Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Maluku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maluku. Tampilkan semua postingan

3.09.2025

[3] Ambon - Ora : Kota Ambon, Rujak Natsepa dan Kepulangan (Finished)

Teluk Ambon...


Desa Mata Air Belanda, 1 Januari 2018

Pagi itu, embun belum sepenuhnya menguap dan matahari masih mengintip malu-malu ketika kami sudah bersiap untuk kembali menuju Desa Saleman. Suara ombak yang memecah keheningan subuh menemani langkah kami menuju dermaga kecil tempat bapak kapal sudah menunggu. Ada sesuatu yang selalu bikin berat setiap kali harus meninggalkan tempat seindah ini. Tapi perjalanan harus terus berlanjut. 

Kami menaiki kapal kayu yang selama beberapa hari terakhir telah menjadi bagian dari petualangan kami. Mesin kapal meraung pelan, lalu perlahan mulai bergerak meninggalkan keheningan desa, melintasi perairan yang tenang di bawah langit yang masih berwarna jingga. Angin laut mengusap wajah kami, membawa aroma asin yang khas—aroma yang akan selalu mengingatkan kami pada tempat ini.

Selama perjalanan menuju Desa Saleman, kami lebih banyak diam. Mungkin karena masih mengantuk, mungkin juga karena masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ada rasa sayang untuk pergi, tapi juga ada semacam kesadaran bahwa setiap perjalanan memang harus punya akhirnya.

Sesampainya di Desa Saleman, bapak driver yang kemarin mengantar kami sudah menunggu dengan mobilnya. Kami tidak bisa berlama-lama, waktu terus berjalan, dan kami harus memastikan semuanya sesuai rencana. Pelabuhan Amahai masih cukup jauh, dan kami berencana naik kapal cepat menuju Ambon yang dijadwalkan berangkat pukul 08.00 WIT. Tak ada ruang untuk kesalahan atau keterlambatan, atau resikonya ketinggalan pesawat.

Perjalanan darat terasa lebih cepat dari sebelumnya, mungkin karena kami sudah melaluinya sebelumnya. Setiap tikungan, setiap jembatan yang kami lewati, rasanya seperti menandai kedekatan kami dengan "peradaban". Dan akhirnya, setelah hampir satu jam perjalanan, kami telah mendekati kota Amahai. Hal pertama yang langsung kami lakukan adalah..... mengecek ponsel masing-masing. Tiba-tiba, dunia kembali terasa ramai. Notifikasi pesan mulai berdatangan, update dari dunia luar yang sempat terputus selama kami di sana. 

Begitu sampai Pelabuhan Amahai, tanpa menunggu lama kami segera menuju ke loket pembelian tiket. Ternyata hari itu cukup banyak masyarakat lokal yang hendak menuju Ambon.  Awalnya, semuanya tampak berjalan lancar. Kami berdiri dalam antrean yang tertib, membentuk barisan yang memanjang ke belakang seperti seharusnya sementara menunggu loket dibuka.

Tapi rupanya, kedamaian itu tak bertahan lama. Begitu loket dibuka, entah dari mana, orang-orang mulai menyerbu dari segala arah—kanan, kiri, bahkan dari belakang. Barisan yang tadinya rapi tiba-tiba berubah menjadi lautan manusia yang bergerak tanpa aturan. Dorongan demi dorongan membuat kami nyaris kehilangan tempat. Aku heran. Bukankah sudah ada antrean yang jelas? Kenapa tiba-tiba banyak yang menyerobot dari samping? Huft, benar-benar tidak tertib. Seakan-akan aturan antrean itu hanya formalitas awal sebelum semuanya berubah menjadi siapa yang paling kuat dan cepat, dialah yang menang.

Kami tak mau kalah. Dengan segala daya upaya, kami mempertahankan posisi, berusaha tidak terdorong ke samping. Beberapa kali kaki hampir terinjak, tapi semangat dan keharusan untuk tetap mendapatkan tiket membuat kami bertahan. Untunglah perjuangan itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa menit menahan dorongan, masing-masing dari kami akhirnya berhasil menggenggam tiket di tangan. Dengan napas sedikit terengah, kami berjalan menjauh dari kerumunan, merasa lega karena satu langkah penting sudah berhasil dilalui.

"Cari sarapan dulu yuk," kataku ke mereka. 

"Boleh, yuk," jawab mereka.

Seperti kuceritakan sebelumnya, perjalanan Pelabuhan Amahai ke Pelabuhan Tulehu bakal menempuh waktu 3-4 jam. Ini penting banget bagi kami untuk mencari sarapan dulu supaya perut tidak kosong dan berakibat bisa mabuk laut.

Pelabuhan Amahai, Pulau Seram

Tidak lama kemudian kami sudah diperbolehkan masuk kapal. Kali ini, mungkin karena laut cukup tenang, perjalanan kembali ke Ambon ditempuh hanya dalam 3 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan pikiranku masih melayang-layang mengenang tiga hari terakhir—memutar ulang setiap momen, dari keindahan alam yang kami jelajahi. Serta rasa puas yang entah kenapa datang setiap kali aku memikirkan bahwa aku mengawali tahun 2018 ini dengan mengunjungi tempat yang sangat indah!

Kapal Express Bahari Rute Pelabuhan Amahai - Pelabuhan Tulehu

Sekitar pukul 11 siang, akhirnya kapal kami - Express Bahari 9C - merapat di Pelabuhan Tulehu, Ambon. Kami telah resmi kembali ke hiruk-pikuk perkotaan. Dari suasana tenang dan alami di pulau, kini kami kembali ke dunia yang lebih ramai, lebih sibuk, dan lebih bising. Sebelum memutuskan langkah selanjutnya, kami memutuskan untuk makan siang di area pelabuhan. Setelah perjalanan panjang, rasanya makanan di depan kami terasa lebih nikmat.

Selesai makan, sekitar jam 11.30 kami bersiap memulai eksplorasi Kota Ambon. Tujuan pertama kami adalah Pantai Natsepa, salah satu pantai yang terkenal di timur Kota Ambon, terutama dengan rujak Natsepa yang legendaris. Dari pelabuhan, kami naik angkot dengan musik menggelegar—ciri khas transportasi di Ambon, yang selalu memberikan hiburan sepanjang perjalanan. Begitu sampai di Natsepa, suasana terlihat cukup ramai. Banyak keluarga dan anak-anak berenang di tepi laut, beberapa orang duduk santai di bawah pohon sambil menikmati makanan, dan yang lainnya berjalan di sepanjang garis pantai. Angin sepoi-sepoi dari laut membawa hawa sejuk meskipun matahari masih cukup terik.

Pantai Natsepa, Ambon

Pantai Natsepa, Ambon

Air lautnya tampak jernih dengan gradasi warna biru muda dan biru tua, sementara pasirnya berwarna putih kecoklatan, lembut di kaki. Di sepanjang pantai, banyak penjual makanan dan minuman berjejer di bawah tenda-tenda sederhana. Sangat berbeda dengan Ora yang kami kunjungi sebelumnya yang lebih sepi dan alami, di sini nuansa wisata lebih terasa—dengan penjual es, pentol, Pop Mie, dan berbagai jajanan khas lainnya yang menggoda selera. Khas Indonesia banget ya hehehehe... Tapi itu menyenangkan, karena banyak pilihan jajanan😁.

Pedagang yang menjajakan dagangannya di sepanjang Pantai Natsepa, Ambon

Pemandangan sekitar Pantai Natsepa, Ambon

Tentu saja, sudah sampai sini, kami tidak mau melewatkan kesempatan untuk mencoba rujak Natsepa yang sudah terkenal. Kami mendekati salah satu penjual dan memesan satu porsi. Harganya cukup murah, hanya Rp7.000 per porsi. Ketika rujaknya disajikan, tampilannya langsung menggugah selera. Dalam satu piring besar, ada potongan berbagai macam buah segar seperti mangga muda, nanas, pepaya, bengkuang, kedondong, dan jambu air. Yang membuatnya khas adalah bumbu rujaknya—berwarna coklat pekat, kental, dan menggoda dengan aroma khas gula merah dan kacang tanah yang diulek halus. Aku memakannya berdua dengan Fredo karena porsinya cukup besar.

Rujak Natsepa dengan sambelnya yang khas

Begitu suapan pertama masuk ke mulut rasanya langsung unik dan nikmat. Kombinasi manis dari gula merah, sedikit asin dari garam, pedas dari cabai, dan gurih dari kacang menciptakan harmoni rasa yang sempurna. Ditambah dengan buah-buahan segar yang renyah dan asam-manis, sensasinya benar-benar segar. Kami menikmati setiap gigitan sambil duduk di tepi pantai, menikmati pemandangan laut yang luas dan deburan ombak yang menenangkan. Angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin nyaman.

"Enak ya sambelnya ini, khas banget," kataku ke Fredo.

"Iyo setuju."

