Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

Tampilkan postingan dengan label Mbolang ke Filipina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mbolang ke Filipina. Tampilkan semua postingan

9.01.2016

[5] FILIPINA TRIP: Kamera oh Dompet! (Finished)

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Karena jadwal kepulangan yang masih sore hari sementara sejak jam 12 ane sudah harus check out dari Friendly Backpacker, ane memutuskan akan ngenet dulu di warnet dekat penginapan untuk menghabiskan jam-jam terakhir di Filipina. Tapi setelah nyoba warnet di dekat Friendly Backpacker Guest House, ane males dengan tarifnya gan, masak setiap menit tarifnya 2 peso (400) ladelah baru tau ane warnet tarifnya menitan. Setelah ngenet bentar ane akhirnya memutuskan keluar dan mencari warnet di salah satu mall berukuran sedang yang ane lewatin kemarin karena lebih murah. Ane naik LRT sambung jeepney untuk menuju mall tersebut. Oya karena pas di warnet pertama ini ane sakit perut, ane ingat sempat boker disini gan. Penting ya? Penting bangeet soalnya pas mau cebok nggak ada airnya gan! Jadi modelnya kayak  ceboknya orang luar negeri gitu, cuma pakai tissue. Hueeekkk. Bayangin aja gimana rasanya gan hahahaha.

Mall yang ane kunjungi ini jauh lebih kecil dari Mall of Asia yang ane kunjungin kemarin gan. Modelnya persis kayak SGM (Solo Grand Mall gitu), dimana kebanyakan barang yang dijual adalah baju. Tapi ane nggak juga menemukan baju yang ada tulisan Filipina di depannya untuk oleh-oleh. Akhirnya karena lapar, ane mampir di sebuah restoran kecil yang menawarkan menu ayam kecap. Rasanya lagi-lagi mirip masakan Indonesia gan, uenakk. Harganya juga nggak terlalu mahal, untuk seporsi nasi ayam kecap dan air minum dibanderol 100 peso.

Selesai makan, ane pun segera menuju salah satu warnet yang ada disitu gan. Untungnya dapat paket murah, ngenet 3 jam cuma dipatok 60 peso aja. Alhasil sesorean itu ane gunain buat ngenet aja gan sambil nunggu jam 4 sore buat boarding di Bandara Ninoy Aquino. Tapi sedihnya, komputernya nggak bisa baca memori kamera ane sehingga mau pamer di fb terpaksa tertunda hahahaha.

Jam 4 sore, akhirnya ane memutuskan untuk segera menuju bandara gan. Berdasarkan petunjuk buku karangan Sihmanto, sebenarnya bisa aja naik taksi dengan biaya sekitar 200 peso, tapi karena malas membuang uang lagi ane sebelumnya sempat mencari informasi di internet cara menuju bandara dengan transportasi umum. Dari mall tersebut, ane hanya perlu jalan kaki sekitar 200 meter ke arah Stasiun LRT EDSA, kemudian  menyeberang lewat jembatan penyeberangan dan turun sampai menemukan terminal, disana naik bus putih untuk menuju Terminal 1 Bandara Ninoy Aquino. Semuanya berjalan lancar dan pukul 16.30 ane sudah nangkring di atas bis menuju bandara, biayanya hanya 60 peso.

Bandara Ninoy Aquino di Manila ini cukup luas dan bersih. Segera saja ane menuju konter check in Cebu Pacific untuk segera mendapatkan tiket dan menunggu dengan tenang. Semuanya lancar sampai ane membayar pajak penerbangan dan menuju gerbang imigrasi.

Saat itu imigrasi keluar nggak terlalu rame, dengan PD dan semangat tinggi karena akhirnya mau pulang ane segera antri untuk mendapatkan cap keluar Filipina sebelum boarding. Petugas imigrasi di depan ane ibu-ibu gitu gan, udah tua dan murah senyum. 

Akhirnya tiba giliran ane gan:

“Sobekan kertas imigrasinya mana neng?” tanya ibu itu dengan ramah dan senyum.

“Aduh buk, harus pakai itu ya?Maaf buk saya nggak tau.” Jawab ane.

“Yaudah, diisi dulu aja. Ambil kertasnya disana. Nanti balik lagi kesini ya kalau udah” Jawab ibunya lagi-lagi dengan ramah sambil menunjuk tempat pengambilan formulir kertas imigrasi.

“Iya buk. Makasih ya buk.”

“Iya neng.”

Wuaahh, baik banget gan ibu imigrasi ini. Selama ane traveling, baru kali ini ane dapat senyuman dan perlakuan ramah seperti itu dari imigrasi. Ane benar-benar tersentuh dengan kebaikan masyarakat Filipina yang lagi (lagi) ane dapatkan.

Ane pun segera menuju meja pengambilan formulir imigrasi dan menulis data bersama beberapa calon penumpang pesawat yang lain. Saat itu karena harus mengambil bolpoin, tanpa sadar ane menaruh tas slempang ane yang berisi 2 kamera, dompet, dan beberapa benda berharga lainnya di meja formulir. Dan yang terjadi selanjutnya......bisa ditebak....ane lupa bawa tas itu lagi gan. Huaaa!!

Selanjutnya karena masih nggak sadar tas slempang ane ketinggalan di meja, ane pun segera melangkahkan kaki ke loket imigrasi ibu tadi. Si ibu tersenyum lagi dan segera memberikan cap ke ane. Ane pun segera melangkahkan kaki dengan PD untuk mencari tempat boarding pesawat ane, Cebu Pacific.

Saat berjalan itulah ane merasa ada sesuatu yang aneh gan, biasanya daerah sekitar leher ane itu akan sakit karena tali tas slempang. Kok sekarang nggak sakit ya?? 

Ya TUHANNN....

Ane lupa tas slempang ane!!

Ane berusaha menenangkan diri dan fokus, ane berusaha mengingat-ingat, kapan terakhir kali ane duduk atau melepas tas dan ane ingat itu di meja pengisian formulir imigrasi. Ya Tuhaann....ane kan udah di cap keluar, sekarang gimana caranya ane bisa masuk lagi untuk mengambil tas ane? Itupun kalau masih ada. Ane benar-benar mengutuki kecerobohan ane saat itu.

Sampai loket imigrasi lagi, segera saja ane mencari imigrasi yang nggak terlalu rame. Saat itu ane menemukan satu lagi ibu-ibu muda, dan ane pun menunjukkan paspor yang udah ada cap keluar Filipina sambil menjelaskan situasi ane kalau ada tas yang tertinggal. Dan ajaibnya, ibu itu langsung menganggukan kepala gan nggak banyak tanya. Wuaaahh, ane bersyukur berat dan segera meluncur ke meja formulir imigrasi untuk mencari tas ane dan ternyata.....MASIH ADA!! Ya Tuhaann...ane nggak berhenti-berhentinya bersyukur saat itu. Ane pun keluar Filipina lagi melalui loket imigrasi ibu muda tadi. Menjelaskan kalau ane sudah menemukan tas ane, dan kembali menunjukkan paspor yang sudah ada cap keluar. Wah terimakasih Tuhan, inilah bandara dan imigrasi terbaik ane selama jalan-jalan gan. Di Filipina, tepatnya Bandara Ninoy Aquino.

Maraming Salamat Po, Filipina!

Selanjutnya, perjalanan selama 4 jam dari Manila ke Jakarta dengan pesawat Cebu Pacific Airline ane lalui dengan lancar gan. Hal menakutkan yang terjadi, sepanjang jalan dari Manila ke Jakarta itu suering banget turbulensi gan pesawatnya. Saat itu yang ada di pikiran ane cuma hal buruk aja, ane mikir ane bakal kecelakaan pesawat karena sumpah pesawatnya goyang terus gan. Ane tatut. Tapi akhirnya sekitar pukul 12 malam, sampailah ane di Jakarta gan. Saat melihat lampu gemerlapan Bandara Soekarno Hatta, ane mengucap syukur sedalam-dalamnya. Rasanya senang sekali melihat tanah air tercinta ini setelah beberapa minggu terpisah. I LOVE INDONESIA.

