Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan

12.06.2024

Magelang, 19 Agustus 2024 : Mengunjungi Wihara Mendut

19 Agustus 2024
Hari ketiga di Magelang.. Syukurlah meskipun semalam tidur ane agak telat karena terganggu suara sanyo air di penginapan, ane tetap bisa deep sleep beberapa jam. Pagi itu setelah bersih-bersih dan check out, kami langsung otw untuk cari sarapan. Rencana hari ini adalah kita akan mengunjungi Wihara Mendut dan kemudian menuju ke arah Jogja. Kita rencana akan stay di Jogja 2 malam untuk fokus menyelesaikan deadline kerjaan. 

Pas perjalanan ke tempat makan, ane merasa ada yang aneh dengan mobil ane, Si Kia Rio. Pas jalan di jalan halus, ban kanan depan kembali bunyi 'gluk gluk gluk'. Tapi suara itu akan hilang saat ane tambah kecepatan. Waduhhhh... Masalah lama nih. Apa lagi kalau bukan kaki-kakinya kena lagi😅😅😅.

Ane akhirnya berhenti di warung makan dan makan dengan agak risau karena keadaan Si Kia Rio ini. Segera aja ane telfon beberapa bengkel kaki-kaki dan ane disuruh ke bengkel aja dulu untuk dicek. Dari situ sebenarnya ane udah ga mood mau ke Wihara Mendut lagi, soalnya pengennya segera perbaiki masalah di mobil dulu. Tapi eh ternyata, setelah cek google maps lokasi kita makan ini udah deket banget sama Wihara Mendut. Akhirnya selesai makan ane arahkan Si Kia Rio dulu untuk mampir. Ane sendiri penasaran banget dengan wihara ini karena merupakan tempat tinggal Bhante Pannavaro, salah satu pengajar dhamma yang paling ane senang dengarin karena kebijaksanaannya. Bhante Pannavaro juga-lah yang mendirikan Wihara Mendut ini.


Begitu masuk Wihara, kita disambut dengan patung manusia setengah burung yang adalah representasi dari Garuda, makhluk mitologis dalam tradisi Hindu-Buddha. Garuda sering digambarkan sebagai sosok setengah manusia dan setengah burung, dengan tubuh manusia tetapi memiliki sayap, paruh, dan cakar burung. Dalam tradisi Buddha, Garuda adalah salah satu dari Mahoraga, atau makhluk-makhluk surgawi, yang digambarkan sebagai pelindung ajaran Buddha (Dharma). Garuda melambangkan kekuatan, keberanian, dan pengabdian terhadap kebaikan. Ia juga sering dikaitkan dengan simbol kebebasan karena kemampuannya untuk terbang tinggi melintasi langit.

Pada bagian bawah patung, terdapat ukiran tulisan 4 batin luhur, yang meliputi Metta, Karuna, Mudita dan Upekkha. Dalam ajaran Buddha, Empat Batin Luhur (Brahmavihara) adalah kualitas batin utama yang menjadi fondasi kehidupan yang penuh belas kasih dan kebijaksanaan. Keempat kondisi batin luhur ini meliputi:

1. Metta (Cinta Kasih atau Kasih Sayang)

Metta adalah cinta kasih universal, tanpa syarat, yang tulus kepada semua makhluk hidup. Ini bukan cinta yang bersifat posesif atau emosional, tetapi keinginan yang murni agar semua makhluk berbahagia.

  • Penerapan: Melatih metta berarti berusaha menciptakan hubungan harmonis dengan diri sendiri, orang lain, dan dunia sekitar, bahkan dengan mereka yang sulit kita cintai.

2. Karuna (Belas Kasih)

Karuna adalah rasa iba dan kepedulian terhadap penderitaan makhluk lain, disertai keinginan untuk membantu meringankan penderitaan tersebut.

  • Penerapan: Karuna mengajarkan empati dan tindakan nyata untuk membantu sesama. Ini melibatkan sikap tidak hanya melihat penderitaan, tetapi juga berusaha untuk menjadi solusi bagi orang lain.

3. Mudita (Simpati atau Sukacita Empatik)

Mudita adalah kegembiraan yang tulus atas kebahagiaan dan keberhasilan orang lain, tanpa rasa iri hati atau cemburu.

