Berawal dari Juventus
Sebelum bercerita panjang tentang sejarah Manchester United, mulai dari awal berdirinya sampai menjadi salah satu klub sepak bola paling terkenal di dunia seperti sekarang, rasanya aku pengen cerita sedikit dulu tentang kenapa aku bisa menyukai klub ini. Karena kalau dipikir-pikir, hubunganku dengan Manchester United ternyata sudah cukup panjang. Bahkan ceritanya dimulai sejak aku masih SMP, dan lucunya... klub pertama yang kucintai sebenarnya bukan Manchester United.
Klub itu adalah Juventus.
Sejak SMP, sekitar tahun 2005–2006, aku memang sudah suka banget dengan sepak bola. Saat itu Liga Italia sedang jaya-jayanya dan orang yang pertama kali mengenalkanku dengan dunia sepak bola adalah kakakku. Dari dialah aku mulai sering nonton Serie A yang saat itu ditayangkan dengan gratis di televisi dan mengenal nama-nama klub serta pemain yang sebelumnya benar-benar asing buatku. Kakakku ngefans berat dengan Alessandro Del Piero, pemain Juventus. Alasannya sederhana: karena ganteng. Hahaha. Dari situlah aku sebagai adiknya ikut-ikutan mendukung Juventus dan perlahan benar-benar jatuh cinta dengan sepak bola Italia. Kalau kakakku punya Del Piero, aku punya Gianluigi Buffon sebagai pemain favoritku. Aku sampai membeli jersey Juventus KW di Pasar Purwosari Solo, menggambar logo Juventus secara manual di buku-bukuku, dan menjadikan Juventus sebagai sumber motivasi ketika bermain sepak bola bersama teman-teman SMP.
Bahkan ketika Piala Dunia 2006 digelar, aku mati-matian mendukung Timnas Italia dan senengnya bukan main ketika mereka akhirnya benar-benar menjadi juara dunia setelah mengalahkan Prancis di final. Dan bahkan Buffon jadi kiper terbaik, benar-benar masa keemasan! Heheheh.
Aku masih ingat bagaimana rasanya menunggu pertandingan Juventus tengah malam. Pernah suatu ketika pertandingan mereka dimainkan sekitar jam dua pagi, aku inget banget melawan AS Roma, yang dimana juga salah satu tim terkuat di Italia. Sebelum tidur aku sampai berpesan kepada bapakku untuk membangunkanku nanti dini hari. Tapi ternyata bapakku juga ketiduran dan tidak membangunkanku. Paginya aku marah-marah ke bapakku sambil nangis, dimana saat itu Juventus menang 1-0 atas AS Roma wkwkwk. Segitunya aku mencintai klub ini saat itu.
Selain nonton pertandingan, aku juga rutin membeli majalah sepak bola bernama Soccer. Anak-anak era 2000-an mungkin masih ingat majalah ini. Terbit setiap hari Kamis, harganya sekitar Rp3.500 dan biasanya ada bonus poster pemain sepak bola di dalamnya. Aku selalu menunggu edisi terbaru untuk membaca kabar sepak bola dari seluruh dunia. Dan seperti remaja pencinta bola pada umumnya saat itu, poster-poster bonus dari majalah Soccer itu tentu saja nggak cuma kusimpan. Hampir semuanya kutempel di kamar sampai dinding kamarku penuh dengan wajah pemain-pemain bola dari ujung ke ujung. Hehehe. Pokoknya kalau masuk kamarku saat itu, sudah kelihatan banget kalau penghuninya keranjingan sepak bola.
Lalu datanglah peristiwa yang mengubah semuanya. Pada tahun 2006, sepak bola Italia diguncang skandal besar yang kemudian dikenal sebagai Calciopoli. Kasus ini mencuat setelah terungkap adanya hubungan dan komunikasi antara sejumlah petinggi klub dengan pejabat sepak bola Italia yang berkaitan dengan sistem penunjukan wasit. Juventus menjadi klub yang menerima hukuman paling berat dalam kasus tersebut. Gelar Serie A musim 2004/2005 mereka dicabut, gelar musim 2005/2006 tidak diberikan kepada Juventus, dan yang paling mengejutkanku saat itu adalah Juventus harus turun ke Serie B untuk musim 2006/2007.
Sebagai fans Juventus yang saat itu lagi cinta-cintanya dengan klub ini, tentu saja aku benar-benar kecewa. Apalagi kejadiannya terasa kontras banget buatku. Tahun 2006 aku baru saja seneng bukan main karena Italia berhasil menjadi juara dunia, tetapi nggak lama kemudian klub yang selama ini kudukung justru tersandung skandal sebesar ini dan harus turun kasta. Di sisi lain, pertandingan Serie B juga nggak ditayangkan di televisi yang biasa kutonton. Jadi mau mengikuti Juventus pun jadi susah. Perlahan-lahan aku mulai kehilangan hubungan dengan klub yang sebelumnya sampai membuatku rela begadang dan bahkan menangis gara-gara kelewatan pertandingan. Bukan karena aku tiba-tiba membenci Juventus, tetapi karena sejak saat itu aku memang sudah nggak bisa mengikuti mereka seperti dulu lagi.
*****
Era Manchester United
Bermainnya Juventus di Serie B otomatis membuatku nggak lagi mendapatkan informasi sebanyak sebelumnya tentang klub ini. Pertandingannya nggak bisa kutonton di televisi dan berita tentang Juventus yang sampai kepadaku juga nggak sebanyak ketika mereka masih bermain di Serie A. Padahal sebelumnya hampir setiap minggu aku terbiasa menunggu pertandingan mereka. Jadi rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari rutinitasku sebagai pencinta sepak bola saat itu.
Kekosongan itu kemudian mulai kuisi dengan sesekali menonton Liga Inggris di televisi bersama kakakku. Dari sinilah Manchester United perlahan-lahan mulai masuk ke dalam hidupku. Lagi-lagi awalnya karena pengaruh kakakku. Saat itu Cristiano Ronaldo masih muda dan sedang bersinar bersama Manchester United. Kakakku suka banget dengan Ronaldo, kemudian mulai sering mengikuti Manchester United, dan seperti yang terjadi ketika dia mengenalkanku pada Juventus dulu, aku pun akhirnya ikut-ikutan menonton.
Entah sejak kapan, yang awalnya cuma ikut nonton lama-lama berubah menjadi benar-benar menunggu pertandingan Manchester United. Tetapi ada sesuatu yang berbeda dibanding ketika aku menyukai Juventus. Dulu aku punya Gianluigi Buffon sebagai pemain yang benar-benar kufavoritkan, sedangkan di Manchester United aku nggak pernah merasa punya satu pemain tertentu yang menjadi alasan utama aku mendukung klub ini. Tentu saja aku suka Cristiano Ronaldo, apalagi saat itu dia memang sedang bagus-bagusnya, tetapi ternyata bukan Ronaldo yang membuatku jatuh cinta dengan Manchester United. Aku justru suka dengan klubnya secara keseluruhan, dengan permainannya, atmosfer pertandingan yang kulihat di televisi, dan terutama perasaan yang muncul setiap kali menunggu dan menonton mereka bertanding.
