Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

6.11.2026

[PART 16] Menggapai Himalaya : Bhaktapur, Kota Tercantik di Lembah Kathmandu!

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                           Part Sebelumnya: DISINI

Aku di Bhaktapur Durbar Square, Nepal

Kunjungan ke Swayambhunath pada sore hari sebelumnya akhirnya menutup eksplorasi kami di Kathmandu. Memang, waktu yang kami miliki di ibu kota Nepal ini sangat terbatas. Kami hanya mengalokasikan satu hari penuh untuk menjelajahi kawasan kota tua, mulai dari lorong-lorong Thamel yang ramai, kompleks bersejarah Kathmandu Durbar Square, hingga perbukitan tempat Swayambhunath berdiri mengawasi seluruh Lembah Kathmandu dari kejauhan.

Pagi itu kami kembali bangun dengan semangat baru. Hari ini petualangan akan berlanjut ke Nagarkot, sebuah kota kecil di perbukitan timur Kathmandu yang terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk menikmati panorama Pegunungan Himalaya.

Namun kami tidak terburu-buru menuju Nagarkot.

Ada satu tempat yang sejak awal sudah masuk dalam daftar kunjungan wajib kami selama berada di Nepal.

Bhaktapur Durbar Square.

Jika Kathmandu Durbar Square sering dianggap sebagai jantung sejarah Nepal, maka Bhaktapur Durbar Square bisa dibilang sebagai mahakaryanya.

Dari Thamel menuju Bhaktapur jaraknya sekitar 15 kilometer. Di peta terlihat dekat, tetapi seperti biasa di Nepal, jarak tidak selalu berbanding lurus dengan waktu tempuh. Jalanan Kathmandu yang padat, sempit, serta dipenuhi kendaraan membuat perjalanan bisa memakan waktu hampir satu jam dengan sepeda motor.

Untungnya pagi itu lalu lintas belum terlalu padat.

Kami pun melaju meninggalkan kawasan wisata Thamel yang mulai ramai oleh backpacker dan toko-toko perlengkapan trekking. Perlahan suasana kota tua Kathmandu berganti menjadi kawasan permukiman yang lebih padat. Jalanan dipenuhi sepeda motor, minibus lokal, becak, pejalan kaki, hingga truk-truk kecil yang sesekali mengeluarkan kepulan debu ketika melintas.

Di beberapa sudut terlihat kuil-kuil kecil berdiri di tengah permukiman. Tidak jarang pula kami melewati stupa-stupa Buddha berwarna putih yang muncul begitu saja di pinggir jalan. Pemandangan seperti itu sangat umum di Nepal. Bangunan keagamaan seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Semakin menjauh dari pusat Kathmandu, lalu lintas mulai sedikit longgar. Dari atas motor aku bisa melihat hamparan lembah yang dikelilingi perbukitan hijau. Rumah-rumah bata merah khas Nepal berdiri rapat di berbagai sisi jalan, sementara aktivitas pagi warga sudah berjalan seperti biasa. Ada yang membuka toko, mengangkut barang dengan sepeda, hingga sekadar duduk berbincang di depan rumah.

Perjalanan menuju Bhaktapur terasa menyenangkan karena untuk pertama kalinya aku bisa melihat kehidupan sehari-hari warga Nepal di luar kawasan wisata utama.

Sekitar satu jam kemudian kami akhirnya tiba di Bhaktapur.

Kesan pertamaku sederhana.

Cantik.

Bahkan sebelum memasuki kawasan Durbar Square, suasananya sudah terasa berbeda dibandingkan Kathmandu. Jalan-jalan kecil berbatu, rumah-rumah bata merah berusia ratusan tahun, jendela-jendela kayu berukir khas Newari, serta minimnya bangunan modern membuatku merasa seperti sedang melangkah masuk ke masa lalu.

Bhaktapur sendiri merupakan salah satu dari tiga kota kerajaan kuno yang pernah menguasai Lembah Kathmandu, bersama Kathmandu dan Patan. Kota ini mencapai masa kejayaannya pada abad ke-14 hingga ke-15 ketika menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat kebudayaan Kerajaan Malla.

Nama Bhaktapur berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "Kota Para Penganut Bhakti" atau "Kota Para Pemuja". Selama berabad-abad kota ini berkembang menjadi salah satu pusat seni, arsitektur, dan kebudayaan terpenting di Nepal.

Ketika kerajaan Nepal masih terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil, para raja Malla berlomba-lomba membangun kuil, istana, halaman kerajaan, dan berbagai monumen megah untuk menunjukkan kejayaan mereka. Hasil dari persaingan itulah yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.

Banyak orang bahkan menyebut Bhaktapur sebagai kota tua terindah di Nepal.

Dan setelah melihatnya sendiri, aku bisa memahami alasannya.

Jika Kathmandu terasa hidup, semrawut, dan penuh energi, maka Bhaktapur terasa jauh lebih utuh. Bangunan-bangunan tradisionalnya masih mendominasi hampir seluruh kawasan kota tua. Kendaraan bermotor juga jauh lebih sedikit. Suasananya lebih tenang, lebih tertata, dan lebih mudah membuat pengunjung membayangkan seperti apa kehidupan di Nepal beberapa ratus tahun yang lalu.

Tidak berlebihan jika kawasan ini sering disebut sebagai museum terbuka terbesar di Nepal.

Dan saat aku melangkahkan kaki memasuki Bhaktapur Durbar Square pagi itu, aku langsung merasa bahwa satu atau dua jam jelas tidak akan cukup untuk menjelajahi semua sudutnya.

***

Setelah hampir satu jam berkendara dari Thamel, perut kami mulai memberikan sinyal protes. Sejak pagi kami belum sempat sarapan yang benar-benar mengenyangkan. Maka sebelum mulai menjelajahi Bhaktapur Durbar Square, kami memutuskan mencari tempat makan terlebih dahulu di salah satu kafe kecil yang berada tidak jauh dari pintu masuk kawasan kota tua.

Sebuah pizza hangat berukuran sedang dan dua gelas es teh menjadi sarapan sekaligus makan siang kami hari itu. Mungkin terdengar aneh datang jauh-jauh ke Nepal lalu makan pizza, tetapi itulah salah satu hal yang kusukai dari perjalanan. Kadang yang paling diingat justru bukan makanan khasnya, melainkan momen sederhana ketika duduk santai setelah perjalanan panjang sambil menikmati makanan yang kebetulan lewat di depan mata.

Selesai menghabiskan pizza dan es teh, kami akhirnya melangkah masuk lebih jauh ke kawasan Bhaktapur Durbar Square. Semakin jauh berjalan, semakin aku mengerti mengapa banyak orang menyebut Bhaktapur sebagai kota tua tercantik di Nepal.

Bhaktapur sendiri merupakan salah satu dari tiga kota kerajaan kuno di Lembah Kathmandu, bersama Kathmandu dan Patan. Pada masa Kerajaan Malla, kota ini pernah menjadi pusat kekuasaan yang sangat penting sekaligus pusat seni dan budaya masyarakat Newari. Jejak kejayaan itu masih terlihat jelas hingga sekarang. Hampir setiap sudut kota dipenuhi bangunan bata merah, jendela kayu berukir, kuil-kuil kuno, serta halaman-halaman luas yang seolah tidak banyak berubah selama ratusan tahun.

Berjalan di Bhaktapur terasa seperti berjalan di dalam sebuah kota yang lupa menjadi modern.

Bangunan-bangunan tua berdiri berdampingan tanpa terganggu papan reklame besar atau gedung beton tinggi. Jalanannya masih menggunakan bata merah. Banyak warga lokal yang duduk santai di teras rumah, bercengkerama, atau sekadar mengamati wisatawan yang lalu-lalang.

Yang membuatku semakin terkesan adalah suasana kota ini terasa sangat hidup. Bhaktapur bukan kawasan bersejarah yang dibangun ulang khusus untuk turis. Ini adalah kota tua yang benar-benar masih dihuni dan digunakan oleh masyarakat sehari-hari.

Di tengah kawasan durbar square berdiri berbagai bangunan bersejarah yang usianya mencapai ratusan tahun. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah paviliun kayu bertingkat bergaya pagoda yang berdiri di tengah alun-alun. Detail ukiran kayunya luar biasa rumit. Hampir tidak ada bagian bangunan yang dibiarkan polos. Setiap sudut, tiang, dan bingkai jendela dipenuhi pahatan yang menunjukkan betapa tingginya kemampuan para pengrajin Newari pada masa itu.

