Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

10.02.2026

[Ep 7] SURVIVAL : Apa yang Harus Dilakukan Ketika Kita Merasa Diikuti Orang Asing Saat Traveling?

Traveling memang menyenangkan, tetapi ada beberapa situasi yang mudah-mudahan tidak pernah kita alami. Salah satunya adalah ketika sedang berjalan sendirian, terutama pada malam hari, lalu muncul perasaan bahwa ada seseorang yang mengikuti kita. 

Bayangkan kita sedang traveling di kota yang belum terlalu dikenal. Malam itu kita baru selesai makan atau jalan-jalan dan sekarang sedang berjalan kembali menuju hotel. Awalnya semuanya terasa biasa saja. Sampai kemudian kita menyadari ada seseorang yang sudah beberapa menit berjalan di belakang.

Kita belok, dia ikut belok. Kita menyeberang jalan, beberapa saat kemudian dia ikut menyeberang. Mulailah muncul pertanyaan di kepala, “Ini orang memang ngikutin aku atau cuma kebetulan jalannya searah?”

Situasi seperti ini membingungkan karena kita belum tahu apakah benar-benar sedang berada dalam bahaya. Bisa saja memang hanya kebetulan. Tetapi kalau ternyata bukan, keputusan yang kita ambil dalam beberapa menit berikutnya bisa menjadi sangat penting.

Masalahnya, respons spontan kita belum tentu menjadi respons yang paling aman. Karena merasa takut, kita mungkin ingin mempercepat langkah dan segera kembali ke hotel. Padahal kalau orang tersebut benar-benar mengikuti, kita justru berpotensi menunjukkan tempat kita menginap. Kita mungkin tergoda masuk ke gang lain untuk memastikan apakah dia benar-benar mengikuti, padahal tanpa sadar kita malah meninggalkan jalan ramai dan masuk ke tempat yang lebih sepi. Atau kita memilih masuk minimarket dan menunggu orang tersebut pergi, tetapi kemudian muncul masalah baru. Bagaimana kalau dia malah ikut menunggu di luar sementara malam semakin larut dan tempat tersebut perlahan mulai sepi?

Karena itulah menghadapi situasi seperti ini bukan sekadar perkara 'lari kalau merasa takut.' Kita perlu mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan sejak pertama kali muncul kecurigaan, ke mana harus bergerak, kapan harus meminta bantuan, apa yang dilakukan kalau orang tersebut mulai mendekat, sampai apa yang harus dilakukan kalau situasinya berkembang menjadi kontak fisik.

Panduan ini kususun berdasarkan rekomendasi keselamatan personal dan perjalanan dari beberapa sumber, terutama Suzy Lamplugh Trust, ProtectUK, serta U.S. Department of State. Salah satu prinsip yang konsisten dalam berbagai panduan tersebut adalah tetap memperhatikan lingkungan, bergerak menuju tempat yang lebih aman dan terdapat orang lain, serta mencari bantuan ketika merasa berada dalam bahaya. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About; ProtectUK — Personal Security)

Namun ada satu hal yang perlu diingat sejak awal. Tujuan kita bukan membuktikan bahwa orang tersebut benar-benar berniat jahat. Kita juga tidak perlu menjadi detektif, mencari tahu siapa dia, atau sengaja menguji seberapa jauh dia akan mengikuti kita. Kalau ternyata kecurigaan kita salah, tidak masalah. Mungkin kita hanya mengambil jalan sedikit lebih jauh, masuk ke toko sebentar, atau meminta bantuan yang akhirnya tidak diperlukan. Tetapi kalau kecurigaan kita benar, tindakan pencegahan sederhana tersebut bisa membuat perbedaan besar. 

Jadi anggap saja suatu malam kita sedang berjalan sendirian di kota asing dan tiba-tiba merasa ada seseorang yang terus mengikuti dari belakang.

Apa yang harus kita lakukan?

Kita mulai dari detik pertama ketika rasa curiga itu muncul.


1. Jangan langsung panik. Tetap waspada dan cari tahu apakah orang tersebut masih mengikuti kita

Bayangkan kita sedang traveling sendirian di kota yang belum terlalu kita kenal. Hari sudah malam dan kita sedang berjalan kembali menuju hotel atau hostel. Jalan masih cukup ramai, tetapi tidak seramai beberapa jam sebelumnya. Tiba-tiba kita sadar ada seseorang yang sejak beberapa menit lalu terus berada di belakang kita.

Awalnya mungkin kita berpikir, "Ah, paling cuma kebetulan jalannya searah."

Dan memang, seseorang yang berjalan di belakang kita tentu tidak otomatis berarti sedang mengikuti kita. Namun, kalau keberadaan orang tersebut mulai membuat kita tidak nyaman, jangan mengabaikan perasaan itu begitu saja. Suzy Lamplugh Trust secara khusus menyarankan bahwa jika kita merasa sedang diikuti, percayai insting dan segera ambil tindakan. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Pada saat yang sama, tingkatkan kewaspadaan terhadap keadaan sekitar. Jangan sampai perhatian kita hanya terfokus kepada orang yang berada di belakang sampai kita justru tidak memperhatikan lingkungan. ProtectUK memasukkan situational awareness atau kesadaran terhadap keadaan sekitar sebagai salah satu unsur penting dalam keselamatan personal. Mereka juga menyarankan kita merencanakan rute yang aman serta menghindari titik-titik seperti gang yang sepi, tempat dengan penerangan buruk, dan area parkir yang terisolasi. (Sumber: ProtectUK — Personal Security)

Karena itu, sambil terus berjalan, perhatikan apa yang ada di sekitar kita. Apakah di depan terdapat minimarket, restoran, pusat perbelanjaan, stasiun, hotel, pos keamanan, atau tempat lain yang terang dan terdapat banyak orang? Kita belum tentu harus masuk ke sana saat itu juga, tetapi setidaknya kita sudah mengetahui ke mana harus bergerak kalau situasinya semakin mencurigakan. Suzy Lamplugh Trust menyarankan orang yang merasa tidak aman untuk mencari tempat aman seperti toko atau tempat yang terdapat orang lain. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Lalu bagaimana kita mengetahui apakah orang tersebut memang masih mengikuti kita?

Salah satu cara sederhana yang secara eksplisit disarankan Suzy Lamplugh Trust adalah menyeberang jalan dengan percaya diri sambil melihat siapa yang berada di belakang kita. Jika setelah kita menyeberang orang tersebut masih mengikuti, jangan berhenti untuk mencari tahu apa yang dia inginkan. Teruslah bergerak menuju area yang ramai dan beri tahu orang lain mengenai apa yang sedang terjadi. Jika diperlukan, hubungi polisi. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Yang tidak perlu kita lakukan adalah sengaja masuk ke gang kecil atau jalan sepi hanya untuk menguji apakah orang tersebut benar-benar mengikuti kita. Justru tempat-tempat seperti itulah yang sebaiknya dihindari. ProtectUK menyarankan menghindari gang yang sepi atau kurang penerangan serta area parkir yang terisolasi, sedangkan Suzy Lamplugh Trust menyarankan sebisa mungkin menggunakan jalan yang terang dan ramai. (Sumber: ProtectUK — Personal Security; Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Kalau setelah menyeberang atau mengubah arah orang tersebut ternyata meneruskan perjalanannya sendiri, mungkin memang sejak awal dia hanya kebetulan berjalan ke arah yang sama. Namun, kalau dia masih mengikuti, tingkat kewaspadaan kita harus dinaikkan.

Apalagi kalau kita sedang traveling. Ada satu hal yang mungkin secara refleks ingin kita lakukan ketika ketakutan adalah cepat-cepat pulang ke hotel atau hostel karena kamar terasa sebagai tempat paling aman. Masalahnya, kalau orang tersebut memang sedang mengikuti kita, tindakan itu berpotensi memberitahunya di mana kita menginap. U.S. Department of State secara eksplisit memasukkan "Don’t tell strangers where you’re staying" sebagai salah satu langkah pencegahan kejahatan bagi traveler. (Sumber: U.S. Department of State — Crime Prevention Tips While Abroad)

Jadi jangan buru-buru mengarahkan perjalanan ke hotel. Untuk sementara, prioritaskan jalan yang terang dan ramai serta cari tempat yang terdapat orang lain. Kalau perlu, masuklah ke toko atau tempat aman dan beri tahu orang di sana bahwa kita merasa sedang diikuti. Suzy Lamplugh Trust secara spesifik menyarankan hal tersebut: jika merasa berisiko, cari tempat aman seperti toko atau tempat yang terdapat orang lain dan beri tahu seseorang mengenai apa yang sedang terjadi. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Kita juga tidak harus menunggu sampai mempunyai bukti seratus persen bahwa orang tersebut berniat jahat. Kita bukan sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa dia dan apa motifnya. Kita hanya sedang mengambil tindakan pencegahan karena merasa berada dalam situasi yang tidak aman.

Kalaupun ternyata kita salah dan orang tersebut memang hanya kebetulan berjalan ke arah yang sama, mungkin kita hanya perlu menyeberang jalan atau sedikit mengubah perjalanan. Tetapi kalau kecurigaan kita benar, kita sudah mengambil langkah untuk tidak membawa orang tersebut menuju tempat kita menginap dan tidak membiarkan diri kita semakin terisolasi.

Jadi pada tahap pertama ini, tujuan kita bukan mencari jawaban atas pertanyaan:

"Orang itu sebenarnya siapa dan mau apa?"

Yang jauh lebih penting adalah:

tetap waspada, perhatikan lingkungan, tetap berada di area yang terang dan ramai, jangan masuk ke tempat sepi hanya untuk menguji apakah kita benar-benar sedang diikuti, dan apabila orang tersebut masih mengikuti setelah kita menyeberang atau mengubah arah, bergeraklah menuju tempat aman dan beri tahu orang lain mengenai apa yang sedang terjadi.


2. Kalau kita semakin yakin sedang diikuti, jangan pulang ke hotel. Bergeraklah menuju tempat ramai dan cari bantuan

Nah, sekarang situasinya sudah berbeda. Kita sudah menyeberang jalan atau mengubah arah, tetapi orang yang sama ternyata masih berada di belakang. Kita berjalan beberapa saat lagi, dia masih ada. Pada titik ini, kita tidak perlu terus melakukan tes untuk memastikan niatnya. Mulailah memperlakukan situasi tersebut sebagai potensi ancaman dan prioritaskan keselamatan.

Hal pertama yang mungkin terlintas di kepala adalah, "Aku harus cepat-cepat sampai hotel."

Jangan. Setidaknya jangan menuju hotel atau hostel selama kita masih sedang diikuti. ProtectUK secara eksplisit menyarankan orang yang merasa diikuti dengan berjalan kaki maupun kendaraan untuk tidak menuju alamat rumah, tetap berada di jalan yang lebih ramai dan terang, serta menuju tempat umum yang ramai seperti kantor polisi, kawasan pertokoan, atau rumah sakit. Prinsip yang sama sangat relevan bagi traveler: jangan membawa orang yang mencurigakan langsung menuju tempat kita menginap. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing, bagian Followed or Threatened in the Street)

U.S. Department of State juga secara khusus menyarankan traveler untuk tidak memberi tahu orang asing di mana mereka menginap. Jadi meskipun hotel terasa sebagai tempat aman, selama kita masih diikuti, sebaiknya jangan menunjukkan lokasi tersebut kepada orang yang sedang kita curigai. (Sumber: U.S. Department of State — Crime Prevention Tips While Abroad)

Lalu kita harus pergi ke mana?

Bergeraklah menuju tempat umum yang ramai, terang, dan sebisa mungkin terdapat staf atau petugas keamanan. Bisa berupa pusat perbelanjaan, toko yang masih ramai, restoran, stasiun, rumah sakit, kantor polisi, atau tempat umum lain yang memungkinkan kita meminta bantuan. ProtectUK secara eksplisit menyarankan tetap berada di jalan yang ramai dan terang serta menuju area publik yang ramai, sedangkan Suzy Lamplugh Trust menyarankan mencari tempat aman seperti toko atau tempat yang terdapat orang lain. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing; Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Setelah masuk ke tempat tersebut, jangan hanya duduk diam sambil berharap orang itu akhirnya bosan dan pergi.

Beri tahu seseorang. Cari security, pegawai toko, resepsionis, petugas stasiun, polisi, atau orang lain yang dapat membantu, lalu jelaskan secara langsung bahwa kita merasa sedang diikuti. Suzy Lamplugh Trust secara eksplisit menyarankan orang yang masih diikuti setelah menyeberang jalan untuk menuju area ramai dan memberi tahu orang lain mengenai apa yang sedang terjadi. ProtectUK juga menyarankan agar kita tidak takut meminta bantuan kepada orang lain. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About; ProtectUK — Police Security Briefing)

Misalnya kita masuk ke minimarket dan melihat orang tersebut ternyata berhenti di luar. Beberapa menit kemudian dia masih berada di sana. Atau dia ikut masuk, mengambil tempat duduk, dan tampaknya juga tidak mempunyai tujuan untuk segera pergi. Dalam kondisi seperti ini, jangan merasa, "Ah, nanti dikira lebay kalau aku bilang ke pegawai."

Kita tidak harus menuduh orang tersebut sebagai penjahat. Cukup jelaskan situasinya. Kita merasa sedang diikuti dan tidak merasa aman untuk keluar sendirian. Tujuannya bukan meminta pegawai menghadapi orang tersebut, melainkan membuat orang lain mengetahui situasi yang sedang terjadi dan membantu kita tetap berada di tempat aman. Anjuran untuk memberi tahu orang lain ketika merasa diikuti memang secara eksplisit terdapat dalam panduan Suzy Lamplugh Trust. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Jangan keluar untuk mengonfrontasi orang tersebut. Jangan menghampiri lalu bertanya, "Kamu ngikutin aku, ya?" Jangan pula mencoba menakut-nakutinya atau sengaja memancing respons untuk memastikan niatnya. ProtectUK secara eksplisit menyebut "Do not confront the individual" ketika seseorang merasa sedang diikuti dengan berjalan kaki maupun kendaraan. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing)

Kalau situasinya semakin mencurigakan atau kita merasa berada dalam bahaya, hubungi polisi atau layanan darurat setempat. ProtectUK menyarankan menghubungi polisi dan mengikuti instruksi mereka, sedangkan Suzy Lamplugh Trust juga menyebut bahwa polisi dapat dihubungi jika diperlukan. Karena nomor darurat berbeda-beda di setiap negara, traveler sebaiknya sudah mengetahui nomor darurat negara tujuan sebelum bepergian. U.S. Department of State juga menyarankan wisatawan menyimpan nomor layanan darurat lokal sebelum perjalanan. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing; Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About; U.S. Department of State — Communicating While Abroad)

Nah, bagaimana kalau kita sudah berada di minimarket atau restoran, tetapi orang tersebut tetap menunggu di luar, sementara malam semakin larut dan tempat yang tadinya ramai perlahan mulai sepi?