Dari Pantai Natsepa, karena waktu kami terbatas, kami memutuskan langsung bergeser ke tempat selanjutnya. Sebenarnya kami masing-masing tidak ada klue mau mengunjungi mana lagi. Berbekal sedikit browsing di Google Maps, aku menemukan area ini, Patung Pattimura - Monumen Gong Perdamaian Dunia - Lapangan Merdeka - Benteng Nieuw Victoria - Kantor Gubernur Maluku - Kantor Walikota Ambon yang terletak di satu kawasan yang sama, yaitu di sekitar Lapangan Merdeka. Aku rasa ini sangat cocok dikunjungi mengingat waktu kita yang mepet. Akhirnya, kami sepakat untuk ke sana dengan naik angkot.

Sebagian wisata Kota Ambon terletak di titik ini. Jika punya waktu transit yang singkat di Kota Ambon bisa mengunjungi tempat ini.

Dalam perjalanan, kami melewati Jembatan Merah Putih, jembatan ikonik yang membentang di atas Teluk Ambon. Dari dalam angkot, kami bisa melihat betapa megahnya jembatan ini, menghubungkan dua sisi kota dan menjadi salah satu landmark utama di Ambon. Jembatan ini juga punya makna historis, melambangkan persatuan dan rekonsiliasi pasca-konflik yang pernah melanda Ambon di masa lalu.

Jembatan Merah Putih, Ambon 

Sumber Gambar : disini

Lalu lintas di Kota Ambon

Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk sampai di pemberhentian pertama, Patung Pattimura. Monumen ini didirikan pada 14 Mei 1982 untuk mengenang jasa-jasa pahlawan nasional, Thomas Matulessy (atau lebih dikenal dengan nama Pattimura), dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Monumen ini menjadi simbol penghormatan atas perjuangan dan keberanian Pattimura dalam memimpin perlawanan rakyat Maluku pada tahun 1817. "Pattimura" sendiri adalah nama gelar atau julukan yang diberikan oleh masyarakat setempat yang berarti "pejuang" atau "pemimpin perlawanan"Ia memimpin perjuangan dengan berani melawan pasukan Belanda yang lebih besar dan lebih kuat. Meskipun akhirnya perlawanan Pattimura kalah, namun semangat juangnya tetap dikenang sebagai simbol perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia.

Monumen Pattimura

Jasa besar Pattimura untuk Indonesia adalah perlawanan terhadap penjajahan Belanda, serta inspirasi yang ia berikan kepada bangsa Indonesia untuk terus berjuang hingga meraih kemerdekaan. Di monumen ini, kami bisa merasakan semangat perjuangan dan keberanian Pattimura yang luar biasa.

Jalanan di Kota Ambon, di sekitar Monumen Gong Perdamaian Dunia

Dari Monumen Pattimura, kami bergeser ke arah barat menuju Monumen Gong Perdamaian Dunia. Monumen ini didirikan sebagai pengingat akan pentingnya hidup berdampingan dengan harmonis setelah konflik sosial yang pernah terjadi di Maluku. Monumen ini berbentuk gong besar dengan diameter sekitar 2 meter, dihiasi berbagai simbol agama dan bendera dari banyak negara di dunia, menandakan semangat perdamaian universal. Gong ini ditempatkan di tengah alun-alun yang cukup luas, dengan latar belakang kota Ambon yang terlihat jelas. Di bagian bawahnya, terdapat tulisan "World Peace Gong", sebuah pengingat akan pentingnya persatuan dan toleransi. Bagiku, Fredo dan Arin, tentulah ini menjadi Gong Perdamaian kedua yang kami kunjungi. Gong Perdamaian pertama kami adalah yang kami kunjungi di Kupang, Nusa Tenggara Timur, saat kami traveling di tahun 2014 lalu.

Monumen Gong Perdamaian Dunia

FYI di Indonesia sendiri, terdapat beberapa Monumen Gong Perdamaian Dunia yang tersebar di berbagai kota. Gong Perdamaian ini merupakan simbol persatuan dan harmoni, mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kedamaian. Berikut adalah beberapa lokasi Gong Perdamaian di Indonesia:

  1. Gong Perdamaian Dunia – Ambon, Maluku

    • Diresmikan pada tahun 2009 setelah konflik sosial di Maluku.
    • Menjadi simbol perdamaian dan toleransi antarumat beragama.
  2. Gong Perdamaian Dunia – Palu, Sulawesi Tengah

    • Diresmikan pada tahun 2009.
    • Berada di Kota Palu sebagai simbol perdamaian pasca-konflik di Poso dan sekitarnya.
  3. Gong Perdamaian Dunia – Jepara, Jawa Tengah

    • Berada di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji.
    • Dibangun di kawasan wisata Gong Perdamaian Dunia, Jepara.
  4. Gong Perdamaian Dunia – Yogyakarta

    • Berlokasi di Taman Balai Kota Yogyakarta.
    • Simbol keberagaman dan toleransi di kota budaya ini.
  5. Gong Perdamaian Dunia – Bali

    • Berada di Kertalangu Cultural Village, Denpasar.
    • Simbol perdamaian yang menguatkan Bali sebagai destinasi wisata dunia.
  6. Gong Perdamaian Dunia – Blitar, Jawa Timur

    • Diresmikan pada tahun 2013.
    • Terletak di kawasan makam Presiden Soekarno, menambah nilai historisnya.
  7. Gong Perdamaian Dunia – Morowali, Sulawesi Tengah

    • Dibangun untuk memperkuat semangat toleransi dan persaudaraan di daerah ini.

Totalnya ada setidaknya 7 monumen Gong Perdamaian di Indonesia, yang semuanya memiliki tujuan sama—mengingatkan pentingnya persatuan, toleransi, dan perdamaian di tengah keberagaman bangsa.

Berpose dengan Monumen Gong Perdamaian Dunia

Dari Gong Perdamaian, kami hanya perlu berjalan kaki sebentar ke Tulisan "AMBON MANISE" besar yang juga menjadi ikon kota ini. Tulisan ini cukup mencolok, berwarna merah terang dan berdiri kokoh di area terbuka. Lagi-lagi, ini jadi spot foto wajib. "Ambon Manise" sendiri adalah sebuah frasa dalam bahasa Indonesia yang berarti "Ambon yang cantik" atau "Ambon yang manis." Frasa ini biasanya digunakan untuk menggambarkan keindahan alam atau karakteristik yang menarik dari kota Ambon, yang terletak di Provinsi Maluku. "Manise" sendiri dalam bahasa setempat berarti "cantik" atau "indah." Jadi, frasa ini mencerminkan kesan positif terhadap kota Ambon, yang terkenal dengan pemandangan alamnya yang memukau dan keramahan penduduknya.

Berpose dengan "AMBON MANISE"

Di sekitar area ini, juga terdapat Kantor Gubernur Maluku dan Kantor Wali Kota Ambon. Bangunan-bangunan ini berdiri megah dengan arsitektur khas pemerintahan yang cukup modern. Meskipun kami tidak masuk ke dalam, melihat dari luar saja sudah cukup untuk merasakan atmosfer Kota Ambon.

Kantor Gubernur Provinsi Maluku. Didepannya adalah Lapangan Merdeka.

Kantor Walikota Ambon. Didepannya adalah Lapangan Merdeka.

Setelah puas berfoto dan menikmati suasana pusat kota, kami sadar bahwa waktu sudah semakin sore sehingga harus segera ke tempat selanjutnya, yaitu rumah Om Arin. Btw Arin memang punya om yang berdomisili di Kota Ambon. Sejak awal tahu kalau Arin dan Mbak Hayu akan ke sini, beliau sudah berpesan agar mereka mampir ke rumah. Sekarang sudah jam 14.30, dan dengan jadwal penerbangan kami yang jam 16.30, artinya kami masih punya spare waktu 2 jam. Tapi sebelumnya masing-masing dari kami sudah melakukan web check-in untuk meminimalisir jika terburu-buru. Rencana Om Arin juga yang akan mengantarkan kita berempat ke Bandara Pattimura dari rumahnya.

Bertanya-tanya kepada warga lokal, untuk naik angkot menuju ke arah rumahnya Om Arin, kami disarankan naik kapal dahulu untuk menyeberang dari lokasi kami (Ambon bagian selatan) untuk menuju ke Ambon bagian Utara; baru disambung naik angkot.

Penyeberangan kami yang garis merah. Cukup menghemat waktu.

Seperti diketahui, Kota Ambon terbagi menjadi bagian Utara dan Selatan, yang dipisahkan oleh Teluk Ambon. Selain melalui Jembatan Merah Putih, masyarakat juga bisa menggunakan kapal lokal atau perahu motor (speedboat dan ketinting) untuk menyeberang dari satu sisi ke sisi lainnya. Kami mendapatkan info dari orang lokal. Transportasi ini biasanya lebih cepat dan murah, terutama bagi mereka yang ingin menghindari kemacetan atau menghemat waktu perjalanan dibanding harus memutar jauh lewat Jembatan Merah Putih. Bagi kami, naik kapal lokal ini juga bisa menjadi pengalaman menarik untuk melihat pemandangan Teluk Ambon.

