Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan

8.18.2025

Probolinggo, 27-29 Oktober 2017 : Eksplor Gili Ketapang !

“Gili Ketapang?"

Dahiku sempat mengernyit saat pertama kali melihat ada tawaran day trip murah  di Instagram ke pulau ini dari Probolinggo. Hanya dengan Rp90.000 sudah termasuk kapal penyeberangan PP, alat snorkeling, pelampung, sampai makan siang. Serius nih?!”

Rasa penasaran langsung membawaku buka Google Maps. Ternyata benar, di sebelah utara Kota Probolinggo memang ada sebuah pulau kecil memanjang bernama Gili Ketapang. Jaraknya hanya sekitar 8 km dari bibir pantai, ditempuh dengan kapal motor sekitar 30 menit.

Setelah aku browsing lebih lanjut, ternyata pulau ini unik. Konon dulunya masih menyatu dengan daratan Jawa sebelum akhirnya terpisah akibat aktivitas vulkanik Gunung Semeru ratusan tahun lalu. Kini luasnya tinggal sekitar 68 hektar, tapi dihuni ribuan penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Budaya mereka kental dengan tradisi Madura pesisir – bahasa sehari-hari banyak memakai bahasa Madura.


Melihat fotonya di media sosial - air laut jernih, biota bawah laut yang berwarna-warni, dan paket snorkeling murah meriah, aku langsung janji pada diriku: suatu hari aku harus ke sana! Apalagi target pribadiku adalah menjelajah sebanyak mungkin destinasi di Jawa Timur selama masih tinggal di Surabaya. Tinggal siapin motor, temen seperjalanan, dan bensin secukupnya… berangkat! Menunggu dengan sabar, akhirnya kesempatan itu pun datang juga.


Jumat, 27 Oktober 2017

Hari itu, sepulang kerja (di kantor pemerintahan Surabaya), aku langsung pulang, mandi, packing seperlunya, dan bersiap berangkat. Travelmate-ku sudah siap, kami akan motoran bareng dengan tujuan ke Kota Pasuruan/Probolinggo. Kenapa pilihannya di antara 2 kota ini? Karena kalau motoran dari Surabaya – Probolinggo langsung, jaraknya sekitar 100 km. Sedangkan Surabaya – Pasuruan itu lebih pendek, kira-kira 65 km. Jadi, kalau badan nggak kuat, rencananya kami akan berhenti dulu dan nginap di Pasuruan, baru besok pagi lanjut. Tapi target utamanya jelas: Gili Ketapang!

Habis magrib, kami tancap gas keluar kota. Suasana Surabaya malam Jumat itu rame banget. Jalanan arah selatan menuju Sidoarjo dipadati arus kendaraan pekerja yang hendak pulang kampung. Lampu rem mobil berderet panjang seperti ular merah tak berujung, sesekali klakson bersahutan, dan motor-motor lain pun sama-sama berebut celah.

Ruas Surabaya – Sidoarjo benar-benar padat merayap. Si Merah, motor andalan kami, harus sabar ekstra. Nyoba nyalip susah, mau agak ngebut juga nggak bisa. Kadang malah harus berhenti total di persimpangan besar, nunggu lampu hijau atau karena saking macetnya arus. Udara malam itu sebenarnya cukup adem, tapi suasana jalan yang sesak bikin kepala rasanya ikut panas.

Begitu masuk wilayah Sidoarjo, lalu lintas mulai agak lega, meski tetap ramai. Jalur menuju Porong – Bangil dipenuhi truk-truk besar dan bus antar kota yang saling kebut, bikin pengendara motor harus ekstra waspada. Sesekali kami terjebak di belakang truk pasir yang jalannya pelan tapi asapnya bikin batuk. Tapi ya namanya juga perjalanan, harus dinikmati.

Sekitar Bangil, kami sepakat berhenti sejenak di sebuah kafe sederhana pinggir jalan. Bukan kafe hits ala kota besar, tapi cukup untuk duduk sebentar dan ngilangin pegal. Kami pesan kentang goreng sama segelas susu dingin, menyerapnya untuk menjadi energi. Masih ada ruas Bangil - Pasuruan/Probolinggo yang harus kami lalui .

Sekitar pukul 21.45 akhirnya kami sampai di Kota Pasuruan. Badan sudah agak pegal dan mata mulai berat. Setelah mempertimbangkan waktu dan tenaga, kami sepakat untuk tidak memaksakan diri lanjut ke Probolinggo malam itu. Lebih baik cari penginapan, istirahat, dan besok pagi berangkat lagi dengan kondisi segar.

Aku segera buka ponsel, mencari penginapan sederhana yang bersih dan layak. Syukurlah, ketemu satu hotel kecil dengan harga 200 ribu per malam sudah dapat kamar ber-AC. Tanpa pikir panjang, langsung ku-booking. Begitu tiba, kami disambut suasana kota Pasuruan yang khas. Jalanan masih ramai dengan lalu lintas malam, lampu kendaraan berderet, warung dan toko kelontong beberapa masih buka, tapi sebagian sudah tutup dengan pintu besi rapat. Udara pantura bercampur dengan aroma gorengan dari warung kaki lima yang masih berjualan di pinggir jalan.

Setelah check-in, kami segera masuk kamar. Kamarnya sederhana, kasur dengan sprei bermotif cerah, dinding putih polos, dan pendingin udara yang langsung kami nyalakan begitu masuk. Rasanya seperti oase setelah perjalanan panjang motoran. Aku meletakkan tas di sudut kasur, lalu langsung cuci muka dan membersihkan diri seadanya.

“Besok kita jam enam udah otw lagi ke Probolinggo ya. Usahakan tidur cepat,” ucapku pada travelmate sambil setel alarm di ponsel.
“Iya,” jawabnya singkat, sama-sama sudah kelelahan.

Malam itu tidak ada agenda lain. Kami hanya rebahan, memastikan semua perangkat elektronik terisi penuh, lalu membiarkan kantuk menelan tubuh yang lelah. Aku tersenyum kecil sebelum terpejam, akhirnya mimpi untuk menjejak Gili Ketapang sudah di depan mata.


Sabtu, 28 Oktober 2017

Keesokan paginya aku terbangun sekitar pukul 06.00. Setelah bermalas-malasan sebentar di kasur, akhirnya aku paksa tubuhku untuk bangun dan bersiap mandi. Sesuai jadwal, peserta day trip ke Gili Ketapang diwajibkan berkumpul di Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo jam 9 pagi. Sementara jarak dari Pasuruan ke Probolinggo masih sekitar 40 km dengan waktu tempuh motoran kurang lebih 1 jam. Jadi supaya masih sempat sarapan dan tidak tergesa-gesa, aku harus gerak lebih cekatan pagi itu.

Aku mandi duluan, dilanjutkan oleh travelmate, lalu sekitar pukul tujuh lebih sedikit kami sudah siap berangkat. Udara pagi terasa sejuk, belum banyak kendaraan besar melintas, jadi perjalanan cukup lancar. Jalur pantura pagi itu masih bersahabat, hanya sesekali ada truk dan bus antar kota yang lewat. Di kiri-kanan jalan, warung kopi dan toko kelontong mulai buka, terlihat aktivitas warga yang baru memulai hari. Rasanya jauh lebih lega dibanding perjalanan malam sebelumnya yang penuh sesak.