Saat itu aku suka banget dengan cara Manchester United bermain, terutama ketika mereka melakukan serangan balik. Rasanya begitu merebut bola, permainan bisa langsung meledak ke depan dalam hitungan detik. Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan Carlos Tévez menjadi tiga pemain yang paling kuingat dari serangan-serangan cepat itu. Mereka bisa bertukar posisi, berlari membawa bola dengan cepat, dan tiba-tiba saja sudah berada di depan gawang lawan. Buatku yang saat itu masih remaja dan baru mulai sering menonton Liga Inggris, permainan seperti itu seru banget untuk ditonton (bahkan sebelumnya belum pernah kujumpai pola permainan secepat ini di Liga Italia). Mungkin dari sinilah, tanpa benar-benar kusadari kapan tepatnya, aku mulai jatuh cinta bukan hanya kepada pemain-pemainnya, tetapi kepada Manchester United sebagai sebuah klub. Apalagi periode 2007 sampai sekitar 2010 adalah masa yang luar biasa menyenangkan untuk menjadi fans Manchester United. Skuad mereka saat itu benar-benar kuat. Nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Ryan Giggs, Paul Scholes, Nemanja Vidić, Rio Ferdinand, Edwin van der Sar dan banyak pemain hebat lainnya membuat hampir setiap pertandingan terasa spesial untuk ditonton.
Musuh terbesar mereka saat itu adalah Chelsea. Dan aku masih ingat bagaimana deg-degannya mengikuti persaingan kedua tim tersebut, dan bagaimana bencinya aku dengan Chelsea hahaha..Puas banget waktu Manchester United ngalahi mereka di final Liga Champions Moscow tahun 2008, gara-gara John Terry kepleset pas nendang pinalti kelima. Padahal kalau itu masuk, Chelsea-lah yang akan menjadi juara.
****
Vakum dari Dunia Bola dan Akhirnya Kembali
Kemudian hidup berjalan seperti biasa. Aku masuk kuliah pada tahun 2010. Kesibukan mulai bertambah. Frekuensi menonton sepak bola perlahan menurun. Sampai akhirnya sekitar tahun 2012 aku benar-benar berhenti mengikuti sepak bola. Bukan cuma Manchester United, tetapi sepak bola secara umum.
Anehnya, vakum itu berlangsung sangat lama. Hampir satu dekade. Padahal beberapa kali aku mencoba kembali menonton. Kadang baca berita. Kadang lihat cuplikan pertandingan. Kadang mencoba mengikuti perkembangan transfer pemain. Tetapi rasanya sudah berbeda. Aku nggak bisa menemukan perasaan yang dulu pernah membuatku rela begadang sampai dini hari demi sebuah pertandingan sepak bola.
Sampai akhirnya Piala Dunia 2022 datang. Aku nggak tahu pasti bagaimana awalnya. Mungkin karena kembali menonton Piala Dunia. Mungkin karena iseng melihat pertandingan Manchester United lagi setelah piala dunia berakhir. Tetapi yang jelas, sesuatu yang selama bertahun-tahun terasa mati tiba-tiba hidup kembali. Aku mulai menyukai sepakbola kembali.
Aku mulai menonton Manchester United lagi. Lalu satu pertandingan berubah menjadi dua pertandingan. Dua pertandingan berubah menjadi satu musim. Dan tanpa sadar aku kembali menjadi fans Manchester United seperti dulu. Bahkan kali ini lebih parah.
Kali ini aku mengikuti hampir semua pertandingan yang mereka mainkan. Liga Inggris, Liga Champions, FA Cup, Carabao Cup, pokoknya apa pun yang melibatkan Manchester United. Menang membuatku bahagia seharian. Kalah bisa membuat mood berantakan sampai besok. Memang cuma sementara, tapi kurasa sesama fans Manchester United pasti paham perasaan itu.
Lucunya, aku kembali mencintai Manchester United justru di era ketika mereka sedang tidak stabil-stabil amat. Kadang bermain bagus lalu membuat kami berharap tinggi. Minggu berikutnya bermain buruk dan membuat kami frustrasi. Sebagai fans, perasaanku seperti naik roller coaster yang nggak ada habisnya.
Tetapi mungkin memang itulah sepak bola. Dan mungkin juga itulah yang membuatku tetap bertahan sampai hari ini. Karena pada akhirnya, mendukung sebuah klub bukan cuma soal kemenangan. Bukan soal trofi. Bukan soal siapa pemain terbaiknya. Kadang kita mencintai sebuah klub tanpa alasan yang benar-benar bisa dijelaskan. Dan bagiku, klub itu adalah Manchester United.
Nah, sebelum masuk lebih jauh ke cerita perjalananku sebagai fans Manchester United, aku rasa ada satu pertanyaan yang menarik untuk dijawab terlebih dahulu:
Sebenarnya Manchester United itu berasal dari mana? Bagaimana sejarah klub ini sampai bisa menjadi salah satu klub terbesar di dunia? Sebagai fans tentunya kita harus tau dong ya.
*****
Sumber Materi : Wikipedia, Website Manchester United
1. Profil Manchester United
Manchester United Football Club, yang biasa disebut Manchester United, Man United, Man Utd, atau cukup United, adalah klub sepak bola profesional yang bermarkas di Old Trafford, Stretford, Greater Manchester, Inggris. Klub ini berkompetisi di Premier League, kasta tertinggi dalam sistem liga sepak bola Inggris.
Manchester United merupakan salah satu klub paling sukses dalam sejarah sepak bola Inggris, sekaligus salah satu klub dengan pencapaian terbesar di dunia. Di kompetisi domestik, United telah memenangkan 20 gelar liga kasta tertinggi Inggris, sebuah rekor yang saat ini mereka pegang bersama dengan klub lain. Selain itu, mereka telah memenangkan 13 FA Cup, 6 League Cup, serta 21 FA Community Shield yang menjadi rekor terbanyak dalam kompetisi tersebut.
Kesuksesan Manchester United juga tidak hanya terjadi di Inggris. Di kompetisi internasional, mereka telah tiga kali menjadi juara European Cup/UEFA Champions League. United juga masing-masing pernah sekali memenangkan UEFA Europa League, UEFA Cup Winners' Cup, UEFA Super Cup, Intercontinental Cup, dan FIFA Club World Cup.
