Traveling memang menyenangkan, tetapi ada beberapa situasi yang mudah-mudahan tidak pernah kita alami. Salah satunya adalah ketika sedang berjalan sendirian, terutama pada malam hari, lalu muncul perasaan bahwa ada seseorang yang mengikuti kita.
Bayangkan kita sedang traveling di kota yang belum terlalu dikenal. Malam itu kita baru selesai makan atau jalan-jalan dan sekarang sedang berjalan kembali menuju hotel. Awalnya semuanya terasa biasa saja. Sampai kemudian kita menyadari ada seseorang yang sudah beberapa menit berjalan di belakang.
Kita belok, dia ikut belok. Kita menyeberang jalan, beberapa saat kemudian dia ikut menyeberang. Mulailah muncul pertanyaan di kepala, “Ini orang memang ngikutin aku atau cuma kebetulan jalannya searah?”
Situasi seperti ini membingungkan karena kita belum tahu apakah benar-benar sedang berada dalam bahaya. Bisa saja memang hanya kebetulan. Tetapi kalau ternyata bukan, keputusan yang kita ambil dalam beberapa menit berikutnya bisa menjadi sangat penting.
Masalahnya, respons spontan kita belum tentu menjadi respons yang paling aman. Karena merasa takut, kita mungkin ingin mempercepat langkah dan segera kembali ke hotel. Padahal kalau orang tersebut benar-benar mengikuti, kita justru berpotensi menunjukkan tempat kita menginap. Kita mungkin tergoda masuk ke gang lain untuk memastikan apakah dia benar-benar mengikuti, padahal tanpa sadar kita malah meninggalkan jalan ramai dan masuk ke tempat yang lebih sepi. Atau kita memilih masuk minimarket dan menunggu orang tersebut pergi, tetapi kemudian muncul masalah baru. Bagaimana kalau dia malah ikut menunggu di luar sementara malam semakin larut dan tempat tersebut perlahan mulai sepi?
Karena itulah menghadapi situasi seperti ini bukan sekadar perkara 'lari kalau merasa takut.' Kita perlu mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan sejak pertama kali muncul kecurigaan, ke mana harus bergerak, kapan harus meminta bantuan, apa yang dilakukan kalau orang tersebut mulai mendekat, sampai apa yang harus dilakukan kalau situasinya berkembang menjadi kontak fisik.
Panduan ini kususun berdasarkan rekomendasi keselamatan personal dan perjalanan dari beberapa sumber, terutama Suzy Lamplugh Trust, ProtectUK, serta U.S. Department of State. Salah satu prinsip yang konsisten dalam berbagai panduan tersebut adalah tetap memperhatikan lingkungan, bergerak menuju tempat yang lebih aman dan terdapat orang lain, serta mencari bantuan ketika merasa berada dalam bahaya. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About; ProtectUK — Personal Security)
Namun ada satu hal yang perlu diingat sejak awal. Tujuan kita bukan membuktikan bahwa orang tersebut benar-benar berniat jahat. Kita juga tidak perlu menjadi detektif, mencari tahu siapa dia, atau sengaja menguji seberapa jauh dia akan mengikuti kita. Kalau ternyata kecurigaan kita salah, tidak masalah. Mungkin kita hanya mengambil jalan sedikit lebih jauh, masuk ke toko sebentar, atau meminta bantuan yang akhirnya tidak diperlukan. Tetapi kalau kecurigaan kita benar, tindakan pencegahan sederhana tersebut bisa membuat perbedaan besar.
Jadi anggap saja suatu malam kita sedang berjalan sendirian di kota asing dan tiba-tiba merasa ada seseorang yang terus mengikuti dari belakang.
Apa yang harus kita lakukan?
Kita mulai dari detik pertama ketika rasa curiga itu muncul.
1. Jangan langsung panik. Tetap waspada dan cari tahu apakah orang tersebut masih mengikuti kita
Bayangkan kita sedang traveling sendirian di kota yang belum terlalu kita kenal. Hari sudah malam dan kita sedang berjalan kembali menuju hotel atau hostel. Jalan masih cukup ramai, tetapi tidak seramai beberapa jam sebelumnya. Tiba-tiba kita sadar ada seseorang yang sejak beberapa menit lalu terus berada di belakang kita.
Awalnya mungkin kita berpikir, "Ah, paling cuma kebetulan jalannya searah."
