Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.
Part Sebelumnya : DISINI
Esok paginya, aku bangun cukup pagi. Entah karena sudah kebiasaan atau memang tubuhku tahu ada tanggung jawab yang belum selesai. Begitu tirai jendela aku buka, udara pagi Kota Da Nang langsung merangsek masuk—segar, ringan, dengan aroma laut yang tipis-tipis terasa. Cukup untuk membuat kepalaku terasa lebih jernih.
Aku berdiri sebentar di dekat jendela, menarik napas panjang melihat kota yang mulai bergerak di bawah sana. Aku punya misi pagi ini. Tidak lain dan tidak bukan, melanjutkan pekerjaan semalam yaitu deadline dokumen! Semalam aku sengaja berhenti kerja lebih awal karena tidak mau menukar tidur dengan kesehatan. Aku ingin lanjut pagi ini dengan pikiran yang lebih segar.
Tanpa banyak drama, aku langsung cuci muka dan sikat gigi sampai benar-benar merasa melek. Ritual dimulai dengan membuat teh hangat dari kettle kecil di kamar. Uapnya naik perlahan, memberi sinyal ke otak bahwa hari kerja resmi dimulai. Aku duduk di tepi kasur, membuka laptop, dan kembali berkutat dengan file yang semalam kutinggalkan.
“Pokoknya hari ini harus selesai dan di-upload,” seruku dalam hati. Tidak ada tawar-menawar.
Dokumen perpanjangan izin ini tebalnya ratusan halaman. Isinya meliputi data teknis, tabel produksi, peta koordinat, hingga matriks pengelolaan lingkungan. Jari-jariku bergerak cepat. Aku harus memastikan tidak ada satu angka pun yang meleset, karena instansi tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apa pun.
Sekitar jam sembilan pagi, perut mulai berontak. Di sinilah skill multitasking versi freelancer traveling diuji. Sambil mata menatap layar, telingaku memasang radar ke arah rice cooker mini yang aku bawa dari Indonesia. Ya, aku tipe traveler yang bawa alat masak sendiri kalau tripnya lama hihihi. Sambil menunggu nasi matang, aku tetap fokus ke dokumen. Begitu terdengar bunyi “klik” dari rice cooker, aku langsung santap nasi hangat itu dengan sisa ayam goreng semalam. Sederhana, tapi pas banget untuk menjaga fokus.
Berjam-jam aku lalui dengan fokus ke laptop. Mindsetku simpel, semakin cepat selesai semakin cepat aku bisa lanjut eksplor. Menjelang siang, bagian terakhir akhirnya selesai. Aku melakukan pengecekan final dari halaman pertama sampai terakhir. Dengan perasaan deg-degan, aku klik upload.
File besar itu mulai terunggah perlahan. Progress bar bergerak sedikit demi sedikit. Aku menahan napas tanpa sadar sampai akhirnya muncul notifikasi: upload berhasil.
Aku bersandar ke kursi, mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti ada beban berat yang baru saja diangkat dari pundakku!
YESSS! Akhirnya bisa eksplor lagi tanpa kepikiran kerjaan (at least sementara)!
***
Selesai upload jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku merebahkan badan di kasur sejenak, beristirahat untuk melemaskan setiap urat-urat di pundakku wkwk.. Aku mendekat ke arah jendela kamar, kembali menikmati semburan udara sejuk Kota Danang. Udara di luar enak banget, pikirku. Kami sepakat untuk lanjut eksplor ke Pagoda Chùa Linh Ứng setelah ini, yang jaraknya sekitar lima kilometer dari hotel. Tidak terlalu jauh. Cukup untuk motoran santai.
Tapi sebelum itu… karena perut sudah lapar lagi, aku memesan sup kepiting dan tumis daging sapi lewat aplikasi Grab. Perjuangannya lumayan karena harus membedah menu bahasa Vietnam pakai Google Translate, dengan melakukan screen shot menu satu persatu wkwk. Setelah beberapa menit scroll, buka tutup aplikasi, dan membandingkan review, akhirnya aku memutuskan pesan sup kepiting, tumis daging sapi dan segelas kopi Vietnam. Tidak menunggu lama makanan datang. Supnya hangat gurih, dagingnya pun empuk. Tentu saja, nasinya tetap hasil masakan sendiri di rice cooker andalan.
Selesai makan, kami beres-beres cepat dan keluar kamar. Begitu pintu hotel terbuka dan kami melangkah ke luar, angin sore pesisir langsung menyentuh wajah.
