Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

7.13.2016

Diary Menggapai Himalaya 8 : Bagusnya Amber Fort

Amber Fort, Jaipur
3 Juli 2016
21.00

[8] Salah satu Benteng paling bagus yang pernah aku kunjungi. Namanya Amber Fort, berada di Jaipur, Rajasthan. Hari kelima travelling 'marathon' di India. Benar2 melelahkan dan menguras tenaga. Tetapi herannya, radang tenggorokan dan gejala campak yg di awal berangkat masih ada sudah hilang sepenuhnya. Kebahagiaan bisa menyembuhkan.

Benteng sebesar dan seindah ini masuknya gratis. Banyak berkenalan dengan masyarakat lokal n bahkan diundang ke rumahnya sama keluarga lokal, tp masih takut diculik hehe, pikiranq terlalu jahat. Nice day.

[PART 4] Menggapai Himalaya : Eksplore Kochi, Kota Pelabuhan Bersejarah di India Selatan (2) !

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI

Chinese Fishing Net yang diperkenalkan ke wilayah Kochi oleh para pedagang Tiongkok sekitar abad ke-14

Kami berjalan pelan menyusuri sekitaran Kochi bagian barat, sadar bahwa jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Kami mencari tempat makan yang sederhana saja, yang penting bersih! Itu salah satu syarat tempat makan di India hehehe.. Berjalan-jalan sejenak, akhirnya kami masuk ke sebuah restoran kecil dekat pelabuhan. Begitu melihat daftar makanannya, aku jujur agak kaget. Murah banget. Serius. Harga-harganya kalau dikalikan sekitar 200 rupiah saja. Nasi goreng ayam di kisaran belasan ribu rupiah kalau dirupiahkan. Rasanya hampir tidak masuk akal buat ukuran kami yang baru saja jalan-jalan seharian.

Aku pesan nasi goreng ayam, Fredo juga pilih menu yang mirip. Waktu makanannya datang, porsinya ternyata cukup besar. Rasanya enak, gurih, dan bikin kenyang. Bukan sekadar mengganjal perut. Makan siang itu terasa pas, sederhana, tanpa ekspektasi aneh-aneh, tapi justru memuaskan. Setelah perut terisi dan badan agak segar lagi, kami pun siap melanjutkan perjalanan berikutnya, Chinese Fishing Nets. Kami memilih naik bus umum karena selain murah, rasanya lebih dekat dengan kehidupan lokal.

Begitu bus datang, kami langsung naik. Ini pertama kalinya aku benar-benar mencoba bus umum di India. Busnya melaju kencang, disentak-sentakkan ke sana kemari, rem mendadak, klakson nyaris tidak berhenti, ditambah lagu-lagu Bollywood yang diputar keras dari speaker depan. Jujur saja, agak bikin kaget, tapi justru di situlah serunya. Tarifnya sangat murah, hanya 13 rupee atau sekitar 2.600 rupiah untuk perjalanan kurang lebih 45 menit dengan jarak sekitar 10 kilometer.

Di dalam bus aku baru sadar satu hal menarik. Tempat duduk laki-laki dan perempuan dipisah. Perempuan duduk di bagian depan, sementara laki-laki di bagian belakang. Jendelanya juga tidak dikasih kaca, jadi angin dan suara jalanan langsung masuk begitu saja. Awalnya aku mengira ini sekadar kebiasaan lokal, tapi ternyata pemisahan ini diterapkan setelah adanya berbagai kasus pelecehan di transportasi umum. Good idea sih dengan solusi 'ala kadarnya' wkwk.

Sekitar empat puluh lima menit kemudian, kami turun di dekat pantai. Pantai di sini langsung menghadap Laut Arab. Airnya terlihat keruh, tidak jernih, tapi suasananya terasa hidup dengan banyak orang yang menikmati pantai. 

Dari kejauhan, struktur jaring raksasa itu sudah terlihat. Rangka kayu besar dengan jaring lebar yang menghadap ke laut. Inilah Chinese Fishing Nets, atau Cheena Vala.

Alat tangkap ikan ini dipercaya diperkenalkan ke wilayah Kochi oleh para pedagang Tiongkok sekitar abad ke-14, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Pada masa itu, Kochi sudah menjadi pelabuhan penting di jalur perdagangan Samudra Hindia. Kapal-kapal dari Tiongkok, Arab, dan Asia Tenggara singgah untuk berdagang rempah-rempah, kayu, dan hasil laut. Hubungan dagang inilah yang membawa teknologi penangkapan ikan khas Tiongkok ke pesisir Kerala.

Sistem kerja jaring ini sebenarnya cukup sederhana, tapi cerdas. Rangka kayu besar dipasang dengan tuas panjang dan pemberat batu. Ketika jaring diturunkan ke laut, pemberat membantu menahan posisinya di dalam air. Setelah beberapa waktu, beberapa orang akan menarik tuas secara bersamaan untuk mengangkat jaring, berharap ada ikan, udang, atau kepiting yang terperangkap di dalamnya. Semua proses dilakukan dengan tenaga manusia, tanpa mesin, dan membutuhkan kerja sama serta ritme yang pas.

Dahulu, jaring-jaring ini merupakan alat tangkap penting bagi nelayan setempat, terutama di perairan dangkal dekat muara. Namun seiring perubahan zaman dan munculnya teknologi penangkapan modern, peran Cheena Vala mulai bergeser. Saat ini, jaring-jaring tersebut masih digunakan, tetapi hasil tangkapannya relatif kecil. Lebih sering, nelayan justru mempertahankannya sebagai bagian dari warisan budaya dan daya tarik wisata.

Di sepanjang tepi pantai banyak penjual seafood. Ikan, udang, dan hasil laut lain dipajang di baskom warna-warni. Beberapa pedagang menawarkan untuk memasakkan langsung seafood yang dipilih. Aku sempat tertarik, tapi kemudian ragu soal kebersihannya. Akhirnya kami hanya melihat-lihat dan mengambil beberapa foto.

Angin laut berembus pelan, bau asin bercampur aroma ikan dan asap masakan. Di sekitar kami, turis lalu-lalang, nelayan sibuk dengan jaringnya, dan burung-burung beterbangan rendah di atas air. Aku berdiri menghadap laut, menatap jaring-jaring raksasa itu, dan merasa… Kochi ini memang kota pertemuan. Bukan cuma budaya, tapi juga masa lalu dan masa kini.

Dari area Chinese Fishing Nets, aku dan Fredo lanjut jalan kaki menyusuri jalur pejalan kaki di tepi pantai. Di sisi kanan terbentang Laut Arab, ombaknya cukup besar dan berisik. Air lautnya terlihat keruh, berwarna kecokelatan, dan di beberapa bagian pantai terlihat banyak sampah yang terbawa arus. Campuran rumput laut, plastik, dan sisa-sisa kayu menumpuk di tepi pasir. Pemandangannya tidak indah, tapi jujur. Ini memang wajah pantai kota pelabuhan.

Angin laut bertiup cukup kencang. Beberapa orang duduk di bangku menghadap laut, sebagian hanya berjalan santai tanpa tujuan jelas. Jalur ini terasa tenang meskipun ombak di depan mata cukup ganas.

Tidak lama berjalan, kami sampai di sebuah area yang lebih sepi dan teduh. Di depan kami berdiri gerbang bertuliskan Dutch Cemetery. Tempat ini adalah pemakaman orang-orang Belanda yang meninggal di Kochi pada masa kolonial. Makam-makamnya berasal dari abad ke 17 dan 18, kebanyakan milik pejabat VOC, tentara, dan keluarga Eropa yang dulu menetap di sini.

Keberadaan pemakaman ini mengingatkan bahwa Kochi pernah menjadi titik penting bagi Belanda setelah mereka mengalahkan Portugis. Banyak orang Eropa yang hidup dan meninggal jauh dari tanah asalnya, lalu dimakamkan di sini. Area pemakamannya tertutup, tidak bisa dimasuki bebas, jadi kami hanya melihat dari luar gerbang. Suasananya sunyi dan agak lembap, dikelilingi pepohonan tua.

Dari situ kami melanjutkan jalan ke arah sebuah gereja besar berwarna kuning yang terlihat mencolok dari kejauhan. Di sepanjang jalan, aku melihat cukup banyak burung gagak. Mereka bertengger di pagar, kabel, dan pepohonan. Tidak terasa menyeramkan atau negatif. Mereka hanya bagian dari keseharian kota ini, lalu lalang seperti burung lain pada umumnya.

