Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label KKN Atambua 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KKN Atambua 2013. Tampilkan semua postingan

4.18.2015

[9] Catatan KKN Atambua 2013 : Libur Lebaran di Kefamenanu (Kolam Renang Oeluan, Kota Kefamenanu, Sonaf Maslete, Pantai Tanjung Bastian)


Tanjung Bastian Beach, Timor Tengah Utara, NTT

Libur lebaran di Atambua? Nggak boleh disia-siakan donk. Harus jalan!! Hehehe. Sebagai daerah dengan mayoritas Nasrani, perayaan lebaran disini tidaklah terlalu semeriah di Jawa. Perayaan tersebut hanya terpusat di kota, dan kebanyakan umat Muslim yang merayakannya merupakan pendatang dari Jawa, NTB maupun Sulawesi.
Karena kebetulan saya dan Dito tidak merayakan Idul Fitri, maka terbersitlah keinginan tiba-tiba untuk traveling. Menjelajah bagian lain dari Pulau Timor yang dari kedatangan pertama kali seakan dibiarkan tak tersentuh.

Ane: “Kemana nih, Soe aja ya? Kayaknya banyak tempat wisata alam bagus disana, secara kan pegunungan.”

Dito: “Boleh, yaudah siap-siap dulu ya.” Buset dah, abstrak banget dah rencananya ini. Ngomong langsung main berangkat hahaha.

Ane: “Ajak siapa gitu yo, daripada berdua aja. Rinel aja ya.”

Dito: “OK, ok. Rinel aja.”

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang saat itu, tiba-tiba ane tersadar akankah efektif jika ke Soe sekarang? Karena perjalanan Atambua-Soe saja sudah akan menghabiskan 5-6 jam. Apakah mudah mencari penginapan saat sudah sampai Soe? Apakah yang akan kita lakukan saat sampai, cari penginapan dan langsung tidur, membuang satu hari dengan percuma? Maksud ane, yah kalau ke Soe harusnya berangkat pagi-pagi dari Atambua.

Akhirnya ane mengusulkan Kota Kefamenanu saja sebagai tujuan wisata kali ini terkait jaraknya hanya 2 jam dari Atambua, untungnya Dito setuju. Secara umum Kefa merupakan sebuah kecamatan yang juga merupakan pusat pemerintahan /ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara. Jadi ceritanya, Kefa ini merupakan kota yang didirikan Belanda dalam usahanya untuk menguasai Pulau Timor, tapi niatnya itu terhalang oleh Portugis yang udah berkuasa duluan terutama di dekat Distrik Oekusi. Parahnya, beberapa raja kecil disekitar saat itu udah cinta duluan ma Portugis, jadilah mereka dukung Portugis ngusir Belanda dari Kefa. Wkwkwk, kasian de lu! Tapi akhirnya hubungan Portugis dengan beberapa raja kecil tersebut retak dan mereka gantian memihak Belanda, meninggalkan Portugis yang patah hati, nah gimana sih? Semua sejarah perselingkuhan menarik ini telah mendorong ane dan dito untuk mengeksplor Kefa. Pertanyaan pun diajukan, apakah ada drama lain? Kita lihat saja nanti.

Kota Kefamenanu dapat dijelajah dalam sehari karena memang kota yang terletak di Lembah Bikomi ini tidak terlalu besar. Setelah makan di sebuah warung makan Jawa yang bentuk WC nya sangat aneh (posisi WC lebih tinggi daripada bak air, sehingga air cipratan dari WC berpotensi untuk masuk ke bak air bersih hehehe), kami memutuskan pergi ke Kolam Renang Oeluan, yang ‘konon’ kata tukang ojeknya bagus. “Bagus atuh neng, ada aer terjunnya. “ Kami yang nggak tahu apa-apa oke saja.

Naik ojek cukup pegel karena ternyata Kolam Renang Oeluan ini jauh juga yaitu sekitar 20 km dari Kota Kefamenanu dengan tarif ojek per orang Rp 20.000/sekali jalan. Jika ingin lebih murah, alternatif transportasi lainnya adalah naik bus jurusan Kefa-Atambua dan minta turun di Kolam Renang Oeluan. Biayanya mungkin sekitar Rp 5000 sd Rp 10000.

Sepanjang jalan, ane disuguhi oleh pemandangan alam yang sangat memanjakan mata yaitu perbukitan dengan latar padang savana, benar-benar sesuatu yang jarang ane lihat di Jawa gan. Setelah kurang lebih setengah jam berkendara, sampailah ane di Kolam Renang Oeluan. Awalnya ane udah ngarep bakal mendapatkan sebuah kolam renang alami dengan air terjun gitu gan, sesuai penuturan tukang ojek, tapi ternyata........

