Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.
Part Sebelumnya : DISINI
Hoi An, 6 Februari 2023
Hoahmmm… aku bangun pagi dengan tubuh yang terasa ringan dan pikiran yang segar. Rasanya tidur semalam benar-benar maksimal. Entah kenapa, semua hal di penginapan ini seperti bekerja sama meningkatkan kualitas tidurku. Kasurnya lebar dan empuk, bantalnya pas—nggak terlalu tinggi, nggak bikin leher pegal—dan AC-nya menyembur dingin dengan cara yang ramah, bukan nyembur nusuk sampai tulang. Badan segar, mood bagus.
Setelah berbaring cukup lama sambil scrolling Google Maps—menimbang tempat mana saja yang akan kami datangi hari ini sekaligus rutenya yang paling efektif—akhirnya kami benar-benar bergerak. Mandi, beres-beres, lalu langsung mengarahkan motor keluar penginapan.
Begitu keluar, aku baru sadar ternyata hotel kami ternyata berada di kawasan perumahan. Rumah-rumah berjajar rapi, suasananya tenang, dengan jalanan yang cukup lebar. Pagi itu Hoi An terasa hidup dengan cara yang menenangkan. Bukan hiruk-pikuk motor, tapi ramai yang wajar. Orang-orang sudah mulai beraktivitas—ada yang menyapu halaman, ada yang mengayuh sepeda pelan, ada juga ibu-ibu yang sudah siap dengan dagangan mereka.
“Kita ke arah kota tua ya, nanti cari sarapan di jalan aja,” kataku ke travelmate sambil mulai memutar gas.
“Iya,” jawabnya singkat.
Motor melaju pelan menyusuri jalanan pagi. Udara masih adem, matahari belum terlalu tinggi. Kami mulai melewati area pasar. Nah, di sinilah suasananya berubah. Lebih ramai, lebih berwarna. Banyak pedagang kaki lima berjejer, gerobak kecil, meja sederhana, banner menu dengan foto-foto makanan yang entah kenapa selalu kelihatan menggoda di pagi hari. Orang lokal lalu-lalang, ada yang belanja sayur, ada yang sarapan sambil berdiri, ada yang sekadar ngobrol.
Sambil nyetir, mataku nggak bisa berhenti mengamati menu-menu sarapan yang dijual. Aku jelas lagi cari sarapan yang familiar di tengah gempuran menu-menu Bahasa Vietnam wkwk. Pokoknya yang aman kayak bubur, sup, atau nasi ayam.
“Eh, eh… itu ada nasi ayam,” kataku tiba-tiba sambil menunjuk ke arah seorang pedagang di pasar.
Dari gambarnya sih kelihatan sederhana. Nasi kuning dengan suwiran ayam. Yah, standar banget lah wkwk. Tapi yaudahlah.. yang penting perut terisi, dan.. harganya murah!
Begitu makanannya datang, kami langsung ketawa kecil. Dan… yup, benar-benar sesederhana itu. Sepiring nasi kuning, suwiran ayam secukupnya, lalu semangkuk kecil kuah bening dengan potongan hati ayam yang ukurannya juga nggak niat-niat amat. Wkwkwk. Persis seperti bayangan kami sejak awal. Untungnya kuahnya cukup gurih, jadi masih ada pembeda. Setidaknya bikin rasa nggak terlalu hambar.
Selesai makan, tanpa lama-lama kami langsung melanjutkan perjalanan ke arah kota tua. Motor kembali melaju, makin mendekati pusat Hoi An. Tapi begitu sampai di satu titik tertentu, ternyata kami harus berhenti dan parkir motor disitu. Tidak bisa lebih jauh lagi naik motor masuk ke kawasan kota tua.
“Kalian harus lanjut jalan kaki,” kata tukang parkir setempat sambil menunjuk area di depannya dan meminta bayaran parkir motor 20.000 VND. Untuk masuk ke kawasan kota tuanya sendiri ga ada biaya.
Akhirnya kami benar-benar melanjutkan dengan berjalan kaki. Dan sejak langkah pertama itu, suasananya langsung berubah klasik. Kota tua Hoi An terbentang di sekitar Sungai Thu Bồn, sungai yang sejak ratusan tahun lalu menjadi nadi kehidupan kota ini. Dulu—jauh sebelum Vietnam modern seperti sekarang—Hoi An adalah pelabuhan internasional yang sangat penting. Sekitar abad ke-15 hingga ke-19, kapal-kapal dari China, Jepang, India, bahkan Eropa, datang dan pergi lewat sungai ini. Mereka berdagang sutra, rempah, keramik, kayu, dan berbagai komoditas berharga lainnya.