-- FINISHED --


Perjalanan ke Filipina ini akhirnya menjadi penutup dari rangkaian petualangan luar negeri yang aku lakukan selama masa kuliah. Saat pesawat membawaku pulang ke Indonesia, aku sama sekali tidak menyangka bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan internasional terakhirku untuk sementara waktu.

Tahun 2013 hingga 2014 menjadi periode yang berbeda. Fokusku perlahan bergeser kembali ke bangku kuliah. Skripsi, tugas akhir, dan berbagai urusan akademik mulai menyita sebagian besar waktu dan pikiranku. Jika sebelumnya setiap tabunganku selalu berakhir menjadi tiket pesawat atau tiket kereta menuju negara baru, kali ini prioritasnya adalah menyelesaikan pendidikan dengan baik.

Bukan berarti hasrat menjelajahku menghilang. Aku tetap bepergian, hanya saja sebagian besar perjalanan kulakukan di dalam negeri. Indonesia yang begitu luas ternyata masih menyimpan banyak tempat yang belum sempat aku kenal. Tahun-tahun setelah perjalanan ke Filipina justru menjadi masa ketika aku lebih banyak mengenal negeri sendiri dibandingkan mengejar cap paspor baru.

Pada pertengahan tahun 2013, tepat setelah menyelesaikan semester enam kuliah, aku diwajibkan mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat pembagian lokasi dilakukan, aku mendapatkan penempatan di Atambua, Nusa Tenggara Timur, sebuah kota perbatasan Indonesia–Timor Leste yang saat itu terasa sangat jauh dari dunia yang kukenal. Pengalaman tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat di sana menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama masa kuliah. Kisah lengkapnya bisa dibaca di sini.

 Awal tahun 2014, rasa rindu untuk kembali menjelajah muncul lagi. Bersama dua teman kuliahku, Arin dan Fredo, aku melakukan perjalanan backpacking menyusuri Pulau Timor. Perjalanan sederhana dengan budget mahasiswa itu justru menghadirkan begitu banyak cerita, mulai dari perjalanan darat yang panjang hingga pengalaman mengunjungi berbagai sudut Nusa Tenggara Timur yang sebelumnya hanya kulihat di peta. Kisah lengkapnya bisa dibaca di sini.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Mei 2014, aku kembali berangkat bersama dua teman kuliahku. Kali ini tujuan kami adalah Sulawesi Selatan. Penyebabnya cukup sederhana: kami berhasil mendapatkan tiket promo AirAsia seharga Rp10.000 pulang-pergi dari Surabaya. Sebuah harga yang bahkan sampai sekarang masih terasa sulit dipercaya. Kesempatan seperti itu tentu tidak mungkin kami lewatkan begitu saja. Kisah lengkap perjalanan ke Sulawesi Selatan bisa dibaca di sini.

Setelah itu, kehidupanku mulai memasuki fase yang berbeda. Tahun 2015 menjadi tahun yang nyaris tanpa perjalanan. Aku baru saja lulus kuliah dan sedang berada pada masa transisi dari kehidupan mahasiswa menuju dunia kerja. Fokusku perlahan bergeser. Jika sebelumnya sebagian besar tabungan selalu berakhir menjadi tiket pesawat atau ongkos perjalanan, kali ini aku mulai memikirkan hal-hal yang lebih mendasar: mencari pengalaman kerja, membangun karier, dan menata kondisi keuangan agar lebih stabil.

Bisa dibilang, tahun 2015 adalah tahun ketika aku lebih banyak berinvestasi pada masa depan dibandingkan pada perjalanan. Keinginan untuk bepergian tentu masih ada, tetapi aku menyadari bahwa ada waktunya untuk menjelajah dan ada waktunya untuk membangun fondasi terlebih dahulu. Karena itulah sepanjang tahun tersebut aku memilih untuk lebih fokus bekerja, menambah pengalaman, dan mengumpulkan kembali tabungan sebelum kembali melangkah ke negara berikutnya.

Di periode itulah aku belajar bahwa tidak semua impian bisa dikejar secara bersamaan. Ada saatnya bepergian harus mengalah pada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Aku bekerja, menabung kembali, dan perlahan menyusun hidup dari awal.

Hingga akhirnya, setelah hampir tiga tahun berlalu, kesempatan itu datang lagi.

Pada tahun 2016, aku kembali menginjakkan kaki di luar negeri. Kali ini bukan lagi sebagai mahasiswa yang berburu tiket murah, melainkan sebagai seseorang yang telah melewati fase baru dalam hidupnya. Tujuannya pun berbeda: India dan Nepal, dua negara yang sejak lama masuk dalam daftar impianku.

Dan tanpa kusadari, perjalanan itulah yang kemudian membuka babak petualangan berikutnya yang jauh lebih panjang.

Perjalanan yang kuberi judul, MENGGAPAI HIMALAYA..

[4] FILIPINA TRIP: Hari terakhir

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Tragedi salah perhitungan uang saku membuatku terjebak di Manila. Ya, hari ketiga aku masih di kota yang sama dan tidak mempunyai rencana apapun. Setelah sarapan di Jollybee dan berpikir cukup lama, aku memutuskan akan ke Chinatown. Sekedar jalan-jalan mencari hal lain selain benteng dan bangunan Eropa sembari berharap bisa menemukan oleh-oleh murah untuk dibawa pulang. Untuk menemukan Chinatown tidak sulit karena aku sudah pernah melewatinya kemarin. Caranya ane naik LRT dari Querenno Avenue ke Carriedo, kemudian jalan kaki sekitar 400 meter.

Chinatown ini terletak di Distrik Binondo, dan ternyata merupakan Chinatown tertua di dunia yang didirikan pada 1594 oleh Gubernur asal Spanyol Luis Pérez DasmariñasWaahh, nggak nyangka ya ternyata ada di Manila? Justru bukan di negara-negara yang mayoritas Chinese macam Thailand ataupun Myanmar. 


Gerbang masuk Chinatown Manila (GALUH PRATIWI)

Chinatown ini didirikan sebagai kediaman permanen imigran asal China (orang Spanyol menyebutnya Chinese Sangleys) yang berubah keyakinan menjadi Katholik semenjak kedatangannya ke Manila. Awalnya para imigran China itu akan ditempatkan di Parian yang lokasinya juga dekat Intramuros. Parian merupakan area kediaman imigran China pertama kali. Tetapi Pemerintah Spanyol memberikan lahan yang lebih besar di Binondo kepada sekelompok pedagang dan pengukir China dengan perjanjian akan diberikan permanen, bebas pajak dan mempunyai gubernur sendiri. Mana bisa ditolak kan? Tetapi lagi-lagi tentunya Pemerintah Kolonial Spanyol mempunyai tujuan khusus dari semua kemudahan itu. Lokasi Binondo yang berada di dekat Intramuros tetapi di sisi seberang Sungai Pasig memang disengaja supaya pemerintah kolonial Spanyol tetap bisa mengawasi mereka. Tetapi sebenarnya lokasi ini merupakan pusat perdagangan orang China/keturunnanya sebelum Periode Kolonial Spanyol.

Suasana Chinatown Manila (GALUH PRATIWI)

Hotel Emperor di Chinatown Manila (GALUH PRATIWI)

Bisnis kecil dan menengah menjamur di Chinatown (GALUH PRATIWI)

Romo asal dari Spanyol-Dominika menjadikan Binondo jemaah gereja mereka dan sukses merubah agama beberapa residen menjadi Katholik. Secara cepat Binondo kemudian menjadi tempat dimana imigran China mengubah keyakinannya menjadi Katholik. Mereka kemudian menikah dengan wanita pribumi Filipina dan mempunyai anak, dinamakan komunitas China Mestizo. Bertahun-tahun kemudian, populasi China Mestizo di Binondo menjadi semakin banyak. Hal ini disebabkan karena sedikitnya jumlah imigran wanita China serta kebijaksanaan Pemerintah Spanyol yang tidak segan-segan mengusir bahkan membunuh (dalam kasus konflik) para imigran China yang tidak mau mengubah agamanya.