Kami tiba di Pelabuhan Lateri, di mana deretan kapal motor berwarna-warni bersandar di tepi dermaga. Suasananya cukup ramai—beberapa warga lokal tampak menunggu giliran, ada yang membawa barang belanjaan, ada juga anak-anak sekolah yang baru pulang. Aroma khas laut bercampur dengan bau solar dari mesin kapal yang menyala.

Suasana di sekitar Pelabuhan Lateri

Begitu kapal kami siap berangkat, kami segera naik dan memilih tempat duduk di bagian belakang agar lebih leluasa menikmati pemandangan. Tak lama, derungan mesin kapal terdengar menggelegar, menggema di atas permukaan air teluk yang tenang. Perlahan kapal mulai bergerak, membelah lautan biru dengan riak kecil yang terbentuk di belakangnya. Angin laut bertiup sepoi-sepoi, memberikan rasa segar di tengah teriknya matahari sore. Dari kejauhan, Jembatan Merah Putih tampak megah membentang, menghubungkan dua sisi kota yang dipisahkan teluk. Di sepanjang perjalanan, kami juga bisa melihat perahu nelayan kecil yang terapung-apung, serta beberapa rumah panggung di tepi pantai dengan perbukitan hijau sebagai latarnya.

Pemandangan Teluk Ambon dari kapal penyeberangan

Pemandangan Teluk Ambon dari kapal penyeberangan

Tak sampai 15 menit, kapal sudah mulai mendekati dermaga di seberang (Dermaga Wayame). Mesin kapal perlahan mengurangi kecepatan, suara deruannya melemah seiring kapal bersandar. Kami segera turun dan mengabadikan beberapa memori dalam bentuk foto berlatar Teluk Ambon.

Dermaga Wayame

Dari sini kami langsung bergegas naik angkot ke rumah Om-nya Arin. Tidak butuh waktu lama untuk sampai, dan ternyata disana kami sudah ditunggu oleh Om-nya Arin dan disambut dengan ramah. Aku dan Fredo juga sempat memperkenalkan diri. Setelahnya beliau banyak ngobrol dengan Arin dan Mabk Hayu. Mungkin lama ga ketemu jadinya pangling dan banyak topik yang diceritakan satu sama lain. Tidak lama kemudian Om-nya Arin meminta  kami untuk segera bersiap karena harus sudah berangkat. Di dalam mobil, kami berbincang-bincang ringan, merasa sedikit sayang meninggalkan Ambon, tapi juga merasa senang bisa pulang dengan kenangan yang begitu berkesan.

Angkot Kota Ambon yang berjasa mengantarkan kita keliling kota

Setelah melewati jalan-jalan kota Ambon, kami tiba di Bandara Pattimura sekitar pukul 15.30 sore. Begitu turun dari mobil, kami berpamitan dengan Om Arin, berterima kasih sekali lagi atas bantuan dan kebaikannya. Kami langsung masuk untuk check-in dan mengurus segala kebutuhan sebelum keberangkatan. 

Tidak menunggu lama, kami dipersilahkan boarding dan pesawat lepas landas perlahan meninggalkan Ambon, meninggalkan teluk yang indah dan seluruh kenangan yang akan selalu kami simpan. Menurut jadwal, kami akan landing di Makassar jam 18.30. Dari Makassar, kami berempat akan terbang ke tujuan masing-masing yaitu Aku dan Arin ke Surabaya, Fredo ke Yogyakarta dan Mbak Hayu ke Jakarta. Sesuai formasi awal sewaktu kami tiba disini hehehe...

Bye Ambon! I'll see you soon!


Surabaya, 1 Januari 2018

Singkat cerita, setelah transit kurang lebih 1 jam di Makassar, jam 8 atau 9 malam, aku dan Arin tiba di Surabaya. Begitu turun dari pesawat, kami langsung disambut oleh suasana kota yang sudah kembali sibuk dengan lalu lintas yang padat dan asap kendaraan yang khas. Here we go, kenyataan menanti di depan mata. Besok aku dan Arin - dimana kami bekerja di kantor yang sama - sudah harus kembali bekerja. Kami memesan grab menuju kos dan bersiap untuk kembali ke rutinitas sehari-hari. Dengan rasa lelah tentunya, tapi juga penuh semangat untuk menghadapi hari baru setelah petualangan yang luar biasa di awal tahun 2018 ini.

FINISHED...

3.08.2025

[2] Ambon - Ora : Pantai ORA, Primadona Pulau Seram!

Part Sebelumnya : Disini

Making memories together di Resort Ora..

Desa Mata Air Belanda, Pulau Seram, 31 Desember 2017

Aku terbangun perlahan saat jam di ponselku menunjukkan pukul tujuh pagi. Udara sejuk menyelusup ke dalam penginapan, membawa aroma asin laut yang samar. Aku menarik selimut sebentar, menikmati kehangatan sisa tidur sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menuju luar kamar.

Matahari sudah naik, tapi sinarnya masih lembut, hanya memberi semburat keemasan di ujung cakrawala. Angin pagi bertiup pelan, membelai wajahku dengan kesejukan yang sedikit dingin. Di kejauhan, suara air laut berulang kali menghempas pasir putih dengan ritme yang tenang. Aku menghirup udara dalam-dalam. Suara burung-burung kecil dari pepohonan di belakang penginapan menambah ketenangan pagi itu. Tak ada hiruk-pikuk, hanya suara alam yang berpadu sempurna—hembusan angin, ombak yang malas menyapa daratan. Penginapanku berbentuk penginapan yg selalu kuidam-idamkan tentang rumah di pinggir pantai, di depannya langsung pantai dangkal yang luas dan pemandangannya? Tidak perlu kata-kata untuk menggambarkannya, setiap sudutnya seperti lukisan hidup yang memanjakan mata. 

Suasana pagi hari di Desa Mata Air Belanda yang penuh ketenangan. Tiada suara lain selain deburan ringan ombak yang penuh irama dan siulan burung.

Pantai bersih, dangkal dan arusnya tenang di depan Desa Mata Air Belanda

Pandanganku tertuju pada Arin, travelmate-ku, yang sudah lebih dulu duduk di gubuk kecil depan penginapan. Ia tampak asyik membaca buku, sesekali membalik halaman dengan tenang. Aku berjalan ke arahnya, membiarkan kaki menyentuh pasir pantai yang masih dingin sisa embun malam. Teksturnya lembut di bawah telapak kakiku, sedikit lembap, seperti belum sepenuhnya tersentuh hangatnya matahari pagi.

Tanpa banyak bicara, aku duduk di sebelahnya, menikmati suasana. Setelah beberapa saat, Fredo dan Mbak Hayu terlihat keluar dari kamar juga. Agenda kami hari ini adalah akan mengunjungi pantai dan resort Ora, sebagai salah satu tujuan primadona disini. Namun kemarin sore bapak pemilik kapal bilang bahwa akan datang menjemput kami jam 10 pagi. 

"Ada yang mau ngopi nggak?" Tanyaku riang. Karena suasana pagi ini akan lebih sempurna dengan sesapan kopi.

"Mau dong," jawab Arin.

"Mau juga," jawab Fredo.

Aku bangkit dan berjalan ke rumah pemilik penginapan, melihat pemiliknya yang sedang sibuk di dapur kecil. Sepertinya menyiapkan sarapan pagi untuk kami. Kami memang mengambil paket sarapan karena disini agak susah untuk mencari makan sendiri.

"Permisi mama, boleh minta air panas? Untuk buat kopi mama" tanyaku. 

"Oh iya ada kak. Tunggu sebentar ya. Nanti kami antarin," jawab mama dengan sopan.

Tidak butuh waktu lama mama kembali datang membawa seteko air panas. Beberapa gelas kopi segera kami buat. Pagi itu suasana terasa menyenangkan dan kegiatan kami isi dengan ngobrol banyak topik . Menurutku memang traveling nggak wajib diisi dengan jalan-jalan terus. Banyak hal yang bisa kita lakukan selama traveling, bahkan hal tersebut sebenarnya mirip dengan aktivitas kita sehari-hari sewaktu tidak traveling. Seperti memasak, minum kopi, baca buku, mainan air, ejek-ejekan. Yang membedakan adalah... Suasananya... Ritmenya... Atmosfernya...


Tidak menunggu lama, mama pemilik penginapan membawakan kami sarapan pagi. Menunya cukup sederhana namun terasa sangat nikmat, nasi sayur, sambal dan ikan goreng. Setelah ngopi dan sarapan, aku, Fredo, Arin, dan Mbak Hayu mendapat informasi menarik dari pemilik penginapan. Katanya, setiap pagi, mata air Belanda akan meninggi hingga airnya meluap ke pasir pantai. 

"Itu bisa langsung diminum kok kak, bersih airnya. Kakak bisa lihat disana, nanti sebentar lagi muncul dari pasir airnya. Tapi dia cuma muncul sebentar aja kak, satu jam-an" tambah mama pemilik penginapan.