Itulah sebabnya, berjalan di kota tua Hoi An rasanya seperti menyusuri kota dengan banyak lapisan budaya. Bangunan-bangunan tua berdiri rapat, didominasi rumah kayu bercat kuning kusam—warna khas Hoi An—dengan jendela kayu dan balkon kecil. Arsitekturnya campuran: ada gaya Tiongkok dengan ornamen merah dan emas, pengaruh Jepang yang sederhana dan fungsional, serta sentuhan Eropa dari masa kolonial.
Salah satu simbol paling terkenal tentu saja Jembatan Jepang—dibangun oleh komunitas pedagang Jepang pada awal abad ke-17. Jembatan ini bukan cuma penghubung fisik, tapi juga simbol betapa kosmopolitannya Hoi An di masa lalu. Kota kecil ini pernah menjadi titik temu berbagai bangsa, bahasa, dan kepercayaan.
Budayanya pun terasa kental sampai sekarang. Banyak rumah tua yang dulunya adalah rumah pedagang, sekarang dialihfungsikan menjadi toko kecil, galeri seni, atau kafe. Namun struktur aslinya tetap dipertahankan. Di beberapa sudut, terlihat klenteng-klenteng kecil tempat orang lokal masih bersembahyang, membakar dupa, dan memberi persembahan. Tradisi Tionghoa, Vietnam, dan sedikit Jepang bercampur tanpa terasa dipaksakan.
Sungai di samping kami mengalir tenang. Perahu-perahu kayu kecil terikat di pinggirannya, sebagian disiapkan untuk wisata. Lampion warna-warni tergantung di mana-mana, meski pagi hari ini mereka belum menyala. Tapi bahkan dalam kondisi “mati lampu”, kota tua Hoi An sudah terasa cantik dengan caranya sendiri—tenang, hangat, dan seperti tidak tergesa oleh waktu.
"Kayaknya area ini paling bagus dikunjungi kalau malam deh, lampionnya bakal nyala semua. Pasti cantik banget," kataku ke travelmate.
"Iya, nanti malam kudu balik lagi kesini kita," jawabnya.
Kami berjalan menyusuri tepi sungai. Airnya berwarna hijau, tenang, nyaris tanpa riak. Di pagi hari seperti ini, sungai Thu Bồn terlihat damai, seolah sedang bernapas pelan. Suasananya masih cukup sepi—belum ada keramaian turis, belum ada suara riuh kamera dan pemandu. Yang terdengar hanya langkah kaki, sesekali suara sepeda lewat, dan percakapan lirih orang-orang lokal.
Di sepanjang tepi sungai, kafe-kafe kecil mulai membuka pintu. Kursi rotan disusun rapi menghadap air, meja-meja dilap bersih, dan beberapa barista sibuk menyiapkan kopi pagi. Aroma kopi Vietnam mulai tercium samar, bercampur dengan udara lembap khas kota tua. Kalau saja tidak ada agenda, rasanya ingin duduk saja di salah satu kafe itu, memesan kopi, dan membiarkan waktu lewat tanpa rencana.
Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di jembatan yang paling ikonik di Hoi An: Japanese Covered Bridge, atau yang juga dikenal dengan nama Chùa Cầu.
Jembatan ini dibangun pada awal abad ke-17 oleh komunitas pedagang Jepang yang dulu menetap di Hoi An. Fungsinya bukan cuma sebagai jembatan penghubung, tapi juga sebagai simbol persahabatan antara komunitas Jepang dan Tiongkok yang tinggal di dua sisi kota. Di tengah jembatan terdapat bangunan kecil menyerupai kuil, sehingga jembatan ini juga berfungsi sebagai tempat ibadah—konon untuk menangkal roh jahat dan bencana alam.
Arsitekturnya sederhana tapi anggun. Atap kayu melengkung, dinding berwarna gelap, dan detail ukiran yang sudah termakan usia. Berdiri di jembatan ini, rasanya seperti berdiri di persimpangan zaman. Ratusan tahun lalu, para pedagang dari negeri jauh mungkin berdiri di titik yang sama, menatap sungai yang sama, dengan harapan dagangan mereka laku dan perjalanan laut berikutnya selamat.
Dari jembatan itu, kami melanjutkan langkah menuju Phung Hung House—rumah tua yang menjadi salah satu bangunan bersejarah paling terkenal di Hoi An.
