Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
Part Sebelumnya: DISINI
Bermain bersama merpati di Kathmandu Durbar Square, dengan latar salah satu kuil yang masih dalam proses pemulihan pasca gempa Nepal 2015
Menjelang pukul lima pagi, setelah hampir semalaman berguncang di jalanan pegunungan Nepal yang rusak dan berliku, bus akhirnya memasuki Kathmandu. Aku langsung menoleh ke luar jendela. Langit masih gelap kebiruan, sementara lampu-lampu jalan masih menyala samar. Jalanan terlihat lengang, jauh berbeda dengan bayanganku tentang ibu kota Nepal yang selama ini hanya kulihat dari foto dan cerita para backpacker.
Beberapa menit kemudian bus memasuki kawasan Thamel. Inilah kawasan yang sejak awal menjadi tujuan kami. Hampir semua backpacker yang datang ke Kathmandu pasti mengenal nama ini. Thamel adalah jantung wisata Kathmandu, tempat berkumpulnya hotel murah, agen trekking, restoran, money changer, hingga toko perlengkapan pendakian Himalaya.
Bus berhenti dan kami segera turun sambil memanggul ransel masing-masing.
Meski tidak tidur hampir semalaman, entah kenapa aku justru tidak merasa mengantuk. Atau mungkin lebih tepatnya, rasa kantuk itu kalah oleh rasa penasaran dan antusiasme. Ada kota baru yang menunggu untuk dieksplorasi. Ada pengalaman-pengalaman baru yang mungkin akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Udara pagi Kathmandu terasa jauh lebih dingin dibandingkan Lumbini. Aku langsung merapatkan jaket sambil berjalan menyusuri lorong-lorong Thamel yang masih sepi.
Suasananya terasa unik.
Deretan toko berjajar di kanan kiri jalan dengan pintu rolling door yang masih tertutup rapat. Beberapa papan nama hotel, restoran, money changer, dan toko perlengkapan gunung menggantung di atas jalan sempit yang hampir kosong. Sesekali terlihat satu dua orang berjalan kaki, sementara sebagian besar kota tampaknya masih tertidur.
Kami berjalan perlahan sambil mencari penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Saat itu GPS di ponsel belum secanggih sekarang dan internet juga tidak selalu tersedia. Jadi kami beberapa kali berhenti untuk mencocokkan alamat yang kami bawa dengan papan-papan nama yang ada di sepanjang jalan.
Akhirnya penginapan itu ditemukan.
Sayangnya ada satu masalah kecil.
Pintunya masih tertutup rapat.
Aku melihat jam tangan. Baru pukul lima pagi.
Tentu saja terlalu pagi untuk check-in.
Kami sempat mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Mau tidak mau kami akhirnya duduk di depan penginapan sambil menunggu pemiliknya bangun atau resepsionis mulai bekerja.
Dan justru saat itulah rasa kantuk mulai datang menyerang. Kepalaku terasa berat. Mataku mulai sulit terbuka. Setelah semalaman berjaga di dalam bus yang melaju di tepi jurang, tubuhku akhirnya mulai menagih istirahatnya.
Aku duduk bersandar di dinding sambil memperhatikan Thamel yang perlahan mulai terbangun dari tidurnya. Satu per satu toko mulai membuka rolling door. Seorang pria tua terlihat menyapu trotoar di depan tokonya. Dari kejauhan terdengar suara motor pertama pagi itu. Cahaya matahari perlahan mulai menyusup di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri rapat di sepanjang jalan.
Aku menarik napas panjang.
Beberapa jam yang lalu aku masih berada di jalan pegunungan yang membuatku berpikir tentang kematian. Kini aku duduk di jantung Kathmandu, menunggu sebuah penginapan dibuka.
Begitulah perjalanan.
Kadang dalam satu malam saja, hidup bisa membawa kita dari rasa takut menuju rasa bahagia. Dan pagi itu, meski mataku nyaris tertutup karena kantuk, ada satu perasaan yang jauh lebih kuat daripada rasa lelah.
Aku akhirnya sampai di Kathmandu. Kota yang selama bertahun-tahun hanya menjadi titik kecil di peta dan daftar mimpi seorang mahasiswa yang gemar membaca buku-buku perjalanan. Aku benar-benar disini.
