Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

1.26.2026

[1] KENYA - TANZANIA 2026 : Kurasa Ini Saatnya AFRIKA !

Suatu hari di Januari 2026..

Seperti rutinitasku setiap tahun, saat libur Idul Fitri, aku selalu merencanakan satu perjalanan jauh. Ini adalah semacam ritual pribadiku. Karena pekerjaanku yang berhubungan erat dengan birokrasi dan kantor pemerintahan, libur Idul Fitri adalah satu-satunya waktu di mana "dunia" benar-benar berhenti mengejarku. Tak ada dering telepon dari klien, tak ada deadline yang membayangi, dan tak ada jadwal presentasi dadakan yang merusak rencana. Di saat semua kantor tutup, itulah saatnya aku benar-benar "hidup". Untuk perjalanan setahun sekali ini, aku mau tempat yang unik, tempat yang memacu andrenalinku. Tahun lalu aku sudah mengunjungi China dan Tibet, perjalanan yang cukup menguras tenaga dan dana, tapi juga meninggalkan banyak kesan yang sudah pasti akan kukenang seumur hidupku. Seperti biasa, setelah satu perjalanan selesai, pertanyaan yang sama selalu datang lagi di kepalaku: tahun depan (2026) akan ke mana?

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, pertanyaan itu tidak langsung punya jawaban. Bahkan, aku sempat mempertimbangkan sesuatu yang jarang kulakukan yaitu tidak ke luar negeri saat libur Idul Fitri 2026. Dalam hati aku berpikir, apa perlu ya jauh-jauh lagi? Mungkin tetap traveling, tapi cukup di dalam negeri saja. Indonesia juga luas, dan jujur saja masih banyak bagian yang belum pernah kueksplor secara detail.

Pikiranku sempat kuat tertuju ke Kalimantan, salah satu pulau terbesar di Indonesia yang belum pernah kukunjungi. Ada sesuatu dari pulau itu yang sejak lama membuatku penasaran. Ada hutan, sungai, desa-desa, dan kehidupan yang terasa lebih pelan. Ada Derawan dengan laut jernihnya dan ubur-ubur Kakaban yang berenang tenang tanpa menyengat. Ada Taman Nasional Tanjung Puting dengan sungai panjang, klotok yang berjalan pelan, dan orangutan di habitatnya. Rasanya menarik jika semua itu dieksplor tanpa buru-buru. Di titik itu, rencana untuk tetap di Indonesia terasa masuk akal—lebih dekat, lebih sederhana, dan mungkin lebih bersahabat untuk kondisiku sekarang. Bahkan aku sudah hampir membeli tiket Surabaya–Tarakan, kota di Kalimantan Utara tempatku berencana memulai perjalanan.

Namun, sembari memantapkan hati, hampir setiap hari aku membuka kembali blog ini.

Aku membaca ulang cerita-cerita perjalanan yang pernah kutulis. Satu per satu. Dari tulisan lama yang masih canggung, sampai cerita yang kutulis dengan lebih jujur dan utuh. Aku melihat lagi daftar negara dan kota yang pernah kukunjungi—tempat-tempat yang dulu terasa begitu jauh, tapi kini hanya tinggal kenangan. Tanpa kusadari, aku berhenti cukup lama di sana.

Dan tiba-tiba aku sadar satu hal.

Inilah warisan hidupku.

Bukan harta, bukan pencapaian yang bisa dipamerkan, tapi cerita. Pengalaman. Jejak langkah yang benar-benar kujalani. Aku telah mengunjungi banyak tempat, pikirku saat itu, dan aku sedikit terharu. Bukan karena sedih, bukan pula karena bangga berlebihan, tapi karena semuanya berawal dari mimpi—dari keinginan kecil yang dulu bahkan terasa mustahil.

Di momen itu aku berkata dalam hati:
aku ingin membuat lebih banyak memori lagi.

Selama badanku masih kuat, selama kakiku masih sanggup melangkah, dan selama danaku masih aman, aku ingin membuat lebih banyak memori—terutama di tempat-tempat yang terasa sulit. Inilah juga alasan kenapa aku memilih Tibet sebagai salah satu tujuanku di tahun 2025. Tibet, seperti kita tahu, berada di ketinggian sekitar 3.600–5.200 mdpl, sebuah elevasi yang sanggup membuat napas terasa pendek dan jantung berdegup lebih kencang hanya karena aktivitas sepele.

Di perjalanan itu, aku membuktikan sendiri bahwa Tibet bukan sekadar destinasi visual, tapi ujian ketahanan. Berada di “Atap Dunia” dengan kadar oksigen yang tipis membuatku benar-benar sadar akan batas tubuhku. Namun justru karena batasan itulah, memori di sana tertanam begitu kuat—seperti saat memandang jajaran pegunungan salju yang agung, rasa lelah mendadak menguap dan berganti dengan rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Bayangkan jika aku terus berpikir, “ah, nanti saja.” Apakah kondisi fisikku di umur sekarang akan sama saat aku berusia 40, 50, atau 60 nanti? Hidup penuh ketidakpastian, kan? Karena itu, selagi tubuhku masih sehat dan tabunganku masih aman, aku memilih mengambil risiko untuk tujuan-tujuan sulit sekarang. Tujuan yang lebih mudah, biarlah menjadi cerita di waktu lain.

