Semalam, 5 Oktober 2026, aku nonton film berjudul The Last House. Aku tertarik nonton film ini karena bertema survival, dimana akhir-akhir ini aku lagi suka banget topik ini. Mengacu ke sinopsisnya sih, tema survival di film ini settingnya bukan di hutan, gunung, laut seperti kebanyakan film lainnya, tapi justru di sebuah rumah biasa. Well, rumah kan selama ini menjadi tempat yang kita anggap paling aman ya. Tapi gimana ceritanya kalau kita justru terjebak di dalam rumah itu dan nggak bisa keluar sama sekali?
Jadi ceritanya ada satu keluarga bernama keluarga Delgado yang tinggal di sebuah rumah bersama kedua anak mereka. Semuanya awalnya biasa aja, sampai suatu hari turun hujan yang sekilas juga kelihatannya seperti hujan biasa. Mereka baru sadar ada sesuatu yang aneh ketika mau keluar rumah. Pintu depan nggak bisa dibuka, pintu garasi juga nggak bisa, dan ternyata semua pintu serta jendela rumah mereka seperti terkunci rapat oleh sesuatu yang nggak kelihatan. Jason, si bapak, kemudian mencoba berbagai cara untuk keluar. Kaca jendela dicoba dipecahkan tapi nggak bisa benar-benar dihancurkan. Aneh banget kan.
Awalnya mereka tentu bingung, apakah ini cuma terjadi di rumah mereka atau sebenarnya ada kejadian yang lebih besar di luar. Setelah melihat rumah-rumah tetangga, ternyata orang lain juga mengalami hal yang sama. Tetangga mereka bahkan sampai berkomunikasi dari balik jendela karena sama-sama nggak bisa keluar rumah. Internet dan sinyal HP juga nggak berfungsi, sementara hujan terus turun di luar.
Sempat muncul dugaan kalau semua ini mungkin sengaja dilakukan oleh pemerintah untuk melindungi masyarakat dari sesuatu yang berbahaya di luar. Mungkin semacam sistem perlindungan darurat yang membuat rumah-rumah mereka otomatis tersegel sampai keadaan kembali aman. Jadi awalnya masih ada harapan, tinggal tunggu aja sampai pemerintah atau petugas datang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan menyelamatkan mereka. Tapi sehari berlalu, dua hari, tiga hari, seminggu... nggak ada satupun bantuan yang datang. Nggak ada petugas, nggak ada pengumuman, nggak ada informasi apapun mengenai apa yang sedang terjadi di luar sana. Mereka benar-benar cuma bisa menebak-nebak sambil terus bertahan dengan apapun yang masih tersedia di dalam rumah.
Dan ternyata kondisi tersebut terus berlangsung jauh lebih lama dari yang mereka bayangkan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, sampai akhirnya bertahun-tahun. Nah disinilah masalahnya mulai berubah. Mereka nggak bisa lagi cuma duduk dan berharap suatu hari pintunya tiba-tiba terbuka. Mau nggak mau mereka harus mulai menerima kemungkinan kalau kondisi ini bakal berlangsung sangat lama dan mulai mikir gimana caranya tetap hidup dengan sumber daya yang semakin terbatas. Makanan tentunya lama-lama habis, air harus dicari alternatifnya, barang-barang mulai rusak, dan apapun yang tersedia di dalam rumah akhirnya harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Mau nggak mau mereka akhirnya harus memanfaatkan apapun yang tersedia. Persediaan makanan mulai diperhitungkan, air harus dikelola, mereka mulai menanam makanan sendiri, sampai berbagai barang yang awalnya cuma barang rumah tangga biasa mulai dibongkar dan dimanfaatkan untuk kebutuhan lain. Lama-kelamaan kondisi rumah mereka pun berubah banget. Rumah yang awalnya cuma berfungsi sebagai tempat tinggal akhirnya benar-benar berubah menjadi tempat mereka bertahan hidup.
Nah sepanjang nonton film ini aku malah jadi mikir, sebenarnya beberapa kondisi seperti ini meskipun dibuat sangat ekstrem masih bisa terjadi dalam skala yang lebih masuk akal di kehidupan nyata. Tentunya bukan tiba-tiba rumah kita terisolasi bertahun-tahun seperti di film ya wkwk, tapi misalnya ketika terjadi banjir besar, gempa bumi, tanah longsor, erupsi gunung api ataupun bencana lain yang membuat akses jalan terputus. Bisa aja kita harus bertahan beberapa hari di rumah tanpa listrik, sinyal hilang, air nggak mengalir atau bantuan belum bisa masuk ke daerah kita.
Dan ternyata kalau dipikir-pikir, survival dalam kondisi seperti itu nggak cukup cuma dengan punya stok mie instan satu kardus dan air beberapa galon. Kita juga harus tau kapan mulai menghemat persediaan, gimana mencari sumber air lain kalau stok mulai habis, makanan apa yang sebaiknya disimpan, barang-barang apa yang jangan buru-buru dibuang, sampai gimana kalau listrik, pompa air ataupun komunikasi yang selama ini kita andalkan tiba-tiba nggak bisa digunakan.
