Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

6.09.2026

[PART 10] Menggapai Himalaya : Melacak Jejak Langkah Buddha di Tanah Suci Lumbini !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI

Aku tertegun menatap lembaran peta Kompleks Lumbini yang membentang di depanku.

Peta Kompleks Lumbini yang sangat luas 

"Wuahh... ternyata luas banget, Mas. Enggak mungkin kita keliling jalan kaki, apalagi waktu kita cuma dua jam sebelum bus ke Kathmandu berangkat," kataku pada Fredo, agak sangsi melihat skala areanya.

Belum sempat Fredo merespons, seorang lelaki tua dengan gurat wajah khas lokal mendekati kami. Mengikuti arah pandang kami ke peta, dia langsung menawarkan tumpangan cycle rickshaw—becak kayuh tradisional—untuk berkeliling. Dengan bahasa isyarat dan logat lokalnya, dia meyakinkan kami bahwa berjalan kaki mengelilingi Lumbini dalam waktu singkat adalah misi mustahil, kecuali kami rela kaki gempor dan membuang waktu berharga. Untuk jasanya, lelaki tua itu meminta tarif 500 Rupee Nepal.

Mengingat kondisi kantong, naluri tawar-menawar backpacker kami langsung aktif. Aku mencoba menawar di angka 400 Rupee, beralasan bahwa kami hanyalah mahasiswa yang sedang melanglang buana dengan modal pas-pasan. Setelah negosiasi singkat, dia akhirnya tersenyum setuju. Dia mulai mengayunkan pedal sepedanya dengan penuh semangat, membawa kami menyusuri jalur-jalur teduh di situs suci ini.

Lumbini bukanlah sekadar destinasi wisata biasa. Situs yang terletak di Distrik Rupandehi ini merupakan salah satu pilar ziarah paling sakral bagi umat Buddha di seluruh dunia. Berdasarkan tradisi kuno, di tanah sinilah Ratu Mayadevi melahirkan Pangeran Siddharta Gautama pada tahun 528 SM, tepat di titik yang kini dilindungi oleh Kuil Mayadevi.

Salah satu gerbang keluar Kompleks Lumbini (GALUH PRATIWI)

Tata ruang Situs Lumbini dirancang dengan sangat unik dan penuh filosofi. Di dalam kawasan mahaluas ini, jangan harap kamu bisa menemukan deretan toko suvenir, hotel, atau restoran bising. Semuanya steril, menyisakan zona biara luas yang memancarkan ketenangan. Area biara ini secara geopolitik spiritual dibagi menjadi dua zona utama: Zona Biara Timur dan Zona Biara Barat.

Zona biara dibagi dua yaitu zona biara barat (bagian atas) dan zona biara timur (bagian selatan). Zona tersebut berdasarkan aliran Buddha yang diyakini. (GALUH PRATIWI)

Zona Timur didedikasikan untuk biara-biara beraliran Theravada (tradisi yang lebih tua dan konservatif). Sementara Zona Barat menjadi rumah bagi biara-biara megah beraliran Mahayana dan Vajrayana. Uniknya, kompleks-kompleks biara di sini dibangun langsung oleh berbagai negara di dunia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha, seperti Myanmar, India, Thailand, hingga Sri Lanka. Bahkan, negara-negara Eropa seperti Jerman dan Prancis pun turut mendirikan biara dengan arsitektur memukau di sini.

Pemberhentian pertama kami adalah kompleks biara milik negara Myanmar. Sebuah bangunan suci megah bernama Pagoda Lokamani Cula Burma langsung berdiri gagah menyambut kami. Kubah pagodanya yang dilapisi warna keemasan tampak berkilau megah di bawah sengatan matahari siang. Dengan ukiran arsitektur yang luar biasa detail, cantik, dan presisi, bangunan ini benar-benar memanjakan mata kamera.

Pagoda Lukamani Cula Burma (milik Myanmar) (GALUH PRATIWI)

Namun, kekaguman itu langsung diuji oleh realitas cuaca. "Panas... panas banget!" ujarku tertahan kepada Fredo.

