Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

2.03.2026

[Part 8] Cam on Vietnam : Hoi An, Pagi Terakhir dan Cerita Tentang Manusia

 Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


“Kring kring kring…”

Pukul enam pagi, alarm di HP-ku berbunyi nyaring. Terlalu nyaring, bahkan. Aku tersentak bangun, mata refleks terbuka, lalu langsung menatap langit-langit kamar dengan satu pikiran pertama yang muncul di kepala:

'Aduhh… masih ngantuk banget.'

Badanku masih berat, sisa lelah kemarin belum sepenuhnya pergi. Tapi di detik berikutnya, aku ingat janjiku sendiri semalam. Janji yang kubuat setelah menghabiskan malam dengan berjalan kaki menyusuri kota tua Hoi An yang cantik itu. Kemarin aku sudah mengambil waktu kerja untuk eksplor seharian. Artinya, pagi ini tidak ada tawar-menawar lagi. Hari ini aku harus bangun lebih pagi dan kerja. Aku melirik jam di layar HP. Aku punya waktu sampai sekitar jam dua belas siang sebelum harus check out dan kembali ke Kota Danang. Beberapa jam saja. Tidak banyak. Tapi aku bertekad harus semaksimal mungkin nyicil dokumen.

Aku duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang, lalu memaksakan diri berdiri. Laptop menunggu. File-file kerjaan juga. Aku bertekad memanfaatkan waktu pagi ini sebaik-baiknya. Buat konteks, aku ini freelancer. Pekerjaanku menyusun dokumen dengan tebal ratusan halaman—dokumen yang isinya jauh dari kata santai. Teknis, detail, dan penuh tenggat waktu. 

Mungkin ada yang akan berpikir, “Enak ya, bisa kerja fleksibel sambil traveling.”

Well… kenyataannya tidak seindah itu, kawan. Aku tidak bisa benar-benar 100% melepas pikiranku untuk traveling. Selalu ada sebagian otak yang tetap sibuk memikirkan deadline, revisi, dan klien yang menunggu. Apalagi aku traveling di bulan Februari—bukan musim libur panjang seperti Idul Fitri, bukan masa di mana dunia ikut berhenti sejenak.

Jadi ya… beginilah akhirnya.

Aku tetap traveling. Tapi tetap harus dengan kerja. Aku tetap jalan-jalan. Tapi sambil mikir tanggung jawab. Aku harus ekstra membagi waktu—antara menikmati tempat baru dan menepati janji pada diri sendiri serta orang lain.

Aku menggosok gigi, cuci muka, lalu minum air putih banyak-banyak. Biasanya itu akan membuat mataku langsung melek. Setelah itu aku membuat secangkir teh panas—sederhana, tapi memberi sinyal ke otakku: oke, kita mulai hari ini.

Laptop kubuka. File-file kerjaan bermunculan di layar. Aku memulai dengan bagian yang paling “aman”: membuat peta-peta untuk pelengkap data. Fokus ke teknis dulu. Koordinat, layout, penyesuaian tampilan. Pekerjaan yang tidak terlalu menuntut emosi, tapi butuh ketelitian. Jari-jariku mulai terbiasa lagi dengan ritme kerja. Teh panas perlahan mendingin di samping laptop.

Sekitar satu jam kemudian, setelah peta-peta selesai, aku mulai masuk ke badan dokumen. Mengedit isi. Merapikan kalimat. Menyesuaikan data. Ini bagian yang lebih berat, tapi juga lebih “masuk”. Aku benar-benar fokus. Serius kerja.
Suasana di luar kamar masih tenang. Jalanan belum ramai. Hanya sesekali terdengar motor lewat, suara pintu dibuka, atau langkah kaki pelan. Kota masih bangun perlahan. Dan jujur saja, suasana seperti ini justru ideal buat kerja. Tidak berisik, tidak terganggu, tidak bikin pikiran lompat ke mana-mana.

Tanpa sadar, waktu berjalan cukup cepat.
Sekitar setengah delapan pagi, perutku mulai protes. Lapar. Aku berhenti sebentar, menutup laptop, lalu teringat sesuatu. Semalam, ibu pemilik penginapan sempat bilang kalau mereka juga menjual makanan.

Aku.segera  turun ke bawah, masih dengan rambut seadanya dan kaos santai. Aku pesan pie dan es kopi Vietnam. Tidak pakai lama. Dan… begitu minuman itu sampai, aku langsung paham kenapa banyak orang tergila-gila sama kopi Vietnam.

Es kopi Vietnam-nya juara.

Manisnya pas, kopinya kuat, dinginnya nyegerin. Serius, ini tipe minuman yang bisa bikin orang lupa kalau dia sebenarnya lagi kerja. Harganya? Sekitar 50 ribu rupiah—atau kalau dikonversi, mungkin 35 ribuan. Tidak murah-murah amat, tapi sepadan. Pie-nya juga enak. Hangat, mengenyangkan, dan jadi teman sarapan yang tepat.

Setelah sarapan, aku kembali ke kamar. Laptop dibuka lagi. Kopi jadi teman setia. Aku lanjut kerja dengan fokus yang sama. Kali ini rasanya lebih ringan. Mungkin karena perut sudah terisi. Mungkin juga karena kopi itu benar-benar membantu.
Aku terus bekerja sampai sekitar jam sepuluh pagi. Baru setelah itu aku berhenti sebentar. Menarik napas. Meregangkan badan. Memberi diri sendiri jeda kecil.

Sambil rebahan di kasur, aku membuka Google Maps. Aku lagi-lagi menyusuri Kota Hoi An lewat peta. Entahlah… rasanya aku benar-benar jatuh cinta dengan kota kecil di Vietnam tengah ini. Ada rasa nyaman yang susah dijelaskan. Dan pagi itu, perasaan lain ikut menyelinap pelan-pelan: sedih. Jam dua belas nanti, aku akan meninggalkan kota ini.

“Mana lagi ya yang bisa kukunjungi… sebagai perpisahan?” gumamku sambil menggulir Google Maps tanpa tujuan yang jelas.

Rasanya benar-benar belum rela. Belum siap bilang cukup pada kota yang ritmenya pelan, hangat, dan terasa ramah sejak hari pertama. Lalu, di antara deretan pin dan rekomendasi, mataku berhenti di satu tempat.

Sebuah galeri seni. Milik seorang fotografer Prancis bernama Rehahn.

Galeri ini dikenal dengan nama Precious Heritage Art Gallery Museum. Begitu aku membaca deskripsinya, aku langsung tertarik. Isinya bukan sekadar foto-foto cantik untuk dipajang, tapi dokumentasi perjalanan panjang Rehahn menjelajahi Vietnam—memotret wajah-wajah dari berbagai suku dan etnis minoritas, banyak di antaranya hidup jauh dari hiruk-pikuk kota. Di dalam galeri, pengunjung diajak masuk ke dunia yang tenang dan penuh makna. Foto-foto berukuran besar dipajang rapi di dinding—wajah-wajah penuh keriput, mata yang dalam, senyum yang tidak dibuat-buat. Banyak potret lansia dari komunitas etnis terpencil, mengenakan pakaian tradisional yang detailnya luar biasa rumit. 

'Waahh.. cocok ni,' kataku dalam hati. Selain alam, aku memang menyukai tujuan yang memperkenalkan budaya negara yang kukunjungi.

"Tapi lebih baik kita kesana dulu sebelum check out, supaya ga ribet perihal tas," kata travelmate.

"Iya juga sih. Kecil kok tempatnya, ga terlalu jauh juga dari ini. Kalau kita berangkat sekarang keknya masih sempat," kataku.

Kami langsung mandi dan bersiap-siap. Kebetulan semua barang sudah kami packing sejak semalam jadi pagi itu bisa langsung sat set.