hanya ada sebuah kolam renang buatan yang airnya penuh dedaunan serta terlihat sangat kurang perawatan.  Sebagai seseorang yang peduli dengan wisata, sebenarnya kawasan wisata oeluan ini sangat berpotensi jika pemerintah daerah mau memberikan perhatian. Lokasinya sangat strategis untuk tempat peristirahatan pengemudi jarak jauh (di pinggir jalan trans-timor Kefa-Soe), udaranya sejuk karena banyak pepohonan tinggi serta rindang di sekitarnya, terdapat sumber air dan konon katanya memang ada air terjun meskipun kami tidak menjumpainya. Fasilitas yang tersedia disini hanya sebuah rumah panggung dan tempat duduk seadanya. Seharusnya kawasan ini bisa dikembangkan dengan pembersihan dan penggantian air kolam secara berkala, pembuatan jalan buatan setapak, pemberian mainan anak-anak seperti ayunan, pembuatan tempat duduk-tempat duduk sederhana berbentuk lopo yang lebih nyaman, dan lain-lain. Kalau kesini ane sarankan membawa tikar dan bekal makanan/minuman gan.
Ini dia gan kenampakan Kolam Renang Oeluan

Melihat seperti ini, kami pun cepat bosan dan memutuskan kembali ke Kota Kefa menuju destinasi selanjutnya yaitu Sonaf Maslete (Istana Maslete). Sonaf Maslete ini cukup dekat gan, hanya berjarak 4 km dari pusat kota. Sonaf Maslete ini merupakan bangunan warisan para leluhur Kerajaan Sanak dan keturunannya gan. Konon katanya Suku Sanak ini dahulunya merupakan suku mayoritas yang berkuasa di wilayah ini. Suku ini bahkan duduk sebagai raja, menguasai semua Kafetoran.


Kenampakan Sonaf Maslete. Bangunannya bukan seperti kerajaan 
megah gan, kenampakannya mirip seperti rumah adat.

Nah, bisa dikatakan Sonaf Maslete ini tuh pusat pemerintahannya gan di zaman dahulu. Sonaf ini menjadi istana tempat tinggal raja Kafetoran Bikomi yang berada di bawah pemerintahan Miomafo. Daerah ini terbagi atas delapan kafetoran. Yang meliputi Aplal dijabat oleh suku Thall, Oeltoko oleh Fam Kune, Naktimun oleh Uis Ulin, Oemuti oleh Lake, Tunbaba oleh Sakunab, dan Manamas oleh Meko. Semua suku yang berada di bawah kekuasaan Maslete ini harus tunduk kepada raja gan, karena mereka percaya, raja adalah manusia setengah dewa! Raja mempunyai kekuatan supranatural, sehingga bisa menciptakan entah kesejahteraan ataupun bencana alam. Seorang raja dianggap sebagai tokoh sentral dalam berhubungan dengan Yang Kuasa. Yang Kuasa disini maksudnya Uis Neno (Tuhan di atas sana) yang secara phisik dikenali sebagai matahari. Uis Oel (Tuhan Penjaga Air) atau kubangan air yang mengalir. Dan Uis Pah (Tuhan Penjaga Bumi) atau tanah dimana tanaman tumbuh.
Bagian luar Sonaf Maslete gan. Meja dan kursi di bagian tengah itu untuk 
tempat duduk raja, kursi di sebelah kanan pojok dan kiri pojok untuk penasehat
raja.

Ini dia gan tempat duduk Raja. Sangat sederhana.

ini untuk tempat persembahan gan

Nah, disinilah, di Sonaf Maslete inilah yang bisa dijadikan sebagai tempat memohon sesuatu. Sekarang ini, suku-suku yang masuk Sonaf Maslete ini terdiri atas dua puluh satu sub-keluarga yang tersebar di seluruh daratan Timor Tengah Utara. Beranggotakan 547 orang.

Kami sampai di Sonaf Maslete di waktu yang kurang tepat karena mama raja baru saja pergi dari Sonaf, dan kuncinya dibawa oleh beliau jadilah kami disana hanya berbincang sejenak dengan para tetua mengenai ritual serta pamali disini. Tapi ada yang serem gan, kata salah satu tetua, kalau pas jalan di dalam sonaf kakinya nggak sengaja tersandung n kita jatuh, itu artinya pamali n bakal MATI. Tapi jikalau bisa masuk pun sebenarnya gak masalah gan, karena sudah cukup banyak turis lokal/mancanegara yang berkunjung. Semuanya baik-baik saja asal tidak berbuat yang aneh-aneh. Yang bisa dilihat di dalam Sonaf nantinya adalah barang-barang antik peninggalan sejarah serta cerita tentang peran para Raja Timor kala perang.
Di salah satu atap sonaf, bisa dijumpai ini gan. Semacam patung-patung yang merefleksikan raja-raja yang memimpin Sonaf Maslete.

Menunggu Mama Raja cukup lama, ane pun mulai berbincang dengan para mama serta bapa disitu. Kebetulan saat itu kita belum dapat penginapan, dan ane ini suka sesuatu yang gratisan, jadilah ane berusaha memancing salah satu mama disitu supaya ditawari tinggal di rumahnya malem ini. Berhasil sih gan, salah satu dari mereka akhirnya menawari, tapi karena ada salah satu dari kami yang keberatan, akhirnya nginep di penginapan ‘Kasih’ di Kota. Buset dah, ane paling nggak suka sebenarnya kalau membuang tawaran menginap kayak gini hahaha.

