Manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk melekat. Kita melekat pada manusia, hubungan, benda, pencapaian, pengalaman, harapan, bahkan pada gambaran mengenai bagaimana kehidupan seharusnya berjalan. Ketika menemukan sesuatu yang menyenangkan, kita ingin mempertahankannya. Ketika menginginkan sesuatu, kita berusaha mendapatkannya. Ketika telah mendapatkannya, kita takut kehilangannya. Dan ketika kenyataan tidak berjalan sebagaimana yang kita harapkan, pikiran sering kali sulit menerima.
Dalam psikologi, kecenderungan ini sangat manusiawi. Otak terus belajar mengenali apa yang memberikan rasa aman, senang, dihargai, dicintai, atau menjanjikan kesenangan. Sistem penghargaan otak ikut membentuk motivasi kita untuk mendekati sesuatu yang dianggap bernilai. Karena itulah manusia tidak hanya menikmati sesuatu ketika mendapatkannya, tetapi juga dapat memperoleh dorongan yang kuat dari antisipasi akan mendapatkannya.
Kita membayangkan betapa bahagianya jika suatu hari seseorang memilih kita, jika penghasilan mencapai angka tertentu, jika memiliki sesuatu yang sejak lama diinginkan, jika berhasil mencapai sebuah posisi, atau jika kehidupan akhirnya berjalan sebagaimana yang kita bayangkan.
Kemampuan untuk berharap tentu bukan sesuatu yang buruk. Tanpa keinginan dan tujuan, mungkin manusia tidak akan membangun, belajar, menciptakan, atau memperbaiki kehidupannya. Masalah muncul ketika keinginan perlahan berubah menjadi ketergantungan batin yaitu aku harus mendapatkannya agar bisa bahagia.
Di sinilah psikologi bertemu dengan salah satu gagasan penting dalam Dhamma.
Dalam ajaran Buddha dikenal tanha, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai rasa haus atau dorongan untuk mendapatkan, mempertahankan, menjadi, ataupun menolak sesuatu. Ketika rasa haus tersebut digenggam semakin kuat, muncullah upadana, kemelekatan.
“Aku ingin sesuatu” tidak selalu menjadi masalah.
Tetapi ketika berubah menjadi “Aku harus memilikinya”, hubungan kita dengan keinginan tersebut menjadi berbeda.
“Aku mencintainya” adalah sebuah perasaan.
“Aku tidak akan bisa bahagia kalau dia tidak menjadi milikku” adalah kemelekatan.
“Aku ingin berhasil” adalah sebuah tujuan.
“Hidupku tidak berarti kalau aku gagal mencapai ini” adalah kemelekatan.
Dalam kemelekatan, objek yang kita inginkan perlahan mendapatkan kekuasaan atas keadaan batin kita. Kebahagiaan kita mulai bergantung kepadanya.
Dhamma juga mengajarkan anicca, bahwa segala sesuatu yang berkondisi mengalami perubahan. Tubuh berubah, perasaan berubah, hubungan berubah, keadaan berubah, manusia berubah. Bahkan diri kita sendiri terus berubah. Secara intelektual kita mengetahui hal tersebut, tetapi secara emosional kita sering menjalani kehidupan dengan tuntutan yang sebaliknya yaitu sesuatu yang membuatku bahagia jangan berubah, seseorang yang kucintai jangan pergi, keadaan yang kusukai harus tetap seperti ini.
Dari sinilah penderitaan sering bermula. Bukan semata-mata karena kehidupan berubah, tetapi karena pikiran kita menuntut sesuatu yang berubah untuk tidak berubah. Maka melepaskan bukan berarti berhenti mencintai, tidak mempunyai keinginan, atau menjadi manusia yang pasif. Melepaskan adalah berhenti menjadikan sesuatu sebagai syarat mutlak bagi ketenangan kita.
Dan bagian paling menarik dari melepaskan sebenarnya bukan hanya ketika kita akhirnya mampu menerima kehilangan....Bagian paling menarik adalah apa yang terjadi pada diri kita setelah genggaman itu mulai terbuka. Pada awalnya mungkin tidak terasa dramatis. Tidak ada ledakan kebahagiaan. Tidak ada satu pagi ketika kita bangun lalu seluruh beban mendadak hilang.
Kebebasan itu justru sering datang dengan sangat halus..
Suatu hari kita menyadari bahwa kita sudah tidak terlalu sering memikirkannya. Kita tidak lagi mempunyai dorongan sebesar dulu untuk mengetahui kabarnya. Kita tidak lagi menghabiskan malam membayangkan kemungkinan yang sebenarnya kita tahu hampir tidak mungkin terjadi.
Kita tidak lagi terus bertanya, “Bagaimana kalau...?”
Ada sesuatu yang perlahan menjadi lebih tenang.