Sesaat setelah melangkahkan kaki ke pelataran untuk mengelilingi pagoda, telapak kaki kami langsung disambut oleh ubin yang membara. Di setiap area biara di Lumbini, semua pengunjung memang diwajibkan untuk melepas alas kaki sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

Pagoda Lukamani Cula Burma (milik Myanmar) (GALUH PRATIWI)

Ukiran pada pagoda sangat detail, indah dan cantik (GALUH PRATIWI)

"Udah, ayo kita keliling cepat aja, terus segera lanjut!" sahut Fredo yang tampaknya juga mulai kepanasan.

Kami pun setengah berjalan cepat mengitari kemegahan pagoda emas itu, mengambil beberapa foto detail, lalu bergegas kembali ke cycle rickshaw. Lelaki Nepal pengayuh becak kami tampak luar biasa. Keringat deras mulai bercucuran di pelipisnya, tetapi gumpalan otot di kakinya tetap stabil mengayuh kayuhan demi kayuhan di jalur berdebu. Keramahannya pun tak surut; dia dengan senang hati melayani rentetan pertanyaan kami tentang Nepal.

"Sir, di Nepal ini mayoritas penduduknya Hindu atau Buddha?" tanyaku, penasaran karena agak ironis mengingat di sinilah tempat lahirnya Sang Buddha.

"Hindu, Madam... Sekitar 70 persen orang Nepal itu beragama Hindu," jawabnya ramah dari atas sadel.

Semangat mengantarkan kami keliling (GALUH PRATIWI)

"Tapi Sir, di sini rasanya sangat tenang dan damai. Sebelumnya kami di India, keadaannya sangat riuh dan berisik. Jadi rasanya agak aneh sekarang suasananya sepi begini," timpal Fredo.

"Yeah, di sini jauh lebih baik dan tenang daripada di Kathmandu," kata lelaki itu seraya tersenyum.

"Sir, kalau bahasa Hindi, kamu bisa bicarakan juga?" tanya Fredo lagi.

"No, kami berbicara bahasa Nepal di sini, Sir," jawabnya tanpa kilah lelah.

Percakapan mengalir santai diselingi tawa kecil sepanjang jalan. Kami melintasi rimbunnya vegetasi Lumbini sebelum akhirnya tiba di pemberhentian berikutnya: kompleks biara milik negara India. Beberapa anak tangga batu menyambut kami di gerbang masuk utama. Dan seperti biasa, ritual melepas alas kaki kembali dilakukan.

Kenampakan bagian depan biara milik India (GALUH PRATIWI)

Saat hendak melangkah masuk, sebuah sayup percakapan yang sangat akrab di telinga menghentikan gerakan kami.

"Dari Indonesia ya Pak?" aku mendengar Fredo tiba-tiba bertanya kepada seorang pria paruh baya yang juga bersiap memasuki biara India.

"Iya, iya," jawab Bapak tersebut dengan wajah terkejut sekaligus sumringah, "Kamu juga?"

"Iya Pak..." jawab Fredo bersemangat.

"Wah, Bapak dari Indonesia ya? Kami baru ketemu orang Indonesia pertama ini, Pak, selama perjalanan darat dari India!" kataku langsung ikut nimbrung dengan perasaan luar biasa senang.

Bertemu dengan teman sebangsa di pelosok negara orang selalu memunculkan kehangatan instan yang magis. Pertemuan itu mencairkan status kami yang asing menjadi seolah kerabat dekat. Kami pun mengobrol akrab, saling melempar cerita perjalanan.

Sembari mengobrol santai, mataku perlahan menjelajahi dinding-dinding biara India yang luar biasa indah. Di sepanjang dinding tersebut, berderet lukisan relief yang merangkum seluruh epik perjalanan spiritual Sang Buddha secara visual. Cerita gambarnya begitu hidup dan memikat, membuatku menghentikan langkah di setiap sudut untuk mengabadikannya lewat lensa kamera. Sebagai seseorang yang sangat menghormati Buddha, berada di ruang penuh visual historis ini rasanya luar biasa.

