Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Sulawesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi. Tampilkan semua postingan

7.18.2024

[Journey of Sulawesi] PART 1 : Eksplore Bantimurung!

 Bandara Hassanudin, 8 Mei 2014

08.00 WITA

Dengan tiket promo Rp 5000 yang ane dapat dari Air Asia setahun sebelumnya, akhirnya menginjaklah kaki ane buat yang kedua kalinya di Pulau Sulawesi, tepatnya di Bandara Hasanuddin, Kabupaten Maros. Rencananya, kami akan mengelilingi Pulau Sulawesi selama 7 hari ke depan dengan target tempat yang dikunjungi adalah Kabupaten Maros, Kota Makassar, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Gowa.

Karena kami hanya 3 mahasiswa nekad dengan duit pas-pasan dan keinginan mengunjungi tempat  yang begitu banyak, maka tiada cara lain untuk melakukannya selain dengan cara backpacker abis. Niat awal ini langsung diuji saat kami mencari transportasi ke luar bandara yang kabarnya ada free shuttle bus, tapi ternyata sudah tak ada. Alternatif cara untuk keluar bandara adalah berjalan kaki sejauh kurang lebih 2 km atau naik bus Damri. Akhirnya kami memutuskan naik bus Damri, tapi setelah di dalam dan menanyakan tarifnya (yang ternyata jauh dekat sama-sama Rp 25.000). 

Rugi donk ya, padahal kalau jauh itu bisa sampai Kota Makassar yang berjarak 20 km dari bandara. Inilah ujian awal bagi perjalanan kami, akhirnya dengan muka dikebalin kami keluar dari bus dan berjalan kaki. Hahaha.

Info Update: Shuttle bus gratis dari bandara sampai cabang luar bandara sekarang sudah tidak ada lagi. Jadi alternatif jika ingin hemat adalah jalan kaki sejauh kurang lebih 2 km sampai cabang luar bandara dan naik pete-pete warna biru (angkot) sampai ke tempat tujuan.

Perjuangan harus berjalan kaki ditemani terik matahari Sulawesi ini akhirnya berakhir saat kami sampai di cabang luar bandara. Karena bandara ini sudah terletak di Kabupaten Maros, maka rencananya kami akan langsung melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Untuk menuju salah satu taman nasional Indonesia ini, bisa dilakukan dengan naik pete-pete warna biru dari cabang luar bandara sampai Pasar Maros (Rp 6000) dilanjut pete-pete dari Pasar Maros sampai ke pintu masuk Bantimurung (Rp 4000). Dari pintu masuk Bantimurung ini, bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter sampai ke gerbang masuk Bantimurung. Kalau males jalan kaki, minta tolong supir pete-pete aja untuk ngantarin sampai gerbang masuk Bantimurung. Biasanya supirnya mau n gratis.

Bantimurung merupakan salah satu taman nasional yang digunakan sebagai tempat penangkaran kupu-kupu terbesar di Indonesia. Wisatawan lokal yang ingin memasuki taman ini diwajibkan membayar Rp 20.000/orang. Segera kami menitipkan tas-tas besar di penjaga loket dan melanjutkan petualangan menjelajah Bantimurung dengan tas daypack.

Bantimurung ini merupakan suatu kompleks taman nasional yang bisa dibagi menjadi beberapa destinasi menarik seperti Air Terjun Bantimurung, Gua Batu, Gua Kasi Kebo, Gua Mimpi dan Musium Penangkaran Kupu-Kupu. Untuk masuk ke destinasi terakhir membayar kembali Rp 5000. Cukup murah karena di dalamnya kita bisa melihat berbagai jenis kupu-kupu dari berbagai family yang sudah diawetkan. Oya, mulai bulan Juni 2014 TN Bantimurung akan menyediakan fasilitas shuttle car gratis untuk keliling kompleks taman.