  • Penerapan: Melatih mudita berarti bersukacita atas pencapaian orang lain, merasa bahwa kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita juga.

4. Upekkha (Keseimbangan Batin atau Ketenangan)

Upekkha adalah sikap batin yang seimbang, tidak terombang-ambing oleh suka dan duka, pujian dan celaan. Ini bukan berarti tidak peduli, tetapi tetap tenang dalam menghadapi dualitas kehidupan.

  • Penerapan: Melatih upekkha berarti menerima apa adanya, tanpa melekat pada kesenangan atau menolak penderitaan, sambil tetap menjalankan tanggung jawab dengan bijaksana.
Berjalan ke belakang lagi, kita menemukan kereta berwarna emas yang terdapat kumpulan kitab suci Tipitaka di dalamnya. Kereta ini biasanya digunakan dalam prosesi perayaan Waisak untuk membawa Kitab Suci Tipitaka, yang berisi ajaran-ajaran Buddha, menuju altar utama dalam ritual. Keberadaan kereta ini melambangkan penghormatan yang mendalam terhadap ajaran Buddha serta keagungan tradisi keagamaan. 



Selesai memutari seluruh bagian wihara, kita putusin langsung melangkah ke destinasi selanjutnya, bengkel mobil. Sebelumnya diluar ane sempet beli patung Buddha Gautama dari batu untuk ane pasang di kamar.

Bengkel mobil yang ane kunjungin adalah bengkel mobil kaki-kaki. Dan setelah mengemukakan keluhan dan dilakukan 'test drive', montirnya bilang kalau kaki-kaki mobil ane kembali bermasalah yaitu shock breaker belakang kanan udah lemah. Jadi itulah yang menyebabkan bunyi-bunyi. Selain itu juga rack steer agak kocak jadi perlu diservis. Namun setelah ane tanya, katanya servisnya butuh setengah hari sendiri. Pas ane tanya apakah ini 'urgent' banget, bapaknya bilang ii ga urgent dan bisa dilakukan nanti. Alih-alih, dia menyarankan dibawa ke bengkel yang lebih besar untuk dilakukan spooring balancing dan ban mobil kanan belakang diputar saja.

Masalah mobil kelar, dan suara "kruk kruk" dari ban depan sudah hilang, ane langsung arahkan mobil ke arah Kota Jogja. Karena hari masih sore ane rencana mau ke Cafe dulu untuk kerja. Browsing sejenak, mencari cafe yang bisa duduk berlama-lama, akhirnya ane menemukan tempat ini. Namanya "Internet Learning Cafe". 

Ane selesai kerja sekitar jam 8 malam dan langsung mengarahkan Si Kia Rio menuju penginapan yang udah ane booking di Bantul. Perjalanan dari Kota Jogja ke Bantul kami tempuh selama kurang lebih 40 menit ditemani lagu-lagu NDX. Kami juga sempat mampir lalapan untuk makan malam dahulu karena perut udah keroncongan.

Homestay kami berada di dalam area pemukiman yang damai dan tenang di Bantul. Pemiliknya seorang ibu yang sangat ramah. Segera setelah mendapatkan kamar, ane bersih-bersih dan langsung ketiduran. Zzzz...zzzz... 

12.05.2024

Magelang, 17-18 Agustus 2024 : Mengikuti Ulambana Nasional di Candi Borobudur

Boyolali, 6 Agustus 2024
Dua mingguan sebelum 18 Agustus 2024, ane membaca selebaran di FB tentang diadakannya acara 'Borobudur Ulambana Nasional'.
 
Pertama kali lihat, ane sebenarnya masih gatau sama sekali Ulambana itu apa, tapi kok tertarik ikut. Googling sejenak, Ulambana, atau dalam bahasa Sanskerta "Ullambana," adalah istilah yang sering dikaitkan dengan perayaan Buddhis yang dikenal sebagai Hari Ulambana atau Hari Pengulangan Kebajikan. Memperingati dan mendoakan leluhur serta arwah yang belum mencapai kedamaian. Inti perayaannya sendiri adalah memberikan persembahan berupa makanan dan barang-barang simbolis, mendorong pelaksanaan amal dan kebajikan untuk membantu semua makhluk keluar dari penderitaan.

