Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

8.23.2025

[PART 5] Menggapai Himalaya : Perjalanan Panjang ke Mumbai !

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI


Kochi, 30 Juni 2016

Sore itu, setelah seharian puas mengeksplor Kochi, kami akhirnya kembali ke Hotel Srinivas. Salah satu hal yang bikin aku senang dengan hotel ini adalah kebijakan 24 jam check in mereka. Maksudnya gimana? Jadi kalau kami masuk jam sepuluh malam, otomatis check out juga besok jam sepuluh malam.Wow banget kan! Aku baru jumpai disini. Padahal hampir semua hotel kan kebijakannya tamu harus keluar maksimal jam dua belas siang. Kebijakan yang sangat menguntungkan buat kami, karena setelah seharian eksplor, kami masih bisa santai, leyeh-leyeh, bersih-bersih, bahkan mandi sore sebelum cabut ke stasiun. Ya, malam ini kami akan naik kereta untuk bergeser ke kota selanjutnya, Mumbai.

Sekitar pukul setengah tujuh kami sudah naik taksi menuju Stasiun Ernakulam Town. Jalanan sore itu cukup ramai, tapi tidak sampai macet. Begitu tiba, suasana stasiun langsung menyambut dengan khasnya: hiruk pikuk penumpang, bau chai manis yang diseduh di gelas kertas, pedagang kecil yang menenteng kacang dan chapati, suara pengumuman yang menggema dengan aksen India yang kental. Lampu-lampu peron mulai menyala, menambah nuansa ramai tapi hangat. Aku sempat menoleh ke Fredo sambil berkata, “Untung kita berangkat agak awal, kalau mepet pasti ngos-ngosan.” Dia hanya tertawa, “Iya, mending nunggu lama daripada lari-larian kayak di film India.”

Kami menunggu Netravati Express nomor 19259 yang dijadwalkan berangkat pukul 20.10. Perjalanan panjang menanti, hampir 25 jam lamanya, menyeberangi India dari Kerala sampai Mumbai, jaraknya sekitar 1.250 kilometer. 

Begitu kereta tiba dan kami masuk ke gerbong, aku dan Fredo langsung naik ke sleeper atas. Aku di S6-43, Fredo di S6-46. Syukurlah tempat kami masih kosong, jadi bisa langsung selonjoran tanpa ribut dengan orang lain. “Lumayan kan, bisa kaya markas kecil,” kataku sambil rebahan. Fredo hanya mengangguk sambil sibuk mengatur tasnya.

Ketika kereta bergerak, suasana khas kereta India langsung terasa. Getaran mesin yang keras, kipas tua di langit-langit yang berdengung tanpa henti, dan lampu kabin yang tak pernah dimatikan. Rasanya jauh berbeda dengan kereta di Indonesia. Malam itu aku mencoba tidur, tapi selalu gagal. Setiap kali hampir terlelap, aku terbangun lagi. Kadang karena was-was menjaga barang, kadang karena hentakan rel, atau silau lampu. Tengah malam kondektur masuk, memeriksa tiket dan paspor satu per satu. Setelah itu suasana kembali hening, hanya tersisa suara roda besi beradu dengan rel.

***

Mumbai, 1 Juli 2016

Pagi harinya aku bangun dengan kepala agak berat. Pergi ke toilet kereta, bergoyang-goyang sedikit sambil sikat gigi dan cuci muka. Kami sarapan dengan bekal sederhana yang sudah disiapkan dari malam sebelumnya. Tidak lama, ada pedagang masuk menjajakan roti chapati hangat. Aku beli satu, karena aromanya terlalu menggoda untuk dilewatkan. Dari atas sleeper, aku memperhatikan keluarga-keluarga India di bawah. Mereka duduk berhadapan, membuka wadah baja penuh makanan, saling menyuapi anak, sambil ngobrol riuh. Rasanya seperti piknik berjalan, hanya saja lokasinya di dalam kereta yang melaju.

Siang sampai sore kami lebih banyak menghabiskan waktu di sleeper atas. Kadang rebahan, kadang ngobrol ringan, kadang melamun menatap kipas berputar. Penjual bergantian masuk menawarkan chai, samosa, atau kacang rebus. Aku sempat mencoba tidur siang, tapi tetap saja hanya tidur-tidur ayam. Waktu terasa berjalan sangat lambat.