Destinasi pertama kami adalah Air Terjun Bantimurung. Air terjun ini merupakan daya tarik utama karena limpahan air sangat deras dengan ketinggian sekitar  5 meter yang mengalir dari bebatuan gamping. Satu hal yang menarik juga karena bebatuan yang kita injak tidak licin jadi cukup aman untuk bermain di bawahnya, hanya banyak terdapat sinkhole kecil jadi harus cukup berhati-hati dalam melangkah. Di Air Terjun ini juga disewakan ban jika ingin meluncur dari atas ke bawah, benar-benar seru. 




Destinasi kedua kami adalah Gua Batu. Untuk menuju gua ini, kami harus berjalan sejauh kurang lebih 700 meter ke arah sebelah kiri atas air terjun, dengan jalan yang menanjak kemudian menjadi datar. Perjuangan yang cukup melelahkan karena suhu udara yang begitu panas. Gua Batu ini merupakan sebuah gua alami yang terbentuk oleh proses pelarutan pada batuan gamping. Biasanya sebelum masuk wisatawan akan dikerubungi oleh jasa penyewa lampu senter maupun pemandu. Jika ingin cara backpacker abis sebaiknya membawa senter sendiri, atau simpelnya pakai senter HP. Wajib ya bawa senter, karena gelap banget gan. Di dalamnya banyak terdapat stalaktit, stalagmit maupun pilar dengan beraneka macam ukuran dan bentuk. Menarik sekali karena kita bisa melihat keindahan alam bebatuan gamping yang sungguh menawan.








Destinasi ketiga kami adalah Gua Mimpi. Wuahh, untuk kesini benar-benar dibutuhkan perjuangan ekstra keras karena jalan yang terus dan terus menanjak sejauh kurang lebih 800 meter ke arah kanan atas air terjun. Sejak dari bawah, kami sudah dibuntuti oleh beberapa pemandu yang menawarkan jasa untuk memandu kami menjelajah Gua Mimpi. Karena sedikit kesal, ane bilang aja bahwa ane udah pernah ke Gua Mimpi dan sudah hafal jalannya. Hahaha. Satu persatu dari mereka berguguran mengikuti kami. Interior Gua Mimpi tidak jauh beda dengan Gua Batu, hanya lebih sepi pengunjung serta lebih luas dan besar. Kenampakan stalaktit, stalagmit maupun pilar masih mendominasi. Interior gua ini terlihat masih disempurnakan dengan dibangunnya tangga-tangga untuk turunan curam dan pavling-pavling untuk jalan. Saat jalan sudah habis, kami ketakutan dan memutuskan untuk kembali. Hahaha.





Selesai dari Gua Mimpi, kami pun kembali turun ke bawah dan mengunjungi Museum Penangkaran Kupu-Kupu. Dengan membayar Rp 5000/orang kami sudah bisa melihat ratusan koleksi kupu-kupu dari berbagai family yang sudah diawetkan. Kupu-kupu tersebut sebagian besar berasal dari Sulawesi, namun ada juga yang berasal dari luar pulau.



Sangat indah. Selain Museum, biaya masuk yang tergolong cukup murah tersebut juga termasuk ke beberapa tempat penangkaran kupu-kupu yang berada di sampingnya. Disini kami dipandu oleh anak penjaga tiket yang sangat cerdas menerangkan tentang bagaimana kupu-kupu di Bantimurung dikembangbiakkan. Kupu-kupu tersebut dikembangbiakkan dalam kondisi yang terkontrol untuk menjaga keberagaman spesies dan mendukung upaya pelestarian. Proses pengembangbiakan ini sering dilakukan dalam rumah kaca atau kebun yang dirancang khusus untuk menciptakan lingkungan yang ideal bagi kupu-kupu, termasuk Mengatur suhu dan kelembapan yang sesuai agar kupu-kupu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, Menyediakan tanaman inang yang diperlukan oleh larva untuk berkembang dimana tanaman ini merupakan sumber makanan utama bagi ulat kupu-kupu, menyediakan nectar atau pakan yang sesuai bagi kupu-kupu dewasa, memastikan bahwa kupu-kupu terlindungi dari predator dan penyakit.

Selain itu, si anak cerdas juga bilang bahwa di sepanjang sungai di samping penangkaran biasa ditemukan iguana saat musim hujan. Kami sempat melihat 1 iguana saat itu. Karena merasa sangat senang dengan kecerdasannya, kami pun memberinya uang 5000 buat jajan. Dan saat itu ane sempat berpesan untuk menyuruhnya kuliah biologi hehehe.

