Awal Januari 2026..
Seperti rutinitasku setiap tahun, saat libur Idul Fitri, aku selalu merencanakan satu perjalanan jauh. Ini adalah semacam ritual pribadiku. Karena pekerjaanku sebagai freelancer yang berhubungan erat dengan birokrasi dan kantor pemerintahan, libur Idul Fitri adalah satu-satunya waktu di mana 'dunia' benar-benar berhenti mengejarku. Tak ada WA dan dering telepon dari klien, tak ada deadline yang membayangi, dan tak ada jadwal presentasi dadakan yang merusak rencana. Di saat semua kantor tutup, itulah saatnya aku benar-benar bebas. Untuk perjalanan setahun sekali ini, aku selalu mempertimbangkan mengunjungi tempat yang unik, tempat tidak biasa yang memacu andrenalinku. Tahun lalu (2025) aku mengunjungi China dan Tibet, perjalanan yang cukup menguras tenaga dan dana, tapi juga meninggalkan kesan yang sangat dalam. Seperti biasa, karena ini sudah mendekati libur idul fitri, pertanyaan yang sama selalu datang lagi di kepalaku: tahun ini kemana?
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, pertanyaan itu tidak langsung punya jawaban. Bahkan, aku sempat mempertimbangkan sesuatu yang jarang kulakukan yaitu tidak ke luar negeri di liburan Idul Fitri 2026 ini. Dalam hati aku berpikir, apa tahun ini gausah jauh-jauh ya... Mungkin tetap traveling, tapi cukup di dalam negeri saja. Indonesia juga luas, dan jujur saja masih banyak bagian yang belum pernah kueksplor secara detail.
Pikiranku sempat tertuju kuat ke Pulau Kalimantan, pulau terbesar kedua di Indonesia yang belum pernah kuinjak satu kalipun. Ada sesuatu dari pulau itu yang sejak lama membuatku penasaran. Ada hutan, sungai, desa-desa, dan kehidupan pedesaan yang terasa lebih pelan. Ada Derawan dengan laut jernihnya dan ubur-ubur Kakaban yang berenang tenang tanpa menyengat. Ada Taman Nasional Tanjung Puting dengan sungai panjang, klotok yang berjalan pelan, dan orangutan di habitatnya. Rasanya kok menarik jika semua itu dieksplor tanpa buru-buru. Di titik itu, rencana untuk tetap di Indonesia terasa masuk akal. Lebih dekat, lebih sederhana, dan tidak membuatku pusing berlebihan untuk persiapannya. Bahkan aku sudah hampir membeli tiket Surabaya–Tarakan, kota di Kalimantan Utara tempatku berencana memulai perjalanan.
Namun, sembari memantapkan hati, hampir setiap hari aku membuka kembali blog ini.
Aku membaca ulang cerita-cerita perjalanan yang pernah kutulis. Satu per satu. Dari tulisan lama yang masih canggung ketika pertama kali aku ke luar negeri (Thailand), sampai cerita yang kutulis dengan lebih jujur dan utuh. Aku melihat lagi daftar negara dan kota yang pernah kukunjungi. Tempat-tempat yang dulu terasa begitu jauh, tidak terjangkau, namun aku sudah menapakkan kaki disana. Tanpa kusadari, aku berhenti cukup lama di sana.
Dan tiba-tiba aku sadar satu hal.
Inilah warisan hidupku.
Bukan harta, bukan pencapaian yang bisa dipamerkan, tapi cerita. Pengalaman. Jejak langkah yang benar-benar kujalani. Aku telah mengunjungi banyak tempat, pikirku saat itu, dan aku sedikit terharu. Bukan karena sedih, bukan pula karena bangga berlebihan, tapi karena semuanya berawal dari mimpi. Dari keinginan kecil yang dulu bahkan terasa mustahil.
