Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan

6.11.2024

[PART 1] Cảm ơn Vietnam, 31 Januari 2023 : Berangkat ke BALI!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

 

Trip ini berawal dari keisenganku hunting tiket murah dari Indonesia ke beberapa negara Asia Tenggara. Entah kenapa, aku lagi pengen banget traveling ke negara yang “mudah”. Mudah di sini maksudnya, selama ini aku kan cenderung traveling ke negara-negara yang jauh, di mana tiket ke sananya (kalau mau dapat murah) harus mengandalkan promo dari Tiket, Traveloka, Agoda, dan sebagainya; harus bikin perencanaan perjalanan yang rumit; harus searching soal aktivitas yang harus dilakukan, booking-booking day trip; mikirin transportasi lokal maupun interlokal dari satu kota ke kota lain; dan seterusnya.

Nah, kali ini aku pengen ke negara yang nggak bikin aku terlalu ribet mikirin itu semua. Negara yang tiketnya murah, itinerary-nya gampang disusun, booking hotelnya simpel, dan biaya hidupnya juga ramah di kantong.

Dan tiba-tiba semua itu terwujud ketika aku mendapatkan tiket promo Denpasar – Ho Chi Minh City naik Scoot Airline, hanya 900 ribu rupiah sekali jalan! Bonusnya lagi, transit di Singapura sampai 24 jam juga gratis. Lumayan banget kan. Kalau dipikir-pikir, terakhir kali aku ke Vietnam itu tahun 2017. Waktu itu backpackeran singkat, cuma 3 hari di Ho Chi Minh City bareng dua teman kerjaku. Artinya sudah sekitar enam tahun yang lalu. Jadi, trip kali ini cukup bikin aku excited. Apalagi rencananya, aku ingin menelusuri Vietnam dari selatan ke utara, mulai dari Ho Chi Minh City sampai Hanoi. Aku juga nggak mempermasalahkan harus berangkat dari Denpasar. Toh sekalian saja liburan dulu di sana sebelum lanjut ke Vietnam. Mantap lah.


Untuk tiket kepulangan, aku dapatkan sekitar 2 bulan kemudian saat ada promo "pembayaran menggunakan peso Argentina menggunakan kartu visa" wkwkwk. Promo yang agak unik ya, dimana dengan promo ini juga aku mendapatkan tiket ke Asia Tengah. Untuk rute pulangnya adalah Hanoi - Denpasar, dengan transit Singapura, dimana harganya hanya 700ribuan karena promo diatas. Berarti total aku hanya membutuhkan 1,6 juta rupiah untuk tiket PP ke Vietnam dari Bali. Murah!


Bersamaan dengan beli tiket pulang, ane juga beli beberapa tiket pesawat domestik untuk berpindah kota selama di Vietnam. Setelah browsing singkat, ane berencana akan mengunjungi Kota Ho Chi Minh City (HCMC) - Kota Danang - Kota Hoi An - Kota Hue - Kota Hanoi - Kota Sapa - dan kembali ke Hanoi sebelum pulang. 


Sumber Peta : DISINI

Jadi selanjutnya ane melakukan pembelian tiket pesawat domestik HCMC - Danang, serta Danang - Hanoi. Selain itu ane juga memesan tiket sleeper bus Hanoi - Sapa PP. Ane merasa lega saat sudah mengamankan semua tiket pesawat, karena berarti tinggal booking penginapan dan membuat rencana harian ke tempat-tempat yang dikunjungi saja. Oiya FYI ane sama sekali ga mempertimbangkan naik bis dari HCMC ke Danang, dan Danang ke Hanoi karena jaraknya yang sangaaat jauh, naik bis bisa puluhan jam. Menurut ane sangat ga efektif, n ane takut malah kecapekan di jalan. Toh tiket pesawat domestiknya murah, hanya di 400ribuan/orang/sekali jalan naik Vietjet Airlines. Mantap lah.

Selanjutnya ane melakukan booking-booking penginapan untuk setiap kota yang ane kunjungi. Jujur ane seneng banget karena di Vietnam itu pilihan hotelnya banyak + murah! Dengan fasilitas yang cukup lengkap, ane mendapatkan di kisaran 100-200ribu/malam. Beres masalah penginapan, ane juga membuat rencana harian di setiap kota. Pokoknya ane benar-benar rencanakan dengan detail, supaya sampai sana udah tau harus melakukan apa, dan akan meminimalisir buang-buang waktu. Setelah semuanya siap akhirnya ane berangkat dari Surabaya ke Banyuwangi menggunakan kereta andalan sejuta backpacker - Probowangi 😁.

Saat itu ane masih ngontrak di Surabaya. Rumah kontrakan ane ini posisinya agak di pinggiran, dan deket area hutan bakau. Pengalaman ane kalau pesen ojek online pagi-pagi (dibawah jam 5) ga pernah ada yang mau ambil entah kenapa. Karena kereta Probowangi dari Surabaya ke Banyuwangi ini pagi (sekitar jam 05.30), ane terpaksa memilih option naik motor dari rumah ke stasiun. Rencana motor itu akan ane titipin di Stasiun Gubeng. Biayanya berapa parkir inap 18 hari ++? Tau ah pikir nanti aja wkwk.

