Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

4.23.2026

[Part 9] Cam on Vietnam : Deadline dan Damainya Pagoda Chua Ling Uhn..

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Esok paginya, aku bangun cukup pagi. Entah karena sudah kebiasaan atau memang tubuhku tahu ada tanggung jawab yang belum selesai. Begitu tirai jendela aku buka, udara pagi Kota Da Nang langsung merangsek masuk—segar, ringan, dengan aroma laut yang tipis-tipis terasa. Cukup untuk membuat kepalaku terasa lebih jernih.

Aku berdiri sebentar di dekat jendela, menarik napas panjang melihat kota yang mulai bergerak di bawah sana. Aku punya misi pagi ini. Tidak lain dan tidak bukan, melanjutkan pekerjaan semalam yaitu deadline dokumen! Semalam aku sengaja berhenti kerja lebih awal karena tidak mau menukar tidur dengan kesehatan. Aku ingin lanjut pagi ini dengan pikiran yang lebih segar.

Tanpa banyak drama, aku langsung cuci muka dan sikat gigi sampai benar-benar merasa melek. Ritual dimulai dengan membuat teh hangat dari kettle kecil di kamar. Uapnya naik perlahan, memberi sinyal ke otak bahwa hari kerja resmi dimulai. Aku duduk di tepi kasur, membuka laptop, dan kembali berkutat dengan file yang semalam kutinggalkan.

“Pokoknya hari ini harus selesai dan di-upload,” seruku dalam hati. Tidak ada tawar-menawar.

Dokumen perpanjangan izin ini tebalnya ratusan halaman. Isinya meliputi data teknis, tabel produksi, peta koordinat, hingga matriks pengelolaan lingkungan. Jari-jariku bergerak cepat. Aku harus memastikan tidak ada satu angka pun yang meleset, karena instansi tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apa pun.

Sekitar jam sembilan pagi, perut mulai berontak. Di sinilah skill multitasking versi freelancer traveling diuji. Sambil mata menatap layar, telingaku memasang radar ke arah rice cooker mini yang aku bawa dari Indonesia. Ya, aku tipe traveler yang bawa alat masak sendiri kalau tripnya lama hihihi. Sambil menunggu nasi matang, aku tetap fokus ke dokumen. Begitu terdengar bunyi “klik” dari rice cooker, aku langsung santap nasi hangat itu dengan sisa ayam goreng semalam. Sederhana, tapi pas banget untuk menjaga fokus.

Berjam-jam aku lalui dengan fokus ke laptop. Mindsetku simpel, semakin cepat selesai semakin cepat aku bisa lanjut eksplor. Menjelang siang, bagian terakhir akhirnya selesai. Aku melakukan pengecekan final dari halaman pertama sampai terakhir. Dengan perasaan deg-degan, aku klik upload

File besar itu mulai terunggah perlahan. Progress bar bergerak sedikit demi sedikit. Aku menahan napas tanpa sadar sampai akhirnya muncul notifikasi: upload berhasil.

Aku bersandar ke kursi, mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti ada beban berat yang baru saja diangkat dari pundakku!

YESSS! Akhirnya bisa eksplor lagi tanpa kepikiran kerjaan (at least sementara)!

***

Selesai upload jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku merebahkan badan di kasur sejenak, beristirahat untuk melemaskan setiap urat-urat di pundakku wkwk.. Aku mendekat ke arah jendela kamar, kembali menikmati semburan udara sejuk Kota Danang. Udara di luar enak banget, pikirku. Kami sepakat untuk lanjut eksplor ke Pagoda Chùa Linh Ứng setelah ini, yang jaraknya sekitar lima kilometer dari hotel. Tidak terlalu jauh. Cukup untuk motoran santai.

Tapi sebelum itu… karena perut sudah lapar lagi, aku memesan sup kepiting dan tumis daging sapi lewat aplikasi Grab. Perjuangannya lumayan karena harus membedah menu bahasa Vietnam pakai Google Translate, dengan melakukan screen shot menu satu persatu wkwk. Setelah beberapa menit scroll, buka tutup aplikasi, dan membandingkan review, akhirnya aku memutuskan pesan sup kepiting, tumis daging sapi dan segelas kopi Vietnam. Tidak menunggu lama makanan datang. Supnya hangat gurih, dagingnya pun empuk. Tentu saja, nasinya tetap hasil masakan sendiri di rice cooker andalan.

Selesai makan, kami beres-beres cepat dan keluar kamar. Begitu pintu hotel terbuka dan kami melangkah ke luar, angin sore pesisir langsung menyentuh wajah.

Huft. Akhirnya.