Pengaruh kebudayaan China di Manila ini juga menyebar sampai ke Quaipo, Santa Cruz dan San Nicolas. Distrik Binondo sendiri merupakan pusat perdagangan di Manila, dimana semua tipe bisnis secara pesat dijalankan oleh keturunan Filipina-China. Hal ini tentulah tidak lepas dari sejarah tempat ini sendiri gan, yang sebelum Periode Kolonialisme Spanyol merupakan pusat perdagangan.

Barang yang dijual di sepanjang jalan Chinatown beraneka ragam mulai dari Jeruk Bonsai (tanamannya kecil tapi buahnya banyak banget), bawang, sayur-sayuran, buah-buahan, berbagai macam perhiasan imitasi seperti gelang dan kalung, patung buddha dari kuningan, roti tikoy, bumbu dapur. Selain itu juga terdapat banyak banget toko kelontong, toko perhiasan, restoran-restoran kecil. Pokoknya isinya dagang semua gan, memang keren abis orang China ini gan jiwa bisnisnya.

Jeruk bonsai (GALUH PRATIWI)

Roti Tikoy (GALUH PRATIWI)

Aneka sayuran dan umbi-umbian (GALUH PRATIWI)

Di ujung jalan, akhirnya ane kembali menemukan gereja peninggalan Spanyol yang cukup tua sering disebut Minor Basilica of Saint Lorenzo Ruiz atau Gereja Binondo. Karena ingin mendingin sejenak dari keriuhan pasar, ane pun masuk ke dalam gereja dan ikut berdoa sejenak. Mengucap syukur kepada Tuhan karena trip selama 3 hari ke Manila ini berjalan lancar dan ane masih sehat serta bernafas lega sampai sekarang.

Bangunan tua Gereja Binondo (GALUH PRATIWI)

Gereja Binondo ini didirikan oleh Romo asal Dominika pada 1596 untuk melayani para Jemaah China yang merubah agamanya menjadi Katholik. Gedung asli gereja ini dihancurkan Inggris dengan pengeboman pada 1762. Pada area yang sama, dibangun kembali gereja dari granit yang selesai pada 1852 tetapi lagi-lagi hancur oleh Perang Dunia II, dimana hanya sedikit bagian dari gereja yang tersisa.

Ada sedikit kisah sedih berawal dari gereja ini. Saint Lorenzo Ruiz (ayahnya berasal dari China sementara ibunya dari Filipina) dilatih di gereja ini dan kemudian melakukan perjalanan misionaris ke Jepang. Disana dia dan teman-temannya mati martir karena menolak meninggalkan Katholik. Ruiz merupakan santo pertama dari Filipina, dan diangkat oleh Pope John Paul II pada 1987. Untuk mengingatnya, patung besar Saint Lorenzo Ruiz dipasang pada bagian depan gereja.

Selesai dari Chinatown, ane ingat masih belum beli oleh-oleh. Di buku Jalan-jalan keliling Filipina punya Sihmanto yang ane baca, disebutkan dia mengunjungi Mall of Asia, ane pun segera naik LRT dan turun di stasiun LRT EDSA kemudian sambung naik angkot ke Mall of Asia (MOA). Sebenarnya tujuan utama ke MOA itu mau membeli oleh-oleh gan, kata Mas Sihmanto ada toko oleh-oleh cukup terjangkau di MOA, dimana salah satu oleh-olehnya berupa gantungan kunci jeepney. 

Mall of Asia (GALUH PRATIWI)

Salah satu mall terluas di dunia (GALUH PRATIWI)

Mall of Asia (MOA) ini merupakan mall perbelanjaan yang terletak di Bay City, Pasay, Manila. Lokasinya yang berdekatan dengan Teluk Manila membuat pemandangan Kota Manila dari lantai atas terlihat sangat indah. Mall dengan luas area empat puluh dua hektar ini sukses menjadi salah satu mall terbesar di dunia. Bukan main-main, ratusan ruko dengan berbagai tawaran jasa maupun dagangan memang berjajar memanjakan mata. Bagi seorang kaya, tentulah bisa dengan mudah menghabiskan pundi-pundi uangnya disini.

Ane berkeliling lebih jauh, entah kemana ane tidak tahu. Melewati bioskop dengan berbagai tawaran film terbaru yang tidak terlalu membuat ane tertarik. Kaki ini berjalan tanpa arah dan tujuan. Melewati ratusan orang-orang yang sedang berbelanja atau sekedar nongkrong. Es krim adalah salah satu stan yang paling banyak berjajar di sudut-sudut mall, ane sempat membeli satu toping untuk melegakan tenggorokan yang mulai kering.


Mungkin saking besarnya, ane tidak juga menemukan toko oleh-oleh murah yang ane incar. Kakiku mulai lelah, kepala sedikit pening. Mungkin ane butuh istirahat. Duduk sejenak, ane melangkahkan kaki untuk mencari jalan keluar dari mall. Setelahnya ane memutuskan pulang dan beristirahat di guest house. Solo backpacking maraton dari Singapura - Malaka - Filipina ini cukup membuat kakiku bengkak-bengkak. Capek sekali. Tapi ane puas! Ternyata ane bisa menaklukkan semua ketakutan dan keraguanku untuk berjalan sendiri. Terimakasih Filipina!!


Part Selanjutnya : DISINI

11.16.2015

[3] FILIPINA TRIP: Akhirnya ketemu Fort Santiago!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Keesokan harinya, ane bangun pagi dengan cukup semangat gan. Setelah mandi dan membereskan tempat tidur (maklum kamar dorm harus rapi jaim sama yang lain), ane pun segera melangkahkan kaki keluar penginapan. Pagi itu sempat diawali dengan ane kesasar saat mau menuju stasiun LRT, padahal hari sebelumnya udah hafal jalan. Haha, beginilah ane, selalu eror dan eror, makanya ane berjanji nggak akan solo traveling lagi. Kurang asyik gan menurut ane, nggak ada yang bisa diajak cerita, ngrasani, nggak ada yang dimintain tolong untuk jagain tas pas ke kamar mandi, nggak ada yang disuruh motoin, nggak ada yang disalah-salahin , nggak ada yang diajak ngakak bareng hahahaha.

Kenampakan Friendly Backpacker Guest House

Jollibee tempat makan favorit ane di Filipinna

Ane akhirnya berhenti di sebuah restoran fast food bernama Jollibee (khas Filipina) dan memutuskan untuk sarapan disitu. Diawal sudah ane bilang kalau orang Filipina itu wajahnya mirip banget gan sama orang Indonesia, sehingga kalau antri makanan fast food ane selalu diajak ngomong Tagalog. Tapi mereka sangat sopan dan menghargai aku banget gan setelah ane menjelaskan kalau ane tidak sepik Tagalog.

"Oh, Im sorry. I though you're Filipino."

Saat itu ane pesan nasi ayam, spageti dan cola, habis 120 peso tapi sangat enak dan mengenyangkan. Sebuah permulaan sempurna untuk hari yang panjang dan banyak target. Hari ini memang ane berencana mengunjungi beberapa tempat sekaligus, dan berjanji tidak akan sampai kena tipu atau scam lagi. Sudah cukup! Ketegasanku sebagai backpacker harus ditingkatkan.

Sesuai petunjuk peta, ane pun kembali naik LRT dari Stasiun Querreno ke Stasiun Carriedo untuk menuju Fort Santiago. Sampai di Stasiun Carriedo, ane kembali menyusuri rute seperti kemarin tetapi mengambil persimpangan yang lain. Jujur ane penasaran banget gan sama Fort Santiago. Akhirnya di persimpangan Rizal Park, ane pun tanya sama bapak-bapak jalan menuju Fort Santiago. Nama Bapak tersebut Carlito. Dia mengatakan tidak jauh dan akan mengantarkan ane ke perempatan terdekat. Katanya untuk menuju Fort Santiago ane harus menuju kawasan Intramuros dulu. Ane awalnya takut gan, karena muka Carlito itu serem, takut diseret ke tempat sepi terus….terus….huaa aku nggak mau solo traveling lagi.