***
Sekitar pukul sepuluh pagi, aku akhirnya terbangun. Entah berapa lama aku tertidur setelah berhasil check-in pagi tadi. Yang jelas, rasa lelah akibat perjalanan panjang dari Lumbini sudah jauh berkurang. Setelah mandi dan membereskan barang-barang seperlunya, kami memutuskan untuk langsung keluar mengeksplorasi Kathmandu.
Tujuan pertama tentu saja kawasan Thamel.
Kalau Khao San Road adalah jantung backpacker di Bangkok, maka Thamel bisa dibilang versi Nepalnya. Kawasan ini sudah menjadi pusat wisatawan asing sejak era 1970-an, ketika gelombang hippie dan pelancong dari Eropa mulai berdatangan ke Nepal untuk mencari petualangan, spiritualitas, maupun sekadar menikmati suasana Himalaya. Sejak saat itu, gang-gang sempit Thamel berkembang menjadi labirin hotel, restoran, toko suvenir, agen perjalanan, money changer, hingga toko perlengkapan gunung.
Begitu mulai berjalan kaki, aku langsung paham kenapa banyak backpacker betah berhari-hari tinggal di sini.
Hampir setiap bangunan di sepanjang jalan menawarkan sesuatu. Ada toko yang menjual pashmina, syal kasmir, dan kerajinan tangan khas Nepal. Di sebelahnya berdiri agen trekking yang menawarkan pendakian ke Everest Base Camp, Annapurna Circuit, hingga Langtang. Tak jauh dari sana ada money changer, toko buku bekas, rental sepeda, hingga restoran dengan menu dari berbagai penjuru dunia.
Satu hal yang langsung menarik perhatianku adalah kondisi kabel listriknya.
Aku sudah cukup sering melihat kabel semrawut di berbagai negara Asia, tetapi yang ada di Kathmandu benar-benar berada di level yang berbeda. Di beberapa persimpangan, kabel-kabel hitam menggantung kusut membentuk gumpalan raksasa yang sulit dibedakan mana kabel listrik, mana kabel telepon, dan mana kabel internet. Kalau tidak melihat langsung, mungkin aku akan mengira itu sarang burung berukuran raksasa yang menempel di tiang listrik.
Meski terlihat semrawut, justru pemandangan seperti itulah yang membuat Kathmandu terasa memiliki karakter yang kuat. Kota ini sama sekali tidak berusaha tampil rapi atau modern seperti Singapura. Ia tampil apa adanya.
Menjelang siang, perut kami mulai kembali mengingatkan bahwa sejak pagi belum ada makanan yang benar-benar mengenyangkan masuk ke lambung. Kami akhirnya mampir ke salah satu restoran di kawasan Thamel dan memesan steak yang harganya sekitar empat dolar Amerika.
Bagi ukuran backpacker dengan anggaran terbatas, menu itu sebenarnya sudah tergolong mewah.
Aku masih ingat piring besi panas yang mengepulkan asap saat diantar ke meja. Dagingnya disiram saus lada hitam, ditemani kentang goreng dan sayuran rebus. Setelah beberapa hari terakhir lebih sering makan makanan India dan Nepal, menyantap steak sederhana seperti itu terasa seperti hadiah kecil untuk diri sendiri.
Selesai makan, kami kembali melanjutkan eksplorasi.
Semakin jauh berjalan dari pusat Thamel, suasana kota mulai berubah. Jalan-jalan yang kami lewati terlihat jauh lebih berdebu. Di beberapa titik tampak proyek perbaikan jalan yang masih berlangsung. Tumpukan pasir, batu, dan material bangunan terlihat di pinggir jalan. Kendaraan, sepeda motor, pejalan kaki, hingga becak barang berbagi ruang yang sama di jalanan yang sempit.
Sesekali kami harus menepi memberi jalan pada motor yang melintas dari arah berlawanan.
Meski terlihat kacau, kehidupan kota berjalan dengan ritmenya sendiri.
Pedagang membuka toko, pekerja mengangkut barang menggunakan gerobak dorong, anak-anak pulang sekolah, dan para wisatawan berjalan sambil sesekali melihat peta atau bertanya arah.
Aku juga cukup menikmati melihat etalase toko-toko kecil yang menjual berbagai macam barang. Ada toko alat tulis, toko mainan, toko pakaian, hingga kios-kios kecil yang bahkan sulit kutebak apa sebenarnya yang mereka jual. Banyak di antaranya menempati bangunan tua yang usianya mungkin sudah puluhan tahun.
