Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Malaysia2017. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaysia2017. Tampilkan semua postingan

8.27.2025

[2] CHINA TRIP DIARY: Hari Keberangkatan, mampir Genting Highlands!

 Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke China yang aku lakukan dari 23 Maret 2017 - 28 Maret 2017. Perjalanan ke Malaysia ini aku lakukan sewaktu aku mengambil penerbangan transit terpisah, Surabaya-KL dan KL-Beijing. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.


Part Sebelumnya : DISINI


Surabaya, 23 Maret 2017
Bandara Internasional Juanda, Surabaya


Setelah menunggu hampir 9 bulan, akhirnya hari ini datang juga. 23 Maret 2017. Hari dimana aku akan memulai perjalanan solo backpacking lagi setelah terakhir melakukannya 4 tahun yang lalu di Singapura - Malaysia dan Filipina. Tujuan kali ini adalah China. Aku sendiri mendapatkan tiket promonya di Juni 2016 lalu dimana untuk rute KL-Beijing-KL, aku mendapatkan harga 1.5 juta PP. Harga yang murah menurutku, karena penerbangan KL-Beijing sendiri hampir 6 jam.

Sore itu, aku berangkat dari kos di Surabaya naik taksi, santai-santai saja karena merasa waktu masih cukup. Sampai di Bandara Juanda, aku langsung turun dan masuk ke Terminal 1. Eh, baru beberapa langkah masuk, aku tersadar… lah, Air Asia itu kan dari Terminal 2! SIAL. Jam sudah mepet, jantung langsung berdegup kencang. Aku buru-buru cabut ke Terminal 2 dengan perasaan setengah panik, setengah pasrah. Hhh... Memang ga bisaa ya aku tu berangkat traveling tanpa buru-buru, hampir pasti seperti ini!

Belum selesai sampai di situ, saat pemeriksaan barang di scanner, tripodku ikut tersangkut. Katanya tripod tidak boleh masuk kabin. Mas petugas sampai minta maaf berkali-kali, padahal tripodku cuma seharga seratus ribuan. Aku malah jawab santai, “nggak apa-apa mas, sita aja, demi keamanan negara.” Sebenarnya masnya nyaranin supaya aku bagasiin tripod itu, tapi setelah aku pikir-pikir, biaya wrapping + bagasi bisa lebih mahal daripada beli tripod baru. Ya sudahlah, aku ikhlaskan. Tripod kesayangan yang setia menemani perjalanan harus rela tinggal di Juanda.

Dan lucunya, setelah aku ngos-ngosan tergesa-gesa, setelah harus kehilangan tripod juga… pesawatnya malah DELAY. Rasanya cuma bisa ketawa kecil. Ada-ada saja kalau urusan perjalanan.

Tapi ya sudahlah. Ini solo backpacking pertamaku lagi setelah 4 tahun. Meski baru mulai sudah penuh drama, aku berharap langkah selanjutnya lancar. Let the journey begin!

Penerbangan Surabaya – Kuala Lumpur berjalan lancar. Tidak ada turbulensi berarti, aku bahkan bisa sedikit rileks di kursi pesawat sambil menenangkan pikiran setelah drama di Juanda tadi. Sekitar jam 6 sore aku sudah mendarat mulus di KLIA2.

Karena penerbanganku ke Beijing masih besok malam, aku sudah menyiapkan rencana untuk transit panjang di Kuala Lumpur. Malam ini aku menginap di sebuah hostel dorm sederhana di kawasan KL Sentral, yang kubooking seharga 49 ringgit per malam. Dari KLIA2 aku naik bus langsung menuju KL Sentral. Begitu turun, aku melanjutkan dengan berjalan kaki menuju hostel. Ternyata tidak sulit menemukannya, cukup ikuti petunjuk di maps dan beberapa papan arah.

Setelah meletakkan ransel, aku sempat keluar sebentar mencari makan malam. Kuala Lumpur di malam hari selalu punya suasana khas—ramai tapi tetap terasa santai. Usai makan, aku memutuskan untuk langsung kembali ke hostel dan beristirahat, karena besok pagi aku sudah punya rencana: naik bus menuju Genting Highlands.

