Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Kamboja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kamboja. Tampilkan semua postingan

10.12.2024

[2] Sawadee Kamboja : Keliling Angkor Wat, Bayon Temple dan Ta Prohm

Trip ini merupakan rangkaian trip Thailand - Kamboja - Malaysia yang kulakukan dari 23 Januari 2012 - 2 Februari 2012. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku berikan linknya di bagian paling bawah postingan.

PART sebelumnya : DISINI 


Siem Reap, 26 Januari 2012

Hari kedua di Kamboja....Semalam tidur ane nyenyak banget. Seakan-akan sebagian kelelahan yang kami bawa dari Bangkok sudah menguap sebagian. Hari ini kami siap 'menyiksa kaki' lagi dengan menjelajah Kompleks Angkor Wat 😁. Kompleks Angkor Wat sendiri adalah salah satu situs warisan dunia yang paling mengesankan dan merupakan contoh arsitektur Khmer yang megah, terletak di Kota Siem Reap, Kamboja. Kompleks ini mencakup beberapa candi yang saling terhubung, dengan Angkor Wat sebagai yang terbesar dan paling terkenal dengan luas mencapai 162,6 hektar. 

Setelah sarapan yang cukup mengenyangkan, kami mempersiapkan barang bawaan dan membawa bekal air untuk menjaga hidrasi. Berjalan sejenak dari penginapan ke jalan raya, seorang supir tuk-tuk mendekati kami. Dia bertanya apa kita mau ke Kompleks Angkor Wat.

"Yes, we want to go to Angkor Wat."

"I can take you there," katanya dengan persuasif.

Awalnya ane ragu, dan sama sekali clueless dengan transportasi menuju dan keliling Kompleks Angkor Wat. Tapi kemudian dia meyakinkan lagi.

"It's only 10 USD. I will take you to 4 temples dan lunch," katanya lagi.

"Oke which temple?" tanya ane lagi.

"Angkor Wat, Angkor Thorm, Bayon Temple ang Ta Phrom."

Sebenarnya waktu dia jawab gitu jujur ane agak kesel. Kenapa kesel? Karena pikiran ane kan Kompleks Angkor Wat itu besar ya, kenapa kok cuma 4 candi? Kenapa ga semuanya aja?? Hahahah...

Karena Alfi nggak menunjukkan penolakan, akhirnya kami ambil tawaran dari supir tuk-tuk tersebut. Ternyata namanya Bat. Bat menjelaskan kalau mau keliling Kompleks Angkor Wat memang harus memakai transportasi sendiri, bisa tuk-tuk, sepeda, mobil maupun motor. Hal itu disebabkan jarak antara candi satu dengan yang lainnya cukup berjauhan. Perjalanan dari titik temu ke tujuan pertama, Angkor Wat, kami lalui selama 20 menit. Kami diturunkan Bat di loket masuk, disini dia menjelaskan dia akan menunggui kita di tempat yang sama sampai kita selesai keliling. Dia tidak membatasi kita mau keliling berapa lama.

Setelah membeli tiket masuk seharga 20 USD, kami berjalan menuju candi. Sebelum masuk, ane sempat berfoto dengan patung singa yang berada di luar Angkor Wat. Patung singa tersebut menyimbolkan kekuatan dan perlindungan, dan sering dianggap sebagai penjaga dan simbol keagungan dalam budaya Kamboja. Oleh karena itu posisinya terletak di bagian luar candi. Setelahnya ane baru sadar kalau Angkor Wat itu dikelilingi oleh kolam, dimana untuk masuk kedalam kita bisa melewati jembatan batu. Setelah berfoto, kami melanjutkan langkah menuju jembatan batu yang indah, di mana pemandangan candi Angkor Wat mulai terlihat. Jembatan batu tersebut dipenuhi dengan para pengunjung lainnya, semua bersemangat untuk melihat keajaiban arsitektur ini. 


 
Begitu melangkah masuk, kesan pertama yang langsung menyergap ane adalah keagungan arsitekturnya—struktur yang begitu megah dan masif namun penuh dengan detail halus di setiap sudutnya. Dinding-dinding batu berwarna hitam keabu-abuan diukir dengan relief yang menceritakan kisah mitologi dan kehidupan masyarakat Khmer kuno.