Akhirnya selesailah kunjungan kami di Bantimurung dan kami menaiki pete-pete Rp 13.000 untuk menuju kota Makassar dilanjut dengan pete-pete lainnya Rp 4000 untuk menuju daerah dekat Pantai Losari.

Perjuangan kami tidak sampai disini karena kami masih harus mencari penginapan yang kami belum booking dan tahu alamatnya. Akhirnya total kami berjalan sejauh total 8 km hari ini dan berakhir di penginapan It Inn dengan rate Rp 200.000/malam untuk bertiga orang. Fasilitasnya ada AC, Kamar Mandi dalam, king bed, TV. Cukup fair. Apakah perjuangan berjalan kaki sampai disini saja? Tentu saja tidak karena kami masih punya agenda lain yakni mengunjungi Pantai Losari (yang berjarak sekitar 500 meter dari penginapan) serta mencicipi salah satu kuliner khas Makassar. Namanya juga liburan kejar tayang hehehe.

Selesai mandi dan beristirahat sejenak, malamnya kami lanjutkan berjalan kaki menuju Pantai Losari. Malam itu suasana di sekitar Pantai cukup ramai dan pencarian kuliner kami berhenti di sebuah warung Mie Titi yang cukup ramai pengunjung. Disana kami memesan Mie titi, Mie Kuah dan Nasi Goreng untuk dimakan bertiga. Mie Titi ini bahan dasarnya berupa mie coklat kering yang ditaburi oleh sayur-sayuran campur daging macam cap cay. Rasanya sangat muantap.

Selesai dari sini kami meluncur ke anjungan Pantai Losari. Disana kami sempat berfoto-foto dengan tulisan raksasa PANTAI LOSARI maupun jajan makanan setempat. Di jalan pulang kami sempat membeli pisang epe, salah satu kuliner khas Makassar juga. Awalnya ane sempat kira kalau pisang epe itu rasanya cuma satu aja yaitu rasa manis gula aren, tapi ternyata rasanya ada macem-macem kaya coklat n durian. Cara membuatnya cukup sederhana, yakni pisang dibelah dua dan dibakar, kemudian diberi rasa sesuai permintaan pembeli. Satu porsi dihargai 16ribu rupiah.

Beberapa saat kemudian akhirnya ane sampai penginapan dan istirahat untuk mengumpulkan tenaga kembali karena esok akan menuju Tanjung Bira. Makassar rock and roll!!

8.24.2014

Perjalanan Membelah Indonesia Tengah-Timur Selama 1 Bulan: I Found My Self!

Rute penjelajahanku selama satu bulan. Mulai dari Surabaya-Makassar-Bulukumba-Tana Toraja-Gowa-Maros-Surabaya-Banyuwangi-Denpasar-Kupang-Soe-Atambua-Surabaya-Solo.

15 Mei 2014
di dalam Kereta Sritanjung jurusan Surabaya-Banyuwangi

Well, kenapa ya kalau liburan rasanya waktu berjalan cepat bangat? Yah, meskipun cukup singkat, liburan ke Sulawesi Selatan ini telah menyembuhkan kegalauanku yang sempat mencapai to the max sebelum berangkat. Hehe. Sekarang bisa dibilang, galauku sudah hilang. Aku hanya ingin bercerita, aku ingin mengekplore lagi setiap sudut Indonesia. Aku ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa Indonesia adalah negara yang sangat indah, dan mereka sangat harus mengunjunginya. Aku banyak melihat sesuatu yang menyulutkan semangatku selama traveling.

Pada tanggal 15 Mei 2014, pukul 11.38 am, di Stasiun Gubeng Lama Surabaya adalah saat aku mengucapkan selamat tinggal (sementara) buat kedua travelmate-ku yang sudah bersama-sama selama 9 hari 8 malam terakhir ini. Mereka harus melanjutkan perjalanan ke Jogja, sementara aku ke Bali. Sedih? Sedih bangat, sekarang kerasa bangat bedanya. Aku di kereta Sritanjung jurusan Banyuwangi sendirian, yang biasanya ada teman cerita-cerita. Tapi aku percaya, kita tidak akan pernah sendiri. Kita akan selalu menemukan teman di sepanjang jalan.

