Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Uni Emirat Arab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uni Emirat Arab. Tampilkan semua postingan

10.06.2024

Abu Dhabi, 26-27 April 2022 : Mengunjungi Abu Dhabi Dini Hari Sewaktu Transit

Trip ke Abu Dhabi ini merupakan rangkaian dari Trip Turkey - UEA - Serbia yang kulakukan dari 23 April 2022 - 13 Mei 2022. Perjalanan ke Abu Dhabi ini ane lakukan saat transit penerbangan Jakarta - Istanbul.

Sign Welcome to Abu Dhabi di Bandara Internasional Zayed

Pesawat Etihad yang ane tumpangi sukses mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Zayed, Abu Dhabi. Saat itu jam setempat sudah menunjukkan pukul 23.00, dimana ane mempunyai waktu transit sampai pukul 09.30 esok hari sebelum melanjutkan penerbangan Abu Dhabi - Istanbul, Turkiye. Rencana awal ane adalah ane pengen keluar eksplor Kota Abu Dhabi sejenak. Turun dari pesawat, setelah berjalan masuk ke gedung bandara, kami dihadapkan pada 2 pilihan, belok kiri untuk langsung masuk di zona transit, atau lurus naik tangga untuk menuju baggage claim/imigrasi. Masuk zona transit artinya ane tinggal nunggu aja penerbangan Abu Dhabi - Istabul esok hari jam 9.30 di zona transit. Kegiatan yang dilakukan bisa dengan cari spot tidur dan tidur sepuasnya. Masuk ke arah baggage claim/imigrasi artinya ane bisa masuk negara Uni Emirat Arab sejenak.

Setelah berpikir sejenak, ane ambil pilihan lurus naik tangga. Artinya ane putusin masuk negara Uni Emirat Arab, toh kita sudah punya E-visanya dan memang rencana awalnya begitu. Sebelum berangkat pun ane sudah browsing apakah aman jalan di Abu Dhabi tengah malam, dan hasil pencarianku mengatakan Abu Dhabi dan Dubai adalah termasuk kota teraman di dunia bahkan untuk traveler perempuan jalan sendirian di malam hari.



Setelah memutuskan masuk, ane segera tarik tunai dirham (AED) di ATM dan membeli paket internet 24 jam. Karena hanya beberapa jam aja, ane mengambil sekitar 250 dirham/1 jutaan rupiah dan membeli paket internet roaming 24 jam. Kelar urusan uang dan paket internet, ane segera maju ke imigrasi. Petugasnya seorang pria yang kesan awalnya tidak terlalu ramah. Aku menyodorkan paspor dan print E-visaku, tapi dia hanya mengambil paspornya. Sepertinya memang E-visa ane sudah terdeteksi otomatis ketika si petugas scan paspor ane, jadi nggak wajib membawa print-nya.

"Swab you finger," kata petugas tersebut dengan nada dalam dan tegas.

Saat itu - April 2022 - seperti kita tau bahwa dunia baru saja setengah pulih dari Covid 19. Jadi segala sesuatu yang bersifat sentuhan (yaitu scan sidik jari di alat pendeteksi sidik jari) dibatasi. Disini dilakukan dengan 'menggeser 5 jari secara melayang' diatas alat pendeteksi, jadi tidak menempelkannya seperti biasanya. Ane yang ga terlalu ngerti perintah malah menempelkan jari ane ke alat pendeteksi tersebut.

"SWAB," katanya mulai meninggikan tangan.

"How, like this?" Kataku. Ane mencoba beberapa kali tapi masih salah.

"SWABB!!!" jawabnya setengah membentakku.

Ane akhirnya menggeser 5 jari secara melayang dengan ragu dan akhirnyaaa emang itu yang bener. Ane sempet kesel banget dengan perlakuan imigrasi yang sangat 'ramah' itu, tapi berusaha melupakannya. Benar-benar sambutan yang sangat 'baik'.

