mungkin per hari. Akan kuceritakan detail aktivitasku. Pagi ke mana, jalan berapa lama, rutenya kemana, gym apa saja yang kulakukan, cafe mana yang kudatangi, aku makan apa, apa yang kurasakan saat duduk sendirian tanpa membuka laptop kerja. Bukan untuk pamer produktivitas versi baru. Bukan untuk membuktikan bahwa aku berhasil “healing”.

Tapi untuk diriku sendiri.

Sebagai catatan jujur. Sebagai review apakah aku benar-benar melakukannya. Apakah aku benar-benar bangun tanpa tergesa. Apakah aku benar-benar bisa duduk tanpa merasa bersalah. Tentu saja tidak harus sempurna. Bisa saja ada hari ketika aku tetap membuka email. Bisa saja ada sore ketika pikiranku kembali sibuk. Tidak apa-apa. Justru di situlah realitanya.

Langkah pelan bukan proyek kesempurnaan. Ia hanya percobaan kecil untuk hidup dengan tempo yang lebih manusiawi.

2.03.2026

[Part 8] Cam on Vietnam : Hoi An, Pagi Terakhir dan Cerita Tentang Manusia

 Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


“Kring kring kring…”

Pukul enam pagi, alarm di HP-ku berbunyi nyaring. Terlalu nyaring, bahkan. Aku tersentak bangun, mata refleks terbuka, lalu langsung menatap langit-langit kamar dengan satu pikiran pertama yang muncul di kepala:

'Aduhh… masih ngantuk banget.'

Badanku masih berat, sisa lelah kemarin belum sepenuhnya pergi. Tapi di detik berikutnya, aku ingat janjiku sendiri semalam. Janji yang kubuat setelah menghabiskan malam dengan berjalan kaki menyusuri kota tua Hoi An yang cantik itu. Kemarin aku sudah mengambil waktu kerja untuk eksplor seharian. Artinya, pagi ini tidak ada tawar-menawar lagi. Hari ini aku harus bangun lebih pagi dan kerja. Aku melirik jam di layar HP. Aku punya waktu sampai sekitar jam dua belas siang sebelum harus check out dan kembali ke Kota Danang. Beberapa jam saja. Tidak banyak. Tapi aku bertekad harus semaksimal mungkin nyicil dokumen.

Aku duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang, lalu memaksakan diri berdiri. Laptop menunggu. File-file kerjaan juga. Aku bertekad memanfaatkan waktu pagi ini sebaik-baiknya. Buat konteks, aku ini freelancer. Pekerjaanku menyusun dokumen dengan tebal ratusan halaman—dokumen yang isinya jauh dari kata santai. Teknis, detail, dan penuh tenggat waktu. 

Mungkin ada yang akan berpikir, “Enak ya, bisa kerja fleksibel sambil traveling.”

Well… kenyataannya tidak seindah itu, kawan. Aku tidak bisa benar-benar 100% melepas pikiranku untuk traveling. Selalu ada sebagian otak yang tetap sibuk memikirkan deadline, revisi, dan klien yang menunggu. Apalagi aku traveling di bulan Februari—bukan musim libur panjang seperti Idul Fitri, bukan masa di mana dunia ikut berhenti sejenak.

Jadi ya… beginilah akhirnya.

Aku tetap traveling. Tapi tetap harus dengan kerja. Aku tetap jalan-jalan. Tapi sambil mikir tanggung jawab. Aku harus ekstra membagi waktu—antara menikmati tempat baru dan menepati janji pada diri sendiri serta orang lain.

Aku menggosok gigi, cuci muka, lalu minum air putih banyak-banyak. Biasanya itu akan membuat mataku langsung melek. Setelah itu aku membuat secangkir teh panas—sederhana, tapi memberi sinyal ke otakku: oke, kita mulai hari ini.

Laptop kubuka. File-file kerjaan bermunculan di layar. Aku memulai dengan bagian yang paling “aman”: membuat peta-peta untuk pelengkap data. Fokus ke teknis dulu. Koordinat, layout, penyesuaian tampilan. Pekerjaan yang tidak terlalu menuntut emosi, tapi butuh ketelitian. Jari-jariku mulai terbiasa lagi dengan ritme kerja. Teh panas perlahan mendingin di samping laptop.

Sekitar satu jam kemudian, setelah peta-peta selesai, aku mulai masuk ke badan dokumen. Mengedit isi. Merapikan kalimat. Menyesuaikan data. Ini bagian yang lebih berat, tapi juga lebih “masuk”. Aku benar-benar fokus. Serius kerja.
Suasana di luar kamar masih tenang. Jalanan belum ramai. Hanya sesekali terdengar motor lewat, suara pintu dibuka, atau langkah kaki pelan. Kota masih bangun perlahan. Dan jujur saja, suasana seperti ini justru ideal buat kerja. Tidak berisik, tidak terganggu, tidak bikin pikiran lompat ke mana-mana.

Tanpa sadar, waktu berjalan cukup cepat.
Sekitar setengah delapan pagi, perutku mulai protes. Lapar. Aku berhenti sebentar, menutup laptop, lalu teringat sesuatu. Semalam, ibu pemilik penginapan sempat bilang kalau mereka juga menjual makanan.

Aku.segera  turun ke bawah, masih dengan rambut seadanya dan kaos santai. Aku pesan pie dan es kopi Vietnam. Tidak pakai lama. Dan… begitu minuman itu sampai, aku langsung paham kenapa banyak orang tergila-gila sama kopi Vietnam.

Es kopi Vietnam-nya juara.