Baru sekitar satu jam sebelum tiba di Mumbai kami turun dari “markas” atas itu. Tubuh pegal tapi lega karena perjalanan hampir usai. Di kursi bawah, kami akhirnya bercakap dengan keluarga India yang sejak awal duduk berhadapan. Seperti biasa, Fredo yang supel langsung mencairkan suasana. Mereka bertanya, “From which country are you?” Fredo dengan enteng menjawab, “Indonesia.” Obrolan pun mengalir tentang tujuan kami di India, rencana perjalanan, sampai kebiasaan hidup di negara masing-masing.

Ada satu sosok pria muda yang menonjol, namanya Kamlesh. Mungkin karena dia yang paling lancar berbahasa Inggris. Ia sangat ramah dan penuh semangat. Dari ceritanya, mereka sedang menuju Jaipur untuk menghadiri acara lamaran, karena Kamlesh sebentar lagi menikah. Dengan mata berbinar, ia bahkan sempat berkata sambil tertawa, “If you have time, you should come to my wedding!” Kalimat sederhana itu bikin kami merasa begitu diterima, meski baru kenal di gerbong kereta.

Tepat pukul 21.20, sesuai jadwal, kereta panjang itu akhirnya tiba di Mumbai Panvel. Setelah hampir 25 jam hidup di atas rel, rasanya seperti keluar dari dunia lain dan masuk ke hiruk pikuk kota metropolitan India.

Begitu kereta berhenti di Stasiun Panvel, suasana langsung terasa berbeda. Hiruk pikuk khas stasiun India menyambut kami. Peron penuh dengan penumpang yang baru turun maupun yang sedang menunggu keberangkatan berikutnya. Suara peluit petugas, bau chai manis bercampur dengan aroma gorengan, dan derap langkah orang-orang yang seakan tidak pernah berhenti membuat kepala agak pening setelah 25 jam duduk di kereta. Lampu stasiun terang benderang, tapi suasana tetap terasa sumpek dan melelahkan.

Kami segera keluar dari stasiun dan mencari jalan menuju metro Mumbai. Tujuan kami adalah kawasan dekat Gateway of India, tempat yang lebih strategis untuk mencari penginapan. Metro datang tepat waktu, tapi kondisinya cukup mengejutkan. Bagian dalam tampak kotor, cat dinding kusam, dan beberapa pintu bahkan tidak bisa menutup dengan benar. Meski begitu, kereta tetap melaju. Perjalanan singkat sekitar dua puluh menit terasa lebih lama karena tubuh sudah capek.

Begitu turun dari metro, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalanan malam Mumbai. Lampu toko-toko dan suara klakson mobil menemani langkah kami mencari penginapan. Untungnya, tidak lama kami menemukan sebuah penginapan kecil yang cukup bersih dan nyaman. Harganya seribu rupee per malam, kira-kira dua ratus ribu rupiah. Tanpa pikir panjang kami langsung okein dan check in.

Begitu masuk kamar, aku langsung rebahan di kasur. Rasanya seperti hadiah besar setelah semalaman tidur tidak maksimal di sleeper kereta. “Ahhh… nyaman banget,” pikirku dalam hati, tubuhku akhirnya bisa benar-benar istirahat. Setelah membersihkan diri sebentar, aku pun segera terlelap. Besok pagi masih ada agenda menjelajahi Mumbai, meski hanya beberapa jam tapi semoga bisa maksimal mengunjungi beberapa tempat. Jaiho!


Mumbai, 2 Juli 2016

Esoknya...

Esoknya kami bangun kesiangan, sekitar jam sepuluh pagi. Aku bersyukur semalam bisa tidur dengan nyenyak, jadi hari ini tenagaku terasa full. Meski waktunya hanya beberapa jam sebelum harus naik kereta lagi menuju Jaipur, setidaknya kami bisa memanfaatkan sisa waktu untuk menjelajah. Ya, trip ini memang agak dikebut karena keterbatasan hari, jadi setiap jam terasa begitu berharga.

Hotel tempat kami menginap memberikan sarapan gratis. Setelah mandi, Fredo langsung ke resepsionis dan meminta sarapan diantar ke kamar. Tidak lama datanglah seporsi roti sandwich sederhana dan segelas teh chai hangat. Sambil menyantap itu, aku sempat berujar, “Lumayanlah, gratis tapi tetap bikin perut terisi.”

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit ketika kami selesai sarapan. Dari jendela kamar, terlihat Mumbai sejak pagi diguyur hujan. Kami menunggu sejenak, berharap hujan reda, tetapi ternyata hanya mengecil menjadi gerimis. Sementara itu Fredo tampak masih ogah-ogahan untuk bangun dan bersiap. Padahal rencana awal, kami ingin menyeberang ke Elephanta Island, sebuah pulau di Laut Arab yang terkenal dengan gua-gua batu dan kuil Hindu kuno. Lokasinya berada sekitar sepuluh kilometer di lepas pantai Mumbai, bisa dicapai dengan kapal feri selama kurang lebih satu jam dari dermaga dekat Gateway of India.