Berjalan kaki di Kathmandu saat itu terasa seperti menyusuri kota yang sedang berusaha bangkit.
Kurang dari satu setengah tahun sebelumnya, Nepal baru saja diguncang gempa besar pada April 2015 yang menewaskan ribuan orang dan merusak banyak bangunan bersejarah di Kathmandu Valley. Meski kehidupan sudah kembali berjalan normal, jejak-jejak bencana tersebut masih bisa ditemukan di berbagai sudut kota.
Dan tak lama kemudian, kami melihat salah satu contohnya secara langsung.
Di sebuah area terbuka yang dipagari sementara, tampak hamparan bata merah dan puing-puing bangunan tua yang masih dalam proses penataan. Beberapa warga terlihat sedang melakukan ritual keagamaan di dekatnya, sementara papan informasi menjelaskan bahwa lokasi tersebut adalah Kasthamandap.
Konon, bangunan bersejarah inilah yang menjadi asal-usul nama Kathmandu. Kasthamandap merupakan paviliun kayu kuno yang dipercaya dibangun pada abad ke-12 dan selama berabad-abad menjadi salah satu ikon kota. Sayangnya, bangunan tersebut runtuh saat gempa besar Nepal tahun 2015.
Saat kami berdiri di sana, yang tersisa hanyalah area reruntuhan dan proses pemulihan yang masih berlangsung. Sulit membayangkan bahwa bangunan yang pernah bertahan selama ratusan tahun bisa roboh hanya dalam hitungan menit.
Namun di sisi lain, melihat warga yang tetap beraktivitas, beribadah, dan melanjutkan kehidupan di sekitar reruntuhan itu juga menunjukkan sesuatu yang lain. Kathmandu memang terluka oleh gempa. Tapi jelas dia tidak menyerah.
Dari Thamel kami terus berjalan kaki menuju Kathmandu Durbar Square. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar belasan menit berjalan santai melewati gang-gang tua Kathmandu yang terasa hidup sekaligus semrawut. Semakin dekat ke pusat kota lama, suasananya mulai berubah. Bangunan-bangunan modern perlahan berganti dengan rumah-rumah bata merah berusia ratusan tahun, jendela kayu berukir khas Newari, serta kuil-kuil kecil yang muncul hampir di setiap sudut jalan.
Ketika akhirnya memasuki kawasan Durbar Square, kesan pertama yang muncul justru bukan kekaguman, melainkan rasa haru. Aku datang ke Nepal hanya sekitar satu tahun setelah Gempa Nepal 2015, salah satu bencana terbesar dalam sejarah negara itu. Gempa berkekuatan 7,8 magnitudo tersebut menewaskan ribuan orang dan menghancurkan banyak bangunan bersejarah di Lembah Kathmandu yang telah berdiri selama berabad-abad.
Dan jejak bencana itu masih terlihat jelas di mana-mana. Beberapa kuil masih ditopang balok-balok kayu besar agar tidak roboh. Sebagian bangunan hanya menyisakan pondasi dan tumpukan batu bata. Di beberapa titik berdiri papan informasi yang menjelaskan bangunan mana yang rusak, mana yang sedang direstorasi, dan mana yang hancur total akibat gempa.
Namun yang menarik, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Di salah satu sudut lapangan, aku melihat beberapa perempuan sedang melakukan ritual keagamaan di depan api kecil yang menyala. Orang-orang lalu lalang, berdoa, berbincang, atau sekadar duduk menikmati sore. Bagi warga Kathmandu, kawasan ini bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Kathmandu Durbar Square sendiri merupakan jantung Kerajaan Kathmandu pada masa lalu. Selama berabad-abad kawasan ini menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja Dinasti Malla sebelum Nepal dipersatukan oleh Prithvi Narayan Shah pada abad ke-18. Karena nilai sejarah dan budayanya yang sangat tinggi, kawasan ini kemudian ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Berjalan di sini rasanya seperti berjalan di sebuah museum terbuka.
Hampir setiap bangunan memiliki cerita. Hampir setiap sudut menyimpan sejarah.
Salah satu bangunan yang menarik perhatianku adalah Kasthamandap, bangunan kuno yang konon menjadi asal-usul nama "Kathmandu". Menurut legenda, bangunan tersebut dibangun dari kayu satu pohon raksasa pada abad ke-12. Sayangnya ketika aku datang, yang tersisa hanya area reruntuhan dan proses restorasi. Gempa 2015 menghancurkan bangunan bersejarah tersebut hingga rata dengan tanah.