Klub yang memiliki julukan The Red Devils atau Setan Merah ini sebenarnya tidak menggunakan nama Manchester United ketika pertama kali berdiri. Sejarahnya dimulai pada tahun 1878, ketika sebuah klub bernama Newton Heath LYR Football Club didirikan. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Manchester United pada tahun 1902. Setelah sempat bermain di Clayton, Manchester, klub akhirnya pindah ke stadion yang sampai sekarang identik dengan Manchester United, Old Trafford, pada tahun 1910.
Salah satu periode yang kemudian membentuk sejarah besar Manchester United dimulai ketika Matt Busby ditunjuk sebagai manajer pada tahun 1945. Busby membangun sebuah tim muda dengan usia rata-rata hanya sekitar 22 tahun yang kemudian terkenal dengan julukan Busby Babes. Tim muda ini berhasil memenangkan gelar liga secara beruntun pada dekade 1950-an dan membawa Manchester United menjadi klub Inggris pertama yang berkompetisi di European Cup, kompetisi yang kemudian berkembang menjadi UEFA Champions League seperti yang kita kenal sekarang.
Namun, perjalanan Busby Babes kemudian berubah menjadi salah satu bagian paling tragis dalam sejarah Manchester United. Delapan pemain Manchester United meninggal dalam Munich Air Disaster, kecelakaan pesawat di Munich yang menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah klub.
Matt Busby kemudian membangun kembali Manchester United. Generasi baru tersebut bertumpu pada sejumlah pemain hebat, terutama George Best, Denis Law, dan Bobby Charlton, tiga pemain yang kemudian dikenal sebagai United Trinity. Manchester United berhasil memenangkan dua gelar liga lagi sebelum akhirnya mencatatkan sejarah pada 1968, ketika mereka menjadi klub Inggris pertama yang memenangkan European Cup.
Setelah Matt Busby pensiun, Manchester United cukup lama kesulitan mendapatkan kembali kesuksesan secara konsisten. Situasi itu berubah setelah kedatangan Alex Ferguson pada tahun 1986. Ferguson kemudian menjadi manajer dengan masa jabatan terlama sekaligus paling sukses dalam sejarah Manchester United. Selama menangani klub hingga 2013, ia memenangkan 38 trofi, termasuk 13 gelar liga, 5 FA Cup, dan 2 UEFA Champions League.
Salah satu puncak era Ferguson terjadi pada musim 1998/1999. Manchester United mencatat sejarah sebagai klub pertama dalam sepak bola Inggris yang berhasil meraih continental treble, yaitu memenangkan Premier League, FA Cup, dan UEFA Champions League dalam satu musim.
Kesuksesan Manchester United di Eropa berlanjut setelah era Ferguson. Di bawah José Mourinho, United memenangkan UEFA Europa League musim 2016/2017. Kemenangan tersebut membuat Manchester United menjadi salah satu dari hanya lima klub yang pernah memenangkan tiga kompetisi utama UEFA versi original, yaitu European Cup/Champions League, UEFA Cup/Europa League, dan Cup Winners' Cup.
Manchester United juga berkembang menjadi salah satu klub sepak bola dengan jumlah pendukung terbesar dan tersebar luas di berbagai penjuru dunia. Sepanjang sejarahnya, klub ini memiliki sejumlah rivalitas besar, terutama dengan Liverpool, Manchester City, Leeds United, dan Arsenal.
Besarnya Manchester United tidak hanya terlihat dari jumlah pendukung dan prestasi di lapangan, tetapi juga dari sisi bisnis. Pada musim 2016/2017, Manchester United menjadi klub sepak bola dengan pendapatan tertinggi di dunia, dengan pendapatan tahunan mencapai sekitar €676,3 juta. Sementara pada 2024, Manchester United tercatat sebagai klub sepak bola dengan nilai tertinggi kedua di dunia, dengan valuasi yang dalam sumber ini disebut mencapai £6,55 miliar ($5,22 miliar).
Struktur kepemilikan Manchester United sendiri juga mengalami perjalanan panjang. Klub ini mulai memperdagangkan sahamnya di London Stock Exchange pada 1991. Namun pada 2005, pengusaha Amerika Serikat Malcolm Glazer mengambil alih klub melalui pembelian dengan nilai hampir £800 juta. Lebih dari £500 juta dana pinjaman yang digunakan dalam proses tersebut kemudian menjadi utang klub.
Sejak 2012, sebagian saham Manchester United kembali diperdagangkan secara publik, kali ini di New York Stock Exchange. Meskipun demikian, keluarga Glazer tetap mempertahankan kepemilikan dan kendali keseluruhan atas Manchester United.
2. Masa Awal Manchester United (1878–1945)
a. Dari Klub Pekerja Kereta Api hingga Manchester United
Sejarah Manchester United dimulai jauh sebelum nama Manchester United sendiri ada. Kita harus mundur ke tahun 1878, ketika sekelompok pekerja dari bagian Carriage and Wagon atau bagian gerbong dan kereta milik Lancashire and Yorkshire Railway (LYR) di depot Newton Heath membentuk sebuah klub sepak bola. Klub itu diberi nama Newton Heath LYR Football Club.
Pada awalnya mereka tentu saja belum menjadi klub besar seperti Manchester United yang kita kenal sekarang. Newton Heath LYR pada dasarnya adalah tim sepak bola para pekerja kereta api yang bermain melawan tim dari departemen lain maupun perusahaan kereta api lainnya.
Pertandingan pertama mereka yang tercatat berlangsung pada 20 November 1880. Saat itu para pemain Newton Heath mengenakan warna perusahaan kereta api, yaitu hijau dan emas, warna yang sangat berbeda dengan merah yang sekarang begitu identik dengan Manchester United. Pertandingan pertama itu juga nggak berakhir manis. Mereka menghadapi tim cadangan Bolton Wanderers dan kalah telak 0–6.
Perlahan-lahan Newton Heath mulai masuk ke kompetisi sepak bola yang lebih terorganisasi. Pada 1888, klub menjadi salah satu anggota pendiri The Combination, sebuah liga sepak bola regional. Sayangnya kompetisi tersebut hanya bertahan selama satu musim. Setelah bubar, Newton Heath bergabung dengan kompetisi baru bernama Football Alliance.
Football Alliance sendiri bertahan selama tiga musim sebelum akhirnya bergabung dengan The Football League. Hasilnya, pada musim 1892/1893, Newton Heath mulai bermain di First Division, kasta tertinggi Football League saat itu. Pada periode ini klub juga sudah berdiri independen dari perusahaan kereta api sehingga tulisan “LYR” di belakang Newton Heath dihilangkan. Namanya pun menjadi Newton Heath Football Club.
Sayangnya perjalanan mereka di First Division nggak berlangsung lama. Setelah dua musim, Newton Heath terdegradasi ke Second Division.
b. Hampir Bangkrut dan Lahirnya Nama Manchester United
Memasuki awal abad ke-20, masalah Newton Heath ternyata bukan cuma soal prestasi di lapangan. Kondisi keuangan klub juga sangat buruk.
