Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

8.19.2015

[3] MALAKA TRIP: Meteran Taksi terus berjalan dengan cepatnya..40RM..45RM..50RM..sementara duit gue tinggal 30 RM. Mati!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Jantungku terus berdegup kencang..

Mataku terus memandang kotak digital kecil ber-angka itu tanpa berkedip sedikitpun..

Meski tempatku duduk sangat nyaman dan sejuk, bulir keringat mulai berjatuhan..

40..42..44..46..48..50..setiap 100 meter berjalan bertambah 2..

Jalanan kanan kiri adalah tol menuju bandara,

tidak ada kesempatan turun..

Tanganku merogoh kantong,

uangku tinggal 30 ringgit!

Matilah aku!


KUALA LUMPUR, 2 Februari 2013
16.00 waktu Malaysia

Sesaat setelah turun dari bus Maju yang membawa gue selama 2 jam perjalanan dari Malaka ke Kuala Lumpur, gue sama sekali nggak mendapat firasat bahwa sesaat lagi  akan mendapat kesialan. Sial lagi. Ya, cukup banyak kesialan yang gue dapatkan selama solo trip  pertama gue itu, tapi itu sudah kucatat di buku hitam gue sebagai "things don't ever do it again when traveling".

Setelah berputar-putar cukup lama, sampailah bus-gue di Terminal Bersepadu Selatan (TBS), Kuala Lumpur. Meskipun gue sudah beberapa kali ke KL, tapi inilah kali pertama gue menginjakkan kaki di TBS. Menurutku TBS ini sangat bagus dimana interiornya sangat modern sampai modelnya mendekati bandara, petunjuk setiap lokasi jelas, bersih, teratur, rapi dll pokoknya beda jauh lah sama terminal di negara gue tercinta. Sesaat setelah turun, gue segera mencari informasi tentang bus yang berangkat ke Bandara LCCT sore itu. Jarak TBS ini sendiri dengan Bandara LCCT sekitar 64 km.

Kenampakan interior Terminal Bersepadu Selatan yang sudah sangat modern
Sumber: tripadvisor.com

Saat sedang sibuk mencari informasi bus itu mata gue secara nggak sengaja menangkap sebuah poster yang menyebutkan bahwa ada fast train  yang menghubungkan KL Sentral/Bandar Tasik Selatan dengan LCCT (transfer di Stasiun Salak Tinggi) dengan biaya hanya 10 ringgit. Kesalahanku karena aku nggak mencari informasi ini sesaat sebelum traveling. Saat membaca poster itu, aku tengak-tengok kesana kemari mencari orang yang bisa ditanyai. Itu adalah kesalahan besar karena ternyata ada yang mengincar gue sebagai mangsa penipuan. Huhuhu.

Pose gue yang seperti orang kebingungan itu memancing perhatian seorang bapak berseragam putih biru yang langsung menghampiriku, singkatnya beginilah obrolan kami,
X  : Mau kemana?
G  : LCCT.
X  : Mari ikut saya.
G  : Kemana? Itu ada fast train ya ke LCCT.
X  : Tidak ada, fast train hanya ke KLIA saja. Sudah ikut saya.

Bodohnya gue percaya! dan supir taksi penipu itu jelas-jelas bohong karena memang ada kereta (transfer bus) yang ke LCCT. 

Saat itu gue berpikiran optimis aja, mungkin dia mau nyariin gue bus atau apa. Gue juga berpikir dia nggak akan mungkin berani macem-macem di tengah keramaian terminal kaya gini. Akhirnya gue pasrah aja ikut dia. Entah kemana pokoknya kami turun sampai ke lantai dasar. *semacam tempat parkiran

Gue akhirnya tersadar dia bukan mau bantuin gue cariin bus atau apa, tapi dia adalah supir taksi a.k.a dia nawarin nganterin gue ke LCCT dengan taksinya. Saat itu gue bersikeras menolak karena duit ringgit di kantong tinggal 30 ringgit, dan itupun sebagian bakal gue buat beli makan di LCCT. Tapi supir taksi penipu ini terus maksa, "Flight kamu tidak akan terkejar, percaya awak! percaya awak!"

PREEETT, padahal waktu itu baru menunjukkan jam 16.30, aku baru bisa check in jam 19.00 karena penerbanganku ke Filipina jam 21.00!