Dan memang, seseorang yang berjalan di belakang kita tentu tidak otomatis berarti sedang mengikuti kita. Namun, kalau keberadaan orang tersebut mulai membuat kita tidak nyaman, jangan mengabaikan perasaan itu begitu saja. Suzy Lamplugh Trust secara khusus menyarankan bahwa jika kita merasa sedang diikuti, percayai insting dan segera ambil tindakan. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Pada saat yang sama, tingkatkan kewaspadaan terhadap keadaan sekitar. Jangan sampai perhatian kita hanya terfokus kepada orang yang berada di belakang sampai kita justru tidak memperhatikan lingkungan. ProtectUK memasukkan situational awareness atau kesadaran terhadap keadaan sekitar sebagai salah satu unsur penting dalam keselamatan personal. Mereka juga menyarankan kita merencanakan rute yang aman serta menghindari titik-titik seperti gang yang sepi, tempat dengan penerangan buruk, dan area parkir yang terisolasi. (Sumber: ProtectUK — Personal Security)
Karena itu, sambil terus berjalan, perhatikan apa yang ada di sekitar kita. Apakah di depan terdapat minimarket, restoran, pusat perbelanjaan, stasiun, hotel, pos keamanan, atau tempat lain yang terang dan terdapat banyak orang? Kita belum tentu harus masuk ke sana saat itu juga, tetapi setidaknya kita sudah mengetahui ke mana harus bergerak kalau situasinya semakin mencurigakan. Suzy Lamplugh Trust menyarankan orang yang merasa tidak aman untuk mencari tempat aman seperti toko atau tempat yang terdapat orang lain. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Lalu bagaimana kita mengetahui apakah orang tersebut memang masih mengikuti kita?
Salah satu cara sederhana yang secara eksplisit disarankan Suzy Lamplugh Trust adalah menyeberang jalan dengan percaya diri sambil melihat siapa yang berada di belakang kita. Jika setelah kita menyeberang orang tersebut masih mengikuti, jangan berhenti untuk mencari tahu apa yang dia inginkan. Teruslah bergerak menuju area yang ramai dan beri tahu orang lain mengenai apa yang sedang terjadi. Jika diperlukan, hubungi polisi. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Yang tidak perlu kita lakukan adalah sengaja masuk ke gang kecil atau jalan sepi hanya untuk menguji apakah orang tersebut benar-benar mengikuti kita. Justru tempat-tempat seperti itulah yang sebaiknya dihindari. ProtectUK menyarankan menghindari gang yang sepi atau kurang penerangan serta area parkir yang terisolasi, sedangkan Suzy Lamplugh Trust menyarankan sebisa mungkin menggunakan jalan yang terang dan ramai. (Sumber: ProtectUK — Personal Security; Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Kalau setelah menyeberang atau mengubah arah orang tersebut ternyata meneruskan perjalanannya sendiri, mungkin memang sejak awal dia hanya kebetulan berjalan ke arah yang sama. Namun, kalau dia masih mengikuti, tingkat kewaspadaan kita harus dinaikkan.
Apalagi kalau kita sedang traveling. Ada satu hal yang mungkin secara refleks ingin kita lakukan ketika ketakutan adalah cepat-cepat pulang ke hotel atau hostel karena kamar terasa sebagai tempat paling aman. Masalahnya, kalau orang tersebut memang sedang mengikuti kita, tindakan itu berpotensi memberitahunya di mana kita menginap. U.S. Department of State secara eksplisit memasukkan "Don’t tell strangers where you’re staying" sebagai salah satu langkah pencegahan kejahatan bagi traveler. (Sumber: U.S. Department of State — Crime Prevention Tips While Abroad)
Jadi jangan buru-buru mengarahkan perjalanan ke hotel. Untuk sementara, prioritaskan jalan yang terang dan ramai serta cari tempat yang terdapat orang lain. Kalau perlu, masuklah ke toko atau tempat aman dan beri tahu orang di sana bahwa kita merasa sedang diikuti. Suzy Lamplugh Trust secara spesifik menyarankan hal tersebut: jika merasa berisiko, cari tempat aman seperti toko atau tempat yang terdapat orang lain dan beri tahu seseorang mengenai apa yang sedang terjadi. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Kita juga tidak harus menunggu sampai mempunyai bukti seratus persen bahwa orang tersebut berniat jahat. Kita bukan sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa dia dan apa motifnya. Kita hanya sedang mengambil tindakan pencegahan karena merasa berada dalam situasi yang tidak aman.
Kalaupun ternyata kita salah dan orang tersebut memang hanya kebetulan berjalan ke arah yang sama, mungkin kita hanya perlu menyeberang jalan atau sedikit mengubah perjalanan. Tetapi kalau kecurigaan kita benar, kita sudah mengambil langkah untuk tidak membawa orang tersebut menuju tempat kita menginap dan tidak membiarkan diri kita semakin terisolasi.
Jadi pada tahap pertama ini, tujuan kita bukan mencari jawaban atas pertanyaan:
"Orang itu sebenarnya siapa dan mau apa?"
Yang jauh lebih penting adalah:
tetap waspada, perhatikan lingkungan, tetap berada di area yang terang dan ramai, jangan masuk ke tempat sepi hanya untuk menguji apakah kita benar-benar sedang diikuti, dan apabila orang tersebut masih mengikuti setelah kita menyeberang atau mengubah arah, bergeraklah menuju tempat aman dan beri tahu orang lain mengenai apa yang sedang terjadi.
