Aku baru menemukan satu cara berpikir yang rasanya ingin mulai kuterapkan dalam keseharianku yaitu "berpikir simpel". Sebenarnya konsepnya sangat sederhana, yaitu tidak memikirkan terlalu jauh hal-hal yang memang tidak perlu dipikirkan panjang. Kalau sudah tahu apa yang ingin atau harus dilakukan, langsung lakukan. Tidak perlu membayangkan seluruh prosesnya terlebih dahulu, tidak perlu bernegosiasi terlalu lama dengan diri sendiri, dan tidak perlu membuat sesuatu yang sederhana menjadi terasa rumit di dalam kepala.
Aku menyadari bahwa sering kali sebuah aktivitas terasa berat bukan karena aktivitas itu sendiri memang berat, tetapi karena sebelum melakukannya aku sudah memikirkan semua tahapan yang harus kulewati. Misalnya ketika ingin memasak. Pikiranku bisa langsung berjalan ke mana-mana: harus ke belakang dulu untuk petik sayur, mencucinya, mengambil bawang, mengupas dan memotongnya, menyiapkan wajan, memasak, lalu nanti masih harus membereskan semuanya. Padahal kalau mau dibuat simpel, ya tidak perlu memikirkan semua itu. Mau masak? Berdiri dan pergi ke dapur. Petik sayur ya petik sayur. Kupas bawang ya kupas bawang. Masak ya masak. Satu hal dilakukan ketika memang sudah waktunya dilakukan.
Begitu juga dengan pekerjaan. Ketika tahu ada revisi, kadang bahkan sebelum membuka file aku sudah membayangkan bagian mana saja yang harus diperbaiki, berapa lama akan mengerjakannya, betapa membosankannya, bagaimana kalau setelah ini ada revisi lagi, dan berbagai kemungkinan lain yang bahkan belum terjadi. Akhirnya pekerjaan yang sebenarnya mungkin sederhana sudah terasa melelahkan sebelum dimulai. Dengan cara berpikir simpel, aku ingin memotong semua proses mental itu. Ada revisi? Buka laptop, buka file, lalu revisi. Tidak perlu menunggu mood datang dan tidak perlu membayangkan sampai pekerjaan selesai. Kerjakan saja apa yang ada di depan mata.
Olahraga pun sama. Tidak perlu memulai diskusi panjang di kepala tentang mau cardio atau angkat beban, berapa menit, harus ganti baju dulu, nanti berkeringat, sedang malas, atau apakah olahraga sebentar ada gunanya. Kalau memang ingin olahraga, berdiri saja dulu dan bergerak. Ambil dumbbell, stretching, squat, berjalan, atau lakukan gerakan apa pun. Tubuh sudah bergerak sebelum pikiran sempat menciptakan sepuluh alasan untuk tidak melakukannya.
Aku mulai melihat bahwa terlalu banyak memikirkan aktivitas kecil membuat kita seolah mengerjakan sesuatu dua kali. Pertama, kita mengerjakannya di dalam kepala. Kita membayangkan seluruh langkahnya, rasa capeknya, kemungkinan masalahnya, sampai berapa lama waktu yang akan terpakai. Setelah lelah memikirkannya, kita masih harus mengerjakannya sungguhan. Pekerjaan yang mungkin hanya membutuhkan sepuluh menit akhirnya bisa terasa seperti beban selama satu jam karena sejak jauh sebelumnya sudah kita bawa ke mana-mana di dalam pikiran.
Karena itu aku ingin belajar membedakan mana hal yang memang membutuhkan pemikiran dan mana yang sebenarnya hanya membutuhkan tindakan. Keputusan besar tentu perlu dipikirkan. Masalah yang kompleks perlu dianalisis. Tetapi aku tidak perlu berpikir panjang hanya untuk mandi, mencuci piring, membereskan kamar, memasak, membuka pekerjaan, atau mulai bergerak.
Aku ingin mencoba melihat kehidupan melalui satu gerakan berikutnya, bukan seluruh rangkaian yang akan terjadi setelahnya. Kalau ingin memasak, gerakan pertamanya cukup berdiri. Setelah berdiri, pergi ke dapur. Setelah sampai dapur, ambil bahan. Kalau ingin bekerja, cukup buka laptop dan file yang harus dikerjakan. Kalau ingin olahraga, cukup bangkit dari kursi dan mulai bergerak. Setelah langkah pertama terjadi, langkah berikutnya biasanya datang dengan sendirinya.
Mungkin selama ini banyak hal sederhana menjadi terasa rumit karena terlalu lama hidup di dalam kepala. Semuanya ingin dianalisis, direncanakan, dipersiapkan, bahkan terkadang harus menunggu mood yang tepat. Padahal kehidupan nyata tidak berjalan sekaligus. Kita selalu menjalaninya satu tindakan kecil demi satu tindakan kecil.
Jadi metode yang ingin kucoba sekarang sebenarnya sesederhana ini: memperpendek jarak antara “aku mau melakukan ini” dan “aku sedang melakukan ini.” Mau masak, ya masak. Mau revisi, ya revisi. Mau olahraga, berdiri dan bergerak. Mau mandi, masuk kamar mandi. Mau membaca, buka bukunya. Mau membereskan sesuatu, ambil benda pertama dan mulai bereskan.
Bagiku, berpikir simpel bukan berarti berhenti berpikir. Berpikir simpel berarti tidak menggunakan pikiran lebih banyak daripada yang memang diperlukan. Kalau sesuatu membutuhkan analisis, pikirkan. Kalau sesuatu hanya membutuhkan tindakan, lakukan.
Hidup sendiri sudah cukup kompleks. Untuk hal-hal yang sebenarnya sederhana, rasanya tidak perlu kutambahkan keribetan lagi dari kepalaku sendiri.
Think simple. No ribet. Pikirkan seperlunya, lalu lakukan.



0 comments:
Posting Komentar