Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

8.22.2026

[PART 17] Menggapai Himalaya : Jalan Berliku Menuju Nagarkot

Sekitar pukul 13.30, setelah puas mengeksplorasi hampir semua sisi Bhaktapur—bahkan Fredo sempat melakukan aksi foto kayang di salah satu spot tertingginya—kami akhirnya kembali menaiki motor. Kali ini kami menuju tujuan akhir perjalanan kami, Nagarkot. Dari Bhaktapur, Nagarkot berada sekitar 20 kilometer ke arah timur laut. Di atas peta jaraknya terlihat tidak seberapa. Namun Nagarkot bukanlah kota yang berada di dataran Lembah Kathmandu. Kota kecil itu bertengger di kawasan perbukitan pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Artinya, sebagian besar perjalanan yang menunggu kami adalah perjalanan mendaki keluar dari lembah menuju pegunungan.

Seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya di Nepal, satu-satunya navigator yang kami andalkan adalah Google Maps. Masalahnya, koneksi internet siang itu benar-benar menguji kesabaran. Sinyal muncul, kemudian hilang. Muncul lagi beberapa menit, lalu menghilang kembali tepat ketika kami membutuhkan petunjuk di sebuah persimpangan. Akibatnya kami berkali-kali salah jalan.

Ada saat ketika kami sudah cukup jauh melaju, lalu menyadari titik biru di peta bergerak ke arah yang salah. Putar balik. Beberapa menit kemudian bingung lagi di persimpangan berikutnya. Berhenti, menunggu sinyal muncul, memperbesar peta, mencoba mengingat jalannya, lalu kembali melaju. Begitulah perjalanan menuju Nagarkot dimulai.

Pada bagian awal perjalanan, pemandangan di sekitar kami masih didominasi suasana pinggiran kota Lembah Kathmandu. Jalan beraspal membelah deretan rumah bata merah, bengkel kecil, toko-toko sederhana, truk pengangkut barang dan sepeda motor yang berlalu-lalang. Kabel listrik bergelantungan semrawut di atas kepala, saling bersilangan dari satu tiang ke tiang lainnya. Di beberapa bagian, bahu jalan berubah menjadi tanah dan kerikil, lengkap dengan tumpukan sampah serta debu yang beterbangan setiap kali kendaraan besar melintas. Entah mengapa suasana seperti ini terasa cukup familiar setelah beberapa hari kami di Nepal.

Kami terus mengikuti jalan ke arah timur laut. Perlahan bangunan mulai semakin jarang. Deretan rumah yang sebelumnya rapat mulai terputus-putus, digantikan tanah terbuka dan pepohonan. Lalu tanpa terasa, pemandangan perkotaan yang sejak Kathmandu terus menemani kami mulai benar-benar tertinggal. Di kejauhan mulai terlihat perbukitan hijau. Perubahannya berlangsung perlahan tetapi terasa jelas. Jalan yang tadinya relatif datar mulai menanjak dan berkelok. Di sisi jalan mulai muncul hamparan sawah dan ladang hijau yang memenuhi dasar lembah, sementara rumah-rumah tersebar di antara lahan pertanian. Dari beberapa titik yang sedikit lebih tinggi, kami bisa melihat kembali ke bawah: permukiman, petak-petak sawah, dan perbukitan yang berlapis-lapis memenuhi pandangan.

Langit siang itu mendung. Awan kelabu menggantung rendah di atas perbukitan, sesekali membuat puncak-puncaknya terlihat samar. Tetapi justru warna kelabu itu membuat hijaunya Lembah Kathmandu terlihat semakin kuat.

Semakin tinggi kami mendaki, semakin terasa bahwa kami benar-benar meninggalkan kota. Jalan menuju Nagarkot ternyata tidak jauh berbeda dengan jalan-jalan pegunungan yang biasa kutemui di Indonesia. Sebagian besar sudah beraspal, tetapi kondisinya tidak selalu mulus. Sesekali ada bagian yang berlubang, aspal yang mengelupas, kerikil berserakan di pinggir jalan, atau bekas longsoran kecil dari tebing di sebelahnya. Di beberapa titik jalannya cukup sempit sehingga kami harus memperlambat motor ketika berpapasan dengan mobil.

Di satu sisi berdiri tebing tanah yang dipenuhi semak dan tumbuhan liar, sementara di sisi lainnya lembah terbuka jauh di bawah. Jalan berkelok mengikuti kontur perbukitan, kadang menanjak cukup panjang sebelum kembali berbelok tajam. Udara pun perlahan berubah.

Debu dan panas kawasan perkotaan mulai digantikan udara pegunungan yang lebih dingin dan lembap. Pepohonan semakin rapat. Semak-semak tumbuh memenuhi lereng, dan di beberapa bagian kami mulai memasuki kawasan yang terasa seperti hutan.

Aku duduk di belakang motor sambil sesekali mengeluarkan ponsel untuk memotret perjalanan. Beberapa foto bahkan menangkap bayanganku sendiri di kaca spion—helm menutupi kepala, tangan memegang ponsel—sementara jalan pegunungan terus memanjang di depan.

Motor terus mendaki.Semakin ke atas, pohon-pohon tinggi mulai mendominasi kedua sisi jalan. Ada bagian-bagian yang begitu hijau dan sepi hingga sulit membayangkan bahwa kurang dari satu jam sebelumnya kami masih berada di tengah keruwetan jalanan kota.

Sesekali kami berpapasan dengan pengendara lokal. Kendaraan semakin sedikit. Tidak ada lagi deretan toko, tidak ada lagi kabel listrik yang memenuhi langit, dan suara klakson kota perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah jalan berkelok, pepohonan, dan udara pegunungan. Lalu di salah satu tikungan, kami menemukan pemandangan yang membuat perjalanan sedikit melambat.

