Sejak kematian ibuku dua bulan lalu, aku jadi lebih suka memandang langit malam. Terutama ketika cuaca sedang cerah dan tidak tertutup mendung, aku bisa cukup lama memperhatikan bulan yang dari malam ke malam tampak berubah—kadang hanya berupa sabit tipis, kadang setengah lingkaran, dan pada waktu tertentu menjadi purnama yang terang. Di sekelilingnya ada titik-titik bintang yang tampak berjauhan, sebagian terang dan sebagian begitu redup hingga baru terlihat setelah mata cukup lama menyesuaikan diri dengan gelap.
Entah mengapa, memandang semua itu memberikan rasa tenang sekaligus perasaan dekat dengan Ibu. Bukan karena aku membayangkan Ibu sekarang berada di langit atau tinggal di antara bintang-bintang. Aku juga tidak memandang bulan sebagai tempat ke mana seseorang pergi setelah meninggal. Perasaan itu muncul dari pemikiran yang berbeda. Semakin lama memandang langit, semakin mudah bagiku menyadari betapa luasnya sistem tempat kehidupan kami berlangsung. Aku, Ibu, manusia-manusia lain, Bumi yang sedang kupijak, bulan yang sedang kupandang, Matahari, dan bintang-bintang yang cahayanya datang dari jarak yang sulit kubayangkan, semuanya merupakan bagian dari alam semesta yang sama.
Kesadaran itu perlahan mengubah caraku memandang kehilangan. Dalam kehidupan sehari-hari, kematian Ibu terasa seperti sebuah pemisahan yang sangat tegas. Dahulu ia ada di dunia yang sama denganku, lalu sekarang ia tidak lagi dapat kutemui di dalam kehidupan seperti sebelumnya. Tetapi ketika memandang langit dan mencoba melihat keberadaan dalam skala yang jauh lebih besar, aku mulai menyadari bahwa baik kehidupan maupun kematian sebenarnya berlangsung di dalam satu sistem alam yang sama. Tidak ada satu pun dari kita yang pernah berdiri di luar alam semesta itu. Kami lahir dari proses-proses yang terjadi di dalamnya, hidup dengan materi yang berasal darinya, dan pada akhirnya mengalami perubahan sebagai bagian dari proses alam yang terus berlangsung.
Mungkin itu yang membuatku merasa seolah aku masih berada di suatu tempat yang sama dengan Ibu. Bukan “tempat” dalam pengertian geografis, seolah-olah aku hanya perlu mengetahui koordinat tertentu untuk menemukannya. Yang kumaksud jauh lebih besar daripada itu. Kami masih merupakan bagian dari realitas fisik yang sama. Kematian telah memisahkan kami secara biologis—aku masih hidup sebagai organisme yang dapat berpikir, bergerak, mengingat, dan memandang langit, sementara kehidupan biologis Ibu telah berakhir. Tetapi tidak pernah ada suatu titik ketika kematiannya membuatnya keluar dari alam semesta.
Secara sains, kita memang tidak memiliki dasar untuk mengatakan bahwa kesadaran seseorang tetap berada di suatu tempat setelah fungsi otaknya berhenti. Tetapi mengenai tubuh dan materi, penjelasannya jauh lebih konkret. Tubuh manusia tersusun dari atom-atom yang sudah ada jauh sebelum manusia tersebut dilahirkan. Karbon, oksigen, kalsium, nitrogen, fosfor, besi, dan unsur-unsur lain yang membentuk tubuh kita memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada umur kita. Hidrogen sebagian besar berasal dari alam semesta awal, sedangkan banyak unsur yang lebih berat terbentuk melalui proses nuklir di dalam bintang dan berbagai peristiwa astrofisika sepanjang sejarah kosmos.
Jadi ketika mengatakan bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, sebenarnya aku tidak sedang menggunakan bahasa metaforis. Secara fisik memang demikian. Kita tidak datang dari luar alam semesta lalu ditempatkan di atas Bumi. Kita adalah salah satu konfigurasi materi yang dapat muncul ketika kondisi alam memungkinkan. Atom-atom yang sangat tua itu, melalui sejarah kosmik, geologis, kimiawi, dan biologis yang luar biasa panjang, pada suatu waktu tersusun menjadi tubuh manusia. Untuk beberapa puluh tahun, susunan tersebut mampu mempertahankan dirinya sebagai organisme hidup yang memiliki wajah, suara, ingatan, kepribadian, kasih sayang, dan hubungan dengan manusia lain.