Jangan menunggu pasif sampai tempat tersebut tutup. Gunakan waktu ketika kita masih berada di lingkungan yang aman untuk mengatur perjalanan berikutnya. Kalau harus kembali ke hotel, salah satu pilihan adalah menggunakan taksi atau ride-hailing yang resmi dan tepercaya daripada kembali berjalan sendirian. U.S. Department of State menyarankan traveler meneliti perusahaan taksi atau rideshare yang aman dan berizin serta mempertimbangkan layanan berbasis aplikasi yang dapat merekam atau melacak perjalanan. Beberapa layanan juga memungkinkan detail perjalanan dibagikan kepada orang yang kita percaya. (Sumber: U.S. Department of State — Driving and Transportation Safety Abroad)

Kalau tempat tersebut mempunyai security atau staf, kita juga dapat meminta bantuan mereka saat akan keluar. Intinya, tempat ramai bukan sekadar tempat untuk bersembunyi dan menunggu orang itu pergi. Tempat ramai adalah kesempatan untuk memutus situasi, membuat orang lain mengetahui apa yang sedang terjadi, meminta bantuan, dan menentukan langkah berikutnya tanpa harus menghadapi orang tersebut sendirian.

Kalau kita akhirnya kembali ke hotel, sesampainya di sana beri tahu resepsionis atau security mengenai kejadian tersebut, terutama kalau kita masih melihat aktivitas yang mencurigakan di sekitar hotel. U.S. Department of State menyarankan tamu hotel segera menghubungi front desk apabila melihat aktivitas mencurigakan dan mempertimbangkan akomodasi dengan layanan lobi 24 jam atau petugas keamanan. (Sumber: U.S. Department of State — Lodging Safety)

Jadi prinsip langkah kedua sebenarnya sederhana:

jangan membawa orang yang sedang mengikuti kita menuju tempat kita menginap, jangan mengonfrontasinya, dan jangan menghadapi situasi sendirian. Bergeraklah ke tempat umum yang ramai dan terang, beri tahu orang lain mengenai apa yang sedang terjadi, dan gunakan tempat aman tersebut untuk mencari bantuan serta mengatur perjalanan berikutnya.


3. Kalau orang tersebut mulai mendekati, menghalangi, atau mengejar kita, tingkatkan respons dan cari pertolongan segera

Pada dua tahap sebelumnya, situasinya masih berupa kecurigaan. Ada seseorang yang tampaknya mengikuti kita, lalu kita berusaha tetap berada di tempat ramai, tidak menunjukkan lokasi hotel, dan mencari orang lain yang dapat membantu.

Tetapi situasinya bisa berubah. Misalnya, orang tersebut tadinya menjaga jarak beberapa meter di belakang, tetapi sekarang mulai berjalan semakin cepat mendekati kita. Dia mulai memanggil-manggil, mencoba menghentikan kita, mengikuti kita masuk ke tempat lain, menghalangi jalan, atau bahkan tetap mengejar ketika kita sudah berusaha menjauh.

Pada titik ini, prioritas kita bukan lagi mencari tahu apakah dia benar-benar mengikuti kita. Prioritas kita adalah menciptakan jarak, menarik perhatian orang lain, dan mendapatkan pertolongan secepat mungkin.

Pertama, jangan berhenti hanya karena orang tersebut memanggil atau mencoba mengajak bicara. Kita tidak mempunyai kewajiban untuk menjawab orang asing yang membuat kita merasa terancam. Tetap bergerak menuju tempat yang terdapat orang lain dan jangan membiarkan diri kita diarahkan menuju tempat yang lebih sepi. Suzy Lamplugh Trust menyarankan untuk mempercayai insting ketika merasa tidak aman, menjaga jarak dari orang yang menimbulkan kekhawatiran, serta menuju tempat yang aman dan terdapat orang lain. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Kalau orang tersebut semakin dekat, gunakan suara dengan tegas. Kita dapat mengatakan sesuatu yang sederhana dan jelas seperti:

"Stop."
"Stay away from me."
"Do not follow me."

Tujuannya bukan memulai perdebatan atau mengonfrontasi orang tersebut untuk mengetahui niatnya. Justru kita ingin membuat batas yang jelas sekaligus membuat orang-orang di sekitar menyadari bahwa interaksi tersebut tidak kita inginkan. Suzy Lamplugh Trust memasukkan penggunaan suara sebagai salah satu alat keselamatan personal. Jika merasa terancam, berteriak atau membuat suara dapat digunakan untuk menarik perhatian dan meminta pertolongan. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Ada perbedaan antara bersikap tegas dan mengonfrontasi. Mengatakan "Stay away from me!" sambil terus menjauh bertujuan menciptakan batas dan menarik perhatian. Sedangkan berhenti, menghampiri orang tersebut, kemudian menantangnya dengan pertanyaan seperti "Kenapa kamu mengikuti saya?" justru dapat memperpanjang interaksi. ProtectUK secara eksplisit menyarankan orang yang merasa sedang diikuti untuk tidak mengonfrontasi individu tersebut. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing, bagian Followed or Threatened in the Street)

Kalau situasinya semakin mengancam, jangan malu membuat keributan untuk mendapatkan perhatian orang lain. Berteriaklah meminta pertolongan. Tetapi kalau memungkinkan, buat permintaan tersebut jelas. Misalnya:

"Help! This man is following me!"

atau

"Call the police!"

Kemudian bergeraklah menuju orang tertentu, bisa security, pegawai toko, petugas stasiun, polisi, resepsionis, atau kelompok orang di sekitar kita. Suzy Lamplugh Trust menyarankan jika kita masih diikuti untuk menuju area ramai, memberi tahu orang lain mengenai apa yang terjadi, dan menghubungi polisi apabila diperlukan. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Kalau terdapat security atau pegawai di dekat kita, jangan hanya berdiri di dekat mereka dengan harapan mereka otomatis memahami situasinya. Katakan secara langsung bahwa kita membutuhkan bantuan. Misalnya:

“That person has been following me. I don't feel safe. Can you help me?”

Kalimat sederhana seperti itu jauh lebih jelas daripada berharap seseorang menyadari sendiri bahwa kita sedang berada dalam masalah.

Jika ancamannya sudah terasa nyata atau orang tersebut terus mengejar, hubungi polisi atau nomor darurat negara tempat kita berada. ProtectUK menyarankan orang yang merasa diikuti atau terancam untuk menghubungi polisi dan mengikuti instruksi mereka. U.S. Department of State juga menyarankan traveler mengetahui nomor layanan darurat lokal sebelum bepergian karena nomor polisi, ambulans, dan pemadam kebakaran berbeda di setiap negara. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing; U.S. Department of State — Emergencies Abroad)

Karena itu, salah satu persiapan sederhana sebelum traveling adalah menyimpan nomor darurat negara tujuan di ponsel. Jangan berasumsi semua negara menggunakan nomor yang sama dengan negara kita.

Kalau kita sedang menelepon layanan darurat, usahakan memberikan informasi yang paling berguna terlebih dahulu. Lokasi kita, apa yang sedang terjadi, dan ciri atau keberadaan orang yang mengancam jika kita dapat menyampaikannya dengan aman. Setelah itu ikuti instruksi operator. Jangan mengorbankan keselamatan hanya demi mendapatkan foto, video, atau informasi yang lebih lengkap tentang pelaku.

Lalu bagaimana kalau orang tersebut tiba-tiba berlari mengejar kita?

Kalau ada tempat aman yang dapat dicapai, segera bergerak menuju tempat tersebut dan minta pertolongan. Jangan berlari secara acak menuju gang, taman gelap, toilet umum yang kosong, area parkir, atau lokasi lain yang justru membuat kita terisolasi. ProtectUK menyarankan tetap menuju area publik yang ramai dan terang serta menghindari lokasi terisolasi. (Sumber: ProtectUK — Personal Security dan Police Security Briefing)

Kalau kita sudah berada di dalam toko, restoran, hotel, atau bangunan dengan staf dan orang tersebut mencoba mengikuti kita masuk, segera beri tahu pegawai atau security. Jangan keluar lagi hanya untuk memastikan apakah dia masih berada di sana. Biarkan orang lain mengetahui situasinya dan, bila diperlukan, minta mereka menghubungi polisi.

Yang juga penting, jangan sibuk merekam orang tersebut sampai perhatian kita terhadap jalan keluar dan keadaan sekitar berkurang. Foto atau video mungkin berguna sebagai informasi setelah kita aman, tetapi keselamatan harus tetap menjadi prioritas. Prinsip situational awareness ProtectUK menekankan pentingnya terus memperhatikan lingkungan dan kemungkinan ancaman di sekitar kita. (Sumber: ProtectUK — Personal Security)

Kalau memungkinkan dan aman dilakukan, kita juga dapat menghubungi orang yang kita percaya dan memberi tahu posisi kita. U.S. Department of State menyarankan traveler mempunyai rencana komunikasi, menyimpan informasi kontak penting, dan mempertimbangkan layanan transportasi berbasis aplikasi yang memungkinkan perjalanan atau lokasi dibagikan kepada orang yang dipercaya. (Sumber: U.S. Department of State — Communicating While Abroad dan Driving and Transportation Safety Abroad)

Namun jangan sampai menelepon, mengetik pesan panjang, membuka peta, atau merekam video membuat kita kehilangan perhatian terhadap apa yang sedang terjadi beberapa meter di depan dan belakang kita.

Pada tahap ini prinsipnya sederhana:

jangan berhenti untuk berdebat dengan orang yang mengancam, teruslah menciptakan jarak, bergerak menuju orang lain atau petugas keamanan, gunakan suara dengan tegas untuk menarik perhatian jika diperlukan, dan hubungi layanan darurat apabila ancamannya meningkat.

Tujuan kita bukan memenangkan konfrontasi. Tujuan kita adalah keluar dari situasi tersebut dengan selamat.


4. Kalau orang tersebut sudah melakukan kontak fisik, bedakan antara perampasan barang dan upaya menahan atau membawa kita

Sekarang kita masuk ke situasi yang jauh lebih serius. Orang yang tadinya hanya mengikuti tiba-tiba mendekat dan melakukan kontak fisik. Bisa saja dia menarik tas, merampas ponsel, memegang tangan, menarik pakaian, menghalangi kita pergi, atau bahkan mencoba membawa kita ke tempat lain.

Pada tahap ini ada satu hal penting yang harus kita pahami adalah tidak semua kontak fisik harus direspons dengan cara yang sama.

Kita perlu melihat apa yang sedang berusaha dilakukan orang tersebut. Kalau yang diinginkan adalah barang, jangan mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mempertahankan barang

Misalnya seseorang tiba-tiba menarik tas kita sambil mengancam, meminta ponsel atau dompet, terlebih lagi jika dia menunjukkan senjata. Dalam situasi seperti ini, jangan menjadikan tas, kamera, ponsel, atau uang sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala cara. U.S. Department of State berulang kali memberikan anjuran kepada traveler untuk tidak melakukan perlawanan fisik ketika menghadapi perampokan. Dalam panduan terbarunya untuk Brasil, misalnya, mereka bahkan menjelaskan bahwa apabila dikonfrontasi perampok, serahkan barang tanpa melawan karena perlawanan dapat meningkatkan risiko cedera. (Sumber: U.S. Department of State — Brazil Travel Advisory)

Artinya, kalau pilihannya adalah kehilangan ponsel seharga beberapa juta rupiah atau mempertaruhkan keselamatan kita sendiri, lepaskan barangnya. Paspor bisa diurus kembali. Kartu bank bisa diblokir. Ponsel bisa diganti. Kamera dan uang juga bisa dicari lagi. Keselamatan kita tidak.

Tetapi situasinya berbeda apabila orang tersebut bukan sekadar mengambil barang. Kalau orang tersebut mencoba memegang, menahan, atau membawa kita, fokuslah untuk melepaskan diri dan menarik perhatian. Misalnya dia memegang tangan kita dan tidak mau melepaskan. Atau menarik kita menuju kendaraan, gang, bangunan, atau lokasi lain. Dalam keadaan seperti ini, tujuan utama kita adalah keluar dari kendalinya dan mendapatkan bantuan. Panduan perjalanan U.S. Department of State secara eksplisit menyatakan bahwa apabila seseorang meraih atau memegang kita, buat keributan, berteriak, berusaha melepaskan diri, dan mencoba pergi dari situasi tersebut. (Sumber: U.S. Department of State — Before You Go)

Jadi kalau seseorang mencoba menahan kita, jangan diam hanya karena takut terlihat berlebihan. Gunakan suara. Teriakkan sesuatu yang membuat orang di sekitar segera memahami bahwa ini bukan percakapan biasa:

"Help!"

"Let go of me!"

"Call the police!"

Suzy Lamplugh Trust juga menyarankan bahwa ketika membutuhkan pertolongan, permintaan yang spesifik seperti "Call the police!" dapat membuat orang di sekitar lebih memahami bahwa kita benar-benar sedang berada dalam bahaya dan membutuhkan bantuan. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Kalau ada orang lain di sekitar, arahkan permintaan bantuan kepada mereka. Jangan hanya berteriak tanpa tujuan sambil tetap berada di tempat yang sama. Begitu memperoleh kesempatan untuk menjauh, bergeraklah menuju tempat ramai, petugas keamanan, polisi, toko, hotel, rumah sakit, atau lokasi lain yang memberikan perlindungan.

Suzy Lamplugh Trust menekankan bahwa setelah berhasil menciptakan kesempatan untuk menjauh dari penyerang, tinggalkan situasi tersebut secepat mungkin dan bergerak menuju area ramai apabila memungkinkan. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Kalau kita membawa personal safety alarm, inilah salah satu situasi ketika alat tersebut dapat berguna. Suzy Lamplugh Trust menjelaskan bahwa fungsi utama alarm personal adalah mengejutkan dan mengalihkan perhatian penyerang sehingga memberikan beberapa detik untuk melarikan diri. Setelah alarm diaktifkan, jangan menunggu untuk melihat apakah alat tersebut berhasil membuat pelaku takut. Gunakan kesempatan itu untuk pergi. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Personal Safety Out and About)

Tujuannya hanya satu:

menciptakan kesempatan untuk keluar dari jangkauannya, lalu pergi menuju keselamatan.

Begitu berhasil menjauh, cari tempat aman dan hubungi polisi. ProtectUK menyarankan orang yang merasa diikuti atau terancam untuk menghubungi polisi, memberikan deskripsi orang tersebut serta keadaan yang terjadi, kemudian mengikuti arahan polisi. Mereka juga menyarankan tetap berada di jalan yang ramai dan terang serta menuju tempat umum seperti kantor polisi, kawasan pertokoan, atau rumah sakit. (Sumber: ProtectUK — Police Security Briefing)

Kalau kita mengalami luka, jangan menganggapnya sepele hanya karena akhirnya berhasil melarikan diri. Setelah menjadi korban kejahatan, pertanyaan pertama yang dianjurkan dalam panduan bantuan korban U.S. Department of State adalah apakah kita sudah berada di tempat aman dan apakah kita membutuhkan pertolongan medis. (Sumber: U.S. Department of State — Assistance for U.S. Citizen Victims of Crime Abroad)

Jadi, dalam kondisi yang sudah melibatkan kontak fisik, ingat perbedaan sederhananya:

Kalau yang diperebutkan hanya barang, keselamatan kita lebih penting daripada barang tersebut. Tetapi kalau seseorang mencoba menahan atau membawa kita, buat keributan, tarik perhatian orang lain, berusaha melepaskan diri, dan gunakan kesempatan pertama untuk menuju tempat aman dan meminta bantuan.