2. Kalau kita semakin yakin sedang diikuti, jangan pulang ke hotel. Bergeraklah menuju tempat ramai dan cari bantuan
Nah, sekarang situasinya sudah berbeda. Kita sudah menyeberang jalan atau mengubah arah, tetapi orang yang sama ternyata masih berada di belakang. Kita berjalan beberapa saat lagi, dia masih ada. Pada titik ini, kita tidak perlu terus melakukan tes untuk memastikan niatnya. Mulailah memperlakukan situasi tersebut sebagai potensi ancaman dan prioritaskan keselamatan.
Hal pertama yang mungkin terlintas di kepala adalah, "Aku harus cepat-cepat sampai hotel."
Jangan. Setidaknya jangan menuju hotel atau hostel selama kita masih sedang diikuti. ProtectUK secara eksplisit menyarankan orang yang merasa diikuti dengan berjalan kaki maupun kendaraan untuk tidak menuju alamat rumah, tetap berada di jalan yang lebih ramai dan terang, serta menuju tempat umum yang ramai seperti kantor polisi, kawasan pertokoan, atau rumah sakit. Prinsip yang sama sangat relevan bagi traveler: jangan membawa orang yang mencurigakan langsung menuju tempat kita menginap. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing, bagian Followed or Threatened in the Street)
U.S. Department of State juga secara khusus menyarankan traveler untuk tidak memberi tahu orang asing di mana mereka menginap. Jadi meskipun hotel terasa sebagai tempat aman, selama kita masih diikuti, sebaiknya jangan menunjukkan lokasi tersebut kepada orang yang sedang kita curigai. (Sumber: U.S. Department of State — Crime Prevention Tips While Abroad)
Lalu kita harus pergi ke mana?
Bergeraklah menuju tempat umum yang ramai, terang, dan sebisa mungkin terdapat staf atau petugas keamanan. Bisa berupa pusat perbelanjaan, toko yang masih ramai, restoran, stasiun, rumah sakit, kantor polisi, atau tempat umum lain yang memungkinkan kita meminta bantuan. ProtectUK secara eksplisit menyarankan tetap berada di jalan yang ramai dan terang serta menuju area publik yang ramai, sedangkan Suzy Lamplugh Trust menyarankan mencari tempat aman seperti toko atau tempat yang terdapat orang lain. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing; Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Setelah masuk ke tempat tersebut, jangan hanya duduk diam sambil berharap orang itu akhirnya bosan dan pergi.
Beri tahu seseorang. Cari security, pegawai toko, resepsionis, petugas stasiun, polisi, atau orang lain yang dapat membantu, lalu jelaskan secara langsung bahwa kita merasa sedang diikuti. Suzy Lamplugh Trust secara eksplisit menyarankan orang yang masih diikuti setelah menyeberang jalan untuk menuju area ramai dan memberi tahu orang lain mengenai apa yang sedang terjadi. ProtectUK juga menyarankan agar kita tidak takut meminta bantuan kepada orang lain. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About; ProtectUK — Police Security Briefing)
Misalnya kita masuk ke minimarket dan melihat orang tersebut ternyata berhenti di luar. Beberapa menit kemudian dia masih berada di sana. Atau dia ikut masuk, mengambil tempat duduk, dan tampaknya juga tidak mempunyai tujuan untuk segera pergi. Dalam kondisi seperti ini, jangan merasa, "Ah, nanti dikira lebay kalau aku bilang ke pegawai."
Kita tidak harus menuduh orang tersebut sebagai penjahat. Cukup jelaskan situasinya. Kita merasa sedang diikuti dan tidak merasa aman untuk keluar sendirian. Tujuannya bukan meminta pegawai menghadapi orang tersebut, melainkan membuat orang lain mengetahui situasi yang sedang terjadi dan membantu kita tetap berada di tempat aman. Anjuran untuk memberi tahu orang lain ketika merasa diikuti memang secara eksplisit terdapat dalam panduan Suzy Lamplugh Trust. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Jangan keluar untuk mengonfrontasi orang tersebut. Jangan menghampiri lalu bertanya, "Kamu ngikutin aku, ya?" Jangan pula mencoba menakut-nakutinya atau sengaja memancing respons untuk memastikan niatnya. ProtectUK secara eksplisit menyebut "Do not confront the individual" ketika seseorang merasa sedang diikuti dengan berjalan kaki maupun kendaraan. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing)
Kalau situasinya semakin mencurigakan atau kita merasa berada dalam bahaya, hubungi polisi atau layanan darurat setempat. ProtectUK menyarankan menghubungi polisi dan mengikuti instruksi mereka, sedangkan Suzy Lamplugh Trust juga menyebut bahwa polisi dapat dihubungi jika diperlukan. Karena nomor darurat berbeda-beda di setiap negara, traveler sebaiknya sudah mengetahui nomor darurat negara tujuan sebelum bepergian. U.S. Department of State juga menyarankan wisatawan menyimpan nomor layanan darurat lokal sebelum perjalanan. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing; Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About; U.S. Department of State — Communicating While Abroad)
Nah, bagaimana kalau kita sudah berada di minimarket atau restoran, tetapi orang tersebut tetap menunggu di luar, sementara malam semakin larut dan tempat yang tadinya ramai perlahan mulai sepi?