Angkor Wat sendiri dibangun pada awal abad ke-12 oleh Raja Suryavarman II sebagai kuil Hindu untuk dewa Wisnu. Seiring berjalannya waktu, kompleks ini beralih fungsi menjadi kuil Buddha. Arsitektur Angkor Wat sangat menakjubkan, dengan detail ukiran yang rumit, menara tinggi, dan dinding yang dihiasi dengan relief yang menggambarkan kisah-kisah dari mitologi Hindu. 


Didalam Angkor Wat, terdapat beberapa candi kecil dengan tangga masuk yang curam. Membuat ane bertanya-tanya, apa maknanya? Setelah ane browsing, kemiringannya yang hampir 70 derajat melambangkan perjalanan manusia menuju alam yang lebih tinggi, mengingatkan kita akan kesulitan dan perjuangan yang harus dilalui sebelum mencapai pencerahan. Jika melangkah sampai puncak candi, ada perasaan seakan kita semakin dekat dengan surga, sebagaimana diyakini oleh orang-orang pada masa itu. Setiap langkah terasa seperti sebuah ritual; tangga-tangga ini tidak hanya dibuat untuk diakses, tetapi juga sebagai simbol spiritual.


Relief di dinding-dinding candi bercerita tentang epos Mahabharata dan Ramayana, serta momen-momen sejarah penting kerajaan Khmer. Setiap ukiran menampilkan presisi luar biasa, seolah-olah para seniman ingin mengabadikan setiap detail sejarah dan mitologi dalam batu. Ane terhanyut dalam pikiran, mengagumi betapa kuatnya komitmen spiritual yang mendorong pembangunan candi ini—tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol kebesaran kekuasaan dan hubungan erat antara raja, dewa, dan rakyatnya.



Sejarah panjang Angkor Wat ternyata tidak hanya berbicara tentang kejayaannya sebagai salah satu keajaiban arsitektur dunia, tetapi juga tentang bagaimana candi ini mampu bertahan meskipun kerajaan Khmer runtuh dan wilayah tersebut ditelan hutan selama berabad-abad. Angkor Wat bukan hanya sebuah bangunan, melainkan saksi bisu dari perjalanan waktu, sebuah warisan yang terus memancarkan aura suci dan misteri bagi siapa saja yang menjelajahinya.

Setelah menjelajahi setiap sudut Angkor Wat selama kurang lebih 1.5 jam, kami kembali ke area loket masuk untuk menemui Bat dan melanjutkan ke tujuan selanjutnya, Bayon Temple. Tidak sulit bagi kami menemukan Bat yang lagi duduk santai ngobrol dengan temannya sesama supir tuk-tuk. Sesaat kemudian kami naik dan Bat mengendarai tuk-tuknya melintasi jalanan yang cukup lengang dan rindang. Dalam hati ane bersyukur, 'Wahhh .. untung tadi naik tuk-tuk ya.. lumayan bisa ngistirahatin kaki bentar dan kena semilir angin,' batin ane.

Sesaat kemudian kami telah sampai ke Bayon Temple, yang dikenal dengan patung wajah besar yang terpahat di dindingnya. Bayon dibangun pada akhir abad ke-12 hingga awal abad ke-13 oleh Raja Jayavarman VII sebagai bagian dari kota Angkor Thom. Candi ini merupakan perwujudan keagamaan yang menggabungkan elemen Hindu dan Buddha, dan sangat terkenal dengan ukiran wajah yang tampaknya memandang ke semua arah.

Menjelajahi Bayon Temple adalah pengalaman yang membawa ane jauh ke dalam keajaiban peradaban Khmer. Berbeda dari Angkor Wat yang megah, Bayon Temple menawarkan kesan yang lebih misterius dan mendalam. Saat ane melangkah ke dalam kompleks candi, hal pertama yang mencuri perhatian adalah ratusan ukiran wajah raksasa yang menghiasi menara-menara batu. Wajah-wajah itu terlihat tenang namun penuh kuasa, seolah-olah memandang setiap sudut candi dengan keheningan yang sarat makna.