Bagaimanapun ane akhirnya lega bisa melewati imigrasi dan melihat pemandangan Kota Abu Dhabi pertama kalinya. Saat itu terlihat banyak orang-orang yang duduk-duduk menunggu jemputan di area kedatangan bandara. Ane segera duduk dan mengutik-utik aplikasi uber. Ane sebenarnya pengen banget mengunjungi salah satu ikon religi di Abu Dhabi yakni Masjid Agung Sheikh Zayed, salah satu masjid paling besar di dunia dengan 82 kubahnya yang kembaran dengan Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo. Namun setelah browsing lebih lanjut, ternyata jam 22.00 masjid tersebut sudah tutup. Ane segera mencari tujuan alternatif yang bisa dilihat/dinikmati tengah malam dan lokasinya tidak jauh dari bandara. Ane menemukan Yas Bay Waterfront yang berjarak 7 km dari Bandara Internasional Zayed. Yas Bay Waterfront ini terletak di Pulau Yas, pulau yang awalnya menjadi satu dengan dataran utama kota Abu Dhabi, namun sengaja dipisah dengan membuat kanal yang memanjang di sebelah timurnya. Di Pulau Yas ini juga terdapat sirkuit balap mobil Grand Prix, taman hiburan, pantai dan lapangan golf.

Peta Pulau Yas

Yas Bay Waterfront, tempat yang ane kunjungi ini terletak di bagian selatan Pulau Yas. Jadi konsepnya di sepanjang pinggir pantai itu terdapat jalur pejalan kaki yang mengelilingi bagian selatan Pulau Yas, dimana di sepanjang tepi pantai juga akan banyak restoran, cafe, bar, dan hotel. Bayangan yang muncul di kepala ane pasti mirip Marina Bay Walk di Singapore. Dan ane yakin pastilah area itu masih ada orang-orang lah ya.. masih ramai meskipun tengah malam. Ane segera memesan Uber ke titik tersebut dan langsung mendapatkan mobil Lexus. Buset uber aja pakai Lexus ya disini! Wkwkwk

Yas Bay Waterfront

Tidak sulit bagi ane untuk menemukan Lexus tersebut dan inilah pertama kalinya ane naik Lexus😁. Perjalanan dimulai di jam 11 malam dengan membelah jalanan Kota Abu Dhabi yang luas, modern dan aspalnya sangat halus.

Naik uber dari Bandara Internasional Zayed ke Yas Bay Waterfront

"Wahh halusnya yaa mobil mahal ini. Dan luas banget jalanan di Abu Dhabi ini," kata ane ke travelmate.😁

Jalanan terlihat sudah sepi, hanya sesekali terlihat mobil lain dengan kecepatan cukup tinggi. Ane mulai bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan disana udah sepi ya.. gelap ya.. trus mau ngapain😁.

"Where are you going exactly?" Tanya driver uber kepada kami.

"Yes Bay Waterfront."

"What are you going to do in there?" Tanyanya lagi.

"I don't know exactly, just casual walking. I'm only transit here, tomorrow flight to Istanbul," jawab ane singkat padat jelas supaya dia nggak ngira ane dan travelmate orang ga jelas yang datang ke Abu Dhabi tanpa tujuan hahaha..

"If you like, I can drive you to the mall area and surround. And after that take you back in the airport. 200 dirham." Kata supir uber menawari. 

"Thank you but we will decide later. We want to visit Yas Bay Waterfront first."

"Oke you can save my number, in case you want the tour just call me," kata supir uber.

Akhirnya kami diturunkan di area parkiran Yas Bay Waterfront sekitar tengah malam. Area parkiran terlihat sepi dan agak gelap, namun ane melihat masih ada beberapa bazaar yang buka di depan. Bazaar itu terlihat menjual baju dan pernak - pernik.

"Masih rame kok, ayo kita jalan lagi ke arah sana," kata ane bersemangat ke travelmate.

Gatau juga apa fungsinya foto disini gelap-gelap wkwkwk...

Berjalan semakin ke arah timur,  kita sempat berfoto di depan Cafe Del Moar Beach Club. Dari depan kenampakan cafe ini terlihat biasa aja, namun setelah ane browsing dan lihat google maps, woww... ternyata meluas di belakang. Cafe Del Moar ini merupakan destinasi yang populer untuk bersantai dan menikmati suasana pantai. Terinspirasi oleh konsep dari Ibiza, tempat ini menawarkan pengalaman yang mewah dengan pemandangan laut yang menakjubkan, kolam renang yang indah, dan layanan yang berkualitas. Hmmm.. sekarang ane foto didepannya dulu aja ya, kapan-kapan baru masuk.. hahaha...

