Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

7.14.2024

Jogja, 22-23 Juli 2023: Seafood dan Klangon

22 Juli 2023
Ane, ibu ane, dan keponakan ane punya rencana jalan lagi hari ini. Tidak lain dan tidak bukan, tujuannya adalah Jogja. Dimana lagi selain menikmati seafood di Pantai Depok, menginap di hotel di Kota Jogja, dan menikmati Gunung Merapi keesokan harinya hehe. Keluarga ane emang penggila seafood jadi kunjungan ke Jogja tidak akan lepas dari Pantai Depok.

Kita berangkat dari Solo sekitar jam 9, setelah sebelumnya sarapan soto. Menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam melewati Solo-Klaten-Jogja-Parangtritis, akhirnya kita sampai Pantai Depok sekitar jam 12 siang. Yang kita lakukan tentulah langsung belanja seafood di Pasar Seafood Depok. Karena udah laper akut, dan lapar mata, beberapa seafood yang kita beli ada kepiting, udang, kerang dan ikan cakalang. Seinget ane kepiting kita beli 1 kg, udang 1/2 kg, kerang 1 kg dan cakalang 1 kg.

Kelar belanja segera kita mencari warung di sekitaran Pantai Depok yang bisa memasakkan dengan harga yang sesuai. Akhirnya dapatlah 1 warung di deket Pantai dan semua seafood kita serahkan. Untuk kepiting kita masak kepiting asam pedas, udang kita masak udang bakar madu, kerang direbus dan ikan cakalang dibakar. Selain itu kita juga pesan ca kangkung, nasi putih, dan kelapa muda. Sempurna deh! Hehe....

Sekitar 45 menit datanglah semua masakan itu. Dan tanpa babibu langsunglah 3 perut kelaparan ini makan. Wuahhh nikmatnya..!


Sebenarnya makanan ini terlalu banyak buat kita bertiga, tapi sisanya bisa dibungkus. Jadilah selama 45 menit kita puas makan, sisanya kita serahkan si pemilik warung untuk dibungkus. Aku agak lupa pasti habisnya berapa, seinget ane dibawah 200.
Selesai makan, bersantai-santai sejenak, akhirnya bergeserlah kita ke Pantai Parangtritis karena ane janjiin keponakan ane renang. Bukan renang di pantainya, melainkan kolam renang air panas yang berada di tepi Pantai Parangtritis. Mengemudi selama 20 menit, sampailah kita di kolam renang itu. Ane sama keponakan langsung nyebur di kolam renang dangkal itu yang isinya bocil semua 😁. Mana kalau ane berdiri airnya cuma sedengkul ane, jadilah ane banyakan renang sambil merayap-rayap heheh.. selain itu juga menikmati siraman air panas dari air mancur yang banyak disediakan. Lumayan membuat kepala ringan. Ane renang dan keponakan ane sekitar 45 menit sebelum kita beranjak dan bersih-bersih mandi.

Selesai mandi, sempet nemeni keponakan ane jajan pop mie, akhirnya beranjaklah kita kembali ke Kota Jogja. Malam ini kita rencana akan nginap di Satoria Hotel. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 1 jam. Sampai hotel hal pertama yang kami lakukan tentulah langsung istirahat leyeh-leyeh di spreinya yang halus. Karena kasurnya twin bed, jadi kita jadikan 1.
Malamnya kita kembali makan seafood yang tadi siang dibungkus. Malam itu setelah kongkow-kongkow sejenak, dan ane sempat main HP, akhirnya jam 12 ane tertidur. Besok rencana ke Gunung Merapi.

23 Juli 2023
Esoknya kita bangun agak pagi, dan seinget ane untuk harga yang ane bayar, kita ga dapet sarapan. Tapi gak masalah karena kita bisa nge-grabfood aja. Kegiatan pagi kami setelah sarapan adalah ane ngajak keponakan untuk renang di kolam renang hotel yang berada di lantai atas. Ibu ane juga ikut tapi cuma ngeliatin aja ga mau nyebur hehe. Ane dan keponakan kecipak-kecipuk selama kurang lebih sejam sebelum kita balik ke kamar dan mandi. Rencana tempat yang kita kunjungi hari ini adalah Bukit Klangon di Lereng Merapi. Tempat ini ane temukan di google maps karena selama ini tujuan kita kalau ke Gunung Merapi cuma Kaliadem/Kaliurang, dan kali ini pengen suasana yang lain. Ane juga teringet pernah ngunjungin Bukit Klangon ini 2 tahun lalu pas masa pandemi. Saat itu Bukit Klangon ini begitu sepi, hanya ada ayam yang berkeliaran minta makan.

