Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Road Trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Road Trip. Tampilkan semua postingan

11.01.2016

Gresik, 10 Oktober 2015: Ditolak Bukit Jamur Sampai ke Pantai Delegan

Aku mempunyai prinsip, selagi kerja di Surabaya, aku ingin mengunjungi tempat wisata sebanyak mungkin di Jawa Timur. Kapan lagi kan? Aku tidak harus mengeluarkan ekstra biaya untuk membeli tiket kereta api ke Jawa Timur dahulu. Hanya perlu aku, seorang teman (aku kurang suka jalan-jalan sendiri), Si Merah (Motor Shogun 125 kesayanganku) dan uang secukupnya.

Ini hari Sabtu, hari yang mungkin ditunggu-tunggu oleh sebagian besar karyawan pemerintahan sepertiku karena bisa dibilang merupakan hari liburan. Jika tidak terpaksa, sebenarnya aku malas sekali kalau harus menghabiskan akhir pekan di kos, karena aktivitasku hanya berkisar pada tidur, nonton film, internetan dan tidur kembali. Justru membuat badanku pegal-pegal karena tidak banyak gerak. Mau mencuci malas, bersih-bersih kos malas, memasak malas. Alhasil hanya seperti siput seharian, tiduran sambil nyemil dan internetan. Benar-benar gaya hidup yang tidak sehat. Karena itulah aku sering dilanda kejenuhan pada akhir pekan.

"Eh ke Bukit Jamur yuk? Aku lihat di internet bagus nih, Nggak jauh kok dari Surabaya sini mungkin sekitar 20 kiloan" kataku ke teman bolangku.

Aku melihat sebuah tempat wisata yang konon katanya merupakan bekas pertambangan. Terlihat adanya sisa-sisa batuan yang ditinggalkan dan membentuk seperti jamur. Sepertinya cocok untuk foto-foto walau aku yakin cuaca pasti panas banget disana.

"Ayok dah," kata temanku dengan semangat.

Setelah persiapan singkat dan mengisi penuh bensin untuk Si Merah, aku segera melajukan motor dari Surabaya Pusat ke arah Kota Gresik. Menurut google map, jarak yang harus kami tempuh sekitar 18 kilo. melewati ruas jalan Gresik Gadukan Timur - Jalan Kalianak Timur - Jalan Greges Timur - Jalan Tambak Osowilangun - Jalan Kragan Rembang Surabaya. 

Pemandangan yang kami jumpai di sepanjang jalan kurang menarik. Truk-truk barang raksasa mendominasi di jalanan yang lebarnya hanya sekitar 10 meter ini, membuat jalanan sering macet jika berpapasan. Sisanya, mobil-mobil pribadi, angkot, dan ratusan motor tumpah ruah di jalanan ini. Udara panas masih menyengat, debu-debu dan asap kendaraan bercampur.

Satu jam kemudian kami sudah sampai Kota Gresik. Bangunan industri dengan gudang-gudangnya yang besar langsung menyambut kami. Hal ini tentunya tidak mengherankan karena Kabupaten Gresik merupakan subwilayah pengembangan bagian (SWPB) yang tidak terlepas dari kegiatan subwilayah pengembangan Gerbang Kertasusila (Gresik, Bangkalan, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan). Gresik termasuk salah satu bagian dari 9 subwilayah pengembangan jawa timur yang kegiatannya diarahkan pada sektor pertanian, industri, perdagangan, maritim, pendidikan, dan industri wisata.

Aku melajukan Si Merah ke utara untuk menuju Bukit Jamur. Menurut google map, kami harus melalui jarak sekitar 27 kilometer melewati ruas jalan Gresik-Tuban. Disinilah masalah dimulai. Sekitar setengah jam setelah melewati Kota Gresik, tiba-tiba ban motor Si Merah bocor... Duh, aseem!!

"Waduh bocor ini bannya," kataku dengan kesal.

"Yaudah cari tambal ban dulu aja.... Eh duuh aku kok sesak nafas ya," jawab teman bolangku dengan panik.

"Waduuh, kenapa kamu?" tanyaku setengah panik.

"Gak apa-apa, kamu jalan dulu aja cari tambal ban. Aku tunggu disini."

Setelah susah payah menyeberang jalanan yang sangat ramai, akhirnya aku menemukan tambal ban dan segera menjemput temanku, untunglah dia sudah tidak apa-apa.

"Gimana keadaanmu?"

"Udah gak apa-apa kok. Sumpah tadi sesek banget rasanya."

Ya ampun! Ada-ada saja........


###

Selesai tragedi ban bocor dan sesak nafas, semuanya menjadi lebih baik dan lancar. Aku memacu Si Merah secepatnya, ingin cepat sampai karena cuaca sangat panas. Kami membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk mencapai daerah dekat Bukit Jamur.

"Stop, stop, daerah dekat sini," kata temanku tiba-tiba. Dia membawa HP dengan google map untuk petunjuk.

"Loh, ini kan pintu masuk perusahaan tambang? beneran disini?" tanyaku setengah yakin.

"Iya bener kok disini."

Karena tempat masuk perusahaan tambang tersebut tidak ada gerbang dan suasana terlihat sepi, aku langsung melajukan Si Merah . Sekitar 50 meter berjalan di jalanan tanah berkapur tersebut, terdengar suara seseorang memanggilku sembari meniup peluit.

Waduh...

"Mbak, mbak, dilarang masuk kesana."

"Iya Pak, bagaimana?" tanyaku dari kejauhan sembari melajukan motor ke arah mereka.

"Begini mbak, hari ini tidak boleh masuk kesana karena ini pertambangan masih aktif. Masih banyak truk dan alat berat keluar masuk jadi berbahaya."

"Tapi kami mau menuju Bukit Jamur saja Pak," protesku. Bukit Jamur ini merupakan kawasan pertambangan yang sudah tidak aktif lagi.

