Kami berjalan pelan menyusuri sekitaran Kochi bagian barat, sadar bahwa jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Kami mencari tempat makan yang sederhana saja, yang penting bersih! Itu salah satu syarat tempat makan di India hehehe.. Berjalan-jalan sejenak, akhirnya kami masuk ke sebuah restoran kecil dekat pelabuhan. Begitu melihat daftar makanannya, aku jujur agak kaget. Murah banget. Serius. Harga-harganya kalau dikalikan sekitar 200 rupiah saja. Nasi goreng ayam di kisaran belasan ribu rupiah kalau dirupiahkan. Rasanya hampir tidak masuk akal buat ukuran kami yang baru saja jalan-jalan seharian.
Aku pesan nasi goreng ayam, Fredo juga pilih menu yang mirip. Waktu makanannya datang, porsinya ternyata cukup besar. Rasanya enak, gurih, dan bikin kenyang. Bukan sekadar mengganjal perut. Makan siang itu terasa pas, sederhana, tanpa ekspektasi aneh-aneh, tapi justru memuaskan. Setelah perut terisi dan badan agak segar lagi, kami pun siap melanjutkan perjalanan berikutnya, Chinese Fishing Nets. Kami memilih naik bus umum karena selain murah, rasanya lebih dekat dengan kehidupan lokal.
Begitu bus datang, kami langsung naik. Ini pertama kalinya aku benar-benar mencoba bus umum di India. Busnya melaju kencang, disentak-sentakkan ke sana kemari, rem mendadak, klakson nyaris tidak berhenti, ditambah lagu-lagu Bollywood yang diputar keras dari speaker depan. Jujur saja, agak bikin kaget, tapi justru di situlah serunya. Tarifnya sangat murah, hanya 13 rupee atau sekitar 2.600 rupiah untuk perjalanan kurang lebih 45 menit dengan jarak sekitar 10 kilometer.
Di dalam bus aku baru sadar satu hal menarik. Tempat duduk laki-laki dan perempuan dipisah. Perempuan duduk di bagian depan, sementara laki-laki di bagian belakang. Jendelanya juga tidak dikasih kaca, jadi angin dan suara jalanan langsung masuk begitu saja. Awalnya aku mengira ini sekadar kebiasaan lokal, tapi ternyata pemisahan ini diterapkan setelah adanya berbagai kasus pelecehan di transportasi umum. Good idea sih dengan solusi 'ala kadarnya' wkwk.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian, kami turun di dekat pantai. Pantai di sini langsung menghadap Laut Arab. Airnya terlihat keruh, tidak jernih, tapi suasananya terasa hidup dengan banyak orang yang menikmati pantai.
Dari kejauhan, struktur jaring raksasa itu sudah terlihat. Rangka kayu besar dengan jaring lebar yang menghadap ke laut. Inilah Chinese Fishing Nets, atau Cheena Vala.
Alat tangkap ikan ini dipercaya diperkenalkan ke wilayah Kochi oleh para pedagang Tiongkok sekitar abad ke-14, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Pada masa itu, Kochi sudah menjadi pelabuhan penting di jalur perdagangan Samudra Hindia. Kapal-kapal dari Tiongkok, Arab, dan Asia Tenggara singgah untuk berdagang rempah-rempah, kayu, dan hasil laut. Hubungan dagang inilah yang membawa teknologi penangkapan ikan khas Tiongkok ke pesisir Kerala.
Sistem kerja jaring ini sebenarnya cukup sederhana, tapi cerdas. Rangka kayu besar dipasang dengan tuas panjang dan pemberat batu. Ketika jaring diturunkan ke laut, pemberat membantu menahan posisinya di dalam air. Setelah beberapa waktu, beberapa orang akan menarik tuas secara bersamaan untuk mengangkat jaring, berharap ada ikan, udang, atau kepiting yang terperangkap di dalamnya. Semua proses dilakukan dengan tenaga manusia, tanpa mesin, dan membutuhkan kerja sama serta ritme yang pas.
