Motor matik kami kembali berjalan menembus kepadatan Kota Kathmandu. Motor, mobil, manusia, bangunan usang, debu saling bercampur di jalanan kota yang nyaris tanpa lampu pengatur lalu lintas ini. Untaian kabel-kabel melilit di tiang listrik yang ukurannya tidak seberapa. Matahari bersinar menyengat, klakson motor bersahut-sahutan. Pemandangan yang cukup klasik dan biasa di Kathmandu. Kami sudah terbiasa.
-
Assalamualaikum Oman
Kisah Perjalananku ke Oman -
KISAH PERJALANANKU DI RUSIA
Aurora, Huskey, Suku Samii, St. Petersburg dan Moscow -
KISAH PERJALANANKU DI EROPA
Islandia, Belanda, Italia, Yunani -
KISAH PERJALANANKU DI HAWAI'I
Eksplor Pulau Oahu
6.09.2026
[PART 15] Menggapai Himalaya : Menatap Kathmandu dari Puncak Swayambhunath..
[PART 14] Menggapai Himalaya : Mengitari Boudhanath, Jantung Buddhisme Tibet di Nepal !
Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
Part Sebelumnya: DISINI
Kathmandu kota yang cukup luas dan berdebu untuk ditelusuri dengan berjalan kaki. Karena jujur, tersesat di kawasan Thamel saja sudah membuat kakiku gempor, apalagi kalau harus berjalan keliling kota untuk mengunjungi tempat-tempat menarik disini.
[PART 13] Menggapai Himalaya : Menjelajah Jantung Kota Tua Kathmandu !
Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
Part Sebelumnya: DISINI
Menjelang pukul lima pagi, setelah hampir semalaman berguncang di jalanan pegunungan Nepal yang rusak dan berliku, bus akhirnya memasuki Kathmandu. Aku langsung menoleh ke luar jendela. Langit masih gelap kebiruan, sementara lampu-lampu jalan masih menyala samar. Jalanan terlihat lengang, jauh berbeda dengan bayanganku tentang ibu kota Nepal yang selama ini hanya kulihat dari foto dan cerita para backpacker.
Beberapa menit kemudian bus memasuki kawasan Thamel. Inilah kawasan yang sejak awal menjadi tujuan kami. Hampir semua backpacker yang datang ke Kathmandu pasti mengenal nama ini. Thamel adalah jantung wisata Kathmandu, tempat berkumpulnya hotel murah, agen trekking, restoran, money changer, hingga toko perlengkapan pendakian Himalaya.
Bus berhenti dan kami segera turun sambil memanggul ransel masing-masing.
Meski tidak tidur hampir semalaman, entah kenapa aku justru tidak merasa mengantuk. Atau mungkin lebih tepatnya, rasa kantuk itu kalah oleh rasa penasaran dan antusiasme. Ada kota baru yang menunggu untuk dieksplorasi. Ada pengalaman-pengalaman baru yang mungkin akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Udara pagi Kathmandu terasa jauh lebih dingin dibandingkan Lumbini. Aku langsung merapatkan jaket sambil berjalan menyusuri lorong-lorong Thamel yang masih sepi.
Suasananya terasa unik.
Deretan toko berjajar di kanan kiri jalan dengan pintu rolling door yang masih tertutup rapat. Beberapa papan nama hotel, restoran, money changer, dan toko perlengkapan gunung menggantung di atas jalan sempit yang hampir kosong. Sesekali terlihat satu dua orang berjalan kaki, sementara sebagian besar kota tampaknya masih tertidur.
Kami berjalan perlahan sambil mencari penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Saat itu GPS di ponsel belum secanggih sekarang dan internet juga tidak selalu tersedia. Jadi kami beberapa kali berhenti untuk mencocokkan alamat yang kami bawa dengan papan-papan nama yang ada di sepanjang jalan.
Akhirnya penginapan itu ditemukan.
Sayangnya ada satu masalah kecil.
Pintunya masih tertutup rapat.
Aku melihat jam tangan. Baru pukul lima pagi.
Tentu saja terlalu pagi untuk check-in.
Kami sempat mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Mau tidak mau kami akhirnya duduk di depan penginapan sambil menunggu pemiliknya bangun atau resepsionis mulai bekerja.