Cafe Del Moar

Kami mulai berjalan menuju waterfront, dikelilingi oleh lampu-lampu yang berkilauan di sepanjang jalan. Meskipun tidak ramai, masih ada beberapa orang yang mondar-mandir, memberikan kami rasa aman dan nyaman saat menjelajahi tempat ini.

Saat kami melangkah lebih dekat ke area waterfront, kami terpesona oleh pemandangan laut yang tenang dan indah. Gelombang kecil menyapu tepian, dan cahaya bulan memantulkan dirinya di permukaan air, menciptakan suasana yang magis. Kami melihat beberapa pengunjung yang berjalan santai, dan beberapa di antaranya membawa anjing mereka. 

Al Raha Creek dikelilingi kerlap-kerlip lampu yang indah

Kami terus berjalan, menikmati suara deburan ombak dan aroma segar laut. Di sepanjang jalan, ada beberapa kafe dan restoran yang masih buka, meskipun tidak banyak pengunjung.  Suasana santai ini membuat kami merasa lebih rileks.

Setelah beberapa saat berjalan, kami menjumpai patung astronot yang terlihat berdiri gagah. Setelah ane browsing, ternyata patung ini didirikan sebagai penghormatan kepada astronot Uni Emirat Arab, Hazzaa AlMansoori. Ia dikenal sebagai astronot pertama dari UEA yang pergi ke luar angkasa. Hazzaa AlMansoori melakukan misi ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada September 2019. Patung ini melambangkan semangat eksplorasi dan inovasi UEA dalam bidang sains dan teknologi, serta ambisi negara tersebut untuk menjadi pemain utama dalam eksplorasi luar angkasa. Patung astronot di Yas Bay Waterfront tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga simbol kebanggaan dan pencapaian bagi rakyat UEA dalam bidang luar angkasa.

Patung astronot di Yas Bay Waterfront sebagai penghormatan kepada astronot Uni Emirat Arab, Hazzaa AlMansoori

Berjalan sedikit, kami sampai di Etihad Stadium. Meskipun malam, stadion ini tetap megah dan menakjubkan. Lampu-lampu stadion yang menerangi area sekitarnya menciptakan nuansa yang berenergi, meskipun sepi dari keramaian. Kami berdiri sejenak, mengagumi struktur besar ini dan memikirkan acara-acara yang telah berlangsung di dalamnya.

Stadium Etihad, jadi ingat Manchester City hahaha...

Ane mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa foto untuk mengabadikan momen. “Tempat ini keren banget, bahkan di malam hari,” kata ane sambil tersenyum. Kami berdua sepakat bahwa meskipun malam sudah larut, pengalaman menjelajahi Yas Bay Waterfront di malam hari memberikan kesan yang unik dan berbeda.

Sesaat kemudian, karena sudah tidak ada yang bisa dilakukan, kami memutuskan kembali saja ke bandara. Ane memutuskan tidak mengambil penawaran tour dari driver pertama tadi, karena tidak ingin terlalu boros di awal perjalanan. Setelah sampai parkiran mobil, ane kembali memesan uber untuk ke bandara. Perjalanan tidak lama, hanya sekitar 10 menit dan setelah melalui proses masuk imigrasi dengan automatic gate, kami sudah kembali di zona transit. Total biaya yang kami keluarkan untuk pesan uber PP dari bandara ke Yas Bay Waterfront sekitar 400ribuan rupiah.

Tidak banyak yang kami lakukan malam itu di bandara. Kebetulan bertemu dengan beberapa orang Indonesia, jadi kami hanya tiduran yang tidak sukses di sudut bandara sambil menunggu penerbangan esok hari ke Istanbul.

Tiduran bersama beberapa orang Indonesia

Ketemu beberapa orang Indonesia di bandara. Mas didepan mau ke Turkiye juga, sementara ibu yang tiduran mau ke Yaman. Kita tiduran bareng-bareng di spot ini.

Here we go Turkiye!!

9.27.2024

Dubai, 7 Mei 2023 : Finnaly visit Burj Khalifa and Surround!

Pesawat Air Astana yang ane tumpangi sedikit demi sedikit mulai menurunkan ketinggian. Ane mulai bisa melihat landscape Kota Dubai dari ketinggian. Padang pasir berwarna coklat keemasan tanpa batas; kanal-kanal buatan yang membelah padang pasir; rumah-rumah warga berwarna coklat keemasan. Ane berusaha mencari pohon, tapi susah. Ane udah membatin, negara ini kayaknya bakal panas banget. Seperti efek rumah kaca.

