Kebakaran hotel atau hostel adalah salah satu keadaan darurat yang mungkin jarang kita pikirkan ketika traveling atau staycation. Ketika traveling, kita lebih sering memikirkan paspor hilang, dicopet, ketinggalan pesawat, atau kehilangan backpack. Padahal, kebakaran bisa terjadi kapan saja, bahkan ketika kita sedang tertidur pulas di dalam kamar.
Masalahnya, kebakaran memiliki karakter yang berbeda dari keadaan darurat lainnya. Kita mungkin berada di bangunan yang sama sekali tidak kita kenal, lorong dipenuhi asap, penerangan mati, dan kita bahkan tidak tahu di mana letak tangga darurat. Dalam kebakaran bangunan, asap merupakan ancaman besar selain api itu sendiri, karena dapat mengganggu pernapasan, mengurangi jarak pandang, dan membuat seseorang kehilangan kesadaran sebelum berhasil menyelamatkan diri.
Karena itu, survival sebenarnya dimulai bukan ketika api muncul, melainkan sejak beberapa menit pertama setelah kita check-in. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri, mengetahui jalur penyelamatan, dan meningkatkan peluang keluar dengan selamat apabila kebakaran benar-benar terjadi.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Baru Check-in? Cari Jalan Keluar Sebelum Masuk Kamar
Setelah mendapatkan kamar atau bed dorm, jangan hanya mengingat nomor kamar tempat kita menginap. Luangkan waktu beberapa menit untuk mengenali lingkungan sekitar, terutama posisi emergency exit atau pintu keluar darurat dan tangga darurat yang berada paling dekat dengan kamar kita.
Menurut U.S. Fire Administration (USFA), tamu hotel dianjurkan untuk mengetahui setidaknya dua jalur keluar terdekat dari kamar mereka. Kita juga disarankan menghitung jumlah pintu kamar yang harus dilewati untuk mencapai tangga darurat. Tujuannya sederhana, yaitu agar kita tetap memiliki gambaran mengenai arah evakuasi apabila suatu saat lorong hotel dipenuhi asap, penerangan mati, atau jarak pandang menjadi sangat terbatas.
Misalnya, setelah check-in di kamar nomor 305, kita mengetahui bahwa tangga darurat A berada enam pintu di sebelah kiri kamar, sedangkan tangga darurat B berada di sebelah kanan setelah melewati sepuluh pintu dan satu belokan. Dengan mengetahui kedua jalur tersebut, kita memiliki alternatif apabila salah satu jalur tidak dapat dilewati akibat api atau asap.
Sekilas, menghitung jumlah pintu kamar mungkin terdengar berlebihan. Namun, bayangkan apabila kebakaran terjadi pada pukul dua dini hari ketika kita sedang tertidur pulas. Kita terbangun karena alarm kebakaran berbunyi, keluar dari kamar, dan mendapati lorong sudah dipenuhi asap. Dalam situasi seperti itu, informasi sederhana mengenai arah tangga darurat dan jumlah pintu yang harus dilewati dapat membantu kita mengenali jalur evakuasi tanpa sepenuhnya mengandalkan penglihatan.
Selain mengetahui lokasi tangga darurat, perhatikan juga posisi tombol alarm kebakaran manual (fire alarm pull station) yang biasanya dipasang di lorong atau dekat pintu keluar. Jangan lupa membaca peta evakuasi (evacuation map) yang umumnya ditempel di belakang pintu kamar hotel. Peta tersebut biasanya menunjukkan posisi kamar kita, jalur evakuasi, lokasi tangga darurat, dan pintu keluar bangunan.
Intinya, jangan menunggu kebakaran terjadi untuk mencari tahu bagaimana cara keluar dari hotel. Beberapa menit yang kita gunakan untuk mengenali jalur evakuasi setelah check-in bisa menjadi sangat berharga ketika kita benar-benar menghadapi keadaan darurat.
Kesimpulannya, setelah check-in, lakukan beberapa hal berikut:
a. Cari tahu lokasi dua pintu keluar atau tangga darurat terdekat dari kamar.
b. Hitung jumlah pintu kamar yang harus dilewati untuk mencapai masing-masing tangga darurat.
c. Ingat arah dan belokan menuju kedua jalur evakuasi tersebut.
d. Perhatikan lokasi tombol alarm kebakaran manual (fire alarm pull station).
e. Baca peta evakuasi (evacuation map) yang biasanya ditempel di belakang pintu kamar.
f. Pastikan jalur evakuasi tidak terhalang barang dan pintu darurat dapat dibuka dari sisi dalam.
2. Jangan Membuat Barang Penting Berantakan Ketika Tidur
Salah satu kebiasaan sederhana yang menurutku penting ketika backpacking adalah selalu meletakkan barang-barang pribadi di tempat yang sama, terutama ketika kita hendak tidur. Kebiasaan ini bukan hanya berguna untuk mencegah barang tertinggal atau hilang, tetapi juga dapat membantu kita ketika menghadapi keadaan darurat seperti kebakaran hotel atau hostel.
Bayangkan apabila kita sedang tertidur pulas, kemudian tiba-tiba terbangun karena alarm kebakaran berbunyi. Dalam kondisi masih mengantuk, panik, dan mungkin belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi, kita tentu tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk mencari barang-barang yang berserakan di dalam kamar.
"HP-ku tadi kutaruh di mana, ya?"
"Key card-ku kok nggak ada?"
"Duh, kacamataku di mana lagi?"
Padahal, setiap detik bisa menjadi sangat berharga ketika kita harus segera meninggalkan bangunan yang terbakar. Karena itu, sebelum tidur, biasakan untuk meletakkan barang-barang yang benar-benar penting di satu tempat yang mudah dijangkau, misalnya di meja kecil di samping tempat tidur atau di dalam kantong kecil yang selalu kita letakkan pada posisi yang sama.
Bagi pengguna kacamata, pastikan kacamata berada dalam jangkauan tangan sehingga kita tidak perlu meraba-raba atau mencarinya ketika harus segera bangun. Begitu pula dengan HP dan kunci kamar atau key card. HP dapat digunakan untuk menghubungi layanan darurat setelah kita berada di tempat yang aman, sedangkan kunci kamar penting untuk berjaga-jaga apabila kita harus kembali masuk ke kamar karena jalur evakuasi ternyata tidak dapat dilewati.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), tamu hotel dianjurkan untuk menyimpan kunci kamar di dekat tempat tidur dan membawanya ketika harus melakukan evakuasi. Alasannya, apabila jalur keluar ternyata terhalang api atau asap, kita mungkin harus kembali ke kamar untuk berlindung sementara sambil menunggu pertolongan. Tanpa kunci kamar, kita berisiko tidak dapat masuk kembali.
Bagaimana dengan paspor, uang, dan barang berharga lainnya? Sebagai backpacker, aku lebih suka menyimpan barang-barang tersebut secara terorganisasi di dalam satu dompet atau tas kecil yang mudah dijangkau. Dengan begitu, apabila terjadi keadaan darurat, kita tidak perlu membongkar seluruh isi backpack hanya untuk mencari paspor atau dompet. Namun, perlu diingat bahwa membawa barang-barang tersebut hanya boleh dilakukan apabila memang berada dalam jangkauan langsung dan tidak memperlambat proses evakuasi.
Jangan pernah mengorbankan keselamatan diri hanya demi menyelamatkan barang bawaan. Apabila alarm kebakaran berbunyi dan kita harus segera meninggalkan kamar, jangan membuang waktu untuk mengemas pakaian, mencari charger, mengambil perlengkapan mandi, atau mengumpulkan barang-barang yang tercecer. Apalagi jika kita harus membuka loker, membongkar backpack, atau kembali masuk ke kamar yang sudah ditinggalkan.