“Mas, ayolah. Ini sudah hampir jam dua belas. Waktu kita di Mumbai cuma sebentar. At least kita harus lihat sesuatu,” kataku agak memaksa.

Fredo akhirnya bangkit, meskipun wajahnya masih malas-malasan. Kami akhirnya berjalan keluar dari hotel. Ternyata gerimis kecil terlihat masih mengguyur Kota Mumbai siang itu.

 “Eh, kita beli payung aja ya. Ntar sakit kalau jalan gerimis-gerimis gini.”

“Okesiap,” jawabku sambil tertawa kecil. Tau sebenarnya dia mungkin males jalan kondisi begini wkwk.

Kami mampir ke kedai pinggir jalan yang menjual payung. Kami masing-masing membeli satu. 

"Bisa jadi properti foto juga nanti," tambah Fredo.

"Iya juga sih," jawabku.

Kami melanjutkan berjalan kaki. Hmmm ternyata nyaman juga pake payung ini, hehehe.. tujuan utama kami hari ini adalah menuju India Gate. Well, sebenarnya rencana awalku, dari India Gate kita akan menyeberang naik kapal untuk menuju ke Elephanta Island untuk mengunjungi Elephanta Caves. Tapi dengan cuaca begini, aku sangat ragu ada kapal yang berangkat. Yah setidaknya liat Gate of India ajalah! Masa udah 20 jam perjalanan dari Kochi kita nggak liat apapun disini.

Perjalanan menuju Gateway of India kami tempuh dengan berjalan kaki, menyusuri jalanan Mumbai yang masih basah oleh gerimis. Payung yang tadi kami beli benar-benar terasa jadi penyelamat. Gerimisnya tidak deras, tapi cukup konstan. 

"Kita jangan sampai sakit, Luh. Perjalanan masih panjang," kata Fredo sewaktu meyakinkanku beli payung tadi.

'Hmm.. benar juga ya,' kataku dalam hati, 'bakal kacau semua rencana kalau sampai sakit gara-gara hujan ini.'

Kami mulai berjalan mengikuti rute google maps melewati pusat Kota Mumbai. Di sepanjang jalan, Mumbai menampilkan wajahnya apa adanya. Di salah satu sudut, dua ekor sapi berdiri santai di pinggir jalan, mengunyah rumput yang entah dari mana asalnya. Tidak ada yang mengusir, tidak ada yang menatap aneh. Di India, sapi memang biasa berkeliaran bebas, mencari makan di tengah kota. Bagi warga lokal, ini pemandangan normal. Bagi kami, tetap saja terasa unik meskipun sudah mulai terbiasa juga hehe. Di antara genangan air, sampah daun, dan sisa sayuran di aspal, sapi-sapi itu tampak seperti bagian alami dari lanskap kota.

Kami terus melewati kawasan Ballard Estate, salah satu area bersejarah peninggalan kolonial Inggris. Bangunan-bangunan besar berdiri kokoh dengan gaya Eropa klasik. Jendela tinggi, balkon besi, dan dinding yang warnanya sudah kusam dimakan usia. Salah satunya adalah gedung bertuliskan Gresham Life, bangunan perkantoran tua yang dulu menjadi bagian dari pusat bisnis Bombay di awal abad ke-20. Meski catnya mengelupas dan tanaman liar tumbuh di beberapa sudut, aura kolonialnya masih terasa kuat.

Di persimpangan jalan, lalu lintas bergerak perlahan. Motor, taksi hitam-kuning khas Mumbai, dan bus kota saling berbagi ruang di jalan basah. Para pengendara motor mengenakan jas hujan seadanya, sebagian hanya menutup kepala dengan helm dan membiarkan tubuhnya basah. Klakson tetap bersahutan, meski hujan turun pelan.

Tak jauh dari sana, kami melewati kawasan dekat India Government Mint, tempat pencetakan uang logam India sejak era kolonial. Bangunannya tertutup pagar hitam tinggi, tampak serius dan kaku, kontras dengan jalanan di depannya yang ramai dan agak semrawut. Rasanya menarik, di satu sisi tempat uang negara dicetak, di sisi lain kehidupan kota berjalan dengan segala ketidakteraturannya.