Ketika aku berkunjung, proses pemulihan pasca Gempa Nepal 2015 masih berlangsung. Beberapa kuil terlihat disangga balok-balok kayu besar. Tumpukan bata masih terlihat di beberapa sudut lapangan. Ada bangunan yang sedang direstorasi dan ada pula yang masih menunggu giliran diperbaiki.

Namun anehnya, pemandangan itu tidak mengurangi keindahan Bhaktapur. Justru sebaliknya.

Tumpukan bata dan penyangga kayu itu seperti menjadi pengingat bahwa kota ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan budaya yang sedang diperjuangkan agar tetap hidup.

Kami terus berjalan menyusuri alun-alun. Sesekali berhenti untuk memotret kuil, mengamati ukiran kayu, atau memperhatikan detail-detail kecil yang mungkin terlewat jika berjalan terlalu cepat.

Di salah satu sudut, aku menemukan deretan toko yang menjual berbagai kerajinan logam khas Nepal. Patung Buddha, mangkuk singing bowl, lonceng kuil, lampu minyak, hingga berbagai ornamen perunggu dipajang memenuhi etalase. Cahaya matahari siang yang memantul dari permukaan logam membuat jalanan kecil itu terlihat begitu menarik.

Tidak jauh dari sana, seekor kambing berbulu putih sedang berbaring santai di atas pondasi bata tua. Tidak ada yang memperhatikannya. Orang-orang berlalu lalang begitu saja, seolah keberadaannya merupakan bagian alami dari pemandangan kota.

Dan mungkin memang begitu.

Nepal adalah salah satu negara paling unik yang pernah aku kunjungi. Di sini, kuil berusia ratusan tahun, kambing yang tidur di tengah situs bersejarah, pedagang suvenir, wisatawan asing, dan warga lokal bisa berbagi ruang yang sama tanpa terlihat janggal sedikit pun.

Semua terasa berjalan dengan ritmenya sendiri.

Semakin lama berada di Bhaktapur, semakin aku merasa bahwa daya tarik Nepal bukan hanya terletak pada Himalaya atau Gunung Everest. Justru yang membuat negara ini begitu berkesan adalah bagaimana sejarah, budaya, agama, dan kehidupan sehari-hari masih menyatu secara alami dalam satu ruang yang sama.

6.09.2026

[PART 15] Menggapai Himalaya : Menatap Kathmandu dari Puncak Swayambhunath..

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

       Part Sebelumnya: DISINI 


Motor matik kami kembali berjalan menembus kepadatan Kota Kathmandu. Motor, mobil, manusia, bangunan usang, debu saling bercampur di jalanan kota yang nyaris tanpa lampu pengatur lalu lintas ini. Untaian kabel-kabel melilit di tiang listrik yang ukurannya tidak seberapa. Matahari bersinar menyengat, klakson motor bersahut-sahutan. Pemandangan yang cukup klasik dan biasa di Kathmandu. Kami sudah terbiasa.

Semakin lama jalanan yang kami lewati terasa semakin menanjak. Rumah-rumah penduduk berjajar di sepanjang jalanan aspal yang cukup halus ini. Setelah setengah jam berkendara, kami telah sampai di Stupa Swayambunath. Tidak seperti sebelumnya, disini kami bisa memarkir motor karena disediakan tempat parkir yang luas dan gratis. Rupaya Stupa Swayambunath berada di salah puncak Bukit Swayambhunath di Lembah Kathmandu.

Suasana stupa terlihat sangat tenang dan damai. Begitu masuk, pemandangan pertama yang kami lihat adalah sebuah kolam melingkar dengan patung Buddha ketika masih berusia belia di bagian tengahnya. Pada bagian bawah patung terdapat sebuah lempengan besi yang penuh dengan uang logam. Beberapa uang logam yang dilemparkan pengunjung meluncur masuk ke kolam. Aku sendiri kurang paham maksudnya untuk apa, mungkin sebagai bentuk persembahan, keberuntungan?

Kami melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam kuil. Menurutku Kuil Swayambunath ini sangat damai dan menarik. Di bagian bawah aku bisa melihat monyet-monyet berlompatan dan berenang dengan bebas. Turis lokal maupun turis asing saling berjajar di pagar untuk melihat aktraksi menarik tersebut.

Petualangan kami berlanjut ke puncak bukit Swayambunath. Karena posisi kuil yang berada di puncak, kita bisa melihat pemandangan Lembah Kathmandu dari atas. Bendera-bendera doa warna-warni berkibar tertiup angin gunung yang segar. Penjual berbagai pernak-pernik mulai dari alat bersembahyang umat Buddha (mulai dari patung Buddha berbagai ukuran, roda doa, kalung doa, cawan-cawan kuningan), lukisan minyak, kalung, gelang, topeng dengan berbagai macam ukiran, kartu pos, dan masih banyak lagi.

Menaiki anak tangga yang cukup banyak dan curam, akhirnya kami sampai di bagian atas kuil yang merupakan tempat ziarah utama yakni Stupa Swayambhunath. Sebuah mandala berbentuk setengah bola berwarna putih menjadi alas bagi Stupa Swayambunath. Di sekeliling mandala terlihat dikelilingi oleh pagar dan roda doa. Bendera-bendera doa saling dibentangkan dari ujung stupa ke sekeliling arah, menyebarkan mantra-mantra yang diharapkan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi makhluk hidup di dunia. Berdasarkan tulisan di lempengan sekitar stupa, untuk melakukan ziarah mengelilingi stupa atau memutar roda doa diharapkan searah dengan jarum jam.

Dari stupa kami beranjak ke bagian ujung kuil yang langsung menghadap pegunungan dan Lembah Kathmandu. Pemandangan sangat indah dan damai, ditambah cuaca sedang sedikit mendung sehingga kami terhindar dari terik matahari. Ribuan rumah berbentuk kotak-kotak bertumpuk di Lembah Kathmandu. Banyak bangunan bertingkat-tingkat disini, mungkin seperti rumah susun. 

Aku memandang ke bawah, aku memandang ke gunung. Hatiku berdesir, hatiku bahagia. Terimakasih Tuhan telah mengizinkanku kesini.

Kolam dengan patung Buddha di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Monyet-monyet berlompatan dan berenang di kolam (GALUH PRATIWI)

Naik puluhan anak tangga menuju puncak bukit (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Buddha Siddharta Gautama (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Berfoto bersama penjual lukisan minyak (GALUH PRATIWI)

Stupa Swayambhunath yang berwarna kuningan dengan lukisan Buddha (GALUH PRATIWI)

Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Stupa Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Langit mendung menggelayuti Lembah Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Bendera doa berkibar tertiup angin (GALUH PRATIWI)

PBendera doa berisi mantra-mantra. Ketika berkibar tertiup angin diharapkan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi dunia (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

[PART 14] Menggapai Himalaya : Mengitari Boudhanath, Jantung Buddhisme Tibet di Nepal !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                           Part Sebelumnya: DISINI

Stupa Boudhanat sedang dalam renovasi setelah gempa dahsyat pada 25 April 2015

 Kathmandu kota yang cukup luas dan berdebu untuk ditelusuri dengan berjalan kaki. Karena jujur, tersesat di kawasan Thamel saja sudah membuat kakiku gempor, apalagi kalau harus berjalan keliling kota untuk mengunjungi tempat-tempat menarik disini.

Sewa motor menjadi pilihan kami untuk menghemat tenaga sekaligus uang. Menghemat tenaga karena kami berencana akan mengunjungi beberapa tempat wisata yang lokasinya cukup berjauhan dari hostel tempat kami menginap. Menghemat uang karena jika tidak menggunakan motor sewaan/jalan kaki, satu-satunya transportasi ke tempat-tempat tersebut adalah taksi yang mematok harga 200-400 Npr (Rupee Nepal) sekali berangkat (sekitar Rp 20.000 sampai Rp 40.000). Apalagi jika dapat supir nakal yang suka mematok harga seenaknya ke turis asing, tambah apes lagi.

Cukup banyak persewaan motor yang berjajar di ruko-ruko padat Thamel. Setiap ruko menawarkan harga dan jenis motor yang berbeda-beda, tapi kebanyakan adalah motor matik, motor bajaj, dan motor tril. Paling murah tentunya motor matik.

Setelah berkeliling sesaat kami mendapatkan sewa motor yang menurut kami cukup murah, berada di sebuah ruko yang menjual bahan makanan di dekat Dharmadhaatu Stupa. Di depan ruko tersebut ada sebuah plang kecil bertuliskan "Rent Motorcycle". Pemiliknya lelaki Nepal bernama Mr. Sunil. Ramah dan informatif. Harga sewa motornya adalah 500 Npr/sampai sore. Cukup fair untuk sebuah motor matik (bentuknya seperti Honda Beat dengan perawakan yang lebih gemuk). Kami menyewa motor selama tiga hari. Hari ini berkeliling Kota Kathmandu, dua hari setelahnya untuk menuju Bhaktapur Durbar Square dan Nagarkot yang berada 32 kilometer di sebelah timur laut Kathmandu.