Kalau harus memilih antara mencari backpack dan segera keluar dari bangunan, tinggalkan backpack tersebut. Barang-barang yang hilang masih bisa diganti, tetapi keselamatan diri harus menjadi prioritas utama.
Kesimpulannya, sebelum tidur, lakukan beberapa hal berikut:
a. Letakkan HP, kunci kamar atau key card, dan kacamata di tempat yang sama serta mudah dijangkau dari tempat tidur.
b. Simpan paspor, uang, dan barang berharga lainnya secara terorganisasi agar tidak tercecer di dalam kamar.
c. Siapkan alas kaki yang mudah dikenakan di dekat tempat tidur untuk melindungi kaki ketika melakukan evakuasi, terutama jika terdapat pecahan kaca atau benda tajam di lantai.
d. Pastikan barang bawaan tidak menghalangi jalan menuju pintu kamar.
e. Apabila terjadi kebakaran, ambil barang penting hanya jika berada dalam jangkauan langsung dan tidak memperlambat evakuasi.
f. Jangan membuang waktu untuk mengemas backpack, membongkar loker, atau mencari barang yang tertinggal. Keselamatan diri selalu lebih penting daripada barang bawaan.
3. Jangan Menganggap Itu Pasti False Alarm
Bayangkan kita sedang tertidur pulas di kamar hotel atau hostel. Saat itu mungkin sudah pukul 02.30 dini hari, ketika tiba-tiba terdengar suara fire alarm yang cukup keras hingga membangunkan kita dari tidur. Dari luar kamar, mungkin terdengar suara orang-orang berteriak atau langkah kaki yang terburu-buru di sepanjang koridor. Bahkan, mungkin kita mulai mencium bau asap yang samar-samar.
Apa yang harus kita lakukan dalam situasi seperti ini?
Salah satu kesalahan berbahaya yang mungkin dilakukan adalah menganggap bahwa alarm tersebut hanyalah false alarm atau alarm palsu. Kita mungkin berpikir, "Ah, paling ada tamu yang ngerokok di kamar," atau "Paling alarmnya error. Nanti juga berhenti sendiri." Kemudian, kita menarik selimut dan kembali tidur, berharap suara alarm tersebut segera berhenti.
Padahal, kita sama sekali belum mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bisa saja alarm tersebut memang dipicu oleh asap rokok atau gangguan teknis, tetapi bisa juga sedang terjadi kebakaran sungguhan di bagian lain bangunan yang belum terlihat dari kamar kita.
Apalagi jika kita sedang menginap di hotel bertingkat atau hostel yang memiliki banyak kamar. Kebakaran mungkin terjadi di lantai lain, di dapur, di ruang penyimpanan, atau di bagian bangunan yang cukup jauh dari kamar kita. Tidak adanya bau asap atau kobaran api di sekitar kamar bukan berarti seluruh bangunan dalam keadaan aman.
Karena itu, setiap alarm kebakaran harus dianggap sebagai peringatan yang serius sampai kita mendapatkan informasi yang dapat dipercaya bahwa situasinya aman. Jangan menunggu sampai melihat kobaran api atau asap masuk ke dalam kamar untuk mulai bertindak.
Begitu alarm berbunyi, segera bangun dan sadarkan diri. Ambil HP, kunci kamar atau key card, dan kacamata apabila barang-barang tersebut sudah berada dalam jangkauan tangan. Kenakan alas kaki jika dapat dilakukan dengan cepat, kemudian bersiaplah untuk melakukan evakuasi melalui jalur yang sudah kita kenali sejak pertama kali check-in.
Jangan menghabiskan waktu untuk mengemas backpack, melipat pakaian, mencari charger yang tertinggal di bawah tempat tidur, atau membongkar loker untuk mengambil barang-barang berharga. Jika barang tersebut tidak berada dalam jangkauan langsung, tinggalkan saja.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), ketika alarm kebakaran berbunyi, tamu hotel dianjurkan untuk segera merespons peringatan tersebut dan melakukan evakuasi apabila jalur keluar aman. Jangan mengabaikan alarm hanya karena kita belum melihat tanda-tanda kebakaran di sekitar kamar.
Ingat, ketika kebakaran benar-benar terjadi, waktu yang kita habiskan untuk menunda evakuasi dapat mengurangi kesempatan untuk menyelamatkan diri sebelum api dan asap menyebar ke bagian bangunan lainnya.
Kesimpulannya, apabila alarm kebakaran berbunyi:
a. Segera bangun dan jangan menganggap alarm tersebut sebagai false alarm sebelum ada informasi yang dapat dipercaya bahwa situasinya aman.
b. Jangan kembali tidur atau menunggu sampai melihat api maupun mencium bau asap untuk mulai bertindak.
c. Ambil HP, kunci kamar atau key card, dan kacamata apabila berada dalam jangkauan langsung.
d. Kenakan alas kaki apabila dapat dilakukan dengan cepat tanpa memperlambat evakuasi.
e. Jangan menghabiskan waktu untuk mengemas backpack, mencari charger, membongkar loker, atau mengumpulkan barang-barang yang tercecer.
f. Segera bersiap untuk melakukan evakuasi melalui jalur yang aman.
4. Sebelum Membuka Pintu, Periksa Kondisi di Baliknya
Setelah terbangun karena alarm kebakaran dan bersiap untuk melakukan evakuasi, jangan langsung membuka pintu kamar dan berlari menuju koridor. Kita belum mengetahui kondisi di luar kamar. Bisa saja api sudah menyebar ke lorong, atau asap tebal telah memenuhi jalur menuju tangga darurat. Membuka pintu secara tergesa-gesa justru dapat membuat asap dan panas masuk ke dalam kamar, sehingga membahayakan keselamatan kita.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), sebelum membuka pintu kamar, kita dianjurkan untuk memeriksa apakah pintu terasa panas dengan menggunakan punggung tangan. Perhatikan juga apakah terdapat asap yang masuk melalui celah-celah pintu. Jika pintu terasa panas atau terdapat asap tebal di baliknya, jangan membuka pintu tersebut karena kemungkinan terdapat kebakaran atau kondisi berbahaya di sisi lainnya.
Mengapa menggunakan punggung tangan? Bagian ini dapat digunakan untuk merasakan panas pada permukaan pintu tanpa harus menggenggam gagangnya. Namun, perlu diingat bahwa pintu yang tidak terasa panas belum tentu menandakan bahwa kondisi di baliknya aman. Karena itu, pemeriksaan harus dilakukan secara bertahap dan hati-hati.
Apabila pintu tidak terasa panas dan tidak terdapat tanda-tanda asap yang masuk melalui celahnya, kita dapat mencoba membuka pintu secara perlahan. Jangan langsung membukanya lebar-lebar. Berdirilah di samping pintu, bukan tepat di depan bukaan, dan bukalah sedikit terlebih dahulu untuk mengamati kondisi koridor. Jika ternyata terdapat asap tebal, kobaran api, atau hawa panas yang sangat kuat, segera tutup kembali pintu tersebut.
Sebaliknya, apabila koridor terlihat jelas, tidak terdapat asap yang membahayakan, dan jalur menuju tangga darurat masih aman untuk dilewati, segera tinggalkan kamar dan lakukan evakuasi melalui jalur yang telah kita kenali sebelumnya. Bawa kunci kamar atau key card untuk berjaga-jaga apabila jalur evakuasi ternyata terhalang dan kita terpaksa harus kembali ke kamar.
Jangan memaksakan diri melewati koridor yang dipenuhi asap tebal atau api. Jika jalur keluar tidak aman, tetaplah berada di dalam kamar dengan pintu tertutup dan lakukan langkah-langkah berlindung sambil menunggu pertolongan, sebagaimana akan dibahas pada bagian berikutnya.
