Berawal dari Juventus
Sebelum bercerita panjang tentang sejarah Manchester United, mulai dari awal berdirinya sampai menjadi salah satu klub sepak bola paling terkenal di dunia seperti sekarang, rasanya aku pengen cerita sedikit dulu tentang kenapa aku bisa menyukai klub ini. Karena kalau dipikir-pikir, hubunganku dengan Manchester United ternyata sudah cukup panjang. Bahkan ceritanya dimulai sejak aku masih SMP, dan lucunya... klub pertama yang kucintai sebenarnya bukan Manchester United.
Klub itu adalah Juventus.
Sejak SMP, sekitar tahun 2005–2006, aku memang sudah suka banget dengan sepak bola. Saat itu Liga Italia sedang jaya-jayanya dan orang yang pertama kali mengenalkanku dengan dunia sepak bola adalah kakakku. Dari dialah aku mulai sering nonton Serie A yang saat itu ditayangkan dengan gratis di televisi dan mengenal nama-nama klub serta pemain yang sebelumnya benar-benar asing buatku. Kakakku ngefans berat dengan Alessandro Del Piero, pemain Juventus. Alasannya sederhana: karena ganteng. Hahaha. Dari situlah aku sebagai adiknya ikut-ikutan mendukung Juventus dan perlahan benar-benar jatuh cinta dengan sepak bola Italia. Kalau kakakku punya Del Piero, aku punya Gianluigi Buffon sebagai pemain favoritku. Aku sampai membeli jersey Juventus KW di Pasar Purwosari Solo, menggambar logo Juventus secara manual di buku-bukuku, dan menjadikan Juventus sebagai sumber motivasi ketika bermain sepak bola bersama teman-teman SMP.
Bahkan ketika Piala Dunia 2006 digelar, aku mati-matian mendukung Timnas Italia dan senengnya bukan main ketika mereka akhirnya benar-benar menjadi juara dunia setelah mengalahkan Prancis di final. Dan bahkan Buffon jadi kiper terbaik, benar-benar masa keemasan! Heheheh.
Aku masih ingat bagaimana rasanya menunggu pertandingan Juventus tengah malam. Pernah suatu ketika pertandingan mereka dimainkan sekitar jam dua pagi, aku inget banget melawan AS Roma, yang dimana juga salah satu tim terkuat di Italia. Sebelum tidur aku sampai berpesan kepada bapakku untuk membangunkanku nanti dini hari. Tapi ternyata bapakku juga ketiduran dan tidak membangunkanku. Paginya aku marah-marah ke bapakku sambil nangis, dimana saat itu Juventus menang 1-0 atas AS Roma wkwkwk. Segitunya aku mencintai klub ini saat itu.
Selain nonton pertandingan, aku juga rutin membeli majalah sepak bola bernama Soccer. Anak-anak era 2000-an mungkin masih ingat majalah ini. Terbit setiap hari Kamis, harganya sekitar Rp3.500 dan biasanya ada bonus poster pemain sepak bola di dalamnya. Aku selalu menunggu edisi terbaru untuk membaca kabar sepak bola dari seluruh dunia. Dan seperti remaja pencinta bola pada umumnya saat itu, poster-poster bonus dari majalah Soccer itu tentu saja nggak cuma kusimpan. Hampir semuanya kutempel di kamar sampai dinding kamarku penuh dengan wajah pemain-pemain bola dari ujung ke ujung. Hehehe. Pokoknya kalau masuk kamarku saat itu, sudah kelihatan banget kalau penghuninya keranjingan sepak bola.
Lalu datanglah peristiwa yang mengubah semuanya. Pada tahun 2006, sepak bola Italia diguncang skandal besar yang kemudian dikenal sebagai Calciopoli. Kasus ini mencuat setelah terungkap adanya hubungan dan komunikasi antara sejumlah petinggi klub dengan pejabat sepak bola Italia yang berkaitan dengan sistem penunjukan wasit. Juventus menjadi klub yang menerima hukuman paling berat dalam kasus tersebut. Gelar Serie A musim 2004/2005 mereka dicabut, gelar musim 2005/2006 tidak diberikan kepada Juventus, dan yang paling mengejutkanku saat itu adalah Juventus harus turun ke Serie B untuk musim 2006/2007.