Motor matic yang kami sewa di Thamel. Plat nomornya gimana cara bacanya? Wkwk

Paspor adalah syarat yang diminta Mr. Sunil untuk menyewa motornya. Karena kami berdua dan pasporku akan kugunakan untuk check in di hotel Nagarkot nanti, temanku yang meninggalkan paspornya. Kami sempat mengecek dan menfoto kondisi motor sebelum diberi dua buah helm dan fotocopy surat kendaraan.

" Bagaimana jika kita melakukan pelanggaran lalu lintas dan polisi menangkap kita? Apakah fotocopy surat motor ini bisa digunakan?" tanyaku penasaran. Bagaimanapun aku tidak mau berurusan dengan birokrasi disini.

"Tenang saja. Bilang saja Mr. Sunil. Mereka (polisi) teman saya. Pasti akan baik-baik saja," jawab Mr. Sunil.

Antara percaya dan tidak percaya, aku pasrah. Kami akan berusaha mengemudi sebaik mungkin, menghindari melanggar lalu lintas. Setelah menanyakan arah keluar dari Thamel menuju jalan raya utama dan menerima dua buah helm, kami segera meninggalkan ruko Mr. Sunil.

Mungkin ini kesalahan terbesar kami. Menyewa motor tapi sama sekali tidak tau arah. Memang banyak informasi arah di Kathmandu (seperti papan hijau penunjuk arah di Indonesia), tetapi semuanya nama-nama asing yang belum pernah kudengar. Tujuan kami adalah Stupa Bouddhanat. Kami sama sekali tidak tau arah, hanya berputar-putar kesana kemari.

Debu Kota Kathmandu yang tebal dan menggumpal sedikit membuatku pusing. Aku mengusulkan ke travelmate untuk mencari ruko yang menjual kartu internet. Harus menggunakan google map. Susah sekali jalan tanpa arah dan tujuan seperti ini. Untung saja google bukanlah sesuatu yang diblokir di negara ini.

Setelah berputar-putar cukup lama, kami mendapati sebuah warung kelontong yang menjual kartu internet. Setelah bertanya-tanya cukup banyak tentang kartu internet terbaik di Nepal, kami disarankan menggunakan NCell. Katanya sinyal NCell bisa menjangkau sampai ke Nagarkot (tujuan kami besok). Tetapi karena untuk menggunakan kartu internet harus aktivasi dahulu, penjual warung tersebut - seorang lelaki muda Nepal berperawakan tinggi - menyarankanku untuk membeli kartu perdana sekaligus pulsa internet di konter NCell langsung. Kami mengikuti arahannya dan menemukan konter yang dimaksud.

Seperti di India, membeli kartu perdana di Nepal harus melewati prosedur yang lumayan ribet. Aku diharuskan memberikan paspor dan visa nepal untuk difotocopy, mengisi formulir yang meliputi data diri, memberikan foto close up (waktu kuberi foto dengan kertas foto tipis mereka sempat menolak). Setelah melalui proses yang lama, akhirnya mereka memberikanku kartu perdana seharga 150 Npr. Tentu saja itu hanya kartu perdana yang berisi pulsa reguler, aku masih harus membeli paket internet. Karena hanya untuk 3 hari, aku membeli paket internet 100Mb seharga 100 Npr. Penjaga konter mengaktivasi nomorku dan akhirnya aku bisa menggunakan internet!

Tetapi, bukan berarti masalah selesai....

" Aahh, sinyal internetnya hilang muncul terus!" kataku setengah emosi dari belakang motor.

"Sabar.....sabar.. Kita berhenti saja dulu buat nyari sinyal," kata travelmateku dengan sabar.

Aku pikir karena kita sudah membeli internet dengan kartu perdana terbaik disini, perjalanan akan lancar. Tapi ternyata perjalanan kami tersendat. Titik biru penunjuk lokasi di google map tidak mau jalan mengikuti laju motor.

Tujuan pertama kami adalah Stupa Boudhanath yang terletak di Kota Boudha, 6 kilometer sebelah timur Thamel. Sebenarnya cukup dekat dan cepat jika sinyal internet ini lancar, tidak hilang muncul seperti ini.

" Sampe pengen takbanting ni HPku," kataku lagi dengan kesal.

"Bukan salah HPmu kok. Santai aja bro," kata travelmateku lagi.

Setelah menunggu beberapa saat dan akhirnya titik biru di google map mau berjalan juga, kami melanjutkan perjalanan menuju Stupa Boudhannat. Tentu saja google map tidak selalu lancar, sehingga kami sempat tersesat sehingga harus bolak-balik jalan yang sama dua kali.

Melewati jalanan kecil berkelok-kelok dan berdebu, akhirnya sampai juga kami di Stupa Boudhannat. Aku cukup terkejut karena meskipun merupakan salah satu destinasi wisata utama di Kathmandu, tapi pintu masuk Stupa Boudhannat sangat kecil. Hampir tidak bisa dibedakan dari bangunan di sekitarnya. Stupa Buddha berwarna emas yang menjulang tinggi menjadi petunjuk kuat kami bahwa ini adalah tempatnya.

Karena tidak ada tempat parkir motor resmi, kami menitipkan motor pada lelaki tua penjaga ruko di depan Stupa Bouddhanat. Pasrah saja. Pasti semua akan baik-baik saja.

Kami menghabiskan waktu sekitar 45 menit di Stupa Boudhanath. Tidak ada biaya masuk yang ditarik sewaktu kami memasuki gerbang, padahal ada penjaga di pintu gerbang. Aku rasa disini mereka hanya mengandalkan kejujuran. Kamu jujur kamu bayar, demikian juga sebaliknya. Prinsip yang baik di sebuah negara yang percaya adanya karma.

Stupa Boudhanath bisa dibilang merupakan salah satu tempat paling suci di Nepal. Stupa ini mempunyai gelar stupa terbesar di Nepal, sekaligus Kuil Buddha Tibet tersuci di luar Tibet sendiri. Hal itu bisa terinterpretasi dari banyaknya simbol Buddhisme disini.

Stupa Boudhanath berbentuk persegi dengan mandala berbentuk setengah bola. Bagian utama stupa terlihat sedang direnovasi karena rusak akibat gempa dahsyat berskala 7,8 SR yang meluluhlantahkan Nepal pada 25 April 2015. Tapi rupanya itu sama sekali bukan penghalang, karena masih banyak umat Buddha yang menjalankan ritual mengelilingi stupa sembari berkomat-kamit dan memutar roda doa. Bagi mereka, perjalanan ini adalah suatu perjalanan devosional, perjalanan untuk menuju pencerahan. Kontras dengan kami para turis yang hanya berfoto disana-sini.

Pemandangan di sebelah kiri jalur jalan kaki peziarah didominasi oleh puluhan ruko, cafe, hostel, tempat yoga dan meditasi, restoran, bahkan tempat penukaran uang. Dua konsep berbeda yang dipaksakan berada di satu tempat yang sama.

Kami melangkahkan kaki searah jarum jam mengelilingi stupa. Tanganku beberapa kali memutar roda doa yang banyak terdapat di sekeliling stupa. Rasanya begitu damai dan tentram disini.

Kami memasuki bagian dalam stupa untuk menuju tingkat kedua. Pada bagian dalam, terdapat roda doa yang lebih besar dan tempat bersembahyang. Aku menikmati suasana religi yang benar-benar terasa disini. Bagaimanapun, ini adalah perjalanan yang indah.

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Setelah memberi 'uang parkir' 20 Npr kepada penjaga toko, kami mengarahkan motor ke barat menuju Swayambhunath Stupa. Jarak yang harus kami tempuh sekitar 10 kilometer. Terasa cukup jauh dengan keadaan Kathmandu yang cukup macet dan berdebu dimana-mana....

Stupa Swayambhunath, kami datang!