Bahkan selama hidup, tubuh yang kita anggap sebagai “aku” sebenarnya tidak pernah sepenuhnya terpisah dari lingkungan. Setiap kali bernapas, kita mengambil materi dari luar tubuh dan melepaskannya kembali. Kita makan dan minum, memasukkan atom-atom baru ke dalam tubuh, kemudian sebagian materi itu kembali ke lingkungan melalui metabolisme dan berbagai proses biologis. Tubuh adalah sistem terbuka yang terus bertukar materi dan energi dengan dunia di sekelilingnya. Batas antara “aku” dan “alam” terasa sangat jelas bagi kesadaran kita, tetapi secara fisik batas tersebut jauh lebih dinamis.
Kematian tentu merupakan perubahan yang jauh lebih fundamental. Ketika seseorang meninggal, organisasi biologis yang mempertahankan kehidupan berhenti bekerja. Aku tidak ingin menghibur diriku dengan mengatakan bahwa secara ilmiah “tidak ada yang benar-benar mati”, karena itu bukan kesimpulan yang dapat dibuat begitu saja dari hukum fisika. Individu memang meninggal. Kesadarannya tidak lagi dapat kita akses, tubuhnya tidak lagi mempertahankan proses kehidupan, dan hubungan yang sebelumnya dapat berlangsung dua arah menjadi terputus. Itulah sebabnya kehilangan tetap terasa begitu besar.
Namun, berhentinya kehidupan tidak sama dengan hilangnya materi dari alam. Atom-atom yang pernah menyusun tubuh seseorang tetap menjadi bagian dari dunia fisik dan terus mengalami transformasi. Dalam pengertian yang sangat mendasar inilah kematian tidak pernah menjadi peristiwa yang berlangsung “di luar” alam. Ia adalah salah satu perubahan yang terjadi di dalam alam.
Ketika aku mengangkat kepala dan melihat langit malam, perspektif ini terasa jauh lebih nyata daripada ketika hanya membacanya sebagai teori. Bulan yang terlihat begitu dekat sebenarnya berjarak rata-rata sekitar 384.400 kilometer dari Bumi. Cahaya Matahari membutuhkan sekitar delapan menit untuk mencapai kita. Bahkan cahaya dari bintang terdekat selain Matahari membutuhkan lebih dari empat tahun untuk sampai ke Bumi. Banyak bintang yang kulihat malam ini sedang kulihat sebagaimana keadaannya bertahun-tahun, puluhan tahun, ratusan tahun, atau bahkan jauh lebih lama pada masa lalu.
Langit malam, dengan demikian, sebenarnya adalah pemandangan ruang sekaligus waktu.
Semakin jauh kita melihat, semakin jauh pula kita melihat ke masa lalu. Cahaya membawa informasi dengan kecepatan yang terbatas, sehingga alam semesta yang tampak di hadapan kita bukan sebuah foto yang diambil pada satu “sekarang” universal. Bintang-bintang yang terlihat berdampingan di langit bahkan dapat berada pada jarak yang sangat berbeda satu sama lain. Mata kita meratakan kedalaman ruang yang luar biasa besar menjadi titik-titik cahaya pada kubah langit.
Mungkin skala sebesar itulah yang membuat konsep “jauh” dalam pikiranku ikut berubah.
Dalam kehidupan manusia, kehilangan Ibu terasa seperti jarak terbesar yang pernah kukenal. Dahulu aku bisa mendatanginya, memanggilnya, mendengar suaranya, atau sekadar mengetahui bahwa ia berada di suatu ruangan di rumah. Sekarang tidak ada jarak dalam kilometer yang dapat kutempuh untuk melakukan hal yang sama. Dalam pengertian manusiawi, pemisahan itu memang mutlak dan menyakitkan.
Tetapi ketika memandang benda langit yang cahayanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai mataku, aku menyadari bahwa alam memiliki konsep ruang dan waktu yang jauh melampaui intuisi manusia. Apa yang bagiku terasa seperti dua keadaan yang terpisah secara absolut—“Ibu ketika masih hidup” dan “dunia setelah Ibu meninggal”—sebenarnya tetap merupakan dua bagian dari sejarah fisik alam semesta yang sama.
Aku berada pada bagian sejarah yang sekarang. Ibu pernah berada pada bagian sejarah sebelumnya. Keduanya tidak terpisah menjadi dua alam semesta.
Ada sesuatu yang menenangkan dalam pemikiran itu.