Sebagai fans Juventus yang saat itu lagi cinta-cintanya dengan klub ini, tentu saja aku benar-benar kecewa. Apalagi kejadiannya terasa kontras banget buatku. Tahun 2006 aku baru saja seneng bukan main karena Italia berhasil menjadi juara dunia, tetapi nggak lama kemudian klub yang selama ini kudukung justru tersandung skandal sebesar ini dan harus turun kasta. Di sisi lain, pertandingan Serie B juga nggak ditayangkan di televisi yang biasa kutonton. Jadi mau mengikuti Juventus pun jadi susah. Perlahan-lahan aku mulai kehilangan hubungan dengan klub yang sebelumnya sampai membuatku rela begadang dan bahkan menangis gara-gara kelewatan pertandingan. Bukan karena aku tiba-tiba membenci Juventus, tetapi karena sejak saat itu aku memang sudah nggak bisa mengikuti mereka seperti dulu lagi.
*****
Era Manchester United
Bermainnya Juventus di Serie B otomatis membuatku nggak lagi mendapatkan informasi sebanyak sebelumnya tentang klub ini. Pertandingannya nggak bisa kutonton di televisi dan berita tentang Juventus yang sampai kepadaku juga nggak sebanyak ketika mereka masih bermain di Serie A. Padahal sebelumnya hampir setiap minggu aku terbiasa menunggu pertandingan mereka. Jadi rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari rutinitasku sebagai pencinta sepak bola saat itu.
Kekosongan itu kemudian mulai kuisi dengan sesekali menonton Liga Inggris di televisi bersama kakakku. Dari sinilah Manchester United perlahan-lahan mulai masuk ke dalam hidupku. Lagi-lagi awalnya karena pengaruh kakakku. Saat itu Cristiano Ronaldo masih muda dan sedang bersinar bersama Manchester United. Kakakku suka banget dengan Ronaldo, kemudian mulai sering mengikuti Manchester United, dan seperti yang terjadi ketika dia mengenalkanku pada Juventus dulu, aku pun akhirnya ikut-ikutan menonton.
Entah sejak kapan, yang awalnya cuma ikut nonton lama-lama berubah menjadi benar-benar menunggu pertandingan Manchester United. Tetapi ada sesuatu yang berbeda dibanding ketika aku menyukai Juventus. Dulu aku punya Gianluigi Buffon sebagai pemain yang benar-benar kufavoritkan, sedangkan di Manchester United aku nggak pernah merasa punya satu pemain tertentu yang menjadi alasan utama aku mendukung klub ini. Tentu saja aku suka Cristiano Ronaldo, apalagi saat itu dia memang sedang bagus-bagusnya, tetapi ternyata bukan Ronaldo yang membuatku jatuh cinta dengan Manchester United. Aku justru suka dengan klubnya secara keseluruhan, dengan permainannya, atmosfer pertandingan yang kulihat di televisi, dan terutama perasaan yang muncul setiap kali menunggu dan menonton mereka bertanding.
Saat itu aku suka banget dengan cara Manchester United bermain, terutama ketika mereka melakukan serangan balik. Rasanya begitu merebut bola, permainan bisa langsung meledak ke depan dalam hitungan detik. Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan Carlos Tévez menjadi tiga pemain yang paling kuingat dari serangan-serangan cepat itu. Mereka bisa bertukar posisi, berlari membawa bola dengan cepat, dan tiba-tiba saja sudah berada di depan gawang lawan. Buatku yang saat itu masih remaja dan baru mulai sering menonton Liga Inggris, permainan seperti itu seru banget untuk ditonton (bahkan sebelumnya belum pernah kujumpai pola permainan secepat ini di Liga Italia). Mungkin dari sinilah, tanpa benar-benar kusadari kapan tepatnya, aku mulai jatuh cinta bukan hanya kepada pemain-pemainnya, tetapi kepada Manchester United sebagai sebuah klub. Apalagi periode 2007 sampai sekitar 2010 adalah masa yang luar biasa menyenangkan untuk menjadi fans Manchester United. Skuad mereka saat itu benar-benar kuat. Nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Ryan Giggs, Paul Scholes, Nemanja Vidić, Rio Ferdinand, Edwin van der Sar dan banyak pemain hebat lainnya membuat hampir setiap pertandingan terasa spesial untuk ditonton.