Penginapan Kasih ini berada di Jalan El Tari nomor telepon (0388) 31093 dengan tarif Rp 100.000/malam (Agustus 2013). Menurut ane cukup rekomended kok gan, fasilitasnya ada 2 kasur, kamar mandi dalam, cermin dan meja. Selesai berbenah dan mandi, kami segera melanjutkan perjalanan untuk menjelajah Kota Kefa di malam hari. Rencananya esok kami akan mengunjungi Pantai Tanjung Bastian, yang menurut website adalah salah satu pantai terindah di NTT.
Tidak banyak yang bisa dilihat di Kota Kefa pada malam hari. Di sepanjang jalan terdapat banyak toko pakaian, toko kelontong, pedagang kaki lima seperti penjual gorengan, masakan Jawa, dan lain-lain. Kami sempat bertemu dengan rombongan konvoi yang merayakan Idul Fitri. Cukup seru pengalaman kami malam itu. Kami makan malam dengan gulai di warung makan Jawa. Setelah kurang lebih 2 jam berjalan, kami kembali ke penginapan untuk persiapan jalan esok pagi. 
Hotel kasih, recommended gan!

Pagi-pagi, kami sudah bersiap untuk ke Terminal Kefamenanu. Tujuan kami hari ini, Pantai Tanjung Bastian, dapat ditempuh dengan bus DAMRI yang stand by sejak jam 7 pagi di terminal namun baru benar-benar berangkat jam 9 sampai 9.30.
Perjalanan Kefa-Tanjung Bastian benar-benar memberikan pemandangan terindah selama pengalaman traveling ane. Perjalanan tersebut membelah pegunungan sehingga ane benar-benar bisa melihat Pulau Timor dari atas. Semakin menjauh dari kota, ane menjadi semakin mengerti kehidupan masyarakat NTT yang memang masih jauh dari kata standar. Jalanan rusak dan berlubang-lubang merupakan hal biasa bagi mereka. Air bersih? Jangan ditanya. Kadang mereka harus berjalan berkilo-kilo hanya untuk mendapatkan beberapa jerigen air bersih.
Sepanjang jalan dari Tanjung Bastian ke Kefamenanu, indah!

Dua setengah jam kemudian, sampai juga kami di Tanjung Bastian gan. Tiket masuknya seharga Rp 3000/orang (Agustus 2013-Januari 2014). Menurut ane sangat worth it karena memang pantainya biru dan bersih banget gan. Selain itu pantainya cukup dangkal sehingga aman saja untuk berenang sampai 50 meter dari bibir pantai. Suasana pantai cukup ramai karena memang saat itu sedang dilangsungkan final pacuan kuda. Ada arena pacuan kuda juga di pesisir pantai. How Fun!


Tanjung Bastian Beach!!

Kami yang sangat antusias pun segera saja nyebur ke laut. Teriknya panas matahari sudah tidak kami pedulikan lagi, saat itu yang terlintas di pikiran hanya segarnya air laut. Wkwkwk. Kebetulan ada batang pohon hanyut, segeralah kami gunakan sebagai pegangan dan papan seluncur dadakan wkwkwk. Cukup lama kami bermain sampai sekitar jam 3 sore.
Akhirnya karena hari semakin sore, kami pun segera ganti pakaian dan bersiap untuk pulang. Pertanyaannya, pulang PAKAI APA? Tidak ada bus umum yang bisa mengantarkan kami baik dari Tanjung Bastian ke Kefamenanu maupun Tanjung Bastian ke Atambua. Ladelah, piye iki? Wkwkwk. Kenyataan ini membuat kami berdiri cukup lama di pinggir jalan tanpa solusi apa-apa hahaha.

Tiba-tiba ane melihat ada satu keluarga yang bersiap-siap mau pulang......menggunakan MOBIL PICK UP!! Wah kesempatan nih, batin ane. Siapa tau bisa nebeng. Ane pun segera bertanya ke Bapak itu dan ternyata mereka akan menuju Kota Kefa, dan kita bisa nebeng gratis! Yeahhh!! Hahaha.

Menempuh perjalanan pulang ini bukan hal mudah gan, seperti ane bilang di awal bahwa perjalanan Kefa-Tanjung Bastian ini melewati pegunungan, bisa ditebak donk ya. DINGIiiiiIInn... Karena jaket ane pinjamkan Rinel, ane pun pakai sarung ibunya yang ada di bak mobil. Perjalanan ini sempat dihambat oleh pecahnya ban di kampung kecil yang ane nggak tau namanya. Akhirnya kami baru nyampe Kefa malem harinya, dan karena bapak ini terlalu baik, kami diantarkan ke pool bus dan akhirnya melanjutkan perjalanan dengan bus malam ke Atambua. Pengalaman yang tak terlupakan.



9.18.2014

[8] Cerita KKN Atambua 2013 : Mengenal Sosok Keren Bapak Desa Rinbesi Hat: Pak Gery!

Well, pada postingan ini beta akan sedikit membahas tentang sosok Bapak Desa Rinbesi Hat yang beta kagumi, beliau adalah Pak Gery. Nama lengkapnya Bapak Gregorius Ulu. Bagaimana sosoknya di mata ane? Cekidot!

Dari semua perangkat Desa Rinbesi Hat, bisa dikatakan yang paling dekat dengan ane adalah Bapak Gery. Gimana tidak, sejak akhir Juli hampir tiap hari saya dan Reno dari kluster Sainstek menghabiskan waktu dengan beliau untuk membangun gapura. Melalui kegiatan inilah ane jadi lebih bisa mengenal beliau. Apa saja kesan mendalam yang ditinggalkan Bapak Gery buat ane?