Genting Highlands sendiri adalah kawasan pegunungan yang terletak sekitar 50 km dari Kuala Lumpur, di ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. Tempat ini terkenal sebagai “Las Vegas”-nya Malaysia, karena di sini ada resort mewah, kasino, pusat hiburan, dan juga taman bermain. Yang paling ikonik, ada kereta gantung (cable car) Genting Skyway yang membawa pengunjung melintasi lembah dan hutan tropis. Selain untuk hiburan, Genting juga populer karena udaranya sejuk, berbeda jauh dengan teriknya kota Kuala Lumpur. Aku benar-benar penasaran kesini setelah melihat beberapa postingan di grup backpacker. Dekat KL, ada pegunungan? Kok kayaknya asik.

Malam itu aku mendapat kasur di ranjang tingkat atas. Awalnya kupikir akan langsung terlelap, tapi ternyata cukup susah tidur. Suara-suara kecil dari tamu lain, bunyi AC, dan bayangan perjalanan esok hari bikin aku gulang-guling ke kanan kiri. Setelah beberapa lama, akhirnya mataku berat juga. Perlahan aku terlelap.

Hoahhhmmm. Thank you for today!


Kuala Lumpur, 24 Maret 2017

Pagi itu setelah mandi dan sarapan sederhana di hostel, aku langsung check out. Ransel kutitipkan di resepsionis biar tidak repot, lalu aku bergegas menuju KL Sentral untuk membeli tiket bus ke Genting Highlands. Katanya, tiket bus ke sana kalau dibeli semakin siang, maka jadwal keberangkatannya juga semakin siang. Syukurlah aku datang cukup pagi, jadi masih bisa dapat keberangkatan sekitar jam 10.

Bus pun berangkat tepat waktu. Perjalanan dari KL Sentral menuju Genting memakan waktu sekitar 1 jam lebih. Jalanan mulai menanjak, berkelok-kelok, dan udara terasa semakin sejuk. Aku duduk di sebelah seorang Cece yang awalnya kukira orang Malaysia. Eh ternyata, dia sendiri yang membuka percakapan dan bertanya, “Kamu dari Indonesia ya?” Dari situlah kami mulai ngobrol panjang.

Dia cerita kalau tujuannya ke Genting untuk main di kasino. Aku agak kaget—wow, ternyata memang ada orang yang rutin bolak-balik ke sini hanya untuk berjudi. Dia dengan enteng bilang, “Sering kok ke kasino. Nanti kamu ikut aja, gratis minum di dalam. Cuma harus bawa paspor dan semua barang dititipkan.”

"Oke siap nanti aku ikut ce," kataku. 

Sampai di stasiun gondola Genting, kami - aku dan cece - langsung menuju mesin tiket otomatis. Suasananya ramai, deretan orang sudah mengular rapi menunggu giliran. Aku ikut mengantre bersama para pengunjung lain, mata sesekali melirik layar mesin yang menampilkan pilihan tiket. Setelah beberapa menit, tibalah giliranku. Aku membeli tiket pulang–pergi cable car, supaya nanti lebih mudah saat turun kembali.

Antrian untuk naik gondola lumayan panjang, tapi mengalir lancar. Orang-orang berdiri sabar menunggu, sementara di kejauhan gondola merah sudah terlihat berayun masuk ke stasiun. Begitu pintu terbuka, penumpang dipersilakan masuk bergantian.

Saat giliranku tiba, aku melangkah masuk ke kabin gondola bersama beberapa penumpang lain. Pintu menutup otomatis, dan perlahan gondola terangkat meninggalkan stasiun. Gondola perlahan naik menembus pepohonan tropis di lereng bukit Titiwangsa. Dari bawah terlihat lembah hijau yang dalam, sementara semakin tinggi kabut putih tipis mulai menyelimuti. Sensasinya seperti melayang di atas awan. Angin sejuk masuk lewat sela gondola, bikin perjalanan ini makin berkesan.


Semakin tinggi gondola menanjak, suasana perlahan berubah. Kabut putih turun menyelimuti, menutup pandangan sedikit demi sedikit. Gondola lain di depan tampak samar, muncul sebentar lalu hilang lagi ditelan kabut. Embun menempel di kaca jendela, membuat semuanya terlihat mistis, seakan aku sedang terbang menembus awan.

Beberapa menit kemudian, bayangan gedung-gedung besar mulai tampak di kejauhan. Hotel tinggi dengan tulisan Resort samar-samar muncul dari balik kabut tebal. Gondola terus bergoyang ringan dihembus angin, membawa kami mendekati kawasan puncak.