Pada akhirnya, prinsip survival bukan tentang menjadi orang yang paling berani menghadapi pelaku. Prinsipnya adalah melakukan apa yang meningkatkan peluang kita untuk keluar dari situasi tersebut dengan selamat.


5. Setelah berhasil lolos, jangan langsung menganggap semuanya selesai

Akhirnya kita berhasil menjauh. Orang tersebut sudah tidak terlihat lagi. Kita sudah berada di dalam hotel, kantor polisi, rumah sakit, restoran, atau tempat lain yang aman. Adrenalin mungkin masih tinggi, tangan masih gemetar, dan pikiran pertama yang muncul bisa saja:

“Sudahlah. Yang penting aku sudah selamat.”

Memang, hal yang paling penting sudah tercapai. Kita sudah berhasil keluar dari situasi tersebut. Tetapi jangan langsung menganggap kejadian itu selesai begitu saja. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah pastikan kita benar-benar sudah berada di tempat aman. U.S. Department of State menempatkan pertanyaan "Am I safe?" dan apakah terdapat tempat aman atau perlindungan yang dapat dituju sebagai pertimbangan pertama setelah seseorang menjadi korban kejahatan. (Sumber: U.S. Department of State — Assistance for U.S. Citizen Victims of Crime Abroad). Artinya, jangan buru-buru keluar lagi hanya karena orang tersebut sudah tidak terlihat.

Kalau kita berlindung di restoran, toko, hotel, atau tempat dengan security, bertahanlah dulu di sana sampai kita mempunyai cara yang lebih aman untuk melanjutkan perjalanan. Kalau kita sudah berada di hotel, beri tahu resepsionis atau security mengenai apa yang baru saja terjadi, terutama kalau ada kemungkinan orang tersebut mengetahui lokasi kita.

Setelah itu, periksa kondisi diri sendiri. Dalam situasi yang menegangkan, kita mungkin tidak langsung menyadari bahwa tubuh mengalami luka. Kalau sebelumnya terjadi kontak fisik—misalnya kita didorong, terjatuh, dipukul, ditarik, atau mengalami cedera lain—periksa apakah kita membutuhkan pertolongan medis. Panduan bantuan korban kejahatan U.S. Department of State secara khusus menempatkan kebutuhan akan bantuan medis sebagai salah satu hal yang harus dipertimbangkan segera setelah seseorang menjadi korban kejahatan. (Sumber: U.S. Department of State — Victims of Crime)

Kalau ada luka atau kondisi yang mengkhawatirkan, cari pertolongan medis. Jangan menunda hanya karena lukanya terlihat kecil atau kita ingin segera kembali ke kamar dan tidur. Dalam beberapa jenis tindak kejahatan, pemeriksaan medis juga dapat menghasilkan dokumentasi yang nantinya berguna apabila kasus dilaporkan. U.S. Department of State menjelaskan bahwa bantuan konsuler bagi korban kejahatan di luar negeri antara lain dapat membantu korban menemukan layanan medis yang tersedia. (Sumber: U.S. Department of State — Victims of Crime)

Setelah kita berada di tempat aman, catat apa yang baru saja terjadi selagi ingatan masih relatif segar. Kita tidak perlu menulis seperti membuat laporan polisi resmi. Cukup tuliskan hal-hal yang kita ingat seperti jam kejadian, lokasi pertama kali menyadari sedang diikuti, rute yang kita lalui, apa yang dilakukan orang tersebut, apakah terjadi kontak fisik, dan ke mana dia terakhir terlihat pergi. Kalau masih ingat, catat pula ciri-ciri pelaku seperti pakaian, perkiraan penampilan, tas atau benda yang dibawa, kendaraan yang digunakan, warna kendaraan, atau nomor kendaraan apabila memang sempat terlihat tanpa kita sengaja mengambil risiko untuk mendapatkannya.

Suzy Lamplugh Trust menyarankan korban stalking atau perilaku mengikuti yang berulang untuk menyimpan catatan kejadian yang mencakup tanggal, waktu, lokasi, apa yang terjadi, bukti yang tersedia, saksi, serta laporan kepada polisi. Mereka juga menekankan bahwa pola perilaku dapat menjadi penting apabila kejadian berlanjut. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Reporting Stalking to the Police)

Kalau terdapat bukti yang sudah kita miliki secara alami—misalnya pesan, call log, foto, rekaman CCTV dari lokasi, bukti perjalanan ride-hailing, atau saksi yang melihat kejadian—jangan buru-buru menghapusnya. Suzy Lamplugh Trust menyarankan menyimpan bukti seperti pesan, tangkapan layar, foto, call log, serta detail saksi di tempat yang aman. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — What is Stalking?)

Tetapi ada perbedaan penting antara menyimpan bukti yang sudah ada dan mencari bukti dengan mempertaruhkan keselamatan.

Jangan kembali keluar sendirian hanya untuk memotret orang tersebut. Jangan mengejarnya demi mendapatkan nomor kendaraan. Jangan pula kembali ke lokasi kejadian hanya karena merasa perlu mengambil foto untuk laporan.

Keselamatan tetap lebih penting daripada dokumentasi.

Berikutnya, pertimbangkan untuk melaporkan kejadian kepada polisi setempat, terutama kalau terdapat ancaman, pengejaran, kontak fisik, perampasan, percobaan membawa kita ke tempat lain, atau perilaku tersebut terus berulang. Suzy Lamplugh Trust menyarankan pelaporan ketika seseorang mengalami stalking dan menekankan pentingnya terus melaporkan insiden apabila perilaku yang tidak diinginkan berlanjut. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Reporting Stalking to the Police)

Kalau kejadian berlangsung di luar negeri, ingat bahwa kepolisian setempatlah yang mempunyai kewenangan untuk menyelidiki tindak kejahatan di negara tersebut. U.S. Department of State juga menyarankan korban kejahatan di luar negeri mencari bantuan melalui otoritas setempat dan menjelaskan bahwa kedutaan atau konsulat dapat membantu korban memahami cara melapor, mencari layanan medis, mengganti paspor yang dicuri, serta menghubungi keluarga atau orang yang dipercaya. (Sumber: U.S. Department of State — Victims of Crime)

Untuk traveler Indonesia, prinsipnya sama. Kalau menjadi korban kejahatan di luar negeri dan membutuhkan bantuan tambahan, kita juga dapat menghubungi KBRI atau KJRI yang wilayah kerjanya mencakup tempat kita berada, selain menghubungi polisi setempat.

Kemudian beri tahu seseorang yang kita percaya mengenai apa yang terjadi. Kalau traveling bersama teman, beri tahu teman perjalanan. Kalau sendirian, kita bisa menghubungi keluarga atau teman. Kalau orang tersebut mengetahui hotel kita, beri tahu resepsionis atau security sehingga mereka mengetahui bahwa ada seseorang yang mungkin datang mencari kita. Ini juga saat yang tepat untuk mengevaluasi apakah rencana perjalanan perlu sedikit diubah. Misalnya, untuk sementara jangan kembali sendirian melewati rute yang sama pada malam hari atau keluar sendirian untuk mencari orang tersebut.

Dan kalau keesokan harinya kita kembali melihat orang yang sama?

Jangan menganggapnya sebagai kebetulan tanpa batas.

Satu pertemuan mungkin memang kebetulan. Tetapi apabila orang yang sama kembali muncul, menghubungi kita, menunggu di sekitar hotel, mengikuti perjalanan kita, atau melakukan perilaku serupa berulang kali, mulai dokumentasikan setiap kejadian dan laporkan perkembangannya. Suzy Lamplugh Trust menekankan bahwa dalam kasus stalking, pola perilaku yang berulang dapat menjadi informasi penting dan menganjurkan korban terus mencatat tanggal, waktu, lokasi, serta bukti dari setiap insiden. (Sumber: Suzy Lamplugh Trust — Reporting Stalking to the Police)

Jadi setelah berhasil lolos, jangan hanya bersyukur orangnya sudah pergi, tapi lakukan satu tahap terakhir:

pastikan kita benar-benar aman, periksa apakah ada luka, beri tahu orang lain, catat kejadian selagi masih ingat, simpan bukti yang sudah ada, dan laporkan kepada pihak berwenang apabila situasinya memerlukan.

Karena dalam situasi seperti ini, keberhasilan bukan hanya soal berhasil menjauh dari seseorang. Keberhasilan adalah memastikan kita tetap aman setelahnya dan mempunyai langkah berikutnya kalau orang tersebut muncul kembali.

9.29.2026

TERNATE ITU BEDA! Hal Unik yang Baru Aku Sadari Setelah Tinggal di Pulau Kecil Ini!

Ternate adalah sebuah kota kecil yang terletak di Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara. Kalau dilihat di peta, pulaunya memang kecil banget. Di tengah pulau berdiri Gunung Gamalama yang menjulang dan masih aktif sampai sekarang, sementara permukiman dan jalan-jalan kotanya berkembang mengelilingi kaki gunung sampai ke pesisir. Jadi mau bergerak ke arah luar pulau hampir ke mana pun, ujung-ujungnya ya ketemu laut.

Pulau Ternate = secara keseluruhan merupakan Gunung Gamalama (Sumber: Google Maps)

Ane sendiri pertama kali mengunjungi Ternate pada tahun 2018. Sejak saat itu sampai sekarang, total ane sudah 8 kali bolak-balik ke Ternate. Kalau seluruh waktu kunjungan itu digabung, mungkin ane sudah menghabiskan waktu lebih dari dua bulan lebih di sini. Jadi bukan sekadar datang dua atau tiga hari, mengunjungi tempat wisata terkenal, foto-foto, terus pulang. Ane sempat cukup lama menjalani kehidupan sehari-hari di Ternate, keliling kotanya, eksplor banyak tempat, naik kendaraan umum, makan makanan lokal, ngobrol dengan orang-orangnya, sampai beberapa hal yang awalnya terasa asing lama-lama justru terasa biasa.

Dan mungkin karena berkali-kali datang itulah, ketika sekarang ane mengingat Ternate, yang muncul di kepala justru bukan cuma tempat-tempat wisatanya. Malah banyak hal receh yang mungkin hanya bisa dirasakan saat kita benar-benar sempat hidup disana. Berikut ini merupakan hal-hal unik yang baru aku sadari setelah tinggal di pulau kecil yang indah ini:

1. Gunung Gamalama ada dimana-mana!

Ini mungkin salah satu hal pertama yang paling terasa ketika ane berada di Ternate, bahkan sejak landing sampai mau masuk hotel. Gunung Gamalama ada di mana-mana! Hal ini disebabkan Pulau Ternate pada dasarnya merupakan sebuah pulau vulkanik dengan Gunung Gamalama berdiri tepat di tengahnya, keberadaan gunung ini terasa sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari di kota.

Begitu landing di Bandara Sultan Babullah langsung disambut Gunung Gamalama (Sumber: Disini)

Kalau cuaca sedang cerah, hampir dari berbagai sudut kota kita tinggal nengok ke arah tengah pulau dan puncak Gamalama bakal kelihatan menjulang di belakang rumah-rumah. Bahkan kadang ane nggak perlu sengaja mencari pemandangan gunung. Lagi lewat jalan biasa, keluar dari penginapan, makan, atau sekadar keliling kota, tiba-tiba Gamalama sudah nongol gede banget sebagai latar belakang.

Lagi lewat jalan biasa pun Gamalama nongol didepan, di belakang, di samping wkwk (Sumber : Disini)

Posisi Kota Ternate sendiri memang unik. Permukiman dan jalan-jalannya berkembang di antara lereng Gunung Gamalama dan garis pantai, sehingga kotanya terasa seperti menempel di kaki gunung. Semakin bergerak ke arah tengah pulau, jalan mulai menanjak menuju lereng Gamalama. Sebaliknya, kalau bergerak menjauhi gunung ke arah luar pulau, ya ujung-ujungnya ketemu laut. Jadi kalau mau disederhanakan banget, orientasi geografis Ternate kurang lebih terasa seperti ini: ke atas = gunung, ke luar/kebawah = laut. Wkwk.

Buat warga Ternate yang sejak lahir sudah melihat Gamalama setiap hari mungkin pemandangan seperti ini terasa biasa aja. Tapi buat ane yang datang dari luar, tetap ada momen-momen ketika lagi melihat ke arah gunung terus kepikiran,

"Buset... itu gunung deket banget."

Apalagi Gamalama bukan gunung mati yang sekadar menjadi latar belakang kota. Gunung setinggi sekitar 1.700 meter ini masih merupakan gunung berapi aktif dan punya sejarah letusan yang panjang. Jadi rasanya memang spesial, ada sebuah kota yang cukup ramai, pelabuhan, pasar, rumah-rumah, hotel dan aktivitas sehari-hari seperti biasa, sementara tepat di belakang semuanya berdiri sebuah gunung berapi aktif yang ukurannya mendominasi hampir seluruh pulau.

Bahkan dari laut dan pelabuhan, gunungnya tetap mendominasi (Sumber: Disini)

Mungkin karena itulah, setelah berkali-kali datang ke Ternate, buat ane Gunung Gamalama bukan sekadar salah satu objek wisata atau pemandangan di kota ini. Gamalama seperti bagian dari identitas Ternate itu sendiri. Mau ke mana-mana rasanya dia selalu ada di belakang sana, seperti sedang mengawasi seluruh kota.

2. Orang Ternate punya patokan arah yang simpel : naik dan turun!

Nah, kondisi geografis Ternate yang tadi ane ceritakan ternyata juga berpengaruh ke cara orang memahami arah. Di kota lain kita mungkin terbiasa menggunakan kanan-kiri, utara-selatan, atau menyebut nama jalan dan kawasan. Di Ternate, ada satu patokan arah yang jauh lebih gampang dipahami secara intuitif yaitu naik dan turun. Simpelnya, naik berarti bergerak ke arah Gunung Gamalama, sedangkan turun berarti bergerak ke arah laut.

Diantara pemukiman-pemukiman itu berkembang jalan yang intinya cuma 3 yaitu jalan melingkar keliling pulau, jalan naik (ke arah gunung) dan jalan turun (ke arah laut) (Sumber: Disini)

Dan kalau sudah melihat bentuk Pulau Ternate, sistem seperti ini sebenarnya bisa dipahami. Gunung Gamalama berdiri di tengah pulau, sementara sebagian besar permukiman berkembang dari lereng bagian bawah sampai kawasan pesisir. Otomatis semakin bergerak dari pantai menuju tengah pulau, elevasinya semakin tinggi. Sebaliknya, kalau bergerak menjauhi gunung, jalannya akan semakin turun menuju laut.