Jangan menunggu pasif sampai tempat tersebut tutup. Gunakan waktu ketika kita masih berada di lingkungan yang aman untuk mengatur perjalanan berikutnya. Kalau harus kembali ke hotel, salah satu pilihan adalah menggunakan taksi atau ride-hailing yang resmi dan tepercaya daripada kembali berjalan sendirian. U.S. Department of State menyarankan traveler meneliti perusahaan taksi atau rideshare yang aman dan berizin serta mempertimbangkan layanan berbasis aplikasi yang dapat merekam atau melacak perjalanan. Beberapa layanan juga memungkinkan detail perjalanan dibagikan kepada orang yang kita percaya. (Sumber: U.S. Department of State — Driving and Transportation Safety Abroad)
Kalau tempat tersebut mempunyai security atau staf, kita juga dapat meminta bantuan mereka saat akan keluar. Intinya, tempat ramai bukan sekadar tempat untuk bersembunyi dan menunggu orang itu pergi. Tempat ramai adalah kesempatan untuk memutus situasi, membuat orang lain mengetahui apa yang sedang terjadi, meminta bantuan, dan menentukan langkah berikutnya tanpa harus menghadapi orang tersebut sendirian.
Kalau kita akhirnya kembali ke hotel, sesampainya di sana beri tahu resepsionis atau security mengenai kejadian tersebut, terutama kalau kita masih melihat aktivitas yang mencurigakan di sekitar hotel. U.S. Department of State menyarankan tamu hotel segera menghubungi front desk apabila melihat aktivitas mencurigakan dan mempertimbangkan akomodasi dengan layanan lobi 24 jam atau petugas keamanan. (Sumber: U.S. Department of State — Lodging Safety)
Jadi prinsip langkah kedua sebenarnya sederhana:
jangan membawa orang yang sedang mengikuti kita menuju tempat kita menginap, jangan mengonfrontasinya, dan jangan menghadapi situasi sendirian. Bergeraklah ke tempat umum yang ramai dan terang, beri tahu orang lain mengenai apa yang sedang terjadi, dan gunakan tempat aman tersebut untuk mencari bantuan serta mengatur perjalanan berikutnya.
3. Kalau orang tersebut mulai mendekati, menghalangi, atau mengejar kita, tingkatkan respons dan cari pertolongan segera
Pada dua tahap sebelumnya, situasinya masih berupa kecurigaan. Ada seseorang yang tampaknya mengikuti kita, lalu kita berusaha tetap berada di tempat ramai, tidak menunjukkan lokasi hotel, dan mencari orang lain yang dapat membantu.
Tetapi situasinya bisa berubah. Misalnya, orang tersebut tadinya menjaga jarak beberapa meter di belakang, tetapi sekarang mulai berjalan semakin cepat mendekati kita. Dia mulai memanggil-manggil, mencoba menghentikan kita, mengikuti kita masuk ke tempat lain, menghalangi jalan, atau bahkan tetap mengejar ketika kita sudah berusaha menjauh.
Pada titik ini, prioritas kita bukan lagi mencari tahu apakah dia benar-benar mengikuti kita. Prioritas kita adalah menciptakan jarak, menarik perhatian orang lain, dan mendapatkan pertolongan secepat mungkin.
Pertama, jangan berhenti hanya karena orang tersebut memanggil atau mencoba mengajak bicara. Kita tidak mempunyai kewajiban untuk menjawab orang asing yang membuat kita merasa terancam. Tetap bergerak menuju tempat yang terdapat orang lain dan jangan membiarkan diri kita diarahkan menuju tempat yang lebih sepi. Suzy Lamplugh Trust menyarankan untuk mempercayai insting ketika merasa tidak aman, menjaga jarak dari orang yang menimbulkan kekhawatiran, serta menuju tempat yang aman dan terdapat orang lain. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Kalau orang tersebut semakin dekat, gunakan suara dengan tegas. Kita dapat mengatakan sesuatu yang sederhana dan jelas seperti:
Tujuannya bukan memulai perdebatan atau mengonfrontasi orang tersebut untuk mengetahui niatnya. Justru kita ingin membuat batas yang jelas sekaligus membuat orang-orang di sekitar menyadari bahwa interaksi tersebut tidak kita inginkan. Suzy Lamplugh Trust memasukkan penggunaan suara sebagai salah satu alat keselamatan personal. Jika merasa terancam, berteriak atau membuat suara dapat digunakan untuk menarik perhatian dan meminta pertolongan. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Ada perbedaan antara bersikap tegas dan mengonfrontasi. Mengatakan "Stay away from me!" sambil terus menjauh bertujuan menciptakan batas dan menarik perhatian. Sedangkan berhenti, menghampiri orang tersebut, kemudian menantangnya dengan pertanyaan seperti "Kenapa kamu mengikuti saya?" justru dapat memperpanjang interaksi. ProtectUK secara eksplisit menyarankan orang yang merasa sedang diikuti untuk tidak mengonfrontasi individu tersebut. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing, bagian Followed or Threatened in the Street)
Kalau situasinya semakin mengancam, jangan malu membuat keributan untuk mendapatkan perhatian orang lain. Berteriaklah meminta pertolongan. Tetapi kalau memungkinkan, buat permintaan tersebut jelas. Misalnya:
"Help! This man is following me!"
atau
"Call the police!"