Kemudian kita mulai menyadari bahwa selama ini kemelekatan bukan hanya mengambil perasaan kita. Ia juga mengambil perhatian, waktu, dan energi mental kita. Obsesi mempunyai harga psikologis. Ketika pikiran terus terikat pada seseorang, suatu keinginan, penyesalan, atau hasil tertentu, sebagian perhatian kita terus kembali ke sana. Kita mengulang percakapan, membayangkan skenario, mencari kemungkinan, menafsirkan tanda-tanda, mengingat masa lalu, atau mencemaskan masa depan. Tubuh kita mungkin sedang berada di tempat lain, tetapi pikiran seperti hidup di sebuah ruangan yang sama berulang kali. Inilah salah satu bentuk penjara yang paling halus. Pintunya sebenarnya tidak selalu terkunci, tetapi pikiran kita terus memilih kembali ke dalamnya.
Ketika akhirnya kita melepaskan, energi itu perlahan kembali. Dan di situlah kemerdekaan mulai terasa...
Bukan kemerdekaan dalam arti kita mendapatkan apa yang selama ini kita inginkan. Justru sebaliknya. Kita mungkin tetap tidak mendapatkannya. Orang yang kita cintai tetap tidak menjadi pasangan kita. Kesempatan yang hilang tetap tidak kembali. Masa lalu tetap tidak dapat diubah.
Tetapi sesuatu yang jauh lebih penting berubah..
hal itu tidak lagi menguasai pikiran kita.
Bayangkan mencintai seseorang yang sebenarnya kita tahu tidak mungkin bersama kita. Selama masih terikat, sebagian kehidupan dapat berhenti di sana. Pikiran terus mempertahankan sebuah kemungkinan. Mungkin suatu hari nanti, mungkin keadaannya berubah, mungkin kalau aku menunggu, mungkin kalau aku melakukan sesuatu.
Harapan membuat kita merasa masih mempunyai hubungan dengan kemungkinan tersebut, tetapi pada saat yang sama ia dapat membuat kita tidak benar-benar bebas bergerak. Melepaskan bukan berarti harus membenci orang tersebut. Bahkan kita mungkin masih mencintainya. Tetapi kita akhirnya dapat berkata:
“Aku mengakui perasaanku kepadamu, tetapi aku tidak lagi menjadikan kemungkinan bersamamu sebagai tempat hidup pikiranku.”
Ada perbedaan besar di sana. Cintanya mungkin belum langsung hilang. Kenangannya juga tidak hilang. Yang hilang perlahan adalah kebutuhan untuk membuat kenyataan berubah. Dan ketika kebutuhan itu berkurang, kita mulai mendapatkan kembali sesuatu yang selama ini tersandera yaitu diri kita sendiri.
Waktu yang dahulu digunakan untuk memikirkan seseorang dapat kembali digunakan untuk membaca, bekerja, belajar, menulis, berolahraga, bepergian, membangun sesuatu, bertemu orang lain, atau sekadar menikmati hari tanpa kepala dipenuhi satu nama yang sama. Masa depan yang dahulu hanya mempunyai satu skenario mulai mempunyai banyak kemungkinan lagi. Kita mulai bertanya bukan lagi, “Bagaimana caranya agar aku mendapatkan dia?”, melainkan:
“Sekarang, apa yang ingin kulakukan dengan hidupku?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi sangat membebaskan. Hal yang sama terjadi ketika kita melepaskan keterikatan terhadap keinginan-keinginan lain. Selama hidup selalu diarahkan kepada “setelah aku mendapatkan ini”, kita sebenarnya terus menunda rasa cukup.
Nanti kalau punya lebih banyak uang.
Nanti kalau bisa pergi ke sana.
Nanti kalau berhasil mencapai ini.
Nanti kalau hidupku sudah seperti itu.
Masalahnya, manusia mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap kesenangan. Dalam psikologi dikenal sebagai hedonic adaptation yaitu sesuatu yang dahulu terasa luar biasa perlahan menjadi keadaan normal setelah cukup lama kita miliki. Setelah itu pikiran mulai menemukan sesuatu yang lain untuk dikejar. Dhamma melihat pola yang mirip melalui tanha. Rasa haus sering kali tidak benar-benar berakhir ketika satu keinginan terpenuhi. Ia hanya berpindah objek.
Karena itu melepaskan bukan berarti kita tidak boleh mempunyai mimpi. Justru setelah memahami sifat keinginan, kita dapat mengejar mimpi dengan cara yang jauh lebih bebas.
Aku ingin mencapainya, tetapi kebahagiaanku tidak sepenuhnya bergantung kepadanya.
Aku akan berusaha, tetapi aku menerima bahwa hasil tidak sepenuhnya berada dalam kendaliku.
Aku akan menikmati ketika mendapatkannya, tetapi aku tidak berharap kesenangan itu akan bertahan selamanya.
Paradoksnya, ketika tidak lagi terlalu menggenggam hasil, kita justru mempunyai lebih banyak energi untuk menjalani prosesnya. Energi yang sebelumnya habis untuk kecemasan dapat digunakan untuk berkarya. Energi yang habis untuk membandingkan diri dapat digunakan untuk berkembang. Energi yang habis untuk mengejar pengakuan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas diri. Energi yang habis untuk memikirkan sesuatu yang tidak dapat dimiliki dapat digunakan untuk membangun sesuatu yang masih mungkin diwujudkan. Di sinilah pelepasan bukan lagi sekadar konsep tentang kehilangan. Pelepasan menjadi pengembalian energi kehidupan kepada diri sendiri.