Kami akhirnya memacu motor sejauh kurang lebih 4 km menuju galeri seni itu. Pagi yang cerah, angin tipis, jalanan Hoi An yang… entahlah, selalu berhasil bikin hatiku lembut. Kota ini memang kecil, tapi cara dia menyapa itu halus dan konsisten. Rumah-rumah rendah, tembok kuning, pohon-pohon besar yang sesekali memayungi jalan—semuanya terasa akrab meski aku baru beberapa hari di sini. Aku tersenyum sendiri di atas motor, menikmati setiap sudut pandang yang lewat. Ada sedikit rasa sedih yang mulai mengendap di belakang kepala: sebentar lagi aku akan pergi dari kota ini.

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya kami tiba di depan bangunan galeri.
Dari luar, galeri seni Precious Heritage ini menempati sebuah rumah tua bergaya kolonial Perancis—dua lantai, memanjang, dengan dinding pucat yang mulai termakan usia. Di depan, ada papan nama bertuliskan kurang lebih “Precious Heritage by Réhahn”, sederhana tapi elegan. Pintu kayunya terbuka lebar, seolah mengundang siapa pun untuk masuk. Tidak ada gerbang besar, tidak ada kesan eksklusif; justru kebalikannya, tempat ini terasa sangat ramah dan “boleh masuk kapan saja”.

Begitu melangkah melewati ambang pintu, suasananya langsung berubah.
Dari pintu masuk, aku melihat ruang panjang dengan dinding kiri-kanan yang penuh oleh foto-foto berukuran besar. Inilah Fine Art Room, ruang pertama dari galeri/museum ini. 

Foto-fotonya bukan sekadar “indah”, tapi kuat. Banyak potret close-up wajah orang-orang Vietnam—terutama dari etnis minoritas—dengan pakaian tradisional mereka yang warna-warni. Ada nenek dengan kulit keriput dan mata tajam, ada anak kecil dengan senyum malu-malu, ada pria dewasa dengan tatapan dalam seperti menyimpan cerita yang panjang.

Cahaya di ruangan itu lembut, tidak terlalu terang, sehingga warna-warna di foto dan kain-kain tradisional terlihat kaya tapi tetap menenangkan. Di beberapa sudut ada bangku kecil, seolah galeri ini tahu bahwa pengunjung butuh waktu untuk duduk dan benar-benar memandang, bukan cuma lewat dan foto-foto.

Di dekat beberapa foto, ada teks penjelasan—dalam Bahasa Inggris dan kadang Perancis—yang menceritakan siapa orang di dalam foto itu, dari suku apa, tinggal di daerah mana, dan bagaimana pertemuan itu terjadi. Di sinilah pelan-pelan aku mulai paham apa yang dilakukan oleh Réhahn selama bertahun-tahun.

Dia bukan sekadar fotografer yang datang, memotret, lalu pergi.
Selama lebih dari satu dekade, dia melakukan proyek bernama Precious Heritage Project: berkeliling ke seluruh penjuru Vietnam—utara, tengah, selatan—untuk mencari, menemui, dan mendokumentasikan semua 54 kelompok etnis resmi di Vietnam.Yang dia lakukan bukan cuma memotret wajah mereka, tapi juga:
Mengambil potret formal orang-orang dari tiap etnis dengan pakaian tradisional mereka yang asli. Mengumpulkan pakaian adat, artefak, dan benda-benda tradisional yang kadang sudah jarang digunakan di kehidupan sehari-hari.
Merekam cerita dan sejarah kecil dari tiap pertemuan—bagaimana dia sampai di desa itu, siapa yang ia temui, dan bagaimana pakaian itu diberikan padanya.
Hasil dari semua perjalanan dan “berburu jejak budaya” itu kini ditumpahkan ke dalam galeri ini.

Begitu melangkah lebih dalam dari pintu masuk, aku melihat bahwa ruang ini tidak hanya memamerkan foto; di beberapa sisi, tergantung busana tradisional lengkap, dengan detail tenunan, bordir, dan warna yang luar biasa rumit. Di lantai lain (atau ruang-ruang selanjutnya), koleksi ini berkembang menjadi semacam museum etnografi mini: lebih dari 60 kostum tradisional dari berbagai etnis, lengkap dengan penjelasan darimana asalnya, bagaimana cara pembuatannya, dan apa makna motifnya.

Ada satu bagian yang menampilkan deretan pakaian adat yang kini nyaris tidak dipakai lagi di kehidupan sehari-hari. Beberapa kostum bahkan katanya sudah sangat langka, diserahkan langsung oleh tetua adat sebagai bentuk kepercayaan bahwa pakaian itu akan “disimpan baik-baik di Hoi An,” bukan sekadar jadi koleksi pribadi.

Jadi, kalau dirangkum, apa yang dilakukan Réhahn?

Kurang lebih:

Ia menghabiskan bertahun-tahun menjelajah desa-desa etnis di seluruh Vietnam, bertemu langsung dengan komunitas-komunitas yang sering kali terpinggirkan atau jarang tersentuh wisata.

Ia mendokumentasikan mereka lewat fotografi—bukan gaya turis, tapi gaya cerita: potret yang menunjukkan martabat, karakter, dan keindahan manusia yang apa adanya.

Ia mengumpulkan pakaian adat, artefak, dan cerita, yang kemudian ia pajang kembali di galeri ini supaya orang-orang kota, turis, dan siapa pun yang lewat bisa melihat kekayaan budaya Vietnam yang sesungguhnya.

Ia membiayai sendiri museum ini dan membukanya gratis untuk umum, sebagai bentuk “balas budi” kepada komunitas-komunitas yang telah mengizinkannya memotret dan menyimpan cerita mereka.

Dan apa hasilnya?

Buatku sebagai pengunjung, hasilnya adalah:
Sebuah ruang sunyi tapi sangat kuat di tengah kota wisata yang penuh lampion dan keramaian. Ratusan potret yang membuatku merasa seperti sedang menatap wajah Vietnam yang jauh lebih luas daripada Hoi An, Danang, atau Hanoi. Puluhan kostum tradisional yang membuatku sadar bahwa satu negara bisa berisi begitu banyak identitas, motif, dan cara hidup yang berbeda—dan semuanya berharga.

Dari pintu masuk saja, aku sudah merasa seperti diajak masuk ke perjalanan panjang yang bukan milikku, tapi entah kenapa ikut menyentuhku. Rasanya seperti Rehahn berkata, lewat dinding-dinding ini:

“Ini Vietnam yang mungkin tidak sempat kamu datangi satu per satu. Tapi setidaknya, kamu bisa bertemu mereka di sini.”

Kami kembali melewati jalanan pesisir yang sama seperti kemarin. Laut di sisi kiri masih berkilau, tapi kali ini suasananya terasa berbeda. Matahari siang Da Nang sudah benar-benar terik, tanpa kompromi. Panas yang bukan lagi hangat untuk dinikmati, tapi panas yang bikin ingin cepat sampai tujuan.

Sekitar pukul satu siang lebih sedikit, kami akhirnya masuk ke area kota. Gedung-gedung mulai rapat, lalu lintas makin padat, dan suasana santai ala Hoi An perlahan tergantikan oleh ritme kota besar. Karena waktu check-in masih nanti—baru bisa jam dua siang—kami memutuskan cari makan siang dulu. Perut sudah protes sejak di jalan.

Awalnya kami kepikiran satu warung langganan. Warung Bu Surti?

Hmm… ya sudah bisa ditebak. Datang kesiangan, makanan sudah habis, warung tutup. Hehe. Sepertinya itu hukum alam yang konsisten di mana-mana.
Akhirnya kami muter-muter lagi, menyusuri beberapa ruas jalan sampai menemukan satu warung yang kelihatannya cukup meyakinkan. Tidak terlalu sepi, tidak terlalu ramai. Ada motor parkir di depan, ada orang lokal makan siang. Oke, ini biasanya tanda aman.

Begitu duduk dan melihat menu…Oh no. Semua tulisannya bahasa Vietnam. Penuh tanda aksen. Tidak ada foto. Tidak ada bahasa Inggris. Aku refleks buka Google Maps buat lihat menu yang biasa direview orang, tapi hasil terjemahannya… kacau. Benar-benar tidak membantu.