Kesimpulannya, sebelum membuka pintu kamar:
a. Jangan langsung membuka pintu kamar ketika alarm kebakaran berbunyi. Periksa terlebih dahulu kondisi pintu dan tanda-tanda bahaya di sekitarnya.
b. Gunakan punggung tangan untuk memeriksa apakah permukaan pintu terasa panas. Jangan membuka pintu apabila terasa panas.
c. Perhatikan apakah terdapat asap yang masuk melalui celah pintu. Jika terdapat asap tebal atau tanda-tanda kebakaran di balik pintu, tetaplah berada di dalam kamar dengan pintu tertutup.
d. Apabila pintu tidak panas dan tidak terdapat tanda-tanda bahaya, buka pintu sedikit demi sedikit secara hati-hati sambil berdiri di sampingnya.
e. Periksa apakah koridor dipenuhi asap, terdapat kobaran api, atau terasa hawa panas yang sangat kuat.
f. Jika koridor dan jalur menuju tangga darurat aman untuk dilewati, segera keluar dari kamar sambil membawa kunci kamar atau key card.
g. Jika jalur keluar tidak aman, segera tutup kembali pintu dan jangan memaksakan diri melewati api atau asap tebal.
5. Tinggalkan Kamar dan Tutup Pintunya
Setelah memastikan bahwa kondisi koridor dan jalur evakuasi aman untuk dilewati, segera tinggalkan kamar dan bergerak menuju tangga darurat terdekat. Namun, ada satu hal sederhana yang jangan sampai kita lupakan, yaitu menutup kembali pintu kamar setelah keluar.
Mengapa hal ini penting? Ketika terjadi kebakaran, pintu yang dibiarkan terbuka dapat menjadi jalur penyebaran asap dan panas ke bagian bangunan lainnya. Sebaliknya, pintu yang tertutup dapat membantu memperlambat penyebaran api dan asap, sehingga memberikan waktu tambahan bagi penghuni lain untuk menyelamatkan diri.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), ketika meninggalkan ruangan yang terbakar, kita dianjurkan untuk menutup pintu di belakang kita. Tindakan sederhana ini dapat membantu membatasi penyebaran api dan asap ke ruangan atau koridor di sekitarnya.
Karena itu, setelah keluar dari kamar, tarik pintu hingga tertutup rapat tanpa perlu menghabiskan waktu untuk menguncinya secara manual. Pastikan juga kita tetap membawa kunci kamar atau key card, untuk berjaga-jaga apabila jalur evakuasi ternyata terhalang dan kita terpaksa harus kembali ke kamar.
Selanjutnya, segera bergerak menuju tangga darurat melalui jalur evakuasi yang aman. Apabila kita menemukan tombol alarm kebakaran manual (fire alarm pull station) dan alarm gedung belum berbunyi, aktifkan alarm tersebut jika dapat dilakukan dengan aman. Tujuannya adalah memberikan peringatan kepada penghuni lain agar mereka mengetahui adanya kebakaran dan segera melakukan evakuasi.
Bagaimana dengan penghuni kamar lainnya?
Ketika bergerak menuju tangga darurat, kita dapat memperingatkan orang-orang yang berada di sekitar kita dengan berteriak, misalnya, "Fire! Fire! Get out!" atau mengetuk pintu kamar yang kita lewati apabila dapat dilakukan tanpa memperlambat evakuasi dan tanpa membahayakan diri sendiri.
Namun, jangan sampai niat membantu orang lain justru membuat kita terjebak di dalam bangunan. Kita tidak perlu berkeliling ke setiap lantai, menyusuri lorong yang dipenuhi asap, atau mengetuk seluruh pintu kamar satu per satu untuk membangunkan penghuninya. Apabila menemukan seseorang yang membutuhkan bantuan, bantulah sebatas yang dapat dilakukan dengan aman, kemudian segera beri tahu petugas pemadam kebakaran mengenai lokasi orang tersebut setelah kita berhasil keluar.
Ingat, dalam situasi kebakaran, prioritas utama adalah segera mencapai tempat yang aman tanpa memperlambat proses evakuasi. Kita tetap dapat membantu orang lain dengan memberikan peringatan, tetapi jangan sampai tindakan tersebut membuat kita kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Kesimpulannya, setelah meninggalkan kamar:
a. Segera keluar dari kamar apabila koridor dan jalur evakuasi aman untuk dilewati.
b. Tutup kembali pintu kamar setelah keluar untuk membantu memperlambat penyebaran api dan asap.
c. Bawa kunci kamar atau key card untuk berjaga-jaga apabila harus kembali ke kamar karena jalur evakuasi terhalang.
d. Apabila menemukan tombol alarm kebakaran manual dan alarm gedung belum berbunyi, aktifkan alarm tersebut jika aman dilakukan.
e. Peringatkan penghuni lain yang berada di sekitar kita sambil terus bergerak menuju tangga darurat.
f. Jangan berkeliling ke setiap kamar atau lantai untuk membangunkan seluruh penghuni apabila tindakan tersebut dapat memperlambat evakuasi atau membahayakan diri sendiri.
g. Jika mengetahui ada penghuni yang masih terjebak di dalam bangunan, segera informasikan lokasi mereka kepada petugas pemadam kebakaran setelah kita mencapai tempat yang aman.
6. Cari TANGGA DARURAT — Jangan Lift
Setelah meninggalkan kamar dan menutup pintu di belakang kita, langkah berikutnya adalah segera mencari tangga darurat untuk keluar dari bangunan. Ingat satu aturan penting ketika menghadapi kebakaran di hotel atau hostel: gunakan tangga darurat, bukan lift.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), penghuni bangunan dianjurkan untuk menggunakan tangga ketika melakukan evakuasi kebakaran dan tidak menggunakan lift, kecuali apabila secara khusus diarahkan oleh petugas pemadam kebakaran. Hal ini karena lift memiliki sejumlah risiko yang dapat membahayakan keselamatan kita ketika terjadi kebakaran.
Bayangkan apabila kita sedang menginap di kamar hotel yang berada di lantai 12. Ketika alarm kebakaran berbunyi, mungkin kita akan berpikir, "Waduh, kamarku di lantai 12. Kalau turun lewat tangga, lama banget. Naik lift aja deh, lebih cepat!"
Padahal, keputusan tersebut justru dapat membahayakan keselamatan kita. Ketika terjadi kebakaran, pasokan listrik bangunan dapat terganggu sehingga lift berisiko berhenti beroperasi. Selain itu, asap dan panas dapat masuk ke dalam ruang lift maupun porosnya. Kita juga berisiko terjebak di dalam lift ketika pintunya terbuka pada lantai yang dipenuhi asap atau terdampak kebakaran.
Memang, beberapa bangunan modern memiliki lift khusus yang dirancang untuk mendukung evakuasi dalam keadaan darurat. Namun, penggunaan lift semacam ini memiliki prosedur keselamatan tersendiri dan tidak boleh disamakan dengan lift penumpang biasa. Karena itu, sebagai tamu hotel atau hostel, jangan menggunakan lift untuk melakukan evakuasi kebakaran kecuali kita mendapatkan arahan khusus dari petugas yang berwenang.
Lalu, bagaimana cara menemukan tangga darurat?
Inilah mengapa sejak pertama kali check-in kita perlu mengenali lokasi dua jalur keluar terdekat dari kamar. Ketika alarm kebakaran berbunyi, kita tidak perlu lagi kebingungan mencari arah karena sebelumnya sudah mengetahui lokasi tangga darurat yang dapat digunakan.