Kemudian bergeraklah menuju orang tertentu, bisa security, pegawai toko, petugas stasiun, polisi, resepsionis, atau kelompok orang di sekitar kita. Suzy Lamplugh Trust menyarankan jika kita masih diikuti untuk menuju area ramai, memberi tahu orang lain mengenai apa yang terjadi, dan menghubungi polisi apabila diperlukan. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Kalau terdapat security atau pegawai di dekat kita, jangan hanya berdiri di dekat mereka dengan harapan mereka otomatis memahami situasinya. Katakan secara langsung bahwa kita membutuhkan bantuan. Misalnya:
“That person has been following me. I don't feel safe. Can you help me?”
Kalimat sederhana seperti itu jauh lebih jelas daripada berharap seseorang menyadari sendiri bahwa kita sedang berada dalam masalah.
Jika ancamannya sudah terasa nyata atau orang tersebut terus mengejar, hubungi polisi atau nomor darurat negara tempat kita berada. ProtectUK menyarankan orang yang merasa diikuti atau terancam untuk menghubungi polisi dan mengikuti instruksi mereka. U.S. Department of State juga menyarankan traveler mengetahui nomor layanan darurat lokal sebelum bepergian karena nomor polisi, ambulans, dan pemadam kebakaran berbeda di setiap negara. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing; U.S. Department of State — Emergencies Abroad)
Karena itu, salah satu persiapan sederhana sebelum traveling adalah menyimpan nomor darurat negara tujuan di ponsel. Jangan berasumsi semua negara menggunakan nomor yang sama dengan negara kita.
Kalau kita sedang menelepon layanan darurat, usahakan memberikan informasi yang paling berguna terlebih dahulu. Lokasi kita, apa yang sedang terjadi, dan ciri atau keberadaan orang yang mengancam jika kita dapat menyampaikannya dengan aman. Setelah itu ikuti instruksi operator. Jangan mengorbankan keselamatan hanya demi mendapatkan foto, video, atau informasi yang lebih lengkap tentang pelaku.
Lalu bagaimana kalau orang tersebut tiba-tiba berlari mengejar kita?
Kalau ada tempat aman yang dapat dicapai, segera bergerak menuju tempat tersebut dan minta pertolongan. Jangan berlari secara acak menuju gang, taman gelap, toilet umum yang kosong, area parkir, atau lokasi lain yang justru membuat kita terisolasi. ProtectUK menyarankan tetap menuju area publik yang ramai dan terang serta menghindari lokasi terisolasi. (Sumber: ProtectUK — Personal Security dan Police Security Briefing)
Kalau kita sudah berada di dalam toko, restoran, hotel, atau bangunan dengan staf dan orang tersebut mencoba mengikuti kita masuk, segera beri tahu pegawai atau security. Jangan keluar lagi hanya untuk memastikan apakah dia masih berada di sana. Biarkan orang lain mengetahui situasinya dan, bila diperlukan, minta mereka menghubungi polisi.
Yang juga penting, jangan sibuk merekam orang tersebut sampai perhatian kita terhadap jalan keluar dan keadaan sekitar berkurang. Foto atau video mungkin berguna sebagai informasi setelah kita aman, tetapi keselamatan harus tetap menjadi prioritas. Prinsip situational awareness ProtectUK menekankan pentingnya terus memperhatikan lingkungan dan kemungkinan ancaman di sekitar kita. (Sumber: ProtectUK — Personal Security)
Kalau memungkinkan dan aman dilakukan, kita juga dapat menghubungi orang yang kita percaya dan memberi tahu posisi kita. U.S. Department of State menyarankan traveler mempunyai rencana komunikasi, menyimpan informasi kontak penting, dan mempertimbangkan layanan transportasi berbasis aplikasi yang memungkinkan perjalanan atau lokasi dibagikan kepada orang yang dipercaya. (Sumber: U.S. Department of State — Communicating While Abroad dan Driving and Transportation Safety Abroad)
Namun jangan sampai menelepon, mengetik pesan panjang, membuka peta, atau merekam video membuat kita kehilangan perhatian terhadap apa yang sedang terjadi beberapa meter di depan dan belakang kita.