Well, trip ke Sulawesi Selatan ini merupakan salah satu trip yang paling berkesan untukku. Hal itu karena aku kembali melihat budaya Indonesia yang begitu mengesankannya, terutama saat di Tana Toraja. Hal ini membuatku semakin mencintai negaraku dengan keindahan alam dan budayanya.
Over all, kami berhasil mengunjungi 4 kabupaten dan 1 kotamadya yakni:

1. Kabupaten Maros -->  Bantimurung, Gua Batu, Gua Mimpi, Kompleks Gua Purbakala Leang-Leang
2. Kabupaten Bulukumba --> Tanjung Bira, Pembuatan Kapal Pinisi, Pulau Liukang
3. Kota Makassar --> Pantai Losari; Makassar City Hall; Kuliner Mie Titi, Coto dan Pisang Epe; Otak-Otak Bu Elly;
4. Kabupaten Gowa-->  Air Terjun Parangloe
5. Kabupaten Tana Toraja-->  Batutumonga, Lokatonda, Kota Rantepao, Kete Kesu, Londa, Sulaya, Gambira

Capek? Sangat. Tapi tidak ada yang bisa menggantikan kepuasan ketika aku berhasil mengunjungi semua tempat itu. Tempat-tempat yang awalnya hanya sering kulihat di internet/TV, sangat senang ketika bisa melihat semuanya secara langsung.

Foto di Makassar Hall

Setelah sekian lama, akhirnya bisa mengunjungi Bantimurung kembali..

Air Terjun Parangloe, Kabupaten Gowa. Butuh sekitar 2 km trekking dari tempat parkir.

Keindahan Pantai Tanjung Bira Timur dengan latar belakang Kapal Pinisi

Akhirnya sampai juga di Tana Toraja :)

Cerita mengharukan?menyebalkan? Of course ada, inilah yang membuat perjalanan semakin berwarna bukan? Cerita mengharukan terjadi ketika kami sedang di Kabupaten Tana Toraja. Disana, kami ditampung oleh saudara teman kami yang adalah seorang dokter gigi. Baiknyaaa....masyaAllah....Beliau adalah salah satu dokter gigi paling terkenal di daerahnya, dan disaat pasiennya sedang menumpuk, beliau masih sempat menemui kami, mencarikan aku charger BB, mengantarkan kami ke pool bus naik mobil saat hujan deras, menyewakan kami motor dan meminjami kami 1 motor tril untuk keliling toraja, membelikan kami makan, bahkan berpesan kalau ada teman/saudara yang mau ke Toraja dipersilahkan menginap di rumahnya dan di saat akhir, malah mengucapkan terimakasih karena kami bersedia mampir di rumahnya selama di Tana Toraja. Aduh kebalik bapak, kami yang berterimakasih sekali.....

Selain Pak Dokter, kami banyak bertemu teman baik selama di Sulawesi. Saat perjalanan dari Makassar ke Bulukumba, kami bertemu pasangan Perancis-Perancis half Thai (Boni dan Surya) sehingga menambah teman baru. Kami banyak bercerita tentang budaya negara kami masing-masing, sehingga perjalanan menjadi terasa tidak lama. Selain itu, saat pulang dari Bulukumba ke Makassar, kami bertemu dengan 2 teman lagi asli Makassar (Kak Oliv dan Kak Doni). Mereka menyayangkan kenapa kami tidak ke Pulau Selayar dan Pulau Takabonerate, dan malah mentraktir kami kopi dan pop mie (gue) saat pulang, padahal baru kenal, terimakasih kakak. Hehehe.