Perjalanan dari Kota Jogja kami lalui selama 1 jam. Jalan menuju Bukit Klangon ini pada beberapa titik cukup curam namun karena jalannya lebar jadi aman-aman aja. Hari itu suasana di Bukit Klangon cukup ramai. Setelah memarkirkan mobil, hal pertama yang kita lakuin adalah mampir ke warung untuk ngemil jajanan. Saat itu ane lagi challenge keponakan ane untuk ngurangin konsumsi coklat supaya ga terlalu gendut. Jadi saat itu kita beli mendoan goreng, teh panas dan susu jahe.

Setelahnya kita sedikit berjalan ke atas, ke area camping dan campervan. Kebetulan disitu ada gubuk-gubuk yang bisa kita gunakan untuk santai-santai. Jadilah kita ngobrol-ngobrol santai sambil tiduran di gubuk. Ane juga sempet keliling lokasi camping sama keponakan ane, dan berjanji suatu saat akan camping disini.
Sekitar 1 jam kemudian, setelah puas menikmati udara dingin dan pemandangan, kita bersiap pulang. Namun pas di parkiran ane kembali laper jadi makan mi ayam lagi hehe.. setelahnya kita jalan pulang ke arah Solo, dan sampai Solo sekitar jam 8 malam. Pengalaman yang seru! Semoga ane bisa secepatnya bawa mereka jalan-jalan lagi ke tempat yang lain.

12.24.2021

Jogja, 5 Juni 2021 : Wisata kuliner ke Pantai Depok sama Mama n Iel

Solo, 5 Juni 2021

Hari ini akhirnya kesampaian juga ngajak ibu ane dan Gavriel - keponakan ane - untuk wisata pantai sekaligus kuliner ke Pantai Depok, Jogja. Well, tidak dipungkiri setiap mendengar kata "Pantai Depok", pasti yang kepikiran utama itu seafood-nya yang melegenda itu. Dimana kita bisa belanja sendiri seafood mentah di pasar, kemudian 'memasakannya' di warung-warung yang banyak sekali berjajar di tepi Pantai Depok dengan harga yang cukup terjangkau. Selain masakin seafood kita, mereka juga bisa memberi pelengkap seperti tumis kangkung, sambel, dan es degan yang menyegarkan. 

Kami berangkat dari Solo sekitar jam 7 pagi, setelah sebelumnya sarapan soto seger dulu di deket rumah. Perjalanan dari Solo ke Jogja berjalan cukup lancar, walau terdapat sedikit kemacetan di beberapa titik. Yahhh...memang jalan Solo-Jogja itu terkenal banget karena banyak lampu merahnya. Perjalanan dari Jogja ke Parangtritis juga tidak kalah bersaing, banyak titik kemacetan juga disana sini. Bahkan ane sempet salah jalan, niatnya dari Kota Jogja ngarah ke selatan, ini malah ngarah ke barat. Akhirnya puter balik biarpun udah jauh-jauh melewati ringroad. Akhrinya kami sampai di Pantai Depok setelah 3,5 jam perjalanan. Jauhnyooooo...

Sampai Pantai Depok, kami segera menuju ke pasar ikan & seafood di bagian belakang. Ibu ane langsung beraksi membeli 1 kg kepiting mentah dan 1 kg udang. Setelahnya kami sebenarnya hendak menuju tukang masak langganan yang namanya "Bu Ratmi", namun ternyata hari itu warung Bu Ratmi lagi tutup karena beliau lagi ada acara. Akhirnya diantarkan seorang joki masak, kami dipilihkan warung di ujung, yang view-nya langsung ke Pantai.

Segera ibu ane minta dimasakkan Kepiting Asam Manis dan Udang Bakar. Selain itu juga pesan tumis kangkung, dan es degan. Mantaapp.. Warung terlihat agak sepi hari itu. Hanya terdapat 1 keluarga yang terlihat selain kami. Karena saat itu masih hari biasa.

Menunggu agak lama, makanan akhirnya dataaang. Mantaap! Aku lupa foto kepitingnya hehe, tapi ini ada foto udangnya. Gavriel terlihat menikmati banget pemandangan pantai, mungkin karena udah cukup lama juga dia nggak main jauh dari Solo.






7.06.2020

Jogja, 2 Juli 2020 : Hari Kedua di Jogja, Mampir ke Kaliurang.