Udara Da Nang sore itu benar-benar menyenangkan. Bisa dibilang pas, sejuk, tidak lembab dan tidak dingin. Anginnya membawa aroma laut —sedikit asin, sedikit segar. Kami naik motor dan mulai menyusuri jalan di sepanjang tepi laut. Langit sore itu juga mulai berubah warna, biru cerah perlahan melembut. Matahari belum tenggelam, tapi sinarnya sudah condong, menciptakan bayangan panjang di jalan. Di sisi kanan, laut terbentang luas dengan ombak kecil yang berkilau terkena cahaya keemasan. Beberapa orang terlihat jogging di trotoar lebar, ada yang berjalan santai berdua, ada keluarga kecil duduk di bangku menghadap laut.

Barisan pohon kelapa berdiri rapi di sepanjang jalan, daunnya bergerak pelan tertiup angin. Gedung-gedung hotel dan apartemen tinggi menjulang di sisi lain jalan, modern tapi tidak terasa sumpek. Jalanannya lebar dan relatif tertib. Motor-motor melaju dengan ritme yang tidak terburu-buru. Tidak ada klakson berlebihan, tidak ada kesan kacau. Ah.. aku sangat menyukai Kota Danang ini!

Motor kami melaju pelan. Aku sengaja tidak ingin ngebut. Rasanya sayang kalau sore seperti ini dilewati begitu saja. Angin menerpa wajah, rambut sedikit berantakan. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan—tenang yang muncul ketika kamu tahu pekerjaan sudah selesai, perut sudah kenyang, dan sekarang kamu hanya perlu menikmati perjalanan tanpa beban.

Tidak butuh waktu lama hingga kami mulai melihat perbukitan kecil di kejauhan. Jalan sedikit menanjak, suasana berubah lebih hijau. Dan akhirnya, bangunan pagoda mulai terlihat dari kejauhan—atap melengkung khas arsitektur Asia Timur dan patung putih tinggi yang berdiri anggun menghadap laut.

Kami akhirnya sampai di kompleks area Pagoda Chùa Linh Ứng. Begitu turun dari motor dan mulai berjalan masuk, kami langsung disambut suasana tenang, damai dan lebih hening. Seolah-olah tempat ini punya ritmenya sendiri, terpisah dari hiruk pikuk kota tadi. Begitu menengadahkan kepala, kami disambut oleh patung Dewi Kuan Im berwarna putih yang menjulang tinggi, sekitar 67 meter. Tinggi banget. Bahkan dari bawah pun rasanya harus mendongak cukup lama untuk bisa melihat keseluruhannya. Patung ini berdiri di atas bunga teratai besar, menghadap langsung ke laut lepas, seolah menjaga seluruh kota Da Nang dari kejauhan. Wajahnya tenang. Tatapannya lembut tapi dalam dan menenangkan.  

Aku sempat berdiri beberapa detik, cuma melihat ke atas. Patung Dewi Kuan Im ini memang jadi ikon utama pagoda ini. Dalam kepercayaan Buddha, Kuan Im dikenal sebagai dewi welas asih—simbol kasih sayang, pelindung, dan penolong bagi mereka yang sedang kesulitan. Makanya tidak heran kalau patungnya dibuat menghadap laut. Konon, ini sebagai simbol perlindungan bagi para nelayan dan masyarakat sekitar dari bahaya laut. Setelah aku browsing, pagoda ini sendiri sebenarnya cukup baru, dibangun sekitar tahun 2004, tapi langsung jadi salah satu tempat spiritual paling penting di Da Nang, terutama karena lokasinya di Semenanjung Son Tra yang menghadap langsung ke laut.

Aku melanjutkan langkah naik melewati tangga-tangga batu yang lebar. Tangga ini terasa kokoh, membawaku perlahan menuju gerbang utama pagoda. Dari bawah sini saja, gerbangnya sudah terlihat sangat megah dengan ornamen khas Tiongkok-Vietnam. Ada ukiran naga di bagian atas dan tulisan kanji di sisi-sisinya. Warna hijau kebiruannya yang sedikit memudar dimakan waktu justru memberi kesan klasik dan berkarakter, seolah gerbang ini sudah menjadi saksi bisu ribuan doa yang dipanjatkan di sini. Ketika berada diatas, kubalikkan badan dan aku disambut pemandangan laut terbentang luas tanpa batas tepat di hadapanku. Warna airnya perlahan berubah dari biru cerah menjadi keemasan, karena matahari sudah mulai condong ke barat. Angin dari arah laut berhembus pelan, menyapu wajah dengan rasa adem yang susah dijelaskan—tidak dingin, tapi cukup untuk membuat tubuh rileks dan pikiran ikut melambat. Aku sempat berhenti beberapa detik di sana, berdiri tanpa banyak bicara, cuma menikmati pemandangan yang terasa sederhana tapi entah kenapa sangat menenangkan.