Semakin mendekati pusat kota lama, suasana terasa sedikit lebih tenang. Kami melewati bangunan putih bergaya neoklasik, Asiatic Society of Mumbai. Gedung ini adalah perpustakaan dan pusat kajian yang berdiri sejak awal 1800-an, menyimpan naskah-naskah kuno dan arsip penting sejarah India. Pilar-pilar putihnya berdiri anggun, meski langit kelabu dan hujan membuat warnanya tampak sedikit suram. Beberapa orang berjalan cepat di depannya, payung terbuka, seolah gedung megah itu sudah terlalu biasa untuk dihentikan sejenak.

Gerimis masih setia turun. Daun-daun pohon meneteskan air ke trotoar, menciptakan bunyi pelan yang bercampur dengan suara kota. Aku sempat berpikir, untung juga tadi kami memaksa diri untuk jalan. Meski capek, meski basah, namun ini satu-satunya kesempatan kami untuk menjelajah Kota Mumbai, karena malam ini kita harus melakukan perjalanan panjang kembali naik kereta selama 20 jam menuju Kota Jaipur di Provinsi Rajasthan.

Gerimis semakin deras ketika kami berhenti sejenak di depan Asiatic Society of Mumbai. Bangunan putih besar dengan pilar-pilar tinggi itu berdiri tenang, sementara tangga depannya terlihat basah dan licin. Aku tetap naik dan berdiri di tengah, membuka payung sambil menunggu Fredo siap ambil foto.

Tiba-tiba Fredo nyeletuk,
“Eh, lempar payungnya ke atas dong pas aku foto.”

Aku langsung menoleh, agak bingung.
“Hah? Ngapain dilempar?”

“Coba aja. Biar beda,” katanya santai.

Awalnya kupikir idenya aneh dan nggak jelas. Tapi ya sudahlah, lagi hujan, lagi capek, sekalian aja nurut. Aku lempar payung ke udara dan malah ketawa sendiri begitu melihat hasilnya. Ternyata lucu juga. Nggak kepikiran sebelumnya, tapi justru terasa pas buat momen siang itu.

Gedung ini sudah berdiri sejak awal 1800-an, menyimpan perpustakaan dan arsip tua India. Tapi saat itu aku nggak sedang memikirkan sejarah atau usia bangunan. Ia cuma jadi latar foto basah-basahan, tawa kecil, dan langkah kaki kami yang sebentar berhenti sebelum lanjut jalan lagi.

Kami lanjut berjalan. Di beberapa persimpangan, bangunan kolonial muncul satu per satu—tua, besar, dan tidak semuanya terawat. Ada yang catnya mengelupas, ada yang jendelanya tertutup rapat, ada juga yang masih dipakai aktif. Pemandangan seperti ini cukup wajar di Mumbai. Kota ini memang lama berada di bawah kekuasaan Inggris, sejak abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20. Bombay—nama lama Mumbai—pernah menjadi pelabuhan penting dan pusat administrasi kolonial, jadi wajar kalau arsitektur Eropa, khususnya gaya Inggris, masih tersebar di banyak sudut kota sampai sekarang.

Di salah satu sudut, kami melewati kompleks Bombay Natural History Society. Dari luar tampak sederhana, nyaris terlewat kalau tidak sengaja menengok papan namanya. Padahal lembaga ini sudah lama jadi pusat kajian alam dan satwa di India. Aku berhenti sebentar di depannya, payung terbuka, membaca tulisan di dinding batu yang basah oleh hujan. Rasanya agak kontras—di tengah kota yang ramai dan lembap, ada tempat yang sejak ratusan tahun lalu mencatat burung, hutan, dan kehidupan liar. Sayang sekali kami tidak punya waktu untuk mampir masuk. Jadwal kami terlalu sempit, dan perjalanan ke Jaipur sudah menunggu.

Tak jauh dari sana, bangunan batu gelap dengan kubah dan jendela melengkung berdiri kokoh. Ini bekas rumah sakit kolonial yang kini menjadi bagian dari fasilitas kota. Bentuknya berat dan kaku, terlihat makin muram di bawah langit abu-abu. Air hujan mengalir pelan di selokan, memantulkan siluet bangunan di aspal. Lagi-lagi, hanya bisa dilihat dari luar, lalu ditinggal.

Kami kemudian melewati Dhanraj Mahal, bangunan bergaya Art Deco yang sekarang dipenuhi kantor dan kafe. Di area ini suasana mulai terasa berbeda. Ada orang keluar-masuk, tanaman rambat di dinding, dan pintu-pintu yang terbuka. Rasanya seperti potongan Mumbai yang lebih “hidup”, meski tetap dibalut hujan. Andai waktu kami lebih longgar, mungkin menyenangkan untuk duduk sebentar di salah satu kafe. Tapi hari itu, semua hanya lewat pandang.