Manisnya pas, kopinya kuat, dinginnya nyegerin. Serius, ini tipe minuman yang bisa bikin orang lupa kalau dia sebenarnya lagi kerja. Harganya? Sekitar 50 ribu rupiah—atau kalau dikonversi, mungkin 35 ribuan. Tidak murah-murah amat, tapi sepadan. Pie-nya juga enak. Hangat, mengenyangkan, dan jadi teman sarapan yang tepat.

Setelah sarapan, aku kembali ke kamar. Laptop dibuka lagi. Kopi jadi teman setia. Aku lanjut kerja dengan fokus yang sama. Kali ini rasanya lebih ringan. Mungkin karena perut sudah terisi. Mungkin juga karena kopi itu benar-benar membantu.
Aku terus bekerja sampai sekitar jam sepuluh pagi. Baru setelah itu aku berhenti sebentar. Menarik napas. Meregangkan badan. Memberi diri sendiri jeda kecil.

Sambil rebahan di kasur, aku membuka Google Maps. Aku lagi-lagi menyusuri Kota Hoi An lewat peta. Entahlah… rasanya aku benar-benar jatuh cinta dengan kota kecil di Vietnam tengah ini. Ada rasa nyaman yang susah dijelaskan. Dan pagi itu, perasaan lain ikut menyelinap pelan-pelan: sedih. Jam dua belas nanti, aku akan meninggalkan kota ini.

“Mana lagi ya yang bisa kukunjungi… sebagai perpisahan?” gumamku sambil menggulir Google Maps tanpa tujuan yang jelas.

Rasanya benar-benar belum rela. Belum siap bilang cukup pada kota yang ritmenya pelan, hangat, dan terasa ramah sejak hari pertama. Lalu, di antara deretan pin dan rekomendasi, mataku berhenti di satu tempat.

Sebuah galeri seni. Milik seorang fotografer Prancis bernama Rehahn.

Galeri ini dikenal dengan nama Precious Heritage Art Gallery Museum. Begitu aku membaca deskripsinya, aku langsung tertarik. Isinya bukan sekadar foto-foto cantik untuk dipajang, tapi dokumentasi perjalanan panjang Rehahn menjelajahi Vietnam—memotret wajah-wajah dari berbagai suku dan etnis minoritas, banyak di antaranya hidup jauh dari hiruk-pikuk kota. Di dalam galeri, pengunjung diajak masuk ke dunia yang tenang dan penuh makna. Foto-foto berukuran besar dipajang rapi di dinding—wajah-wajah penuh keriput, mata yang dalam, senyum yang tidak dibuat-buat. Banyak potret lansia dari komunitas etnis terpencil, mengenakan pakaian tradisional yang detailnya luar biasa rumit. 

'Waahh.. cocok ni,' kataku dalam hati. Selain alam, aku memang menyukai tujuan yang memperkenalkan budaya negara yang kukunjungi.

"Tapi lebih baik kita kesana dulu sebelum check out, supaya ga ribet perihal tas," kata travelmate.

"Iya juga sih. Kecil kok tempatnya, ga terlalu jauh juga dari ini. Kalau kita berangkat sekarang keknya masih sempat," kataku.

Kami langsung mandi dan bersiap-siap. Kebetulan semua barang sudah kami packing sejak semalam jadi pagi itu bisa langsung sat set.

Kami akhirnya memacu motor sejauh kurang lebih 4 km menuju galeri seni itu. Pagi yang cerah, angin tipis, jalanan Hoi An yang… entahlah, selalu berhasil bikin hatiku lembut. Kota ini memang kecil, tapi cara dia menyapa itu halus dan konsisten. Rumah-rumah rendah, tembok kuning, pohon-pohon besar yang sesekali memayungi jalan—semuanya terasa akrab meski aku baru beberapa hari di sini. Aku tersenyum sendiri di atas motor, menikmati setiap sudut pandang yang lewat. Ada sedikit rasa sedih yang mulai mengendap di belakang kepala: sebentar lagi aku akan pergi dari kota ini.

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya kami tiba di depan bangunan galeri.
Dari luar, galeri seni Precious Heritage ini menempati sebuah rumah tua bergaya kolonial Perancis—dua lantai, memanjang, dengan dinding pucat yang mulai termakan usia. Di depan, ada papan nama bertuliskan kurang lebih “Precious Heritage by Réhahn”, sederhana tapi elegan. Pintu kayunya terbuka lebar, seolah mengundang siapa pun untuk masuk. Tidak ada gerbang besar, tidak ada kesan eksklusif; justru kebalikannya, tempat ini terasa sangat ramah dan “boleh masuk kapan saja”.

Begitu melangkah melewati ambang pintu, suasananya langsung berubah.
Dari pintu masuk, aku melihat ruang panjang dengan dinding kiri-kanan yang penuh oleh foto-foto berukuran besar. Inilah Fine Art Room, ruang pertama dari galeri/museum ini. 

Foto-fotonya bukan sekadar “indah”, tapi kuat. Banyak potret close-up wajah orang-orang Vietnam—terutama dari etnis minoritas—dengan pakaian tradisional mereka yang warna-warni. Ada nenek dengan kulit keriput dan mata tajam, ada anak kecil dengan senyum malu-malu, ada pria dewasa dengan tatapan dalam seperti menyimpan cerita yang panjang.

Cahaya di ruangan itu lembut, tidak terlalu terang, sehingga warna-warna di foto dan kain-kain tradisional terlihat kaya tapi tetap menenangkan. Di beberapa sudut ada bangku kecil, seolah galeri ini tahu bahwa pengunjung butuh waktu untuk duduk dan benar-benar memandang, bukan cuma lewat dan foto-foto.

