Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

9.09.2026

Boyolali, 9 September 2026 : Melepaskan itu adalah Kebebasan

Manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk melekat. Kita melekat pada manusia, hubungan, benda, pencapaian, pengalaman, harapan, bahkan pada gambaran mengenai bagaimana kehidupan seharusnya berjalan. Ketika menemukan sesuatu yang menyenangkan, kita ingin mempertahankannya. Ketika menginginkan sesuatu, kita berusaha mendapatkannya. Ketika telah mendapatkannya, kita takut kehilangannya. Dan ketika kenyataan tidak berjalan sebagaimana yang kita harapkan, pikiran sering kali sulit menerima.

Dalam psikologi, kecenderungan ini sangat manusiawi. Otak terus belajar mengenali apa yang memberikan rasa aman, senang, dihargai, dicintai, atau menjanjikan kesenangan. Sistem penghargaan otak ikut membentuk motivasi kita untuk mendekati sesuatu yang dianggap bernilai. Karena itulah manusia tidak hanya menikmati sesuatu ketika mendapatkannya, tetapi juga dapat memperoleh dorongan yang kuat dari antisipasi akan mendapatkannya.

Kita membayangkan betapa bahagianya jika suatu hari seseorang memilih kita, jika penghasilan mencapai angka tertentu, jika memiliki sesuatu yang sejak lama diinginkan, jika berhasil mencapai sebuah posisi, atau jika kehidupan akhirnya berjalan sebagaimana yang kita bayangkan.

Kemampuan untuk berharap tentu bukan sesuatu yang buruk. Tanpa keinginan dan tujuan, mungkin manusia tidak akan membangun, belajar, menciptakan, atau memperbaiki kehidupannya. Masalah muncul ketika keinginan perlahan berubah menjadi ketergantungan batin yaitu aku harus mendapatkannya agar bisa bahagia.

Di sinilah psikologi bertemu dengan salah satu gagasan penting dalam Dhamma.

Dalam ajaran Buddha dikenal tanha, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai rasa haus atau dorongan untuk mendapatkan, mempertahankan, menjadi, ataupun menolak sesuatu. Ketika rasa haus tersebut digenggam semakin kuat, muncullah upadana, kemelekatan.

“Aku ingin sesuatu” tidak selalu menjadi masalah.

Tetapi ketika berubah menjadi “Aku harus memilikinya”, hubungan kita dengan keinginan tersebut menjadi berbeda.

“Aku mencintainya” adalah sebuah perasaan.

“Aku tidak akan bisa bahagia kalau dia tidak menjadi milikku” adalah kemelekatan.

“Aku ingin berhasil” adalah sebuah tujuan.

“Hidupku tidak berarti kalau aku gagal mencapai ini” adalah kemelekatan.

Dalam kemelekatan, objek yang kita inginkan perlahan mendapatkan kekuasaan atas keadaan batin kita. Kebahagiaan kita mulai bergantung kepadanya.

Dhamma juga mengajarkan anicca, bahwa segala sesuatu yang berkondisi mengalami perubahan. Tubuh berubah, perasaan berubah, hubungan berubah, keadaan berubah, manusia berubah. Bahkan diri kita sendiri terus berubah. Secara intelektual kita mengetahui hal tersebut, tetapi secara emosional kita sering menjalani kehidupan dengan tuntutan yang sebaliknya yaitu sesuatu yang membuatku bahagia jangan berubah, seseorang yang kucintai jangan pergi, keadaan yang kusukai harus tetap seperti ini.

Dari sinilah penderitaan sering bermula. Bukan semata-mata karena kehidupan berubah, tetapi karena pikiran kita menuntut sesuatu yang berubah untuk tidak berubah. Maka melepaskan bukan berarti berhenti mencintai, tidak mempunyai keinginan, atau menjadi manusia yang pasif. Melepaskan adalah berhenti menjadikan sesuatu sebagai syarat mutlak bagi ketenangan kita.

Dan bagian paling menarik dari melepaskan sebenarnya bukan hanya ketika kita akhirnya mampu menerima kehilangan....Bagian paling menarik adalah apa yang terjadi pada diri kita setelah genggaman itu mulai terbuka. Pada awalnya mungkin tidak terasa dramatis. Tidak ada ledakan kebahagiaan. Tidak ada satu pagi ketika kita bangun lalu seluruh beban mendadak hilang.

Kebebasan itu justru sering datang dengan sangat halus.. 

Suatu hari kita menyadari bahwa kita sudah tidak terlalu sering memikirkannya. Kita tidak lagi mempunyai dorongan sebesar dulu untuk mengetahui kabarnya. Kita tidak lagi menghabiskan malam membayangkan kemungkinan yang sebenarnya kita tahu hampir tidak mungkin terjadi.

Kita tidak lagi terus bertanya, “Bagaimana kalau...?”

Ada sesuatu yang perlahan menjadi lebih tenang.

Kemudian kita mulai menyadari bahwa selama ini kemelekatan bukan hanya mengambil perasaan kita. Ia juga mengambil perhatian, waktu, dan energi mental kita. Obsesi mempunyai harga psikologis. Ketika pikiran terus terikat pada seseorang, suatu keinginan, penyesalan, atau hasil tertentu, sebagian perhatian kita terus kembali ke sana. Kita mengulang percakapan, membayangkan skenario, mencari kemungkinan, menafsirkan tanda-tanda, mengingat masa lalu, atau mencemaskan masa depan. Tubuh kita mungkin sedang berada di tempat lain, tetapi pikiran seperti hidup di sebuah ruangan yang sama berulang kali. Inilah salah satu bentuk penjara yang paling halus. Pintunya sebenarnya tidak selalu terkunci, tetapi pikiran kita terus memilih kembali ke dalamnya.

Ketika akhirnya kita melepaskan, energi itu perlahan kembali. Dan di situlah kemerdekaan mulai terasa...

Bukan kemerdekaan dalam arti kita mendapatkan apa yang selama ini kita inginkan. Justru sebaliknya. Kita mungkin tetap tidak mendapatkannya. Orang yang kita cintai tetap tidak menjadi pasangan kita. Kesempatan yang hilang tetap tidak kembali. Masa lalu tetap tidak dapat diubah.

Tetapi sesuatu yang jauh lebih penting berubah..

hal itu tidak lagi menguasai pikiran kita.

Bayangkan mencintai seseorang yang sebenarnya kita tahu tidak mungkin bersama kita. Selama masih terikat, sebagian kehidupan dapat berhenti di sana. Pikiran terus mempertahankan sebuah kemungkinan. Mungkin suatu hari nanti, mungkin keadaannya berubah, mungkin kalau aku menunggu, mungkin kalau aku melakukan sesuatu.

Harapan membuat kita merasa masih mempunyai hubungan dengan kemungkinan tersebut, tetapi pada saat yang sama ia dapat membuat kita tidak benar-benar bebas bergerak. Melepaskan bukan berarti harus membenci orang tersebut. Bahkan kita mungkin masih mencintainya. Tetapi kita akhirnya dapat berkata:

“Aku mengakui perasaanku kepadamu, tetapi aku tidak lagi menjadikan kemungkinan bersamamu sebagai tempat hidup pikiranku.”

Ada perbedaan besar di sana. Cintanya mungkin belum langsung hilang. Kenangannya juga tidak hilang. Yang hilang perlahan adalah kebutuhan untuk membuat kenyataan berubah. Dan ketika kebutuhan itu berkurang, kita mulai mendapatkan kembali sesuatu yang selama ini tersandera yaitu diri kita sendiri.

Waktu yang dahulu digunakan untuk memikirkan seseorang dapat kembali digunakan untuk membaca, bekerja, belajar, menulis, berolahraga, bepergian, membangun sesuatu, bertemu orang lain, atau sekadar menikmati hari tanpa kepala dipenuhi satu nama yang sama. Masa depan yang dahulu hanya mempunyai satu skenario mulai mempunyai banyak kemungkinan lagi. Kita mulai bertanya bukan lagi, “Bagaimana caranya agar aku mendapatkan dia?”, melainkan:

“Sekarang, apa yang ingin kulakukan dengan hidupku?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi sangat membebaskan. Hal yang sama terjadi ketika kita melepaskan keterikatan terhadap keinginan-keinginan lain. Selama hidup selalu diarahkan kepada “setelah aku mendapatkan ini”, kita sebenarnya terus menunda rasa cukup.

Nanti kalau punya lebih banyak uang.

Nanti kalau bisa pergi ke sana.

Nanti kalau berhasil mencapai ini.