Jadi dari film ini aku mencoba mengambil beberapa hal yang menurutku cukup menarik untuk dipelajari. Tentunya nggak semua adegan survival di The Last House bakal aku masukin mentah-mentah karena namanya juga film, ada beberapa hal yang terlalu ekstrem atau tidak logis. Aku lebih pengen mengambil pelajaran survival yang sekiranya masih relevan dan bisa kita terapkan di kehidupan nyata, terutama kalau suatu saat kita harus bertahan cukup lama di rumah atau di suatu tempat karena kondisi darurat.
Berikut beberapa hal yang bisa aku ambil dari film The Last House:
1. Segera hitung dan atur semua persediaan
Salah satu hal pertama yang harus dilakukan ketika kita sadar bakal terjebak cukup lama adalah mengecek semua persediaan yang kita punya. Hal ini juga yang perlahan menjadi masalah bagi keluarga Delgado di The Last House. Awalnya mungkin mereka masih berharap kondisi di luar akan segera membaik dan mereka bisa keluar rumah. Tapi ternyata sehari, dua hari, seminggu, kondisi nggak juga berubah. Nah kalau udah begini tentunya kita nggak bisa lagi makan, minum dan menggunakan barang-barang di rumah seperti kondisi normal.
Kenapa? Karena kita nggak tau akan terjebak sampai kapan. Jadi hal pertama yang menurutku penting banget adalah mengumpulkan dan mengecek semua persediaan yang ada. Bukan cuma makanan ya, tapi juga air minum, obat-obatan, baterai, senter, perlengkapan P3K, bahan bakar kalau ada, alat masak, perlengkapan kebersihan sampai berbagai perkakas yang mungkin akan dibutuhkan nantinya.
Setelah itu baru dihitung. Misalnya di rumah ada 20 kaleng makanan. Kita jangan hanya berpikir merasa aman karena masih ada 20 kaleng. Tapi hitung lagi, ada berapa orang yang harus makan? Dalam sehari butuh berapa? Kalau konsumsinya seperti biasa, 20 kaleng tadi kira-kira cukup untuk berapa hari?
Begitu juga dengan air. Misalnya kita masih punya beberapa galon air. Kelihatannya mungkin banyak banget. Tapi kalau di dalam rumah ada empat orang dan air itu juga dipakai untuk berbagai kebutuhan, ya bisa habis jauh lebih cepat daripada yang kita bayangkan.
Nah dari perhitungan itulah kita bisa mulai melakukan rationing alias mengatur pemakaian. Bukan berarti langsung makan cuma sekali sehari atau minum sesedikit mungkin ya. Jangan sampai niatnya menghemat air malah bikin dehidrasi wkwk. Intinya lebih ke menghilangkan pemborosan dan mengatur supaya persediaan yang ada nggak habis seenaknya.
Barang-barang yang susah digantikan juga harus mulai dihemat. Baterai misalnya. Kalau listrik mati dan kita cuma punya beberapa baterai, ya jangan senter dinyalakan terus-terusan padahal nggak diperlukan. Begitu juga dengan obat-obatan, bahan bakar, gas, ataupun barang lain yang kita nggak tau kapan bisa mendapatkannya lagi.
Menurutku yang paling penting justru kita harus mulai mengubah cara menghitung persediaan. Jangan cuma menghitung kita masih punya berapa banyak makanan, tapi ubah pola pikir menjadi, dengan jumlah orang yang ada disini, makanan ini bisa bertahan berapa hari? Dari situ kita jadi punya gambaran kapan harus mulai mencari alternatif. Kalau air diperkirakan cuma cukup seminggu, artinya sebelum seminggu itu habis kita sudah harus mikir sumber air berikutnya dari mana. Kalau makanan cuma cukup dua minggu, jangan tunggu hari ke-13 baru panik mikirin makanan selanjutnya.
Karena dalam kondisi survival, kita nggak pernah tau keadaan darurat akan berlangsung berapa lama. Bisa jadi awalnya kita mengira cuma akan terjebak sehari dua hari, ternyata berlangsung berminggu-minggu seperti yang dialami keluarga Delgado.
Jadi begitu sadar kita mungkin akan terisolasi cukup lama, cek semua persediaan, hitung jumlahnya, perkirakan bisa bertahan berapa lama, lalu mulai atur penggunaannya. Jangan tunggu stok hampir habis baru mulai berpikir harus ngapain.
2. Manfaatkan Rumah dan Barang-Barang di Dalamnya
Nah ini salah satu hal yang menurutku menarik banget dari film The Last House. Karena keluarga Delgado terjebak di dalam rumah dalam waktu yang sangat lama, mau nggak mau mereka harus memanfaatkan apapun yang tersedia di dalam rumah untuk bertahan hidup.
Awalnya mungkin kita akan mikir, ya kalau terjebak di rumah berarti setidaknya masih ada makanan, air, tempat tidur, kamar mandi dan barang-barang lainnya. Tapi gimana kalau terjebaknya bukan sehari dua hari? Gimana kalau berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun seperti yang terjadi di film ini? Tentunya makanan akan habis, barang-barang akan rusak dan kebutuhan baru akan terus muncul.