Di dekat beberapa foto, ada teks penjelasan—dalam Bahasa Inggris dan kadang Perancis—yang menceritakan siapa orang di dalam foto itu, dari suku apa, tinggal di daerah mana, dan bagaimana pertemuan itu terjadi. Di sinilah pelan-pelan aku mulai paham apa yang dilakukan oleh Réhahn selama bertahun-tahun.

Dia bukan sekadar fotografer yang datang, memotret, lalu pergi.
Selama lebih dari satu dekade, dia melakukan proyek bernama Precious Heritage Project: berkeliling ke seluruh penjuru Vietnam—utara, tengah, selatan—untuk mencari, menemui, dan mendokumentasikan semua 54 kelompok etnis resmi di Vietnam.Yang dia lakukan bukan cuma memotret wajah mereka, tapi juga:
Mengambil potret formal orang-orang dari tiap etnis dengan pakaian tradisional mereka yang asli. Mengumpulkan pakaian adat, artefak, dan benda-benda tradisional yang kadang sudah jarang digunakan di kehidupan sehari-hari.
Merekam cerita dan sejarah kecil dari tiap pertemuan—bagaimana dia sampai di desa itu, siapa yang ia temui, dan bagaimana pakaian itu diberikan padanya.
Hasil dari semua perjalanan dan “berburu jejak budaya” itu kini ditumpahkan ke dalam galeri ini.

Begitu melangkah lebih dalam dari pintu masuk, aku melihat bahwa ruang ini tidak hanya memamerkan foto; di beberapa sisi, tergantung busana tradisional lengkap, dengan detail tenunan, bordir, dan warna yang luar biasa rumit. Di lantai lain (atau ruang-ruang selanjutnya), koleksi ini berkembang menjadi semacam museum etnografi mini: lebih dari 60 kostum tradisional dari berbagai etnis, lengkap dengan penjelasan darimana asalnya, bagaimana cara pembuatannya, dan apa makna motifnya.

Ada satu bagian yang menampilkan deretan pakaian adat yang kini nyaris tidak dipakai lagi di kehidupan sehari-hari. Beberapa kostum bahkan katanya sudah sangat langka, diserahkan langsung oleh tetua adat sebagai bentuk kepercayaan bahwa pakaian itu akan “disimpan baik-baik di Hoi An,” bukan sekadar jadi koleksi pribadi.

Jadi, kalau dirangkum, apa yang dilakukan Réhahn?

Kurang lebih:

Ia menghabiskan bertahun-tahun menjelajah desa-desa etnis di seluruh Vietnam, bertemu langsung dengan komunitas-komunitas yang sering kali terpinggirkan atau jarang tersentuh wisata.

Ia mendokumentasikan mereka lewat fotografi—bukan gaya turis, tapi gaya cerita: potret yang menunjukkan martabat, karakter, dan keindahan manusia yang apa adanya.

Ia mengumpulkan pakaian adat, artefak, dan cerita, yang kemudian ia pajang kembali di galeri ini supaya orang-orang kota, turis, dan siapa pun yang lewat bisa melihat kekayaan budaya Vietnam yang sesungguhnya.

Ia membiayai sendiri museum ini dan membukanya gratis untuk umum, sebagai bentuk “balas budi” kepada komunitas-komunitas yang telah mengizinkannya memotret dan menyimpan cerita mereka.

Dan apa hasilnya?

Buatku sebagai pengunjung, hasilnya adalah:
Sebuah ruang sunyi tapi sangat kuat di tengah kota wisata yang penuh lampion dan keramaian. Ratusan potret yang membuatku merasa seperti sedang menatap wajah Vietnam yang jauh lebih luas daripada Hoi An, Danang, atau Hanoi. Puluhan kostum tradisional yang membuatku sadar bahwa satu negara bisa berisi begitu banyak identitas, motif, dan cara hidup yang berbeda—dan semuanya berharga.

Dari pintu masuk saja, aku sudah merasa seperti diajak masuk ke perjalanan panjang yang bukan milikku, tapi entah kenapa ikut menyentuhku. Rasanya seperti Rehahn berkata, lewat dinding-dinding ini:

“Ini Vietnam yang mungkin tidak sempat kamu datangi satu per satu. Tapi setidaknya, kamu bisa bertemu mereka di sini.”

Kami kembali melewati jalanan pesisir yang sama seperti kemarin. Laut di sisi kiri masih berkilau, tapi kali ini suasananya terasa berbeda. Matahari siang Da Nang sudah benar-benar terik, tanpa kompromi. Panas yang bukan lagi hangat untuk dinikmati, tapi panas yang bikin ingin cepat sampai tujuan.

Sekitar pukul satu siang lebih sedikit, kami akhirnya masuk ke area kota. Gedung-gedung mulai rapat, lalu lintas makin padat, dan suasana santai ala Hoi An perlahan tergantikan oleh ritme kota besar. Karena waktu check-in masih nanti—baru bisa jam dua siang—kami memutuskan cari makan siang dulu. Perut sudah protes sejak di jalan.

Awalnya kami kepikiran satu warung langganan. Warung Bu Surti?

Hmm… ya sudah bisa ditebak. Datang kesiangan, makanan sudah habis, warung tutup. Hehe. Sepertinya itu hukum alam yang konsisten di mana-mana.
Akhirnya kami muter-muter lagi, menyusuri beberapa ruas jalan sampai menemukan satu warung yang kelihatannya cukup meyakinkan. Tidak terlalu sepi, tidak terlalu ramai. Ada motor parkir di depan, ada orang lokal makan siang. Oke, ini biasanya tanda aman.


