Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

6.09.2026

[PART 14] Menggapai Himalaya : Mengitari Boudhanath, Jantung Buddhisme Tibet di Nepal !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                           Part Sebelumnya: DISINI

Stupa Boudhanat sedang dalam renovasi setelah gempa dahsyat pada 25 April 2015

 Kathmandu kota yang cukup luas dan berdebu untuk ditelusuri dengan berjalan kaki. Karena jujur, tersesat di kawasan Thamel saja sudah membuat kakiku gempor, apalagi kalau harus berjalan keliling kota untuk mengunjungi tempat-tempat menarik disini.

Sewa motor menjadi pilihan kami untuk menghemat tenaga sekaligus uang. Menghemat tenaga karena kami berencana akan mengunjungi beberapa tempat wisata yang lokasinya cukup berjauhan dari hostel tempat kami menginap. Menghemat uang karena jika tidak menggunakan motor sewaan/jalan kaki, satu-satunya transportasi ke tempat-tempat tersebut adalah taksi yang mematok harga 200-400 Npr (Rupee Nepal) sekali berangkat (sekitar Rp 20.000 sampai Rp 40.000). Apalagi jika dapat supir nakal yang suka mematok harga seenaknya ke turis asing, tambah apes lagi.

Cukup banyak persewaan motor yang berjajar di ruko-ruko padat Thamel. Setiap ruko menawarkan harga dan jenis motor yang berbeda-beda, tapi kebanyakan adalah motor matik, motor bajaj, dan motor tril. Paling murah tentunya motor matik.

Setelah berkeliling sesaat kami mendapatkan sewa motor yang menurut kami cukup murah, berada di sebuah ruko yang menjual bahan makanan di dekat Dharmadhaatu Stupa. Di depan ruko tersebut ada sebuah plang kecil bertuliskan "Rent Motorcycle". Pemiliknya lelaki Nepal bernama Mr. Sunil. Ramah dan informatif. Harga sewa motornya adalah 500 Npr/sampai sore. Cukup fair untuk sebuah motor matik (bentuknya seperti Honda Beat dengan perawakan yang lebih gemuk). Kami menyewa motor selama tiga hari. Hari ini berkeliling Kota Kathmandu, dua hari setelahnya untuk menuju Bhaktapur Durbar Square dan Nagarkot yang berada 32 kilometer di sebelah timur laut Kathmandu.

Motor matic yang kami sewa di Thamel. Plat nomornya gimana cara bacanya? Wkwk

Paspor adalah syarat yang diminta Mr. Sunil untuk menyewa motornya. Karena kami berdua dan pasporku akan kugunakan untuk check in di hotel Nagarkot nanti, temanku yang meninggalkan paspornya. Kami sempat mengecek dan menfoto kondisi motor sebelum diberi dua buah helm dan fotocopy surat kendaraan.

" Bagaimana jika kita melakukan pelanggaran lalu lintas dan polisi menangkap kita? Apakah fotocopy surat motor ini bisa digunakan?" tanyaku penasaran. Bagaimanapun aku tidak mau berurusan dengan birokrasi disini.

"Tenang saja. Bilang saja Mr. Sunil. Mereka (polisi) teman saya. Pasti akan baik-baik saja," jawab Mr. Sunil.

Antara percaya dan tidak percaya, aku pasrah. Kami akan berusaha mengemudi sebaik mungkin, menghindari melanggar lalu lintas. Setelah menanyakan arah keluar dari Thamel menuju jalan raya utama dan menerima dua buah helm, kami segera meninggalkan ruko Mr. Sunil.

Mungkin ini kesalahan terbesar kami. Menyewa motor tapi sama sekali tidak tau arah. Memang banyak informasi arah di Kathmandu (seperti papan hijau penunjuk arah di Indonesia), tetapi semuanya nama-nama asing yang belum pernah kudengar. Tujuan kami adalah Stupa Bouddhanat. Kami sama sekali tidak tau arah, hanya berputar-putar kesana kemari.

Debu Kota Kathmandu yang tebal dan menggumpal sedikit membuatku pusing. Aku mengusulkan ke travelmate untuk mencari ruko yang menjual kartu internet. Harus menggunakan google map. Susah sekali jalan tanpa arah dan tujuan seperti ini. Untung saja google bukanlah sesuatu yang diblokir di negara ini.

Setelah berputar-putar cukup lama, kami mendapati sebuah warung kelontong yang menjual kartu internet. Setelah bertanya-tanya cukup banyak tentang kartu internet terbaik di Nepal, kami disarankan menggunakan NCell. Katanya sinyal NCell bisa menjangkau sampai ke Nagarkot (tujuan kami besok). Tetapi karena untuk menggunakan kartu internet harus aktivasi dahulu, penjual warung tersebut - seorang lelaki muda Nepal berperawakan tinggi - menyarankanku untuk membeli kartu perdana sekaligus pulsa internet di konter NCell langsung. Kami mengikuti arahannya dan menemukan konter yang dimaksud.

Seperti di India, membeli kartu perdana di Nepal harus melewati prosedur yang lumayan ribet. Aku diharuskan memberikan paspor dan visa nepal untuk difotocopy, mengisi formulir yang meliputi data diri, memberikan foto close up (waktu kuberi foto dengan kertas foto tipis mereka sempat menolak). Setelah melalui proses yang lama, akhirnya mereka memberikanku kartu perdana seharga 150 Npr. Tentu saja itu hanya kartu perdana yang berisi pulsa reguler, aku masih harus membeli paket internet. Karena hanya untuk 3 hari, aku membeli paket internet 100Mb seharga 100 Npr. Penjaga konter mengaktivasi nomorku dan akhirnya aku bisa menggunakan internet!