Dari situ, aku melangkah masuk lebih dalam ke kompleks pagoda. Ternyata area di dalamnya jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Halamannya terbuka dengan lantai batu yang rapi. Tapi, yang paling menarik perhatianku adalah deretan pohon bonsai yang ditata berjajar di kanan dan kiri. Ini bukan sekadar bonsai kecil biasa, ya. Banyak di antaranya yang terlihat sudah berumur sangat tua. Batangnya besar dan berkelok-kelok, dengan akar-akar tua yang muncul ke permukaan seperti sedang mencengkeram tanah. Siluetnya unik banget. Setiap pohon terlihat berbeda, seolah masing-masing punya cerita panjang yang diam-diam mereka simpan.

Aku berjalan pelan di antara deretan bonsai itu. Suasananya tenang sekali. Tidak ramai, tidak berisik. Hanya ada suara langkah kaki sesekali, desir angin yang menyentuh daun, dan obrolan pelan dari beberapa pengunjung. Ada yang duduk santai di pinggir, ada yang sibuk mengambil foto, tapi ada juga yang memilih diam saja, sekadar menikmati suasana tanpa distraksi HP sama sekali.

Di bagian ujung terdapat bangunan utama kuil. Arsitekturnya luar biasa cantik, khas kuil-kuil Asia Timur dengan atap tumpuk berwarna hijau tua yang ujungnya melengkung ke atas, dihiasi ukiran naga-naga yang terlihat gagah di bawah langit sore. Pilar-pilar penyangganya juga unik banget, berbentuk naga putih raksasa yang melilit batang pilar berwarna merah. Di sela-sela pilar itu, bergelantungan lampion-lampion kuning cerah. Di atas pintu utama, terpasang papan nama bertuliskan huruf kanji berwarna emas yang berkilau terkena cahaya matahari. 

Suasana sore itu terasa cukup ramai, baik oleh wisatawan maupun warga lokal. Aku sempat berdiri di tengah tangga untuk berfoto sebentar, mengambil posisi di antara pot-pot tanaman hias yang tertata rapi. Di belakangku, terlihat beberapa orang bersiap masuk ke dalam kuil. Di teras kuil, terlihat orang-orang melepaskan alas kaki mereka sebelum melangkah masuk. Sebenarnya, aku penasaran sekali ingin mengintip ke dalam. Dari pintu masuk yang terbuka lebar, samar-samar aku bisa melihat kemilau keemasan dari patung-patung di dalamnya. Interior kuilnya terlihat luas, didominasi warna merah marun dengan pilar-pilar besar. Di dinding bagian dalam, terdapat ukiran emas yang sangat rumit dan detail. Yang paling menarik perhatian adalah barisan patung Buddha berwarna emas yang duduk berjejer di atas meja kayu berukir, lengkap dengan persembahan dan bunga-bunga segar. Di depan patung-patung itu, di atas lantai keramik yang berkilau, tertata rapi matras-matras meditasi kecil lengkap dengan bantal duduk, siap digunakan oleh para peziarah untuk berdoa.

Suasananya di dalam sana terasa begitu sakral dan sunyi, berbeda dengan keramaian di luar. Ada beberapa orang yang terlihat sedang berlutut di atas matras, khusyuk berdoa di depan patung Buddha. Aroma dupa yang harum tercium samar sampai ke tempatku berdiri. Melihat betapa sakral dan tenang suasana di dalam, aku akhirnya memutuskan untuk tidak masuk terlalu dalam. Rasanya sungkan kalau sampai mengganggu keheningan mereka yang sedang berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Berdiri di ambang pintu, melihat dari kejauhan, dan merasakan aura ketenangan yang terpancar dari dalam sudah cukup bagiku. 

Kami lanjutkan berjalan menyisir bagian samping kompleks pagoda. Di sana terdapat sebuah taman kecil yang cantik dengan bunga-bunga berwarna merah cerah. Ada juga sebuah bangunan kayu sederhana menyerupai pendopo dengan hiasan lampion dan pohon sakura buatan. Aku sempatkan duduk sejenak di sana, sekadar meluruskan kaki sambil menikmati semilir angin sore sebelum lanjut jalan lagi.

Aku kemudian memutar menuju bagian belakang kompleks pagoda. Di sebuah area terbuka yang cukup luas, aku menemukan barisan patung yang unik. Salah satunya adalah patung Buddha kecil yang berdiri di atas kelopak bunga teratai pink yang sedang mekar. Patung ini menggambarkan sosok Siddharta Gautama saat masih bayi. Posisi tangannya yang menunjuk ke langit melambangkan momen kelahiran beliau yang membawa cahaya bagi dunia. Di sekelilingnya, terdapat patung-patung murid atau pengikut Buddha yang sedang dalam posisi berdoa, menciptakan suasana yang sangat sakral di bawah pohon-pohon besar yang rindang.