Begitu duduk dan melihat menu…Oh no. Semua tulisannya bahasa Vietnam. Penuh tanda aksen. Tidak ada foto. Tidak ada bahasa Inggris. Aku refleks buka Google Maps buat lihat menu yang biasa direview orang, tapi hasil terjemahannya… kacau. Benar-benar tidak membantu.

Aku cuma tahu satu kata: banh mi. Tapi jujur saja, aku lagi nggak pengen roti. Lagi pengen makan mie. Atau nasi. Atau apa pun yang hangat dan mengenyangkan—asal bukan roti isi daging sapi. Masalahnya, pegawainya juga tidak bisa bahasa Inggris. Kami saling pandang sebentar. Lalu aku ambil keputusan paling sederhana. Aku menunjuk menu, tersenyum, dan bilang,

“Moooo.”

Iya. Moo. Bahasa internasional sapi. Wkwk.

Dan… dia paham. Wkwkwk..

Beberapa menit kemudian, makanan datang. Semangkuk mie. Dengan irisan daging sapi di atasnya. Wkwk. Ternyata berhasil juga. Aku ketawa kecil sambil mulai makan. Rasanya enak. Hangat. Gurih. Harganya juga standar dan porsinya cukup mengenyangkan.

Selesai makan siang, kami langsung lanjut motoran ke arah penginapan. Matahari Da Nang siang itu benar-benar menyengat, bikin ingin cepat sampai kamar dan rebahan di bawah AC. Jalanan makin padat, gedung-gedung makin tinggi, ritme kota terasa lebih cepat dibanding Hoi An yang santai dan lembut. Rasanya seperti pindah dimensi dalam waktu satu jam saja.

Kali ini aku booking hotel yang jaraknya cuma sekitar 100 meter dari pantai. Tarifnya 110 ribu per malam. Jujur, dengan harga segitu aku nggak pasang ekspektasi apa-apa. Yang penting bersih, ada kasur, ada kamar mandi, dan bisa kerja dengan tenang. Begitu sampai, kami langsung check-in dan naik ke lantai 7. Lumayan tinggi juga untuk hotel dengan harga segitu, pikirku sambil menunggu lift.

Begitu pintu kamar dibuka, aku agak kaget dalam arti positif. Kamarnya simpel tapi rapi. Dominan putih dan kayu, kasur besar dengan dua bantal, dinding samping motif marmer tipis, tirai coklat tebal menutup jendela. Lantainya bersih dengan meja kecil di samping tempat tidur. Untuk harga 110 ribu? Ini termasuk sangat layak. Aku langsung merasa lega. Setidaknya malam ini bisa istirahat dengan nyaman.

Sore menjelang malam kami tidak keluar lagi. Badan sudah cukup lelah setelah perjalanan dari Hoi An dan kunjungan galeri tadi pagi. Rasanya lebih bijak untuk stay di kamar saja. Aku buka aplikasi Grab dan pesan makan malam. Tidak lama kemudian, makanan datang dalam kotak styrofoam sederhana. Isinya nasi, ayam goreng kecokelatan yang aromanya menggoda, irisan timun, sedikit acar, sambal merah, dan kuah dalam plastik kecil. Ada juga cabai utuh yang kelihatan galak tapi menggoda.

Setelah makan, aku tahu ritual selanjutnya tidak bisa dihindari. Laptop dibuka lagi. File dokumen kembali memenuhi layar. Peta, tabel, paragraf panjang, revisi, catatan kecil yang harus dibereskan. Di luar sana mungkin ombak Da Nang masih bergerak pelan, cuma seratus meter dari tempatku tidur. Tapi malam itu aku tidak ke pantai. Aku memilih duduk di kasur, bersandar ke headboard, dan mengetik.

Ada sesuatu yang aneh tapi juga indah dari hidup seperti ini. Siangnya melihat wajah-wajah etnis minoritas Vietnam dalam galeri seni yang sunyi dan penuh makna. Sorenya motoran menyusuri pesisir dengan angin panas menerpa wajah. Malamnya makan ayam goreng di kamar hotel murah. Lalu tengah malam, menyusun dokumen ratusan halaman dengan fokus penuh. Traveling dan tanggung jawab berjalan berdampingan, tidak pernah benar-benar terpisah.

Jam terus berjalan tanpa terasa. Suara AC konstan, sesekali terdengar kendaraan dari jauh. Sekitar pukul dua belas malam, akhirnya aku menutup laptop. Mata sudah berat, badan mulai pegal. Aku merebahkan diri di kasur putih itu, menarik selimut tipis, dan mematikan lampu. Tirai masih tertutup rapat, tapi aku tahu di baliknya ada laut yang tadi siang berkilau di bawah matahari.

Malam itu aku tidur dengan perasaan campur aduk—sedikit lelah, sedikit puas, sedikit rindu Hoi An yang baru saja kutinggalkan. Tapi juga tenang. Karena meskipun tidak bisa 100% lepas dari kerja, setidaknya aku masih bisa berjalan, melihat, dan merasakan tempat baru dengan caraku sendiri.

Besok perjalanan lanjut lagi. Dan seperti biasa, aku akan kembali belajar menyeimbangkan dua dunia itu. Dunia eksplorasi dan dunia tanggung jawab.

1.31.2026

[Part 7] Cam on Vietnam : Hoi An, Kota yang Membuatku Jatuh Cinta Perlahan ..

 Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Pemandangan malam hari di Kota Tua Hoi An.. Perahu-perahu wisata berjajar dengan lampion-lampion cantik di sepanjang Sungai Thu Bồn...