Perjalanan berlangsung dengan lancar. Ane juga masih sempet ngerjain beberapa permohonan izin tambang klien ane meliputi ttd meterai, stempel dan scan berkas. Semuanya dilakukan di kereta berjalan, praktis!
Sekitar jam 1 siang akhirnya ane sampai di Stasiun Ketapang, Banyuwangi. Ane segera jalan kaki 500 meter sampai Pelabuhan Ketapang. Dan setelah makan siang singkat dengan nasi bungkus, ane putuskan naik bus Banyuwangi - Denpasar yang udah banyak standby di deket area pelabuhan dengan tarif 70rb/orang. Hitung-hitung hemat energi karena ane ga harus jalan kaki ke area pelabuhan.
Perjalanan Banyuwangi - Denpasar (termasuk nyebrang) ane tempuh dalam 6.5 jam.  Bis ane ternyata ga turun di Terminal Ubung, tapi sekitar 1 kilometer sebelum Terminal Ubung. Jadilah setelah turun ane makan ayam lalap sebentar dan jalan kaki ke Terminal Ubung. Rencana ane akan naik bus untuk menuju area Kuta. Disana ane udah reservasi Spazzio Hotel Denpasar selama 3 hari 2 malam.

Ane tidak menjumpai masalah berarti. Bis ke Kuta bisa langsung dapat, sangat nyaman dan bisa dibayar menggunakan QRIS. 
Sampai pemberhentian bis di Kuta ane jalan sebentar menggunakan google maps untuk sampai ke Spazzio Hotel dan akhirnya check in di jam 7 malam. Huahhh melelahkan juga ya perjalanan hari ini! Setelah mandi dan beristirahat sebentar, ane keluar ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan dasar seperti air, snack, bubur siap saji, dan abon. Beberapa untuk bekal selama di Denpasar ini, beberapa untuk di Vietnam nanti. Ane juga sempet jalan-jalan di sekitar penginapan dan berniat mau beli indomie goreng. Namun karena antrinya lama banget jadi ane urungkan dan kembali ke kamar. Disitu ane masak mie goreng sendiri pakai rice cooker mini hehe, malah ngirit ya!


 Ane sempet nongkrong sebentar di kursi di bagian depan cafe untuk laptopan, sebelum jam 10 akhirnya kembali ke kamar dan tidur. Besok berangkat ke Singapore!



Part Selanjutnya : DISINI

6.03.2020

[2] Escape to Bali : OTW Denpasar, Bali untuk Pencerahan Diri

Part sebelumnya : disini


Denpasar, 19 Desember 2019
Pesawat Air Asia yang kutumpangi sukses mendarat di Denpasar sekitar jam 07.00 WITA. Sengatan matahari khas Bali langsung menyapa kulitku begitu aku berjalan kearah luar bandara. Aku sudah beberapa kali mengunjungi Bali, jadi sudah tau pasti apa yang harus kulakukan setelah ini yakni cari pintu keluar bagian samping bandara dan naik Grab dari sana untuk ke penginapan.

Aku menginap semalam di Hotel Nirmala, di kawasan Jimbaran, Denpasar Selatan seharga Rp 210.000/malam. Aku mendapatkan kamar di lantai 2, dan sewaktu menuju kesana lorongnya begitu sepii... Tapi aku berusaha berpikir positif dan tidak merasa takut sana sekali.

Meskipun hotelnya agak tua, Aku mendapat kamar yang lumayan luas, dengan 1 kasur berukuran King Size, AC, TV dan kamar mandi pribadi (dengan bathup). Aku rasa sangat fair dengan harganya. Selain itu, yang kusuka dari kamar ini adalah keberadaan balkon luas yang langsung menghadap pemukiman dan perkebunan. Aku sendiri adalah tipe penyuka balkon, dimana aku bisa memandangi pemandangan dan keramaian dengan cukup berdiam diri. Foto di bawah ini merupakan suasana bagian dalam hotel yang kuambil dari Traveloka, karena selama di kamar aku sama sekali gak ambil foto. Ruangan di balik jendela dan gorden putih itulah balkon luas yang kumaksud.
Balkon ini jujur merupakan 'masterpiece' dari kamar ini, karena ketika kubuka gorden dan pintu balkon, kamar langsung menjadi terang benderang. Seakan-akan melenyapkan semua pemikiran negatif yang sempat muncul (a.k.a takut hantu hihihi). Kamar mandinya pun cukup bagus, dilengkapi air panas, bathup dan wastafel. Aku juga dikasih perlengkapan mandi standar seperti sabun dan shampo.

Selain itu aku juga suka dengan balkon hotel ini yang cukup luas, sehingga jika bosan di kamar bisa duduk-duduk disini.
Untuk mengembalikan energi, ane akhirnya mandi air panas dan makan ayam geprek. Seharian ini tidak ada hal terlalu berarti yang kulakukan. Siang itu moodku kembali jelek karena sesuatu. Setelah itu aku sadar, aku disini mau senang-senang. Masa bodoh dengan hal-hal bodoh kayak gitu.

Akhirnya ane menghabiskan sesorean sampai semalaman itu untuk duduk-duduk dan jalan-jalan di sekitar hotel. Suasana hatiku sudah jauh membaik sore sd malam ini. Besok pagi aku sudah siap jalan-jalan menjelajah Bali kembali menggunakan sewaan motor. Sudah tak sabar menunggu hari esok! 😁😁👏👏

6.01.2020

[1] Escape to Bali: Pagi-Siang Galau, Malam Berangkat ke Lombok

Surabaya, 18 Desember 2019

Hari ini aku sedang galau dan sedih akan sesuatu. Sesuatu yang saat itu begitu menekanku, meski itu hanya karena kelebaianku sendiri. Intinya aku seperti butuh "self recovery", melihat lagi arti hidupku ini secara lebih utuh. Mencari lagi apa tujuanku lahir dan hidup di dunia ini, serta bagaimana secara bijaksana aku menjalani hidup, tanpa terlalu terfokus ke 1 hal yang sebenarnya tidak terlalu penting-penting amat. 