"Hari Minggu saja mbak kembali kesini. Silahkan datang dan lihat sepuasnya, kalau hari ini memang ditutup.

Aku kembali membujuk dan sedikit merengek, mengatakan kalau aku datang jauh-jauh dari Surabaya hanya untuk lihat Bukit Jamur tapi mereka tidak peduli dan disuruh datang hari Minggu saja. Yahh...akhirnya aku keluar lagi ke jalan dengan pasrah.

"Nggak ada jalan lain ya kesana? Coba lihat google map," kataku.

"Ada sih, tapi akhirnya tetap harus masuk ke kawasan pertambangan ini."

Sial. Masa aku sudah jauh-jauh kesini harus kembali tanpa mengunjungi tempat apapun. Aku segera membuka google dan mencari tempat wisata di Gresik. Aku menemukan nama Pantai Delegan. 

"Kita ke Pantai Delegan aja ya, jaraknya cuma 25 kilo kok dari sini."

Akhirnya kami dan Si Merah melanjutkan perjalanan kembali ke arah utara melewati ruas jalan Gresik Tuban. Jalanan masih seperti sebelumnya, datar dengan perkampungan di kanan kiri. Cuaca sudah sedikit membaik, tidak sepanas sebelumnya. Semakin mendekati pesisir pantai, jalanan menjadi semakin kecil dan relatif sepi sehingga aku bisa melajukan Si Merah dengan leluasa.

Kami membutuhkan waktu sekitar satu jam sebelum akhirnya sampai ke kawasan Pantai Delegan. Aku membelokkan motor ke arah kanan jalan karena aku yakin itu adalah objek wisata Pantai Delegan.

"Loh, kok jalannya ke Pantai malah dipagerin?"kataku dengan heran setelah memarkir motor.

"Coba lewat sana," kata temanku.

"Sama, dipagerin juga ternyata."

"Ah yaudah kita makan dulu aja, itu ada warung disana."

Kami menghabiskan sesorean itu dengan cerita-cerita pengalaman dan bergosip di bangku-bangku taman yang berjajar di dekat pantai. Sepiring kentang goreng dan segelas milo hangat menjadi peneman yang setia. Meskipun mungkin ini aktivitas yang biasa saja dan bisa dilakukan dimana saja, tetapi aku tetap senang karena aku bisa benar-benar refreshing dari aktivitas yang itu-itu saja. Akhirnya karena hari sudah menunjukkan semakin sore, kami bergegas pulang.

"Mas, ini Pantai Delegan bukan ya? Kok jalan ke pantainya malah dipagerin gitu?" tanyaku penasaran saat membayar makanan.

"Bukan mbak, Pantai Delegan masih ke arah barat lagi. Kira-kira seratus meteran terus nanti belok kanan."

Owalah! Hahaha. Kami hanya bisa tertawa. Si penjual sampai terlihat bingung/


###

Mengikuti petunjuk arah yang diberikan penjual warung, akhirnya aku menemukan gerbang selamat datang di Pantai Delegan. Segera kulajukan Si Merah masuk sebelum akhirnya kami disemprit kembali oleh petugas yang berjaga.

Aduuh, apa lagi sih ini??

"Mbak, mbak, udah tutup."

"Waduuh, sebentar saja Pak. Saya hanya mau foto-foto terus keluar," ujarku setengah memohon.

"Okelah, tapi jam 5 tutup ya."

"Baik Pak."

Hahaha, akhirnya aku masuk juga. Disini kami hanya berfoto-foto singkat. Masa sih udah jauh-jauh kesini nggak ada kenang-kenangan fotonya sama sekali?

Disitulah aku menunjuk Laut Jawa di kejauhan sana. Seratus kilometer di sebelah utara sana ada Pulau Bawean, pulau yang ingin kukunjungi. Melihat laut yang begitu luas dan tak berujung membuatku merinding. Benarkah aku akan mengunjungi Bawean? Benarkah kapal yang mengantarkanku akan melaju 100 kilometer kesana? Aku berharap iya.

Setelah nongkrong singkat, kami memutuskan segera pulang karena hari mulai menggelap. Perjalanan Pantai Delegan - Surabaya kami lalui selama kurang lebih 2 jam melewati ruas jalan yang sama dengan tadi. Perjalanan yang cukup berkesan!

Salah tempat, ini bukan Pantai Delegan (GALUH PRATIWI)

Ini Pantai Delegan (GALUH PRATIWI)

Pantai Delegan (GALUH PRATIWI)

Wisatawan di Pantai Delegan (GALUH PRATIWI)

Pendopo di Pantai Delegan (GALUH PRATIWI)

Kenang-kenangan dari Pantai Delegan, 100 kilometer ke utara sana adalah Pulau Bawean (pulau yang kukunjungi seminggu kemudian) (GALUH PRATIWI)

Road Trip Bromo via Tumpang 4 : Perjalanan Pulang

Peta jalur Road Trip sejauh kurang lebih 283 kilometer (Google Map dengan Modifikasi GALUH PRATIWI)

Kedinginan menjadi menu wajib kami di Cemoro Lawang. Tidurku tidak terlalu nyenyak semalam. Aku sering terbangun karena kedinginan yang begitu menusuk, padahal sudah pakai kaos kaki dan selimut tebal. Hmmm....aku menjadi kagum dengan orang-orang yang tinggal disini. Bisa menahan suhu belasan derajat setiap hari.

Badanku kaku karena kurang bergerak. Setiap sedikit pergerakan seakan membuat udara dingin menyelinap masuk melalui celah-celah selimut. Aku melanjutkan tiduran sambil main HP, masih terlalu malas memikirkan bersentuhan dengan air untuk ke kamar mandi.

"Eh mau ke Bromo sama Penanjakan nggak nih?" tanyaku ke temanku.