Dan justru saat itulah rasa kantuk mulai datang menyerang. Kepalaku terasa berat. Mataku mulai sulit terbuka. Setelah semalaman berjaga di dalam bus yang melaju di tepi jurang, tubuhku akhirnya mulai menagih istirahatnya.
Aku duduk bersandar di dinding sambil memperhatikan Thamel yang perlahan mulai terbangun dari tidurnya. Satu per satu toko mulai membuka rolling door. Seorang pria tua terlihat menyapu trotoar di depan tokonya. Dari kejauhan terdengar suara motor pertama pagi itu. Cahaya matahari perlahan mulai menyusup di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri rapat di sepanjang jalan.
Aku menarik napas panjang.
Beberapa jam yang lalu aku masih berada di jalan pegunungan yang membuatku berpikir tentang kematian. Kini aku duduk di jantung Kathmandu, menunggu sebuah penginapan dibuka.
Begitulah perjalanan.
Kadang dalam satu malam saja, hidup bisa membawa kita dari rasa takut menuju rasa bahagia. Dan pagi itu, meski mataku nyaris tertutup karena kantuk, ada satu perasaan yang jauh lebih kuat daripada rasa lelah.
Aku akhirnya sampai di Kathmandu. Kota yang selama bertahun-tahun hanya menjadi titik kecil di peta dan daftar mimpi seorang mahasiswa yang gemar membaca buku-buku perjalanan. Aku benar-benar disini.
Part Selanjutnya: DISINI
[PART 12] Menggapai Himalaya : Perjalanan Menantang Maut dari Lumbini ke Kathmandu !
Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
"Tidak, tidak ada bus turis yang berangkat malam hari. Jika kamu harus berangkat malam ini, kamu harus memakai bus lokal."
"Tidak masalah, di mana aku bisa membeli tiketnya?" jawabku. Aku justru senang. Bus lokal pasti lebih murah tentunya.
Ternyata perjalanan malam hari itu menyadarkanku sesuatu, bahwa kematian itu begitu dekat. Kematian bisa mengincar kita kapan saja.
Aku melihat sisi kiriku, roda bus hanya berjarak kurang dari satu meter ke bibir jurang! Kalau sampai bus ini terpeleset dan jatuh, tidak ada kesempatan lagi. Kami akan digilas oleh derasnya aliran sungai yang membelah perbukitan di bawah sana.
Jantungku berdegup kencang. Aku nyaris tidak tidur semalaman. Busku berjalan lambat beriringan dengan beberapa bus dan truk di depan. Jalanan bergelombang, rusak parah dan berlubang-lubang mengular berpuluh-puluh kilometer ke depan. Jalanan basah dan licin sehabis diguyur hujan deras, sebelah kiri jurang menganga. Medan perbukitan meliuk-liuk menanti kami. Menambah sedikit kecepatan lagi tentunya mempertaruhkan nyawa puluhan penumpang di bus yang kebanyakan tertidur pulas.
Di tengah ketakutanku aku membuka jendela. Semburan angin dingin langsung menampar wajahku. Aku tersenyum bahagia. Aku telah resmi memasuki kawasan Pegunungan Himalaya. Bukankah ini mimpiku sejak dulu? Aku biarkan udara dingin menerpa wajahku selama beberapa saat. Kurapatkan jaketku. Ketakutanku sedikit berkurang.
Pada tengah malam, kami berhenti beberapa saat di sebuah kedai kecil untuk makan dan buang air kecil.
"Aku malas makan, ayo kita beli teh chai saja," kataku ke temanku.
Perjalanan kembali berlanjut, kututup kembali kaca jendelaku. Udara semakin dingin. Aku mencoba memejamkan mata. Berpasrah pada Tuhan, pada sopir bus, pada takdir. Aku sedikit tersenyum, apakah aku berbahagia di tengah kematian yang bisa saja mengincarku?