Hmm.. menarik juga ya! Kemudian ane penasaran, trus bedanya sama Waisak apa ya? Soalnya pertama kali yang tercetus di pikiran ane bakalan mirip Waisak gitu dengan lampion-lampion.

Googling sejenak, ternyata kalau Waisak itu adalah perayaan penting dalam tradisi Buddhis yang memperingati tiga peristiwa utama dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yaitu:
1. Kelahiran Siddhartha Gautama di Taman Lumbini.
2. Pencerahan (Bodhi) di bawah Pohon Bodhi di Bodh Gaya, di mana ia mencapai kebuddhaan.
3. Parinirvana (Wafat) di Kusinagara, ketika ia meninggalkan dunia ini dan mencapai nirwana terakhir.

Ketiga peristiwa ini terjadi pada hari yang sama dalam kalender lunar Buddhis, yang biasanya jatuh pada bulan Mei atau Juni dalam kalender Gregorian

Hmmm.. oke. Jadi gitu bedanya.

Karena rasa penasaran ane yang tinggi, dan di periode ini lagi seneng-senengnya ikut acara di luar rumah, ane segera daftar ingin mengikuti acara Ulambana di Borobudur ini via WA. Hitung-hitung tambah pengalaman hidup hehehe..Ane diwajibkan membayar dana pelita untuk nanti ditukarkan nametag. Nanti untuk acaranya sendiri juga untuk bajunya diwajibkan warna putih.

Dengan dana pelita yang kuberi, ane bisa melimpahkan jasa kebajikan kepada 2 poin dibawah ini:

✨𝗝𝗮𝘀𝗮 𝗸𝗲𝗯𝗮𝗷𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗱𝗶𝗹𝗶𝗺𝗽𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 :
A. Leluhur / orang tua / kerabat yang sudah wafat 
B. Hutang karma buruk/Karmic Debtor (_yen ching cai cu_)
C. Janin keguguran (_yin ling_)
D. Makhluk sekitar rumah / toko / perusahaan (mohon sertakan alamat)
E. Hewan yang sudah meninggal

Wow, sesuatu yang baru buat ane. Jadi jasa kebajikan itu bisa kita berikan bukan hanya untuk manusia tapi untuk semua makhluk. Wow, sangat mulia!

Boyolali, 17 Agustus 2024
Besok adalah acara Ulambana Nasional di Borobudur, dan hari ini adalah jadwal pengambilan nametag di Taman Mahabodhi di Kawasan Borobudur. Siang itu ane berangkat dari Boyolali sekitar jam 13.30 setelah sebelumnya mengisi olie rem Si Kia Rio. Olie rem-nya habis setelah ane bawa roadtrip ke Bali yang dipenuhi jalan berliku-liku wkwk.. selain menambah olie rem ane juga mengganti olie mesin sekalian. Biar top cer!

Untuk menuju Borobudur yang ada di Kabupaten Magelang ane melewati jalur Boyolali - Kopeng - Magelang dengan jarak tempuh 65 km dan waktu tempuh 1j45m. Jalannya terus menanjak dan berkelak-kelok, Si Kia Rio beberapa kali cukup kewalahan. Apalagi jalanan hari ini cukup ramai karena hari sabtu, sehingga banyak yang berwisata di Kopeng. Namun ane bener-bener kaget setelah hanya 1 jam 30 menit ane tiba-tiba udah keluar di Kabupaten Magelang. 😁 Memang jalan pintas yang membelah Gunung Merbabu dan Gunung Merapi ini adalah jalur terdekat kalau ingin ke Magelang dari Boyolali.

Sampai Magelang sekitar jam 15.30, ane sadar perut lapeer dan tiba-tiba ngidam pengen banget ayam goreng sama sambel bawang. Hunting di google maps sejenak, kok ga ada yang cocok. Sekali cocok malah warungnya tutup. Eh ternyata malah ga sengaja nemu warung "Ayam Goreng Mas Budi".  Ane jadi inget kayaknya warung ini ada di Boyolali juga deh, cuma ane belum pernah mampir. Semoga lah ya ayamnya enak.