Perhatikan papan petunjuk bertuliskan EXIT, FIRE EXIT, atau EMERGENCY STAIRCASE yang biasanya dipasang di sepanjang koridor hotel. Ikuti petunjuk tersebut menuju tangga darurat terdekat yang kondisinya aman untuk dilewati.
Sebelum memasuki tangga darurat, perhatikan kondisi di balik pintunya. Jangan langsung membuka pintu dan berlari menuruni tangga apabila terdapat tanda-tanda asap tebal, panas yang sangat kuat, atau api di dalamnya. Jika tangga darurat pertama tidak aman untuk dilewati, gunakan jalur alternatif yang sebelumnya sudah kita identifikasi.
Apabila tangga darurat aman, segera masuk dan tutup kembali pintunya di belakang kita. Pintu tangga darurat yang tertutup membantu membatasi masuknya asap ke dalam ruang tangga sehingga jalur tersebut tetap dapat digunakan oleh penghuni lain yang sedang melakukan evakuasi.
Turunlah dengan tertib dan hati-hati, gunakan pegangan tangga apabila diperlukan, serta hindari berlari atau saling mendorong. Terus ikuti petunjuk evakuasi menuju pintu keluar bangunan. Jangan berhenti di tengah perjalanan hanya untuk mengambil foto atau merekam video kebakaran.
Ingat, tujuan kita bukan sekadar keluar dari kamar, melainkan mencapai tempat yang aman di luar bangunan secepat mungkin tanpa membahayakan diri sendiri maupun penghuni lainnya.
Kesimpulannya, ketika mencari jalur evakuasi:
a. Gunakan tangga darurat untuk melakukan evakuasi kebakaran. Jangan menggunakan lift penumpang biasa.
b. Ikuti papan petunjuk EXIT, FIRE EXIT, atau EMERGENCY STAIRCASE menuju tangga darurat terdekat.
c. Periksa kondisi pintu dan jalur tangga darurat sebelum memasukinya. Jangan memaksakan diri melewati tangga yang dipenuhi asap tebal atau api.
d. Apabila tangga darurat pertama tidak aman untuk dilewati, gunakan jalur alternatif yang sudah kita identifikasi sebelumnya jika jalur tersebut aman.
e. Setelah memasuki tangga darurat, tutup kembali pintunya untuk membantu membatasi masuknya asap.
f. Turunlah dengan tertib dan hati-hati. Gunakan pegangan tangga serta hindari berlari atau saling mendorong.
g. Terus ikuti jalur evakuasi menuju pintu keluar bangunan. Jangan berhenti untuk mengambil foto, merekam video, atau mengambil barang yang tertinggal.
h. Jangan menggunakan lift kecuali secara khusus diarahkan oleh petugas pemadam kebakaran atau petugas berwenang yang menangani evakuasi.
7. Kalau Ada Asap, Bergerak Lebih Rendah
Ketika sedang melakukan evakuasi melalui koridor hotel atau hostel, kita mungkin menemukan asap yang mulai memenuhi bagian atas lorong. Dalam situasi seperti ini, jangan langsung panik dan berlari tanpa memperhatikan kondisi di sekitar. Kita perlu memahami bagaimana asap bergerak ketika terjadi kebakaran dan bagaimana cara mengurangi paparan asap selama proses evakuasi.
Ketika terjadi kebakaran, asap dan gas panas cenderung bergerak naik karena memiliki massa jenis yang lebih rendah dibandingkan udara di sekitarnya. Akibatnya, asap panas biasanya akan terkumpul terlebih dahulu di bagian atas ruangan atau dekat langit-langit, kemudian semakin lama dapat memenuhi bagian ruangan yang lebih rendah. Kondisi ini membuat udara di dekat lantai terkadang masih memiliki jarak pandang yang lebih baik dan suhu yang lebih rendah dibandingkan udara di bagian atas.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), salah satu prinsip yang diajarkan dalam latihan evakuasi kebakaran adalah get low and go, yaitu merendahkan posisi tubuh dan bergerak menuju pintu keluar apabila terdapat asap di sepanjang jalur evakuasi.
Karena itu, apabila kita menemukan lapisan asap di bagian atas koridor tetapi jalur menuju tangga darurat masih terlihat dan dapat dilewati dengan aman, segera turunkan posisi tubuh. Kita dapat berjalan sambil membungkuk atau merangkak apabila diperlukan, kemudian bergerak menuju pintu keluar melalui jalur yang telah kita identifikasi sebelumnya.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami. Merendahkan posisi tubuh bukan berarti kita menjadi kebal terhadap asap. Asap kebakaran dapat mengandung gas beracun seperti karbon monoksida, serta berbagai partikel dan zat berbahaya lainnya. Bahkan, udara di dekat lantai pun dapat menjadi berbahaya apabila konsentrasi asap sudah cukup tinggi.
Karena itu, jangan sengaja menerobos koridor yang dipenuhi asap pekat hanya karena kita merasa tangga darurat sudah dekat. Misalnya, kita mengetahui bahwa tangga darurat berada sekitar 20 meter dari kamar, tetapi ternyata koridor menuju tangga tersebut sudah dipenuhi asap tebal hingga kita tidak dapat melihat jalur di depan.
Kita mungkin berpikir, "Ah, tangganya tinggal 20 meter lagi. Merangkak aja deh, pasti sampai!"
Padahal, kita sama sekali tidak mengetahui kondisi 10 meter berikutnya. Bisa saja terdapat kobaran api di balik asap, suhu semakin tinggi, atau konsentrasi gas beracun sudah mencapai tingkat yang berbahaya. Memaksakan diri melewati jalur seperti itu dapat membuat kita mengalami gangguan pernapasan, kehilangan orientasi, bahkan kehilangan kesadaran sebelum berhasil mencapai tangga darurat.
Apabila jalur evakuasi pertama tidak aman untuk dilewati, jangan memaksakan diri untuk terus maju. Segera gunakan jalur alternatif yang sudah kita identifikasi ketika pertama kali check-in, selama jalur tersebut dapat dicapai dengan aman.
Inilah mengapa kita perlu mengetahui setidaknya dua pintu keluar terdekat dari kamar. Persiapan sederhana yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit setelah check-in ternyata dapat menjadi sangat berharga ketika salah satu jalur evakuasi tidak dapat digunakan akibat api atau asap.
Apabila kedua jalur keluar tidak dapat dilewati dengan aman, jangan terus berkeliling mencari jalan melalui koridor yang dipenuhi asap. Jika memungkinkan, kembali ke kamar atau cari ruangan yang aman, tutup pintu, dan lakukan langkah-langkah berlindung sambil meminta pertolongan, sebagaimana akan dibahas pada bagian berikutnya.
Kesimpulannya, apabila menemukan asap selama evakuasi:
a. Perhatikan kondisi koridor dan pastikan jalur menuju pintu keluar masih dapat dilewati dengan aman.
b. Apabila terdapat lapisan asap di bagian atas koridor tetapi jalur evakuasi masih aman, turunkan posisi tubuh dengan membungkuk atau merangkak untuk mengurangi paparan asap.
c. Bergeraklah menuju pintu keluar melalui jalur yang masih terlihat dan dapat dilewati dengan aman.
d. Jangan menganggap udara di dekat lantai selalu aman. Asap dan gas beracun tetap dapat membahayakan meskipun kita sudah merendahkan posisi tubuh.
e. Jangan memaksakan diri menerobos asap pekat, terutama apabila jarak pandang sangat terbatas atau terdapat panas yang kuat.
f. Apabila jalur evakuasi pertama tidak aman, gunakan jalur alternatif yang telah kita identifikasi sebelumnya jika dapat dicapai dengan aman.
g. Apabila seluruh jalur keluar tidak dapat dilewati dengan aman, jangan terus berkeliaran di koridor yang dipenuhi asap. Cari tempat berlindung yang aman, tutup pintu, dan segera minta pertolongan.