Di satu area terbuka, aku melihat pemandangan yang cukup menarik. Seekor kerbau besar sedang berendam di genangan air berlumpur. Tubuhnya hampir tenggelam, hanya kepala dan punggung yang terlihat. Sepertinya ia berendam untuk menurunkan panas, karena udara siang itu memang terasa lembap dan panas. Tidak ada yang mengusir atau memperhatikan secara berlebihan. Semua terlihat biasa saja, seolah ini pemandangan sehari-hari.

Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di depan gereja berwarna kuning tersebut. Inilah Santa Cruz Basilica, salah satu gereja tertua dan paling penting di Kochi. Gereja ini pertama kali dibangun oleh Portugis pada abad ke 16, lalu beberapa kali mengalami kerusakan dan pembangunan ulang. Bangunan yang sekarang merupakan hasil rekonstruksi pada awal abad ke 20.

Fasadnya bergaya Eropa, sederhana tapi megah. Dindingnya dicat kuning pucat, jendela-jendelanya tinggi, dan di bagian atas terdapat menara kecil. Halamannya rapi dan cukup tenang. Suasananya terasa berbeda dari hiruk pikuk jalanan tadi. Santa Cruz Basilica menjadi saksi panjangnya sejarah kolonial di Kochi. Dari Portugis, Belanda, hingga Inggris, semua meninggalkan jejak di kota ini. Gereja ini juga masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah sampai sekarang.

Aku berdiri sebentar di halaman gereja, melihat sekeliling, lalu menengadah ke bangunannya. Di satu sisi ada laut, di sisi lain ada pemakaman Belanda, dan tidak jauh dari sini ada gereja Eropa yang masih berdiri kokoh. Kochi benar-benar terasa seperti kota yang dibentuk oleh banyak lapisan sejarah, tanpa perlu dibuat dramatis.

Dari Santa Cruz Basilica, kami tidak langsung naik kendaraan. Kami memilih berjalan kaki lagi menyusuri jalanan Kochi yang tidak terlalu lebar. Suasana sore mulai terasa. Di sepanjang jalan, kami berpapasan dengan banyak anak sekolah Katolik yang baru pulang. Mereka mengenakan seragam biru, tas besar di punggung, sebagian masih bercanda, sebagian sudah terlihat lelah.

Fredo beberapa kali menyapa mereka dan mengajak foto. Anak-anak itu tertawa, malu-malu, saling dorong kecil sambil menutup wajah. Ada yang akhirnya mau berdiri sebentar untuk difoto, ada juga yang langsung lari kecil sambil tertawa. Interaksinya singkat, sederhana, tapi hangat. Tidak ada rasa canggung yang aneh. Semuanya terasa natural.

Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah gereja lain yang tidak kalah penting. Inilah St. Francis Church, gereja tertua yang dibangun oleh bangsa Eropa di India.

Gereja ini pertama kali dibangun oleh Portugis pada tahun 1503, tidak lama setelah Vasco da Gama mendarat di Kochi. Awalnya gereja ini sederhana, terbuat dari kayu. Setelah Portugis memperkuat kekuasaannya, bangunan gereja diperluas dan dibuat permanen. Ketika Belanda menguasai Kochi, gereja ini sempat diambil alih dan digunakan oleh Gereja Reformasi Belanda. Baru kemudian, saat Inggris datang, gereja ini dikembalikan lagi kepada jemaat Anglikan.

Masuk ke dalam gereja, suasananya langsung terasa tenang. Tidak megah seperti Santa Cruz, tapi justru terasa lebih tua dan lebih hening. Bangunannya sederhana, dinding putih, jendela besar, dan langit-langit tinggi dari kayu. Bangku-bangku kayu tersusun rapi menghadap altar.

Di bagian dalam gereja terdapat beberapa papan keterangan yang menjelaskan sejarah tempat ini. Salah satu informasi yang paling penting adalah bahwa Vasco da Gama pernah dimakamkan di gereja ini setelah wafat di Kochi pada tahun 1524. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Portugal beberapa tahun setelahnya, namun penanda makamnya masih ada di dalam gereja.

Di dalam gereja ini juga terdapat penanda bekas makam Vasco da Gama. Ia meninggal di Kochi pada tahun 1524 saat menjabat sebagai wakil raja Portugis di India. Setelah wafat, ia dimakamkan sementara di St. Francis Church. Beberapa tahun kemudian, jenazahnya dipindahkan ke Portugal dan dimakamkan kembali di Lisbon, namun lokasi makam awalnya tetap ditandai di gereja ini.

Penandanya sederhana. Sebuah batu datar di lantai gereja dengan tulisan nama Vasco da Gama, dikelilingi pagar rendah agar tidak terinjak. Tidak ada patung besar, tidak ada ornamen mencolok. Hanya penanda sunyi yang menunjukkan bahwa salah satu tokoh penting dalam sejarah pelayaran dunia pernah dimakamkan di tempat ini.

Di dekatnya terdapat papan keterangan yang menjelaskan riwayat singkat Vasco da Gama. Ia pertama kali tiba di Kochi pada tahun 1502, membuka jalur laut langsung antara Eropa dan India, dan berperan besar dalam perubahan peta perdagangan dunia. Informasi di papan itu juga menyebutkan bahwa meskipun jasadnya sudah tidak lagi berada di Kochi, gereja ini tetap menjadi bagian penting dari kisah hidup dan kematiannya.

Aku berdiri beberapa saat di depan penanda makam itu. Rasanya agak aneh menyadari bahwa di tengah gereja sederhana ini, di kota pesisir yang ramai dan penuh kehidupan sehari-hari, tersimpan jejak dari perjalanan global yang dampaknya terasa sampai hari ini.

Aku berdiri cukup lama membaca papan-papan itu. Isinya menjelaskan pergantian kekuasaan Portugis, Belanda, dan Inggris, serta bagaimana gereja ini bertahan melewati semua masa itu. Tidak ada narasi heroik. Hanya penjelasan singkat, faktual, dan tenang.

Di bagian altar, ada salib besar yang sederhana. Cahaya masuk dari jendela samping, membuat ruangan terasa terang tapi lembut. Beberapa pengunjung duduk diam, sebagian hanya berjalan pelan, membaca, lalu keluar lagi.

Di satu sudut gereja, ada ruang kecil dengan tirai merah yang menutup altar samping. Ukirannya detail, gelap, dan terlihat sangat tua. Semua bagian di dalam gereja ini terasa apa adanya. Tidak dipoles berlebihan, tidak mencoba tampil megah.

Aku berdiri di tengah lorong gereja, memandang ke depan, lalu menoleh ke sekeliling. Di luar, anak-anak sekolah masih lalu lalang, tertawa, memanggil teman-temannya. Di dalam, gereja ini menyimpan cerita ratusan tahun yang berjalan pelan dan sunyi.

Kochi memang seperti itu. Sejarah besar dan kehidupan sehari-hari berjalan berdampingan tanpa harus saling menonjolkan diri.

Di bagian belakang gereja, kami sempat bertemu dengan sekelompok anak-anak. Mereka kelihatan malu-malu tapi jelas penasaran. Berdiri agak berjajar, saling dorong pelan, senyum disembunyikan di balik tangan. Aku menyapa duluan, dan seketika suasananya berubah jadi riuh. Mereka langsung bertanya kami dari mana, satu dua tertawa kecil sambil menutup mulut, yang lain cuma menatap sambil nyengir. Aku ajak mereka foto bareng. Mereka senang, kami juga. Momen singkat yang sederhana tapi hangat, tanpa bahasa yang sama pun rasanya nyambung.

Setelah selesai eksplor gereja, kami memutuskan kembali ke area Hotel Srinivas dengan bus. Mulai dari foto kedua, suasana berubah jadi jalan kaki pelan menuju hotel. Deretan toko-toko kecil berjajar rapat di sisi jalan, papan nama penuh tulisan lokal, sebagian dalam huruf yang sama sekali tidak kami pahami. Ada pedagang buah di pinggir jalan, tomat ditumpuk tinggi di gerobak kayu, warnanya kontras dengan aspal yang mulai kusam. Lalu toko kain, penjahit, elektronik, sampai kios fotokopi yang berdempetan. Jalanannya hidup, orang lalu-lalang, motor parkir sembarangan, klakson sesekali terdengar tapi tidak terasa agresif.