Hoi An, 6 Februari 2023

Hoahmmm… aku bangun pagi dengan tubuh yang terasa ringan dan pikiran yang segar. Rasanya tidur semalam benar-benar maksimal. Entah kenapa, semua hal di penginapan ini seperti bekerja sama meningkatkan kualitas tidurku. Kasurnya lebar dan empuk, bantalnya pas—nggak terlalu tinggi, nggak bikin leher pegal—dan AC-nya menyembur dingin dengan cara yang ramah, bukan nyembur nusuk sampai tulang. Badan segar, mood bagus. 

Setelah berbaring cukup lama sambil scrolling Google Maps—menimbang tempat mana saja yang akan kami datangi hari ini sekaligus rutenya yang paling efektif—akhirnya kami benar-benar bergerak. Mandi, beres-beres, lalu langsung mengarahkan motor keluar penginapan.

Begitu keluar, aku baru sadar ternyata hotel kami ternyata berada di kawasan perumahan. Rumah-rumah berjajar rapi, suasananya tenang, dengan jalanan yang cukup lebar. Pagi itu Hoi An terasa hidup dengan cara yang menenangkan. Bukan hiruk-pikuk motor, tapi ramai yang wajar. Orang-orang sudah mulai beraktivitas—ada yang menyapu halaman, ada yang mengayuh sepeda pelan, ada juga ibu-ibu yang sudah siap dengan dagangan mereka.

“Kita ke arah kota tua ya, nanti cari sarapan di jalan aja,” kataku ke travelmate sambil mulai memutar gas.

“Iya,” jawabnya singkat.

Motor melaju pelan menyusuri jalanan pagi. Udara masih adem, matahari belum terlalu tinggi. Kami mulai melewati area pasar. Nah, di sinilah suasananya berubah. Lebih ramai, lebih berwarna. Banyak pedagang kaki lima berjejer, gerobak kecil, meja sederhana, banner menu dengan foto-foto makanan yang entah kenapa selalu kelihatan menggoda di pagi hari. Orang lokal lalu-lalang, ada yang belanja sayur, ada yang sarapan sambil berdiri, ada yang sekadar ngobrol.

Sambil nyetir, mataku nggak bisa berhenti mengamati menu-menu sarapan yang dijual. Aku jelas lagi cari sarapan  yang familiar di tengah gempuran menu-menu Bahasa Vietnam wkwk. Pokoknya yang aman kayak bubur, sup, atau nasi ayam. 

“Eh, eh… itu ada nasi ayam,” kataku tiba-tiba sambil menunjuk ke arah seorang pedagang di pasar.

Dari gambarnya sih kelihatan sederhana.  Nasi kuning dengan suwiran ayam. Yah, standar banget lah wkwk. Tapi yaudahlah.. yang penting perut terisi, dan.. harganya murah!

Begitu makanannya datang, kami langsung ketawa kecil. Dan… yup, benar-benar sesederhana itu. Sepiring nasi kuning, suwiran ayam secukupnya, lalu semangkuk kecil kuah bening dengan potongan hati ayam yang ukurannya juga nggak niat-niat amat. Wkwkwk. Persis seperti bayangan kami sejak awal. Untungnya kuahnya cukup gurih, jadi masih ada pembeda. Setidaknya bikin rasa nggak terlalu hambar.

Selesai makan, tanpa lama-lama kami langsung melanjutkan perjalanan ke arah kota tua. Motor kembali melaju, makin mendekati pusat Hoi An. Tapi begitu sampai di satu titik tertentu, ternyata kami harus berhenti dan parkir motor disitu. Tidak bisa lebih jauh lagi naik motor masuk ke kawasan kota tua.

“Kalian harus lanjut jalan kaki,” kata tukang parkir setempat sambil menunjuk area di depannya dan meminta bayaran parkir motor 20.000 VND. Untuk masuk ke kawasan kota tuanya sendiri ga ada biaya.

Akhirnya kami benar-benar melanjutkan dengan berjalan kaki. Dan sejak langkah pertama itu, suasananya langsung berubah klasik. Kota tua Hoi An terbentang di sekitar Sungai Thu Bồn, sungai yang sejak ratusan tahun lalu menjadi nadi kehidupan kota ini. Dulu—jauh sebelum Vietnam modern seperti sekarang—Hoi An adalah pelabuhan internasional yang sangat penting. Sekitar abad ke-15 hingga ke-19, kapal-kapal dari China, Jepang, India, bahkan Eropa, datang dan pergi lewat sungai ini. Mereka berdagang sutra, rempah, keramik, kayu, dan berbagai komoditas berharga lainnya.

Itulah sebabnya, berjalan di kota tua Hoi An rasanya seperti menyusuri kota dengan banyak lapisan budaya. Bangunan-bangunan tua berdiri rapat, didominasi rumah kayu bercat kuning kusam—warna khas Hoi An—dengan jendela kayu dan balkon kecil. Arsitekturnya campuran: ada gaya Tiongkok dengan ornamen merah dan emas, pengaruh Jepang yang sederhana dan fungsional, serta sentuhan Eropa dari masa kolonial.

Salah satu simbol paling terkenal tentu saja Jembatan Jepang—dibangun oleh komunitas pedagang Jepang pada awal abad ke-17. Jembatan ini bukan cuma penghubung fisik, tapi juga simbol betapa kosmopolitannya Hoi An di masa lalu. Kota kecil ini pernah menjadi titik temu berbagai bangsa, bahasa, dan kepercayaan.

Budayanya pun terasa kental sampai sekarang. Banyak rumah tua yang dulunya adalah rumah pedagang, sekarang dialihfungsikan menjadi toko kecil, galeri seni, atau kafe. Namun struktur aslinya tetap dipertahankan. Di beberapa sudut, terlihat klenteng-klenteng kecil tempat orang lokal masih bersembahyang, membakar dupa, dan memberi persembahan. Tradisi Tionghoa, Vietnam, dan sedikit Jepang bercampur tanpa terasa dipaksakan.

