Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

5.17.2026

Boyolali, 16 Mei 2026 : ARUS PIKIRAN

 Beberapa bulan terakhir aku mulai menyadari sesuatu yang sangat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar terhadap cara aku memandang hidup. Ketika aku duduk diam selama lima menit saja, pikiranku ternyata tidak pernah benar-benar diam. Topik yang muncul di kepala dapat berganti berkali-kali dalam waktu yang sangat singkat. Baru saja aku memikirkan pekerjaan, beberapa detik kemudian teringat masa lalu, lalu tiba-tiba membayangkan perjalanan ke negeri yang belum pernah kukunjungi, setelah itu muncul kekhawatiran tentang masa depan, dan tak lama kemudian otakku sudah melompat lagi ke topik lain yang sama sekali berbeda. Seolah-olah di dalam kepala terdapat sungai besar yang airnya terus mengalir tanpa henti.

Dari sudut pandang Neuroscience, fenomena ini sangat masuk akal. Di dalam otak manusia terdapat sekitar 86 miliar Neuron yang saling terhubung melalui ratusan triliun hingga kuadriliun Synapse. Setiap neuron bekerja seperti saklar biologis yang menerima, mengolah, dan meneruskan impuls listrik ke neuron-neuron lain. Pada setiap detik, miliaran neuron menembakkan sinyal secara bersamaan, membentuk pola aktivitas yang terus berubah. Di satu bagian otak, jaringan saraf sedang memanggil memori masa lalu. Di bagian lain, otak memprediksi kemungkinan masa depan. Pada saat yang sama, sistem emosi menilai apakah suatu hal aman atau berbahaya, sementara korteks prefrontal mencoba membuat keputusan yang rasional. Semua proses ini berlangsung paralel, saling bertumpang tindih, saling memengaruhi, dan terus berebut untuk memasuki kesadaran. Apa yang kita sebut sebagai "pikiran" sesungguhnya adalah hasil sementara dari kompetisi dan kolaborasi antarjaringan saraf yang sangat kompleks.

Yang menarik, otak tetap bekerja bahkan ketika tubuh sedang beristirahat. Para ilmuwan menemukan adanya jaringan yang dikenal sebagai Default Mode Network, yaitu sekumpulan area otak yang justru aktif saat kita sedang tidak fokus pada tugas tertentu. Jaringan ini melibatkan antara lain medial prefrontal cortex, posterior cingulate cortex, dan precuneus, yang berperan dalam refleksi diri, penilaian sosial, pembentukan identitas, serta simulasi berbagai kemungkinan masa depan. Pada saat yang sama, sistem limbik seperti Amygdala terus memindai potensi ancaman, sedangkan Prefrontal Cortex berusaha mengatur perhatian dan respons emosional. Tidak heran jika ketika kita hanya duduk diam, pikiran justru menjadi sangat ramai. Otak seperti superkomputer biologis yang tak pernah benar-benar "mati"; ia terus melakukan simulasi, evaluasi, dan prediksi demi memastikan kita tetap aman dan mampu bertahan hidup.

Kesadaran akan hal ini mengubah cara pandangku terhadap pikiran. Aku mulai memahami bahwa tidak semua pikiran harus dipercaya. Jika dalam waktu lima menit isi kepala dapat berubah berkali-kali, maka jelas bahwa pikiran bukanlah fakta yang tetap. Pikiran hanyalah pola aktivitas saraf yang muncul sesaat, lalu digantikan oleh pola lain. Hari ini otak dapat menghasilkan pikiran bahwa aku akan gagal, tetapi beberapa jam kemudian ia mungkin memunculkan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jika demikian, mengapa aku harus menganggap setiap pikiran sebagai kebenaran mutlak?

Yang lebih menarik lagi, otak manusia memiliki kecenderungan evolusioner yang disebut Negativity Bias, yaitu kecenderungan untuk lebih peka terhadap ancaman, kegagalan, dan kemungkinan buruk dibandingkan terhadap hal-hal positif. Dari perspektif evolusi, hal ini sangat adaptif karena nenek moyang kita yang lebih waspada terhadap bahaya memiliki peluang bertahan hidup lebih besar. Namun pada kehidupan modern, mekanisme yang sama dapat membuat pikiran terasa jahat. Otak dapat terus-menerus mengulang narasi yang menyudutkan diri sendiri, bahwa kita tidak cukup baik, tidak cukup pintar, atau tidak akan berhasil. Padahal narasi tersebut sering kali hanyalah upaya biologis otak untuk melindungi kita dari risiko, bukan penilaian objektif terhadap siapa diri kita sebenarnya.

Aku membayangkan pikiran seperti arus sungai. Air terus mengalir tanpa pernah berhenti. Daun, ranting, dan buih datang lalu hanyut menjauh. Sebagian air tampak tenang, sebagian lain berputar-putar membentuk pusaran. Namun tidak ada satu pun tetes air yang menetap selamanya. Begitu pula dengan pikiran. Sebuah kekhawatiran muncul, lalu menghilang. Sebuah kenangan datang, kemudian memudar. Sebuah ide baru muncul, lalu digantikan oleh hal lain. Semua bergerak, semua berubah, dan semuanya pada akhirnya berlalu.

Masalah sebenarnya bukan terletak pada munculnya pikiran. Masalah muncul ketika kita percaya bahwa setiap pikiran adalah kenyataan, lalu terjun ke dalam arus tersebut dan membiarkan diri terbawa olehnya. Satu pikiran negatif dapat berkembang menjadi puluhan skenario buruk. Kekhawatiran kecil dapat berubah menjadi badai mental yang menguras energi. Pikiran bahkan dapat terdengar sangat meyakinkan ketika ia berkata bahwa kita gagal, tidak berharga, atau tidak memiliki masa depan. Jika kita tidak menyadarinya dengan bijak, suara internal ini dapat perlahan-lahan menurunkan semangat, merusak rasa percaya diri, dan menyeret kita ke dalam kecemasan maupun depresi. Padahal, jika kita tidak menanggapinya secara berlebihan, pikiran itu mungkin akan padam dengan sendirinya dan digantikan oleh topik lain dalam hitungan menit.

Seiring waktu aku belajar bahwa cara terbaik untuk mengendalikan arus pikiran bukanlah dengan memaksa otak untuk berhenti berpikir. Itu hampir mustahil, sebagaimana mustahil menghentikan sungai agar tidak mengalir. Yang dapat kita lakukan adalah berdiri di tepi sungai dan mengamati alirannya. Ketika sebuah pikiran muncul, aku mencoba menyadarinya terlebih dahulu. Aku mengakui bahwa saat ini ada kekhawatiran, ada ingatan, atau ada ketakutan yang sedang lewat di dalam benak. Setelah itu aku tidak berusaha melawannya dan tidak pula menelannya mentah-mentah. Aku hanya membiarkannya hadir sejenak, lalu membiarkannya pergi sebagaimana air sungai terus bergerak menuju hilir.

Latihan sederhana ini ternyata sangat menenangkan. Dengan kesadaran, aku tidak lagi merasa harus mengikuti setiap narasi yang diciptakan oleh otak. Aku cukup menyadari, menerima keberadaannya, dan kembali pada momen saat ini. Napas, suara angin, sinar matahari, atau aktivitas sederhana seperti menyeduh kopi menjadi jangkar yang membawaku kembali ke kenyataan. Pikiran tetap muncul, tetapi ia tidak lagi memegang kendali penuh atas diriku.

Dari pengalaman pribadi, pemahaman ini terasa seperti sebuah kebebasan. Aku tidak perlu takut terhadap pikiran buruk, karena aku tahu bahwa ia hanyalah bagian dari arus besar aktivitas neuron di dalam otak. Ia datang bukan untuk menetap, melainkan hanya untuk lewat. Sama seperti awan yang bergerak di langit, pikiran tidak pernah benar-benar permanen.

Mungkin inilah salah satu pelajaran terpenting yang pernah kupahami tentang kehidupan mental manusia. Otak kita adalah mesin biologis yang luar biasa kompleks dan akan terus menghasilkan pikiran selama kita hidup. Namun kita memiliki kemampuan yang sama luar biasanya, yaitu kemampuan untuk menyadari pikiran tanpa harus tenggelam di dalamnya. Ketika kita belajar mengamati arus pikiran dengan tenang, overthinking mulai kehilangan kekuatannya, kecemasan perlahan mereda, dan hati menjadi lebih lapang.

5.01.2026

Kalau Hidup Kita Sudah Cukup, Kita Tidak Kekurangan Apa-Apa

Di era media sosial seperti sekarang, rasanya hidup orang lain selalu terlihat lebih cepat, lebih tinggi, dan jauh lebih wah dibanding kita. Baru buka Instagram atau TikTok beberapa menit saja, sudah muncul orang yang liburan ke luar negeri, beli rumah, upgrade mobil, bisnisnya berkembang, kariernya melonjak. Semua terlihat begitu mulus, begitu rapi, seolah-olah hidup mereka memang ditakdirkan untuk selalu naik.

Pelan-pelan, tanpa sadar, muncul perasaan yang halus tapi mengganggu. Kenapa aku tidak seperti mereka?

Padahal kalau kita berhenti sebentar dan melihat hidup kita sendiri dengan jujur, sebenarnya banyak hal yang sudah sangat layak. Kita masih bisa makan tanpa bingung besok makan apa, masih punya tempat tinggal yang aman, masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus berhutang, bahkan masih bisa menikmati hal-hal kecil seperti makan enak, jalan santai, atau sekadar duduk tenang tanpa tekanan besar. Itu bukan sesuatu yang biasa saja, itu adalah stabilitas, dan tidak semua orang punya itu.

Masalahnya, media sosial menggeser standar kita. Yang dulu terasa cukup, sekarang terasa kurang. Yang dulu disyukuri, sekarang dibandingkan. Kita lupa bahwa apa yang kita lihat hanyalah potongan terbaik dari hidup orang lain, bukan keseluruhan cerita mereka. Yang sering tidak disadari adalah satu hal sederhana uang dan pencapaian yang besar hampir selalu datang dengan konsekuensi yang juga besar.

Semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak hal yang harus dipikul. Bukan hanya soal dirinya sendiri, tapi juga orang lain yang bergantung padanya. Ada karyawan yang harus digaji, ada target yang harus dicapai, ada keputusan besar yang tidak boleh salah. Kesalahan kecil saja bisa berdampak panjang, dan tidak semua orang siap hidup dengan tekanan seperti itu setiap hari.

Di balik angka yang besar, sering ada stres yang tidak terlihat. Deadline yang terus datang, risiko finansial yang selalu mengintai, ketidakpastian yang tidak pernah benar-benar hilang. Dari luar terlihat sukses, tapi di dalam bisa penuh kecemasan. Pikiran tidak pernah benar-benar berhenti bekerja, bahkan saat tubuh sedang istirahat.