Pada tahap ini prinsipnya sederhana:
jangan berhenti untuk berdebat dengan orang yang mengancam, teruslah menciptakan jarak, bergerak menuju orang lain atau petugas keamanan, gunakan suara dengan tegas untuk menarik perhatian jika diperlukan, dan hubungi layanan darurat apabila ancamannya meningkat.
Tujuan kita bukan memenangkan konfrontasi. Tujuan kita adalah keluar dari situasi tersebut dengan selamat.
4. Kalau orang tersebut sudah melakukan kontak fisik, bedakan antara perampasan barang dan upaya menahan atau membawa kita
Sekarang kita masuk ke situasi yang jauh lebih serius. Orang yang tadinya hanya mengikuti tiba-tiba mendekat dan melakukan kontak fisik. Bisa saja dia menarik tas, merampas ponsel, memegang tangan, menarik pakaian, menghalangi kita pergi, atau bahkan mencoba membawa kita ke tempat lain.
Pada tahap ini ada satu hal penting yang harus kita pahami adalah tidak semua kontak fisik harus direspons dengan cara yang sama.
Kita perlu melihat apa yang sedang berusaha dilakukan orang tersebut. Kalau yang diinginkan adalah barang, jangan mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mempertahankan barang
Misalnya seseorang tiba-tiba menarik tas kita sambil mengancam, meminta ponsel atau dompet, terlebih lagi jika dia menunjukkan senjata. Dalam situasi seperti ini, jangan menjadikan tas, kamera, ponsel, atau uang sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala cara. U.S. Department of State berulang kali memberikan anjuran kepada traveler untuk tidak melakukan perlawanan fisik ketika menghadapi perampokan. Dalam panduan terbarunya untuk Brasil, misalnya, mereka bahkan menjelaskan bahwa apabila dikonfrontasi perampok, serahkan barang tanpa melawan karena perlawanan dapat meningkatkan risiko cedera. (Sumber: U.S. Department of State — Brazil Travel Advisory)
Artinya, kalau pilihannya adalah kehilangan ponsel seharga beberapa juta rupiah atau mempertaruhkan keselamatan kita sendiri, lepaskan barangnya. Paspor bisa diurus kembali. Kartu bank bisa diblokir. Ponsel bisa diganti. Kamera dan uang juga bisa dicari lagi. Keselamatan kita tidak.
Tetapi situasinya berbeda apabila orang tersebut bukan sekadar mengambil barang. Kalau orang tersebut mencoba memegang, menahan, atau membawa kita, fokuslah untuk melepaskan diri dan menarik perhatian. Misalnya dia memegang tangan kita dan tidak mau melepaskan. Atau menarik kita menuju kendaraan, gang, bangunan, atau lokasi lain. Dalam keadaan seperti ini, tujuan utama kita adalah keluar dari kendalinya dan mendapatkan bantuan. Panduan perjalanan U.S. Department of State secara eksplisit menyatakan bahwa apabila seseorang meraih atau memegang kita, buat keributan, berteriak, berusaha melepaskan diri, dan mencoba pergi dari situasi tersebut. (Sumber: U.S. Department of State — Before You Go)
Jadi kalau seseorang mencoba menahan kita, jangan diam hanya karena takut terlihat berlebihan. Gunakan suara. Teriakkan sesuatu yang membuat orang di sekitar segera memahami bahwa ini bukan percakapan biasa:
"Help!"
"Let go of me!"
"Call the police!"
Suzy Lamplugh Trust juga menyarankan bahwa ketika membutuhkan pertolongan, permintaan yang spesifik seperti "Call the police!" dapat membuat orang di sekitar lebih memahami bahwa kita benar-benar sedang berada dalam bahaya dan membutuhkan bantuan. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Kalau ada orang lain di sekitar, arahkan permintaan bantuan kepada mereka. Jangan hanya berteriak tanpa tujuan sambil tetap berada di tempat yang sama. Begitu memperoleh kesempatan untuk menjauh, bergeraklah menuju tempat ramai, petugas keamanan, polisi, toko, hotel, rumah sakit, atau lokasi lain yang memberikan perlindungan.
Suzy Lamplugh Trust menekankan bahwa setelah berhasil menciptakan kesempatan untuk menjauh dari penyerang, tinggalkan situasi tersebut secepat mungkin dan bergerak menuju area ramai apabila memungkinkan. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Kalau kita membawa personal safety alarm, inilah salah satu situasi ketika alat tersebut dapat berguna. Suzy Lamplugh Trust menjelaskan bahwa fungsi utama alarm personal adalah mengejutkan dan mengalihkan perhatian penyerang sehingga memberikan beberapa detik untuk melarikan diri. Setelah alarm diaktifkan, jangan menunggu untuk melihat apakah alat tersebut berhasil membuat pelaku takut. Gunakan kesempatan itu untuk pergi. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)
Tujuannya hanya satu:
menciptakan kesempatan untuk keluar dari jangkauannya, lalu pergi menuju keselamatan.