Memutar roda doa atau roda mani yang berisi mantra suci (GALUH PRATIWI)

Memutar roda doa harus searah jarum jam (GALUH PRATIWI)

Berziarah mengelilingi Stupa Boudhanat sembari membawa kalung doa (GALUH PRATIWI)

Kami mengikuti jalan para peziarah mengelilingi Stupa (GALUH PRATIWI)

Toko pernak-pernik untuk sembahyang umat Buddha (GALUH PRATIWI)

Berziarah seakan tidak memperdulikan keadaan sekitar yang ramai oleh turis (GALUH PRATIWI)

Kehidupan duniawi di sekitar Stupa Boudhanat (GALUH PRATIWI)

Memutar roda doa atau roda mani yang berisi mantra suci (GALUH PRATIWI)

Monasteri di dalam Stupa Boudhanat (GALUH PRATIWI)

Stupa Boudhanat sedang dalam renovasi setelah gempa dahsyat pada 25 April 2015 (GALUH PRATIWI)

Part Selanjutnya: DISINI

[PART 13] Menggapai Himalaya : Menjelajah Jantung Kota Tua Kathmandu !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                           Part Sebelumnya: DISINI

Bermain bersama merpati di Kathmandu Durbar Square, dengan latar salah satu kuil yang masih dalam proses pemulihan pasca gempa Nepal 2015

Menjelang pukul lima pagi, setelah hampir semalaman berguncang di jalanan pegunungan Nepal yang rusak dan berliku, bus akhirnya memasuki Kathmandu. Aku langsung menoleh ke luar jendela. Langit masih gelap kebiruan, sementara lampu-lampu jalan masih menyala samar. Jalanan terlihat lengang, jauh berbeda dengan bayanganku tentang ibu kota Nepal yang selama ini hanya kulihat dari foto dan cerita para backpacker.

Beberapa menit kemudian bus memasuki kawasan Thamel. Inilah kawasan yang sejak awal menjadi tujuan kami. Hampir semua backpacker yang datang ke Kathmandu pasti mengenal nama ini. Thamel adalah jantung wisata Kathmandu, tempat berkumpulnya hotel murah, agen trekking, restoran, money changer, hingga toko perlengkapan pendakian Himalaya.

Bus berhenti dan kami segera turun sambil memanggul ransel masing-masing.

Meski tidak tidur hampir semalaman, entah kenapa aku justru tidak merasa mengantuk. Atau mungkin lebih tepatnya, rasa kantuk itu kalah oleh rasa penasaran dan antusiasme. Ada kota baru yang menunggu untuk dieksplorasi. Ada pengalaman-pengalaman baru yang mungkin akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Udara pagi Kathmandu terasa jauh lebih dingin dibandingkan Lumbini. Aku langsung merapatkan jaket sambil berjalan menyusuri lorong-lorong Thamel yang masih sepi.

Suasananya terasa unik.

Deretan toko berjajar di kanan kiri jalan dengan pintu rolling door yang masih tertutup rapat. Beberapa papan nama hotel, restoran, money changer, dan toko perlengkapan gunung menggantung di atas jalan sempit yang hampir kosong. Sesekali terlihat satu dua orang berjalan kaki, sementara sebagian besar kota tampaknya masih tertidur.

Kami berjalan perlahan sambil mencari penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Saat itu GPS di ponsel belum secanggih sekarang dan internet juga tidak selalu tersedia. Jadi kami beberapa kali berhenti untuk mencocokkan alamat yang kami bawa dengan papan-papan nama yang ada di sepanjang jalan.

Akhirnya penginapan itu ditemukan.

Sayangnya ada satu masalah kecil.

Pintunya masih tertutup rapat.

Aku melihat jam tangan. Baru pukul lima pagi.

Tentu saja terlalu pagi untuk check-in.

Kami sempat mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Mau tidak mau kami akhirnya duduk di depan penginapan sambil menunggu pemiliknya bangun atau resepsionis mulai bekerja.

Dan justru saat itulah rasa kantuk mulai datang menyerang. Kepalaku terasa berat. Mataku mulai sulit terbuka. Setelah semalaman berjaga di dalam bus yang melaju di tepi jurang, tubuhku akhirnya mulai menagih istirahatnya.

Aku duduk bersandar di dinding sambil memperhatikan Thamel yang perlahan mulai terbangun dari tidurnya. Satu per satu toko mulai membuka rolling door. Seorang pria tua terlihat menyapu trotoar di depan tokonya. Dari kejauhan terdengar suara motor pertama pagi itu. Cahaya matahari perlahan mulai menyusup di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri rapat di sepanjang jalan.

Aku menarik napas panjang.

Beberapa jam yang lalu aku masih berada di jalan pegunungan yang membuatku berpikir tentang kematian. Kini aku duduk di jantung Kathmandu, menunggu sebuah penginapan dibuka.

Begitulah perjalanan.

Kadang dalam satu malam saja, hidup bisa membawa kita dari rasa takut menuju rasa bahagia. Dan pagi itu, meski mataku nyaris tertutup karena kantuk, ada satu perasaan yang jauh lebih kuat daripada rasa lelah.

Aku akhirnya sampai di Kathmandu. Kota yang selama bertahun-tahun hanya menjadi titik kecil di peta dan daftar mimpi seorang mahasiswa yang gemar membaca buku-buku perjalanan. Aku benar-benar disini.

***

Sekitar pukul sepuluh pagi, aku akhirnya terbangun. Entah berapa lama aku tertidur setelah berhasil check-in pagi tadi. Yang jelas, rasa lelah akibat perjalanan panjang dari Lumbini sudah jauh berkurang. Setelah mandi dan membereskan barang-barang seperlunya, kami memutuskan untuk langsung keluar mengeksplorasi Kathmandu.

Tujuan pertama tentu saja kawasan Thamel.

Kalau Khao San Road adalah jantung backpacker di Bangkok, maka Thamel bisa dibilang versi Nepalnya. Kawasan ini sudah menjadi pusat wisatawan asing sejak era 1970-an, ketika gelombang hippie dan pelancong dari Eropa mulai berdatangan ke Nepal untuk mencari petualangan, spiritualitas, maupun sekadar menikmati suasana Himalaya. Sejak saat itu, gang-gang sempit Thamel berkembang menjadi labirin hotel, restoran, toko suvenir, agen perjalanan, money changer, hingga toko perlengkapan gunung.

Begitu mulai berjalan kaki, aku langsung paham kenapa banyak backpacker betah berhari-hari tinggal di sini.

Hampir setiap bangunan di sepanjang jalan menawarkan sesuatu. Ada toko yang menjual pashmina, syal kasmir, dan kerajinan tangan khas Nepal. Di sebelahnya berdiri agen trekking yang menawarkan pendakian ke Everest Base Camp, Annapurna Circuit, hingga Langtang. Tak jauh dari sana ada money changer, toko buku bekas, rental sepeda, hingga restoran dengan menu dari berbagai penjuru dunia.

Satu hal yang langsung menarik perhatianku adalah kondisi kabel listriknya.

Aku sudah cukup sering melihat kabel semrawut di berbagai negara Asia, tetapi yang ada di Kathmandu benar-benar berada di level yang berbeda. Di beberapa persimpangan, kabel-kabel hitam menggantung kusut membentuk gumpalan raksasa yang sulit dibedakan mana kabel listrik, mana kabel telepon, dan mana kabel internet. Kalau tidak melihat langsung, mungkin aku akan mengira itu sarang burung berukuran raksasa yang menempel di tiang listrik.

Meski terlihat semrawut, justru pemandangan seperti itulah yang membuat Kathmandu terasa memiliki karakter yang kuat. Kota ini sama sekali tidak berusaha tampil rapi atau modern seperti Singapura. Ia tampil apa adanya.

Menjelang siang, perut kami mulai kembali mengingatkan bahwa sejak pagi belum ada makanan yang benar-benar mengenyangkan masuk ke lambung. Kami akhirnya mampir ke salah satu restoran di kawasan Thamel dan memesan steak yang harganya sekitar empat dolar Amerika.

Bagi ukuran backpacker dengan anggaran terbatas, menu itu sebenarnya sudah tergolong mewah.

Aku masih ingat piring besi panas yang mengepulkan asap saat diantar ke meja. Dagingnya disiram saus lada hitam, ditemani kentang goreng dan sayuran rebus. Setelah beberapa hari terakhir lebih sering makan makanan India dan Nepal, menyantap steak sederhana seperti itu terasa seperti hadiah kecil untuk diri sendiri.

Selesai makan, kami kembali melanjutkan eksplorasi.

Semakin jauh berjalan dari pusat Thamel, suasana kota mulai berubah. Jalan-jalan yang kami lewati terlihat jauh lebih berdebu. Di beberapa titik tampak proyek perbaikan jalan yang masih berlangsung. Tumpukan pasir, batu, dan material bangunan terlihat di pinggir jalan. Kendaraan, sepeda motor, pejalan kaki, hingga becak barang berbagi ruang yang sama di jalanan yang sempit.

Sesekali kami harus menepi memberi jalan pada motor yang melintas dari arah berlawanan.