Part Selanjutnya: DISINI
[PART 11] Menggapai Himalaya : Melacak Jejak Langkah Buddha di Tanah Suci Lumbini ! (2)
Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
Part Sebelumnya: DISINI
Setelah berpamitan dengan bapak ibu kenalan baru kami, kami kembali naik ke rickshaw tua kami. Kali ini, kayuhan sepeda bapak tua membawa kami menuju pemberhentian berikutnya yaitu Kompleks Royal Thai Monastery, sebuah biara megah yang dibangun oleh negara Thailand.
Saat kami tiba di sana, hari sudah beranjak sore, sekitar jam 16.30. Namun matahari khas Nepal masih menyinari bumi dengan sangat terik dan menyengat, seolah enggan meredupkan sinarnya. Untungnya, kompleks ini dikelilingi oleh banyak pepohonan rimbun. Di antara batang-batang pohon itu, angin sore berembus sepoi-sepoi, lumayan memberikan sedikit kesegaran di tengah hawa panas yang membakar kulit.
Suasana kompleks biara terasa begitu sepi, lengang, dan damai. Tidak ada keriuhan turis ataupun hiruk-pikuk kota; hanya ada kesunyian yang pekat, seakan-akan waktu sedang melambat di sini. Di beberapa sudut, tampak satu-dua peziarah berjalan dalam diam atau duduk termenung, benar-benar larut dalam keheningan tempat ini.
Begitu memasuki area gerbang, sebuah bangunan bergaya arsitektur khas Thailand langsung mencuri perhatian kami. Desain atapnya yang bertumpuk dengan hiasan merah menyala dan ukiran emas murni kelihatan kontras sekali dengan dinding putihnya yang bersih dan megah. Aku sempat berpose sebentar di depan tangga utamanya, menangkupkan kedua tangan di dada untuk memberi salam hormat.
Lagi-lagi, kami harus melepas alas kaki sebelum mengeksplorasi lebih jauh. Berjalan di atas pelataran ubinnya yang masih menyimpan sisa panas matahari siang membuat kami harus melangkah cepat-cepat supaya telapak kaki tidak melepuh. Di area halaman luar yang beralaskan rumput hijau, perhatianku tersita oleh sebuah tenda yang menaungi deretan batu bulat besar berlapis emas. Batu-batu tersebut dipenuhi oleh tempelan kertas emas yang disematkan oleh para peziarah yang datang ke sini untuk berdoa. Di belakangnya, terdapat papan pengumuman beraksara Thailand.
Kami kemudian melangkah perlahan ke bagian dalam aula utama biara. Begitu melewati pintu besar, hawa terik dari luar langsung berganti dengan kesejukan yang menenangkan. Aula dalam ini dibangun dengan sangat megah, memiliki langit-langit tinggi berwarna merah marun yang dihiasi pola-pola dekoratif keemasan. Di bagian tengah ruangan, sebuah altar emas bertingkat berdiri dengan anggun, menopang patung Buddha yang berkilau indah di bawah temaram lampu dalam ruangan.
Fredo memintaku untuk duduk di anak tangga marmer putih, tepat di depan batas pagar altar utama. Sambil menikmati keheningan total di dalam ruangan, aku tersenyum menghadap kamera. Di dekat altar utama, terdapat juga sebuah patung emas berukuran kecil yang menggambarkan sosok Pangeran Siddharta semasa bayi dengan satu tangan menunjuk ke langit, dihiasi rangkaian bunga segar yang ditata rapi di bawah tatakannya.
Sebelum menyudahi kunjungan singkat di biara Thailand ini, kami sempat berjalan ke sisi sayap bangunan yang seluruh arsitekturnya dilapisi warna putih bersih dengan ukiran yang detail. Di sudut lorongnya yang teduh, terlihat dua orang peziarah sedang duduk santai, menikmati semilir angin sore yang berembus pelan di antara pilar-pilar putih.
Keluar dari ketenangan biara Thailand, kami kembali disambut embusan angin sore yang kering. Bapak tua pengayuh rickshaw langsung mengarahkan sepedanya menuju kompleks berikutnya yang tidak kalah mencuri perhatian. Dari kejauhan, sebuah stupa dengan arsitektur yang sangat mencolok dan berbeda dari biara-biara sebelumnya sudah melambai-lambai minta dikunjungi.