Entah kenapa malam kemarin ane benar-benar nggak bisa tidur. Jam 23 memang ane udah kerasa banget ngantuk, tapi waktu ane tidurin kok tiba-tiba ngantuk itu hilang. Padahal Hotel Sagan Yogyakarta ini bisa dibilang nyaman banget. Tapi kok malam kemarin ane merasa bantalnya ketinggian 😁😁. Mungkin karena leher ane yang pegel aja. 

Akhir-akhir ini ane emang lagi mendamba banget yang namanya dipijet urut. Tapi harus diurungkan dulu karena masih masa pandemi kan, gak bisa sembarangan dekat dengan orang. Akhirnya ane hanya memberi leher ane minyak aromaterapi yang panas, dan mencoba tidur setelahnya. Aku baru bisa tertidur setelah subuh, jam 04.30, untuk kemudian terbangun lagi jam 07.30. Kepala ane masih agak puyeng-puyeng aja, tapi aktivitas harus segera dimulai.

Pagi ini kami awali dengan sarapan Nasi Soto Kwali yang berjarak 5 kiloan dari Hotel Sagan. Awalnya sih bapak ane ngasi ide makan aja di Warung yang ada di depan Hotel Sagan. Namun akhirnya niat itu diurungkan karena di warung itu banyak banget orang, serta ternyata menunya Nasi Soto Surabaya ! Yah, ane sih gak terlalu cocok ya gan. Karena soto Jawa Timuran itu mostly kuahnya butek, nggak kuah bening kayak soto Solo/Jogja. Akhirnya ane ngusulin cari tempat makan yang lain naik mobil aja. Dan dapatlah kita di Soto Kwali yang berjarak +/- 5 km dari Hotel Sagan. Asiikkkk... Nostalgia lagi di pagi hari.

Setelah mengemudikan mobil sejenak ke arah Kota Jogja, akhirnya ketemu juga itu warung soto. Namun lokasinya itu kurang enak banget gan, di pinggir perempatan. Ane dan bapak ane sempat (lagi-lagi berdebat) karena masalah parkir. Ane sih merasa santai-santai aja. Parkir ya tinggal parkir dipepetin aja. Tapi bapak ane ni kuatirannya setengah mati.🤣🤣🤣

Akhirnya kami pesan soto kwali dan es teh (aku). Entah kenapa pagi ini perasaan ane merasa bahagia dan ringan. Mungkin memang beberapa memori nostalgia itu tidak bisa ane penuhin sekarang, tapi dengan berada dekat di Kota Jogja ini saja sudah membuat ane bahagia. 
"Wah nggak cocok aku Luh, rasanya kayak ada campuran jamunya," kata ibu ane lirih waktu merasakan kuah sotonya untuk pertama kali.

"Aku cocok ii, enak kok," kata ane ke ibu ane.

Kita berbincang sambil terus makan. Ane sendiri tidak terlalu merasakan "rasa jamu" yang ibu ane maksud. 

"Tapi lama-lama enak juga kok," kata ibu ane lagi setelah beberapa suapan.

"Hahaha, yaudah dihabisin aja ma..," ane hanya ketawa aja.

Saat sedang makan dengan khidmat inilah tiba-tiba ane mendapatkan kabar buruk. Hari ini salah satu pekerjaanku (dokumen tambang) kan seharusnya presentasi di Surabaya sana. Nah karena lagi di Solo/Jogja, ane udah minta tolong konsultan lainnya (dengan fee) untuk menggantikan ane presentasi dulu. Dan katanya pas presentasi itu udah selesai dilakukan, ke depannya bakal dilakukan presentasi ulang, karena katanya peta topografi ane tidak sesuai kondisi lapangan 🤨🤨🤨. Mereka menganggap peta topografi mereka yang paling benar. Apa dasar mereka ngomong begitu? Padahal kedua peta topografi ini (peta dia dan petaku) sama-sama dibuat dari data online. Kok bisa merasa mereka paling benar?? Mereka bilang karena peta topografiku salah, maka di dalamnya juga akan salah semua. Dan itu dikatakan setelah presentasi sudah selesai dilaksanakan 🤐🤐🤐🤐🤨🤨 pffffffftttttt.

Kabar itu membuat ane badmood seketika. Ane langsung telfon klien ane untuk meminta maaf dan berjanji untuk segera memperbaikinya. Wtf. Benar-benar merusak mood ane yang sebelumnya masih bahagia banget. Untungnya klien ane bisa mengerti situasinya. 