Jadi selama berada di Ternate, ane lama-lama punya semacam kompas sederhana di kepala. Kalau jalan yang dilewati mulai nanjak, berarti ane sedang bergerak ke arah dalam atau mendekati gunung. Kalau jalannya turun terus, berarti sedang menuju arah pantai.

Buat pendatang, konsep ini malah lumayan membantu karena Ternate adalah pulau yang relatif kecil. Bahkan ketika sedang agak bingung posisi, setidaknya masih ada satu pegangan yang gampang banget dikenali yaitu lihat kemiringan jalan dan cari Gamalama. Misalnya ketika bertanya lokasi suatu tempat, petunjuknya bisa terasa seperti:

"Dari sini naik sedikit, nanti di pertigaan belok kiri."

Atau:

"Oh, tempatnya di bawah. Turun terus aja ke arah laut."

Buat orang yang baru datang mungkin sempat mikir, “Naik ke mana? Turun ke mana?” Wkwk. Soalnya kalau di Jawa ane mendengar kata “naik”, yang kebayang ya naik tangga, naik kendaraan, atau benar-benar menuju tempat yang lebih tinggi.

Tapi di Ternate konteksnya gampang dipahami. “Naik” berarti bergerak ke arah lereng Gunung Gamalama, sedangkan “turun” berarti bergerak ke arah pesisir. Jadi orang nggak harus selalu menyebut utara, selatan, timur atau barat. Bentuk pulaunya sendiri sudah menyediakan patokan arah yang sangat jelas.

Misalnya ada orang bilang, “Dari pasar naik sedikit,” ya ane sudah punya gambaran bahwa harus bergerak menjauhi laut dan menuju bagian pulau yang lebih tinggi. Sebaliknya kalau dibilang “turun lagi,” berarti balik ke arah pesisir.

Setelah beberapa lama di Ternate, konsep ini malah terasa simpel banget. Gunung di tengah, laut di luar. Naik ke gunung, turun ke laut.Susah nyasar kalau urusannya cuma menentukan mana atas dan mana bawah. Wkwk.

3. Pulau Ternate bisa dikelilingi naik motor dengan total durasi 2 jam!

Salah satu hal yang menurutku paling seru dari Ternate adalah ukuran pulaunya yang relatif kecil. Saking kecilnya, kita bisa naik motor mengelilingi Pulau Ternate sampai kembali lagi ke titik awal hanya dalam waktu sekitar 2 jam kalau berkendara santai tanpa terlalu banyak berhenti. Jarak satu putaran mengikuti jalan utama yang mengelilingi pulau kurang lebih sekitar 40–50 kilometer, jadi kegiatan muter pulau benar-benar bisa dilakukan hanya untuk mengisi waktu luang.

Rutenya pada dasarnya mengikuti jalan yang melingkari kaki Gunung Gamalama, karena bagian tengah Pulau Ternate tentu saja nggak bisa ditembus begitu saja. Gunung api setinggi lebih dari 1.700 meter itu berdiri tepat di tengah pulau, sehingga permukiman dan jaringan jalan utama berkembang mengitarinya, terutama di wilayah pesisir dan lereng bawah.

Yang aku suka, meskipun perjalanan ini cuma sekitar dua jam, pemandangannya berubah-ubah terus sepanjang jalan. Ada bagian ketika laut terasa sangat dominan dan terbentang luas persis di samping jalan. Kadang dari kejauhan kelihatan pulau-pulau lain. Beberapa kilometer kemudian suasananya berubah menjadi permukiman penduduk, lalu berganti lagi menjadi kawasan yang lebih hijau dengan kebun-kebun di lereng Gamalama.

Di bagian lain justru gunung yang terasa dominan. Lereng Gamalama menjulang besar di satu sisi sementara laut berada di sisi lainnya. Ada juga ruas-ruas yang melewati perkampungan, perkebunan cengkeh dan pala, pantai berbatu vulkanik, sampai kawasan yang terasa jauh lebih sepi dibandingkan pusat Kota Ternate.

Menurutku perjalanan mengelilingi pulau seperti ini justru salah satu cara paling enak untuk memahami bentuk Ternate. Dari peta kita memang bisa melihat bahwa pulau ini kurang lebih berupa sebuah gunung api yang dikelilingi permukiman dan laut, tetapi ketika mengitarinya langsung dengan motor, bentuk geografis itu jadi jauh lebih terasa. Gamalama selalu menjadi pusatnya, sementara kehidupan manusia berkembang seperti sabuk yang mengelilinginya.

4. Orang Ternate ngomong pakai kita, tapi artinya bukan kita secara harfiah

Nah, ini salah satu hal yang dulu bikin ane perlu adaptasi sebentar ketika pertama kali berada di Ternate. Dalam percakapan sehari-hari, orang Ternate banyak menggunakan Melayu Ternate, dan beberapa kosakatanya bisa bikin orang dari Jawa salah nangkep kalau belum terbiasa. Salah satu yang paling terasa adalah penggunaan kata kita. Kalau dalam Bahasa Indonesia kata kita berarti aku dan kamu atau sekelompok orang yang mencakup lawan bicara, dalam percakapan Melayu Ternate 'kita' justru berarti aku atau saya.

Jadi kalau ada orang bilang,

"Kita tara tau."

jangan bingung dan jangan mikir dia sedang mewakili satu kelompok orang yang semuanya nggak tahu. Wkwk. Maksudnya sederhana saja:

"Aku nggak tahu."

Lalu kalau mau bilang kita atau kami dalam pengertian sekelompok orang, ada kata 'torang'. Misalnya:

"Torang pi sana."

Artinya kurang lebih, “Kita pergi ke sana.”

Ada beberapa kata lain yang lama-lama juga cukup sering ane dengar selama berada di Ternate. “Ngana” berarti kamu, “dorang” berarti mereka, “tara” berarti tidak, sementara “deng” berarti dengan. Kata “pi” yang muncul dalam contoh tadi berarti pergi.

Jadi setelah mulai terbiasa, percakapan seperti:

"Ngana pi deng dorang?"

sudah nggak terdengar terlalu membingungkan lagi. Kurang lebih artinya, “Kamu pergi dengan mereka?”

Awalnya memang perlu sedikit waktu buat otak melakukan semacam penerjemahan otomatis. Terutama kata “kita”, karena maknanya bertabrakan langsung dengan Bahasa Indonesia yang ane gunakan sehari-hari. Tapi setelah cukup lama berada di Ternate, lama-lama telinga terbiasa sendiri. Begitu ada orang bilang “kita”, otak sudah nggak menerjemahkannya sebagai kita rame-rame, tetapi langsung sebagai “aku”.

Hal kecil kayak begini yang menurut ane menarik ketika tinggal agak lama di suatu daerah. Bahasanya sebenarnya masih bisa kita pahami, tetapi ada beberapa kata sederhana yang maknanya justru berbeda dari yang selama ini tertanam di kepala.

Melayu Ternate Bahasa Indonesia
kita saya / aku
ngana kamu
torang kita / kami
dorang mereka
tara tidak / nggak
iyo iya
pi pergi
mari datang / kemari
deng dengan / dan
pe punya / penanda kepunyaan
so sudah
balom belum
mo mau
ada ada / sedang, tergantung konteks
baku saling
lia lihat
makang makan
minum minum
tidur tidur
rumah rumah
samua semua
banya banyak
sadiki sedikit
bagini begini
bagitu begitu
apa ini? apa ini?
jang jangan

Yang menarik sebenarnya bukan cuma kata-katanya satu per satu, tapi ketika kata-kata tadi mulai digabungkan menjadi kalimat. Di situlah ane dulu mulai benar-benar ngeh dengan pola percakapan sehari-hari orang Ternate.

Misalnya ada yang bertanya, “Ngana so makang?” Artinya sederhana, “Kamu sudah makan?” Kata ngana berarti kamu, so berarti sudah, sementara makang ya makan. Atau kalimat “Kita tara tau” yang berarti “Aku nggak tahu.” Nah, yang terakhir ini mungkin agak membingungkan buat orang Jawa karena secara otomatis otak kita menganggap kita ya berarti “kita”. Padahal di sini kita berarti aku atau saya.

Kalau sudah mulai terbiasa, kalimat yang agak panjang pun sebenarnya gampang ditebak. Misalnya “Torang mo pi sana”. Torang berarti kita atau kami, mo berarti mau, dan pi berarti pergi. Jadi artinya ya “Kita mau pergi ke sana.”

Ada satu kata lagi yang menurut ane cukup menarik, yaitu “pe”. Kata ini sering digunakan untuk menunjukkan kepunyaan. Jadi kalau ada yang bilang “kita pe rumah”, artinya rumahku. “Ngana pe motor” berarti motormu, sementara “dorang pe makanan” berarti makanan mereka. Pertama kali mendengarnya mungkin terasa agak aneh, tapi begitu ngerti polanya malah simpel banget.

Begitu juga dengan kata “so” yang berarti sudah. Kata ini bakal sering banget muncul dalam percakapan. “So makan” berarti sudah makan, “so datang” berarti sudah datang, dan “so lama” berarti sudah lama.

Setelah cukup lama berada di Ternate, kata-kata ini perlahan nggak perlu diterjemahkan lagi di kepala. Begitu dengar ngana, otak langsung menangkap “kamu”. Begitu dengar torang, langsung paham “kita/kami”. Begitu juga dengan dorang, so, pe, dan kata-kata lainnya. Padahal aku nggak pernah secara khusus duduk menghafalkan kosakata Melayu Ternate. Karena terus mendengarnya dalam percakapan sehari-hari, lama-lama masuk sendiri ke otak.

Apalagi aku bolak-balik ke Ternate sampai delapan kali dan kalau ditotal menghabiskan waktu lebih dari dua bulan di sana. Jadi ada banyak kesempatan mendengar kata-kata yang sama digunakan berulang kali dalam berbagai situasi. Sesuatu yang pada kunjungan pertama terdengar asing, pada kunjungan berikutnya sudah terasa biasa.

Bahkan kadang tanpa sadar aku mulai ikut menggunakan beberapa katanya. Pernah ketika ditanya sesuatu, bukannya menjawab “nggak”, yang spontan keluar malah:

“Tara...” Nah loh. Mulai terkontaminasi. Wkwkwk.

Aku memang nggak tiba-tiba menjadi fasih Melayu Ternate, tapi telingaku jelas jauh lebih terbiasa. Dan menurutku ini salah satu hal menarik kalau cukup lama berada di suatu daerah. Kita nggak cuma pulang membawa foto dan cerita tempat wisata, tapi kadang tanpa sadar membawa pulang sedikit kosakatanya juga.

5. Intonasi ngomong orang sini bisa terdengar seperti lagi marah, padahal biasa aja

Ini juga salah satu hal yang cukup ane notice ketika pertama kali berada di Ternate. Buat telinga ane yang sejak kecil lebih terbiasa mendengar gaya bicara orang Jawa, percakapan sehari-hari orang Ternate kadang terdengar jauh lebih tegas. Tempo bicaranya bisa cepat, intonasinya naik-turun dengan jelas, dan volume suaranya kadang terdengar lebih kuat.

Makanya waktu awal-awal berada di sana, sesekali ane mendengar dua orang sedang ngobrol dari kejauhan terus sempat mikir,

"Lho... ini mereka lagi berantem?"

Ane perhatiin lagi.Kok yang satu santai. Yang satunya juga santai. Nggak lama malah ketawa bareng. Oh...Ternyata lagi ngobrol biasa.Wkwk.

Mungkin karena ane terbiasa dengan lingkungan Jawa yang dalam banyak situasi gaya bicaranya relatif lebih pelan dan intonasinya cenderung halus, telinga ane secara otomatis menerjemahkan suara yang lebih keras dan intonasi yang tegas sebagai tanda orang sedang kesal atau marah. Padahal standar seperti itu tentu nggak bisa langsung dipakai ketika kita berada di daerah lain. Cara orang berbicara memang berbeda-beda, dan volume suara yang menurut ane terdengar tinggi belum tentu membawa emosi negatif bagi orang yang mengucapkannya.

Apalagi ketika percakapannya menggunakan Melayu Ternate dengan tempo yang cepat. Kata-kata seperti ngana, torang, dorang, tara, so, dan pe keluar bertubi-tubi dengan intonasi yang menurut telinga ane terdengar sangat ekspresif. Kalau belum memahami bahasanya sekaligus belum terbiasa dengan intonasinya, lengkap sudah. Ane cuma bisa melihat dua orang ngobrol sambil mencoba menebak, "Ini sebenarnya sedang bahas apa dan kenapa kedengarannya serius banget?" Padahal bisa jadi cuma ngomongin makan siang. Wkwk.

Setelah beberapa hari, telinga mulai beradaptasi sendiri. Ane mulai bisa menangkap bahwa intonasi tegas bukan berarti marah, suara keras bukan otomatis berarti sedang bertengkar, dan percakapan cepat bukan berarti sedang terjadi perdebatan. Lama-lama mulai kelihatan juga bedanya antara orang yang memang sedang emosi dengan orang yang cuma... ya memang cara ngomongnya begitu.

Menurut ane ini juga salah satu contoh kenapa ketika datang ke daerah baru kita jangan terlalu cepat menilai perilaku orang berdasarkan kebiasaan dari daerah asal sendiri. Sesuatu yang menurut kita terdengar kasar, keras atau galak, belum tentu dimaksudkan seperti itu. Bisa saja standar intonasi dan ekspresi dalam percakapan sehari-harinya memang berbeda.

Dan setelah berkali-kali datang ke Ternate, suara percakapan seperti ini akhirnya terasa normal-normal aja di telinga ane. Yang awalnya bikin nengok karena ane kira ada orang berantem, lama-lama bahkan nggak terlalu ane perhatikan lagi.

6. Angkot Ternate dengan musiknya yang jedag-jedug

Kalau pernah tinggal atau traveling cukup lama di beberapa kota Indonesia Timur, mungkin bakal memperhatikan pola yang sama, yaitu angkot/bemo di sini kadang bukan sekadar alat transportasi, tapi juga berjalan sambil membawa sound system. Wkwk.

Ane pernah tinggal di Kupang dan pernah mengunjungi Kota Ambon, jadi pemandangan angkot dengan musik keras sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar asing. Ada angkot yang musiknya terdengar sampai keluar kendaraan, ada yang interiornya ikut dimodifikasi, dan kadang suasana di dalamnya malah lebih mirip sedang duduk di tempat nongkrong berjalan daripada naik kendaraan umum.

Nah, Ternate juga pernah punya budaya seperti ini. Angkot di Ternate cukup terkenal sebagai angkot musik. Kendaraannya berupa mikrolet yang banyak berwarna biru dan musik menjadi salah satu bagian yang cukup menonjol dari pengalaman naik angkot di kota ini. Musik diputar keras, kadang keras banget, sampai keberadaan angkotnya bisa terdengar bahkan sebelum kendaraannya benar-benar lewat di depan kita.