Akhirnya kami sampai kembali di Hotel Srinivas. Sistem check-in 24 jamnya benar-benar menyelamatkan. Kami masih bisa mandi dan membersihkan badan setelah seharian di luar sebelum bersiap menuju Stasiun Kereta Api Kochi untuk perjalanan panjang hampir 24 jam ke Mumbai. Malamnya kami tidak ingin ribet keluar lagi. Kami masak nasi seadanya dan makan pakai pilus. Tidak mewah, tapi pas. Tubuh bersih, perut terisi, dan kepala sudah mulai siap untuk perjalanan berikutnya.

Terimakasih ya Kochi, untuk pengalamannya! Pastinya akan kukenang sampai lama, dan kuabadikan dalam bentuk tulisan di blog ini.

***

Tambahan, berdasarkan ceritaku seharian menjelajah Kochi, berikut merupakan ringkasan tempat bersejarah di Kochi secara kronologis dan perannya sebagai kota pelabuhan:

1. Chinese Fishing Nets (Cheena Vala) – sekitar abad ke-13–14

Dibangun oleh pedagang Tiongkok, kemungkinan besar pada masa Dinasti Yuan, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Jaring raksasa ini digunakan untuk menangkap ikan di perairan dangkal pesisir Kochi.

Keberadaan Chinese fishing nets menunjukkan bahwa Kochi sudah menjadi pelabuhan internasional sejak sangat awal. Letaknya yang langsung menghadap Laut Arab membuat wilayah ini mudah diakses kapal-kapal dagang dari Asia Timur, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Sampai hari ini, jaring ini masih digunakan, meski lebih sering menjadi simbol sejarah dan budaya kota.

2. St. Francis Church – 1503

Gereja ini dibangun oleh Portugis, menjadikannya gereja Eropa tertua di India. Awalnya berfungsi sebagai gereja bagi pelaut dan pedagang Portugis yang menetap di Kochi setelah Vasco da Gama membuka jalur laut langsung dari Eropa ke India.

Lokasinya sangat dekat dengan pelabuhan, menegaskan fungsi Kochi sebagai basis maritim Portugis. Gereja ini juga pernah menjadi tempat pemakaman awal Vasco da Gama, sebelum jenazahnya dipindahkan ke Lisbon. Ini memperkuat posisi Kochi dalam sejarah eksplorasi global.

3. Santa Cruz Cathedral Basilica – 1505 (dibangun ulang abad ke-19)

Santa Cruz dibangun oleh Portugis tak lama setelah St. Francis Church. Gereja ini menjadi pusat keagamaan Katolik di Kochi dan mencerminkan kuatnya pengaruh Portugis dalam struktur kota.

Sebagai kota pelabuhan, Kochi tidak hanya menjadi pusat perdagangan rempah, tetapi juga pusat penyebaran agama dan administrasi kolonial. Santa Cruz berdiri sebagai simbol permanen dari fase ini.

4. Mattancherry Palace (Dutch Palace) – 1555

Istana ini awalnya dibangun oleh Portugis dan kemudian direnovasi oleh Belanda. Fungsinya adalah sebagai hadiah diplomatik untuk Raja Kochi.

Keberadaan istana ini menunjukkan bahwa Kochi bukan sekadar pelabuhan dagang, tetapi juga pusat politik lokal yang penting. Bangsa Eropa membutuhkan dukungan raja setempat untuk mengamankan jalur perdagangan laut, sehingga hubungan diplomatik menjadi kunci.

5. Jew Town dan Paradesi Synagogue – abad ke-16

Komunitas Yahudi menetap di Kochi karena kota ini aman, terbuka, dan strategis untuk perdagangan. Paradesi Synagogue dibangun pada 1568 dan menjadi salah satu sinagoga tertua di Asia.

Ini menegaskan karakter Kochi sebagai kota kosmopolitan. Pelabuhan yang aktif membuat berbagai komunitas internasional bisa hidup berdampingan, berdagang, dan menetap dalam jangka panjang.

Jadi,

Kochi berkembang bukan karena kebetulan, tetapi karena letaknya yang strategis di jalur perdagangan Laut Arab. Dari pedagang Tiongkok, pelaut Arab, Portugis, Belanda, hingga komunitas Yahudi, semuanya datang karena pelabuhan ini aman, mudah diakses, dan vital secara ekonomi. Tempat-tempat bersejarah yang kukunjungi bukan berdiri sendiri. Semuanya saling terhubung oleh satu faktor utama yaitu Kochi sebagai kota pelabuhan yang sejak berabad-abad lalu sudah terhubung dengan dunia.


Part Selanjutnya: DISINI

[PART 3] Menggapai Himalaya: Eksplore Kochi, Kota Pelabuhan Bersejarah di India Selatan !

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI



Kochi, 30 Juni 2016

Pagi-pagi sekitar jam 8 aku dan Fredo sudah keluar dari Hotel Srinivas untuk menuju Ernakulam Boat Jetty. Menurut Google Maps jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 1,5 kilometer, jadi kami jalan santai saja. Pagi itu suasana Kochi terlihat mendung, jalanan masih basah. Sepertinya semalam habis diguyur hujan deras.

Dalam perjalanan, langkah kami terhenti di sebuah kuil India Selatan. Dari luar, gerbang kuil ini sudah tampak megah dengan patung-patung dewa berwarna-warni yang berdiri di atas gapura. Begitu masuk halaman, kami langsung melihat suasana khas kuil Hindu—seekor demi seekor merpati beterbangan, sementara seorang pendeta bersarung putih memberi makan gerombolan burung yang bergerombol di tanah. Orang-orang berlalu lalang, ada yang baru datang untuk bersembahyang, ada juga yang sibuk dengan ritual pagi.

"Eh masuk yuk mas, penasaran aku," kataku ke Fredo.


Nah, setelah melewati gerbang, tanpa sadar kami sebenarnya memotret sebuah papan pengumuman yang ternyata berisi aturan resmi masuk kuil. Karena waktu itu kami jalan tanpa internet, ya kami foto saja semua hal menarik di sekitar. Baru setelah kulihat lagi lewat aplikasi translate, ternyata papan itu menjelaskan tata tertib yaitu pria wajib memakai mundu atau dhoti (sarung tradisional), wanita harus mengenakan saree, dan pakaian modern seperti celana panjang atau jaket tidak diperkenankan di area dalam. Ada juga larangan membawa alas kaki, kamera, dan tentu saja merokok.

Lucunya, dari kostum kami saat itu - aku dengan kemeja kotak-kotak, Fredo dengan kaos kasual ala backpacker - jelas banget sebenarnya kami nggak memenuhi syarat untuk masuk ke kuil. Tapi karena suasananya pagi, agak sepi, dan mungkin orang-orang juga maklum kami turis, akhirnya kami bisa masuk cukup jauh tanpa ada yang menegur. Kalau beneran dipelototin penjaga, mungkin kami sudah dilarang sejak gerbang, wkwk. Soalnya hampir semua peraturan kami langgar, kecuali tentu aja larangan merokok. Wkwkwk..

Kami pun masuk lebih dalam ke area kuil. Di tengah bangunan berjajar pilar-pilar, terdapat sebuah Deepa Aradhana besar—semacam lampu minyak ritual dari logam bertingkat. Bentuknya menyerupai menara dengan cawan-cawan melingkar di setiap tingkatnya. Di atas meja, puluhan lampu minyak kecil menyala, apinya berkelip-kelip dan menebarkan rasa hangat. Beberapa orang tampak kusyuk berdoa di hadapan api tersebut. Api dalam kepercayaan Hindu melambangkan pemurnian dan kehadiran ilahi.

Di sisi lain kuil, aku sempat melihat dinding dengan gambar dewa-dewi serta ruang luas dengan lampu-lampu gantung yang siap dinyalakan saat upacara. Ada juga patung dewa berdiri di sudut, berwarna cerah dan dipuja dengan persembahan. Suasananya hening sekaligus khidmat, meski sesekali terdengar denting bel besar yang digantung di salah satu tiang.

Sepertinya tempat didepan Fredo inilah bagian kuil utamanya, yang terletak di bagian tengah

Tidak ingin terlalu lama mengganggu suasana ibadah, aku dan Fredo hanya berjalan mengitari kuil sambil mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Setelah puas menikmati atmosfer spiritual di sana, aku pun menoleh ke Fredo, “Yok, lanjut ke arah pantai,” kataku. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Boat Jetty, meninggalkan jejak kecil pagi itu di sebuah kuil penuh warna di Kochi.