Tanpa pikir panjang, kami langsung bergegas menuju pesisir pantai. Sesampainya di sana dan menunggu sejenak, kami melihat sendiri bagaimana pusaran kecil air jernih itu perlahan-lahan mulai muncul dari dalam pasir, mengalir lembut menuju laut. Lima menit menunggu, sepuluh menit menunggu, dua puluh menit menunggu, kami semakin antusias karena volume mata air yang keluar dari pasir semakin banyak. Fredo segera mengambil botol air minum Club yang kosong, mengisinya dengan mata air segar itu, lalu kami bergantian meneguknya. Dingin, segar, dan benar-benar tidak ada rasa seperti air mineral kemasan! 

Sesuai penuturan Mama pemilik penginapan, mendekati jam 10, debit mata air itu mulai berkurang... berkurang... dan berkurang. Lama kelamaan, sudah tidak ada lagi air bersih yang keluar. Yaa... pertunjukan pun akhirnya berakhir, hehehe. Untungnya, tidak butuh waktu lama, bapak kapal sudah datang menjemput kami. Tepat pukul 10, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Hari ini, kami akan menuju Pantai Ora. Benar-benar nggak sabar untuk segera sampai dan menikmati keindahannya.

Perjalanan ke Pantai Ora hanya memakan waktu sekitar 15 menit, tapi rasanya seperti melayang di atas lautan biru kehijauan yang begitu bening. Sesampainya di sana, aku langsung dibuat takjub. Pantai Ora ini benar-benar seperti Maldives-nya Indonesia! Resort apung, salah satu ikon terkenal, tampak jelas di depan mata dengan warna coklat yang kontras dengan keindahan warna laut di sekitarnya. Air laut yang berwarna biru kehijauan begitu jernih, sehingga dasar laut yang penuh dengan karang berwarna gelap bisa terlihat jelas dari atas perahu. Resort dan lautan ini dikelilingi oleh perbukitan yang meliuk-liuk indah dan berwarna hijau tosca.

Sambutan pemandangan di Resort Ora...

Sambutan pemandangan di Resort Ora...Tidak bisa berkata-kata...

Wow.. Just Wow...

Bapak kapal akhirnya menurunkan kami di dermaga kecil milik Resort Ora. Dermaga itu bercabang menjadi dua, masing-masing dihubungkan ke bungalow yang sengaja dibangun untuk para pengunjung yang ingin berfoto-foto.

Dermaga Resort Ora..

"Registrasi dulu disana ya kak. Nanti bayar dulu untuk tiket masuk dan berenang. Bisa sewa alat snorkeling dan pelampung juga," pesan bapak kapal.

Resort Ora ini sendiri terletak tepat di tepi pantai, menawarkan pilihan akomodasi baik yang berada di pesisir pantai maupun hotel apung yang mengapung di atas laut. Hotel apung tersebut terlihat dihubungkan oleh jembatan kayu yang tembus ke pesisir pantai, memberikan kesan fotogenik yang selama ini dicari traveler ketika berkunjung kesini. Untuk para pengunjung yang hendak berenang dan berfoto-foto, kami masih diizinkan untuk berfoto dengan hotel yang ada di pesisir, namun tidak diperkenankan untuk memasuki hotel apung via jembatan kayu karena itu khusus untuk tamu hotel apung saja.

'Tenang dan damai banget pasti ya nginap di hotel apung itu', kataku dalam hati. Hihihi.. next time lah..

Kami berjalan menuju bagian registrasi resort yang terletak di ujung dermaga. Kami membayar Rp 25.000 per-orang untuk tiket berenang dan foto-foto. Selain itu aku juga sewa alat snorkel dan pelampung seharga Rp 50.000. Cukup terjangkau sih menurutku.

"Sebelum renang kita foto-foto dulu yuk, biar ga keliatan basah," usulku ke Fredo, Arin, dan Mbak Hayu.

"Setujuu, ayoo!" Jawab Fredo.

Kami berjalan kembali ke bungalow dekat kami diturunkan bapak kapal tadi. Disitu terdapat sebuah kursi yang menjadi spot foto dengan background yang sempurna, yaitu laut biru kehijauan, hotel apung, dan perbukitan hijau yang puncaknya tertutup kabut. Benar-benar pemandangan yang sempurna. Kami tidak bosan berfoto dengan berbagai macam gaya disini, karena ini akan menjadi kenangan abadi yang sangat indah.

Foto bareng...

Foto sendiri.. hehehe..

Puas berfoto, kami mulai turun ke laut perlahan untuk memulai snorkeling. Begitu wajahku menyentuh air, aku langsung disambut oleh segarnya air laut dan dunia bawah laut yang seakan-akan menarikku ke dunia yang sama sekali beda dengan diatas air. Terumbu karang warna-warni terbentang, dihiasi ikan-ikan kecil yang berenang riang. Ada ikan berwarna kuning cerah, biru kehijauan, hingga ikan kecil bergaris-garis hitam-putih yang bergerombol seakan penasaran dengan kehadiran kami. Selain itu aku juga menjumpai ikan nemo berwarna oranye yang berenang lincah kesana kemari. Meski kuakui, pemandangan bawah laut ini bukan ter-thebest yang pernah aku lihat, tapi aku cukup menikmatinya.

Sebelum turun snorkeling..

Mulai snorkeling..

Cukup lama aku melakukan snorkeling, salah satu aktivitas laut yang paling kusukai ini. Aku berenang berputar kesana kemari berusaha merekam sebanyak mungkin pemandangan bawah laut yang bisa kulihat. Fredo, Arin, Mbak Hayu kulihat juga sama, masing-masing asyik dengan dunia bawah laut mereka sendiri. 

Puas melihat dunia bawah laut, aku putar tubuhku menghadap keatas. Ke langit biru yang cerah. Aku memejamkan mata dan membiarkan gelombang air laut membawaku kesana kemari. Aku seperti.. melepaskan beban. Dalam hati aku mengucapkan syukur. Bahwa sepanjang tahun 2017 ini aku diberi kesempatan dan kemampuan untuk mengunjungi beberapa tempat, termasuk tempat impianku. Bahkan di penghujung 2017 ini aku lagi-lagi diizinkan mengunjungi tempat seindah ini.

Feel thankfull for 2017...

Sekitar 1,5 jam berada di air, aku merasa lelah dan segera naik ke atas. Arin dan Mbak Hayu sudah lebih dulu keluar dari air, sementara Fredo masih asyik berenang di kejauhan.

"Eh, tadi aku liat ular laut lo," kata Arin tiba-tiba, dengan wajah serius.

"Hah, masak Rin? Dimana?" Tanyaku, merasa terkejut dan penasaran.

"Itu disana, nggak jauh kok. Warnanya belang-belang putih hitam," kata Arin sambil menunjuk ke spot yang berjarak sekitar 3 meter dari tempat kami duduk di jembatan kayu.

"Wah, ngeri juga ya. Aku nggak lihat tadi," ujarku, sedikit terkejut membayangkan ular laut yang ada di dekat kami. Meskipun aku merasa lega karena tidak melihatnya, tetap saja ada rasa was-was yang tiba-tiba muncul.

Btw ular laut  sebenarnya bukan hewan yang agresif terhadap manusia. Mereka cenderung menjauh jika merasa terganggu atau melihat kehadiran manusia. Meskipun begitu, sebagian besar spesies ular laut memiliki bisa yang sangat kuat, bahkan lebih beracun dibandingkan ular darat seperti kobra.

Namun, ular laut biasanya tidak menggigit manusia kecuali merasa terancam atau terpojok. Gigitan mereka juga sering kali tidak terasa sakit karena taringnya kecil dan sering kali tidak menembus kulit tebal. Meski begitu, jika seseorang tergigit dan bisanya masuk ke dalam tubuh, racunnya bisa menyebabkan kelumpuhan otot, gangguan pernapasan, hingga kematian jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, meskipun ular laut tampak jinak, tetap disarankan untuk tidak mengganggu atau mencoba menyentuhnya.

Beberapa saat kemudian, Fredo akhirnya bergabung dengan kami, dan lagi-lagi kami membahas soal ular laut yang dilihat Arin tadi. Mungkin karena itu, kami akhirnya memutuskan untuk menyudahi snorkeling.

"Foto-foto di resortnya yuk, yang di pesisir," ajak Arin.

"Yukk," jawab kami kompak.

Kami berjalan ke arah daratan, menuju Resort Ora dan pantai di sekitarnya. Kuakui, resort ini benar-benar punya konsep yang keren banget, pasti bakal nyaman dan damai banget kalau bisa menginap di sini.

Resort Ora yang di pesisir...