Begitu kabut agak menipis, pemandangan berganti dengan area konstruksi luas. Di bawah, atap-atap pelangi khas Genting terlihat berjejer mencolok, sementara gedung-gedung abu-abu sedang sibuk dibangun dengan crane dan alat berat di sekitarnya. Dari atas gondola, semuanya terlihat seperti miniatur.


Tak lama kemudian, gondola masuk ke stasiun atas. Pintu terbuka otomatis, dan aku melangkah turun. Sempat kuabadikan momen dengan berfoto di depan gondola merah bertuliskan Resorts World Genting. Wajahku masih terasa lelah, tapi ada rasa puas sekaligus kagum. Perjalanan singkat menembus hutan tropis, kabut, dan ketinggian ini sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

Begitu keluar dari stasiun gondola atas, suasana langsung berubah drastis. Dari dingin berkabut di luar, aku tiba-tiba masuk ke dalam ruangan raksasa yang penuh warna dan cahaya. Di depanku terbentang sebuah area besar bertema ala Times Square, lengkap dengan replika Patung Liberty berdiri gagah di tengah keramaian. Neon-neon berwarna-warni menyala, poster besar pertunjukan “Alice in Wonderland” terpampang di panggung, dan orang-orang berlalu-lalang dengan wajah sumringah. Rasanya seperti masuk ke dunia lain.


Aku terus berjalan menyusuri koridor. Di sisi kiri dan kanan berdiri toko-toko terkenal, restoran cepat saji, dan aneka hiburan yang menggoda untuk dicoba. Di atas, atap tinggi dilukis dengan nuansa langit biru, dihiasi lampu-lampu berbentuk bintang dan ornamen unik yang menggantung. Semakin aku melangkah, suasana makin riuh. Ada area dengan dekorasi dinosaurus, mobil-mobil yang tergantung, hingga lampu neon berbentuk naga berwarna hijau terang.

Aku memutuskan untuk muter-muter dulu, menikmati atmosfer Genting Highlands Resort yang memang dibangun seperti kota hiburan dalam gedung. Setelah puas foto-foto dan jalan-jalan, aku dan cece yang tadi ku kenal di bus akhirnya sepakat untuk masuk ke Genting Casino—ikon utama dari tempat ini.

Begitu menuju pintu masuk kasino, aturannya langsung terasa ketat. Semua kamera dan tas harus dititipkan terlebih dahulu di loker penyimpanan. Hanya paspor yang boleh kubawa sebagai identitas untuk masuk. Dengan sedikit deg-degan, aku akhirnya melangkah melewati pintu besar menuju dunia kasino Genting - “Las Vegas”-nya Malaysia. Aku melihat oma-oma dan opa-opa terlihat begitu semangat di depan mesin slot dan meja permainan, wajah mereka penuh konsentrasi dan gairah. Aku sendiri hanya jadi penonton—belum paham caranya. Tapi aku mengambil beberapa kali free drink yang memang disediakan di dalam. Hehehe, lumayan!

Awalnya aku masih ikut bersama Cece itu, tapi lama-lama aku ingin menikmati suasana dengan caraku sendiri. Aku memutuskan berpisah, duduk sebentar mengamati orang-orang, lalu berjalan berkeliling area kasino. Rasanya unik, seperti masuk ke dunia lain—ramai, penuh lampu, bunyi mesin, dan orang-orang yang larut dalam permainannya.

Keluar dari kasino, aku langsung disambut suasana yang kontras. Dari ruang penuh asap rokok, lampu berkilau, dan denting mesin slot, aku kembali ke area modern Genting yang lapang dan elegan. Langkahku membawaku ke sebuah atrium cantik, dengan café melingkar berdesain unik—kursi merah marun tersusun rapi mengelilingi meja putih, lantainya berpola zig-zag hitam putih. Dari atas terlihat begitu artistik, seperti ruang istirahat mewah di tengah pusat hiburan. Banyak orang duduk santai, menyeruput kopi, bercakap-cakap, atau sekadar menikmati waktu.


Aku lanjut berjalan menuruni eskalator panjang yang menghubungkan beberapa lantai. Dari kejauhan terpampang layar digital raksasa yang melingkar, menampilkan visual indah—gambar bunga, bebatuan, hingga burung yang terbang. Warnanya begitu tajam, seolah membawa nuansa alam ke dalam gedung modern ini. Aku berhenti sejenak, hanya untuk mengagumi permainan visual yang terus berganti di layar itu.