Sekitar pukul 08.15 akhirnya kami memasuki Kota Probolinggo. Waktu sebenarnya sudah agak mepet, tapi kami tetap memutuskan untuk sarapan dulu di dekat alun-alun kota. Aku tahu risikonya, bisa jadi mepet banget sampai pelabuhan. Tapi menurutku lebih bahaya kalau langsung snorkeling tanpa isi perut sama sekali. Bisa lemes di tengah laut, kan gawat juga. Jadi kami duduk sebentar, menikmati sarapan seadanya, sambil sesekali melirik jam.

Belum selesai makan, notifikasi WhatsApp mulai masuk. Panitia trip sudah menanyakan posisi kami. Dengan buru-buru kami habiskan sarapan, langsung tancap gas menuju pelabuhan. Untungnya jarak dari alun-alun ke Pelabuhan Tanjung Tembaga tidak terlalu jauh. Jam tepat menunjukkan pukul 09.00 ketika akhirnya kami sampai di pelabuhan. Pas banget. Lega rasanya.

Sesampainya di Pelabuhan Tanjung Tembaga, ternyata semua peserta sudah berkumpul rapi dan bahkan sudah standby di kapal nelayan yang akan membawa kami menyeberang ke Gili Ketapang. Jadi agak nggak enak rasanya, ternyata tinggal kami berdua yang ditunggu wkwk. Tanpa banyak basa-basi, kami langsung naik ke atas kapal, mencari posisi duduk yang lumayan nyaman. 

Pagi itu matahari mulai terasa terik, sinarnya mantul di permukaan air laut. Dari dermaga, air laut tampak hijau agak keruh, bercampur dengan aktivitas pelabuhan yang padat. Bau khas laut dan solar dari kapal nelayan bercampur jadi satu, benar-benar atmosfer pesisir yang khas. Tapi begitu kapal mulai melaju menjauh dari pelabuhan, pemandangan perlahan berubah.

Air yang semula kehijauan dan keruh perlahan berganti menjadi biru tua yang lebih jernih. Ombak kecil bergelombang tenang, memantulkan cahaya matahari pagi. Di kejauhan, garis daratan Jawa mulai tampak mengecil, sementara hamparan laut lepas di utara semakin mendominasi pandangan. Angin laut menerpa wajah, rasanya campur aduk antara segar, asin, dan bikin rambut acak-acakan. 

Kapal nelayan terus melaju dengan suara mesin yang monoton, tapi justru jadi irama pengantar perjalanan. Dari kejauhan mulai terlihat siluet pulau kecil memanjang. Itulah Gili Ketapang, tujuan kami pagi itu.

Semakin dekat dengan Gili Ketapang, rasa kagum itu makin menjadi. Laut yang tadinya biru tua kini berubah gradasi jadi biru muda dan toska, jernih sekali, bahkan dasar karang terlihat samar-samar dari atas kapal. Rasanya benar-benar beda jauh dengan air laut di Pelabuhan Tanjung Tembaga yang tadi masih hijau agak keruh.

Di kejauhan terlihat deretan perahu nelayan yang bersandar di tepi pulau, bendera merah putih berkibar di tiang-tiangnya. Beberapa nelayan tampak sibuk, ada yang memperbaiki jaring, ada juga yang mengangkut barang ke gubuk-gubuk sederhana di tepi pantai. Suasana begitu hidup, seakan menyambut kedatangan kami para tamu akhir pekan.

Pasir putih pulau mulai tampak jelas, berkilau disinari matahari yang siang itu terasa menyengat. Kontras sekali dengan birunya laut. Aku sampai terpana beberapa kali, benar-benar tak menyangka kalau pulau kecil di utara Probolinggo bisa punya panorama secantik ini.

Akhirnya kapal menepi dan kami turun satu per satu, menginjakkan kaki di pasir putih yang terasa panas sekali di telapak kaki. Angin laut berhembus kencang, tapi tidak cukup untuk mengalahkan teriknya matahari. Kami lalu diarahkan menuju sebuah bale-bale bambu beratap rumbia yang sepertinya akan jadi tempat makan siang nanti. Suasananya sederhana tapi teduh, cukup untuk berkumpul bersama.

Di sana, pemandu tour membagikan pelampung dan alat snorkeling kepada kami yang jumlahnya sekitar sepuluh orang. “Kita langsung snorkeling ya setelah ini, silakan ambil yang ukurannya pas. Nanti akan ada dua sampai tiga spot. Setelah snorkeling baru kita makan siang,” jelasnya. Aku mendengarkan sambil menatap laut jernih di depan mata, rasanya sudah tidak sabar untuk segera nyebur.

Setelah semua peserta mendapatkan pelampung dan alat snorkel masing-masing, kami kembali naik ke perahu. Suasana jadi lebih heboh, ada yang sibuk menyesuaikan masker, ada yang bercanda soal takut tenggelam meskipun sudah pakai pelampung. Mesin kapal kembali meraung, membawa kami ke tengah laut untuk menuju spot snorkeling pertama.

Tidak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit kemudian mesin mulai melambat. Pemandu berdiri di ujung kapal dan memberi aba-aba. “Silakan, ini spot snorkeling pertama ya. Waktunya sekitar 30 menit,” katanya sambil tersenyum.

Aku segera mengencangkan pelampung, memastikan masker dan snorkel terpasang benar, lalu dengan satu hentakan… byur! Tubuhku langsung terasa segar disambut air laut yang jernih. Dunia langsung berubah total. Di bawah permukaan, terbentang pemandangan karang warna-warni dengan ikan-ikan kecil yang lincah berenang kesana kemari. Ada ikan biru yang bergerombol, ada juga ikan badut yang sesekali keluar masuk anemon laut, persis kayak di film animasi yang terkenal itu. Sinar matahari menembus dari atas, membuat warna karang semakin memikat.

Aku snorkeling kesana kemari mengikuti liukan ombak, mencoba mendekat ke kumpulan ikan yang terlihat sibuk mencari makan di sela-sela karang. Sesekali aku menengadahkan kepala, memastikan posisiku tidak terlalu jauh dari kelompok. Aku juga selalu melirik ke travelmate-ku, memastikan ia aman. Wajar saja, karena ini pengalaman pertamanya snorkeling, ditambah lagi ia tidak bisa berenang. Untungnya pelampung membuatnya cukup percaya diri, meskipun wajahnya masih campur aduk antara grogi dan kagum.

Melihat ekspresinya, aku jadi ikut senang. Rasanya menyenangkan bisa berbagi pengalaman pertama yang indah seperti ini. Aku sempat mengajarinya untuk rileks, hanya mengapung saja, lalu sesekali menundukkan kepala menikmati keindahan bawah laut. Dan ketika ia akhirnya berani melihat lebih lama ke dalam air, aku bisa melihat matanya berbinar di balik kacamata snorkel.

