Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
Aku tertegun menatap lembaran peta Kompleks Lumbini yang membentang di depanku.
Peta Kompleks Lumbini yang sangat luas
"Wuahh... ternyata luas banget, Mas. Enggak mungkin kita keliling jalan kaki, apalagi waktu kita cuma dua jam sebelum bus ke Kathmandu berangkat," kataku pada Fredo, agak sangsi melihat skala areanya.
Belum sempat Fredo merespons, seorang lelaki tua dengan gurat wajah khas lokal mendekati kami. Mengikuti arah pandang kami ke peta, dia langsung menawarkan tumpangan cycle rickshaw—becak kayuh tradisional—untuk berkeliling. Dengan bahasa isyarat dan logat lokalnya, dia meyakinkan kami bahwa berjalan kaki mengelilingi Lumbini dalam waktu singkat adalah misi mustahil, kecuali kami rela kaki gempor dan membuang waktu berharga. Untuk jasanya, lelaki tua itu meminta tarif 500 Rupee Nepal.
Mengingat kondisi kantong, naluri tawar-menawar backpacker kami langsung aktif. Aku mencoba menawar di angka 400 Rupee, beralasan bahwa kami hanyalah mahasiswa yang sedang melanglang buana dengan modal pas-pasan. Setelah negosiasi singkat, dia akhirnya tersenyum setuju. Dia mulai mengayunkan pedal sepedanya dengan penuh semangat, membawa kami menyusuri jalur-jalur teduh di situs suci ini.
Lumbini bukanlah sekadar destinasi wisata biasa. Situs yang terletak di Distrik Rupandehi ini merupakan salah satu pilar ziarah paling sakral bagi umat Buddha di seluruh dunia. Berdasarkan tradisi kuno, di tanah sinilah Ratu Mayadevi melahirkan Pangeran Siddharta Gautama pada tahun 528 SM, tepat di titik yang kini dilindungi oleh Kuil Mayadevi.
Tata ruang Situs Lumbini dirancang dengan sangat unik dan penuh filosofi. Di dalam kawasan mahaluas ini, jangan harap kamu bisa menemukan deretan toko suvenir, hotel, atau restoran bising. Semuanya steril, menyisakan zona biara luas yang memancarkan ketenangan. Area biara ini secara geopolitik spiritual dibagi menjadi dua zona utama: Zona Biara Timur dan Zona Biara Barat.
Zona Timur didedikasikan untuk biara-biara beraliran Theravada (tradisi yang lebih tua dan konservatif). Sementara Zona Barat menjadi rumah bagi biara-biara megah beraliran Mahayana dan Vajrayana. Uniknya, kompleks-kompleks biara di sini dibangun langsung oleh berbagai negara di dunia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha, seperti Myanmar, India, Thailand, hingga Sri Lanka. Bahkan, negara-negara Eropa seperti Jerman dan Prancis pun turut mendirikan biara dengan arsitektur memukau di sini.
Pemberhentian pertama kami adalah kompleks biara milik negara Myanmar. Sebuah bangunan suci megah bernama Pagoda Lokamani Cula Burma langsung berdiri gagah menyambut kami. Kubah pagodanya yang dilapisi warna keemasan tampak berkilau megah di bawah sengatan matahari siang. Dengan ukiran arsitektur yang luar biasa detail, cantik, dan presisi, bangunan ini benar-benar memanjakan mata kamera.
Namun, kekaguman itu langsung diuji oleh realitas cuaca. "Panas... panas banget!" ujarku tertahan kepada Fredo.
Sesaat setelah melangkahkan kaki ke pelataran untuk mengelilingi pagoda, telapak kaki kami langsung disambut oleh ubin yang membara. Di setiap area biara di Lumbini, semua pengunjung memang diwajibkan untuk melepas alas kaki sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
"Udah, ayo kita keliling cepat aja, terus segera lanjut!" sahut Fredo yang tampaknya juga mulai kepanasan.
Kami pun setengah berjalan cepat mengitari kemegahan pagoda emas itu, mengambil beberapa foto detail, lalu bergegas kembali ke cycle rickshaw. Lelaki Nepal pengayuh becak kami tampak luar biasa. Keringat deras mulai bercucuran di pelipisnya, tetapi gumpalan otot di kakinya tetap stabil mengayuh kayuhan demi kayuhan di jalur berdebu. Keramahannya pun tak surut; dia dengan senang hati melayani rentetan pertanyaan kami tentang Nepal.
"Sir, di Nepal ini mayoritas penduduknya Hindu atau Buddha?" tanyaku, penasaran karena agak ironis mengingat di sinilah tempat lahirnya Sang Buddha.
"Hindu, Madam... Sekitar 70 persen orang Nepal itu beragama Hindu," jawabnya ramah dari atas sadel.
"Tapi Sir, di sini rasanya sangat tenang dan damai. Sebelumnya kami di India, keadaannya sangat riuh dan berisik. Jadi rasanya agak aneh sekarang suasananya sepi begini," timpal Fredo.