Tempat ini bernama The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa. Begitu turun dari rickshaw, aku sempat tertegun melihat perpaduan warnanya. Berbeda dengan biara Thailand yang didominasi warna putih bersih, stupa beraliran Tibet ini berani bermain warna. Atapnya berbentuk kanopi besar berwarna jingga terang, menopang struktur stupa putih di atasnya yang dihiasi ukiran serta relief warna-warni yang sangat meriah khas Vajrayana. Di bagian depan, sebuah papan nama berbentuk lengkungan megah mempertegas nama tempat suci ini.
Sinar matahari sore yang mulai condong masih terasa menyengat saat aku memutuskan duduk sejenak di tepian semen pelataran depan. Bertelanjang kaki di atas lantai yang hangat, aku tersenyum tipis ke arah kamera dengan latar belakang tangga putih yang menanjak menuju bangunan utama. Di sisi kanan tangga, sebuah patung kecil berwarna keemasan berdiri anggun di antara rimbunnya tanaman hias, seolah ikut mengawasi ketenangan tempat ini.
Ritual di Lumbini ini memang melatih kesabaran telapak kaki. Kami kembali melepas alas kaki untuk mengeksplorasi area halamannya yang asri dan beralaskan rumput hijau. Di salah satu sudut taman yang dirawat rapi, langkah kami terhenti di depan sebuah rupang yang sangat indah. Patung seorang perempuan bergaun biru dan kain merah sedang berbaring menyamping dengan posisi yang sangat anggun. Di dekatnya, ada patung gajah putih kecil yang bersembunyi di balik semak. Suasana taman yang sepi, ditemani gesekan daun-daun dari pepohonan sekitar karena tiupan angin sore, membuat momen melihat rupang ini terasa sangat syahdu.
Sebelum naik ke bangunan utama, kami melewati sebuah paviliun terbuka yang menyimpan roda doa raksasa (prayer wheel atau Mani wheel) berwarna merah menyala dengan ukiran mantra Om Mani Padme Hum berwarna emas yang timbul. Ukurannya luar biasa besar, bahkan tingginya melebihi badanku sendiri.
Aku tidak melewatkan kesempatan untuk berdiri di samping roda doa tersebut. Sambil menyentuh permukaannya yang kokoh, aku berfoto di sana. Rasanya magis sekali bisa menyentuh salah satu simbol spiritual Tibet ini langsung di tanah kelahiran Buddha.
Kami kemudian melangkah masuk ke dalam area stupa Tibet ini. Di dalam ruangan, suasananya begitu teduh dan membuatku terpaku. Dindingnya dipenuhi oleh ribuan laci dan kotak kaca kecil yang masing-masing berisi rupang Buddha berukuran mini. Di tengah ruangan tersebut, terdapat altar berwarna merah-emas yang berdiri dengan sangat megah dengan patung Buddha di dalamnya. Aku melangkah mendekat, berdiri di depan altar utama yang indah ini sambil menangkupkan kedua tangan di dada, meresapi setiap jengkal kunjungan spiritual yang begitu berharga.
Kemegahan Klasik Zhong Hua Chinese Buddhist Monastery
Hanya beberapa kayuhan dari stupa Tibet, bapak tua pengayuh rickshaw membawa kami memasuki gerbang biara berikutnya yang suasananya mendadak terasa sangat berbeda. Begitu melihat arsitekturnya, ingatan kami langsung melempar pada film-film kolosal Tiongkok. Ya, ini adalah Zhong Hua Chinese Buddhist Monastery, biara resmi milik negara China di Lumbini.
Matahari sore yang semakin condong ke barat justru memancarkan kilau keemasan yang indah pada atap-atap keramik kuil ini. Berbeda dengan biara-biara sebelumnya yang berukuran lebih bersahaja, kuil China ini terasa sangat megah, kokoh, dan simetris. Halamannya berupa hamparan rumput hijau berhias bunga-bunga tropis yang dirawat sangat rapi. Di tengah jalan setapak menuju bangunan utama, berdiri sebuah tempat pembakaran dupa (incense burner) raksasa dari perunggu, memberikan atmosfer spiritual yang kental.