Lukisan-lukisan tersebut bercerita runtut seperti garis waktu kehidupan:

  • Dimulai dari kelahiran legendaris Pangeran Siddharta, di mana langkah pertamanya di bumi langsung ditandai dengan mekarnya bunga teratai di bawah kakinya, sementara sang ibu, Ratu Mayadevi, mengawasi di latar belakang.

  • Lalu, transisi dramatis ketika sang Pangeran memutuskan meninggalkan semua kemewahan istana dan kesengsaraan duniawi. Ada gambar di mana beliau memotong rambut panjangnya dengan pedang di tepi Sungai Anoma untuk menempuh jalan hidup sebagai pertapa suci.

  • Lukisan berikutnya menggambarkan masa-masa sulit penyiksaan diri ekstrem yang dijalani Siddharta di Hutan Uruvela, Gaya, selama enam tahun. Tubuhnya digambarkan menjadi sangat kurus kering dan lemah hingga tulang-tulangnya menonjol.

  • Hingga tiba pada titik balik esensial: seorang perempuan desa bernama Sujata Garh, yang tidak tega melihat kondisi sang pertapa yang sekarat, mengulurkan semangkuk nasi susu (kheer). Makanan itu menyelamatkan nyawanya dan menyadarkan Siddharta bahwa penyiksaan diri yang ekstrem bukanlah jalan menuju pencerahan—melainkan "Jalan Tengah" (Majjhima Patipada). Di bawah Pohon Bodhi setelah momen itu, beliau akhirnya mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha.

  • Relief berikutnya menampilkan kisah-kisah penuh welas asih, seperti saat seekor gajah dan kera hutan dengan tulus menawarkan madu serta buah-buahan untuk Sang Buddha, hingga momen mengharukan saat beliau dengan tangannya sendiri merawat Biksu Putigatta Tissa yang sedang menderita sakit parah.

  • Ada pula gambaran khotbah pertama pembubaran roda Dhamma (Dhammacakkappavattana Sutta) kepada lima pengikut pertamanya di Taman Rusa Sarnath, India.

  • Kisah legendaris penaklukan Nalagiri, seekor gajah murka yang dilepas untuk membunuhnya, namun justru bertekuk lutut dengan tenang di hadapan pancaran cinta kasih (metta) Sang Buddha.

  • Dan akhirnya, gambar posisi terakhir Sang Buddha saat mangkat dan mencapai Mahaparinibbana di Kusinara—posisi berbaring menyamping ke kanan yang kelak diabadikan dalam patung-patung Reclining Buddha terkenal di berbagai belahan dunia, mulai dari Wat Pho di Bangkok hingga Mahavira Majapahit di Mojokerto.

  • Kelahiran dan langkah pertama Pangeran Siddharta, dibelakangnya adalah sosok Ibunya, Ratu Mayadevi. Langkah kaki Pangeran Siddharta ditandai oleh bunga teratai. (GALUH PRATIWI)

    Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan semua kesengsaraan duniawi dan memotong rambutnya di Sungai Anoma untuk menjadi seorang pertapa (GALUH PRATIWI)

    Pangeran Siddharta melakukan praktek meditasi di Uruvela, Gaya selama 6 tahun. Melakukan penyiksaan diri untuk melepaskan diri dari kesengsaraan duniawi. Tubuhnya menjadi sangat kurus dan lemah saat itu. (GALUH PRATIWI)

    Seorang perempuan desa bernama Sujata Garh tidak tega melihat kondisi Pangeran Siddharta yang sudah sangat lemah sehingga menawarinya nasi susu. Dari situlah Pangeran Siddharta menyadari bahwa penyiksaan diri yang ekstrim bukanlah jalan untuk memperoleh pencerahan. Kemudian beliau pindah bermeditasi di bawah pohon bodhi dan memperoleh pencerahan, mengajarkan ajaran "jalan tengah" dan menjadi Buddha (GALUH PRATIWI)

    Seekor gajah dan kera menawari Buddha madu dan buah-buahan untuk dimakan (GALUH PRATIWI)