"Boleh. Eh tapi kita nggak punya jaket kan basah semua."

"Iya juga ya, yaudah lihat nanti aja."

Tidak seperti traveler lain di penginapan kami yang sejak pagi-pagi buta sudah menuju Penanjakan, kami menghabiskan sepagian itu untuk tiduran dan bercerita-cerita. Sinar matahari pagi secara perlahan mulai menembus jendela kamar kami, memberi nuansa kehangatan yang dirindukan disini.

Aku melongok lewat jendela. Di luar sana, aktivitas mulai berjalan seperti biasa. Toko-toko mulai dibuka, pedagang sayur naik turun membawa dagangannya, turis-turis hilir mudik, jeep-jeep pelancong naik turun meninggalkan debu asap knalpot yang menghitam.

Karena batas check out adalah jam dua belas, setelah bersantai sepagian akhirnya kuberanikan untuk menginjakkan kaki ke kamar mandi. Aku memutuskan untuk mandi karena sejak kemarin sore belum mandi. Guyuran pertama membawa rasa linu-linu sampai ke tulang-tulangku. Aku menggigil.

"Brrrrrr.....dingin banget," ujarku dengan bibir membeku. " Hebat ya orang yang hidup dan tinggal disini..."

Aku menyelesaikan mandi secepat mungkin, ingin sesegera mungkin membungkus tubuh dengan selimut. Selesai mandi dan beres-beres, kami segera check out dari penginapan dan bersiap menuju Bromo karena temanku akhirnya meminta kesana.

"Brrrrr....dinginnyaa....," ujar temanku sewaktu baru saja melangkahkan kaki keluar penginapan.

"La gimana? Jadi ke Bromo atau nggak?" tanyaku.

"Nggak deh, aku nggak kuat dingin, langsung turun aja ya. Lagian aku males harus lewat medan pasir lagi"

"Hahaha, okelah."

Akhirnya kami tidak jadi ke Bromo dan langsung pulang. Aku langsung melajukan Si Merah ke arah utara menyusuri Jalan Raya Bromo Tosari dan Jalan Raya Lumbang, jarak yang harus kami tempuh sekitar 50 kilometer. Jika perjalanan lancar, maka kami akan tembus di Bayeman, Kabupaten Probolinggo di ujung utara nanti.

Begitu kami turun, pemandangan didominasi oleh perkebunan warga yang menghampar luas. Berbagai macam sayuran seperti sawi, kol, wortel, dan berbagai macam tanaman hortikultura lainnya. Sayur mayur tersebut tumbuh subur akibat limpahan abu vulkanik dari Gunung Bromo yang membawa banyak manfaat. Si Merah terus melaju ke bawah melewati kelokan demi kelokan yang seakan tiada henti. Perubahan suhu mulai kami rasakan seiring ketinggian berubah. Saat tembus di Jalan Raya Lumbang, udara sudah berubah menjadi panas. 

'Selamat datang kembali,' ujarku dalam hati.

Kami membutuhkan waktu satu setengah jam untuk akhirnya sampai di pertigaan Bayeman. Segera saja Si Merah aku arahkan ke Kota Pasuruan. Jalanan datar dan membosankan sejauh 15 kilometer sudah membentang di hadapan kami. Bus-bus, truk, mobil, motor saling bertemu dan meninggalkan asap hitam menggumpal. Aku sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, ingin sesegera mungkin sampai di Surabaya. Perjalanan pulang memang berbeda dengan perjalanan berangkat ya soal semangat.

Kami sempat mampir berhenti untuk sarapan di warung penyetan di pinggir Jalan Raya Pantura di Pasuruan. Sepiring nasi ikan gurami dan es teh meluncur mulus di perutku yang kelaparan.

Setelah kembali berhenti untuk mengisi bensin, akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang. Udara panas masih menyengat, asap knalpot beterbangan, dari Kota Pasuruan aku melajukan Si Merah menuju Bangil kemudian membelok ke utara menuju SIdoarjo. Kami membutuhkan sekitar 2 jam sampai Sidoarjo.

Karena perut kembali keroncongan dan tanganku lelah, lagipula sinar matahari masih menyengat, kami memutuskan istirahat kembali di warung Lontong Kupang di Kota Sidoarjo. Sepiring sate kerang dan segelas es degan meluncur mulus ke perutku. Jajan teruuus.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang. Syukurlah sewaktu keluar dari warung, cuaca sudah berubah. Mendung menggantung dengan begitu manjanya di langit. Segera saja aku melajukan Si Merah sejauh 22 kilometer kembali ke Surabaya. Akhirnya 1 jam kemudian aku, temanku dan Si Merah telah kembali dengan selamat di kos. Kembali menikmati udara panas Surabaya. Udara panas yang sewaktu di Cemoro Lawang begitu aku rindukan, sementara di sini begitu aku benci. Bagaimanapun, perjalanan ini telah mengajarkanku arti bersyukur yang sesungguhnya.

FINISHED

Road Trip Bromo via Tumpang 3 : Kedinginan

Mesin Si Merah terus menderu menaiki jalan aspal yang berlubang disana-sini. Hujan masih mengguyur deras, air hujan mengalir dengan begitu ganasnya menuruni jalan beraspal. Aku mengendarai Si Merah sehati-hati mungkin, takut kalau sampai terpeleset.

Beberapa saat kemudian, kami telah sampai di Cemoro Lawang. Tantangan kami selanjutnya adalah menemukan penginapan untuk menghangatkan diri malam ini. Aku masih belum tau apakah besok akan mengunjungi Gunung Bromo dan Penanjakan atau tidak. Aku pernah kesini pada 2014 tetapi lewat jalur Pasuruan - Probolinggo - Bromo, sedangkan temanku belum pernah kesini.