Aku cuma tahu satu kata: banh mi. Tapi jujur saja, aku lagi nggak pengen roti. Lagi pengen makan mie. Atau nasi. Atau apa pun yang hangat dan mengenyangkan—asal bukan roti isi daging sapi. Masalahnya, pegawainya juga tidak bisa bahasa Inggris. Kami saling pandang sebentar. Lalu aku ambil keputusan paling sederhana. Aku menunjuk menu, tersenyum, dan bilang,

“Moooo.”

Iya. Moo. Bahasa internasional sapi. Wkwk.

Dan… dia paham. Wkwkwk..

Beberapa menit kemudian, makanan datang. Semangkuk mie. Dengan irisan daging sapi di atasnya. Wkwk. Ternyata berhasil juga. Aku ketawa kecil sambil mulai makan. Rasanya enak. Hangat. Gurih. Tidak istimewa, tapi tepat sasaran. Di titik itu, aku sadar: kadang traveling memang soal begini. Tidak selalu tahu apa yang kita pesan, tapi tetap makan dengan puas karena akhirnya… perut terisi.

1.31.2026

[Part 7] Cam on Vietnam : Hoi An, Kota yang Membuatku Jatuh Cinta Perlahan ..

 Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Pemandangan malam hari di Kota Tua Hoi An.. Perahu-perahu wisata berjajar dengan lampion-lampion cantik di sepanjang Sungai Thu Bồn...


Hoi An, 6 Februari 2023

Hoahmmm… aku bangun pagi dengan tubuh yang terasa ringan dan pikiran yang segar. Rasanya tidur semalam benar-benar maksimal. Entah kenapa, semua hal di penginapan ini seperti bekerja sama meningkatkan kualitas tidurku. Kasurnya lebar dan empuk, bantalnya pas—nggak terlalu tinggi, nggak bikin leher pegal—dan AC-nya menyembur dingin dengan cara yang ramah, bukan nyembur nusuk sampai tulang. Badan segar, mood bagus. 

Setelah berbaring cukup lama sambil scrolling Google Maps—menimbang tempat mana saja yang akan kami datangi hari ini sekaligus rutenya yang paling efektif—akhirnya kami benar-benar bergerak. Mandi, beres-beres, lalu langsung mengarahkan motor keluar penginapan.

Begitu keluar, aku baru sadar ternyata hotel kami ternyata berada di kawasan perumahan. Rumah-rumah berjajar rapi, suasananya tenang, dengan jalanan yang cukup lebar. Pagi itu Hoi An terasa hidup dengan cara yang menenangkan. Bukan hiruk-pikuk motor, tapi ramai yang wajar. Orang-orang sudah mulai beraktivitas—ada yang menyapu halaman, ada yang mengayuh sepeda pelan, ada juga ibu-ibu yang sudah siap dengan dagangan mereka.

“Kita ke arah kota tua ya, nanti cari sarapan di jalan aja,” kataku ke travelmate sambil mulai memutar gas.

“Iya,” jawabnya singkat.

Motor melaju pelan menyusuri jalanan pagi. Udara masih adem, matahari belum terlalu tinggi. Kami mulai melewati area pasar. Nah, di sinilah suasananya berubah. Lebih ramai, lebih berwarna. Banyak pedagang kaki lima berjejer, gerobak kecil, meja sederhana, banner menu dengan foto-foto makanan yang entah kenapa selalu kelihatan menggoda di pagi hari. Orang lokal lalu-lalang, ada yang belanja sayur, ada yang sarapan sambil berdiri, ada yang sekadar ngobrol.

Sambil nyetir, mataku nggak bisa berhenti mengamati menu-menu sarapan yang dijual. Aku jelas lagi cari sarapan  yang familiar di tengah gempuran menu-menu Bahasa Vietnam wkwk. Pokoknya yang aman kayak bubur, sup, atau nasi ayam. 

“Eh, eh… itu ada nasi ayam,” kataku tiba-tiba sambil menunjuk ke arah seorang pedagang di pasar.

Dari gambarnya sih kelihatan sederhana.  Nasi kuning dengan suwiran ayam. Yah, standar banget lah wkwk. Tapi yaudahlah.. yang penting perut terisi, dan.. harganya murah!

Begitu makanannya datang, kami langsung ketawa kecil. Dan… yup, benar-benar sesederhana itu. Sepiring nasi kuning, suwiran ayam secukupnya, lalu semangkuk kecil kuah bening dengan potongan hati ayam yang ukurannya juga nggak niat-niat amat. Wkwkwk. Persis seperti bayangan kami sejak awal. Untungnya kuahnya cukup gurih, jadi masih ada pembeda. Setidaknya bikin rasa nggak terlalu hambar.

Selesai makan, tanpa lama-lama kami langsung melanjutkan perjalanan ke arah kota tua. Motor kembali melaju, makin mendekati pusat Hoi An. Tapi begitu sampai di satu titik tertentu, ternyata kami harus berhenti dan parkir motor disitu. Tidak bisa lebih jauh lagi naik motor masuk ke kawasan kota tua.

“Kalian harus lanjut jalan kaki,” kata tukang parkir setempat sambil menunjuk area di depannya dan meminta bayaran parkir motor 20.000 VND. Untuk masuk ke kawasan kota tuanya sendiri ga ada biaya.

Akhirnya kami benar-benar melanjutkan dengan berjalan kaki. Dan sejak langkah pertama itu, suasananya langsung berubah klasik. Kota tua Hoi An terbentang di sekitar Sungai Thu Bồn, sungai yang sejak ratusan tahun lalu menjadi nadi kehidupan kota ini. Dulu—jauh sebelum Vietnam modern seperti sekarang—Hoi An adalah pelabuhan internasional yang sangat penting. Sekitar abad ke-15 hingga ke-19, kapal-kapal dari China, Jepang, India, bahkan Eropa, datang dan pergi lewat sungai ini. Mereka berdagang sutra, rempah, keramik, kayu, dan berbagai komoditas berharga lainnya.

Itulah sebabnya, berjalan di kota tua Hoi An rasanya seperti menyusuri kota dengan banyak lapisan budaya. Bangunan-bangunan tua berdiri rapat, didominasi rumah kayu bercat kuning kusam—warna khas Hoi An—dengan jendela kayu dan balkon kecil. Arsitekturnya campuran: ada gaya Tiongkok dengan ornamen merah dan emas, pengaruh Jepang yang sederhana dan fungsional, serta sentuhan Eropa dari masa kolonial.

Salah satu simbol paling terkenal tentu saja Jembatan Jepang—dibangun oleh komunitas pedagang Jepang pada awal abad ke-17. Jembatan ini bukan cuma penghubung fisik, tapi juga simbol betapa kosmopolitannya Hoi An di masa lalu. Kota kecil ini pernah menjadi titik temu berbagai bangsa, bahasa, dan kepercayaan.

Budayanya pun terasa kental sampai sekarang. Banyak rumah tua yang dulunya adalah rumah pedagang, sekarang dialihfungsikan menjadi toko kecil, galeri seni, atau kafe. Namun struktur aslinya tetap dipertahankan. Di beberapa sudut, terlihat klenteng-klenteng kecil tempat orang lokal masih bersembahyang, membakar dupa, dan memberi persembahan. Tradisi Tionghoa, Vietnam, dan sedikit Jepang bercampur tanpa terasa dipaksakan.

Sungai di samping kami mengalir tenang. Perahu-perahu kayu kecil terikat di pinggirannya, sebagian disiapkan untuk wisata. Lampion warna-warni tergantung di mana-mana, meski pagi hari ini mereka belum menyala. Tapi bahkan dalam kondisi “mati lampu”, kota tua Hoi An sudah terasa cantik dengan caranya sendiri—tenang, hangat, dan seperti tidak tergesa oleh waktu.