Sekitar tiga puluh menit menikmati pemandangan bawah laut, pemandu mulai memberi aba-aba agar kami kembali naik ke kapal. Masih ada spot lain yang akan dikunjungi. Mesin kapal kembali meraung, membawa kami ke arah berbeda. Kali ini jaraknya tidak jauh, mungkin hanya sepuluh menit perjalanan saja sebelum mesin kembali dimatikan dan pemandu menunjuk ke arah laut.

“Ini spot snorkeling kedua ya. Di sini ada tulisan ‘Gili Ketapang’ di bawah air. Nanti kalian bisa foto satu per satu, pelampungnya dilepas, nanti kami bantu dorong,” jelasnya.

Kenapa adanya fotonya begini wkwkwk... File yang bagus hilang..

Satu per satu peserta bersiap. Kami diarahkan untuk berpegangan pada tali yang dipasang dekat tulisan itu, sementara dari atas kapal pemandu membantu mendorong agar posisi tubuh kami bisa tenggelam. Aku rasa hasilnya pasti keren. Peserta lain menunggu giliran sambil mengapung di sekitar kapal.

Begitu giliranku, aku melepas pelampung, mengencangkan snorkel, lalu byur, tubuhku didorong pemandu ke arah tulisan besar “Gili Ketapang” yang diletakkan di dasar karang. Hal pertama yang kurasakan adalah, telingaku langsung sakit terkena tekanan air di kedalaman 4 meter ini. Aku langsung meraih tali yang disediakan, mencoba tersenyum ke arah kamera meski mulut sedang rapat menahan napas. 'Klik', kamera underwater pemandu menangkap momen itu. 

Setelah semua peserta mendapat jatah foto, kami diberi waktu sebentar lagi untuk snorkeling bebas. Aku kembali menikmati liukan ikan-ikan kecil di sela karang, tapi tak lama pemandu memberi tanda. “Kita kembali ke pulau untuk makan siang ya,” serunya.

Tidak butuh waktu lama kapal sudah mengantarkan kami kembali ke Gili Ketapang, tepatnya di bale-bale bambu tempat kami berkumpul tadi pagi. Sekelompok penyelenggara tur terlihat sibuk memanggang ikan di atas bara. Bau harumnya langsung bikin perut makin meronta. “Kalian bisa mandi dulu atau langsung makan,” kata pemandu.

Aku dan travelmate sepakat, mandi belakangan saja. Perut sudah nggak bisa kompromi. Kami langsung ikut antre, mengambil segepok nasi putih hangat, ikan bakar yang aromanya bikin ngiler, plus sambal kecap pedas manis. Begitu suapan pertama masuk mulut, aku refleks nyeletuk, “Wah enaknyaaa!” Rasa ikan lautnya segar, gurih, dan berpadu sempurna dengan sambal kecap. Kabar baiknya, semua peserta boleh nambah sepuasnya. Aku sampai nambah dua kali saking nikmatnya.

Selesai makan, kami leyeh-leyeh sebentar, baru kemudian bergantian mandi di bilik sederhana yang tersedia. Badan rasanya segar kembali setelah berendam lama di laut. Usai mandi, kami sempat beli minuman dingin di warung kecil dekat bale-bale, lalu pemandu memberi tahu kalau kami punya waktu bebas sekitar satu jam sebelum kapal dijadwalkan kembali ke Pelabuhan Probolinggo jam tiga sore.

Kesempatan itu tentu saja tidak kami sia-siakan. Aku dan travelmate memutuskan jalan kaki menyusuri pulau. Suasananya benar-benar khas pemukiman pesisir sederhana. Rumah-rumah warga terbuat dari tembok bercampur bambu, berjejer rapi meski tampak apa adanya. Jalan utamanya berupa tanah berdebu, dengan pagar bambu di kanan-kiri. Masih banyak warga yang memelihara kambing, tampak beberapa ekor sedang diikat di depan rumah, mencari makan seadanya.

Pepohonan di sepanjang jalan sebagian besar gersang, rantingnya dipangkas, menyisakan daun-daun yang tidak terlalu lebat. Sinar matahari sore menerobos di sela-sela batang, membuat bayangan pagar bambu jatuh ke jalan tanah. Meski sederhana, ada kehangatan tersendiri melihat anak-anak kecil berlarian, warga duduk di teras rumah, dan sesekali menyapa ramah.

Sekitar jam tiga sore, pemandu mulai mengumpulkan kami semua di bale-bale. “Sekarang saatnya kembali ke Pelabuhan Probolinggo ya. Semoga kalian puas dengan trip hari ini, puas dengan snorkelingnya, puas juga sama makanannya,” katanya sambil tersenyum. Aku cuma nyengir, dalam hati mengiyakan.

Saat itu memang belum memungkinkan untuk camping atau menginap di Gili Ketapang, jadi pilihan satu-satunya ya harus pulang lagi sore itu juga. Kami naik ke kapal, duduk di tempat masing-masing, lalu mesin kembali meraung. Perjalanan pulang ditempuh sekitar tiga puluh menit, kali ini terasa lebih tenang. Angin laut sore membelai wajah, matahari sudah mulai condong, dan aku duduk sambil membiarkan pikiran melayang.

Ada rasa puas yang sulit dijelaskan. Perjalanan yang awalnya cuma bermula dari rasa penasaran melihat postingan media sosial akhirnya benar-benar terwujud. Aku sudah menginjakkan kaki di Gili Ketapang, sudah menikmati snorkeling, sudah merasakan makan siang ikan bakar segar di tepi pulau, dan sudah melihat langsung kehidupan sederhana penduduknya. Rasa penasaranku akhirnya terpenuhi. 

Setelah kapal merapat di Pelabuhan Tanjung Tembaga, kami segera turun, mengambil motor yang sejak pagi sudah dititipkan di area parkir. Hari masih sore dan sebenarnya tidak ada agenda lain yang harus kami kejar. Aku menoleh ke travelmate, lalu nyeletuk, “Kita ke kafe aja dulu ya, ngadem.” Dia cuma mengangguk setuju sambil senyum, jelas sama lelahnya dengan aku.

Kami pun melaju ke salah satu kafe di pusat Kota Probolinggo. Rasanya nikmat banget bisa duduk di kursi empuk setelah seharian snorkeling dan jalan kaki keliling pulau. Aku memesan segelas es dingin yang langsung bikin tenggorokan plong, sementara sepiring kentang goreng jadi camilan santai sore itu. Kami ngobrol ringan, ketawa-ketawa kecil, sambil menikmati suasana kota yang lebih kalem dibanding hiruk pikuk Surabaya.

Menjelang malam, kami memutuskan untuk menginap di salah satu hotel sederhana di Kota Probolinggo. Setelah meletakkan barang, kami keluar sebentar untuk cari makan malam. Nggak ada yang spesial, hanya sekadar warung makan lokal dengan menu sederhana, tapi setelah aktivitas seharian, rasanya tetap nikmat luar biasa.