Sekawanan kambing berjalan santai memenuhi sebagian badan jalan. Beberapa ekor berjalan beriringan di depan, sementara dua kambing hitam berada cukup dekat dengan motor kami. Mereka sama sekali tidak terlihat terganggu oleh kendaraan yang datang dari belakang. Seolah-olah jalan pegunungan itu memang milik mereka dan manusialah yang harus menyesuaikan diri.

Kami pun memperlambat motor dan mengikuti mereka dari belakang. Di kanan-kiri jalan berdiri pohon-pohon pinus tinggi. Di sela batang-batangnya terlihat lereng pegunungan yang turun jauh ke bawah, diselimuti kabut tipis dan awan kelabu. Aspal di bawah roda mulai terlihat lebih kasar, beberapa bagiannya rusak dan tertutup tanah.

Perjalanan terus menanjak. Udara semakin dingin dan pepohonan di sepanjang jalan semakin rapat. Sesekali celah di antara pepohonan membuka pandangan ke arah perbukitan hijau yang membentang di seberang lembah.

Di salah satu ruas jalan, mataku tiba-tiba tertarik pada bentuk lereng di sisi kanan.

“Eh, itu ada bentukan kayak triangular facet, Mas,” kataku sambil menunjuk perbukitan berlekuk-lekuk di kejauhan.

Mungkin beginilah nasib dua orang yang pernah terlalu lama berkutat dengan geologi. Bahkan ketika sedang liburan di Nepal, melihat bentuk lereng sedikit menarik saja rasanya ingin berhenti dan mengamatinya.

“Oke, berhenti dulu yuk. Foto,” kata Fredo.

Motor segera menepi.

Kami memang sama-sama gila foto. Hampir setiap menemukan sesuatu yang menarik, refleks pertama kami selalu sama: berhenti, keluarkan kamera atau ponsel, lalu cekrik-cekrik. Meskipun setelah pulang dan melihat hasilnya, kebanyakan fotonya ya begitu-begitu saja. Haha.

Di hadapan kami terbentang lereng-lereng hijau yang memenuhi hampir seluruh pandangan. Punggungan dan lembah kecil membentuk pola berulang di permukaannya, sementara bagian atas perbukitan perlahan menghilang di balik awan kelabu. Pohon-pohon pinus tumbuh di sekitar tempat kami berhenti, membuat suasananya semakin terasa seperti kawasan pegunungan.

Klik.

Klik.

Beberapa foto kami ambil cepat.

Belum lama kami berdiri di sana, titik-titik air mulai terasa jatuh dari langit.

“Aduh, hujan nih. Cepet yuk kita lanjut. Nggak terlalu jauh lagi kok,” kataku sambil kembali mengutik-utik Google Maps.

Kami segera menaiki motor dan melanjutkan perjalanan. Hujan belum terlalu deras, tetapi cukup untuk membuat permukaan aspal berubah gelap dan mulai licin. Jalan yang sejak tadi sudah berkelok-kelok kini terasa sedikit lebih menegangkan. Beberapa tikungan cukup tajam, sementara pada bagian tertentu sisi kanan jalan langsung berbatasan dengan lereng yang jatuh jauh ke bawah.

Aku beberapa kali mengingatkan Fredo dari belakang.

“Hati-hati, Mas.”

Terutama setiap mendekati tikungan.

Semakin tinggi kami naik, suasananya semakin sepi. Jalan basah membelah hutan, pohon-pohon tinggi berdiri rapat di kedua sisi, dan kabut tipis mulai menyelimuti perbukitan di kejauhan. Rasanya benar-benar berbeda dengan Kathmandu yang baru beberapa jam sebelumnya masih penuh debu, kendaraan, manusia, dan suara klakson.

Sesekali aku kembali membuka Google Maps untuk memastikan kami tidak salah arah lagi. Untungnya kali ini titik tujuan sudah semakin dekat. Sekitar dua puluh menit kemudian, setelah melewati jalan pegunungan yang berkelok-kelok dan beberapa kali dibuat waspada oleh aspal yang mulai basah, akhirnya kami sampai juga di tempat yang sejak tadi kami cari.

Sebuah penginapan di atas perbukitan Nagarkot bernama Hotel Country Villa. Penginapan ini sudah kupilih jauh sebelum kami berangkat ke Nepal. Aku menemukannya ketika sedang mencari-cari hotel di Agoda beberapa bulan sebelumnya. Dari sekian banyak pilihan penginapan di Nagarkot, satu hal dari hotel ini langsung membuatku tertarik: lokasinya berada di lereng perbukitan, dengan kamar-kamar yang menghadap langsung ke panorama Pegunungan Himalaya.

Bahkan katanya, Himalaya bisa dilihat langsung dari balkon kamar.

Beberapa bulan sebelumnya, ketika itinerary perjalanan ini masih berupa rencana dan nama-nama kota di layar laptop, aku sudah mengatakannya kepada Fredo.

“Hotelnya bagus banget, Mas. Bisa lihat Pegunungan Himalaya langsung dari kamar. Dari balkon.”

Lalu kutambahkan satu hal lagi.

“Khusus penginapan terakhir ini aku yang bayar.”

Setelah berhari-hari berpindah dari satu kota ke kota lain, naik kereta malam di India, menyeberang perbatasan menuju Nepal, lalu menjelajahi Kathmandu dan Bhaktapur dengan motor, aku memang sengaja ingin perjalanan ini ditutup sedikit berbeda. Setidaknya untuk satu malam terakhir di Nepal, aku ingin kami berhenti berpindah-pindah. Dan menikmati Nagarkot dari sebuah kamar di pegunungan.