Akhirnya karena menyerah terus dipaksa, gue pun mau naik tapi dengan syarat gue minta diturunin ke KL sentral karena setelahnya gue akan naik bus/kereta dari sana. "Oke", katanya.

Mesin dinyalakan, "DEG!" Argo langsung menunjukkan 6 ringgit. Perasaan gue udah nggak enak aja nih!

Di dalam taksi supir penipu ini masih aja mempengaruhi gue buat langsung ke LCCT aja dengan gaya bahasa yang sangat persuasif, gue yang beberapa kali nolak akhirnya kalah  dan mempersilahkan supir ini bawa gue ke LCCT. Saat itu yang ada di pikiran gue, 30 ringgit itu udah termasuk duit yang banyak. Jadi ya sial-sialnya, gue nggak bisa makan malam ini di LCCT.

Tapi ternyataaa..oh my God, semakin taksi berjalan cepat, argometer berjalan dengan semakin derasnya. Dari 22, 24, 26, 28, 30!!! Mati nggak gue, saat itu badan gue udah lemes dan dipenuhi keringat dingin. 30 ringgit masih menempuh jalan sekitar 13 km ke bandara, mana jalanan kanan kiri seperti tol yang sepii banget -ala jalanan Indonesia kalau mau menuju bandara- sehingga nggak ada pilihan buat gue selain bertahan didalam taksi.

Keringat dingin gue semakin mengucur deras saat argo sudah menunjukkan angka 50 ringgit tapi jarak ke LCCT masih sekitar 40 menit lagi. Gue pun mulai bicara nggak jelas ke supir penipu dengan nada mau nangis.

 G  : "Pak apakah saya bisa diturunkan di sekitar sini saja? Sepertinya uang saya tidak cukup lagi" kata gue dengan muka melas.

 X  : "Tadi bilang punya uang, memang situ bawa uang berapa??"
Gue diem aja, jelas bakal diketawain kalau dia tahu gue cuma punya 30 ringgit.

 G : " Saya kira nggak semahal itu." jawab gue dengan cuek, padahal dalam hati nangis huaaa....

 X : " Ah bagaimana kamu itu, ini bagaimana, sudah hampir 60 ringgit. Tidak bisa turun disini, nanti diturunkan di Stasiun Putrajaya di depan."

Gue pasrah aja, dalam hati udah nangis-nangis dan nyumpahin kenapa tadi lu bohongin gue tentang fast train, sekarang mungkin ini balasan dari Tuhan, gue bohongin dia balik secara nggak sengaja.

Akhirnya gue diturunin di Stasiun Putrajaya, dan karena duit ringgit tidak cukup terpaksa aku bayar pakai dolar singapore (20 SGD). Penipu ini sempet muni-muni dan menelepon temannya untuk tahu nilai tukarnya, masih sempetnya bilang "Masih kurang 10 ringgit ini, bagaimana?" Dasar, apa nggak tau muka gue udah melas semelas ini, gue pun terpaksa nambahin 5 ringgit lagi. Sebelum pergi, dia sempatnya ketawa-tawa, "Kasian sekali kamu ini." 

Rute fast train
Sumber: lcct.co.my

Akhirnya gue pun ke tempat pembelian tiket fast train  di lantai atas dan membeli tiket cuma seharga 5 ringgit. Dalam hati gue udah menyesal banget kenapa gue nggak naik ini dari awal huhuhu. Keretanya nyaman, luas, ber-AC, cepet banget nyampenya.

Kenampakan fast train yang melayani transportasi ke bandara (KLIA maupun LCCT)
Sumber: wikipedia.org

Ya Tuhaaannn...gue cuma bisa mengucap syukur sedalam-dalamnya saat akhirnya nyampai di LCCT... Kapan sih kesialan ini berakhir? Hhhhhh.......

PS: Gue cuma bawa duit sedikit di Kuala Lumpur karena emang nggak berencana jalan-jalan kesini, cuma transit aja dari Malaka sebelum terbang ke Filipina. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup!!