Jadi mungkin dari jauh mobilnya belum kelihatan. Tapi...dug dug dug dug... sudah kedengaran duluan. Wkwk. Yang diputar juga nggak harus satu jenis musik tertentu. Bisa lagu pop yang sedang terkenal pada masanya, lagu-lagu lama, sampai lagu rohani. Jadi pengalaman naik angkot bukan cuma perkara duduk, bayar ongkos, kemudian turun di tujuan. Ada soundtrack-nya juga.

Menurut ane hal-hal receh seperti ini justru menarik untuk diingat karena menunjukkan kalau angkot di berbagai kota Indonesia ternyata punya budaya masing-masing. Di satu daerah kita mengenali angkot dari warnanya, di tempat lain dari bentuk dan modifikasinya, sementara di beberapa kota Indonesia Timur musik keras justru menjadi salah satu ciri yang gampang diingat.

7. Ojek adalah solusi untuk hampir semua hal

Selain angkot, satu jenis transportasi yang menurut ane sangat praktis selama berada di Ternate adalah ojek. Dengan ukuran kota yang relatif kompak, jarak antartempat yang kebanyakan nggak terlalu jauh, ditambah banyak jalan lingkungan yang tentu lebih gampang dimasuki motor daripada kendaraan umum, ojek memang terasa cocok banget dengan kondisi kotanya.

Kalau males menunggu angkot? Ojek. 

Mau cepat? Ojek.

Mau pergi ke tempat yang nggak dilewati angkot? Ya...ojek lagi. Wkwk.

Dan setidaknya dari pengalaman ane selama bolak-balik ke Ternate, mencari ojek juga gampang. Kita nggak harus selalu pergi ke pangkalan tertentu. Kita bisa langsung cegat tukang ojek yang lewat di pinggir jalan, bilang mau ke mana, tanya atau sepakati ongkos kalau perlu, kemudian berangkat. Buat perjalanan jarak pendek di dalam kota, cara seperti ini praktis banget.

Apalagi Ternate bukan kota yang bentuknya melebar ke segala arah seperti kota-kota besar di Jawa. Ruang kotanya berkembang mengikuti bagian pesisir dan lereng bawah Gunung Gamalama. Ada jalan utama yang menghubungkan kawasan-kawasan kota, tetapi begitu tujuan kita masuk ke jalan yang lebih kecil, naik ke arah permukiman di lereng, atau berada agak jauh dari jalur angkot, motor jelas jauh lebih fleksibel.

Sekarang pilihannya malah semakin banyak karena sudah ada ojek online. Kalau dulu ane tinggal berdiri di pinggir jalan dan mencari ojek yang lewat, sekarang orang juga bisa tinggal buka aplikasi, tentukan titik jemput dan tujuan, lalu menunggu pengemudi datang. Jadi budaya ojek di Ternate sebenarnya nggak hilang karena kehadiran aplikasi. Bentuknya saja yang bertambah.

Ojek pangkalan atau ojek konvensional masih ada, ojol juga ada. Mau cara old school, tinggal cari atau cegat ojek di jalan. Mau lebih praktis dengan tarif dan tujuan yang langsung muncul di HP, tinggal pakai aplikasi. Dan menurut ane motor memang salah satu kendaraan yang paling masuk akal buat Ternate. Kotanya kecil, banyak perjalanan relatif pendek, jalan lingkungan cukup banyak, sementara kalau salah jalan pun ya... selama belum mulai mendaki Gamalama atau nyemplung ke laut, masih aman. Wkwk.

8. Mau pergi ke kota sebelah = speed boat!

Nah, ini salah satu hal yang mungkin terasa biasa banget buat orang Ternate, tapi buat ane yang berasal dari Jawa tetap terasa unik meskipun sudah berkali-kali datang ke sana. Kalau mau pergi ke daerah sebelah, kendaraan yang dicari belum tentu mobil atau bus. Bisa jadi malah speedboat. Soalnya Ternate berada di wilayah kepulauan. Di seberangnya ada Pulau Tidore, sementara Sofifi yang menjadi ibu kota Provinsi Maluku Utara berada di Pulau Halmahera. Secara visual tempat-tempat ini bahkan terasa dekat. Dari Ternate kita bisa melihat daratan pulau lain di seberang laut. Tapi ya masalahnya ada satu, semuanya dipisahkan air.

Jadi pola pikir transportasinya otomatis berbeda. Kalau di Jawa ane mau pergi ke kota sebelah, biasanya yang pertama kepikiran adalah, “Naik bus dari mana?”, “Travel ada nggak?”, atau sekarang tinggal buka Google Maps dan lihat jalur daratnya. Di Ternate, untuk beberapa tujuan pertanyaannya malah berubah menjadi, “Kapalnya dari mana?”, “Naik speedboat dari pelabuhan mana?”, atau “Nyebrangnya berapa lama?”, “Jadwalnya gimana?”

Dan yang menarik, speedboat di sini bukan kendaraan wisata yang cuma dinaiki turis ketika mau island hopping. Speedboat adalah bagian dari transportasi sehari-hari. Orang naik kapal karena mau kerja, punya urusan pemerintahan, berdagang, mengunjungi keluarga, atau memang ada keperluan di pulau sebelah. Jadi menyeberang laut bukan sebuah perjalanan besar seperti yang mungkin ane bayangkan ketika masih tinggal di Jawa. Buat banyak orang di sini, ya memang bagian dari mobilitas sehari-hari.

Speed Boat sudah menjadi transportasi sehari-hari di Pulau Ternate (Sumber Gambar : Disini)

Ane sendiri beberapa kali merasakan perjalanan seperti ini selama berada di Maluku Utara. Datang ke pelabuhan, cari kapal atau speedboat sesuai tujuan, naik, menyeberangi laut, kemudian beberapa waktu kemudian sudah berada di pulau lain, seperti Tidore atau Halmahera. Rasanya memang unik karena batas antara satu kota atau daerah dengan daerah lainnya bukan jalan raya, sawah, atau deretan bangunan, melainkan laut.

Ini juga membuat konsep dekat dan jauh di Maluku Utara terasa berbeda. Sebuah tempat bisa kelihatan jelas di depan mata, bahkan daratannya terlihat dekat banget dari Ternate, tapi kita tetap nggak bisa sekadar naik motor lalu meluncur ke sana. Tetap harus turun ke pelabuhan dan menyeberang dulu.

9. Laut di Ternate seperti bukan tempat wisata, tapi halaman rumah

Kalau tinggal di Jawa, apalagi di daerah yang cukup jauh dari pantai seperti tempat ane tinggal, pergi ke laut biasanya merupakan sebuah kegiatan yang memang direncanakan. Misalnya tiba-tiba ada yang ngajak, “Besok ke pantai yuk.” Ya berarti memang mau jalan-jalan. Tentukan pantainya di mana, berangkat naik kendaraan, mungkin bawa makanan, cari parkiran, main beberapa jam, kemudian pulang lagi. Intinya, laut adalah tujuan.

Nah, selama berada di Ternate ane merasa hubungannya dengan laut agak berbeda. Di sini laut nggak selalu terasa sebagai tempat wisata yang harus sengaja didatangi. Laut memang sudah menjadi bagian dari kota. Pulau Ternate kecil, pusat kotanya berkembang di sepanjang pesisir, dan di banyak tempat kita cuma perlu bergerak sedikit ke arah luar pulau untuk ketemu air.

Jadi setelah beberapa hari tinggal di sana, pemandangan laut perlahan terasa seperti bagian dari kehidupan sehari-hari. Sore-sore orang duduk menghadap laut, ngobrol dengan teman, makan, nongkrong, anak-anak main, motor berjejer parkir, sementara kapal dan speedboat sesekali lewat di kejauhan. Nggak ada kesan bahwa semua orang sedang pergi wisata ke pantai. Mereka ya cuma sedang menjalani sore seperti biasa.

Beberapa ruang publik di pesisir seperti Taman Nukila dan kawasan Falajawa juga sejak lama menjadi tempat warga berkumpul. Orang datang bukan harus karena ingin berenang atau melakukan aktivitas wisata tertentu. Kadang ya cuma duduk, ngobrol, cari makan, menikmati angin, atau menunggu matahari turun. Lautnya sekadar ada di depan sana sebagai background. Dan justru bagian ini yang menurut ane menarik. Buat ane yang datang dari Jawa, melihat laut biasanya langsung memunculkan suasana “wah, lagi di pantai.” Sementara di Ternate, ane bisa sedang melakukan aktivitas yang sangat biasa—makan, duduk-duduk atau ngobrol—tapi beberapa meter di depan sudah ada laut.

Pantai Falajawa terletak di pusat Kota Ternate. Sangat nyaman dijadikan tempat nongkrong di sore hari (Sumber Gambar: Disini)

Lama-lama ane merasa laut di Ternate itu bukan halaman belakang kota. Malah seperti halaman depannya. Kota menghadap langsung ke laut, aktivitas masyarakat berlangsung di sepanjang pesisir, kapal datang dan pergi, dan pulau-pulau lain bahkan terlihat di seberang. Laut bukan sesuatu yang memisahkan kehidupan kota dari dunia luar, tetapi justru menjadi salah satu jalur yang menghubungkannya.

Aktivitas masyarakat di sekitar Pantai Falajawa (Sumber Gambar : Disini)

Mungkin buat orang Ternate sendiri semua ini terasa biasa aja. Dari kecil sudah lihat laut, sore nongkrong dekat laut, mau ke daerah sebelah juga nyebrang laut. Tapi buat ane tetap ada momen ketika duduk santai di pinggir kota sambil melihat pemandangan di depan terus mikir,

"Enak amat ya... nongkrong biasa aja background-nya laut seindah ini." 

10. Siang Sibuk di Kota, Sore Nongkrong di Pinggir Laut

Kalau aku perhatikan selama berada di Ternate, kota ini seperti punya dua ritme yang berbeda sepanjang hari. Pagi sampai siang adalah waktunya kota bekerja. Jalanan ramai, pasar hidup, orang berangkat kerja, anak-anak sekolah, orang berdagang dan berbagai urusan sehari-hari berjalan seperti biasa. Ditambah matahari Maluku Utara yang kadang terasa cukup menyengat, siang hari memang bukan waktu paling nikmat untuk duduk lama-lama di luar.

Tapi menjelang sore, suasananya perlahan berubah. Matahari mulai turun, udara menjadi lebih nyaman, angin laut mulai terasa dan orang-orang mulai keluar. Aku kadang merasa seperti ada migrasi kecil menuju pinggir laut. Wkwkwk. Kawasan pesisir yang beberapa jam sebelumnya terasa panas mulai lebih hidup. Ada yang datang bersama teman, pasangan atau keluarga, ada yang mencari makanan, nongkrong, membawa anak-anak bermain atau sekadar duduk sambil ngobrol menikmati angin laut.

Kawasan seperti Falajawa, Taman Nukila dan beberapa bagian waterfront Ternate menjadi tempat yang enak untuk menikmati perubahan suasana ini. Di sepanjang pesisir juga ada warung, kedai sampai kafe yang memanfaatkan posisi mereka yang langsung menghadap laut. Jadi nongkrong sore di Ternate nggak harus berarti pergi ke tempat wisata tertentu. Tinggal cari tempat duduk, pesan minuman atau makanan, lalu lihat laut.

Dan ini yang aku suka. Di kota besar mungkin kita sengaja mencari kafe dengan interior bagus, rooftop, taman atau city view. Di Ternate, salah satu pemandangan terbaiknya sudah disediakan alam. Duduk di pinggir laut sambil makan atau minum, kena angin laut, mendengar suara ombak, melihat kapal lewat dan memandang pulau-pulau di kejauhan. Kalau cuaca sedang cerah, Tidore dan Maitara juga masih terlihat di seberang. Kadang nggak perlu melakukan apa-apa. Bengong aja sudah enak. Wkwkwk.

Begitu matahari benar-benar tenggelam, ritme kotanya berubah lagi. Panas siang hari menghilang, lampu-lampu mulai menyala dan aktivitas makan serta nongkrong mengambil alih. Warung dan tempat makan semakin ramai, orang mencari makan malam atau minuman hangat, sementara kelompok anak muda mulai memenuhi tempat-tempat nongkrong. Siluet pulau di seberang perlahan menggelap dan titik-titik cahaya mulai muncul di kejauhan.

Menurutku ini salah satu konsekuensi menyenangkan dari bentuk Kota Ternate yang langsung berhadapan dengan laut. Di banyak kota, kalau ingin menikmati sunset di pantai kita harus merencanakan perjalanan khusus: “Besok sore kita ke pantai, yuk.” Di Ternate, laut sudah menjadi bagian dari kota. Selesai bekerja atau menyelesaikan urusan, orang bisa mampir ke pesisir tanpa merasa sedang melakukan perjalanan wisata. Duduk menghadap laut pada sore hari bukan aktivitas liburan, tetapi bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mungkin karena aku datang dari daerah yang jauh dari laut, suasana seperti ini terasa spesial. Tapi melihat santainya orang-orang lokal duduk, makan dan ngobrol di pinggir laut, aku juga sadar bahwa pemandangan yang buatku istimewa mungkin bagi mereka hanyalah pemandangan sore biasa.

Dan menurutku justru pada jam-jam seperti inilah Ternate terasa paling menarik sebagai sebuah kota tempat orang hidup, bukan sekadar destinasi wisata.

Makanya kalau datang ke Ternate, jangan cuma membuat jadwal dari pagi sampai siang untuk mengejar Danau Tolire, benteng, pantai dan berbagai objek wisata lainnya, lalu sore pulang ke hotel. Keluar lagi menjelang matahari turun. Cari kawasan pesisir, pilih warung atau kafe yang menghadap laut, pesan sesuatu, lalu duduk aja. Dengarkan suara ombak, lihat kapal lewat, perhatikan orang-orang datang dan pergi, lalu nikmati bagaimana kota perlahan berganti ritme ketika matahari tenggelam.

11. Pisang goreng mulut bebek

Sebagai orang Jawa, konsep pisang goreng yang tertanam di kepala ane sejak kecil sebenarnya sederhana banget. Pisang digoreng, rasanya manis, kemudian dimakan sebagai camilan. Kalau mau dibuat lebih meriah paling ditambah gula, cokelat, susu atau keju. Pokoknya dalam bayangan ane, pisang goreng itu sudah jelas masuk kubu makanan manis. Sampai akhirnya ane datang ke Ternate pertama kali tahun 2018 dan menemukan bahwa pisang goreng ternyata bisa punya jalan hidup yang berbeda. Di sini pisang goreng bukannya ketemu cokelat atau keju, tapi malah ketemu sambal. Wkwk.