Aku menelepon beberapa teman, namun sama saja. Tidak ada yang bisa benar-benar mengusir kegalauanku, dan membuatku bersemangat lagi. Aku memutuskan, aku gak mau berdiam di Surabaya, aku harus pergi ke suatu tempat. Mungkin di tempat itulah, aku bisa mendapatkan pencerahan. Aku bisa memandang hidup dengan bijaksana, tanpa terfokus pada hal-hal yang kurang penting.

Sesaat setelah berpikir, aku memutuskan aku akan pergi ke Bali.

Aku segera searching tiket ke Denpasar, Bali dan mendapati untuk keberangkatan malam itu, harganya lumayan melambung, 900ribuan lebih perorang. Sedangkan kalau berangkat besok, "hanya" 500ribuan. Aku merasakan dorongan besar untuk berangkat malam itu juga. Aku seperti tidak ingin di Surabaya malam ini. 

Kebetulan saat itu aku punya "credit shell" Airasia sebanyak 350ribuan dari hasil pengembalian pajak penerbanganku ke Tokyo September 2019 yang tidak jadi kulaksanakan. Namun karena malam ini kursi penerbangan Airasia ke Denpasar sudah habis (yang 900ribuan tadi pakai pesawat lain, L*on Air), aku terpaksa mengalihkan penerbangan menggunakan Airasia ke Lombok dan terbang malam itu juga. Untuk penerbangan ke Denpasar, Bali, akan kulakukan keesokan harinya dari Lombok. Jadi penerbangan yang kuambil:

1. Surabaya-Lombok berangkat malam ini jam 21.05
2. Lombok-Denpasar berangkat esok pagi jam 06.20
Sesaat setelahnya aku segera membooking dan membayarnya. Karena ini masih jam 4 sore, aku masih mempunyai waktu beberapa jam untuk bersiap-siap.

Malamnya sekitar jam 19.30 aku segera pesen grab untuk ke bandara. Dan sialnya jalanan menuju bandara malam itu agak ramai sehingga sekitar jam 20.15 aku baru mendekati area bandara. Mana babang grabnya sempat salah menuju Terminal 1, dan keuhkeuh kalau ini turun disitu. Padahal sejak awal aku udah kasih tau kalau Airasia terbang dari Terminal 2.

Saat perjalanan dari Terminal 1 ke Terminal 2 pun babang grabnya malah gak hafal jalan dan seenaknya belok sana sini.

"Aduhh pak.. kekejar nggak ya ini pesawatnya," aku mulai mengeluh karena orientasi arah babang grab ini  untuk area bandara bisa dibilang "agak buruk". Masa salah terus dan gak tau arah. Dalam hati aku sudah pasrah kalau tiketku bakal hangus. Karena setauku, calon penumpang wajib sudah ada di gate 30 menit sebelum keberangkatan. Aku sendiri tidak berani sama sekali lihat jam, aku tidak mau berhenti berharap sebelum aku benar-benar berlari sampai ke gate

Setelah si babang grab bertanya kepada beberapa orang, akhirnya sampai juga di Terminal 2 dan ane langsung lari melesat ke area keberangkatan. Sebelumnya aku sudah web check in jadi langsung bisa ke arah pemeriksaan tas dan gate keberangkatan. 

Hhh setelah sampai gate keberangkatan... Ternyata pesawatnya delay. Kesempatan gabut beberapa menit ini segera kumanfaatkan untuk beli mie instan dan air karena aku belum sempat makan malam dari tadi karena tergesa-gesa. Yakali kan.. aku baru beli tiket 5 jam sebelum berangkat.
Akhirnya waktu boarding pun datang dan penerbangan Surabaya-Lombok malam itu berjalan dengan lancar, bahkan hampir gak berasa. Karena penerbangan malam, sepanjang penerbangan selama kurang lebih 40 menit itu, lampu pesawat dimatikan terus sehingga menambah suasana syahdu. Ada momen dimana aku hampir tertidur karena kelelahan, tapu sebelum sempat memejamkan mata aku sudah dibangunkan oleh suara pramugari yang mengatakan bahwa sesaat lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Lombok atau lebih tepatnya Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.


Lombok, 18 Desember 2019

'Buset.. cepet amat deh. Perasaan tadi baru naik,' ujarku dalam hati.

Turun dari pesawat jujur ane bingung. Jam sudah menunjukkan pukul 11 WITA, sedangkan penerbanganku ke Denpasar kan baru besok jam 06.20 WITA. Pikiran pertamaku saat itu adalah, menemukan tempat dimana aku bisa tidur klesotan di bandara dengan calon penumpang lainnya sembari menunggu pagi. Tapi semakin aku berjalan ke gate kedatangan, tidak terlihat satupun calon penumpang yang tidur klesotan, ataupun tidur di kursi. 😁😁 Gagal total dah ini rencana. Bandara Internasional ZAM /Lombok pun tidak terlalu besar. Saat itu hanya terdapat beberapa penumpang yang terlihat duduk-duduk, namun tidak banyak.