Akhirnya setelah selesai makan, kami pun beranjak kembali ke Hotel Sagan untuk bersiap check out. Pikiran ane masih agak badmood, tapi ane berusaha menguasainya. 

'Udahlah... Ane nggak punya pilihan lain selain memperbaiki peta-peta tersebut dan melakukan presentasi ulang. Ini liburan keluarga yang jarang banget bisa terjadi, apalagi semasa pandemi. Lebih baik ane tetap ceria saja. Revisi pikir nanti lah,' pikir ane.

Sampai Hotel Sagan kembali, karena masih jam 11 siang, kami sempat nyantai-nyantai kembali di kamar. Paling nggak check out jam 12 lah biar gak rugi 😁😁. Disitu ane sempet usul gimana kalau kita jalan lagi ke Kebun Buah Mangunan di Bantul, kan belum pernah tu. Tapi belum-belum bapak ane udah menanyakan kondisi jalannya,

"Tapi ojo sing dalane koyo wingi lo. Goleko sing dalane biasa wae. Aku ki nduwe tanggungan Gavriel iki," katanya.

Ane memang belum tau sama sekali medan jalanan ke Kebun Buah Mangunan itu kayak apa.

"Yowis negnu ning Kaliurang wae. Aku yo durung ngerti kondisi jalane og," jawab ane.

"Yowis iyo ngono wae," tambah bapak ane.

Padahal sebenarnya ane pengen ke Kebun Buah Mangunan lo. Tapi ane males berdebat aja. Yasudah, Kaliurang juga tidak kalah enaknya kok. Lagipula kalau dipikir udah lama juga sejak terakhir ane kesana.

"Meh nyetir opo?" Tawar ane ke bapak ane. Kebetulan karena kurang tidur stamina ane rada kurang gitu. Lagipula juga supaya metode nyetir ane nggak diprotes-protes bapak ane terus.

"Wis kowe wae. Aku gak mudeng jalane og," jawab bapak ane.

"Gampang kok. Ki tinggal ke arah UGM terus luruuus wae wis Jalan Kaliurang," jawab ane lagi.

"Wis kowe wae, gak wani aku," jawab bapak ane lagi.

Yaudah akhirnya ane nyetir lagi. Si Kia Rio kubawa perlahan meninggalkan area Sagan yang penuh kenangan menuju UGM dan setelahnya lurus menuju Jalan Kaliurang. Di Jalan Kaliurang km 5,5 , ibu ane sempat berhenti mampir Indomaret untuk beli minuman dan snack. Ane hanya menunggu di mobil sambil memutar playlist lagu jadulku, Kehadiranmu, yang dicover sama Tereza. Entah kenapa kok suaranya empuuuk banget dan lagunya pas dengan suasana hati.

"Hadirnya dirimu...
Berikan suasana baru..
Kau mampu tenangkan aku..
Disaat risau dalam hatiku...

Lembutnya sikapmu..
Meluluhkan hati ini..
Terbuai aku terlena..
Oleh dirimu.. oleh dirimu..

Jantungku berdebar..
Saat engkau ada di dekatku..
Mungkinkan diriku..
Telah jatuh cinta pada dirimu..

Sebisa diriku...
Mencoba untuk melupakanmu..
Namun kutak bisa..
Kau pun selalu ada..
Dalam hidupku.."

Ane menyanyikan lagu Kehadiranmu itu dengan syahdu di dalam mobil sampai akhirnya ibu ane selesai belanja minuman dan snack. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi ke Kaliurang. Perjalanan sejauh +- 20 km berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Dalam waktu kurang dari 1 jam kami telah mendekati area Telaga Putri Kaliurang.

"Rumah hantu, aku mau ke rumah hantu," kata Gavriel dari kursi belakang.

"Rumah hantu sing endi sih?" Tanya ane penasaran. Ane emang pernah lihat youtuber Joe Kal eksplore rumah hantu di Kaliurang ini. Namun apakah bener itu?

"Sik tak coba google map sik," kataku. 

Namun setelah google map, ane tidak menemukan keyword "rumah hantu" di sekitar Kaliurang sini. Mungkin itu memang hanya sebutan warga sekitar aja. Bukannya resmi disebut "wisata rumah hantu" gitu.

"Gak eneng ki. Gak usah ya. Langsung telaga putri wae," jawab ane.

Gavriel terlihat tidak protes. Ya udah ane lanjut jalan aja. Eh beberapa saat jalan, ane lihat rumah kuno di kanan jalan.