Uniknya, di sepanjang pagar tanaman dan jalur pejalan kaki di area luar ini, terbentang untaian bendera doa warna-warni (prayer flags) khas Buddha Tibet. Perpaduan antara bendera doa Tibet yang berkibar ditiup angin sore dengan bangunan megah berarsitektur khas dinasti China kuno ini menciptakan pemandangan yang luar biasa cantik. Saat melangkah mendekati aula utama, bentangan bendera doa itu bergelantungan rendah di atas kepala, menciptakan lorong warna-warni yang estetik. Di pelataran depan, tampak beberapa orang lokal dan peziarah sedang bersantai atau mengobrol, menikmati keteduhan sore di area kuil yang bersih ini.
Sebelum masuk ke dalam, kami disambut oleh dua patung penjaga raksasa yang berdiri gagah di balik pagar pembatas kayu. Detail pakaian perang mereka diukir dengan sangat rumit dan dicat warna-warni; yang satu berwajah garang sambil memegang ular kobra hitam, sementara yang satu lagi tampak memegang payung suci dan pusaka. Tatapan mata mereka yang tegas seolah sedang menjaga kesucian tempat ini dari hal-hal negatif.
Di dalam bangunan utama kuil, suasana terasa sangat adem dan sunyi. Di tengah ruangan, sebuah patung Buddha Gautama bertubuh emas berukuran raksasa duduk dengan anggun di atas singgasana teratai. Di belakang rupang tersebut, terdapat lingkaran pelindung berukir emas yang sangat megah. Langit-langit aula dipenuhi oleh panel kayu kotak-kotak berukir khas arsitektur China klasik, menciptakan ruang yang begitu sakral dan membuat siapa pun yang masuk otomatis mengecilkan suara mereka.
Part Selanjutnya: DISINI
[PART 10] Menggapai Himalaya : Melacak Jejak Langkah Buddha di Tanah Suci Lumbini ! (1)
Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
Aku tertegun menatap lembaran peta Kompleks Lumbini yang membentang di depanku.
"Wuahh... ternyata luas banget, Mas. Enggak mungkin kita keliling jalan kaki, apalagi waktu kita cuma dua jam sebelum bus ke Kathmandu berangkat," kataku pada Fredo, agak sangsi melihat skala areanya.
Belum sempat Fredo merespons, seorang lelaki tua dengan gurat wajah khas lokal mendekati kami. Mengikuti arah pandang kami ke peta, dia langsung menawarkan tumpangan cycle rickshaw—becak kayuh tradisional—untuk berkeliling. Dengan bahasa isyarat dan logat lokalnya, dia meyakinkan kami bahwa berjalan kaki mengelilingi Lumbini dalam waktu singkat adalah misi mustahil, kecuali kami rela kaki gempor dan membuang waktu berharga. Untuk jasanya, lelaki tua itu meminta tarif 500 Rupee Nepal.
Mengingat kondisi kantong, naluri tawar-menawar backpacker kami langsung aktif. Aku mencoba menawar di angka 400 Rupee, beralasan bahwa kami hanyalah mahasiswa yang sedang melanglang buana dengan modal pas-pasan. Setelah negosiasi singkat, dia akhirnya tersenyum setuju. Dia mulai mengayunkan pedal sepedanya dengan penuh semangat, membawa kami menyusuri jalur-jalur teduh di situs suci ini.
Lumbini bukanlah sekadar destinasi wisata biasa. Situs yang terletak di Distrik Rupandehi ini merupakan salah satu pilar ziarah paling sakral bagi umat Buddha di seluruh dunia. Berdasarkan tradisi kuno, di tanah sinilah Ratu Mayadevi melahirkan Pangeran Siddharta Gautama pada tahun 528 SM, tepat di titik yang kini dilindungi oleh Kuil Mayadevi.
Tata ruang Situs Lumbini dirancang dengan sangat unik dan penuh filosofi. Di dalam kawasan mahaluas ini, jangan harap kamu bisa menemukan deretan toko suvenir, hotel, atau restoran bising. Semuanya steril, menyisakan zona biara luas yang memancarkan ketenangan. Area biara ini secara geopolitik spiritual dibagi menjadi dua zona utama: Zona Biara Timur dan Zona Biara Barat.