Dahulu, jaring-jaring ini merupakan alat tangkap penting bagi nelayan setempat, terutama di perairan dangkal dekat muara. Namun seiring perubahan zaman dan munculnya teknologi penangkapan modern, peran Cheena Vala mulai bergeser. Saat ini, jaring-jaring tersebut masih digunakan, tetapi hasil tangkapannya relatif kecil. Lebih sering, nelayan justru mempertahankannya sebagai bagian dari warisan budaya dan daya tarik wisata.
Di sepanjang tepi pantai banyak penjual seafood. Ikan, udang, dan hasil laut lain dipajang di baskom warna-warni. Beberapa pedagang menawarkan untuk memasakkan langsung seafood yang dipilih. Aku sempat tertarik, tapi kemudian ragu soal kebersihannya. Akhirnya kami hanya melihat-lihat dan mengambil beberapa foto.
Angin laut berembus pelan, bau asin bercampur aroma ikan dan asap masakan. Di sekitar kami, turis lalu-lalang, nelayan sibuk dengan jaringnya, dan burung-burung beterbangan rendah di atas air. Aku berdiri menghadap laut, menatap jaring-jaring raksasa itu, dan merasa… Kochi ini memang kota pertemuan. Bukan cuma budaya, tapi juga masa lalu dan masa kini.
Dari area Chinese Fishing Nets, aku dan Fredo lanjut jalan kaki menyusuri jalur pejalan kaki di tepi pantai. Di sisi kanan terbentang Laut Arab, ombaknya cukup besar dan berisik. Air lautnya terlihat keruh, berwarna kecokelatan, dan di beberapa bagian pantai terlihat banyak sampah yang terbawa arus. Campuran rumput laut, plastik, dan sisa-sisa kayu menumpuk di tepi pasir. Pemandangannya tidak indah, tapi jujur. Ini memang wajah pantai kota pelabuhan.
Angin laut bertiup cukup kencang. Beberapa orang duduk di bangku menghadap laut, sebagian hanya berjalan santai tanpa tujuan jelas. Jalur ini terasa tenang meskipun ombak di depan mata cukup ganas.
Tidak lama berjalan, kami sampai di sebuah area yang lebih sepi dan teduh. Di depan kami berdiri gerbang bertuliskan Dutch Cemetery. Tempat ini adalah pemakaman orang-orang Belanda yang meninggal di Kochi pada masa kolonial. Makam-makamnya berasal dari abad ke 17 dan 18, kebanyakan milik pejabat VOC, tentara, dan keluarga Eropa yang dulu menetap di sini.
Keberadaan pemakaman ini mengingatkan bahwa Kochi pernah menjadi titik penting bagi Belanda setelah mereka mengalahkan Portugis. Banyak orang Eropa yang hidup dan meninggal jauh dari tanah asalnya, lalu dimakamkan di sini. Area pemakamannya tertutup, tidak bisa dimasuki bebas, jadi kami hanya melihat dari luar gerbang. Suasananya sunyi dan agak lembap, dikelilingi pepohonan tua.
Dari situ kami melanjutkan jalan ke arah sebuah gereja besar berwarna kuning yang terlihat mencolok dari kejauhan. Di sepanjang jalan, aku melihat cukup banyak burung gagak. Mereka bertengger di pagar, kabel, dan pepohonan. Tidak terasa menyeramkan atau negatif. Mereka hanya bagian dari keseharian kota ini, lalu lalang seperti burung lain pada umumnya.
Di satu area terbuka, aku melihat pemandangan yang cukup menarik. Seekor kerbau besar sedang berendam di genangan air berlumpur. Tubuhnya hampir tenggelam, hanya kepala dan punggung yang terlihat. Sepertinya ia berendam untuk menurunkan panas, karena udara siang itu memang terasa lembap dan panas. Tidak ada yang mengusir atau memperhatikan secara berlebihan. Semua terlihat biasa saja, seolah ini pemandangan sehari-hari.
Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di depan gereja berwarna kuning tersebut. Inilah Santa Cruz Basilica, salah satu gereja tertua dan paling penting di Kochi. Gereja ini pertama kali dibangun oleh Portugis pada abad ke 16, lalu beberapa kali mengalami kerusakan dan pembangunan ulang. Bangunan yang sekarang merupakan hasil rekonstruksi pada awal abad ke 20.