Dengan perut kelaparan, langsung aja ane pesen 1 porsi ayam kampung goreng dan 1 porsi kangkung. Ternyata disini sistemnya untuk nasi kita beli 1x, selanjutnya jika nambah maka free/bebas. Untuk sayur dan sambal juga bisa ambil sepuasnya. Dan setelah merasakan sobekan ayamnya yang dicocol sambel, alamaaaak... Enyaaaak😁😁. Kok bisa ane baru nyadar padahal warung ini ada juga di deket rumah ane.

Selesai makan kita langsung meluncur ke Taman Mahabodhi Borobudur untuk mengambil nametag. Perjalanan menempuh jarak tempuh 20 km dengan waktu tempuh 30 menit. Dan jalanan menuju Kawasan Candi Borobudur ini menurut ane sangat nyaman sih. Jalan lebar dengan pemandangan pedesaan yang masih asri, dilingkupi oleh gagahnya Perbukitan Menoreh yang membungkus Kabupaten Magelang. 

Melewati jalan kecil yang berkelak-kelok, sesaat kemudian kita telah sampai Taman Mahabodhi. Setelah menunggu panitia sesaat, kita mendapatkan nametag dan setelahnya foto-foto di dalam Taman Mahabodhi yang merupakan sebuah wihara dan tempat meditasi. Taman ini terinspirasi dari Mahabodhi Temple di Bodh Gaya, India, yang merupakan situs suci tempat Siddhartha Gautama mencapai pencerahan dan menjadi Buddha.

Fitur Utama yang ada di Taman Mahabodhi ini ada:
1. Stupa dan Patung Buddha: Taman ini memiliki replika stupa serta patung-patung Buddha yang mencerminkan suasana spiritual.
2. Area Meditasi: Tempat ini menyediakan ruang untuk meditasi, cocok bagi pengunjung yang ingin merenung dan mencari ketenangan.
3. Nuansa Alami: Dikelilingi oleh pepohonan dan taman yang asri, memberikan suasana damai bagi para pengunjung.

Ane sendiri hanya ke area stupa untuk berfoto. Sore itu suasana sangat syahdu karena lokasi ini cukup sejuk dengan naungan Perbukitan Menoreh.


Selesai berfoto-foto, akhirnya kita arahkan Si Kia Rio ke penginapan. Sebelumnya ane udah booking penginapan di pedesaan yang dikelilingi sawah bernama Ndalem Setumbu Cottage. Tujuan ane mengikuti acara ini juga sebenarnya pengen healing. Makanya sengaja cari penginapan dengan suasana sealami mungkin. Sebelum ke penginapan ane juga sempet ke penjahit untuk benerin kancing celana ane yang copot, setelahnya jajan kebab stupa yang aduh enaknyaaa...

Melewati jalanan pedesaan yang tenang dan asri, akhirnya sampailah kita di penginapan. Kesan pertama ane adalah tenang dan nyaman. Dengan arsitektur bangunan Jawa, dikelilingi taman yang rapi dan sawah yang menghijau. Beberapa stupa Buddha terlihat diletakkan pada beberapa sudut memberikan suasana yang menenangkan.

Bagian dalam kamar Ndalem Setumbu Cottage. Semua foto Ndalem Setumbu ane ambil dari google maps karena saat itu lupa ambil foto.

Malam itu ane habiskan dengan santai-santai sambil nonton bola. Sekitar pukul 23.30 ane tertidur pulas. Zzzz..zz.z..

18 Agustus 2024
Pagi hari telah tiba. Syukurlah tidur ane semalam cukup nyenyak jadi hari ini cukup bersemangat. Selesai beberes dan sekalian check out, hari ini kita awali dengan sarapan nasi soto daging. Setelahnya ane arahkan Si Kia Rio untuk mengambil celana yang kemarin ane perbaiki kancingnya, karena celananya mau ane pakai hari ini. Jadi untuk hari ini ada 3 puja bakti dari 3 aliran Buddha yaitu untuk jam 9-11 diisi oleh Buddha Theravada, jam 13-15 oleh Buddha Mahayana dan jam 15-17 oleh Buddha Tantrayana., kemudian malamnya akan ditutup dengan menyalakan pelita bersama-sama. Ane sendiri berniat nengikuti yang aliran Buddha Theravada aja dan menyalakan pelita malam harinya. Kenapa hanya Theravada? Soalnya itu aliran yang biasa ane dengarin ceramahnya. Konyolnya gara-gara kesiangan berangkat, kita terlambat mengikuti acaranya.Yang seharusnya acara dimulai pukul 09.00, kita baru datang jam 10.00 lebih😁😁.