Waktu juga sering menjadi hal pertama yang dikorbankan. Banyak orang yang secara finansial terlihat berhasil, tapi tidak benar-benar punya waktu. Waktu dengan keluarga berkurang, waktu untuk diri sendiri hampir tidak ada, bahkan saat liburan pun pikiran masih tertinggal di pekerjaan. Uang bisa membeli kenyamanan, tapi tidak bisa membeli kembali waktu yang sudah lewat.
Semakin tinggi seseorang naik, semakin besar juga tekanan sosial yang dia rasakan. Harus selalu terlihat berhasil, tidak boleh gagal, harus menjaga image, harus terlihat 'on track'. Lingkaran pergaulan pun berubah, dan tidak semua orang di sekitar benar-benar tulus. Ada yang datang karena posisi, bukan karena siapa dirinya.

Selain itu, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar juga yang bisa hilang. Bisnis bisa turun, investasi bisa gagal, reputasi bisa runtuh hanya karena satu kesalahan. Jatuh dari posisi tinggi sering kali jauh lebih menyakitkan daripada tidak pernah naik sama sekali.

Di tengah semua itu, kesehatan sering jadi korban yang diam-diam. Kurang tidur, makan tidak teratur, stres berkepanjangan, jarang bergerak. Tidak sedikit orang yang di usia produktif terlihat sukses secara finansial, tapi mulai membayar dengan tubuhnya. Ironisnya, uang yang dikumpulkan bertahun-tahun akhirnya dipakai untuk memperbaiki kondisi kesehatan yang sempat diabaikan.
Ada juga satu hal yang sering tidak terasa di awal yaitu semakin tinggi gaya hidup seseorang, semakin sulit kembali ke hidup yang sederhana. Standar hidup terus naik, kepuasan semakin sulit dicapai, dan hal-hal kecil yang dulu membahagiakan perlahan terasa biasa saja. Padahal, justru di situlah letak ketenangan yang sering hilang.

Yang kita lihat di media sosial hanyalah highlight, bukan realita. Tidak ada yang memposting malam tanpa tidur, kegagalan yang berulang, tekanan mental, atau rasa takut kehilangan. Kita membandingkan hidup kita yang nyata dengan versi terbaik orang lain, dan perbandingan seperti itu tidak akan pernah adil.

Akhirnya, yang perlu dipahami adalah tidak semua orang harus mengejar hidup yang terlihat hebat. Ada jenis hidup lain yang mungkin tidak ramai dipuji, tapi jauh lebih tenang untuk dijalani. Hidup yang cukup, stabil, sehat, dan tidak penuh tekanan besar sering kali justru lebih berharga daripada hidup yang terlihat luar biasa tapi penuh beban yang tidak terlihat.

Jadi kalau hari ini hidupmu tidak kaya berlebihan tapi juga tidak kekurangan, kebutuhan dasar terpenuhi, masih bisa makan dengan tenang, masih bisa tidur tanpa dihantui tekanan besar, itu bukan tanda kamu tertinggal. Itu adalah bentuk keseimbangan yang diam-diam diinginkan banyak orang, meskipun jarang diakui.
Tidak perlu iri. Bukan karena kamu tidak mampu, tapi karena kamu tidak selalu tahu harga yang harus dibayar untuk sampai ke sana. Dan belum tentu harga itu adalah sesuatu yang benar-benar ingin kamu bayar.

4.23.2026

[Part 9] Cam on Vietnam : Deadline dan Damainya Pagoda Chua Ling Uhn..

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Esok paginya, aku bangun cukup pagi. Entah karena sudah kebiasaan atau memang tubuhku tahu ada tanggung jawab yang belum selesai. Begitu tirai jendela aku buka, udara pagi Kota Da Nang langsung merangsek masuk—segar, ringan, dengan aroma laut yang tipis-tipis terasa. Cukup untuk membuat kepalaku terasa lebih jernih.

Aku berdiri sebentar di dekat jendela, menarik napas panjang melihat kota yang mulai bergerak di bawah sana. Aku punya misi pagi ini. Tidak lain dan tidak bukan, melanjutkan pekerjaan semalam yaitu deadline dokumen! Semalam aku sengaja berhenti kerja lebih awal karena tidak mau menukar tidur dengan kesehatan. Aku ingin lanjut pagi ini dengan pikiran yang lebih segar.

Tanpa banyak drama, aku langsung cuci muka dan sikat gigi sampai benar-benar merasa melek. Ritual dimulai dengan membuat teh hangat dari kettle kecil di kamar. Uapnya naik perlahan, memberi sinyal ke otak bahwa hari kerja resmi dimulai. Aku duduk di tepi kasur, membuka laptop, dan kembali berkutat dengan file yang semalam kutinggalkan.

“Pokoknya hari ini harus selesai dan di-upload,” seruku dalam hati. Tidak ada tawar-menawar.

Dokumen perpanjangan izin ini tebalnya ratusan halaman. Isinya meliputi data teknis, tabel produksi, peta koordinat, hingga matriks pengelolaan lingkungan. Jari-jariku bergerak cepat. Aku harus memastikan tidak ada satu angka pun yang meleset, karena instansi tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apa pun.

Sekitar jam sembilan pagi, perut mulai berontak. Di sinilah skill multitasking versi freelancer traveling diuji. Sambil mata menatap layar, telingaku memasang radar ke arah rice cooker mini yang aku bawa dari Indonesia. Ya, aku tipe traveler yang bawa alat masak sendiri kalau tripnya lama hihihi. Sambil menunggu nasi matang, aku tetap fokus ke dokumen. Begitu terdengar bunyi “klik” dari rice cooker, aku langsung santap nasi hangat itu dengan sisa ayam goreng semalam. Sederhana, tapi pas banget untuk menjaga fokus.

Berjam-jam aku lalui dengan fokus ke laptop. Mindsetku simpel, semakin cepat selesai semakin cepat aku bisa lanjut eksplor. Menjelang siang, bagian terakhir akhirnya selesai. Aku melakukan pengecekan final dari halaman pertama sampai terakhir. Dengan perasaan deg-degan, aku klik upload

File besar itu mulai terunggah perlahan. Progress bar bergerak sedikit demi sedikit. Aku menahan napas tanpa sadar sampai akhirnya muncul notifikasi: upload berhasil.

Aku bersandar ke kursi, mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti ada beban berat yang baru saja diangkat dari pundakku!

YESSS! Akhirnya bisa eksplor lagi tanpa kepikiran kerjaan (at least sementara)!

***

Selesai upload jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku merebahkan badan di kasur sejenak, beristirahat untuk melemaskan setiap urat-urat di pundakku wkwk.. Aku mendekat ke arah jendela kamar, kembali menikmati semburan udara sejuk Kota Danang. Udara di luar enak banget, pikirku. Kami sepakat untuk lanjut eksplor ke Pagoda Chùa Linh Ứng setelah ini, yang jaraknya sekitar lima kilometer dari hotel. Tidak terlalu jauh. Cukup untuk motoran santai.

Tapi sebelum itu… karena perut sudah lapar lagi, aku memesan sup kepiting dan tumis daging sapi lewat aplikasi Grab. Perjuangannya lumayan karena harus membedah menu bahasa Vietnam pakai Google Translate, dengan melakukan screen shot menu satu persatu wkwk. Setelah beberapa menit scroll, buka tutup aplikasi, dan membandingkan review, akhirnya aku memutuskan pesan sup kepiting, tumis daging sapi dan segelas kopi Vietnam. Tidak menunggu lama makanan datang. Supnya hangat gurih, dagingnya pun empuk. Tentu saja, nasinya tetap hasil masakan sendiri di rice cooker andalan.

Selesai makan, kami beres-beres cepat dan keluar kamar. Begitu pintu hotel terbuka dan kami melangkah ke luar, angin sore pesisir langsung menyentuh wajah.

Huft. Akhirnya.

Udara Da Nang sore itu benar-benar menyenangkan. Bisa dibilang pas, sejuk, tidak lembab dan tidak dingin. Anginnya membawa aroma laut —sedikit asin, sedikit segar. Kami naik motor dan mulai menyusuri jalan di sepanjang tepi laut. Langit sore itu juga mulai berubah warna, biru cerah perlahan melembut. Matahari belum tenggelam, tapi sinarnya sudah condong, menciptakan bayangan panjang di jalan. Di sisi kanan, laut terbentang luas dengan ombak kecil yang berkilau terkena cahaya keemasan. Beberapa orang terlihat jogging di trotoar lebar, ada yang berjalan santai berdua, ada keluarga kecil duduk di bangku menghadap laut.

Barisan pohon kelapa berdiri rapi di sepanjang jalan, daunnya bergerak pelan tertiup angin. Gedung-gedung hotel dan apartemen tinggi menjulang di sisi lain jalan, modern tapi tidak terasa sumpek. Jalanannya lebar dan relatif tertib. Motor-motor melaju dengan ritme yang tidak terburu-buru. Tidak ada klakson berlebihan, tidak ada kesan kacau. Ah.. aku sangat menyukai Kota Danang ini!

Motor kami melaju pelan. Aku sengaja tidak ingin ngebut. Rasanya sayang kalau sore seperti ini dilewati begitu saja. Angin menerpa wajah, rambut sedikit berantakan. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan—tenang yang muncul ketika kamu tahu pekerjaan sudah selesai, perut sudah kenyang, dan sekarang kamu hanya perlu menikmati perjalanan tanpa beban.

Tidak butuh waktu lama hingga kami mulai melihat perbukitan kecil di kejauhan. Jalan sedikit menanjak, suasana berubah lebih hijau. Dan akhirnya, bangunan pagoda mulai terlihat dari kejauhan—atap melengkung khas arsitektur Asia Timur dan patung putih tinggi yang berdiri anggun menghadap laut.

Kami akhirnya sampai di kompleks area Pagoda Chùa Linh Ứng. Begitu turun dari motor dan mulai berjalan masuk, kami langsung disambut suasana tenang, damai dan lebih hening. Seolah-olah tempat ini punya ritmenya sendiri, terpisah dari hiruk pikuk kota tadi. Begitu menengadahkan kepala, kami disambut oleh patung Dewi Kuan Im berwarna putih yang menjulang tinggi, sekitar 67 meter. Tinggi banget. Bahkan dari bawah pun rasanya harus mendongak cukup lama untuk bisa melihat keseluruhannya. Patung ini berdiri di atas bunga teratai besar, menghadap langsung ke laut lepas, seolah menjaga seluruh kota Da Nang dari kejauhan. Wajahnya tenang. Tatapannya lembut tapi dalam dan menenangkan.  

Aku sempat berdiri beberapa detik, cuma melihat ke atas. Patung Dewi Kuan Im ini memang jadi ikon utama pagoda ini. Dalam kepercayaan Buddha, Kuan Im dikenal sebagai dewi welas asih—simbol kasih sayang, pelindung, dan penolong bagi mereka yang sedang kesulitan. Makanya tidak heran kalau patungnya dibuat menghadap laut. Konon, ini sebagai simbol perlindungan bagi para nelayan dan masyarakat sekitar dari bahaya laut. Setelah aku browsing, pagoda ini sendiri sebenarnya cukup baru, dibangun sekitar tahun 2004, tapi langsung jadi salah satu tempat spiritual paling penting di Da Nang, terutama karena lokasinya di Semenanjung Son Tra yang menghadap langsung ke laut.