Nanti kalau hidupku sudah seperti itu.

Masalahnya, manusia mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap kesenangan. Dalam psikologi dikenal sebagai hedonic adaptation yaitu sesuatu yang dahulu terasa luar biasa perlahan menjadi keadaan normal setelah cukup lama kita miliki. Setelah itu pikiran mulai menemukan sesuatu yang lain untuk dikejar. Dhamma melihat pola yang mirip melalui tanha. Rasa haus sering kali tidak benar-benar berakhir ketika satu keinginan terpenuhi. Ia hanya berpindah objek.

Karena itu melepaskan bukan berarti kita tidak boleh mempunyai mimpi. Justru setelah memahami sifat keinginan, kita dapat mengejar mimpi dengan cara yang jauh lebih bebas.

Aku ingin mencapainya, tetapi kebahagiaanku tidak sepenuhnya bergantung kepadanya.

Aku akan berusaha, tetapi aku menerima bahwa hasil tidak sepenuhnya berada dalam kendaliku.

Aku akan menikmati ketika mendapatkannya, tetapi aku tidak berharap kesenangan itu akan bertahan selamanya.

Paradoksnya, ketika tidak lagi terlalu menggenggam hasil, kita justru mempunyai lebih banyak energi untuk menjalani prosesnya. Energi yang sebelumnya habis untuk kecemasan dapat digunakan untuk berkarya. Energi yang habis untuk membandingkan diri dapat digunakan untuk berkembang. Energi yang habis untuk mengejar pengakuan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas diri. Energi yang habis untuk memikirkan sesuatu yang tidak dapat dimiliki dapat digunakan untuk membangun sesuatu yang masih mungkin diwujudkan. Di sinilah pelepasan bukan lagi sekadar konsep tentang kehilangan. Pelepasan menjadi pengembalian energi kehidupan kepada diri sendiri.

Setelah melepaskan, perhatian dapat diarahkan kembali kepada impian yang selama ini terbengkalai, kepada tubuh yang perlu dirawat, kepada pengetahuan yang ingin dipelajari, kepada tempat-tempat yang ingin dikunjungi, kepada karya yang ingin dibuat, kepada hubungan-hubungan yang masih ada, dan—yang mungkin lebih penting—kepada kualitas batin kita sendiri.

Dalam Dhamma, perkembangan manusia pada akhirnya memang tidak hanya diukur dari berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan dari dunia luar. Ada kualitas-kualitas batin yang dapat dikembangkan yaitu kebijaksanaan, perhatian penuh, welas asih, keseimbangan batin, kemurahan hati, kesabaran, dan kemampuan melihat pengalaman sebagaimana adanya.

Kita mulai mengalihkan pertanyaan dari:

“Apa lagi yang harus kumiliki?”

menjadi:

“Manusia seperti apa yang ingin kubentuk dari kehidupan ini?”

Ada perbedaan besar antara kedua pertanyaan tersebut. Pertanyaan pertama selalu mengarahkan perhatian keluar. Pertanyaan kedua membawa perhatian kembali ke dalam.

Kita mungkin tidak mempunyai kontrol atas siapa yang akan tetap bersama kita. Kita tidak mempunyai kontrol penuh atas keberhasilan, kesehatan, ekonomi, usia, ataupun berbagai kejadian yang akan datang. Tetapi masih ada wilayah yang dapat kita rawat yaitu bagaimana kita berpikir, bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menggunakan waktu, apa yang kita pelajari, bagaimana kita merespons kehilangan, dan kualitas batin seperti apa yang kita bangun. Semakin sedikit energi yang digunakan untuk menggenggam sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan, semakin banyak energi yang tersedia untuk wilayah tersebut.

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa pelepasan terasa seperti kemerdekaan. Kita tidak lagi harus memastikan semuanya berjalan sesuai keinginan agar bisa merasa tenang. Kita tidak lagi menunggu seseorang untuk memberikan izin agar kita bahagia. Kita tidak lagi menggantungkan kehidupan kepada satu kemungkinan.

Dunia luar mungkin tidak berubah sama sekali. Tetapi hubungan kita dengan dunia telah berubah. Dan kebebasan seperti ini sering datang tanpa suara.

Suatu sore kita bisa duduk sendirian dan tiba-tiba menyadari bahwa kepala terasa lebih lapang. Sesuatu yang dahulu memenuhi hampir seluruh pikiran sekarang hanya menjadi satu bagian kecil dari perjalanan hidup.

Kemudian muncul ruang.

Ruang untuk memikirkan masa depan.

Ruang untuk bermimpi lagi.

Ruang untuk belajar.

Ruang untuk menciptakan sesuatu.

Ruang untuk mengenal diri sendiri.

Ruang untuk memperbaiki kualitas batin.

Bahkan ruang untuk menikmati kehidupan yang sangat sederhana tanpa terus-menerus merasa ada sesuatu yang kurang. 

Mungkin objek yang kita lepaskan memang tidak pernah menjadi milik kita. Tetapi ruang yang muncul setelah melepaskannya adalah milik kita. Dan barangkali itulah hal yang sering tidak kita sadari ketika masih menggenggam terlalu erat yaitu kemelekatan tidak hanya membuat kita takut kehilangan sesuatu, tetapi juga membuat kita kehilangan kebebasan untuk melihat begitu banyak hal lain yang masih tersedia dalam kehidupan.

Melepaskan akhirnya bukan tentang mengatakan bahwa sesuatu tidak penting. Kita bisa melepaskan sesuatu justru karena ia pernah sangat penting. Kita mengakui perasaan, kenangan, keinginan, dan kehilangan tersebut tanpa harus membiarkannya terus menentukan arah kehidupan.

Kita membawa pelajarannya, tetapi tidak membawa rantainya.

Kita menyimpan kenangannya, tetapi tidak tinggal di dalamnya.

Kita boleh mempunyai mimpi, tetapi tidak diperbudak oleh hasilnya.

Kita boleh mencintai, tetapi tidak harus memiliki.

Dan ketika suatu hari kita benar-benar mampu melihat sesuatu yang dahulu sangat kita inginkan tanpa lagi merasa harus mengejarnya, mungkin kita akan memahami bahwa melepaskan bukanlah kekalahan.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang kita dapatkan kembali.

Kita mendapatkan perhatian kita.

Kita mendapatkan waktu kita.

Kita mendapatkan kemungkinan-kemungkinan masa depan kita.

Kita mendapatkan ruang untuk bertumbuh.

Dan akhirnya, kita mendapatkan kembali kebebasan untuk menentukan ke mana energi kehidupan ini ingin kita arahkan.

***

9.06.2026

Boyolali, 6 September 2026 : Memandang Kehilangan dari Hamparan Serengeti...


Musik untuk menggambarkan perasaanku..Musik ini kudengarkan sembari menulis tulisan ini..

 Maret 2026, aku mengunjungi Taman Nasional Serengeti di Tanzania, Afrika—salah satu bentang alam liar paling terkenal di dunia, tempat jutaan satwa hidup dan bergerak mengikuti siklus alam yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Sampai sekarang rasanya masih sulit menjelaskan betapa besarnya kehidupan yang kulihat di sana. Bukan hanya karena Serengeti sangat luas, tetapi karena hampir ke mana pun mata memandang, ada kehidupan. Ratusan zebra bergerak di antara padang rumput, wildebeest/nyumbu terlihat di mana-mana, kadang dalam kelompok kecil, kadang memenuhi savana hingga jauh ke cakrawala. Ada impala dan berbagai jenis antelop yang bahkan tidak semuanya kukenal namanya, jerapah yang berjalan pelan di kejauhan, kawanan gajah, kerbau, burung-burung, singa, hyena, dan begitu banyak makhluk lain yang hidup di bentang alam yang sama. Rasanya seperti sedang melihat kehidupan dalam bentuknya yang paling nyata, paling telanjang.


Di Serengeti, semuanya terus bergerak. Hewan-hewan mencari rumput dan air, kawanan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, induk menjaga anaknya, sementara di tempat lain predator mengintai mangsa. Ada yang baru lahir, ada yang sedang berjuang mempertahankan hidup, dan tentu ada yang mati. Rumput tumbuh lalu dimakan herbivora, herbivora menjadi mangsa predator, bangkai dimakan scavenger dan diuraikan organisme lain, kemudian materinya kembali ke tanah dan masuk lagi ke dalam kehidupan berikutnya. Di bentang alam seluas itu, kehidupan dan kematian tidak terlihat sebagai dua hal yang benar-benar terpisah. Keduanya seperti bagian dari satu proses panjang yang terus berlangsung.