"Yeah, di sini jauh lebih baik dan tenang daripada di Kathmandu," kata lelaki itu seraya tersenyum.
"Sir, kalau bahasa Hindi, kamu bisa bicarakan juga?" tanya Fredo lagi.
"No, kami berbicara bahasa Nepal di sini, Sir," jawabnya tanpa kilah lelah.
Percakapan mengalir santai diselingi tawa kecil sepanjang jalan. Kami melintasi rimbunnya vegetasi Lumbini sebelum akhirnya tiba di pemberhentian berikutnya: kompleks biara milik negara India. Beberapa anak tangga batu menyambut kami di gerbang masuk utama. Dan seperti biasa, ritual melepas alas kaki kembali dilakukan.
Saat hendak melangkah masuk, sebuah sayup percakapan yang sangat akrab di telinga menghentikan gerakan kami.
"Dari Indonesia ya Pak?" aku mendengar Fredo tiba-tiba bertanya kepada seorang pria paruh baya yang juga bersiap memasuki biara India.
"Iya, iya," jawab Bapak tersebut dengan wajah terkejut sekaligus sumringah, "Kamu juga?"
"Iya Pak..." jawab Fredo bersemangat.
"Wah, Bapak dari Indonesia ya? Kami baru ketemu orang Indonesia pertama ini, Pak, selama perjalanan darat dari India!" kataku langsung ikut nimbrung dengan perasaan luar biasa senang.
Bertemu dengan teman sebangsa di pelosok negara orang selalu memunculkan kehangatan instan yang magis. Pertemuan itu mencairkan status kami yang asing menjadi seolah kerabat dekat. Kami pun mengobrol akrab, saling melempar cerita perjalanan.
Sembari mengobrol santai, mataku perlahan menjelajahi dinding-dinding biara India yang luar biasa indah. Di sepanjang dinding tersebut, berderet lukisan relief yang merangkum seluruh epik perjalanan spiritual Sang Buddha secara visual. Cerita gambarnya begitu hidup dan memikat, membuatku menghentikan langkah di setiap sudut untuk mengabadikannya lewat lensa kamera. Sebagai seseorang yang sangat menghormati Buddha, berada di ruang penuh visual historis ini rasanya luar biasa.
Lukisan-lukisan tersebut bercerita runtut seperti garis waktu kehidupan:
Dimulai dari kelahiran legendaris Pangeran Siddharta, di mana langkah pertamanya di bumi langsung ditandai dengan mekarnya bunga teratai di bawah kakinya, sementara sang ibu, Ratu Mayadevi, mengawasi di latar belakang.
Lalu, transisi dramatis ketika sang Pangeran memutuskan meninggalkan semua kemewahan istana dan kesengsaraan duniawi. Ada gambar di mana beliau memotong rambut panjangnya dengan pedang di tepi Sungai Anoma untuk menempuh jalan hidup sebagai pertapa suci.
Lukisan berikutnya menggambarkan masa-masa sulit penyiksaan diri ekstrem yang dijalani Siddharta di Hutan Uruvela, Gaya, selama enam tahun. Tubuhnya digambarkan menjadi sangat kurus kering dan lemah hingga tulang-tulangnya menonjol.
Hingga tiba pada titik balik esensial: seorang perempuan desa bernama Sujata Garh, yang tidak tega melihat kondisi sang pertapa yang sekarat, mengulurkan semangkuk nasi susu (kheer). Makanan itu menyelamatkan nyawanya dan menyadarkan Siddharta bahwa penyiksaan diri yang ekstrem bukanlah jalan menuju pencerahan—melainkan "Jalan Tengah" (Majjhima Patipada). Di bawah Pohon Bodhi setelah momen itu, beliau akhirnya mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha.
Relief berikutnya menampilkan kisah-kisah penuh welas asih, seperti saat seekor gajah dan kera hutan dengan tulus menawarkan madu serta buah-buahan untuk Sang Buddha, hingga momen mengharukan saat beliau dengan tangannya sendiri merawat Biksu Putigatta Tissa yang sedang menderita sakit parah.
Ada pula gambaran khotbah pertama pembubaran roda Dhamma (Dhammacakkappavattana Sutta) kepada lima pengikut pertamanya di Taman Rusa Sarnath, India.
Kisah legendaris penaklukan Nalagiri, seekor gajah murka yang dilepas untuk membunuhnya, namun justru bertekuk lutut dengan tenang di hadapan pancaran cinta kasih (metta) Sang Buddha.
Dan akhirnya, gambar posisi terakhir Sang Buddha saat mangkat dan mencapai Mahaparinibbana di Kusinara—posisi berbaring menyamping ke kanan yang kelak diabadikan dalam patung-patung Reclining Buddha terkenal di berbagai belahan dunia, mulai dari Wat Pho di Bangkok hingga Mahavira Majapahit di Mojokerto.