Nah disinilah mereka mulai memanfaatkan barang-barang yang sebelumnya sama sekali nggak dibuat untuk survival. Ada komponen sepeda, vacuum cleaner, pakaian, furnitur, pipa dan berbagai peralatan rumah tangga yang kemudian dibongkar atau dimanfaatkan untuk keperluan lain. Lama-lama rumah mereka bahkan berubah banget karena berbagai barang di dalamnya sudah dialihfungsikan untuk menunjang kehidupan.
Kalau dipikir-pikir, ini masuk akal banget sih. Dalam kondisi normal kita melihat barang berdasarkan fungsi awalnya. Sepeda ya buat dikendarai, selang buat mengalirkan air, tirai buat nutup jendela, meja ya buat naruh barang. Tapi kalau kita benar-benar terjebak dan nggak mungkin pergi ke toko untuk membeli sesuatu, cara berpikirnya harus mulai diubah.
Misalnya sepeda. Kalau sudah nggak mungkin digunakan keluar rumah, sepeda sebenarnya masih punya banyak komponen yang berguna: ada rantai, kabel, roda, ban, baut sampai berbagai bagian logam. Furnitur bisa menjadi sumber kayu. Pakaian, seprai atau tirai punya kain yang mungkin bisa digunakan sebagai pengikat atau insulasi. Botol dan wadah bekas bisa digunakan untuk menyimpan air. Selang dan pipa bisa dimanfaatkan untuk membuat sistem pengaliran air.
Jadi jangan buru-buru membuang barang yang kelihatannya sudah nggak berguna. Bisa jadi hari ini kita nggak membutuhkan benda itu, tapi beberapa minggu kemudian justru ada komponennya yang sangat kita butuhkan.
Tapi bukan berarti semua isi rumah langsung dibongkar juga ya wkwk. Tetap harus dipikirkan untung ruginya. Misalnya kita butuh kayu, masa iya pintu rumah langsung dicopot dan dipotong-potong padahal pintunya masih sangat dibutuhkan untuk melindungi rumah. Sama halnya dengan membakar furnitur untuk menghangatkan tubuh. Jangan sampai kita menghancurkan sesuatu yang ternyata punya fungsi jauh lebih penting hanya untuk menyelesaikan masalah sesaat.
Jadi salah satu pelajaran survival yang menurutku menarik dari film ini adalah jangan cuma melihat suatu benda dari fungsi aslinya. Kalau sedang dalam kondisi darurat, coba lihat lagi:
Barang ini terbuat dari apa? Bagian-bagiannya bisa digunakan untuk apa? Ada nggak masalah yang bisa diselesaikan dengan barang ini?
Karena dalam kondisi survival, kita nggak selalu punya barang yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah. Kadang justru kita harus pintar-pintar menggunakan apa yang ada di sekitar kita. Dan itulah yang dilakukan keluarga Delgado sampai rumah mereka yang awalnya rumah biasa perlahan berubah menjadi tempat survival yang bisa menopang kehidupan mereka dalam jangka panjang.
3. Air Harus Menjadi Prioritas Sejak Awal!
Kalau makanan di rumah mulai menipis mungkin kita masih bisa mengurangi porsi atau mencari alternatif makanan lain. Tapi kalau yang mulai habis adalah air, nah ini masalahnya jauh lebih serius. Manusia bisa bertahan tanpa makanan jauh lebih lama dibandingkan tanpa air. Makanya dalam kondisi survival seperti yang dialami keluarga Delgado di The Last House, salah satu hal yang harus dipikirkan sejak awal adalah: kalau persediaan air yang ada di rumah habis, selanjutnya kita minum dari mana?
Ini juga berkaitan dengan poin pertama tadi. Setelah menghitung persediaan, misalnya ternyata air yang ada cuma cukup untuk beberapa hari, jangan tunggu sampai galon terakhir hampir kosong baru mulai panik mencari sumber air baru. Selagi masih punya stok, kita justru punya waktu untuk memikirkan alternatif.
Dalam film, keluarga Delgado akhirnya juga harus mencari cara untuk mendapatkan dan mengelola air sendiri, salah satunya dengan memanfaatkan air hujan. Nah ini sebenarnya masuk akal banget. Kalau kita terjebak di suatu tempat dan nggak bisa keluar, hujan bisa menjadi salah satu sumber air tawar yang sangat berharga. Kita bisa memanfaatkan atap, talang, wadah, pipa atau benda apapun yang memungkinkan untuk menampung sebanyak mungkin air.
Tapi perlu diingat juga, air hujan yang berhasil kita tampung nggak otomatis berarti aman langsung diminum. Air bisa membawa kotoran dari atap, debu, kotoran hewan, mikroorganisme ataupun kontaminan lainnya. Jadi kalau memungkinkan tetap harus diolah terlebih dahulu sebelum diminum, misalnya dengan metode pemurnian air yang sesuai.