***

Beberapa bulan setelah perjalanan itu, pada Juni 2026, setelah sakit sekian lama, Ibuku meninggal... Setelah kepergiannya, untuk beberapa waktu aku bahkan seperti melupakan betapa menakjubkannya perjalanan ke Afrika bulan Maret itu. Foto dan video Serengeti yang sebelumnya terasa begitu berharga justru hampir tidak pernah kubuka. Ada rasa kecewa dan penyesalan yang sulit kuhindari. Aku sempat bertanya-tanya, mengapa beberapa bulan sebelumnya aku memilih pergi begitu jauh, sampai ke belahan dunia lain, ketika ternyata waktu yang tersisa bersama Ibu sudah begitu sedikit. Padahal saat aku berangkat, kondisi Ibu cukup stabil dan tentu saja saat itu aku tidak pernah tahu bahwa hidup akan berjalan seperti ini.

Butuh waktu sampai akhirnya aku mulai berdamai dengan pikiran-pikiran itu. Perlahan aku menyadari bahwa aku sedang menilai keputusan di masa lalu menggunakan sesuatu yang baru kuketahui setelah semuanya terjadi. Aku yang berangkat ke Afrika pada bulan Maret tidak memiliki pengetahuan yang dimiliki oleh diriku pada bulan Juni. Saat itu aku hanya menjalani kehidupan sebagaimana biasanya, sementara Ibu pun masih berada dalam kondisi yang cukup stabil.

Setelah melewati sebagian proses penerimaan itu, suatu hari aku memberanikan diri membuka kembali foto dan video perjalananku di Serengeti. Awalnya kupikir aku hanya akan kembali melihat sebuah perjalanan yang pernah kulakukan. Namun ternyata rasanya sudah sama sekali berbeda. Hamparan savana yang luas, ratusan zebra dan wildebeest yang bergerak dalam kawanan, gajah yang berjalan bersama kelompoknya, impala yang berlarian, hingga jerapah yang tampak begitu kecil di tengah bentang alam yang seolah tidak berujung kini berbicara kepadaku dengan cara yang berbeda.


Anehnya, yang muncul bukan rasa bersalah seperti yang kutakutkan. Justru ada rasa nyaman dan tenang. Semakin lama melihat kehidupan yang bergerak begitu bebas dan nyata di hadapanku dalam rekaman-rekaman itu, semakin muncul pula suatu perasaan yang awalnya sulit kupahami. Entah bagaimana, aku merasa sedikit lebih dekat dengan Ibu. Bukan karena aku membayangkan Ibu berada di Serengeti, bukan pula karena aku menganggap ini sebagai tempat keberadaan orang-orang yang sudah meninggal. Rasanya bukan seperti itu. Mungkin Serengeti hanya mengubah skala pikiranku dalam memandang kehidupan dan kematian.

Dalam kehidupan sehari-hari, kehilangan seseorang yang sangat dekat terasa sangat personal. Setelah Ibu meninggal, pikiran mudah berhenti pada satu kenyataan sederhana yaitu Ibu sudah tidak ada. Tidak ada lagi suaranya, tidak ada lagi orang yang bisa kupanggil 'Mah..', tidak ada lagi percakapan-percakapan kecil yang dahulu terasa biasa. Rumah yang sama pun bisa terasa berbeda hanya karena satu manusia tidak lagi berada di dalamnya. Dalam skala kehidupan sehari-hari, kematian terasa seperti sebuah kekosongan. Dulu ada, sekarang tidak ada.

Tetapi ketika melihat Serengeti, perspektif itu seperti ditarik mundur sangat jauh. Ratusan zebra yang kulihat saat itu masing-masing memiliki kehidupannya sendiri. Begitu pula wildebeest, impala, gajah, jerapah, singa, burung, serangga, pepohonan, dan rumput yang menutupi savana. Sebagian baru memulai kehidupan, sebagian berada di tengahnya, dan sebagian akan segera mengakhirinya. Tetapi kehidupan secara keseluruhan terus berjalan.

Dari sana aku mulai melihat kematian Ibu dengan perspektif yang sedikit berbeda. Ibu pernah menjadi bagian dari fenomena besar bernama kehidupan ini. Ia pernah lahir sebagai seorang bayi, menjadi anak kecil, tumbuh dewasa, memiliki keinginan, ketakutan, kegembiraan dan kesedihannya sendiri. Ia pernah tertawa, marah, bepergian, menikmati makanan yang disukainya, mencintai orang-orang di sekitarnya, lalu suatu hari menjadi ibuku. Selama puluhan tahun ia menjalani bagian kecilnya dalam sejarah kehidupan di planet ini, sampai akhirnya kehidupan biologis itu berhenti.

Aku pun berada di dalam proses yang sama. Begitu pula zebra yang kulihat berlari di Serengeti, wildebeest yang berjalan melintasi padang rumput, anak impala yang mengikuti induknya, kawanan gajah yang bergerak perlahan, atau jerapah yang berdiri di kejauhan. Bentuk kehidupan kami berbeda, panjang waktunya berbeda, dan cerita yang kami jalani tentu berbeda. Tetapi semuanya muncul untuk sementara di dunia yang sama, menjalani kehidupan, bersinggungan dengan kehidupan lain, lalu suatu hari berakhir.

Ada istilah dalam psikologi yang disebut awe, yaitu perasaan ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang begitu besar sehingga pikiran harus memperluas kerangka yang biasa digunakannya untuk memahami dunia. Perasaan ini bisa muncul ketika berdiri di depan lautan, melihat pegunungan yang sangat besar, memandang langit malam penuh bintang, atau berada di tengah bentang alam seperti Serengeti. Dalam keadaan seperti itu, 'aku' terasa mengecil. Bukan berarti keberadaan kita menjadi tidak penting, melainkan kita menyadari bahwa diri kita hanyalah satu bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih luas.

Mungkin itulah yang terjadi padaku. Serengeti tidak menghilangkan kesedihanku karena kehilangan Ibu. Aku tetap merindukannya dan tidak ada pemandangan alam sebesar apa pun yang dapat menggantikan keberadaan seorang ibu. Tetapi Serengeti memberiku ruang yang lebih luas untuk meletakkan kesedihan itu. Kematian Ibu tidak lagi hanya terlihat sebagai satu peristiwa menyakitkan yang terjadi dalam kehidupan pribadiku, tetapi sebagai bagian dari sesuatu yang telah terjadi pada setiap makhluk hidup sejak kehidupan pertama muncul di Bumi.

Ketika melihat kehidupan dari jarak sangat dekat, pikiranku berkata, 'Ibu sudah tidak ada.' Tetapi ketika melihatnya dari jarak yang jauh lebih besar, seperti ketika memandang hamparan Serengeti, kalimat itu perlahan berubah menjadi,

“Ibu pernah menjadi bagian dari kehidupan ini. Aku pun masih menjadi bagian darinya. Dan di hadapan Serengeti, aku seperti melihat kehidupan sebagaimana adanya, dalam bentuknya yang paling telanjang: sesuatu lahir, tumbuh, bertahan untuk sementara, lalu mati, sementara kehidupan terus bergerak. Di sana aku mulai memahami bahwa kematian bukanlah sesuatu yang berdiri di luar kehidupan, bukan pula lawan dari kehidupan. Ia adalah bagian alami dari siklus yang sama.”

Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah kematian. Aku tidak tahu apakah kesadaran tetap ada setelah tubuh berhenti bekerja, dan aku juga tidak merasa harus menciptakan jawaban untuk sesuatu yang memang belum kuketahui. Anehnya, justru ketidaktahuan itu sekarang terasa sedikit lebih mudah diterima. Kadang cukup melihat kembali Serengeti. Kawanan zebra dan wildebeest yang terus bergerak, gajah yang berjalan melintasi savana, jerapah yang berdiri di cakrawala, rumput yang bergoyang diterpa angin, serta kehidupan yang terus berlangsung tanpa menunggu siapa pun.

Dari miliaran manusia yang pernah lahir di planet ini, kehidupan Ibu dan kehidupanku kebetulan bertemu dalam hubungan yang begitu dekat. Ia menjadi ibuku dan aku menjadi anaknya. Selama beberapa puluh tahun, perjalanan kami bahkan berjalan berdampingan. Sekarang aku masih melanjutkan bagianku sementara bagian hidup Ibu sudah selesai.