Begitu datang, ane langsung menyimak acara dengan seksama. Beberapa biksu aliran Theravada terlihat sedang mendendangkan syair dalam Bahasa Pali. Ane gatau sama sekali jadi hanya mengikuti aja. Sesekali para peserta memberikan sikap 'anjali' yaitu menyatukan kedua telapak tangan di depan dada, dengan jari-jari mengarah ke atas. Anjali sendiri adalah tanda hormat kepada Buddha, para bhikkhu, ajaran Dhamma, serta makhluk lain yang dianggap mulia. Ini menunjukkan sikap rendah hati dan penghargaan terhadap hal-hal yang bernilai spiritual.

Para peserta ulambana juga sempat dibagikan jubah biksu oleh panita, dimana kita akan bersama-sama memberikan jubah tersebut ke para biksu di depan. Disitu kita diminta antri berbaris ke panggung untuk mempersembahkan.

Acara sempat dilanjutkan dengan mendengarkan dhamma, dan setelahnya kita diajak untuk melakukan meditasi pernafasan dibimbing oleh bhante. Bimbingan itu dilakukan dengan bhante mengajak kita untuk berfokus pada nafas, ketika pikiran mengembara, kita diajak mengembalikan lagi konsentrasi ke nafas. Di salah satu bimbingannya, Bhante berkata kita sebenarnya tidak usah mencari kebahagiaan jauh-jauh, karena itu semua bisa didapatkan di ujung hidung kita. 

Ucapan tersebut mengacu pada ajaran meditasi pernapasan, khususnya dalam tradisi Buddhis. Ketika bhante mengatakan kebahagiaan ada "di ujung hidung," itu adalah metafora yang menyoroti bahwa kebahagiaan tidak perlu dicari di luar diri atau dalam hal-hal eksternal. Sebaliknya, kebahagiaan sejati dapat ditemukan melalui perhatian penuh pada pernapasan, yang sering terasa di area sekitar hidung. Fokus ini membantu membawa pikiran ke saat ini, menjauhkan diri dari kekhawatiran masa lalu atau kecemasan masa depan. Dengan melatih perhatian penuh pada napas, pikiran menjadi lebih tenang. Selain itu, ketika pikiran tenang dan bebas dari gangguan, muncul rasa damai dan bahagia yang tidak tergantung pada kondisi eksternal. Pernapasan adalah sesuatu yang selalu ada selama kita hidup. Dengan menyadarinya, kita belajar bahwa kebahagiaan juga dapat diakses kapan saja melalui kesadaran terhadap napas, tanpa perlu mengejar hal-hal eksternal.

Wow.. dalam banget ya maknanya.. Ane jadi sadar selama ini kita selalu mencari kebahagiaan diluar diri kita. Terlalu terikat terhadap hal-hal rumit yang terkadang tidak bisa kita kendalikan. Padahal kebahagiaan sejati bisa kita dapatkan dari hal sederhana (nafas) yang bisa kita akses setiap detiknya.

Selesai meditasi, acara dari aliran Sangha Theravada telah selesai. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan siang. Kami berbaris dan mengambil menunya yang ternyata vegetarian. Well.. ane cukup lega! Hehe.. terkadang makan daging dengan memikirkan mereka dibunuh terlebih dahulu membuatku sesak.

Selesai makan siang, ane sempatkan foto-foto di venue acara. Hitung-hitung untuk kenang-kenangan bahwa ane pernah mengikuti acara ini.



Selesai berfoto-foto, karena jam sudah menunjukkan pukul 12.00 dan sedang panas-panasnya, kami putusin ngadem dulu sambil kerja di cafe. Karena target kami mengikuti acara ini adalah yang Sangha Theravada dan penyalaan pelita bersama-sama malam harinya.

Browsing sejenak, kami menuju Cafe Cactus dan ngadem, ngopi, serta kerja. Rencana sore ini kami akan kembali ke Candi Borobudur untuk masuk ke pelataran candinya. Jadi karena ada nametag Ulambana, kita bebas keluar masuk Candi Borobudur namun maksimal hanya sampai pelataran candinya. Kalau mau naik lebih keatas lagi, kita tetap membeli tiket seperti biasa.