Bukan karena ia menghapus fakta kematian. Bukan pula karena sains menjanjikan bahwa aku akan bertemu kembali dengan Ibu. Sains tidak dapat memberikan kesimpulan seperti itu. Yang membuatku tenang justru sesuatu yang lebih sederhana: segala sesuatu yang pernah terjadi tetap merupakan bagian dari sejarah alam semesta ini.
Keberadaan Ibu bukan sebuah kejadian yang kemudian menjadi “tidak pernah ada” hanya karena kehidupannya telah berakhir. Selama beberapa puluh tahun dalam sejarah alam semesta, konfigurasi materi tertentu benar-benar pernah menjadi seorang manusia yang kupanggil Ibu. Ia pernah melihat dunia, membentuk ingatan, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, memengaruhi manusia lain, dan membentuk sebagian besar diriku menjadi seperti sekarang. Semua itu merupakan peristiwa fisik yang benar-benar pernah terjadi.
Waktu tidak berjalan mundur untuk menghapusnya.
Mungkin di sinilah pikiranku mulai melihat pola yang lebih besar. Alam semesta sendiri diperkirakan berusia sekitar 13,8 miliar tahun. Bintang terbentuk dari awan gas, menjalani evolusinya, lalu berubah ketika kondisi fisik yang mempertahankan fase sebelumnya tidak lagi ada. Materinya dapat tersebar dan menjadi bahan bagi pembentukan struktur berikutnya. Planet terbentuk dan berubah. Pegunungan terangkat lalu terkikis. Samudra membuka dan menutup. Benua bergerak. Spesies muncul dan punah. Bahkan Matahari yang setiap hari tampak seperti simbol permanensi telah berubah selama sekitar 4,6 miliar tahun dan akan terus berubah miliaran tahun ke depan.
Pada skala waktu manusia, semua itu tampak hampir abadi. Namun sebenarnya tidak.
Permanensi sebagian adalah persoalan skala pengamatan. Gunung terlihat permanen karena umur manusia terlalu pendek untuk menyaksikan keseluruhan siklus pembentukan dan penghancurannya. Benua terasa diam karena kita tidak dapat menyaksikan gerak beberapa sentimeter per tahun sebagai perubahan dramatis. Matahari terlihat tidak berubah karena hidup manusia hanya merupakan sebuah kedipan dibandingkan umur sebuah bintang.
Ketika skala waktunya diperbesar, pola yang muncul justru perubahan. Struktur terbentuk, bertahan selama kondisi memungkinkan, kemudian berubah menjadi konfigurasi lain.
Manusia juga berada di dalam pola itu.
Namun mengatakan demikian sama sekali tidak berarti bahwa kematian Ibu menjadi kecil karena alam semesta begitu besar. Bagiku justru penting untuk membedakan dua hal yang sering tercampur: ukuran kosmik dan nilai manusiawi.
Bahwa umur seorang manusia sangat singkat dibandingkan umur alam semesta adalah fakta mengenai durasi. Bahwa kehidupan seorang manusia sangat berarti bagi manusia lain adalah persoalan hubungan dan pengalaman. Tidak ada alasan logis mengapa yang pertama harus membatalkan yang kedua. Sesuatu tidak harus berlangsung selama miliaran tahun untuk menjadi penting.
Aku tidak hidup sebagai galaksi. Aku hidup sebagai manusia. Dalam skala kehidupanku, Ibu adalah salah satu manusia terpenting yang pernah ada. Karena itu kematiannya tetap merupakan peristiwa yang sangat besar. Perspektif kosmik tidak mengecilkan kesedihanku menjadi sesuatu yang tidak berarti. Ia hanya menempatkan kesedihan itu ke dalam bingkai yang lebih luas.
Dan justru ketika bingkai itu diperbesar, ada pemikiran lain yang muncul: betapa luar biasanya kami pernah bertemu.
Alam semesta telah berlangsung selama sekitar 13,8 miliar tahun. Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Kehidupan berkembang melalui sejarah yang sangat panjang, melewati perubahan iklim, kepunahan massal, evolusi, dan percabangan garis keturunan yang tak terhitung jumlahnya. Dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut, pada suatu masa yang sangat singkat muncul dua manusia yang hidup pada tempat dan waktu yang sama, dan hubungan antara kedua manusia itu adalah ibu dan anak.
Jika dipandang dari skala kosmik, beberapa puluh tahun kebersamaan kami memang nyaris tidak terlihat. Tetapi kecil dalam ukuran waktu tidak sama dengan kecil dalam arti.