Kenapa tidak ya? Pikirku lagi. Selama badanku masih kuat, selama kakiku masih sanggup melangkah, dan selama danaku masih aman, aku ingin membuat lebih banyak memori, terutama di tempat-tempat yang terasa sulit. Inilah juga alasan kenapa aku memilih Tibet sebagai salah satu tujuanku di tahun 2025. Tibet, seperti kita tahu, mendapat julukan "ATAP DUNIA" berada di ketinggian antara 3.600–5.200 mdpl, sebuah elevasi yang sanggup membuat napas terasa pendek dan jantung berdegup lebih kencang hanya karena aktivitas sepele karena minimnya oksigen.
Di perjalanan itu, aku membuktikan sendiri bahwa Tibet bukan sekadar destinasi visual, tapi juga ujian ketahanan. Berada di “Atap Dunia” dengan kadar oksigen yang tipis, aku benar-benar menyadari batas tubuhku, dan ternyata tubuhku jauh lebih kuat dari yang kubayangkan. Selama di sana, aku tidak merasakan gejala altitude sickness sama sekali, sesuatu yang awalnya cukup aku khawatirkan. Ada rasa bangga tersendiri menyadari hal itu. Dan justru karena kondisi ekstrem itulah, setiap momen terasa semakin berkesan. Saat memandang jajaran pegunungan salju yang agung, rasa lelah seolah menguap begitu saja, berganti dengan rasa syukur yang sulit dijelaskan.
Bayangkan jika aku terus berpikir, “ah, nanti saja mengunjungi A, nanti saja mengunjungi B.” Jika terus ditunda, apakah kondisi fisikku di umur sekarang akan sama saat aku berusia 40, 50, atau 60 nanti? Setelah melihat sendiri bagaimana di usia tua tubuh bisa melemah, mulai bergantung pada obat, bahkan harus berjuang dengan berbagai penyakit, aku jadi semakin sadar… waktu itu tidak bisa ditunda sesuka hati.
Hidup juga penuh ketidakpastian, kan? Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi besok. Karena itu, selagi tubuhku masih sehat, langkahku masih kuat, dan tabunganku masih aman, aku memilih mengambil risiko untuk tujuan-tujuan sulit sekarang. Tujuan yang lebih mudah, biarlah menjadi cerita di waktu lain.
Kenapa aku melakukan semua ini?
Agar suatu hari nanti, di masa tua, aku bisa membaca kembali cerita-cerita ini sambil berkebun, merawat rumah kecilku, dan ditemani kucing-kucingku. Cerita-cerita yang bukan sekadar tentang tempat, tapi tentang hidup yang benar-benar dijalani. Aku ingin memastikan, aku bisa menoleh ke belakang tanpa penyesalan,dengan perasaan puas, karena aku benar-benar sudah menjalani hidup ini sepenuhnya.
***
Berhari-hari aku lanjutkan dengan mengeksplor Google Maps. Aku memperbesar dan memperkecil peta dunia, menggesernya ke kiri dan ke kanan. Mencoba melihat, menganalisis. Apa yang terlewat? Apa negara yang sebenarnya bisa kukunjungi, yang benar-benar berbeda dari sebelum-sebelumnya? Di momen sederhana itu aku tiba-tiba sadar, sudah cukup lama aku traveling. Kalau dihitung-hitung, sudah hampir 14 tahun. Waktu yang nggak sebentar.
Pelan-pelan aku mulai mengaitkan semua perjalanan itu di kepalaku. Asia, misalnya. Aku sudah menyusurinya cukup jauh, dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Barat, sampai Asia Tengah. Rusia dan Turki pun pernah kusinggahi, negara-negara unik yang berdiri di dua benua (Eropa dan Asia) sekaligus. Eropa juga sudah, dengan kota-kota tuanya. Amerika pun sudah, baik Amerika Utara maupun Amerika Tengah, dengan nuansa yang sama sekali berbeda. Tanpa pernah benar-benar kumerencanakan, rupanya perjalananku selama ini sudah mewakili beberapa benua di dunia.
Aku berhenti menggeser peta.
Mataku tertahan di satu bagian besar yang terasa kosong. Benua Afrika....