Setelah melepaskan, perhatian dapat diarahkan kembali kepada impian yang selama ini terbengkalai, kepada tubuh yang perlu dirawat, kepada pengetahuan yang ingin dipelajari, kepada tempat-tempat yang ingin dikunjungi, kepada karya yang ingin dibuat, kepada hubungan-hubungan yang masih ada, dan—yang mungkin lebih penting—kepada kualitas batin kita sendiri.
Dalam Dhamma, perkembangan manusia pada akhirnya memang tidak hanya diukur dari berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan dari dunia luar. Ada kualitas-kualitas batin yang dapat dikembangkan yaitu kebijaksanaan, perhatian penuh, welas asih, keseimbangan batin, kemurahan hati, kesabaran, dan kemampuan melihat pengalaman sebagaimana adanya.
Kita mulai mengalihkan pertanyaan dari:
“Apa lagi yang harus kumiliki?”
menjadi:
“Manusia seperti apa yang ingin kubentuk dari kehidupan ini?”
Ada perbedaan besar antara kedua pertanyaan tersebut. Pertanyaan pertama selalu mengarahkan perhatian keluar. Pertanyaan kedua membawa perhatian kembali ke dalam.
Kita mungkin tidak mempunyai kontrol atas siapa yang akan tetap bersama kita. Kita tidak mempunyai kontrol penuh atas keberhasilan, kesehatan, ekonomi, usia, ataupun berbagai kejadian yang akan datang. Tetapi masih ada wilayah yang dapat kita rawat yaitu bagaimana kita berpikir, bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menggunakan waktu, apa yang kita pelajari, bagaimana kita merespons kehilangan, dan kualitas batin seperti apa yang kita bangun. Semakin sedikit energi yang digunakan untuk menggenggam sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan, semakin banyak energi yang tersedia untuk wilayah tersebut.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa pelepasan terasa seperti kemerdekaan. Kita tidak lagi harus memastikan semuanya berjalan sesuai keinginan agar bisa merasa tenang. Kita tidak lagi menunggu seseorang untuk memberikan izin agar kita bahagia. Kita tidak lagi menggantungkan kehidupan kepada satu kemungkinan.
Dunia luar mungkin tidak berubah sama sekali. Tetapi hubungan kita dengan dunia telah berubah. Dan kebebasan seperti ini sering datang tanpa suara.
Suatu sore kita bisa duduk sendirian dan tiba-tiba menyadari bahwa kepala terasa lebih lapang. Sesuatu yang dahulu memenuhi hampir seluruh pikiran sekarang hanya menjadi satu bagian kecil dari perjalanan hidup.
Kemudian muncul ruang.
Ruang untuk memikirkan masa depan.
Ruang untuk bermimpi lagi.
Ruang untuk belajar.
Ruang untuk menciptakan sesuatu.
Ruang untuk mengenal diri sendiri.
Ruang untuk memperbaiki kualitas batin.
Bahkan ruang untuk menikmati kehidupan yang sangat sederhana tanpa terus-menerus merasa ada sesuatu yang kurang.
Mungkin objek yang kita lepaskan memang tidak pernah menjadi milik kita. Tetapi ruang yang muncul setelah melepaskannya adalah milik kita. Dan barangkali itulah hal yang sering tidak kita sadari ketika masih menggenggam terlalu erat yaitu kemelekatan tidak hanya membuat kita takut kehilangan sesuatu, tetapi juga membuat kita kehilangan kebebasan untuk melihat begitu banyak hal lain yang masih tersedia dalam kehidupan.
Melepaskan akhirnya bukan tentang mengatakan bahwa sesuatu tidak penting. Kita bisa melepaskan sesuatu justru karena ia pernah sangat penting. Kita mengakui perasaan, kenangan, keinginan, dan kehilangan tersebut tanpa harus membiarkannya terus menentukan arah kehidupan.
Kita membawa pelajarannya, tetapi tidak membawa rantainya.
Kita menyimpan kenangannya, tetapi tidak tinggal di dalamnya.
Kita boleh mempunyai mimpi, tetapi tidak diperbudak oleh hasilnya.
Kita boleh mencintai, tetapi tidak harus memiliki.
Dan ketika suatu hari kita benar-benar mampu melihat sesuatu yang dahulu sangat kita inginkan tanpa lagi merasa harus mengejarnya, mungkin kita akan memahami bahwa melepaskan bukanlah kekalahan.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang kita dapatkan kembali.
Kita mendapatkan perhatian kita.
Kita mendapatkan waktu kita.
Kita mendapatkan kemungkinan-kemungkinan masa depan kita.
Kita mendapatkan ruang untuk bertumbuh.
Dan akhirnya, kita mendapatkan kembali kebebasan untuk menentukan ke mana energi kehidupan ini ingin kita arahkan.
***


.jpg)