Di sekitarnya, toko-toko brand internasional berjejer, sementara suasana tetap ramai oleh pengunjung yang hilir-mudik. Aku merasa seperti berada di sebuah “mini city” di atas awan—ada hiburan, ada belanja, ada kuliner, semua lengkap dalam satu kompleks.

Setelah puas berkeliling dan mengamati detail arsitektur serta atmosfer yang begitu hidup, aku menyadari waktu mulai beranjak sore. Aku harus segera turun kembali agar bisa ke KL Sentral dan lanjut menuju KLIA.

Aku kembali ke stasiun gondola, naik ke kabin merah yang membawaku turun menembus kabut. Dari balik jendela kaca, tetesan air hujan menempel, membuat pandangan keluar semakin dramatis. Gedung-gedung tinggi di sekitar resort terlihat samar, seperti ditelan kabut putih yang begitu tebal.

Semakin gondola meluncur turun, kabut mulai menipis, berganti pemandangan hijau hutan tropis yang membentang luas. Jalur gondola terlihat panjang, tiang-tiang tinggi berdiri kokoh, sementara kabin-kabin lain tampak melayang tenang di udara. Aku duduk diam, menikmati momen ini—antara rasa lelah, dingin, dan takjub.

Hujan masih rintik-rintik, kaca gondola basah, tapi dari celah-celahnya aku bisa melihat lembah luas dan atap rumah-rumah kecil jauh di bawah. Perjalanan ini terasa begitu syahdu, seolah gondola sedang mengantarku perlahan kembali dari dunia “atas awan” ke dunia nyata di bawah sana.

Tak lama, stasiun bawah sudah terlihat. Mobil-mobil berjajar di jalan, lampu-lampu mulai menyala, menandakan hari sudah sore. Gondola akhirnya berhenti dengan mulus. Aku turun, melangkah keluar, dan menarik napas panjang. Saatnya benar-benar kembali—perjalanan Genting Highlands selesai, dan petualangan selanjutnya menantiku di KLIA menuju Beijing.


Malamnya, Bandara Internasional Kuala Lumpur Terminal 2
Dari stasiun gondola, aku kembali naik bus ke KL Sentral. Tas yang tadi kutitipkan di hostel sejak pagi kuambil, dan aku bersiap menuju bandara. Dari KL Sentral aku naik bus menuju KLIA2. Perjalanan lancar, sekitar satu jam.

Karena tahu penerbangan Kuala Lumpur – Beijing ini akan berlangsung semalaman, aku memutuskan untuk mengisi tenaga dengan makan berat dulu di NZ Curry House. Aku pesan Nasi Goreng USA ditemani segelas teh susu panas. Pas sekali rasanya untuk bekal sebelum terbang panjang.

Selesai makan malam di NZ Curry House, aku memilih untuk duduk di ruang tunggu,  beristirahat sejenak sebelum proses check-in dibuka. Bandara KLIA2 malam itu ramai tapi tetap terasa tertib, suara roda koper beradu dengan lantai, orang-orang lalu lalang dengan tujuan masing-masing.

Begitu jam check-in dibuka, aku segera menuju konter Air Asia. Prosesnya lancar, tanpa hambatan berarti. Bagasi aman, boarding pass sudah di tangan. Lanjut menuju imigrasi—syukurlah juga berjalan lancar. Tidak ada antrean panjang, hanya pemeriksaan singkat, cap paspor, dan aku sudah resmi berada di area keberangkatan internasional.

Setelah itu aku berjalan mencari gate untuk penerbangan ke Beijing. Di sinilah rasa nostalgia tadi datang—melihat deretan gate dengan tujuan ke berbagai kota di India. Delhi, Hyderabad, Kolkata. Seketika ingatanku kembali ke Juni 2016, saat aku dan Fredo berangkat ke Kochi. Rasanya masih begitu hangat dan dekat, seolah-olah perjalanan itu baru saja terjadi. Ada desir kecil yang berkata, “Aku ingin ke sana lagi… aku ingin kembali.”