- Kelahiran dan langkah pertama Pangeran Siddharta, dibelakangnya adalah sosok Ibunya, Ratu Mayadevi. Langkah kaki Pangeran Siddharta ditandai oleh bunga teratai. (GALUH PRATIWI)Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan semua kesengsaraan duniawi dan memotong rambutnya di Sungai Anoma untuk menjadi seorang pertapa (GALUH PRATIWI)Pangeran Siddharta melakukan praktek meditasi di Uruvela, Gaya selama 6 tahun. Melakukan penyiksaan diri untuk melepaskan diri dari kesengsaraan duniawi. Tubuhnya menjadi sangat kurus dan lemah saat itu. (GALUH PRATIWI)Seorang perempuan desa bernama Sujata Garh tidak tega melihat kondisi Pangeran Siddharta yang sudah sangat lemah sehingga menawarinya nasi susu. Dari situlah Pangeran Siddharta menyadari bahwa penyiksaan diri yang ekstrim bukanlah jalan untuk memperoleh pencerahan. Kemudian beliau pindah bermeditasi di bawah pohon bodhi dan memperoleh pencerahan, mengajarkan ajaran "jalan tengah" dan menjadi Buddha (GALUH PRATIWI)Seekor gajah dan kera menawari Buddha madu dan buah-buahan untuk dimakan (GALUH PRATIWI)Buddha merawat Biksu Putigatta Tissa yang sedang sakit (GALUH PRATIWI)Buddha mengajarkan Dhamma kepada pengikut-pengikutnya di Sarnath (sekarang di India dekat kota Bodh Gaya) (GALUH PRATIWI)Buddha menjinakkan gajah yang mengamuk di Nalagiri (GALUH PRATIWI)Posisi terakhir Buddha sebelum meninggal. Posisi ini banyak diabadikan di beberapa patung Buddha di berbagai belahan dunia seperti Bangkok (Wat Pho) dan Mojokerto (Mahavira Majapahit) (GALUH PRATIWI)
Di tengah keasyikanku memotret, istri dari Bapak tadi menyusul dan bergabung bersama kami setelah selesai mengitari sudut lain kompleks.
"Ibu beragama Buddha ya? Saya lihat tadi Ibu sempat berdoa di dalam," tanyaku dengan nada sopan.
"Tidak, saya Katolik," jawab Ibu tersebut hangat sambil tersenyum tulus. "Tapi tidak apa-apa kan kita berdoa di sini? Kita harus selalu mengucap syukur karena perjalanan kita sudah diberkahi sampai bisa menginjakkan kaki di tempat sejauh ini."
"Iya, benar sekali, Bu. Oya, asalnya dari mana, Bu?" tanyaku lagi.
"Kami dari Surabaya. Ini sudah hari-hari terakhir kami di Nepal. Sebelumnya kami dari Kathmandu dan Pokhara. Saya senang sekali di sini karena suasananya tenang sekali. Kalau di Kathmandu kemarin sering hujan. Kalau kalian sendiri rutenya dari mana?"
"Kami backpacker-an dari India, Bu. Rencananya setelah ini baru mau lanjut naik bus ke Kathmandu. Di sana bagus ya, Bu?" tanya Fredo bergantian.
"Yah, bagus kok. Cuma pas kami di sana kemarin sayangnya mendung terus setiap hari," cerita Ibu itu menceritakan pengalamannya. "Kalau Pokhara, menurut kami ya biasa saja, rasanya malah mirip seperti Sarangan. Tahu Telaga Sarangan kan? Yang di lereng Gunung Lawu itu? Mirip seperti itu," tambahnya jujur.
Mendengar ucapan Ibu itu, aku dan Fredo langsung tertawa kecil. "Wah, terima kasih banyak informasinya, Bu! Kalimat Ibu barusan jujur sedikit menghibur kami. Soalnya rencana awal kami itu mau ke Pokhara, tapi gara-gara kereta dari India kemarin telat parah, rute ke Pokhara terpaksa kami batalkan."
Kami masih melanjutkan obrolan panjang yang gayeng setelah itu, bertukar cerita tentang suka duka di jalanan, hingga menyempatkan diri untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Usia Bapak dan Ibu ini bisa dibilang sudah tidak muda lagi, rambut mereka memutih, namun pancaran energi dan semangat menjelajah mereka benar-benar mengagumkan.
Melihat mereka, dalam hati aku menggantungkan sebuah harapan: kelak saat aku menua, aku ingin menjadi seperti mereka. Tetap memiliki jiwa petualang yang menyala-nyala, tanpa pernah membiarkan angka usia menjadi batas untuk melihat indahnya dunia.
Waktu dua jam kami akhirnya berputar cepat. Setelah saling melempar senyum dan rentetan nasihat perjalanan yang berharga, kami pun berpisah ke arah yang berlawanan.
Terima kasih, Bapak dan Ibu asal Surabaya. Di tengah tanah suci Lumbini yang asing ini, kehangatan kalian akan selalu saya ingat dalam hati.












