Selain mencari sumber baru, air yang sudah kita punya juga harus mulai digunakan dengan bijak. Jangan sampai air bersih yang seharusnya bisa digunakan untuk minum malah habis untuk kebutuhan yang sebenarnya bisa menggunakan air dengan kualitas lebih rendah.
Misalnya nih, kita punya air minum kemasan dan juga berhasil menampung air hujan. Ya sebisa mungkin jangan air minum kemasan tadi dipakai untuk nyiram tanaman atau membersihkan sesuatu kalau masih ada alternatif lain. Air dengan kualitas terbaik sebaiknya diprioritaskan untuk minum dan memasak, sementara sumber air lainnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain setelah mempertimbangkan kebersihannya.
Wadah penyimpanannya juga nggak kalah penting. Percuma kita susah-susah mendapatkan air kalau kemudian air tersebut terkontaminasi karena disimpan sembarangan. Jadi kalau menemukan botol, jeriken, ember atau wadah lain yang masih layak, jangan buru-buru dibuang. Bisa jadi nanti justru sangat berguna untuk menampung air.
Nah dari sini menurutku ada satu prinsip sederhana yang bisa diambil dari The Last House:
Jangan tunggu sampai haus untuk memikirkan air.
Begitu kita sadar bakal terisolasi cukup lama, langsung pikirkan beberapa hal: stok air sekarang ada berapa, cukup untuk berapa lama, sumber berikutnya dari mana, bagaimana cara menampungnya, bagaimana membuatnya aman digunakan, dan bagaimana menyimpannya.
Karena kalau makanan habis kita masih punya waktu untuk mencari solusi. Tapi kalau sampai kehilangan akses terhadap air bersih, waktu kita untuk mencari solusi bakal jauh lebih pendek.
4. Jangan Cuma Mengandalkan Stok Makanan, Mulai Pikirkan Cara Memproduksi Makanan
Kalau terjebaknya cuma beberapa hari, mungkin kita masih bisa mengandalkan makanan yang ada di kulkas, mie instan, beras, makanan kaleng dan berbagai stok lainnya. Tapi masalahnya, keluarga Delgado di The Last House nggak terjebak cuma sehari dua hari. Kondisi ini berlangsung sangat lama sampai akhirnya mereka harus mulai mikir, kalau semua makanan di rumah habis, terus selanjutnya mau makan apa?
Nah disinilah menurutku ada perubahan penting dalam cara mereka bertahan hidup. Mereka nggak bisa selamanya cuma melakukan rationing. Sehemat-hematnya kita makan, kalau stoknya terus diambil tanpa pernah ditambah ya ujung-ujungnya bakal habis juga.
Makanya Ann akhirnya mulai menanam tanaman di dalam rumah. Mereka bahkan membuat semacam sistem pengairan sederhana untuk membantu tanaman tersebut tetap hidup. Jadi perlahan mereka nggak cuma mengandalkan makanan yang sudah tersedia, tapi mulai berusaha menghasilkan makanan sendiri.
Menurutku ini salah satu pelajaran survival jangka panjang yang cukup penting. Kalau kita nggak tau akan terisolasi sampai kapan, jangan cuma berpikir:
“Gimana caranya supaya makanan ini awet selama mungkin?”
Tapi pada satu titik kita juga harus mulai berpikir:
“Gimana caranya supaya kita mendapatkan makanan baru?”
Kalau punya benih, misalnya, jangan buru-buru menganggapnya nggak berguna. Begitu juga kentang, bawang, kacang-kacangan atau bahan makanan tertentu yang masih memungkinkan untuk ditanam kembali. Kalau kondisi memungkinkan, kita bisa mulai mencari bagian rumah yang mendapat sinar matahari dan mencoba menanam sesuatu disana.
Tentunya nggak sesederhana masukin biji ke tanah terus besok bisa dipanen ya wkwk. Tanaman tetap membutuhkan air, cahaya, media tanam dan waktu untuk tumbuh. Artinya kalau mau menjadikan tanaman sebagai sumber makanan, kita harus mulai melakukannya jauh sebelum stok makanan benar-benar habis.
Misalnya kita memperkirakan makanan cuma cukup untuk satu bulan, sementara tanaman yang kita tanam membutuhkan waktu beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan sampai bisa dipanen. Ya jangan nunggu makanan tinggal tiga hari baru mulai nanam. Bisa-bisa tanamannya baru tumbuh beberapa senti, kita udah kelaparan duluan wkwk.
Selain itu, menanam makanan juga nggak boleh sampai mengorbankan kebutuhan yang lebih penting. Kalau persediaan air untuk minum aja sangat terbatas, tentunya kita harus berhitung lagi berapa banyak air yang bisa dialokasikan untuk tanaman. Jangan sampai niatnya mau menghasilkan makanan malah membuat air minum kita habis.
Nah disini terlihat bedanya survival jangka pendek dan survival jangka panjang.
Kalau cuma beberapa hari, kita bisa mengandalkan stok yang ada.
Kalau berlangsung beberapa minggu, kita mulai menghemat sekaligus mencari sumber makanan lain.
Tapi kalau kondisi berlangsung sampai berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun seperti di The Last House, mau nggak mau kita harus mulai membangun sistem yang bisa menghasilkan makanan secara terus-menerus.