Namun, aku tak bisa menahan diri untuk kembali masuk ke dalam air melalui pantai di sekitar resort. Air laut yang begitu memikat, dengan gradasi warna yang sempurna, membuatku tergoda. Dari biru kehijauan muda, biru kehijauan yang sedikit lebih tua, hingga biru kehijauan yang dalam, dengan latar perbukitan yang meliuk-liuk dan tertutup kabut di bagian atasnya, benar-benar menciptakan pemandangan yang luar biasa. Hasil fotonya bahkan terlihat sangat fotogenik

Foto dari pantai di depan Resort Ora

Kami menghabiskan waktu hampir 3 jam di Resort Ora. Sekitar jam 1 siang, karena perut sudah mulai keroncongan, kami memutuskan kembali ke penginapan di Desa Mata Air Belanda, dimana disana kami sudah akan ditunggu makan siang lezat yang disiapkan oleh mama pemilik penginapan. Namun apakah kami rela? Oh tentu saja tidaaak... Dari foto-foto diatas bisa terlihat kan... Sangat tidak mudah menggerakkan kaki untuk meninggalkan tempat seindah itu huhuhu....

Bagaimanapun, kami harus tetap melangkah maju kan. Segera kami kembali ke arah dermaga untuk mencari bapak kapal. Tidak sulit bagi kami menemukannya. Dengan berat hati kami naik keatas kapal dan mesin kapal yang meraung menandakan kami mulai berjalan perlahan meninggalkan Resort dan Pantai Ora, salah satu tempat terindah yang pernah kukunjungi. Bye Ora.... 🥰🥰

Perjalanan menempuh waktu 20 menit, dan sesaat setelah sampai penginapan, seperti dugaan kami mama pemilik penginapan langsung mengatur makan siang kami di meja makan. Hari ini menunya sayur kangkung bunga pepaya, ikan laut goreng dan sambal. Kami makan dengan sedikit rakus karena seharian berenang membuat perut benar-benar kelaparan hehehe..Bahkan kami makan siang dengan kondisi baju masih basah.

Makan siang sangat nikmat..

"Renang dulu yuk di mata air, sekalian bilas," kata Fredo setelah kita semua selesai makan. Kebetulan tubuh memang berasa lengket semua karena air laut.

"Yukkk..," kata kami berbarengan.

Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, tempat kami menginap yang bernama Desa Mata Air Belanda mendapatkan namanya dari aliran mata air yang berasal dari perbukitan tinggi di belakangnya. Konon, mata air ini pertama kali ditemukan oleh orang Belanda, sehingga dinamakan Mata Air Belanda.

Sungai ini terbentuk saking besarnya debit mata air

Saking besarnya debit air, alirannya bahkan membentuk sungai kecil yang mengalir hingga ke laut. Kedalaman sungainya sekitar 30–50 cm, cukup dangkal untuk berenang, tetapi tetap memberikan sensasi segar saat masuk dan merebahkan badan. Berbeda dengan air laut yang hangat dan asin, air dari mata air ini terasa dingin dan segar. Maklum, karena keluar langsung dari bebatuan di bawah permukaan. Kami pun tak bisa menahan diri untuk berenang kesana kemari dan menikmati kesejukannya. Fredo bahkan menggunakan snorkel, padahal sungainya dangkal dan bawahnya pasir putih.. hahahaha..

Di sekitar sungai, suasana juga terasa begitu damai. Pepohonan hijau menjulang di tepiannya, memberikan keteduhan alami. Beberapa burung kecil terlihat terbang rendah di antara ranting-ranting, seolah menikmati sejuknya udara siang ini. Angin berembus pelan, membawa aroma air tawar yang bercampur dengan hembusan laut dari kejauhan.

"Eh, aku mau naik ayunan dong," kata Arin tiba-tiba, matanya berbinar saat melihat sebuah ayunan kayu yang tergantung di bawah pohon besar di tepi sungai.

"Ayoo, Rin! Tak dorong!" sahut Fredo semangat.

Bermain ayunan..

Arin langsung berjalan menuju ayunan dan duduk di sana, kakinya menggantung di atas permukaan air yang jernih. Fredo mendorongnya perlahan, membuat ayunan bergerak maju mundur dengan lembut. Tawa Arin pecah saat aku dan Fredo memercik-merciknya dengan air dingin.

Kami benar-benar menikmati momen ini—suasana yang tenang, air yang jernih, dan kebersamaan yang terasa begitu hangat. Rasanya ingin waktu berhenti sejenak, melupakan semua masalah yang ada di kehidupan nyata sehari-hari. 

Bagaimanapun, ini adalah malam terakhir kami di sini. Besok pagi-pagi sekali, bapak kapal akan menjemput kami untuk kembali ke Desa Saleman, dan setelahny memulai perjalanan panjang kembali ke Ambon. Rasanya waktu berlalu begitu cepat, seakan-akan kami baru saja tiba, namun kini harus bersiap meninggalkan tempat indah ini.

Karena itu, kami bertekad untuk memanfaatkan sisa waktu yang ada sebaik mungkin—menciptakan kenangan yang tak terlupakan. 

Di bawah langit yang mulai gelap, kami duduk bersama di tepi sungai kecil, merendam kaki sambil berbincang santai. Cahaya lampu dari penginapan mulai menyala, menciptakan suasana yang tenang dan hangat. Suara jangkrik dan gemericik air menjadi latar belakang yang sempurna.

"Besok kita udah pulang, ya?" kataku.

"Iya... Rasanya masih pengen tinggal lebih lama," sahut Fredo.

Kami semua terdiam sejenak, menikmati keheningan yang penuh makna. Malam ini adalah kesempatan terakhir kami untuk benar-benar menyatu dengan keindahan tempat ini, menghirup udara segarnya, merasakan ketenangannya, dan menyimpan semua itu dalam ingatan.

Tak ingin membuang waktu, kami pun memutuskan segera mandi dan bersih-bersih. Setelahnya sembari menunggu mama pemilik penginapan menyiapkan makan malam, kami duduk-duduk di gubuk menikmati angin malam yang sejuk ditemani obrolan ringan. Bintang satu persatu mulai muncul di langit seakan ikut menemani obrolan kami. Malam ini bukan sekadar malam terakhir di 2017, tapi juga malam perpisahan yang manis dengan tempat yang telah memberi kami begitu banyak cerita dan kebahagiaan.

Part Selanjutnya : Disini

1.02.2025

[1] Ambon - Ora : Pesona Desa Mata Air Belanda dan Tebing Sawai !

The Backpackers Goes to Maluku

Surabaya, 25 Desember 2017

Perjalanan ini berawal dari chat Fredo - teman travelingku - kepadaku, 

"Luuh, ada rencana traveling kemana akhir tahun ini? Aku mau ikuut dong."

Well, aku yang sedang bersantai-santai di kasur kamar kosan, tiba-tiba ter-trigger. Iya juga ya, aku belum ada rencana apa-apa. Kemana ya enaknya? Aku tidak langsung menjawab chat-nya, karena masih berpikir destinasi apa yang bisa kukunjungi. 

Ahh sial Fredo ni emang ga kasi aku kesempatan istirahat wkwkwk... Padahal September 2017 kemarin aku barusan pulang dari trip besar juga. Jadi sebenarnya kalau dipikir-pikir, belum saatnya aku traveling lagi. Tapi yaaa gara-gara dia nanya aku malah jadi pengen ke suatu tempat lagi. Alamaak.

Saat sedang berpikir tiba-tiba aku ingat destinasi ini, Pantai Ora! Salah satu pantai terindah di Indonesia, tepatnya di Maluku, yang gambarnya sering banget muncul di media sosial. Wadawwww.. la ini! Wkwkwk..Aku segera cek harga tiket dari Surabaya ke Ambon disitus skyscanner, terpampang harga 1,3 jutaan sekali jalan. Masih okelah!

"Mau ke Pantai Ora nggak? Di Maluku. Tapi aku cuma bisa 3 harian, soalnya kepentok libur kantor" kataku menjawab chat Fredo.

"Gassss! Kabari kapan beli tiketnya." Jawab Fredo.

Hehehe.. jadilah begini. Aku yang sedang bermalas-malasan di kasur kos tiba-tiba udah harus hunting tiket pesawat, bikin itinerary, dan siap-siap berangkat di.....4 hari lagi! Ya.. semendadak inilah. Karena aku masih kerja kantoran, jadi cuma punya waktu di liburan akhir tahun aja.

Tiba-tiba aku kepikiran ngajak Arin juga, teman kantorku yang hobi traveling destinasi alam juga. Dia dengan mudahnya bilang,

"Yukkk berangkat kapan?"

Setelah mempertimbangkan jadwal tiket pesawat dan hari libur kita sejenak, aku jawab,

"Jumat 29 Desember yaa, kita otw dari Juanda. Nanti transit dulu malamnya di Makassar, lanjut terbang Ambon, sampainya 30 Desember jam 6 pagi," jawabku ke Arin.

"Okee kabari ya mau beli tiket yang mana. Eh aku ajak mbakku ya," jawabnya lagi.

"Siaap rin, okey!" Kataku. Aku juga segera mengabari Fredo untuk membeli tiket.

Beberapa saat kemudian, tiket Surabaya - Ambon - Surabaya telah kami pegang semua. Perjalanan yang cukup mendadak, tapi kalau nggak sekarang kapan lagi kan?