Pemandangan Kota Dubai dari pesawat Air Astana yang ane tumpangi

Beberapa orang berteriak saat pesawat mengalami turbulensi cukup kencang saat pesawat udah mau landing. Haha ane nikmatin aja sensasi roller coaster ini. Penerbangan selama 4 jam 40 menit dari Almaty ke Dubai akhirnya berakhir saat roda pesawat menyentuh landasan Bandara Internasional Dubai. Jam lokal menunjukkan pukul 1 siang, dimana ane mempunyai waktu transit 14 jam disini sebelum penerbangan lanjutan Dubai - Kuala Lumpur. Hal ini tentulah tidak ane sia-siakan, ane harus masuk negara ini dan liat Burj Khalifa! Burj Khalifa sendiri merupakan gedung pencakar langit tertinggi di dunia, dimana ketinggiannya mencapai 828 meter. Kapan lagi kan? Mumpung transit panjang. Ane juga udah merencanakan ini jauh-jauh hari sehingga udah bikin visa transit Uni Emirat Arab, dan sengaja memilih penerbangan yang landing Dubai siang dan layover diatas 12 jam.

Kenampakan bagian dalam Air Astana. Bisa naik pesawat ini adalah salah satu impian ane dan ane bersyukur banget.

Turun dari pesawat ane segera mengikuti tanda baggage claim/immigration, tapi disini ane langsung ke imigrasi karena koper-koper yang berat akan langsung dioper oleh maskapai dan diambil di tujuan akhir yaitu Kuala Lumpur. Ane tidak menjumpai masalah berarti saat di imigrasi dan E-visa yang telah kami print tidak diminta oleh mereka (mungkin ketika paspor kita discan udah muncul otomatis data Evisa kita di mereka). Dan sebagai welcome gift dari Pemerintah Dubai, kita malah dikasih free simcard dan paket internet 1 gb. Mantaap! Terimakasih Dubai. Tau aja kamu mahal jadi dikasih paket internet gratis buat eksplor sejenak.

Selanjutnya seperti biasa ketika memasuki negara baru, ane harus punya mata uang negara tersebut. Kebetulan sebelum terbang dari Almaty tadi pagi, ane udah nukar sisa uang Tenge Kazakhstan ke Dirham UEA. Uangnya masih sangat cukup jadi ane nggak tarik tunai lagi. Uang lokal dan paket internet sudah beres, target selanjutnya sebelum keluar bandara adalah menitipkan tas ransel ane yang superberat karena ada laptop didalamnya. Ane sama sekali nggak memilih option membawa tas laptop ini ikut jalan, adoohh...bisa bonyok nanti punggung ane dihajar gravitasi wkwkwk... Laptop ane dan chargernya aja beratnya udah 4-5 kg. Masih ditambah barang-barang lainnya di tas.

Browsing sejenak, Emirates ternyata ada layanan penitipan bagasi di bagian kedatangan/arrival di Terminal 3. Setelah mencarinya sejenak, ane menemukannya dan menitipkan 1 ransel daypack seharga 35 dirham atau setara kira-kira Rp 154.000. Legaaa... Akhirnya ane bisa segera jalan keluar bandara!

Ane udah browsing sebelum berangkat, dan cara paling hemat untuk keliling Kota Dubai adalah menggunakan transportasi umum yang mencakup metro serta bis. Untuk naik transportasi umum di Dubai kita membutuhkan kartu namanya Nol Card, dimana Nol Card bisa dibeli yang model day pass, artinya cukup beli satu kali bisa dipakai seharian seharga 20 dirham atau Rp 88.000. Belinya bisa dilakukan di stasiun metro yang berada di dalam Terminal 3 Bandara Internasional Dubai.

Ane membelinya dan segera menaiki metro red line untuk menuju ke tujuan pertama hari ini, Grand Souk - Bur Dubai. Jadi itu semacam kompleks pasar tradisional/bazaar yang berada di pesisir utara Kota Dubai, dimana keterangannya menjual hampir semua hal kebutuhan sehari-hari sampai jika ingin beli oleh-oleh murah. Tujuan utama ane kesana sebenarnya ingin beli tas dan makan siang. 