Dalam hati aku bergumam, loh, kenapa aku belum pernah kepikiran ke sini ya?
Setelah kupikir-pikir, jawabannya bukan karena aku nggak pernah tertarik. Justru sebaliknya. Afrika selalu terasa terlalu besar, terlalu asing, terlalu luas, terlalu “sekali seumur hidup” untuk sekadar jadi rencana spontan, dan jujur bagiku agak sedikit menakutkan. Selama ini aku lebih sering memilih destinasi yang secara logika terasa aman dan familiar. Visanya bisa diurus, rutenya jelas, dan informasinya melimpah. Tapi di fase hidupku sekarang, dengan pertimbangan diatas, aku mulai mempertimbangkan mungkin saatnya kesini.
Aku juga sadar, ada batasan besar yaitu waktu yang sudah terlalu mepet (tinggal 2 bulan sampai libur Idul Fitri). Aku nggak pengen ribet dengan urusan visa, setidaknya untuk saat ini. Aku juga nggak ingin perjalanan yang terlalu jauh sampai rasanya melelahkan bahkan sebelum berangkat (seperti Amerika Selatan - semoga aku bisa kesini di 2027). Aku ingin perjalanan yang menantang, tapi tetap masuk akal untuk kondisiku sekarang.
Saat menatap peta Afrika, aku melihat benua yang sangat besar dengan negara-negara yang begitu menarik. Mesir langsung mencuri perhatianku. Negara yang dari dulu sangat ingin kukunjungi. Tapi keinginan itu langsung berbenturan dengan satu hal yaitu kewajiban visa. Aku nggak mau ribet dengan sisa waktu sedikit. Setidaknya bukan sekarang. Itu langsung menggeser pandanganku ke bagian lain Afrika.
Afrika Timur.
Ada Kenya, Tanzania, Uganda, Rwanda, Burundi.
Wow… dalam hati aku bergumam. Dari daftar itu, dua nama di depanlah yang paling sering kudengar. Sisanya jarang sekali. Aku mulai berpikir, kenapa ya harus ke negara-negara ini? Apa yang sebenarnya kucari?
Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Adik kelasku.
Aku ingat pernah melihat IG story-nya beberapa waktu lalu, saat dia mengunjungi Afrika Timur. Yang paling kuingat adalah satu nama. Taman Nasional Serengeti di negara Tanzania. Aku langsung membuka kembali Instagram-nya, melihat ke highlight story-nya saat saat melakukan game drive di savana. Jeep terbuka. Hamparan padang rumput sejauh mata memandang. Hewan-hewan liar yang kulihat selama ini hanya di buku dan dokumenter.
Aku melihat singa, gajah, kerbau Afrika, macan tutul, dan badak—lima hewan yang dikenal sebagai Big Five. Aku melihat mereka hidup di habitat alaminya. Bebas. Tenang. Tidak dikurung. Tidak dipertontonkan. Aku melihat bagaimana rantai ekosistem makanan berjalan apa adanya, tanpa intervensi manusia.
Entah kenapa, dadaku terasa penuh.
Ada rasa haru yang sulit kujelaskan. Rasa excited yang berbeda dari biasanya. Dan saat aku melihat foto seekor gajah, menatap lurus ke kamera dengan mata yang begitu dalam, aku terdiam cukup lama. Dalam hati aku berkata pelan, kok rasanya… mengharukan tanpa bisa dijelaskan, ya?
Di momen itulah aku sadar.
Aku harus ke sini 2026 ini.
Bukan nanti. Bukan suatu hari entah kapan. Tapi benar-benar harus.
Tanzania.....dan.. Kenya!
***
12 Januari 2026..
Hunting Tiket..
Keputusan ini....tentu saja harus dilanjutkan dengan langkah nyata. Salah satunya adalah membeli tiket pesawat keberangkatan kesana. Akhirnya aku mulai membuka aplikasi Skyscanner, mencoba berbagai kombinasi tanggal dan kota keberangkatan.