Ganteng
Ya. Menurut gue ini tidak diragukan, hehe. Bapak Gery mempunyai wajah yang cukup ganteng. Hal ini juga yang mengakibatkan Mama Made takluk sama beliau ya. Hehehe.

Gaul
Tidak seperti Bapak desa lain yang kebanyakan mempunyai mimik muka serius, Bapak Gery ini mempunyai pembawaan yang cukup santai dengan penampilan yang gaul. Gaul disini termasuk penampilan dan pengetahuan. Jika ada suatu acara biasanya Bapak Gery akan menggunakan pakaian yang gaul, selain itu ane juga senang cerita-cerita dengan beliau karena pengetahuannya yang luas.

Santai
Santai disini adalah sifatnya dalam menghadapi suatu kemelut atau masalah. Tapi apakah sifat santai ini dibarengi dengan ‘leda-lede’? Of Course not. Sifat lain yang membarengi sifat santainya adalah TEGAS. Aku bisa melihat bahwa warga Desa Rinbesi Hat mempunyai rasa hormat yang cukup besar kepada Bapak Gery, hal ini dikarenakan Bapak Gery tidak akan segan memarahi warga jika mereka tidak mengikuti aturan desa yang telah disepakati bersama. Bukti jiwa kepemimpinanya adalah Desa Rinbesi Hat menjadi juara 2 desa terbaik se-NTT. Asoyy!

Salah satu cerita tentang kesantaian Pak Gery dalam menghadapi suatu masalah adalah sewaktu Desa Rinbesi Hat dipastikan menjadi juara 2 desa terbaik se-NTT, maka kepala desa yang bersangkutan akan dipanggil ke Kupang untuk penganugerahan hadiah. Panitia sudah mewanti-wanti setiap kepala desa untuk tidak terlambat, tapi justru waktu itu Bapak Gery sengaja berangkat terlambat sehingga sewaktu datang agak dimarahi panitia. Hehe. Selain itu, sewaktu sedang acara di dalam ruangan, sudah ada aturan jelas tentang larangan merokok di dalam ruangan. Tetapi Pak Gery malah sengaja merokok hehehe. Ada-ada saja e pak.

Tanggung Jawab
Peresmian pembangunan gapura di batas Dusun Bekomean oleh Pak Gery

Sifat tanggung jawab ini kelihatan saat Pak Gery selaku kepala desa mendapatkan tugas untuk kemajuan desanya. Misalnya desanya kedatangan mahasiswa KKN ataupun mendapatkan bantuan dari pemerintah, Pak Gery akan dengan sigap akan mengumpulkan perangkat desa untuk kemudian rapat dan berbagi tugas. Dalam membagi tugas pun, beliau terlihat sangat tegas dan tidak setengah-setengah.

Contohnya adalah waktu kami mengadakan program KKN pembangunan gapura. Pada hari-hari awal pembangunan gapura di batas desa Seo B, tidak ada satupun warga yang datang untuk mulai melakukan pembangunan. Beberapa saat kemudian, Pak Gery pun datang dan segera memerintahkan warga baik yang berprofesi tukang maupun buruh untuk segera mulai pembangunan. Beberapa saat kemudian bahkan sudah membagi jadwal, dimana setiap harinya setidaknya harus ada 2 tukang dan 4 buruh. Sejak itu warga desa pun dengan patuh selalu datang setiap hari.

Cepat mengambil keputusan
Pengarahan pembangunan lapangan voli di halaman kantor desa oleh Pak Gery

Sifat ini terlihat dengan jelas lagi-lagi saat sedang membangun gapura. Siang itu seperti biasa beberapa tukang dan buruh sedang melanjutkan pembangunan gapura. Tiba-tiba saja ada seorang bapa berseragam dinas yang turun dari motornya dan menghampiri kami dengan wajah gusar. Dengan kasarnya dia bertanya:
"Apa ini? Ini bangunan atas ijin siapa?"
"Ini program pembangunan gapura sebagai batas desa dari KKN UGM," timpal Bapak Desa.
"Sudah ijin ke Dinas PU belum?"
"Sudah ijin, mau apa kamu?" salah satu temanku menimpali.
Kemudian Bapa tersebut menjelaskan bahwa jika belum melakukan ijin pembangunan di Dinas PU, maka gapura kami bisa terancam dibongkar jika suatu saat ada proyek pelebaran Jalan Trans-Timor. Kebetulan gapura kami memang di pinggir bahu jalan persis.
Saat itu  gapura yang sudah dibangun setengah jadi seaakan menemukan jalan buntu. Kami semua takut gapura yang sudah dibangun dengan modal uang, tenaga dan kesungguhan hati akan digusur oleh PU, karena sebenarnya memang belum melakukan perijinan. Tapi Pak Gery dengan tegas mengatakan, "Lanjutkan saja pembangunannya." I like it.