Sisanya malam itu kami habiskan untuk istirahat. Tidak ada agenda lain, tidak ada jalan-jalan tambahan, hanya tubuh yang butuh rebahan. Perjalanan hari itu sudah lebih dari cukup memberi kesan mendalam.


Minggu, 29 Oktober 2017

Esok harinya, sekitar jam 12 siang, setelah check-out dari hotel di Probolinggo kami langsung tancap gas kembali ke Surabaya. Tidak ada lagi yang harus dikejar, jadi aku memilih berkendara dengan santai dan hati-hati saja. Namun perjalanan pulang ini jelas bukan hal yang mudah. Jalur Probolinggo–Surabaya membentang sepanjang kurang lebih 100 km, dan siang itu matahari sedang garang-garangnya.

Begitu keluar dari Kota Probolinggo, hawa panas langsung menyerang. Angin yang berhembus pun rasanya ikut panas, bukan menyejukkan. Jalanan pantura dipenuhi lalu lintas padat: truk besar, bus antar kota, mobil pribadi, dan deretan motor. Sesekali kami harus menyalip kendaraan panjang yang berjalan lambat, sambil tetap waspada karena dari arah berlawanan truk-truk lain melaju kencang.

Memasuki Pasuruan, panas siang semakin terasa menyengat. Debu jalan beterbangan, keringat mulai membasahi punggung meski sudah dilindungi jaket. Kami tetap melaju perlahan, menikmati ritme jalanan meski agak melelahkan. Sekitar daerah Grati, kami memutuskan untuk berhenti sejenak. Perut sudah mulai lapar, tenggorokan kering, jadi mampir ke sebuah warung sederhana di pinggir jalan untuk makan sore. Sepiring nasi, lauk seadanya, dan segelas minuman dingin rasanya jadi energi baru untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah itu kami kembali ke jalan. Rute Bangil–Sidoarjo masih padat merayap, apalagi menjelang sore. Sesekali harus sabar terjebak di belakang kendaraan besar, sesekali berusaha mencari celah untuk menyalip. Tapi kami tidak buru-buru, tujuannya hanya sampai rumah dengan selamat.

Akhirnya, sebelum magrib, kami masuk kembali ke Surabaya. Rasa lega bercampur puas langsung menyeruak. Panas, debu, dan lelah motoran terbayar dengan pengalaman dua hari yang memorable di Gili Ketapang. Sebuah perjalanan sederhana, tapi menyenangkan, dan yang paling penting… rasa penasaranku pada pulau kecil itu akhirnya benar-benar terjawab.

FINISHED..

11.01.2024

Jember, 14-15 Januari 2017 : Eksplor Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma

JemberSabtu 14 Januari 2017
Let's Explore Jember !

"Weekend runaway episode minggu ini, Jember. Dalam rangka keliling Jawa Timur selagi kerja disini. Masih banyak potensi wisata alam yang bisa dikembangkan di Kab. Jember."

Ane dan travelmate turun dari kereta Probowangi dengan semangat ! Yeah, akhirnya setelah 4 jam perjalanan sampai juga kami di Kabupaten Jember. Salah satu kabupaten di bagian timur Provinsi Jawa Timur yang akan kami eksplore minggu ini. Saat itu, status ane masih sebagai pegawai kantoran di Surabaya, dan ane mempunyai tekad, sembari kerja di Jatim, ane pengen eksplore sebanyak mungkin tempat disini ! Bukan keinginan yang muluk-muluk kurasa, karena eksplore tempat-tempat wisata di Jatim tidaklah terlalu sulit. Transportasi sudah lengkap dan banyak, tempat wisata hampir sebagian besar terawat,  dan homestay di dekat tempat wisata pun melimpah.

Kami melangkahkan kaki keluar stasiun dan memutuskan mencari sarapan dahulu sebelum memulai petualangan. Warung nasi pecel di depan Stasiun Jember menjadi pilihan kami. Ya begitulah gaya jalan ane, selalu cari tempat yang sederhana untuk makan dan tidur. Sederhana yang penting bersih. Karena yang ane pentingkan lebih ke pengalamannya.

Hari ini kami ada sedikit kendala, karena meskipun sudah tiba pagi, namun kami tidak mendapatkan sewaan motor. Yah.. karena ane apa-apa selalu mendadak sih 😁. Kami baru bisa mendapatkan sewa motor esok hari, hari minggu. Yahhhh... Terus mau ngapain coba hari ini 😩. Explore tanpa motor itu bagaikan mau jalan di jalanan aspal panas tanpa sendal/sepatu. Tetep gak bisaaa..

Bukannya kami males-malesan ya 😁 tapi kebanyakan wisata yang diincar itu adalah wisata alam yang lokasinya jauh-jauh di selatan. Jadi bakal gak memungkinkan banget kalau naik transport umum.

Akhirnya selesai makan, ane segera membooking hotel untuk hari itu. Yahh walaupun belum bisa explore hari ini, setidaknya hari ini bisa staycation dulu, ala liburan dengan rebahan aja di hotel 😁. Hotel Cenderawasih dengan tarif Rp 97.000/malam menjadi pilihan ane. Selesai makan kami segera jalan membeli beberapa snack+aqua ke minimarket dan setelahnya naik angkot menuju ke hotel tersebut. Benar-benar mode ngirit nih ya hari ini hehehe...


Sekitar jam 10 kurang dikit akhirnya sampailah kami di Hotel Cenderawasih. Untungnya pegawainya cukup baik untuk mengizinkan kami check in duluan, dan seharian itu kami benar-benar nggak ngapa-ngapain hanya tiduran di kasur hehe.. keluar hanya pas cari makan aja. Habis gimana, motor nggak ada. Mau kemana-mana juga males kalau harus ngangkot hihi dasar pemalas. Hitung-hitung istirahat dari kepenatan bekerja lah ya..Rencana kami akan memulai petualangan esok hari dengan tujuan utama ke Pantai Papuma.

Minggu, 15 Januari 2017
Hari ini kami bangun cukup pagi karena harus serah terima motor sewaan dan setelahnya sesegera mungkin mulai eksplor karena jarak Pantai Papuma yang cukup jauh dari Kota Jember. Setelah beres-beres dan sarapan, sekitar jam 7 pagi kami memulai perjalanan. Perjalanan yang awalnya masih di jalur rata, semakin berkendara ke arah selatan mulai berkelok-kelok dengan pemandangan hijau yang mendominasi. Sekitar jam 8 pagi akhirnya kami sampai di Pantai Watu Ulo. Karena ini hari Minggu, suasana pantainya cukup ramai dengan pengunjung lokal. Pantai ini punya keunikan batu-batu besar yang memanjang ke arah laut, konon katanya mirip bentuk ular (dalam bahasa Jawa: "ulo"). Mitos lokal memang menarik, tapi yang paling seru adalah suasana pantai yang khas dengan angin laut yang sejuk dan ombak yang berdebur keras. Suasananya cenderung tenang, dengan pasir kecokelatan dan air laut biru kehijauan yang memikat mata. Kami sempat berfoto-foto dan membeli minuman ringan di warung tepi pantai. 