Mungkin benar, aku sudah jatuh cinta pada Hindustan. Bahkan ketika tujuanku kali ini Beijing, bayangan India tetap hadir, menemaniku melangkah menuju gerbang berikutnya. Bagaimana ya, India itu memang sulit didefinisikan dengan satu kata. Di beberapa bagian ia indah—penuh warna, budaya, dan kehidupan yang begitu kaya. Di beberapa bagian lain, ia kacau, bising, dan bisa membuat kepala pening. Bahkan ada kalanya bikin benar-benar kapok, ingin cepat-cepat pulang.

Tapi anehnya, justru dari kekacauan itulah India melekat begitu dalam di memoriku. Setiap pengalaman, baik yang manis maupun yang pahit, seolah-olah menancap lebih kuat dibanding perjalanan ke negara lain. Ada sesuatu yang magis—ketika aku menuliskannya kembali, aku bisa tersenyum sendiri, seakan-akan sedang mengulang perjalanan itu sekali lagi.

Ah, India… selalu ada ruang khusus untukmu di hatiku.

Tapi aku biarkan nostalgia itu berjalan dan berlalu. Kini aku kembali fokus ke tujuan di depanku: Beijing. Setelah menunggu beberapa saat di gate, akhirnya proses boarding dimulai. Aku masuk bersama penumpang lain, langkah demi langkah menuju pesawat. Malam itu pesawatnya cukup besar, penuh dengan penumpang berbagai wajah—ada yang tampak lelah, ada yang bersemangat, ada juga yang sibuk dengan ponselnya.

Tempat dudukku berada di barisan tengah, di tepi dekat gang. Bukan posisi favorit, tapi cukup nyaman untuk perjalanan malam. Jujur, sempat terlintas rasa ngeri ketika mengingat tragedi Malaysia Airlines tahun 2014 yang hilang dalam penerbangan Kuala Lumpur – Beijing. Rutenya sama persis dengan yang kutempuh malam ini. Tapi aku pasrah. Perjalanan adalah bagian dari hidup, dan hidup sendiri selalu mengandung risiko.

Pesawat pun lepas landas. Perjalanan terasa cukup lancar. Sesekali ada guncangan turbulensi kecil, namun segera stabil kembali. Lampu kabin diredupkan, para penumpang mulai masuk ke dunia mereka masing-masing. Aku mencoba tidur, tapi hanya bisa tidur-tidur ayam. Kepala dan leher terasa tegang karena aku lupa membawa bantal leher. Setiap kali hampir terlelap, tubuhku seperti kaget sendiri, lalu kembali terjaga.

Hingga akhirnya, saat aku merasa mulai tertidur lebih dalam, tiba-tiba suara keras roda pesawat menyentuh landasan membangunkanku. Aku terperanjat.

“Owalah… udah landing,” batinku sambil tersenyum lemas.

Malam panjang di udara telah berlalu. Aku siap memulai petualangan ku di Beijing!


Part Selanjutnya : DISINI

5.04.2025

[3] Balada Eropa : Keberangkatan, banyak ERROR!

Cerita ini merupakan pengalamanku menjelajah Islandia dan Eropa Barat dari 21 Juni 2017 - 3 Juli 2017. Ini adalah perjalanan solo backpacking ketigaku, ke tempat terjauhku. Part selanjutnya dari setiap cerita aku beri linknya dibawah.

Part Sebelumnya : DISINI

Surabaya, 21 Juni 2017

Akhirnya... hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Hari ini aku memulai perjalanan solo backpacking ketigaku, sekaligus perjalanan terjauh yang akan pernah kutempuh. Perasaanku campur aduk. Ada rasa senang yang luar biasa karena mimpi lama akhirnya menjadi nyata, tapi di sisi lain, ada rasa sungkan yang mengganjal. Bagaimana tidak? Hari ini masih hari Rabu—tiga hari sebelum libur resmi Lebaran dimulai. Sebagai pegawai pemerintahan, aku terpaksa pamit lebih awal untuk mengejar penerbangan ke Kuala Lumpur sore ini.

Dua minggu sebelumnya, sebenarnya aku sudah memberanikan diri menemui atasan. Aku meminta izin kerja selama tiga hari karena jatah libur Lebaran saja tidak akan cukup untuk menjelajahi Eropa. Mengingat jarak yang jauh dan biaya yang tidak sedikit, rasanya sayang jika hanya pergi sebentar. Jujur, ada perasaan egois karena saat itu aku belum punya jatah cuti resmi, hanya mengandalkan izin atasan. Sempat ragu saat harus menghadap, tapi aku meyakinkan diri 'kalau bukan sekarang, kapan lagi?' Akhirnya, dengan modal nekat dan rasa tidak enak hati kepada rekan kantor, aku tetap berangkat demi mimpi menjejakkan kaki di Benua Biru. Untungnya atasanku sangat pengertian dan memberiku izin.. Hikz.. terimakasih pak...