Huft. Akhirnya.
Udara Da Nang sore itu benar-benar menyenangkan. Bisa dibilang pas, sejuk, tidak lembab dan tidak dingin. Anginnya membawa aroma laut —sedikit asin, sedikit segar. Kami naik motor dan mulai menyusuri jalan di sepanjang tepi laut. Langit sore itu juga mulai berubah warna, biru cerah perlahan melembut. Matahari belum tenggelam, tapi sinarnya sudah condong, menciptakan bayangan panjang di jalan. Di sisi kanan, laut terbentang luas dengan ombak kecil yang berkilau terkena cahaya keemasan. Beberapa orang terlihat jogging di trotoar lebar, ada yang berjalan santai berdua, ada keluarga kecil duduk di bangku menghadap laut.
Barisan pohon kelapa berdiri rapi di sepanjang jalan, daunnya bergerak pelan tertiup angin. Gedung-gedung hotel dan apartemen tinggi menjulang di sisi lain jalan, modern tapi tidak terasa sumpek. Jalanannya lebar dan relatif tertib. Motor-motor melaju dengan ritme yang tidak terburu-buru. Tidak ada klakson berlebihan, tidak ada kesan kacau. Ah.. aku sangat menyukai Kota Danang ini!
Motor kami melaju pelan. Aku sengaja tidak ingin ngebut. Rasanya sayang kalau sore seperti ini dilewati begitu saja. Angin menerpa wajah, rambut sedikit berantakan. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan—tenang yang muncul ketika kamu tahu pekerjaan sudah selesai, perut sudah kenyang, dan sekarang kamu hanya perlu menikmati perjalanan tanpa beban.
Tidak butuh waktu lama hingga kami mulai melihat perbukitan kecil di kejauhan. Jalan sedikit menanjak, suasana berubah lebih hijau. Dan akhirnya, bangunan pagoda mulai terlihat dari kejauhan—atap melengkung khas arsitektur Asia Timur dan patung putih tinggi yang berdiri anggun menghadap laut.
Kami akhirnya sampai di kompleks area Pagoda Chùa Linh Ứng. Begitu turun dari motor dan mulai berjalan masuk, kami langsung disambut suasana tenang, damai dan lebih hening. Seolah-olah tempat ini punya ritmenya sendiri, terpisah dari hiruk pikuk kota tadi. Begitu menengadahkan kepala, kami disambut oleh patung Dewi Kuan Im berwarna putih yang menjulang tinggi, sekitar 67 meter. Tinggi banget. Bahkan dari bawah pun rasanya harus mendongak cukup lama untuk bisa melihat keseluruhannya. Patung ini berdiri di atas bunga teratai besar, menghadap langsung ke laut lepas, seolah menjaga seluruh kota Da Nang dari kejauhan. Wajahnya tenang. Tatapannya lembut tapi dalam dan menenangkan.
Aku sempat berdiri beberapa detik, cuma melihat ke atas. Patung Dewi Kuan Im ini memang jadi ikon utama pagoda ini. Dalam kepercayaan Buddha, Kuan Im dikenal sebagai dewi welas asih—simbol kasih sayang, pelindung, dan penolong bagi mereka yang sedang kesulitan. Makanya tidak heran kalau patungnya dibuat menghadap laut. Konon, ini sebagai simbol perlindungan bagi para nelayan dan masyarakat sekitar dari bahaya laut. Setelah aku browsing, pagoda ini sendiri sebenarnya cukup baru, dibangun sekitar tahun 2004, tapi langsung jadi salah satu tempat spiritual paling penting di Da Nang, terutama karena lokasinya di Semenanjung Son Tra yang menghadap langsung ke laut.
Aku melanjutkan langkah naik melewati tangga-tangga batu yang lebar. Tangga ini terasa kokoh, membawaku perlahan menuju gerbang utama pagoda. Dari bawah sini saja, gerbangnya sudah terlihat sangat megah dengan ornamen khas Tiongkok-Vietnam. Ada ukiran naga di bagian atas dan tulisan kanji di sisi-sisinya. Warna hijau kebiruannya yang sedikit memudar dimakan waktu justru memberi kesan klasik dan berkarakter, seolah gerbang ini sudah menjadi saksi bisu ribuan doa yang dipanjatkan di sini. Ketika berada diatas, kubalikkan badan dan aku disambut pemandangan laut terbentang luas tanpa batas tepat di hadapanku. Warna airnya perlahan berubah dari biru cerah menjadi keemasan, karena matahari sudah mulai condong ke barat. Angin dari arah laut berhembus pelan, menyapu wajah dengan rasa adem yang susah dijelaskan—tidak dingin, tapi cukup untuk membuat tubuh rileks dan pikiran ikut melambat. Aku sempat berhenti beberapa detik di sana, berdiri tanpa banyak bicara, cuma menikmati pemandangan yang terasa sederhana tapi entah kenapa sangat menenangkan.