Lanjut dari Watu Ulo, kami mengarahkan motor ke Pantai Papuma. Pantai ini masih berdekatan dengan Watu Ulo, tapi punya karakteristik yang berbeda. Setibanya di Papuma, suasana terasa lebih eksotis. Pantainya luas dengan pasir putih bersih, dan di kejauhan terlihat bebatuan karang besar yang menjulang dari dalam laut, menambah kesan unik di pantai ini. 

Kami memutuskan untuk naik ke bukit di sebelah pantai dengan membayar biaya masuk Rp10.000/orang. Jalur menuju bukit ini sedikit berbatu dan berundak, tapi sudah dipermudah dengan dibangunnya anak-anak tangga. Begitu sampai di atas, pemandangan terbuka luas, memperlihatkan seluruh garis pantai dan laut yang membentang biru jernih. Dari atas bukit, terlihat jelas garis ombak dengan buih keputihan yang memecah ke pantai dengan rapi. Angin bertiup cukup kencang di sini, dan suasananya begitu tenang; sangat cocok buat sekadar duduk dan menikmati keindahan alam tanpa gangguan. Ane dan travelmate bergantian mengambil foto di spot ini, rasanya benar-benar bebas seperti burung.. hehehe..


Dari sini juga nampak sisa-sisa bebatuan yang pernah terkena abrasi laut.Bentuknya unik dan ada yang seolah-olah terbentuk alami seperti pulau-pulau kecil.Salah satu formasi batuan yang menarik perhatian adalah Pulau Kajang, yang terlihat seperti pulau kecil di tengah laut. Batu besar ini berdiri kokoh di tengah ombak yang mengelilinginya, dan permukaannya agak menonjol dengan bentuk khas yang menyerupai kerucut. Terlihat jelas bagaimana kekuatan laut telah membentuk dan mengikis tepi-tepinya, menciptakan relief alami yang memikat.



Setelah puas menikmati pemandangan dari atas, kami turun kembali ke pantai. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri makan di warung tepi pantai yang menjual ikan bakar dan sayur. Ikan bakarnya sederhana namun terasa segar dan gurih, dilengkapi sambal yang pedasnya pas dan lalapan sayur. Duduk di bawah pohon sambil menikmati hidangan khas pesisir benar-benar melengkapi perjalanan hari itu.

Sekitar jam 13.00 setelah puas menikmati pemandangan, sejuknya angin pantai, dan gurihnya ikan bakar; kami akhirnya memutuskan kembali ke Kota Jember. Kereta pulang kami ke Surabaya dijadwalkan berangkat jam 16.30 jadi kami harus mengatur waktu dengan baik. Perjalanan berlangsung selama 1 jam kembali ke Kota Jember, dan akhirnya sekitar jam 3 sore kami udah sampai kembali di Stasiun Jember untuk mengembalikan motor.

Jam 16.30 kami naik kereta Probowangi dan sampai Surabaya kembali sekitar jam 10 malam. Trip yang singkat tapi sangat berkesan :). Semoga secepatnya bisa eksplor Jawa Timur bagian yang lain lagi.

11.04.2021

Surabaya, 6 Desember 2019 : Iseng Mengunjungi Hutan Bambu Surabaya

Sore itu, daripada gabut, setelah menyelesaikan beberapa urusan kerjaan, aku mengajak temanku, Nur, untuk main ke Hutan Bambu Surabaya. Soalnya aku udah sering lihat fotonya di Instagram dan kelihatan menarik, mirip-mirip dengan hutan bambu di Jepang. Yah, walaupun aku sadar sih, miripnya masih ala-ala aja. Setelah membaca beberapa review traveler di Google Maps (aku memang hobi baca review sebelum ke tempat wisata), akhirnya kami putuskan berangkat sekitar jam setengah lima sore dari daerah Dukuh Kupang.

Lokasi Hutan Bambu Surabaya ini ada di kawasan Sukolilo, Surabaya Timur. Tempatnya satu area dengan Taman Harmoni Surabaya, sebuah taman kota luas yang sering dipakai warga buat jalan-jalan sore atau olahraga ringan. Menariknya, Hutan Bambu ini dulunya adalah bekas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang disulap oleh Pemerintah Kota Surabaya jadi ruang terbuka hijau. Dulu bisa kubayangin pasti kotor dan bau sampah, tapi sekarang diubah jadi deretan hutan bambu raksasa yang fotogenik. Salut juga dengan ide Pemkot yang bisa mengubah lahan bekas TPA jadi destinasi wisata alternatif.

Perjalanan menuju Sukolilo sore itu lumayan macet karena jam pulang kerja. Kami sampai sekitar pukul lima sore lebih sedikit, dan langit sudah mulai meredup. Saat tiba, suasananya cukup sepi—tidak ada penjaga maupun pengunjung lain. Kami pun segera memarkir motor dan langsung masuk ke area hutan bambu.


Sesaat setelah masuk, ane begitu apresiasi langkah Pemerintah Kota Surabaya untuk mengubah tempat yang awalnya "Tempat Pembuangan Akhir" atau TPA menjadi sebuah hutan bambu. Deretan rumpun bambu yang tinggi menjulang menciptakan lorong alami yang estetik. Kalau difoto dari sudut tertentu, memang sekilas terasa seperti sedang berada di Jepang. Walaupun secara skala tidak sebesar Arashiyama Bamboo Forest di Kyoto, tapi untuk ukuran taman kota di Surabaya, tempat ini sudah lebih dari cukup buat refreshing dan hunting foto.

Meski untuk dibilang spektakuler banget, aku rasa nggak juga ya. Tapi cukup bagus. Kami menghabiskan sekitar setengah jam disitu untuk foto-foto. Setelahnya kami langsung cuss balik ke arah Dukuh Kupang karena langit mulai menggelap, dan .... Nyamuk-nyamuk mulai berdatangan nyedot darah.. Ulala.. nyamuk di Surabaya ini emang luar biasa banyaknya.


P.S : Foto diedit dengan efek ya. Ditambahi saturasi. 

10.26.2021

Lumajang, 6 Desember 2017 : B29 dan B30!

Puncak B30 di Desa Senduro, Kabupaten Lumajang. Nyetir sendiri naik motor sama temen dengan jarak 188 kilometer Surabaya-Lumajang (B30). PP hampir 400 kilo dalam 2 hari. Tapi pemandangannya luar biasa. Tarif masuk hanya 5 ribu, naik ojek dari homestay kaki B30 ke puncak B30 100rb/orang/PP (ojek dgn jalur offroad/trail). Ketinggian puncak B30 mencapai 2900 mdpl.
.
Perjalanan ini sekaligus ngetes ketahanan tubuhku nyetir motor jarak jauh, ternyata kuat 188 km, berhenti 3x. Untuk persiapan motoran 'Ekspedisi Nusatenggara 2018.'