Meski terlihat kacau, kehidupan kota berjalan dengan ritmenya sendiri.

Pedagang membuka toko, pekerja mengangkut barang menggunakan gerobak dorong, anak-anak pulang sekolah, dan para wisatawan berjalan sambil sesekali melihat peta atau bertanya arah.

Aku juga cukup menikmati melihat etalase toko-toko kecil yang menjual berbagai macam barang. Ada toko alat tulis, toko mainan, toko pakaian, hingga kios-kios kecil yang bahkan sulit kutebak apa sebenarnya yang mereka jual. Banyak di antaranya menempati bangunan tua yang usianya mungkin sudah puluhan tahun.

Berjalan kaki di Kathmandu saat itu terasa seperti menyusuri kota yang sedang berusaha bangkit.

Kurang dari satu setengah tahun sebelumnya, Nepal baru saja diguncang gempa besar pada April 2015 yang menewaskan ribuan orang dan merusak banyak bangunan bersejarah di Kathmandu Valley. Meski kehidupan sudah kembali berjalan normal, jejak-jejak bencana tersebut masih bisa ditemukan di berbagai sudut kota.

Dan tak lama kemudian, kami melihat salah satu contohnya secara langsung.

Di sebuah area terbuka yang dipagari sementara, tampak hamparan bata merah dan puing-puing bangunan tua yang masih dalam proses penataan. Beberapa warga terlihat sedang melakukan ritual keagamaan di dekatnya, sementara papan informasi menjelaskan bahwa lokasi tersebut adalah Kasthamandap.

Konon, bangunan bersejarah inilah yang menjadi asal-usul nama Kathmandu. Kasthamandap merupakan paviliun kayu kuno yang dipercaya dibangun pada abad ke-12 dan selama berabad-abad menjadi salah satu ikon kota. Sayangnya, bangunan tersebut runtuh saat gempa besar Nepal tahun 2015.

Saat kami berdiri di sana, yang tersisa hanyalah area reruntuhan dan proses pemulihan yang masih berlangsung. Sulit membayangkan bahwa bangunan yang pernah bertahan selama ratusan tahun bisa roboh hanya dalam hitungan menit.

Namun di sisi lain, melihat warga yang tetap beraktivitas, beribadah, dan melanjutkan kehidupan di sekitar reruntuhan itu juga menunjukkan sesuatu yang lain. Kathmandu memang terluka oleh gempa. Tapi jelas dia tidak menyerah.

Dari Thamel kami terus berjalan kaki menuju Kathmandu Durbar Square. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar belasan menit berjalan santai melewati gang-gang tua Kathmandu yang terasa hidup sekaligus semrawut. Semakin dekat ke pusat kota lama, suasananya mulai berubah. Bangunan-bangunan modern perlahan berganti dengan rumah-rumah bata merah berusia ratusan tahun, jendela kayu berukir khas Newari, serta kuil-kuil kecil yang muncul hampir di setiap sudut jalan.

Ketika akhirnya memasuki kawasan Durbar Square, kesan pertama yang muncul justru bukan kekaguman, melainkan rasa haru. Aku datang ke Nepal hanya sekitar satu tahun setelah Gempa Nepal 2015, salah satu bencana terbesar dalam sejarah negara itu. Gempa berkekuatan 7,8 magnitudo tersebut menewaskan ribuan orang dan menghancurkan banyak bangunan bersejarah di Lembah Kathmandu yang telah berdiri selama berabad-abad.

Dan jejak bencana itu masih terlihat jelas di mana-mana. Beberapa kuil masih ditopang balok-balok kayu besar agar tidak roboh. Sebagian bangunan hanya menyisakan pondasi dan tumpukan batu bata. Di beberapa titik berdiri papan informasi yang menjelaskan bangunan mana yang rusak, mana yang sedang direstorasi, dan mana yang hancur total akibat gempa.

Namun yang menarik, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Di salah satu sudut lapangan, aku melihat beberapa perempuan sedang melakukan ritual keagamaan di depan api kecil yang menyala. Orang-orang lalu lalang, berdoa, berbincang, atau sekadar duduk menikmati sore. Bagi warga Kathmandu, kawasan ini bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Kathmandu Durbar Square sendiri merupakan jantung Kerajaan Kathmandu pada masa lalu. Selama berabad-abad kawasan ini menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja Dinasti Malla sebelum Nepal dipersatukan oleh Prithvi Narayan Shah pada abad ke-18. Karena nilai sejarah dan budayanya yang sangat tinggi, kawasan ini kemudian ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Berjalan di sini rasanya seperti berjalan di sebuah museum terbuka.

Hampir setiap bangunan memiliki cerita. Hampir setiap sudut menyimpan sejarah.

Salah satu bangunan yang menarik perhatianku adalah Kasthamandap, bangunan kuno yang konon menjadi asal-usul nama "Kathmandu". Menurut legenda, bangunan tersebut dibangun dari kayu satu pohon raksasa pada abad ke-12. Sayangnya ketika aku datang, yang tersisa hanya area reruntuhan dan proses restorasi. Gempa 2015 menghancurkan bangunan bersejarah tersebut hingga rata dengan tanah.

Melihat foto-foto kondisi sebelum gempa yang dipasang di papan informasi lalu membandingkannya dengan kondisi di depanku membuatku benar-benar menyadari betapa dahsyatnya bencana itu.

Tidak jauh dari sana berdiri beberapa kuil tua yang masih bertahan. Sebagian terlihat miring, sebagian lagi ditopang balok-balok kayu darurat. Anehnya, justru kondisi itulah yang membuat tempat ini terasa begitu nyata. Aku tidak sedang melihat bangunan bersejarah yang sempurna, melainkan melihat sebuah kota tua yang sedang berjuang bangkit.

Di antara bangunan-bangunan kuno itu, ada satu hal lain yang tidak mungkin dilewatkan.

Merpati.

Jumlahnya luar biasa banyak.

Atap-atap kuil seolah berubah menjadi rumah bagi ribuan merpati. Mereka bertengger di setiap sudut genteng, memenuhi halaman kuil, bahkan nyaris menutupi tumpukan batu bata bekas bangunan yang runtuh. Para pedagang menjual biji-bijian untuk wisatawan yang ingin memberi makan mereka.

Tentu saja aku ikut mencobanya.

Beberapa genggam biji-bijian langsung mengubah suasana. Dalam hitungan detik puluhan merpati berhamburan mendekat. Sayap mereka mengepak ke segala arah, menciptakan suara gemuruh yang khas. Aku tertawa sendiri melihat betapa agresifnya mereka berebut makanan.

Mungkin terdengar sederhana, tetapi momen itu menjadi salah satu kenangan yang paling kuingat dari Kathmandu.

Di sekelilingku berdiri kuil-kuil berusia ratusan tahun yang sebagian masih luka akibat gempa. Di atasnya ribuan merpati beterbangan tanpa peduli pada sejarah, politik, maupun bencana yang pernah terjadi. Dan di tengah semua itu, aku berdiri sebagai seorang backpacker yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Nepal.

Kadang-kadang kebahagiaan memang sesederhana itu.

Tidak perlu naik gunung. Tidak perlu mencapai tujuan besar. Cukup berdiri di sebuah tempat yang selama bertahun-tahun hanya ada dalam imajinasi, lalu menyadari bahwa akhirnya kita benar-benar berada di sana.

Setelah puas berkeliling dan bermain bersama merpati, kami melanjutkan langkah menyusuri bagian lain Kathmandu Durbar Square. Semakin jauh berjalan, semakin banyak detail menarik yang bermunculan. Toko-toko kecil menjual lukisan thangka berwarna-warni, ukiran kayu khas Nepal, patung-patung Buddha dan Hindu, hingga berbagai kerajinan tangan yang memenuhi teras bangunan tua di sepanjang alun-alun.

Dan tanpa sadar, hampir setengah hari telah berlalu hanya untuk menjelajahi satu sudut kecil Kathmandu.

Padahal masih banyak tempat lain yang menunggu untuk kami lihat.

Setelah puas berkeliling di sekitar Kathmandu Durbar Square, aku terus melangkah menyusuri lorong-lorong dan halaman-halaman kecil yang saling terhubung satu sama lain. Semakin jauh berjalan, semakin terasa bahwa kawasan ini bukan sekadar sebuah alun-alun bersejarah. Seluruh area ini seperti sebuah kota tua yang masih hidup, tempat sejarah, agama, dan kehidupan sehari-hari bercampur menjadi satu tanpa batas yang jelas.