Aku melanjutkan langkah naik melewati tangga-tangga batu yang lebar. Tangga ini terasa kokoh, membawaku perlahan menuju gerbang utama pagoda. Dari bawah sini saja, gerbangnya sudah terlihat sangat megah dengan ornamen khas Tiongkok-Vietnam. Ada ukiran naga di bagian atas dan tulisan kanji di sisi-sisinya. Warna hijau kebiruannya yang sedikit memudar dimakan waktu justru memberi kesan klasik dan berkarakter, seolah gerbang ini sudah menjadi saksi bisu ribuan doa yang dipanjatkan di sini. Ketika berada diatas, kubalikkan badan dan aku disambut pemandangan laut terbentang luas tanpa batas tepat di hadapanku. Warna airnya perlahan berubah dari biru cerah menjadi keemasan, karena matahari sudah mulai condong ke barat. Angin dari arah laut berhembus pelan, menyapu wajah dengan rasa adem yang susah dijelaskan—tidak dingin, tapi cukup untuk membuat tubuh rileks dan pikiran ikut melambat. Aku sempat berhenti beberapa detik di sana, berdiri tanpa banyak bicara, cuma menikmati pemandangan yang terasa sederhana tapi entah kenapa sangat menenangkan.

Dari situ, aku melangkah masuk lebih dalam ke kompleks pagoda. Ternyata area di dalamnya jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Halamannya terbuka dengan lantai batu yang rapi. Tapi, yang paling menarik perhatianku adalah deretan pohon bonsai yang ditata berjajar di kanan dan kiri. Ini bukan sekadar bonsai kecil biasa, ya. Banyak di antaranya yang terlihat sudah berumur sangat tua. Batangnya besar dan berkelok-kelok, dengan akar-akar tua yang muncul ke permukaan seperti sedang mencengkeram tanah. Siluetnya unik banget. Setiap pohon terlihat berbeda, seolah masing-masing punya cerita panjang yang diam-diam mereka simpan.

Aku berjalan pelan di antara deretan bonsai itu. Suasananya tenang sekali. Tidak ramai, tidak berisik. Hanya ada suara langkah kaki sesekali, desir angin yang menyentuh daun, dan obrolan pelan dari beberapa pengunjung. Ada yang duduk santai di pinggir, ada yang sibuk mengambil foto, tapi ada juga yang memilih diam saja, sekadar menikmati suasana tanpa distraksi HP sama sekali.

Di bagian ujung terdapat bangunan utama kuil. Arsitekturnya luar biasa cantik, khas kuil-kuil Asia Timur dengan atap tumpuk berwarna hijau tua yang ujungnya melengkung ke atas, dihiasi ukiran naga-naga yang terlihat gagah di bawah langit sore. Pilar-pilar penyangganya juga unik banget, berbentuk naga putih raksasa yang melilit batang pilar berwarna merah. Di sela-sela pilar itu, bergelantungan lampion-lampion kuning cerah. Di atas pintu utama, terpasang papan nama bertuliskan huruf kanji berwarna emas yang berkilau terkena cahaya matahari. 

Suasana sore itu terasa cukup ramai, baik oleh wisatawan maupun warga lokal. Aku sempat berdiri di tengah tangga untuk berfoto sebentar, mengambil posisi di antara pot-pot tanaman hias yang tertata rapi. Di belakangku, terlihat beberapa orang bersiap masuk ke dalam kuil. Di teras kuil, terlihat orang-orang melepaskan alas kaki mereka sebelum melangkah masuk. Sebenarnya, aku penasaran sekali ingin mengintip ke dalam. Dari pintu masuk yang terbuka lebar, samar-samar aku bisa melihat kemilau keemasan dari patung-patung di dalamnya. Interior kuilnya terlihat luas, didominasi warna merah marun dengan pilar-pilar besar. Di dinding bagian dalam, terdapat ukiran emas yang sangat rumit dan detail. Yang paling menarik perhatian adalah barisan patung Buddha berwarna emas yang duduk berjejer di atas meja kayu berukir, lengkap dengan persembahan dan bunga-bunga segar. Di depan patung-patung itu, di atas lantai keramik yang berkilau, tertata rapi matras-matras meditasi kecil lengkap dengan bantal duduk, siap digunakan oleh para peziarah untuk berdoa.

Suasananya di dalam sana terasa begitu sakral dan sunyi, berbeda dengan keramaian di luar. Ada beberapa orang yang terlihat sedang berlutut di atas matras, khusyuk berdoa di depan patung Buddha. Aroma dupa yang harum tercium samar sampai ke tempatku berdiri. Melihat betapa sakral dan tenang suasana di dalam, aku akhirnya memutuskan untuk tidak masuk terlalu dalam. Rasanya sungkan kalau sampai mengganggu keheningan mereka yang sedang berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Berdiri di ambang pintu, melihat dari kejauhan, dan merasakan aura ketenangan yang terpancar dari dalam sudah cukup bagiku. 

Kami lanjutkan berjalan menyisir bagian samping kompleks pagoda. Di sana terdapat sebuah taman kecil yang cantik dengan bunga-bunga berwarna merah cerah. Ada juga sebuah bangunan kayu sederhana menyerupai pendopo dengan hiasan lampion dan pohon sakura buatan. Aku sempatkan duduk sejenak di sana, sekadar meluruskan kaki sambil menikmati semilir angin sore sebelum lanjut jalan lagi.

Aku kemudian memutar menuju bagian belakang kompleks pagoda. Di sebuah area terbuka yang cukup luas, aku menemukan barisan patung yang unik. Salah satunya adalah patung Buddha kecil yang berdiri di atas kelopak bunga teratai pink yang sedang mekar. Patung ini menggambarkan sosok Siddharta Gautama saat masih bayi. Posisi tangannya yang menunjuk ke langit melambangkan momen kelahiran beliau yang membawa cahaya bagi dunia. Di sekelilingnya, terdapat patung-patung murid atau pengikut Buddha yang sedang dalam posisi berdoa, menciptakan suasana yang sangat sakral di bawah pohon-pohon besar yang rindang.

Langkahku berlanjut menuju area yang lebih tinggi. Di sana, aku disambut oleh sebuah Pagoda Sembilan Lantai yang berdiri megah. Untuk mencapainya, aku harus menaiki tangga batu yang cukup panjang. Tangga ini dihiasi dengan ukiran naga raksasa di sisi kanan dan kirinya, lengkap dengan pot-pot bunga krisan kuning yang berjejer rapi di setiap anak tangga. Kombinasi warna abu-abu batu, hijaunya pohon bonsai, dan kuningnya bunga benar-benar memanjakan mata.

Tak jauh dari situ, aku menemukan patung Buddha Sakyamuni berwarna putih bersih yang sedang bermeditasi di atas bunga teratai. Patung ini tampak begitu tenang dengan latar belakang langit biru yang mulai bersih dari awan. Pohon-pohon di belakangnya seolah membentuk payung alami bagi sang Buddha. Berada di titik ini membuatku merasa sangat kecil sekaligus damai. Rasanya semua lelah setelah seharian mengejar deadline izin tambang tadi pagi langsung luntur begitu saja digantikan rasa syukur bisa sampai di titik ini.

Sore itu, aku benar-benar membiarkan waktu tercuri. Aku duduk cukup lama di salah satu bangku taman, sekadar diam dan menarik napas panjang. Ada rasa hangat yang menjalar di dada—karena rasa syukur yang tumpah ruah. Di tengah perjalanan jauh ini, semuanya berjalan lancar. Pekerjaan beres, perizinan klien terkirim, dan sekarang aku duduk di salah satu tempat paling damai di Vietnam.

Aku menghabiskan waktu dengan people watching. Melihat peziarah yang khusyuk, wisatawan yang sibuk berfoto, sampai biksu yang melintas tenang. Tanpa sadar, langit mulai berubah warna menjadi jingga pekat. Matahari yang mulai tenggelam di cakrawala Da Nang adalah sinyal tak terbantahkan, aku harus segera kembali ke kota sebelum jalanan semenanjung menjadi terlalu gelap.

Perjalanan motoran turun dari Son Tra terasa jauh lebih sejuk. Begitu sampai di pusat kota, perutku mulai memberikan sinyal lapar. Karena sedang malas makan berat yang ribet, pilihanku jatuh pada Banh Mi—sandwich khas Vietnam yang legendaris itu. Aku membelinya di salah satu kedai pinggir jalan. Roti baguette-nya garing di luar tapi lembut di dalam, diisi dengan páté, daging, dan sayuran segar yang melimpah. Rasanya? Lumayan enak banget! Pas untuk menutup hari yang produktif sekaligus kontemplatif ini.

Malam itu tidak ada agenda spesifik. Aku benar-benar mendedikasikan waktu untuk mengistirahatkan tubuh. No deadline, no drama. Syukurlah, aku bisa tidur lebih awal dari biasanya. Besok kami berencana akan mengunjungi Ba Na Hills, destinasi ikonik dengan jembatan emasnya yang viral itu. Jarak dari kota Da Nang ke Ba Na Hills sendiri sekitar 30 kilometer. Kalau lancar, perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 1 jam naik motor. Jaket sudah siap, helm sudah di tangan, dan tangki motor rencananya akan aku isi penuh besok pagi. Ba Na Hills, tunggu aku! Kami benar-benar siap!

Part Selanjutnya : DISINI

4.21.2026

[PART 8] Menggapai Himalaya : Mengunjungi (kembali) Taj Mahal !

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI


Semalam, aku dan Fredo sempat berwacana sok ambisius. Besok kami akan mengunjungi Taj Mahal saat sunrise. Wow banget kan rencananya. Padahal selama beberapa hari di India ini, kami hampir nggak pernah benar-benar bangun pagi. Wkwk. Mungkin Fredo bangun subuh buat salat, tapi sepertinya habis itu dia tidur lagi. Yang jelas, setelah seharian jalan, ditambah browsing dan ngobrol sampai larut malam, rencana indah itu berakhir… ya begitu saja. Wkwk.

Seperti bisa diduga, esoknya, kami baru benar-benar bangun sekitar jam sepuluh. Sunrise sudah lama lewat. Matahari sudah tinggi. Hahaha.. Ya sudah lah ya. Backpacking memang sering begini, rencana kalah sama badan. Lagipula kami juga dalam kondisi sangat capek, hanya dalam beberapa hari sudah menempuh jarak ribuan kilometer, 2 hari tidur di kereta sleeper, jalan kaki eksplor beberapa kota tanpa henti, yaaah bisa dimaklumi hehe..

Setelah leyeh-leyeh sebentar dan sarapan di restoran rooftop penginapan, kami langsung siap-siap untuk berangkat ke Taj Mahal. Kali ini tanpa ambisi waktu tertentu, kami jalan lebih santai. Google Maps sudah kusetel sejak masih di hotel. Dari penginapan, kami harus berjalan kaki kurang lebih satu kilometer menuju area pembelian tiket dan gerbang selatan Taj Mahal.