Zona Timur didedikasikan untuk biara-biara beraliran Theravada (tradisi yang lebih tua dan konservatif). Sementara Zona Barat menjadi rumah bagi biara-biara megah beraliran Mahayana dan Vajrayana. Uniknya, kompleks-kompleks biara di sini dibangun langsung oleh berbagai negara di dunia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha, seperti Myanmar, India, Thailand, hingga Sri Lanka. Bahkan, negara-negara Eropa seperti Jerman dan Prancis pun turut mendirikan biara dengan arsitektur memukau di sini.
Pemberhentian pertama kami adalah kompleks biara milik negara Myanmar. Sebuah bangunan suci megah bernama Pagoda Lokamani Cula Burma langsung berdiri gagah menyambut kami. Kubah pagodanya yang dilapisi warna keemasan tampak berkilau megah di bawah sengatan matahari siang. Dengan ukiran arsitektur yang luar biasa detail, cantik, dan presisi, bangunan ini benar-benar memanjakan mata kamera.
Namun, kekaguman itu langsung diuji oleh realitas cuaca. "Panas... panas banget!" ujarku tertahan kepada Fredo.
Sesaat setelah melangkahkan kaki ke pelataran untuk mengelilingi pagoda, telapak kaki kami langsung disambut oleh ubin yang membara. Di setiap area biara di Lumbini, semua pengunjung memang diwajibkan untuk melepas alas kaki sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
"Udah, ayo kita keliling cepat aja, terus segera lanjut!" sahut Fredo yang tampaknya juga mulai kepanasan.
Kami pun setengah berjalan cepat mengitari kemegahan pagoda emas itu, mengambil beberapa foto detail, lalu bergegas kembali ke cycle rickshaw. Lelaki Nepal pengayuh becak kami tampak luar biasa. Keringat deras mulai bercucuran di pelipisnya, tetapi gumpalan otot di kakinya tetap stabil mengayuh kayuhan demi kayuhan di jalur berdebu. Keramahannya pun tak surut; dia dengan senang hati melayani rentetan pertanyaan kami tentang Nepal.
"Sir, di Nepal ini mayoritas penduduknya Hindu atau Buddha?" tanyaku, penasaran karena agak ironis mengingat di sinilah tempat lahirnya Sang Buddha.
"Hindu, Madam... Sekitar 70 persen orang Nepal itu beragama Hindu," jawabnya ramah dari atas sadel.
"Tapi Sir, di sini rasanya sangat tenang dan damai. Sebelumnya kami di India, keadaannya sangat riuh dan berisik. Jadi rasanya agak aneh sekarang suasananya sepi begini," timpal Fredo.
"Yeah, di sini jauh lebih baik dan tenang daripada di Kathmandu," kata lelaki itu seraya tersenyum.
"Sir, kalau bahasa Hindi, kamu bisa bicarakan juga?" tanya Fredo lagi.
"No, kami berbicara bahasa Nepal di sini, Sir," jawabnya tanpa kilah lelah.
Percakapan mengalir santai diselingi tawa kecil sepanjang jalan. Kami melintasi rimbunnya vegetasi Lumbini sebelum akhirnya tiba di pemberhentian berikutnya: kompleks biara milik negara India. Beberapa anak tangga batu menyambut kami di gerbang masuk utama. Dan seperti biasa, ritual melepas alas kaki kembali dilakukan.
Saat hendak melangkah masuk, sebuah sayup percakapan yang sangat akrab di telinga menghentikan gerakan kami.
"Dari Indonesia ya Pak?" aku mendengar Fredo tiba-tiba bertanya kepada seorang pria paruh baya yang juga bersiap memasuki biara India.
"Iya, iya," jawab Bapak tersebut dengan wajah terkejut sekaligus sumringah, "Kamu juga?"
"Iya Pak..." jawab Fredo bersemangat.
"Wah, Bapak dari Indonesia ya? Kami baru ketemu orang Indonesia pertama ini, Pak, selama perjalanan darat dari India!" kataku langsung ikut nimbrung dengan perasaan luar biasa senang.
Bertemu dengan teman sebangsa di pelosok negara orang selalu memunculkan kehangatan instan yang magis. Pertemuan itu mencairkan status kami yang asing menjadi seolah kerabat dekat. Kami pun mengobrol akrab, saling melempar cerita perjalanan.