Part Selanjutnya : DISINI

[2] MALAKA TRIP: Kunci Kamar Masuk Bolongan WC Jam 2 Pagi, MATI!!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Cukup puas beristirahat di KFC Mahkota Parade, aku segera berinisiatif untuk mencari lokasi penginapan yang sudah aku booking sebelumnya bernama Backpacker’s Freak Hostel yang beralamat di Jalan PM 2 No.25-3, Plaza Mahkota, Melaka. Aku berhasil menemukan tempat ini setelah bertanya kepada beberapa orang, tempatnya sendiri cukup strategis dan kamarnya berada di lantai dua. Pemiliknya engkong-engkong yang kalau sama tamu baik banget, tapi kalau pas lagi sama pegawainya buseet dah... galaknyaaa. hahaha. Pegawainya cewek chinese masih seumuran aku juga, dan pas si pegawai nyatet data paspor aku, nggak kehitung deh berapa kali dia kena bentak dari si engkong. Mana bentaknya di depan tamu lagi. Huft kasian. Aku mendapatkan sebuah kamar single room (tapi dengan 2 kasur) dengan tarif 8 USD per malam, dengan sarapan gratis. Aku pun segera merebahkan badan untuk beristirahat. Rencana malam ini aku akan melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Melaka.

8.14.2015

[1] MALAKA TRIP: Dari Dutch Square sampai A Famosa, jalan terus!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Menempuh perjalanan selama 30 menit dengan bus SBS, ane pun sampai di Terminal Larkin di Johor Bahru. Pemandangannya cukup kontras juga ya setelah 3 hari di Singapura. Terminal Larkin ini mirip dengan Indonesia, banyak warung-warung kelontong dan loket-loket yang menjual tiket bus. Saat itu langsung aja ane beli snack, air rasa sama burger 3RM gan. Seneng banget rasanya bisa nemu makanan-makanan murah lagi setelah di Singapore nggak berani beli apa-apa. Saat itu ane naik bus Maju seharga 21 RM dari Johor Bahru ke Malaka. Bus-nya nyaman banget gan. Kursinya luas dan kebetulan saat itu bus hanya berisi sedikit penumpang sehingga perjalanan selama 4 jam ke Malaka menjadi tidak terlalu berasa lama.

8.11.2015

Tempat Wisata di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang + Transportasi Menuju Kesana

Sunset di Pantai Pasir Panjang, Kota Kupang

Apa yang ada di pikiran Anda saat ada seseorang mengajak Anda liburan ke Provinsi Nusa Tenggara Timur? Bisa ditebak, nama Pulau Komodo, Danau Kelimutu, Desa Lamarela (desa perburuan ikan paus di Pulau Lembata) dan Festival Pasola di Sumba merupakan tujuan-tujuan wisata utama yang terlintas. Pernahkan terlintas nama Pulau Timor sebagai salah satu tujuan wisata alternatif? Jika belum, maka Anda harus mulai berpikir ulang untuk memperpanjang waktu liburan Anda dan menjelajahi salah satu pulau terluar Indonesia ini.

8.06.2015

Transportasi dari Terminal Bungurasih ke Stasiun Gubeng Surabaya

Salah satu hal yang paling dipusingkan oleh traveler/backpacker ketika harus transit di Surabaya adalah transportasi dari Terminal Bungurasih ke Stasiun Gubeng atau sebaliknya. Sebagai seorang backpacker, tentulah kita akan mencari alternatif termurah kan? Cara ini efektif dilakukan untuk solo backpacker, jika backpackeran rame-rame (>= 4 orang) ane sarankan naik taksi gan karena lebih nyaman dan cepat (bisa lewat tol).

7.26.2015

[3] SINGAPORE TRIP: Dimarahin Supir Bus SBS

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Keesokan harinya, aku bangun dengan kondisi yang cukup segar karena hari kemarin bisa istirahat total. Hari ini adalah hari terakhirku di Singapore. Rencananya, tengah hari ini aku akan melanjutkan perjalanan ke Malaka (Malaysia).

Pagi itu suasana hatiku lumayan santai karena hari ini sudah tidak ada target tempat khusus yang ingin aku kunjungi. Aku juga sudah bisa melupakan tragedi “anjing herder” kemarin. Saat itu aku berjanji tidak akan menceritakan tragedi anjing herder itu ke siapapun, malu banget soalnya hahaha. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan akan ke Little India, karena di sana ada Sri Mariamman Temple. Pengen lihat temple-nya.

Setelah sarapan roti coklat dan mengisi penuh botol air minum, aku pun mengucapkan selamat tinggal buat kedua teman asal Ekuador yang aku jumpai kemarin malam. Mereka sangat ramah dan aku suka dengan sifat mereka. Saat itu aku sempat memberi nasehat ke mereka untuk mengunjungi Patung Merlion di malam hari karena pemandangannya lebih indah. Mereka mengucapkan terima kasih dan berjanji akan melakukannya.