Mungkin karena itulah melihat Serengeti membuatku merasa dekat dengannya. Bukan karena aku merasa Ibu berada di antara zebra, wildebeest, gajah, atau hamparan savana Afrika, tetapi karena Serengeti mengingatkanku bahwa aku dan Ibu pernah menjadi bagian dari kehidupan yang sama. Di tengah siklus kehidupan yang begitu besar, kami pernah hadir pada waktu yang sama, saling mengenal, saling mencintai, dan menjalani sebagian kecil perjalanan ini bersama.

Dan ketika melihatnya dari skala sebesar itu, entah kenapa kematian terasa sedikit tidak semenakutkan biasanya...

8.30.2026

Berpikir Simpel

Aku baru menemukan satu cara berpikir yang rasanya ingin mulai kuterapkan dalam keseharianku yaitu "berpikir simpel". Sebenarnya konsepnya sangat sederhana, yaitu tidak memikirkan terlalu jauh hal-hal yang memang tidak perlu dipikirkan panjang. Kalau sudah tahu apa yang ingin atau harus dilakukan, langsung lakukan. Tidak perlu membayangkan seluruh prosesnya terlebih dahulu, tidak perlu bernegosiasi terlalu lama dengan diri sendiri, dan tidak perlu membuat sesuatu yang sederhana menjadi terasa rumit di dalam kepala.

Aku menyadari bahwa sering kali sebuah aktivitas terasa berat bukan karena aktivitas itu sendiri memang berat, tetapi karena sebelum melakukannya aku sudah memikirkan semua tahapan yang harus kulewati. Misalnya ketika ingin memasak. Pikiranku bisa langsung berjalan ke mana-mana: harus ke belakang dulu untuk petik sayur, mencucinya, mengambil bawang, mengupas dan memotongnya, menyiapkan wajan, memasak, lalu nanti masih harus membereskan semuanya. Padahal kalau mau dibuat simpel, ya tidak perlu memikirkan semua itu. Mau masak? Berdiri dan pergi ke dapur. Petik sayur ya petik sayur. Kupas bawang ya kupas bawang. Masak ya masak. Satu hal dilakukan ketika memang sudah waktunya dilakukan.

Begitu juga dengan pekerjaan. Ketika tahu ada revisi, kadang bahkan sebelum membuka file aku sudah membayangkan bagian mana saja yang harus diperbaiki, berapa lama akan mengerjakannya, betapa membosankannya, bagaimana kalau setelah ini ada revisi lagi, dan berbagai kemungkinan lain yang bahkan belum terjadi. Akhirnya pekerjaan yang sebenarnya mungkin sederhana sudah terasa melelahkan sebelum dimulai. Dengan cara berpikir simpel, aku ingin memotong semua proses mental itu. Ada revisi? Buka laptop, buka file, lalu revisi. Tidak perlu menunggu mood datang dan tidak perlu membayangkan sampai pekerjaan selesai. Kerjakan saja apa yang ada di depan mata.

Olahraga pun sama. Tidak perlu memulai diskusi panjang di kepala tentang mau cardio atau angkat beban, berapa menit, harus ganti baju dulu, nanti berkeringat, sedang malas, atau apakah olahraga sebentar ada gunanya. Kalau memang ingin olahraga, berdiri saja dulu dan bergerak. Ambil dumbbell, stretching, squat, berjalan, atau lakukan gerakan apa pun. Tubuh sudah bergerak sebelum pikiran sempat menciptakan sepuluh alasan untuk tidak melakukannya.

Aku mulai melihat bahwa terlalu banyak memikirkan aktivitas kecil membuat kita seolah mengerjakan sesuatu dua kali. Pertama, kita mengerjakannya di dalam kepala. Kita membayangkan seluruh langkahnya, rasa capeknya, kemungkinan masalahnya, sampai berapa lama waktu yang akan terpakai. Setelah lelah memikirkannya, kita masih harus mengerjakannya sungguhan. Pekerjaan yang mungkin hanya membutuhkan sepuluh menit akhirnya bisa terasa seperti beban selama satu jam karena sejak jauh sebelumnya sudah kita bawa ke mana-mana di dalam pikiran.

Karena itu aku ingin belajar membedakan mana hal yang memang membutuhkan pemikiran dan mana yang sebenarnya hanya membutuhkan tindakan. Keputusan besar tentu perlu dipikirkan. Masalah yang kompleks perlu dianalisis. Tetapi aku tidak perlu berpikir panjang hanya untuk mandi, mencuci piring, membereskan kamar, memasak, membuka pekerjaan, atau mulai bergerak.

Aku ingin mencoba melihat kehidupan melalui satu gerakan berikutnya, bukan seluruh rangkaian yang akan terjadi setelahnya. Kalau ingin memasak, gerakan pertamanya cukup berdiri. Setelah berdiri, pergi ke dapur. Setelah sampai dapur, ambil bahan. Kalau ingin bekerja, cukup buka laptop dan file yang harus dikerjakan. Kalau ingin olahraga, cukup bangkit dari kursi dan mulai bergerak. Setelah langkah pertama terjadi, langkah berikutnya biasanya datang dengan sendirinya.

Mungkin selama ini banyak hal sederhana menjadi terasa rumit karena terlalu lama hidup di dalam kepala. Semuanya ingin dianalisis, direncanakan, dipersiapkan, bahkan terkadang harus menunggu mood yang tepat. Padahal kehidupan nyata tidak berjalan sekaligus. Kita selalu menjalaninya satu tindakan kecil demi satu tindakan kecil.

Jadi metode yang ingin kucoba sekarang sebenarnya sesederhana ini: memperpendek jarak antara “aku mau melakukan ini” dan “aku sedang melakukan ini.” Mau masak, ya masak. Mau revisi, ya revisi. Mau olahraga, berdiri dan bergerak. Mau mandi, masuk kamar mandi. Mau membaca, buka bukunya. Mau membereskan sesuatu, ambil benda pertama dan mulai bereskan.

Bagiku, berpikir simpel bukan berarti berhenti berpikir. Berpikir simpel berarti tidak menggunakan pikiran lebih banyak daripada yang memang diperlukan. Kalau sesuatu membutuhkan analisis, pikirkan. Kalau sesuatu hanya membutuhkan tindakan, lakukan.

Hidup sendiri sudah cukup kompleks. Untuk hal-hal yang sebenarnya sederhana, rasanya tidak perlu kutambahkan keribetan lagi dari kepalaku sendiri.

Think simple. No ribet. Pikirkan seperlunya, lalu lakukan.

Boyolali, 30 Agustus 2026: Di Dalam Alam Semesta yang Sama...

 Sejak kematian ibuku dua bulan lalu, aku jadi lebih suka memandang langit malam. Terutama ketika cuaca sedang cerah dan tidak tertutup mendung, aku bisa cukup lama memperhatikan bulan yang dari malam ke malam tampak berubah—kadang hanya berupa sabit tipis, kadang setengah lingkaran, dan pada waktu tertentu menjadi purnama yang terang. Di sekelilingnya ada titik-titik bintang yang tampak berjauhan, sebagian terang dan sebagian begitu redup hingga baru terlihat setelah mata cukup lama menyesuaikan diri dengan gelap.

Entah mengapa, memandang semua itu memberikan rasa tenang sekaligus perasaan dekat dengan Ibu. Bukan karena aku membayangkan Ibu sekarang berada di langit atau tinggal di antara bintang-bintang. Aku juga tidak memandang bulan sebagai tempat ke mana seseorang pergi setelah meninggal. Perasaan itu muncul dari pemikiran yang berbeda. Semakin lama memandang langit, semakin mudah bagiku menyadari betapa luasnya sistem tempat kehidupan kami berlangsung. Aku, Ibu, manusia-manusia lain, Bumi yang sedang kupijak, bulan yang sedang kupandang, Matahari, dan bintang-bintang yang cahayanya datang dari jarak yang sulit kubayangkan, semuanya merupakan bagian dari alam semesta yang sama.

Kesadaran itu perlahan mengubah caraku memandang kehilangan. Dalam kehidupan sehari-hari, kematian Ibu terasa seperti sebuah pemisahan yang sangat tegas. Dahulu ia ada di dunia yang sama denganku, lalu sekarang ia tidak lagi dapat kutemui di dalam kehidupan seperti sebelumnya. Tetapi ketika memandang langit dan mencoba melihat keberadaan dalam skala yang jauh lebih besar, aku mulai menyadari bahwa baik kehidupan maupun kematian sebenarnya berlangsung di dalam satu sistem alam yang sama. Tidak ada satu pun dari kita yang pernah berdiri di luar alam semesta itu. Kami lahir dari proses-proses yang terjadi di dalamnya, hidup dengan materi yang berasal darinya, dan pada akhirnya mengalami perubahan sebagai bagian dari proses alam yang terus berlangsung.