Cerita menyebalkan terjadi ketika kami dipalak habis-habisan oleh supir kijang yang mengantarkan kami dari Kabupaten Bulukumba ke Kota Makassar. Tidak main-main, kami bertiga dimintai uang total 500.000 untuk membayar biaya transportasi kijang. Hal itu dikarenakan kijangnya tidak penuh, jadi kami harus membayar kekurangan 1 orang. Gimana nggak lemes...Padahal jarak Bulukumba-Makassar hanya sekitar 5 jam perjalanan. Tapi yasudah, biarlah itu menjadi salah satu pengalaman yang tidak boleh diulang.

Singkatnya, tanggal 15 Mei 2014, akhirnya berakhirlah petualangan kami menjelajah Sulawesi Selatan. Kami mengakhiri malam di Bandara Hassanudin dengan makan ikan kakap dan tidur klesotan di Mushola Bandara dengan membawa sejuta kenangan. Thanks Celebes!!
                                                                                                         ***

BALI
15-16 Mei 2014
Pukul 22 Waktu Indonesia Barat, akhirnya sampailah aku di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Ujung Timur Pulau Jawa. Apa yang aku lakukan? Pulau Bali akan menjadi tujuanku selanjutnya, bukan berlibur, hanya sebagai tempat transit sebelum melanjutkan petualangan berikutnya a.k.a menuju bandara. Aku akan terbang ke Kupang dari Denpasar sore ini.

Saat bertanya kepada seorang pedagang tentang ferry ke Pulau Bali, mas-nya menyarankan aku untuk ambil bus Banyuwangi-Denpasar yang banyak stand by di depan pelabuhan, jadi nyebrangnya bareng bus. Karena menurutnya sangat rawan bagi aku untuk jalan sendirian tengah malam. Tapi karena sudah pernah menyeberang Pulau Bali tengah malam, aku tetap bertekad akan naik ferry sendirian dan mengambil bus menuju Denpasar saat sudah sampai Pulau Bali. Ternyata semuanya berjalan lancar, penyeberangan hanya berlangsung selama 1 jam dan aku terdampar sendirian di Pulau Bali tengah malam. Apa yang harus aku lakukan? Jujur aku nggak tau.

Akhirnya setelah bertanya kepada beberapa petugas, aku dibilang bahwa bus ke Denpasar baru ada jam 2 pagi, padahal saat itu waktu baru menunjukkan jam 24.00 WITA. Yaudah gue pun berhenti di sebuah warung kopi kecil dan ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung serta Bapak Polisi. Mereka sangat membantu dan menunjukkan bus mana yang harus kutumpangi untuk menuju Denpasar. Thank you!!! Jam 2 lebih sedikit, akhirnya aku sudah berada di Bus yang akan mengantarkanku ke Denpasar.

Perjalanan selama 3 jam dari Pelabuhan Gilimanuk ke Denpasar berlangsung cukup lancar dan cepat. Di dalam bus aku banyak merenung, aku merenungkan tentang kehidupan yang kujalani sekarang, betapa aku sangat menikmati proses ‘melarikan diri selama sebulan’ dari rumah ini. Hehehe. Rasa rindu ke rumah seakan tidak ada, hanya ada rasa rindu untuk keluarga. Bagaimanapun, aku ingin seperti inilah kehidupanku kelak. Mempunyai beberapa usaha wiraswasta bidang travel agency yang bisa kupercayakan pada seseorang sementara gue-nya terus mbolang. Haha. Gue bisa membayangkan di masa depan, traveling menjadi semacam gaya hidup dan mungkin suatu saat akan menjadi kebutuhan, pasar yang menarik.

Singkatnya, setelah naik ojek seharga 50rb dari Terminal Ubung, sampailah aku di Bandara Ngurah Rai, segera menuju mushola untuk sekedar merebahkan badan sampai menunggu waktu check in jam 12.30 nanti. Di mushola ini, aku berkenalan dengan seorang teman asal Jawa juga yang akan menuju Kupang. Dia bercerita tentang pekerjaannya di Pertamina sebagai penyalur minyak di NTT.  Jadi setelah sampai Kupang, dia akan berkeliling NTT (ke pulau-pulau kecil juga) menggunakan kapal pertamina untuk menyalurkan minyak. Aku sangat tertarik dengan pekerjaannya dan membayangkan betapa asyiknya bekerja seperti itu, bisa berkeliling NTT bahkan sampai pulau-pulau kecilnya dengan gratis. Menunggu selama berjam-jam menjadi tidak terasa karena aku sangat menikmati cerita teman baru ini, akhirnya pukul 13.00 aku segera menuju ruang keberangkatan untuk check in.