Bandara Juanda, 29 Desember 2017

Akhirnya hari ini datang juga. Hari keberangkatan kami berempat ke Ambon. Sore itu selepas pulang kerja, aku segera packing semua barang dan dibutuhkan dan sekitar jam 8 malam berangkat bareng sama Arin ke Bandara Juanda, Surabaya. Dibandara kami bertemu Fredo yang berangkat dari Jogja. Dari Bandara Juanda, kita bertiga akan sama-sama terbang ke Makassar, sementara mbaknya Arin - Mbak Hayu - terbang dari Jakarta langsung ke Makassar. Jadi kita berempat akan bertemu dan terbang sama-sama dari Makassar ke Ambon.

Penerbangan kami dari Surabaya menuju Makassar berlangsung dengan lancar. Selama 1 jam 20 menit, pesawat melaju mulus tanpa turbulensi berarti, membuat perjalanan terasa nyaman. Kami bertiga—aku, Arin, dan Fredo—tiba di Makassar sekitar pukul 00.30. Beberapa saat setelah itu, kami akhirnya bertemu dengan Mbak Hayu yang terbang dari Jakarta. Rasanya lega semuanya sudah berkumpul. Segera setelah bertemu dan berkenalan singkat (aku dan Fredo baru kenal Mbak Hayu disini), kami langsung menuju gate transit. Kami masih punya space waktu 2,5 jam sebelum boarding, dan kami gunakan sambil tidur-tidur ayam. Jangan ketiduran beneran, bahaya ketinggalan pesawat! Hehehe

Proses boarding akhirnya datang. Penerbangan Makkasar - Ambon awalnya berjalan dengan mulus dan minim guncangan, namun semakin kami terbang ke timur, situasi mulai berubah. Turbulensi yang cukup parah beberapa kali mengguncang pesawat. Guncangannya cukup kuat sehingga penumpang di sebelahku bahkan langsung reflek memegang tanganku yang sedang memegang gagang kursi, seperti mencari pegangan untuk menenangkan dirinya.

Suasana di dalam pesawat semakin tegang ketika seorang ibu di kursi belakang mulai berbisik lirih, "Yesus, Yesus," sambil berdoa. Semua orang di pesawat terlihat ketakutan, dan aku pun ikut merasa sedikit cemas.

Bagaimanapun, aku mencoba tetap tenang dan berharap pesawat segera stabil. Sebenarnya ketika turbulensi kembali datang, tubuhku kembali terasa tegang, dan detak jantungku pun ikut berdetak lebih cepat. Dalam kondisi seperti itu, kita bisa merasakan betapa rapuhnya perasaan manusia saat dihadapkan pada ketidakpastian. 

Ambon, 30 Desember 2017

Akhirnyaaaa setelah perjalanan lumayan panjang, kami mendarat dengan selamat di Bandara Pattimura, Ambon jam 06.00 WIT. Begitu turun dari pesawat, rasa lelah dan cemas itu terlupakan dengan semangat petualangan yang sudah menanti di depan mata. Begitu berjalan keluar bandara dan mengetahui bahwa kami hendak ke Pantai Ora, kami ditawari mobil Avanza yang banyak stand by di depan Bandara untuk menuju langsung ke Pelabuhan Tulehu, seharga Rp 150.000/mobil. FYI jarak dari Bandara Pattimura ke Pelabuhan Tulehu sendiri cukup jauh, yakni 36 km dengan jarak tempuh 1 jam.

Rute dan jarak dari Bandara Pattimura ke Pelabuhan Tulehu

Sebenarnya kalau waktunya longgar bisa juga naik angkot dua kali, dengan rute Bandara Pattimura -Terminal Mardika, disambung angkot lainnya dari Terminal Mardika - Pelabuhan Tulehu. Karena kami mengejar speed boat Tulehu - Amahai yang jam 09.00 WIT (jadwal speedboat sehari ada 2x yaitu jam 09.00 WIT dan 16.00 WIT), kami memutuskan langsung charter Avanza tersebut, toh kami bisa iuran berempat. Jarak tempuh dari Bandara Pattimura ke Pelabuhan Tulehu dengan naik mobil charter Avanza sekitar 1 jam dengan medan perbukitan hijau yang subur, dengan bukit-bukit yang meliuk-liuk di sepanjang perjalanan. 

Sesampainya di Pelabuhan Tulehu, kami segera membeli tiket speed boat untuk menuju ke Pelabuhan Amahai di Pulau Seram. Ada dua loket di Pelabuhan Tulehu, satu loket untuk penjualan tiket kapal ke Pulau Saparua (Harganya Rp 65.000), satu loket untuk penjualan tiket kapal ke Pulau Seram (Harga Rp 115.000 sekali jalan untuk kelas ekonomi, Rp 260.000 untuk kelas VIP). Lama perjalanan dari Pelabuhan Tulehu ke Pelabuhan Amahai sekitar 4 jam. 

Jarak dari Pelabuhan Tulehu ke Amahai

NB: Ambon dan Pantai Ora itu masih jauh ya teman-teman. Ambon ada di Pulau Ambon, sementara Pantai Ora ada di ujung utara Pulau Seram. Yap. Dua pulau yang berbeda. Jadi untuk menuju Pantai Ora teman-teman harus melakukan perjalanan darat dan laut.

Pelabuhan Tulehu, Ambon

Kapal Express Cantika 88 yang akan mengantarkan kami dari Pelabuhan Tulehu ke Pelabuhan Amahai

Selesai beli tiket, sembari menunggu keberangkatan kami putuskan sarapan di warung yang banyak tersebar di pintu masuk Pelabuhan Tulehu. Harga makanan cukup bersahabat, antara Rp 20.000 sd Rp 25.000 sekali makan. Aku sendiri menikmati semangkuk soto ayam. Pas untuk melegakan kerongkonganku, dan mengisi lambung yang mulai keroncongan. 

Sarapan di Pelabuhan Tulehu, Ambon

Jam 09.00 tepat, perjalanan kami menggunakan speedboat Express Cantika 88 menuju Pelabuhan Amahai dimulai. Menurut info yang kubaca, jarak antara Pelabuhan Tulehu di Pulau Ambon dan Pelabuhan Amahai di Pulau Seram sekitar 75 kilometer. Perjalanan menggunakan kapal cepat ini akan memakan waktu kira-kira 4 jam. 

Cuaca hari itu cukup bersahabat, tidak terlalu berangin dan gelombang laut juga cukup tenang, membuat perjalanan terasa lebih nyaman. Selama perjalanan, kami sempat mampir di beberapa pulau untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Masing-masing pulau memiliki suasana yang berbeda, ada yang dihuni oleh penduduk lokal yang sedang menunggu di dermaga kecil, ada pula yang sepi dan hanya terlihat rumah-rumah sederhana di tepian pantai. Setiap berhenti, kami bisa menikmati sejenak pemandangan pulau-pulau kecil yang dikelilingi air laut yang jernih. Beberapa pedagang makanan kecil terlihat menawarkan dagangannya dengan semangat setiap berhenti di dermaga.

Pelabuhan Amahai, Pulau Seram

Walau perjalanan terasa panjang, suasana yang tenang dan pemandangan yang indah membuat waktu terasa cepat berlalu. Kami akhirnya sampai Pelabuhan Amahai di Pulau Seram sekitar jam 1 siang. Di Pelabuhan Amahai banyak sekali supir yang menawarkan charter mobil pribadi untuk diantar sampai ke Desa Saleman sebagai titik pemberhentian terakhir sebelum Pantai Ora. Namun harganya gila-gilaan, untuk charter satu mobil ditarif Rp 800.000. Kami merasa itu terlalu mahal dan bertanya-tanya singkat kepada petugas pelabuhan untuk alternatif lainnya.

"Coba naik angkot saja kak sampai terminal di pusat kota. Nanti disana baru cari charter mobil, biasanya lebih murah," kata petugas pelabuhan

"Baik pak terimakasih, naik angkotnya darimana pak?"

"Kakak jalan ke pintu keluar pelabuhan aja, nanti angkotnya standby di depan situ. Tarifnya biasanya Rp 5000 kak."

"Siap kak," jawabku.

Tidak butuh waktu lama satu angkot kuning datang, dan setelah kami konfirmasi benar, dia akan melewati terminal kota. Perjalanan berlangsung singkat, mungkin hanya sekitar 1-2 kilometer dan kami membayar sesuai arahan petugas pelabuhan yaitu Rp 5000/orang. Supir angkot terlihat tidak protes jadi menurut kami benar memang tarifnya segitu.

Angkot dari Pelabuhan Amahai ke Kota Amahai

Sampai di Terminal di Kota Amahai, kita keluar terminal dan sudah banyak jasa charter mobil/jasa transportasi yang menawarkan mengantarkan menuju ke Desa Saleman di titik pemberhentian terakhir sebelum Pantai Ora. Ada dua pilihan, kalau mau naik tanpa charter, biayanya Rp 75.000/orang. Namun konsekuensinya, harus menunggu mobil sampai penuh dahulu. Kalau mau charter, biayanya Rp 500.000 sd Rp 600.000/mobil/sekali jalan. Karena kita hanya berempat dan tidak nampak traveler lainnya yang kelihatan, kita memutuskan charter dan deal di angka Rp 600.000.