Jadi intinya jangan cuma menghitung berapa banyak makanan yang masih tersisa. Kalau kita sadar kondisi darurat kemungkinan akan berlangsung lama, mulai pikirkan dari jauh-jauh hari:
Setelah stok ini habis, makanan berikutnya datang dari mana?
Karena rationing cuma bisa memperlambat makanan habis. Untuk benar-benar bertahan dalam jangka panjang, pada akhirnya kita membutuhkan sumber makanan yang bisa diperbarui.
5. Jangan Buru-Buru Membuang Barang yang Masih Bisa Digunakan
Kalau kondisi darurat berlangsung cukup lama, barang-barang sederhana yang biasanya kita anggap sepele bisa jadi malah sangat berguna. Apalagi kalau akses keluar terputus dan kita nggak bisa begitu aja pergi ke minimarket atau toko untuk membeli barang yang dibutuhkan.
Misalnya botol air mineral kosong. Dalam kondisi normal mungkin langsung kita buang. Tapi kalau sedang terisolasi karena banjir atau bencana, botol itu masih bisa digunakan untuk menyimpan air. Ember, baskom, jeriken, kaleng, kantong plastik, kardus, kain bekas, tali sampai botol-botol kosong sebaiknya jangan buru-buru dibuang.
Begitu juga dengan pakaian atau kain yang sudah nggak terpakai. Bisa digunakan sebagai lap, pengikat, tambahan insulasi untuk menghangatkan tubuh, atau berbagai kebutuhan darurat lainnya. Plastik atau terpal bisa digunakan untuk membantu melindungi barang dari hujan dan air. Wadah-wadah kosong bisa digunakan untuk memisahkan makanan, air ataupun barang yang harus tetap kering.
Nah ini kelihatannya sederhana banget ya, tapi kalau kita benar-benar terisolasi, kondisinya bakal berbeda. Kita nggak bisa lagi mikir, “Ah buang aja, nanti beli lagi.” Karena masalahnya kita nggak tau kapan bisa beli lagi.
Tapi bukan berarti semua sampah harus ditimbun juga wkwk. Sampah organik dan barang yang bisa mengundang serangga, tikus atau menimbulkan penyakit tetap harus dikelola dan dipisahkan. Intinya adalah bedakan mana sampah yang memang harus dibuang dan mana barang bekas yang sebenarnya masih mempunyai fungsi.
Kalau kondisi darurat diperkirakan bakal berlangsung lama, sebelum membuang sesuatu coba pikir sebentar:
“Barang ini masih bisa dipakai untuk apa?”
Botol bisa jadi wadah. Kain bisa jadi pengikat atau insulasi. Ember bisa menampung air. Plastik bisa membantu menjaga barang tetap kering. Kayu bisa digunakan untuk memperbaiki sesuatu.
Karena kalau akses ke dunia luar sudah terputus, barang-barang yang ada di sekitar kita itulah yang sementara menjadi “toko” kita. Jadi sebisa mungkin manfaatkan dulu apa yang tersedia sebelum membuangnya.
6. Jangan Bergantung pada Satu Sumber atau Satu Cara
Kalau ada satu hal yang menurutku cukup relevan dari The Last House untuk kehidupan nyata, yaitu jangan sampai kita cuma punya satu cara untuk memenuhi kebutuhan penting. Karena dalam kondisi bencana, justru hal-hal yang biasanya kita andalkan bisa tiba-tiba nggak berfungsi.
Contoh paling gampang listrik. Dalam kehidupan sehari-hari kita terbiasa semuanya bergantung pada listrik. Lampu, charger HP, pompa air, kulkas sampai internet. Begitu listrik mati sehari mungkin masih santai. Tapi gimana kalau matinya tiga hari? Seminggu? Apalagi kalau pada saat bersamaan akses jalan juga terputus.
Makanya sebisa mungkin kebutuhan yang benar-benar penting punya alternatif. Misalnya untuk penerangan, jangan cuma mengandalkan senter dari HP. Setidaknya punya senter biasa atau lampu darurat. Kalau baterai HP habis, kita masih punya sumber penerangan lain.
Begitu juga dengan komunikasi. HP memang menjadi alat utama kita untuk meminta bantuan dan mencari informasi. Tapi minimal kita punya power bank yang terisi penuh. Kalau tinggal di daerah yang cukup rawan bencana, radio kecil bertenaga baterai juga bisa berguna untuk mendapatkan informasi ketika listrik dan internet mati.
Air juga sama. Jangan sampai seluruh kebutuhan air rumah cuma bergantung pada pompa listrik. Kalau listrik mati dan pompa nggak bisa digunakan, setidaknya kita masih punya beberapa wadah air yang sudah terisi atau sumber air alternatif yang aman.
Makanan pun begitu. Jangan seluruh stok makanan darurat berupa makanan beku di freezer. Kalau listrik mati berhari-hari, justru kita bakal punya masalah baru. Sebaiknya ada juga makanan yang bisa disimpan pada suhu ruang dan nggak membutuhkan banyak air atau bahan bakar untuk memasaknya.