8. Tutup Pintu Tangga Darurat Setelah Melewatinya
Setelah berhasil mencapai tangga darurat dan memastikan bahwa kondisinya aman untuk dilewati, segera masuk dan lanjutkan perjalanan menuju pintu keluar bangunan. Namun, ada satu hal sederhana yang sering kali terlupakan ketika seseorang sedang terburu-buru melakukan evakuasi, yaitu menutup kembali pintu tangga darurat setelah melewatinya.
Mengapa hal ini penting? Pada banyak bangunan bertingkat, tangga darurat dirancang sebagai jalur evakuasi yang memiliki perlindungan terhadap penyebaran api dan asap. Ruang tangga biasanya dipisahkan dari koridor maupun ruangan lainnya menggunakan dinding dan pintu tahan api, sehingga penghuni bangunan memiliki jalur yang lebih terlindungi untuk menyelamatkan diri.
Namun, perlindungan tersebut dapat berkurang apabila pintu tangga darurat dibiarkan terbuka. Asap dari koridor dapat masuk ke dalam ruang tangga dan menyebar ke lantai lainnya, sehingga membahayakan penghuni yang sedang melakukan evakuasi.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), pintu yang menghubungkan koridor dengan tangga darurat perlu dijaga agar tetap tertutup untuk membantu membatasi penyebaran asap dan menjaga jalur evakuasi tetap dapat digunakan oleh penghuni bangunan.
Karena itu, setelah memasuki tangga darurat, pastikan pintu kembali tertutup dengan benar. Jangan mengganjal pintu menggunakan kursi, tempat sampah, atau benda lainnya hanya karena ingin memudahkan penghuni lain untuk masuk. Pintu tangga darurat umumnya dilengkapi mekanisme penutup otomatis sehingga kita cukup membiarkannya menutup kembali tanpa perlu menguncinya.
Bagaimana apabila ada penghuni lain yang sedang mengikuti kita dari belakang? Tentu saja kita boleh menahan pintu sebentar agar mereka dapat melewatinya. Namun, setelah semua orang yang berada tepat di belakang kita berhasil masuk, biarkan pintu kembali tertutup. Jangan meninggalkannya dalam keadaan terbuka.
Selanjutnya, teruslah menuruni tangga dengan tertib dan hati-hati. Gunakan pegangan tangga apabila diperlukan, terutama jika penerangan terbatas atau terdapat banyak orang yang sedang melakukan evakuasi. Jangan berhenti di tengah tangga untuk mengambil foto, merekam video, atau menunggu teman yang masih berada di lantai lain apabila hal tersebut dapat menghambat pergerakan penghuni lainnya.
Ikuti papan petunjuk evakuasi hingga mencapai pintu keluar yang mengarah ke luar bangunan. Perlu diingat bahwa pintu keluar tangga darurat tidak selalu berada di lantai dasar atau langsung mengarah ke halaman hotel. Pada beberapa bangunan, jalur evakuasi mungkin mengarah ke lantai tertentu atau melewati koridor khusus sebelum akhirnya mencapai area luar gedung.
Karena itu, jangan menganggap bahwa kita sudah aman hanya karena berhasil masuk ke dalam tangga darurat. Selama kondisi jalur masih aman, teruslah bergerak mengikuti petunjuk evakuasi hingga benar-benar mencapai tempat yang aman di luar bangunan.
Kesimpulannya, ketika menggunakan tangga darurat:
a. Segera masuk ke tangga darurat apabila kondisinya aman untuk dilewati.
b. Tutup kembali pintu tangga darurat setelah melewatinya untuk membantu membatasi masuknya asap dan panas dari koridor.
c. Jangan mengganjal pintu tangga darurat menggunakan kursi, tempat sampah, atau benda lainnya agar tetap terbuka.
d. Apabila ada penghuni lain yang mengikuti dari belakang, kita boleh menahan pintu sebentar agar mereka dapat masuk, kemudian biarkan pintu kembali tertutup.
e. Turunlah dengan tertib dan hati-hati. Gunakan pegangan tangga apabila diperlukan dan jangan menghalangi pergerakan penghuni lainnya.
f. Ikuti papan petunjuk evakuasi menuju pintu keluar yang mengarah ke luar bangunan.
g. Jangan berhenti di tengah perjalanan untuk mengambil foto, merekam video, atau menunggu teman apabila tindakan tersebut dapat menghambat evakuasi.
h. Teruslah bergerak hingga mencapai tempat yang aman di luar gedung.
9. Tutup Kembali Pintu dan Bertahan di Dalam Kamar
Namun, bagaimana apabila kita sudah bersiap melakukan evakuasi, tetapi ternyata koridor hotel atau hostel sudah dipenuhi asap tebal? Misalnya, ketika kita mencoba membuka pintu kamar sedikit demi sedikit, kita mendapati bahwa asap pekat telah memenuhi seluruh lorong hingga tangga darurat tidak lagi terlihat. Atau, bahkan sebelum membuka pintu, kita sudah merasakan bahwa permukaan pintu sangat panas dan terdapat asap yang masuk melalui celah-celahnya.
Dalam situasi seperti ini, jangan memaksakan diri keluar melalui jalur yang sudah dipenuhi asap atau api. Kita tidak mengetahui seberapa jauh asap telah menyebar, apakah terdapat kobaran api di sepanjang koridor, atau apakah jalur menuju tangga darurat masih dapat dilewati dengan aman. Memaksakan diri keluar justru dapat membuat kita terjebak di tengah koridor tanpa tempat berlindung.
Apabila jalur evakuasi utama tidak aman dan tidak ada jalur alternatif yang dapat digunakan, kamar hotel dengan pintu tertutup dapat menjadi tempat perlindungan sementara sambil menunggu pertolongan. Namun, perlu diingat bahwa kamar hotel bukanlah tempat perlindungan yang sepenuhnya aman dari kebakaran. Karena itu, kita tetap harus berusaha menghubungi petugas penyelamat dan memberi tahu lokasi keberadaan kita sesegera mungkin.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera menutup kembali pintu kamar hingga rapat. Jangan membiarkan pintu terbuka karena asap dan panas dari koridor dapat masuk ke dalam kamar dengan lebih cepat. Pastikan pintu tertutup dengan benar, kemudian perhatikan apakah terdapat asap yang mulai masuk melalui celah di bagian bawah maupun sisi-sisi pintu.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), apabila seseorang terjebak di dalam kamar hotel dan tidak dapat melakukan evakuasi dengan aman, salah satu tindakan yang dianjurkan adalah menutup celah-celah di sekitar pintu dan ventilasi menggunakan kain untuk membantu mengurangi masuknya asap. Handuk atau seprai yang dibasahi air dapat digunakan untuk menutup celah tersebut.
Misalnya, kita dapat mengambil handuk dari kamar mandi, membasahinya dengan air apabila tersedia, kemudian meletakkannya di sepanjang celah bawah pintu. Jika terdapat celah lain di sekitar pintu yang memungkinkan asap masuk, gunakan handuk atau kain tambahan untuk menutupnya. Apabila terdapat ventilasi yang mengalirkan asap ke dalam kamar, tutup ventilasi tersebut jika dapat dilakukan dengan aman.
Namun, jangan membuang waktu terlalu lama untuk mencari handuk, membasahi seprai, atau menutup setiap celah kecil di dalam kamar, terutama apabila asap sudah mulai masuk dalam jumlah banyak. Gunakan kain yang tersedia dan lakukan tindakan tersebut secepat mungkin tanpa membahayakan diri sendiri.