Aku menyusuri deretan rumah-rumah penduduk, mencermati apakah ada tulisan penginapan di depannya. Karena setahuku jika menginap di homestay rumah penduduk, akan lebih murah daripada menginap di Hotel/Hostel. 

Kami berputar-putar sesaat sebelum menepikan motor di penginapan yang terlihat nyaman. Namun suasana sangat sepi, berkali-kali aku ketok pintu kantor dan restoran. 

"Wah sial pulsaku habis. Aku pinjem HP-mu ya, coba aku telfon ke penginapannya," kataku ke temanku. Kebetulan di bagian depan penginapan ada papan informasi yang memuat nomor telfon penginapan.

"Wah gak bisa dihubungi semua nomornya," kataku dengan menggerutu.

Kebetulan waktu itu ada tiga orang yang sepertinya dari Vietnam (memperhatikan bahasa mereka) yang juga mencari penginapan. Mereka meninggalkan tempat itu setelah memperhatikan tidak ada tanda-tanda penjaga disitu.

Kami mengendarai Si Merah ke arah atas lagi untuk mencari penginapan yang lain, sebuah hotel yang bangunannya cukup bagus. Aku ragu akan mendapatkan harga murah disini, tetapi dicoba saja.

"Kamar ekonomi sudah habis mbak, tinggal kamar yang tipe ini," kata resepsionis sambil menunjuk sebuah kamar yang bertarif Rp 600.000/malam.

Aku segera ngacir keluar, mahal banget! Biarpun aku mampu membayarnya, aku nggak akan mengambilnya. Budget untuk penginapan yang kusediakan hanya Rp 200.000 - Rp 300.000.

Sementara kebingungan di luar, seorang bapak penjual syal dan kaos kaki penghangat mendekati kami, " Mbak, mari saya antarkan ke penginapan yang Rp 200.000/malam. Saya tahu di bawah. Kalau hotel memang agak mahal."

"Sebentar ya Pak, saya nyoba cari online dulu."

"Oke mbak."

Tapi setelah mencoba mencari di berbagai situs reservasi penginapan online, aku merasa penginapan tersebut cukup jauh dari tempat kami sekarang. Harus turun lebih dari sepuluh kilometer. Akhirnya kami pasrah mengikuti bapak tersebut dan menginap di Homestay Teguh dengan tarif Rp 200.000/malam.

Akhirnya bisa menghangatkan diri dan beristirahat!

"Trimakasih ya pak. Bayarnya bagaimana?" tanyaku.

"Ke saya aja tidak apa-apa, nanti saya sampaikan ke pemilik penginapan," kata bapak itu. Aku percaya saja karena aku melihat dia dan pemilik penginapan berbincang di awal, sepertinya mereka sudah saling kenal.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian kering. Kami hanya tiduran sambil berselimut rapat. Dingiiiin banget rasanya, apalagi habis kehujanan. Menyentuh air membuat tulang-tulangku ngilu. Aku hanya bisa meringkuk di balik selimut sembari bermain HP. Bergerak saja rasanya sudah sangat malas, membuat telapak kakiku kaku karena kedinginan.

Kami hanya bercerita dan menggosip beberapa jam setelahnya. Tidak berniat melakukan apapun. Kami yang biasanya kepanasan di Surabaya, sekarang kedinginan seperti ini membuat kami cukup menikmatinya walaupun menderita, yang jelas, aku senang refreshing ini berjalan lancar. Aku harap bisa mengurangi kegalauan dan kebosanan yang sempat memuncak sebelum kesini.

"Eh cari makan yuk, tau-tau udah gelap aja. Aku lapar," kataku.

"Ayo."

Akhirnya kami makan di sebuah warung makan rames sederhana. Sepiring nasi rames dengan lauk telur dan udang serta secangkir teh panas meluncur mulus ke perutku. Aku rasa luamayan mahal ya, kami menghabiskan hampir Rp 25.000/orang. Aku sempat membeli kaos kaki setelah itu karena tidak kuat dengan dinginnya.

Akhirnya malam itu kami beristirahat dengan tenang dan hangat. Meskipun aku terbangun beberapa kali karena masih kedinginan, tapi itu tidak jadi masalah. Menyiapkan fisik untuk kembali pulang ke Surabaya besok!

Road Trip Bromo via Tumpang 2 : Berjuang di Lautan Pasir Tengger

Motor terus kulajukan melewati jalanan yang semakin sepi dan dingin. Aku sudah tidak memikirkan apapun, yang terpenting adalah sampai ke Cemoro Lawang secepatnya.

Sekitar setengah jam berkendara, kami dihadapkan pada jalan yang bercabang. Sebelum berangkat, aku sempat mempelajari google map dan mengetahui cabang jalan ini adalah jalan ke Ranu Pane jika lurus (titik pendakian ke Gunung Semeru) dan Bromo jika belok kiri. Setelah bertanya pada warga lokal untuk memastikan, kami mengambil jalur belok ke kiri melewati jalan aspal yang terus menurun.

Kami takjub! Pemandangan di sebelah kiri jalan mungkin adalah pemandangan terindah yang pernah kulihat. Perbukitan berwarna hijau membentang dengan guratan-guratan ngarai hasil erosi yang sangat indah. Perbukitan menghijau segar. Membuat kami terbengong-bengong dan terus menatap ke sebelah kiri di sepanjang jalan turun ke Lautan Pasir Tengger.

Alur-alur erosi pada tebing yang membentuk pemandangan menakjubkan (GALUH PRATIWI)

Bukit-bukit kecil berhiaskan kabut (GALUH PRATIWI)

Hijau dan segar lagipula pemandangan sangat sepi (GALUH PRATIWI)

Pemandangan terindah yang pernah kulihat (GALUH PRATIWI)

Menakjubkan, bukan? (GALUH PRATIWI)

Kami berhenti beberapa kali untuk berfoto. Sesekali jeep para wisatawan melaju di sebelah kanan kami. Mereka menyapa kami dengan ramah. Sementara kami terus turun, hujan rintik-rintik mulai berjatuhan. Aku agak panik karena bahkan kita belum mulai berjalan di lautan pasir. Bagaimana jika hujan deras? Bagaimanapun aku terus memacu motor ke arah bawah.