Pagi itu, jalanan Kota Agra sudah cukup ramai. Tukang becak, motor, penjual kecil, dan turis bercampur di satu ruang yang sama. Penjual-penjual cenderamata mulai membuka tokonya, beberapa menawarkan kami tanpa nada memaksa. Nggak butuh waktu lama, kami sampai di area pembelian tiket. Kali ini aku nggak pakai drama seperti dulu, tahun 2012, yang sempat sok-sokan pengen menyamar jadi warga lokal biar dapat harga murah. Hahaha… sekarang rasanya udah lebih realistis. Aku langsung menuju loket turis dan membayar tiket sebesar 1000 rupee.
Sekitar dua ratus ribuan.

Lumayan mahal, iya. Tapi entah kenapa, begitu tiket itu sudah di tangan, rasanya tetap ada sensasi “wah, akhirnya sampai juga di sini lagi.”

Dari area tiket, perjalanan masih dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju gerbang selatan. Sepanjang jalan, suasana makin terasa “turistik”. Banyak guide yang menawarkan jasa, tukang foto dengan contoh hasil cetak Taj Mahal ala-ala postcard, sampai pedagang yang jual miniatur marmer putih.

Langkah kami santai saja. Nggak ada lagi kejar-kejaran waktu seperti rencana sunrise tadi. Justru rasanya lebih enak begini. Pelan-pelan, sambil menyerap suasana.

Akhirnya kami sampai di gerbang masuk Taj Mahal. Dari kejauhan saja, siluetnya sudah kelihatan. Dan entah kenapa, meskipun ini bukan pertama kalinya aku ke sini, tetap saja ada rasa takjub yang sama.

Sebelum benar-benar masuk, aku sempat duduk sebentar di kursi bagian luar. Tempat ini jadi titik terakhir sebelum tiket diperiksa. Aku santai saja waktu itu… sampai tiba-tiba tersadar.

“Lho, tiketku mana?!”

Rasa panik langsung menyergap.

Aku langsung berdiri, celingak-celinguk, meraba setiap saku celana, dan tanpa banyak mikir aku langsung lari balik ke arah sebelumnya. Untungnya, nggak lama kemudian aku lihat seorang bapak penjaga memegang tiket itu. Diamankan.

Fiuhhhh.

Padahal tiketnya bahkan belum diperiksa. Kalau sampai hilang, aku harus beli lagi 1000 rupee. Lumayan banget kan. Untung saja, hari ini ketelodaranku belum sampai berujung kesialan. Wkwk.

Setelah drama kecil itu, akhirnya kami benar-benar masuk. Dan begitu melewati gerbang utama, pemandangan itu langsung terbuka lebar di depan mata.
Taj Mahal.

Putih, simetris, dan… megah banget.
Sayangnya, dua minaretnya sedang dalam proses renovasi, jadi ada bagian yang tertutup scaffolding. Sedikit mengganggu memang, tapi ya sudahlah. Nggak mengurangi rasa kagum sama sekali. Kami tetap sibuk foto sana-sini, cari angle terbaik sambil sesekali menghindari kerumunan orang.

Sedikit cerita, Taj Mahal ini dibangun oleh Kaisar Mughal, Shah Jahan, sebagai bentuk cinta untuk istrinya, Mumtaz Mahal, yang meninggal saat melahirkan. Pembangunannya dimulai sekitar tahun 1632 dan memakan waktu lebih dari 20 tahun. Jadi ya, ini bukan sekadar bangunan indah, tapi juga simbol cinta yang… levelnya udah nggak masuk akal 😆
Setelah puas foto-foto di luar, kami lanjut masuk ke bagian dalam bangunan utama.
Seperti biasa, sebelum masuk, sepatu harus dilepas dan diganti dengan alas kaki dari kain tipis yang sudah disediakan. Rasanya agak aneh sih, jalan di atas marmer dingin dengan pelindung tipis begitu, tapi justru jadi bagian dari pengalaman.

Begitu masuk ke dalam, kami disambut suasana lebih gelap. Lebih dingin. Dan jauh lebih ramai. Suara orang-orang bergema pelan di dalam ruangan, bercampur dengan langkah kaki yang terus bergerak mengelilingi bagian tengah. Di sana, terdapat makam Mumtaz Mahal dan Shah Jahan—meskipun yang kita lihat sebenarnya adalah cenotaph (makam simbolis), sementara makam aslinya berada di ruang bawah tanah.
Dinding-dindingnya penuh dengan ukiran marmer yang sangat halus. Detailnya luar biasa. Motif bunga-bunga dengan teknik inlay batu semi mulia yang ditanam ke dalam marmer putih—kalau dilihat dekat, benar-benar rapi tanpa celah.

Tapi karena pencahayaan minim dan orang-orang terus bergerak, rasanya nggak bisa benar-benar diam lama untuk menikmati setiap detail. Semua seperti mengalir cepat. Kita ikut bergerak bersama arus manusia.

Ada rasa sakral, tapi juga sedikit chaotic.
Dan di tengah keramaian itu, aku sempat berhenti sebentar.

Berpikir… bahwa bangunan sebesar dan seindah ini, pada akhirnya tetap dibangun karena satu hal yang sangat sederhana.
Cinta.

Dari sini kelihatan aliran sungai yang tenang, warnanya agak kecoklatan, dengan tepian yang terlihat kering di beberapa bagian. Di kejauhan, sisi seberang tampak lebih sepi, hampir nggak ada bangunan mencolok. Angin sesekali berhembus pelan, tapi tetap saja nggak cukup untuk mengalahkan teriknya matahari siang itu.
Di sekitar kami, taman-taman tertata rapi dengan jalur simetris khas arsitektur Mughal. Rumput hijau, pohon-pohon yang dipangkas rapi, dan jalur batu yang dipenuhi turis dari berbagai negara. Ada yang duduk santai, ada yang sibuk foto, ada juga yang cuma bengong menikmati suasana.

Setelah duduk sebentar dan tenaga mulai balik sedikit, kami lanjut jalan lagi. Nggak ada target, cuma keliling santai mengitari kompleks. Sesekali berhenti, sesekali ngobrol, sesekali foto lagi. Sampai akhirnya tanpa terasa, kami kembali ke bagian depan.

Nah, di sinilah drama kecil berikutnya dimulai. Fredo tiba-tiba dapat ide.

“Eh coba fotoin aku melayang,” katanya.

Maksudnya, dia loncat, terus pas di udara difoto biar kelihatan seperti “floating”. Ya sudah, aku sih ketawa saja, tapi tetap bantu fotoin. Baru dua kali jepret—

“Sir! No jumping!”

Langsung ditegur petugas 😂
Aku sebenarnya dari awal sudah ada feeling bakal kena tegur. Ya gimana ya, ini kan bangunan tua, bersejarah, marmernya juga halus. Kalau tiap orang lompat-lompat nggak jelas, bisa-bisa lama-lama rusak… atau malah ambles (oke ini agak lebay sih wkwk, tapi tetap saja 😆).

Fredo langsung berhenti, agak kikuk. Aku? Ya ketawa saja.

“Udah dibilang juga apa…” 😜

Setelah itu, kami turun lagi untuk eksplor bagian lain dari kompleks Taj Mahal. Di samping bangunan utama, ada satu bangunan lain berwarna merah bata yang cukup mencolok. Bentuknya megah juga, dengan lengkungan-lengkungan khas arsitektur Mughal.

Jujur aku agak lupa itu bangunan apa, tapi yang jelas kami nggak masuk ke dalam. Hanya berhenti di depannya, ambil beberapa foto, lalu lanjut jalan lagi. Dari luar saja sudah cukup menarik, apalagi kontras warnanya dengan putihnya Taj Mahal.

Hari semakin siang dan panas Kota Agra mulai terasa menyengat. Setelah beberapa jam berkeliling kompleks Taj Mahal, duduk-duduk di taman, dan sesekali berhenti untuk mengambil foto, aku mulai menyadari satu hal. Well, ini adalah hari terakhir kami benar-benar menjelajahi India.

Rasanya baru kemarin kami mendarat di Kochi dan mulai petualangan ini. Padahal dalam beberapa hari terakhir, kami sudah berpindah-pindah kota, tidur di kereta sleeper, berjalan kaki tanpa henti menyusuri jalanan India yang ramai, melihat istana, benteng, pasar, hingga akhirnya berdiri di depan Taj Mahal pagi itu. Perjalanan terasa begitu padat sampai waktu seperti berlalu lebih cepat dari yang seharusnya.

Sesuai itinerary yang sudah kami susun sejak di Indonesia, malam nanti kami akan meninggalkan Agra dengan kereta sleeper menuju Gorakhpur, sebuah kota di Uttar Pradesh yang lokasinya tidak jauh dari perbatasan India dan Nepal. Perjalanan akan ditempuh semalaman, dan jika semuanya berjalan sesuai rencana, keesokan harinya kami sudah berada di kota tersebut.

Petualangan belum berakhir, tepatnya akan berlanjut di negara berikutnya, Nepal. Dari Gorakhpur, kami berencana langsung menyeberang ke Nepal melalui Lumbini, tempat kelahiran Siddhartha Gautama, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pokhara. Dari Pokhara baru terakhir naik bus kembali ke Kathmandu sebelum terbang ke Indonesia.

Kalau dipikir-pikir sekarang, rencana itu memang terdengar cukup ambisius. Dalam hitungan hari kami akan berpindah dari India Selatan ke India Utara, lalu menyeberang ke negara lain dan melanjutkan perjalanan darat berjam-jam lagi. Namun saat itu semuanya terasa masih sangat mungkin dilakukan. Setidaknya di atas kertas, seluruh rencana tersebut terlihat rapi dan masuk akal.

***

Sekitar pukul enam sore, aku dan Fredo meninggalkan penginapan kami di Agra menuju stasiun kereta. Backpack besar sudah menempel di punggung, sementara tas kecil kubawa di depan dada seperti biasa. Sesuai jadwal, kereta Avadh Express yang akan membawa kami ke Gorakhpur seharusnya berangkat sekitar pukul sembilan malam. Kami datang lebih awal, mencari tempat duduk di peron, membeli minum, lalu menunggu sambil mengobrol tentang rencana perjalanan berikutnya. Kalau semuanya berjalan lancar, besok kami sudah berada di Nepal.

Namun seperti banyak hal selama perjalanan di India, kenyataan ternyata punya rencana lain.

Menjelang waktu keberangkatan, papan informasi stasiun menunjukkan bahwa kereta kami mengalami keterlambatan. Awalnya aku tidak terlalu khawatir. Kereta terlambat satu atau dua jam rasanya bukan sesuatu yang aneh di sini. Kami pun tetap santai, duduk di bangku peron sambil sesekali memperhatikan lalu-lalang penumpang.

Satu jam berlalu.

Lalu dua jam.

Kereta masih belum datang.

Setiap kali jadwal di papan informasi diperbarui, waktu kedatangannya kembali mundur. Rasa penasaran mulai muncul. Aku dan Fredo akhirnya menghampiri petugas stasiun untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Dari penjelasan yang kami dapatkan, ada gangguan pada jalur kereta akibat banjir di wilayah sekitar Mumbai. Masalahnya, tidak ada yang bisa memberikan kepastian kapan kereta kami akan tiba di Agra. Bahkan petugas stasiun sendiri hanya bisa menyarankan kami untuk terus memantau pengumuman berikutnya.