Sembari mengobrol santai, mataku perlahan menjelajahi dinding-dinding biara India yang luar biasa indah. Di sepanjang dinding tersebut, berderet lukisan relief yang merangkum seluruh epik perjalanan spiritual Sang Buddha secara visual. Cerita gambarnya begitu hidup dan memikat, membuatku menghentikan langkah di setiap sudut untuk mengabadikannya lewat lensa kamera. Sebagai seseorang yang sangat menghormati Buddha, berada di ruang penuh visual historis ini rasanya luar biasa.
Lukisan-lukisan tersebut bercerita runtut seperti garis waktu kehidupan:
Dimulai dari kelahiran legendaris Pangeran Siddharta, di mana langkah pertamanya di bumi langsung ditandai dengan mekarnya bunga teratai di bawah kakinya, sementara sang ibu, Ratu Mayadevi, mengawasi di latar belakang.
Lalu, transisi dramatis ketika sang Pangeran memutuskan meninggalkan semua kemewahan istana dan kesengsaraan duniawi. Ada gambar di mana beliau memotong rambut panjangnya dengan pedang di tepi Sungai Anoma untuk menempuh jalan hidup sebagai pertapa suci.
Lukisan berikutnya menggambarkan masa-masa sulit penyiksaan diri ekstrem yang dijalani Siddharta di Hutan Uruvela, Gaya, selama enam tahun. Tubuhnya digambarkan menjadi sangat kurus kering dan lemah hingga tulang-tulangnya menonjol.
Hingga tiba pada titik balik esensial: seorang perempuan desa bernama Sujata Garh, yang tidak tega melihat kondisi sang pertapa yang sekarat, mengulurkan semangkuk nasi susu (kheer). Makanan itu menyelamatkan nyawanya dan menyadarkan Siddharta bahwa penyiksaan diri yang ekstrem bukanlah jalan menuju pencerahan—melainkan "Jalan Tengah" (Majjhima Patipada). Di bawah Pohon Bodhi setelah momen itu, beliau akhirnya mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha.
Relief berikutnya menampilkan kisah-kisah penuh welas asih, seperti saat seekor gajah dan kera hutan dengan tulus menawarkan madu serta buah-buahan untuk Sang Buddha, hingga momen mengharukan saat beliau dengan tangannya sendiri merawat Biksu Putigatta Tissa yang sedang menderita sakit parah.
Ada pula gambaran khotbah pertama pembubaran roda Dhamma (Dhammacakkappavattana Sutta) kepada lima pengikut pertamanya di Taman Rusa Sarnath, India.
Kisah legendaris penaklukan Nalagiri, seekor gajah murka yang dilepas untuk membunuhnya, namun justru bertekuk lutut dengan tenang di hadapan pancaran cinta kasih (metta) Sang Buddha.
Dan akhirnya, gambar posisi terakhir Sang Buddha saat mangkat dan mencapai Mahaparinibbana di Kusinara—posisi berbaring menyamping ke kanan yang kelak diabadikan dalam patung-patung Reclining Buddha terkenal di berbagai belahan dunia, mulai dari Wat Pho di Bangkok hingga Mahavira Majapahit di Mojokerto.