Melihat foto-foto kondisi sebelum gempa yang dipasang di papan informasi lalu membandingkannya dengan kondisi di depanku membuatku benar-benar menyadari betapa dahsyatnya bencana itu.
Tidak jauh dari sana berdiri beberapa kuil tua yang masih bertahan. Sebagian terlihat miring, sebagian lagi ditopang balok-balok kayu darurat. Anehnya, justru kondisi itulah yang membuat tempat ini terasa begitu nyata. Aku tidak sedang melihat bangunan bersejarah yang sempurna, melainkan melihat sebuah kota tua yang sedang berjuang bangkit.
Di antara bangunan-bangunan kuno itu, ada satu hal lain yang tidak mungkin dilewatkan.
Merpati.
Jumlahnya luar biasa banyak.
Atap-atap kuil seolah berubah menjadi rumah bagi ribuan merpati. Mereka bertengger di setiap sudut genteng, memenuhi halaman kuil, bahkan nyaris menutupi tumpukan batu bata bekas bangunan yang runtuh. Para pedagang menjual biji-bijian untuk wisatawan yang ingin memberi makan mereka.
Tentu saja aku ikut mencobanya.
Beberapa genggam biji-bijian langsung mengubah suasana. Dalam hitungan detik puluhan merpati berhamburan mendekat. Sayap mereka mengepak ke segala arah, menciptakan suara gemuruh yang khas. Aku tertawa sendiri melihat betapa agresifnya mereka berebut makanan.
Mungkin terdengar sederhana, tetapi momen itu menjadi salah satu kenangan yang paling kuingat dari Kathmandu.
Di sekelilingku berdiri kuil-kuil berusia ratusan tahun yang sebagian masih luka akibat gempa. Di atasnya ribuan merpati beterbangan tanpa peduli pada sejarah, politik, maupun bencana yang pernah terjadi. Dan di tengah semua itu, aku berdiri sebagai seorang backpacker yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Nepal.
Kadang-kadang kebahagiaan memang sesederhana itu.
Tidak perlu naik gunung. Tidak perlu mencapai tujuan besar. Cukup berdiri di sebuah tempat yang selama bertahun-tahun hanya ada dalam imajinasi, lalu menyadari bahwa akhirnya kita benar-benar berada di sana.
Setelah puas berkeliling dan bermain bersama merpati, kami melanjutkan langkah menyusuri bagian lain Kathmandu Durbar Square. Semakin jauh berjalan, semakin banyak detail menarik yang bermunculan. Toko-toko kecil menjual lukisan thangka berwarna-warni, ukiran kayu khas Nepal, patung-patung Buddha dan Hindu, hingga berbagai kerajinan tangan yang memenuhi teras bangunan tua di sepanjang alun-alun.
Dan tanpa sadar, hampir setengah hari telah berlalu hanya untuk menjelajahi satu sudut kecil Kathmandu.
Padahal masih banyak tempat lain yang menunggu untuk kami lihat.
Setelah puas berkeliling di sekitar Kathmandu Durbar Square, aku terus melangkah menyusuri lorong-lorong dan halaman-halaman kecil yang saling terhubung satu sama lain. Semakin jauh berjalan, semakin terasa bahwa kawasan ini bukan sekadar sebuah alun-alun bersejarah. Seluruh area ini seperti sebuah kota tua yang masih hidup, tempat sejarah, agama, dan kehidupan sehari-hari bercampur menjadi satu tanpa batas yang jelas.
Di salah satu sudut, aku menemukan sebuah gerbang bata merah yang cukup mencolok. Gerbang itu dihiasi ukiran warna-warni yang rumit, sementara sepasang singa putih berdiri menjaga pintu masuknya. Dari kejauhan bangunan tersebut terlihat megah, namun ketika didekati, bekas-bekas gempa bumi yang mengguncang Nepal setahun sebelumnya masih tampak jelas di berbagai sudutnya.
Sebagian bangunan di sekitarnya masih disangga balok-balok kayu besar. Tumpukan bata merah terlihat di sana-sini. Beberapa kuil tampak kehilangan bagian atap atau ornamen yang dulu menghiasinya. Namun yang menarik, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Warga duduk santai di teras bangunan bersejarah, pedagang menawarkan dagangannya, sementara wisatawan dan peziarah lalu-lalang memenuhi kawasan tersebut.