Langkahku berlanjut menuju area yang lebih tinggi. Di sana, aku disambut oleh sebuah Pagoda Sembilan Lantai yang berdiri megah. Untuk mencapainya, aku harus menaiki tangga batu yang cukup panjang. Tangga ini dihiasi dengan ukiran naga raksasa di sisi kanan dan kirinya, lengkap dengan pot-pot bunga krisan kuning yang berjejer rapi di setiap anak tangga. Kombinasi warna abu-abu batu, hijaunya pohon bonsai, dan kuningnya bunga benar-benar memanjakan mata.

Tak jauh dari situ, aku menemukan patung Buddha Sakyamuni berwarna putih bersih yang sedang bermeditasi di atas bunga teratai. Patung ini tampak begitu tenang dengan latar belakang langit biru yang mulai bersih dari awan. Pohon-pohon di belakangnya seolah membentuk payung alami bagi sang Buddha. Berada di titik ini membuatku merasa sangat kecil sekaligus damai. Rasanya semua lelah setelah seharian mengejar deadline izin tambang tadi pagi langsung luntur begitu saja digantikan rasa syukur bisa sampai di titik ini.

Sore itu, aku benar-benar membiarkan waktu tercuri. Aku duduk cukup lama di salah satu bangku taman, sekadar diam dan menarik napas panjang. Ada rasa hangat yang menjalar di dada—karena rasa syukur yang tumpah ruah. Di tengah perjalanan jauh ini, semuanya berjalan lancar. Pekerjaan beres, perizinan klien terkirim, dan sekarang aku duduk di salah satu tempat paling damai di Vietnam.

Aku menghabiskan waktu dengan people watching. Melihat peziarah yang khusyuk, wisatawan yang sibuk berfoto, sampai biksu yang melintas tenang. Tanpa sadar, langit mulai berubah warna menjadi jingga pekat. Matahari yang mulai tenggelam di cakrawala Da Nang adalah sinyal tak terbantahkan, aku harus segera kembali ke kota sebelum jalanan semenanjung menjadi terlalu gelap.

Perjalanan motoran turun dari Son Tra terasa jauh lebih sejuk. Begitu sampai di pusat kota, perutku mulai memberikan sinyal lapar. Karena sedang malas makan berat yang ribet, pilihanku jatuh pada Banh Mi—sandwich khas Vietnam yang legendaris itu. Aku membelinya di salah satu kedai pinggir jalan. Roti baguette-nya garing di luar tapi lembut di dalam, diisi dengan páté, daging, dan sayuran segar yang melimpah. Rasanya? Lumayan enak banget! Pas untuk menutup hari yang produktif sekaligus kontemplatif ini.

Malam itu tidak ada agenda spesifik. Aku benar-benar mendedikasikan waktu untuk mengistirahatkan tubuh. No deadline, no drama. Syukurlah, aku bisa tidur lebih awal dari biasanya. Besok kami berencana akan mengunjungi Ba Na Hills, destinasi ikonik dengan jembatan emasnya yang viral itu. Jarak dari kota Da Nang ke Ba Na Hills sendiri sekitar 30 kilometer. Kalau lancar, perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 1 jam naik motor. Jaket sudah siap, helm sudah di tangan, dan tangki motor rencananya akan aku isi penuh besok pagi. Ba Na Hills, tunggu aku! Kami benar-benar siap!

Part Selanjutnya : DISINI

4.21.2026

[PART 8] Menggapai Himalaya : Mengunjungi (kembali) Taj Mahal dan Semalaman Tidur di Peron Stasiun Agra !

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI


Semalam, aku dan Fredo sempat berwacana sok ambisius. Besok kami akan mengunjungi Taj Mahal saat sunrise. Wow banget kan rencananya. Padahal selama beberapa hari di India ini, kami hampir nggak pernah benar-benar bangun pagi. Wkwk. Mungkin Fredo bangun subuh buat salat, tapi sepertinya habis itu dia tidur lagi. Yang jelas, setelah seharian jalan, ditambah browsing dan ngobrol sampai larut malam, rencana indah itu berakhir… ya begitu saja. Wkwk.

Seperti bisa diduga, esoknya, kami baru benar-benar bangun sekitar jam sepuluh. Sunrise sudah lama lewat. Matahari sudah tinggi. Hahaha.. Ya sudah lah ya. Backpacking memang sering begini, rencana kalah sama badan. Lagipula kami juga dalam kondisi sangat capek, hanya dalam beberapa hari sudah menempuh jarak ribuan kilometer, 2 hari tidur di kereta sleeper, jalan kaki eksplor beberapa kota tanpa henti, yaaah bisa dimaklumi hehe..

Setelah leyeh-leyeh sebentar dan sarapan di restoran rooftop penginapan, kami langsung siap-siap untuk berangkat ke Taj Mahal. Kali ini tanpa ambisi waktu tertentu, kami jalan lebih santai. Google Maps sudah kusetel sejak masih di hotel. Dari penginapan, kami harus berjalan kaki kurang lebih satu kilometer menuju area pembelian tiket dan gerbang selatan Taj Mahal.