Ternyata setelah sampai persimpangan jalan, Carlito  benar-benar menunjukkan jalan ke Intramuros, kemudian meninggalkan ane. Haha, merasa bersalah karena udah berpikiran buruk padahal Carlito itu baik bahkan malah sekarang jadi teman FB ane. Ane pun segera mengikuti arahan dari Carlito yang bahasa Inggrisnya agak belepotan, sehingga ane juga menggunakan feeling. Mengikuti petunjuk Carlito, kok ane nggak menjumpai kota tua Intramuros ya? Setau ane Intramuros itu dikelilingi sama tembok-tembok tinggi, tua dan tebal, kok ini malah bagian Kota Manila yang modern gitu? Kayaknya salah jalan ni.

Duh...kemana ini?

Saat sedang puter-puter nggak jelas, tiba-tiba entah keajaiban apa 1:1000 ane ketemu lagi sama CarlitoCarlito pun terlihat kaget sekaget ane juga. Tapi setelah berbasa-basi sejenak, ane pun kembali diantarkan Carlito ke Intramuros. Ternyata ane salah mengambil persimpangan. Hehehe, makasih ya Carlito.

Akhirnya dengan pertolongan 2x Carlito, ane pun sampai juga di gerbang Intramuros gan. Kata Intramuros itu sendiri berasal dari Bahasa Latin yang artinya “di dalam tembok” merupakan distrik tertua dan kawasan pusat sejarah Manila. Intramuros merupakan Kota Manila yang asli, yang berfungsi sebagai tempat kedudukan pemerintah saat Filipina masih dikuasai oleh Spanyol. Oleh karena itu, distrik di luar Intramuros sering disebut Extramuros yang artinya “Di Luar Tembok”.

Pemandangan sekitar Intramuros

Pembangunan Intramuros ini sendiri dimulai oleh pemerintah kolonial Spanyol pada akhir abad 16 untuk melindungi Kota Manila dari invasi negara luar. Kota seluas 0,67 kilometer persegi ini awalnya berlokasi di sepanjang pesisir Teluk Manila, sebelah selatan Sungai Pasig. Reklamasi lahan selama awal abad 20 ini obscured tembok dan benteng dari teluk. Intramuros sendiri mengalami kehancuran hebat selama pertempuran untuk memperebutkan kembali kota dari Kependudukan Tentara Jepang selama Perang Dunia II. Pembangunan kembali dinding-dinding yang hancur dimulai tahun 1951 ketika Intramuros dinobatkan sebagai Monumen Sejarah Nasional, yang masih berlangsung sampai saat ini oleh Intramuros Administration (IA).

Pemandangan kawasan sekitar Intramuros

Karena Intramuros itu cukup luas gan, lagi-lagi ane merasa kesulitan menemukan Fort Santiago. Sumpah, ane penasaran banget sama benteng ini kok susah banget nyarinya. Akhirnya ane mengunjungi destinasi wisata pertama dulu yang berupa benteng juga. Ane sendiri kurang tau benteng ini namanya apa, yang jelas lokasinya hanya beberapa saat setelah masuk gerbang Intramuros. Pada bagian pintu masuk terdapat penjaga dengan seragam biru. Tidak ada pemeriksaan apapun sehingga ane dapat langsung masuk. Untuk masuk kesini gratis.

Salah satu benteng di dalam Intramuros

Benteng ini terdiri dari 2 tingkat. Di bagian bawah terdapat taman-taman yang ditata dengan indah, ada juga penjara sempit (yang ane duga digunakan Spanyol untuk memenjarakan pemberontak Filipina yang menginginkan negara itu merdeka), serta lorong-lorong dengan batu yang disusun gaya busur melengkung khas bangunan Eropa.

Salah satu benteng di dalam Intramuros

Ane pun melanjutkan perjalanan ke tingkat atas. Di bagian atas hanya terdapat sebuah halaman dengan highlight pemandangan benteng dan pemandangan sebagian Intramuros . Kurasa fungsinya dibangun 2 tingkat adalah untuk mengawasi keadaan sekeliling gan, pas zaman penjajahan dulu. Karena lokasi benteng ini yang cukup dekat dengan Universitas Manila, ane banyak menjumpai mahasiswa/i yang lagi nongkrong asik disini. Sempet malu juga si waktu jalan di depan mereka hahaha. Ane juga sempat bersantai dulu sesaat karena kaki yang mulai sakit lagi, terlalu banyak berjalan sejak di Singapura, sampai benar-benar mau mati rasanya.

Menyerah mencari Fort Santiago dengan berjalan kaki, akhirnya ane pun memberanikan diri naik Cycle Rickshaw lagi. Tapi kali ini ane menyebutkan dengan jelas Fort Santiago dan meminta kejelasan harga tarif dari awal. Setuju dengan harga 30 peso, ane pun benar-benar diantarkan ke Fort Santiago. Ternyata lokasinya nyempil banget dan di pojokan, pantas aja susah ketemu. Tiket masuk ke Fort Santiago ini seharga 150 peso. Begitu masuk, ane langsung disuguhi dengan lagu klasik Spanyol yang mengalun merdu dengan deretan kereta kuda yang berjajar di sepanjang pinggir benteng menunggu penumpang. Suasana yang sangat klasik.

Hehehehe...Fort Santiago, I Got 'ya!

 Fort Santiago yang dalam Bahasa Spanyol disebut Fuerte de Santigo, dalam Bahasa Tagalog Moog ng Santiago merupakan benteng pertama yang dibangun oleh penakluk Spanyol bernama Miguel López de Legazpi untuk mendirikan kota baru ManilaBenteng pertahanan merupakan bagian dari struktur kota Manila yang disebut sebagai Intramuros ("di dalam dinding").

Benteng ini merupakan salah satu situs sejarah yang paling penting di ManilaBeberapa orang meninggal dalam penjara selama Masa Kolonial Spanyol dan Perang Dunia IIJosé Rizalpahlawan nasional Filipinadipenjarakan di sini sebelum eksekusi pada tahun 1896. Museum Rizal Shrine menampilkan memorabilia dari pahlawan dan fitur bentengtertancap ke tanah perunggujejak kaki Jose Rizal mewakili jalan kaki terakhirnya dari selnya ke lokasi eksekusi yang sebenarnya di Rizal Park.
Bagian luar Fort Santiago

Pembangunan Benteng Santiago membutuhkan waktu selama 3 tahun dari 1590 sampai 1593, kemudian dilakukan renovasi tahun 1733. Benteng ini dinamai Saint James the Great (di Argentina disebut Santiago) yang merupakan Santo pelindung Spanyol. Benteng Santiago terletak di mulut Sungai Pasig dan merupakan benteng pertahanan utama Pemerintah Spanyol selama kolonialisme mereka. Benteng Santiago juga menjadi benteng utama untuk perdagangan rempah-rempah ke Amerika dan Eropa selama 333 tahun. Salah satu sumber yang tidak diketahui juga menyebutkan bahwa Perdagangan Manila Galleon ke Acapulco, Meksiko juga berawal dari Benteng Santiago.

Saat itu susasana Benteng cukup sepi sehingga ane bisa menikmati pemandangan dengan cukup leluasa. Begitu masuk ane disuguhi dengan jajaran kereta kuda bermotif kuno, taman-taman yang tersusun rapi, patung diorama Jose Rizal dan beberapa pejuang revolusi lainnya, serta hutan bambu. Selain itu juga ada meriam dan peluru sisa Perang Dunia II. Benar-benar tempat yang penuh sejarah.