Haa? Beli tas?? Iyaaa.. jadi tas ransel ane sejak tadi pagi di Almaty, risletingnya rusak jadi sementara ane tutup pakai klip wkwkwk... Kenapa ga dibuang aja sejak dari Almaty? Well karena posisi ane tau itu risleting rusak pas udah di Bandara Almaty, udah posisi mau terbang ke Dubai, dan ane masih butuh itu tas untuk menyimpan banyak barang. Ane berharap bisa nemu tas yang agak murce di Grand Souk. Selain itu ane juga laper dan pengen cari makan siang.

Tidak pakai menunggu lama, ane segera menaiki metro (red line) yang udah standby di Stasion Metro Bandara Internasional Dubai, dimana tujuan ane adalah Stasiun Metro Burjuman - stasiun metro terdekat dengan Grand Souk. Dan sewaktu ane masuk gerbong, bujubuneng, penuh banget dan hampir sebagian besar penumpang laki-laki wkwkwk... Ane melihat hampir sebagian besar penumpang didominasi oleh orang-orang Asia Selatan seperti orang India dan sekitarnya. Perjalanan penuh sesak dan penuh aroma ketek itu berlangsung selama 20 menit sampai akhirnya ane turun di Stasiun Metro Burjuman. Dari Stasiun Metro Burjuman, ane sambung naik bus F70 untuk mendekat ke area Grand Souk. Busnya sendiri ga terlalu besar dan cukup nyaman.


Sumber Foto : Disini

Turun dari bus, sampailah kami dikawasan Grand Souk. Grand Souk Dubai sendiri adalah salah satu pasar tradisional yang terkenal di Dubai, yang terdiri dari dua bagian utama: Grand Souk Deira dan Grand Souk Bur Dubai, dimana keduanya dipisahkan oleh Dubai Creek (teluk air alami yang membelah kota Dubai, membentang dari Teluk Persia ke daratan sejauh sekitar 14 km). Dubai Creek, atau Khor Dubai dalam bahasa Arab, memiliki peran historis yang sangat penting dalam perkembangan Dubai sebagai kota perdagangan. Dulunya, creek ini menjadi pelabuhan bagi kapal-kapal dagang tradisional (dhow) yang membawa barang-barang seperti emas, rempah-rempah, tekstil, dan mutiara dari India, Afrika, dan Timur Tengah.

Kenampakan seperti sungai berwarna biru itulah Dubai Creek (sumber : google maps)

Dubai Creek membagi kota menjadi dua wilayah utama:
1. Deira di sisi utara, yang merupakan pusat perdagangan tradisional dan rumah bagi souk-souk terkenal seperti Gold Souk dan Spice Souk.
2. Bur Dubai di sisi selatan, yang mencakup area bersejarah seperti Al Fahidi Historical District dan tempat-tempat budaya seperti Dubai Museum dan Al Bastakiya.

Pasar ini sekarang berfungsi sebagai pusat perdagangan dan tempat perbelanjaan, menawarkan berbagai barang mulai dari rempah-rempah, kain, emas, parfum, hingga barang-barang kerajinan tradisional. Grand Souk mencerminkan budaya dan sejarah Dubai sebagai kota perdagangan, dan menjadi destinasi wisata yang populer bagi mereka yang ingin merasakan atmosfer pasar Arab klasik serta membeli barang-barang unik. 

Berjalan sejenak, ane melihat satu toko besar bernama 'Bollywood' dengan cukup banyak pembeli. Disitu ane juga melihat mereka menjual tas-tas souvenir, dan ane lihat harga tas-nya sangat murah sekitar 20 Dirham atau 50 ribu rupiah aja. Langsung aja ane masuk membelinya dan beberapa minuman dingin. Ane pindahkan barang-barang dari tas ransel ane yang risleting-nya rusak ke tas baru, dan langsung membuang tas rusak tersebut ke tempat sampah. Hhhh... beban berkurang juga!

Kami melanjutkan jalan kaki dan akhirnya menemukan satu tempat menarik untuk makan siang, semacam nasi briyani dengan ayam gitu sih..Lumayan untuk mengisi perut yang udah mulai keroncongan hehe..Harganya sekitar 60ribuan rupiah seporsi.

Makan nasi briyani porsi besar...