Dari situ, aku melangkah masuk lebih dalam ke kompleks pagoda. Ternyata area di dalamnya jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Halamannya terbuka dengan lantai batu yang rapi. Tapi, yang paling menarik perhatianku adalah deretan pohon bonsai yang ditata berjajar di kanan dan kiri. Ini bukan sekadar bonsai kecil biasa, ya. Banyak di antaranya yang terlihat sudah berumur sangat tua. Batangnya besar dan berkelok-kelok, dengan akar-akar tua yang muncul ke permukaan seperti sedang mencengkeram tanah. Siluetnya unik banget. Setiap pohon terlihat berbeda, seolah masing-masing punya cerita panjang yang diam-diam mereka simpan.
Aku berjalan pelan di antara deretan bonsai itu. Suasananya tenang sekali. Tidak ramai, tidak berisik. Hanya ada suara langkah kaki sesekali, desir angin yang menyentuh daun, dan obrolan pelan dari beberapa pengunjung. Ada yang duduk santai di pinggir, ada yang sibuk mengambil foto, tapi ada juga yang memilih diam saja, sekadar menikmati suasana tanpa distraksi HP sama sekali.
Di bagian ujung terdapat bangunan utama kuil. Arsitekturnya luar biasa cantik, khas kuil-kuil Asia Timur dengan atap tumpuk berwarna hijau tua yang ujungnya melengkung ke atas, dihiasi ukiran naga-naga yang terlihat gagah di bawah langit sore. Pilar-pilar penyangganya juga unik banget, berbentuk naga putih raksasa yang melilit batang pilar berwarna merah. Di sela-sela pilar itu, bergelantungan lampion-lampion kuning cerah. Di atas pintu utama, terpasang papan nama bertuliskan huruf kanji berwarna emas yang berkilau terkena cahaya matahari.
Suasana sore itu terasa cukup ramai, baik oleh wisatawan maupun warga lokal. Aku sempat berdiri di tengah tangga untuk berfoto sebentar, mengambil posisi di antara pot-pot tanaman hias yang tertata rapi. Di belakangku, terlihat beberapa orang bersiap masuk ke dalam kuil. Di teras kuil, terlihat orang-orang melepaskan alas kaki mereka sebelum melangkah masuk. Sebenarnya, aku penasaran sekali ingin mengintip ke dalam. Dari pintu masuk yang terbuka lebar, samar-samar aku bisa melihat kemilau keemasan dari patung-patung di dalamnya. Interior kuilnya terlihat luas, didominasi warna merah marun dengan pilar-pilar besar. Di dinding bagian dalam, terdapat ukiran emas yang sangat rumit dan detail. Yang paling menarik perhatian adalah barisan patung Buddha berwarna emas yang duduk berjejer di atas meja kayu berukir, lengkap dengan persembahan dan bunga-bunga segar. Di depan patung-patung itu, di atas lantai keramik yang berkilau, tertata rapi matras-matras meditasi kecil lengkap dengan bantal duduk, siap digunakan oleh para peziarah untuk berdoa.
Suasananya di dalam sana terasa begitu sakral dan sunyi, berbeda dengan keramaian di luar. Ada beberapa orang yang terlihat sedang berlutut di atas matras, khusyuk berdoa di depan patung Buddha. Aroma dupa yang harum tercium samar sampai ke tempatku berdiri. Melihat betapa sakral dan tenang suasana di dalam, aku akhirnya memutuskan untuk tidak masuk terlalu dalam. Rasanya sungkan kalau sampai mengganggu keheningan mereka yang sedang berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Berdiri di ambang pintu, melihat dari kejauhan, dan merasakan aura ketenangan yang terpancar dari dalam sudah cukup bagiku.