Seperti dugaanku, sesaat setelah aku berjalan di area kedatangan, berbagai supir penyedia jasa transport ke hotel tujuan langsung mengerumuniku. Mereka membujukku dengan segala cara.

"Mbak, ayo mau kemana? Saya antar. Tarif grab saja."

Aku mendengar kata-kata itu hampir dari setiap supir yang menawariku jasa tumpangan. Lah, aku sendiri bingung. Booking hotel aja belum kok udah mau dianter. Emang dianter kemana? Kataku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.

"Bentar pak. Aku masih mau duduk-duduk dulu." Kataku sambil setengah mengusir mereka dengan halus.

Sebenarnya sih, aku pengen memutuskan dulu. Malam itu mau ngapain hehe. Gabut banget. Mau nginep kok sayang duitnya, soalnya hotel yang deket bandara agak mahal, itupun cuma beberapa jam aja karena jam 04.00 pagi besok aku udah harus ke bandara lagi untuk terbang ke Denpasar. Kalau nggak nginep hotel malam ini kok kayaknya gabut banget. Cuma duduk-duduk doank, mana kursinya gak ada sandaran punggungnya atau pegangan tangannya, murni cuma duduk doang.  Lagipula, malam itu aku juga kerasa agak capek dan butuh tidur.

Akhirnya aku iseng-iseng cek traveloka dan setelah mempertimbangkan sesaat, akhirnya aku booking hotel Dmax Convention yang berjarak hanya 2,7 kilo dari Bandara. Tarifnya gak usah ditanya, sebenarnya cukup bikin backpacker kayak aku bete, 300ribuan hanya untuk 6 jam tidur. Itu seperti halnya membayar 50ribuan untuk setiap jamnya. Wkwk. Jujur ane itu backpacker yang ngirit banget soalnya gan. Tapi yaudahlah.. berhubung ini trip pembunuh galau kan, jadi sekut aja. Dienak-enakin aja dah ini badan. Aku mengamini apa yang kulakukan dan segera mencari driver untuk mengantarkanku ke Dmax Convention Hotel.

Setelah bertransaksi sejenak, akhirnya aku milih salah satu driver yang daritadi tidak menyerah menawariku tumpangan yang katanya "dengan tarif grab". 

"Jadi berapa pak ke Dmax Convention Hotel?"

"40ribu aja mbak."

Buset dah. Aku yang sebelumnya sudah searching diam-diam, dan udah cek aplikasi grab pun langsung protes.

"Tadi katanya pakai tarif grab. Dmax ini jaraknya cuma 2.7 kilo loh pak. Cuman 5 menit aja naik mobil. Ini di grab cuma 20ribu."

"30ribu ya."

"25ribu pak. Fix. Dekat kok. Bapak juga sudah janji pakai tarif grab." Kataku masih dengan pertahanan diriku.

"Okelah.. mari." Kata bapak tersebut.

Ternyata driver yang akan mengantarku ke Dmax bukanlah bapak itu, tapi orang lain. Dengan kata lain bapak itu hanyalah calo yang mencari-cari penumpang di gate kedatangan.

'huh.. pantasan seenaknya aja pasang tarif 40ribu. Dikira aku gak cek ricek apa jarak hotelnya,' ujarku dalam hati.

Selanjutnya perjalanan dengan mobil benar-benar berjalan 5 menit, aku telah tiba di Dmax Convention Hotel. Kamarku berada di lantai atas, dan inilah pemandangannya.


Pertama kali masuk, aku agak takut sebenarnya. Hehe. Meskipun design interiornya cukup modern, tapi kamar ini terlihat suram karena penerangan yang agak kurang. Prosedurku ketika agak ketakutan masuk kamar hotel pasti sama. Aku langsung menyalakan semua lampu, dan menyalakan TV yang menyiarkan saluran olahraga/berita. Selain itu, jika hotel itu ada jendelanya biasanya akan aku buka sesaat, supaya suara dari luar bisa masuk. Tapi eh tapi, inikan Lombok yang gak serame Surabaya. Pas aku buka jendela malah pemandangannya padang luas yang gelap. Autogemeter, aku langsung tutup lagi itu jendela 😅😁😁.

Selain itu sebenarnya aku juga masih agak takut dengan gempa-gempa yang terjadi di Lombok beberapa bulan silam. Yah kan aku di lantai atas ya, masih gak ngerti gitu gimana prosedur keselamatan kalau tiba-tiba sampai terjadi gempa. Mana tangga darurat, mana jalur evakuasi, aku gak ngerti sama sekali.

Tapi aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa 'everything is gonna be okay'. Aku mencoba main HP untuk mencari ngantuk, tapi tidak bisa. Lalu aku menyadari kalau aku lapar. 

Aku segera membuka-buka pamflet di meja untuk melihat daftar menu makanan restoran mereka. Sesaat setelahnya aku menelepon resepsionis untuk memesan nasi goreng dan teh panas. Buset dah masih sakit ati aja, habisnya 100ribu lebih hehehe, mana nunggunya lama banget sampai hampir setengah dua pagi baru dateng. Tapi ya lagi-lagi aku berpikir, ini trip untuk membunuh galau. Jadi tidak usah lah terlalu sayang-sayang duit, asal masih logis ya tapii 😁😁😁. Namun jiwa ngiritku tetap ada. Aku sengaja memakan nasi goreng itu hanya separo, separonya untuk nanti sarapan sebelum OTW ke bandara lagi pagi ini hihi.