Pada Januari 1902, Newton Heath memiliki utang sebesar £2.670. Jumlah tersebut mungkin terdengar kecil kalau dilihat dengan nilai uang sekarang, tetapi pada zamannya merupakan jumlah yang sangat besar. Dalam sumber yang kubaca, nilainya bahkan diperkirakan setara sekitar £280.000 pada 2025. Kondisi keuangan klub sudah begitu parah sampai Newton Heath mendapatkan perintah untuk dilikuidasi. Dengan kata lain, klub yang nantinya kita kenal sebagai Manchester United ini pernah berada di ambang kebangkrutan dan bisa saja benar-benar menghilang dari sejarah.
Di tengah kondisi tersebut, kapten Newton Heath saat itu, Harry Stafford, berusaha menyelamatkan klub. Ia berhasil menemukan empat pengusaha lokal yang bersedia memberikan investasi. Salah satunya adalah John Henry Davies, yang kemudian menjadi presiden klub. Masing-masing bersedia menginvestasikan £500 dengan imbalan keterlibatan langsung dalam pengelolaan klub.
Masuknya para investor baru ini kemudian diikuti dengan perubahan identitas klub. Pada 24 April 1902, nama Newton Heath resmi ditinggalkan. Manchester United resmi lahir.
c. Era baru pun dimulai
Pada 1903, Ernest Mangnall mulai menjalankan tugas sebagai manajer. Di bawah kepemimpinannya, Manchester United perlahan bangkit. Mereka menjadi runner-up Second Division pada 1906, yang membawa klub promosi kembali ke First Division.
Hanya dua tahun setelah promosi, sesuatu yang lebih besar terjadi. Pada 1908, Manchester United berhasil memenangkan First Division untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
Musim berikutnya dimulai dengan kemenangan dalam penyelenggaraan pertama Charity Shield, kompetisi yang sekarang kita kenal sebagai FA Community Shield. Pada akhir musim yang sama, United kembali mencatat sejarah dengan memenangkan FA Cup untuk pertama kalinya. Manchester United yang beberapa tahun sebelumnya hampir bangkrut sekarang mulai tumbuh menjadi kekuatan baru dalam sepak bola Inggris.
d. Pindah ke Old Trafford
Perkembangan klub juga membuat Manchester United membutuhkan rumah yang lebih sesuai dengan ambisi mereka. Ernest Mangnall dianggap memiliki pengaruh penting dalam keputusan klub untuk pindah ke stadion baru.
Pada 1910, Manchester United akhirnya pindah ke tempat yang kelak menjadi bagian yang nggak terpisahkan dari identitas klub yaitu OLD TRAFFORD.
Setahun kemudian, pada 1911, Manchester United kembali memenangkan First Division. Itu menjadi gelar liga kedua mereka setelah gelar pertama pada 1908. Namun, pada akhir musim berikutnya Ernest Mangnall meninggalkan Manchester United. Dan menariknya, dia justru pindah ke klub tetangga yang sekarang menjadi salah satu rival terbesar United, Manchester City.
e. Masa Sulit dan Naik Turun Divisi
Setelah periode awal kesuksesan tersebut, Manchester United ternyata nggak langsung menjadi klub besar yang terus menerus memenangkan trofi. Perjalanan mereka justru kembali mengalami masa-masa sulit.
Kompetisi sepak bola sempat berhenti akibat Perang Dunia I. Tiga tahun setelah kompetisi kembali berjalan, Manchester United terdegradasi ke Second Division pada 1922. Mereka bertahan di sana sampai akhirnya berhasil promosi kembali pada 1925.
Tetapi masalah belum selesai. Pada 1931, Manchester United kembali terdegradasi. Klub mulai mengalami pola naik-turun antara First Division dan Second Division atau yang sekarang sering disebut sebagai yo-yo club. Bahkan pada 1934, di bawah secretary-manager Scott Duncan, Manchester United hanya mampu finis di peringkat ke-20 Second Division, posisi terendah yang pernah mereka capai sepanjang sejarah. Mereka bahkan nyaris turun lagi ke Third Division.
Bayangkan saja Manchester United yang sekarang kita kenal sebagai salah satu klub terbesar di dunia, pada masa itu pernah berada di papan bawah kasta kedua sepak bola Inggris dan hampir terdegradasi ke kasta ketiga.
Dua tahun kemudian Scott Duncan berhasil membawa United promosi kembali. Tetapi mereka kembali terdegradasi pada 1937, dan Duncan akhirnya mengundurkan diri pada November tahun tersebut.
Masalah di lapangan berjalan beriringan dengan masalah keuangan. Setelah John Henry Davies, salah satu tokoh yang menyelamatkan klub pada 1902, meninggal pada Oktober 1927, kondisi keuangan Manchester United kembali memburuk.
Sekali lagi klub berada dalam ancaman kebangkrutan. Manchester United kemungkinan besar nggak akan selamat kalau pada Desember 1931 seorang pengusaha bernama James W. Gibson nggak datang dan menginvestasikan £2.000 ke klub. Gibson kemudian mengambil alih kendali Manchester United dan menjadi salah satu tokoh penting yang kembali menyelamatkan keberlangsungan klub.
Menjelang Perang Dunia II, Manchester United akhirnya sudah kembali berada di First Division. Pada musim 1938/1939, musim terakhir kompetisi sepak bola sebelum perang menghentikan liga, mereka finis di peringkat ke-14 First Division.
Sampai titik ini, perjalanan Manchester United ternyata masih jauh dari gambaran klub raksasa yang kita kenal sekarang. Dalam sekitar enam dekade sejak berdiri sebagai tim pekerja kereta api, mereka sudah mengalami pergantian nama, promosi dan degradasi berkali-kali, dua kali berada dalam kondisi keuangan yang sangat buruk, serta dua kali diselamatkan oleh orang-orang yang datang menginvestasikan uangnya ke klub.
Dan justru setelah Perang Dunia II inilah salah satu periode terpenting dalam sejarah Manchester United akan dimulai. Pada tahun 1945, seorang pria bernama Matt Busby datang ke Old Trafford. Dari tangannya kemudian lahir sebuah generasi muda yang akan dikenang selamanya sebagai Busby Babes.
3. Era Matt Busby: Busby Babes, Tragedi Munich, dan Kebangkitan Manchester United (1945–1969)
Berakhirnya Perang Dunia II membawa Manchester United memasuki salah satu periode paling penting dalam sejarah klub. Pada Oktober 1945, menjelang dimulainya kembali kompetisi sepak bola setelah perang, Manchester United menunjuk seorang pria asal Skotlandia bernama Matt Busby sebagai manajer.