Begitu berhasil menjauh, cari tempat aman dan hubungi polisi. ProtectUK menyarankan orang yang merasa diikuti atau terancam untuk menghubungi polisi, memberikan deskripsi orang tersebut serta keadaan yang terjadi, kemudian mengikuti arahan polisi. Mereka juga menyarankan tetap berada di jalan yang ramai dan terang serta menuju tempat umum seperti kantor polisi, kawasan pertokoan, atau rumah sakit. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing)
Kalau kita mengalami luka, jangan menganggapnya sepele hanya karena akhirnya berhasil melarikan diri. Setelah menjadi korban kejahatan, pertanyaan pertama yang dianjurkan dalam panduan bantuan korban U.S. Department of State adalah apakah kita sudah berada di tempat aman dan apakah kita membutuhkan pertolongan medis. (Sumber: U.S. Department of State — Assistance for U.S. Citizen Victims of Crime Abroad)
Jadi, dalam kondisi yang sudah melibatkan kontak fisik, ingat perbedaan sederhananya:
Kalau yang diperebutkan hanya barang, keselamatan kita lebih penting daripada barang tersebut. Tetapi kalau seseorang mencoba menahan atau membawa kita, buat keributan, tarik perhatian orang lain, berusaha melepaskan diri, dan gunakan kesempatan pertama untuk menuju tempat aman dan meminta bantuan.
Pada akhirnya, prinsip survival bukan tentang menjadi orang yang paling berani menghadapi pelaku. Prinsipnya adalah melakukan apa yang meningkatkan peluang kita untuk keluar dari situasi tersebut dengan selamat.
5. Setelah berhasil lolos, jangan langsung menganggap semuanya selesai
Akhirnya kita berhasil menjauh. Orang tersebut sudah tidak terlihat lagi. Kita sudah berada di dalam hotel, kantor polisi, rumah sakit, restoran, atau tempat lain yang aman. Adrenalin mungkin masih tinggi, tangan masih gemetar, dan pikiran pertama yang muncul bisa saja:
“Sudahlah. Yang penting aku sudah selamat.”
Memang, hal yang paling penting sudah tercapai. Kita sudah berhasil keluar dari situasi tersebut. Tetapi jangan langsung menganggap kejadian itu selesai begitu saja. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah pastikan kita benar-benar sudah berada di tempat aman. U.S. Department of State menempatkan pertanyaan "Am I safe?" dan apakah terdapat tempat aman atau perlindungan yang dapat dituju sebagai pertimbangan pertama setelah seseorang menjadi korban kejahatan. (Sumber: U.S. Department of State — Assistance for U.S. Citizen Victims of Crime Abroad). Artinya, jangan buru-buru keluar lagi hanya karena orang tersebut sudah tidak terlihat.
Kalau kita berlindung di restoran, toko, hotel, atau tempat dengan security, bertahanlah dulu di sana sampai kita mempunyai cara yang lebih aman untuk melanjutkan perjalanan. Kalau kita sudah berada di hotel, beri tahu resepsionis atau security mengenai apa yang baru saja terjadi, terutama kalau ada kemungkinan orang tersebut mengetahui lokasi kita.
Setelah itu, periksa kondisi diri sendiri. Dalam situasi yang menegangkan, kita mungkin tidak langsung menyadari bahwa tubuh mengalami luka. Kalau sebelumnya terjadi kontak fisik—misalnya kita didorong, terjatuh, dipukul, ditarik, atau mengalami cedera lain—periksa apakah kita membutuhkan pertolongan medis. Panduan bantuan korban kejahatan U.S. Department of State secara khusus menempatkan kebutuhan akan bantuan medis sebagai salah satu hal yang harus dipertimbangkan segera setelah seseorang menjadi korban kejahatan. (Sumber: U.S. Department of State — Victims of Crime)
Kalau ada luka atau kondisi yang mengkhawatirkan, cari pertolongan medis. Jangan menunda hanya karena lukanya terlihat kecil atau kita ingin segera kembali ke kamar dan tidur. Dalam beberapa jenis tindak kejahatan, pemeriksaan medis juga dapat menghasilkan dokumentasi yang nantinya berguna apabila kasus dilaporkan. U.S. Department of State menjelaskan bahwa bantuan konsuler bagi korban kejahatan di luar negeri antara lain dapat membantu korban menemukan layanan medis yang tersedia. (Sumber: U.S. Department of State — Victims of Crime)
Setelah kita berada di tempat aman, catat apa yang baru saja terjadi selagi ingatan masih relatif segar. Kita tidak perlu menulis seperti membuat laporan polisi resmi. Cukup tuliskan hal-hal yang kita ingat seperti jam kejadian, lokasi pertama kali menyadari sedang diikuti, rute yang kita lalui, apa yang dilakukan orang tersebut, apakah terjadi kontak fisik, dan ke mana dia terakhir terlihat pergi. Kalau masih ingat, catat pula ciri-ciri pelaku seperti pakaian, perkiraan penampilan, tas atau benda yang dibawa, kendaraan yang digunakan, warna kendaraan, atau nomor kendaraan apabila memang sempat terlihat tanpa kita sengaja mengambil risiko untuk mendapatkannya.