Fasadnya bergaya Eropa, sederhana tapi megah. Dindingnya dicat kuning pucat, jendela-jendelanya tinggi, dan di bagian atas terdapat menara kecil. Halamannya rapi dan cukup tenang. Suasananya terasa berbeda dari hiruk pikuk jalanan tadi. Santa Cruz Basilica menjadi saksi panjangnya sejarah kolonial di Kochi. Dari Portugis, Belanda, hingga Inggris, semua meninggalkan jejak di kota ini. Gereja ini juga masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah sampai sekarang.
Aku berdiri sebentar di halaman gereja, melihat sekeliling, lalu menengadah ke bangunannya. Di satu sisi ada laut, di sisi lain ada pemakaman Belanda, dan tidak jauh dari sini ada gereja Eropa yang masih berdiri kokoh. Kochi benar-benar terasa seperti kota yang dibentuk oleh banyak lapisan sejarah, tanpa perlu dibuat dramatis.
Dari Santa Cruz Basilica, kami tidak langsung naik kendaraan. Kami memilih berjalan kaki lagi menyusuri jalanan Kochi yang tidak terlalu lebar. Suasana sore mulai terasa. Di sepanjang jalan, kami berpapasan dengan banyak anak sekolah Katolik yang baru pulang. Mereka mengenakan seragam biru, tas besar di punggung, sebagian masih bercanda, sebagian sudah terlihat lelah.
Fredo beberapa kali menyapa mereka dan mengajak foto. Anak-anak itu tertawa, malu-malu, saling dorong kecil sambil menutup wajah. Ada yang akhirnya mau berdiri sebentar untuk difoto, ada juga yang langsung lari kecil sambil tertawa. Interaksinya singkat, sederhana, tapi hangat. Tidak ada rasa canggung yang aneh. Semuanya terasa natural.
Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah gereja lain yang tidak kalah penting. Inilah St. Francis Church, gereja tertua yang dibangun oleh bangsa Eropa di India.
Gereja ini pertama kali dibangun oleh Portugis pada tahun 1503, tidak lama setelah Vasco da Gama mendarat di Kochi. Awalnya gereja ini sederhana, terbuat dari kayu. Setelah Portugis memperkuat kekuasaannya, bangunan gereja diperluas dan dibuat permanen. Ketika Belanda menguasai Kochi, gereja ini sempat diambil alih dan digunakan oleh Gereja Reformasi Belanda. Baru kemudian, saat Inggris datang, gereja ini dikembalikan lagi kepada jemaat Anglikan.
Masuk ke dalam gereja, suasananya langsung terasa tenang. Tidak megah seperti Santa Cruz, tapi justru terasa lebih tua dan lebih hening. Bangunannya sederhana, dinding putih, jendela besar, dan langit-langit tinggi dari kayu. Bangku-bangku kayu tersusun rapi menghadap altar.
Di bagian dalam gereja terdapat beberapa papan keterangan yang menjelaskan sejarah tempat ini. Salah satu informasi yang paling penting adalah bahwa Vasco da Gama pernah dimakamkan di gereja ini setelah wafat di Kochi pada tahun 1524. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Portugal beberapa tahun setelahnya, namun penanda makamnya masih ada di dalam gereja.
Di dalam gereja ini juga terdapat penanda bekas makam Vasco da Gama. Ia meninggal di Kochi pada tahun 1524 saat menjabat sebagai wakil raja Portugis di India. Setelah wafat, ia dimakamkan sementara di St. Francis Church. Beberapa tahun kemudian, jenazahnya dipindahkan ke Portugal dan dimakamkan kembali di Lisbon, namun lokasi makam awalnya tetap ditandai di gereja ini.
Penandanya sederhana. Sebuah batu datar di lantai gereja dengan tulisan nama Vasco da Gama, dikelilingi pagar rendah agar tidak terinjak. Tidak ada patung besar, tidak ada ornamen mencolok. Hanya penanda sunyi yang menunjukkan bahwa salah satu tokoh penting dalam sejarah pelayaran dunia pernah dimakamkan di tempat ini.