Nah prinsip seperti ini sering disebut redundancy, tapi gampangnya sih: selalu punya cadangan untuk sesuatu yang benar-benar penting.
Bukan berarti semua barang harus punya tiga cadangan ya wkwk. Nggak perlu punya tiga kompor, empat HP atau lima senter. Yang perlu dipikirkan adalah kebutuhan yang kalau sampai gagal bakal benar-benar menyulitkan kita.
Coba pikirkan beberapa hal dasar:
Kalau listrik mati, aku pakai apa?
Kalau HP habis baterai, aku bisa komunikasi gimana?
Kalau pompa air mati, aku masih punya air nggak?
Kalau kompor nggak bisa digunakan, aku masih punya makanan yang bisa dimakan?
Kalau akses jalan utama terputus, ada jalur atau pilihan lain nggak?
Menurutku ini salah satu pola pikir survival yang paling gampang diterapkan bahkan sebelum terjadi bencana. Kita nggak harus menjadi survivalist atau punya gudang penuh perlengkapan. Cukup lihat kebutuhan yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari, lalu pikirkan:
“Kalau sistem utama ini tiba-tiba nggak bisa digunakan, Plan B-ku apa?”
Karena dalam keadaan darurat, masalahnya sering bukan cuma satu hal yang gagal. Bisa aja listrik mati, sinyal hilang dan jalan keluar terputus dalam waktu yang hampir bersamaan. Kalau sejak awal kita sudah punya beberapa alternatif, setidaknya kita nggak langsung kehilangan semua pilihan ketika satu sistem berhenti bekerja.
7. Bagi Tugas sesuai Kemampuan Masing-Masing
7. Bagi tugas sesuai kemampuan masing-masing
Kalau kita menghadapi kondisi darurat bersama keluarga atau sekelompok orang, menurutku salah satu hal yang penting adalah jangan sampai semua orang mengerjakan semuanya sendiri-sendiri. Apalagi kalau kondisinya berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Selain capek, cara seperti ini juga nggak efisien karena setiap orang sebenarnya punya kemampuan yang berbeda-beda.
Hal ini juga kelihatan di The Last House. Semakin lama keluarga Delgado terjebak, mereka akhirnya nggak cuma duduk bareng menunggu pintunya bisa dibuka. Masing-masing mulai punya peran dalam mempertahankan kehidupan mereka. Ada yang lebih banyak mengurus tanaman dan makanan, ada yang membuat atau memperbaiki berbagai peralatan, sementara pekerjaan sehari-hari lainnya juga harus tetap dilakukan. Karena kalau dipikir-pikir, dalam kondisi seperti itu pekerjaan malah jadi banyak banget. Harus mencari dan mengatur air, menyiapkan makanan, merawat tanaman, memperbaiki barang yang rusak, menjaga kebersihan rumah sampai terus mencari cara untuk keluar.
Nah kalau hal seperti ini terjadi di kehidupan nyata, pembagian tugas sebaiknya juga melihat kemampuan masing-masing orang. Misalnya ada orang yang memang ngerti mesin atau listrik, ya biarkan dia yang lebih banyak menangani peralatan. Ada yang bisa masak, bisa mengurus persediaan makanan. Ada yang fisiknya lebih kuat mungkin bisa mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih besar. Sementara anak-anak atau orang tua tetap bisa diberi pekerjaan yang ringan dan aman sesuai kemampuan mereka.
Tapi menurutku pembagian tugas juga jangan terlalu kaku. Jangan sampai karena seseorang ditugaskan mengurus air, cuma dia satu-satunya yang tau dimana air disimpan atau gimana sistemnya bekerja. Kalau dia sakit atau cedera, yang lain malah bingung. Jadi untuk hal-hal yang penting, minimal ada satu orang lain yang tau cara mengerjakannya.
Hal sederhana seperti ini mungkin kelihatannya nggak terlalu penting kalau kondisi darurat cuma berlangsung beberapa jam. Tapi kalau sudah berhari-hari, pembagian tugas bisa membuat tenaga kita jauh lebih hemat dan pekerjaan yang penting nggak terlewat. Daripada semuanya sibuk mengerjakan hal yang sama sementara pekerjaan lain malah nggak ada yang mengurus.
Dan yang nggak kalah penting, jangan sampai ada satu orang yang merasa harus menangani semuanya sendiri. Dalam kondisi survival jangka panjang, tenaga dan konsentrasi kita juga terbatas. Kalau ada beberapa orang, ya justru itulah salah satu sumber daya yang kita punya. Cari tau siapa bisa melakukan apa, bagi pekerjaannya, tapi tetap ajarkan kemampuan-kemampuan penting ke anggota kelompok yang lain sebagai cadangan.