Mendengar jawaban itu, kami hanya bisa pasrah.

Malam semakin larut. Penumpang yang tadinya masih ramai mulai satu per satu mencari posisi untuk beristirahat. Sebagian menggelar koran di lantai, sebagian lagi menjadikan tas mereka sebagai bantal. Keluarga-keluarga tampak sudah sangat terbiasa menghadapi situasi seperti ini.

Karena tidak ada kepastian kapan kereta datang, kami akhirnya memutuskan bertahan di stasiun dan mencoba tidur di peron. Malam itu bisa dibilang menjadi salah satu malam paling tidak nyaman selama perjalanan India-Nepal kami.

Peron tempat kami menunggu cukup kecil dan berdebu. Di beberapa sudut terlihat gelandangan yang tertidur nyenyak seolah tempat itu adalah rumah mereka sendiri. Sesekali polisi stasiun berkeliling memeriksa keadaan. Salah seorang sempat menghampiri kami dan menyarankan agar kami tidur bergantian supaya barang bawaan tetap aman. Kami mengangguk, berterimakasih dan bergantian berjaga menjaga tas.

Meski disebut tidur, sebenarnya lebih mirip memejamkan mata sambil menunggu waktu bergerak. Setiap kali aku mulai terlelap, sering sekali suara kereta barang yang melintas sukses membangunkanku lagi. Suaranya benar-benar menggelegar, bergema di seluruh area stasiun. Belum lagi debu yang membuat badan terasa lengket dan gatal.

Yang lebih menantang lagi tentu saja urusan toilet.

Jujur saja, toilet stasiun malam itu termasuk salah satu yang paling ekstrem yang kutemui selama perjalanan. Untuk sekadar buang air kecil aku harus menahan napas beberapa detik. Bau menyengat langsung menyerbu begitu pintu dibuka. Di beberapa sudut bahkan terlihat tumpukan kotoran manusia yang membuatku buru-buru menyelesaikan urusan lalu keluar secepat mungkin.

Backpacking memang sering terlihat keren di foto-foto. Yang tidak terlihat adalah momen-momen seperti ini. Tidur di peron berdebu, menunggu kereta yang entah kapan datang, sambil berharap malam segera berlalu.

Menjelang subuh rasa kantuk dan lelah bercampur menjadi satu. Aku bahkan tidak tahu apakah benar-benar tidur atau hanya setengah sadar ketika tiba-tiba suara klakson panjang terdengar dari kejauhan.

Aku membuka mata.

Di ujung rel terlihat rangkaian kereta merah perlahan memasuki stasiun.

Avadh Express.

Akhirnya datang juga.

Jam menunjukkan sekitar pukul enam pagi.

Aku segera bangun, mencuci muka seadanya di wastafel stasiun, lalu bersama Fredo berjalan cepat menuju gerbong kami. Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama.

Begitu sampai di depan pintu gerbong, aku langsung terkejut.

Isinya manusia.

Benar-benar penuh manusia.

Orang berdiri di lorong, duduk di lantai, memenuhi area dekat pintu, bahkan sebagian terlihat berdesakan di antara tumpukan barang bawaan. Untuk masuk ke dalam saja kami harus menyelipkan badan dan mendorong backpack perlahan melewati kerumunan.

Ketika akhirnya berhasil masuk, masalah berikutnya langsung muncul. Tempat duduk yang tertera di tiket kami sudah ditempati orang lain.

Tentu saja.

Untungnya seorang pemuda lokal yang bisa berbahasa Inggris cukup baik membantu menjelaskan kepada para penumpang bahwa kursi tersebut memang milik kami. Setelah sedikit negosiasi dan saling bergeser, kami akhirnya bisa mendapatkan tempat duduk kami.

Meski kalau dipikir-pikir, menyebutnya sebagai mendapatkan kursi mungkin agak berlebihan. Karena pada praktiknya kami tetap berbagi ruang dengan beberapa penumpang lain beserta barang-barang mereka yang bertumpuk di mana-mana. Rupanya banyak penumpang tanpa tiket yang ikut naik karena kereta sudah terlalu penuh.

Perjalanan menuju Gorakhpur berlangsung sekitar empat belas jam. Di luar jendela, pemandangan pedesaan India terus berganti. Sawah, desa-desa kecil, stasiun mungil, dan aktivitas sehari-hari masyarakat India berlalu tanpa henti. Namun sejujurnya, hari itu aku tidak terlalu menikmati pemandangan. Tubuh sudah terlalu lelah setelah semalaman tidak benar-benar tidur.

Di dalam gerbong, aroma khas kereta India terus menemani perjalanan. Campuran makanan, debu, keringat, dan sesekali bau dari arah toilet yang terbawa angin ke dalam kabin. Untungnya para penumpang di sekitar kami cukup ramah. Beberapa sempat mengajak mengobrol dan bertanya kami berasal dari mana serta hendak pergi ke mana.

Ketika mendengar tujuan kami Nepal, beberapa langsung mengangguk-angguk sambil memberikan berbagai saran tentang perjalanan menuju perbatasan.

Menjelang malam, kereta akhirnya tiba di Gorakhpur.

Saat kakiku menginjak peron, rasanya seperti baru menyelesaikan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada empat belas jam. Badanku benar-benar remuk. Kurang tidur, duduk seharian di gerbong yang penuh sesak, ditambah malam sebelumnya tidur di lantai stasiun, semuanya mulai terasa sekaligus.

Sesuai rencana awal, sebenarnya kami ingin langsung menuju Nepal malam itu juga. Namun setelah bertanya kepada beberapa penduduk lokal, hampir semua memberikan jawaban yang sama. Mereka tidak menyarankan kami berangkat ke perbatasan pada malam hari. Selain transportasi yang lebih terbatas, perjalanan malam menuju kawasan perbatasan juga dianggap kurang nyaman untuk wisatawan.

Akhirnya kami memutuskan mengubah rencana.

Untuk pertama kalinya sejak berangkat dari Kochi, itinerary yang kususun jauh-jauh hari dari Indonesia harus dikoreksi. Ada satu kota yang akhirnya dicoret dan diganti dengan kota lain yang lebih memungkinkan dijangkau sesuai kondisi perjalanan. Sedikit menyebalkan memang, tetapi itulah backpacking. Kadang jadwal yang dibuat berbulan-bulan bisa berubah total hanya karena satu kereta terlambat.

Sebelum mencari hotel, kami sempat makan malam di sebuah warung sederhana dekat penginapan. Aku bahkan tidak tahu nama warungnya karena seluruh papan namanya ditulis menggunakan huruf Devanagari yang sama sekali tidak bisa kubaca. Yang kuingat hanya satu: kari ayamnya luar biasa enak. Kuahnya kaya rempah, hangat, dan terasa sangat pas setelah perjalanan panjang yang melelahkan.

Malam itu, sambil merebahkan badan di atas kasur hotel sederhana di Gorakhpur, aku membuka kembali itinerary yang sudah penuh coretan. Besok kami akan meninggalkan India dan memasuki Nepal melalui Lumbini, tempat kelahiran Siddhartha Gautama. Setelah itu rencananya langsung melanjutkan perjalanan menuju Kathmandu.

Entah akan berjalan sesuai rencana atau tidak, aku sudah tidak berani terlalu yakin. Dijalani saja!


4.10.2026

Sadar Setiap Hari (SSH) 23 : Kebahagiaan dan Penderitaan Diciptakan oleh Pikiran

Sering kali manusia percaya bahwa sumber kebahagiaan dan penderitaan berasal dari luar dirinya. Dari keadaan, dari orang lain, dari situasi yang tidak berjalan sesuai harapan, atau justru dari pencapaian yang dianggap membawa rasa puas. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa jika kondisi eksternal membaik, maka batin juga akan ikut membaik. Sebaliknya, ketika keadaan memburuk, kita merasa wajar jika hati ikut jatuh dan pikiran ikut kacau. Namun, jika ditelusuri lebih dalam melalui sudut pandang Buddha Dhamma, asumsi ini perlahan runtuh. Yang menentukan kualitas pengalaman hidup bukanlah apa yang terjadi di luar, melainkan bagaimana pikiran memaknai dan meresponsnya.

Dalam ajaran , dijelaskan bahwa pikiran adalah pelopor dari segala kondisi batin. Segala pengalaman—baik yang terasa menyenangkan maupun yang terasa menyakitkan—berawal dari proses mental. Pikiran memberi label, membentuk persepsi, lalu melahirkan reaksi emosional. Tanpa proses ini, suatu kejadian hanyalah kejadian. Ia tidak membawa penderitaan, juga tidak membawa kebahagiaan. Makna yang kita tempelkanlah yang mengubahnya menjadi sesuatu yang terasa berat atau ringan.

Penderitaan dalam Buddha Dhamma dikenal dengan istilah dukkha. Dukkha bukan hanya tentang rasa sakit yang nyata, tetapi juga ketidakpuasan halus yang sering tidak disadari. Akar dari dukkha ini bukan terletak pada dunia luar, melainkan pada tiga hal utama dalam batin manusia: keinginan yang melekat, penolakan terhadap kenyataan, dan ketidaktahuan akan sifat sejati kehidupan. Ketika seseorang menginginkan sesuatu terjadi sesuai harapannya, namun kenyataan tidak mengikuti, maka muncullah ketegangan. Ketika seseorang menolak keadaan yang tidak disukai, tetapi tidak bisa menghindarinya, maka muncullah konflik batin. Dan ketika seseorang tidak memahami bahwa segala sesuatu bersifat berubah, maka ia akan terus-menerus berharap pada sesuatu yang tidak pernah stabil.

Dari sini terlihat bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang “diberikan” oleh dunia, melainkan sesuatu yang “dibentuk” oleh pikiran. Dua orang dapat menghadapi situasi yang sama, tetapi mengalami perasaan yang sangat berbeda. Hal ini terjadi karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda. Pikiran yang penuh keterikatan akan cenderung memperbesar masalah, sedangkan pikiran yang lebih jernih dan terbuka akan mampu melihat keadaan dengan lebih seimbang.

Sebaliknya, kebahagiaan juga tidak berasal dari luar. Banyak orang menganggap bahwa kebahagiaan adalah hasil dari terpenuhinya keinginan. Namun dalam praktiknya, pemenuhan keinginan hanya memberikan kepuasan sementara. Setelah satu keinginan terpenuhi, akan muncul keinginan berikutnya. Siklus ini terus berulang tanpa akhir. Oleh karena itu, kebahagiaan yang bergantung pada kondisi eksternal cenderung tidak stabil. Ia mudah muncul, tetapi juga mudah hilang.

Buddha Dhamma menawarkan sudut pandang yang berbeda: kebahagiaan sejati bukanlah hasil dari mendapatkan apa yang diinginkan, melainkan dari berkurangnya keterikatan terhadap keinginan itu sendiri. Ketika pikiran tidak lagi terus-menerus menuntut, membandingkan, atau menolak, maka muncul ruang untuk ketenangan. Dalam kondisi ini, kebahagiaan tidak lagi bergantung pada apa yang terjadi, tetapi muncul dari cara batin berada dalam setiap keadaan.