Seperti biasa, untuk menimbun energi sebelum jalan jauh, aku memutuskan akan sarapan nasi briyani di warung India kemarin. Lah, nggak takut kena harga mahal lagi? Nggak sih, karena yang mahal itu teh chai-nya sebenarnya. Untuk nasinya cuma dibanderol 1,9 SGD aja, jadi hari itu aku cuma pesan nasi briyani saja. Sudah sangat mengenyangkan karena porsinya cukup banyak.

Saat sudah menuju stasiun MRT, aku merasa kok ada yang kurang ya? Wkwkwk, otak erroranku mulai kambuh lagi. Owalahhh, jaket! Aku lupa kalau jaketku masih di jemuran hostel. Akhirnya dengan muka ditebalkan aku kembali ke penginapan lagi. Haha. Berabe juga kalau nggak ada jaket, soalnya di Filipina nanti aku kan rencananya banyak naik bus malam.

Suasana jalanan Little India di pagi hari, masih sepi bingit gan.

Penjual bunga di Little India 

Akhirnya aku sampai juga di Little India. Menurutku sih nggak ada yang terlalu spesial. Jalanan masih sepi karena masih cukup pagi, dan yang bikin aku tambah kesel, kacamata aku patah di bagian penghubung tangkai sama kacanya. Wuaduhhh, sia-sia dong keluar negeri kalau kacamata rusak, blawuurr jadinya.... Mana aku nggak ada selotip lagi.

Akhirnya aku pun cari-cari warung kelontong buat beli solasi. Cukup banyak warung kelontong di kawasan Little India, tapi sialnya aku nggak tahu bahasa Inggrisnya solasi. Karena nggak enak mau membeli sesuatu yang aku nggak ngerti bahasa Inggrisnya, aku akhirnya memutuskan beli Coca-Cola satu kaleng seharga 1 SGD. Selesai membeli, aku tunjukin kacamata aku yang patah sambil ngomong, “Do you have a selotip?” Huahahaha, karena nggak ngerti bahasa Inggrisnya, aku ngomong bahasa Indonesianya aja.

Awalnya mereka ngira aku nyari gagang kacamata, mereka bilang nggak ada sambil menampakkan ekspresi bingung. Yakali pak, aku nyari gagang kacamata di sini hahaha. Aku nggak kehabisan akal, langsung pakai bahasa Tarzan: aku membuat gerakan seperti menyambung kacamata dengan solasi.

“Oohhhh… tape!”

“Iya pak, tape!”

Pasangan China setengah baya ini langsung kasih solasi ke aku. Mereka ramah banget dan penuh senyum, padahal aku cuma beli Coca-Cola 1 SGD hehehe. Akhirnya setelah mengucapkan terima kasih dengan tulus dan senyuman terbaik, aku pun meninggalkan warung itu.

Sri Mariamman Temple.

Sebenarnya aku menemukan Sri Mariamman Temple, tapi saat itu lagi cukup banyak orang yang beribadah sehingga aku mengurungkan niat untuk masuk. Sri Mariamman Temple ini merupakan candi Hindu tertua di Singapore, dibangun pada tahun 1827 oleh Naraina Pillay. Pak Pillay ini ceritanya merupakan pegawai pemerintahan Penang yang cukup berpengaruh. Ia juga seorang pebisnis yang handal, karena pada masa keemasannya turut membangun perusahaan pertama di pulau yang kemudian menjadi cikal bakal negara Singapura ini.

Mariamman sendiri merupakan salah satu dewi yang dipuja di pedalaman India Selatan untuk menjauhkan manusia dari penyakit. Setelah puas melihat-lihat dari depan, aku pun melanjutkan perjalanan ke Stasiun MRT Kranji untuk bersiap menuju Malaysia.

Kenampakan bus SBS 160 yang membawaku ke Johor Bahru.
Sumber: arm9.staticflickr.com

Menurut beberapa info yang aku baca, bus SBS yang menuju Terminal Larkin di Johor Bahru itu berada di bawah Stasiun MRT Kranji. Perjalanan dari Stasiun Little India ke Stasiun Kranji lumayan lama (sekitar 45 menit), tapi nggak terlalu kerasa karena MRT Singapura ini sangat nyaman, aman, dan tepat waktu. Akhirnya aku sampai juga di Kranji dan cukup mudah menemukan stasiun SBS—tinggal turun tangga dan belok kanan, nanti sudah ada banyak antrian orang-orang yang juga akan menuju Malaysia.