Berkharisma
Sifat ini terlihat olehku saat minggu kedua KKN, tepatnya saat kami melakukan sosialisasi program air bersih, penanaman paprika, pakan ternak dan kesehatan hewan di dusun-dusun Desa Rinbesi Hat. Sewaktu kami menjelaskan, hanya sedikit warga dusun yang memperhatikan. Entah tidak familiar dengan aksen kami atau masih kebingungan kami kurang tau, yang jelas banyak yang justru bicara sendiri. Pak Gery sepertinya mengetahui kebingungan warga desa itu, makanya setiap kali kami selesai melakukan sosialisasi, beliau akan dengan sabar menjelaskan kembali dengan ringkas apa-apa saja yang kami sampaikan. Saat Pak Gery menjelaskan, warga desa pasti akan langsung diam dan mendengarkan. Memang berkharisma! hehehe

Tidak suka basa-basi
Sifat ini terlihat saat Pak Gery menyampaikan teguran secara langsung ke aku terkait tingkah laku kami saat menghadiri salah satu acara pernikahan di Maktaen. Saat itu kami diundang nikahan di Maktaen, dan kebetulan beberapa sedang terserang flu jadi terpaksa menggunakan masker. Nah saat tiba pertama kali di tempat resepsi, biasanya kami harus maju ke depan dulu untuk memberi selamat kepada kedua mempelai. Tapi saat itu beberapa dari kami masih menggunakan masker ataupun jaket saat memberi ucapan selamat. Hal itu dianggap sebagai sesuatu yang kurang sopan. Maaf ya Pak.....

Punya selera humor
Sifat ini sangat jelas terlihat sewaktu kami semua sedang duduk-duduk istirahat saat proses pembangunan gapura. Biasanya Pak Gery akan bercerita tentang lelucon-lelucon yang membuat kami bisa terbahak-bahak. Salah satunya beliau pernah cerita bahwa 'Sang Maestro Rinbesi --> VIGA Rinbesi Hat' itu ketahuan pernah naksir beliau. Katanya Viga suka lirik-lirik beliau, tapi beliau malah risih-risih gimana gitu hehehehe.

Agak playboy
Playboy disini bukan dalam artian sebenarnya, tapi hanya dalam lingkup bercandaan. Sifat ini terlihat saat Pak Gery cerita beliau berdansa dengan banyak cewek cantik saat ada acara di Kupang. Hehehe, memang ada-ada saja tingkah Bapak Desa favorit saya ini.

3.31.2014

[7] Cerita KKN Atambua 2013: Anak Timor menari Indang asal Sumatera Barat? Mengapa Tidak?


Tak terasa, berminggu-minggu kami lalui dengan lancar dan menyenangkan di Rinbesi Hat. Hati ini yang awalnya berat mulai betah tinggal di Timor, dan seakan sangat berat jika mengingat bahwa 3 minggu lagi kami akan pulang. Saat itu setelah libur lebaran, tibalah saatnya persiapan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 68.  Apakah kami sebagai mahasiswa KKN akan diam saja menyambut hari besar itu? Tentu saja tidak. Kami mulai mencanangkan berbagai program khusus untuk menyambut hari lahir Indonesia ini. 

Adalah Mandira, salah seorang teman saya yang paling kreatif, memutuskan untuk mengajari  siswa/i SMP Rinbesi Hat Tari Indang untuk ditampilkan pada acara puncak peringatan 17 Agustus di Kecamatan Tasifeto Barat. Tapi karena jumlah penari yang ingin ikut terlalu banyak, maka Mandira terpaksa melakukan seleksi khusus untuk memilih penari. Seleksi ini dilakukan setelah dia mengamati semangat serta kelenturan siswa/i tersebut saat latihan. Dengan pertimbangan matang, akhirnya dipilihlah 12 siswa/i (6 laki-laki, 6 perempuan) untuk dilatih lebih lanjut Tari Indang.

 Suasana latihan sebelum dilaksanakan seleksi oleh Mandira

Indonesia itu kaya, kaya seni dan budaya, jangan hanya belajar budaya dari daerahmu saja. Perkayalah wawasanmu karena Indonesia itu membentang dari barat ke timur!

Mungkin itulah sekelumit kata-kata yang mereka dapatkan saat belajar Tari Indang ini. Sedikit cerita, Tari Indang  atau juga disebut Tari Badindin merupakan salah satu tari tradisional asal Minangkabau (tepatnya Pariaman), Provinsi Sumatera Barat yang sudah berkembang sejak abad ke 13. Udah tua banget ya? Bahkan lebih tua dari kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia. 

Tari ini sebenarnya merupakan suatu bentuk sastra lisan sebagai bentuk media dakwah saat masuknya agama Islam daerah Sumatera Barat. Karena fungsinya merupakan media dakwah, maka sastra yang dibawakan berasal dari salawat Nabi Muhammad atau hal-hal bertema keagamaan. Tari ini biasa dilakukan secara berkelompok dengan gerakan yang diulang-ulang, dimana gerakannya memiliki kekhasan serta keunikan gerak.

Oke itulah sedikit sejarah tentang Tari Indang. Bagaimanapun, setiap sore ane bisa melihat bahwa siswa/i SMP Rinbesi Hat ini sangat semangat dan antusias saat berlatih. Latihan memang biasa dilaksanakan sore hari di Kantor Desa, dengan frekuensi yang semakin sering saat mendekati 17 Agustus. Aku sangat salut dengan Mandira yang tidak pernah lelah saat harus mengulang-ulang terus gerakan, dia juga selalu sabar membimbing siswa/i ini karena ini merupakan hal baru bagi mereka.