Aku dan Si Merah (GALUH PRATIWI)

Rerumputan bernyanyi dengan gembira (GALUH PRATIWI)

Hujan semakin bertambah deras seiring motor kami telah hampir sampai ke jalur lautan pasir. Ketika itu ada dua cabang jalan yang membingungkan, dimana kalau belok kiri langsung menuju ke jalur off road jeep, sementara kalau lurus jalannya masih aspal tapi entah berakhir dimana. Seharusnya kami memang harus lewat jalur off road, tetapi karena aku melihat tanahnya yang sangat gembur dan tebal, pastilah Si Merah susah sekali berjalan disitu. Akhirnya aku memutuskan mengambil jalan lurus aspal dahulu. Aku melihat sebuah rumah kecil disitu, ingin berteduh sebentar sembari menunggu hujan reda.

"Mas...arah ke Cemoro Lawang lewat mana ya?" tanyaku kepada dua orang laki-laki yang sedang berteduh di rumah kecil tersebut. Sepertinya mereka melakukan rute reversed dengan kami, dimana mereka berasal dari Cemoro Lawang dan akan menuju Tumpang.

"Lewat sini bisa mbak. Oiya, jalan ke arah Tumpang hujan nggak?" jawabnya.

"Aman mas, cuma gerimis," jawabku kemudian.

Akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan dengan memakai mantel. Adapun sepertinya bukan ide bagus jika aku harus berteduh di rumah kecil ini. Suasana sangat sepi, dan berada di tengah antah berantah.

Bismillah, aku mulai melajukan laju motor di Lautan Pasir Tengger. Sepuluh kilometer adalah ajrak yang harus kami tempuh sampai ke Cemoro Lawang. Tetapi pemandangan alam di sekitar benar-benar membius kami. Bagaimana tidak? Tebing berjajar di sebelah kanan dan kiri kami dengan begitu cantiknya, alur-alur hasil erosi terlihat kokoh. Kabut menambah kesan mistis. Aku merasa seperti berada di antara New Zealand dan Hawai'i. Entahlah keindahannya tidak bisa kugambarkan lagi.

Ini Lautan Pasir Tengger atau Hawai'i? Atau New Zealand? (GALUH PRATIWI)

Bunga-bunga ungu bermekaran (GALUH PRATIWI)

Kabut menggantung pada ujung dinding kaldera (GALUH PRATIWI)

Hujan mulai sedikit mereda. Si Merah berjalan terus dengan agak terseok-seok. Bisa kuingat, kami beberapa kali hampir jatuh terpeleset pasir. Mengingat ini, aku hanya bisa mengemudikan Si Merah dengan kecepatan maksimal 40-50 kilometer per jam. Karena sekali ngebut, '''ssssseeetttttt....." pasti ban akan selip.

Kami berhenti beberapa kali untuk berfoto-foto dengan latar perbukitan beralur yang menghampar luas. Pemandangan itu masih dipercantik dengan bunga-bunga kecil berwarna keunguan yang terhampar luas. Sungguh luar biasa perjalanan ini.

Siapa yang bosan melihat pemandangan seperti ini? (GALUH PRATIWI)

Kabut mulai turun, mendung datang lagi (GALUH PRATIWI)

Bukit kembar (GALUH PRATIWI)

Kabut semakin turun, suhu semakin dingin (GALUH PRATIWI)

Bunga-bunga ikut berbahagia(GALUH PRATIWI)

Indonesia sungguh indah (GALUH PRATIWI)

Siapa yang tidak terkagum-kagum akan kuasa-Nya? (GALUH PRATIWI)

DI jalan, kami sempat bertemu dengan para rider-rider yang sedang melaksanakan touring dengan arah yang berlawanan dengan kami. Mereka menggunakan motor-motor besar dengan ban yang kokoh sehingga bisa melaju dengan leluasa. Si Merah hanya bisa memandang mereka dengan nyinyir.

"Ssssssseeetttttttt...."

Aku hampir terpeleset lagi entah keberapa kalinya karena terlalu asik memandang pemandangan sehingga lupa melajukan kecepatan terlalu kencang.

Jalur Lautan Pasir dari Tumpang ke Cemoro Lawang tidak hanya satu, banyak cabang off road yang bercabang-cabang. Kita dibebaskan untuk melewati jalur mana saja yang enak sepanjang mengikuti jalur ke arah utara. Aku terus melajukan motor karena gerimis mulai datang lagi, kabut mulai turun. Kami bertemu dengan beberapa pengendara motor maupun jeep lain yang juga hendak menuju Cemoro Lawang. Sedikit melegakan. Ternyata kami tidak sendiri di padang pasir ini.

Kami terus melajukan motor. Jalan off road yang semula cukup keras karena basah mulai berubah menjadi agak lembut dan gembur. Sangat menyulitkan Si merah. Kami harus berganti jalur beberapa kali dengan sedikit mendorong-dorong motor karena susahnya bukan main. Untunglah pada beberapa bagian sudah dibuatkan jalur motor, dimana tanahnya cukup keras sehingga kami bisa menjalankan Si Merah agak kencang.

Beberapa kali di jalan, kami menjumpai rombongan turis asing yang terlihat berjalan kaki menyusuri keindahan Kaldera Tengger. Meskipun hujan mulai datang, mereka terlihat masih bersemangat jalan. Mantel plastik berwarna-warni menjadi pemandangan yang menarik dan kontras dan perpaduan warna hijau dan abu-abu di sekitarnya.