Musuh terbesar mereka saat itu adalah Chelsea. Dan aku masih ingat bagaimana deg-degannya mengikuti persaingan kedua tim tersebut, dan bagaimana bencinya aku dengan Chelsea hahaha..Puas banget waktu Manchester United ngalahi mereka di final Liga Champions Moscow tahun 2008, gara-gara John Terry kepleset pas nendang pinalti kelima. Padahal kalau itu masuk, Chelsea-lah yang akan menjadi juara.
Vakum dari Dunia Bola dan Akhirnya Kembali
Kemudian hidup berjalan seperti biasa. Aku masuk kuliah pada tahun 2010. Kesibukan mulai bertambah. Frekuensi menonton sepak bola perlahan menurun. Sampai akhirnya sekitar tahun 2012 aku benar-benar berhenti mengikuti sepak bola. Bukan cuma Manchester United, tetapi sepak bola secara umum.
Anehnya, vakum itu berlangsung sangat lama. Hampir satu dekade. Padahal beberapa kali aku mencoba kembali menonton. Kadang baca berita. Kadang lihat cuplikan pertandingan. Kadang mencoba mengikuti perkembangan transfer pemain. Tetapi rasanya sudah berbeda. Aku nggak bisa menemukan perasaan yang dulu pernah membuatku rela begadang sampai dini hari demi sebuah pertandingan sepak bola.
Sampai akhirnya Piala Dunia 2022 datang. Aku nggak tahu pasti bagaimana awalnya. Mungkin karena kembali menonton Piala Dunia. Mungkin karena iseng melihat pertandingan Manchester United lagi setelah sekian lama. Tetapi yang jelas, sesuatu yang selama bertahun-tahun terasa mati tiba-tiba hidup kembali.
Aku mulai menonton Manchester United lagi. Lalu satu pertandingan berubah menjadi dua pertandingan. Dua pertandingan berubah menjadi satu musim. Dan tanpa sadar aku kembali menjadi fans Manchester United seperti dulu. Bahkan kali ini lebih parah.
Kali ini aku mengikuti hampir semua pertandingan yang mereka mainkan. Liga Inggris, Liga Champions, FA Cup, Carabao Cup, pokoknya apa pun yang melibatkan Manchester United. Menang membuatku bahagia seharian. Kalah bisa membuat mood berantakan sampai besok. Memang cuma sementara, tapi kurasa sesama fans Manchester United pasti paham perasaan itu.
Lucunya, aku kembali mencintai Manchester United justru di era ketika mereka sedang tidak stabil-stabil amat. Kadang bermain bagus lalu membuat kami berharap tinggi. Minggu berikutnya bermain buruk dan membuat kami frustrasi. Sebagai fans, perasaanku seperti naik roller coaster yang nggak ada habisnya.
Tetapi mungkin memang itulah sepak bola. Dan mungkin juga itulah yang membuatku tetap bertahan sampai hari ini. Karena pada akhirnya, mendukung sebuah klub bukan cuma soal kemenangan. Bukan soal trofi. Bukan soal siapa pemain terbaiknya. Kadang kita mencintai sebuah klub tanpa alasan yang benar-benar bisa dijelaskan. Dan bagiku, klub itu adalah Manchester United.
Nah, sebelum masuk lebih jauh ke cerita perjalananku sebagai fans Manchester United, aku rasa ada satu pertanyaan yang menarik untuk dijawab terlebih dahulu:
Sebenarnya Manchester United itu berasal dari mana? Bagaimana sejarah klub ini sampai bisa menjadi salah satu klub terbesar di dunia? Sebagai fans tentunya kita harus tau dong ya.







.jpg)