Sungai di samping kami mengalir tenang. Perahu-perahu kayu kecil terikat di pinggirannya, sebagian disiapkan untuk wisata. Lampion warna-warni tergantung di mana-mana, meski pagi hari ini mereka belum menyala. Tapi bahkan dalam kondisi “mati lampu”, kota tua Hoi An sudah terasa cantik dengan caranya sendiri—tenang, hangat, dan seperti tidak tergesa oleh waktu.

"Kayaknya area ini paling bagus dikunjungi kalau malam deh, lampionnya bakal nyala semua. Pasti cantik banget," kataku ke travelmate.

"Iya, nanti malam kudu balik lagi kesini kita," jawabnya.

Kami berjalan menyusuri tepi sungai. Airnya berwarna hijau, tenang, nyaris tanpa riak. Di pagi hari seperti ini, sungai Thu Bồn terlihat damai, seolah sedang bernapas pelan. Suasananya masih cukup sepi—belum ada keramaian turis, belum ada suara riuh kamera dan pemandu. Yang terdengar hanya langkah kaki, sesekali suara sepeda lewat, dan percakapan lirih orang-orang lokal.

Di sepanjang tepi sungai, kafe-kafe kecil mulai membuka pintu. Kursi rotan disusun rapi menghadap air, meja-meja dilap bersih, dan beberapa barista sibuk menyiapkan kopi pagi. Aroma kopi Vietnam mulai tercium samar, bercampur dengan udara lembap khas kota tua. Kalau saja tidak ada agenda, rasanya ingin duduk saja di salah satu kafe itu, memesan kopi, dan membiarkan waktu lewat tanpa rencana.

Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di jembatan yang paling ikonik di Hoi An: Japanese Covered Bridge, atau yang juga dikenal dengan nama Chùa Cầu.

Jembatan ini dibangun pada awal abad ke-17 oleh komunitas pedagang Jepang yang dulu menetap di Hoi An. Fungsinya bukan cuma sebagai jembatan penghubung, tapi juga sebagai simbol persahabatan antara komunitas Jepang dan Tiongkok yang tinggal di dua sisi kota. Di tengah jembatan terdapat bangunan kecil menyerupai kuil, sehingga jembatan ini juga berfungsi sebagai tempat ibadah—konon untuk menangkal roh jahat dan bencana alam.

Arsitekturnya sederhana tapi anggun. Atap kayu melengkung, dinding berwarna gelap, dan detail ukiran yang sudah termakan usia. Berdiri di jembatan ini, rasanya seperti berdiri di persimpangan zaman. Ratusan tahun lalu, para pedagang dari negeri jauh mungkin berdiri di titik yang sama, menatap sungai yang sama, dengan harapan dagangan mereka laku dan perjalanan laut berikutnya selamat.

Dari jembatan itu, kami melanjutkan langkah menuju Phung Hung House—rumah tua yang menjadi salah satu bangunan bersejarah paling terkenal di Hoi An.

Phung Hung House dibangun lebih dari 200 tahun lalu dan dulunya merupakan rumah sekaligus tempat usaha keluarga pedagang kaya. Bangunan ini adalah contoh nyata perpaduan arsitektur Vietnam, Tiongkok, dan Jepang. Rumahnya berbentuk memanjang, terbuat dari kayu berkualitas tinggi, dengan sistem ventilasi alami dan lantai yang dirancang agar tahan terhadap banjir—sesuatu yang sangat penting di kota yang sering dilanda luapan sungai.

Nama “Phung Hung” sendiri diambil dari tokoh pahlawan nasional Vietnam, dan rumah ini diwariskan turun-temurun selama beberapa generasi. Sampai sekarang, keturunan pemilik aslinya masih merawat bangunan ini, menjadikannya bukan sekadar museum, tapi rumah hidup yang menyimpan cerita keluarga dan kota.

Di dalamnya, suasana terasa teduh dan tenang. Pilar-pilar kayu tua berdiri kokoh, altar leluhur terawat rapi, dan cahaya matahari masuk lembut dari bagian atas bangunan. Rasanya seperti memasuki ruang waktu yang bergerak lebih lambat dari dunia luar.

Kami berhenti sejenak, mengamati detail-detail kecil—ukiran kayu, lantai yang sudah halus karena usia, dan aroma kayu tua yang khas dan mengambil beberapa foto.

Setelah puas berjalan kaki di kota tua dari ujung ke ujung, dan matahari mulai semakin garang, kami pun perlahan meninggalkan kawasan klasik Hoi An menuju tujuan berikutnya yang baru saja kuset di google maps, Thanh Ha Terracotta Park.

Di Google Maps kelihatannya dekat. Nggak sampai belasan menit dari kota tua. Tapi seperti banyak perjalanan lain di Vietnam, jarak dekat belum tentu berarti perjalanan lurus dan mudah.

Motor melaju keluar dari area turistik, masuk ke jalanan yang lebih sepi. Bangunan-bangunan tua perlahan berganti rumah penduduk biasa, sawah kecil, dan kebun-kebun hijau. Jalanannya sempit, aspalnya kadang mulus, kadang agak berlubang. Kami beberapa kali melambat, menyesuaikan dengan sepeda warga lokal dan motor lain yang lewat santai, tanpa klakson berisik.

Masalah mulai muncul ketika Google Maps mulai… membingungkan.

“Ini bener ke sini nggak sih?” tanyaku sambil menurunkan kecepatan. “Barusan disuruh belok, tapi kok malah makin masuk,” jawab travelmate sambil menatap layar HP.