Justru aku merasa sangat beruntung bahwa dari sejarah alam semesta yang begitu panjang, pernah ada suatu irisan waktu ketika keberadaan kami bertumpang tindih. Aku pernah hidup pada masa ketika Ibu masih hidup. Aku pernah mendengar suaranya secara langsung, melihat wajahnya berubah seiring usia, bepergian bersamanya, tertawa bersamanya, berbeda pendapat dengannya, dan mengalami dunia bersamanya. Alam semesta tidak berkewajiban membuat pertemuan itu berlangsung selamanya agar pertemuan tersebut menjadi nyata atau berarti.
Dalam psikologi, ada alasan mengapa pemikiran tentang sesuatu yang sangat besar seperti ini dapat memberikan ketenangan. Pengalaman ketika berhadapan dengan langit malam, pegunungan, lautan, atau skala alam yang sangat besar dapat memunculkan awe, rasa takjub ketika pikiran berhadapan dengan sesuatu yang melampaui kerangka kesehariannya. Penelitian mengenai awe juga mengenal gagasan small self: bukan perasaan bahwa diri tidak berharga, melainkan berkurangnya dominasi diri sebagai pusat dari segala sesuatu. Untuk sementara kita melihat diri sebagai bagian dari sistem yang jauh lebih besar.
Mungkin itu yang terjadi padaku ketika memandang langit malam.
Kesedihanku tidak hilang. Kerinduanku juga tidak hilang. Tetapi pusat pandangku bergeser. Aku tidak lagi hanya melihat sebuah dunia kecil tempat aku berada di sini dan Ibu sudah tidak ada di sampingku. Aku melihat sebuah alam semesta yang telah berlangsung miliaran tahun, yang terus membentuk dan menguraikan struktur dalam berbagai skala, dan kami berdua pernah—serta secara material tetap—menjadi bagian dari sejarah alam yang sama.
Itulah sebabnya memandang bulan dan bintang kadang membuatku merasa bahwa aku tidak terlalu jauh dari Ibu.
Bukan karena jarak antara kami dapat diukur dengan kilometer. Bahkan mungkin kata “jarak” sudah tidak tepat untuk menggambarkan kematian. Jarak berlaku ketika dua objek masih dapat diberi posisi dalam ruang pada saat yang sama, sedangkan kehilangan seseorang lebih menyerupai pemisahan oleh keadaan dan waktu. Aku masih menjalani fase kehidupanku sebagai organisme hidup; fase kehidupan biologis Ibu telah selesai. Kami dipisahkan oleh sebuah perubahan yang tidak dapat kutempuh dengan perjalanan apa pun.
Tetapi kami tidak pernah menjadi bagian dari dua alam yang berbeda.
Aku masih berdiri di Bumi yang sama tempat Ibu pernah berdiri. Aku masih berada di bawah bulan yang pernah ia lihat. Cahaya Matahari yang menghangatkan kulitku berasal dari bintang yang sama yang menerangi hari-harinya. Unsur-unsur yang membentuk tubuh kami berasal dari sejarah kosmik yang sama. Dan seluruh waktu ketika Ibu hidup tetap tertanam sebagai bagian dari sejarah alam semesta yang sekarang masih terus berjalan.
Maka ketika malam cerah dan aku kembali menengadah, aku tidak sedang mencari Ibu di bulan atau di antara bintang-bintang. Aku hanya sedang melihat alam yang sama yang pernah menampung keberadaan kami berdua.
Kematian Ibu tetap merupakan kehilangan yang sangat besar bagiku. Perspektif sebesar apa pun tidak akan mengubah kenyataan itu. Namun ketika memandangnya dalam skala alam semesta, kematian tidak lagi terasa seperti Ibu telah pergi ke suatu “luar” yang sama sekali terpisah dariku. Yang terjadi adalah perubahan di dalam alam yang sama, sebuah alam yang juga terus mengubah segala sesuatu di dalamnya, termasuk aku.
Mungkin karena itulah langit malam terasa begitu menenangkan sekarang. Ia mengingatkanku bahwa kedekatan tidak selalu harus kupahami sebagai jarak fisik. Dalam skala kehidupan manusia, aku dan Ibu memang telah dipisahkan oleh kematian. Tetapi dalam skala yang jauh lebih besar, kami adalah dua bagian dari satu rangkaian sejarah alam yang sama—pernah hadir bersama untuk suatu waktu, tersusun dari materi alam semesta yang sama, dan tidak pernah berada di luar sistem besar itu sejak awal.
Ketika menyadari hal itu, aku tidak merasa kehilangan Ibu menjadi lebih kecil.
Aku hanya merasa kami tidak sejauh yang selama ini kubayangkan.



0 comments:
Posting Komentar