    Buddha merawat Biksu Putigatta Tissa yang sedang sakit (GALUH PRATIWI)

    Buddha mengajarkan Dhamma kepada pengikut-pengikutnya di Sarnath (sekarang di India dekat kota Bodh Gaya) (GALUH PRATIWI)

    Buddha menjinakkan gajah yang mengamuk di Nalagiri (GALUH PRATIWI)

    Posisi terakhir Buddha sebelum meninggal. Posisi ini banyak diabadikan di beberapa patung Buddha di berbagai belahan dunia seperti Bangkok (Wat Pho) dan Mojokerto (Mahavira Majapahit) (GALUH PRATIWI)

Di tengah keasyikanku memotret, istri dari Bapak tadi menyusul dan bergabung bersama kami setelah selesai mengitari sudut lain kompleks.

"Ibu beragama Buddha ya? Saya lihat tadi Ibu sempat berdoa di dalam," tanyaku dengan nada sopan.

"Tidak, saya Katolik," jawab Ibu tersebut hangat sambil tersenyum tulus. "Tapi tidak apa-apa kan kita berdoa di sini? Kita harus selalu mengucap syukur karena perjalanan kita sudah diberkahi sampai bisa menginjakkan kaki di tempat sejauh ini."

"Iya, benar sekali, Bu. Oya, asalnya dari mana, Bu?" tanyaku lagi.

"Kami dari Surabaya. Ini sudah hari-hari terakhir kami di Nepal. Sebelumnya kami dari Kathmandu dan Pokhara. Saya senang sekali di sini karena suasananya tenang sekali. Kalau di Kathmandu kemarin sering hujan. Kalau kalian sendiri rutenya dari mana?"

"Kami backpacker-an dari India, Bu. Rencananya setelah ini baru mau lanjut naik bus ke Kathmandu. Di sana bagus ya, Bu?" tanya Fredo bergantian.

"Yah, bagus kok. Cuma pas kami di sana kemarin sayangnya mendung terus setiap hari," cerita Ibu itu menceritakan pengalamannya. "Kalau Pokhara, menurut kami ya biasa saja, rasanya malah mirip seperti Sarangan. Tahu Telaga Sarangan kan? Yang di lereng Gunung Lawu itu? Mirip seperti itu," tambahnya jujur.

Mendengar ucapan Ibu itu, aku dan Fredo langsung tertawa kecil. "Wah, terima kasih banyak informasinya, Bu! Kalimat Ibu barusan jujur sedikit menghibur kami. Soalnya rencana awal kami itu mau ke Pokhara, tapi gara-gara kereta dari India kemarin telat parah, rute ke Pokhara terpaksa kami batalkan."

Kami masih melanjutkan obrolan panjang yang gayeng setelah itu, bertukar cerita tentang suka duka di jalanan, hingga menyempatkan diri untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Usia Bapak dan Ibu ini bisa dibilang sudah tidak muda lagi, rambut mereka memutih, namun pancaran energi dan semangat menjelajah mereka benar-benar mengagumkan.

Melihat mereka, dalam hati aku menggantungkan sebuah harapan: kelak saat aku menua, aku ingin menjadi seperti mereka. Tetap memiliki jiwa petualang yang menyala-nyala, tanpa pernah membiarkan angka usia menjadi batas untuk melihat indahnya dunia.

Waktu dua jam kami akhirnya berputar cepat. Setelah saling melempar senyum dan rentetan nasihat perjalanan yang berharga, kami pun berpisah ke arah yang berlawanan.

Terima kasih, Bapak dan Ibu asal Surabaya. Di tengah tanah suci Lumbini yang asing ini, kehangatan kalian akan selalu saya ingat dalam hati.

[PART 9] Menggapai Himalaya : Menembus Debu Perbatasan India - Nepal !

  Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI

Kondisi Kota Sunauli, kota perbatasan India - Nepal (sisi India)


Gorakhpur, India, 2 Juli 2016

Setelah disiksa kereta yang terlambat delapan jam, terpaksa tidur di peron berdebu, dan lanjut berdesakan selama empat belas jam dengan desingan bau pesing di dalam kereta Avadh Express, semalam tenaga kami benar-benar terkuras habis. Untungnya, sebuah hotel sederhana di dekat stasiun Gorakhpur jadi penyelamat. Memang jauh dari kata mewah, tapi kasur di sana sukses mengembalikan energi kami. Pagi ini, setelah tidur yang sangat nyenyak, rasanya badan ini akhirnya kembali menjadi milik sendiri.

Hotel kami di depan Gorakhpur Junction dengan tarif 990 Rs 

Kami terbangun dengan satu tujuan yang sudah bulat di kepala. Hari ini, kami akan meninggalkan India dan menuju Nepal!

Rasanya cukup aneh melempar kalimat itu ke udara. Selama seminggu terakhir, India telah menjadi rumah sementara yang penuh kejutan. Kami bergerak dari Kochi di ujung selatan, membelah kemacetan Mumbai, menikmati warna-warni Jaipur, mengagumi Taj Mahal di Agra, hingga akhirnya mendarat di Gorakhpur—titik perhentian terakhir sebelum menyeberang ke Nepal.

Selesai mengisi perut dengan sarapan seadanya, kami kembali memanggul backpack dan melangkah keluar dari area Gorakhpur Junction. Matahari pagi mulai terasa hangat menyengat kulit. Di depan stasiun, hiruk-pikuk khas India langsung menyambut: klakson becak motor, deru tuk-tuk, teriakan pedagang kaki lima, dan langkah tergesa para penumpang bercampur menjadi satu kekacauan yang bising.

Baru juga berjalan beberapa meter, beberapa sopir langsung memasang badan menghadapi langkah kami. "Sunauli? Sunauli?"

Mereka rupanya sudah hafal mati dengan rute para turis asing yang turun di Gorakhpur. Beberapa di antaranya langsung menawarkan jasa mobil pribadi untuk melesat ke perbatasan. Namun, begitu mendengar tarif yang mereka tembak, aku hampir tersedak. Tiga ribu rupee per orang!

Aku dan Fredo refleks saling pandang sambil menahan tawa. Bagi backpacker dengan dompet pas-pasan seperti kami, angka itu jelas sebuah kemewahan yang absurd. Kami pun menolak halus, lalu melanjutkan langkah kaki demi mencari alternatif yang lebih bersahabat bagi isi kantong.

Berdasarkan informasi yang kami pegang, bus umum menuju Sunauli mangkal tidak jauh dari stasiun. Setelah bertanya ke beberapa orang lokal dan sempat berputar-putar, mata kami akhirnya menangkap bus yang dimaksud—sebuah armada tua yang tampak ringkih, sedang ngetem di dekat pertigaan jalan. Tarifnya? Cuma sembilan poin rupee.

Lokasi pertigaan dimana bus ke Sonauli mangkal

Bandingkan dengan tawaran tiga ribu rupee tadi. Tanpa perlu diskusi panjang, kami langsung melompat naik.

Tentu saja, bus tidak langsung berangkat. Sopir dan keneknya masih asyik menunggu muatan tambahan. Seperti hukum tidak tertulis transportasi umum yang kami temui sepanjang di India, mesin baru akan benar-benar menderu kalau kapasitas kabin sudah padat merayap.

Bus ke Sunauli 

Hampir satu jam kami duduk menanti dalam ketidakpastian. Perlahan tapi pasti, kursi-kursi mulai terisi penuh. Para pedagang asongan bergantian naik-turun menjajakan makanan ringan, air mineral, hingga kacang-kacangan. Anak-anak kecil berlarian di koridor sambil tertawa riang. Sementara itu, aku memilih membunuh waktu dengan mengamati sekitar, sesekali menyalakan kamera untuk rekaman atmosfer di dalam bus.

Tak lama kemudian, mesin akhirnya dinyalakan. Perjalanan menuju perbatasan Nepal resmi dimulai.