Perlu dipahami bahwa tujuan menutup celah pintu dan ventilasi adalah mengurangi masuknya asap, bukan membuat kamar menjadi kedap udara secara sempurna. Handuk basah tidak dapat menyaring seluruh gas beracun yang dihasilkan oleh kebakaran, dan kamar yang pintunya tertutup tetap dapat menjadi berbahaya apabila api atau asap terus menyebar.
Karena itu, tindakan ini hanyalah langkah perlindungan sementara untuk membantu memperlambat masuknya asap sambil menunggu pertolongan. Kita tetap perlu melakukan langkah-langkah berikutnya, seperti menghubungi layanan darurat, memberi tahu lokasi kamar, dan memberikan tanda keberadaan kita kepada petugas penyelamat.
Kesimpulannya, apabila koridor sudah dipenuhi asap atau api:
a. Jangan memaksakan diri keluar melalui koridor yang dipenuhi asap tebal, kobaran api, atau panas yang sangat kuat.
b. Apabila jalur evakuasi utama tidak aman, gunakan jalur alternatif jika tersedia dan dapat dicapai dengan aman.
c. Jika tidak ada jalur keluar yang aman, tetaplah berada di dalam kamar sebagai tempat perlindungan sementara sambil menunggu pertolongan.
d. Segera tutup kembali pintu kamar hingga rapat untuk membantu memperlambat masuknya asap dan panas dari koridor.
e. Gunakan handuk, seprai, atau kain yang tersedia untuk menutup celah-celah di sekitar pintu, terutama bagian bawah pintu. Basahi kain apabila air tersedia dan dapat dilakukan dengan cepat.
f. Tutup ventilasi yang menjadi jalur masuknya asap apabila dapat dilakukan dengan aman.
g. Jangan menganggap bahwa handuk basah atau pintu tertutup dapat memberikan perlindungan sempurna dari asap dan gas beracun.
h. Segera hubungi layanan darurat dan beri tahu lokasi kamar serta kondisi yang sedang kita hadapi agar petugas penyelamat dapat menemukan kita.
10. Hubungi Nomor Darurat
Setelah menutup pintu kamar dan berusaha mengurangi masuknya asap, langkah berikutnya adalah segera menghubungi layanan darurat setempat. Dalam situasi seperti ini, HP yang sebelumnya kita letakkan di dekat tempat tidur menjadi sangat penting karena dapat digunakan untuk meminta pertolongan dan memberi tahu petugas penyelamat mengenai lokasi keberadaan kita.
Jangan hanya menghubungi resepsionis hotel atau hostel. Meskipun pihak hotel mungkin sudah mengetahui adanya kebakaran dan sedang melakukan prosedur evakuasi, mereka belum tentu mengetahui bahwa masih ada tamu yang terjebak di dalam kamar. Karena itu, kita harus memastikan bahwa layanan darurat setempat mengetahui keberadaan kita dan kondisi yang sedang kita hadapi.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), apabila seseorang terjebak di dalam bangunan yang terbakar dan tidak dapat melakukan evakuasi dengan aman, ia dianjurkan untuk menghubungi petugas pemadam kebakaran dan memberi tahu lokasi keberadaannya. Informasi tersebut sangat penting agar petugas dapat mengetahui di mana orang yang membutuhkan pertolongan berada dan merencanakan upaya penyelamatan.
Ketika berhasil tersambung dengan layanan darurat, usahakan untuk berbicara dengan jelas dan memberikan informasi yang spesifik. Sebutkan nama hotel atau hostel tempat kita menginap, alamat bangunan apabila diketahui, nomor kamar, lantai tempat kita berada, serta jumlah orang yang terjebak di dalam kamar. Jelaskan juga bahwa kita tidak dapat keluar karena koridor atau jalur evakuasi sudah dipenuhi asap maupun api.
Misalnya, kita sedang menginap di kamar nomor 812 yang berada di lantai delapan sebuah hotel. Koridor di luar kamar sudah dipenuhi asap tebal sehingga kita tidak dapat mencapai tangga darurat. Di dalam kamar terdapat dua orang yang sedang menunggu pertolongan.
Apabila kita sedang traveling ke luar negeri dan harus berbicara menggunakan bahasa Inggris, kita dapat mengatakan:
"I'm trapped in Room 812 on the eighth floor of ABC Hotel. The corridor is full of smoke, and we cannot reach the emergency stairs. There are two people inside. Please send help."
Artinya, kita sedang terjebak di kamar nomor 812 di lantai delapan Hotel ABC. Koridor dipenuhi asap, kita tidak dapat mencapai tangga darurat, dan terdapat dua orang di dalam kamar yang membutuhkan pertolongan.
Jika memungkinkan, berikan juga informasi tambahan mengenai posisi kamar, misalnya apakah kamar menghadap jalan utama, berada di bagian belakang hotel, atau memiliki jendela yang menghadap halaman. Informasi tersebut dapat membantu petugas mengenali lokasi kita dari luar bangunan.
Setelah memberikan informasi, dengarkan instruksi dari petugas layanan darurat dan ikuti arahan yang diberikan. Jangan langsung menutup telepon apabila petugas masih membutuhkan informasi tambahan. Jika sambungan terputus, usahakan untuk menghubungi kembali selama kondisi memungkinkan.
Bagaimana jika kita tidak mengetahui nomor darurat negara yang sedang dikunjungi? Inilah mengapa sebelum traveling ke luar negeri, sebaiknya kita sudah mencari tahu dan menyimpan nomor darurat negara tujuan di HP. Jangan berasumsi bahwa semua negara menggunakan nomor darurat yang sama, karena setiap negara dapat memiliki sistem layanan darurat yang berbeda.
Apabila kita masih dapat menghubungi resepsionis hotel, informasikan juga nomor kamar dan kondisi kita agar pihak hotel dapat meneruskan informasi tersebut kepada petugas pemadam kebakaran. Namun, jangan hanya mengandalkan resepsionis sebagai satu-satunya jalur komunikasi ketika kita sedang terjebak dalam kebakaran.
Ingat, petugas pemadam kebakaran mungkin sedang melakukan evakuasi terhadap puluhan atau bahkan ratusan penghuni bangunan. Dengan memberikan informasi mengenai lokasi kita secara jelas, petugas dapat mengetahui bahwa masih ada orang yang membutuhkan pertolongan di kamar tertentu.
Kesimpulannya, apabila terjebak di dalam kamar saat kebakaran:
a. Segera hubungi nomor darurat setempat dan beri tahu bahwa kita terjebak di dalam bangunan yang terbakar.
b. Sebutkan nama hotel atau hostel, alamat bangunan apabila diketahui, nomor kamar, dan lantai tempat kita berada.
c. Jelaskan posisi kamar apabila memungkinkan, misalnya menghadap jalan utama, halaman, atau bagian belakang bangunan.
d. Beri tahu jumlah orang yang berada di dalam kamar dan apakah ada yang mengalami cedera atau kesulitan bernapas.
e. Jelaskan kondisi jalur evakuasi, misalnya koridor dipenuhi asap tebal atau tangga darurat tidak dapat dijangkau karena api.
f. Dengarkan dan ikuti instruksi petugas layanan darurat. Jangan menutup telepon apabila petugas masih membutuhkan informasi tambahan.
g. Hubungi resepsionis hotel apabila memungkinkan, tetapi jangan hanya mengandalkan resepsionis sebagai satu-satunya jalur komunikasi.
h. Sebelum traveling ke luar negeri, cari tahu dan simpan nomor darurat negara tujuan agar mudah dihubungi ketika terjadi keadaan darurat.