Mendekati kawasan Colaba, suasana berubah lagi. Jalanan makin ramai pejalan kaki, payung-payung gelap bergerak pelan. Kami diarahkan melewati jalur berpagar kuning menuju area pemeriksaan dekat Colaba Police Station. Air menggenang di jalan setapak, sepatu kami sudah pasti basah. Masuk ke area sekitar Gateway of India memang harus melewati pemeriksaan polisi. Pengamanan di sini cukup ketat, dan itu ada alasannya.

Kami akhirnya masuk ke kawasan Gateway of India. Di pintu masuk, kami sempat bertanya ke petugas soal kapal ke Elephanta Island. Jawabannya sudah bisa ditebak. Ombak sedang tinggi, feri tidak beroperasi hari itu. Petugas hanya mengangkat bahu sambil bilang singkat, “Not today.” Ya sudah. Nggak ada drama. It’s okay, no problem. Kadang perjalanan memang berhenti sampai di sini saja.

Masuk ke area Gateway of India harus melewati pemeriksaan polisi. Tas dibuka, orang-orang diarahkan lewat jalur tertentu. Awalnya terasa sedikit kaku, tapi masuk akal. Kawasan ini memang dijaga ketat sejak serangan teroris di Mumbai tahun 2008, yang salah satu titiknya berada tak jauh dari sini, di hotel ikonik yang menghadap langsung ke Gateway. Sejak saat itu, area ini jadi ruang publik yang selalu diawasi. Bukan untuk menakuti, tapi untuk memastikan semua orang bisa datang dan pergi dengan aman.

Gateway of India sendiri bukan sekadar gerbang batu besar di tepi laut. Monumen ini dibangun pada masa kolonial Inggris, awal abad ke-20. Tujuan awalnya sederhana tapi sarat simbol: menyambut kunjungan Raja George V dan Ratu Mary ke India pada tahun 1911. Ironisnya, konstruksinya baru selesai tahun 1924, jauh setelah kunjungan itu berlalu. Arsitekturnya memadukan gaya Indo-Saracenic—campuran unsur India, Islam, dan Eropa—terlihat dari lengkungan besar, kisi-kisi batu, dan kubah-kubah kecil di bagian atasnya.

Lebih ironis lagi, tempat yang awalnya dibangun untuk menyambut kekuasaan kolonial justru menjadi saksi momen sebaliknya. Pada tahun 1948, pasukan Inggris terakhir meninggalkan India melalui gerbang ini. Dari simbol kedatangan penjajah, Gateway of India berubah menjadi simbol perpisahan mereka.

Hari itu, Gateway berdiri menghadap Laut Arab yang sedang tidak ramah. Ombak terlihat gelap, angin membawa bau asin yang kuat. Kami datang di musim hujan, dan Mumbai tidak berusaha menyembunyikannya sama sekali. Langit abu-abu, hujan turun hampir sepanjang hari, aspal basah memantulkan cahaya, dan sepatu kami sudah lama menyerah.

Satu hal yang langsung terasa kuapresiasi dari orang-orang India ini adalah... semangatnya! Hujan tidak mengurangi jumlah pengunjung. Justru sebaliknya. Banyak keluarga, pasangan, rombongan teman datang lengkap dengan payung. Ada yang foto-foto sambil ketawa, ada yang basah kuyup tapi tetap pose, ada yang sekadar berdiri menatap laut. Rasanya seperti nonton adegan film Bollywood versi kehidupan nyata. Basah, ramai, tapi penuh energi.

Aku sempat terpikir, mungkin karena bagi orang Mumbai, tempat seperti ini bukan sekadar destinasi wisata. Ini ruang publik. Lapangan kota. Tempat orang datang untuk merasa hidup, meskipun hujan.

Di sekitar kami, burung-burung beterbangan rendah. Banyak burung dara, dan tentu saja gagak. Gagak ada di mana-mana di India. Bahkan kami sempat melihat seekor gagak mematuki bangkai kecil di jalan basah. Pemandangan yang mungkin bikin orang lain risih, tapi entah kenapa terasa sangat jujur. Hidup ya seperti itu. Tidak selalu rapi.

Fredo, seperti biasa, dengan mode ekstrovertnya, beberapa kali mengajak orang India foto bareng. Ada yang langsung setuju, ada yang ketawa dulu baru mendekat. Aku kadang ikut, kadang cuma berdiri di samping sambil pegang payung. Rasanya hangat. Meski baru kenal, interaksi itu ringan, tanpa jarak.