Gerbang masuk Benteng Santiago

Berjalan lebih jauh ke dalam, ane akhirnya menjumpai gerbang masuk Benteng Santiago. Gerbang ini berupa benteng batu dengan ketinggian mencapai 15 m, di sekelilingnya berupa tembok batu yang tebal. Di depan gerbang terdapat kolam yang dipisahkan oleh jalan masuk ke arah benteng pada bagian tengahnya. Menurut keterangan dibawah gerbang, gerbang Benteng Santiago ini dibangun bersama dengan barak militer tahun 1741, kemudian hancur oleh Pertempuran Manila tahun 1945. Administrasi Intramuros kemudian memperbaiki gerbang ini pada Juli 1982.

Pemandangan di dalam Fort Santiago

Pemandangan di dalam Fort Santiago

Memasuki Gerbang Benteng Santiago ini, pemandangan pertama yang terlihat berupa tembok batu lagi yang terlihat sedikit hancur disana-sini. Setelahnya terdapat taman dengan patung Jose Rizal pada bagian tengahnya. Bisa dibilang, bagi masyarakat Filipina, Jose Rizal merupakan Bapak Negara mereka. Seperti Bapak Soekarno bagi masyarakat Indonesia. 

Bagian dalam Benteng Santiago ini terdiri dari dua tingkat gan, setelah melihat dari tingkat dua, bangunan tingkat 1 didominasi oleh ruangan kotak-kotak luas yang sepertinya merupakan ruang pertemuan. Selain itu juga terdapat ruangan kotak sempit yang bagi ane terlihat seperti penjara gan. Pada bagian lantai 1, terdapat jejak kaki Jose Rizal yang dibuat dari semacam kuningan. Jejak kaki tersebut dinamakan 'The Last Walk' yang menandakan rekam jejak kaki terakhir Jose Rizal dalam perjalanannya dari Benteng Santiago sebelum dieksekusi di Rizal Park.

Pemandangan di dalam Fort Santiago

Pada lantai 1 juga terdapat semacam museum yang dinamakan 'The Rizal Shrine', museum ini berisi barang-barang peninggalan Jose Rizal gan. Tapi karena pas ane kesana museum belum buka (baru buka jam 1 siang, sementara saat itu baru jam 12), ane urungkan niat dan berkeliling bagian lain dari Benteng Santiago.

Pada salah satu sudut dekat pintu keluar, ane jumpai juga meriam-meriam yang digunakan saat perang gan. Meriam itu terdiam dengan gagah, seakan tak mau lagi mengulang sejarah peperangan. Selain itu juga terdapat peluru sisa perang yang berukuran cukup besar (bayangkan, satu peluru bisa berukuran sampai 50 cm). Selain itu terdapat jangkar kapal yang terlihat sangat tua dan berkarat. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan saat itu, penuh perang, ledakan, serta tangisan. 

Peluru, meriam dan Jangkar peninggalan perang

Selesai mengelilingi seluruh bagian Fort Santiago, ane keluar dan mampir ke 7-eleven. Di Filipinna, 7-eleven-nya nyaman banget gan buat nongkrong sambil makan siang. Setangkup donat dan segelas minuman ringan dingin dengan lancar masuk ke kerongkongan ane. Memang saat itu Filipinna sedang dilanda musim panas. Begitu terik dan membuat tubuh cepat kehilangan air.

Berjalan kaki kembali tanpa arah, ane tiba-tiba menemukan Manila Cathedral. Manila Cathedral ini bisa dibilang merupakan salah satu gereja tercantik di Manila gan. Gereja ini dibangun menggunakan batubata berwarna kuning kecoklatan dengan gaya bangunan Eropa yang semakin menambah kesan kuno. Pada bagian samping atas pintu kubah terdapat ukiran patung beberapa Santo sehingga menambah kesan cantik sekaligus misterius. Pada bagian paling atas, terdapat jam dan lonceng yang diselimuti oleh kubah.

Gagahnya Katedral Manila

Sepanjang sejarahnya, gereja ini diketahui hancur 7 kali baik oleh sebab alam (gempa bumi, angin tofan) maupun sebab buatan (Perang Manila dan Kebakaran). Katedral Manila yang sekarang ini berdiri merupakan bangunan kedelapan di situs ini gan. Gereja pertama yang terbuat dari nipa dan bambu dibangun pada tahun 1571, kemudian terbakar pada 1583. Katedral kedua dibangun dari batu dan semen pada 1591, kembali hancur oleh gempa bumi pada 1599 dan 1600. Katedral ketiga dibangun pada 1614, dihancurkan oleh gempa bumi pada tahun 1621 dan 1645. Katedral keempat dibangun pada tahun 1654-1681, dihancurkan oleh angin topan dan gempa bumi tahun 1751.
Katedral Manila

Katedral kelima diresmikan pada 1760, sempat direnovasi pada 1850 tetapi kembali dihancurkan oleh gempa bumi pada 1863. Katedral ketujuh diresmikan pada 1879, beberapa hancur karena gempa bumi tahun 1880 ketika bagian loncengnya runtuh, selanjutnya hancur total pada 1945 karena adanya Pertempuran Manila. Katedral yang sekarang ini dibangun pada 1953-1958. Dinaikkan kelasnya menjadi Basilika Minor oleh Pope John Paul II pada 1981 dan secara resmi dinamakan Basilica of the Immaculate Conseption. 

Selesai mengelilingi dan menfoto Katedral Manila, ane sempat duduk mengistirahatkan kaki di salah satu sudut taman. Sungguh trip tiga negara ini telah membuat kaki ane kepayahan gan, hehehe, maklum sebelumnya nggak pernah jalan kaki jauh tiba-tiba langsung dipaksa begini.

Selesai beristirahat, ane beranjak naik cycle rickshaw seharga 30 peso untuk menuju tujuan terakhir hari ini yaitu Gereja San Agustin. Menurut keterangan yang ane baca, terdapat museum yang cukup bagus dan lengkap di dalam gereja. Ane pun segera masuk ke museum dan membayar 100 peso. Masuk ke dalam Gereja San Agustin boleh membawa kamera, tapi waktu di dalam museumnya dilarang gan.

Suasana di dalam Gereja Xt. Xavier

Waktu itu kebetulan di gereja lagi ada nikahan gan, suasananya terasa khidmat. Gereja ini sendiri seperti gereja yang ada di Eropa kebanyakan, mempunyai interior yang cantik dan kubah yang cukup tinggi.  Kubah tersebut disangga oleh beberapa pilar tinggi dengan hiasan yang cantik. Selain itu lampu gantung juga menambah suasana semakin cantik serta khidmat. Selain itu di bagian belakang terdapat patung beberapa santo seperti St. Thomas, St.Augustin  dan patung Tuhan Yesus di dalam sebuah box kaca. Kesemuanya ini boleh difoto gan.
Suasana di dalam Gereja Xt. Xavier

Suasana di dalam Gereja Xt. Xavier

Selesai menfoto interior gereja, ane segera menuju Museum yang merupakan spot wisata utama dari Gereja San Agustin. Untuk masuk ke museum ini membayar 100 peso. Museum ini sendiri berisi barang-barang gerejawi yang meskipun berusia kuno, tapi masih terlihat terawat dan bersih. Selain itu terdapat lukisan-lukisan, patung, juga makam yang di dalam tembok.  Saat itu suasana sepi banget gan, hanya ada beberapa turis yang ane jumpai. Bulu kuduk ane mulai merinding, apalagi kalau harus berjalan di tingkat dua yang sepi dan gelap. Akhirnya karena nggak tahan, ane nggak kelilingin seluruh koleksi tingkat dua. Huhuhu, butuh travelmate.

Puncak ketakutan ane muncul pas sampai di spot makam tembok. Sebenarnya sejak awal lihat dari jauh, ane sudah ragu karena saat itu tidak terlihat turis lain yang mau masuk kesitu juga. Tapi dengan tekad kuat untuk mengalahkan ketakutan, ane paksa untuk masuk ke ruangan makam tembok itu. Shhhhhh....sungguh mengerikan gan. Apalagi saat itu suasana sangat sepi, hanya sinar matahari yang masuk melalui celah-celah kecil jendela raksasa. Ane merasa sedang dikelilingi oleh mayat, karena bentuk makam tembok ini adalah kubus dengan pintu masuk kecil. Tidak sampai ane 5 menit disini sudah keluar lagi hahaha.
Secara keseluruhan, ane membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mengelilingi seluruh bagian Museum Gereja San Agustin ini gan. Museum ini sendiri cukup luas dan koleksinya cukup banyak. 90 % berisi barang-barang gerejawi.