"Eh, eh, apa itu rumah hantunya??" Tanya ane penasaran. Siapa tau Gavriel atau ibu ane udah tau bentuknya kan.

"Gak ngerti juga aku luh," kata ibu ane sambil melihat ke arah yang ane tuju.

"Haha yowis. Itu palingan cuma sebutan masyarakat sini aja, bukan tempat wisata," jawab ane sambil terus mengarahkan mobil ke Telaga Putri.

"Nanti aku tak beli jadah sik di Telaga Putri. Semoga buka," kata ibu ane ketika Si Kia Rio semakin mendekati Telaga Putri.

"Iyo mah, tapi kayane gak buka ee. Ini aja masih sepi banget, " kata ane sambil mengarahkan si Kia Rio ke parkiran.

"Eh bukak ternyata !" Kata ane dengan antusias. 

Memang saat itu ada 2 penjual oleh-oleh makanan (jadah, tempe bacem) yang buka gan. Ibu ane langsung eksekusi dengan membeli 20 jadah. Setelahnya, kami pun memutuskan ngopi di warung-warung atas yang terlihat juga sudah mulai buka. Ane pesen kopi susu dan emping. Sementara Gavriel dan bapak ane terlihat jalan-jalan dan foto-foto dibawah. Ane ngobrol-ngobrol santai sama ibu ane.

Kami menghabiskan waktu di Kaliurang sampai sekitar jam 2 siang, karena langit udah mulai mendung juga. Akhirnya kami pulang Solo lewat jalan alternatif, setelah ibu ane sempet beli pisang di daerah Pakem. Sekitar sampai Prambanan, ane minta bapak ane untuk gantian nyetir karena mata ane udah berat banget. Udah nggak mampu fokus ke jalanan karena kurang tidur. 

Perjalanan dari Jogja ke Solo berlangsung dengan lancar. Kami sampai di Solo sekitar jam 4 sore. Sampai di Solo, kami pun langsung tepar istirahat semua. Malamnya ane ngegrab lauk Tongseng ayam + kambing karena udah mager banget mau keluar lagi. Pengalaman yang menyenangkan. 

7.05.2020

Jogja, 1 Juli 2020 : Sekeluarga ke Kebun Teh Nglinggo, Kulonprogo

Rabu,1 Juli 2020
Lima hari sejak ane pulang ke Solo sejak Covid 19, udah gatel aja ngajak keluarga ane jalan. Boseeen aja gitu gan rasanya kalau hanya di rumah aja.

Setelah browsing sejenak, lihat postingan temen lama ane di Instagram, ane terinspirasi untuk mengunjungi Kebun Teh Nglinggo di Kulonprogo. Soalnya kok emak ane lagi lagi, dan lagi lagi ngajaknya ke Tawangmangu. Liburan sejak bertahun-tahun yang lalu kok tujuannya pasti ke Tawangmangu :D :D . Untungnya emak dan bapak ane setuju. Terutama bapak ane yang suka kuatiran. Ane sih bilang ke bapak jalan ke Kebuh Teh Nglinggo itu belak-belok biasa kok, nggak ekstrim hehehe. (Padahal ane sendiri sama sekali belum tau rutenya kayak apa).

Jam 08.00, akhirnya kami berempat - ane, ibu ane, bapak ane dan gavriel keponakan ane - berangkat dari Solo menggunakan Kia Rio Matic 2012 kesayangan ane, ane yang nyetir. Rute yang kita lewati adalah Solo - Depok - Sleman - Nglinggo. Sebenarnya bisa lewat Boyolali sih gan google map juga nyaranin lewat situ. Tapi kenapa lewat Jogja? 

Jawabannya adalah..... ntah kenapa kok ane lagi pengen banget yang namanya NOSTALGIA dengan sepanjang jalan kenangan Solo - Jogja - Solo gan. Nostalgia semasa kuliah, dan semua kenangan yang ada di dalamnya. Rasanya lagi pengeeeen banget melewati jalanan yang dulu sering kulewati semasa kuliah. Melewati jalanan yang dulu aku bercengkerama dengan teman-teman dan sahabatku. Jalanan yang dulu aku mampir ke warnet dan ngerjain tugas. Kosan lamaku, burjo lamaku tempat aku biasa makan nasi telur dan nasi sarden hehehe.

Kami sempat mampir ke Sop Ayam Pak Min Klaten untuk sarapan. Aku pesan sop ayam paha atas dan ibu, bapak, serta Gavriel pesan sop biasa. Oya sepanjang jalan pas nyetir ini ane sering kesel sama bapak ane, soalnya orangnya gak percayaan banget kalau disetirin orang. Kata-kata, 

"Awas !"