- Kelahiran dan langkah pertama Pangeran Siddharta, dibelakangnya adalah sosok Ibunya, Ratu Mayadevi. Langkah kaki Pangeran Siddharta ditandai oleh bunga teratai. (GALUH PRATIWI)Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan semua kesengsaraan duniawi dan memotong rambutnya di Sungai Anoma untuk menjadi seorang pertapa (GALUH PRATIWI)Pangeran Siddharta melakukan praktek meditasi di Uruvela, Gaya selama 6 tahun. Melakukan penyiksaan diri untuk melepaskan diri dari kesengsaraan duniawi. Tubuhnya menjadi sangat kurus dan lemah saat itu. (GALUH PRATIWI)Seorang perempuan desa bernama Sujata Garh tidak tega melihat kondisi Pangeran Siddharta yang sudah sangat lemah sehingga menawarinya nasi susu. Dari situlah Pangeran Siddharta menyadari bahwa penyiksaan diri yang ekstrim bukanlah jalan untuk memperoleh pencerahan. Kemudian beliau pindah bermeditasi di bawah pohon bodhi dan memperoleh pencerahan, mengajarkan ajaran "jalan tengah" dan menjadi Buddha (GALUH PRATIWI)Seekor gajah dan kera menawari Buddha madu dan buah-buahan untuk dimakan (GALUH PRATIWI)Buddha merawat Biksu Putigatta Tissa yang sedang sakit (GALUH PRATIWI)Buddha mengajarkan Dhamma kepada pengikut-pengikutnya di Sarnath (sekarang di India dekat kota Bodh Gaya) (GALUH PRATIWI)Buddha menjinakkan gajah yang mengamuk di Nalagiri (GALUH PRATIWI)Posisi terakhir Buddha sebelum meninggal. Posisi ini banyak diabadikan di beberapa patung Buddha di berbagai belahan dunia seperti Bangkok (Wat Pho) dan Mojokerto (Mahavira Majapahit) (GALUH PRATIWI)
Di tengah keasyikanku memotret, istri dari Bapak tadi menyusul dan bergabung bersama kami setelah selesai mengitari sudut lain kompleks.
"Ibu beragama Buddha ya? Saya lihat tadi Ibu sempat berdoa di dalam," tanyaku dengan nada sopan.
"Tidak, saya Katolik," jawab Ibu tersebut hangat sambil tersenyum tulus. "Tapi tidak apa-apa kan kita berdoa di sini? Kita harus selalu mengucap syukur karena perjalanan kita sudah diberkahi sampai bisa menginjakkan kaki di tempat sejauh ini."
"Iya, benar sekali, Bu. Oya, asalnya dari mana, Bu?" tanyaku lagi.
"Kami dari Surabaya. Ini sudah hari-hari terakhir kami di Nepal. Sebelumnya kami dari Kathmandu dan Pokhara. Saya senang sekali di sini karena suasananya tenang sekali. Kalau di Kathmandu kemarin sering hujan. Kalau kalian sendiri rutenya dari mana?"
"Kami backpacker-an dari India, Bu. Rencananya setelah ini baru mau lanjut naik bus ke Kathmandu. Di sana bagus ya, Bu?" tanya Fredo bergantian.
"Yah, bagus kok. Cuma pas kami di sana kemarin sayangnya mendung terus setiap hari," cerita Ibu itu menceritakan pengalamannya. "Kalau Pokhara, menurut kami ya biasa saja, rasanya malah mirip seperti Sarangan. Tahu Telaga Sarangan kan? Yang di lereng Gunung Lawu itu? Mirip seperti itu," tambahnya jujur.
Mendengar ucapan Ibu itu, aku dan Fredo langsung tertawa kecil. "Wah, terima kasih banyak informasinya, Bu! Kalimat Ibu barusan jujur sedikit menghibur kami. Soalnya rencana awal kami itu mau ke Pokhara, tapi gara-gara kereta dari India kemarin telat parah, rute ke Pokhara terpaksa kami batalkan."
Kami masih melanjutkan obrolan panjang yang gayeng setelah itu, bertukar cerita tentang suka duka di jalanan, hingga menyempatkan diri untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Usia Bapak dan Ibu ini bisa dibilang sudah tidak muda lagi, rambut mereka memutih, namun pancaran energi dan semangat menjelajah mereka benar-benar mengagumkan.
Melihat mereka, dalam hati aku menggantungkan sebuah harapan: kelak saat aku menua, aku ingin menjadi seperti mereka. Tetap memiliki jiwa petualang yang menyala-nyala, tanpa pernah membiarkan angka usia menjadi batas untuk melihat indahnya dunia.
Waktu dua jam kami akhirnya berputar cepat. Setelah saling melempar senyum dan rentetan nasihat perjalanan yang berharga, kami pun berpisah ke arah yang berlawanan.
Terima kasih, Bapak dan Ibu asal Surabaya. Di tengah tanah suci Lumbini yang asing ini, kehangatan kalian akan selalu saya ingat dalam hati.
