Di salah satu sudut, aku menemukan sebuah gerbang bata merah yang cukup mencolok. Gerbang itu dihiasi ukiran warna-warni yang rumit, sementara sepasang singa putih berdiri menjaga pintu masuknya. Dari kejauhan bangunan tersebut terlihat megah, namun ketika didekati, bekas-bekas gempa bumi yang mengguncang Nepal setahun sebelumnya masih tampak jelas di berbagai sudutnya.

Sebagian bangunan di sekitarnya masih disangga balok-balok kayu besar. Tumpukan bata merah terlihat di sana-sini. Beberapa kuil tampak kehilangan bagian atap atau ornamen yang dulu menghiasinya. Namun yang menarik, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Warga duduk santai di teras bangunan bersejarah, pedagang menawarkan dagangannya, sementara wisatawan dan peziarah lalu-lalang memenuhi kawasan tersebut.

Pemandangan seperti ini membuatku terus teringat bahwa Kathmandu bukanlah kota yang dibangun untuk wisatawan. Ini adalah kota yang benar-benar hidup.

Bangunan-bangunan tua di sini bukan museum yang dipagari dan dijaga ketat. Kuil-kuil masih digunakan untuk beribadah. Halaman-halaman kuno masih menjadi tempat berkumpul warga. Bahkan beberapa bangunan yang sedang direstorasi pun tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kathmandu.

Di tengah kawasan aku juga menemukan beberapa kuil khas Nepal yang bentuknya sangat berbeda dengan kuil-kuil yang biasa kulihat di Asia Tenggara. Atapnya bertingkat-tingkat seperti pagoda dengan dominasi kayu berukir yang luar biasa detail. Sulit membayangkan bahwa sebagian besar bangunan tersebut dibangun ratusan tahun lalu oleh para pengrajin Newari yang terkenal akan kemampuan seni pahat mereka.

Setiap sudut seolah memiliki cerita.

Ada kuil yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Malla saat Kathmandu masih berupa kerajaan-kerajaan kecil yang saling bersaing. Ada bangunan yang menjadi bagian dari kompleks Hanuman Dhoka, istana kerajaan Nepal selama berabad-abad. Ada pula bangunan keagamaan yang menjadi saksi berbagai upacara kerajaan, penobatan raja, hingga festival-festival besar yang masih berlangsung sampai sekarang.

Yang membuatku semakin terkesan adalah bagaimana kawasan ini berhasil bertahan melewati begitu banyak peristiwa sejarah. Gempa bumi besar berkali-kali mengguncang Kathmandu selama ratusan tahun, termasuk gempa dahsyat tahun 2015 yang meruntuhkan banyak bangunan bersejarah. Namun masyarakat Nepal selalu membangunnya kembali, batu demi batu, kayu demi kayu.

Di beberapa lokasi bahkan aku bisa melihat langsung proses restorasi yang masih berlangsung. Balok penyangga dipasang di dinding bangunan tua, sementara tumpukan bata merah menunggu untuk digunakan kembali. Pemandangan itu mungkin terlihat biasa bagi warga setempat, tetapi bagiku justru menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sesuatu yang bisa bertahan dengan sendirinya. Selalu ada orang-orang yang bekerja keras untuk menjaganya tetap hidup.

Tak jauh dari sana berdiri sebuah stupa putih yang bentuknya cukup kontras dibandingkan bangunan bata merah di sekitarnya. Stupa tersebut dikenal sebagai Kathesimbhu Stupa, salah satu stupa Buddha penting di pusat Kathmandu. Konon stupa ini dibangun sebagai replika dari Swayambhunath yang berada di atas bukit sebelah barat kota. Pada masa lalu, tidak semua orang mampu melakukan perjalanan ke Swayambhunath, sehingga dibangunlah stupa ini agar masyarakat tetap bisa beribadah di pusat kota.

Suasananya terasa jauh lebih tenang dibandingkan area utama Durbar Square. Beberapa warga berjalan memutari stupa sambil berdoa, sementara yang lain duduk santai menikmati sore yang mulai mendung.

Aku berhenti cukup lama di sana.

Bukan karena ada aktivitas khusus yang ingin kulihat, melainkan karena aku mulai menyadari betapa menariknya Kathmandu. Kota ini memang tidak selalu cantik dalam pengertian yang biasa. Jalanannya berdebu, kabel listrik semrawut menggantung di mana-mana, bangunan tua berdempetan dengan bangunan modern yang seadanya, dan bekas gempa masih terlihat jelas di berbagai sudut.

Namun justru semua ketidaksempurnaan itu yang membuat Kathmandu terasa begitu nyata.

Kota ini tidak mencoba menjadi rapi atau megah untuk menyenangkan wisatawan. Ia tampil apa adanya. Penuh sejarah, penuh luka, penuh kehidupan.

Dan semakin lama aku berjalan di antara kuil-kuil tua, stupa, rumah-rumah bata merah, serta keramaian warga lokal, semakin aku merasa bahwa inilah alasan mengapa banyak orang jatuh cinta pada Kathmandu. Bukan karena kotanya sempurna, melainkan karena kota ini memiliki jiwa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata...


Part Selanjutnya: DISINI

[PART 12] Menggapai Himalaya : Perjalanan Menantang Maut dari Lumbini ke Kathmandu !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI

Bus Lumbini - Kathmandu yang kami tumpangi..

"Tidak, tidak ada bus turis yang berangkat malam hari. Jika kamu harus berangkat malam ini, kamu harus memakai bus lokal."

"Tidak masalah, di mana aku bisa membeli tiketnya?" jawabku. Aku justru senang. Bus lokal pasti lebih murah tentunya.

Ternyata perjalanan malam hari itu menyadarkanku sesuatu, bahwa kematian itu begitu dekat. Kematian bisa mengincar kita kapan saja.

Aku melihat sisi kiriku, roda bus hanya berjarak kurang dari satu meter ke bibir jurang! Kalau sampai bus ini terpeleset dan jatuh, tidak ada kesempatan lagi. Kami akan digilas oleh derasnya aliran sungai yang membelah perbukitan di bawah sana.

Jantungku berdegup kencang. Aku nyaris tidak tidur semalaman. Busku berjalan lambat beriringan dengan beberapa bus dan truk di depan. Jalanan bergelombang, rusak parah dan berlubang-lubang mengular berpuluh-puluh kilometer ke depan. Jalanan basah dan licin sehabis diguyur hujan deras, sebelah kiri jurang menganga. Medan perbukitan meliuk-liuk menanti kami. Menambah sedikit kecepatan lagi tentunya mempertaruhkan nyawa puluhan penumpang di bus yang kebanyakan tertidur pulas.

Di tengah ketakutanku aku membuka jendela. Semburan angin dingin langsung menampar wajahku. Aku tersenyum bahagia. Aku telah resmi memasuki kawasan Pegunungan Himalaya. Bukankah ini mimpiku sejak dulu? Aku biarkan udara dingin menerpa wajahku selama beberapa saat. Kurapatkan jaketku. Ketakutanku sedikit berkurang.

Pada tengah malam, kami berhenti beberapa saat di sebuah kedai kecil untuk makan dan buang air kecil.

"Aku malas makan, ayo kita beli teh chai saja," kataku ke temanku.

Perjalanan kembali berlanjut, kututup kembali kaca jendelaku. Udara semakin dingin. Aku mencoba memejamkan mata. Berpasrah pada Tuhan, pada sopir bus, pada takdir. Aku sedikit tersenyum, apakah aku berbahagia di tengah kematian yang bisa saja mengincarku?

Part Selanjutnya: DISINI

[PART 11] Menggapai Himalaya : Melacak Jejak Langkah Buddha di Tanah Suci Lumbini ! (2)

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                              Part Sebelumnya: DISINI 

Roda doa raksasa (prayer wheel atau Mani wheel) berwarna merah menyala dengan ukiran mantra Om Mani Padme Hum yang berada di The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa (biara beraliran Buddha Tibet)

Setelah berpamitan dengan bapak ibu kenalan baru kami, kami kembali naik ke rickshaw tua kami. Kali ini, kayuhan sepeda bapak tua membawa kami menuju pemberhentian berikutnya yaitu Kompleks Royal Thai Monastery, sebuah biara megah yang dibangun oleh negara Thailand.

Saat kami tiba di sana, hari sudah beranjak sore, sekitar jam 16.30. Namun matahari khas Nepal masih menyinari bumi dengan sangat terik dan menyengat, seolah enggan meredupkan sinarnya. Untungnya, kompleks ini dikelilingi oleh banyak pepohonan rimbun. Di antara batang-batang pohon itu, angin sore berembus sepoi-sepoi, lumayan memberikan sedikit kesegaran di tengah hawa panas yang membakar kulit.