"Kunci pintunya!"

"Riting."

"Jalan di jalur kiri aja."

"Pelan-pelan aja."

Dll itu-ituuuu aja sepanjang jalan diulang-ulang. Kan ane yang supirnya merasa risih aja wkwk. Bukannya ane merasa jumawa nyetir sih gan. Tapi kalau agan yang di posisi ane, pasti kerasa lah. Gak enak banget nyetir sambil diatur-atur gitu. Mana bapak ane tu gak bisa nyantai gitu gan disetirin. Pandangannya selalu was-was kedepan. Kan ane pengennya ya keluarga ane itu seneng-seneng, santai, menikmati perjalanan gitu gan. Tapi memang sepertinya traveling gaya Road Trip gini memang bukan gaya bapak ane. 

Selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke kota penuh kenangan itu, Kota Jogja. Dari Sop Ayam Klaten ke Kota Jogja kutempuh selama 1,5 jam. Oya, sewaktu melewati Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro di Kota Klaten, otak ane kembali bernostalgia kenangan 8 tahun silam (September 2012), sewaktu ane kecelakaan tunggal motor disini. Nanti akan ane ceritakan di part lain yang khusus itu ya. Hihi. Ane masih cukup ingat lo kejadian detailnya.

Mendekati Kota Jogja, google map-ku mengarahkan melewati Jalan Ring Road Utara, karena langsung akan ditembuskan ke arah Samigaluh, Kulonprogo. Lagi-lagi otakku diserbu gelombang kenangan. Karena jalan Ring Road Utara ini adalah salah satu jalan yang paling sering ane lewatin kalau mau pulang ke Solo. Mengenang masa-masa perjuangan itu :) .

Nyetir terus di sepanjang Ring Road Utara, sampailah ane di cabang Ring Road yang kalau ke kiri ke arah Wates/Purworejo, sedangkan kanan ke arah Magelang. Kalau ke arah Samigaluh kan seharusnya ane ambil yang cabang kiri ke Wates/Purworejo. Eh ane salah ambil yang ke arah Magelang. Alhasil kami diarahkan Google Map melewati jalan alternatif tembusan ke Samigaluh yang lewat jalan-jalan sempit. Wajah bapak ane sudah tegang aja ni di sepanjang jalan, lihat ane dengan begitu lincahnya nyetir ke kanan, banting kiri, lambung kanan, klakson, ngerem, belok tajam, wkwkwk.

Akhirnya, setelah melewati jalan tembusan itu beberapa saat, sampailah kami mendekati Kebuh Teh Nglinggo, namun untuk masuk ke arah Kebun Teh kalau ngikutin google map kok jalannya naik curam banget. Akhirnya ane lurus aja terus untuk menemukan jalan yang agak landai. Sempat kebingungan beberapa saat sebelum bapak ane turun untuk nanya orang setempat mana jalan paling aman dan landai yang bisa dilewatin.

"Kayak gitu itu nanya dulu. Lurus aja terus sampai nemu pertigaan, nanti belok kiri terus lurus aja," kata bapak ane. Nadanya udah agak emosi aja nih gan, karena sebenarnya dia tu paling nggak suka wisata ke jalan-jalan yang ekstrim gini hahaha.

Ane ngikutin arah yang ditunjukkan bapak ane dan mulai masuk jalan yang menuju Kebun Teh Nglinggo. Dan...... ternyata jalannya itu gan........bagi bapak ane bisa dibilang super ekstrim !!! Hahaha. Jalanan hanya selebar +/- 3 meteran, aspal batu, muter-muter dan naiik-naiik terus non stop. Ane 90% menggunakan gigi 1 disini. Bahkan sempat ada tikungan naik yang Kia Rio sudah maksa maksimal, sudah gigi 1 tapi hampir tidak kuat (tapi ane yakin masih bisa teratasi). Kalau bagi ane sih, jalan ini tingkat seremnya 8 dari 10. Serem, tapi belum sampai membuat ane bergidik atau nggak berani menjalaninya.

"Wis! Kapok aku !" Kata bapak ane dengan kesal meihat kondisi jalanan yang naik-naik dan mutar-mutar tanpa henti.

Ane yang lagi konsentrasi nyetir pun agak emosi,

"Yowis to, lain kali nggak usah ikut. Wong aku ki yo pergi-pergi sendiri gpp," kataku dengan sengit. Sebenarnya ini ungkapan emosi aja, ya ane tetep pengen pergi sekeluarga.