Siang itu, setelah istirahat makan siang, pikiranku sudah lari kesana kemari. Masih ada beberapa urusan kantor yang harus diselesaikan, dan seperti biasa, semuanya serba terburu-buru. Entah kenapa, setiap kali mau ke luar negeri, aku selalu terlibat aksi kejar-kejaran dengan waktu. Sepertinya sudah jadi tradisi pribadi, makin dekat jam keberangkatan, makin panik pula suasananya. Haha!

Di sela waktu yang makin mepet, setelah menyelesaikan urusan kantor, aku menyempatkan mampir ke mal untuk mencari satu barang krusial: daypack kecil. Rencananya, aku akan membawa tas besar untuk barang utama, tapi untuk eksplorasi harian, aku butuh tas ringkas yang bisa memuat kamera, botol minum, dan dokumen penting. Beruntung, aku menemukan satu yang pas di kantong.

Setelah itu, perburuan berlanjut. Aku memacu motor di tengah teriknya Surabaya menuju ATM, lalu meluncur ke money changer langganan di dekat Stasiun Gubeng. 

"Wah mbak.. untung stoknya masih ada. Nanti next time kalau mau tukar lagi telfon dulu yaa.. memastikan ketersediaan stok Euro sama USDnya," kata cece pemilik money changet.

Huffttt.. lega rasanya. Memang persiapan kayak gini seharusnya kulakukan dari kemarin-kemarin sih.. Huhuhu.

Meski pikiran sudah melayang ke Eropa, aku memacu kembali motorku ke kantor untuk menyelesaikan "kewajiban duniawi". Aku menuntaskan pekerjaan tersisa dan melakukan absen terakhir sebelum cuti panjang dimulai. Saat jam pulang tiba, aku berpamitan kepada rekan kerja. Sambil bercanda setengah serius, aku berujar, “Kalau sampai terjadi apa-apa di sana, tolong kabari keluargaku ya kalau aku punya asuransi kok.” Kalimat itu sempat membuat beberapa temanku tertawa, entah tertawa kesal atau gimana hahaha.. Kedengarannya memang dramatis, tapi mengingat asuransi adalah syarat wajib visa Schengen, aku hanya ingin memastikan orang-orang di kantor tahu kalau aku sudah bersiap untuk segala risiko.

Dari kantor, aku langsung meluncur ke kos. Mandi kilat, ganti baju, dan melakukan final check pada paspor, dompet, itinerary, serta uang tunai. Semuanya sudah aman di dalam tas. Rasa deg-degan mulai memuncak antara takut ada yang tertinggal (karena saking buru-burunya) dan rasa tidak sabar yang meluap. Begitu semua siap, aku segera memesan Grab Car. Di atas mobil menuju Bandara Juanda, ditemani deru mesin mobil, aku tersadar bahwa perjalanan panjang ini akan dimulai. 

Eropa, aku datang!

***

Dalam perjalanan naik GrabCar menuju Bandara Juanda, saat aku sudah memasuki jalan tol... aku baru sadar satu hal krusial, charger HP-ku ketinggalan! Seketika aku panik luar biasa. Soalnya tadi di kos memang bener-bener buru-buru banget; mandi kilat, cek barang sambil ngepak, otak udah nge-rundown jadwal di bandara. Yang bikin makin khawatir, HP yang kubawa itu Infinix Hot Note, yang saat itu chargernya nggak bisa sembarangan. Harus pakai fast charger khusus, kalau nggak, ngecas-nya lamaaa banget. Ini merepotkan banget, soalnya HP adalah segalanya buatku. Tiket, itinerary, koneksi kerjaan, bahkan peta.

Dalam kondisi panik, aku langsung bertanya di grup backpacker internasional. Untungnya, respons mereka sangat menenangkan.

"Tenang, di KLIA nanti pasti banyak yang jual fast charger," tulis salah satu anggota.

"Santai, banyak traveler mengalami hal yang sama, kamu nggak sendirian kok," timpal yang lain.