Salah satu yang paling khas dan gampang ditemukan di Ternate adalah pisang goreng mulut bebek atau pisang mulu bebe. Selama ane berada di Ternate, makanan ini rasanya ada di mana-mana. Banyak warung, tempat makan sampai tempat nongkrong yang menjualnya, jadi nggak susah kalau pengen mencobanya. Pisangnya diiris memanjang dan tipis sehingga bentuknya melebar, kemudian digoreng sampai bagian luarnya renyah. Tapi yang bikin pisang goreng ini menarik tentu bukan cuma bentuknya, melainkan cara makannya.

Pisang goreng mulut bebek (Sumber Gambar : Disini)

Pisang mulu bebe biasanya disajikan dengan sambal colo-colo atau sambal pedas, dan bisa dipadukan dengan ikan teri asin serta kacang. Pertama kali melihatnya, sebagai orang yang seumur hidup mengenal pisang goreng sebagai makanan manis, ane tentu sempat mikir, “Hah? Ini serius pisang goreng dimakan pakai sambal?” Belum selesai sampai situ, ternyata ada teri dan kacangnya juga. Kalau cuma melihat bahan-bahannya secara terpisah, rasanya seperti beberapa makanan yang salah meja. Pisang harusnya masuk meja camilan, sambal masuk meja makan, sementara teri dan kacang entah kenapa ikut nimbrung. Wkwk.

Tapi setelah dicoba, ternyata kombinasi ini justru masuk banget. Rasa pisangnya yang sedikit manis dan gurih bertemu dengan pedas dan segarnya sambal colo-colo, kemudian ada rasa asin dari ikan teri dan tekstur renyah dari kacang. Dalam sekali makan jadinya ada rasa manis, gurih, asin dan pedas sekaligus. Ane yang awalnya melihat kombinasi ini dengan penuh kecurigaan akhirnya cuma bisa mikir, “Oh... pantes.”

Setelah beberapa kali makan selama berada di Ternate, kombinasi yang tadinya terasa aneh malah lama-lama terasa normal, bahkan.... enaaaak banget! Akhirnya pisang goreng dengan sambal ini akhirnya menjadi salah satu makanan yang langsung ane asosiasikan dengan Ternate. Kalau di Jawa ane melihat pisang goreng terus kepikiran teh atau kopi, di Ternate yang dicari malah sambalnya.

Menurut ane ini juga salah satu bagian paling menarik ketika traveling ke daerah lain. Makanan yang bagi pendatang awalnya terdengar seperti kombinasi random, bagi masyarakat lokal sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang sangat biasa. Dan kadang memang jangan buru-buru bilang aneh sebelum mencoba sendiri. Soalnya dalam kasus pisang mulu bebe, ane yang awalnya mikir “pisang kok pakai sambal?” akhirnya malah ngerti kenapa hampir di mana-mana ada yang jual.

Ternyata memang enak. Wkwk. Duh nulis ini jadi pengeeen!

12. Minuman jahe di sini namanya air guraka

Kalau malam-malam nongkrong di Ternate dan pengen minuman hangat, salah satu yang gampang ditemui adalah air guraka. Pertama kali dengar namanya mungkin kita bakal bertanya-tanya, "Air apaan nih?" Padahal sebenarnya konsepnya cukup familiar buat orang Jawa karena guraka berarti jahe dalam Melayu Ternate. Jadi sederhananya, air guraka adalah minuman jahe hangat khas Maluku Utara.

Air guraka biasanya dibuat dari jahe yang direbus bersama gula aren atau gula merah sehingga rasanya manis, hangat dan sedikit pedas khas jahe. Pada beberapa penyajian bisa ditambahkan bahan aromatik atau rempah lain, tetapi ada satu tambahan yang menurut ane langsung membuat minuman ini terasa lebih khas Ternate, yaitu kenari. Potongan atau taburan kenari biasanya diberikan di atas minuman, sehingga selain rasa hangat dari jahe dan manis dari gula aren, ada tekstur serta rasa gurih dari kenari ketika diminum.

Air guraka dengan kacang kenari (Sumber Gambar : Disini)

Kalau dipikir-pikir, buat ane yang berasal dari Jawa konsepnya sebenarnya nggak terlalu asing. Kita juga punya berbagai minuman jahe seperti wedang jahe, wedang ronde atau wedang uwuh. Sama-sama diminum hangat, sama-sama berbasis jahe, dan sama-sama enak diminum malam hari. Bedanya, begitu jahe bertemu gula aren dan taburan kenari lalu disebut air guraka, identitas Maluku Utaranya langsung terasa.

Dan air guraka ini enak banget diminum ketika malam sambil nongkrong dekat pesisir. Udara sudah nggak sepanas siang hari, angin laut mulai terasa, lalu kita duduk sambil memegang gelas minuman jahe hangat. Jahe memberikan sensasi hangat di tenggorokan, gula aren memberi rasa manis, kemudian sesekali ada potongan kenari yang ikut masuk ketika diminum. Simpel, tapi cocok banget dengan suasananya.

13. Kenari di sini muncul di mana-mana

Satu lagi bahan makanan yang lama-lama bikin aku ngeh kalau sedang berada di Maluku Utara adalah kenari. Kalau di Jawa kenari bukan termasuk kacang yang terlalu sering aku temui dalam makanan sehari-hari, di Ternate ceritanya beda. Di sini kenari lumayan sering nongol dalam berbagai makanan dan minuman.

Kacang Kenari (Sumber: Disini)

Salah satu yang paling gampang ditemui adalah air guraka, minuman jahe hangat khas Maluku Utara yang biasanya dibuat dari jahe dan gula aren, lalu bagian atasnya ditaburi potongan kenari. Perpaduannya ternyata enak banget karena rasa jahe yang hangat dan agak pedas ketemu manisnya gula aren dan tekstur kenari yang renyah. Jadi bukan sekadar wedang jahe versi Ternate, karena taburan kenari itulah yang menurut aku langsung memberi identitas Maluku Utara-nya.

Air guraka dengan potongan kacang kenari (Sumber : Disini)

Kenari juga muncul dalam berbagai makanan lain. Salah satu yang cukup terkenal adalah halua kenari, camilan manis yang dibuat dari kenari yang dilapisi atau dicampur gula hingga menghasilkan rasa manis dan tekstur renyah. Selain itu kenari juga bisa ditemukan pada berbagai kue dan olahan makanan lokal. Jadi kalau di Jawa kita terbiasa melihat kacang tanah muncul dari pecel, rempeyek, sambal kacang sampai bumbu sate, di Maluku Utara salah satu kacang yang terasa jauh lebih menonjol ya kenari ini.

Halua Kenari (Sumber : Disini)

Roti Kenari (Sumber : Disini)

Awalnya aku menganggapnya cuma kebetulan karena beberapa makanan yang aku coba kebetulan menggunakan kenari. Tapi ternyata memang masuk akal secara geografis. Pohon kenari (Canarium spp.) tumbuh luas di kawasan Maluku dan sudah lama dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai sumber pangan. Bagian bijinya yang kaya minyak bisa dimakan langsung, dipanggang maupun digunakan sebagai bahan berbagai makanan. Kenari juga merupakan salah satu hasil perkebunan yang masih tercatat di Maluku Utara. Jadi penggunaan kenari dalam kuliner di sini bukan sekadar tren atau tambahan topping supaya terlihat cantik, tetapi berhubungan dengan bahan pangan yang memang tersedia dan sudah lama dikenal masyarakat setempat.

Dan ini salah satu hal kecil yang aku suka ketika traveling keliling Indonesia. Kadang identitas suatu daerah nggak harus ditemukan dari bangunan bersejarah atau objek wisatanya. Cukup lihat apa yang berkali-kali muncul di piring dan gelas orang lokal. Di Jawa kita ketemu kacang tanah di mana-mana, di beberapa wilayah Indonesia Timur kelapa sangat dominan, sementara selama di Ternate aku mulai sadar kalau kenari punya tempat tersendiri dalam kulinernya. 

14. Ikan di sini benar-benar bagian dari kehidupan sehari-hari

Namanya juga tinggal di pulau kecil yang dikelilingi laut, sebenarnya nggak mengherankan kalau ikan menjadi bagian penting dari makanan sehari-hari orang Ternate. Tapi satu hal adalah tahu secara teori, dan hal lain adalah benar-benar berada di sana lalu menyadari betapa seringnya ikan muncul di depan mata. Mau makan pagi ketemu ikan, makan siang ikan, malam ikan lagi. Ke pasar lihat ikan, jalan dekat pesisir lihat nelayan, mampir warung ketemu berbagai olahan ikan. Lama-lama aku mikir, “Oke... aku benar-benar sedang tinggal di pulau.” Wkwkwk.

Yang menarik, ikannya juga nggak cuma dimasak dengan satu-dua cara. Cakalang dan tuna termasuk ikan yang sangat umum dijumpai di Maluku Utara, lalu diolah menjadi berbagai macam makanan. Ada yang dibakar dan dimakan dengan sambal, dimasak berkuah, dibuat gohu ikan dari potongan ikan mentah segar yang diberi jeruk, cabai dan bawang, sampai diasap menjadi ikan fufu. Bahkan makanan yang buatku identik dengan sarapan seperti nasi kuning pun di Ternate bisa ditemani ikan tongkol atau cakalang suwir. Jadi kalau di Jawa aku terbiasa melihat nasi kuning dengan ayam, telur atau kering tempe, di sini laut ikut masuk sampai ke menu sarapan.

Dan justru menurutku bagian menariknya ada di situ. Hubungan masyarakat Ternate dengan ikan bukan sekadar karena “Ternate punya makanan khas berbahan ikan”, tetapi karena laut memang menjadi bagian dari kehidupan kota. Pulau Ternate dikelilingi perairan yang menjadi ruang tangkap nelayan, sementara ikan hasil tangkapan masuk ke pasar-pasar lokal dan kemudian ke dapur masyarakat. Kalau datang pagi-pagi ke kawasan pasar ikan seperti Dufa-Dufa, kita bahkan bisa melihat aktivitas perdagangan ikan yang sudah berjalan sejak subuh. Kapal nelayan datang membawa hasil tangkapan, ikan diturunkan, pedagang mulai membeli, lalu dari sinilah sebagian ikan menyebar ke berbagai tempat di kota. Jadi ikan yang beberapa jam kemudian nongol di meja makan itu sebenarnya baru saja melewati rantai perjalanan yang sangat pendek dari laut ke pasar lalu ke dapur.

Buatku ini juga salah satu perbedaan paling terasa dibanding tinggal di Jawa. Di daerah tempatku tinggal, ikan laut tentu gampang ditemukan, tapi lautnya sendiri jauh dan hubungan antara makanan yang ada di piring dengan tempat asalnya nggak terlalu kelihatan. Di Ternate hubungan itu terasa jauh lebih dekat. Laut ada di depan mata, nelayan bisa kita lihat, pasar ikan ada, lalu malamnya ikan muncul lagi di piring. Semuanya seperti tersambung.

Makanya setelah beberapa lama di Ternate, aku mulai merasa kalau ikan di sini bukan cuma lauk. Ikan adalah bagian dari ritme kehidupan pulau. Dan mungkin itu sebabnya variasi olahannya juga banyak banget. Kalau bosan ikan bakar, masih ada ikan kuah. Bosan ikan kuah, ada gohu. Bosan gohu, ada ikan fufu. Besok pagi bangun...ketemu ikan lagi di nasi kuning. Wkwkwk.

15. Pasar ikan sudah hidup ketika sebagian orang masih tidur

Kalau mau melihat sisi Ternate yang benar-benar sehari-hari dan bukan versi tempat wisata, menurutku salah satu waktu terbaik adalah pagi-pagi banget, bahkan sejak subuh, di kawasan pasar ikan. Salah satunya di Dufa-Dufa, kawasan pesisir di bagian utara Kota Ternate yang punya aktivitas perikanan cukup kuat. Ketika sebagian dari kita mungkin masih enak-enaknya tidur, pencet snooze alarm lalu menarik selimut lagi, kehidupan di pesisir sebenarnya sudah berjalan. Kapal-kapal nelayan mulai datang membawa hasil tangkapan, pedagang menunggu ikan diturunkan, transaksi mulai berlangsung, dan ikan yang beberapa jam sebelumnya masih berada di laut perlahan mulai masuk ke rantai perdagangan kota.

Sumber Gambar : Disini

Suasananya tentu berbeda banget dengan pasar pada siang hari. Ikan masih segar, aktivitas bongkar hasil tangkapan berlangsung, orang sibuk memilih dan menimbang ikan, sementara pedagang sudah mulai mempersiapkan dagangannya untuk hari itu. Jenis ikannya juga macam-macam tergantung hasil tangkapan dan musim, mulai dari cakalang, tuna, tongkol sampai berbagai ikan karang dan ikan pelagis lainnya. Dari sinilah sebagian ikan kemudian menyebar ke pasar lain, rumah makan dan dapur-dapur masyarakat Ternate. Jadi kalau siangnya kita makan ikan bakar atau malamnya ketemu cakalang di warung, ada kemungkinan hari ikan tersebut sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum hari kita sendiri dimulai.

Yang bikin aku suka melihat aktivitas seperti ini adalah kita jadi sadar bahwa sebuah kota sebenarnya nggak pernah benar-benar mulai hidup jam delapan pagi. Ada kelompok masyarakat yang ritme hidupnya dimulai jauh lebih awal. Nelayan bahkan sudah bekerja sejak malam atau dini hari ketika kebanyakan orang masih tidur, sementara pedagang ikan sudah harus berada di tempat ketika hasil tangkapan datang. Saat aku mungkin masih bergulat antara bangun atau tidur lima menit lagi, di pesisir sana orang sudah bongkar ikan, tawar-menawar harga dan mencari rezeki. Wkwkwk.

Dan menurutku pemandangan seperti inilah yang justru menarik kalau kita ingin benar-benar mengenal Ternate. Tempat wisata memang memperlihatkan wajah cantik sebuah kota, tapi pasar memperlihatkan bagaimana kota itu hidup. Dari pasar ikan kita bisa melihat hubungan Ternate dengan laut secara langsung: nelayan berangkat ke laut, ikan dibawa kembali ke daratan, pedagang membelinya, lalu hasil tangkapan tersebut tersebar ke seluruh kota dan akhirnya sampai ke meja makan. Rantai itu terjadi setiap hari dan sudah menjadi rutinitas biasa bagi masyarakat setempat.

Jadi kalau suatu hari berada di Ternate dan kebetulan bisa memaksa diri bangun pagi, menurutku sesekali menarik juga melihat aktivitas pasar ikan sebelum kota benar-benar ramai. Nggak harus datang untuk belanja ikan. Cukup berdiri sebentar dan memperhatikan kesibukannya saja sudah memberi gambaran bahwa ketika kita masih tidur pulas, ada bagian lain dari Ternate yang ternyata sudah bekerja sejak subuh.