Selesai makan aku kembali mencoba tidur, namun tidurku tidak benar-benar nyenyak. Aku seperti antara sadar dan gak sadar apakah tidur benaran atau nggak. Aku hanya guling sana, guling sini. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 04.00 WITA dan aku sadar aku harus segera siap-siap untuk balik ke bandara lagi untuk terbang ke Bali.

Rasanya kok badan ini malessss banget gitu. Maksudnya, aku belum bener-bener tidur pulas dari tadi. Jadi rasanya sebeeel aja udah harus bangun dan beraktivitas lagi. Mana udah bayar mahal, malah gak bisa tidur hahaha. UUBD = Ujung-Ujungnya Balik ke Duit. Alhasil, di tengah waktu yang terus berjalan, aku masih males-malesaaaan aja, tiduran di kasur. Padahal aku udah ada janji sama hotel ini, mau ada "wake up call" jam 04.30, karena aku udah janji mau ikut transport gratis mereka jam 05.00 WITA. Alhasil pas ditelfon "wake up call", aku hanya ngeiyain aja, trus males-malesan lagi. Belum mandi, sisa nasi gorengku belum kumakan, belum siap-siap hihi. Padahal tidur juga enggak. Cuma tiduran doang gitu kayak manusia gak berguna😁😁.

Baru jam 04.45 aku akhirnya mengangkat tubuhku dari kasur dan aku langsung mandi air hangat. Nggak bisa menikmati lama karena telfon kamarku kembali berdering, mengingatkan aku untuk segera turun naik mobil transportasi gratis (dari hotel) untuk menuju bandara.

"Iya pak. Ini saya siap-siap dikit lagi turun," kataku. 

Padahal aku masih baru selesai mandi, baru mau masuk-masukin barang. Sisa nasi gorengku juga belum kulahap habis.

Jam sudah menunjukkan pukul 05.05. Karena aku merasa sudah gak ada waktu lagi, aku hanya makan nasi gorengku sesendok dan langsung berlari ke bawah. Ahhhh sial! Sayang nasi gorengku kan😁😅.

"Maaf mbak, mobil sebelumnya sudah berangkat tepat jam 05.00 tadi. Soalnya harus tepat waktu mbak," kata resepsionis saat aku akhirnya check out dan menanyakan mobil transport gratisnya ke bandara.

"Yahhh.. maaf pak. Terus bagaimana ya?" Balasku dengan sedikit tidak bersemangat.

"Nanti tunggu mobilnya balik mbak. Akan diantar lagi."

"Waduh, gpp pak? Maaf banget merepotkan pak. Maaf banget saya telat pak," kataku dengan bersemangat lagi.

"Gpp mbak. Tunggu aja di kursi sana ya."

Yeaa.. gak perlu ngeluarin duit buat grab deh. Hehe. Dasar si malas dan si pelit.

10 menit kemudian mobil hotel datang lagi dan setelah meminta maaf kepada bapak driver karena aku telat, aku sampai di Bandara ZAM/Lombok lagi untuk persiapan terbang ke Bali. Perkiraanku, penerbangan ini bakalan berlangsung sangat singkat karena kedua kota ini sebenarnya jaraknya dekaaat banget. 

Bali, semoga daya magismu menyembuhkan kegalauanku ya! Kataku dengan tersenyum sembari menatap semburat sinar matahari pagi yang mulai merekah.


Pelajaran : Keberangkatan malam ini sebenarnya benar-benar tidak perlu sama sekali wkwkwk. Sebenarnya aku bisa berangkat besok saja, langsung pesawat Surabaya-Denpasar. Harusnya aku bisa menenangkan dan menguasai pikiranku malam itu. Yahh gpp, itu sudah terjadi. Sekarang aku sudah lebih bisa menguasai pikiranku :)

Part Selanjutnya : DISINI

8.24.2014

Perjalanan Membelah Indonesia Tengah-Timur Selama 1 Bulan: I Found My Self!

Rute penjelajahanku selama satu bulan. Mulai dari Surabaya-Makassar-Bulukumba-Tana Toraja-Gowa-Maros-Surabaya-Banyuwangi-Denpasar-Kupang-Soe-Atambua-Surabaya-Solo.

15 Mei 2014
di dalam Kereta Sritanjung jurusan Surabaya-Banyuwangi

Well, kenapa ya kalau liburan rasanya waktu berjalan cepat bangat? Yah, meskipun cukup singkat, liburan ke Sulawesi Selatan ini telah menyembuhkan kegalauanku yang sempat mencapai to the max sebelum berangkat. Hehe. Sekarang bisa dibilang, galauku sudah hilang. Aku hanya ingin bercerita, aku ingin mengekplore lagi setiap sudut Indonesia. Aku ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa Indonesia adalah negara yang sangat indah, dan mereka sangat harus mengunjunginya. Aku banyak melihat sesuatu yang menyulutkan semangatku selama traveling.

Pada tanggal 15 Mei 2014, pukul 11.38 am, di Stasiun Gubeng Lama Surabaya adalah saat aku mengucapkan selamat tinggal (sementara) buat kedua travelmate-ku yang sudah bersama-sama selama 9 hari 8 malam terakhir ini. Mereka harus melanjutkan perjalanan ke Jogja, sementara aku ke Bali. Sedih? Sedih bangat, sekarang kerasa bangat bedanya. Aku di kereta Sritanjung jurusan Banyuwangi sendirian, yang biasanya ada teman cerita-cerita. Tapi aku percaya, kita tidak akan pernah sendiri. Kita akan selalu menemukan teman di sepanjang jalan.