8. Jaga Kondisi Fisik dan Mental
Kalau kondisi darurat cuma berlangsung beberapa jam atau satu dua hari, mungkin kita masih bisa bertahan dengan tidur seadanya, makan nggak teratur dan terus-terusan mikirin gimana caranya keluar. Tapi kalau kondisinya berlangsung lama, cara seperti ini malah bisa bikin kita cepat kehabisan tenaga. Di The Last House mereka terjebak bukan cuma berhari-hari, tapi sampai bertahun-tahun. Jadi masalahnya bukan lagi sekadar punya cukup makanan dan air, tapi gimana caranya supaya tubuh dan pikiran mereka juga tetap sanggup bertahan.
Nah ini menurutku cukup relevan dengan kondisi bencana di dunia nyata. Kadang karena panik kita merasa harus terus melakukan sesuatu. Padahal kalau saat itu nggak ada ancaman yang mengharuskan kita segera bergerak, tidur dan istirahat justru penting. Tubuh yang capek bikin kita lebih susah berpikir jernih, gampang melakukan kesalahan dan akhirnya mengambil keputusan yang mungkin malah membahayakan diri sendiri.
Makanya sebisa mungkin tetap pertahankan rutinitas dasar. Usahakan makan pada waktunya, tidur cukup kalau situasinya memungkinkan, menjaga kebersihan tubuh dan tempat tinggal, tetap bergerak atau melakukan aktivitas fisik ringan, dan membagi waktu antara bekerja dengan istirahat. Kalau terjebak bersama orang lain, kita juga bisa bergantian melakukan pekerjaan supaya nggak ada satu orang yang terus-terusan bekerja sampai kelelahan.
Kondisi mental juga nggak kalah penting. Bayangin aja terjebak di suatu tempat selama berhari-hari tanpa tau kapan bantuan datang, sementara informasi dari luar juga nggak ada. Pasti lama-lama stres, bosan, takut, bahkan mungkin mulai gampang marah sama orang-orang yang ada di sekitar kita. Apalagi kalau ruangnya sempit dan ketemu orang yang sama setiap hari wkwk.
Karena itu kalau situasinya sudah relatif aman, tetap lakukan aktivitas yang membuat hidup terasa sedikit normal. Ngobrol, bermain dengan anak-anak, membaca buku kalau ada, olahraga ringan, membereskan tempat tinggal atau sekadar mempunyai jadwal kegiatan setiap hari. Kedengarannya sepele, tapi rutinitas seperti ini bisa membantu kita supaya nggak cuma duduk seharian sambil menunggu sesuatu yang belum tentu tau kapan datangnya.
Yang juga penting menurutku adalah jangan menghabiskan seluruh energi hanya untuk mencoba keluar kalau memang saat itu belum ada cara yang aman. Tetap cari solusi, tapi kita juga harus tau kapan berhenti, istirahat dan mencoba lagi nanti. Survival bukan lomba siapa yang paling kuat bekerja tanpa tidur. Justru kalau kondisinya berlangsung lama, kita harus menjaga tenaga supaya masih bisa berpikir dan bertindak ketika benar-benar dibutuhkan.
Jadi selain makanan, air dan tempat berlindung, tubuh dan pikiran kita sendiri sebenarnya juga termasuk “sumber daya” yang harus dijaga. Karena percuma punya persediaan cukup kalau kita sudah terlalu kelelahan untuk menggunakannya dengan benar.
9. Terus Evaluasi Kondisi dan Ubah Strategi Kalau Diperlukan
Salah satu hal yang menurutku cukup menarik dari The Last House adalah bagaimana cara keluarga Delgado menghadapi keadaan yang terus berubah. Pada awal kejadian tentunya mereka masih berharap kondisi tersebut cuma sementara. Mereka mencoba mencari jalan keluar dan menunggu bantuan datang karena secara logika, kalau memang terjadi sesuatu dalam skala besar, cepat atau lambat pasti ada yang datang menolong.
Tapi setelah berhari-hari nggak ada bantuan dan mereka tetap nggak bisa keluar, mau nggak mau cara berpikirnya juga harus berubah. Kalau mereka terus menjalani hari seolah-olah besok bakal diselamatkan, mungkin stok makanan dan berbagai kebutuhan lainnya sudah habis sejak awal. Mereka akhirnya mulai mengatur persediaan, mencari alternatif air, menanam makanan dan membuat berbagai sistem supaya bisa bertahan lebih lama.
Nah menurutku ini penting banget kalau diterapkan dalam kondisi darurat di kehidupan nyata. Strategi yang cocok pada hari pertama belum tentu masih cocok pada hari kelima. Misalnya ketika terjadi banjir kita awalnya memilih bertahan di rumah karena air masih rendah dan rumah masih aman. Tapi kalau air ternyata terus naik, struktur rumah mulai nggak aman atau persediaan semakin menipis, keputusan untuk tetap bertahan tentunya harus dievaluasi lagi.
Begitu juga sebaliknya. Jangan karena sejak awal sudah berencana mengungsi kemudian kita memaksakan diri keluar ketika kondisi di luar ternyata jauh lebih berbahaya. Bisa aja jalan sudah tertutup longsor, arus banjir terlalu deras atau ada bahaya lain yang sebelumnya nggak kita perhitungkan. Ya berarti rencananya harus berubah.