Di dekatnya terdapat papan keterangan yang menjelaskan riwayat singkat Vasco da Gama. Ia pertama kali tiba di Kochi pada tahun 1502, membuka jalur laut langsung antara Eropa dan India, dan berperan besar dalam perubahan peta perdagangan dunia. Informasi di papan itu juga menyebutkan bahwa meskipun jasadnya sudah tidak lagi berada di Kochi, gereja ini tetap menjadi bagian penting dari kisah hidup dan kematiannya.
Aku berdiri beberapa saat di depan penanda makam itu. Rasanya agak aneh menyadari bahwa di tengah gereja sederhana ini, di kota pesisir yang ramai dan penuh kehidupan sehari-hari, tersimpan jejak dari perjalanan global yang dampaknya terasa sampai hari ini.
Aku berdiri cukup lama membaca papan-papan itu. Isinya menjelaskan pergantian kekuasaan Portugis, Belanda, dan Inggris, serta bagaimana gereja ini bertahan melewati semua masa itu. Tidak ada narasi heroik. Hanya penjelasan singkat, faktual, dan tenang.
Di bagian altar, ada salib besar yang sederhana. Cahaya masuk dari jendela samping, membuat ruangan terasa terang tapi lembut. Beberapa pengunjung duduk diam, sebagian hanya berjalan pelan, membaca, lalu keluar lagi.
Di satu sudut gereja, ada ruang kecil dengan tirai merah yang menutup altar samping. Ukirannya detail, gelap, dan terlihat sangat tua. Semua bagian di dalam gereja ini terasa apa adanya. Tidak dipoles berlebihan, tidak mencoba tampil megah.
Aku berdiri di tengah lorong gereja, memandang ke depan, lalu menoleh ke sekeliling. Di luar, anak-anak sekolah masih lalu lalang, tertawa, memanggil teman-temannya. Di dalam, gereja ini menyimpan cerita ratusan tahun yang berjalan pelan dan sunyi.
Kochi memang seperti itu. Sejarah besar dan kehidupan sehari-hari berjalan berdampingan tanpa harus saling menonjolkan diri.
Di bagian belakang gereja, kami sempat bertemu dengan sekelompok anak-anak. Mereka kelihatan malu-malu tapi jelas penasaran. Berdiri agak berjajar, saling dorong pelan, senyum disembunyikan di balik tangan. Aku menyapa duluan, dan seketika suasananya berubah jadi riuh. Mereka langsung bertanya kami dari mana, satu dua tertawa kecil sambil menutup mulut, yang lain cuma menatap sambil nyengir. Aku ajak mereka foto bareng. Mereka senang, kami juga. Momen singkat yang sederhana tapi hangat, tanpa bahasa yang sama pun rasanya nyambung.
Setelah selesai eksplor gereja, kami memutuskan kembali ke area Hotel Srinivas dengan bus. Mulai dari foto kedua, suasana berubah jadi jalan kaki pelan menuju hotel. Deretan toko-toko kecil berjajar rapat di sisi jalan, papan nama penuh tulisan lokal, sebagian dalam huruf yang sama sekali tidak kami pahami. Ada pedagang buah di pinggir jalan, tomat ditumpuk tinggi di gerobak kayu, warnanya kontras dengan aspal yang mulai kusam. Lalu toko kain, penjahit, elektronik, sampai kios fotokopi yang berdempetan. Jalanannya hidup, orang lalu-lalang, motor parkir sembarangan, klakson sesekali terdengar tapi tidak terasa agresif.
Akhirnya kami sampai kembali di Hotel Srinivas. Sistem check-in 24 jamnya benar-benar menyelamatkan. Kami masih bisa mandi dan membersihkan badan setelah seharian di luar sebelum bersiap menuju Stasiun Kereta Api Kochi untuk perjalanan panjang hampir 24 jam ke Mumbai. Malamnya kami tidak ingin ribet keluar lagi. Kami masak nasi seadanya dan makan pakai pilus. Tidak mewah, tapi pas. Tubuh bersih, perut terisi, dan kepala sudah mulai siap untuk perjalanan berikutnya.