Aku mencoba menarik napas panjang. Oke, hidup harus tetap berjalan. Yang penting HP-nya tidak ketinggalan. Tapi tetap saja, rasa tidak tenang itu masih ada.

Begitu sampai di Bandara Juanda, bukannya segera ke konter check in, aku malah keliling terminal mencari konter aksesori HP. Setelah memutar ke sana-kemari, aku menemukan toko kecil yang menjual pengisi daya yang diklaim sebagai fast charging. Harganya? Rp250.000!

Dua ratus lima puluh ribu rupiah melayang di hari pertama bahkan sebelum aku menginjakkan kaki di luar negeri. Aku tertawa miris dalam hati; inilah harga sebuah keteledoran. Namun, cobaan belum selesai. Setelah aku meninggalkan toko dan kucoba lagi, ternyata charger mahal itu tetap tidak bisa masuk ke mode fast charging. Sepertinya HP-ku ini tipe yang setia—dia hanya mau menerima arus dari charger aslinya. Aku akhirnya pasrah (dengan menangis dalam hati). Ya sudahlah, yang penting HP tetap bisa menyala meski harus sabar menunggu berjam-jam sampai penuh. 

Setelah urusan charger selesai, aku akhirnya melakukan check-in untuk penerbangan Surabaya–Kuala Lumpur. Naik AirAsia, maskapai sejuta umat para backpacker Asia Tenggara. Penerbangan berlangsung sekitar 2,5 jam. Cukup lancar, nyaris tanpa turbulensi berarti. Aku duduk tenang sambil melihat awan-awan senja dari balik jendela, sambil mikir, “Ini beneran terjadi. Aku beneran menuju Eropa.”

***

Sekitar pukul delapan malam waktu Malaysia, pesawat mendarat di KLIA2. Dari situ, aku langsung naik shuttle bus untuk menuju ke KLIA, terminal utama, karena penerbangan berikutnya—yang akan membawaku ke Paris—akan menggunakan Turkish Airlines. Sambil menunggu jadwal check-in, aku sempatkan untuk mandi dan makan malam dulu supaya badan ringan dan memuluskan jika ingin tidur di pesawat. Saat waktu check-in tiba, aku melenggang santai melewati area imigrasi dan pemeriksaan barang, melakukan prosedur sebagaimana mestinya.

Selanjutnya aku sudah begitu santainya naik airport shuttle train dari imigrasi KLIA ke gate keberangkatan, gate 34. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 5 menit, sebelum aku tersadar ada sesuatu yang salah. 

KENAPA HP-KU TIDAK ADA DI SAKUKU?! 

Dengan perasaan berdebar-debar dan pikiran kalut, aku segera membongkar tasku. Nihil! Ya ampunnn... HP-ku di mana? huhuhu.. Aku berusaha fokus dan mengingat-ingat kapan terakhir kali aku mengeluarkan HP.

Astagaa.. HP-ku mana??!

'Seingatku sejak masuk airport shuttle train tadi aku sama sekali nggak ngeluarin HP... Eh, bener nggak ya? Apa aku mengeluarkan dan lupa? Duh... jangan-jangan jatuh lagi... Mati aku. Gimana ceritanya kalau HP-ku hilang? Nomor sebagian besar terkait pekerjaan aku simpan di situ.. Lalu gimana bisa update cerita juga selama di Eropa nanti? Ya ampun... kenapa aku ceroboh banget sih!'

'Eh... sebentar... kalau HP-nya nggak jatuh, berarti terakhir kali aku keluarkan adalah pas pemeriksaan X-Ray barang bawaan. Ya, tidak salah lagi! Oh ya ampun... semoga masih di sana HP-ku...' 

Pikiranku terus bertarung dengan ketelodoran kedua kalinya ini, dan kebodohanku huhuhu...Aku mengutuki diriku sendiri sembari menunggu laju kereta yang seakan melambat. Pikiranku cuma satu, aku harus kembali ke area pemeriksaan barang. Saat kereta sampai di gate 34, aku segera melompat keluar dan menaiki kereta berikutnya yang kembali ke area pemeriksaan barang. "Cepat please... cepat berangkat!"

Perjalanan dengan kereta selama 10 menit seakan berlangsung selamanya. Saat kereta tiba di area pemeriksaan barang, aku segera meloncat keluar dan bertanya pada petugas yang sedang berjaga. 

"Bapak... apakah ada HP ketinggalan?" tanyaku tergesa-gesa. 