Saat itu kesalahanku adalah aku nggak menyiapkan uang pas untuk naik bus, selain itu saldo di kartu MRT-ku juga sudah habis. Padahal sistem pembayaran di bus SBS itu kayak bus luar negeri yang sering aku lihat di TV, uang logam dimasukin kotak, nanti supir bus kasih sobekan tiket kecil. Supir bus waktu itu orang Singapura keturunan India, dan dia masih cukup sabar dengan dua pertanyaanku:

“How much to go to immigration?”
“1,6 Dollar,” jawabnya datar.

“How much to go to terminal?”
“1,9 Dollar,” nadanya udah agak tinggi.

Dan karena aku ini orang error, yang selalu error dan sempat berjanji nggak akan solo travelling lagi hahaha, aku balik nanya lagi berapa tarif ke imigrasi. Jelas aja si supir marah hahahaha.

“How much to go to immigration?”
“Ahhh, you. A lot of people queueing, bla bla bla…”

Akhirnya aku langsung memotong omongannya dan bilang kalau aku mau ke imigrasi. Huaa, rasanya aku pengen mengutuki diri sendiri kenapa bisa sebodoh itu. Cukup banyak ujian selama perjalanan solo perdana aku ini.

Jadilah sewaktu turun di imigrasi aku harus beli tiket lagi untuk naik bus SBS, padahal bisa aja cuma beli tiket sekali seharga 1,9 Dollar tadi. Tapi entah kenapa setelah dimarahi, mulutku tiba-tiba saja ngomong “immigration”. Huah, emang aku bodoh. Untungnya supir bus SBS kedua, keturunan China, agak lebih sabar dan sempat tersenyum ke aku. Itu lumayan bikin perasaanku jadi lebih baik.

Suasana Terminal Larkin di Johor Bahru, serasa udah di Indonesia gan!

Setengah jam kemudian, aku pun sampai di Terminal Larkin di Johor Bahru. Pemandangannya cukup kontras juga ya setelah 3 hari di Singapura. Terminal Larkin ini mirip dengan terminal di Indonesia, banyak warung-warung kelontong dan loket-loket yang menjual tiket bus. Saat itu aku langsung beli snack, air rasa, dan burger seharga 3 RM. Seneng banget rasanya bisa nemu makanan-makanan murah lagi setelah di Singapura hampir nggak berani beli apa-apa wkwkwk.

Setelah itu aku naik bus Maju seharga 21 RM dari Johor Bahru ke Malaka. Bus-nya nyaman banget. Kursinya luas dan kebetulan saat itu bus hanya berisi sedikit penumpang, jadi perjalanan selama 4 jam ke Malaka terasa nggak begitu lama.

Agen-agen tiket bus di Terminal Larkin yang siap mengantarkan kita menuju berbagai kota di Malaysia Barat.

Ini dia interior Bus Maju yang membawa ane selama 3 jam perjalanan dari Johor Bahru ke Malaka.

Begitulah petualanganku menjelajah Singapura selama 3 hari 2 malam. Overall, aku cukup menikmati solo trip pertamaku ini meskipun sempat melakukan cukup banyak “keeroran” hehehe. Tapi justru dari situ aku merasa bisa jadi diri sendiri, bisa melakukan semuanya sesuai minat dan perasaanku.

Petualangan ini akan aku lanjutkan di postingan berikutnya, menjelajah Kota Tua Malaka di Malaysia Selatan. Ciaoo~


Part Selanjutnya : DISINI

7.14.2015

TRIP Sepeda Motoran dari Kupang ke Fatumnasi

Pemandangan sepanjang jalan menuju Fatumnasi.

Pegunungan Fatumnasi.

Ane selalu penasaran sama tempat ini sejak pertama kali melihat foto-foto para wisatawan yang kesini. Mereka menggambarkan Fatumnasi itu indah banget, bahkan keindahannya setara dengan New Zealand. Empat kali ke Pulau Timor, akhirnya pada kesempatan keempat ane berhasil mengunjungi salah satu tempat terindah di Pulau Timor ini. Di Pegunungan Fatumnasi inilah terdapat Cagar Alam Gunung Mutis yang merupakan titik pendakian Gunung Mutis, gunung tertinggi di Pulau Timor dengan ketinggian 2247 mdpl.