Selesai menjelajah Gereja San Agustin, ane pun melangkahkan kaki ke stasiun LRT terdekat untuk kembali ke penginapan. Jujur hari ini puas sekali karena berhasil mengunjungi beberapa tempat wisata utama sekaligus. Tak lupa ane jajan makanan jalanan Manila yang rasanya seperti pempek berbentuk koin logam dan bundar dan beli makan malam fast food di lokasi makan pagi tadi. 

Jajanan Favorit :)

Ada sedikit cerita 'hampir celaka' gan, bahkan sampai sekarang kalau ane ingat masih kerasa merinding aja. Ceritanya sehabis jajan pempek Manila itu, ane memutuskan akan menikmatinya sembari duduk di pinggir jalan karena kaki yang kelalahan. Sewaktu selesai makan dan akan menyeberang jalan, ane benar-benar lupa kalau Filipinna itu nyetirnya di sebelah kanan jalan. Bisa ditebak, karena terbiasa dengan sistem nyetir di Indonesia yang di kiri jalan, ane nengok sebelah kanan jalan sebelum menyeberang. Karena melihat tidak ada kendaraan yang akan lewat, ane dengan santainya menyeberang. 

Kemudian, "TIIIIIIIINNNNNNNNN...................."

Jeepney berkecepatan sedang hampir aja nabrak ane gan dari kiri jalan. Huaahhhh, tak terhitung berapa kali ane bersyukur Tuhan masih menyelamatkan ane dari kecelakaan gan. Untung aja supir jeepney nggak marah sama ane, malah ketawa-ketawa. Hmmm, terimakasih Tuhan masih menyelamatkan ane..... Hari ini ane emang ga dapat kesialan, tapi bisa aja ane ketabrak.. Sumpah, ane ga mau solo traveling lagiiiii..... 

Day 2 MISSION COMPLETED!!


Part Selanjutnya : DISINI

8.25.2015

[2] FILIPINA TRIP: Kota Manila yang amazing sampai kena SCAM dokar 40 USD!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Tengah hari, sekitar jam 12 siang akhirnya aku terbangun dan siap untuk menjelajah Kota Manila. Kota Manila ternyata seperti ibukota negara kebanyakan yaitu kota yang cukup semrawut dengan penduduk yang cukup banyak, agak kumuh, dan pedagang kaki lima ada dimana-mana. 

Pemandangan Kota Manila dari berbagai sudut kota.

Setelah mandi, aku segera melangkahkan kaki keluar penginapan dan landmark pertama yang kulihat adalah patung Marcelo H. Del Pilar, yang setelah aku browsing ternyata merupakan seorang revolusioner kemerdekaan Filipina yang hidup dari 1850-1896. Menurut keterangan di bawah patung, pada zaman keemasannya dulu, dia adalah seorang penulis dan jurnalis brilian yang sangat menentang Kolonialisme Spanyol di Filipina. Di Filipina ini memang pahlawan revolusioner dihormati banget, sepanjang jalan Manila aku banyak banget menjumpai patung-patung pahlawan dengan keterangan riwayat hidupnya di bawah. Hal ini mirip dengan Thailand, dimana mereka sangat menghormati rajanya sehingga banyak dijumpai foto-foto Raja Thailand dengan bingkai besar di jalan.

Patung Marcelo H. Del Pilar di Distrik Makati

Setelah memberikan penghormatan singkat di dalam hati untuk Marcelo H.Del Pilar, akupun kembali melangkahkan kaki di jalanan Manila tepatnya Distrik Makati ini. Kali ini tujuanku adalah makan siang dengan makanan lokal Filipina. Setelah membaca buku panduan jalan di Filipina karangan Sihmanto yang menerangkan bahwa makanan lokal Filipina itu enak dan murah, aku jadi pengen mencoba. Langkah kaki ane pun berhenti di sebuah warung makan nasi rames kecil. Dengan bahasa tarzan karena si empunya nggak bisa bahasa inggris, ane pun mendapatkan nasi sayur, pritilan ayam dan air minum seharga 40 peso (Rp 8000) aja gan. Murah banget, dan yang bikin ane kaget, citarasa masakan Manila itu mirip banget gan sama Indonesia. Enak dan berbumbu, ane jadi merasa nggak di luar negeri. Tapi bagi yang Muslim, harap hati-hati ya gan. Karena penduduk mayoritas Kota Manila beragama Katholik, cukup banyak yang menjual daging babi.

Manila nyetirnya di sebelah kanan gan.

Selesai makan ane segera melangkahkan kaki ke Stasiun LRT terdekat untuk memulai petualangan menjelajah Manila. Disini ane baru tau kalau orang Filipina itu nyetirnya di sebelah kanan, hmmm jadi kerasa kek di Sepanyol aja gan. Karena tujuan ane yang pertama adalah Fort Santiago, setelah melihat peta LRT sejenak ane merasa harus naik LRT dari  Stasiun Quirrino Avenue (tempat gue sekarang) ke Stasiun Carriedo. Namanya Spanish banget ya gan, ane nyebutinnya sampai gimana-gimana gitu wkwkwkwk.

Sampai di Stasiun Carriedo ane bingung gan. Ini harus ngapain ya? Aduh, ane harus ngarah kemana ya? Sumpah kagak ada petunjuk apa-apa gan. Kebingungan ane itu terjawab saat ane melihat kerumunan pasar gitu di bawah. Sepertinya menarik. Ane pun segera turun untuk melihat-lihat barang apa saja yang dijual. Ternyata 11-12 sama Sunmor gan (pasar mingguan kampus UGM). Barang yang dijual itu berupa  pakaian, sepatu, buah-buahan segar, pernak-pernik, VCD, kelapa, kapur barus, dan lain-lain. Kapur barus? Iya gan. Ada yang jual kapur barus dan itu diiderkan pakai tampah. Ane pengen beli gan sebenarnya, ane kasian gan sama yang jual kapur barus soalnya kek belum ada yang beli. Tapi ane urungkan dan membeli VCD lagu-lagu Filipina gan. Barang-barang disini murah-murah juga gan, karena memang berfungsi sebagai pasar rakyat.


Pasar rakyat murah meriah di bawah Stasiun LRT Carriedo.

Di ujung pasar, akhirnya ane menemukan salah satu landmark Kota Manila yang ane incar yaitu Gereja Quaipo. Gereja Quaipo ini nama lainnya Minor Basilica of the Black Nazarene dan Saint John the Baptistdinamakan begitu karena terdapat patung suci Black Nazarene di dalamnya. Black Nazarene ini merupakan patung Yesus Kristus memikul salib yang dipahat dari kayu berwarna coklat gelap, dipahat pada abad 17 oleh seniman Meksiko yang tidak diketahui namanya. Patung ini sendiri didatangkan via galleon dari Acapulco, Meksiko pada pertengahan abad 16.

Gereja Quiapo a.k.a Minor Basilica of the Black Nazarene.

Patung Black Nazarene di dalam Gereja Quiapo.

Patung Yesus Kristus ini sangat terkenal di Filipina dan dianggap menakjubkan oleh banyak penganut Khatolik di Filipina. Terdapat beberapa tanggal tahunan dimana patung ini dibawa ke publik untuk pemujaan yaitu Tahun Baru (hari pertama dari Novena); Jumat baik (Good Friday); dan 9 Januari (hari transfer Minor Basilica dari lokasi asalnya di Rizal Park ke lokasi sekarang). Prosesi 9 Januari ini bisanya paling besar dari dua prosesi yang lain gan.

Patung Black Nazarene dibawa ke publik untuk pemujaan.