11.01.2016

Gresik, 10 Oktober 2015: Ditolak Bukit Jamur Sampai ke Pantai Delegan

Aku mempunyai prinsip, selagi kerja di Surabaya, aku ingin mengunjungi tempat wisata sebanyak mungkin di Jawa Timur. Kapan lagi kan? Aku tidak harus mengeluarkan ekstra biaya untuk membeli tiket kereta api ke Jawa Timur dahulu. Hanya perlu aku, seorang teman (aku kurang suka jalan-jalan sendiri), Si Merah (Motor Shogun 125 kesayanganku) dan uang secukupnya.

Ini hari Sabtu, hari yang mungkin ditunggu-tunggu oleh sebagian besar karyawan pemerintahan sepertiku karena bisa dibilang merupakan hari liburan. Jika tidak terpaksa, sebenarnya aku malas sekali kalau harus menghabiskan akhir pekan di kos, karena aktivitasku hanya berkisar pada tidur, nonton film, internetan dan tidur kembali. Justru membuat badanku pegal-pegal karena tidak banyak gerak. Mau mencuci malas, bersih-bersih kos malas, memasak malas. Alhasil hanya seperti siput seharian, tiduran sambil nyemil dan internetan. Benar-benar gaya hidup yang tidak sehat. Karena itulah aku sering dilanda kejenuhan pada akhir pekan.

"Eh ke Bukit Jamur yuk? Aku lihat di internet bagus nih, Nggak jauh kok dari Surabaya sini mungkin sekitar 20 kiloan" kataku ke teman bolangku.

Aku melihat sebuah tempat wisata yang konon katanya merupakan bekas pertambangan. Terlihat adanya sisa-sisa batuan yang ditinggalkan dan membentuk seperti jamur. Sepertinya cocok untuk foto-foto walau aku yakin cuaca pasti panas banget disana.

"Ayok dah," kata temanku dengan semangat.

Setelah persiapan singkat dan mengisi penuh bensin untuk Si Merah, aku segera melajukan motor dari Surabaya Pusat ke arah Kota Gresik. Menurut google map, jarak yang harus kami tempuh sekitar 18 kilo. melewati ruas jalan Gresik Gadukan Timur - Jalan Kalianak Timur - Jalan Greges Timur - Jalan Tambak Osowilangun - Jalan Kragan Rembang Surabaya. 

Pemandangan yang kami jumpai di sepanjang jalan kurang menarik. Truk-truk barang raksasa mendominasi di jalanan yang lebarnya hanya sekitar 10 meter ini, membuat jalanan sering macet jika berpapasan. Sisanya, mobil-mobil pribadi, angkot, dan ratusan motor tumpah ruah di jalanan ini. Udara panas masih menyengat, debu-debu dan asap kendaraan bercampur.

Satu jam kemudian kami sudah sampai Kota Gresik. Bangunan industri dengan gudang-gudangnya yang besar langsung menyambut kami. Hal ini tentunya tidak mengherankan karena Kabupaten Gresik merupakan subwilayah pengembangan bagian (SWPB) yang tidak terlepas dari kegiatan subwilayah pengembangan Gerbang Kertasusila (Gresik, Bangkalan, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan). Gresik termasuk salah satu bagian dari 9 subwilayah pengembangan jawa timur yang kegiatannya diarahkan pada sektor pertanian, industri, perdagangan, maritim, pendidikan, dan industri wisata.

Aku melajukan Si Merah ke utara untuk menuju Bukit Jamur. Menurut google map, kami harus melalui jarak sekitar 27 kilometer melewati ruas jalan Gresik-Tuban. Disinilah masalah dimulai. Sekitar setengah jam setelah melewati Kota Gresik, tiba-tiba ban motor Si Merah bocor... Duh, aseem!!

"Waduh bocor ini bannya," kataku dengan kesal.

"Yaudah cari tambal ban dulu aja.... Eh duuh aku kok sesak nafas ya," jawab teman bolangku dengan panik.

"Waduuh, kenapa kamu?" tanyaku setengah panik.

"Gak apa-apa, kamu jalan dulu aja cari tambal ban. Aku tunggu disini."

Setelah susah payah menyeberang jalanan yang sangat ramai, akhirnya aku menemukan tambal ban dan segera menjemput temanku, untunglah dia sudah tidak apa-apa.

"Gimana keadaanmu?"

"Udah gak apa-apa kok. Sumpah tadi sesek banget rasanya."

Ya ampun! Ada-ada saja........


###

Selesai tragedi ban bocor dan sesak nafas, semuanya menjadi lebih baik dan lancar. Aku memacu Si Merah secepatnya, ingin cepat sampai karena cuaca sangat panas. Kami membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk mencapai daerah dekat Bukit Jamur.

"Stop, stop, daerah dekat sini," kata temanku tiba-tiba. Dia membawa HP dengan google map untuk petunjuk.

"Loh, ini kan pintu masuk perusahaan tambang? beneran disini?" tanyaku setengah yakin.

"Iya bener kok disini."

Karena tempat masuk perusahaan tambang tersebut tidak ada gerbang dan suasana terlihat sepi, aku langsung melajukan Si Merah . Sekitar 50 meter berjalan di jalanan tanah berkapur tersebut, terdengar suara seseorang memanggilku sembari meniup peluit.

Waduh...

"Mbak, mbak, dilarang masuk kesana."

"Iya Pak, bagaimana?" tanyaku dari kejauhan sembari melajukan motor ke arah mereka.

"Begini mbak, hari ini tidak boleh masuk kesana karena ini pertambangan masih aktif. Masih banyak truk dan alat berat keluar masuk jadi berbahaya."

"Tapi kami mau menuju Bukit Jamur saja Pak," protesku. Bukit Jamur ini merupakan kawasan pertambangan yang sudah tidak aktif lagi.

"Hari Minggu saja mbak kembali kesini. Silahkan datang dan lihat sepuasnya, kalau hari ini memang ditutup.

Aku kembali membujuk dan sedikit merengek, mengatakan kalau aku datang jauh-jauh dari Surabaya hanya untuk lihat Bukit Jamur tapi mereka tidak peduli dan disuruh datang hari Minggu saja. Yahh...akhirnya aku keluar lagi ke jalan dengan pasrah.

"Nggak ada jalan lain ya kesana? Coba lihat google map," kataku.

"Ada sih, tapi akhirnya tetap harus masuk ke kawasan pertambangan ini."

Sial. Masa aku sudah jauh-jauh kesini harus kembali tanpa mengunjungi tempat apapun. Aku segera membuka google dan mencari tempat wisata di Gresik. Aku menemukan nama Pantai Delegan. 

"Kita ke Pantai Delegan aja ya, jaraknya cuma 25 kilo kok dari sini."

Akhirnya kami dan Si Merah melanjutkan perjalanan kembali ke arah utara melewati ruas jalan Gresik Tuban. Jalanan masih seperti sebelumnya, datar dengan perkampungan di kanan kiri. Cuaca sudah sedikit membaik, tidak sepanas sebelumnya. Semakin mendekati pesisir pantai, jalanan menjadi semakin kecil dan relatif sepi sehingga aku bisa melajukan Si Merah dengan leluasa.

Kami membutuhkan waktu sekitar satu jam sebelum akhirnya sampai ke kawasan Pantai Delegan. Aku membelokkan motor ke arah kanan jalan karena aku yakin itu adalah objek wisata Pantai Delegan.