***

Jam sudah menunjukkan pukul 1.30 siang ketika kami selesai berputar-putar di kawasan Gateway of India. Hujan masih turun pelan, terus membasahi Kota Mumbai yang seharian ini muram. Karena kereta kami ke Jaipur baru berangkat jam 8 malam, aku merasa sayang kalau waktu sisa ini cuma dihabiskan duduk bengong di penginapan atau stasiun.

Aku buka Google Maps, iseng melihat apa lagi yang “menyala” sebagai tempat wisata di sekitar kota. Satu nama muncul cukup mencolok: Haji Ali Dargah. Review-nya tinggi, fotonya menarik—bangunan putih berdiri di tengah laut. Aku sendiri sebenarnya belum benar-benar paham ini tempat apa. Masjid? Makam? Tempat ziarah? Tapi kelihatannya ikonik.

“Mas, ini gimana kalau kita ke sini?” kataku sambil nunjuk layar.
Fredo mengangguk, “Boleh. Tapi makan dulu ya. Laper.”

Kami akhirnya makan siang di sebuah kafe yang kelihatannya cukup bersih—penting, terutama setelah jalan kaki di hujan dan genangan air sejak pagi. Menunya sederhana, tapi perut terisi. Setelah itu, kami keluar dan naik rickshaw menuju arah Haji Ali.

Perjalanan dengan rickshaw di Mumbai… yah, seperti biasa, cukup chaos. Jalanan padat, klakson bersahutan tanpa henti, motor dan mobil saling serobot celah sekecil apa pun. Kadang rasanya rickshaw ini melaju tanpa aturan yang jelas, tapi entah kenapa selalu berhasil lolos. Aku cuma bisa pasrah sambil pegangan, memperhatikan kota bergerak cepat di sekeliling kami—basah, ramai, dan agak semrawut. Kami diturunkan di dekat sebuah pusat perbelanjaan tua, Heera Panna Shopping Centre. Dari sini, rickshaw sudah tidak bisa masuk lebih jauh. Sisanya harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Dari titik itu, kami berjalan menuju jalan sempit buatan manusia yang menjorok ke laut, seperti tanggul panjang. Inilah satu-satunya akses menuju Haji Ali Dargah. Panjangnya kira-kira 500 meter, dan kami berjalan sekitar 10–15 menit dengan langkah pelan karena kondisi jalannya licin dan ramai. Di kiri-kanan jalan, deretan penjual kain, syal, sajadah, bunga, dan cendera mata berjejer rapat di bawah terpal biru. Warna-warni kain kontras dengan langit abu-abu. Banyak peziarah dan wisatawan berjalan berdesakan, sebagian membuka payung, sebagian lain membiarkan diri basah kuyup.

Di sisi kanan, laut terbuka… dan jujur saja, kondisinya cukup bikin aku nggak nyaman. Airnya keruh, pantainya becek, penuh sampah plastik, kain, sisa makanan, bahkan bangkai kecil yang terdampar. Bau asin bercampur anyir. Kakiku beberapa kali hampir menginjak genangan air yang aku nggak mau tahu isinya apa. Aku sempat meringis dan berkata ke Fredo, “Kok kotornya parah banget ya.”
Fredo cuma nyengir, “Iya… tapi kayaknya orang sini udah biasa.”

Dan memang, orang-orang tetap berjalan santai. Anak kecil, orang tua, keluarga besar—semuanya melintas seolah kondisi ini bukan masalah besar. Aku pribadi agak jijik, tapi ya ini bagian dari pengalaman. Mumbai nggak berusaha tampil cantik. Ia tampil apa adanya, terlalu apa adanya heheh.

Semakin mendekat ke ujung jalan, bangunan putih itu makin jelas. Haji Ali Dargah berdiri di atas pulau kecil di Laut Arab, tampak tenang meski dikepung keramaian. Kubah putihnya menjulang, dikelilingi menara kecil dan dinding marmer yang mulai kusam dimakan usia dan cuaca. Di depan kompleks, orang-orang mulai melepas alas kaki. Ada yang mencuci kaki, ada yang membawa bunga dan dupa, ada yang berdoa singkat sebelum masuk. Suasananya berubah. Dari hiruk pikuk pasar dan jalan becek, mendadak terasa lebih khusyuk.