Kedatangan Busby ternyata bukan sekadar pergantian manajer biasa. Sejak awal ia meminta kewenangan yang pada masa itu terbilang nggak biasa bagi seorang manajer. Busby ingin memiliki kendali besar dalam pemilihan tim, transfer pemain, hingga sesi latihan. Dengan kewenangan tersebut, ia mulai membangun Manchester United sesuai dengan visinya sendiri.
Hasilnya mulai terlihat beberapa tahun kemudian. United menjadi runner-up liga selama tiga tahun berturut-turut pada 1947, 1948, dan 1949. Pada 1948, Busby juga membawa Manchester United memenangkan FA Cup. Namun, gelar liga yang sudah begitu lama nggak mereka rasakan baru akhirnya datang pada 1952, ketika Manchester United menjuarai First Division untuk pertama kalinya dalam 41 tahun.
a. Lahirnya Busby Babes
Bagian paling menarik dari proyek Matt Busby justru terletak pada keberaniannya mempercayai pemain-pemain muda. Alih-alih membangun tim hanya dengan membeli pemain-pemain berpengalaman, Busby memberikan kesempatan besar kepada pemain muda hasil pembinaan Manchester United. Dari sinilah kemudian lahir sebuah generasi yang begitu terkenal sampai namanya masih terus disebut puluhan tahun setelah mereka bermain.
Mereka adalah Busby Babes. Julukan tersebut diberikan media kepada skuad muda Manchester United yang memiliki usia rata-rata sekitar 22 tahun. Muda banget untuk sebuah tim yang sedang bersaing memperebutkan gelar liga, tetapi mereka bukan sekadar kumpulan pemain muda berbakat.
Mereka juga juara. Manchester United memenangkan First Division dua musim berturut-turut pada 1956 dan 1957. Keberhasilan itu seolah membuktikan bahwa kepercayaan Busby kepada pemain-pemain muda memang bukan sekadar eksperimen.
Ambisi Busby kemudian meluas ke Eropa. Pada 1957, Manchester United menjadi klub Inggris pertama yang berkompetisi di European Cup, kompetisi antarklub Eropa yang nantinya berkembang menjadi UEFA Champions League. Keputusan tersebut bahkan dilakukan di tengah keberatan Football League, yang pada musim sebelumnya tidak mengizinkan Chelsea mengambil kesempatan serupa.
Perjalanan pertama United di European Cup ternyata cukup mengesankan. Mereka berhasil mencapai semifinal sebelum akhirnya dikalahkan Real Madrid. Dalam perjalanan tersebut, Manchester United juga menghancurkan juara Belgia, Anderlecht, dengan skor 10–0. Sampai sekarang, kemenangan tersebut masih tercatat sebagai kemenangan terbesar dalam sejarah Manchester United.
Dengan skuad yang begitu muda, dua gelar liga berturut-turut, dan kemampuan bersaing sampai semifinal European Cup, masa depan Busby Babes sepertinya tinggal menunggu waktu untuk menjadi semakin besar.
Sayangnya, sejarah kemudian bergerak ke arah tragedi yang tidak pernah disangka-sangka...
b. 6 Februari 1958 : Munich Air Disaster
Musim berikutnya Manchester United kembali bermain di European Cup. Pada awal Februari 1958, mereka bertandang menghadapi Red Star Belgrade dalam pertandingan perempat final. United berhasil melewati pertandingan tersebut dan sedang dalam perjalanan pulang menuju Inggris. Pesawat yang membawa para pemain, staf Manchester United, serta sejumlah jurnalis berhenti di Munich, Jerman, untuk mengisi bahan bakar.
Pada 6 Februari 1958, pesawat tersebut mencoba kembali lepas landas dari Munich. Namun naasnya....pesawat mengalami kecelakaan.
Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Munich Air Disaster itu merenggut 23 nyawa. Delapan di antaranya adalah pemain Manchester United: Geoff Bent, Roger Byrne, Eddie Colman, Duncan Edwards, Mark Jones, David Pegg, Tommy Taylor, dan Billy Whelan. Sejumlah pemain dan penumpang lainnya mengalami luka-luka. Dalam satu peristiwa, sebuah generasi muda Manchester United yang sedang tumbuh dan memiliki masa depan begitu menjanjikan hancur.
Matt Busby sendiri selamat, tetapi mengalami luka-luka dan harus menjalani masa pemulihan. Selama Busby belum mampu kembali menangani tim, asistennya, Jimmy Murphy, mengambil alih tugas sebagai manajer.
Manchester United kemudian harus melanjutkan musim dengan tim seadanya yang dibentuk dari pemain-pemain yang tersedia. Luar biasanya, di tengah tragedi sebesar itu mereka masih mampu mencapai final FA Cup 1958, meskipun akhirnya kalah dari Bolton Wanderers.
Sebagai bentuk pengakuan terhadap tragedi yang dialami Manchester United, UEFA bahkan mengundang klub untuk mengikuti European Cup musim 1958/1959 bersama Wolverhampton Wanderers yang menjadi juara liga Inggris. Football Association memberikan persetujuan, tetapi Football League menolak karena Manchester United secara normal memang tidak lolos melalui posisi mereka di liga. Akibatnya, United tidak jadi mengikuti European Cup musim tersebut.
Bagi banyak klub, kehilangan begitu banyak pemain dalam sebuah kecelakaan mungkin bisa menjadi akhir dari sebuah generasi, bahkan mungkin menghancurkan klub untuk waktu yang sangat lama.
Tetapi Matt Busby kembali. Dan ia membangun Manchester United sekali lagi.
c. Membangun Kembali Manchester United
Memasuki dekade 1960-an, Busby mulai menyusun tim baru. Ia mendatangkan pemain seperti Denis Law dan Paddy Crerand, kemudian menggabungkan mereka dengan generasi baru pemain muda Manchester United. Salah satu pemain muda tersebut bernama George Best. Perlahan-lahan Manchester United kembali menjadi kekuatan besar. Trofi besar pertama dari generasi baru ini datang ketika United memenangkan FA Cup pada 1963.
Menjelang final FA Cup tersebut, Busby mengistirahatkan beberapa pemain utama dalam pertandingan liga melawan Nottingham Forest pada 20 Mei 1963. Keputusan itu membuka kesempatan bagi Dennis Walker untuk menjalani debutnya bersama tim utama. Walker kemudian tercatat sebagai pemain kulit hitam pertama yang bermain untuk Manchester United.
Pada musim berikutnya United menjadi runner-up liga. Setelah itu mereka benar-benar kembali ke puncak dengan memenangkan gelar liga pada 1965, kemudian kembali menjadi juara pada 1967. Dari tim baru inilah kemudian muncul tiga pemain yang menjadi simbol Manchester United pada era tersebut: Bobby Charlton, Denis Law, dan George Best. Ketiganya kemudian dikenal sebagai United Trinity.