Tiba-tiba, hujan mulai berubah deras dan kami mulai panik. Jujur aku takut sekali kalau sampai ada petir karena padang ini sangat luas dan tidak ada objek tertinggi selain kami. Jalanan mulai berubah sepi. Beberapa pengendara motor yang kami temui sudah mendahului kami dengan rentang jarak yang cukup jauh. Kami memutuskan memakai mantel plastik kembali dan segera melanjutkan perjalanan.

Hujan berubah semakin deras. Udara menjadi sangat dingin. Tanganku terus mencengkeram setir, berusaha tidak memikirkan apapun selain segera mencapai Cemoro Lawang sesegera mungkin. Kami mulai kebingungan karena jalur jeep (yang terlihat dari bekas roda) mulai kabur, sementara padang berubah menjadi sangat luas. Aku menjalankan Si Merah lewat jalur pasir sebelah kiri, aku malah menjumpai banyak bongkahan-bongkahan batu yang bertebaran.

'Wah, sepertinya ini bukan jalurnya.... Banyak batu-batu besar bertebaran.. Bagaimana ini? Aku harus tetap tenang,' kataku dalam hati.

"Itu ada motor disana, lewat sana!" kata temanku dari belakang. Suaranya beradu dengan derasnya hujan. Pakaianku sudah basah semua karena aku hanya menggunakan mantel plastik yang kekecilan. Dinginnya udara dan kakunya tanganku sudah tidak kupedulikan lagi.

Aku segera memotong jalur dan mengarah ke pengendara motor di kejauhan yang ditunjuk temanku. Aku berusaha memacu Si Merah semaksimal mungkin, aku tidak mau kehilangan jejak pengendara tersebut. Gawat kalau tersesat di tengah hujan lebat begini.

Si Merah kupacu melewati beberapa kali turunan dan naikan kecil. Saat pengendara motor tersebut hampir tidak kelihatan, aku mulai panik. Akhirnya setelah beberapa saat memotong jalur, kami kembali juga ke jalur jeep. Terlihat dari bekas gilasan ban pada pasir yang terlihat memanjang. Aku lega sekali. Setidaknya bekas gilasan ban ini akan membawa kami ke Cemoro Lawang.

"Tenang...Tenang...Kalau udah lewat jalur jeep kita pasti aman kok sampai ke Cemoro Lawang," kataku ke temanku. Aku ragu ini untuk membuat temanku tenang atau untuk menenangkan diriku sendiri.

Hujan masih mengguyur dengan lebatnya. SI Merah terus kulajukan mengikuti jalur jeep. Kami melewati jalur lurus sekitar setengah jam sebelum akhirnya melihat tiang-tiang berwana kuning. Aku bahagia sekali. Aku terus mengikuti tiang-tiang tersebut karena aku yakin itu akan mengantarkanku ke jalan aspal yang menuju Cemoro Lawang.

"Eh itu bapaknya belok kesana!" kata temanku menunjuk ke arah kanan, sementara tiang-tiang kuning itu sendiri menuju ke arah kiri.

"Loh, ini tiangnya kearah sini,"kataku setengah protes melawan derasnya hujan.

"Kesana aja, itu bapaknya kesana," kata temanku.

Aku segera membelokkan arah Si Merah mengikuti jalur bapak pengendara motor yang menjadi penuntun kami tadi. Dan setelah beberapa saat, akhirnya kami menjumpai jalan naik..............berupa jalan aspal! Aku ingat sekali jalan ini adalah jalan aspal yang menuju Cemoro Lawang karena aku pernah ke Bromo sebelumnya! 

Oh, akhirnya!!

10.29.2016

Road Trip Bromo via Tumpang 1 : Perjalanan ke Malang

Perjalanan 'Road Trip' Surabaya - Malang - Tumpang - Bromo - Probolinggo - Surabaya kami mulai pada hari Jumat tanggal 23 September 2016. Jumat itu seusai pulang kerja jam 14.30, aku tidak ping pong seperti biasanya melainkan segera pulang kos untuk memulai road trip ini yang menurut google map akan menempuh jarak total sekitar 283 kilometer. Benar-benar sebuah tantangan. Aku belum pernah nyetir sejauh itu. Tujuan utama road trip ini sendiri tentulah untuk refreshing dari rutinitas yang jarang berubah. Karena jujur saat itu aku sedang sangat jenuh dengan pekerjaan yang menumpuk. 

Setelah mengisi penuh bensin untuk motor kesayanganku - Si Merah 'Shogun R 125' - aku segera pulang ke kos untuk mempersiapkan pakaian dan bekal perjalanan, selain itu juga menjemput temanku yang sudah menunggu di kos. Setelah siap semua, langsung berangkat mengarahkan motor ke selatan menuju Kota Malang.

Aku dan Si Merah yang tangguh (GALUH PRATIWI)

Perjalanan dari Surabaya ke Malang dimulai dari kemacetan yang tak terhindarkan di ruas jalan Surabaya - Sidoarjo. Karena baru mulai, aku masih sabar menghadapai semuanya. Sekitar satu setengah jam menyetir, sampai di Kota Sidoarjo, tanganku mulai pegal dan perut mulai memberontak kelaparan. Jajanan pentol dan siomay meluncur mulus ke perut. Dengan beberapa teguk aliran air segar, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Perjalanan Sidoarjo - Porong - Gempol - Pandaan - Purworedjo - Lawang kami lalui dengan leluasa dan menyenangkan karena jalanan relatif sepi serta suhu mulai berubah agak sejuk. Panasnya Kota Surabaya seakan menguap begitu Si Merah kupacu menuju Pandaan. Jalanan mulai naik dan gunung-gunung mulai terlihat di sebelah kanan, sesekali terlihat sawah yang menghampar luas. Pemandangan yang menyegarkan mata.