Sore itu suasana candi cukup ramai oleh wisatawan lokal maupun asing. Kita berkeliling dan berfoto-foto sambil menikmati megahnya struktur bangunan Candi Borobudur.


Sorenya kita kembali lagi ke Taman Aksobhya untuk bersiap mengikuti penyalaan lentera sebagai acara puncak. 


Akhirnya seluruh rangkaian acara selesai sekitar jam 21.30. Kami kemudian memutuskan segera beristirahat ke hotel. Malam itu ane nginap di Saka Boutique and Cafe. 

Jujur ane seneng banget sih punya pengalaman baru mengikuti acara seperti ini. Ini seperti membuka mata ane bahwa masih banyak hal-hal di dunia ini yang pengen ane eksplor dan alami hehehehe.. Esoknya kami meninggalkan Magelang dan sempat mampir ke Wihara Mendut, tempat tinggal Bhante Pannavaro. Ane akan tulis di postingan selanjutnya. 

9.18.2021

Solo, 9 Februari 2021 : The Heritage Palace Solo!

 Sudah lebih dari 2 mingguan ini ane di Solo, dan selama itu cuma di rumah aja. Boseeen juga ya ! Sedangkan emak sama bapak ane juga masih belum bisa diajak main karena masih nemenin mbak ane yang baru lahiran. Tau kan ribetnya emak-emak habis lahiran.. wkwk.. Ya jadilah ane habiskan 2 minggu ini hanya untuk menyelesaikan dan menyicil beberapa kerjaan, sisanya nonton film. Nonton terus-terusan. Terutama serial-serial Netflix yang ane demen abis karena selalu bikin penasaran.

Jadilah hari ini, Selasa, 9 Februari 2021 ane mengajak Gavriel - keponakan ane - untuk jalan-jalan ke The Heritage Palace di Solo. Awalnya rencana berdua aja, eh tiba-tiba emak pengen ikut juga. Yaudah sekut aja, kita berangkat dari rumah Bolon sekitar jam 13.15 naik si Kia Rio. Jarak dari rumah ane ke The Heritage Palace sendiri gak terlalu jauh, hanya sekitar 5 kilometeran dan bisa ditempuh dalam 20 menit.

Ane pertama kali tau 'The Heritage Palace' dari vlog-nya Joe Kal. Tau kan, vlogger yang suka eksplore tempat-tempat horror itu. Dan ane yang hobby-nya eksplore tempat via Google Map tiba-tiba nemuin aja tag tempat bernama "The Heritage Palace" sewaktu nyari tempat wisata di Solo. Setelah melihat foto-foto dan ulasannya di Google Map, aku merasa tempat ini OK. Fotogenik. 

Sesampainya di point The Heritage Palace yang ditunjukkan oleh Google Map, ternyata kami salah parkir. Kami diarahkan google map parkir di Restoran Tong Tjie, dimana itu adalah pintu keluar samping dari The Heritage Palace (bukan pintu masuknya). Alhasil kami pun jalan kaki sejauh 200 meter untuk menuju ke pintu masuk The Heritage Palace. 

Kami akhirnya putuskan beli tiket terusan, supaya bisa sekalian lihat Museum Mobil dan Omah Kwalik seharga Rp 55.000/ weekday, kalau untuk weekend sendiri Rp 65.000.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Mobil Kuno. Begitu masuk ke dalam ruangan museum yang luas, kami langsung terpukau melihat deretan mobil antik yang terawat rapi. Museum ini menampilkan berbagai koleksi mobil antik yang penuh nilai sejarah, mulai dari model klasik hingga kendaraan vintage yang jarang terlihat di jalanan modern. Tanpa pikir panjang, kami segera mencari spot terbaik untuk berfoto. Setiap mobil di sana punya daya tarik tersendiri, tapi yang paling menarik adalah beberapa mobil yang ternyata dulu pernah dimiliki oleh Presiden Soekarno. Rasanya spesial bisa berada dekat dengan kendaraan yang pernah dipakai tokoh besar bangsa ini.