Phung Hung House dibangun lebih dari 200 tahun lalu dan dulunya merupakan rumah sekaligus tempat usaha keluarga pedagang kaya. Bangunan ini adalah contoh nyata perpaduan arsitektur Vietnam, Tiongkok, dan Jepang. Rumahnya berbentuk memanjang, terbuat dari kayu berkualitas tinggi, dengan sistem ventilasi alami dan lantai yang dirancang agar tahan terhadap banjir—sesuatu yang sangat penting di kota yang sering dilanda luapan sungai.
Nama “Phung Hung” sendiri diambil dari tokoh pahlawan nasional Vietnam, dan rumah ini diwariskan turun-temurun selama beberapa generasi. Sampai sekarang, keturunan pemilik aslinya masih merawat bangunan ini, menjadikannya bukan sekadar museum, tapi rumah hidup yang menyimpan cerita keluarga dan kota.
Di dalamnya, suasana terasa teduh dan tenang. Pilar-pilar kayu tua berdiri kokoh, altar leluhur terawat rapi, dan cahaya matahari masuk lembut dari bagian atas bangunan. Rasanya seperti memasuki ruang waktu yang bergerak lebih lambat dari dunia luar.
Kami berhenti sejenak, mengamati detail-detail kecil—ukiran kayu, lantai yang sudah halus karena usia, dan aroma kayu tua yang khas dan mengambil beberapa foto.
Setelah puas berjalan kaki di kota tua dari ujung ke ujung, dan matahari mulai semakin garang, kami pun perlahan meninggalkan kawasan klasik Hoi An menuju tujuan berikutnya yang baru saja kuset di google maps, Thanh Ha Terracotta Park.
Di Google Maps kelihatannya dekat. Nggak sampai belasan menit dari kota tua. Tapi seperti banyak perjalanan lain di Vietnam, jarak dekat belum tentu berarti perjalanan lurus dan mudah.
Motor melaju keluar dari area turistik, masuk ke jalanan yang lebih sepi. Bangunan-bangunan tua perlahan berganti rumah penduduk biasa, sawah kecil, dan kebun-kebun hijau. Jalanannya sempit, aspalnya kadang mulus, kadang agak berlubang. Kami beberapa kali melambat, menyesuaikan dengan sepeda warga lokal dan motor lain yang lewat santai, tanpa klakson berisik.
Masalah mulai muncul ketika Google Maps mulai… membingungkan.
“Ini bener ke sini nggak sih?” tanyaku sambil menurunkan kecepatan. “Barusan disuruh belok, tapi kok malah makin masuk,” jawab travelmate sambil menatap layar HP.
Kami pun muter. Masuk gang kecil. Keluar lagi. Lalu masuk gang lain yang ukurannya bahkan terasa terlalu sempit untuk disebut jalur wisata. Beberapa kali kami berhenti di pinggir jalan, mengecek Maps, lalu melihat sekitar. Nggak ada papan petunjuk besar. Nggak ada tanda-tanda kawasan wisata. Yang ada cuma rumah-rumah warga, halaman kecil, anak-anak bermain, dan kehidupan lokal yang berjalan apa adanya.
Kami memutuskan tetap mengikuti Maps, meski arahnya terasa makin “belakang layar”. Jalanan makin kecil, suasana makin lokal. Tidak ada kafe lucu, tidak ada toko suvenir, tidak ada turis lain. Hanya kami, motor, dan jalan yang terasa entah membawa ke mana.
Beberapa menit kemudian, akhirnya muncul sebuah papan sederhana di pinggir jalan. Thanh Ha Terracotta Park. Tidak mencolok. Tidak heboh. Tapi cukup jelas.
“Oh… ini toh,” kataku sambil ketawa kecil.
Akhirnya ketemu juga. Wkwk.
Kami parkir motor dan turun. Suasananya langsung terasa berbeda dari kota tua. Area taman ini lebih terbuka, lebih modern, tapi tetap menyatu dengan alam sekitarnya. Di depannya terbentang Sungai Thu Bồn, mengalir pelan seperti yang kami lihat pagi tadi di pusat kota—hanya saja kali ini dari sisi yang lebih sepi dan tenang.
Thanh Ha Terracotta Park sendiri adalah taman seni dan budaya yang dibangun untuk menghormati Desa Gerabah Thanh Ha, desa tradisional yang sudah memproduksi keramik dan tembikar sejak ratusan tahun lalu. Konon, desa ini sudah ada sejak abad ke-16, dan dulu menjadi salah satu pemasok utama tembikar untuk kebutuhan rumah tangga, bangunan, hingga perdagangan di wilayah tengah Vietnam.
Begitu masuk ke area taman, kami langsung disuguhi berbagai miniatur bangunan terkenal dunia—semuanya dibuat dari terracotta. Ada miniatur Colosseum, Menara Pisa, Taj Mahal, hingga bangunan-bangunan khas Vietnam. Ukurannya memang tidak besar, tapi detailnya cukup rapi dan menarik. Rasanya seperti perpaduan antara taman edukasi dan galeri seni terbuka.