Akhirnya setelah kurang lebih seminggu berlatih, tibalah saat perdana penampilan mereka yakni pada acara Malam 17 Agustusan, bahasa kerennya tirakatan. Penari perempuan menggunakan kaos putih dengan topi kertas berwarna emas, sementara penari laki-laki menggunakan kaos merah dengan topi kertas berwarna perak.





Kekompakan kerja sama siswa/i SMP Rinbesi Hat saat membawakan Tari Indang

Akhirnya mereka benar-benar tampil, dan ane bisa melihat bahwa Mandira telah mengajari mereka dengan sangat baik. Gerakannya benar-benar kompak, seperti yang sering ane lihat di TV. Ane merasa begitu bangga dengan Mandira dan siswa/i SMP Rinbesi Hat saat itu. Tepuk tangan riuh pun langsung menghujani mereka begitu tari selesai dilaksanakan. 

 Keesokan harinya, setelah upacara 17 Agustus selesai dilaksanakan, para siswa/i Rinbesihat kembali membawakan Tari Indang di depan tamu-tamu penting. Lagi-lagi, kekompakan mereka menyihir para tamu sehingga tepuk tangan riuh kembali membahana seusai tarian selesai dilakukan. Bravo guys!!

[6] Cerita KKN Atambua 2013: Timor Leste, I'M COMING!

Tim KKN PPM UGM berpose di Tugu Timor Leste
 
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh tim KKN PPM Atambua 2013 karena kami akan ke luar negeri! Ya! Mungkin kamilah satu-satunya tim KKN yang pelesir keluar negeri di minggu pertama KKN, kemana lagi kalau nggak ke Timor Leste. Hehehe.

Saat itu kami berangkat agak siang, sekitar jam 11, karena sub unit Desa Rinbesi Hat harus melaksanakan sosialisasi dan pemantapan program dengan perangkat desa. Karena ada acara sosialisasi ini, sebenarnya kormanit memutuskan subunit Desa Bakustulama saja yang berangkat ke Tiles. Tentu saja kami protes dan ‘mencak-mencak’ hehe. Akhirnya diputuskan kami akan berangkat setelah acara sosialisasi selesai, dengan menggunakan 2 mobil pick up charteran.
 Overload eh...

Perjalanan ke perbatasan (Motaain) berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Sepanjang perjalanan, aku merasakan sensasi dejavu, padahal aku belum pernah kesini sebelumnya. Setelah aku pikir-pikir, ternyata karena kami melewati tempat shooting film ‘Tanah Air Beta’ yang berlangsung di Atambua. Memang seperti itulah keadaannya, kering meranggas.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi oleh rumah-rumah berbentuk lopo yang semakin banyak mendominasi dibandingkan dengan rumah bangunan modern. Keadaan masyarakat terlihat lebih memprihatinkan, aku tidak tahu apakah anak-anak tersebut bahkan sekolah, beberapa tempat bahkan tidak dialiri listrik sama sekali, kualitas air bagaimana juga aku tak tahu, aku jadi berpikir, apa yang selama ini aku lakukan? Kesenjangan yang begitu besar.

Akhirnya kami pun sampai di gerbang perbatasan Motaain. Normalnya kami harus turun dan mengurus visa on arrival, tapi setelah foto-foto sejenak, kami dipersilakan masuk dengan ditemani beberapa tentara baik dari TNI maupun tentara Timor Leste. Edisi imigran gelap hehe.
Ane berfoto sebelum masuk Indonesia gan, bangga rasanya foto disini

Pemberhentian pertama kami adalah peternakan kuda yang dimiliki oleh seorang Bapak keturunan Portugis mantan tetinggi sewaktu Tiles dan Indonesia belum berpisah. Disana kami banyak dijelaskan tentang perjuangan beliau sewaktu reformasi. Setelah itu ane tidak terlalu memperhatikan dan berjalan sekeliling, peternakan kuda ini berbatasan dengan muara sungai yang berakhir di Pantai Motaain. Pemandangannya sangat indah.
 Foto-foto di peternakan kuda dengan bendera Tiles

Foto-foto di peternakan kuda dengan tentara Timor Leste

Sesaat kemudian kami dibawa ke toko oleh-oleh minuman. Minuman yang dijual kebanyakan adalah minuman beralkohol impor yang cukup mahal, harganya mencapai jutaan. Bagi kami, cukup membeli minuman jus kaleng yang dibanderol 5 USD hehe. Oiya khusus di perbatasan ini, transaksi bisa menggunakan baik rupiah maupun USD. Disini juga ane harus menerima kenyataan pahit karena dompet yang berisi biaya hidup KKN raib, entahlah apakah hilang karena kecerobohan sendiri atau dicuri, sebaiknya selalu berhati-hati jika membawa barang berharga disini.

Selesai dari toko oleh-oleh, kami dibawa lebih jauh ke arah timur menuju peternakan kuda yang lebih besar di Batugade. Aku sendiri kurang tau kenapa Wakil Bapeda ini suka banget membawa kita ke peternakan kuda, tapi yang namanya diajak ngikut aja yah. Hehe. Peternakan kuda yang kedua ini terlihat lebih besar dilengkapi dengan fasilitas pendopo dan restoran, hanya saat itu sedang tutup. Disini Bapak Wakil Bapeda juga berjanji pada malam lebaran akan mengajak kami menginap disini. Di peternakan kedua ini karena lebih tinggi, pemandangan terlihat sangat indah. Kami bisa melihat Pulau Alor dari sini. Pulau yang suatu saat sangat ingin ane kunjungi hehehe.