Hal ini tidak berarti bahwa dunia luar tidak memiliki pengaruh sama sekali. Keadaan tetap dapat menjadi pemicu munculnya reaksi batin. Namun, pemicu bukanlah penyebab utama. Penyebab utamanya tetap berada di dalam, yaitu bagaimana pikiran menanggapi pemicu tersebut. Dengan kata lain, dunia luar mungkin menghadirkan kondisi, tetapi pikiranlah yang menentukan apakah kondisi itu menjadi sumber penderitaan atau tidak.

Pemahaman ini membawa konsekuensi yang cukup mendalam. Jika penderitaan dan kebahagiaan berakar pada pikiran, maka keduanya bukan sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali. Artinya, manusia memiliki kemungkinan untuk melatih batinnya agar tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan. Dalam Buddha Dhamma, latihan ini dikenal melalui praktik seperti kesadaran penuh (mindfulness), konsentrasi, dan pengembangan kebijaksanaan.

Melalui kesadaran, seseorang belajar untuk mengenali apa yang sedang terjadi di dalam pikirannya tanpa langsung bereaksi. Ia mulai melihat bahwa pikiran hanyalah fenomena yang muncul dan berlalu, bukan sesuatu yang harus selalu diikuti. Dengan konsentrasi, pikiran menjadi lebih stabil dan tidak mudah terseret oleh arus emosi. Dengan kebijaksanaan, seseorang mulai memahami sifat dasar kehidupan—bahwa segala sesuatu tidak kekal (anicca), tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, dan tidak layak untuk digenggam secara berlebihan.

Ketika pemahaman ini semakin dalam, perlahan muncul perubahan dalam cara mengalami hidup. Keadaan yang sebelumnya memicu reaksi berlebihan mulai terasa lebih netral. Keinginan yang dulu terasa mendesak mulai melemah. Penolakan yang sebelumnya kuat mulai melunak. Bukan karena dunia berubah, tetapi karena cara melihat dunia berubah.

Pada akhirnya, ajaran ini mengarah pada satu kesimpulan yang sederhana namun radikal: tidak ada yang benar-benar bisa membuat seseorang menderita selain pikirannya sendiri, dan tidak ada yang benar-benar bisa membuat seseorang bahagia selain pikirannya sendiri. 

Dimanapun seseorang berada, dalam kondisi apapun ia hidup, kualitas batinnya tetap ditentukan dari dalam.

Pemahaman ini bukan sekadar konsep filosofis, melainkan sesuatu yang dapat diamati langsung dalam kehidupan sehari-hari. Setiap reaksi, setiap emosi, setiap pengalaman batin selalu memiliki jejak pikiran di baliknya. Dengan menyadari hal ini, seseorang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dunia luar untuk merasa baik-baik saja. Ia mulai menemukan bahwa sumber ketenangan sebenarnya selalu ada di dalam dirinya sendiri.

2.26.2026

Boyolali, 25 Februari 2026 : "Langkah Pelan"

Langkah Pelan..

Sudah tahun 2026 ya... Dengan pekerjaanku sebagai seorang konsultan freelance yang bertugas menyusun dokumen dengan tebal ratusan halaman, berarti...sudah hampir sepuluh tahun aku hidup dalam ritme kerja yang cepat. Deadline datang seperti gelombang yang tidak pernah benar-benar surut. Satu selesai, satu lagi muncul. Ada target, ada ekspektasi, ada revisi, ada keputusan yang harus diambil dalam waktu singkat. Dalam prosesnya, aku belajar banyak hal. Aku belajar tangguh. Aku belajar menyelesaikan masalah. Aku belajar berdiri tegak ketika ekspektasi tidak terpenuhi, ketika rasa tidak puas muncul, ketika ada amarah yang harus ditelan, ketika merasa tidak diperlakukan adil tapi tetap harus profesional.

Semua itu membentukku....

Tapi diam-diam, intensitas itu juga mengikis sesuatu yang lebih halus: ketenanganku.

Dengan deadline bertumpuk, aku terbiasa hidup dalam mode siaga. Bahkan ketika hari terlihat biasa saja, pikiranku jarang benar-benar istirahat. Ada saja yang dipikirkan. Ada saja yang direncanakan. Ada saja yang harus dikuatirkan. Produktif, iya. Bertumbuh, iya. Overthingking? Pasti iya. Tapi stabil? Belum tentu.

Di satu titik, aku mulai bertanya pada diriku sendiri dengan jujur: kapan terakhir kali aku hidup tanpa tekanan konstan? Tanpa merasa dikejar waktu? Tanpa harus membuktikan sesuatu?

Dari pertanyaan itu lahir sebuah rencana yang sangat sederhana, hampir terasa sepele: tinggal di kota asing selama dua minggu atau satu bulan. Tidak secara khusus untuk jalan-jalan. Tidak untuk memperluas jaringan. Tidak untuk mengejar ambisi berikutnya. Hanya untuk hidup pelan..

Hidup pelan bagaimana? Maksudku..Contohnya seperti ini..Bangun pagi tanpa alarm yang bernada mendesak. Jalan kaki menyusuri jalan yang belum pernah kulalui. Sarapan sederhana yang sehat tanpa memikirkan setelah ini harus buka laptop. Pergi ke gym bukan untuk membentuk tubuh secara agresif, tapi untuk menggerakkan badan dengan tenang. Duduk di cafe beberapa jam hanya untuk membaca atau menulis tanpa target. Menonton film di malam hari tanpa merasa bersalah karena “harusnya” sedang produktif.

Aku menyebut rencana ini sebagai "langkah pelan".

Kenapa kota asing? Karena aku ingin ruang yang netral. Ruang yang tidak menyimpan memori tentang diriku sebagai pekerja yang harus cepat, harus kuat, harus bisa. Di kota yang tidak mengenalku, aku hanya seseorang yang sedang berjalan. Tidak ada reputasi. Tidak ada cerita lama. Tidak ada ekspektasi yang menggantung di udara.

Kupang muncul pertama kali dalam pikiranku. Bukan semata karena jauh. Bukan hanya karena lautnya luas dan langitnya terang. Kupang muncul karena aku punya memori masa lalu dengan kota itu yang cukup melekat. Ada bagian dari hidupku yang pernah beririsan dengannya. Ada jejak perasaan yang tertinggal di sana. Entah kenapa aku senang mengingat diriku dahulu sewaktu disini. Mungkin itulah sebabnya namanya muncul lebih dulu dibanding kota lain. Seolah-olah ada sesuatu yang belum selesai, atau mungkin justru sesuatu yang ingin kuingat kembali dengan versi diriku yang sekarang.

Setelah Kupang, pikiranku melayang ke langkah pelan di Labuan Bajo dengan bukit-bukitnya yang menghadap laut dan senja yang terkenal indah. Ke Ambon yang terasa lebih dalam, lebih hening, dengan energi timur yang khas. Ke Manado dengan lautnya yang biru jernih dan ritme kota yang tidak terlalu tergesa. Ke Bali bagian timur, yang lebih sepi dibanding pusat keramaian, dengan pantai-pantai yang tenang dan desa-desa yang masih sederhana. Ke Muntilan di sekitar Candi Borobudur yang dikelilingi Perbukitan Menoreh..Kota-kota itu seperti titik-titik di peta yang memanggil dengan cara yang berbeda, tapi menawarkan hal yang sama: ruang untuk melambat. 

Dan kalau langkah pelan itu ingin kucoba di luar negeri, ada dua kota yang langsung muncul di kepalaku: Danang dan Hoi An, Vietnam. Aku pernah ke sana, dan entah kenapa, dua kota itu meninggalkan rasa yang lembut di dalam ingatanku. Danang dengan pantainya yang panjang dan bersih, tempat orang-orang berjalan santai di pagi hari tanpa tergesa. Kota itu terasa modern tapi tidak berisik. Lautnya luas, jalannya rapi, dan ada ketenangan yang aneh ketika melihat ombak datang dan pergi. Oh.. bahkan aku selalu berjanji ke diriku akan kembali lagi ke kota ini untuk sekedar bersantai..

Lalu Hoi An. Kota kecil dengan sungai Thu Bồn yang mengalir pelan, lampion-lampion yang menyala hangat di malam hari, dan kehidupan yang terasa sederhana. Aku suka berjalan di tepi sungainya, melihat perahu lewat tanpa perlu ke mana-mana. Hoi An tidak membuatku merasa harus menjadi apa-apa. Ia hanya membiarkanku ada. Dan mungkin itu yang membuatku sangat menyukainya.

Ada satu kota lagi yang selalu terasa nyaman setiap kali kuingat: Istanbul. Kota yang berdiri di antara dua benua itu entah bagaimana selalu terasa pas. Suhu udaranya sering kali tepat—tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin. Langitnya luas, dan aku suka melihat burung-burung pencari ikan terbang rendah di atas air, terutama di sekitar selat dan pelabuhan. Ada ritme yang hidup di sana, tapi tidak menekan. Orang-orang berjalan, kapal berlalu-lalang, burung berputar di udara—semuanya bergerak, tapi tetap terasa tenang. Istanbul membuat siapa pun merasa bisa duduk diam dan hanya mengamati.

Aku bukan berniat traveling dengan itinerary padat. Tidak harus mengejar spot-spot populer. Justru aku ingin hari-hariku biasa saja. Pagi, siang, sore, malam. Rutinitas sederhana yang berulang. Jalan yang sama mungkin kulewati beberapa kali. Cafe yang sama mungkin kukunjungi lagi dan lagi. Karena tujuannya bukan eksplorasi luar, tapi penataan dalam.

Sebenarnya, kota hanyalah latar. Yang benar-benar ingin kuubah adalah tempo hidupku...

Selama ini aku hidup dalam kecepatan. Cepat berpikir, cepat merespons, cepat mengambil keputusan. Kecepatan itu membuatku efisien dan adaptif, tapi juga membuatku jarang benar-benar diam. Aku ingin tahu seperti apa rasanya hidup dengan ritme yang tidak selalu menuntut percepatan. Aku ingin tahu apakah aku bisa merasa cukup tanpa harus selalu mengejar capaian berikutnya.

Langkah pelan bukan bentuk menyerah pada ambisi. Aku tetap mencintai pekerjaanku. Aku tetap menghargai proses yang telah membawaku sampai di titik ini. Tapi mungkin setelah hampir sepuluh tahun berlari, tubuh dan batinku butuh fase berjalan. Bukan berhenti total, bukan menghilang, tapi memberi ruang untuk bernapas lebih panjang.

Mungkin di hari-hari awal aku akan merasa canggung. Ada kemungkinan aku gelisah karena tidak sedang mengejar apa-apa. Bisa jadi ada rasa kosong yang muncul ketika intensitas harian tiba-tiba turun. Tapi mungkin justru di situlah prosesnya. Belajar duduk dengan diri sendiri tanpa distraksi. Belajar menerima bahwa hidup tidak selalu harus dipacu.