Well, trip ke Sulawesi Selatan ini merupakan salah satu trip yang paling berkesan untukku. Hal itu karena aku kembali melihat budaya Indonesia yang begitu mengesankannya, terutama saat di Tana Toraja. Hal ini membuatku semakin mencintai negaraku dengan keindahan alam dan budayanya.
Over all, kami berhasil mengunjungi 4 kabupaten dan 1 kotamadya yakni:

1. Kabupaten Maros -->  Bantimurung, Gua Batu, Gua Mimpi, Kompleks Gua Purbakala Leang-Leang
2. Kabupaten Bulukumba --> Tanjung Bira, Pembuatan Kapal Pinisi, Pulau Liukang
3. Kota Makassar --> Pantai Losari; Makassar City Hall; Kuliner Mie Titi, Coto dan Pisang Epe; Otak-Otak Bu Elly;
4. Kabupaten Gowa-->  Air Terjun Parangloe
5. Kabupaten Tana Toraja-->  Batutumonga, Lokatonda, Kota Rantepao, Kete Kesu, Londa, Sulaya, Gambira

Capek? Sangat. Tapi tidak ada yang bisa menggantikan kepuasan ketika aku berhasil mengunjungi semua tempat itu. Tempat-tempat yang awalnya hanya sering kulihat di internet/TV, sangat senang ketika bisa melihat semuanya secara langsung.

Foto di Makassar Hall

Setelah sekian lama, akhirnya bisa mengunjungi Bantimurung kembali..

Air Terjun Parangloe, Kabupaten Gowa. Butuh sekitar 2 km trekking dari tempat parkir.

Keindahan Pantai Tanjung Bira Timur dengan latar belakang Kapal Pinisi

Akhirnya sampai juga di Tana Toraja :)

Cerita mengharukan?menyebalkan? Of course ada, inilah yang membuat perjalanan semakin berwarna bukan? Cerita mengharukan terjadi ketika kami sedang di Kabupaten Tana Toraja. Disana, kami ditampung oleh saudara teman kami yang adalah seorang dokter gigi. Baiknyaaa....masyaAllah....Beliau adalah salah satu dokter gigi paling terkenal di daerahnya, dan disaat pasiennya sedang menumpuk, beliau masih sempat menemui kami, mencarikan aku charger BB, mengantarkan kami ke pool bus naik mobil saat hujan deras, menyewakan kami motor dan meminjami kami 1 motor tril untuk keliling toraja, membelikan kami makan, bahkan berpesan kalau ada teman/saudara yang mau ke Toraja dipersilahkan menginap di rumahnya dan di saat akhir, malah mengucapkan terimakasih karena kami bersedia mampir di rumahnya selama di Tana Toraja. Aduh kebalik bapak, kami yang berterimakasih sekali.....

Selain Pak Dokter, kami banyak bertemu teman baik selama di Sulawesi. Saat perjalanan dari Makassar ke Bulukumba, kami bertemu pasangan Perancis-Perancis half Thai (Boni dan Surya) sehingga menambah teman baru. Kami banyak bercerita tentang budaya negara kami masing-masing, sehingga perjalanan menjadi terasa tidak lama. Selain itu, saat pulang dari Bulukumba ke Makassar, kami bertemu dengan 2 teman lagi asli Makassar (Kak Oliv dan Kak Doni). Mereka menyayangkan kenapa kami tidak ke Pulau Selayar dan Pulau Takabonerate, dan malah mentraktir kami kopi dan pop mie (gue) saat pulang, padahal baru kenal, terimakasih kakak. Hehehe.

Cerita menyebalkan terjadi ketika kami dipalak habis-habisan oleh supir kijang yang mengantarkan kami dari Kabupaten Bulukumba ke Kota Makassar. Tidak main-main, kami bertiga dimintai uang total 500.000 untuk membayar biaya transportasi kijang. Hal itu dikarenakan kijangnya tidak penuh, jadi kami harus membayar kekurangan 1 orang. Gimana nggak lemes...Padahal jarak Bulukumba-Makassar hanya sekitar 5 jam perjalanan. Tapi yasudah, biarlah itu menjadi salah satu pengalaman yang tidak boleh diulang.

Singkatnya, tanggal 15 Mei 2014, akhirnya berakhirlah petualangan kami menjelajah Sulawesi Selatan. Kami mengakhiri malam di Bandara Hassanudin dengan makan ikan kakap dan tidur klesotan di Mushola Bandara dengan membawa sejuta kenangan. Thanks Celebes!!
                                                                                                         ***

BALI
15-16 Mei 2014
Pukul 22 Waktu Indonesia Barat, akhirnya sampailah aku di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Ujung Timur Pulau Jawa. Apa yang aku lakukan? Pulau Bali akan menjadi tujuanku selanjutnya, bukan berlibur, hanya sebagai tempat transit sebelum melanjutkan petualangan berikutnya a.k.a menuju bandara. Aku akan terbang ke Kupang dari Denpasar sore ini.