Kami bergantian berpose di samping mobil-mobil itu, dan ibu ikut senang saat kami mengarahkan pose-pose seru untuk keponakanku. Melihat ekspresi keponakanku yang penasaran dan terkagum-kagum, aku jadi ikut terhanyut dalam kegembiraannya. Kami pun mengabadikan momen bersama di setiap sudut, mengamati detail setiap kendaraan, membayangkan bagaimana rasanya berkendara di masa lalu, atau membicarakan perubahan teknologi dari masa ke masa.







1.12.2013

Temanggung, 2012 : Main ke Dataran Tinggi Posong

EKSOTISME DATARAN TINGGI POSONG
‘Amazing..Unbeliveble..So Beautiful..’

Pemandangan Gunung Sindoro di Dataran Tinggi Posong
Sumber: Dokumen Pribadi

          Adalah ketiga kata yang gue ucapin dalam hati saat sampai di gardu pandang Dataran Tinggi Posong. Dari yang awalnya gue cuma iseng search di mbah gugle  dengan keyword objek wisata di Temanggung’, gue bener-bener mendapatkan sajian istimewa suatu pemandangan alam yang luar biasa.

       Berbekal motor supra x 125 cc dengan bensin full dan tekad membara, kami (gue dan 1 temen) berangkat pagi itu meninggalkan Jogja dan kegiatan kampus yang seharusnya dihadiri (mbolos.com) untuk membolang di suatu tempat asing di Kabupaten Temanggung yang disebut Dataran Tinggi Posong.  Gue tahu tempat ini dari internet setelah putus asa pengen mbolang ke suatu tempat yang baru dan tidak membosankan, secara hampir semua objek wisata alam di Jogja udah gue sambangi. Setelah nyari, gue menemukan beberapa review para bolangerz juga tentang suatu tempat wisata baru yang masih cukup perawan di Kabupaten Temanggung. Sekilas gue lihat foto-fotonya, oke juga nih. Tempat itu mirip seperti lembah yang terletak di antara pegunungan (ceritanya sih ada 8 gunung bisa kelihatan dari tempat ini) dan kelihatan asyik. Target pun gue kunci, “Gue pengen kesini!!”

       Perjalanan dari Jogja ke Temanggung kami tempuh selama kurang lebih 2,5 jam dan setelah sarapan soto yang sangat asin, kami pun bertolak mencari Dataran Tinggi Posong ini. Dataran Tinggi Posong relatif sangat mudah ditemukan, yaitu berada di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Petunjuk jalan ke Dataran Tinggi Posong akan ditemukan di sebelah kiri jalan raya utama Temanggung-Wonosobo (km berapah gue lupa yang jelas udah hampir perbatasan dengan Kabupaten Wonosobo) berupa papan yang menunjukkan arah belokan ke sebelah kanan jalan “3,5 kilometer lagi” begitu katanya. Jika kesulitan menemukan, bisa bertanya dengan warga sekitar letak daerah Kledung. Setelah sampai di Kledung, tinggal tanya warga sekitar dimana letak Dataran Tinggi Posong.

       Jalan 3,5 kilometer ini awalnya emang nggak meyakinkan (kecil banget) tetapi kondisi jalanan sudah cukup bagus walau tidak rata. (setidaknya lebih bagus dari jalan menuju Golden sunrise Dieng) Sepanjang perjalanan ke gardu pandang Dataran Tinggi Posong, kami disuguhi dengan pemandangan alam yang begitu memanjakan mata. Gunung Sumbing dan Sindoro terlihat begitu gagah perkasa menyambut kami, perkebunan jagung dan kopi yang terhampar luas, para petani yang sedang menggarap lahan dengan semangat, bebas polusi, dll. Saat itu gue sudah mendapat feeling bahwa Dataran Tinggi Posong ini sepertinya akan luar biasa.

Sepanjang perjalanan menuju Dataran Tinggi Posong yang segar dipandang
Sumber: Dokumen Pribadi

         Memasuki kilometer 3, kami di stop oleh pemuda setempat yang meminta bayaran tiket masuk dan parkir motor. Menurut gue tiket masuknya sangat murah yaitu hanya Rp 2000,00/orang dan Rp 1000,00 untuk parkir motor. Setelah itu gue melanjutkan perjalanan keatas. Saat sudah sampai diatas, Amazing..Unbeliveble..So Beautiful..Pemandangan begitu luar biasa indahnya. Sejauh mata memandang, beberapa gunung berjajar menyambut kami. Beberapa gunung yang kelihatan (tidak tertutup awan) adalah Sumbing, Sindoro, Merapi dan Merbabu. Gunung-gunung tersebut dilatari dengan siluet langit biru cerah dan perkebunan jagung serta kopi yang terhampar luas. Sungguh suatu karya cipta Tuhan yang sangat luar biasa dan menurut gue nggak sebanding dengan biaya masuk yang hanya Rp 2000,00 per orang.