Selesai mengelilingi Grand Souk, kami kembali ke stasiun metro lagi untuk menuju halte terdekat dengan Burj Khalifa yaitu Halte Dubai Mall. Perjalanan berlangsung singkat selama 20 menit, dan karena keretanya kali ini ga terlalu ramai, ane bener-bener bisa melihat pemandangan sekilas Kota Dubai. Gedung-gedung modern pencakar langit, jalan-jalan yang lebar, mobil-mobil mahal berseliweran adalah pemandangan yang mendominasi. 

Pemandangan Kota Dubai dari dalam metro. Metro ini driverless a.k.a tanpa pengemudi.

Gedung-gedung tinggi yang mengelilingi jalur metro

Turun dari Stasiun Metro Dubai Mall, pada awalnya kita jalan dengan santai melewati bagian dalam Dubai Mall. Beberapa kali ane bertanya kepada satpam arah ke Burj Khalifa dan diarahkan terus luruss aja. Ane terus mengikuti arahan, mengikuti rombongan orang-orang yang 'sepertinya' mau ke Burj Khalifa juga, serta beberapa kali cek google map,  dan perasaan kok nggak sampe-sampe ya?! Jadilah ane jalannn... Jalan.... Dan jalan... Menyusuri mall selama kurang lebih 2 km sampai akhirnya menemukan jalan keluar mall yang mengarah ke Burj Khalifa.. ya ampunnnn... Semploh kakinya rek! 2 km!

Setelah ane googling, alamak, ternyata Dubai Mall itu adalah salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan termewah di dunia  luas total sekitar 1,1 juta meter persegi (11 juta kaki persegi). Dari luas tersebut, sekitar 502.000 meter persegi digunakan sebagai area ritel dengan lebih dari 1.200 toko. Selain area perbelanjaan, Dubai Mall juga mencakup berbagai fasilitas hiburan seperti Dubai Aquarium, Ice Rink, dan KidZania. Owalah... pantesan kaki ane semploh!!

Bagian dalam Dubai Mall yang luasnyaa minta ampun

Bagian dalam Dubai Mall yang luasnyaa minta ampun

Berjalan semakin ke arah ujung dari Dubai Mall, kita sempat melihat patung yang cukup menarik. Setelah ane browsing, ternyata patung ini disebut The Diver atau The Human Waterfall Sculpture. Patung ini menggambarkan sekelompok atlet loncat indah yang terbuat dari perak mengkilap, seolah-olah sedang terjun dari atas air terjun buatan. Patung ini terletak di area air terjun indoor yang menjulang setinggi empat lantai dan merupakan salah satu pemandangan paling ikonik di Dubai Mall.

The Human Waterfall Sculpture

The Human Waterfall Sculpture

Desain patung ini menciptakan kesan gerak yang dinamis, dengan para penyelam terlihat seperti sedang meluncur ke dalam air. Air terjun buatan yang mengalir di belakang mereka menambah efek dramatis dan artistik, menjadikan patung ini sebagai salah satu spot foto populer di mall tersebut. Patung ini tidak hanya memperindah ruang, tetapi juga mencerminkan perpaduan antara seni modern dan alam yang sering dijumpai di Dubai. Tidak boleh terlewat dong, ane harus berfoto! Hehehe.. Biar kenangan di Dubai nggak hanya dengan Burj Khalifa.

Berpose di The Human Waterfall Sculpture. So happy....

Akhirnyaaa.... kita menemukan juga jalan keluar dari Dubai Mall dan sudah menjumpai Burj Khalifa di depan mata. Matahari yang masih bersinar terik membuat ane cukup kesulitan untuk berfoto dengan Burj Khalifa. Ane akhirnya muter-muter area di sekitar Burj Lake yang dipenuhi dengan mall, restoran, hotel, cafe, sambil menunggu sengatan sinar matahari sedikit mereda.

Burj Khalifa dengan background matahari sore yang menyengat

Pukul 4 sore sementara sedang jalan santai di sekitaran Burj Lake, kita sempat secara tidak sengaja melewati area Dubai Fountain yang sedang memberikan pertunjukkan air mancur menari diiringi oleh lagu India yang meriah. Dubai Fountain sendiri adalah air mancur menari terbesar di dunia, terletak di dasar Burj Khalifa, tepat di sebelah Dubai Mall. Air mancur ini membentang sepanjang 275 meter (902 kaki) dan mampu menyemprotkan air hingga setinggi 152 meter (500 kaki), atau setara dengan gedung setinggi 50 lantai. Ohhh... pantes aja orang-orang pada semangat nonton dan rekam. Air mancurnya benar-benar bisa meliuk-liuk mengikuti irama lagu Indianya . Hahaha.. Lucu banget.