Bukan sekadar julukan untuk tiga pemain populer, ketiganya juga pernah memenangkan penghargaan European Footballer of the Year, yang sekarang kita kenal sebagai Ballon d'Or. Tetapi masih ada satu pencapaian yang belum berhasil diraih Matt Busby yaitu European Cup. Kompetisi yang pernah dikejar Busby Babes sebelum tragedi Munich menghancurkan generasi tersebut.
d. 1968 : Akhirnya Menjadi Raja Eropa!
Sepuluh tahun setelah tragedi Munich, Manchester United akhirnya kembali mendapatkan kesempatan untuk mengejar trofi terbesar di Eropa. Pada 1968, mereka berhasil mencapai final European Cup dan menghadapi Benfica. Pertandingan berakhir imbang setelah 90 menit dan harus dilanjutkan ke extra time. Di babak tambahan itulah United akhirnya menjauh dan memenangkan pertandingan dengan skor 4–1.
Manchester United pun menjadi klub Inggris pertama dalam sejarah yang memenangkan European Cup!
Kalau melihat kembali apa yang terjadi sepuluh tahun sebelumnya, pencapaian ini terasa jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan sebuah trofi. Matt Busby pernah membangun sebuah generasi muda yang sepertinya ditakdirkan menjadi salah satu tim terbaik di Eropa, kehilangan sebagian besar generasi tersebut dalam tragedi Munich, kemudian harus membangun semuanya kembali hampir dari awal. Sepuluh tahun kemudian, Manchester United akhirnya benar-benar menjadi juara Eropa!
Setelah memenangkan European Cup, United mewakili Eropa dalam Intercontinental Cup 1968 menghadapi klub Argentina, Estudiantes de La Plata. United kalah pada pertandingan pertama di Buenos Aires. Ketika kedua tim kembali bertemu di Old Trafford tiga minggu kemudian, pertandingan berakhir 1–1 sehingga hasil tersebut nggak cukup untuk membuat Manchester United menjadi juara Intercontinental Cup.
Setahun kemudian, pada 1969, Matt Busby mengundurkan diri sebagai manajer Manchester United. Posisinya kemudian digantikan oleh pelatih tim cadangan sekaligus mantan pemain United, Wilf McGuinness. Berakhirlah sebuah era yang berlangsung hampir seperempat abad.
Ketika Busby datang pada 1945, Manchester United adalah klub yang bahkan belum pernah memenangkan liga sejak 1911. Ketika ia pergi pada 1969, United telah memiliki generasi Busby Babes yang legendaris, berhasil bangkit dari salah satu tragedi terbesar dalam sejarah olahraga, memiliki tiga pemain yang pernah menjadi European Footballer of the Year, dan yang paling penting, sudah pernah berdiri di puncak sepak bola Eropa.
4. Setelah Matt Busby : Terdegradasi dan Mencari Kejayaan Kembali (1969-1986)
a. Kesulitan Menemukan Sosok yang Tepat
Kepergian Matt Busby ternyata meninggalkan lubang yang sangat besar di Manchester United. Setelah hampir seperempat abad berada di bawah sosok yang sama, United seperti kehilangan arah dan kesulitan menemukan manajer yang mampu melanjutkan kesuksesan yang telah dibangun Busby.
Penggantinya, Wilf McGuinness, ternyata nggak bertahan lama. Manchester United hanya finis di peringkat kedelapan pada musim 1969/1970, kemudian kembali mengawali musim berikutnya dengan buruk. Situasinya sampai membuat Matt Busby diminta kembali menangani tim untuk sementara waktu, sedangkan McGuinness dikembalikan ke posisi sebelumnya sebagai pelatih tim cadangan.
Pada Juni 1971, United mencoba memulai lagi dengan menunjuk Frank O'Farrell sebagai manajer. Tetapi lagi-lagi hasilnya nggak sesuai harapan. O'Farrell bahkan hanya bertahan kurang dari 18 bulan sebelum akhirnya digantikan Tommy Docherty pada Desember 1972.
Docherty berhasil menyelamatkan Manchester United dari degradasi pada musim tersebut. Namun masalah yang dihadapi klub sebenarnya jauh lebih besar. Generasi besar peninggalan Busby juga mulai benar-benar berakhir. George Best, Denis Law, dan Bobby Charlton, tiga pemain yang menjadi simbol kejayaan United pada era sebelumnya, semuanya telah meninggalkan klub.
Dan pada 1974, hanya enam tahun setelah menjadi juara Eropa, sesuatu yang mungkin sulit dibayangkan terjadi. Manchester United terdegradasi ke Second Division. Untungnya mereka nggak perlu berlama-lama di kasta kedua. United langsung berhasil mendapatkan promosi pada kesempatan pertama dan kembali ke First Division. Kebangkitan berlanjut ketika mereka mencapai final FA Cup 1976, meskipun akhirnya harus kalah dari Southampton.
Setahun kemudian, Manchester United kembali mencapai final FA Cup. Kali ini lawannya adalah Liverpool, dan hasilnya jauh lebih menyenangkan. United menang 2–1 dan menjadi juara FA Cup 1977.
Namun, perjalanan Tommy Docherty bersama Manchester United justru berakhir nggak lama setelah keberhasilan tersebut. Ia dipecat setelah terungkap memiliki hubungan dengan istri fisioterapis klub.
b. Era Dave Sexton : Belum Menemukan Formula yang Tepat
Pada musim panas 1977, posisi Docherty digantikan oleh Dave Sexton. Manchester United melakukan sejumlah perekrutan besar pada masanya, termasuk Joe Jordan, Gordon McQueen, Gary Bailey, dan Ray Wilkins. Sayangnya, kedatangan pemain-pemain tersebut belum cukup untuk mengembalikan United ke masa kejayaannya. Mereka memang sempat menjadi runner-up liga pada musim 1979/1980, tetapi tetap gagal memenangkan trofi. United juga berhasil mencapai final FA Cup 1979, tetapi kalah dari Arsenal.
Pada 1981, Dave Sexton akhirnya dipecat. Ironisnya, pemecatan itu terjadi meskipun Manchester United memenangkan tujuh pertandingan terakhir di bawah kepemimpinannya.
United kemudian menunjuk Ron Atkinson sebagai manajer. Dan salah satu keputusan besar Atkinson setelah datang ke Old Trafford adalah mendatangkan seorang pemain yang nantinya menjadi salah satu figur penting dalam sejarah Manchester United. Namanya Bryan Robson. Atkinson memecahkan rekor transfer Inggris untuk membawa Robson dari mantan klubnya, West Bromwich Albion. Robson kemudian menjadi kapten Manchester United selama 12 tahun, lebih lama dibanding pemain lain dalam sejarah klub.