Kami lanjutkan berjalan menyisir bagian samping kompleks pagoda. Di sana terdapat sebuah taman kecil yang cantik dengan bunga-bunga berwarna merah cerah. Ada juga sebuah bangunan kayu sederhana menyerupai pendopo dengan hiasan lampion dan pohon sakura buatan. Aku sempatkan duduk sejenak di sana, sekadar meluruskan kaki sambil menikmati semilir angin sore sebelum lanjut jalan lagi.
Aku kemudian memutar menuju bagian belakang kompleks pagoda. Di sebuah area terbuka yang cukup luas, aku menemukan barisan patung yang unik. Salah satunya adalah patung Buddha kecil yang berdiri di atas kelopak bunga teratai pink yang sedang mekar. Patung ini menggambarkan sosok Siddharta Gautama saat masih bayi. Posisi tangannya yang menunjuk ke langit melambangkan momen kelahiran beliau yang membawa cahaya bagi dunia. Di sekelilingnya, terdapat patung-patung murid atau pengikut Buddha yang sedang dalam posisi berdoa, menciptakan suasana yang sangat sakral di bawah pohon-pohon besar yang rindang.
Langkahku berlanjut menuju area yang lebih tinggi. Di sana, aku disambut oleh sebuah Pagoda Sembilan Lantai yang berdiri megah. Untuk mencapainya, aku harus menaiki tangga batu yang cukup panjang. Tangga ini dihiasi dengan ukiran naga raksasa di sisi kanan dan kirinya, lengkap dengan pot-pot bunga krisan kuning yang berjejer rapi di setiap anak tangga. Kombinasi warna abu-abu batu, hijaunya pohon bonsai, dan kuningnya bunga benar-benar memanjakan mata.
Tak jauh dari situ, aku menemukan patung Buddha Sakyamuni berwarna putih bersih yang sedang bermeditasi di atas bunga teratai. Patung ini tampak begitu tenang dengan latar belakang langit biru yang mulai bersih dari awan. Pohon-pohon di belakangnya seolah membentuk payung alami bagi sang Buddha. Berada di titik ini membuatku merasa sangat kecil sekaligus damai. Rasanya semua lelah setelah seharian mengejar deadline izin tambang tadi pagi langsung luntur begitu saja digantikan rasa syukur bisa sampai di titik ini.
Sore itu, aku benar-benar membiarkan waktu tercuri. Aku duduk cukup lama di salah satu bangku taman, sekadar diam dan menarik napas panjang. Ada rasa hangat yang menjalar di dada—karena rasa syukur yang tumpah ruah. Di tengah perjalanan jauh ini, semuanya berjalan lancar. Pekerjaan beres, perizinan klien terkirim, dan sekarang aku duduk di salah satu tempat paling damai di Vietnam.
Aku menghabiskan waktu dengan people watching. Melihat peziarah yang khusyuk, wisatawan yang sibuk berfoto, sampai biksu yang melintas tenang. Tanpa sadar, langit mulai berubah warna menjadi jingga pekat. Matahari yang mulai tenggelam di cakrawala Da Nang adalah sinyal tak terbantahkan, aku harus segera kembali ke kota sebelum jalanan semenanjung menjadi terlalu gelap.
Perjalanan motoran turun dari Son Tra terasa jauh lebih sejuk. Begitu sampai di pusat kota, perutku mulai memberikan sinyal lapar. Karena sedang malas makan berat yang ribet, pilihanku jatuh pada Banh Mi—sandwich khas Vietnam yang legendaris itu. Aku membelinya di salah satu kedai pinggir jalan. Roti baguette-nya garing di luar tapi lembut di dalam, diisi dengan páté, daging, dan sayuran segar yang melimpah. Rasanya? Lumayan enak banget! Pas untuk menutup hari yang produktif sekaligus kontemplatif ini.
Malam itu tidak ada agenda spesifik. Aku benar-benar mendedikasikan waktu untuk mengistirahatkan tubuh. No deadline, no drama. Syukurlah, aku bisa tidur lebih awal dari biasanya. Besok kami berencana akan mengunjungi Ba Na Hills, destinasi ikonik dengan jembatan emasnya yang viral itu. Jarak dari kota Da Nang ke Ba Na Hills sendiri sekitar 30 kilometer. Kalau lancar, perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 1 jam naik motor. Jaket sudah siap, helm sudah di tangan, dan tangki motor rencananya akan aku isi penuh besok pagi. Ba Na Hills, tunggu aku! Kami benar-benar siap!
Part Selanjutnya : DISINI