Mungkin itu yang membuatku merasa seolah aku masih berada di suatu tempat yang sama dengan Ibu. Bukan “tempat” dalam pengertian geografis, seolah-olah aku hanya perlu mengetahui koordinat tertentu untuk menemukannya. Yang kumaksud jauh lebih besar daripada itu. Kami masih merupakan bagian dari realitas fisik yang sama. Kematian telah memisahkan kami secara biologis—aku masih hidup sebagai organisme yang dapat berpikir, bergerak, mengingat, dan memandang langit, sementara kehidupan biologis Ibu telah berakhir. Tetapi tidak pernah ada suatu titik ketika kematiannya membuatnya keluar dari alam semesta.

Secara sains, kita memang tidak memiliki dasar untuk mengatakan bahwa kesadaran seseorang tetap berada di suatu tempat setelah fungsi otaknya berhenti. Tetapi mengenai tubuh dan materi, penjelasannya jauh lebih konkret. Tubuh manusia tersusun dari atom-atom yang sudah ada jauh sebelum manusia tersebut dilahirkan. Karbon, oksigen, kalsium, nitrogen, fosfor, besi, dan unsur-unsur lain yang membentuk tubuh kita memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada umur kita. Hidrogen sebagian besar berasal dari alam semesta awal, sedangkan banyak unsur yang lebih berat terbentuk melalui proses nuklir di dalam bintang dan berbagai peristiwa astrofisika sepanjang sejarah kosmos.

Jadi ketika mengatakan bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, sebenarnya aku tidak sedang menggunakan bahasa metaforis. Secara fisik memang demikian. Kita tidak datang dari luar alam semesta lalu ditempatkan di atas Bumi. Kita adalah salah satu konfigurasi materi yang dapat muncul ketika kondisi alam memungkinkan. Atom-atom yang sangat tua itu, melalui sejarah kosmik, geologis, kimiawi, dan biologis yang luar biasa panjang, pada suatu waktu tersusun menjadi tubuh manusia. Untuk beberapa puluh tahun, susunan tersebut mampu mempertahankan dirinya sebagai organisme hidup yang memiliki wajah, suara, ingatan, kepribadian, kasih sayang, dan hubungan dengan manusia lain.

Bahkan selama hidup, tubuh yang kita anggap sebagai “aku” sebenarnya tidak pernah sepenuhnya terpisah dari lingkungan. Setiap kali bernapas, kita mengambil materi dari luar tubuh dan melepaskannya kembali. Kita makan dan minum, memasukkan atom-atom baru ke dalam tubuh, kemudian sebagian materi itu kembali ke lingkungan melalui metabolisme dan berbagai proses biologis. Tubuh adalah sistem terbuka yang terus bertukar materi dan energi dengan dunia di sekelilingnya. Batas antara “aku” dan “alam” terasa sangat jelas bagi kesadaran kita, tetapi secara fisik batas tersebut jauh lebih dinamis.

Kematian tentu merupakan perubahan yang jauh lebih fundamental. Ketika seseorang meninggal, organisasi biologis yang mempertahankan kehidupan berhenti bekerja. Aku tidak ingin menghibur diriku dengan mengatakan bahwa secara ilmiah “tidak ada yang benar-benar mati”, karena itu bukan kesimpulan yang dapat dibuat begitu saja dari hukum fisika. Individu memang meninggal. Kesadarannya tidak lagi dapat kita akses, tubuhnya tidak lagi mempertahankan proses kehidupan, dan hubungan yang sebelumnya dapat berlangsung dua arah menjadi terputus. Itulah sebabnya kehilangan tetap terasa begitu besar.

Namun, berhentinya kehidupan tidak sama dengan hilangnya materi dari alam. Atom-atom yang pernah menyusun tubuh seseorang tetap menjadi bagian dari dunia fisik dan terus mengalami transformasi. Dalam pengertian yang sangat mendasar inilah kematian tidak pernah menjadi peristiwa yang berlangsung “di luar” alam. Ia adalah salah satu perubahan yang terjadi di dalam alam.

***

Dalam kehidupan manusia, kehilangan Ibu terasa seperti jarak terbesar yang pernah kukenal. Dahulu aku bisa mendatanginya, memanggilnya, mendengar suaranya, atau sekadar mengetahui bahwa ia berada di suatu ruangan di rumah. Sekarang tidak ada jarak dalam kilometer yang dapat kutempuh untuk melakukan hal yang sama. Dalam pengertian manusiawi, pemisahan itu memang mutlak dan menyakitkan.

Tetapi ketika memandang benda langit yang cahayanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai mataku, aku menyadari bahwa alam memiliki konsep ruang dan waktu yang jauh melampaui intuisi manusia. Apa yang bagiku terasa seperti dua keadaan yang terpisah secara absolut—“Ibu ketika masih hidup” dan “dunia setelah Ibu meninggal”—sebenarnya tetap merupakan dua bagian dari sejarah fisik alam semesta yang sama.

Aku berada pada bagian sejarah yang sekarang. Ibu pernah berada pada bagian sejarah sebelumnya. Keduanya tidak terpisah menjadi dua alam semesta. Ada sesuatu yang menenangkan dalam pemikiran itu. Bukan karena ia menghapus fakta kematian. Bukan pula karena sains menjanjikan bahwa aku akan bertemu kembali dengan Ibu. Sains tidak dapat memberikan kesimpulan seperti itu. Yang membuatku tenang justru sesuatu yang lebih sederhana. Segala sesuatu yang pernah terjadi tetap merupakan bagian dari sejarah alam semesta ini.

Keberadaan Ibu bukan sebuah kejadian yang kemudian menjadi “tidak pernah ada” hanya karena kehidupannya telah berakhir. Selama beberapa puluh tahun dalam sejarah alam semesta, konfigurasi materi tertentu benar-benar pernah menjadi seorang manusia yang kupanggil Ibu. Ia pernah melihat dunia, membentuk ingatan, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, memengaruhi manusia lain, dan membentuk sebagian besar diriku menjadi seperti sekarang. Semua itu merupakan peristiwa fisik yang benar-benar pernah terjadi. Waktu tidak berjalan mundur untuk menghapusnya.

Namun mengatakan demikian sama sekali tidak berarti bahwa kematian Ibu menjadi kecil karena alam semesta begitu besar. Bahwa umur seorang manusia sangat singkat dibandingkan umur alam semesta adalah fakta mengenai durasi. Bahwa kehidupan seorang manusia sangat berarti bagi manusia lain adalah persoalan hubungan dan pengalaman. 

Aku tidak hidup sebagai galaksi. Aku hidup sebagai manusia. Dalam skala kehidupanku, Ibu adalah salah satu manusia terpenting yang pernah ada. Karena itu kematiannya tetap merupakan peristiwa yang sangat besar. Perspektif kosmik tidak mengecilkan kesedihanku menjadi sesuatu yang tidak berarti. Ia hanya menempatkan kesedihan itu ke dalam bingkai yang lebih luas.

Dan justru ketika bingkai itu diperbesar, ada pemikiran lain yang muncul, betapa luar biasanya kami pernah bertemu.

Alam semesta telah berlangsung selama sekitar 13,8 miliar tahun. Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Kehidupan berkembang melalui sejarah yang sangat panjang, melewati perubahan iklim, kepunahan massal, evolusi, dan percabangan garis keturunan yang tak terhitung jumlahnya. Dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut, pada suatu masa yang sangat singkat muncul dua manusia yang hidup pada tempat dan waktu yang sama, dan hubungan antara kedua manusia itu adalah ibu dan anak. 

Jika dipandang dari skala kosmik, beberapa puluh tahun kebersamaan kami memang nyaris tidak terlihat. Tetapi kecil dalam ukuran waktu tidak sama dengan kecil dalam arti.

Justru aku merasa sangat beruntung bahwa dari sejarah alam semesta yang begitu panjang, pernah ada suatu irisan waktu ketika keberadaan kami bertumpang tindih. Aku pernah hidup pada masa ketika Ibu masih hidup. Aku pernah mendengar suaranya secara langsung, melihat wajahnya berubah seiring usia, bepergian bersamanya, tertawa bersamanya, berbeda pendapat dengannya, dan mengalami dunia bersamanya. Alam semesta tidak berkewajiban membuat pertemuan itu berlangsung selamanya agar pertemuan tersebut menjadi nyata atau berarti.