Kenapa aku melakukan semua ini?
Agar suatu hari nanti, di masa tua, aku bisa membaca kembali cerita-cerita ini sambil berkebun, merawat rumah kecilku, dan ditemani kucing-kucingku. Cerita-cerita yang bukan sekadar tentang tempat, tapi tentang hidup yang benar-benar dijalani.

Namun, tujuannya kemana? Jujur aku belum tau dan belum bisa memutuskan...

***

Aku lanjut membuka Google Maps. Aku memperbesar dan memperkecil peta dunia, menggesernya ke kiri dan ke kanan. Mencoba melihat, menganalisis. Apa yang terlewat? Apa negara yang sebenarnya bisa kukunjungi, yang benar-benar berbeda dari sebelum-sebelumnya? Di momen sederhana itu aku tiba-tiba sadar, sudah cukup lama aku traveling. Kalau dihitung-hitung, sudah hampir 14 tahun. Waktu yang nggak sebentar.

Pelan-pelan aku mulai mengaitkan semua perjalanan itu di kepalaku. Asia, misalnya. Aku sudah menyusurinya cukup jauh, dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Barat, sampai Asia Tengah. Rusia dan Turki pun pernah kusinggahi, negara-negara unik yang berdiri di dua benua (Eropa dan Asia) sekaligus. Eropa juga sudah, dengan kota-kota tuanya dan ritme hidup yang khas. Amerika pun sudah, baik Amerika Utara maupun Amerika Tengah, dengan nuansa yang sama sekali berbeda. Tanpa pernah benar-benar kumerencanakan, rupanya perjalananku selama ini sudah mewakili beberapa benua di dunia.

Aku berhenti menggeser peta.

Mataku tertahan di satu bagian besar yang terasa kosong. Afrika....

Dalam hati aku bergumam, loh, kenapa belum kepikiran ke sini ya?

Setelah kupikir-pikir, jawabannya bukan karena aku nggak pernah tertarik. Justru sebaliknya. Afrika selalu terasa terlalu besar, terlalu asing, terlalu luas, terlalu “sekali seumur hidup” untuk sekadar jadi rencana spontan, dan jujur bagiku agak sedikit menakutkan. Selama ini aku lebih sering memilih destinasi yang secara logika terasa aman dan familiar. Visanya bisa diurus, rutenya jelas, dan informasinya melimpah. Tapi di fase hidupku sekarang, dengan pertimbangan diatas, aku mulai mempertimbangkan kesini.

Aku juga sadar, ada batasan besar yaitu waktu yang sudah terlalu mepet (tinggal 2 bulan sampai libur lebaran). Aku nggak pengen ribet dengan urusan visa, setidaknya untuk saat ini. Aku juga nggak ingin perjalanan yang terlalu jauh sampai rasanya melelahkan bahkan sebelum berangkat—seperti Amerika Selatan (semoga aku bisa kesini di 2027). Aku ingin perjalanan yang menantang, tapi tetap masuk akal untuk kondisiku sekarang. 

Saat menatap peta Afrika, aku melihat benua yang sangat besar dengan negara-negara yang begitu menarik. Mesir langsung mencuri perhatianku. Negara yang dari dulu sangat ingin kukunjungi. Tapi keinginan itu langsung berbenturan dengan satu hal: kewajiban visa. Aku nggak mau ribet dengan sisa waktu sedikit. Setidaknya bukan sekarang. Itu langsung menggeser pandanganku ke bagian lain Afrika.

Afrika Timur.

Ada Kenya, Tanzania, Uganda, Rwanda, Burundi.

Wow… dalam hati aku bergumam. Dari daftar itu, dua nama di depanlah yang paling sering kudengar. Sisanya jarang sekali. Aku mulai berpikir, kenapa ya harus ke negara-negara ini? Apa yang sebenarnya kucari?

Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Adik kelasku.

Aku ingat pernah melihat IG story-nya beberapa waktu lalu, saat dia mengunjungi Afrika Timur. Yang paling kuingat adalah satu nama. Taman Nasional Serengeti. Aku langsung membuka kembali Instagram-nya, menggulir ke bawah, melihat postingan-postingannya saat melakukan game drive di savana. Jeep terbuka. Hamparan padang rumput sejauh mata memandang. Hewan-hewan liar yang kulihat selama ini hanya di buku dan dokumenter.

Aku melihat singa, gajah, kerbau Afrika, macan tutul, dan badak—lima hewan yang dikenal sebagai Big Five. Aku melihat mereka hidup di habitat alaminya. Bebas. Tenang. Tidak dikurung. Tidak dipertontonkan. Aku melihat bagaimana rantai ekosistem makanan berjalan apa adanya, tanpa intervensi manusia.

Entah kenapa, dadaku terasa penuh.

Ada rasa haru yang sulit kujelaskan. Rasa excited yang berbeda dari biasanya. Dan saat aku melihat foto seekor gajah, menatap lurus ke kamera dengan mata yang begitu dalam, aku terdiam cukup lama. Dalam hati aku berkata pelan, kok rasanya… mengharukan tanpa bisa dijelaskan, ya?

Di momen itulah aku sadar.

Aku harus ke sini 2026 ini.

Bukan nanti. Bukan suatu hari entah kapan. Tapi benar-benar harus.

Tanzania.....dan.. Kenya!

***

Keputusan ini....tentu saja harus ditindaklanjuti dengan langkah nyata. Salah satu langkah nyata yang harus segera kulakukan supaya ini 'pasti' berangkat adalah membeli tiket pesawat keberangkatan kesana. 

0 comments:

Posting Komentar