Pagi itu, jalanan Kota Agra sudah cukup ramai. Tukang becak, motor, penjual kecil, dan turis bercampur di satu ruang yang sama. Penjual-penjual cenderamata mulai membuka tokonya, beberapa menawarkan kami tanpa nada memaksa. Nggak butuh waktu lama, kami sampai di area pembelian tiket. Kali ini aku nggak pakai drama seperti dulu, tahun 2012, yang sempat sok-sokan pengen menyamar jadi warga lokal biar dapat harga murah. Hahaha… sekarang rasanya udah lebih realistis. Aku langsung menuju loket turis dan membayar tiket sebesar 1000 rupee.
Sekitar dua ratus ribuan.

Lumayan mahal, iya. Tapi entah kenapa, begitu tiket itu sudah di tangan, rasanya tetap ada sensasi “wah, akhirnya sampai juga di sini lagi.”

Dari area tiket, perjalanan masih dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju gerbang selatan. Sepanjang jalan, suasana makin terasa “turistik”. Banyak guide yang menawarkan jasa, tukang foto dengan contoh hasil cetak Taj Mahal ala-ala postcard, sampai pedagang yang jual miniatur marmer putih.

Langkah kami santai saja. Nggak ada lagi kejar-kejaran waktu seperti rencana sunrise tadi. Justru rasanya lebih enak begini. Pelan-pelan, sambil menyerap suasana.

Akhirnya kami sampai di gerbang masuk Taj Mahal. Dari kejauhan saja, siluetnya sudah kelihatan. Dan entah kenapa, meskipun ini bukan pertama kalinya aku ke sini, tetap saja ada rasa takjub yang sama.

Sebelum benar-benar masuk, aku sempat duduk sebentar di kursi bagian luar. Tempat ini jadi titik terakhir sebelum tiket diperiksa. Aku santai saja waktu itu… sampai tiba-tiba tersadar.

“Lho, tiketku mana?!”

Rasa panik langsung menyergap.

Aku langsung berdiri, celingak-celinguk, meraba setiap saku celana, dan tanpa banyak mikir aku langsung lari balik ke arah sebelumnya. Untungnya, nggak lama kemudian aku lihat seorang bapak penjaga memegang tiket itu. Diamankan.

Fiuhhhh.

Padahal tiketnya bahkan belum diperiksa. Kalau sampai hilang, aku harus beli lagi 1000 rupee. Lumayan banget kan. Untung saja, hari ini ketelodaranku belum sampai berujung kesialan. Wkwk.

Setelah drama kecil itu, akhirnya kami benar-benar masuk. Dan begitu melewati gerbang utama, pemandangan itu langsung terbuka lebar di depan mata.
Taj Mahal.

Putih, simetris, dan… megah banget.
Sayangnya, dua minaretnya sedang dalam proses renovasi, jadi ada bagian yang tertutup scaffolding. Sedikit mengganggu memang, tapi ya sudahlah. Nggak mengurangi rasa kagum sama sekali. Kami tetap sibuk foto sana-sini, cari angle terbaik sambil sesekali menghindari kerumunan orang.

Sedikit cerita, Taj Mahal ini dibangun oleh Kaisar Mughal, Shah Jahan, sebagai bentuk cinta untuk istrinya, Mumtaz Mahal, yang meninggal saat melahirkan. Pembangunannya dimulai sekitar tahun 1632 dan memakan waktu lebih dari 20 tahun. Jadi ya, ini bukan sekadar bangunan indah, tapi juga simbol cinta yang… levelnya udah nggak masuk akal 😆
Setelah puas foto-foto di luar, kami lanjut masuk ke bagian dalam bangunan utama.
Seperti biasa, sebelum masuk, sepatu harus dilepas dan diganti dengan alas kaki dari kain tipis yang sudah disediakan. Rasanya agak aneh sih, jalan di atas marmer dingin dengan pelindung tipis begitu, tapi justru jadi bagian dari pengalaman.

Begitu masuk ke dalam, kami disambut suasana lebih gelap. Lebih dingin. Dan jauh lebih ramai. Suara orang-orang bergema pelan di dalam ruangan, bercampur dengan langkah kaki yang terus bergerak mengelilingi bagian tengah. Di sana, terdapat makam Mumtaz Mahal dan Shah Jahan—meskipun yang kita lihat sebenarnya adalah cenotaph (makam simbolis), sementara makam aslinya berada di ruang bawah tanah.
Dinding-dindingnya penuh dengan ukiran marmer yang sangat halus. Detailnya luar biasa. Motif bunga-bunga dengan teknik inlay batu semi mulia yang ditanam ke dalam marmer putih—kalau dilihat dekat, benar-benar rapi tanpa celah.