Burj Lake yang berada di sebelah selatan Burj Khalifa

Dan satu fakta yang ane tau memang, sebagian besar orang yang ane lihat itu di sekitaran Dubai itu memang look-nya seperti orang India. Dan setelah ane baca, memang Dubai itu 80% berisi expat dari India. Orang lokal UEA sendiri malah hanya 10%, sisanya 10% dari negara lain-lain. Pantes aja....

Berpose dengan Burj Khalifa. So grateful for the chance...

Selesai melihat pertunjukkan air mancur, ane masih sempet jalan-jalan di sisi lain Burj Khalifa. Sore itu suasana begitu ramai, banyak orang yang datang khusus untuk berfoto-foto. Suasana panas membuat ane cepet laper, tapi ga berani jajan karena setangkup es krim aja 25 AED atau setara 100ribuan 😁😁. Hemat duit dulu deh...

Suasana ramai di sekitar Burj Khalifa

Suasana ramai di sekitar Burj Khalifa

Another one..

Setelah puas berkeliling, ane masih punya tujuan 1 lagi yaitu Burj Al Arab, yaitu gedung pencakar langit di tepi pantai. Jam sebenarnya sudah cukup sore, dan matahari sudah hampir terbenam. Cuma ane merasa nanggung aja kalau nggak kesana sekalian. Akhirnya berbekal google maps, kita berjalan ke arah jalan raya dan menunggu bis di bus stop yang bentuknya sama sekali tidak meyakinkan karena berada di tepi jalan raya yang ramai banget.

Menunggu dan menunggu, selama kurang lebih 10 menit, kok tidak ada tanda-tanda ada bus yang lewat yaa. Matahari juga menunjukkan tanda-tanda udah mau terbenam. Jalan raya didepan ane didominasi oleh mobil-mobil berkecepatan tinggi. Ane nggak melihat satupun bus yang melintas.

Tempat ane menunggu bus di tepi jalan raya. Tidak ada bus lewat dan hari sudah semakin sore..

Beberapa saat kemudian ane akhirnya menyerah, karena walaupun dapat bus ke arah Burj Al Arab, ane masih harus jalan kaki 1 km lagi. Belum nunggu bus pulangnya yang pasti bakal berasa horror kalau tempatnya sepi dan gelap. Ane akhirnya putuskan jalan pulang saja kembali ke bandara, karena kaki rasanya juga udah semploh banget jalan kaki berkilo-kilometer hari ini. Urat paha sama betis udah sakit semua🥲🥲.

Oh tapi tidak semudah itu ya.. wkwk.. untuk menuju ke stasiun metro terdekat, ane harus jalan kaki +- 2 km kembali. Tapi karena tidak mau lewat bagian dalam Dubai Mall lagi, ane putuskan jalan kaki menyisir jalan raya. Kebetulan keadaan masih ramai dan beberapa orang terlihat berjalan kaki juga jadi ane PD aja. 

Disepanjang jalan ane sempatkan foto-foto juga dengan gedung-gedung modern di Kota Dubai. Memang negara ini sangat fancy sih. Hidup disini bakal enak banget kalau punya banyak duit hehehe...Apalagi disini tidak ada Pajak Penghasilan Pribadi.


Ane sempet harus berhenti beberapa kali karena urat kaki rasanya bener-bener kayak mau putus. Berjalan kurang lebih 45 menit, sampailah kita di Stasiun Metro. Akhirnyaaa... Kami mengambil metro red line dan segera kembali ke Bandara.




Perjalanan ke bandara ditempuh selama kurang lebih 20 menit. Malam itu ane sempat mandi dan bersih-bersih untuk persiapan penerbangan Dubai - KL. Dan karena bener-bener kecapekan, ane tidur sangat enak di 6 jam penerbangan Dubai - KL. Hanya bangun pas makan.  Hihi.. thank you Dubai City untuk pengalamannya. Semoga nanti bisa transit disini lagi untuk eksplor tempat lainnya.