Aku tidak sedang mencari kehidupan baru. Aku hanya ingin merasakan versi hidup yang lebih seimbang. Jika setelah dua minggu atau satu bulan aku kembali dengan tidur yang lebih teratur, pikiran yang lebih jernih, dan hati yang lebih ringan, itu sudah cukup. Tidak perlu perubahan dramatis. Tidak perlu deklarasi besar.

Dan jika rencana ini benar-benar terwujud, aku ingin menjadikannya seri tulisan di blog ini. Mungkin per hari. Akan kuceritakan detail aktivitasku. Pagi ke mana, jalan berapa lama, rutenya kemana, gym apa saja yang kulakukan, cafe mana yang kudatangi, aku makan apa, apa yang kurasakan saat duduk sendirian tanpa membuka laptop kerja. Bukan untuk pamer produktivitas versi baru. Bukan untuk membuktikan bahwa aku berhasil “healing”.

Tapi untuk diriku sendiri.

Sebagai catatan jujur. Sebagai review apakah aku benar-benar melakukannya. Apakah aku benar-benar bangun tanpa tergesa. Apakah aku benar-benar bisa duduk tanpa merasa bersalah. Tentu saja tidak harus sempurna. Bisa saja ada hari ketika aku tetap membuka email. Bisa saja ada sore ketika pikiranku kembali sibuk. Tidak apa-apa. Justru di situlah realitanya.

Langkah pelan bukan proyek kesempurnaan. Ia hanya percobaan kecil untuk hidup dengan tempo yang lebih manusiawi.

2.03.2026

[Part 8] Cam on Vietnam : Hoi An, Pagi Terakhir dan Cerita Tentang Manusia

 Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


“Kring kring kring…”

Pukul enam pagi, alarm di HP-ku berbunyi nyaring. Terlalu nyaring, bahkan. Aku tersentak bangun, mata refleks terbuka, lalu langsung menatap langit-langit kamar dengan satu pikiran pertama yang muncul di kepala:

'Aduhh… masih ngantuk banget.'

Badanku masih berat, sisa lelah kemarin belum sepenuhnya pergi. Tapi di detik berikutnya, aku ingat janjiku sendiri semalam. Janji yang kubuat setelah menghabiskan malam dengan berjalan kaki menyusuri kota tua Hoi An yang cantik itu. Kemarin aku sudah mengambil waktu kerja untuk eksplor seharian. Artinya, pagi ini tidak ada tawar-menawar lagi. Hari ini aku harus bangun lebih pagi dan kerja. Aku melirik jam di layar HP. Aku punya waktu sampai sekitar jam dua belas siang sebelum harus check out dan kembali ke Kota Danang. Beberapa jam saja. Tidak banyak. Tapi aku bertekad harus semaksimal mungkin nyicil dokumen.

Aku duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang, lalu memaksakan diri berdiri. Laptop menunggu. File-file kerjaan juga. Aku bertekad memanfaatkan waktu pagi ini sebaik-baiknya. Buat konteks, aku ini freelancer. Pekerjaanku menyusun dokumen dengan tebal ratusan halaman—dokumen yang isinya jauh dari kata santai. Teknis, detail, dan penuh tenggat waktu. 

Mungkin ada yang akan berpikir, “Enak ya, bisa kerja fleksibel sambil traveling.”

Well… kenyataannya tidak seindah itu, kawan. Aku tidak bisa benar-benar 100% melepas pikiranku untuk traveling. Selalu ada sebagian otak yang tetap sibuk memikirkan deadline, revisi, dan klien yang menunggu. Apalagi aku traveling di bulan Februari—bukan musim libur panjang seperti Idul Fitri, bukan masa di mana dunia ikut berhenti sejenak.

Jadi ya… beginilah akhirnya.

Aku tetap traveling. Tapi tetap harus dengan kerja. Aku tetap jalan-jalan. Tapi sambil mikir tanggung jawab. Aku harus ekstra membagi waktu—antara menikmati tempat baru dan menepati janji pada diri sendiri serta orang lain.

Aku menggosok gigi, cuci muka, lalu minum air putih banyak-banyak. Biasanya itu akan membuat mataku langsung melek. Setelah itu aku membuat secangkir teh panas—sederhana, tapi memberi sinyal ke otakku: oke, kita mulai hari ini.

Laptop kubuka. File-file kerjaan bermunculan di layar. Aku memulai dengan bagian yang paling “aman”: membuat peta-peta untuk pelengkap data. Fokus ke teknis dulu. Koordinat, layout, penyesuaian tampilan. Pekerjaan yang tidak terlalu menuntut emosi, tapi butuh ketelitian. Jari-jariku mulai terbiasa lagi dengan ritme kerja. Teh panas perlahan mendingin di samping laptop.

Sekitar satu jam kemudian, setelah peta-peta selesai, aku mulai masuk ke badan dokumen. Mengedit isi. Merapikan kalimat. Menyesuaikan data. Ini bagian yang lebih berat, tapi juga lebih “masuk”. Aku benar-benar fokus. Serius kerja.
Suasana di luar kamar masih tenang. Jalanan belum ramai. Hanya sesekali terdengar motor lewat, suara pintu dibuka, atau langkah kaki pelan. Kota masih bangun perlahan. Dan jujur saja, suasana seperti ini justru ideal buat kerja. Tidak berisik, tidak terganggu, tidak bikin pikiran lompat ke mana-mana.

Tanpa sadar, waktu berjalan cukup cepat.
Sekitar setengah delapan pagi, perutku mulai protes. Lapar. Aku berhenti sebentar, menutup laptop, lalu teringat sesuatu. Semalam, ibu pemilik penginapan sempat bilang kalau mereka juga menjual makanan.

Aku.segera  turun ke bawah, masih dengan rambut seadanya dan kaos santai. Aku pesan pie dan es kopi Vietnam. Tidak pakai lama. Dan… begitu minuman itu sampai, aku langsung paham kenapa banyak orang tergila-gila sama kopi Vietnam.

Es kopi Vietnam-nya juara.

Manisnya pas, kopinya kuat, dinginnya nyegerin. Serius, ini tipe minuman yang bisa bikin orang lupa kalau dia sebenarnya lagi kerja. Harganya? Sekitar 50 ribu rupiah—atau kalau dikonversi, mungkin 35 ribuan. Tidak murah-murah amat, tapi sepadan. Pie-nya juga enak. Hangat, mengenyangkan, dan jadi teman sarapan yang tepat.

Setelah sarapan, aku kembali ke kamar. Laptop dibuka lagi. Kopi jadi teman setia. Aku lanjut kerja dengan fokus yang sama. Kali ini rasanya lebih ringan. Mungkin karena perut sudah terisi. Mungkin juga karena kopi itu benar-benar membantu.
Aku terus bekerja sampai sekitar jam sepuluh pagi. Baru setelah itu aku berhenti sebentar. Menarik napas. Meregangkan badan. Memberi diri sendiri jeda kecil.

Sambil rebahan di kasur, aku membuka Google Maps. Aku lagi-lagi menyusuri Kota Hoi An lewat peta. Entahlah… rasanya aku benar-benar jatuh cinta dengan kota kecil di Vietnam tengah ini. Ada rasa nyaman yang susah dijelaskan. Dan pagi itu, perasaan lain ikut menyelinap pelan-pelan: sedih. Jam dua belas nanti, aku akan meninggalkan kota ini.

“Mana lagi ya yang bisa kukunjungi… sebagai perpisahan?” gumamku sambil menggulir Google Maps tanpa tujuan yang jelas.

Rasanya benar-benar belum rela. Belum siap bilang cukup pada kota yang ritmenya pelan, hangat, dan terasa ramah sejak hari pertama. Lalu, di antara deretan pin dan rekomendasi, mataku berhenti di satu tempat.

Sebuah galeri seni. Milik seorang fotografer Prancis bernama Rehahn.

Galeri ini dikenal dengan nama Precious Heritage Art Gallery Museum. Begitu aku membaca deskripsinya, aku langsung tertarik. Isinya bukan sekadar foto-foto cantik untuk dipajang, tapi dokumentasi perjalanan panjang Rehahn menjelajahi Vietnam—memotret wajah-wajah dari berbagai suku dan etnis minoritas, banyak di antaranya hidup jauh dari hiruk-pikuk kota. Di dalam galeri, pengunjung diajak masuk ke dunia yang tenang dan penuh makna. Foto-foto berukuran besar dipajang rapi di dinding—wajah-wajah penuh keriput, mata yang dalam, senyum yang tidak dibuat-buat. Banyak potret lansia dari komunitas etnis terpencil, mengenakan pakaian tradisional yang detailnya luar biasa rumit. 

'Waahh.. cocok ni,' kataku dalam hati. Selain alam, aku memang menyukai tujuan yang memperkenalkan budaya negara yang kukunjungi.

"Tapi lebih baik kita kesana dulu sebelum check out, supaya ga ribet perihal tas," kata travelmate.

"Iya juga sih. Kecil kok tempatnya, ga terlalu jauh juga dari ini. Kalau kita berangkat sekarang keknya masih sempat," kataku.

Kami langsung mandi dan bersiap-siap. Kebetulan semua barang sudah kami packing sejak semalam jadi pagi itu bisa langsung sat set.

Kami akhirnya memacu motor sejauh kurang lebih 4 km menuju galeri seni itu. Pagi yang cerah, angin tipis, jalanan Hoi An yang… entahlah, selalu berhasil bikin hatiku lembut. Kota ini memang kecil, tapi cara dia menyapa itu halus dan konsisten. Rumah-rumah rendah, tembok kuning, pohon-pohon besar yang sesekali memayungi jalan—semuanya terasa akrab meski aku baru beberapa hari di sini. Aku tersenyum sendiri di atas motor, menikmati setiap sudut pandang yang lewat. Ada sedikit rasa sedih yang mulai mengendap di belakang kepala: sebentar lagi aku akan pergi dari kota ini.

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya kami tiba di depan bangunan galeri.
Dari luar, galeri seni Precious Heritage ini menempati sebuah rumah tua bergaya kolonial Perancis—dua lantai, memanjang, dengan dinding pucat yang mulai termakan usia. Di depan, ada papan nama bertuliskan kurang lebih “Precious Heritage by Réhahn”, sederhana tapi elegan. Pintu kayunya terbuka lebar, seolah mengundang siapa pun untuk masuk. Tidak ada gerbang besar, tidak ada kesan eksklusif; justru kebalikannya, tempat ini terasa sangat ramah dan “boleh masuk kapan saja”.

Begitu melangkah melewati ambang pintu, suasananya langsung berubah.
Dari pintu masuk, aku melihat ruang panjang dengan dinding kiri-kanan yang penuh oleh foto-foto berukuran besar. Inilah Fine Art Room, ruang pertama dari galeri/museum ini. 

Foto-fotonya bukan sekadar “indah”, tapi kuat. Banyak potret close-up wajah orang-orang Vietnam—terutama dari etnis minoritas—dengan pakaian tradisional mereka yang warna-warni. Ada nenek dengan kulit keriput dan mata tajam, ada anak kecil dengan senyum malu-malu, ada pria dewasa dengan tatapan dalam seperti menyimpan cerita yang panjang.