Pemandangan perkebunan jagung dengan latar Gunung Sindoro
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pemandangan perkebunan jagung dengan latar Gunung Sumbing
Sumber: Dokumentasi Pribadi


Wisatawan di Dataran Tinggi Posong
Sumber: Dokumentasi Pribadi

         Pemandangan seperti ini tidak kami sia-siakan untuk foto-foto dan bersantai di cakruk yang banyak disediakan. Salah satu hal yang masih kurang di tempat ini adalah belum adanya penjual makanan (2012). Padahal menurut gue, merupakan kombinasi yang sangat tepat menikmati gunung dengan semilir angin dengan ditemani semangkok mie panas pedas dan teh panas. Ya sudahlah, pemandangan ini sudah cukup mengabaikan rasa lapar gue.

          Fasilitas yang disediakan di Dataran Tinggi Posong ini selain penjual makanan sudah cukup lengkap yakni ada 3 cakruk besar dan 1 cakruk kecil untuk bersantai, 2 kamar mandi yang cukup bersih dengan air sedingin es, mushola dan sepetak lahan tempat parkir . Menurut gue, Dataran Tinggi Posong ini sangat cocok digunakan untuk wisata keluarga (mobil atau bis bisa sampai atas), hanya jangan lupa membawa makanan dan minuman untuk menambah kombinasi arti kata ‘menyenangkan’ di tempat ini.




Fasilitas yang ada di Dataran Tinggi Posong
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Gimana kakak cara kesini?Begini transportasi ke Dataran Tinggi Posong.
Gampang aja. Kalau naik kendaraan pribadi, langsung melaju aja ke Wonosobo. Nanti lajukan lagi kendaraan ke arah Temanggung. Dataran Tinggi Posong ini berada di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Wonosobo (lebih tepatnya sisi Kabupaten Temanggung-nya). Papan penunjuknya akan berada di sisi kanan jalan (jika arah dari Wonosobo) atau di sebelah kiri jalan (jika arah dari Temanggung).

Kalau naik transportasi umum:
Menggunakan Bus antarkota dari Bandung atau Jakarta bisa menggunakan bus dengan tujuan Wonosobo. Kemudian dilanjutkan dengan bus 3/4 jurusan Wonosobo-Magelang atau Purwokerto-Magelang dan turun di Desa Tlahab,  Kecamatan Kledung (tinggal bilang turun di sekolahan dan semua kondektur sudah mengerti). Jarak dari terminal bus Wonosobo ke Tlahab hanya sekitar 10 Km. (sumber travel.detik.com)

Perlu menginap nggak?
Well, menurutku kalau cuma ingin bersantai aja memandang pemandangan sambil menikmati udara sejuk, nggak perlu nginap. Tapi jika kalian mau pemandangan yang spektakular, silakan menginap karena menurut berbagai sumber, pemandangan terindah adalah sekitar jam 04.30 am.

Nginapnya dimana?
Jangan khawatir mengenai penginapan karena banyak penduduk yang menjadikan rumahnya sebagai Guest House dengan tarif murah tentunya. Setelah sampai di Tlahab Anda bisa bertanya kepada Pak Hadi. Dia adalah kepala dusun Desa Tlahap yang bisa membantu para wisatawan untuk mencari Guest House atau mengantar ke lokasi Posong.
(sumber travel.detik.com)

Info penginapan di Kecamatan Kledung:
GRIYA TEH HOMESTAY
Jalan Wonosobo-Parakan Km 15 (Kec. Kledung)
CP: 085 7298 989 18

(sumber foto dan info: http://dolandolen.blogspot.co.id/)

Oke ini sedikit ulasan tentang Dataran Tinggi Posong dari aku, semoga membantu para wisatawan yang ingin kesana. Mari majukan wisata Indonesia! #visitjawatengah2013