"Aku iki yo senenge dolan, main kesana kemari. Kalau di Jawa Timurpun aku sering pergi ke Tulungagung, Trenggalek, Mojokerto, Lumajang, Situbondo, Sampang, semuanya nyetir sendiri. Kalau di Solo cuma suruh di rumaaaah aja ya aku bosen," kataku lagi agak sedikit emosi.

Yah ane nggak bisa nahan emosi aja gan. Maksud ane ngajak mereka jalan kan supaya mereka seneng, dan apapun halangan yang kita hadapin di depan, seharusnya kan diselesaikan bersama. Entah saling mengarahkan, entah saling membantu solusinya, bukan hanya menyalahkan dan malah marah. Pffffttt...Lagipula ane cukup percaya diri nyetir di jalanan ini, itu karena ane sudah sering mobilan di jalanan Jawa Timuran yang banyak bus serta truk. Selain itu jalanan ke lokasi tambang juga biasanya kecil-kecil dan berbatu. Tapi bapak ane memang tingkat ketakutannya sudah terlalu berlebihan.

Akhirnya, setelah putaran dan naikan jalan entah keberapa, sampaiiii juga kami di area parkir tempat wisata Kebuh Teh Nglinggo. Huaaaah lega ! Ane sih sebenarnya biasa aja ya. Tapi ane benar-benar nggak nyaman dengan reaksi bapak ane menghadapi jalanan kayak gini. Wajahnya terlihat tegang dan agak marah karena ketakutan. Apakah mungkin bapak ane ada fobia sama naik mobil di jalanan berliku ya?

Akhirnya ane, ibu ane dan Gavriel pun turun dan duluan santai-santai di warung. Ane segera pesen mi ayam, mendoan, sama teh panas. Ibu ane dan Gavriel pesan menu lain. Bapak ane terlihat masih rokokan di tempat parkir, mungkin masih shock dengan jalanan barusan dan udah memikirkan 'ngerinya' jalan balik nanti versi dia Wkwkwk. Kalau ane sih biasa aja, dan menikmati suasana. Kondisi udara terasa lumayan segar. Ane tiduran sambil menikmati suasana.
"Bu, kebun teh ini bagian lereng gunung apa nggih? Merbabu?" tanyaku ke ibu pemilik warung sewaktu dia mengantarkan makanan.

"Bukan mbak, bukan Merbabu," jawabnya.

"Perbukitan Menoreh ya Bu?" tanyaku lagi.

"Nah iya mbak, Menoreh ! Monggo nggih."katanya sambil menyerahkan mi ayam dan mendoanku. Aku memakannya dengan cukup nikmat.
Sesaat kemudian, Alhamdulillah ketegangan bapak ane sudah cair dan akhirnya kami berjalan ke arah hamparan kebun teh di atas sana. Disana kami habiskan dengan foto-foto. Gavriel terlihat semangat banget foto-foto, pakai kacamata hitam 'gagang satu' yang kubawa dari Solo. Wkwk. Gagangnya coklek 1, untungnya yang satunya masih bisa nyangkut di telinga.

Setelah puas foto-foto di spot tersebut, akhirnya kami pindah ke spot yang lebih tinggi. Kami harus berjalan mendaki sekitar 200 meter. 

Spot kedua inilah ada tulisan "Kebun Teh Nglinggo", dan ketika masuk lebih dalam, ada beberapa spot foto yang anglenya sangat cantik. Gurat-guratan Perbukitan Menoreh terlihat kehijauan dan sangat mempesona. Kami menghabiskan waktu beberapa saat disini.
Setelah puas menikmati keelokan dan kesegaran Kebun Teh Nglinggo, lagipula sudah agak mendung, akhirnya jam 15.00 ane usulkan kita turun ke Kota Jogja sudah. Rencana kami malam itu adalah nginep semalam di Kota Jogja, daerah Malioboro. Karena kok capek banget rasanya kalau langsung pulang ke Solo malam ini juga. Lagipula, ane belum puas bernostalgia dengan Kota Jogja secara lebih detail. Untungnya pas perjalanan pulang dari Kebun Teh Nglinggo kembali ke Kota Jogja, bapak ane tidak terlalu cerewet. Memang sih, wajahnya masih tegang, was-was dan suka mengarahkan, tapi tidak terlalu semarah pas berangkat tadi. Perjalanan pulang berlangsung dengan lancar dan cukup cepat. Setelah browsing sejenak, ane putuskan tidak jadi nginap di Hotel sekitar Malioboro karena harganya mahal banget. Semalam bervariasi antara 700ribu sd jutaan. Sayang aja duitnya. Browsing lebih lanjut, ane menemukan hotel yang lumayan bagus dan luas.