Di bawah Atkinson, Manchester United mulai kembali mendapatkan trofi. Mereka memenangkan FA Cup 1983, kemudian mengalahkan rival mereka, Liverpool, untuk memenangkan Charity Shield 1983. Dua tahun kemudian, United kembali mengangkat FA Cup setelah menjadi juara pada 1985.
Tetapi ada satu hal yang masih belum berhasil mereka dapatkan. Gelar liga. Pada awal musim 1985/1986, sepertinya penantian panjang itu akan segera berakhir. Manchester United mengawali musim dengan luar biasa: 13 kemenangan dan dua hasil imbang dalam 15 pertandingan pertama. Dengan awal sebaik itu, United bahkan menjadi favorit untuk memenangkan liga. Tetapi performa mereka kemudian menurun dan pada akhirnya hanya mampu finis di peringkat keempat.
Musim berikutnya keadaan malah semakin buruk. Memasuki November 1986, Manchester United justru berada dalam ancaman degradasi. Kesabaran klub terhadap Ron Atkinson akhirnya habis dan ia pun dipecat.
c. Manchester United kembali membutuhkan seorang manajer baru
Sejak Matt Busby mundur pada 1969, berbagai nama sudah datang dan pergi. Wilf McGuinness, Frank O'Farrell, Tommy Docherty, Dave Sexton, hingga Ron Atkinson. Ada FA Cup yang berhasil dimenangkan, ada beberapa momen membanggakan, tetapi nggak ada satu pun yang benar-benar mampu mengembalikan Manchester United menjadi kekuatan dominan sepak bola Inggris seperti pada masa Busby.
Pada November 1986, Manchester United akhirnya menunjuk seorang manajer asal Skotlandia yang sebelumnya sukses bersama Aberdeen. Namanya Alex Ferguson. Tentu saja, saat itu belum ada yang tahu kalau keputusan tersebut nantinya akan mengubah sejarah Manchester United untuk selamanya...
5. Era Alex Ferguson : Lahirnya Dinasti Manchester United (1986-2013)
a. Akhirnya Menjuarai Kembali FA Cup
Pada 6 November 1986, Manchester United menunjuk Alex Ferguson sebagai manajer baru. Ia datang dari Aberdeen bersama asistennya, Archie Knox, dengan reputasi yang sebenarnya sudah cukup mengesankan. Tetapi tentu saja, belum ada yang tahu bahwa pria asal Skotlandia ini nantinya akan bertahan hampir 27 tahun dan menjadi manajer paling sukses dalam sejarah Manchester United.
Perjalanan itu juga nggak langsung berjalan mulus. Ferguson mengambil alih United ketika kondisi klub sedang buruk dan pada musim pertamanya hanya mampu membawa mereka finis di peringkat ke-11 liga. Musim 1987/1988 memberikan harapan ketika United finis sebagai runner-up, tetapi musim berikutnya mereka kembali terlempar ke peringkat ke-11.
Memasuki musim 1989/1990, tekanan terhadap Ferguson semakin besar. Setelah beberapa tahun menangani United tanpa menghasilkan trofi besar, posisinya bahkan dikabarkan berada di ujung tanduk.
Lalu datanglah FA Cup 1990.
Manchester United berhasil mencapai final melawan Crystal Palace dan memenangkan pertandingan tersebut setelah melalui laga ulangan. Trofi itu menjadi gelar pertama Ferguson bersama United dan sering dianggap sebagai salah satu titik balik terpenting dalam perjalanan kariernya di Old Trafford.
Setelah itu, semuanya perlahan mulai berubah. Pada musim berikutnya, Manchester United memenangkan UEFA Cup Winners' Cup untuk pertama kalinya. Keberhasilan tersebut membawa United tampil di European Super Cup, tempat mereka mengalahkan juara European Cup, Red Star Belgrade, dengan skor 1–0 di Old Trafford.
United kemudian dua kali berturut-turut mencapai final League Cup pada 1991 dan 1992. Setelah kalah pada kesempatan pertama, mereka mengalahkan Nottingham Forest 1–0 pada final 1992 untuk memenangkan League Cup pertama dalam sejarah klub.
Tetapi satu hal yang paling diinginkan Manchester United masih belum datang. Gelar liga. United terakhir kali menjadi juara Inggris pada 1967, masih pada era Matt Busby. Artinya, mereka sudah menunggu lebih dari dua dekade.
b. 1992/1993 : Penantian 26 Tahun Akhirnya Berakhir
Pada musim 1992/1993, sepak bola Inggris memasuki era baru dengan lahirnya Premier League. Dan Manchester United langsung menjadi juara pada musim pertamanya. Untuk pertama kalinya sejak 1967, United kembali menjadi juara liga Inggris. Penantian selama 26 tahun akhirnya selesai.
Musim berikutnya mereka kembali menjadi juara Premier League. Tetapi kali ini bukan hanya liga yang mereka menangkan. United juga memenangkan FA Cup sehingga untuk pertama kalinya dalam sejarah klub mereka berhasil meraih Double: liga dan FA Cup dalam satu musim.
Pada musim 1995/1996, Manchester United kembali memenangkan Premier League dan FA Cup. Dengan pencapaian tersebut, United menjadi klub Inggris pertama yang berhasil meraih Double sebanyak dua kali.
Musim berikutnya, 1996/1997, mereka kembali mempertahankan gelar Premier League. Manchester United bukan lagi klub yang sedang berusaha mengembalikan kejayaan masa lalu. Mereka sudah menjadi kekuatan dominan sepak bola Inggris.
c. 1998/1999: The Treble!
Kemudian datanglah musim yang mungkin menjadi salah satu musim paling terkenal sepanjang sejarah Manchester United. 1998/1999. United sedang mengejar tiga trofi sekaligus: Premier League, FA Cup, dan UEFA Champions League.
Dan mereka memenangkan semuanya. Manchester United menjadi klub Inggris pertama yang berhasil meraih ketiga trofi tersebut dalam satu musim, sebuah pencapaian yang kemudian dikenal sebagai The Treble.
Puncaknya terjadi pada final Champions League 1999 melawan Bayern Munich. Sampai memasuki injury time, Manchester United masih tertinggal 0–1. Sepertinya pertandingan sudah selesai. Tetapi Manchester United saat itu memang punya kebiasaan mencetak gol ketika pertandingan sepertinya sudah benar-benar berakhir.
Pada injury time, Teddy Sheringham mencetak gol penyama kedudukan. 1–1. Belum selesai. Hanya beberapa saat kemudian, Ole Gunnar Solskjær mencetak gol kedua. 2–1. Dalam hitungan menit, Manchester United membalikkan pertandingan dan menjadi juara Eropa. Premier League. FA Cup. Champions League. The Treble.