Sekitar Mahgrib, kami sudah sampai Lawang dan memutuskan beristirahat di warkop lesehan yang cukup nyaman. Segelas kopi panas dan gorengan hangat meluncur mulus ke perut kami yang mulai keroncongan kembali. Hawa sejuk nan dingin seakan menambah semangat suasana sore itu. Kami beristirahat selama setengah jam sebelum kembali bermotoran ria menuju Malang.

Gorengan dan Kopi di Lawang (GALUH PRATIWI)

Perjalanan dari Lawang ke Malang cukup menguras waktu karena macet yang tidak tertahankan. Bus, mobil, motor, seakan bertumpuk jadi satu di jalan yang relatif tidak terlalu lebar tersebut. Si Merah hanya mampu melaju di kisaran 30-40 kilometer per jam. Karena hawa yang dingin dan suasana hati yang sedang baik, kami bisa melalui itu semua dengan lancar. Sekitar pukul tujuh malam, kami akhirnya sampai di Kota Malang.

Kami menginap di Hotel Malang. Sebuah kamar sederhana dengan fasilitas kasur, TV dan kipas angin menyambut kami. Tarifnya cukup murah, untuk kamar ekonomi hanya 100ribuan/malam untuk berdua. Hawa Kota Malang yang sejuk-sejuk dingin membuat kami sama sekali tidak membutuhkan AC, cukup kipas angin yang dinyalakan menghadap ke tembok (itupun sudah membuat kami kedinginan).

Kamar Ekonomi di Hotel Malang, semalam Rp 100.000 (GALUH PRATIWI)

Kami menghabiskan malam itu dengan tiduran, cerita-cerita dan nonton TV, sempat keluar sebentar untuk makan nasi penyetan di dekat penginapan. Hawa Kota Malang sungguh sempurna untuk refreshing. Semua beban, permasalahan, kebingungan, seakan hilang saat aku sedang di jalan begini. Tanpa sadar, mataku semakin berat dan tertidur. Menyiapkan tenaga untuk 'road trip' hari kedua, menyusuri Malang - Tumpang - Bromo. Kuharap besok tidak menjadi hari yang berat.


###

Aku terbangun jam enam pagi, tetapi kemudian kembali tidur setelah mengecek HP. Bagiku, refreshing adalah suatu kegiatan untuk me-refresh otak, mengisi otak dengan hal-hal baru, hijau dan bernuansa alam. Karena itulah aku tidak terlalu mempersoalkan jam kalau traveling jarak dekat. Lagipula, kamar ekonomi ini terlalu nyaman. Aku menarik selimut dan tertidur pulas lagi.

Aku terbangun satu jam kemudian karena mimpi buruk. Karena malas tidur lagi, akhirnya aku hanya tiduran sambil menyalakan TV dan main HP. Sejenak kemudian, tiba-tiba petugas hotel mengantarkan sarapan segelas teh hangat dan setangkup roti dengan selai nanas. Cukup mengejutkan karena sewaktu aku booking hotel ini di pegi-pegi disana dikatakan kami tidak mendapatkan sarapan.

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami segera melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju Tumpang. Tujuanku adalah mencari warung soto daging yang lezat untuk sarapan. Tidak lupa bensin kuisi penuh dan mengambil sejumlah uang di ATM untuk persiapan karena hari ini kami akan menuju pegunungan jadi tidak terlalu yakin ada mesin penarik uang disana. Mencari warung makan yang pas tanpa hasil, akhirnya aku memutuskan jalan dahulu sampai Tumpang dan mencari makan disana.

Kami menyusuri Jalan Raya Madyopuro, Jalan Raya Kedungrejo, Jalan Raya Slamet, Jalan Raya Bokor dengan santai.Jalanan yang sepi dan mulus memudahkan deru Si Merah. Tumpang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Malang yang berjarak 16 kilometer dari Kota Malang. Perjalanan kami akhirnya terhenti di Pasar Tumpang untuk mencari sarapan. Setelah bolak-balik kesana kemari, akhirnya kami sarapan di sebuah warung makan penyetan di dekat pertigaan.

Lokasi mendapatkan 'kesialan' di Tumpang (GALUH PRATIWI)

Sepertinya kami mendapat 'kesialan', karena dari nasi penyet mujair yang kami pesan, kami mendapatkan ikan yang sudah bau. Mau bilang penjualnya nggak enak. Orangnya ibu-ibu nyentrik yang masih muda, malas kalau harus berdebat. Aku paling malas berdebat mengenai hal-hal yang menurutku kurang begitu penting. Akhirnya kutahan makan semua itu, temenku cuma nyengar-nyengir makan nasi dan sayur. 

Seusai perjuangan makan ikan bau, Kami melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju Bromo. Tujuan kami selanjutnya adalah Coban (Air Terjun) Pelangi yang ada di Desa Ngadas. Jarak yang harus kami tempuh dari Pasar Tumpang adalah 16 kilometer. Jalanan yang kami lewati relatif mulus dengan medan yang semakin menaik dan terjal. Sepuluh menit berkendara, kami melewati gapura selamat datang Desa Gubugklakah. Pemandangan sawah yang menghijau mendominasi. Sesekali kami menjumpai rumah penduduk sederhana di kanan kiri jalan. Udara bersih dan segar.

Lembah yang cukup dalam di sepanjang jalan (GALUH PRATIWI)

Lembah yang cukup dalam di sepanjang jalan (GALUH PRATIWI)

Semakin mendekati Coban Pelangi, jalanan semakin meliuk-liuk tajam. Pada beberapa kesempatan, aku harus terus menggunakan gigi satu supaya motor dapat melaju. Kami sempat berhenti beberapa kali untuk berfoto karena pemandangan yang disajikan memang sangat yahud.