11. Pergi ke Jendela untuk Memberi Tanda — Bukan untuk Melompat
Setelah menghubungi layanan darurat dan memberi tahu petugas bahwa kita masih terjebak di dalam kamar, langkah berikutnya adalah berusaha membuat keberadaan kita terlihat dari luar bangunan. Apabila kamar hotel atau hostel memiliki jendela yang menghadap ke luar, kita dapat memanfaatkannya untuk memberikan tanda kepada petugas pemadam kebakaran yang sedang melakukan proses penyelamatan.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), seseorang yang terjebak di dalam bangunan dapat menggunakan kain berwarna terang atau cahaya senter untuk memberikan sinyal kepada petugas penyelamat. Tujuannya adalah membantu petugas mengetahui lokasi orang yang masih berada di dalam bangunan dan membutuhkan pertolongan.
Misalnya, kita sedang terjebak di kamar hotel yang berada di lantai delapan. Setelah menghubungi layanan darurat dan memberikan informasi mengenai nomor kamar serta posisi kita, kita dapat mendekati jendela yang menghadap ke luar bangunan, selama area tersebut tidak dipenuhi asap atau panas yang membahayakan.
Apabila terdapat petugas pemadam kebakaran di luar gedung, gunakan kain berwarna terang, seperti handuk putih atau pakaian yang mudah terlihat, untuk menarik perhatian mereka. Kita juga dapat menggunakan senter atau lampu HP sebagai alat pemberi sinyal, terutama apabila kebakaran terjadi pada malam hari.
Namun, jangan langsung membuka jendela lebar-lebar hanya untuk memberikan tanda kepada petugas. Ketika terjadi kebakaran, aliran udara dapat memengaruhi pergerakan api dan asap di dalam bangunan. Membuka jendela secara sembarangan dapat menyebabkan perubahan aliran udara yang justru memperburuk kondisi di dalam kamar.
Dalam panduan keselamatan kebakaran bangunan bertingkat, USFA menjelaskan bahwa apabila seseorang perlu memberikan sinyal melalui jendela, jendela dapat dibuka sedikit jika kondisinya memungkinkan, kemudian ditutup kembali untuk mengurangi risiko masuknya asap. Jika asap atau panas justru masuk ketika jendela dibuka, segera tutup kembali jendela tersebut.
Karena itu, apabila kita dapat memberikan tanda melalui kaca jendela tanpa harus membukanya, lakukan terlebih dahulu cara tersebut. Gunakan senter HP, lambaikan kain berwarna terang, atau buat gerakan yang mudah terlihat oleh petugas dari luar bangunan. Jika perlu membuka jendela, lakukan secara hati-hati dan hanya apabila kondisi di luar memungkinkan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan menghabiskan waktu terlalu lama di dekat jendela apabila area tersebut mulai dipenuhi asap atau terasa sangat panas. Keselamatan diri tetap menjadi prioritas utama. Apabila kondisi di dekat jendela tidak aman, segera menjauh dan cari bagian kamar yang lebih terlindungi sambil tetap berkomunikasi dengan petugas penyelamat.
Lalu, bagaimana apabila kita berada di lantai yang cukup tinggi dan mulai merasa panik karena api atau asap semakin mendekat?
Dalam situasi seperti ini, mungkin muncul pikiran untuk membuka jendela dan melompat keluar. Namun, jangan menjadikan melompat dari jendela gedung bertingkat sebagai cara untuk menyelamatkan diri. Melompat dari ketinggian dapat menyebabkan cedera berat bahkan kematian, dan bukan merupakan prosedur evakuasi yang aman.
Jangan pula mencoba turun menggunakan seprai yang diikat, memanjat bagian luar bangunan, atau berpindah melalui jendela menuju kamar lain tanpa arahan petugas penyelamat. Tindakan tersebut dapat membuat kita terjatuh atau terjebak dalam kondisi yang lebih berbahaya.
Apabila petugas pemadam kebakaran sudah mengetahui lokasi kita, tetaplah berkomunikasi dengan mereka dan ikuti instruksi yang diberikan. Petugas dapat menentukan metode penyelamatan berdasarkan kondisi bangunan, lokasi kebakaran, ketinggian lantai, dan peralatan yang tersedia.
Ingat, tujuan kita memberikan tanda melalui jendela adalah membantu petugas menemukan lokasi kita agar proses penyelamatan dapat dilakukan dengan aman, bukan mencoba keluar sendiri dengan melompat dari bangunan.
Kesimpulannya, apabila terjebak di dalam kamar dan memiliki akses ke jendela:
a. Dekati jendela yang menghadap ke luar bangunan apabila area tersebut aman dari asap dan panas yang membahayakan.
b. Gunakan kain berwarna terang, seperti handuk putih atau pakaian, untuk memberikan tanda kepada petugas penyelamat.
c. Gunakan senter atau lampu HP untuk menarik perhatian petugas, terutama apabila kebakaran terjadi pada malam hari.
d. Jangan langsung membuka jendela lebar-lebar. Usahakan memberikan tanda melalui kaca jendela terlebih dahulu apabila memungkinkan.
e. Jika perlu membuka jendela untuk memberikan sinyal, buka sedikit hanya apabila kondisinya aman, kemudian tutup kembali. Jangan membuka jendela apabila tindakan tersebut menyebabkan asap atau panas masuk ke dalam kamar.
f. Jangan melompat dari jendela gedung bertingkat, mencoba turun menggunakan seprai yang diikat, atau memanjat bagian luar bangunan untuk menyelamatkan diri.
g. Apabila area di dekat jendela mulai dipenuhi asap atau terasa sangat panas, segera menjauh dan cari bagian kamar yang lebih terlindungi.
h. Tetap berkomunikasi dengan petugas penyelamat, beri tahu lokasi keberadaan kita, dan ikuti instruksi mereka selama menunggu pertolongan.
12. Jangan Mencoba Turun dari Balkon Menggunakan Seprai
Kalau kita sering menonton film aksi, mungkin pernah melihat adegan seseorang yang terjebak di dalam gedung terbakar kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan mengikat beberapa helai seprai menjadi tali. Salah satu ujungnya diikatkan pada kaki tempat tidur atau benda berat lainnya, sementara ujung yang lain dijulurkan melalui jendela atau balkon. Setelah itu, orang tersebut mulai memanjat turun menggunakan tali darurat buatannya sendiri.
Di film, cara ini mungkin terlihat masuk akal. Namun, bagaimana jika kita benar-benar sedang terjebak di kamar hotel lantai lima dan berpikir untuk melakukan hal yang sama?
Jangan menjadikan seprai yang diikat sebagai alat untuk turun dari balkon atau jendela gedung bertingkat. Seprai tidak dirancang untuk menahan beban tubuh manusia ketika digunakan sebagai tali penyelamatan. Kain dapat robek, simpul dapat terlepas, dan benda yang digunakan sebagai tempat mengikat tali mungkin tidak cukup kuat untuk menahan berat badan kita.
Selain itu, menuruni bagian luar bangunan bukanlah hal yang mudah, terutama ketika kita sedang panik, berada di ketinggian, atau harus menghadapi asap dan panas dari kebakaran. Kita mungkin kehilangan pegangan, mengalami kelelahan otot, atau terjatuh sebelum berhasil mencapai lantai dasar. Bahkan, apabila tali seprai cukup kuat untuk menahan berat badan, panjangnya belum tentu cukup untuk mencapai tanah.
Risiko lainnya adalah kita mungkin justru turun melewati lantai yang sedang terbakar, sehingga terpapar asap dan panas yang keluar melalui jendela di bawah kamar kita.