Acara kami pagi ini adalah mengikuti lokal tour yang bernama "Metro Backwater Tour" jam 9 pagi. Dengan morfologi area Ernakulam dan sekitarnya yang berbentuk pulau-pulau, maka untuk menuju Pulau Kochi kita memang harus naik kapal. Sewaktu booking tour, terdapat keterangan bahwa kami diminta ke Ernakulam Boat Jetty dan menemui Mr. Ajay.

Tidak lama berjalan, kami sampai di kawasan Marine Drive. Marine Drive ini merupakan bangunan yang dibangun memanjang di sepanjang perairan antara Daratan Ernakulam dan Pulau Willingdon (pulau buatan). Sewaktu sedang jalan santai, tiba-tiba kami melihat plang bertuliskan Ernakulam Boat Jetty. tidak seperti perkiraanku yang tempatnya bakalan ramai dengan banyak boat, ternyata tempatnya sepi dan hanya ada beberapa boat yang bersandar. Kami segera bertanya kepada penjaga yang kebetulan ada di pos dermaga. Untunglah dia mengenal Mr. Ajay dan kami disuruh menunggu sampai jam 09.30 untuk memulai trip.


Sambil menunggu jam 10 kami sempatkan jalan-jalan di sepanjang Marine Drive Kochi. Pagi itu udara terasa lembab, dan cuaca mendung menciptakan nuansa sedikit suram tapi cukup nyaman untuk berjalan santai. Sepanjang jalan, kami melewati beberapa toko kecil yang masih baru membuka pintu, menjual barang-barang kerajinan tangan dan cendera mata khas Kerala. Di sisi lain, banyak bapak-bapak lokal duduk di kursi panjang menghadap laut, ada yang sekadar bengong, ada yang sambil dengar musik pakai earphone, ada juga yang ngobrol pelan sambil melipat tangan di dada. Suasananya tenang banget. Melihat itu mulut usiku nggak tahan komentar,

"Kok bapak-bapaknya santai banget ya, apa pada nggak kerja wkwk…”



Di tepian, ada beberapa perahu nelayan kecil yang terombang-ambing pelan oleh ombak, dan air laut terlihat agak keruh, senada dengan langit yang mendung di atasnya. Beberapa pria India duduk di bangku-bangku taman, bercakap-cakap dengan santai, sebagian merokok, sebagian lagi hanya menatap jauh ke laut, mungkin sedang memikirkan sesuatu. Beberapa dari mereka menatap kami sesaat dengan senyuman ramah, membuat kami merasa disambut di tempat ini.

Aku dan Fredo terus berjalan, menyusuri tepian yang dihiasi pepohonan rindang, hingga menemukan sebuah restoran kecil yang sudah buka dan menjual nasi briyani. Menghirup bau nasi briyani yang hangat tiba-tiba aku merasa sedikit lapar lagi wkwk..Sebenarnya tadi pagi kita sudah mendapatkan sarapan di hotel. Berupa setangkup roti dan kari. Namun aku merasa itu belum cukup mengenyangkan.

"Aku mau makan lagi ya, kita masuk dulu" kataku ke Fredo.

Aku memesan sepiring nasi briyani, segelas teh chai, dan segelas jus nanas. Dan sewaktu pesanan datang... busettt porsinya besar banget 😁😁. Aku jadi merasa serakah sudah memesan kebanyakan seperti ini. Suapan persama nasi briyani, langsung terasa rempah India yang lezat. Sambil sarapan, aku menikmati pemandangan perairan Kochi yang tenang. Rasanya perutku benar-benar full... Dan sewaktu membayar OMG semua makanan yang ane pesen itu nggak sampai 30ribu rupiah...benar-benar worth it dan murah.


Selesai makan kami lamgsung standby di Ernakulam Boat Jetty untuk menunggu trip dimulai. Sekitar pukul 10.00 setelah teman serombongan trip kami sudah datang semua - sekelompok keluarga India dan sepasang keluarga kecil - akhirnya kami dipersilahkan juga naik boat dan siap untuk memulai aktivitas berkeliling kanal menggunakan boat (backwater boating). Yah well, sebenarnya pemandangan awalnya biasa aja sih. Airnya coklat dan sampah kecil-kecil mengapung. Tapi sejarah tempat inilah yang membuatnya menarik. 

Sedikit cerita sejarah, Kochi, yang juga dikenal sebagai Cochin, adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di negara bagian Kerala, India Selatan. Terletak di pesisir Laut Arab, kota ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, yang membuatnya dijuluki sebagai "Queen of the Arabian Sea." Sejak abad ke-14, Kochi telah menjadi titik pertemuan budaya, mulai dari Tiongkok,  Portugis, Belanda, hingga Inggris, karena lokasinya yang ideal untuk perdagangan rempah-rempah. 

Kedatangan bangsa Tiongkok ke wilayah ini terjadi sekitar abad ke-14, terutama melalui ekspedisi maritim yang dipimpin oleh Laksamana Zheng He selama Dinasti Yuan dan awal Dinasti Ming. Pada masa itu, Kochi sudah menjadi pelabuhan penting dalam perdagangan internasional, khususnya rempah-rempah seperti lada hitam, yang menarik perhatian pedagang dari Tiongkok. Mereka memperkenalkan Chinese Fishing Nets dan menjalin hubungan dagang yang erat dengan kerajaan lokal di Kochi. Bangsa Tiongkok lebih berfokus pada perdagangan dan hubungan damai dengan wilayah setempat tanpa membawa ambisi kolonial.

Portugis pada 1498 melalui Vasco da Gama tiba di Calicut (Kerala) dalam pencarian rute laut menuju India. Kochi segera menjadi perhatian karena lokasinya yang strategis dan ketersediaan rempah-rempah. Pada 1503 Portugis mendirikan benteng pertama mereka, Fort Emmanuel, di Kochi, menjadikannya koloni Eropa pertama di India. Kochi berkembang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, khususnya lada hitam, di bawah kendali Portugis. Mereka juga membawa pengaruh Kristen ke wilayah tersebut, mendirikan gereja seperti Santa Cruz Basilica dan St. Francis Church (di mana Vasco da Gama awalnya dimakamkan).

Pada 1663, Portugis kehilangan kendali atas Kochi ketika Belanda menyerang dan mengambil alih wilayah tersebut. Belanda memperkuat kota dengan membangun kembali benteng dan memperluas sistem kanal untuk meningkatkan transportasi. Mereka juga memugar gereja-gereja Portugis, mengubah beberapa menjadi tempat ibadah Protestan, seperti St. Francis Church. Fokus utama Belanda adalah mempertahankan perdagangan rempah-rempah, tetapi mereka tidak terlibat terlalu banyak dalam kehidupan sosial atau budaya masyarakat lokal.

Pada 1795 Inggris merebut Kochi dari Belanda selama Perang Revolusi Prancis, setelah itu Kochi menjadi bagian dari British Raj. Di bawah Inggris, Kochi tetap menjadi pelabuhan penting, tetapi mereka juga mulai membangun infrastruktur modern seperti jalan, kereta api, dan pelabuhan baru. Kochi menjadi kota yang lebih terhubung dengan dunia luar, memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan global. Inggris juga mengizinkan raja-raja lokal dari Kerajaan Kochi untuk tetap berkuasa sebagai penguasa nominal, meskipun kendali sebenarnya ada di tangan pemerintah kolonial.

Begitulah sejarah singkat tentang kedatangan dan peran Bangsa Eropa di Kochi. Jadi bisa terlihat jelas perbedaan antara kedatangan Bangsa Tiongkok dan Bangsa Eropa. Bangsa Tiongkok lebih berfokus pada perdagangan dan hubungan damai dengan wilayah setempat, sementara bangsa Eropa, seperti Portugis, Belanda, dan Inggris, memiliki ambisi kolonial. Pengaruh Tiongkok bersifat teknis dan praktis, seperti pengenalan teknologi Cheena Vala (jaring ikan Cina), yang masih digunakan hingga kini. Sementara itu, pengaruh Eropa mencakup perubahan besar dalam sistem politik, ekonomi, dan budaya Kochi.

***

Eksplore Pulau Kochi
Kapal yang membawa kami tour berjalan melewati pesisir utara lepas Pulau Willingdon. Tujuannya adalah Pelabuhan Pulau Kochi bagian timur, dimana kita akan diberikan waktu bebas selama beberapa jam untuk eksplore pulau secara mandiri. Di perjalanan ini sebenarnya ada sebuah keluarga India yang juga ikut dalam tour yang sama. Dari awal aku merasa mereka beberapa kali memperhatikan kami, seperti ingin mengajak ngobrol tapi masih malu-malu. Sesekali tatapan kami bertemu, lalu mereka cepat-cepat tersenyum tipis dan berpaling lagi.