Haji Ali Dargah adalah makam sekaligus tempat ziarah seorang wali Muslim bernama Haji Ali Shah Bukhari, seorang pedagang kaya dari Asia Tengah yang hidup sekitar abad ke-15. Konon, setelah melakukan perjalanan ke Mekah, ia memilih meninggalkan kehidupan dunianya dan mengabdikan diri pada spiritualitas. Setelah wafat, jasadnya dimakamkan di pulau kecil ini. Legenda setempat mengatakan, peti jenazahnya sempat hanyut di laut dan akhirnya berhenti tepat di lokasi berdirinya dargah sekarang—yang kemudian dianggap sebagai pertanda ilahi.

Kami akhirnya masuk ke bagian dalam Haji Ali Dargah. Begitu melangkah melewati pintu, suasana langsung terasa berbeda. Hiruk pikuk dari luar perlahan meredam, digantikan aroma bunga dan dupa yang samar, bercampur dengan lantunan doa pelan dari berbagai sudut ruangan.

Di tengah ruang utama, makam Haji Ali Shah Bukhari terletak sederhana namun penuh penghormatan. Makam itu dipenuhi kalungan bunga berwarna kuning cerah yang bertumpuk-tumpuk, kontras dengan kain hijau yang menutupinya. Warna kuningnya begitu mencolok, hangat, seolah menandai bahwa tempat ini terus didatangi doa dan harapan, hari demi hari.

Orang-orang bergerak perlahan, hampir tanpa suara. Satu per satu mendekat. Ada yang menyentuhkan ujung jari ke penutup makam, lalu menempelkannya ke dahi. Ada yang mencium kain hijau atau kisi pembatas, matanya terpejam, bibirnya berbisik pelan. Beberapa berdiri lama, tak bergerak, seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat. Yang lain datang singkat, menyentuh sebentar, berdoa, lalu memberi jalan bagi peziarah berikutnya.

Aku berdiri agak ke belakang, mengamati semua itu. Wajah-wajah di sekelilingku terlihat serius dan khusyuk. Tidak ada kamera, tidak ada gaya-gayaan. Yang tampak hanyalah iman yang diekspresikan lewat tubuh, lewat sentuhan, lewat dahi yang menempel, lewat ciuman kecil penuh harap. Ruangan itu terasa padat, bukan oleh keramaian, tapi oleh niat dan doa yang saling bertumpuk.

Di saat itu aku mulai paham kenapa tempat ini begitu penting bagi banyak orang. Bukan semata karena sejarah atau bangunannya, melainkan karena di sinilah mereka merasa paling dekat, dengan Tuhan, dengan harapan, dengan jawaban yang mungkin tak mereka temukan di tempat lain.

Yang menarik, tempat ini bukan hanya dikunjungi umat Muslim. Banyak orang Hindu, bahkan non-religius, datang ke sini untuk berdoa, memohon kesembuhan, jodoh, rezeki, atau sekadar mencari ketenangan. Di India, hal seperti ini cukup lazim. Tempat suci sering melampaui batas agama.

Kami berdiri sebentar di depan, mengamati orang-orang yang keluar masuk. Ada yang wajahnya serius, ada yang penuh harap, ada yang tampak lega setelah berdoa. Setelah keluar dari bangunan utama, kami berjalan ke bagian samping lalu belakang Haji Ali Dargah. Di sisi ini, suasananya terasa jauh berbeda dibandingkan area depan yang penuh doa dan peziarah. Tidak ada lantunan doa, tidak ada antrian rapi. Yang ada justru hamparan batuan hitam besar yang menonjol di tepi laut.

Aku sendiri sebenarnya tidak tahu apa menariknya tempat ini. Tidak ada papan informasi, tidak ada keterangan apa pun. Tapi karena melihat banyak orang lokal berjalan ke arah sana, memanjat batu, lalu berfoto, kami ikut saja. Kadang rasa penasaran memang sesederhana itu, ikut arus.

Batu-batu itu berupa singkapan basalt, berwarna hitam gelap, tersusun kasar dan bersudut. Permukaannya licin karena hujan dan air laut. Di beberapa bagian, batuan tampak seperti terbelah membentuk celah-celah memanjang, menciptakan jalur alami tempat orang-orang berdiri atau duduk. Aku melangkah pelan, hati-hati agar tidak terpeleset.

Dari sini, Laut Arab terbentang lebar. Airnya tampak coklat keruh, membawa lumpur dan sedimen, dengan ombak bergulung pelan tapi konstan. Tidak biru, tidak jernih, tapi terasa kuat dan berat. Angin laut membawa bau asin yang bercampur anyir. Langit masih abu-abu, cahaya matahari tertutup awan, membuat seluruh pemandangan terlihat kusam dan lembap.