Pemandangan seperti ini membuatku terus teringat bahwa Kathmandu bukanlah kota yang dibangun untuk wisatawan. Ini adalah kota yang benar-benar hidup.
Bangunan-bangunan tua di sini bukan museum yang dipagari dan dijaga ketat. Kuil-kuil masih digunakan untuk beribadah. Halaman-halaman kuno masih menjadi tempat berkumpul warga. Bahkan beberapa bangunan yang sedang direstorasi pun tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kathmandu.
Di tengah kawasan aku juga menemukan beberapa kuil khas Nepal yang bentuknya sangat berbeda dengan kuil-kuil yang biasa kulihat di Asia Tenggara. Atapnya bertingkat-tingkat seperti pagoda dengan dominasi kayu berukir yang luar biasa detail. Sulit membayangkan bahwa sebagian besar bangunan tersebut dibangun ratusan tahun lalu oleh para pengrajin Newari yang terkenal akan kemampuan seni pahat mereka.
Setiap sudut seolah memiliki cerita.
Ada kuil yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Malla saat Kathmandu masih berupa kerajaan-kerajaan kecil yang saling bersaing. Ada bangunan yang menjadi bagian dari kompleks Hanuman Dhoka, istana kerajaan Nepal selama berabad-abad. Ada pula bangunan keagamaan yang menjadi saksi berbagai upacara kerajaan, penobatan raja, hingga festival-festival besar yang masih berlangsung sampai sekarang.
Yang membuatku semakin terkesan adalah bagaimana kawasan ini berhasil bertahan melewati begitu banyak peristiwa sejarah. Gempa bumi besar berkali-kali mengguncang Kathmandu selama ratusan tahun, termasuk gempa dahsyat tahun 2015 yang meruntuhkan banyak bangunan bersejarah. Namun masyarakat Nepal selalu membangunnya kembali, batu demi batu, kayu demi kayu.
Di beberapa lokasi bahkan aku bisa melihat langsung proses restorasi yang masih berlangsung. Balok penyangga dipasang di dinding bangunan tua, sementara tumpukan bata merah menunggu untuk digunakan kembali. Pemandangan itu mungkin terlihat biasa bagi warga setempat, tetapi bagiku justru menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sesuatu yang bisa bertahan dengan sendirinya. Selalu ada orang-orang yang bekerja keras untuk menjaganya tetap hidup.
Tak jauh dari sana berdiri sebuah stupa putih yang bentuknya cukup kontras dibandingkan bangunan bata merah di sekitarnya. Stupa tersebut dikenal sebagai Kathesimbhu Stupa, salah satu stupa Buddha penting di pusat Kathmandu. Konon stupa ini dibangun sebagai replika dari Swayambhunath yang berada di atas bukit sebelah barat kota. Pada masa lalu, tidak semua orang mampu melakukan perjalanan ke Swayambhunath, sehingga dibangunlah stupa ini agar masyarakat tetap bisa beribadah di pusat kota.
Suasananya terasa jauh lebih tenang dibandingkan area utama Durbar Square. Beberapa warga berjalan memutari stupa sambil berdoa, sementara yang lain duduk santai menikmati sore yang mulai mendung.
Aku berhenti cukup lama di sana.
Bukan karena ada aktivitas khusus yang ingin kulihat, melainkan karena aku mulai menyadari betapa menariknya Kathmandu. Kota ini memang tidak selalu cantik dalam pengertian yang biasa. Jalanannya berdebu, kabel listrik semrawut menggantung di mana-mana, bangunan tua berdempetan dengan bangunan modern yang seadanya, dan bekas gempa masih terlihat jelas di berbagai sudut.
Namun justru semua ketidaksempurnaan itu yang membuat Kathmandu terasa begitu nyata.
Kota ini tidak mencoba menjadi rapi atau megah untuk menyenangkan wisatawan. Ia tampil apa adanya. Penuh sejarah, penuh luka, penuh kehidupan.
Dan semakin lama aku berjalan di antara kuil-kuil tua, stupa, rumah-rumah bata merah, serta keramaian warga lokal, semakin aku merasa bahwa inilah alasan mengapa banyak orang jatuh cinta pada Kathmandu. Bukan karena kotanya sempurna, melainkan karena kota ini memiliki jiwa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata...
Part Selanjutnya: DISINI