Karena itu, apabila jalur evakuasi menuju tangga darurat masih aman untuk dilewati, segera gunakan jalur tersebut untuk keluar dari bangunan. Namun, apabila koridor sudah dipenuhi asap tebal atau api dan tidak ada jalur alternatif yang aman, jangan mencoba menyelamatkan diri dengan melompat dari balkon atau membuat tali darurat menggunakan seprai.
Dalam situasi seperti ini, tindakan yang lebih aman adalah tetap berada di dalam kamar sebagai tempat perlindungan sementara, selama kondisi kamar masih memungkinkan. Tutup pintu rapat, kurangi masuknya asap melalui celah pintu, kemudian segera hubungi layanan darurat dan beri tahu lokasi keberadaan kita.
Apabila kamar memiliki jendela yang menghadap ke luar, gunakan untuk memberikan tanda kepada petugas penyelamat jika dapat dilakukan dengan aman. Tetaplah berkomunikasi dengan petugas dan ikuti instruksi yang diberikan. Jika kondisi kamar berubah, misalnya asap semakin banyak masuk atau api mulai mencapai ruangan, segera informasikan perubahan tersebut kepada petugas agar mereka dapat memberikan arahan sesuai dengan situasi yang sedang kita hadapi.
Intinya, jangan sampai kepanikan membuat kita mengambil keputusan yang justru menambah risiko cedera atau kematian. Improvisasi menggunakan seprai sebagai tali bukanlah prosedur evakuasi standar dan tidak dapat menggantikan jalur penyelamatan yang dirancang untuk keadaan darurat.
Kesimpulannya, apabila terjebak di kamar hotel atau hostel:
a. Jangan mencoba turun dari balkon atau jendela gedung bertingkat menggunakan seprai yang diikat menjadi tali.
b. Jangan melompat dari balkon atau jendela untuk menyelamatkan diri karena berisiko menyebabkan cedera berat atau kematian.
c. Apabila tangga darurat masih aman untuk dilewati, segera gunakan jalur tersebut untuk keluar dari bangunan.
d. Apabila jalur keluar tidak aman dan tidak tersedia jalur alternatif, tetaplah berada di dalam kamar sebagai tempat perlindungan sementara selama kondisinya masih memungkinkan.
e. Tutup pintu kamar rapat dan gunakan handuk atau kain untuk membantu mengurangi masuknya asap melalui celah pintu.
f. Segera hubungi layanan darurat, sebutkan lokasi kamar dan jumlah orang yang terjebak, serta jelaskan kondisi yang sedang dihadapi.
g. Gunakan jendela untuk memberikan tanda kepada petugas penyelamat apabila dapat dilakukan dengan aman, bukan sebagai jalur untuk melompat atau memanjat turun.
h. Tetap berkomunikasi dengan petugas penyelamat dan ikuti instruksi mereka. Apabila kondisi kamar semakin berbahaya, segera beri tahu petugas agar mereka dapat memberikan arahan lebih lanjut.
13. Bagaimana Kalau Apinya Kecil? Perlukah Menggunakan APAR?
Bayangkan ketika kita sedang melakukan evakuasi dari kamar hotel atau hostel, tiba-tiba kita melihat sebuah tempat sampah terbakar di ujung koridor. Api masih terlihat kecil dan kebetulan terdapat Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang terpasang tidak jauh dari lokasi tersebut.
Mungkin kita akan berpikir, "Ah, apinya masih kecil. Kalau langsung dipadamkan pakai APAR, mungkin kebakarannya nggak akan menyebar ke mana-mana."
Niat tersebut memang terdengar masuk akal. Namun, sebelum memutuskan untuk mengambil APAR dan mencoba memadamkan api, kita perlu memahami bahwa kebakaran kecil dapat berkembang menjadi kebakaran besar dalam waktu yang sangat singkat, terutama apabila terdapat banyak material yang mudah terbakar di sekitarnya.
Selain itu, api yang terlihat kecil belum tentu menunjukkan bahwa situasinya aman. Bisa saja terdapat material lain yang sedang terbakar di balik tempat sampah, atau asap yang dihasilkan sudah mengandung gas beracun yang membahayakan pernapasan kita.
Karena itu, jangan sampai keinginan untuk memadamkan api justru membuat kita kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Mengutip panduan keselamatan kebakaran dari U.S. Fire Administration (USFA), penggunaan APAR hanya boleh dipertimbangkan apabila api masih kecil dan terbatas, orang-orang di sekitar sudah diperingatkan, layanan pemadam kebakaran telah dihubungi, serta pengguna memiliki jalur keluar yang aman. Seseorang juga harus mengetahui cara menggunakan APAR dengan benar sebelum mencoba memadamkan api.
Jangan mencoba menjadi pemadam kebakaran dadakan hanya karena api terlihat masih kecil. Apalagi jika kita harus mendekati sumber api, memasuki ruangan yang dipenuhi asap, atau berdiri di posisi yang membuat api berada di antara kita dan pintu keluar.
Lalu, bagaimana apabila kita sudah pernah mengikuti pelatihan penggunaan APAR?
Dalam kondisi tertentu, orang yang terlatih dapat mempertimbangkan penggunaan APAR untuk memadamkan kebakaran yang masih sangat kecil dan terbatas, asalkan situasinya benar-benar memungkinkan. Pastikan jenis APAR sesuai dengan material yang terbakar, tidak terdapat asap tebal, dan jalur keluar tetap berada di belakang kita sehingga kita dapat segera meninggalkan lokasi apabila api tidak berhasil dipadamkan.
Namun, jika api mulai membesar, asap semakin banyak, atau APAR tidak mampu mengendalikan kebakaran dengan segera, hentikan upaya pemadaman dan segera lakukan evakuasi. Jangan menghabiskan waktu untuk mencari APAR tambahan atau mencoba memadamkan api yang sudah berada di luar kemampuan kita.
Ingat, tujuan utama kita sebagai tamu hotel atau hostel bukanlah menyelamatkan bangunan maupun barang-barang yang berada di dalamnya, melainkan menyelamatkan diri sendiri dan membantu orang lain mendapatkan peringatan agar dapat segera keluar dengan aman.
Barang-barang yang terbakar mungkin masih bisa diganti, tetapi nyawa kita tidak.
Kesimpulannya, apabila menemukan api kecil di hotel atau hostel:
a. Jangan langsung mencoba memadamkan api hanya karena ukurannya masih kecil. Perhatikan kondisi sekitar dan pastikan jalur evakuasi tetap aman.
b. Segera peringatkan orang-orang di sekitar bahwa terdapat kebakaran.
c. Aktifkan alarm kebakaran manual apabila alarm gedung belum berbunyi dan tindakan tersebut dapat dilakukan dengan aman.
d. Hubungi layanan darurat setempat atau pastikan petugas pemadam kebakaran telah dihubungi.
e. Apabila tidak memiliki pelatihan menggunakan APAR, jangan mengambil risiko dengan mencoba memadamkan api. Segera lakukan evakuasi melalui jalur yang aman.
f. Apabila memiliki pelatihan penggunaan APAR, upaya pemadaman hanya boleh dipertimbangkan jika api masih kecil dan terbatas, jenis APAR sesuai, tidak terdapat asap yang membahayakan, serta jalur keluar tetap aman dan mudah dijangkau.
g. Jangan pernah membiarkan api berada di antara kita dan jalur keluar ketika mencoba menggunakan APAR.
h. Apabila api mulai membesar, asap semakin tebal, atau upaya pemadaman tidak segera berhasil, hentikan tindakan tersebut dan segera tinggalkan lokasi.
i. Jangan kembali masuk ke dalam bangunan yang terbakar untuk mengambil barang atau mencoba memadamkan api setelah berhasil melakukan evakuasi.