Dalam psikologi, ada alasan mengapa pemikiran tentang sesuatu yang sangat besar seperti ini dapat memberikan ketenangan. Pengalaman ketika berhadapan dengan langit malam, pegunungan, lautan, atau skala alam yang sangat besar dapat memunculkan awe, rasa takjub ketika pikiran berhadapan dengan sesuatu yang melampaui kerangka kesehariannya. Penelitian mengenai awe juga mengenal gagasan small self. Bukan perasaan bahwa diri tidak berharga, melainkan berkurangnya dominasi diri sebagai pusat dari segala sesuatu. Untuk sementara kita melihat diri sebagai bagian dari sistem yang jauh lebih besar.

Mungkin itu yang terjadi padaku ketika memandang langit malam...Kesedihanku tidak hilang. Kerinduanku juga tidak hilang. Tetapi pusat pandangku bergeser. Aku tidak lagi hanya melihat sebuah dunia kecil tempat aku berada di sini dan Ibu sudah tidak ada di sampingku. Aku melihat sebuah alam semesta yang telah berlangsung miliaran tahun, yang terus membentuk dan menguraikan struktur dalam berbagai skala, dan kami berdua pernah—serta secara material tetap—menjadi bagian dari sejarah alam yang sama.

Itulah sebabnya memandang bulan dan bintang kadang membuatku merasa bahwa aku tidak terlalu jauh dari Ibu..

Bukan karena jarak antara kami dapat diukur dengan kilometer. Bahkan mungkin kata “jarak” sudah tidak tepat untuk menggambarkan kematian. Jarak berlaku ketika dua objek masih dapat diberi posisi dalam ruang pada saat yang sama, sedangkan kehilangan seseorang lebih menyerupai pemisahan oleh keadaan dan waktu. Aku masih menjalani fase kehidupanku sebagai organisme hidup; fase kehidupan biologis Ibu telah selesai. Kami dipisahkan oleh sebuah perubahan yang tidak dapat kutempuh dengan perjalanan apa pun.

Tetapi kami tidak pernah menjadi bagian dari dua alam yang berbeda.

Aku masih berdiri di Bumi yang sama tempat Ibu pernah berdiri. Aku masih berada di bawah bulan yang pernah ia lihat. Cahaya Matahari yang menghangatkan kulitku berasal dari bintang yang sama yang menerangi hari-harinya. Unsur-unsur yang membentuk tubuh kami berasal dari sejarah kosmik yang sama. Dan seluruh waktu ketika Ibu hidup tetap tertanam sebagai bagian dari sejarah alam semesta yang sekarang masih terus berjalan.

Maka ketika malam cerah dan aku kembali menengadah, aku tidak sedang mencari Ibu di bulan atau di antara bintang-bintang. Aku hanya sedang melihat alam yang sama yang pernah menampung keberadaan kami berdua.

Kematian Ibu tetap merupakan kehilangan yang sangat besar bagiku. Perspektif sebesar apa pun tidak akan mengubah kenyataan itu. Namun ketika memandangnya dalam skala alam semesta, kematian tidak lagi terasa seperti Ibu telah pergi ke suatu “luar” yang sama sekali terpisah dariku. Yang terjadi adalah perubahan di dalam alam yang sama, sebuah alam yang juga terus mengubah segala sesuatu di dalamnya, termasuk aku.

Mungkin karena itulah langit malam terasa begitu menenangkan sekarang. Ia mengingatkanku bahwa kedekatan tidak selalu harus kupahami sebagai jarak fisik. Dalam skala kehidupan manusia, aku dan Ibu memang telah dipisahkan oleh kematian. Tetapi dalam skala yang jauh lebih besar, kami adalah dua bagian dari satu rangkaian sejarah alam yang sama—pernah hadir bersama untuk suatu waktu, tersusun dari materi alam semesta yang sama, dan tidak pernah berada di luar sistem besar itu sejak awal.

Ketika menyadari hal itu, aku tidak merasa kehilangan Ibu menjadi lebih kecil.

Aku hanya merasa kami tidak sejauh yang selama ini kubayangkan.

8.22.2026

[PART 17] Menggapai Himalaya : Jalan Berliku Menuju Nagarkot

Sekitar pukul 13.30, setelah puas mengeksplorasi hampir semua sisi Bhaktapur—bahkan Fredo sempat melakukan aksi foto kayang di salah satu spot tertingginya—kami akhirnya kembali menaiki motor. Kali ini kami menuju tujuan akhir perjalanan kami, Nagarkot. Dari Bhaktapur, Nagarkot berada sekitar 20 kilometer ke arah timur laut. Di atas peta jaraknya terlihat tidak seberapa. Namun Nagarkot bukanlah kota yang berada di dataran Lembah Kathmandu. Kota kecil itu bertengger di kawasan perbukitan pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Artinya, sebagian besar perjalanan yang menunggu kami adalah perjalanan mendaki keluar dari lembah menuju pegunungan.

Seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya di Nepal, satu-satunya navigator yang kami andalkan adalah Google Maps. Masalahnya, koneksi internet siang itu benar-benar menguji kesabaran. Sinyal muncul, kemudian hilang. Muncul lagi beberapa menit, lalu menghilang kembali tepat ketika kami membutuhkan petunjuk di sebuah persimpangan. Akibatnya kami berkali-kali salah jalan.

Ada saat ketika kami sudah cukup jauh melaju, lalu menyadari titik biru di peta bergerak ke arah yang salah. Putar balik. Beberapa menit kemudian bingung lagi di persimpangan berikutnya. Berhenti, menunggu sinyal muncul, memperbesar peta, mencoba mengingat jalannya, lalu kembali melaju. Begitulah perjalanan menuju Nagarkot dimulai.

Pada bagian awal perjalanan, pemandangan di sekitar kami masih didominasi suasana pinggiran kota Lembah Kathmandu. Jalan beraspal membelah deretan rumah bata merah, bengkel kecil, toko-toko sederhana, truk pengangkut barang dan sepeda motor yang berlalu-lalang. Kabel listrik bergelantungan semrawut di atas kepala, saling bersilangan dari satu tiang ke tiang lainnya. Di beberapa bagian, bahu jalan berubah menjadi tanah dan kerikil, lengkap dengan tumpukan sampah serta debu yang beterbangan setiap kali kendaraan besar melintas. Entah mengapa suasana seperti ini terasa cukup familiar setelah beberapa hari kami di Nepal.

Kami terus mengikuti jalan ke arah timur laut. Perlahan bangunan mulai semakin jarang. Deretan rumah yang sebelumnya rapat mulai terputus-putus, digantikan tanah terbuka dan pepohonan. Lalu tanpa terasa, pemandangan perkotaan yang sejak Kathmandu terus menemani kami mulai benar-benar tertinggal. Di kejauhan mulai terlihat perbukitan hijau. Perubahannya berlangsung perlahan tetapi terasa jelas. Jalan yang tadinya relatif datar mulai menanjak dan berkelok. Di sisi jalan mulai muncul hamparan sawah dan ladang hijau yang memenuhi dasar lembah, sementara rumah-rumah tersebar di antara lahan pertanian. Dari beberapa titik yang sedikit lebih tinggi, kami bisa melihat kembali ke bawah: permukiman, petak-petak sawah, dan perbukitan yang berlapis-lapis memenuhi pandangan.

Langit siang itu mendung. Awan kelabu menggantung rendah di atas perbukitan, sesekali membuat puncak-puncaknya terlihat samar. Tetapi justru warna kelabu itu membuat hijaunya Lembah Kathmandu terlihat semakin kuat.

Semakin tinggi kami mendaki, semakin terasa bahwa kami benar-benar meninggalkan kota. Jalan menuju Nagarkot ternyata tidak jauh berbeda dengan jalan-jalan pegunungan yang biasa kutemui di Indonesia. Sebagian besar sudah beraspal, tetapi kondisinya tidak selalu mulus. Sesekali ada bagian yang berlubang, aspal yang mengelupas, kerikil berserakan di pinggir jalan, atau bekas longsoran kecil dari tebing di sebelahnya. Di beberapa titik jalannya cukup sempit sehingga kami harus memperlambat motor ketika berpapasan dengan mobil.

Di satu sisi berdiri tebing tanah yang dipenuhi semak dan tumbuhan liar, sementara di sisi lainnya lembah terbuka jauh di bawah. Jalan berkelok mengikuti kontur perbukitan, kadang menanjak cukup panjang sebelum kembali berbelok tajam. Udara pun perlahan berubah.