Di bagian lain, berdiri bangunan utama museum dengan bentuk yang unik—melengkung, dengan dinding bertekstur tanah liat. Di dalamnya dipamerkan berbagai karya keramik, sejarah panjang desa Thanh Ha, serta proses pembuatan gerabah dari masa ke masa. Ada juga area workshop, tempat pengunjung bisa melihat langsung atau mencoba membuat tembikar sendiri.
Saat kami datang, suasananya relatif sepi. Tidak banyak pengunjung. Kami bisa berjalan santai, berhenti lama di satu titik tanpa harus berbagi ruang dengan rombongan besar. Angin dari sungai sesekali berhembus, membawa udara lembap dan aroma tanah—aroma yang entah kenapa terasa pas sekali dengan tema tempat ini.
Setelah cukup lama berkeliling di bagian dalam taman, kami pun keluar menuju area luarnya. Di sana, beberapa pohon besar tumbuh rindang, menaungi bangku-bangku sederhana yang menghadap ke area terbuka. Kami langsung duduk, tanpa banyak bicara. Capeknya bukan capek yang dramatis atau bikin ngos-ngosan, tapi capek pelan—capek setelah sejak pagi sampai menjelang siang berjalan kaki menyusuri kota tua, mengamati detail demi detail, lalu berpindah tempat tanpa benar-benar berhenti.
Angin bertiup pelan. Daun-daun bergerak lirih di atas kepala. Dari kejauhan, suara sungai masih terdengar samar. Duduk di bawah pohon seperti ini rasanya pas. Seolah tubuh dan pikiran sama-sama minta jeda. Tidak ingin ke mana-mana dulu. Hanya duduk. Melambat. Dan membiarkan waktu berjalan dengan kecepatannya sendiri.
Untuk menutup kunjungan ke Thanh Ha Terracotta Park, momen ini sudah lebih dari cukup. Tidak perlu dipaksakan. Tidak perlu ditambah agenda lain di tempat yang sama.
Setelah merasa cukup—dan matahari kembali terasa lebih dekat ke kulit—kami pun bersiap melanjutkan perjalanan. Helm dipakai lagi, motor dinyalakan. Tujuan berikutnya awalnya sudah kami sepakati sejak tadi: An Bang Beach.
Perjalanan ke arah pantai cukup lurus. Jalanan mulai terasa lebih terbuka, matahari semakin terik, dan lalu lintas perlahan bertambah padat. Semakin mendekati area pantai, suasananya berubah drastis. Lebih ramai. Lebih bising. Motor dan mobil lalu-lalang, turis mulai banyak, papan-papan kafe berjejer rapat di kanan kiri jalan.
Panasnya terasa menyengat. Bukan panas yang masih bisa diajak kompromi sambil duduk santai, tapi panas yang bikin kepala terasa berat dan tubuh makin enggan bergerak. Pantainya sendiri tampak ramai. Kursi-kursi pantai penuh, orang lalu-lalang, musik terdengar dari beberapa kafe.
Entah kenapa, di titik itu, aku tidak lagi ingin turun.
“Kayaknya nggak usah deh, rame, panas,” kataku akhirnya.
“Iya, panas banget, kita balik aja ke penginapan,” jawab travelmate, nyaris tanpa ragu.
Kami bahkan tidak benar-benar berhenti. Hanya melambat sebentar, lalu memutar arah. Tidak ada rasa rugi, tidak ada penyesalan. Kadang, keputusan paling masuk akal saat traveling justru adalah tahu kapan harus mengurungkan niat dan memilih istirahat.
Perut mulai terasa lapar. Akhirnya kami sepakat cari makan siang saja—yang sederhana, tanpa ekspektasi tinggi—lalu kembali ke hotel untuk benar-benar berhenti sejenak.
Di tengah perjalanan mencari makan, pikiranku mulai melayang ke hal lain. Ke laptop. Ke file-file kerjaan. Ke deadline yang sejak pagi sebenarnya sudah ikut menumpang di kepala. Beberapa pesan dari klien masuk. Bahasanya mulai terdengar lebih menekan. Bukan marah, tapi jelas ingin cepat. Mereka menunggu.
Perjalanan ini memang liburan, tapi hidupku tidak sepenuhnya berhenti. Ada bagian dari diriku yang masih harus bertanggung jawab. Ada pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Deadline yang tidak peduli aku sedang berada di kota tua yang cantik, atau duduk di bawah pohon rindang di tepi sungai.