Tapi karena pencahayaan minim dan orang-orang terus bergerak, rasanya nggak bisa benar-benar diam lama untuk menikmati setiap detail. Semua seperti mengalir cepat. Kita ikut bergerak bersama arus manusia.

Ada rasa sakral, tapi juga sedikit chaotic.
Dan di tengah keramaian itu, aku sempat berhenti sebentar.

Berpikir… bahwa bangunan sebesar dan seindah ini, pada akhirnya tetap dibangun karena satu hal yang sangat sederhana.
Cinta.

Dari sini kelihatan aliran sungai yang tenang, warnanya agak kecoklatan, dengan tepian yang terlihat kering di beberapa bagian. Di kejauhan, sisi seberang tampak lebih sepi, hampir nggak ada bangunan mencolok. Angin sesekali berhembus pelan, tapi tetap saja nggak cukup untuk mengalahkan teriknya matahari siang itu.
Di sekitar kami, taman-taman tertata rapi dengan jalur simetris khas arsitektur Mughal. Rumput hijau, pohon-pohon yang dipangkas rapi, dan jalur batu yang dipenuhi turis dari berbagai negara. Ada yang duduk santai, ada yang sibuk foto, ada juga yang cuma bengong menikmati suasana.

Setelah duduk sebentar dan tenaga mulai balik sedikit, kami lanjut jalan lagi. Nggak ada target, cuma keliling santai mengitari kompleks. Sesekali berhenti, sesekali ngobrol, sesekali foto lagi. Sampai akhirnya tanpa terasa, kami kembali ke bagian depan.

Nah, di sinilah drama kecil berikutnya dimulai. Fredo tiba-tiba dapat ide.

“Eh coba fotoin aku melayang,” katanya.

Maksudnya, dia loncat, terus pas di udara difoto biar kelihatan seperti “floating”. Ya sudah, aku sih ketawa saja, tapi tetap bantu fotoin. Baru dua kali jepret—

“Sir! No jumping!”

Langsung ditegur petugas 😂
Aku sebenarnya dari awal sudah ada feeling bakal kena tegur. Ya gimana ya, ini kan bangunan tua, bersejarah, marmernya juga halus. Kalau tiap orang lompat-lompat nggak jelas, bisa-bisa lama-lama rusak… atau malah ambles (oke ini agak lebay sih wkwk, tapi tetap saja 😆).

Fredo langsung berhenti, agak kikuk. Aku? Ya ketawa saja.

“Udah dibilang juga apa…” 😜

Setelah itu, kami turun lagi untuk eksplor bagian lain dari kompleks Taj Mahal. Di samping bangunan utama, ada satu bangunan lain berwarna merah bata yang cukup mencolok. Bentuknya megah juga, dengan lengkungan-lengkungan khas arsitektur Mughal.

Jujur aku agak lupa itu bangunan apa, tapi yang jelas kami nggak masuk ke dalam. Hanya berhenti di depannya, ambil beberapa foto, lalu lanjut jalan lagi. Dari luar saja sudah cukup menarik, apalagi kontras warnanya dengan putihnya Taj Mahal.

Hari semakin siang dan panas Kota Agra mulai terasa menyengat. Setelah beberapa jam berkeliling kompleks Taj Mahal, duduk-duduk di taman, dan sesekali berhenti untuk mengambil foto, aku mulai menyadari satu hal. Well, ini adalah hari terakhir kami benar-benar menjelajahi India.

Rasanya baru kemarin kami mendarat di Kochi dan mulai petualangan ini. Padahal dalam beberapa hari terakhir, kami sudah berpindah-pindah kota, tidur di kereta sleeper, berjalan kaki tanpa henti menyusuri jalanan India yang ramai, melihat istana, benteng, pasar, hingga akhirnya berdiri di depan Taj Mahal pagi itu. Perjalanan terasa begitu padat sampai waktu seperti berlalu lebih cepat dari yang seharusnya.

Sesuai itinerary yang sudah kami susun sejak di Indonesia, malam nanti kami akan meninggalkan Agra dengan kereta sleeper menuju Gorakhpur, sebuah kota di Uttar Pradesh yang lokasinya tidak jauh dari perbatasan India dan Nepal. Perjalanan akan ditempuh semalaman, dan jika semuanya berjalan sesuai rencana, keesokan harinya kami sudah berada di kota tersebut.

Petualangan belum berakhir, tepatnya akan berlanjut di negara berikutnya, Nepal. Dari Gorakhpur, kami berencana langsung menyeberang ke Nepal melalui Lumbini, tempat kelahiran Siddhartha Gautama, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pokhara. Dari Pokhara baru terakhir naik bus kembali ke Kathmandu sebelum terbang ke Indonesia.