Suasana kompleks biara terasa begitu sepi, lengang, dan damai. Tidak ada keriuhan turis ataupun hiruk-pikuk kota; hanya ada kesunyian yang pekat, seakan-akan waktu sedang melambat di sini. Di beberapa sudut, tampak satu-dua peziarah berjalan dalam diam atau duduk termenung, benar-benar larut dalam keheningan tempat ini.

Begitu memasuki area gerbang, sebuah bangunan bergaya arsitektur khas Thailand langsung mencuri perhatian kami. Desain atapnya yang bertumpuk dengan hiasan merah menyala dan ukiran emas murni kelihatan kontras sekali dengan dinding putihnya yang bersih dan megah. Aku sempat berpose sebentar di depan tangga utamanya, menangkupkan kedua tangan di dada untuk memberi salam hormat.

Lagi-lagi, kami harus melepas alas kaki sebelum mengeksplorasi lebih jauh. Berjalan di atas pelataran ubinnya yang masih menyimpan sisa panas matahari siang membuat kami harus melangkah cepat-cepat supaya telapak kaki tidak melepuh. Di area halaman luar yang beralaskan rumput hijau, perhatianku tersita oleh sebuah tenda yang menaungi deretan batu bulat besar berlapis emas. Batu-batu tersebut dipenuhi oleh tempelan kertas emas yang disematkan oleh para peziarah yang datang ke sini untuk berdoa. Di belakangnya, terdapat papan pengumuman beraksara Thailand.

Kami kemudian melangkah perlahan ke bagian dalam aula utama biara. Begitu melewati pintu besar, hawa terik dari luar langsung berganti dengan kesejukan yang menenangkan. Aula dalam ini dibangun dengan sangat megah, memiliki langit-langit tinggi berwarna merah marun yang dihiasi pola-pola dekoratif keemasan. Di bagian tengah ruangan, sebuah altar emas bertingkat berdiri dengan anggun, menopang patung Buddha yang berkilau indah di bawah temaram lampu dalam ruangan.

Fredo memintaku untuk duduk di anak tangga marmer putih, tepat di depan batas pagar altar utama. Sambil menikmati keheningan total di dalam ruangan, aku tersenyum menghadap kamera. Di dekat altar utama, terdapat juga sebuah patung emas berukuran kecil yang menggambarkan sosok Pangeran Siddharta semasa bayi dengan satu tangan menunjuk ke langit, dihiasi rangkaian bunga segar yang ditata rapi di bawah tatakannya.

Sebelum menyudahi kunjungan singkat di biara Thailand ini, kami sempat berjalan ke sisi sayap bangunan yang seluruh arsitekturnya dilapisi warna putih bersih dengan ukiran yang detail. Di sudut lorongnya yang teduh, terlihat dua orang peziarah sedang duduk santai, menikmati semilir angin sore yang berembus pelan di antara pilar-pilar putih.

Keluar dari ketenangan biara Thailand, kami kembali disambut embusan angin sore yang kering. Bapak tua pengayuh rickshaw langsung mengarahkan sepedanya menuju kompleks berikutnya yang tidak kalah mencuri perhatian. Dari kejauhan, sebuah stupa dengan arsitektur yang sangat mencolok dan berbeda dari biara-biara sebelumnya sudah melambai-lambai minta dikunjungi.

Tempat ini bernama The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa. Begitu turun dari rickshaw, aku sempat tertegun melihat perpaduan warnanya. Berbeda dengan biara Thailand yang didominasi warna putih bersih, stupa beraliran Tibet ini berani bermain warna. Atapnya berbentuk kanopi besar berwarna jingga terang, menopang struktur stupa putih di atasnya yang dihiasi ukiran serta relief warna-warni yang sangat meriah khas Vajrayana. Di bagian depan, sebuah papan nama berbentuk lengkungan megah mempertegas nama tempat suci ini.

Sinar matahari sore yang mulai condong masih terasa menyengat saat aku memutuskan duduk sejenak di tepian semen pelataran depan. Bertelanjang kaki di atas lantai yang hangat, aku tersenyum tipis ke arah kamera dengan latar belakang tangga putih yang menanjak menuju bangunan utama. Di sisi kanan tangga, sebuah patung kecil berwarna keemasan berdiri anggun di antara rimbunnya tanaman hias, seolah ikut mengawasi ketenangan tempat ini.

Ritual di Lumbini ini memang melatih kesabaran telapak kaki. Kami kembali melepas alas kaki untuk mengeksplorasi area halamannya yang asri dan beralaskan rumput hijau. Di salah satu sudut taman yang dirawat rapi, langkah kami terhenti di depan sebuah rupang yang sangat indah. Patung seorang perempuan bergaun biru dan kain merah sedang berbaring menyamping dengan posisi yang sangat anggun. Di dekatnya, ada patung gajah putih kecil yang bersembunyi di balik semak. Suasana taman yang sepi, ditemani gesekan daun-daun dari pepohonan sekitar karena tiupan angin sore, membuat momen melihat rupang ini terasa sangat syahdu.

Sebelum naik ke bangunan utama, kami melewati sebuah paviliun terbuka yang menyimpan roda doa raksasa (prayer wheel atau Mani wheel) berwarna merah menyala dengan ukiran mantra Om Mani Padme Hum berwarna emas yang timbul. Ukurannya luar biasa besar, bahkan tingginya melebihi badanku sendiri.

Aku tidak melewatkan kesempatan untuk berdiri di samping roda doa tersebut. Sambil menyentuh permukaannya yang kokoh, aku berfoto di sana. Rasanya magis sekali bisa menyentuh salah satu simbol spiritual Tibet ini langsung di tanah kelahiran Buddha.

Kami kemudian melangkah masuk ke dalam area stupa Tibet ini. Di dalam ruangan, suasananya begitu teduh dan membuatku terpaku. Dindingnya dipenuhi oleh ribuan laci dan kotak kaca kecil yang masing-masing berisi rupang Buddha berukuran mini. Di tengah ruangan tersebut, terdapat altar berwarna merah-emas yang berdiri dengan sangat megah dengan patung Buddha di dalamnya. Aku melangkah mendekat, berdiri di depan altar utama yang indah ini sambil menangkupkan kedua tangan di dada, meresapi setiap jengkal kunjungan spiritual yang begitu berharga.


Kemegahan Klasik Zhong Hua Chinese Buddhist Monastery

Hanya beberapa kayuhan dari stupa Tibet, bapak tua pengayuh rickshaw membawa kami memasuki gerbang biara berikutnya yang suasananya mendadak terasa sangat berbeda. Begitu melihat arsitekturnya, ingatan kami langsung melempar pada film-film kolosal Tiongkok. Ya, ini adalah Zhong Hua Chinese Buddhist Monastery, biara resmi milik negara China di Lumbini.

Matahari sore yang semakin condong ke barat justru memancarkan kilau keemasan yang indah pada atap-atap keramik kuil ini. Berbeda dengan biara-biara sebelumnya yang berukuran lebih bersahaja, kuil China ini terasa sangat megah, kokoh, dan simetris. Halamannya berupa hamparan rumput hijau berhias bunga-bunga tropis yang dirawat sangat rapi. Di tengah jalan setapak menuju bangunan utama, berdiri sebuah tempat pembakaran dupa (incense burner) raksasa dari perunggu, memberikan atmosfer spiritual yang kental.

Uniknya, di sepanjang pagar tanaman dan jalur pejalan kaki di area luar ini, terbentang untaian bendera doa warna-warni (prayer flags) khas Buddha Tibet. Perpaduan antara bendera doa Tibet yang berkibar ditiup angin sore dengan bangunan megah berarsitektur khas dinasti China kuno ini menciptakan pemandangan yang luar biasa cantik. Saat melangkah mendekati aula utama, bentangan bendera doa itu bergelantungan rendah di atas kepala, menciptakan lorong warna-warni yang estetik. Di pelataran depan, tampak beberapa orang lokal dan peziarah sedang bersantai atau mengobrol, menikmati keteduhan sore di area kuil yang bersih ini.

Sebelum masuk ke dalam, kami disambut oleh dua patung penjaga raksasa yang berdiri gagah di balik pagar pembatas kayu. Detail pakaian perang mereka diukir dengan sangat rumit dan dicat warna-warni; yang satu berwajah garang sambil memegang ular kobra hitam, sementara yang satu lagi tampak memegang payung suci dan pusaka. Tatapan mata mereka yang tegas seolah sedang menjaga kesucian tempat ini dari hal-hal negatif.