Wajah-wajah yang terpahat di batu candi adalah representasi Raja Jayavarman VII, penguasa Khmer yang membangun Bayon pada akhir abad ke-12 sebagai kuil Buddha Mahayana. Namun, ukiran tersebut juga diyakini sebagai perwujudan dari Bodhisattva Avalokitesvara, simbol belas kasih yang melambangkan penguasa yang melindungi rakyatnya. Setiap wajah yang ane lihat memiliki ekspresi yang serupa: mata setengah tertutup dan senyum samar yang disebut sebagai “Senyum Bayon”—sebuah simbol ketenangan batin dan kebijaksanaan. Wajah-wajah ini, sebanyak lebih dari 200, berdiri di atas menara yang tampak menjaga seluruh kompleks.


Batu-batu yang membentuk Bayon terlihat tua dan mulai terkikis oleh waktu. Lumut dan tumbuhan kecil tumbuh di celah-celahnya, memberikan kesan bahwa alam berusaha merebut kembali apa yang pernah dibangun oleh manusia. Permukaan batu yang kasar membuatku sadar betapa panjang usia candi ini, berdiri kokoh meskipun telah melewati ratusan tahun sejarah yang penuh dengan pertempuran, perubahan keyakinan, dan pergeseran peradaban. Sentuhan lembut angin yang melintasi candi seakan membawa bisikan cerita masa lalu yang masih menggema di antara reruntuhannya.

Sejarah Bayon sendiri menarik. Dibangun sebagai pusat dari ibu kota Angkor Thom, Bayon bukan hanya kuil, tetapi juga sebuah simbol dari kekuatan dan keyakinan raja yang memerintah. Bayon mengalami perubahan besar seiring waktu, dari kuil Buddha menjadi candi Hindu setelah kematian Jayavarman VII, mencerminkan peralihan keyakinan yang terjadi di dalam masyarakat Khmer. Struktur uniknya, dengan desain yang tampak acak dan labirin koridor, seolah mencerminkan kompleksitas kehidupan spiritual dan politik saat itu.



Saat ane berjalan di antara lorong-lorong batu yang gelap, ane bisa merasakan keagungan masa lalu yang masih berdenyut di tempat ini. Relief yang terpahat di dinding-dinding candi menggambarkan kisah pertempuran, kehidupan sehari-hari masyarakat Khmer, hingga legenda-legenda spiritual yang membentuk identitas bangsa ini. Relief tersebut kini sebagian telah terkikis, namun tetap memancarkan cerita yang begitu kuat.

Di akhir perjalanan, ane berdiri di bawah salah satu menara Bayon, menatap ke atas wajah-wajah batu yang seolah diam-diam mengamati. Ada sesuatu yang begitu mendalam di balik ukiran itu, sebuah keabadian yang tak dapat dihancurkan oleh waktu. Bayon Temple, dengan segala keusangannya, tetap teguh sebagai monumen yang mencerminkan kebijaksanaan, kekuatan, dan ketenangan batin yang tak lekang oleh zaman.

Setelah puas mengelilingi Bayon Temple selama kurang lebih 45 menit, kami segera kembali ke parkiran untuk mencari Bat. Ternyata karena hari sudah cukup siang, Bat berkata akan mengantarkan kami makan siang dulu ke restoran. Perjalanan berlangsung singkat, sekitar 15 menit dan Bat menurunkan kami di restoran cukup besar yang sepertinya memang khusus untuk para wisatawan. Ane sedikit membatin, 'wah kayaknya bakal mahal nih,' wkwkwk...

Kami duduk, ditawari menu oleh waitress dan karena ane sudah lapar berat, ane memesan sepiring steak dengan harga 8 USD. Entah kenapa pas traveling ane kok nggak terlalu sayang kalau ngeluarin duit buat jajan hehe😁. Alfi sendiri pesan american breakfast. Kami makan dengan lahap karena memang keliling hari itu cukup menguras energi.