Kalau dipikir-pikir sekarang, rencana itu memang terdengar cukup ambisius. Dalam hitungan hari kami akan berpindah dari India Selatan ke India Utara, lalu menyeberang ke negara lain dan melanjutkan perjalanan darat berjam-jam lagi. Namun saat itu semuanya terasa masih sangat mungkin dilakukan. Setidaknya di atas kertas, seluruh rencana tersebut terlihat rapi dan masuk akal.

***

Sekitar pukul enam sore, aku dan Fredo meninggalkan penginapan kami di Agra menuju stasiun kereta. Backpack besar sudah menempel di punggung, sementara tas kecil kubawa di depan dada seperti biasa. Sesuai jadwal, kereta Avadh Express yang akan membawa kami ke Gorakhpur seharusnya berangkat sekitar pukul sembilan malam. Kami datang lebih awal, mencari tempat duduk di peron, membeli minum, lalu menunggu sambil mengobrol tentang rencana perjalanan berikutnya. Kalau semuanya berjalan lancar, besok kami sudah berada di Nepal.

Namun seperti banyak hal selama perjalanan di India, kenyataan ternyata punya rencana lain.

Menjelang waktu keberangkatan, papan informasi stasiun menunjukkan bahwa kereta kami mengalami keterlambatan. Awalnya aku tidak terlalu khawatir. Kereta terlambat satu atau dua jam rasanya bukan sesuatu yang aneh di sini. Kami pun tetap santai, duduk di bangku peron sambil sesekali memperhatikan lalu-lalang penumpang.

Satu jam berlalu.

Lalu dua jam.

Kereta masih belum datang.

Setiap kali jadwal di papan informasi diperbarui, waktu kedatangannya kembali mundur. Rasa penasaran mulai muncul. Aku dan Fredo akhirnya menghampiri petugas stasiun untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Dari penjelasan yang kami dapatkan, ada gangguan pada jalur kereta akibat banjir di wilayah sekitar Mumbai. Masalahnya, tidak ada yang bisa memberikan kepastian kapan kereta kami akan tiba di Agra. Bahkan petugas stasiun sendiri hanya bisa menyarankan kami untuk terus memantau pengumuman berikutnya.

Mendengar jawaban itu, kami hanya bisa pasrah.

Malam semakin larut. Penumpang yang tadinya masih ramai mulai satu per satu mencari posisi untuk beristirahat. Sebagian menggelar koran di lantai, sebagian lagi menjadikan tas mereka sebagai bantal. Keluarga-keluarga tampak sudah sangat terbiasa menghadapi situasi seperti ini.

Karena tidak ada kepastian kapan kereta datang, kami akhirnya memutuskan bertahan di stasiun dan mencoba tidur di peron. Malam itu bisa dibilang menjadi salah satu malam paling tidak nyaman selama perjalanan India-Nepal kami.

Peron tempat kami menunggu cukup kecil dan berdebu. Di beberapa sudut terlihat gelandangan yang tertidur nyenyak seolah tempat itu adalah rumah mereka sendiri. Sesekali polisi stasiun berkeliling memeriksa keadaan. Salah seorang sempat menghampiri kami dan menyarankan agar kami tidur bergantian supaya barang bawaan tetap aman. Kami mengangguk, berterimakasih dan bergantian berjaga menjaga tas.

Meski disebut tidur, sebenarnya lebih mirip memejamkan mata sambil menunggu waktu bergerak. Setiap kali aku mulai terlelap, sering sekali suara kereta barang yang melintas sukses membangunkanku lagi. Suaranya benar-benar menggelegar, bergema di seluruh area stasiun. Belum lagi debu yang membuat badan terasa lengket dan gatal.

Yang lebih menantang lagi tentu saja urusan toilet.

Jujur saja, toilet stasiun malam itu termasuk salah satu yang paling ekstrem yang kutemui selama perjalanan. Untuk sekadar buang air kecil aku harus menahan napas beberapa detik. Bau menyengat langsung menyerbu begitu pintu dibuka. Di beberapa sudut bahkan terlihat tumpukan kotoran manusia yang membuatku buru-buru menyelesaikan urusan lalu keluar secepat mungkin.

Backpacking memang sering terlihat keren di foto-foto. Yang tidak terlihat adalah momen-momen seperti ini. Tidur di peron berdebu, menunggu kereta yang entah kapan datang, sambil berharap malam segera berlalu.

Menjelang subuh rasa kantuk dan lelah bercampur menjadi satu. Aku bahkan tidak tahu apakah benar-benar tidur atau hanya setengah sadar ketika tiba-tiba suara klakson panjang terdengar dari kejauhan.

Aku membuka mata.

Di ujung rel terlihat rangkaian kereta merah perlahan memasuki stasiun.

Avadh Express.