Di dalam bangunan utama kuil, suasana terasa sangat adem dan sunyi. Di tengah ruangan, sebuah patung Buddha Gautama bertubuh emas berukuran raksasa duduk dengan anggun di atas singgasana teratai. Di belakang rupang tersebut, terdapat lingkaran pelindung berukir emas yang sangat megah. Langit-langit aula dipenuhi oleh panel kayu kotak-kotak berukir khas arsitektur China klasik, menciptakan ruang yang begitu sakral dan membuat siapa pun yang masuk otomatis mengecilkan suara mereka.

Melangkah keluar dari area biara China, sebuah momen tak terduga kembali mewarnai sore kami. Di bawah rindangnya sebatang pohon, kami melihat seorang Bhante sedang duduk santai di dekat motornya. Jubah oranye yang dikenakannya terlihat mencolok di tengah teduhnya pepohonan. Di samping beliau juga tampak sebuah patra besar yang biasa digunakan untuk menerima persembahan.

Melihat beliau yang tampak ramah, aku pun memberanikan diri menghampiri. Bhante itu menyambut kami dengan senyum hangat. Tak lama kemudian aku sudah ikut duduk di sampingnya, beralaskan tanah seperti beliau. Kami mengobrol sebentar, berfoto bersama, lalu melanjutkan perjalanan. Pertemuan yang hanya berlangsung beberapa menit itu entah kenapa terasa begitu berkesan dan menjadi salah satu kenangan manis yang kubawa pulang dari Lumbini.

Setelah berpamitan, bapak tua pengayuh rickshaw kembali mengayuh sepedanya menyusuri jalanan kompleks yang kini terasa jauh lebih teduh dibandingkan siang tadi. Beberapa menit kemudian kami tiba di sebuah pelataran terbuka. Di tengahnya berdiri sebuah patung emas Pangeran Siddharta semasa bayi yang langsung menarik perhatian.

Patung tersebut berdiri di atas alas teratai berwarna emas dengan satu tangan menunjuk ke langit. Sinar matahari sore yang mulai melandai membuat permukaannya berkilauan indah. Pada bagian bawahnya terdapat plakat bertuliskan The Bodhisattva Siddhartha – Visit Lumbini Year 2012.

Tak jauh dari lokasi patung itu, kami menemukan sebuah papan informasi besar yang menjelaskan kawasan Sacred Garden atau Taman Suci Lumbini. Dari sinilah aku kembali membaca sejarah tempat yang selama ini hanya kukenal dari buku-buku dan cerita keagamaan. Kawasan ini merupakan bagian paling penting di Lumbini karena di sinilah dipercaya Siddharta Gautama dilahirkan.

Di dekat gerbang masuk taman suci, perhatianku sempat tertarik pada bendera Nepal yang berkibar tertiup angin sore. Bentuknya yang unik, berupa dua segitiga yang bertumpuk, memang berbeda dari bendera negara mana pun di dunia. Di sekelilingnya terpasang untaian bendera doa warna-warni yang menambah suasana khas kawasan suci ini. Tentu saja aku tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto di sana.

Tak lama kemudian kami berjalan menuju area inti dari seluruh Kompleks Lumbini, yaitu Kuil Mayadevi. Beberapa petugas berjaga di sekitar pintu masuk, sementara suasana di dalam kawasan terasa tenang dan tertata rapi. Pepohonan besar, taman hijau, dan jalur pejalan kaki yang bersih membuat tempat ini terasa jauh berbeda dibandingkan keramaian kota-kota yang sebelumnya kami datangi di India.

Begitu melewati gerbang, bangunan utama Kuil Mayadevi langsung terlihat di depan kami. Bangunan berwarna putih ini sengaja dibangun untuk melindungi situs arkeologi asli yang diyakini sebagai tempat kelahiran Sang Buddha. Di salah satu sisinya terdapat prasasti yang menandai kawasan ini sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sebelum masuk lebih jauh, kami sempat membaca papan informasi yang menjelaskan berbagai temuan arkeologi penting di dalam kompleks tersebut. Mulai dari Marker Stone yang diyakini sebagai titik kelahiran Buddha, relief Ratu Mayadevi, hingga peninggalan Raja Asoka yang berasal dari abad ke-3 sebelum Masehi.

Kami kemudian berjalan mengelilingi area luar kuil. Di sekeliling bangunan utama terbentang reruntuhan bata kuno yang merupakan sisa-sisa vihara, stupa, dan bangunan keagamaan dari berbagai periode sejarah. Bata-bata merah tua itu tersusun membentuk fondasi dan dinding rendah yang kini dikelilingi hamparan rumput hijau.

Saat melangkah masuk ke dalam interior kuil, suasananya mendadak berubah menjadi sangat senyap, sejuk, dan remang-remang. Di sana, kami dihadapkan pada situs arkeologi yang posisinya berada di bawah tanah, layaknya sebuah area ekskavasi yang digali ke bawah. Kami berjalan menyusuri jembatan kayu yang dibangun mengambang di atas hamparan batu-batuan kuno yang bersahaja. Di titik paling bawah dari labirin batu bata purba itulah, terdapat sebuah batu penanda asli (Marker Stone) yang dilindungi kaca tebal. Melihat langsung batuan sederhana di area bawah tanah yang menjadi saksi bisu lahirnya sebuah ajaran besar dunia ini benar-benar memberikan sensasi magis yang spiritual sekaligus membuatku merinding.

Setelah beberapa saat berada di dalam bangunan, kami kembali keluar menuju area terbuka. Cahaya matahari sore yang hangat langsung menyambut kami. Tak jauh dari Kuil Mayadevi terdapat sebuah kolam persegi panjang yang dikenal dengan nama Puskarini atau Sacred Pond.

Menurut tradisi Buddhis, kolam inilah tempat Ratu Mayadevi mandi sebelum melahirkan Siddharta Gautama. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa bayi Siddharta dimandikan di tempat ini setelah kelahirannya. Permukaan air kolam tampak tenang, memantulkan warna langit sore yang perlahan mulai berubah keemasan. Di sekelilingnya, beberapa peziarah duduk menikmati suasana yang damai sambil sesekali memandangi bangunan Kuil Mayadevi yang berdiri di belakangnya.

Kami kemudian melanjutkan langkah menyusuri area taman suci yang dipenuhi sisa-sisa bangunan kuno dari berbagai periode sejarah. Bata-bata merah tua yang tersusun membentuk fondasi dan dinding rendah tersebar di berbagai sudut kawasan. Sebagian merupakan bekas vihara, sebagian lagi adalah sisa-sisa stupa dan bangunan keagamaan yang pernah berdiri di sini berabad-abad lalu.

Menjelang keluar dari kawasan Sacred Garden, kami tiba di sebuah monumen bersejarah lain yang tak kalah penting, yaitu Pilar Asoka.

Pilar batu besar ini didirikan oleh Raja Asoka sekitar tahun 249 SM saat beliau melakukan perjalanan ziarah ke Lumbini. Pada bagian prasastinya tertulis keterangan yang menyebutkan bahwa tempat ini merupakan lokasi kelahiran Sakyamuni Buddha. Keberadaan prasasti tersebut menjadi salah satu bukti arkeologis terkuat yang menghubungkan Lumbini dengan kelahiran Siddharta Gautama.

Kami sempat berhenti cukup lama di depan pilar tersebut sambil membaca papan informasi yang menjelaskan sejarah penemuannya kembali pada akhir abad ke-19. Sulit membayangkan bahwa pilar yang kini berdiri tenang di tengah taman ini telah bertahan lebih dari dua ribu tahun dan masih menjadi saksi bisu perjalanan sejarah hingga hari ini.

Namun saat itu hari sudah benar-benar sore. Bayangan pepohonan mulai memanjang dan langit perlahan berubah warna. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri kunjungan di Sacred Garden.

Setelah berjalan kembali menuju pintu keluar, kami menemui bapak tua pengayuh rickshaw yang sejak tadi menunggu dengan sabar. Beliau lalu mengantar kami kembali ke terminal bus tempat kami membeli tiket siang tadi.

Saat tiba di terminal, suasananya sudah jauh lebih ramai dibandingkan siang hari. Para penumpang mulai berdatangan dengan tas dan barang bawaan mereka masing-masing. Sementara itu langit di atas Lumbini perlahan berubah menjadi jingga.

Petualangan kami di kota kelahiran Sang Buddha akhirnya berakhir di sini.

Malam ini, sebuah perjalanan panjang menanti. Bus menuju Kathmandu sudah bersiap berangkat, dan kami akan kembali menghabiskan semalaman di jalan untuk menuju tujuan berikutnya di Nepal.

Part Selanjutnya: DISINI