Saat bertanya kepada seorang pedagang tentang ferry ke Pulau Bali, mas-nya menyarankan aku untuk ambil bus Banyuwangi-Denpasar yang banyak stand by di depan pelabuhan, jadi nyebrangnya bareng bus. Karena menurutnya sangat rawan bagi aku untuk jalan sendirian tengah malam. Tapi karena sudah pernah menyeberang Pulau Bali tengah malam, aku tetap bertekad akan naik ferry sendirian dan mengambil bus menuju Denpasar saat sudah sampai Pulau Bali. Ternyata semuanya berjalan lancar, penyeberangan hanya berlangsung selama 1 jam dan aku terdampar sendirian di Pulau Bali tengah malam. Apa yang harus aku lakukan? Jujur aku nggak tau.

Akhirnya setelah bertanya kepada beberapa petugas, aku dibilang bahwa bus ke Denpasar baru ada jam 2 pagi, padahal saat itu waktu baru menunjukkan jam 24.00 WITA. Yaudah gue pun berhenti di sebuah warung kopi kecil dan ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung serta Bapak Polisi. Mereka sangat membantu dan menunjukkan bus mana yang harus kutumpangi untuk menuju Denpasar. Thank you!!! Jam 2 lebih sedikit, akhirnya aku sudah berada di Bus yang akan mengantarkanku ke Denpasar.

Perjalanan selama 3 jam dari Pelabuhan Gilimanuk ke Denpasar berlangsung cukup lancar dan cepat. Di dalam bus aku banyak merenung, aku merenungkan tentang kehidupan yang kujalani sekarang, betapa aku sangat menikmati proses ‘melarikan diri selama sebulan’ dari rumah ini. Hehehe. Rasa rindu ke rumah seakan tidak ada, hanya ada rasa rindu untuk keluarga. Bagaimanapun, aku ingin seperti inilah kehidupanku kelak. Mempunyai beberapa usaha wiraswasta bidang travel agency yang bisa kupercayakan pada seseorang sementara gue-nya terus mbolang. Haha. Gue bisa membayangkan di masa depan, traveling menjadi semacam gaya hidup dan mungkin suatu saat akan menjadi kebutuhan, pasar yang menarik.

Singkatnya, setelah naik ojek seharga 50rb dari Terminal Ubung, sampailah aku di Bandara Ngurah Rai, segera menuju mushola untuk sekedar merebahkan badan sampai menunggu waktu check in jam 12.30 nanti. Di mushola ini, aku berkenalan dengan seorang teman asal Jawa juga yang akan menuju Kupang. Dia bercerita tentang pekerjaannya di Pertamina sebagai penyalur minyak di NTT.  Jadi setelah sampai Kupang, dia akan berkeliling NTT (ke pulau-pulau kecil juga) menggunakan kapal pertamina untuk menyalurkan minyak. Aku sangat tertarik dengan pekerjaannya dan membayangkan betapa asyiknya bekerja seperti itu, bisa berkeliling NTT bahkan sampai pulau-pulau kecilnya dengan gratis. Menunggu selama berjam-jam menjadi tidak terasa karena aku sangat menikmati cerita teman baru ini, akhirnya pukul 13.00 aku segera menuju ruang keberangkatan untuk check in.

Oya cerita lucunya, pagi-pagi gue sempat dimarahi petugas kebersihan Bandara Ngurah Rai karena mandi di kamar mandi (yang harusnya kamar mandi kering). Eee, emang gue pikirin? Hehehe (edisi nakal dikit).


Suasana Bandara Ngurah Rai pagi hari...


KUPANG
16 MEI 2014
Entah kenapa, setiap kali kembali ke Pulau Timor aku merasakan seakan sedang pulang kampung setelah sekian lama. Hmm, mungkin perasaan yang terlalu lebe. Tapi aku benar-benar merasakan kenyamanan setiap kali menginjakkan kaki disini, ini adalah ketiga kalinya aku ke Timor.

Segera setelah turun di bandara, aku sudah dijemput oleh beberapa kawan dari Universitas PGRI yang salah satu kost-nya menjadi host selama gue di Kupang. Hmm, mereka baik-baik sekali. Pertanyaan utama, apa yang gue lakuin di Timor untuk ketiga kalinya? Hmm, simak saja.

Sebenarnya salah satu tujuan utama datang ke Timor adalah pulang kampung, dan tentulah jalan-jalan tidak kulewatkan jika kebetulan teman-teman host gue itu sedang kuliah. Ada temen gue yang tanya, “Lah, lo kan udah pernah ke Kupang? Ngapain kesana lagi?”. Gue jawab, “ Kupang itu nggak selebar daun kelor, masih banyak tempat wisata yang belum gue jabah.” Jadilah kegiatan gue selama 10 hari di Kupang lebih banyak dihabiskan dengan jalan kesana kemari.

Karena kebetulan bisa mendapat pinjaman motor selama 3 hari, gue pun langsung ajak 2 teman pgri motoran sampai ke Soe untuk mengunjungi Air Terjun Oehala. Jadi tebaklah, 1 motor boncengan 3 orang, gue yang boncengin, yang tengah nggak pakai helm, hahaha. Gue pikir jarak Kota Kupang-Soe itu seperti Jogja-Solo, eee ternyataa 110 km dan belok-belok ala pegunungan tak aes-aes dan sepi nyenyet (selama ini gue biasa naik bis dan tidur jadi nggak terasa terlalu lama pas lewat pegunungan). Dan dinginnyaa, awii (karena Benua Australia mulai masuk musim dingin). Sempat mau jatuh 1x pas membelok curam gara-gara sebelumnya gue ngetawain orang di depan gue yang mau jatoh, Astafirulloh.