16. Ikan fufu 

Pertama kali dengar nama ikan fufu, entah kenapa aku langsung merasa namanya lucu. “Fufu? Apaan tuh?” Wkwkwk. Tapi tenang, ini bukan typo dan bukan pula nama ikannya. Fufu adalah sebutan untuk ikan yang diawetkan dengan cara diasap, dan olahan seperti ini sangat familiar di Maluku Utara serta beberapa wilayah Indonesia Timur lainnya. Jadi kalau ada yang menawarkan ikan fufu, jangan membayangkan ada spesies ikan bernama ikan fufu berenang-renang di laut Ternate ya. Ikan yang digunakan bisa berupa jenis ikan seperti cakalang atau tuna, sementara kata fufu merujuk pada cara pengolahannya.

Cakalang fufu yang dijual di Pasar Gamalama Kota Ternate 
(Sumber Gambar: disini)

Proses pembuatannya sebenarnya sederhana, tetapi membutuhkan waktu dan keterampilan. Ikan segar dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dibelah atau disiapkan sesuai ukuran sebelum diasapi di atas bara atau sumber asap. Proses pengasapan membuat kadar air pada ikan berkurang sekaligus memberikan aroma asap yang khas. Hasil akhirnya adalah ikan dengan tekstur yang lebih padat, warna permukaan cenderung kecokelatan dan aroma smoky yang kuat. Selain membuat rasanya berbeda, teknik pengasapan sejak dulu juga menjadi salah satu cara masyarakat memperpanjang daya simpan ikan ketika teknologi pendinginan belum semudah sekarang.

Kalau dipikir-pikir, keberadaan ikan fufu sangat masuk akal di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara. Hasil laut bisa melimpah, sementara ikan segar termasuk bahan pangan yang cepat rusak di iklim tropis. Sebelum ada kulkas dan freezer di setiap rumah, masyarakat tentu membutuhkan cara supaya hasil tangkapan nggak harus langsung habis dimakan pada hari yang sama. Salah satu jawabannya ya diasap. Dari kebutuhan praktis itulah kemudian lahir makanan yang akhirnya menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat.

Di Ternate ikan fufu juga bukan sekadar makanan yang sengaja dibuat untuk wisatawan. Sampai sekarang kita masih bisa menemukannya dijual di pasar dan dibuat oleh masyarakat sebagai mata pencaharian. Ikan yang sudah diasap bisa dimakan bersama nasi, kasbi atau singkong rebus, pisang rebus maupun makanan lokal lainnya, kemudian ditemani sambal yang pedas. Kombinasi ikan yang gurih dan beraroma asap dengan sambal memang susah salah. Apalagi kalau makannya masih hangat. Diet bisa dibicarakan besok. Wkwkwk.

Pedagang ikan fufu di pasar ikan Kota Ternate (Sumber Gambar : Disini)

Yang aku suka dari ikan fufu sebenarnya bukan cuma rasanya, tetapi cerita sederhana di belakangnya. Dari satu makanan saja kita bisa melihat bagaimana masyarakat pesisir beradaptasi dengan lingkungan. Laut menyediakan ikan dalam jumlah besar, lalu manusia mencari cara supaya hasil tangkapannya bisa bertahan lebih lama. Teknik yang awalnya sangat praktis akhirnya diwariskan dari generasi ke generasi sampai berubah menjadi bagian dari identitas kuliner daerah.

Jadi setelah tahu artinya, setiap kali dengar kata ikan fufu aku sudah nggak bingung lagi. Yang terbayang justru ikan dengan aroma asap yang kuat, sambal pedas dan sepiring nasi hangat.

17. Sarapan nasi kuning, lauknya ikan

Kalau dengar nasi kuning, makanan ini sebenarnya sama sekali nggak asing buatku. Di Jawa nasi kuning gampang banget ditemukan, apalagi kalau ada acara ulang tahun, syukuran atau hajatan. Buat sarapan pun bukan sesuatu yang aneh. Biasanya yang langsung terbayang di kepalaku adalah nasi kuning dengan telur, ayam, mie atau bihun, kering tempe, sambal dan mungkin kerupuk. Jadi pertama kali melihat nasi kuning di Ternate, sekilas rasanya familiar banget. “Oh, nasi kuning. Ini mah aku tahu.” Sampai kemudian melihat lauknya dan baru sadar ada sesuatu yang berbeda: ikannya mana-mana. Wkwkwk.

Nasi kuning Ternate dengan lauk ikan (Sumber Gambar : Disini)

Di Ternate, salah satu pasangan nasi kuning yang umum adalah ikan tongkol atau cakalang yang dimasak berbumbu lalu disuwir-suwir. Biasanya nasi kuning disajikan bersama ikan, telur dan lauk pendamping lainnya. Jadi secara bentuk masih terasa familiar, tetapi begitu dimakan karakter Indonesia Timurnya langsung muncul. Kalau di Jawa aku lebih terbiasa bertemu ayam atau kering tempe sebagai lauk utama nasi kuning, di sini hasil laut ikut masuk bahkan ke menu sarapan.

Dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, ya masuk akal banget. Ternate adalah pulau yang dikelilingi laut dan ikan merupakan bagian besar dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Tongkol dan cakalang mudah dijumpai dan sudah lama menjadi bahan makanan penting di Maluku Utara. Jadi daripada memaksakan lauk yang biasa aku temui di Jawa, masyarakat di sini secara alami memasangkan nasi kuning dengan bahan yang memang dekat dengan kehidupan mereka. Hasilnya adalah makanan yang sekilas sama, tetapi punya identitas daerah yang berbeda.

Menurutku justru hal-hal seperti ini menarik banget ketika traveling keliling Indonesia. Kita sering menemukan makanan yang namanya sama di berbagai daerah, tetapi begitu sampai di piring ternyata isinya bisa berbeda. Nasi kuning di Jawa punya karakter sendiri, nasi kuning di Sulawesi bisa berbeda lagi, dan nasi kuning di Ternate punya sentuhan laut yang kuat. Makanan ternyata ikut beradaptasi dengan lingkungan tempat masyarakatnya tinggal. Kalau sumber protein yang tersedia melimpah adalah ikan, ya ikanlah yang akhirnya ikut masuk ke menu sehari-hari.

Nasi kuning Ternate juga bukan makanan yang harus dicari di restoran mahal atau tempat wisata tertentu. Justru enaknya makanan seperti ini dinikmati sebagai sarapan biasa, dibeli di warung atau tempat makan lokal ketika pagi hari. Menurutku di situlah sensasinya. Kita duduk pagi-pagi, mungkin masih agak ngantuk, lalu di depan kita ada sebungkus nasi kuning hangat dengan ikan cakalang atau tongkol berbumbu. Nggak ada sesuatu yang mewah, tapi justru terasa sangat lokal.

18. Makanan 'kebun' 

Ada satu istilah yang menurutku cukup menarik ketika mengenal makanan masyarakat Maluku Utara, yaitu makanan kebun, atau kadang disebut juga makanan kobong. Pertama kali dengar istilahnya, otakku sempat membayangkan orang pergi ke kebun bawa bekal terus makan rame-rame di sana. Wkwkwk. Ternyata bukan begitu maksudnya. Istilah ini merujuk pada berbagai bahan pangan yang berasal dari kebun dan sejak lama menjadi bagian dari makanan masyarakat setempat, seperti kasbi atau singkong, batata atau ubi jalar, pisang, talas dan berbagai umbi-umbian lainnya.

Buat aku yang besar di Jawa, konsep makanan pokok rasanya sangat identik dengan nasi. Sampai ada ungkapan klasik yang mungkin hampir semua orang Indonesia pernah dengar: “belum makan kalau belum makan nasi.” Mau pagi sudah makan roti, siang ngemil bakso, sore makan mie, kalau belum ketemu nasi kadang masih bilang, “Aku belum makan.” Wkwkwk. Nah, berada di Indonesia Timur bikin aku semakin sadar kalau pola makan masyarakat Indonesia sebenarnya jauh lebih beragam daripada yang sering kita bayangkan dari Jawa. Di Maluku Utara, berbagai hasil kebun tadi sejak lama menjadi sumber karbohidrat penting dan bisa dimakan sebagai pendamping lauk tanpa harus selalu ditemani nasi.

Kasbi misalnya cukup direbus sampai empuk lalu dimakan bersama ikan dan sambal. Kedengarannya sederhana banget, tapi justru kombinasi seperti ini terasa sangat masuk akal di Ternate. Hasil kebun ketemu hasil laut. Ada singkong atau pisang sebagai sumber karbohidrat, kemudian ikan fufu, ikan bakar atau olahan ikan lainnya sebagai lauk, lalu sambal untuk membuat semuanya makin mantap. Nggak perlu terlalu banyak macam makanan di meja. Kalau bahan-bahannya segar, sudah enak.

Menariknya, istilah kasbi sendiri merupakan sebutan yang umum digunakan untuk singkong di Maluku dan beberapa wilayah Indonesia Timur. Jadi kalau ada orang bilang makan kasbi, jangan bingung mencari makanan aneh-aneh. Itu singkong. Sama seperti ketika kita mulai terbiasa mendengar ngana, torang atau guraka, lama-lama kosakata makanan lokal juga ikut masuk ke kepala. Traveling memang kadang seperti kursus bahasa gratis, cuma gurunya penjual makanan. Wkwkwk.

Menurutku keberadaan makanan kebun juga menunjukkan hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup. Sebelum distribusi beras semudah sekarang, manusia tentu makan dari bahan pangan yang bisa tumbuh di sekitarnya. Umbi-umbian, pisang dan berbagai hasil kebun menjadi sumber energi yang penting, sementara laut menyediakan ikan sebagai sumber protein. Kombinasi kebun + laut akhirnya membentuk pola makan yang sangat masuk akal untuk masyarakat kepulauan.

Sekarang tentu nasi sudah sangat mudah ditemukan dan menjadi bagian besar dari pola makan masyarakat Ternate seperti di daerah Indonesia lainnya. Tapi makanan kebun nggak serta-merta hilang. Kasbi, pisang, ubi dan bahan pangan lokal lainnya masih tetap dimakan dan menjadi bagian dari identitas kuliner Maluku Utara. Bahkan menurutku justru makanan sederhana seperti inilah yang menarik dicoba ketika datang ke suatu daerah, karena kita bisa merasakan pola makan yang sudah ada jauh sebelum restoran modern dan makanan viral bermunculan.

19. Pasar Gamalama bukan sekadar tempat belanja

Kalau tinggal cukup lama di sebuah kota, biasanya kita akan menemukan satu kawasan yang rasanya menjadi pusat segala macam aktivitas. Di Ternate, salah satunya adalah Gamalama. Nama Gamalama tentu langsung mengingatkan kita pada gunung yang berdiri di tengah Pulau Ternate, tapi di pusat kota nama ini juga melekat kuat pada Pasar Gamalama, salah satu pusat perdagangan utama masyarakat Ternate. Buat pendatang mungkin kelihatannya ya cuma pasar seperti pasar tradisional pada umumnya. Tapi kalau diperhatikan lebih lama, tempat seperti ini sebenarnya jauh lebih menarik karena di sinilah banyak bagian kehidupan sehari-hari kota bertemu.

Dari pagi kawasan pasar sudah ramai dengan orang yang datang untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Ada sayuran, buah, ikan, bumbu, pakaian, kebutuhan rumah tangga dan berbagai macam barang lainnya. Pedagang membuka lapak, pembeli mondar-mandir membawa belanjaan, kendaraan keluar masuk, orang berhenti sebentar untuk makan, kemudian ada lagi yang datang cuma untuk mengambil atau mengantarkan barang. Pokoknya suasananya khas pusat perdagangan kota: ramai, semrawut dikit, suara orang di mana-mana, tapi semuanya seperti punya jalurnya sendiri.

Yang menurutku menarik, pasar di kota seperti Ternate nggak cuma berfungsi sebagai tempat pertukaran barang. Pasar juga menjadi ruang sosial. Orang datang bukan hanya untuk membeli sesuatu, tetapi juga bertemu orang yang dikenal, ngobrol dengan pedagang langganan, bertukar kabar sampai mengetahui apa yang sedang terjadi di kota. Kadang kita bisa tahu kehidupan sebuah daerah justru dari obrolan-obrolan kecil di tempat seperti ini. Harga ikan naik, kapal belum datang, barang dari luar terlambat, cuaca sedang buruk, ada acara tertentu—informasi sehari-hari ikut bergerak bersama orang yang datang dan pergi.

Lokasi Ternate sebagai kota kepulauan juga membuat pasar punya cerita yang sedikit berbeda dibanding pasar di Jawa. Nggak semua barang yang dijual di sini berasal dari Pulau Ternate sendiri. Sebagian kebutuhan kota harus datang dari daerah lain melalui jalur laut maupun udara. Sayuran dan hasil pertanian bisa datang dari Halmahera dan daerah sekitarnya, sementara berbagai barang kebutuhan lain masuk dari luar Maluku Utara. Jadi ketika melihat barang menumpuk di pasar, sebenarnya di belakangnya ada jaringan distribusi yang cukup panjang: kapal datang, barang dibongkar, masuk pasar, baru kemudian sampai ke tangan masyarakat.

Dan karena Ternate merupakan pulau yang relatif kecil, kawasan perdagangan seperti Gamalama terasa sangat sentral. Mau belanja, cari kendaraan, cari makanan atau sekadar melewati pusat kota, kemungkinan besar kita akan bersinggungan dengan kawasan ini. Rasanya seperti satu titik tempat berbagai lapisan masyarakat Ternate bertemu. Pegawai kantoran ada, pedagang ada, ibu-ibu belanja ada, sopir ada, anak sekolah lewat, orang dari luar pulau yang baru datang pun ada.

Aku justru suka tempat-tempat seperti ini ketika traveling. Memang nggak secantik pantai, nggak sefotogenik benteng dan jelas bukan tempat yang biasanya muncul besar-besar di brosur pariwisata. Tapi kalau ingin melihat bagaimana sebuah kota benar-benar hidup, pasar hampir selalu menjadi tempat yang menarik. Di sini kita bisa melihat apa yang dimakan masyarakatnya, barang apa yang mereka beli, bahasa yang mereka gunakan, bagaimana mereka berinteraksi sampai bagaimana sebuah kota kepulauan mendapatkan kebutuhan sehari-harinya.

Jadi kalau objek wisata menunjukkan wajah Ternate yang ingin dilihat pendatang, menurutku Pasar Gamalama menunjukkan wajah Ternate yang dipakai masyarakatnya setiap hari. Nggak selalu rapi, nggak selalu tenang, kadang panas dan ramai banget, tapi justru itu kehidupan kotanya.

Dan seperti pasar-pasar lainnya di Indonesia, datang ke sini dengan niat “cuma lihat-lihat sebentar” juga cukup berbahaya. Entah bagaimana caranya...pulang-pulang bawa plastik belanjaan. Wkwkwk.

20. Orang bisa tahu satu sama lain lebih cepat daripada yang kita kira

Salah satu hal yang pelan-pelan aku rasakan selama berada di Ternate adalah lingkaran sosial di kota ini terasa dekat. Tentu bukan berarti seluruh orang Ternate saling kenal satu sama lain ya, penduduknya juga banyak. Tapi karena ukuran kotanya relatif kecil dan pusat aktivitas masyarakat terkonsentrasi di area yang nggak terlalu luas, kemungkinan bertemu orang yang sama atau menemukan hubungan antara satu orang dengan orang lainnya terasa jauh lebih besar dibanding ketika tinggal di kota besar.