Kami pun muter. Masuk gang kecil. Keluar lagi. Lalu masuk gang lain yang ukurannya bahkan terasa terlalu sempit untuk disebut jalur wisata. Beberapa kali kami berhenti di pinggir jalan, mengecek Maps, lalu melihat sekitar. Nggak ada papan petunjuk besar. Nggak ada tanda-tanda kawasan wisata. Yang ada cuma rumah-rumah warga, halaman kecil, anak-anak bermain, dan kehidupan lokal yang berjalan apa adanya.

Kami memutuskan tetap mengikuti Maps, meski arahnya terasa makin “belakang layar”. Jalanan makin kecil, suasana makin lokal. Tidak ada kafe lucu, tidak ada toko suvenir, tidak ada turis lain. Hanya kami, motor, dan jalan yang terasa entah membawa ke mana.

Beberapa menit kemudian, akhirnya muncul sebuah papan sederhana di pinggir jalan. Thanh Ha Terracotta Park. Tidak mencolok. Tidak heboh. Tapi cukup jelas.

“Oh… ini toh,” kataku sambil ketawa kecil.

Akhirnya ketemu juga. Wkwk.

Kami parkir motor dan turun. Suasananya langsung terasa berbeda dari kota tua. Area taman ini lebih terbuka, lebih modern, tapi tetap menyatu dengan alam sekitarnya. Di depannya terbentang Sungai Thu Bồn, mengalir pelan seperti yang kami lihat pagi tadi di pusat kota—hanya saja kali ini dari sisi yang lebih sepi dan tenang.

Thanh Ha Terracotta Park sendiri adalah taman seni dan budaya yang dibangun untuk menghormati Desa Gerabah Thanh Ha, desa tradisional yang sudah memproduksi keramik dan tembikar sejak ratusan tahun lalu. Konon, desa ini sudah ada sejak abad ke-16, dan dulu menjadi salah satu pemasok utama tembikar untuk kebutuhan rumah tangga, bangunan, hingga perdagangan di wilayah tengah Vietnam.

Begitu masuk ke area taman, kami langsung disuguhi berbagai miniatur bangunan terkenal dunia—semuanya dibuat dari terracotta. Ada miniatur Colosseum, Menara Pisa, Taj Mahal, hingga bangunan-bangunan khas Vietnam. Ukurannya memang tidak besar, tapi detailnya cukup rapi dan menarik. Rasanya seperti perpaduan antara taman edukasi dan galeri seni terbuka.



Di bagian lain, berdiri bangunan utama museum dengan bentuk yang unik—melengkung, dengan dinding bertekstur tanah liat. Di dalamnya dipamerkan berbagai karya keramik, sejarah panjang desa Thanh Ha, serta proses pembuatan gerabah dari masa ke masa. Ada juga area workshop, tempat pengunjung bisa melihat langsung atau mencoba membuat tembikar sendiri.


Saat kami datang, suasananya relatif sepi. Tidak banyak pengunjung. Kami bisa berjalan santai, berhenti lama di satu titik tanpa harus berbagi ruang dengan rombongan besar. Angin dari sungai sesekali berhembus, membawa udara lembap dan aroma tanah—aroma yang entah kenapa terasa pas sekali dengan tema tempat ini.

Setelah cukup lama berkeliling di bagian dalam taman, kami pun keluar menuju area luarnya. Di sana, beberapa pohon besar tumbuh rindang, menaungi bangku-bangku sederhana yang menghadap ke area terbuka. Kami langsung duduk, tanpa banyak bicara. Capeknya bukan capek yang dramatis atau bikin ngos-ngosan, tapi capek pelan—capek setelah sejak pagi sampai menjelang siang berjalan kaki menyusuri kota tua, mengamati detail demi detail, lalu berpindah tempat tanpa benar-benar berhenti.

Angin bertiup pelan. Daun-daun bergerak lirih di atas kepala. Dari kejauhan, suara sungai masih terdengar samar. Duduk di bawah pohon seperti ini rasanya pas. Seolah tubuh dan pikiran sama-sama minta jeda. Tidak ingin ke mana-mana dulu. Hanya duduk. Melambat. Dan membiarkan waktu berjalan dengan kecepatannya sendiri.

Untuk menutup kunjungan ke Thanh Ha Terracotta Park, momen ini sudah lebih dari cukup. Tidak perlu dipaksakan. Tidak perlu ditambah agenda lain di tempat yang sama.

Setelah merasa cukup—dan matahari kembali terasa lebih dekat ke kulit—kami pun bersiap melanjutkan perjalanan. Helm dipakai lagi, motor dinyalakan. Tujuan berikutnya awalnya sudah kami sepakati sejak tadi: An Bang Beach.

Perjalanan ke arah pantai cukup lurus. Jalanan mulai terasa lebih terbuka, matahari semakin terik, dan lalu lintas perlahan bertambah padat. Semakin mendekati area pantai, suasananya berubah drastis. Lebih ramai. Lebih bising. Motor dan mobil lalu-lalang, turis mulai banyak, papan-papan kafe berjejer rapat di kanan kiri jalan.

Panasnya terasa menyengat. Bukan panas yang masih bisa diajak kompromi sambil duduk santai, tapi panas yang bikin kepala terasa berat dan tubuh makin enggan bergerak. Pantainya sendiri tampak ramai. Kursi-kursi pantai penuh, orang lalu-lalang, musik terdengar dari beberapa kafe.

Entah kenapa, di titik itu, aku tidak lagi ingin turun.

“Kayaknya nggak usah deh, rame, panas,” kataku akhirnya. 

“Iya, panas banget, kita balik aja ke penginapan,” jawab travelmate, nyaris tanpa ragu.