Orang-orang tampak santai di atas batu. Ada yang berdiri menatap laut, ada yang duduk diam, ada juga yang sibuk berfoto. Beberapa anak muda melompat dari satu batu ke batu lain. Seorang pria membuka payung hitam dan duduk sendirian di atas batu paling menjorok ke laut, seperti sedang mencari ketenangan di tengah kekacauan.

Namun ketika kami kembali bergerak ke arah depan kompleks, suasana kembali berubah. Di bagian depan, dekat jalur utama dan pintu masuk, banyak pengemis duduk berjejer. Ada yang sendirian, ada yang membawa anak kecil. Sebagian menengadahkan tangan, sebagian hanya duduk diam dengan tatapan kosong. Beberapa dibungkus plastik tipis untuk melindungi diri dari hujan. Kontrasnya terasa kuat. Di satu sisi orang datang membawa harapan dan doa, di sisi lain ada orang-orang yang hidupnya bergantung pada belas kasihan pengunjung.

Aku berjalan melewati mereka dengan perasaan campur aduk. Tidak nyaman, tidak tahu harus berbuat apa. Pemandangan ini membuat kunjungan ke Haji Ali Dargah terasa semakin nyata dan kompleks. Tempat suci, laut yang kasar, batuan hitam, doa, harapan, dan kemiskinan, semuanya hadir di satu ruang yang sama.

Dari kawasan Haji Ali, kami kembali berjalan menyusuri kota. Di salah satu persimpangan, bangunan besar bergaya Eropa itu kembali menarik perhatianku. Menara-menara batu menjulang, jendela lengkung bertumpuk, ornamen rumit yang tampak berat dan megah. Bangunan itu adalah kantor pusat pemerintah kota Mumbai, Brihanmumbai Municipal Corporation Building. Di tengah hujan dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti, gedung ini berdiri seperti potongan masa lalu yang masih hidup, saksi era kolonial yang belum sepenuhnya pergi dari wajah kota.

Tak lama setelah itu, kami memutuskan menyudahi petualangan singkat di Mumbai. Waktu sudah sore, dan perjalanan panjang berikutnya sudah menunggu. Kami kembali ke penginapan untuk mengambil tas-tas besar yang sejak pagi kami titipkan. Dari sana, kami naik rickshaw menuju stasiun.

Perjalanan sore itu justru meninggalkan kesan paling kuat. Di beberapa ruas jalan, tepi jalan dipenuhi tenda-tenda plastik biru, terpal kusam yang dipasang seadanya. Di bawahnya, hidup banyak sekali manusia. Ada yang duduk berkelompok, ada yang memasak dengan kompor kecil, ada anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Air hujan menggenang di aspal, bercampur sampah dan sisa makanan. Lingkungannya terlihat sangat kotor dan lembap.

Aku menatap keluar rickshaw dengan perasaan berat. Di musim hujan seperti ini, mereka tetap harus bertahan di sana. Tidur, makan, hidup di bawah tenda tipis, dengan tanah basah dan bau yang menusuk. Tidak ada dinding, tidak ada pintu, tidak ada jarak antara hujan, kotoran, dan tubuh mereka. Pemandangan itu membuat dadaku terasa sesak. Terlalu kontras dengan gedung-gedung megah yang baru saja kami lewati.

Sampai di penginapan, kami sempat meminta izin untuk numpang ke toilet. Kami hanya ingin BAK dan mandi sebentar sebelum berangkat ke stasiun. Untungnya, penjaga penginapan mengizinkan. Air mengalir, tubuh terasa segar kembali. Hal sederhana yang tiba-tiba terasa sangat mewah, setelah melihat bagaimana sebagian orang di kota ini hidup tanpa akses sesederhana itu.

Setelah itu, tanpa banyak jeda, kami langsung naik rickshaw lagi menuju stasiun. Malam mulai turun, hujan masih setia menemani. Di depan kami, papan besar bertuliskan Mumbai Central railway station menyambut. Peron ramai, orang-orang duduk di lantai bersama tas dan kardus, menunggu kereta masing-masing. Bau logam basah, suara pengumuman, dan langkah kaki bercampur jadi satu.

Di sinilah kami mengakhiri cerita Mumbai. Kota yang melelahkan, keras, penuh kontradiksi, tapi juga jujur. Kami bersiap naik kereta lagi, menempuh perjalanan panjang berikutnya.

See you soon, again, Provinsi Rajasthan. Jaipur, kami datang.


Part Selanjutnya: DISINI

0 comments:

Posting Komentar