Misalnya kita kenalan dengan seseorang. Beberapa hari kemudian ngobrol dengan orang lain, eh ternyata dia kenal juga dengan orang yang pertama. Kenalan lagi sama orang ketiga, ternyata masih ada hubungan entah sebagai teman, saudara, teman sekolah, teman kerja atau minimal, “Oh iya, kita tau dia.” Lama-lama aku mulai mikir, “Ini orang-orang kok nyambung semua sih?” Wkwkwk. Apalagi kalau sudah lama tinggal di Ternate, sekolah di sana, bekerja di sana dan keluarganya memang berasal dari sana, jaringan pertemanannya tentu semakin luas.

Ukuran Pulau Ternate sendiri memang nggak terlalu besar dan kehidupan kotanya banyak terkonsentrasi di wilayah pesisir serta lereng bawah Gamalama. Orang-orang berbelanja di pasar yang sama, makan di tempat yang sama, nongkrong di kawasan yang sama, anak-anak sekolah di lingkungan kota yang sama dan berbagai urusan sehari-hari juga membawa orang ke titik-titik yang itu-itu lagi. Jadi kemungkinan berpapasan kembali dengan orang yang pernah kita temui cukup tinggi. Hari ini ketemu di pasar, beberapa hari kemudian lihat lagi di tempat makan, minggu depannya ternyata nongol di acara teman. “Lho, ngana lagi?” Wkwkwk.

Menurutku suasana seperti ini membuat Ternate punya rasa kota kecil yang cukup kuat meskipun secara fungsi kotanya lengkap. Hubungan antarorang terasa lebih dekat dan identitas seseorang kadang nggak berhenti pada nama. Orang bisa dikenal dari keluarganya, kampungnya, sekolahnya, pekerjaannya atau lingkaran pertemanannya. Obrolan sederhana seperti “Ngana orang mana?” bisa berkembang panjang karena ternyata ada saja titik yang menghubungkan satu orang dengan orang lainnya.

Buat aku yang terbiasa dengan kehidupan di Jawa, fenomena seperti ini sebenarnya nggak sepenuhnya asing. Di kota kecil atau kampung di Jawa juga sama. Kadang baru kenal seseorang lima menit, setelah ditelusuri ternyata bapaknya kenal pakde kita, ibunya teman ibunya teman kita, rumah neneknya ternyata cuma beda dua gang. Dunia mendadak mengecil. Bedanya di Ternate sensasi itu diperkuat oleh kondisi geografisnya: kita benar-benar hidup bersama di sebuah pulau kecil yang dikelilingi laut dengan Gunung Gamalama berdiri di tengah-tengahnya.

Ada sisi menyenangkan dari kehidupan seperti ini. Ketika sudah mulai punya kenalan, sebuah kota yang awalnya asing bisa cepat terasa familiar. Datang ke suatu tempat ada yang menyapa, lewat kawasan tertentu ketemu orang yang dikenal, lalu dari satu teman kita bisa dikenalkan ke teman lainnya. Buat pendatang, proses merasa “punya orang yang dikenal di kota ini” bisa terjadi lebih cepat daripada yang dibayangkan.

Tapi tentu ada konsekuensinya juga. Kalau di kota besar kita mungkin bisa menghilang di tengah jutaan orang tanpa ada yang peduli, di kota kecil ceritanya agak beda. Salah tingkah sedikit...besok-besok jangan kaget kalau ternyata temannya teman sudah dengar ceritanya. Wkwkwk.

21. Kita cepat kehilangan perasaan sedang berada di pulau kecil

Sebelum datang ke Ternate, coba deh buka Google Maps lalu zoom out sedikit. Pulau Ternate kelihatan kecil banget. Bentuknya kurang lebih seperti sebuah gunung yang nongol dari tengah laut, dengan Kota Ternate menempel di bagian pesisirnya. Pertama kali melihat petanya aku sempat membayangkan suasananya bakal benar-benar terasa seperti tinggal di sebuah pulau kecil: sepi, jalan sedikit sudah pantai, fasilitas terbatas dan kehidupan mungkin nggak seramai kota-kota di Jawa. Tapi setelah benar-benar berada di sana, ternyata perasaan “aku sedang tinggal di pulau kecil” itu bisa hilang dengan cepat.

Soalnya kehidupan kotanya ternyata cukup lengkap. Ada bandara, rumah sakit, kampus, sekolah, hotel, pusat perbelanjaan, pasar, bank, kafe, restoran, angkot, ojek sampai berbagai layanan yang biasa kita temukan di kota lain. Jalanan pusat kota juga ramai oleh motor dan mobil, toko berjajar, orang berangkat kerja, anak sekolah lalu-lalang dan pusat perdagangan sibuk sejak pagi. Kalau sedang berada di tengah Kota Ternate dan nggak melihat peta, rasanya ya seperti berada di kota biasa. Bahkan kadang bisa macet juga. Jadi bayangan pulau kecil yang sunyi dengan beberapa rumah dan pohon kelapa langsung buyar. Wkwkwk.

Apalagi Ternate sejak lama memang berfungsi sebagai salah satu pusat perdagangan, pendidikan, jasa dan transportasi di Maluku Utara. Walaupun ibu kota provinsi sekarang berada di Sofifi, aktivitas perkotaan di Ternate tetap sangat kuat. Orang dari berbagai wilayah Maluku Utara datang ke sini untuk sekolah, kuliah, berobat, berdagang, bekerja, transit atau melanjutkan perjalanan ke daerah lain. Bandara Sultan Babullah dan pelabuhan-pelabuhannya membuat Ternate menjadi salah satu pintu masuk penting kawasan ini. Jadi secara ukuran pulaunya memang kecil, tapi fungsi kotanya jauh lebih besar daripada ukuran geografisnya.

Yang lucu, perasaan sedang berada di pulau biasanya baru balik lagi ketika kita bergerak sedikit keluar dari pusat kota. Tiba-tiba jalan mulai mengikuti garis pantai, laut kelihatan di sebelah kita, pulau-pulau lain muncul di kejauhan dan Gunung Gamalama berdiri besar di belakang. Kadang cuma perlu berhenti sebentar di pinggir laut, melihat Tidore atau Maitara di kejauhan, lalu baru ngeh lagi, “Oh iya ya... aku sekarang benar-benar tinggal di sebuah pulau di tengah Maluku Utara.”

Menurutku kontras inilah yang menarik dari Ternate. Di satu sisi kita mendapatkan kehidupan perkotaan yang cukup lengkap, tapi alam nggak pernah benar-benar jauh. Nggak perlu berkendara berjam-jam untuk keluar dari kota dan mencari gunung atau laut karena dua-duanya memang sudah mengepung kita. Ke arah tengah pulau ada Gamalama, sementara ke arah luar ada laut. Jadi meskipun sedang duduk di kafe, belanja di pusat kota atau terjebak kendaraan di jalan, secara geografis kita sebenarnya tetap berada di sebidang daratan kecil yang dikelilingi laut.

Dan setiap kali melihat Ternate lagi dari peta, aku tetap suka merasa agak nggak percaya.

"Serius, tadi semua kehidupan kota itu muat di pulau sekecil ini?"

Ternyata muat. Bandara muat. Pasar muat. Kampus muat. Hotel muat. Orang-orang muat. Bahkan macet pun masih sempat-sempatnya ikut muat. Wkwkwk.

22. Keluar pulau bukan berarti perjalanan besar

Buat aku yang berasal dari Jawa, istilah “keluar pulau” kedengarannya seperti sebuah perjalanan besar. Kalau bilang mau keluar pulau, yang langsung terbayang adalah beli tiket pesawat atau kapal, packing baju, bawa tas, berangkat ke bandara atau pelabuhan dan mungkin baru pulang beberapa hari kemudian. Pokoknya harus ada persiapan. Tapi setelah berada di Ternate, konsep keluar pulau ini jadi terasa sangat berbeda. Di sini seseorang bisa keluar dari Pulau Ternate cuma untuk pergi sebentar, menyelesaikan urusan, lalu sore atau malamnya sudah balik lagi.

Contoh paling gampang tentu perjalanan ke Tidore. Dari Ternate, Pulau Tidore bahkan bisa kelihatan jelas di seberang laut. Untuk pergi ke sana kita tinggal menuju titik penyeberangan, naik speedboat atau moda penyeberangan yang tersedia, menyeberang, lalu sampailah di pulau lain. Nggak ada sensasi seperti sedang melakukan perjalanan antarpulau yang besar dan dramatis. Buat masyarakat yang memang rutin bergerak antara Ternate dan Tidore, menyeberangi laut seperti ini adalah bagian biasa dari mobilitas sehari-hari. Ada yang pergi karena kerja, kuliah, mengunjungi keluarga, berdagang atau sekadar punya urusan beberapa jam.

Begitu juga kalau mau menuju Sofifi di Pulau Halmahera, yang sekarang menjadi ibu kota Provinsi Maluku Utara. Dari Ternate perjalanan memang harus melibatkan penyeberangan laut karena kedua kota berada di pulau berbeda. Jadi bayangkan saja kalau kita tinggal di salah satu pusat aktivitas terbesar provinsi tetapi mau mengurus sesuatu ke ibu kota provinsi, salah satu kendaraan yang harus dipikirkan justru kapal atau speedboat. Buat orang lokal ini biasa saja. Buat aku yang terbiasa berpindah kota lewat jalan raya, tetap terasa unik.

Hal seperti ini lama-lama mengubah cara kita memahami jarak. Di Jawa aku terbiasa berpikir bahwa laut adalah batas yang cukup besar. Kalau sudah ketemu laut berarti perjalanan darat selesai dan pergi ke pulau lain adalah tahap perjalanan berikutnya. Di Maluku Utara, laut justru berfungsi seperti jalan raya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya. Pulau-pulaunya memang terpisah secara daratan, tetapi kehidupan masyarakatnya tetap saling terhubung melalui laut. Jadi secara mental, Tidore mungkin terasa lebih dekat bagi orang Ternate daripada sebuah kota yang secara kilometer sebenarnya tidak terlalu jauh tetapi akses transportasinya sulit.

Makanya pelabuhan dan tempat keberangkatan speedboat di sini terasa seperti terminal dalam kehidupan masyarakat di Jawa. Orang datang, menunggu kendaraan, barang dinaikkan, penumpang masuk, kapal berangkat, lalu beberapa saat kemudian mereka sudah berada di pulau lain. 

Menurutku baru setelah tinggal atau menghabiskan cukup banyak waktu di daerah kepulauan kita benar-benar memahami bahwa laut nggak selalu berfungsi sebagai pemisah. Kadang justru sebaliknya. Laut adalah penghubung. Selama ada kapal, dua pulau yang kelihatannya terpisah di peta bisa mempunyai hubungan sehari-hari yang sangat dekat.

23. Kalau cuaca cerah, tetangga-tetangga Ternate kelihatan jelas

Salah satu hal yang paling aku suka dari Ternate adalah ketika cuaca sedang cerah dan pandangan ke laut terbuka lebar. Dari pesisir kita nggak cuma melihat hamparan laut kosong sampai horizon, tetapi bisa melihat pulau-pulau lain berdiri jelas di seberang. Ada Tidore dengan Gunung Kie Matubu yang menjulang, ada Pulau Maitara yang mungil di dekatnya, dan dari bagian tertentu Pulau Ternate kita juga bisa memandang ke arah Halmahera. Jadi rasanya seperti tinggal di sebuah kompleks perumahan, cuma rumah tetangganya berupa pulau dan halaman depannya Samudra Pasifik. Wkwkwk.

Yang paling mencolok tentu Tidore. Bentuk gunungnya besar dan gampang dikenali sehingga kalau udara bersih, pulau itu terlihat seperti berada dekat banget. Padahal kita sedang berdiri di pulau yang berbeda dan di antara keduanya terbentang laut. Buat orang lokal mungkin pemandangan seperti ini sudah terlalu biasa sampai nggak diperhatikan lagi. Tapi buat pendatang seperti aku, tetap ada sensasi aneh ketika melihat sebuah kota atau pulau lain secara langsung dari tempat kita berdiri. Di Jawa aku terbiasa melihat kota tetangga lewat papan penunjuk jalan: Solo 20 km, Semarang 80 km. Di sini nggak perlu papan. Pulaunya sendiri kelihatan.

Lalu ada Maitara, pulau kecil yang berada di antara Ternate dan Tidore. Kalau namanya terasa familiar, mungkin karena pemandangan Maitara dan Tidore pernah menjadi sangat terkenal di Indonesia setelah digunakan sebagai ilustrasi pada uang kertas Rp1.000 emisi tahun 2000. Gambar uang seribuan berwarna biru yang dulu sering kita pegang menampilkan pemandangan Pulau Maitara dan Tidore dari kawasan Ternate. Jadi ketika melihat pemandangan aslinya, rasanya agak lucu juga: “Lho, ini yang dulu ada di uang seribuan itu?”

Dan pemandangan ini sekaligus membuat geografi Maluku Utara yang sebelumnya cuma berupa nama-nama di peta mendadak terasa nyata. Ternate, Tidore, Maitara, Halmahera—kalau dibaca di atlas semuanya tampak seperti pulau-pulau terpisah. Tapi ketika berdiri di pesisir Ternate dan melihat beberapa daratan sekaligus di depan mata, baru terasa bahwa pulau-pulau tersebut sebenarnya hidup dalam satu ruang geografis yang saling berdekatan. Kapal mondar-mandir di antaranya, masyarakat menyeberang untuk bekerja atau mengunjungi keluarga, barang bergerak dari satu pulau ke pulau lain dan hubungan antarpulau berlangsung setiap hari.

Kadang aku juga suka membayangkan bagaimana pemandangan yang sama dilihat manusia ratusan tahun lalu. Sebelum ada speedboat, pesawat, Google Maps atau GPS, orang Ternate sudah melihat Tidore berdiri di seberang sana. Orang Tidore juga melihat Ternate dengan Gamalama-nya. Dua pulau yang secara visual begitu dekat ini kemudian tumbuh menjadi dua kesultanan besar yang sejarahnya berkali-kali saling bersinggungan. Jadi gunung yang sekarang kita lihat dengan santai sambil duduk di pinggir laut sebenarnya sudah menjadi bagian dari pandangan manusia di kawasan ini selama berabad-abad.

Menurutku pemandangan pulau-pulau yang saling terlihat seperti ini adalah salah satu hal yang bikin tinggal di Ternate terasa berbeda. Kita selalu diingatkan bahwa Ternate bukan daratan yang berdiri sendirian. Di sekelilingnya ada pulau lain, masyarakat lain dan kehidupan lain yang terhubung oleh laut.

Dan ketika cuaca sedang benar-benar cerah, rasanya pengen nunjuk satu-satu:

"Itu Tidore."

"Itu Maitara."

"Yang jauh sana Halmahera."