Air Terjun Oehala, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Selain Soe, selama disana gue juga kembali mengunjungi desa KKN gue tercinta, Desa Rinbesi Hat di Atambua. Disana nginap di rumah salah seorang adik, dan gue belajar banyak tentang cara menggembalakan sapi (ternyata gampang, tinggal pukul aja bokong sapi pakai ranting mereka udah tau jalan sendiri), memasak di lopo, makan nasi kacang maupun nasi jagung, mandi di sumur umum dengan pakaian lengkap masih dipakai, angkut-angkut air cukup jauh untuk air minum, mendengarkan percakapan Bahasa tetun terus menerus, digigit kutu busuk, wuaah pokoknya Atambua selalu jadi tempat yang nyaman dan menyenangkan buat gue. Always.

Disini gue jadi tau bagaimana anak-anak Atambua dididik sejak kecil, di Atambua semua anak seakan sudah disetting untuk membantu orangtuanya bahkan tanpa disuruh sekalipun. Misalkan membantu panen padi, membantu menyiram sayuran, memasak, angkut air. Itu semua dilakukan bahkan oleh anak-anak SD-pun, tanpa mengeluh atau apa. Bandingin disini yang anak-anak kecil aja udah sibuk main tablet/ipad, eaaaa -,- (iri belum bisa beli ipad ya? Hehehe, nggak pengen juga).

Over all, selain Soe dan Atambua , aku menghabiskan waktu di Timor dengan jalan-jalan keliling Kota Kupang. Mulai dari menggeje sore-sore dengan main ke Pura Oebanantha. Soalnya unik khan, di Kupang yang mayoritas Nasrani ada Pura, jadi gue penasaran. Pas lihat orang berdoa di dalam Pura, gue lihat mereka pada ga pakai sandal, yaudah gue pikir masuk di Pura ga boleh pakai sandal, yaudah sandal gue cangking. Eh waktu mereka selsai berdoa, mereka pada nanyain kenapa aku nggak pakai sandal. Hahaha, daripada malu gue jawab aja deh kaki lagi sakit. Gue ditanyain asalnya darimana, agamanya apa, dll. Ternyata Pura ini welcome untuk semua agama, aku menghabiskan beberapa saat disini untuk merenung religi dan melihat sunset,kebetulan memang pura-nya di pinggir laut!


Gerbang masuk Pura Oebananta

Sore yang syahdu kuhabiskan di pura...

Gue selalu merasa orang-orang disini sangat baik dan suka membantu, seperti beberapa kali aku dibantu dicarikan dan diberhentikan bemo saat tanya ‘bemo apa yang harus dipakai ke tempat tujuan’; gue sempat digratiskan naik bemo (padahal bemo-nya nggak lewat jalur gue, gue malah dianterin dan supirnya nggak mau dibayar hikz hikz); gue sempat mau diantarkan ke Gua Monyet oleh supir Bemo lampu 1 dan katanya gak bayar, tapi gue nolak karena nggak enak dan itu bukan jalurnya; gue sempat diantarkan pakai mobil oleh seorang yang gue tanyain ‘ dimana letak Mall Flobamora’, katanya kasihan karena gue dari Jogja dan sendirian; gue ketemu dengan Kak Inda (teman jalan-jalan dari Kupang) yang ngobrol seru dan malah traktir gue (makasi kakak). Hehehe, Terimakasih semuanya. Itu semua yang bikin gue cinta mati sama Timor, bukan kemodernan maupun kekayaan yang gue cari, tapi keramahan dan kebersahajaan orang-orangnya.


Bemo (diskotik berjalan) Kota Kupang yang berjasa mengantarkan ane keliling kota.. ajeb-ajeb!

Over all, tempat di Kupang yang gue kunjungi selama perjalanan ini adalah Taman Doa Oebelo, Pantai Manikin, Cafe Forjes, Pantai Tedis, Pantai Ketapang Satu, Pantai Pasir Panjang, Mall Flobamora, Goa Monyet-Pelabuhan Tenau, Pura Oebanantha, Pasar Oeba, dll uokeh.


Kejar sunset di Pantai Pasir Panjang, Kota Kupang

Salah satu sudut spot foto Taman Doa Oebelo di Kabupaten Kupang

Menikmati kesendirian di Pantai Manikin, Kota Kupang

Bersantai di seberang jalan Gua Monyet di dekat Pelabuhan Tenau..

Panas-panasan di Pantai Ketapang Satu, salah satu pantai paling terkenal di Kota Kupang..

Pada 29 Mei 2014, pukul 15.35 gue harus kembali menelan pil pahit karena harus pulang dan meninggalkan Pulau Timor. Saat pesawat Lion Air  tujuan Kupang-Surabaya sedikit demi sedikit mulai mengudara, hati ini terasa sangat hancur dan hanya bisa melihat Pulau Timor yang semakin lama semakin mengecil dan menghilang. See you next time, Timor!
   ***

30 Mei 2014
02.00 am
Pukul 02.00 pagi, tanggal 30 Mei 2014, aku harus menerima kenyataan bahwa proses ‘kabur dari rumah’ selama satu bulan itu akhirnya berakhir sudah. Aku sudah berada di kamarku lagi, mengetik jurnal traveling ini, sambil pikiranku masih berkelana membayangkan semuanya. Semua pengalaman yang kini hanya terekam di memori dan hanya bisa dituangkan dalam tulisan maupun gambar. I’ll do it again for sure!