Kami cukup lama berada disini, mendengarkan penuturan pemilik peternakan tentang kondisi disana, berfoto-foto dengan latar mobil berplat Tiles, hanya saat itu hati ane sedang sangat sedih karena baru kehilangan uang kekeke.

Akhirnya pukul 17 waktu setempat (di Tiles waktu setara WIT, sementara di Atambua setara WITA), kami pun beranjak pulang kembali ke Atambua membawa sejuta kenangan. Sebelum keluar dari Tiles tidak lupa kami berfoto di gerbang “Bem Vindo A (Welcome to) Timor Leste) dan Tugu Timor Leste, kami juga berfoto di gerbang ‘Selamat Datang Indonesia’. Jujur, perasaan lebih bangga dan senang sewaktu berfoto di tulisan kedua hehehe, memang I Love Indonesia! Gimana, menyenangkan bukan KKN di Atambua? Jangan ragu mau KKN disini!
 Foto-foto di gerbang "Bem Vindo A Timor Leste"

[5] Catatan KKN Atambua 2013: Ayok, Besong ikut Panen Raya Sorgum!

Holaa! Setelah sekian lama absen di blog kesayangan, kali ini beta akan melanjutkan menulis sekelumit pengalaman sewaktu melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) 2013 di Atambua. Semoga ini menjadi inspirasi dan penyemangat bagi generasi KKN Atambua seterusnya. Cekidot gan!

Apa itu Sorgum??

Sorgum

Adalah pertanyaan yang terlontar di benak ane saat rombongan KKN PPM UGM diundang Bapeda Belu untuk menghadiri panen raya sorgum pada minggu pertama kami di Timor. Kami yang belum tahu apa-apa dan masih sangat antusias dengan budaya Masyarakat Timor pun sangat antusias menanti hari ini. Apa lai ini sorgum nha?

Dengan mobil pick up sewaan, sekitar pukul 9 pagi, kami rombongan KKN Desa Bakustulama dan Rinbesihat pun sudah berangkat untuk menuju tempat pelaksanaan panen raya yaitu di Kecamatan Raimanuk. Kecamatan Raimauik sendiri berjarak kurang lebih 20 kilometer sebelah timur Kecamatan Tasifeto Barat (tempat desa kami). Sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh padang savana yang meranggas mengharap datangnya hujan.
Jujur waktu itu ane masih belum tahu apa-apa tentang acara ini, apakah acara ini akan berlangsung di ladang (maksudnya kita disuruh panen-panen bareng gitu), apakah acara ini akan berlangsung di suatu ruangan dengan penuh ceramah dari para tetinggi kecamatan, hehe kita lihat saja!

Satu jam kemudian, setelah sebelumnya berhasil melewati keramaian pasar kamis Halilulik dimana mobil kami sempat macet parah, kami pun sampai di lokasi acara panen raya. Ternyata acaranya berlangsung di ladang dengan dibangun dekorasi outdoor sederhana. Sewaktu kami datang, acara belum dimulai dan hanya terdapat beberapa orang yang duduk. Dengan sangat sopan mereka mempersilahkan kami semua duduk kemudian diberi snack ringan, sungguh keramahan masyarakat Timor yang kami mulai terbiasa dapatkan.

Menunggu cukup lama (terutama menunggu kedatangan tamu penting), acara pun akhirnya dimulai dengan sajian Tari Likurai yang dibawakan oleh gadis-gadis setempat. Saat itu ane begitu terkagum dengan salah satu budaya Belu ini karena kekompakan gadis-gadis tersebut dalam menabuh genderang kecil yang mereka gantung di lengan kiri di bawah ketiak. Tari Likurai yang pada dahulu digunakan untuk menyambut para meo pulang dari medan perang ini sekarang biasa disajikan untuk menyambut tamu-tamu penting.

 Para penari Likurai sedang bersiap-siap

Selesai pertunjukkan Tari Likurai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari beberapa tamu penting seperti Dirut PT Batan Teknologi (Persero) Yudi Utomo Imardjoko, Wakil Bupati Belu Taolin Ludovikus, Kepala Bapeda Belu Falentinus Pareira, Bapak Camat Tasifeto Barat dan Raimanuk (Bapak Gabriel Taek) dan Perwakilan Masyarakat. Mendengarkan sambutan-sambutan tersebut, ane jadi tahu kalau sorgum itu sejenis varietas jagung dengan ukuran yang lebih kecil.  

Trus gimana sorgum ini tau-tau bisa ditanam di Atambua gan? 

Ternyata gerakan tanam sorgum ini sudah dicanangkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan gan pada tahun 2012 dan mendapat dukungan penuh dari BUMN seperti PT. Berdikari, PTPN serta sejumlah instansi BUMN lainnya. Emang keren ya gan menteri kita satu ini.
 