Debu dan panas kawasan perkotaan mulai digantikan udara pegunungan yang lebih dingin dan lembap. Pepohonan semakin rapat. Semak-semak tumbuh memenuhi lereng, dan di beberapa bagian kami mulai memasuki kawasan yang terasa seperti hutan.

Aku duduk di belakang motor sambil sesekali mengeluarkan ponsel untuk memotret perjalanan. Beberapa foto bahkan menangkap bayanganku sendiri di kaca spion—helm menutupi kepala, tangan memegang ponsel—sementara jalan pegunungan terus memanjang di depan.

Motor terus mendaki.Semakin ke atas, pohon-pohon tinggi mulai mendominasi kedua sisi jalan. Ada bagian-bagian yang begitu hijau dan sepi hingga sulit membayangkan bahwa kurang dari satu jam sebelumnya kami masih berada di tengah keruwetan jalanan kota.

Sesekali kami berpapasan dengan pengendara lokal. Kendaraan semakin sedikit. Tidak ada lagi deretan toko, tidak ada lagi kabel listrik yang memenuhi langit, dan suara klakson kota perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah jalan berkelok, pepohonan, dan udara pegunungan. Lalu di salah satu tikungan, kami menemukan pemandangan yang membuat perjalanan sedikit melambat.

Sekawanan kambing berjalan santai memenuhi sebagian badan jalan. Beberapa ekor berjalan beriringan di depan, sementara dua kambing hitam berada cukup dekat dengan motor kami. Mereka sama sekali tidak terlihat terganggu oleh kendaraan yang datang dari belakang. Seolah-olah jalan pegunungan itu memang milik mereka dan manusialah yang harus menyesuaikan diri.

Kami pun memperlambat motor dan mengikuti mereka dari belakang. Di kanan-kiri jalan berdiri pohon-pohon pinus tinggi. Di sela batang-batangnya terlihat lereng pegunungan yang turun jauh ke bawah, diselimuti kabut tipis dan awan kelabu. Aspal di bawah roda mulai terlihat lebih kasar, beberapa bagiannya rusak dan tertutup tanah.

Perjalanan terus menanjak. Udara semakin dingin dan pepohonan di sepanjang jalan semakin rapat. Sesekali celah di antara pepohonan membuka pandangan ke arah perbukitan hijau yang membentang di seberang lembah.

Di salah satu ruas jalan, mataku tiba-tiba tertarik pada bentuk lereng di sisi kanan.

“Eh, itu ada bentukan kayak triangular facet, Mas,” kataku sambil menunjuk perbukitan berlekuk-lekuk di kejauhan.

Mungkin beginilah nasib dua orang yang pernah terlalu lama berkutat dengan geologi. Bahkan ketika sedang liburan di Nepal, melihat bentuk lereng sedikit menarik saja rasanya ingin berhenti dan mengamatinya.

“Oke, berhenti dulu yuk. Foto,” kata Fredo.

Motor segera menepi.

Kami memang sama-sama gila foto. Hampir setiap menemukan sesuatu yang menarik, refleks pertama kami selalu sama: berhenti, keluarkan kamera atau ponsel, lalu cekrik-cekrik. Meskipun setelah pulang dan melihat hasilnya, kebanyakan fotonya ya begitu-begitu saja. Haha.

Di hadapan kami terbentang lereng-lereng hijau yang memenuhi hampir seluruh pandangan. Punggungan dan lembah kecil membentuk pola berulang di permukaannya, sementara bagian atas perbukitan perlahan menghilang di balik awan kelabu. Pohon-pohon pinus tumbuh di sekitar tempat kami berhenti, membuat suasananya semakin terasa seperti kawasan pegunungan.

Klik.

Klik.

Beberapa foto kami ambil cepat.

Belum lama kami berdiri di sana, titik-titik air mulai terasa jatuh dari langit.

“Aduh, hujan nih. Cepet yuk kita lanjut. Nggak terlalu jauh lagi kok,” kataku sambil kembali mengutik-utik Google Maps.

Kami segera menaiki motor dan melanjutkan perjalanan. Hujan belum terlalu deras, tetapi cukup untuk membuat permukaan aspal berubah gelap dan mulai licin. Jalan yang sejak tadi sudah berkelok-kelok kini terasa sedikit lebih menegangkan. Beberapa tikungan cukup tajam, sementara pada bagian tertentu sisi kanan jalan langsung berbatasan dengan lereng yang jatuh jauh ke bawah.

Aku beberapa kali mengingatkan Fredo dari belakang.

“Hati-hati, Mas.”

Terutama setiap mendekati tikungan.

Semakin tinggi kami naik, suasananya semakin sepi. Jalan basah membelah hutan, pohon-pohon tinggi berdiri rapat di kedua sisi, dan kabut tipis mulai menyelimuti perbukitan di kejauhan. Rasanya benar-benar berbeda dengan Kathmandu yang baru beberapa jam sebelumnya masih penuh debu, kendaraan, manusia, dan suara klakson.

Sesekali aku kembali membuka Google Maps untuk memastikan kami tidak salah arah lagi. Untungnya kali ini titik tujuan sudah semakin dekat. Sekitar dua puluh menit kemudian, setelah melewati jalan pegunungan yang berkelok-kelok dan beberapa kali dibuat waspada oleh aspal yang mulai basah, akhirnya kami sampai juga di tempat yang sejak tadi kami cari.

Sebuah penginapan di atas perbukitan Nagarkot bernama Hotel Country Villa. Penginapan ini sudah kupilih jauh sebelum kami berangkat ke Nepal. Aku menemukannya ketika sedang mencari-cari hotel di Agoda beberapa bulan sebelumnya. Dari sekian banyak pilihan penginapan di Nagarkot, satu hal dari hotel ini langsung membuatku tertarik: lokasinya berada di lereng perbukitan, dengan kamar-kamar yang menghadap langsung ke panorama Pegunungan Himalaya.

Bahkan katanya, Himalaya bisa dilihat langsung dari balkon kamar.

Beberapa bulan sebelumnya, ketika itinerary perjalanan ini masih berupa rencana dan nama-nama kota di layar laptop, aku sudah mengatakannya kepada Fredo.

“Hotelnya bagus banget, Mas. Bisa lihat Pegunungan Himalaya langsung dari kamar. Dari balkon.”

Lalu kutambahkan satu hal lagi.

“Khusus penginapan terakhir ini aku yang bayar.”

Setelah berhari-hari berpindah dari satu kota ke kota lain, naik kereta malam di India, menyeberang perbatasan menuju Nepal, lalu menjelajahi Kathmandu dan Bhaktapur dengan motor, aku memang sengaja ingin perjalanan ini ditutup sedikit berbeda. Setidaknya untuk satu malam terakhir di Nepal, aku ingin kami berhenti berpindah-pindah. Dan menikmati Nagarkot dari sebuah kamar di pegunungan.


8.14.2026

Boyolali, 13 Agustus 2026: Hari Ini

Hari ini sebenarnya tidak terjadi apa-apa yang istimewa. Aku sedang kepikiran membuat perpustakaan kecil di rumah. Aku ingin mengisinya dengan buku-buku yang kusukai dan, suatu hari nanti, buku-buku tentang perjalanan hidupku sendiri. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa waktu berjalan cepat sekali. Aku takut terlalu sibuk menjalani hidup sampai lupa bagaimana rasanya hidup di masa ini.

Pagi ini, tidak seperti biasanya, aku sudah terbangun sekitar pukul 06.30. Aku membuka gorden kamar dan melihat semburat keemasan matahari pagi masuk dari luar. Indah juga.

“Wah, harus berjemur nih. Lumayan vitamin D-nya,” pikirku.

Tapi ya beginilah aku. Alih-alih langsung bangkit dan keluar menikmati matahari pagi, tanganku malah mengambil ponsel. Aku membuka game lepas-lepas baut yang belakangan sedang sering kumainkan. Levelku sudah lima puluhan. Niatnya mungkin cuma sebentar, tapi game ini ternyata benar-benar membuatku candu. Tanpa terasa, lebih dari satu jam sudah berlalu.

Setelah akhirnya berhasil melepaskan diri dari game, aku masih sempat keluar sebentar untuk berjemur. Matahari tentu sudah tidak serendah ketika pertama kali aku membuka gorden, tapi setidaknya niat pagiku tidak gagal sepenuhnya. Aku berdiri menikmati hangat matahari beberapa saat sebelum akhirnya masuk lagi dan memulai hari.