Setiap ada spot menarik langsung berhenti untuk berfoto (GALUH PRATIWI)

Perkebunan subur milik warga (GALUH PRATIWI)

Tanaman subur (GALUH PRATIWI)

Tanaman tropika menghampar lebat (GALUH PRATIWI)

Melewati beberapa liukan tajam dengan kondisi jalan bergelombang, akhirnya sampai juga di Coban Pelangi. Coban Pelangi ini adalah salah satu wilayah konservasi alam di bawah perlindungan Perhutani maka dari itu sangat terjaga. Tarif masuknya sendiri Rp 8000/orang dan parkir Rp 2000/motor.

Susu Jahe (GALUH PRATIWI)

Jalan menuju Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Pemandangan tanaman menghijau di sepanjang jalan turun ke Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Pemandangan tanaman menghijau di sepanjang jalan turun ke Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Fasilitas yang ada di kawasan wisata Coban Pelangi sendiri cukup lengkap, terdapat beberapa warung yang menyambut kedatangan kami. Warung tersebut menjual makanan dan minuman panas, sangat cocok di tempat dingin seperti ini. Setelah minum susu jahe segelas untuk meredakan pusing yang tiba-tiba melanda (kayaknya gara-gara mujaer bau), kami memutuskan segera berjalan menuju Coban karena jarak tempuhnya dari parkiran cukup jauh. Menurut petunjuk arah kami harus berjalan turun sejauh 800 meter.

Jalan turun tidak masalah karena sudah dibangun tangga-tangga yang memutar sampai bawah. Pepohonan tropika berjajar menyambut di kanan kiri kami, kicau burung bersahut-sahutan, angin dingin sepoi-sepoi menampar wajah kami. Semuanya tenang dan damai disini. Di beberapa titik disediakan tempat duduk untuk beristirahat, tempat sampah, warung, mushola dan toilet. Fasilitasnya cukup lengkap.

Kami terus berjalan menuruni tangga demi tangga yang terbuat dari batu. Jalan jauh seakan tidak menjadi masalah karena pemandangan yang sangat indah di kanan dan kiri jalan. Di sebelah kanan kita bisa melihat lembah yang dialiri oleh sungai berair jernih. Tanaman tropika lebat menghampar hampir di semua tempat. Tidak diragukan lagi tanah di daerah ini pastilah subur karena dekat dengan pegunungan.

Kurang lebih setengah jam jalan turun, kami diharuskan menyeberang jembatan yang terbuat dari kayu. Di bawahnya aliran air sungai membelah perbukitan dengan begitu derasnya. Banyak yang berfoto-foto disini karena memang pemandangannya sangat indah.

Sungai jernih di dekat Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Setelah menikmati pemandangan sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju Coban. Dari sini jaraknya tidak terlalu jauh lagi, sekitar 200 meter melewati jalan berbatu yang basah. Tidak lama kemudian, kami sudah sampai di Coban Pelangi.

Sebuah air terjun dengan ketinggian 30 meter menghampar di depan mata kami. Air mengalir dengan derasnya melalui celah sempit perbukitan di atas sana. Aliran air tersebut menghantam dengan keras bebatuan di bawahnya. Sangat indah, segar, menyejukkan mata. Kami menghabiskan waktu berfoto dan menikmati pemandangan di bawah air terjun.

Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Coban Pelangi finish! (GALUH PRATIWI)

Mau gaya masukin air ke botol tapi gagal (GALUH PRATIWI)

Kami tidak menghabiskan waktu lama disini karena kami harus bergegas melanjutkan perjalanan dari Coban Pelangi ke Cemoro Lawang. Hari semakin siang dan kami harus bergegas karena sebelum menuju Cemoro Lawang nanti, kami harus melalui lautan pasir Tengger sejauh sepuluh kilometer. Kami membutuhkan waktu setengah jam untuk kembali ke atas kembali. Perjalanan naik tidaklah semudah perjalanan turun. Tarikan gravitasi memaksa kami berhenti beberapa kali untuk mengatus nafas.

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Menurut rute google map, dari sini kami mengikuti jalan saja dari Desa Ngadas ke Desa Jemplang. Desa Jemplang adalah desa terakhir sebelum menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.  Jalanan yang beraspal bagus membuat Si Merah bisa melaju dengan leluasa.

Seperti sebelumnya, sebelah kanan kiri jalan didominasi oleh pepohonan tropika yang menghampar tinggi dan lebat. Jalanan sepi sekali. Bisa dihitung berapa kali kami menjumpai pengendara lain. Tapi aku tidak boleh takut. Pilihan kami hanya ada dua, maju terus sampai Cemoro Lawang (lebih dekat) atau kembali lagi ke Tumpang dan Malang (lebih jauh). Aku tidak suka perjalanan kembali, karena itulah aku memantapkan untuk terus melaju apapun yang terjadi meskipun jalanan semakin sepi dan dingin.

Kami terus melaju ke tempat yang lebih tinggi. Jalan aspal masih bagus, tetapi lagi-lagi sepi sekali. Tidak ada pengendara yang lain. Kabut mulai turun. 'Sial, aku rasa mau hujan', ujarku dalam hati.

Tiba-tiba setelah melewati jalan dengan perkampungan di sekitarnya, kami harus melalui jalan dengan jurang di sisi kanan dan kirinya. Iya benar-benar jurang di kanan kirinya, tanpa pengamanan sama sekali! Jalan aspal dengan lebar sekitar dua meteran itu sontak membuatku pusing. Bayangan akan jatuh langsung berkelebat. Tapi aku memaksa diriku tetap fokus menghadap ke depan. Syukurlah kami bisa melaluinya dengan lancar sampai menemukan jalan yang normal kembali (well, setidaknya hanya ada satu jurang di salah satu sisinya, bukan kedua sisi seperti yang tadi).