Jarak Gorakhpur - Sunauli (Google Map)

Jarak dari Gorakhpur ke Sunauli sebenarnya hanya berkisar seratus kilometer. Namun, kombinasi antara kondisi jalan yang ajaib dan semrawutnya lalu lintas memaksa kami bergoyang di dalam bus selama hampir dua setengah jam. Sepanjang perjalanan, aku praktis menempelkan wajah ke kaca jendela, enggan melewatkan apa pun.

Pemandangan di rute ini terasa sangat kontras dengan kota-kota wisata yang kami singgahi sebelumnya. Inilah wajah India yang "sehari-hari". Kami melewati kota-kota kecil yang berdebu, pasar tradisional yang riuh, jejeran bengkel pinggir jalan, kuil-kuil bersahaja, bangunan bata yang mangkrak, hingga jalinan kabel listrik yang menggantung ekstrem di atas kepala. Debunya seolah punya pasokan tak terbatas. Kadang bus merayap membelah pasar yang padat, lalu beberapa menit kemudian melesat di hamparan lahan terbuka yang luas.

Pemandangan sepanjang jalan Gorakhpur-Sunauli (GALUH PRATIWI)

Pemandangan sepanjang jalan Gorakhpur-Sunauli (GALUH PRATIWI)

Pemandangan sepanjang jalan Gorakhpur-Sunauli (GALUH PRATIWI)

Pemandangan sepanjang jalan Gorakhpur-Sunauli (GALUH PRATIWI)

Patung Mahatma Gandhi di jalan Gorakhpur-Sunauli (GALUH PRATIWI)

Pemandangan sepanjang jalan Gorakhpur-Sunauli (GALUH PRATIWI)

Melihat potret kesederhanaan di luar kaca bus, hatiku mendadak terenyuh. Pikiran ini langsung melayang pada realitas di negeri ini. Hidup di India tidak selalu mudah. Dengan jumlah manusia mencapai lebih dari 1 milyar, mendapatkan pekerjaan yang layak tentulah menjadi tantangan tersendiri. Semuanya harus bekerja keras, bersaing, dan berkompetisi hanya untuk bisa hidup layak.

Kehidupan masyarakat pinggiran yang berhasil aku rekam dalam perjalanan menuju perbatasan India-Nepal ini rasanya magis. Berada di sini seperti ditarik kembali ke zaman puluhan tahun silam, seakan-akan wilayah ini tak tersentuh oleh modernitas.

Namun, justru di sanalah letak kekuatannya. Dengan segala hal positif dan negatifnya—klaksonnya yang memekakkan telinga, orang-orang lokal yang selalu antusias setiap melihat orang asing, hingga tawa mereka saat mengerti bahwa uang Rp2.000 milikku hanya bisa dipakai untuk beli segelas teh susu (sementara mereka hanya butuh 10 Rupee untuk membeli chai serupa)—semua itu telah meninggalkan bekas yang mendalam di hatiku. Belum lagi pemandangan berbagai macam hewan, mulai dari sapi yang cuek hingga ular kobra yang bergeliat di tengah maupun pinggir jalan raya.

Seasing apa pun tempat ini, sejak aku mulai backpacking pada tahun 2011, memang India yang selalu paling kuingat. Karena negara ini unik, sungguh terlalu unik.

Lamunanku buyar saat atmosfer di luar jendela perlahan mulai berubah menandakan kami sudah semakin dekat dengan garis akhir. Jalanan bertambah sesak oleh kendaraan angkutan barang. Truk-truk besar bermuatan penuh semakin mendominasi jalur, membuat kepulan debu di luar sana kian pekat.

Sekitar pukul setengah satu siang, roda bus akhirnya berhenti berputar di Sunauli.

Begitu melangkah turun, satu kata yang langsung menyergap benakku adalah: gersang. Sunauli sangat berdebu. Jalan aspal membentang lurus di bawah sengatan matahari yang membakar kulit. Ruko-ruko berhimpitan kaku di kanan-kiri jalan dengan kabel-kabel semrawut yang menggelantung rendah. Sampah plastik berserakan di beberapa sudut. Truk, motor, mobil, becak, sapi, kambing, dan pejalan kaki bergerak bersamaan dalam sebuah kekacauan massal—yang anehnya, tetap bisa berfungsi dengan ritmenya sendiri.