Tidak terasa, kami sampai di Pulau Kochi bagian timur. Kami diberi pesan nahkoda kapal bahwa nanti untuk kepulangan bertemu lagi di titik ini jam 1 siang. Kami mulai masuk ke area yang dikenal dengan nama Jew Town—sebuah kawasan tua bersejarah di kota Kochi (Cochin), Kerala. Kawasan ini dulunya dihuni komunitas Yahudi yang datang dari Timur Tengah dan Eropa sejak abad ke-15. Sampai sekarang, walaupun jumlah mereka sudah sangat sedikit, jejak mereka masih kuat terasa.

Di kiri-kanan jalan, berjajar toko-toko kecil yang jual berbagai macam barang: dari sandal, kain sari, baju linen, sampai gantungan kunci dan dupa. Suasananya teduh, banyak pohon rindang, dan jalanan sempit yang tenang—nggak kayak pasar India pada umumnya yang biasanya penuh klakson dan keramaian. Disini suasananya jauh lebih tenang.

Pulau Kochi

Aku sempat berhenti di sebuah papan ungu besar yang kasih peringatan buat turis—supaya hati-hati sama agen yang ngajak belanja ke toko-toko tertentu. Ternyata di sini banyak ‘toko palsu’ yang ngaku sebagai toko pemerintah, padahal bukan. Kaget juga, tapi menarik. Artinya tempat ini saking turistiknya sampai ada yang manfaatin celah buat ngibulin turis. Wkwk.

Peringatan SCAM

Setelah jalan beberapa blok, aku nyasar ke dalam satu bangunan antik yang ternyata adalah Lulu International Heritage & Museum. Tempat ini bukan cuma toko oleh-oleh biasa, tapi juga memamerkan benda-benda seni dan sejarah India Selatan, khususnya dari Kerala. Di dalamnya adem dan bersih, dengan lantai tegel merah dan display yang ditata rapi. 

Begitu melangkah masuk, mataku langsung dimanjakan oleh deretan rak kaca berisi patung-patung perunggu, ukiran kayu dewa-dewi, miniatur alat musik tradisional, sampai aneka patung Ganesha dan Buddha dengan berbagai pose. Rasanya kayak tiba-tiba nyasar ke ruang tengah kuil Hindu dan Buddha sekaligus. Aku dan Fredo jalan pelan-pelan, bolak-balik saling nyeletuk, “Eh mas, lihat ini!,” “Wah, ini kayak yang di film India!”

Yang paling menarik perhatian tentu aja... cawan besar dari perunggu yang super gede! Ini bukan cawan minum ya, haha. Cawan ini disebut “Uruli”, dan dulunya digunakan untuk memasak dalam skala besar pada upacara kerajaan atau kuil di Kerala. Sekarang biasanya diisi air dan bunga lotus buat dekorasi. Cawan ini juga tercatat di Limca Book of Records karena ukurannya yang luar biasa. Bayangin aja, buat masak kari bisa buat satu RT. 😂

Cawan besar dari perunggu atau sering disebut 'URULI'

Masih di dalam museum, aku lihat banyak patung-patung kecil dari perunggu dan tembaga—ada yang berbentuk Dewa Ganesha, Shiva Nataraja, Dewi Saraswati, dan figur-figur musisi yang memainkan alat tradisional. Semuanya detail banget, dan menurutku jadi salah satu cara paling keren buat ngenalin seni tradisi India ke pengunjung.


Lalu... kami sampai di tengah ruangan, dan di sanalah benda ini berdiri megah.

Sebuah lampu minyak bertingkat raksasa, yang tingginya bisa jadi selevel manusia dewasa! Warnanya hitam legam, terbuat dari logam berat, dan setiap tingkatnya punya lekukan seperti piring lebar yang ditumpuk-tumpuk. Di bagian atasnya ada patung kecil berbentuk burung (kemungkinan burung Garuda atau merpati). 

Aku sempat nanya ke petugasnya, “What is this used for?”

Dia menjawab, “It’s a vilakku, a traditional oil lamp. Used during temple rituals. It can be fully lit during festivals.”

Aku dan Fredo langsung mengangguk-angguk gaya ngerti. Padahal dalam hati, “Wah keren juga ya, ini kalau dinyalain semua pasti kayak pohon natal versi India.”

Jadi ternyata ini namanya kuthuvilakku, sejenis lampu minyak besar yang biasa dipakai di kuil-kuil Hindu di India Selatan. Biasanya tiap tingkat diisi minyak dan sumbu, lalu dinyalakan satu per satu. Simbolis banget—melambangkan terang yang mengusir kegelapan, pengetahuan yang mengusir kebodohan. Aku jadi mikir... kalau hidup lagi gelap, mungkin yang kita butuh cuma "dinyalakan" dari dalam. Hehehe..

Selesai dari museum, kami lanjut lagi jalan ke destinasi paling bersejarah hari itu yaitu Sinagoga Paradesi. Ini adalah sinagoga Yahudi tertua di India, didirikan tahun 1568 oleh komunitas Yahudi Sephardic dari Eropa. Letaknya ada di ujung Jew Town, dan bangunannya masih kokoh dengan dominasi warna putih-biru.

Sebelum masuk, aku sempat foto dulu di depan pintunya yang klasik. Di bagian dalam, suasananya sunyi, tenang banget. Lantainya disusun dari ubin biru-putih bergaya China, dan di tengahnya ada Bimah, semacam mimbar berpagar emas tempat pembacaan kitab Taurat. Di langit-langitnya menggantung puluhan lampu gantung kaca antik dari Belgia. Rasanya kayak masuk ruang sakral yang udah berdiri selama ratusan tahun.

Bimah. Semacam mimbar berpagar emas tempat pembacaan kitab Taurat

Di sinilah aku merasa... betapa India itu bukan cuma tentang kuil Hindu dan masjid megah. Tapi juga tentang komunitas kecil yang hidup berdampingan, seperti Yahudi di Kochi ini, yang berhasil membawa tradisinya sejauh ribuan kilometer dari tanah leluhur mereka.

Setelah puas muter-muter di sekitaran Jew Town, aku dan Fredo lanjut jalan kaki menyusuri jalanan kecil menuju Dutch Palace. Tapi, sebelum sampai ke gerbangnya, kami sempat berhenti di salah satu kios yang langsung menarik perhatian. Bukan karena ada diskon atau suvenir lucu, tapi karena... tumpukan bubuk warna-warni yang disusun kerucut tinggi dalam mangkok-mangkok logam. Warna-warnanya ngejreng banget. Merah, kuning kunyit, hijau terang, ungu, biru elektrik, sampai pink fanta. Aku spotan menfotonya.

Aku nyeletuk, “Eh mas, ini bubuk apaan ya?”

Dia jawab, “Kayaknya ini bubuk yang dipakai waktu Holi Festival itu deh.”

Aku manggut-manggut sok ngerti. Tapi jujur ya, aku baru lihat yang sebanyak dan sekeren ini. Selama ini tahunya dari foto-foto di Instagram orang India pas festival warna itu, tapi kali ini aku lihat sendiri bubuknya sebelum dilempar-lempar ke orang. Hehe.

Setelah aku browsing, bubuk gulal ini memang umum dijual di tempat-tempat turis, karena selain dipakai buat perayaan Holi, banyak juga yang beli buat oleh-oleh atau dekorasi. Di sampingnya juga dijual dupa dan minyak aroma terapi, jadi aromanya campur antara harum dan menyengat. 

Penasaran sih sebenernya pengen beli dan coba, tapi mikir juga, “Ini kalo nyimpen di tas, ntar tas gue isinya pelangi semua.” Wkwkwk... Akhirnya cuma kami abadikan lewat kamera. Jepret, dan lanjut jalan lagi.

Tidak terlalu lama, kami sampai juga di sebuah bangunan tua berwarna kuning pudar dengan papan petunjuk besar bertuliskan: Archaeological Museum – Mattancherry Palace. Aku langsung celingak-celinguk dan nyeletuk ke Fredo, "Eh, tempat apaan ini ya." Fredo cuma nyengir sambil balas, “Masuk aja dulu, ntar juga tahu.”