"Kayaknya area ini paling bagus dikunjungi kalau malam deh, lampionnya bakal nyala semua. Pasti cantik banget," kataku ke travelmate.

"Iya, nanti malam kudu balik lagi kesini kita," jawabnya.

Kami berjalan menyusuri tepi sungai. Airnya berwarna hijau, tenang, nyaris tanpa riak. Di pagi hari seperti ini, sungai Thu Bồn terlihat damai, seolah sedang bernapas pelan. Suasananya masih cukup sepi—belum ada keramaian turis, belum ada suara riuh kamera dan pemandu. Yang terdengar hanya langkah kaki, sesekali suara sepeda lewat, dan percakapan lirih orang-orang lokal.

Di sepanjang tepi sungai, kafe-kafe kecil mulai membuka pintu. Kursi rotan disusun rapi menghadap air, meja-meja dilap bersih, dan beberapa barista sibuk menyiapkan kopi pagi. Aroma kopi Vietnam mulai tercium samar, bercampur dengan udara lembap khas kota tua. Kalau saja tidak ada agenda, rasanya ingin duduk saja di salah satu kafe itu, memesan kopi, dan membiarkan waktu lewat tanpa rencana.

Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di jembatan yang paling ikonik di Hoi An: Japanese Covered Bridge, atau yang juga dikenal dengan nama Chùa Cầu.

Jembatan ini dibangun pada awal abad ke-17 oleh komunitas pedagang Jepang yang dulu menetap di Hoi An. Fungsinya bukan cuma sebagai jembatan penghubung, tapi juga sebagai simbol persahabatan antara komunitas Jepang dan Tiongkok yang tinggal di dua sisi kota. Di tengah jembatan terdapat bangunan kecil menyerupai kuil, sehingga jembatan ini juga berfungsi sebagai tempat ibadah—konon untuk menangkal roh jahat dan bencana alam.

Arsitekturnya sederhana tapi anggun. Atap kayu melengkung, dinding berwarna gelap, dan detail ukiran yang sudah termakan usia. Berdiri di jembatan ini, rasanya seperti berdiri di persimpangan zaman. Ratusan tahun lalu, para pedagang dari negeri jauh mungkin berdiri di titik yang sama, menatap sungai yang sama, dengan harapan dagangan mereka laku dan perjalanan laut berikutnya selamat.

Dari jembatan itu, kami melanjutkan langkah menuju Phung Hung House—rumah tua yang menjadi salah satu bangunan bersejarah paling terkenal di Hoi An.

Phung Hung House dibangun lebih dari 200 tahun lalu dan dulunya merupakan rumah sekaligus tempat usaha keluarga pedagang kaya. Bangunan ini adalah contoh nyata perpaduan arsitektur Vietnam, Tiongkok, dan Jepang. Rumahnya berbentuk memanjang, terbuat dari kayu berkualitas tinggi, dengan sistem ventilasi alami dan lantai yang dirancang agar tahan terhadap banjir—sesuatu yang sangat penting di kota yang sering dilanda luapan sungai.

Nama “Phung Hung” sendiri diambil dari tokoh pahlawan nasional Vietnam, dan rumah ini diwariskan turun-temurun selama beberapa generasi. Sampai sekarang, keturunan pemilik aslinya masih merawat bangunan ini, menjadikannya bukan sekadar museum, tapi rumah hidup yang menyimpan cerita keluarga dan kota.

Di dalamnya, suasana terasa teduh dan tenang. Pilar-pilar kayu tua berdiri kokoh, altar leluhur terawat rapi, dan cahaya matahari masuk lembut dari bagian atas bangunan. Rasanya seperti memasuki ruang waktu yang bergerak lebih lambat dari dunia luar.

Kami berhenti sejenak, mengamati detail-detail kecil—ukiran kayu, lantai yang sudah halus karena usia, dan aroma kayu tua yang khas dan mengambil beberapa foto.

Setelah puas berjalan kaki di kota tua dari ujung ke ujung, dan matahari mulai semakin garang, kami pun perlahan meninggalkan kawasan klasik Hoi An menuju tujuan berikutnya yang baru saja kuset di google maps, Thanh Ha Terracotta Park.

Di Google Maps kelihatannya dekat. Nggak sampai belasan menit dari kota tua. Tapi seperti banyak perjalanan lain di Vietnam, jarak dekat belum tentu berarti perjalanan lurus dan mudah.

Motor melaju keluar dari area turistik, masuk ke jalanan yang lebih sepi. Bangunan-bangunan tua perlahan berganti rumah penduduk biasa, sawah kecil, dan kebun-kebun hijau. Jalanannya sempit, aspalnya kadang mulus, kadang agak berlubang. Kami beberapa kali melambat, menyesuaikan dengan sepeda warga lokal dan motor lain yang lewat santai, tanpa klakson berisik.

Masalah mulai muncul ketika Google Maps mulai… membingungkan.

“Ini bener ke sini nggak sih?” tanyaku sambil menurunkan kecepatan. “Barusan disuruh belok, tapi kok malah makin masuk,” jawab travelmate sambil menatap layar HP.

Kami pun muter. Masuk gang kecil. Keluar lagi. Lalu masuk gang lain yang ukurannya bahkan terasa terlalu sempit untuk disebut jalur wisata. Beberapa kali kami berhenti di pinggir jalan, mengecek Maps, lalu melihat sekitar. Nggak ada papan petunjuk besar. Nggak ada tanda-tanda kawasan wisata. Yang ada cuma rumah-rumah warga, halaman kecil, anak-anak bermain, dan kehidupan lokal yang berjalan apa adanya.

Kami memutuskan tetap mengikuti Maps, meski arahnya terasa makin “belakang layar”. Jalanan makin kecil, suasana makin lokal. Tidak ada kafe lucu, tidak ada toko suvenir, tidak ada turis lain. Hanya kami, motor, dan jalan yang terasa entah membawa ke mana.

Beberapa menit kemudian, akhirnya muncul sebuah papan sederhana di pinggir jalan. Thanh Ha Terracotta Park. Tidak mencolok. Tidak heboh. Tapi cukup jelas.

“Oh… ini toh,” kataku sambil ketawa kecil.

Akhirnya ketemu juga. Wkwk.

Kami parkir motor dan turun. Suasananya langsung terasa berbeda dari kota tua. Area taman ini lebih terbuka, lebih modern, tapi tetap menyatu dengan alam sekitarnya. Di depannya terbentang Sungai Thu Bồn, mengalir pelan seperti yang kami lihat pagi tadi di pusat kota—hanya saja kali ini dari sisi yang lebih sepi dan tenang.

Thanh Ha Terracotta Park sendiri adalah taman seni dan budaya yang dibangun untuk menghormati Desa Gerabah Thanh Ha, desa tradisional yang sudah memproduksi keramik dan tembikar sejak ratusan tahun lalu. Konon, desa ini sudah ada sejak abad ke-16, dan dulu menjadi salah satu pemasok utama tembikar untuk kebutuhan rumah tangga, bangunan, hingga perdagangan di wilayah tengah Vietnam.

Begitu masuk ke area taman, kami langsung disuguhi berbagai miniatur bangunan terkenal dunia—semuanya dibuat dari terracotta. Ada miniatur Colosseum, Menara Pisa, Taj Mahal, hingga bangunan-bangunan khas Vietnam. Ukurannya memang tidak besar, tapi detailnya cukup rapi dan menarik. Rasanya seperti perpaduan antara taman edukasi dan galeri seni terbuka.



Di bagian lain, berdiri bangunan utama museum dengan bentuk yang unik—melengkung, dengan dinding bertekstur tanah liat. Di dalamnya dipamerkan berbagai karya keramik, sejarah panjang desa Thanh Ha, serta proses pembuatan gerabah dari masa ke masa. Ada juga area workshop, tempat pengunjung bisa melihat langsung atau mencoba membuat tembikar sendiri.