Charter mobil menuju Desa Saleman

"Ini lebih baik kita mampir makan siang dulu aja ya kak. Soalnya nanti di sepanjang jalan sudah tidak ada warung kak," kata om sopir.

"Siaap pak."

Akhirnya berjalan sejenak meninggalkan Kota Amahai, kita dimampirkan makan siang dahulu di sebuah warung jawa di Amahai. Setelahnya perjalanan pun berlanjut. Lama perjalanan dari Kota Amahai ke Desa Saleman sekitar 2 jam dengan kondisi jalan yang cukup bagus, namun berkelak-kelok ala pegunungan dan kanan kiri berupa hutan belantara.

Kondisi jalan dari Amahai ke Desa Saleman

 Hutan di samping kanan dan kiri jalan

Sebelum tiba di Desa Saleman, perjalanan kami melewati jalanan berliku yang dihiasi pemandangan alam luar biasa. Di salah satu titik, om sopir tiba-tiba memperlambat mobil dan berkata, “Kita berhenti sebentar ya, biar kalian bisa foto disini. Di kejauhan itu Tebing Sawai dan Pantai Ora."

Salah satu spot foto ketika mendekati Desa Saleman. Di kejauhan itu adalah Tebing Sawai dan Pantai Ora

Dari sini saja, aku langsung terpana dengan pemandangan yang terbentang luas. Di kejauhan, tebing-tebing hijau menjulang tinggi, seolah memeluk garis pantai dengan megah. Gradasi warna hijau dari hutan yang lebat menyelimuti lereng-lerengnya, menciptakan kesan alami yang tak terjamah.

Tepat di bawah tebing, lautan biru yang tenang membentang luas, memantulkan warna langit yang cerah meski sedikit berawan. Kontras antara hijaunya pepohonan, birunya laut, dan bayangan tebing yang gelap menjadikan pemandangan ini seperti lukisan yang hidup. Semak-semak hijau segar di tepi jalan memberikan bingkai alami untuk panorama ini. Udara di sini terasa sejuk, dengan aroma khas hutan dan laut bercampur menjadi satu.

"Waahh bagus. Nggak sabar aku turun kesana," kataku ke om sopir.

"Iya kak tinggal dekat aja ini. Turun udah sampai Desa Saleman. Dari situ nanti naik kapal kalau mau ke Desa Mata Air Belanda atau Pantai Ora. Nanti saya kenalkan teman saya."

Jadi karena di perjalanan ini kami belum ada rencana mau menginap dimana, om sopir bilang akan mangenalkan kami ke temannya pemilik boat di Desa Saleman. Karena aku request penginapan yang ga terlalu mahal, om sopir bilang akan pesan ke pemilik boat untuk mengantarkan kami di penginapan dekat Desa Mata Air Belanda.

Dari sini, kami melanjutkan melajukan mobil terus ke bawah sampai mendekati pelabuhan yang ternyata merupakan Desa Saleman yang bisa dibilang merupakan pintu gerbang ke surga kecil di Maluku Tengah. Sesaat turun dari kendaraan, pemandangan spektakuler langsung menyambut kami. Lautnya berwarna biru kehijauan, begitu jernih hingga dasar air terlihat jelas. Di kejauhan, perbukitan menghijau berdiri kokoh, seolah melindungi desa ini dari hiruk-pikuk dunia luar.


Pelabuhan Desa Saleman. Dari sini kita charter perahu untuk menuju Desa Mata Air Belanda, Tebing Sawai maupun Pantai Ora.

Pemandangan di Pelabuhan Desa Saleman

"Waaah bagus banget," kata Arin setengah kegirangan.

"Ayok foto-foto," kata Fredo tak kalah semangat.

Foto bareng dulu....

Memang secantik itu sih. Huhuhu....

Di sepanjang dermaga kecil, deretan kapal-kapal kayu tertambat rapi, siap mengantar para pengunjung ke destinasi populer seperti Pantai Ora. Suasana desa ini terasa hidup dengan keramahan penduduk lokal yang menawarkan jasa perahu, sambil sesekali berbincang santai dengan sesama pengemudi kapal.

Desa Saleman.. Cantik banget..

Om sopir ternyata sudah mengatur segalanya. Kami diajak bertemu dengan seorang pemilik perahu, kenalannya, yang akan membawa kami menyeberang ke penginapan di Desa Mata Air Belanda.

"Ini nanti biayanya sewa per-perahu 750ribu. Itu sudah termasuk pengantaran dari sini ke Desa Mata Air Belanda. Kemudian dari situ kalian bisa mengunjungi Tebing Sawai. Kemudian besok ke resort ora dan sekitarnya, diantarkan pulang ke Desa Mata Air Belanda, kemudian kembali lagi kesini. Nanti akan saya jemput lagi untuk kembali ke Pelabuhan Amahai," kata om sopir menjelaskan dengan detail.

Proposal yang sangat menarik. Kami terima tanpa berpikir panjang, karena yah itulah fungsinya traveling berberapa orang. Kisa bisa sharing biaya sehingga bisa lebih hemat. Setelah janjian tanggal penjemputan dengan om sopir, kami pun beranjak naik kapal,

Saat menunggu perahu disiapkan, aku merasakan semilir angin laut dan suara ombak kecil menjadi irama yang menenangkan, melengkapi keindahan tempat ini. Saat perahu perlahan melaju meninggalkan dermaga Desa Saleman, aku benar-benar tambah terpukau oleh pemandangan laut dan tebing di sekitar. 


Airnya begitu tenang, seolah permukaannya adalah kaca besar yang memantulkan langit biru. Kejernihannya memukau—karang-karang di dasar laut terlihat jelas meskipun kami berada di atas perahu. Sapuan ombak yang ringan membuat perjalanan terasa damai, seolah alam sedang menyambut kami dengan kehangatan.

Perjalanan dari Desa Saleman ke Desa Mata Air Belanda

Karang-karang terlihat dengan jelas...

Sekitar 20 menit di atas air, kami akhirnya tiba di Desa Mata Air Belanda, yang dari sebelum berlabuh aja sudah memberikan kesan kedamaian yang mendalam. Kami menginap di dua cottage kecil yang sederhana namun nyaman, dengan suasana tenang yang menyatu dengan alam. Kami memesan 2 cottage, dimana harga per kamarnya adalah Rp 300.000, dan karena disini tidak ada warung, kami sekalian mengambil paket makan malam dan makan siang untuk besok. Harganya permakan tidak murah, 50rb/porsi. Tapi itu sangat dimaklumi melihat medan yang untuk mengirim apa-apa harus dengan kapal.

Penginapan kami sebuah cottage sederhana di Desa Mata Air Belanda

Sesuai nama desanya, Desa Mata Air Belanda, ternyata di belakang cottage kami mengalir sungai jernih yang sumber airnya ternyata adalah mata air di pegunungan. Jadi bisa ditebak, airnya begitu jernih, dingin, dan segar. Suaranya yang mengalir memberikan ketenangan, menjadi latar sempurna untuk bersantai dan mengapresiasi anugerah alam di Maluku ini. Sungai ini menjadi sambutan pemandangan istimewa—mengalir dengan tenang di antara pepohonan rindang sebelum berlabuh di laut. Suaranya yang mengalir memberikan ketenangan, menjadi latar sempurna untuk bersantai dan mengapresiasi anugerah alam di Maluku ini.

Mata air tawar yang mengalir tanpa henti disamping penginapan. Airnya segar dan dingiiinnn... 

Setelah check-in di cottage, bapak pemilik perahu menanyakan apa kami mau ke salah satu destinasi sore ini, yaitu Tebing Sawai. Kami langsung menyetujui, toh waktu masih menunjukkan jam 4 sore, dimana sunset disini masih sekitar jam 6.30 sore. Dengan semangat, kami setuju dan segera naik perahu kembali. Perjalanan ke Tebing Sawai memakan waktu sekitar 20 menit. Saat perahu mulai mendekati tebing, pemandangan yang terhampar benar-benar memukau. Tebing-tebing tinggi menjulang megah, dengan dinding batu karang yang kokoh dihiasi tumbuhan hijau yang tumbuh alami di sela-selanya. Laut di bawahnya berwarna biru bersih, begitu jernih sehingga dasar laut yang dangkal terlihat dengan jelas. 

Tebing Sawai

Tebing Sawai

Angin laut yang sejuk dan sapuan ombak kecil semakin menambah kesan damai tempat ini. Di beberapa titik, tebing-tebing tersebut membentuk ceruk-ceruk kecil, menciptakan bayangan yang menambah dramatisasi pemandangan.

Kami sempat berhenti sejenak untuk menikmati momen ini, hanya suara burung dan gemuruh lembut ombak yang menemani. Rasanya seperti berdiri di depan karya seni alam yang sempurna, sebuah mahakarya yang membuat siapa pun terpesona. 