Jakarta – Nairobi. Surabaya – Nairobi. Bahkan sempat coba Denpasar juga, siapa tau dapat harga yang lebih masuk akal. Seperti biasa, ritual ini selalu jadi bagian paling seru tapi bikin pusing di awal perencanaan.
Beberapa opsi mulai muncul di layar. Dan yang paling sering keluar, sekaligus paling simpel secara rute, adalah Jakarta – Mumbai – Nairobi, menggunakan maskapai India, IndiGo. Secara logika, ini opsi yang cukup masuk akal. Transit hanya sekali di Mumbai, durasi perjalanan tidak terlalu panjang, dan harganya pun relatif lebih murah dibanding opsi lain yang harus transit 2–3 kali. Dari segi efisiensi, harusnya ini pilihan paling ideal.
Tapi entah kenapa… aku agak ragu.
Beberapa waktu terakhir aku cukup sering lihat konten viral di media sosial tentang maskapai-maskapai India. Mulai dari kursi yang goyang, interior yang terlihat kurang terawat, sampai cerita-cerita pengalaman penumpang yang kurang menyenangkan. Awalnya aku anggap biasa aja. Namanya juga internet, kadang suka dibesar-besarkan. Tapi semakin memikirkannya, aku semakin ragu.
Ini bukan sekadar flight pendek 2–3 jam. Ini perjalanan panjang, lintas benua, dan akan jadi langkah pertama menuju sesuatu yang sudah aku tunggu-tunggu. Rasanya aku ingin memulai semuanya dengan lebih tenang. Bukan dengan rasa was-was yang nanti terbawa sampai tujuan.
Ya… mungkin ini bukan soal maskapainya. Aku yakin sebagian besar aman. Ini lebih ke perasaan dan keyakinanku sendiri.
Dari proses pencarian tiket itu, aku mulai menyadari satu hal. Hampir sebagian besar maskapai yang berangkat dari Asia Tenggara tetap akan transit di India terlebih dahulu sebelum melanjutkan penerbangan ke Nairobi. Entah itu lewat Mumbai, Delhi, atau kota besar lainnya.
Aku bolak-balik membandingkan rute, jam transit, harga, dan maskapai. Kadang sudah merasa cocok, tapi pas dicek ulang ada yang kurang sreg. Entah durasinya terlalu panjang, harganya naik tiba-tiba, atau maskapainya kurang meyakinkan. Prosesnya benar-benar trial and error, buka-tutup aplikasi berkali-kali sampai mata rasanya mulai lelah 😅.
Sampai akhirnya… aku menemukan satu kombinasi yang pas.
Delhi – Bahrain (transit) – Nairobi, menggunakan Gulf Air, maskapai dari Bahrain.
Begitu lihat rute ini, aku langsung merasa yakin. Transitnya di Bahrain, salah satu negara di Timur Tengah yang aku belum pernah kunjungi (lumayan bisa menambah jumlah negara yang kukunjungi). Maskapai asal Timur Tengah juga terasa lebih meyakinkan, dan secara keseluruhan lebih bikin tenang. Harganya juga masih masuk akal yakni 2,5 juta rupiah untuk sekali jalan.
Tapi di titik itu, pencarian tiketku belum selesai. Meskipun aku sudah menemukan tiket utama menuju Afrika, aku masih harus menyusun potongan awalnya. Jangan sampai tiket Delhi – Nairobi murah, tapi justru tiket dari Indonesia ke Delhi malah jauh lebih mahal dan merusak semuanya.
Akhirnya aku kembali ke Skyscanner. Kali ini fokusnya berubah. Bukan lagi Indonesia ke Nairobi, tapi bagaimana caranya sampai ke Delhi dengan cara yang tetap masuk akal, baik dari segi harga, waktu, maupun tenaga. Aku kembali membuka berbagai kombinasi, membandingkan rute, jam transit, dan harga, sambil sesekali berhenti hanya untuk memastikan bahwa semua ini masih dalam batas yang bisa aku jalani. Ini harus aku lakukan dengan cepat karena takutnya harga tiket Delhi - Nairobi nanti berubah naik.