Penanaman sorgum varietas Numbu pertama kali dilakukan di Sidrap, Sulawesi Selatan awal 2012 pada areal seluas 3200 ha oleh Pt. Berdikari, kemudian dilanjutkan oleh PTPN XII pada lahan seluas 22 Ha di Banyuwangi. Barulah pada awal 2013 Dahlan Iskan mencanangkan pengembangan sorgum di wilayah perbatasan, dimana Atambua dipilih sebagai tempat uji coba pertama. Badan Litbang pertanian melalui UPT Balitsereal kemudian mengirimkan benih bantuan sorgum varietas numbu sebanyak 1,5 ton untuk diuji coba tanam di Atambua. Target luas lahan penanaman adalah 200 ha, dimana peruntukan utama adalah bahan pangan. Program penanaman ini dimulai pada April 2013.

Berdasarkan manajer proyek PT Batan, Kusmunandar, saat ini luas lahan sorgum di Pulau Timor mencapai 400 ha yang tersebar di Kabupaten Belu dan Malaka. Secara lebih spesifik, lahan tersebut tersebar di Kecamatan Tasifeto Barat, Raimanuk, Kakuluk Mesak, Tasifeto Timur, Kobalima dan Malaka Tengah.

Dan begitulah, kami mahasiswa/i KKN beruntung ini berkesempatan untuk mengikuti panen perdana yang berlangsung di Desa Mendeu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu. Hehehe. Terus, kenapa sorgum ini dikembangkan di Atambua gan? 

Ternyata sorgum ini sengaja ditanam dan dikembangkan di Atambua ini untuk menggantikan peran gandum gan, dimana gandum sulit berkembang di Indonesia sehingga seringkali kebutuhan gandum harus dipenuhi dengan cara impor. Masak kita sebagai negara agraris mau terus-terusan impor gan? 

Penanaman sorgum ini juga dilakukan untuk memanfaatkan lahan kosong yang ‘nganggur’ saat musim kemarau tiba, serta diharapkan dapat memberi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Diperkirakan dari total 200 ha lahan sorgum, mampu memenuhi kebutuhan 1000 rumah tangga Atambua sehingga orang Atambua tidak perlu lagi mengkonsumsi nasi, karena padi sulit tumbuh di Atambua sementara sorgum bisa tumbuh subur. Sorgum juga mempunyai potensi sebagai bahan baku tepung, bahan baku bioetanol untuk pembuatan BBM, pakan ternak, beras, , gula air, mie, cendawan dan obat-obatan terutama untuk obat kanker.

Berdasarkan penuturan Bapak Yudi, penanaman sorgum ini juga menguntungkan karena tidak membutuhkan terlalu banyak air, masa sejak tanam dan tunggu panen yang cukup cepat yakni sekitar 3 bulan serta mudah beradaptasi dengan iklim Timor yang kering. Serta merta Bapak Yudi mengharap penanaman sorgum dapat dikembangkan seterusnya di berbagai daerah Pulau Timor dan dia berharap sorgum ini dapat berkembang di Jawa juga. 

Trus gimana dengan pembagian hasilnya gan?
Sesuai perjanjian dengan kelompok masyarakat, menurut Kusmunandar, pembagian dengan perusahaan adalah 30: 70. Dimana proses sejak penanaman dan perawatan senantiasa mendapatkan pembinaan dari PT. Batan Teknologi.

Akhirnya acara sambutan itupun selesai dan kami diajak ke ladang untuk peresmian panen raya, acara dilakukan dengan pemotongan pita dan setelahnya pemotongan satu batang sorgum untuk simbol panen. Saat itu warga terlihat bahagia karena salah satu sumber kehidupan mereka menghasilkan hasil yang melimpah. Kemudian acara dilanjutkan dengan foto-foto. Tak lupa kami narsis dengan sorgum dan ikut mencicipi rasa sorgum mentah = tawaaar, hehehe, maksa banget ini.


Lahan sorgum yang tumbuh subur di Atambua

Selesai acara foto-foto, kami (terutama yang tidak puasa) mendapatkan kejutan tak terduga karena langsung disuruh makan dengan lauk serba daging. Ada sapi bakar, sayur kuah sapi, sayur dengan ayam, babi panggang, dll. Kami yang sejak KKN dimulai hanya makan sayur seakan kalap dan makan sepuasanya. Karena aturan disini sangat aneh yakni lauk harus lebih banyak daripada nasi, kalau tidak berdosa. Yaudah deh, sekuutt aja! Hehehe. Disini kami juga sempat mencicipi sorgum yang sudah diolah, rasanya tawar dan mirip jagung muda.

Selesai makan kami pun ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak polisi sembari disuguhi sopi (arak khas Timor), aku sanggup meminum dua putaran. Di Timor ini, budaya minum sopi adalah orang-orang yang akan minum akan membentuk lingkaran, kemudian satu orang akan memegang botol sopi dan menuangkannya ke gelas. Gelas itu kemudian diputar, diisi ulang kembali, sampai sopi habis. Dengan cara seperti ini, diyakini akan menambah keakraban. Asoyy.

Satu kejutan tak terduga lagi, saat sedang makan tiba-tiba Kormanit kami dipanggil oleh Bapak Bapeda yang mengajak kami pelesir ke TIMOR LESTE keesokan harinya! Wuaah, saat itu kami langsung merasa sangat antusias dan bahagia. Bapak Wakil memang sempat menjanjikan akan membawa kami ke Tiles, ane hanya nggak nyangka akan secepat ini. Sebenarnya ini KKN atau pelesir? Wkwkwk.