Kami pun menaiki tangga batu yang mengarah ke pintu masuk museum. Dari luar, bangunannya tampak sederhana, kayak rumah tua zaman kolonial, tapi begitu masuk... wow, ternyata tempat ini dulunya adalah istana! Namanya Mattancherry Palace, tapi lebih sering disebut Dutch Palace (meskipun justru yang membangunnya itu Portugis pada tahun 1555). Katanya, istana ini dulunya dikasih ke Raja Kochi sebagai "hadiah penenang" karena Portugis sempat ngerusak kuil di sekitar situ. Hadiah yang cukup niat sih, bentuknya istana.

Setelah diambil alih oleh Belanda, istana ini direnovasi besar-besaran dan akhirnya disebut Dutch Palace. Tapi meskipun dibangun oleh orang Eropa, unsur arsitekturnya kental banget unsur lokalnya. Ada atap genteng merah, lorong-lorong kayu, dan mural-mural khas India yang penuh warna

Salah satu hal paling menarik di dalamnya adalah mural-mural epik yang menggambarkan kisah dari Ramayana, serta berbagai dewa seperti Krishna, Durga, dan Shiva. Gaya lukisannya beda dari yang biasa aku lihat di Indonesia, penuh detail dan ceritanya kuat banget. Ada satu ruangan khusus tempat dilangsungkannya upacara penobatan raja. Aku dan Fredo sempat berdiri lama di situ sambil ngebayangin. “Bayangin mas, dulu di sini ada raja duduk kayak maharaja, rakyatnya ngantri bawa persembahan.” Fredo pun nyeletuk, “Iya, trus kita yang sekarang malah ngantri buat foto doang.” Kami tertawa bareng, tapi ya memang itulah realitas traveler zaman now. Sayang di bagian dalamnya tidak boleh difoto.

Museum ini juga memajang berbagai artefak kerajaan Kochi, kayak kursi takhta, tandu istana, senjata, lukisan raja-raja, dan bahkan kostum upacara lengkap dengan payung kebesaran dan payet emas. Aku sempat terpaku di satu pojok ruangan yang memajang berbagai patung logam dewa-dewi Hindu. Ada juga etalase khusus yang menampilkan ukiran kayu rumit dan instrumen musik kuno. 

Oh iya, di area museum ini juga ada kuil Hindu, namanya Pazhayannoor Bhagavathy Temple. Tapi karena hanya boleh dimasuki oleh umat Hindu, aku cuma bisa melihat dari luar. Menarik juga karena dalam satu kompleks bisa ada istana, museum, dan tempat ibadah yang masih aktif sampai sekarang.

Selesai mengelilingi Dutch Palace, aku sadar waktu sudah mendekati jam 1 siang, yaitu batas untuk keliling Kochi bagian timur. Kami diminta kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan, dan akan diturunkan di Kochi bagian barat. Di sana nantinya kami akan diturunkan, lalu diberi kesempatan lagi untuk eksplor secara mandiri. Aku dan Fredo pun mulai balik jalan kaki ke dermaga tempat boat menurunkan kami tadi pagi. Kami mengikuti jalan ke arah pelabuhan dengan sesekali masih mengambil foto untuk mengabadikan momen. Begitu sampai, ternyata rombongan lain ternyata juga sudah berkumpul.  Pas semua sudah duduk di boat, sembari menunggu nahkoda menjalankan kapal, sesuai perkiraanku, salah satu anggota keluarga India tersebut menanyai kami. 

"Are you from China, Japan, Korea, Taiwan?"

Aku dan Fredo saling lirik, lalu jawab, “Indonesia, of course.” Dari situ suasana langsung cair. Mereka ketawa, kami ketawa, lalu mulai ngobrol ngalor-ngidul. Mereka tanya, “Ngapain kalian ke sini? Mau ke mana aja setelah Kochi? Berapa lama di India?”

Kami pun cerita rencana perjalanan. Setelah dari Kochi mau lanjut ke Mumbai, Jaipur, Agra, Gorakhpur, lalu terus menyeberang ke Nepal. Mendengar itu, mereka kelihatan kagum, lalu berharap perjalanan kami lancar. Dengan ramah mereka juga berpesan supaya kami selalu hati-hati selama di India.

Kami akhirnya jadi cukup akrab. Mereka cerita kalau mereka juga lagi jalan-jalan ke Kochi, sekadar liburan keluarga. Aku merasa, bagian paling menyenangkan dari trip ini justru bukan cuma soal tempat-tempat bersejarah yang kami lihat, tapi momen-momen kecil kayak gini. Ketemu orang baru, ngobrol ringan, dan merasa disambut meski datang dari jauh. Obrolan ringan membuat perjalanan di kapal terasa cepat. Sampai akhirnya, kapal merapat di Pelabuhan Kochi bagian barat, titik akhir dari tour ini.

“Di sini kalian akan diturunkan ya, batas tournya sampai sini. Nanti untuk kembali ke tempat masing-masing kalian bisa naik transportasi umum atau taksi,” jelas nahkoda kapal.

Dari pelabuhan ini, kami bisa melanjutkan eksplorasi mandiri ke beberapa tempat ikonik di Kochi barat, seperti Chinese Fishing Nets yang jadi ikon kota, Santa Cruz Basilica dengan arsitektur Eropa yang megah, serta St. Francis Church yang dikenal sebagai salah satu gereja Eropa tertua di India. Tak jauh dari sana juga ada jalanan sempit penuh toko antik dan kafe kecil, yang sering disebut bagian dari kawasan wisata Fort Kochi.

Kami sempat basa-basi sebentar dengan keluarga India itu sebelum akhirnya berpisah jalan, karena masing-masing ingin mengeksplor sisi Kochi barat dengan cara sendiri. 

"Sampai jumpa ya, kalian berdua hati-hati," pesan mereka.

"Yes sir, kalian juga ya," aku dan Fredo menjawab serempak.

Sungguh keluarga yang baik hati.



Part Selanjutnya : DISINI

[PART 2] Menggapai Himalaya : Hari Keberangkatan, Membuang 77 Ringgit ke KL Sentral !

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI

Bandara Internasional Adi Sucipto, 
29 Juni 2016

Menaiki kereta lokal Prameks dari Solo, aku sampai Bandara Internasional Adi Sucipto (Yogyakarta) sekitar jam 8 pagi. Pagi itu, akhirnya bisa melihat suasana bandara lagi setelah sekian lama, rasanya hatiku begitu bersemangat. Melihat orang-orang yang sibuk dengan koper dan tiket mereka, mendengar panggilan keberangkatan dengan tujuan berbagai kota dan negara di speaker, entahlah....ada rasa antusias yang sulit dijelaskan. Bagiku, bandara seperti tempat di mana segala mimpiku terasa begitu dekat. Mimpi yang menjadi realita dan membuat cerita baru dalam hidupku yang bisa kutuangkan dalam blog ini.

Bandara Internasional Adi Sucipto, Yogyakarta

Aku sampai bandara kepagian karena penerbangan Jogja ke KL masih jam 12 siang. Aku menunggu Fredo dan jam check in buka di kursi sudut bandara sembari mengecek itinerary dan memastikan informasi beberapa hal. Di perjalanan kali ini memang aku yang menyusun semua itinerary-nya, menentukan kota-kota yang dikunjungi, dan rute keseluruhannya. Well, seperti udah kujelaskan sebelumnya, sebenarnya sewaktu pertama kali ngajak Fredo, aku cuma ngajak eksplor Nepal. India tidak karena aku udah pernah mengunjunginya di tahun 2012. 

"India sekalian lah Luh.. Aku belum pernah," katanya.

Aku berpikir sejenak. Well, sepertinya tidak masalah. Tahun 2012 aku memang sudah ke India tapi rutenya dari Jaisalmer (barat) ke timur (Kolkata). Bagaimana kalau kali ini mulai dari India Selatan ke Utara? Siap menggila lagi di India wkwkwk... Entahlah, aku malah jadi semangat!


Rute 'menggapai Himalaya' dari selatan ke utara anak Benua India. Garis kuning adalah rute perjalananku backpacking di India tahun 2012 dari Jaisalmer di Barat sampai Kolkata di Timur (Perjalanan tersebut sudah selesai kutulis dengan judul "Tinta Hindustan")

"Oke, tapi kita mulai dari Kochi (India Selatan) ya. Nanti dari selatan kita jalan ke utara lewat Mumbai, Jaipur, Agra sebelum ke Nepal," jawabku.