Saat kami datang, suasananya relatif sepi. Tidak banyak pengunjung. Kami bisa berjalan santai, berhenti lama di satu titik tanpa harus berbagi ruang dengan rombongan besar. Angin dari sungai sesekali berhembus, membawa udara lembap dan aroma tanah—aroma yang entah kenapa terasa pas sekali dengan tema tempat ini.

Setelah cukup lama berkeliling di bagian dalam taman, kami pun keluar menuju area luarnya. Di sana, beberapa pohon besar tumbuh rindang, menaungi bangku-bangku sederhana yang menghadap ke area terbuka. Kami langsung duduk, tanpa banyak bicara. Capeknya bukan capek yang dramatis atau bikin ngos-ngosan, tapi capek pelan—capek setelah sejak pagi sampai menjelang siang berjalan kaki menyusuri kota tua, mengamati detail demi detail, lalu berpindah tempat tanpa benar-benar berhenti.

Angin bertiup pelan. Daun-daun bergerak lirih di atas kepala. Dari kejauhan, suara sungai masih terdengar samar. Duduk di bawah pohon seperti ini rasanya pas. Seolah tubuh dan pikiran sama-sama minta jeda. Tidak ingin ke mana-mana dulu. Hanya duduk. Melambat. Dan membiarkan waktu berjalan dengan kecepatannya sendiri.

Untuk menutup kunjungan ke Thanh Ha Terracotta Park, momen ini sudah lebih dari cukup. Tidak perlu dipaksakan. Tidak perlu ditambah agenda lain di tempat yang sama.

Setelah merasa cukup—dan matahari kembali terasa lebih dekat ke kulit—kami pun bersiap melanjutkan perjalanan. Helm dipakai lagi, motor dinyalakan. Tujuan berikutnya awalnya sudah kami sepakati sejak tadi: An Bang Beach.

Perjalanan ke arah pantai cukup lurus. Jalanan mulai terasa lebih terbuka, matahari semakin terik, dan lalu lintas perlahan bertambah padat. Semakin mendekati area pantai, suasananya berubah drastis. Lebih ramai. Lebih bising. Motor dan mobil lalu-lalang, turis mulai banyak, papan-papan kafe berjejer rapat di kanan kiri jalan.

Panasnya terasa menyengat. Bukan panas yang masih bisa diajak kompromi sambil duduk santai, tapi panas yang bikin kepala terasa berat dan tubuh makin enggan bergerak. Pantainya sendiri tampak ramai. Kursi-kursi pantai penuh, orang lalu-lalang, musik terdengar dari beberapa kafe.

Entah kenapa, di titik itu, aku tidak lagi ingin turun.

“Kayaknya nggak usah deh, rame, panas,” kataku akhirnya. 

“Iya, panas banget, kita balik aja ke penginapan,” jawab travelmate, nyaris tanpa ragu.

Kami bahkan tidak benar-benar berhenti. Hanya melambat sebentar, lalu memutar arah. Tidak ada rasa rugi, tidak ada penyesalan. Kadang, keputusan paling masuk akal saat traveling justru adalah tahu kapan harus mengurungkan niat dan memilih istirahat.

Perut mulai terasa lapar. Akhirnya kami sepakat cari makan siang saja—yang sederhana, tanpa ekspektasi tinggi—lalu kembali ke hotel untuk benar-benar berhenti sejenak.

Di tengah perjalanan mencari makan, pikiranku mulai melayang ke hal lain. Ke laptop. Ke file-file kerjaan. Ke deadline yang sejak pagi sebenarnya sudah ikut menumpang di kepala. Beberapa pesan dari klien masuk. Bahasanya mulai terdengar lebih menekan. Bukan marah, tapi jelas ingin cepat. Mereka menunggu.

Perjalanan ini memang liburan, tapi hidupku tidak sepenuhnya berhenti. Ada bagian dari diriku yang masih harus bertanggung jawab. Ada pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Deadline yang tidak peduli aku sedang berada di kota tua yang cantik, atau duduk di bawah pohon rindang di tepi sungai.

Makan siang kami jalani dengan lebih banyak diam. Bukan karena makanannya tidak enak, tapi karena pikiranku sudah setengah berada di tempat lain. Setelah itu, tanpa rencana tambahan, kami langsung kembali ke hotel.

Begitu sampai kamar, AC dinyalakan. Badan langsung rebah di kasur. Panas, lelah pelan sejak pagi, dan pikiran yang penuh bercampur jadi satu. Aku menatap langit-langit lagi—kali ini dengan senyum yang berbeda dari pagi tadi.

Hoi An masih di luar sana, tetap cantik, tetap menunggu. Tapi untuk beberapa jam ke depan, aku tahu aku butuh melambat. Dan mungkin, sedikit berdamai dengan kenyataan bahwa traveling dan tanggung jawab sering berjalan beriringan—meski tidak selalu seimbang.

Setelah menimbang cukup lama, dan berdiskusi sebentar dengan travelmate, akhirnya… aku memutuskan untuk tetap mengunjungi kota tua malam itu.

“Kalau kamu malam ini tetap kerja, itu bisa selesai atau jatuhnya nyicil aja? Kalau misalnya jatuhnya nyicil, mungkin bisa dilanjutkan besok. Besok kamu bangun lebih pagi, langsung lanjut kerja sebelum kita check out dan balik ke Danang,” katanya.

Aku mengangguk pelan. Benar juga. Ini memang konsekuensi yang harus kuambil. Tidak ada pilihan tanpa harga.

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami mengeluarkan motor dan mulai melaju menuju kota tua. Hoi An ini gimana ya… kotanya kecil. Rasanya bagian paling ramai memang hanya di area kota tuanya. Tapi anehnya, setiap sudut kota ini seperti punya cara sendiri untuk menyentuh perasaan. Jalan-jalannya sederhana, rumah-rumahnya biasa saja, tapi entah kenapa semuanya terasa hangat. Seperti anyaman—pelan-pelan masuk ke hati tanpa memaksa.

Kami motoran santai, tidak terburu-buru. Begitu masuk kawasan kota tua, kami kembali parkir. Kali ini tarifnya naik jadi 30.000 VND. Wkwk. Sepertinya memang tidak ada harga resmi. Tergantung mood yang jaga parkiran malam itu.

Motor ditinggal. Kami kembali berjalan kaki.

Langkah pertama menuju arah sungai yang sama seperti siang tadi, dan… wow. Rasanya seperti masuk ke kota yang benar-benar berbeda.


Kalau siang Hoi An terasa tenang dan lembut, malam hari kota ini berubah jadi hidup—dan bukan hidup yang berisik, tapi hidup yang hangat dan penuh cahaya. Lampion-lampion menyala di mana-mana. Merah, kuning, oranye, berayun pelan tertiup angin malam. Cahaya mereka memantul di permukaan Sungai Thu Bồn, membuat air yang siang tadi tampak hijau tenang kini berkilau keemasan.

Perahu-perahu kayu yang siang tadi hanya tertambat di pinggir sungai, kini mulai bergerak pelan. Satu per satu, membawa wisatawan menyusuri sungai dengan kecepatan yang disengaja—lambat, seolah memberi waktu untuk benar-benar menikmati suasana. Beberapa perahu dihiasi lampion kecil, menambah kesan magis di atas air.


Manusia… banyak sekali. Jauh lebih ramai dibanding siang. Tapi anehnya, tidak terasa sesak. Ada pedagang makanan ringan di pinggir jalan, menjual jajanan lokal, es krim, dan camilan manis. Aroma makanan bercampur dengan udara malam yang lembap. Kafe-kafe penuh oleh anak muda—duduk berjejer, tertawa, mengobrol, menyeruput minuman, menikmati malam tanpa terlihat tergesa.

Aku berjalan pelan, membiarkan semua itu masuk. Cahaya, suara, keramaian, gerak perahu, pantulan lampion di air. Semua terasa… tepat. Seperti jawaban dari galau beberapa jam sebelumnya.

Di momen itu, aku tahu. Keputusanku untuk datang ke sini malam ini tidak salah.