"Loh, kok jalannya ke Pantai malah dipagerin?"kataku dengan heran setelah memarkir motor.

"Coba lewat sana," kata temanku.

"Sama, dipagerin juga ternyata."

"Ah yaudah kita makan dulu aja, itu ada warung disana."

Kami menghabiskan sesorean itu dengan cerita-cerita pengalaman dan bergosip di bangku-bangku taman yang berjajar di dekat pantai. Sepiring kentang goreng dan segelas milo hangat menjadi peneman yang setia. Meskipun mungkin ini aktivitas yang biasa saja dan bisa dilakukan dimana saja, tetapi aku tetap senang karena aku bisa benar-benar refreshing dari aktivitas yang itu-itu saja. Akhirnya karena hari sudah menunjukkan semakin sore, kami bergegas pulang.

"Mas, ini Pantai Delegan bukan ya? Kok jalan ke pantainya malah dipagerin gitu?" tanyaku penasaran saat membayar makanan.

"Bukan mbak, Pantai Delegan masih ke arah barat lagi. Kira-kira seratus meteran terus nanti belok kanan."

Owalah! Hahaha. Kami hanya bisa tertawa. Si penjual sampai terlihat bingung/


###

Mengikuti petunjuk arah yang diberikan penjual warung, akhirnya aku menemukan gerbang selamat datang di Pantai Delegan. Segera kulajukan Si Merah masuk sebelum akhirnya kami disemprit kembali oleh petugas yang berjaga.

Aduuh, apa lagi sih ini??

"Mbak, mbak, udah tutup."

"Waduuh, sebentar saja Pak. Saya hanya mau foto-foto terus keluar," ujarku setengah memohon.

"Okelah, tapi jam 5 tutup ya."

"Baik Pak."

Hahaha, akhirnya aku masuk juga. Disini kami hanya berfoto-foto singkat. Masa sih udah jauh-jauh kesini nggak ada kenang-kenangan fotonya sama sekali?

Disitulah aku menunjuk Laut Jawa di kejauhan sana. Seratus kilometer di sebelah utara sana ada Pulau Bawean, pulau yang ingin kukunjungi. Melihat laut yang begitu luas dan tak berujung membuatku merinding. Benarkah aku akan mengunjungi Bawean? Benarkah kapal yang mengantarkanku akan melaju 100 kilometer kesana? Aku berharap iya.

Setelah nongkrong singkat, kami memutuskan segera pulang karena hari mulai menggelap. Perjalanan Pantai Delegan - Surabaya kami lalui selama kurang lebih 2 jam melewati ruas jalan yang sama dengan tadi. Perjalanan yang cukup berkesan!

Salah tempat, ini bukan Pantai Delegan (GALUH PRATIWI)

Ini Pantai Delegan (GALUH PRATIWI)

Pantai Delegan (GALUH PRATIWI)

Wisatawan di Pantai Delegan (GALUH PRATIWI)

Pendopo di Pantai Delegan (GALUH PRATIWI)

Kenang-kenangan dari Pantai Delegan, 100 kilometer ke utara sana adalah Pulau Bawean (pulau yang kukunjungi seminggu kemudian) (GALUH PRATIWI)

Road Trip Bromo via Tumpang 4 : Perjalanan Pulang

Peta jalur Road Trip sejauh kurang lebih 283 kilometer (Google Map dengan Modifikasi GALUH PRATIWI)

Kedinginan menjadi menu wajib kami di Cemoro Lawang. Tidurku tidak terlalu nyenyak semalam. Aku sering terbangun karena kedinginan yang begitu menusuk, padahal sudah pakai kaos kaki dan selimut tebal. Hmmm....aku menjadi kagum dengan orang-orang yang tinggal disini. Bisa menahan suhu belasan derajat setiap hari.

Badanku kaku karena kurang bergerak. Setiap sedikit pergerakan seakan membuat udara dingin menyelinap masuk melalui celah-celah selimut. Aku melanjutkan tiduran sambil main HP, masih terlalu malas memikirkan bersentuhan dengan air untuk ke kamar mandi.

"Eh mau ke Bromo sama Penanjakan nggak nih?" tanyaku ke temanku.

"Boleh. Eh tapi kita nggak punya jaket kan basah semua."

"Iya juga ya, yaudah lihat nanti aja."

Tidak seperti traveler lain di penginapan kami yang sejak pagi-pagi buta sudah menuju Penanjakan, kami menghabiskan sepagian itu untuk tiduran dan bercerita-cerita. Sinar matahari pagi secara perlahan mulai menembus jendela kamar kami, memberi nuansa kehangatan yang dirindukan disini.

Aku melongok lewat jendela. Di luar sana, aktivitas mulai berjalan seperti biasa. Toko-toko mulai dibuka, pedagang sayur naik turun membawa dagangannya, turis-turis hilir mudik, jeep-jeep pelancong naik turun meninggalkan debu asap knalpot yang menghitam.

Karena batas check out adalah jam dua belas, setelah bersantai sepagian akhirnya kuberanikan untuk menginjakkan kaki ke kamar mandi. Aku memutuskan untuk mandi karena sejak kemarin sore belum mandi. Guyuran pertama membawa rasa linu-linu sampai ke tulang-tulangku. Aku menggigil.

"Brrrrrr.....dingin banget," ujarku dengan bibir membeku. " Hebat ya orang yang hidup dan tinggal disini..."

Aku menyelesaikan mandi secepat mungkin, ingin sesegera mungkin membungkus tubuh dengan selimut. Selesai mandi dan beres-beres, kami segera check out dari penginapan dan bersiap menuju Bromo karena temanku akhirnya meminta kesana.

"Brrrrr....dinginnyaa....," ujar temanku sewaktu baru saja melangkahkan kaki keluar penginapan.

"La gimana? Jadi ke Bromo atau nggak?" tanyaku.

"Nggak deh, aku nggak kuat dingin, langsung turun aja ya. Lagian aku males harus lewat medan pasir lagi"

"Hahaha, okelah."

Akhirnya kami tidak jadi ke Bromo dan langsung pulang. Aku langsung melajukan Si Merah ke arah utara menyusuri Jalan Raya Bromo Tosari dan Jalan Raya Lumbang, jarak yang harus kami tempuh sekitar 50 kilometer. Jika perjalanan lancar, maka kami akan tembus di Bayeman, Kabupaten Probolinggo di ujung utara nanti.

Begitu kami turun, pemandangan didominasi oleh perkebunan warga yang menghampar luas. Berbagai macam sayuran seperti sawi, kol, wortel, dan berbagai macam tanaman hortikultura lainnya. Sayur mayur tersebut tumbuh subur akibat limpahan abu vulkanik dari Gunung Bromo yang membawa banyak manfaat. Si Merah terus melaju ke bawah melewati kelokan demi kelokan yang seakan tiada henti. Perubahan suhu mulai kami rasakan seiring ketinggian berubah. Saat tembus di Jalan Raya Lumbang, udara sudah berubah menjadi panas. 