Sunauli yang berdebu (GALUH PRATIWI)

Sunauli yang berdebu (GALUH PRATIWI)

Jika Agra masih terasa seperti kota wisata yang bersolek, maka Sunauli adalah kota perlintasan tulen yang hidup justru karena denyut perbatasan. Tidak cantik, jauh dari kata rapi, tapi entah kenapa terasa sangat menarik dengan caranya sendiri.

Sunauli yang berdebu (GALUH PRATIWI)

Sunauli yang berdebu (GALUH PRATIWI)

Sunauli yang berdebu (GALUH PRATIWI)

Berbekal petunjuk arah dari kenek bus, kami berjalan kaki menuju kantor Imigrasi India. Letaknya ternyata cukup dekat dari titik kami turun. Menariknya, bangunan kantor imigrasi itu jauh lebih kecil dan bersahaja dari yang kubayangkan. Kalau tidak jeli, mungkin kami akan melewatkannya begitu saja karena bentuknya menyatu dengan deretan ruko biasa.

Imigrasi India (Sunauli) (GALUH PRATIWI)

Setelah paspor kami sukses mendapat cap keluar dari India, langkah pertama yang kami lakukan adalah membereskan sisa logistik keuangan. Kami mampir ke salah satu kios penukaran uang kecil di tepi jalanan yang berdebu untuk menukarkan sisa Rupee India kami menjadi Rupee Nepal. Di sana, kami juga sempat mengobrol dengan seorang traveler asal Korea Selatan yang baru saja menyelesaikan trekking panjang menuju Everest Base Camp. Mendengar cerita perjalanannya, ada secuil rasa iri yang tebersit di hati. Namun, rasa itu langsung meledak menjadi buncahan semangat, karena Nepal—negara yang selama ini hanya bisa kulihat di atas peta—kini tinggal beberapa ratus meter lagi di depan mata.

Kami pun kembali mengayunkan kaki menuju sisi Nepal. Jaraknya memang dekat, tapi berjalan di jalur ini rasanya seperti sedang menerjang lautan debu yang pekat. Truk-truk barang melintas tanpa jeda, klakson bertalu-talu, dan debu tebal langsung membubung tinggi setiap kali kendaraan besar lewat. 

Lalu, tanpa seremoni atau gerbang megah, tibalah kami di garis perbatasan.

Alih-alih menemukan pagar kawat berduri yang tinggi, barikade beton yang mengintimidasi, atau penjagaan ketat dari tentara bersenjata lengkap , perbatasan di sini justru terasa seakan-akan sangat longgar. Arus manusia melangkah masuk dan keluar antar kedua negara dengan begitu santainya, seolah-olah hanya sedang menyeberang jalan antar kampung. Bahkan, beberapa ekor sapi tampak melewati gerbang perbatasan dengan sangat tenang tanpa perlu memikirkan paspor dan visa. Sebuah pemandangan absurd yang sukses membuatku iri setengah mati, haha.

Aku sempat menghentikan langkah kaki sejenak. Membalikkan badan, lalu menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di sana membentang India—negara yang telah menghujani kami dengan begitu banyak cerita, kejutan, kekacauan, keindahan, dan pengalaman mentah yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup.

Good Bye, India. Thank you for the memories! (GALUH PRATIWI)

Sambil menarik napas dalam, aku kembali membalikkan badan dan melangkah mantap melewati gerbang sederhana tersebut, resmi memasuki wilayah Nepal.

Selamat datang di Nepal (GALUH PRATIWI)

Kami segera berjalan menuju kantor Imigrasi Nepal untuk mengurus legalitas masuk. Suasananya tidak kalah bersahaja. Di sana, kami langsung memproses Visa on Arrival (VoA) untuk durasi tinggal selama 15 hari. Setelah mengisi formulir dan menyerahkan paspor, kami membayar biaya visa sebesar 30 USD per orang ke petugas loket. Prosesnya untung berjalan lancar tanpa drama yang berarti. Dengan stiker visa yang kini resmi menempel di paspor, petualangan baru kami menuju kaki Pegunungan Himalaya akhirnya benar-benar dimulai!