Terimakasih ya Kochi, untuk pengalamannya! Pastinya akan kukenang sampai lama, dan kuabadikan dalam bentuk tulisan di blog ini.
***
Tambahan, berdasarkan ceritaku seharian menjelajah Kochi, berikut merupakan ringkasan tempat bersejarah di Kochi secara kronologis dan perannya sebagai kota pelabuhan:
1. Chinese Fishing Nets (Cheena Vala) – sekitar abad ke-13–14
Dibangun oleh pedagang Tiongkok, kemungkinan besar pada masa Dinasti Yuan, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Jaring raksasa ini digunakan untuk menangkap ikan di perairan dangkal pesisir Kochi.
Keberadaan Chinese fishing nets menunjukkan bahwa Kochi sudah menjadi pelabuhan internasional sejak sangat awal. Letaknya yang langsung menghadap Laut Arab membuat wilayah ini mudah diakses kapal-kapal dagang dari Asia Timur, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Sampai hari ini, jaring ini masih digunakan, meski lebih sering menjadi simbol sejarah dan budaya kota.
2. St. Francis Church – 1503
Gereja ini dibangun oleh Portugis, menjadikannya gereja Eropa tertua di India. Awalnya berfungsi sebagai gereja bagi pelaut dan pedagang Portugis yang menetap di Kochi setelah Vasco da Gama membuka jalur laut langsung dari Eropa ke India.
Lokasinya sangat dekat dengan pelabuhan, menegaskan fungsi Kochi sebagai basis maritim Portugis. Gereja ini juga pernah menjadi tempat pemakaman awal Vasco da Gama, sebelum jenazahnya dipindahkan ke Lisbon. Ini memperkuat posisi Kochi dalam sejarah eksplorasi global.
3. Santa Cruz Cathedral Basilica – 1505 (dibangun ulang abad ke-19)
Santa Cruz dibangun oleh Portugis tak lama setelah St. Francis Church. Gereja ini menjadi pusat keagamaan Katolik di Kochi dan mencerminkan kuatnya pengaruh Portugis dalam struktur kota.
Sebagai kota pelabuhan, Kochi tidak hanya menjadi pusat perdagangan rempah, tetapi juga pusat penyebaran agama dan administrasi kolonial. Santa Cruz berdiri sebagai simbol permanen dari fase ini.
4. Mattancherry Palace (Dutch Palace) – 1555
Istana ini awalnya dibangun oleh Portugis dan kemudian direnovasi oleh Belanda. Fungsinya adalah sebagai hadiah diplomatik untuk Raja Kochi.
Keberadaan istana ini menunjukkan bahwa Kochi bukan sekadar pelabuhan dagang, tetapi juga pusat politik lokal yang penting. Bangsa Eropa membutuhkan dukungan raja setempat untuk mengamankan jalur perdagangan laut, sehingga hubungan diplomatik menjadi kunci.
5. Jew Town dan Paradesi Synagogue – abad ke-16
Komunitas Yahudi menetap di Kochi karena kota ini aman, terbuka, dan strategis untuk perdagangan. Paradesi Synagogue dibangun pada 1568 dan menjadi salah satu sinagoga tertua di Asia.
Ini menegaskan karakter Kochi sebagai kota kosmopolitan. Pelabuhan yang aktif membuat berbagai komunitas internasional bisa hidup berdampingan, berdagang, dan menetap dalam jangka panjang.
Jadi,
Kochi berkembang bukan karena kebetulan, tetapi karena letaknya yang strategis di jalur perdagangan Laut Arab. Dari pedagang Tiongkok, pelaut Arab, Portugis, Belanda, hingga komunitas Yahudi, semuanya datang karena pelabuhan ini aman, mudah diakses, dan vital secara ekonomi. Tempat-tempat bersejarah yang kukunjungi bukan berdiri sendiri. Semuanya saling terhubung oleh satu faktor utama yaitu Kochi sebagai kota pelabuhan yang sejak berabad-abad lalu sudah terhubung dengan dunia.
Part Selanjutnya: DISINI



0 comments:
Posting Komentar