Pekerjaan memang menunggu. Deadline memang nyata. Tapi malam ini, Hoi An memberi sesuatu yang tidak bisa diulang besok. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan sekarang, dengan kaki yang melangkah pelan di jalanan kota tua, dan hati yang akhirnya bilang, ya… ini layak.

Terimakasih Hoi An, kamu cantik banget!

1.28.2026

[Part 6 ] Cam on Vietnam : Menyusuri Son Tra dan Marble Mountain, Dua Wajah Alam Da Nang ..

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Patung Buddha Gautama di bagian atas Marble Mountain. Berada disini rasanya sangat damai...


Ho Chi Minh City, 5 Februari 2023

Sesuai itin yang sudah kususun jauh-jauh hari, hari ini agenda kami adalah terbang ke Kota Danang. Danang sendiri merupakan salah satu kota terbesar di Vietnam Tengah. Kota ini sering dibilang sebagai penghubung antara utara dan selatan Vietnam, sekaligus pintu masuk ke banyak destinasi menarik seperti Hoi An dan Hue. Jaraknya dari Ho Chi Minh City sekitar 600-an kilometer, jadi sebenarnya bisa ditempuh jalur darat juga dengan naik bus atau kereta. Tapi setelah melihat waktu tempuhnya... duh.. naik bus sleeper bisa 20 jam dari Ho Chi Minh City. Naik kereta ga kalah lamanya. Sedangkan naik pesawat 'cuma' 400ribuan aja sekali jalan naik maskapai andalan mereka, Vietjet. Ga sebanding lah rasa capeknya naik bus/kereta dibanding naik pesawat. Lebih simpel dan sat-set, sejam terbang udah landing. Toh harganya nggak beda jauh sama bus/kereta, tapi hemat waktu dan tenaga jauuuh banget. Jadi tanpa ragu, opsi pesawat adalah pilihan paling masuk akal.

Sejak pagi aku sudah sibuk menyiapkan sarapan sederhana, yang penting perut terisi gitu aja. Bubur instan jadi andalan. Tinggal masak air panas pakai rice cooker mini yang selalu ikut aku bawa ke mana-mana. Praktis, murah, dan cukup mengganjal perut sebelum perjalanan. Lumayan banget buat menghemat pengeluaran, apalagi kalau lagi traveling panjang gini.

Sambil nunggu air mendidih, aku beberes ransel, memastikan semua barang sudah aman dan nggak ada yang tertinggal. Setelah sarapan dan beres-beres, kami siap-siap check out dan bersiap menuju bandara. Perasaan selalu campur aduk tiap ganti kota — ada sedikit capek, tapi juga rasa excited karena sebentar lagi bakal melihat wajah Vietnam yang berbeda. 

Lanjut dari hotel, aku dan travelmate berjalan menuju stasiun bus yang lokasinya tidak jauh. Dari sana kami naik bus kota yang mengarah ke Bandara Internasional Tan Son Nhat. Tarifnya murah dan cukup praktis. Perjalanan memakan waktu sekitar 30–40 menit, lalu kami sudah tiba di bandara. Proses check-in dan boarding berjalan sangat lancar dan cepat, apalagi kami memang tidak membawa bagasi sama sekali, jadi semuanya terasa sat set tanpa drama.
Tak lama kemudian pesawat lepas landas. Penerbangannya cukup nyaman, minim turbulensi, dan kondisi pesawatnya menurutku lumayan bagus. Sekitar pukul 11 siang, kami sudah mendarat mulus di Bandara Internasional Da Nang.
Keluar dari bandara, kami langsung pesan Grab mobil untuk menuju tempat penyewaan motor. Motor ini sebenarnya sudah aku sewa sejak dari Indonesia, jadi tinggal ambil saja. Rencananya kami mau cari makan siang dulu, lalu menitipkan tas di luggage storage yang ada di pusat kota. Setelahnya baru eksplor Kota Danang. Belum ada klue khusus tempat mana yang akan kami datangi, ikut alur saja.

***

Danang, 5 Februari 2023

“Jadi semuanya 450.000 dong ya untuk sewa 3 hari,” kata pria muda penjaga tempat penyewaan motor itu. Aku mengangguk, lalu menyerahkan selembar 500.000 dong beserta paspor untuk dia foto sebagai data penyewaan.


Kalau di Ho Chi Minh City aku masih agak ragu untuk eksplor kota dengan motor—maklum, lalu lintasnya terkenal benar-benar ramai dan kacau—di Da Nang justru aku cukup PD. Dari yang kubaca dan kulihat langsung, lalu lintas di sini jauh lebih tertib dan tidak se-chaotic Ho Chi Minh. Selain itu, transportasi umumnya juga terasa kurang jelas dan kurang fleksibel kalau mau ke sana-sini, jadi motor memang pilihan paling masuk akal.

Aku sendiri menyewa motor bebek, Honda Blade. Simpel, irit, dan nyaman. Kalau dirupiahkan, biayanya sekitar 150 ribuan VND/hari atau setara 95 ribuan per hari, menurutku murah banget untuk kebebasan bergerak seharian penuh. 

“Kita ke penitipan tas dulu aja ya, biar nggak ribet,” kataku ke travelmate. Dia langsung mengangguk setuju. Setelah itu aku set Google Maps ke lokasi luggage storage dan kami mulai jalan. Awal-awal nyetir di Vietnam Tengah ini rasanya masih agak kagok, terutama karena harus nyetir di kanan. Pas belok dan putar balik, otak masih kebiasaan refleks kiri, jadi beberapa kali harus ekstra fokus. Tapi pelan-pelan mulai kebiasa juga.

Setelah tas dititipkan, kami muter-muter sebentar cari makan siang. Perut sudah mulai minta jatah lagi. Tiba-tiba di pinggir jalan kami nemu sebuah warung yang tampilannya mirip banget sama warteg di Indonesia. Sederhana, etalase lauknya terbuka, dan yang bikin yakin yaitu ramai orang lokal. Kalau sudah ramai orang lokal, biasanya aman.

Kami pun berhenti. Ternyata sistemnya simpel. Semua menu harganya 25.000 dong. Kalau dirupiahkan, itu sekitar 16 ribuan. Murah banget. Aku pesan sayur dan ikan gurame, sementara travelmate pesan menu lain. Dan… OMG. Ini enak banget. Rasanya beneran mirip masakan Indonesia. Sayurnya gurih, ikannya pas, nggak aneh-aneh bumbunya. Bahkan ada menu nasi, sayur tumis, sama iga yang harganya juga tetap 25.000 dong. Murah, kenyang, dan memuaskan. Karena saking miripnya sama masakan rumah di Indonesia, kami sampai becanda dan menamainya “Bu Surti”. Rasanya kayak makan di warteg langganan, tapi lokasinya di Da Nang. Hehe.


Perut kenyang, tenaga sudah terisi penuh. Setelah lihat-lihat Google Maps lagi, kami memutuskan untuk lanjut ke Son Tra Mountain, kawasan pegunungan yang berada di sisi timur Kota Da Nang. Dari pusat kota jaraknya sekitar 10–12 kilometer saja. Tidak terlalu jauh, dan katanya pemandangannya bagus.

Kami kembali naik motor, membelah kota Da Nang yang terasa jauh lebih santai dibanding Ho Chi Minh. Jalanan lebar, lalu lintas relatif tertib, dan pengendara motor nggak saling serobot. Semakin ke arah timur, jalan mulai menyempit dan berkelok. Bangunan kota perlahan berganti pepohonan, dan suasana jadi lebih hijau. Di titik ini, aku mulai merasa lebih PD nyetir di kanan. Badan sudah menyesuaikan, tangan dan mata juga mulai sinkron.

Perjalanan dari pusat kota ke kawasan Son Tra memakan waktu sekitar 30–40. Semakin mendekati tujuan, angin mulai terasa lebih sejuk, dan jalanan yang menanjak pelan-pelan bikin perjalanan terasa menyenangkan, bukan melelahkan. 