Makan siang kami jalani dengan lebih banyak diam. Bukan karena makanannya tidak enak, tapi karena pikiranku sudah setengah berada di tempat lain. Setelah itu, tanpa rencana tambahan, kami langsung kembali ke hotel.
Begitu sampai kamar, AC dinyalakan. Badan langsung rebah di kasur. Panas, lelah pelan sejak pagi, dan pikiran yang penuh bercampur jadi satu. Aku menatap langit-langit lagi—kali ini dengan senyum yang berbeda dari pagi tadi.
Hoi An masih di luar sana, tetap cantik, tetap menunggu. Tapi untuk beberapa jam ke depan, aku tahu aku butuh melambat. Dan mungkin, sedikit berdamai dengan kenyataan bahwa traveling dan tanggung jawab sering berjalan beriringan—meski tidak selalu seimbang.
Setelah menimbang cukup lama, dan berdiskusi sebentar dengan travelmate, akhirnya… aku memutuskan untuk tetap mengunjungi kota tua malam itu.
“Kalau kamu malam ini tetap kerja, itu bisa selesai atau jatuhnya nyicil aja? Kalau misalnya jatuhnya nyicil, mungkin bisa dilanjutkan besok. Besok kamu bangun lebih pagi, langsung lanjut kerja sebelum kita check out dan balik ke Danang,” katanya.
Aku mengangguk pelan. Benar juga. Ini memang konsekuensi yang harus kuambil. Tidak ada pilihan tanpa harga.
Setelah mandi dan bersiap-siap, kami mengeluarkan motor dan mulai melaju menuju kota tua. Hoi An ini gimana ya… kotanya kecil. Rasanya bagian paling ramai memang hanya di area kota tuanya. Tapi anehnya, setiap sudut kota ini seperti punya cara sendiri untuk menyentuh perasaan. Jalan-jalannya sederhana, rumah-rumahnya biasa saja, tapi entah kenapa semuanya terasa hangat. Seperti anyaman—pelan-pelan masuk ke hati tanpa memaksa.
Kami motoran santai, tidak terburu-buru. Begitu masuk kawasan kota tua, kami kembali parkir. Kali ini tarifnya naik jadi 30.000 VND. Wkwk. Sepertinya memang tidak ada harga resmi. Tergantung mood yang jaga parkiran malam itu.
Motor ditinggal. Kami kembali berjalan kaki.
Langkah pertama menuju arah sungai yang sama seperti siang tadi, dan… wow. Rasanya seperti masuk ke kota yang benar-benar berbeda.
Kalau siang Hoi An terasa tenang dan lembut, malam hari kota ini berubah jadi hidup—dan bukan hidup yang berisik, tapi hidup yang hangat dan penuh cahaya. Lampion-lampion menyala di mana-mana. Merah, kuning, oranye, berayun pelan tertiup angin malam. Cahaya mereka memantul di permukaan Sungai Thu Bồn, membuat air yang siang tadi tampak hijau tenang kini berkilau keemasan.
Perahu-perahu kayu yang siang tadi hanya tertambat di pinggir sungai, kini mulai bergerak pelan. Satu per satu, membawa wisatawan menyusuri sungai dengan kecepatan yang disengaja—lambat, seolah memberi waktu untuk benar-benar menikmati suasana. Beberapa perahu dihiasi lampion kecil, menambah kesan magis di atas air.
Manusia… banyak sekali. Jauh lebih ramai dibanding siang. Tapi anehnya, tidak terasa sesak. Ada pedagang makanan ringan di pinggir jalan, menjual jajanan lokal, es krim, dan camilan manis. Aroma makanan bercampur dengan udara malam yang lembap. Kafe-kafe penuh oleh anak muda—duduk berjejer, tertawa, mengobrol, menyeruput minuman, menikmati malam tanpa terlihat tergesa.
Aku berjalan pelan, membiarkan semua itu masuk. Cahaya, suara, keramaian, gerak perahu, pantulan lampion di air. Semua terasa… tepat. Seperti jawaban dari galau beberapa jam sebelumnya.
Di momen itu, aku tahu. Keputusanku untuk datang ke sini malam ini tidak salah.
Pekerjaan memang menunggu. Deadline memang nyata. Tapi malam ini, Hoi An memberi sesuatu yang tidak bisa diulang besok. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan sekarang, dengan kaki yang melangkah pelan di jalanan kota tua, dan hati yang akhirnya bilang, ya… ini layak.
Terimakasih Hoi An, kamu cantik banget!
