Sejarah Gereja Quaipo ini sendiri cukup panjang gan. Gereja ini pertama kalinya dibangun oleh Misionaris Fransiskan dengan hanya menggunakan bambu dan jerami. Perjuangan Misionaris Fransiskan tersebut membangun gereja harus sia-sia karena pada 1574, Limahong dan tentaranya menghancurkan dan membakar gereja ini. Bertahun-tahun melihat rumah Tuhan hanya teronggok rusak, pada 1588 seorang biarawan Fransiskan, Fr. Antonio de Nombella mendirikan kembali gereja ini dengan nama Parish of St. John the Baptist, prekursor Yesus Kristus yang memanggil setiap orang untuk bertobat sebelum menerima Yesus. Tapi lagi-lagi, gereja ini kembali dibakar pada 1603 sehingga paroki sementara diserahkan ke Jesuit sampai keadaan stabil kembali. Gubernur Jenderal Santiago de Vera memprakarsai pembangunan kembali gereja ini secara penuh pada 1686.

Pada 1762, Inggris berusaha menghancurkan gereja ini. Kehancuran sekali lagi harus terjadi akibat gempa bumi pada 1863. Pada 1879, Pendeta Eusebio de Leon memulai rekonstruksi pembangunan gereja kembali dan diselesaikannya dengan bantuan Pendeta Manuel Roxas pada 1889 menggunakan sumbangan dari berbagai pihak. Pada 1928, Gereja ini kembali hancur karena kebakaran yang menghancurkan langit-langit kayu dan sakristi di belakang altar utama.

Kenampakan bagian dalam Gereja Quiapo.

Kehancuran terus menerus baik karena sebab manusia maupun alam tersebut tidak menyurutkan niat Fr. Magdaleno Castillo untuk memulai rekonstruksi pembangunan gereja kembali dari awal. Rekonstruksinya adalah berdasar rencana konstruksi yang disiapkan oleh Arsitek Juan Nakpil pada 1933. Dia menambahkan kubah dan menara lonceng di kedua sisi gereja. Arsitek Jose Maria Zaragoza memperbesar gereja dan membangun desain dinding lateral pada 1984. Perjuangan tersebut tidak sia-sia karena pada 1988 gereja ini dianugerahi gelar Basilika dari Nuestro Padre Yesus, Nazareno.

Saat itu di Gereja Quaipo lagi ada misa gan, dan ane dengan gejenya masuk dan mengikuti misa sejenak meski nggak ngerti sama sekali karena menggunakan Bahasa Tagalog. Pas itu banyak banget gan warga sekitar yang ikut misa sampai gedung bagian dalamnya nggak cukup sehingga beberapa mengikuti misa di luar gedung. Ane merasa sangat kusyuk gan saat misa disini, dan ane merasa warga Manila itu religius banget gan. Setelah berdoa sejenak, ane pun meninggalkan gereja ini untuk melanjutkan petualangan menemukan Fort Santiago.

Waktu ane datang lagi ada misa gan, ini kenampakan bagian samping Gereja Quiapo dari Plaza Miranda.

Oya, pelataran di depan Gereja Quaipo seluas 5358 m2 itu disebut Plaza Miranda gan. Hal itu dijelaskan dari tugu-tugu kecil yang berdiri di sekeliling gereja. Plaza Miranda merupakan lapangan umum yang dikelilingi oleh Gereja Quaipo di sebelah utara, Quezon Boulevard di sebelah timur, Hidalgo Street di sebelah selatan dan Evangelista Street di sebelah barat. Plaza Miranda ini dilantik dan dibuka oleh Mayor Arsenio Lacson pada 1961. Nama 'Miranda' didapat dari Jose Sandino y Miranda, yang menjabat sebagai sekretaris bendahara Filipina pada 1833 dan 1854.

Plaza Miranda.

Plaza Miranda ini dilapisi oleh ubin dari granit dan dikelilingi oleh arsitektur Neo-Gotik detail yang terinspirasi oleh arsitektur Gereja Quaipo. Arsitektur ini tercermin di bagian barat  dan selatan plaza, dimana terdapat dua gerbang besar yang dipisahkan oleh beberapa gerbang kecil berbentuk busur membentuk tiang tertutup. Selain Gereja Quaipo, di Plaza Miranda ini juga terdapat beberapa landmark lain seperti F&C Tower (sebelumnya Gedung Picache yang sebelumnya merupakan markas Bank Tabungan Filipina dan Teater Times yang merupakan salah satu bioskop tertua di Manila.

Setelah foto-foto sejenak, ane segera melangkahkan kaki di riwetnya lalu lintas Manila. Perjalanan ane yang tanpa arah dan tujuan ini menghantarkan ane ke kawasan kumuh di sepanjang Sungai Pasig gan. Ane sendiri nggak tau, setelah berjalan melewati pasar kok tiba-tiba bisa berada di bawah jembatan ya? Ane pun langsung berhenti dan tanya sejenak ke mbak-mbak yang jaga warung kecil. Ane menanyakan jalan ke Rizal Park, dan untungnya mbaknya bisa bahasa Inggris. Ane disuruh naik lewat jembatan di depan dan naik jeepney ke arah Kalaw.

“Kalaw hatiku mendua…ku tak tau harus gimana.”

Hilang arah lagi gan, hanya melihat Sungai Pasig dengan latar belakang gedung-gedung khas ibukota.

Sampai di atas ane kembali bingung gan. Pemandangan di depan ane berupa sebuah sungai luas (Sungai Pasig) dengan latar belakang gedung-gedung tinggi khas ibukota. Ane harus kemana lagi? Walaupun kebingungan, ane kembali melangkahkan kaki dan berharap menemukan seseorang yang bisa ditanyai. Beberapa saat berjalan, akhirnya ane ketemu seorang bapak-bapak yang lagi makan. Bapak tersebut mengatakan ane harus naik jeepney ke Baclaran untuk bisa mencapai Rizal Park. Dengan petunjuk singkatnya, ane pun segera naik jeepney dan berusaha duduk sedekat mungkin dengan supir untuk memberinya petunjuk suruh menurunkan ane di Rizal Park.

Jeepney khas Filipina.

Sewaktu di dalam Jeepney itu, ane belajar salah satu budaya orang Filipin gan yaitu oper-operan untuk bayar ongkos. Biasanya kalau mau bayar, mereka akan omong ‘bayad’, kemudian menyerahkan uang logam ke penumpang di sampingnya. Nanti penumpang yang nerima uang tadi akan mengoperkannya lagi ke penumpang di sampingnya sampai uang itu diterima Pak Sopir di depan. Ane yang lagi-lagi sok-sokan pun ikut-ikutan ngomong ‘bayad’ n ngoperin duit hehehe. Ongkos sekali naik jeepney ini 8 peso gan. Sekitar 10 menit berkendara, ane sampai juga di Rizal Park gan. Rizal Park ini lokasinya ada di Roxas Boulevard, Ermita, Manila. Ane masuk melalui Kalaw St.

Rizal Park.

Rizal Park yang dalam Bahasa Tagalog disebut Liwasang Rizal, merupakan salah satu taman bersejarah di Filipina gan. Sejak Era Kolonialisme Spanyol, taman ini telah menjadi salah satu taman kota terbesar di Asia. Masyarakat lokal biasa mengunjungi taman ini untuk bersantai pada hari Minggu ataupun libur nasional. Kenapa sebelumnya ane sebut taman bersejarah? Karena ternyata eksekusi pahlawan nasional, Jose Rizal, pada 30 Desember 1896 itu dilakukan disini gan. Eksekusi tersebut tentulah menimbulkan kemarahan yang luar biasa gan bagi masyarakat Filipina, akhirnya berhembuslah semangat Revolusi Filipina pada 1896 melawan Kerajaan Spanyol. Selain itu, deklarasi kemerdekaan Filipina dari Kependudukan Amerika juga dilakukan di taman ini gan pada 4 Juli 1946. Karena itulah taman ini dinamakan Rizal Park untuk menghormati dan menghargai Jose Rizal, salah satu pahlawan nasional mereka gan.