"Siaap, aku ngikut ajaa."

Jadilah Kochi aku pilih sebagai tempat memulai petualangan. Well, sebenarnya karena dia posisinya di India Selatan (aku belum pernah eksplor India Selatan yang katanya punya budaya dan bahasa yang berbeda dengan India Utara), dan tiket pesawat dari Kuala Lumpur ke Kochi murah, cuma 700ribuan hehehehe...

Beberapa saat kemudian, aku udah bertemu Fredo. Proses check-in berjalan dengan lancar. Kami boarding penerbangan ke KL sekitar jam 12 siang dan sampai jam 15.30.

Boarding ke Kuala Lumpur..


Bandara Internasional Kuala Lumpur, 
15.30 pm

Cekrik....cekrik....", aku sibuk menfoto suasana Bandara KLIA2 Malaysia sesaat setelah mendarat dari Yogyakarta, tepatnya sebelum masuk imigrasi. Perasaanku begitu senang dan bahagia.

Foto resmi di bandara KLIA, foto disini sudah tidak dilarang

Akhirnya aku backpackeran ke luar negeri lagi!

Rasanya seperti mimpi, setelah perjuanganku mengatasi ketakutan naik pesawat A*r A**a karena peristiwa mengerikan di akhir 2014, perjuanganku mengumpulkan lembar demi lembar rupiah, perjuanganku menunggu setahun lebih demi perjalanan ini.

Semua sudut menarik aku foto, tidak terkecuali. Bandara KLIA2 Malaysia begitu besar dan bersih. Begitu penuh petualang-petualang berduit cekak seperti kami. Rasanya begitu menyenangkan melihat ini semua. Kami terus melangkahkan kaki menuju konter imigrasi untuk mendapatkan cap masuk Malaysia.

"PLEASE DELETE YOUR PHOTOS," kata seorang perempuan berseragam bertubuh besar. Nadanya tegas dan tajam. Seakan aku melakukan pelanggaran hebat yang tidak kuduga sebelumnya.

"Sorry, what?" tanyaku.

"Photos in your handphone," katanya sembari menunjuk HPku.

Lidahku kelu. Ada apa ini? Aku baru tahu kalau foto disini dilarang. Ingin rasanya bertanya, 'Why?'

Aku menunjukkan galeri fotoku dan dia menyuruhku menghapus semua foto yang sudah kuambil di sekitar bandara KLIA sebelumnya. Aku menurut, semua foto segera kuhapus. Sebelum pergi dia sempat melihat HPku lagi. Setelah puas dia beranjak pergi tanpa mengucapkan apapun.

Aku cukup tertegun dengan suara tajamnya. Ternyata memang dilarang mengambil foto di sekitar area imigrasi, well, mungkin karena alasan keamanan. Aku sendiri baru tau aturan itu disini wkwkwk ndesonyaa. Setelah itu aku baru tersadar, ternyata di bagian atas loket imigrasi, banyak banget terpasang larangan dilarang menfoto wkwkwk....

Fredo cuma ketawa-ketawa liat aku dibentak petugas wkwk..

Aku hanya menanggapinya dengan kepala dingin dan melanjutkan perjalanan. Well, itu bukan hal serius yang patut kuratapi.

Selanjutnya kami menuju konter Air Asia untuk check-in penerbangan KL - Kochi. Kami menunjukkan Evisa India dan mendapatkan boarding pass tanpa halangan. Well, next?


Kebodohan selanjutnya...Membuang 77 Ringgit ke KL Sentral..
17.10

Merasa aman karena sudah pegang boarding pass ke Kochi, kami melakukan kebodohan fatal yang hampir saja membuat semua rencana berantakan. Saat jam sudah menunjukkan pukul 17.10, dengan boarding penerbangan ke Kochi jam 20.00, kami malah sempet-sempetnya mau ke KL Sentral dulu! Bayangkan! Kebodohan macam apa ini?? Kalau traveler normal lainnya, mestinya sudah masuk ke gate dan duduk leyeh-leyeh. Tapi kami malah mengambil pilihan super bodoh ini, pergi ke KL Sentral yang berjarak 55 km dari bandara, naik bus pula! Padahal itu jam pulang kantor yang macetnya minta ampun.

***

Kemacetan sepanjang jalan Bandara KLIA2 - KL Sentral 

Seperti sudah kuduga. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.15 WM (waktu Malaysia), tapi bus yang kami tumpangi masih bergerak merayap. Kemacetan tak terhindarkan. Mobil berjajar panjang, seakan tak ada celah untuk menyalip mereka. Antrian mengular sampai ratusan meter ke depan.

'Gawat, kami harus boarding penerbangan ke Kochi jam 20.00! Bagaimana mungkin kami bisa terjebak dengan situasi semacam ini, benar-benar kebodohan diawal perjalanan,' gerutuku dalam hati.

'Bagaimana pula aku masih berpikiran mengunjungi Batu Caves segala? Di saat pesawat kami dari Yogyakarta ke Kuala Lumpur sudah delay, kami masih berleha-leha di bandara KLIA2 sampai setengah lima, sekarang masih mau ke KL Sentral entah apa tujuannya. Tidak mungkin mengunjungi Batu Caves, keluar KL Sentral pun tidak mungkin. Waktu terlalu mepet. Kami sama sekali tidak memperhitungkan faktor kemacetan.'

Bus kembali bergerak merayap, belum ada tanda-tanda kemacetan ini akan berakhir. Waktu semakin berputar. Kami - aku dan Fredo - mengusir kegusaran dengan bercerita, saling berbagi pengalaman setelah sekian lama tidak berjumpa. Menggunakan Bahasa Jawa dengan volume suara yang cukup keras, aku rasa hanya kamilah satu-satunya penumpang di dalam bus yang berbicara terus sepanjang jalan. Hahaha

'Well, daripada menyesali pilihan yang sudah kita lakukan, lebih baik kita ambil sisi positifnya dan terus memikirkan solusinya wkwk.'

Perlahan tapi pasti, kemacetan mulai mereda. Bus mulai berjalan dengan lancar, walau supir - seorang lelaki keturunan India berperawakan tegap - tetap menggunakan kecepatan sedang. Papan petunjuk arah ke KL Sentral mulai terlihat.

'Semoga sudah dekat,' ujarku dalam hati, sembari mengotak-atik google offline yang daritadi tidak berfungsi. 'Masak baru mulai perjalanan udah ketinggalan pesawat. Gak lucu banget.'

Bus kami meluncur melewati kawasan perkotaan yang cukup padat. Tiba-tiba, bus menepi. Ah, ternyata kami sudah sampai KL Sentral! Waktu sudah menunjukkan pukul 18.45. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain berjalan tergesa-gesa, mencari makan, dan segera kembali ke KLIA2 secepatnya.

KL Sentral. Disini kami sudah tidak fokus dan terburu-buru membungkus makanan dan segera kembali ke KLIA2 naik kereta ekspress.

Selesai membungkus makanan seharga 11 ringgit - sebuah nasi kari ayam - kami segera berjalan cepat ke konter kereta ekspres KL Sentral - KLIA2. Tidak ada pilihan lain, kami tidak mau mengambil resiko naik bus kembali. Lebih baik kehilangan sedikit uang ringgit daripada harus kehilangan tiket pesawat ke India malam ini.

"110 ringgit untuk 2 tiket," kata wanita di loket penjualan kereta ekspress.

Perkataan yang membuat kami menelan ludah. Apa?? 110 ringgit hanya untuk tiket kereta? Benar-benar pemborosan dan kebodohan di awal perjalanan. Bagaimana kami bisa memutuskan hal seperti ini? Bagaimanapun aku paling benci pemborosan uang untuk hal tidak berguna di awal perjalanan. Tapi sudahlah, ini sudah terjadi. Aku hanya bisa berpasrah mengambil sisi positifnya.

11 Ringgit (tiket bus KLIA2 - KL Sentral), 11 ringgit (makan), 55 ringgit (tiket kereta ekspress). 77 ringgit hanya untuk makan. Jika uang sebesar itu digunakan untuk makan di Bandara KLIA2, tentulah sudah mendapatkan menu lezat.

OMG.... 

Perjalanan dengan kereta ekspress dari KL Sentral kembali ke KLIA2 hanya membutuhkan 30 menit. Perjuangan belum berhenti disitu. Aku cuma bisa mohon-mohon dalam hati, 

'SEMOGA LOKER EXIT IMIGRASI DAN PEMERIKSAAN BARANG TIDAK ANTRE MENGULAR!!'