Setelah makan siang, kami diantarkan Bat menuju Ta Prohm Temple, candi yang terkenal dengan keindahan alamnya yang berpadu dengan reruntuhan dan menjadi salah satu tempat shooting film Holllywood, Tomb Raider. Saat pertama kali melangkah ke dalam kompleks candi ini, ane langsung disambut oleh pemandangan yang ikonik: akar-akar pohon raksasa yang melilit dinding-dinding batu tua. Akar-akar tersebut merayap dengan indahnya, menembus celah-celah candi, melilit pintu-pintu, dan menjalar di atas struktur yang dulu megah. Rasanya seperti menyaksikan bagaimana alam dengan sabarnya mengambil alih apa yang pernah menjadi karya tangan manusia. 
Ta Prohm sendiri dibangun pada abad ke-12 dan awal abad ke-13 sebagai kuil Buddha dan adalah contoh sempurna dari bagaimana alam dan arsitektur saling berinteraksi. Pepohonan raksasa dengan akar besar menjalar di atas dinding candi menciptakan suasana yang magis dan misterius. Menjelajahi Ta Prohm Temple adalah seperti memasuki dunia di mana alam dan arsitektur bersatu dalam harmoni yang menakjubkan. 

Akar-akar pohon yang menjalar di seluruh Ta Prohm tampak hidup, seolah-olah menelan candi dengan pelukan lembut, namun tak terlepaskan. Pohon-pohon ini, yang sebagian besar adalah pohon tetrameles (pohon kapas), begitu besar dan mengakar kuat, memberi kesan seakan-akan mereka adalah penguasa sejati dari candi ini. Yang membuatku terpesona adalah pertanyaan alami: siapa yang datang lebih dulu—candi atau akar pohon? 

Ta Prohm dibangun pada akhir abad ke-12 oleh Raja Jayavarman VII sebagai biara Buddha dan universitas, jadi tentu saja candi didirikan jauh sebelum pohon-pohon raksasa tersebut mulai merayap di atasnya. Namun, ketika Kekaisaran Khmer runtuh, candi ini perlahan-lahan ditinggalkan dan dibiarkan menjadi bagian dari hutan. Pohon-pohon mulai tumbuh di celah-celah candi yang kosong, menjadikan alam sebagai penjaga baru dari tempat ini. Kini, akar pohon dan batu candi tampak begitu menyatu, menciptakan suasana magis dan misterius yang menjadikan Ta Prohm terkenal di seluruh dunia.

Saat ane berjalan menyusuri lorong-lorong sempit yang dipenuhi reruntuhan, ane merasa seperti berada di dalam sebuah situs yang diam-diam menyimpan cerita masa lalu. Setiap sudut candi terlihat terkoyak oleh kekuatan waktu dan alam, namun tetap memancarkan keagungan yang tak lekang. Batu-batu besar yang runtuh berserakan di bawah akar, membentuk tumpukan-tumpukan yang disinari cahaya matahari yang menembus celah-celah dedaunan pohon. Suara alam yang tenang—dari kicauan burung hingga gemerisik daun—menciptakan suasana hening yang membawa kedamaian dalam penjelajahan ini.


Sejarah Ta Prohm sangat erat dengan kehidupan spiritual Khmer. Candi ini didedikasikan untuk ibunda Raja Jayavarman VII dan dulunya adalah salah satu candi terbesar dan paling kaya di kawasan Angkor, dengan lebih dari 12.000 orang tinggal dan beribadah di sekitarnya. Namun, seperti banyak candi lainnya di Angkor, Ta Prohm perlahan ditinggalkan ketika kekaisaran runtuh, hingga akhirnya terlupakan dan menjadi bagian dari hutan lebat selama berabad-abad.

Sekarang, di tengah reruntuhan yang sebagian telah diperbaiki, ane bisa merasakan bagaimana Ta Prohm masih menjaga suasana aslinya. UNESCO telah sengaja membiarkan sebagian besar candi tetap dipeluk oleh pohon-pohon, menciptakan kesan bahwa tempat ini telah lama bersahabat dengan alam. Setiap langkah yang ane ambil di dalam candi ini membawa ane semakin tenggelam dalam refleksi tentang waktu, bagaimana alam dan sejarah memiliki kekuatan untuk membentuk satu sama lain. 