"Apa itu HP?" tanya mereka setengah tergelak. 

"Handphone. Sepertinya saya meninggalkan Handphone saya di sini." 

Aku berkata dengan kalut. Kalau sampai tidak kutemukan di sini, aku tidak tahu lagi harus mencarinya di mana...

"Kamu pakai simcard apa?" tanya bapak itu lagi. 

"INDOSAT pak..." kataku dengan tidak yakin. Apa mereka tahu Indosat? 

"Ini. Lain kali hati-hati," katanya sambil menyerahkan HP Infinix Hot Note kesayanganku. 

"Huaahhh... ya ampun... Trimakasih bapak... trimakasih..." Kataku dengan wajah yang sangat lega.

Huaaaa... lega setengah mati. HP-ku yang nyaris hilang itu ketemu juga. Rasanya kayak baru lolos dari kesialan bertubi-tubi, keteledoran kedua yang nyaris bikin perjalanan ini rusak sebelum dimulai. Aku meninggalkan area pemeriksaan dan segera naik kereta lagi. Tapi kali ini perasaanku sudah ringan, aku siap menuju Turki!

***

Setelah semua drama dan kekacauan yang menguras emosi, aku akhirnya berhasil duduk manis di dalam pesawat Turkish Airlines. Pesawatnya besar, lega, dan sangat nyaman. Aku beruntung mendapatkan kursi di dekat jendela. Namun, di balik pemandangan indah yang menanti, aku membawa satu masalah serius. Rasa haus yang luar biasa.

Efek aksi lari-larian mengejar HP di bandara tadi benar-benar membuat tenggorokanku kering keronta. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku naik maskapai full-service, tapi pengalaman sebelumnya dengan Malaysia Airlines ke India sudah lewat lima tahun yang lalu. Ingatanku sudah agak pudar, jadi aku sempat dilanda kebingungan dan ragu. Dalam pikiranku, air baru akan dibagikan secara resmi saat jam makan tiba. Aku benar-benar lupa kalau di maskapai seperti ini kita bisa meminta minum kapan saja. Alhasil, aku hanya bisa duduk diam menahan dahaga selama berjam-jam, menunggu momen makanan disajikan sambil sesekali melirik penumpang di sekeliling.

Rasa malu juga sempat lebih besar daripada rasa hausku. Suasana kabin yang elegan membuatku merasa seperti murid baru yang belum paham tata krama. Namun, setelah berjam-jam tenggorokan terasa seperti padang pasir, keberanianku akhirnya terkumpul. Dengan suara setengah gugup, aku memanggil pramugari yang lewat.

"Can I have mineral water?" tanyaku pelan.

Di luar dugaan, dia langsung memberikan senyum ramah dan membawakanku segelas air. Saat air itu menyentuh tenggorokan, rasanya... ah, lega luar biasa! Oh ya ampun... wkwk..

Akhirnya bisa minum..... wkwkwk.. Padahal minta air mineral sejak awal gpp ya... Yah begitulah karena belum tau tata krama naik full service airline wkwk

Tak lama setelah drama haus itu berakhir, makanan pertama pun disajikan. Menunya lengkap dan cukup mengenyangkan, meski aku tidak terlalu suka karena khas Turki. Setelah perut kenyang, aku mencoba untuk memejamkan mata.

Tapi ya... begitulah. Aku memang tipe orang yang sulit sekali tidur di transportasi yang sedang bergerak. Apalagi malam itu aku tidak membawa bantal leher—kesalahan kecil lain yang tidak kupikirkan sejak awal. Alhasil, sepanjang malam aku sibuk mencari posisi: kepala miring ke kiri salah, ke kanan tidak nyaman, bersandar ke jendela pun terasa keras. Sementara penumpang di sekitarku sudah mulai tenggelam dalam tidur lelap, aku sukses terjaga semalaman. Mataku terus melek, badan terasa kaku, dan pikiran melayang-layang antara bayangan petualangan di Eropa dan rasa pegal yang mulai menjalar.

Tepat pukul 05.15 pagi waktu setempat, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan Bandara Internasional Istanbul dengan mulus.

Finnaly... negara kedelapanku.. Solo traveling ketigaku akan dimulai..

Seperti biasa, muncul pertanyaan dalam hati,

“Apakah aku akan melakukan keteledoran lagi setelah ini?”

Let’s see...


Part Selanjutnya: DISINI