Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

1.03.2026

Boyolali, 3 Januari 2026: Memilih Masalah

Beberapa tahun ini aku merasa sudah bekerja keras. Dan seperti hukum alam, semakin keras kita bekerja, semakin banyak penghasilan yang kita dapatkan, semakin banyak pula masalah yang ikut menyertainya. Tanggung jawab bertambah, ekspektasi meningkat, orang-orang mulai datang dengan kebutuhan dan permintaan mereka. Masalah tidak lagi datang satu per satu, tapi berlapis-lapis, saling tumpang tindih.

Ada satu titik di mana aku benar-benar muak. Muak dengan semua pekerjaan itu, muak dengan ritmenya, muak dengan kebisingan yang tidak pernah berhenti. Aku ingin melepas semuanya. Aku ingin hidup tanpa diganggu apa pun. Hidup tanpa masalah. Bukankah itu terdengar sangat menyenangkan? Bangun tidur tanpa agenda berat, mandi dengan tenang, memasak untuk diri sendiri, ngopi tanpa memikirkan jam berapa harus buka laptop, membaca buku, berolahraga, menonton film, tanpa ada pesan masuk yang menuntut, tanpa ada konflik yang harus dibereskan. Setelah bertahun-tahun bekerja keras, rasanya aku pantas mendapatkan hidup seperti itu. Entah hanya beberapa bulan, atau mungkin selamanya. Aku sendiri tidak tahu.

Fase ini membuatku sangat sensitif. Sensitif terhadap setiap permintaan bantuan, seolah-olah itu hanyalah beban tambahan. Sensitif ketika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana. Sensitif terhadap serangan, kritik, atau bahkan sekadar komentar orang lain. Rasanya semua itu hanya menambah masalah dalam hidupku, bukan memperkaya. Aku lelah terus menjadi orang yang 'harus kuat'. Sampai suatu hari aku membaca sebuah buku tentang seni untuk bersikap bodo amat karya Mark Manson. Bodo amat? Kesan pertamaku sebenarnya agak buruk, kok seakan-akan mau cuek dengan kehidupan? Namun semakin aku membaca lembar demi lembar, definisi bodo amat menurut Mark Manson ternyata berbeda. Bodo amat disini bukan dalam arti cuek tanpa hati, tapi dalam arti memilih dengan sadar. Bodo amat disini adalah memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan, dan mau mengambil tindakan. Dan di situlah aku mendapatkan satu pencerahan sederhana tapi jujur, yaitu selama kita hidup, masalah akan terus ada. Tidak peduli kita bekerja keras atau memilih hidup sederhana, masalah tidak pernah benar-benar menghilang—yang berubah hanyalah bentuknya.

Kupikir-pikir, benar juga ya. Pada tahun-tahun ketika aku masih bekerja keras dengan deadline yang bertumpuk, aku mengira sumber lelahku adalah pekerjaan. Kupikir, kalau pekerjaan dikurangi, hidup akan otomatis menjadi lebih ringan.

Nyatanya tidak sesederhana itu. Ketika aku mulai mengurangi drastis jumlah pekerjaanku, masalah tidak menghilang, namun ia hanya berganti wajah. Masalah keluarga muncul ke permukaan. Amarah yang dulu tertahan mulai terasa. Hal-hal pribadi yang selama ini tertutup kesibukan justru meminta perhatian. Otakku malah seperti.. mencari-cari masalah! Aku mulai menyadari bahwa pekerjaan bukan satu-satunya sumber masalah; ia hanya salah satu bentuknya.

Disinilah aku sadar, selama kita hidup, masalah tidak akan pernah benar-benar habis. Satu selesai, yang lain muncul. Kadang kecil dan sepele, kadang besar dan melelahkan. Masalah bukan sesuatu yang datang karena kita salah hidup, tapi justru karena kita hidup. Selama kita bernapas, berpikir, dan berinteraksi dengan dunia, selama itu pula masalah akan selalu ikut hadir sebagai bagian dari perjalanan. Yang sering tidak kita sadari adalah: umur kita terbatas. Energi kita juga terbatas. Waktu kita tidak sebanyak yang kita bayangkan. Tapi kita sering bertindak seolah-olah punya persediaan tanpa ujung—menghabiskan pikiran untuk hal-hal yang sebenarnya tidak membawa kita ke mana-mana. Kita marah pada hal yang tak bisa kita kendalikan, terpancing oleh ego orang lain, terseret konflik yang tidak pernah kita pilih dengan sadar.

Padahal, hidup ini bukan soal menghilangkan semua masalah. Itu mustahil. Hidup adalah soal memilih masalah mana yang layak kita perjuangkan. Masalah mana yang, ketika kita hadapi dan selesaikan, benar-benar membawa kita bertumbuh. Masalah mana yang membuat kita lebih jujur pada diri sendiri, lebih matang, lebih damai, atau lebih dekat dengan hidup yang kita inginkan.

Tidak semua masalah pantas mendapat energi kita. Ada masalah yang jika diselesaikan, hanya memuaskan ego sesaat. Ada konflik yang jika dimenangkan, tidak menambah makna apa pun dalam hidup. Ada kekhawatiran yang kita rawat bertahun-tahun, padahal dampaknya nol. Menghabiskan energi di sana bukan tanda kuat, melainkan tanda boros. Penyelesaian masalah yang tepat selalu membawa kebahagiaan yang tenang.

Bukan euforia besar, tapi rasa lega. Rasa lapang. Rasa “aku sudah melakukan bagian yang memang perlu aku lakukan”. Kebahagiaan semacam ini tidak berisik, tapi menumbuhkan. Ia membuat hidup terasa maju, meski perlahan.
Karena itu, memilih masalah adalah keterampilan hidup. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah masalah ini layak diperjuangkan? Apakah ia membawa aku lebih dekat ke versi diriku yang lebih baik? Apakah ia akan masih relevan lima tahun lagi? Jika jawabannya tidak, mungkin masalah itu tidak perlu diselesaikan, cukup dilepaskan.

Menghemat energi bukan berarti menyerah. Justru sebaliknya. Menghemat energi adalah bentuk tanggung jawab pada hidup kita sendiri. Kita memilih dengan sadar ke mana tenaga, waktu, dan perhatian kita diarahkan. Kita berhenti membuktikan diri pada dunia, dan mulai merawat arah hidup kita sendiri.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak masalah yang kita hadapi, tapi tentang masalah mana yang kita pilih untuk diselesaikan. Karena di sanalah pertumbuhan terjadi. Di sanalah kebahagiaan yang sederhana tapi nyata bisa kita temukan—bukan karena hidup bebas masalah, tapi karena kita hidup dengan pilihan yang lebih bijak.

0 comments:

Posting Komentar