Hotel Sagan Yogyakarta. Itulah nama hotel tempat kami akan nginap malam ini. Nama yang tidak asing bagi ane. Karena....Sagan itu kan daerah dimana mantan kosan ane pas pertama kali kuliah di Jogja gan. Kebetulan banget dapat hotel disini, sempurna deh nostalgia ane. Kos dengan segala macam kenangannya yang campur aduk disana. Awwwhhhh rasanya gimanaaa gitu ! Kebetulan Hotel Sagan Yogyakarta hanya berjarak 100 meteran aja dari mantan kosan ane itu gan.
Malam itu setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami sempat muter-muter Kota Jogja. Si Kia Rio kuarahkan dari Hotel Sagan - menuju Malioboro - menuju Alun2 - menuju Museum Dirgantara - menuju Stasiun Lempuyangan. 
"Aku wes lupa ee jalan ini," kata ane berkali-kali. 

"Mungkin kowe wes pernah lewat. Hanya lupa aja," sambung ibu ane.

"Iyo, terakhir kapan to kowe?" Sambung bapak ane lagi.

"2015. Berarti 5 tahun yang lalu," jawab ane setengah bernostalgia.

Tapi jujur emang udah banyak banget jalanan di Jogja ini yang ane benar-benar lupa gan. Mungkin ane memang pernah lewat, tapi untuk kenangan pastinya benar-benar lupa. Dulu ane harusnya bikin jurnal ginian tiap hari ya gan, biar gak lupa sedikitpun momen penting ! Karena jurnal pas kuliah (selama 2010-2015) dan jurnal selama kerja di C**B N***a Jakarta (April 2015 sd Juni 2015) adala 2 jurnal favorit ane. Karena disitulah semua perjuangan ane berawal, dari mulai bermimpi, dapat beasiswa, pernah broke, benar-benar broke parah nggak punya uang sama sekali.

Awalnya kami berencana akan makan Bakmi Jawa di depan Stasiun Lempuyangan. Bakmi Jawa itu adalah favorit ibu ane sejak 5 tahun yang lalu, dimana ibu ane setiap ke Jogja jenguk ane selalu makan disini. Namun ane pesimis warung itu masih ada, karena seingat ane terakhir ane dan ibu ane kesitu, itu warung udah nggak ada. Akhirnya kita memutuskan makan nasi goreng di warung depan Hotel Sagan. Ane masih inget banget, warung ini udah ada sejak zaman dulu kala ane ngekos, cuma seinget ane nggak pernah makan disini. Malam itu kami makan nasi goreng seafood.

Malam itu sempar diperibet dengan pencarian 'pampers' untuk Gavriel yang susahnya minta ampun. Kota Jogja memang tidak Lockdown, PSBB, atau semuanya ya, tapi kebanyakan supermarket ternyata udah tutup dari jam 9 malam. Alhasil sehabis makan kami mencari pampers kesana kemari tanpa hasil. Bapak ane akhirnya kepikiran buat minta tolong ojek online yang banyak berseliweran di sekitar warung. Tarifnya tentu aja jadi abu-abu. Ane sendiri sempat ragu bilang iya pas bapak ane ngusulin itu, takutnya ya, ditarif seenaknya gitu ! Eh beneran donk, pas akhirnya dia dapat pampers, dia mematok jasanya nyari aja itu Rp 50.000, sementara pampersnya sendiri Rp 48.000. Bapak ane terlihat agak gelo, tapi ane ingetin. 

"Itu idemu loh," kata ane nahan ketawa😁😁. Mana pampersnya akhirnya salah, pampers dewasa. Ibu ane akhirnya memodifnya menjadi pampers anak. Disobek sana sini.

Dan ternyata pas dipasangin ke Gavriel, semalaman dia gak ngompol. Padahal biasanya kalau di rumah ngompol banyak-banyak lo 🤣🤣🤣🤣. Seratus ribu hilang sia-sia wkwk.
Malam itu entah kenapa ane menjadi susah tidur. Ane akhirnya baru bisa tertidur setelah subuh jam 04.30 pagi. Zzzzz.  Hari ini benar-benar melelahkan.

Hari Esoknya : Disini