Pada musim panas setelah pencapaian tersebut, Alex Ferguson dianugerahi gelar kebangsawanan atas jasanya terhadap sepak bola dan sejak saat itu namanya dikenal sebagai Sir Alex Ferguson.
Beberapa bulan kemudian, pada November 1999, Manchester United kembali mencatat sejarah dengan mengalahkan Palmeiras 1–0 di Tokyo untuk memenangkan Intercontinental Cup. United menjadi satu-satunya klub Inggris yang pernah memenangkan kompetisi tersebut.
d. Dominasi Berlanjut
Treble ternyata bukan akhir dari dominasi Manchester United. United kembali menjadi juara Premier League pada musim 1999/2000 dan 2000/2001. Jika dihitung bersama gelar 1998/1999, mereka berarti memenangkan liga tiga musim berturut-turut, sesuatu yang pada saat itu baru pernah dilakukan oleh tiga klub Inggris lainnya.
Musim 2001/2002 mereka hanya finis di peringkat ketiga, tetapi pada 2002/2003 United kembali merebut gelar Premier League. Setahun kemudian, mereka memenangkan FA Cup 2003/2004 setelah mengalahkan Millwall 3–0 pada final di Millennium Stadium, Cardiff. Itu menjadi gelar FA Cup ke-11 Manchester United pada saat itu.
Tetapi setelah itu United mulai menghadapi periode yang sedikit lebih sulit. Pada musim 2005/2006, mereka bahkan gagal lolos dari fase grup Champions League untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Di Premier League, United hanya mampu finis sebagai runner-up.
Namun mereka tetap mendapatkan satu trofi setelah mengalahkan Wigan Athletic pada final League Cup 2006. Dan justru dari periode inilah muncul generasi Manchester United yang kemudian menjadi generasi yang paling kukenal ketika pertama kali jatuh cinta dengan klub ini. Era Cristiano Ronaldo, Rooney, dan Tévez
Pada musim 2006/2007, Manchester United kembali menjadi juara Premier League. Di sinilah United mulai membangun salah satu tim paling menarik yang pernah kulihat. Cristiano Ronaldo berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dunia, Wayne Rooney menjadi bagian penting lini depan, dan kemudian hadir Carlos Tévez. Mereka bermain cepat, agresif, dan terutama punya serangan balik yang bisa tiba-tiba meledak begitu bola berhasil direbut.
Ini Manchester United yang kuingat dari masa SMP dan SMA.
Dan musim berikutnya menjadi jauh lebih istimewa. Pada 2007/2008, Manchester United kembali memenangkan Premier League, gelar liga Inggris ke-17 mereka. Tetapi masih ada Champions League. United berhasil mencapai final dan lawannya adalah Chelsea, rival yang seperti kuceritakan sebelumnya, saat itu benar-benar nggak kusukai. Hahaha. Final berlangsung di Moskow dan berakhir 1–1 setelah extra time sehingga harus ditentukan melalui adu penalti. Cristiano Ronaldo gagal mengeksekusi penaltinya, membuat Chelsea mendapatkan kesempatan besar untuk menjadi juara. John Terry maju sebagai penendang kelima Chelsea. Kalau masuk, Chelsea juara.
Tetapi Terry terpeleset dan gagal. Adu penalti berlanjut sampai akhirnya Edwin van der Sar berhasil menepis tendangan Nicolas Anelka. Manchester United menang adu penalti 6–5. Juara Champions League 2008. United pun menyelesaikan musim dengan European Double: Premier League dan Champions League.
Final itu juga menjadi pertandingan bersejarah bagi Ryan Giggs. Ia mencatat penampilan ke-759 bersama Manchester United, melewati rekor Bobby Charlton sebagai pemain dengan jumlah penampilan terbanyak untuk klub.
Beberapa bulan kemudian, pada Desember 2008, Manchester United mengalahkan LDU Quito 1–0 pada final FIFA Club World Cup dan menjadi klub Inggris pertama yang memenangkan FIFA Club World Cup.
Musim 2008/2009, dominasi mereka berlanjut. United memenangkan League Cup sekaligus Premier League untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Ini juga menjelaskan kenapa dalam ingatanku dulu Manchester United periode 2007–2009 rasanya seperti menang terus. Mereka memang sedang berada dalam periode yang luar biasa kuat.
Namun pada musim panas 2009, salah satu pemain terpenting dari generasi tersebut pergi. Cristiano Ronaldo dijual ke Real Madrid dengan harga £80 juta, yang saat itu menjadi rekor transfer dunia. Meski kehilangan Ronaldo, Manchester United tetap memenangkan League Cup pada 2010, mengalahkan Aston Villa 2–1 di Wembley. Itu juga menjadi pertama kalinya dalam sejarah United mereka berhasil mempertahankan gelar sebuah kompetisi sistem gugur.
e. Gelar Liga ke-19 dan ke-20
Di Premier League, United finis sebagai runner-up di bawah Chelsea pada musim 2009/2010. Namun musim berikutnya mereka kembali. Pada 2010/2011, Manchester United memenangkan gelar liga Inggris ke-19 setelah memastikan gelar melalui hasil imbang 1–1 melawan Blackburn Rovers pada 14 Mei 2011. Gelar tersebut memiliki arti besar karena membuat United mencapai 19 gelar liga Inggris.
Dua musim kemudian, pada 2012/2013, Manchester United kembali menjadi juara. Gelar dipastikan setelah United mengalahkan Aston Villa 3–0 di Old Trafford pada 22 April 2013. Itu menjadi gelar liga Inggris ke-20 Manchester United. Dan ternyata menjadi gelar terakhir Sir Alex Ferguson.
Setelah hampir 27 tahun membangun Manchester United, Ferguson mengakhiri kariernya sebagai manajer pada 2013. Ketika ia datang pada November 1986, United adalah klub yang sudah 19 tahun nggak pernah menjadi juara liga dan sedang berada di dekat zona degradasi. Ketika ia pergi, Manchester United telah memiliki 20 gelar liga Inggris dan menjadi salah satu klub sepak bola terbesar di dunia.
Era Ferguson juga menciptakan begitu banyak nama yang kemudian nggak bisa dipisahkan dari sejarah Manchester United. Dari generasi Ryan Giggs, kemudian generasi yang membawa treble 1999, sampai generasi Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney yang membuatku jatuh cinta dengan klub ini ketika masih remaja.
Dan menariknya, ketika Sir Alex Ferguson mengangkat trofi Premier League terakhirnya pada 2013, aku justru sedang berada dalam periode ketika sudah nggak mengikuti sepak bola lagi.
Aku berhenti mengikuti sepak bola sekitar 2012.
Jadi tanpa kusadari saat itu, bukan cuma satu fase dalam hidupku sebagai pencinta sepak bola yang sedang berakhir.
Era terbesar dalam sejarah modern Manchester United juga sedang berakhir.