Tebing Sawai dengan air laut yang biru mengkristal

Begitu perahu diberhentikan bapak kapal di dekat Tebing Sawai, tanpa menunggu lama aku dan Fredo langsung nyebur ke air. Bagaimana tidak? Pemandangan laut biru jernih yang menggoda itu seperti memanggil-manggil untuk dijelajahi.

Biru dan jernihnya air laut disini.. Dangkal juga hanya setinggi dada manusia dewasa

Saat menyentuh air, sensasinya begitu menyegarkan. Dengan kejernihan air yang luar biasa, berenang di sini terasa seperti melayang di atas akuarium alami dengan hamparan pasir putih halus yang membentang di bawah kaki kami.
Tebing tinggi di sekeliling kami semakin menambah kesan magis. Bayangannya yang jatuh ke permukaan air menciptakan kontras yang indah dengan warna biru kehijauan laut. Sambil berenang, aku sesekali menengadah ke arah tebing, mengagumi bagaimana alam bisa menciptakan sesuatu yang begitu sempurna.

Have fun....

Beberapa saat kemudian Fredo terlihat naik ke sebuah gundukan batu, dan tanpa ragu melompat ke laut dari ujung batu tersebut. Ketinggiannya mungkin sektar 1,5 meter dari permukaan laut. Aku yang melihatnya langsung kepengen juag mencoba hehehe..

"Aman nggak ini mas?" tanyaku.

"Aman kok, itu tempat terjunnya lumayan dalam disitu. Ayo Luh coba!" Kata Fredo menyemangatiku.

"Siaap..Nanti setelah nyebur tolong tarik aku ke tempat yang lebih dangkal ya"

'Satu, dua..... jebuurrrr...' lompatanku yang tiba-tiba menciptakan cipratan air yang cukup tinggi. Seketika aku terdorong cukup dalam sebelum tubuhku terangkat lagi ke permukaan dan Fredo segera menarikku kembali ke laut yang lebih dangkal. 

"Gimana? Seru, kan?" tanyanya dengan senyum lebar. Aku mengangguk sambil terkikik, masih merasakan debaran adrenalin yang belum sepenuhnya reda.

Meloncat dari tebing kecil..

Fredo, dengan penuh semangat, berenang lebih jauh mendekati dinding tebing. Aku mengikuti, tak ingin kehilangan momen ini. Dari dekat, tebing itu terlihat lebih mengesankan, dengan detail permukaannya yang kasar dan tanaman-tanaman hijau yang menempel di sela-sela celahnya.

Sibuk berenang, aku sempat melirik ke arah Arin dan Mbak Hayu yang masih bertengger di bebatuan, enggan turun ke laut. Mereka tampak asyik berfoto-foto, sibuk mencari angle terbaik dengan latar laut biru yang berkilauan di bawah sinar matahari.

Seketika aku berteriak ke arah mereka, suaraku bercampur dengan deburan ombak.

"Rin, Mbak! Ayo turun! Renang! Seger banget ini!"

Aku melambaikan tangan dengan semangat, berharap mereka segera bergabung. Arin hanya tertawa sambil melambaikan kamera ke arahku, sementara Mbak Hayu menggeleng pelan, tampaknya masih ragu. 

"Ahh ayo.. kapan lagi renang disini," kata Fredo menyemangati mereka untuk segera turun.

Bersenang-senang dengan empat sekawan..

Tidak butuh waktu lama, godaan air laut yang jernih dan segar akhirnya meluluhkan Arin dan Mbak Hayu. Dengan langkah ragu, mereka mulai menuruni tepian dan membiarkan kaki mereka menyentuh air.

"Aduh, dingin juga ya," gumam Arin sambil menggigil kecil.

"Tapi segar, kan?" aku menyahut sambil tertawa.

Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya basah sepenuhnya. Aku dan Fredo segera menghampiri mereka, wajah kami penuh semangat. Tanpa perlu banyak kata, kami langsung berenang bersama, menikmati sensasi air asin yang membelai kulit dan riak ombak yang lembut mengayun tubuh kami.

Tawa dan percikan air mewarnai momen itu—sebuah kenangan yang akan selalu kami ingat dari petualangan ini.

"Pak, fotoin yaa.." kata Arin kepada Bapak Kapal yang stanby di dekat kapal sembari menunggu kami.

Bersenang-senang dengan empat sekawan..

Berenang bersama..

Kami berenang hingga lupa waktu, larut dalam kesegaran air dan gelombang kecil yang menyapu lembut tubuh kami. Ini bukan pemandangan yang bisa kami lihat setiap hari. Kehidupan sehari-hari sering kali dipenuhi kesibukan dan rutinitas, tetapi di sini—di tengah lautan yang tenang dan alam yang begitu megah—kami bisa benar-benar menikmati momen. Tidak ada hiruk-pikuk kota, tidak ada gangguan, hanya kami dan alam yang memanjakan mata serta menenangkan jiwa.

Kami meninggalkan tempat ini saat matahari mulai condong ke ufuk barat, langit perlahan berubah jingga keemasan, menciptakan bayangan indah di permukaan laut. Angin sore berhembus lembut saat kapal mulai berjalan, menambah suasana syahdu perjalanan pulang.

Di tengah perjalanan, kami kembali melewati sebuah bangunan seperti resort apung yang tampak megah, namun sepi. Struktur kayunya berdiri kokoh di atas permukaan air, dengan jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke lautan. Jembatan kayu terlihat memanjang menghubungkan resort tersebut dengan tempat yang sepertinya akan dijadikan dermaga.

Resort Apung yang masih dalam proses pembangunan..

"Itu masih belum dibuka ya, Pak?" tanyaku pada bapak kapal, penasaran dengan tempat yang terlihat begitu eksklusif namun masih sunyi.

"Iya, Kak, masih dalam proses finishing akhir," jawabnya santai sambil tetap mengendalikan laju kapal.

Jembatan kayu yang kedepannya akan menghubungkan dermaga dengan resort apung

Aku saling bertukar pandang dengan teman-teman. "Mau mampir ke sana nggak?" tanyaku dengan antusias.

Bapak kapal tersenyum, seolah mengerti keinginan kami. "Mau foto-foto di sana, Kak?"

"Iya, Pak, kayaknya bagus banget buat foto-foto!" jawabku semangat.

Tanpa ragu, bapak kapal mengarahkan perahu mendekati dermaga resort apung itu. Kami bersiap untuk menjelajahi tempat yang mungkin belum banyak orang kunjungi, menikmati kesempatan langka sebelum bangunan itu resmi dibuka.

Kami turun dari kapal dan menyusuri jembatan kayu menuju bangunan resort apung. Saat semakin mendekat, resort itu terlihat benar-benar sepi. Tidak ada tamu, tidak ada staf—hanya kami dan bunyi riak air yang berdesir pelan di bawah jembatan. Dari balik jendela besar, aku bisa melihat bagian dalam yang belum sepenuhnya selesai. Beberapa papan kayu masih berserakan, tanda bahwa pembangunan sedang berlangsung.

'Kayaknya tempat ini bakal bagus banget kalau udah jadi. Pasti amazing banget bisa nginap di sini. Bangun pagi, buka jendela, duduk di balkon sambil ngopi, terus langsung disambut deburan ombak,' kataku dalam hati.

Pembangunan resort apung terlihat masih berlangsung, beberapa belum finishing

Tidak banyak hal yang bisa kami lakukan di resort apung itu. Setelah menjelajahi beberapa sudut bangunan yang hampir selesai, kami akhirnya memutuskan untuk duduk-duduk di jembatan kayu, menikmati pemandangan sore yang begitu memukau. Matahari perlahan terbenam, memberi warna jingga yang semakin intens di langit yang sebelumnya kebiruan. Bayangan bukit-bukit mulai tampak lebih jelas seiring cahaya matahari yang semakin redup, seakan ingin memberi salam perpisahan sebelum malam datang. Semua itu terasa begitu tenang dan memikat—sebuah kenangan yang akan selalu kami ingat.

Making memories together....

Sambil duduk di sana, kami sesekali berbicara tentang rencana dan impian kami, sambil menikmati suasana yang benar-benar berbeda dari kehidupan sehari-hari. Keindahan alam ini begitu memanjakan kami, dan rasanya seperti waktu berhenti sejenak, memberi kesempatan untuk benar-benar merasa hadir di momen ini.

Tak lama setelah itu, kami putuskan harus segera kembali ke penginapan karena langit semakin menggelap. Perjalanan pulang terasa lebih sunyi, dan kami hanya duduk diam, menikmati sisa-sisa keheningan sore yang semakin menggelap.

Senja..

See u tomorrow sun..

Setibanya di penginapan, tidak banyak yang bisa kami lakukan. Kami hanya menghabiskan waktu sambil makan malam, berbicara tentang hal-hal kecil, saling berbagi cerita, dan menikmati momen kebersamaan. Tanpa sinyal HP, kami benar-benar bisa melepaskan diri dari gangguan dunia luar, merasa bebas dan hadir sepenuhnya. Well, sesekali memang menyenangkan bisa benar-benar menikmati momen seperti ini tanpa harus terganggu oleh apapun.

Part Selanjutnya : Disini