Son Tra sendiri sebenarnya adalah sebuah semenanjung sekaligus kawasan pegunungan yang berada di sisi timur Kota Da Nang. Area ini sering disebut juga sebagai Son Tra Peninsula atau Monkey Mountain. Kawasan ini masih cukup alami, dipenuhi hutan tropis, jalan berkelok naik-turun, dan jadi salah satu “paru-paru hijau” Da Nang. Selain dikenal dengan pemandangan laut dari ketinggian, Son Tra juga merupakan habitat langur douc berkaki merah, satwa langka yang jadi ikon kawasan ini. Nggak heran kalau Son Tra dilindungi dan dijaga cukup ketat.

Setelah sekitar setengah jam berkendara dari pusat kota, kami akhirnya sampai di area Son Tra. Di pintu masuk, kami berhenti sebentar untuk membayar tiket masuk. Biayanya tidak mahal, hanya 20.000 dong per orang (kalau dirupiahkan cuma belasan ribu). Setelah itu kami lanjut masuk dan mencari area parkir motor.
Motor kami parkir di area yang sudah disediakan, lalu kami turun dan mulai berjalan kaki. Di sana ada beberapa papan penunjuk arah yang cukup jelas, menunjukkan jalur menuju bagian atas bukit dan beberapa spot pandang. Kami mengikuti sign yang mengarah ke atas, mulai menyusuri jalan setapak yang perlahan menanjak.



Langkah demi langkah, suasana makin terasa hening. Suara kota sudah jauh tertinggal, digantikan suara angin, dedaunan, dan sesekali suara serangga. Jalurnya tidak terlalu ekstrem, tapi cukup untuk bikin napas sedikit naik. Dari sela-sela pepohonan, mulai terlihat kilasan laut biru di kejauhan. 


“Eh, aku ngopi dulu ya,” kataku ke travelmate begitu kami selesai menuruni bukit. Kebetulan di bagian bawah ada sebuah kafe kecil yang kelihatannya santai. Nggak mewah, tapi pas banget buat istirahat sebentar. Aku langsung pesan segelas kopi Vietnam—minuman yang entah kenapa selalu bikin aku pengen setiap kali lihat kafe. Wkwk. Rasanya emang khas dan nagih. Sekalian aku tambah semangkuk kentang goreng buat ganjel perut. Duduk sebentar sambil ngopi setelah kena angin sejuk di atas bukit itu rasanya nikmat banget, semacam jeda kecil yang sempurna di tengah perjalanan.

Setelah cukup istirahat dan badan terasa lebih segar, kami lanjutkan perjalanan. Target berikutnya adalah Marble Mountains. Kami kembali mengarahkan motor ke arah kota, lalu melaju ke selatan menyusuri jalan utama. Perlahan suasana pegunungan berganti lagi dengan hiruk-pikuk kota, hotel-hotel pesisir, dan lalu lintas yang mulai sedikit lebih ramai. 

Sepanjang jalan pesisir menuju Marble Mountains, mataku terus menangkap satu hal yang sama: restoran dan warung seafood berjajar tanpa henti. Dari yang kelihatannya sederhana sampai yang tampilannya cukup niat, semuanya memajang foto-foto kepiting, udang, dan kerang segar. Angin laut, aroma asin, dan papan-papan menu itu benar-benar godaan.

“Eh aduh, aku pengen banget kepiting, ada nggak ya?” teriakku dari depan motor sambil sedikit menoleh.

“Iya, nanti boleh lah kita coba seafood,” jawab travelmate setengah berteriak juga, ngalahin suara angin dari belakang. “Tapi kayaknya mending ke Marble Mountain dulu aja.”

“Siaaap,” jawabku singkat, meski di kepala sudah mulai terbayang gurihnya kepiting.

Tidak lama kemudian, kami akhirnya sampai di pintu masuk Marble Mountains. Bahkan sebelum benar-benar masuk, suasananya sudah terasa berbeda. Di sepanjang jalan menuju area parkir, berjejer banyak toko dan pedagang yang menjual patung-patung batu: Buddha, bodhisattva, dewa-dewi, singa penjaga, sampai ukiran-ukiran dekoratif. Ukurannya macam-macam, dari kecil sampai besar dan berat. Dari sini sudah kelihatan jelas kalau tempat ini memang punya hubungan erat dengan batu dan seni pahat.

Setelah memarkir motor, kami berjalan masuk ke area utama. Marble Mountains sendiri—atau dalam bahasa Vietnam disebut NgÅ© Hành SÆ¡n—adalah kompleks lima bukit batu kapur dan marmer yang berdiri terpisah di dekat pesisir Da Nang. Nama kelima bukit ini diambil dari konsep lima elemen dalam filosofi Timur: logam, kayu, air, api, dan tanah. Yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah Gunung Thá»§y (Air), karena di sinilah sebagian besar gua, pagoda, dan jalur pendakian berada.

Sejak berabad-abad lalu, kawasan ini sudah dianggap sebagai tempat yang sakral. Di dalam bukit-bukit batu ini terdapat gua-gua alami yang kemudian dimanfaatkan sebagai tempat ibadah Buddha dan Tao, lengkap dengan altar, patung, dan ruang meditasi. Pada masa perang, beberapa gua bahkan digunakan sebagai tempat persembunyian dan rumah sakit darurat. Jadi Marble Mountains bukan cuma tempat wisata alam, tapi juga ruang spiritual dan sejarah yang hidup.
Kami mulai naik, menyusuri jalur yang membawa kami masuk ke dalam bukit. Tangga-tangga batu membawa kami melewati lorong-lorong gua yang lembap dan sejuk. Cahaya matahari masuk dari celah-celah di langit-langit gua, menciptakan efek cahaya yang dramatis. Di beberapa titik, berdiri patung-patung Buddha yang tenang, dikelilingi dupa dan persembahan kecil dari pengunjung lokal.
Semakin ke dalam, suasananya makin hening. Rasanya seperti berjalan di antara alam dan kepercayaan, di mana batu, cahaya, dan doa bertemu dalam satu ruang. Dari atas beberapa titik pandang, kami juga bisa melihat laut biru terbentang di kejauhan, kontras dengan warna abu-abu batu kapur di sekeliling kami.

Setelah puas mengeksplor bagian bawah gua, kami dihadapkan pada pilihan berikutnya: naik ke bagian atas. Sebenarnya ada jalur tangga dari dalam gua yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi setelah kami lihat lebih dekat, tangganya tampak basah, licin, dan cukup ramai oleh wisatawan yang naik-turun. Dengan kondisi begitu, rasanya malah bikin deg-degan sendiri.
“Mending bayar lagi aja dan naik lift ya, lebih aman,” kataku ke travelmate. Dia langsung setuju tanpa banyak debat. Kami pun memilih opsi lift, meskipun harus nambah biaya sedikit, tapi jauh lebih tenang.

Begitu pintu lift terbuka di atas, suasananya langsung berubah. Kami tiba di area terbuka di puncak gunung, dengan angin yang cukup kencang dan pemandangan yang terasa lebih luas. Di sini berdiri beberapa kuil kecil dan altar, tertata rapi di antara bebatuan dan pepohonan. Tempat ini terasa lebih terang, lebih lapang, dan sekaligus lebih sakral.

Di salah satu sudut, berdiri patung Dewi Kuan Im yang anggun. Dalam tradisi Buddha Mahayana, Kuan Im dikenal sebagai bodhisattva welas asih—simbol kasih sayang, perlindungan, dan pengampunan. Banyak orang datang ke patung ini untuk berdoa, menyalakan dupa, atau sekadar menundukkan kepala dengan hening. Wajah patungnya lembut, posturnya tenang, seolah memberi rasa aman bagi siapa pun yang berdiri di depannya.