Ketika akhirnya ane meninggalkan Ta Prohm, ane merasa telah mengalami pertemuan antara dunia buatan manusia dan kekuatan alam yang abadi. Akar-akar pohon raksasa yang melilit candi bukan hanya lambang kehancuran, tetapi juga kelahiran kembali—sebuah pengingat bahwa alam selalu menemukan cara untuk bertahan, bahkan di atas reruntuhan peradaban manusia.

Kami berjalan-jalan di sekitar candi, mengambil foto dan mengagumi betapa indahnya suasana di sini. Hari kami di Angkor dan sekitarnya sangat memuaskan. Kami tidak hanya mendapatkan pengalaman menjelajahi situs bersejarah yang menakjubkan, tetapi juga belajar banyak tentang budaya dan sejarah Kamboja. Saat kami kembali ke tempat parkir, kami berbagi senyuman penuh kepuasan, mengingat semua momen indah yang kami alami hari itu. Terimakasih Kamboja, besok kami akan kembali ke Bangkok!

PART selanjutnya : DISINI 

7.22.2024

[1] Sawadee Kamboja : Perjalanan Bangkok - Siem Reap dan Pasar Malam Angkor

Trip ini merupakan rangkaian trip Thailand - Kamboja - Malaysia yang kulakukan dari 23 Januari 2012 - 2 Februari 2012. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku berikan linknya di bagian paling bawah postingan.


PART sebelumnya : DISINI

25 Januari 2012

Kelelahan akut karena terlalu semangat seharian menjelajah Kota Bangkok kemarin membuat tidur ane sangat nyenyak. Oiya kemarin sebelum pulang penginapan kita sudah membeli tiket travel dari Bangkok ke Siem Reap (Kamboja) juga. Well, kok secepat itu meninggalkan Kota Bangkok? Karena kita merasa kayaknya udah semua wisata utama di Bangkok dikunjungi seperti Wat Phra Kaeo, Wat Pho, Wat Arun, Wat Indrawihan, Khaosan Road, MBK. Udah ga ada tempat spesifik yang ingin kita kunjungi lagi, jadi kita memutuskan langsung geser ke tujuan selanjutnya untuk menghemat waktu dan uang, Kota Siem Reap, Kamboja. Tujuan utama kesana tak lain tak bukan adalah ke Angkor Wat.

Pagi itu setelah sarapan kami dijemput oleh mobil travel sekitar jam 07.30. Dari tempat penjemputan kita di-drop di kantor utama travel dan digabung dengan beberapa traveler lainnya dari berbagai macam negara. Ada traveler dari Jepang maupun Eropa. Setelah menunggu sejenak, perjalanan akhirnya dimulai. Rutenya adalah Bangkok - Aranyaphratet (kota perbatasan Thailand - Kamboja), disambung imigrasi keluar Thailand, imigrasi masuk Kamboja, kemudian Poipet (kota perbatasan Kamboja - Thailand) ke Siem Reap. Perjalanan yang bakalan cukup panjang dengan total jarak tempuh 400 kilometer dan waktu tempuh 7 jam. Sepertinya hari ini bakalan panjang, apalagi sambil melewati imigrasi kedua negara yang ane gatau bakalan berapa lama.

Perjalanan Bangkok - Aranyaphratet sejauh 250 km berlangsung selama 3 jam.  Begitu meluncur dari Bangkok, suasana jalanan lumayan lancar. Tapi, tidak lama kemudian, mulai banyak kendaraan yang keluar, terutama truk-truk besar. Selama perjalanan, ane bisa lihat pemandangan sawah hijau dan beberapa desa kecil. Sesekali, ane juga lewat pasar-pasar lokal yang ramai dengan aktivitas.

Mendekati Aranyaprathet, jalanan mulai sedikit lebih macet. Banyak kendaraan yang menuju perbatasan, jadi agak terasa padat. Di sinilah ane mulai merasakan nuansa menjelang perjalanan ke Kamboja. Akhirnya sampailah kami di titik akhir sebelum imigrasi keluar Thailand dan kita semua diminta turun. Ane dan Alfi nggak menjumpai masalah berarti di imigrasi keluar Thailand. Selanjutnya menggunakan mobil van yang sama kita dibawa ke suatu tempat dan diarahkan untuk mengisi kartu kedatangan negara Kamboja. Ane disini sekalian jajan karena udah lumayan laper.