Kantor Imigrasi Nepal di Belahiya (GALUH PRATIWI)

Visa On Arrival Nepal (Belahiya) (GALUH PRATIWI)

Setelah stiker visa resmi menempel di paspor, kami melangkah keluar dari kantor imigrasi dengan perasaan lega. Di sinilah kami, di Belahiya—sisi Nepal dari perbatasan Sunauli. Namun, sebelum buru-buru melanjutkan perjalanan jauh ke Kathmandu, ada satu tempat yang sejak awal sudah masuk dalam daftar wajib kami: Lumbini.

Bagi para pencinta sejarah dan perjalanan spiritual, Lumbini bukan tempat biasa. Ini adalah tanah kelahiran Sang Buddha Gautama yang kini menyandang status sebagai UNESCO World Heritage Site, menjadikannya salah satu situs ziarah paling penting di dunia. Jaraknya dari Belahiya sebenarnya hanya sekitar 30 kilometer, dan opsi paling bersahabat untuk ke sana tentu saja menggunakan bus kota.

Keluar dari imigrasi Nepal, kami berjalan kaki menyusuri jalanan yang berjejer ruko-ruko dan penjual kaki lima di sebelah kanan. Kami terus berjalan lurus sekitar 100 meter, melewati papan hijau besar yang menjadi penunjuk batas wilayah, sampai mata kami menangkap kumpulan bus yang sedang parkir di sisi kanan jalan. Itulah Terminal Bus Belahiya.

Setelah melewati imigrasi Nepal, kami terus berjalan saja sampai menemukan papan hijau penunjuk batas. Terminal bus ada di sisi kanan. (GALUH PRATIWI)

Terminal bus Belahiya (GALUH PRATIWI)

Terminal ini melayani berbagai rute dan tujuan, dan seperti yang sudah kami duga, tidak ada bus yang langsung menuju Lumbini. Kami harus siap-siap oper bus sebanyak dua kali.

Rute dari Belahiya ke Lumbini (GALUH PRATIWI)

Langkah pertama, kami mencari bus yang melewati Siddharthanagar. Kondisi busnya sangat merakyat, khas transportasi lokal. Untungnya tarifnya murah luar biasa, hanya 20 NPR per orang. Begitu bus penuh, kendaraan langsung melaju membelah jalanan Nepal.

Tak butuh waktu lama, bus menurunkan kami di dekat sebuah stupa besar di Siddharthanagar. Di sinilah petualangan transit dimulai. Berdasarkan informasi yang kami tahu, bus berikutnya yang mengarah ke Lumbini biasanya ngetem di depan deretan kios buah-buahan. Biar tidak tersesat, tips terbaik adalah bertanya langsung ke warga lokal. Benar saja, saat kami bertanya, dengan ramah mereka mengonfirmasi rute oper bus ini dan menunjukkan posisi bus yang tepat.

Kondisi bus dari Belahiya ke Siddharthanagar (GALUH PRATIWI)

Di dekat stupa ini kami diturunkan dan harus oper bus yang mengarah ke Lumbini (GALUH PRATIWI)

Kami pun naik ke bus kedua yang untungnya sudah bersiap-siap di dekat kios buah tersebut. Perjalanan dari Siddharthanagar ke Lumbini memakan waktu sekitar 45 menit dengan tarif 75 NPR. Sepanjang jalan, pemandangan pedesaan Nepal yang tenang mulai menggantikan hiruk-pikuk debu perbatasan.

Posisi ngetem bus ke Lumbini adalah dekat kios-kios buah ini (GALUH PRATIWI)

Kondisi bus Siddharthanagar - Lumbini (GALUH PRATIWI)

Hingga akhirnya, bus melambat dan kenek meneriakkan tujuan kami. Kami diturunkan tepat di salah satu pintu keluar Kompleks Lumbini. Oh My God, setelah perjalanan panjang akhirnya kami sampai juga!