Setelah itu aku mandi, memberi makan kucing, lalu sarapan. Hari ini sebenarnya ada satu urusan penting: membawa laptop ke tempat servis.

Kemarin, karena kecerobohanku sendiri, kopi susu tumpah mengenai keyboard laptop. Rasanya kesal juga mengingatnya. Laptop itu akhirnya kutinggalkan di tempat servis dan dijanjikan bisa selesai sore nanti.

Karena laptop sedang diperbaiki sementara ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, aku memutuskan pergi ke Solo. Rencananya aku mau bekerja menggunakan komputer publik di Dinas Perpustakaan. Sudah jauh-jauh ke sana, ternyata mobilku tidak mendapat tempat parkir. Akhirnya batal.

Karena sudah telanjur berada di Solo, aku mampir ke Gramedia. Aku berjalan pelan menyusuri rak-rak buku, melihat satu demi satu koleksinya. Ada sesuatu yang selalu menyenangkan dari berada di antara begitu banyak buku, meskipun hari ini tidak ada satu pun yang benar-benar membuatku ingin membawanya pulang.

Tidak lama kemudian datang kabar bahwa laptopku sudah selesai diperbaiki.

Aku pun kembali ke Boyolali, mengambil laptop, lalu mampir ke Kopi Kenangan. Kupikir akhirnya aku bisa duduk tenang, membuka laptop, dan mulai bekerja.

Ternyata tidak.

Justru dari situlah kekacauan kecil hari ini dimulai.

Beberapa bagian Windows tiba-tiba bermasalah. Word tidak mau membuka file. Global Mapper tidak berjalan sebagaimana mestinya. ArcGIS juga bermasalah. Satu demi satu aplikasi yang kubutuhkan seperti sepakat untuk mogok bersamaan.

Aku stres.

Alih-alih menyelesaikan pekerjaan, waktuku habis untuk mencoba memperbaiki laptop. Aku membuka ChatGPT dan mulai mencari tahu masalahnya satu per satu. Mencoba perintah ini, mengecek pengaturan itu, membuka Command Prompt, mencoba lagi, gagal lagi, lalu mencoba cara berikutnya. Ada beberapa yang akhirnya berhasil diperbaiki, tetapi setiap satu masalah selesai rasanya muncul masalah lain.

Lucu juga kalau dipikir-pikir. Pagi tadi aku kehilangan satu jam karena game baut. Sorenya aku kehilangan berjam-jam karena “bermain” dengan Windows yang rusak. Bedanya, permainan yang kedua sama sekali tidak menyenangkan.

Malam datang tanpa terasa.

Aku mampir ke angkringan untuk makan malam sebelum akhirnya pulang ke rumah. Setelah seharian mondar-mandir Boyolali–Solo, servis laptop, Gramedia, Kopi Kenangan, dan berurusan dengan komputer yang membuat kepala panas, rasanya menyenangkan akhirnya kembali ke rumah.

Malam itu aku sempat mengobrol dengan Bapak. Kami membicarakan hal yang sebenarnya sangat sehari-hari: soal iuran tujuhbelasan di tempat tinggalku yang lama. Di sana rupanya ada iuran untuk menyambut 17 Agustus, sementara di perumahan tempatku tinggal sekarang justru tidak ada yang menarik iuran.

Tumben.

Aku sampai merasa agak lucu sendiri. Biasanya menjelang Agustusan ada saja urusan iuran atau kegiatan lingkungan, tapi kali ini di tempat tinggalku sekarang malah tidak ada. Obrolan kecil seperti itu mungkin terdengar sama sekali tidak penting untuk dicatat. Tapi justru karena itulah aku ingin menuliskannya. Puluhan tahun lagi, siapa tahu aku bahkan sudah lupa seperti apa suasana lingkungan tempatku tinggal sekarang dan hal-hal kecil apa yang biasa dibicarakan di rumah bersama Bapak.

Di sela-sela malam itu aku juga sempat berpikir tentang besok. Mungkin aku ingin mengajak kakakku dan anak-anaknya makan bersama di suatu tempat. Belum tahu mau makan di mana. Bahkan sampai aku menulis ini pun tempatnya belum ketemu. Tidak ada acara khusus sebenarnya. Hanya kepikiran ingin pergi makan bersama mereka.

Mungkin besok jadi. Mungkin juga rencananya berubah.

Dan entah kenapa, sekarang aku merasa hal seperti itu pun layak dicatat. Sebab kehidupan rupanya bukan hanya kumpulan peristiwa yang benar-benar terjadi. Ada juga rencana-rencana kecil yang muncul malam sebelumnya, keinginan spontan untuk bertemu seseorang, dan hal-hal sederhana yang saat itu sedang kita nantikan.

Malam ini aku juga membeli dua buku: Ikigai dan sebuah buku tentang Buddha.

Entah bagaimana, dari membeli buku itu pikiranku kemudian melompat ke sebuah ide: bagaimana kalau aku membuat perpustakaan mini di rumah?

Aku mulai membayangkan sebuah sudut dengan rak-rak berisi buku yang kupilih sendiri. Buku yang sudah kubaca, buku yang kusukai, buku yang suatu saat ingin kubaca kembali.

Lalu muncul pikiran lain yang jauh lebih menarik.

Bagaimana kalau di antara buku-buku karya orang lain itu, suatu hari ada buku-bukuku sendiri?

Bukan berarti semuanya harus diterbitkan atau dibaca orang lain. Buku-buku itu boleh hanya ada satu eksemplar dan dibuat untuk diriku sendiri.

Aku ingin menulis tentang India. Tentang perjalanan menuju Himalaya. Tentang Tibet dan perjalanan sampai Everest Base Camp. Tentang Afrika yang masih menjadi mimpi. Tentang masa sekolah, olimpiade, kuliah, pekerjaan, perjalanan-perjalanan kecil, dan mungkin juga tentang hari-hari biasa seperti hari ini.

Tiba-tiba perpustakaan kecil itu tidak lagi terasa sekadar sebagai tempat menyimpan buku.

Aku membayangkannya sebagai tempat menyimpan hidup.

Mungkin suatu hari, puluhan tahun dari sekarang, aku akan berdiri di depan rak itu dengan rambut yang sudah memutih. Tanganku mengambil sebuah buku bertuliskan 2026, membukanya secara acak, lalu menemukan halaman ini.

Aku akan membaca tentang pagi ketika aku bangun pukul setengah tujuh dan melihat cahaya keemasan dari balik gorden. Tentang niat berjemur yang sempat tertunda gara-gara game lepas-lepas baut, tetapi akhirnya tetap kulakukan walaupun hanya sebentar. Tentang kopi susu yang membuat laptop masuk tempat servis. Tentang perjalanan sia-sia ke Solo karena tidak mendapat parkir. Tentang berjalan-jalan di Gramedia tanpa menemukan buku yang kusukai. Tentang sore yang kacau karena Word, Global Mapper, ArcGIS, dan Windows. Tentang makan malam di angkringan.

Aku mungkin juga akan membaca kembali tentang obrolan kecil bersama Bapak mengenai iuran tujuhbelasan dan tertawa karena ternyata aku sampai mencatat hal seremeh itu. Lalu membaca bahwa malam itu aku sedang memikirkan akan mengajak kakakku dan anak-anaknya makan keesokan harinya, meskipun bahkan belum tahu mau pergi ke mana.

Hal-hal yang hari ini rasanya sama sekali tidak penting.

Tetapi mungkin pada saat itu aku akan memberikan apa saja hanya untuk bisa kembali sebentar ke hari biasa ini.

Aku tidak tahu akan menjadi seperti apa hidupku nanti. Aku juga tidak tahu berapa banyak tempat yang masih akan kudatangi, berapa banyak orang yang akan kutemui, atau berapa banyak hal yang akan berubah.

Yang kutahu, waktu rupanya memang tidak pernah menunggu.

Mungkin aku tidak bisa membuatnya berjalan lebih lambat. Tapi setidaknya aku bisa meninggalkan beberapa penanda di sepanjang jalan—foto, cerita, buku, atau sekadar beberapa paragraf tentang sebuah pagi yang sebenarnya biasa saja.

Supaya suatu hari nanti, ketika aku menoleh ke belakang, hidupku tidak hanya terasa seperti sesuatu yang pernah berlalu dengan cepat.

Aku masih bisa membuka sebuah halaman dan berkata,

“Oh, ternyata begini rasanya menjadi aku pada 13 Agustus 2026.”