Central Lagoon Dancing Fountain.

Masuk pertama kali, landmark yang paling kelihatan adalah central lagoon dancing fountain yang merupakan kolam dengan air mancur berbentuk melingkar dan kursi taman di sepanjang pinggiran kolam sehingga suasananya asri banget gan. Salah satu yang bikin ane tambah kagum, saking mereka menghormati pahlawan revolusionernya, di sepanjang pinggiran kolam ada banyak patung pahlawan Filipina gan dengan riwayat hidupnya secara singkat di bagian bawah. Di pinggir kolam sebelah utara juga ada auditorium terbuka jika ada acara-acara tertentu. 

Patung pejuang kemerdekaan Filipina yang berada di sebelah utara kolam.

Boneka semacam ondel-ondel yang ane jumpai di Rizal Park.

Terus waktu itu lagi ada acara karena banyak tenda-tenda dan boneka raksasa kayak ondel-ondel gitu gan. Kalau ane baca flyer di jalan sih, lagi ada peringatan 29 tahun meninggalnya Gubernur Kota Manila gan, namanya Senator Benigno Aquino Jr. Ane udah bilang di awal kan gan, kalau mereka sangat menghormati pahlawan atau orang-orang yang pernah mempunyai jasa untuk Filipina, jadi jangan heran gan kalau peringatannya kematiannya pun dirayakan gan.

Di sepanjang sisi utara Rizal Park, juga terdapat beberapa landmark seperti Kanlungan ng Sining. Kanlungan ng Sining ini merupakan museum untuk seniman Filipina dan tempat yang dipenuhi kedamaian untuk mereka menyelesaikan karya seninya. Kanlungan ng Sining ini seperti hutan dengan pohon-pohon besar, tanaman, burung, dan serangga di sekelilingnya gan. 

Kanlungan ng Sining.

Selesai mengelilingi taman bagian depan, ane pun bingung harus ngapain lagi haha. Karena hampir semua yang ke taman itu membawa pasangan/keluarga gan. Banyak juga yang menggelar tikar di taman kemudian makan bekal yang dibawa dari rumah. Ane sadar gan, ane merasa sangat kesepian sebagai solo traveler hehe. Akhirnya supaya nggak mati gaya, ane pun naik sepur kelinci seharga 50 peso untuk mengelilingi Rizal Park yang cukup gempor juga kalau harus jalan kaki.

Sepur kelinci dengan tarif 50 peso yang siap mengantarkan ane keliling Rizal Park.

Setelah itu, ane pun berjalan lebih ke timur Rizal Park kemudian memasuki Diorama of Rizal’s Martyrdom dengan membayar 20 peso. Diorama ini berisi diorama Jose Rizal yang menggambarkan kehidupan Jose Rizal pas sampai eksekusinya gan. Di bagian luarnya, terletak di dinding granit hitam pintu masuk, terdapat pahatan berupa ucapan selamat tinggal Jose Rizal sebelum meninggal dalam Bahasa Inggris dan Spanyol berjudul “Mi Ultimo Adios”. Diorama itu menggambarkan Jose Rizal dieksekusi dengan cara ditembak sekelompok pasukan Spanyol gan. Sebelum ditembak, Jose Rizal diikat tangannya,  dan disuruh berdiri menghadap ke belakang. Mengerikan ya gan.

Ucapan selamat tinggal Jose Rizal di pahatan dinding granit hitam.

Diorama yang menggambarkan kehidupan Jose Rizal sampai eksekusinya.

Selain beberapa spot menarik diatas, ini dia gan beberapa spot menarik lainnya di Rizal Park, kurang lebih urut dari timur (Kalaw St) ke barat (Museum of the Filippino People):

Chinese Garden.

La Madre Philippine.

Rizal Monument.

Filipino-Korean Soldier Monument

Lapu-lapu monument

Musium of Filipino.

Selesai mengelilingi Monumen Lapu-lapu, ane pun bergegas jalan kaki di Kilometer Zero untuk menuju Museum of the Filippino People. Tapi saat itu ane nggak masuk kesana, karena tujuan selanjutnya adalah Fort Santiago yang konon katanya lokasinya dekat dari sini. Karena tidak mempunyai clue harus jalan kaki kearah mana, ane pun memutuskan naik dokar. Ane tanyakan tarifnya, 30 peso sampai ke Fort Santiago. Okelah ane percaya sama bapak tukang dokar ini.

Sewaktu udah di dokar, ane mulai curiga aja nih, kok jauh banget ya mau ke Fort Santiago aja?? Saat itu si Bapak Dokar terus-terusan saja ngomong kalau dia itu tour guide, gue iya-iyain aja soalnya ane nggak tau maksudnya. Kecurigaan ane semakin bertambah saat dia terus saja menjelaskan dengan cukup detail tentang tempat-tempat yang kita lewati. Sesekali dokar dihentikan oleh dia, dan ane disuruh foto. Selain itu ane juga dibelikan 1 botol minuman air putih dingin. Perasaan ane semakin nggak enak, sepertinya ane kena scam, dia nggak nganterin ke Fort Santiago, malah diputer-puterin keliling kota selama kurang lebih 45 menit.

Patung Raja Felipe, yang menjadi asal muasal nama Filipina.


Gerbang Masuk Chinatown.

Akhirnya di bawah stasiun LRT, tiba-tiba Bapak Tukang Dokar berhenti dan menyuruh ane turun. Jujur ane bingung dan nggak tau apa maksudnya. Sebelum ane turun, tiba-tiba dia menyuruh ane membayar 40 USD!!!

WHAT THE FU*K???

Ane awalnya berpikir positif, mungkin dia salah bilang 14 jadi 40, tetapi sekali lagi dia menjelaskan “FORTHY”. Gue langsung diem mak clep! 40 USD itu berarti kan kurang lebih 1600 peso! Sedangkan di awal sudah ane jelaskan duit ane cuma 3500 peso. Keringat dingin langsung bermunculan aja gan.

Gue yang nggak terima dan merasa dibohongi langsung aja menolak todongan nggak manusiawi ini. Gue pun protes-protes karena dari awal gue sama sekali nggak nyuruh si Bapak muter-muterin gue. Gue juga menyesali kenapa di sepanjang jalan nggak tanya atau protes. Dengan segera ane jawab,

“No, it’s to much. I need to eat to. I can’t live if you ask me 40 USD.”

“No, it’s 40 USD.”

Dia masih aja ngomong sambil cekikikan. Udah rasa mau gue apain aja ni Bapak. Tapi gue pun tetap bersikeras dan menyerahkan dengan paksa 14 USD (700 peso) ke Si Bapak. Dengan terpaksa dia pun menerima uang dari ane, dan ane segera kabur dari si Bapak. Rasanya kayak mau nangis aja gan. Udah uang pas-pasan, masih kena scam 700 peso. Huaaahh, rasanya pengen ada travelmate yang bisa diajak mengeluh sekarang huhuhu...

Kejadian itu membuat mood ane sesorean berantakan dan nggak berniat kemana-mana lagi. Karena rasa lapar kembali menyerang, ane pun segera mencari warung makanan di bawah stasiun. Tidak lupa supaya tidak kena scam lagi, ane tanya dulu berapa harganya. Saat itu ane makan nasi dengan daging babi kecap seharga 50 peso aja gan. Sebenarnya nggak doyan babi, tapi ane nggak ngerti kalau yang ane makan babi sampai tinggal setengahnya. Karena masih shock dan galau, ane pun makan aja nggak peduli dengan semuanya.

Selesai makan, ane udah nggak punya tenaga ataupun mood untuk keliling lagi gan. Hari juga mulai menggelap. Jujur ane tidak berani berkeliling Manila di malam hari karena menurut beberapa info, tingkat kriminalitas di Filipina itu tinggi gan. Ane pun naik LRT ke Stasiun Querreno, setelah mandi tertidur nyenyak. Dalam hati ane bersumpah, besok ane nggak akan tertipu lagi!! Ane harus kuat!!


Part Selanjutnya : DISINI