'Selamat datang kembali,' ujarku dalam hati.

Kami membutuhkan waktu satu setengah jam untuk akhirnya sampai di pertigaan Bayeman. Segera saja Si Merah aku arahkan ke Kota Pasuruan. Jalanan datar dan membosankan sejauh 15 kilometer sudah membentang di hadapan kami. Bus-bus, truk, mobil, motor saling bertemu dan meninggalkan asap hitam menggumpal. Aku sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, ingin sesegera mungkin sampai di Surabaya. Perjalanan pulang memang berbeda dengan perjalanan berangkat ya soal semangat.

Kami sempat mampir berhenti untuk sarapan di warung penyetan di pinggir Jalan Raya Pantura di Pasuruan. Sepiring nasi ikan gurami dan es teh meluncur mulus di perutku yang kelaparan.

Setelah kembali berhenti untuk mengisi bensin, akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang. Udara panas masih menyengat, asap knalpot beterbangan, dari Kota Pasuruan aku melajukan Si Merah menuju Bangil kemudian membelok ke utara menuju SIdoarjo. Kami membutuhkan sekitar 2 jam sampai Sidoarjo.

Karena perut kembali keroncongan dan tanganku lelah, lagipula sinar matahari masih menyengat, kami memutuskan istirahat kembali di warung Lontong Kupang di Kota Sidoarjo. Sepiring sate kerang dan segelas es degan meluncur mulus ke perutku. Jajan teruuus.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang. Syukurlah sewaktu keluar dari warung, cuaca sudah berubah. Mendung menggantung dengan begitu manjanya di langit. Segera saja aku melajukan Si Merah sejauh 22 kilometer kembali ke Surabaya. Akhirnya 1 jam kemudian aku, temanku dan Si Merah telah kembali dengan selamat di kos. Kembali menikmati udara panas Surabaya. Udara panas yang sewaktu di Cemoro Lawang begitu aku rindukan, sementara di sini begitu aku benci. Bagaimanapun, perjalanan ini telah mengajarkanku arti bersyukur yang sesungguhnya.

FINISHED

Road Trip Bromo via Tumpang 3 : Kedinginan

Mesin Si Merah terus menderu menaiki jalan aspal yang berlubang disana-sini. Hujan masih mengguyur deras, air hujan mengalir dengan begitu ganasnya menuruni jalan beraspal. Aku mengendarai Si Merah sehati-hati mungkin, takut kalau sampai terpeleset.

Beberapa saat kemudian, kami telah sampai di Cemoro Lawang. Tantangan kami selanjutnya adalah menemukan penginapan untuk menghangatkan diri malam ini. Aku masih belum tau apakah besok akan mengunjungi Gunung Bromo dan Penanjakan atau tidak. Aku pernah kesini pada 2014 tetapi lewat jalur Pasuruan - Probolinggo - Bromo, sedangkan temanku belum pernah kesini.

Aku menyusuri deretan rumah-rumah penduduk, mencermati apakah ada tulisan penginapan di depannya. Karena setahuku jika menginap di homestay rumah penduduk, akan lebih murah daripada menginap di Hotel/Hostel. 

Kami berputar-putar sesaat sebelum menepikan motor di penginapan yang terlihat nyaman. Namun suasana sangat sepi, berkali-kali aku ketok pintu kantor dan restoran. 

"Wah sial pulsaku habis. Aku pinjem HP-mu ya, coba aku telfon ke penginapannya," kataku ke temanku. Kebetulan di bagian depan penginapan ada papan informasi yang memuat nomor telfon penginapan.

"Wah gak bisa dihubungi semua nomornya," kataku dengan menggerutu.

Kebetulan waktu itu ada tiga orang yang sepertinya dari Vietnam (memperhatikan bahasa mereka) yang juga mencari penginapan. Mereka meninggalkan tempat itu setelah memperhatikan tidak ada tanda-tanda penjaga disitu.

Kami mengendarai Si Merah ke arah atas lagi untuk mencari penginapan yang lain, sebuah hotel yang bangunannya cukup bagus. Aku ragu akan mendapatkan harga murah disini, tetapi dicoba saja.

"Kamar ekonomi sudah habis mbak, tinggal kamar yang tipe ini," kata resepsionis sambil menunjuk sebuah kamar yang bertarif Rp 600.000/malam.

Aku segera ngacir keluar, mahal banget! Biarpun aku mampu membayarnya, aku nggak akan mengambilnya. Budget untuk penginapan yang kusediakan hanya Rp 200.000 - Rp 300.000.

Sementara kebingungan di luar, seorang bapak penjual syal dan kaos kaki penghangat mendekati kami, " Mbak, mari saya antarkan ke penginapan yang Rp 200.000/malam. Saya tahu di bawah. Kalau hotel memang agak mahal."

"Sebentar ya Pak, saya nyoba cari online dulu."

"Oke mbak."

Tapi setelah mencoba mencari di berbagai situs reservasi penginapan online, aku merasa penginapan tersebut cukup jauh dari tempat kami sekarang. Harus turun lebih dari sepuluh kilometer. Akhirnya kami pasrah mengikuti bapak tersebut dan menginap di Homestay Teguh dengan tarif Rp 200.000/malam.

Akhirnya bisa menghangatkan diri dan beristirahat!

"Trimakasih ya pak. Bayarnya bagaimana?" tanyaku.

"Ke saya aja tidak apa-apa, nanti saya sampaikan ke pemilik penginapan," kata bapak itu. Aku percaya saja karena aku melihat dia dan pemilik penginapan berbincang di awal, sepertinya mereka sudah saling kenal.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian kering. Kami hanya tiduran sambil berselimut rapat. Dingiiiin banget rasanya, apalagi habis kehujanan. Menyentuh air membuat tulang-tulangku ngilu. Aku hanya bisa meringkuk di balik selimut sembari bermain HP. Bergerak saja rasanya sudah sangat malas, membuat telapak kakiku kaku karena kedinginan.

Kami hanya bercerita dan menggosip beberapa jam setelahnya. Tidak berniat melakukan apapun. Kami yang biasanya kepanasan di Surabaya, sekarang kedinginan seperti ini membuat kami cukup menikmatinya walaupun menderita, yang jelas, aku senang refreshing ini berjalan lancar. Aku harap bisa mengurangi kegalauan dan kebosanan yang sempat memuncak sebelum kesini.

"Eh cari makan yuk, tau-tau udah gelap aja. Aku lapar," kataku.

"Ayo."

Akhirnya kami makan di sebuah warung makan rames sederhana. Sepiring nasi rames dengan lauk telur dan udang serta secangkir teh panas meluncur mulus ke perutku. Aku rasa luamayan mahal ya, kami menghabiskan hampir Rp 25.000/orang. Aku sempat membeli kaos kaki setelah itu karena tidak kuat dengan dinginnya.

Akhirnya malam itu kami beristirahat dengan tenang dan hangat. Meskipun aku terbangun beberapa kali karena masih kedinginan, tapi itu tidak jadi masalah. Menyiapkan fisik untuk kembali pulang ke Surabaya besok!