Oya cerita lucunya, pagi-pagi gue sempat dimarahi petugas kebersihan Bandara Ngurah Rai karena mandi di kamar mandi (yang harusnya kamar mandi kering). Eee, emang gue pikirin? Hehehe (edisi nakal dikit).


Suasana Bandara Ngurah Rai pagi hari...


KUPANG
16 MEI 2014
Entah kenapa, setiap kali kembali ke Pulau Timor aku merasakan seakan sedang pulang kampung setelah sekian lama. Hmm, mungkin perasaan yang terlalu lebe. Tapi aku benar-benar merasakan kenyamanan setiap kali menginjakkan kaki disini, ini adalah ketiga kalinya aku ke Timor.

Segera setelah turun di bandara, aku sudah dijemput oleh beberapa kawan dari Universitas PGRI yang salah satu kost-nya menjadi host selama gue di Kupang. Hmm, mereka baik-baik sekali. Pertanyaan utama, apa yang gue lakuin di Timor untuk ketiga kalinya? Hmm, simak saja.

Sebenarnya salah satu tujuan utama datang ke Timor adalah pulang kampung, dan tentulah jalan-jalan tidak kulewatkan jika kebetulan teman-teman host gue itu sedang kuliah. Ada temen gue yang tanya, “Lah, lo kan udah pernah ke Kupang? Ngapain kesana lagi?”. Gue jawab, “ Kupang itu nggak selebar daun kelor, masih banyak tempat wisata yang belum gue jabah.” Jadilah kegiatan gue selama 10 hari di Kupang lebih banyak dihabiskan dengan jalan kesana kemari.

Karena kebetulan bisa mendapat pinjaman motor selama 3 hari, gue pun langsung ajak 2 teman pgri motoran sampai ke Soe untuk mengunjungi Air Terjun Oehala. Jadi tebaklah, 1 motor boncengan 3 orang, gue yang boncengin, yang tengah nggak pakai helm, hahaha. Gue pikir jarak Kota Kupang-Soe itu seperti Jogja-Solo, eee ternyataa 110 km dan belok-belok ala pegunungan tak aes-aes dan sepi nyenyet (selama ini gue biasa naik bis dan tidur jadi nggak terasa terlalu lama pas lewat pegunungan). Dan dinginnyaa, awii (karena Benua Australia mulai masuk musim dingin). Sempat mau jatuh 1x pas membelok curam gara-gara sebelumnya gue ngetawain orang di depan gue yang mau jatoh, Astafirulloh.


Air Terjun Oehala, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Selain Soe, selama disana gue juga kembali mengunjungi desa KKN gue tercinta, Desa Rinbesi Hat di Atambua. Disana nginap di rumah salah seorang adik, dan gue belajar banyak tentang cara menggembalakan sapi (ternyata gampang, tinggal pukul aja bokong sapi pakai ranting mereka udah tau jalan sendiri), memasak di lopo, makan nasi kacang maupun nasi jagung, mandi di sumur umum dengan pakaian lengkap masih dipakai, angkut-angkut air cukup jauh untuk air minum, mendengarkan percakapan Bahasa tetun terus menerus, digigit kutu busuk, wuaah pokoknya Atambua selalu jadi tempat yang nyaman dan menyenangkan buat gue. Always.

Disini gue jadi tau bagaimana anak-anak Atambua dididik sejak kecil, di Atambua semua anak seakan sudah disetting untuk membantu orangtuanya bahkan tanpa disuruh sekalipun. Misalkan membantu panen padi, membantu menyiram sayuran, memasak, angkut air. Itu semua dilakukan bahkan oleh anak-anak SD-pun, tanpa mengeluh atau apa. Bandingin disini yang anak-anak kecil aja udah sibuk main tablet/ipad, eaaaa -,- (iri belum bisa beli ipad ya? Hehehe, nggak pengen juga).