Kami bahkan tidak benar-benar berhenti. Hanya melambat sebentar, lalu memutar arah. Tidak ada rasa rugi, tidak ada penyesalan. Kadang, keputusan paling masuk akal saat traveling justru adalah tahu kapan harus mengurungkan niat dan memilih istirahat.

Perut mulai terasa lapar. Akhirnya kami sepakat cari makan siang saja—yang sederhana, tanpa ekspektasi tinggi—lalu kembali ke hotel untuk benar-benar berhenti sejenak.

Di tengah perjalanan mencari makan, pikiranku mulai melayang ke hal lain. Ke laptop. Ke file-file kerjaan. Ke deadline yang sejak pagi sebenarnya sudah ikut menumpang di kepala. Beberapa pesan dari klien masuk. Bahasanya mulai terdengar lebih menekan. Bukan marah, tapi jelas ingin cepat. Mereka menunggu.

Perjalanan ini memang liburan, tapi hidupku tidak sepenuhnya berhenti. Ada bagian dari diriku yang masih harus bertanggung jawab. Ada pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Deadline yang tidak peduli aku sedang berada di kota tua yang cantik, atau duduk di bawah pohon rindang di tepi sungai.

Makan siang kami jalani dengan lebih banyak diam. Bukan karena makanannya tidak enak, tapi karena pikiranku sudah setengah berada di tempat lain. Setelah itu, tanpa rencana tambahan, kami langsung kembali ke hotel.

Begitu sampai kamar, AC dinyalakan. Badan langsung rebah di kasur. Panas, lelah pelan sejak pagi, dan pikiran yang penuh bercampur jadi satu. Aku menatap langit-langit lagi—kali ini dengan senyum yang berbeda dari pagi tadi.

Hoi An masih di luar sana, tetap cantik, tetap menunggu. Tapi untuk beberapa jam ke depan, aku tahu aku butuh melambat. Dan mungkin, sedikit berdamai dengan kenyataan bahwa traveling dan tanggung jawab sering berjalan beriringan—meski tidak selalu seimbang.

Setelah menimbang cukup lama, dan berdiskusi sebentar dengan travelmate, akhirnya… aku memutuskan untuk tetap mengunjungi kota tua malam itu.

“Kalau kamu malam ini tetap kerja, itu bisa selesai atau jatuhnya nyicil aja? Kalau misalnya jatuhnya nyicil, mungkin bisa dilanjutkan besok. Besok kamu bangun lebih pagi, langsung lanjut kerja sebelum kita check out dan balik ke Danang,” katanya.

Aku mengangguk pelan. Benar juga. Ini memang konsekuensi yang harus kuambil. Tidak ada pilihan tanpa harga.

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami mengeluarkan motor dan mulai melaju menuju kota tua. Hoi An ini gimana ya… kotanya kecil. Rasanya bagian paling ramai memang hanya di area kota tuanya. Tapi anehnya, setiap sudut kota ini seperti punya cara sendiri untuk menyentuh perasaan. Jalan-jalannya sederhana, rumah-rumahnya biasa saja, tapi entah kenapa semuanya terasa hangat. Seperti anyaman—pelan-pelan masuk ke hati tanpa memaksa.

Kami motoran santai, tidak terburu-buru. Begitu masuk kawasan kota tua, kami kembali parkir. Kali ini tarifnya naik jadi 30.000 VND. Wkwk. Sepertinya memang tidak ada harga resmi. Tergantung mood yang jaga parkiran malam itu.

Motor ditinggal. Kami kembali berjalan kaki.

Langkah pertama menuju arah sungai yang sama seperti siang tadi, dan… wow. Rasanya seperti masuk ke kota yang benar-benar berbeda.


Kalau siang Hoi An terasa tenang dan lembut, malam hari kota ini berubah jadi hidup—dan bukan hidup yang berisik, tapi hidup yang hangat dan penuh cahaya. Lampion-lampion menyala di mana-mana. Merah, kuning, oranye, berayun pelan tertiup angin malam. Cahaya mereka memantul di permukaan Sungai Thu Bồn, membuat air yang siang tadi tampak hijau tenang kini berkilau keemasan.

Perahu-perahu kayu yang siang tadi hanya tertambat di pinggir sungai, kini mulai bergerak pelan. Satu per satu, membawa wisatawan menyusuri sungai dengan kecepatan yang disengaja—lambat, seolah memberi waktu untuk benar-benar menikmati suasana. Beberapa perahu dihiasi lampion kecil, menambah kesan magis di atas air.


Manusia… banyak sekali. Jauh lebih ramai dibanding siang. Tapi anehnya, tidak terasa sesak. Ada pedagang makanan ringan di pinggir jalan, menjual jajanan lokal, es krim, dan camilan manis. Aroma makanan bercampur dengan udara malam yang lembap. Kafe-kafe penuh oleh anak muda—duduk berjejer, tertawa, mengobrol, menyeruput minuman, menikmati malam tanpa terlihat tergesa.

Aku berjalan pelan, membiarkan semua itu masuk. Cahaya, suara, keramaian, gerak perahu, pantulan lampion di air. Semua terasa… tepat. Seperti jawaban dari galau beberapa jam sebelumnya.

Di momen itu, aku tahu. Keputusanku untuk datang ke sini malam ini tidak salah.



Pekerjaan memang menunggu. Deadline memang nyata. Tapi malam ini, Hoi An memberi sesuatu yang tidak bisa diulang besok. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan sekarang, dengan kaki yang melangkah pelan di jalanan kota tua, dan hati yang akhirnya bilang, ya… ini layak.

Terimakasih Hoi An, kamu cantik banget!