Akhirnya datang juga.

Jam menunjukkan sekitar pukul enam pagi.

Aku segera bangun, mencuci muka seadanya di wastafel stasiun, lalu bersama Fredo berjalan cepat menuju gerbong kami. Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama.

Begitu sampai di depan pintu gerbong, aku langsung terkejut.

Isinya manusia.

Benar-benar penuh manusia.

Orang berdiri di lorong, duduk di lantai, memenuhi area dekat pintu, bahkan sebagian terlihat berdesakan di antara tumpukan barang bawaan. Untuk masuk ke dalam saja kami harus menyelipkan badan dan mendorong backpack perlahan melewati kerumunan.

Ketika akhirnya berhasil masuk, masalah berikutnya langsung muncul. Tempat duduk yang tertera di tiket kami sudah ditempati orang lain.

Tentu saja.

Untungnya seorang pemuda lokal yang bisa berbahasa Inggris cukup baik membantu menjelaskan kepada para penumpang bahwa kursi tersebut memang milik kami. Setelah sedikit negosiasi dan saling bergeser, kami akhirnya bisa mendapatkan tempat duduk kami.

Meski kalau dipikir-pikir, menyebutnya sebagai mendapatkan kursi mungkin agak berlebihan. Karena pada praktiknya kami tetap berbagi ruang dengan beberapa penumpang lain beserta barang-barang mereka yang bertumpuk di mana-mana. Rupanya banyak penumpang tanpa tiket yang ikut naik karena kereta sudah terlalu penuh.

Perjalanan menuju Gorakhpur berlangsung sekitar empat belas jam. Di luar jendela, pemandangan pedesaan India terus berganti. Sawah, desa-desa kecil, stasiun mungil, dan aktivitas sehari-hari masyarakat India berlalu tanpa henti. Namun sejujurnya, hari itu aku tidak terlalu menikmati pemandangan. Tubuh sudah terlalu lelah setelah semalaman tidak benar-benar tidur.

Di dalam gerbong, aroma khas kereta India terus menemani perjalanan. Campuran makanan, debu, keringat, dan sesekali bau dari arah toilet yang terbawa angin ke dalam kabin. Untungnya para penumpang di sekitar kami cukup ramah. Beberapa sempat mengajak mengobrol dan bertanya kami berasal dari mana serta hendak pergi ke mana.

Ketika mendengar tujuan kami Nepal, beberapa langsung mengangguk-angguk sambil memberikan berbagai saran tentang perjalanan menuju perbatasan.

Menjelang malam, kereta akhirnya tiba di Gorakhpur.

Saat kakiku menginjak peron, rasanya seperti baru menyelesaikan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada empat belas jam. Badanku benar-benar remuk. Kurang tidur, duduk seharian di gerbong yang penuh sesak, ditambah malam sebelumnya tidur di lantai stasiun, semuanya mulai terasa sekaligus.

Sesuai rencana awal, sebenarnya kami ingin langsung menuju Nepal malam itu juga. Namun setelah bertanya kepada beberapa penduduk lokal, hampir semua memberikan jawaban yang sama. Mereka tidak menyarankan kami berangkat ke perbatasan pada malam hari. Selain transportasi yang lebih terbatas, perjalanan malam menuju kawasan perbatasan juga dianggap kurang nyaman untuk wisatawan.

Akhirnya kami memutuskan mengubah rencana.

Untuk pertama kalinya sejak berangkat dari Kochi, itinerary yang kususun jauh-jauh hari dari Indonesia harus dikoreksi. Ada satu kota yang akhirnya dicoret dan diganti dengan kota lain yang lebih memungkinkan dijangkau sesuai kondisi perjalanan. Sedikit menyebalkan memang, tetapi itulah backpacking. Kadang jadwal yang dibuat berbulan-bulan bisa berubah total hanya karena satu kereta terlambat.

Sebelum mencari hotel, kami sempat makan malam di sebuah warung sederhana dekat penginapan. Aku bahkan tidak tahu nama warungnya karena seluruh papan namanya ditulis menggunakan huruf Devanagari yang sama sekali tidak bisa kubaca. Yang kuingat hanya satu: kari ayamnya luar biasa enak. Kuahnya kaya rempah, hangat, dan terasa sangat pas setelah perjalanan panjang yang melelahkan.

Malam itu, sambil merebahkan badan di atas kasur hotel sederhana di Gorakhpur, aku membuka kembali itinerary yang sudah penuh coretan. Besok kami akan meninggalkan India dan memasuki Nepal melalui Lumbini, tempat kelahiran Siddhartha Gautama. Setelah itu rencananya langsung melanjutkan perjalanan menuju Kathmandu.

Entah akan berjalan sesuai rencana atau tidak, aku sudah tidak berani terlalu yakin. Dijalani saja!


Part Sebelumnya: DISINI