Over all, selain Soe dan Atambua , aku menghabiskan waktu di Timor dengan jalan-jalan keliling Kota Kupang. Mulai dari menggeje sore-sore dengan main ke Pura Oebanantha. Soalnya unik khan, di Kupang yang mayoritas Nasrani ada Pura, jadi gue penasaran. Pas lihat orang berdoa di dalam Pura, gue lihat mereka pada ga pakai sandal, yaudah gue pikir masuk di Pura ga boleh pakai sandal, yaudah sandal gue cangking. Eh waktu mereka selsai berdoa, mereka pada nanyain kenapa aku nggak pakai sandal. Hahaha, daripada malu gue jawab aja deh kaki lagi sakit. Gue ditanyain asalnya darimana, agamanya apa, dll. Ternyata Pura ini welcome untuk semua agama, aku menghabiskan beberapa saat disini untuk merenung religi dan melihat sunset,kebetulan memang pura-nya di pinggir laut!


Gerbang masuk Pura Oebananta

Sore yang syahdu kuhabiskan di pura...

Gue selalu merasa orang-orang disini sangat baik dan suka membantu, seperti beberapa kali aku dibantu dicarikan dan diberhentikan bemo saat tanya ‘bemo apa yang harus dipakai ke tempat tujuan’; gue sempat digratiskan naik bemo (padahal bemo-nya nggak lewat jalur gue, gue malah dianterin dan supirnya nggak mau dibayar hikz hikz); gue sempat mau diantarkan ke Gua Monyet oleh supir Bemo lampu 1 dan katanya gak bayar, tapi gue nolak karena nggak enak dan itu bukan jalurnya; gue sempat diantarkan pakai mobil oleh seorang yang gue tanyain ‘ dimana letak Mall Flobamora’, katanya kasihan karena gue dari Jogja dan sendirian; gue ketemu dengan Kak Inda (teman jalan-jalan dari Kupang) yang ngobrol seru dan malah traktir gue (makasi kakak). Hehehe, Terimakasih semuanya. Itu semua yang bikin gue cinta mati sama Timor, bukan kemodernan maupun kekayaan yang gue cari, tapi keramahan dan kebersahajaan orang-orangnya.


Bemo (diskotik berjalan) Kota Kupang yang berjasa mengantarkan ane keliling kota.. ajeb-ajeb!

Over all, tempat di Kupang yang gue kunjungi selama perjalanan ini adalah Taman Doa Oebelo, Pantai Manikin, Cafe Forjes, Pantai Tedis, Pantai Ketapang Satu, Pantai Pasir Panjang, Mall Flobamora, Goa Monyet-Pelabuhan Tenau, Pura Oebanantha, Pasar Oeba, dll uokeh.


Kejar sunset di Pantai Pasir Panjang, Kota Kupang

Salah satu sudut spot foto Taman Doa Oebelo di Kabupaten Kupang

Menikmati kesendirian di Pantai Manikin, Kota Kupang

Bersantai di seberang jalan Gua Monyet di dekat Pelabuhan Tenau..

Panas-panasan di Pantai Ketapang Satu, salah satu pantai paling terkenal di Kota Kupang..

Pada 29 Mei 2014, pukul 15.35 gue harus kembali menelan pil pahit karena harus pulang dan meninggalkan Pulau Timor. Saat pesawat Lion Air  tujuan Kupang-Surabaya sedikit demi sedikit mulai mengudara, hati ini terasa sangat hancur dan hanya bisa melihat Pulau Timor yang semakin lama semakin mengecil dan menghilang. See you next time, Timor!
   ***

30 Mei 2014
02.00 am
Pukul 02.00 pagi, tanggal 30 Mei 2014, aku harus menerima kenyataan bahwa proses ‘kabur dari rumah’ selama satu bulan itu akhirnya berakhir sudah. Aku sudah berada di kamarku lagi, mengetik jurnal traveling ini, sambil pikiranku masih berkelana membayangkan semuanya. Semua pengalaman yang kini hanya terekam di memori dan hanya bisa dituangkan dalam tulisan maupun gambar. I’ll do it again for sure!