Syukurlah.... syukurlah... syukurlah.. Doaku terkabul. Loket exit imigrasi sore itu tidak terlalu ramai. Dengan cekatan kami membawa backpack melaluinya. Proses pemeriksaan barang berjalan dengan lancar dan akhirnyaa.... kami sudah duduk manis menunggu penerbangan ke Kochi. Harusnya dari landing dari Jogja tadi udah begini ya.. auk ah... bodohnya.. membuang 77 ringgit ke KL Sentral!


Penerbangan Air Asia KL - Kochi
3100 km, 4 jam penerbangan

Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Kochi akan ditempuh selama 4 jam. Aku dan Fredo masuk pesawat dengan perlahan setelah peristiwa mendebarkan tadi, termasuk membawa nasi kari ayam yang kami bungkus dari KL Sentral tadi. 

"Eh ini beneran gpp ini bawa makanan? Ga enak aku sama pramugarinya. Soalnya mereka juga jualan makanan," kataku ke Fredo.

"Gpp.. udah santai aja makan aja."

Pesawat belum take off, tapi karena sudah kelaparan akibat andrenalin mengucur deras takut ketinggalan pesawat tadi, aku langsung menghabiskan nasi kari itu dengan cepat. Tidak menunggu lama proses boarding selesai dan proses take off berjalan dengan lancar. Di pesawat, aku mencoba memejamkan mata. Harapannya, tidur bisa membantu waktu terasa lebih cepat berlalu. Tapi, seperti biasa, bagiku tidur di pesawat/mode transportasi lainnya bukan hal yang mudah. Suara dengung mesin, lampu kabin yang tidak terlalu redup, dan posisi duduk yang kurang nyaman (terlalu tegak dan sempit jaraknya dengan kursi depan) membuat tidurku hanya setengah berhasil. Beberapa kali aku melirik ke arah Fredo yang terlihat lebih santai. Sesekali kami mengobrol ringan untuk menghabiskan waktu.

Menjelang akhir penerbangan, perasaan lelah bercampur antusias mulai muncul. Pukul 23.30 waktu India (1,5 jam lebih lambat dari KL), pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Kochi. Walau hari sudah larut, bandara terlihat masih ramai dengan hiruk-pikuk penumpang dari beberapa pesawat yang baru saja landing. Dengan rasa lega, kami mengambil barang bawaan dan melangkah menuju imigrasi.

Mengamati situasi sejenak, aku menemukan tanda ini, E-Tourist Visa. Karena setauku aku dan Fredo memegang visa ini untuk masuk India, kami mengikuti tanda tersebut ke loket imigrasi khusus pemegang ETV. Di dalam loket tersebut sudah ada petugas yang dengan sigap langsung meminta paspor, ETV dan bukti penginapan malam pertama kami di India. Petugas itu melakukan verifikasi data lewat komputernya selama 20 menit, setelah itu meminta cap kesepuluh jari dan foto wajah sebelum memberikan cap masuk selama 30 hari di India

Konter ETV di Bandara Internasional Kochi

Selesai urusan imigrasi, kami segera melangkah keluar bandara. Di pintu keluar aku tiba-tiba melihat antrian pria dan wanita yang mengular ke belakang. Mereka terlihat antre dibatasi oleh tali gesper, dimana yang ane salut, itu sudah jam 12 malam lo dan mereka tetap antri dengan tertib dan sabar! Dugaanku mereka pasti menunggu anggota keluarganya yang landing dari luar negeri setelah bekerja merantau sekian lama.

 Menunggu keluarga di pintu keluar Bandara Internasional Kochi 

Mungkin, momen menunggu kedatangan keluarga tercinta ini menjadi salah satu momen yang paling krusial bagi mereka. Kuperhatikan, antrian mengular sampai 10 meter ke belakang, melebar ke kanan dan kiri. Setiap ada orang keluar dari dalam bandara, dengan penuh rasa ingin tahu mereka akan langsung melongok lewat atas, samping kanan, samping kiri, berharap itu adalah keluarga tercinta yang sudah mereka tunggu-tunggu. Kami hanya terkagum dan tersenyum dengan pemandangan ini.

Kami melangkah keluar bandara, disambut udara malam Kochi yang hangat. Untuk alasan keamanan, kami memutuskan naik prepaid taxi bandara untuk ke hotel kami malam itu, Hotel Srinivas. Tarifnya cukup mahal, lebih dari 1000 rupee, tapi itu adalah pilihan satu-satunya kami malam itu karena sudah hampir jam 1 pagi.

Ternyata kami harus mengantri untuk mendapatkan taksi kami. Supir kami seorang pria India paruh baya yang cukup ramah. Di sepanjang perjalanan, taksi melaju melewati jalanan yang masih dipenuhi motor, mobil, auto rickshaw (seperti bajai/tuk-tuk), cycle rickshaw (yang dikayuh pakai sepeda). Klakson menjadi suara dominan, saling sahut menyahut antara satu kendaraan dengan kendaraan lain seakan-akan tidak ada yang mau kalah. Bahkan di suatu persimpangan, kendaraan-kendaraan itu terlihat saling memotong, tidak ada yang mau mengalah jadi membentuk kemacetan di perempatan wkwkwk.

"Welcome to India," kataku ke Fredo dengan meringis. 

"Buseeet," kata Fredo sambil terheran-heran dengan kondisi didepannya ini.

Sopir taksi kami cukup cekatan, memotong jalan di sela-sela kendaraan lain dengan gerakan yang sangat licin. Menjauh dari stasiun, jalanan yang tadinya ramai mulai lancar. Lampu-lampu jalan terlihat memantul di genangan kecil di tepi jalan, warung-warung pinggir jalan masih buka, melayani pelanggan yang mungkin juga baru tiba dari perjalanan panjang. Sepanjang perjalanan, aku merasa seperti di tengah-tengah adegan film. Ramai, riuh, tapi penuh kehidupan. Wkwkwk.. Ini merupakan perasaan yang khusus kurasakan kalau pas traveling ke India.

Setelah setengah jam berkendara, akhirnya kami tiba di Hotel Srinivas yang terletak di Kawasan Ernakulam, hotel yang sudah kubooking sebelumnya.

"Jadi, total semuanya 950 Rupee (Rp 200.000)," kata lelaki resepsionis Hotel Srinivas. Perawakannya tegap, berkacamata dengan kumis yang lebat.

"Tetapi di internet dikatakan totalnya 800 Rupee," protesku.

"Tidak, tidak. Itu belum termasuk pajak," kata lelaki itu lagi.

"Hmmmm....baiklah," kataku dengan pasrah. 

Kami memesan sebuah kamar ekonomi dengan dua kasur terpisah (twin bed). Menurutku kondisi kamar cukup bersih dan bagus. Fasilitas yang kami dapatkan meliputi dua kasur dengan sprei, bantal dan selimut bersih; kamar mandi dalam dengan kondisi air lancar, ada air panas, dapat dua buah sabun juga; air panas untuk minum; fasilitas check in 24 jam; televisi.

Hotel Srinivas, Ernakulam, Kochi

WI-FI? Tidak ada. Sarapan? Tidak dapat. Mengecewakan sih dengan ketidakhadiran Wi-Fi, tetapi kekurangan itu ditutupi dengan fasilitas check in yang 24 jam, jadi jika check in jam 12 malam, maka bisa check out keesokan harinya jam 12 malam juga. Cukup adil kan?

Kenapa memilih Hotel Srinivas? Well, sebenarnya aku memilih hotel ini karena lokasinya yang berada di Ernakulam. Coba lihatlah peta wilayah Kochi di bawah ini, dengan bentuk wilayah yang berpulau-pulau (ada Ernakulam, Panangad, Kochi, Willingdon, Vypin), maka jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lain memang cukup jauh. Hotel Srinivas di Ernakulam kami pilih karena kami memang mempunyai rencana mengikuti paket tour mengunjungi Pulau Kochi dengan perahu esok pagi. Kebetulan titik keberangkatan perahunya ada di Ernakulam Boat Jetty yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari hotel ini (lokasinya di peta dekat dengan Panampilly Nagar). Jadi rencana besok kami akan berjalan kaki kesana.


Malam itu sudah tidak ada aktivitas yang kami lakukan selain sesegera mungkin beristirahat. Siap eksplor Kota Kochi esok hari!

Part Selanjutnya: DISINI