Berhenti disini untuk mengisi kartu kedatangan Kamboja

Kartu kedatangan Kamboja. Kartu ini harus diisi lengkap dan bersama paspor diserahkan kepada petugas imigrasi.

Dari sini, kami dibawa ke imigrasi masuk Kamboja yang berjarak sekitar 500 meter dengan mobil bak terbuka. Saat itu mobil bak benar-benar penuh teman-teman dari berbagai kewarganegaraan (Jerman, Perancis, Jepang, Korea). Sampai imigrasi masuk Kamboja, perjuangan selanjutnya dimulai.

Gerbang 'Selamat Datang Kerajaan Kamboja'

Berjalan kaki menuju Imigrasi Kamboja

Saat itu kami melihat antrian imigrasi yang sangat panjang, bahkan sampai melebihi lorong antrian ke jalan raya. 

'Wah la ini.. wes... Bakal lama..' keluh ane dalam hati.

Ane mulai berdiri di belakang bule-bule yang berbadan besar. Dari mulai panggul tas backpack, sampai nggak kuat dan ane seret-seret dibawah saking lamanya. Beberapa traveler lain terlihat sangat kelelahan sampai duduk di lantai. Dengan kecepatan siput akhirnya 2 jam kemudian kami mendapatkan stempel masuk negara Kamboja hhh.....kami disambut dengan kota kecil yang berdebu. Meskipun memiliki aksara yang hampir mirip - Thai dan Khmer - ane sadar ane udah memasuki negara lain. Artinya bahasa lain, mata uang lain dan budaya lain. Mata uang resmi di Kamboja sendiri adalah USD dan Riel Kamboja. Jadilah di perbatasan itu ane menukar beberapa USD ke riel karena pengen punya uang pecah juga.

Suasana Kota Poipet

Setelah semua rombongan di mobil travel selesai urusan imigrasi, perjalanan kami berlanjut dari Poipet ke Siem Reap dengan bus yang lebih besar. Jarak yang masih harus kami tempuh adalah 150 km dengan jarak tempuh 2,5 jam. Begitu keluar dari perbatasan, suasana jalanan langsung terasa berbeda. Jalanan yang berdebu menyambut kami, dengan kondisi aspalnya tak sepenuhnya mulus. Selama perjalanan, ane melihat banyak rumah sederhana dari bambu berdiri di kiri dan kanan jalan. Anak-anak kecil berlarian di sekitaran rumah, mengenakan pakaian lusuh. Mereka tampak ceria meski hidup dalam kondisi yang jauh dari cukup. Beberapa dari mereka melambai ke arah mobil kami, menambah kehangatan suasana.

Supir kami menjelaskan bahwa Kamboja masih tergolong miskin. Banyak fasilitas yang ada di sini masih di bawah standar, mulai dari jalanan hingga pendidikan. Ane bisa merasakan betapa sulitnya kehidupan bagi sebagian besar masyarakat di daerah pedesaan. Semangat mereka, meskipun dalam keterbatasan, sangat menginspirasi. Perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga membuka mata ane tentang kondisi kehidupan yang sangat berbeda. Ane merasa beruntung bisa menyaksikan langsung realitas ini, meski penuh dengan tantangan. Meskipun ada banyak hal yang perlu diperbaiki, keceriaan anak-anak dan ketahanan masyarakat membuat perjalanan ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Kamboja, dengan segala keindahan dan tantangannya, meninggalkan kesan mendalam di hati ane. Titik air mata tanpa sadar menetes dari sudut mata ane. Ane emang nggak kaya, bahkan masih mahasiswa. Tapi paling nggak bisa kalau melihat sesuatu yang seperti ini. Padahal mungkin saja hidup mereka baik-baik aja dan bahagia kan....

Suasana Kota Poipet

Suasana Kota Poipet

2,5 jam kemudian kami telah sampai di pool travel di Kota Siem Reap. Disitu kami langsung dikerubungi oleh orang-orang yang menawarkan jasa taksi maupun tuk-tuk. Karena ane dan Alfi belum booking tempat untuk kita nginap malam itu, kami ditawari oleh supir taksi penginapan yang katanya seharga 1000 baht. Karena merasa tarifnya masih masuk kami OK-kan saja. Bapaknya menyuruh kami menunggu sebentar untuk dicarikan barengan. Dan akhirnya ane dan Alfi bareng sama 2 orang bule yang sepertinya mau ke penginapan yang sama. 