Sampai akhirnya, setelah berbagai pertimbangan, mencoba banyak kemungkinan, dan tentu saja sedikit gambling, aku mengambil keputusan. Aku akan berangkat dari Surabaya ke Bangkok pada 8 Maret 2026, kemudian lanjut dari Bangkok ke Delhi pada 10 Maret 2026, dan setelah itu melanjutkan penerbangan dari Delhi ke Bahrain pada 12 Maret 2026. Kenapa jatuhnya malah muter-muter? Wkwkwk.
Sebenarnya ada alasan lain yang membuatku memilih rute mutar-mutar ini. Aku cukup kangen dengan Thailand. Terakhir kali aku ke sana tahun 2019, dan entah kenapa rasanya ingin sedikit bernostalgia, merasakan lagi suasana kota yang familiar sebelum benar-benar masuk ke perjalanan yang lebih liar di Afrika.
India juga begitu. Terakhir kali aku ke sana tahun 2018 waktu ke Kashmir… sudah lama banget ya 😅. Anehnya, di tengah segala keruwetannya, aku justru kangen. Kangen dengan suasananya, dengan hiruk pikuknya, bahkan dengan suara klakson yang seolah nggak pernah berhenti itu... Hihihi. Jadi semakin nggak sabar. Setidaknya dengan beli tiket berangkat ini, aku sudah fix akan berangkat.
Lanjut ke langkah selanjutnya!
***
8 Februari 2026
E-Visa India dulu..
Awal Maret 2026
Dilema Perang...
Dua minggu setelah aku membeli tiket-tiket keberangkatan di atas, semuanya terasa akan berjalan lancar. Aku sudah mulai membayangkan alur perjalananku, dari Surabaya, Bangkok, Delhi, sampai akhirnya menuju Afrika. Rasanya tinggal menunggu hari keberangkatan saja, sambil sesekali membuka kembali detail itinerary dan membayangkan setiap transisinya.
Sampai tiba-tiba muncul berita itu.
Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya. Dalam bayanganku, ini seperti konflik-konflik sebelumnya yang sering muncul di berita—ramai sebentar, lalu perlahan mereda. Aku tetap menjalani hari seperti biasa, hanya sesekali membaca update tanpa benar-benar merasa itu akan berdampak langsung ke perjalananku.
Namun, semakin hari berlalu, beritanya justru semakin gencar. Bukan mereda, tapi semakin intens. Mulai dari kabar serangan balasan, peningkatan eskalasi militer, hingga berbagai pernyataan keras dari masing-masing pihak yang terus bermunculan di media. Berita yang biasanya cepat tenggelam, kali ini justru bertahan dan terus berkembang.
Di titik itu, aku mulai merasa… ini berbeda.
Tanpa sadar aku membuka kembali detail tiketku. Delhi – Bahrain – Nairobi. Transit di Timur Tengah.
Perlahan, rasa tidak nyaman mulai muncul.
Dan kemudian, kekhawatiran itu benar-benar terasa nyata ketika aku membaca kabar bahwa beberapa maskapai besar dari Timur Tengah seperti Emirates dan Etihad mulai membatalkan sejumlah penerbangan mereka. Aku membaca berita itu berulang kali, mencoba memastikan bahwa aku tidak salah paham. Tapi semakin kubaca, semakin jelas bahwa situasinya memang tidak bisa dianggap sepele.
Pikiranku langsung dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana kalau rute yang kupilih ikut terdampak? Bagaimana kalau penerbanganku dibatalkan secara mendadak? Bagaimana kalau aku sudah sampai Delhi, tapi tidak bisa melanjutkan perjalanan ke tahap berikutnya?
Untuk pertama kalinya sejak merencanakan perjalanan ini, aku benar-benar merasa ragu. Bukan karena destinasi, bukan juga karena biaya, tapi karena sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendaliku.








0 comments:
Posting Komentar