Cahaya di ruangan itu lembut, tidak terlalu terang, sehingga warna-warna di foto dan kain-kain tradisional terlihat kaya tapi tetap menenangkan. Di beberapa sudut ada bangku kecil, seolah galeri ini tahu bahwa pengunjung butuh waktu untuk duduk dan benar-benar memandang, bukan cuma lewat dan foto-foto.

Di dekat beberapa foto, ada teks penjelasan—dalam Bahasa Inggris dan kadang Perancis—yang menceritakan siapa orang di dalam foto itu, dari suku apa, tinggal di daerah mana, dan bagaimana pertemuan itu terjadi. Di sinilah pelan-pelan aku mulai paham apa yang dilakukan oleh Réhahn selama bertahun-tahun.

Dia bukan sekadar fotografer yang datang, memotret, lalu pergi.
Selama lebih dari satu dekade, dia melakukan proyek bernama Precious Heritage Project: berkeliling ke seluruh penjuru Vietnam—utara, tengah, selatan—untuk mencari, menemui, dan mendokumentasikan semua 54 kelompok etnis resmi di Vietnam.Yang dia lakukan bukan cuma memotret wajah mereka, tapi juga:
Mengambil potret formal orang-orang dari tiap etnis dengan pakaian tradisional mereka yang asli. Mengumpulkan pakaian adat, artefak, dan benda-benda tradisional yang kadang sudah jarang digunakan di kehidupan sehari-hari.
Merekam cerita dan sejarah kecil dari tiap pertemuan—bagaimana dia sampai di desa itu, siapa yang ia temui, dan bagaimana pakaian itu diberikan padanya.
Hasil dari semua perjalanan dan “berburu jejak budaya” itu kini ditumpahkan ke dalam galeri ini.

Begitu melangkah lebih dalam dari pintu masuk, aku melihat bahwa ruang ini tidak hanya memamerkan foto; di beberapa sisi, tergantung busana tradisional lengkap, dengan detail tenunan, bordir, dan warna yang luar biasa rumit. Di lantai lain (atau ruang-ruang selanjutnya), koleksi ini berkembang menjadi semacam museum etnografi mini: lebih dari 60 kostum tradisional dari berbagai etnis, lengkap dengan penjelasan darimana asalnya, bagaimana cara pembuatannya, dan apa makna motifnya.

Ada satu bagian yang menampilkan deretan pakaian adat yang kini nyaris tidak dipakai lagi di kehidupan sehari-hari. Beberapa kostum bahkan katanya sudah sangat langka, diserahkan langsung oleh tetua adat sebagai bentuk kepercayaan bahwa pakaian itu akan “disimpan baik-baik di Hoi An,” bukan sekadar jadi koleksi pribadi.

Jadi, kalau dirangkum, apa yang dilakukan Réhahn?

Kurang lebih:

Ia menghabiskan bertahun-tahun menjelajah desa-desa etnis di seluruh Vietnam, bertemu langsung dengan komunitas-komunitas yang sering kali terpinggirkan atau jarang tersentuh wisata.

Ia mendokumentasikan mereka lewat fotografi—bukan gaya turis, tapi gaya cerita: potret yang menunjukkan martabat, karakter, dan keindahan manusia yang apa adanya.

Ia mengumpulkan pakaian adat, artefak, dan cerita, yang kemudian ia pajang kembali di galeri ini supaya orang-orang kota, turis, dan siapa pun yang lewat bisa melihat kekayaan budaya Vietnam yang sesungguhnya.

Ia membiayai sendiri museum ini dan membukanya gratis untuk umum, sebagai bentuk “balas budi” kepada komunitas-komunitas yang telah mengizinkannya memotret dan menyimpan cerita mereka.

Dan apa hasilnya?

Buatku sebagai pengunjung, hasilnya adalah:
Sebuah ruang sunyi tapi sangat kuat di tengah kota wisata yang penuh lampion dan keramaian. Ratusan potret yang membuatku merasa seperti sedang menatap wajah Vietnam yang jauh lebih luas daripada Hoi An, Danang, atau Hanoi. Puluhan kostum tradisional yang membuatku sadar bahwa satu negara bisa berisi begitu banyak identitas, motif, dan cara hidup yang berbeda—dan semuanya berharga.

Dari pintu masuk saja, aku sudah merasa seperti diajak masuk ke perjalanan panjang yang bukan milikku, tapi entah kenapa ikut menyentuhku. Rasanya seperti Rehahn berkata, lewat dinding-dinding ini:

“Ini Vietnam yang mungkin tidak sempat kamu datangi satu per satu. Tapi setidaknya, kamu bisa bertemu mereka di sini.”

Kami kembali melewati jalanan pesisir yang sama seperti kemarin. Laut di sisi kiri masih berkilau, tapi kali ini suasananya terasa berbeda. Matahari siang Da Nang sudah benar-benar terik, tanpa kompromi. Panas yang bukan lagi hangat untuk dinikmati, tapi panas yang bikin ingin cepat sampai tujuan.

Sekitar pukul satu siang lebih sedikit, kami akhirnya masuk ke area kota. Gedung-gedung mulai rapat, lalu lintas makin padat, dan suasana santai ala Hoi An perlahan tergantikan oleh ritme kota besar. Karena waktu check-in masih nanti—baru bisa jam dua siang—kami memutuskan cari makan siang dulu. Perut sudah protes sejak di jalan.

Awalnya kami kepikiran satu warung langganan. Warung Bu Surti?

Hmm… ya sudah bisa ditebak. Datang kesiangan, makanan sudah habis, warung tutup. Hehe. Sepertinya itu hukum alam yang konsisten di mana-mana.
Akhirnya kami muter-muter lagi, menyusuri beberapa ruas jalan sampai menemukan satu warung yang kelihatannya cukup meyakinkan. Tidak terlalu sepi, tidak terlalu ramai. Ada motor parkir di depan, ada orang lokal makan siang. Oke, ini biasanya tanda aman.


Begitu duduk dan melihat menu…Oh no. Semua tulisannya bahasa Vietnam. Penuh tanda aksen. Tidak ada foto. Tidak ada bahasa Inggris. Aku refleks buka Google Maps buat lihat menu yang biasa direview orang, tapi hasil terjemahannya… kacau. Benar-benar tidak membantu.

Aku cuma tahu satu kata: banh mi. Tapi jujur saja, aku lagi nggak pengen roti. Lagi pengen makan mie. Atau nasi. Atau apa pun yang hangat dan mengenyangkan—asal bukan roti isi daging sapi. Masalahnya, pegawainya juga tidak bisa bahasa Inggris. Kami saling pandang sebentar. Lalu aku ambil keputusan paling sederhana. Aku menunjuk menu, tersenyum, dan bilang,

“Moooo.”

Iya. Moo. Bahasa internasional sapi. Wkwk.

Dan… dia paham. Wkwkwk..

Beberapa menit kemudian, makanan datang. Semangkuk mie. Dengan irisan daging sapi di atasnya. Wkwk. Ternyata berhasil juga. Aku ketawa kecil sambil mulai makan. Rasanya enak. Hangat. Gurih. Harganya juga standar dan porsinya cukup mengenyangkan.

Selesai makan siang, kami langsung lanjut motoran ke arah penginapan. Matahari Da Nang siang itu benar-benar menyengat, bikin ingin cepat sampai kamar dan rebahan di bawah AC. Jalanan makin padat, gedung-gedung makin tinggi, ritme kota terasa lebih cepat dibanding Hoi An yang santai dan lembut. Rasanya seperti pindah dimensi dalam waktu satu jam saja.

Kali ini aku booking hotel yang jaraknya cuma sekitar 100 meter dari pantai. Tarifnya 110 ribu per malam. Jujur, dengan harga segitu aku nggak pasang ekspektasi apa-apa. Yang penting bersih, ada kasur, ada kamar mandi, dan bisa kerja dengan tenang. Begitu sampai, kami langsung check-in dan naik ke lantai 7. Lumayan tinggi juga untuk hotel dengan harga segitu, pikirku sambil menunggu lift.

Begitu pintu kamar dibuka, aku agak kaget dalam arti positif. Kamarnya simpel tapi rapi. Dominan putih dan kayu, kasur besar dengan dua bantal, dinding samping motif marmer tipis, tirai coklat tebal menutup jendela. Lantainya bersih dengan meja kecil di samping tempat tidur. Untuk harga 110 ribu? Ini termasuk sangat layak. Aku langsung merasa lega. Setidaknya malam ini bisa istirahat dengan nyaman.

Sore menjelang malam kami tidak keluar lagi. Badan sudah cukup lelah setelah perjalanan dari Hoi An dan kunjungan galeri tadi pagi. Rasanya lebih bijak untuk stay di kamar saja. Aku buka aplikasi Grab dan pesan makan malam. Tidak lama kemudian, makanan datang dalam kotak styrofoam sederhana. Isinya nasi, ayam goreng kecokelatan yang aromanya menggoda, irisan timun, sedikit acar, sambal merah, dan kuah dalam plastik kecil. Ada juga cabai utuh yang kelihatan galak tapi menggoda.

Setelah makan, aku tahu ritual selanjutnya tidak bisa dihindari. Laptop dibuka lagi. File dokumen kembali memenuhi layar. Peta, tabel, paragraf panjang, revisi, catatan kecil yang harus dibereskan. Di luar sana mungkin ombak Da Nang masih bergerak pelan, cuma seratus meter dari tempatku tidur. Tapi malam itu aku tidak ke pantai. Aku memilih duduk di kasur, bersandar ke headboard, dan mengetik.

Ada sesuatu yang aneh tapi juga indah dari hidup seperti ini. Siangnya melihat wajah-wajah etnis minoritas Vietnam dalam galeri seni yang sunyi dan penuh makna. Sorenya motoran menyusuri pesisir dengan angin panas menerpa wajah. Malamnya makan ayam goreng di kamar hotel murah. Lalu tengah malam, menyusun dokumen ratusan halaman dengan fokus penuh. Traveling dan tanggung jawab berjalan berdampingan, tidak pernah benar-benar terpisah.

Jam terus berjalan tanpa terasa. Suara AC konstan, sesekali terdengar kendaraan dari jauh. Sekitar pukul dua belas malam, akhirnya aku menutup laptop. Mata sudah berat, badan mulai pegal. Aku merebahkan diri di kasur putih itu, menarik selimut tipis, dan mematikan lampu. Tirai masih tertutup rapat, tapi aku tahu di baliknya ada laut yang tadi siang berkilau di bawah matahari.

Malam itu aku tidur dengan perasaan campur aduk—sedikit lelah, sedikit puas, sedikit rindu Hoi An yang baru saja kutinggalkan. Tapi juga tenang. Karena meskipun tidak bisa 100% lepas dari kerja, setidaknya aku masih bisa berjalan, melihat, dan merasakan tempat baru dengan caraku sendiri.

Besok perjalanan lanjut lagi. Dan seperti biasa, aku akan kembali belajar menyeimbangkan dua dunia itu. Dunia eksplorasi dan dunia tanggung jawab.