Beberapa saat setelahnya kita berangkat naik mobil dan sampai di penginapan tersebut. Sampai disana kami disuruh menunggu dibawah, sedangkan si bapak sibuk bolak balik nganterin si bule lihat kamar. Kami benar-benar dicuekin sampe akhirnya Alfi angkat bicara,

"And how about us?"

"Oke-oke you two follow him," katanya menunjuk pemuda lokal yang sepertinya pekerja di hotel ini.

Hhh.. akhirnya! Setelah daritadi yang diurusin si bule terus!

Kita dibawa ke kamar atas, dan menurut ane udah lumayan bagus lah. Kamarnya lumayan besar dengan twin bed dan TV tabung. Sudah sangat cukup bagi kami berdua. Toh hanya berencana 2 malam saja disini sebelum kembali ke Bangkok lagi. Kami melakukan pembayaran dan setelahnya langsung melemparkan diri ke kasur. Hhhh....benar-benar melelahkan hari ini.

Penginapan kami di Kota Siem Reap

Sesaat kemudian kita berdua menyadari kita laper banget. Setelah diskusi sesaat, akhirnya ane usul ke Alfi, gimana kalau kita coba cari ke bawah. Siapa tau ada warung gitu kan. Ternyata ada warung lokal yang jual, dan kita memesan nasi telur. Pemuda yang mengantarkan kita ke kamar bernama Chon, dia ikut kita ke warung sambil bawa kamus. Katanya mau belajar bahasa Inggris, hehehe.. Alfi dengan sigap mengajarinya beberapa kata.

Alfi dan Chon

Nasi telur, makanan pertama kami di Siem Reap

Selesai makan, akhirnya kita putuskan jalan-jalan melihat Pasar Malam Angkor yang berjarak 500 meter dari penginapan. Kami berjalan kaki dengan suasana malam yang hangat dengan lampu-lampu jalanan yang mulai menyala, menciptakan suasana yang semarak.

Begitu tiba di pasar, kami langsung disambut oleh hiruk-pikuk suara pedagang dan pengunjung. Aroma makanan khas Kamboja yang menggugah selera menyambut kami. Di sepanjang jalan, ada deretan stan yang menjual berbagai pernak-pernik, mulai dari gelang dan kalung yang terbuat dari bahan lokal, hingga selendang yang indah, baju-baju bertuliskan Kamboja, dan sebagainya. 
 Saat berkeliling, tawaran massage dari beberapa stan semakin menggoda. 
Ane sebenarnya sangat ingin mencoba, apalagi kaki ane masih berasa banget capeknya habis menjelajah Kota Bangkok kemarin. Namun, saat itu, ane teringat bahwa baru kurang dari tiga minggu yang lalu, ane menjalani operasi mengeluarkan patahan jarum yang terinjak. Jadi, meskipun pengen banget, hati ini ngeri-ngeri sedap. Takut kaki ane kepijet atau malah jadi makin sakit.

Berfoto di Pasar Malam Angkor

Suasana Pasar Malam Angkor

Suasana Pasar Malam Angkor

Suasana Pasar Malam Angkor

Kami terus berjalan sambil mengamati berbagai macam oleh-oleh yang ditawarkan. Ane lihat banyak kerajinan tangan yang indah dan makanan ringan yang unik. Meski kaki ane terasa berat, suasana pasar membuat ane melupakan rasa capek itu sejenak. Setelah berkeliling, akhirnya kami memutuskan untuk membeli beberapa barang sebagai kenang-kenangan. Ane sendiri membeli baju bertuliskan Kamboja dan beberapa barang kerajinan lokal.

Sekitar jam 10 malam, akhirnya kita pun kembali ke penginapan dan tertidur dengan nyenyak. Besok kita akan ke Angkor Wat, siapkan fisik!


PART Selanjutnya : DISINI