Suzy Lamplugh Trust menyarankan korban stalking atau perilaku mengikuti yang berulang untuk menyimpan catatan kejadian yang mencakup tanggal, waktu, lokasi, apa yang terjadi, bukti yang tersedia, saksi, serta laporan kepada polisi. Mereka juga menekankan bahwa pola perilaku dapat menjadi penting apabila kejadian berlanjut. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Reporting Stalking to the Police)
Kalau terdapat bukti yang sudah kita miliki secara alami—misalnya pesan, call log, foto, rekaman CCTV dari lokasi, bukti perjalanan ride-hailing, atau saksi yang melihat kejadian—jangan buru-buru menghapusnya. Suzy Lamplugh Trust menyarankan menyimpan bukti seperti pesan, tangkapan layar, foto, call log, serta detail saksi di tempat yang aman. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — What is Stalking?)
Tetapi ada perbedaan penting antara menyimpan bukti yang sudah ada dan mencari bukti dengan mempertaruhkan keselamatan.
Jangan kembali keluar sendirian hanya untuk memotret orang tersebut. Jangan mengejarnya demi mendapatkan nomor kendaraan. Jangan pula kembali ke lokasi kejadian hanya karena merasa perlu mengambil foto untuk laporan.
Keselamatan tetap lebih penting daripada dokumentasi.
Berikutnya, pertimbangkan untuk melaporkan kejadian kepada polisi setempat, terutama kalau terdapat ancaman, pengejaran, kontak fisik, perampasan, percobaan membawa kita ke tempat lain, atau perilaku tersebut terus berulang. Suzy Lamplugh Trust menyarankan pelaporan ketika seseorang mengalami stalking dan menekankan pentingnya terus melaporkan insiden apabila perilaku yang tidak diinginkan berlanjut. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Reporting Stalking to the Police)
Kalau kejadian berlangsung di luar negeri, ingat bahwa kepolisian setempatlah yang mempunyai kewenangan untuk menyelidiki tindak kejahatan di negara tersebut. U.S. Department of State juga menyarankan korban kejahatan di luar negeri mencari bantuan melalui otoritas setempat dan menjelaskan bahwa kedutaan atau konsulat dapat membantu korban memahami cara melapor, mencari layanan medis, mengganti paspor yang dicuri, serta menghubungi keluarga atau orang yang dipercaya. (Sumber: U.S. Department of State — Victims of Crime)
Untuk traveler Indonesia, prinsipnya sama. Kalau menjadi korban kejahatan di luar negeri dan membutuhkan bantuan tambahan, kita juga dapat menghubungi KBRI atau KJRI yang wilayah kerjanya mencakup tempat kita berada, selain menghubungi polisi setempat.
Kemudian beri tahu seseorang yang kita percaya mengenai apa yang terjadi. Kalau traveling bersama teman, beri tahu teman perjalanan. Kalau sendirian, kita bisa menghubungi keluarga atau teman. Kalau orang tersebut mengetahui hotel kita, beri tahu resepsionis atau security sehingga mereka mengetahui bahwa ada seseorang yang mungkin datang mencari kita. Ini juga saat yang tepat untuk mengevaluasi apakah rencana perjalanan perlu sedikit diubah. Misalnya, untuk sementara jangan kembali sendirian melewati rute yang sama pada malam hari atau keluar sendirian untuk mencari orang tersebut.
Dan kalau keesokan harinya kita kembali melihat orang yang sama?
Jangan menganggapnya sebagai kebetulan tanpa batas.
Satu pertemuan mungkin memang kebetulan. Tetapi apabila orang yang sama kembali muncul, menghubungi kita, menunggu di sekitar hotel, mengikuti perjalanan kita, atau melakukan perilaku serupa berulang kali, mulai dokumentasikan setiap kejadian dan laporkan perkembangannya. Suzy Lamplugh Trust menekankan bahwa dalam kasus stalking, pola perilaku yang berulang dapat menjadi informasi penting dan menganjurkan korban terus mencatat tanggal, waktu, lokasi, serta bukti dari setiap insiden. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Reporting Stalking to the Police)
Jadi setelah berhasil lolos, jangan hanya bersyukur orangnya sudah pergi, tapi lakukan satu tahap terakhir:
pastikan kita benar-benar aman, periksa apakah ada luka, beri tahu orang lain, catat kejadian selagi masih ingat, simpan bukti yang sudah ada, dan laporkan kepada pihak berwenang apabila situasinya memerlukan.
Karena dalam situasi seperti ini, keberhasilan bukan hanya soal berhasil menjauh dari seseorang. Keberhasilan adalah memastikan kita tetap aman setelahnya dan mempunyai langkah berikutnya kalau orang tersebut muncul kembali.


