Tak jauh dari sana, terdapat patung Buddha dalam posisi meditasi. Duduk bersila, wajahnya tenang dan damai, kontras dengan angin yang berembus cukup kencang di puncak. Patung-patung ini bukan sekadar hiasan, tapi bagian dari praktik spiritual yang masih hidup. Terlihat beberapa pengunjung lokal berdoa dengan khusyuk, membuat suasana jadi terasa lebih sakral dan menghormati.
Berjalan di area atas ini rasanya seperti berada di pertemuan antara langit, laut, dan batu. Dari beberapa titik, kami bisa melihat laut lepas di kejauhan, kota Da Nang terbentang di bawah, dan bukit-bukit batu kapur yang berdiri kokoh di sekitar kami. Marble Mountains benar-benar menunjukkan sisi Vietnam yang berbeda—bukan hanya soal kota dan pantai, tapi juga tentang ruang spiritual yang menyatu dengan alam.

Setelah puas berkeliling area atas Marble Mountains dan duduk sebentar menikmati angin, kami akhirnya sepakat untuk bergeser. Waktu sudah mulai sore, dan masih ada satu urusan penting yang harus dibereskan: mengambil tas di luggage storage. Selain itu, tujuan utama hari ini sebenarnya belum selesai, karena malam nanti kami berencana lanjut motoran ke Hoi An.

Kami turun kembali, naik motor, lalu bergerak ke arah kota. Jalanan sore itu cukup ramai, tapi masih dalam batas nyaman. Di kepala, satu rencana kecil yang tadi sempat tertunda kembali muncul—makan seafood. Hehehe. Sejak melewati deretan restoran di sepanjang pesisir tadi, rasanya sayang kalau Danang dilewati tanpa mencicipi seafood-nya.

Dalam perjalanan pulang, kami pelan-pelan memperhatikan restoran-restoran di pinggir jalan. Setelah melewati beberapa tempat, akhirnya kami sepakat berhenti di sebuah restoran seafood buffet. Harganya 230.000 dong per orang. Kalau dirupiahkan, sekitar seratus lima puluh ribuan. Masih masuk akal, apalagi setelah seharian jalan dan tenaga sudah lumayan terkuras.

Kami diarahkan ke lantai dua, lalu duduk di meja dengan kompor hotpot di tengah. Pilihan kuahnya ada dua—satu tom yum, satunya lagi kuah bening entah namanya apa, aku juga lupa. Hehe. Yang jelas, dua-duanya hangat dan cocok buat sore menjelang malam.

Seafood-nya cukup lengkap: ada udang, cumi, gurita, dan beberapa jenis kerang. Memang nggak ada kepiting—sedikit kecewa sih, tapi ya sudahlah. Kami juga dikasih berbagai macam sayur untuk hotpot, tahu, dan pelengkap lain. Plus dua botol bir Tiger per orang.

Duduk santai sambil menunggu kuah mendidih, badan rasanya langsung turun tegangnya. Setelah panas, kami mulai memasukkan seafood satu per satu ke dalam panci. Uap panas naik, aroma kuah bercampur seafood langsung bikin perut makin lapar. Makanannya enak, nggak yang wah banget, tapi pas. Hangat, gurih, dan bikin nyaman setelah seharian motoran dan jalan kaki.

Kami makan tanpa terburu-buru, sambil ngobrol ringan, sesekali lihat keluar jendela. Ini tipe makan yang memang bukan soal rasa doang, tapi soal jeda—jeda sebelum perjalanan berikutnya.

Setelah cukup kenyang dan puas, kami bayar dan kembali ke motor. Langit mulai gelap, lampu-lampu jalan sudah menyala. Dari sini, kami langsung menuju luggage storage untuk mengambil tas. Setelah semua barang kembali lengkap, perjalanan belum selesai. 

Dengan membawa satu tas ransel besar dan satu koper, kami akhirnya benar-benar memulai perjalanan motoran menuju Kota Hoi An. Ransel besar kupakai di punggung, sementara koper diikat rapi di belakang motor. Di depan, dari tas kecil yang kugantung, headset menjulur keluar—Google Maps setia memberi arahan: belok kiri, lurus, putar balik, lalu lurus lagi. Aku tinggal fokus jaga gas dan keseimbangan.

Perjalanan dari Da Nang ke Hoi An kami tempuh lewat jalan raya yang sebagian membentang di sepanjang pesisir. Sore itu langit mulai berubah warna, biru terang pelan-pelan meredup. Di sisi kanan, laut terlihat luas dan tenang, sementara di kiri berjajar bangunan, hotel, dan sesekali warung kecil. Angin pantai cukup kencang, tapi justru bikin perjalanan terasa segar. Motor melaju stabil, lalu lintas tidak terlalu padat, dan suasananya jauh lebih santai dibanding Ho Chi Minh City.

Semakin mendekati Hoi An, cahaya mulai berkurang. Matahari benar-benar turun, dan lampu jalan satu per satu menyala. Begitu masuk area kota, suasananya langsung terasa berbeda. Hoi An lebih gelap, lebih tenang, dan tidak seramai Da Nang. Jalanannya lebih sempit, ritme kotanya juga terasa lebih pelan.

Kami berhenti di depan penginapan yang sudah kubooking sebelumnya. Bangunannya terlihat sederhana, dengan pintu kaca transparan di bagian depan. Aku turun dari motor dan mencoba mengetuk pintu kaca itu beberapa kali. Sepi. Nggak ada orang. Aku coba lagi, lebih keras sedikit. Tetap tidak ada respons.

“Waduh… bentar ya, aku chat mereka di Booking deh,” kataku ke travelmate.

Aku buka aplikasi Booking, dan baru sadar—ternyata sejak siang mereka sudah beberapa kali mengirim pesan, nanya aku akan sampai jam berapa. Aku scroll chat-nya, dan di situ tertulis kalau penginapan tersebut sudah tutup lebih awal karena sedang ada acara. Jujur, di situ aku sempat bengong sebentar. Malam, sudah sampai Hoi An, badan capek, dan penginapan malah tidak bisa ditempati. Rasanya agak buntu.

Tapi ya mau gimana. Panik nggak akan menyelesaikan apa-apa.

Aku langsung balas chat mereka, minta supaya kartu kreditku tidak di-charge, karena penginapan ini memang tidak bisa dicancel. Untungnya mereka responsif dan mengerti situasinya. Setelah itu, tanpa banyak mikir, aku langsung cari penginapan lain di sekitar Hoi An lewat aplikasi.

Nggak lama, ketemu satu tempat yang kelihatannya menarik. Namanya ada kata library-library gitu. Foto-fotonya bagus, ulasannya juga tinggi—rating 9,6. Tanpa ragu, aku langsung booking dan set Google Maps ke sana. Kami kembali naik motor dan meluncur, berharap kali ini nggak zonk lagi.

Beberapa menit kemudian, kami sampai. Begitu berhenti di depan penginapan ini, kesannya langsung beda. Bangunannya hangat, rapi, dan terasa “niat”. Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya menyambut kami dengan senyum ramah. Dari awal rasanya sudah lega.

Proses check-in cepat dan tanpa ribet. Kami diajak naik ke lantai dua, dan saat pintu kamar dibuka… jujur, kami kaget. Kamarnya bagus banget. Bersih, rapi, lengkap, tempat tidurnya nyaman, kamar mandinya juga oke. Jauh di atas ekspektasi kami. Yang bikin makin nggak nyangka, harga kamar ini cuma sekitar 125 ribu rupiah per malam.

Kami saling pandang dan langsung merasa bersyukur banget. Dari sempat panik karena penginapan pertama zonk, malah berujung dapat tempat yang kualitasnya jauh lebih baik. Kadang perjalanan memang gitu—ada sedikit chaos di tengah, tapi ujung-ujungnya justru dikasih bonus.

Malam itu kami nggak ke mana-mana lagi. Badan sudah capek setelah beraktivitas dari pagi-pagi buta. Kami memilih mandi, rebahan, dan istirahat total. Besok masih ada satu kota yang menunggu untuk dijelajahi dengan lebih santai.

Cảm ơn, Da Nang.
Hoi An, sampai jumpa besok.


Part Selanjutnya : DISINI