Makanya menurutku dalam kondisi survival kita sesekali perlu berhenti dan melihat kondisi secara keseluruhan. Apa yang berubah sejak kemarin? Persediaan masih cukup berapa lama? Ada ancaman baru nggak? Kondisi anggota keluarga gimana? Jalur keluar masih aman atau nggak? Ada informasi baru yang membuat rencana sebelumnya perlu diubah?
Karena kadang kita terlalu fokus menjalankan rencana yang sudah dibuat sampai lupa mengecek apakah rencana tersebut masih masuk akal.
Dan adaptasi juga nggak selalu berarti melakukan perubahan besar. Bisa aja awalnya kita makan tiga kali sehari dengan menu seperti biasa, kemudian stok mulai terbatas sehingga cara memasak dan pembagian makanan perlu diatur ulang. Awalnya menggunakan listrik, listrik mati lalu pindah ke sumber penerangan lain. Awalnya mengambil air dari keran, air berhenti mengalir lalu mulai menggunakan persediaan yang sudah ditampung. Jadi setiap kali satu kondisi berubah, kita menyesuaikan lagi cara bertahan.
Intinya jangan terlalu terpaku pada rencana awal. Dalam kondisi darurat, kita memang perlu punya rencana, tapi kita juga harus siap mengubahnya kalau kenyataan di lapangan ternyata berbeda. Tujuannya bukan menjalankan rencana sampai selesai, tapi tetap selamat.
10. Jangan Hanya Pasif Menunggu Bantuan Datang
Di awal The Last House, keluarga Delgado sebenarnya melakukan sesuatu yang mungkin juga bakal dilakukan kebanyakan orang kalau mengalami kejadian seperti itu: menunggu bantuan. Mereka menduga ada sesuatu yang sedang terjadi di luar dan berharap pemerintah atau petugas suatu saat bakal datang menjelaskan keadaan sekaligus menyelamatkan mereka. Dan menurutku itu juga nggak salah. Dalam banyak kondisi bencana, kalau posisi kita masih aman, bertahan di tempat sambil menunggu informasi resmi memang bisa jauh lebih aman daripada nekat keluar tanpa tau kondisi di luar.
Masalahnya, jangan sampai kita cuma menunggu tanpa melakukan apa-apa.
Di film, hari demi hari berlalu dan bantuan yang mereka harapkan ternyata nggak pernah datang. Dari situ mereka perlahan sadar kalau mereka nggak bisa menggantungkan keselamatan sepenuhnya kepada orang dari luar. Mereka tetap berharap suatu saat bisa diselamatkan, tapi pada saat yang sama mulai mempersiapkan diri seolah-olah bantuan tersebut mungkin masih lama datang. Persediaan mulai diatur, air dicari alternatifnya, makanan mulai ditanam dan rumah mereka perlahan diubah supaya bisa menunjang kehidupan dalam waktu yang lebih lama.
Nah menurutku pola pikir seperti ini cukup penting dalam kondisi bencana. Kita tentu boleh berharap tim SAR, pemerintah, keluarga atau siapapun datang membantu, tapi selama masih mampu kita juga harus melakukan sesuatu untuk memperbesar peluang bertahan sampai bantuan tersebut benar-benar datang.
Misalnya kalau terisolasi karena banjir, jangan cuma duduk menunggu perahu evakuasi. Sambil menunggu kita bisa memindahkan makanan, air minum, obat-obatan, dokumen penting dan barang elektronik ke tempat yang lebih tinggi. Siapkan tas darurat kalau sewaktu-waktu harus dievakuasi, cari informasi mengenai kondisi air, hemat baterai HP dan beri tau keluarga atau petugas mengenai posisi kita selagi komunikasi masih memungkinkan.
Begitu juga kalau akses jalan terputus karena longsor atau gempa. Selama tempat kita masih aman, nggak perlu langsung nekat berjalan keluar melewati daerah yang belum diketahui kondisinya. Tapi kita tetap bisa mencari informasi, menghitung persediaan, mengecek kondisi sekitar, menyiapkan alternatif dan memikirkan apa yang harus dilakukan kalau keadaan justru memburuk.
Jadi “jangan hanya menunggu bantuan” bukan berarti kita harus nekat menyelamatkan diri sendiri dalam segala kondisi. Kadang keputusan terbaik memang tetap berada di tempat dan menunggu tim penyelamat. Yang penting kita nggak pasif sepenuhnya.
Menurutku ini juga menjadi salah satu pelajaran terbesar dari The Last House. Dalam kondisi survival, kita memang nggak bisa mengendalikan kapan bantuan akan datang, kapan listrik kembali menyala, kapan jalan bisa dilewati atau kapan keadaan kembali normal. Tapi kita masih bisa mengendalikan apa yang kita lakukan dengan makanan yang tersisa, bagaimana kita menggunakan air, bagaimana menjaga tubuh tetap sehat, bagaimana memanfaatkan barang yang ada dan bagaimana mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan berikutnya.
Karena pada akhirnya survival bukan cuma soal menunggu keadaan menjadi lebih baik, tapi bagaimana kita tetap bisa bertahan selama keadaan tersebut belum menjadi lebih baik.