Tetapi, bukan berarti masalah selesai....

" Aahh, sinyal internetnya hilang muncul terus!" kataku setengah emosi dari belakang motor.

"Sabar.....sabar.. Kita berhenti saja dulu buat nyari sinyal," kata travelmateku dengan sabar.

Aku pikir karena kita sudah membeli internet dengan kartu perdana terbaik disini, perjalanan akan lancar. Tapi ternyata perjalanan kami tersendat. Titik biru penunjuk lokasi di google map tidak mau jalan mengikuti laju motor.

Tujuan pertama kami adalah Stupa Boudhanath yang terletak di Kota Boudha, 6 kilometer sebelah timur Thamel. Sebenarnya cukup dekat dan cepat jika sinyal internet ini lancar, tidak hilang muncul seperti ini.

" Sampe pengen takbanting ni HPku," kataku lagi dengan kesal.

"Bukan salah HPmu kok. Santai aja bro," kata travelmateku lagi.

Setelah menunggu beberapa saat dan akhirnya titik biru di google map mau berjalan juga, kami melanjutkan perjalanan menuju Stupa Boudhannat. Tentu saja google map tidak selalu lancar, sehingga kami sempat tersesat sehingga harus bolak-balik jalan yang sama dua kali.

Melewati jalanan kecil berkelok-kelok dan berdebu, akhirnya sampai juga kami di Stupa Boudhannat. Aku cukup terkejut karena meskipun merupakan salah satu destinasi wisata utama di Kathmandu, tapi pintu masuk Stupa Boudhannat sangat kecil. Hampir tidak bisa dibedakan dari bangunan di sekitarnya. Stupa Buddha berwarna emas yang menjulang tinggi menjadi petunjuk kuat kami bahwa ini adalah tempatnya.

Karena tidak ada tempat parkir motor resmi, kami menitipkan motor pada lelaki tua penjaga ruko di depan Stupa Bouddhanat. Pasrah saja. Pasti semua akan baik-baik saja.

Kami menghabiskan waktu sekitar 45 menit di Stupa Boudhanath. Tidak ada biaya masuk yang ditarik sewaktu kami memasuki gerbang, padahal ada penjaga di pintu gerbang. Aku rasa disini mereka hanya mengandalkan kejujuran. Kamu jujur kamu bayar, demikian juga sebaliknya. Prinsip yang baik di sebuah negara yang percaya adanya karma.

Stupa Boudhanath bisa dibilang merupakan salah satu tempat paling suci di Nepal. Stupa ini mempunyai gelar stupa terbesar di Nepal, sekaligus Kuil Buddha Tibet tersuci di luar Tibet sendiri. Hal itu bisa terinterpretasi dari banyaknya simbol Buddhisme disini.

Stupa Boudhanath berbentuk persegi dengan mandala berbentuk setengah bola. Bagian utama stupa terlihat sedang direnovasi karena rusak akibat gempa dahsyat berskala 7,8 SR yang meluluhlantahkan Nepal pada 25 April 2015. Tapi rupanya itu sama sekali bukan penghalang, karena masih banyak umat Buddha yang menjalankan ritual mengelilingi stupa sembari berkomat-kamit dan memutar roda doa. Bagi mereka, perjalanan ini adalah suatu perjalanan devosional, perjalanan untuk menuju pencerahan. Kontras dengan kami para turis yang hanya berfoto disana-sini.

Pemandangan di sebelah kiri jalur jalan kaki peziarah didominasi oleh puluhan ruko, cafe, hostel, tempat yoga dan meditasi, restoran, bahkan tempat penukaran uang. Dua konsep berbeda yang dipaksakan berada di satu tempat yang sama.

Kami melangkahkan kaki searah jarum jam mengelilingi stupa. Tanganku beberapa kali memutar roda doa yang banyak terdapat di sekeliling stupa. Rasanya begitu damai dan tentram disini.

Kami memasuki bagian dalam stupa untuk menuju tingkat kedua. Pada bagian dalam, terdapat roda doa yang lebih besar dan tempat bersembahyang. Aku menikmati suasana religi yang benar-benar terasa disini. Bagaimanapun, ini adalah perjalanan yang indah.

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Setelah memberi 'uang parkir' 20 Npr kepada penjaga toko, kami mengarahkan motor ke barat menuju Swayambhunath Stupa. Jarak yang harus kami tempuh sekitar 10 kilometer. Terasa cukup jauh dengan keadaan Kathmandu yang cukup macet dan berdebu dimana-mana....

Stupa Swayambhunath, kami datang!

Memutar roda doa atau roda mani yang berisi mantra suci (GALUH PRATIWI)

Memutar roda doa harus searah jarum jam (GALUH PRATIWI)

Berziarah mengelilingi Stupa Boudhanat sembari membawa kalung doa (GALUH PRATIWI)

Kami mengikuti jalan para peziarah mengelilingi Stupa (GALUH PRATIWI)

Toko pernak-pernik untuk sembahyang umat Buddha (GALUH PRATIWI)

Berziarah seakan tidak memperdulikan keadaan sekitar yang ramai oleh turis (GALUH PRATIWI)

Kehidupan duniawi di sekitar Stupa Boudhanat (GALUH PRATIWI)

Memutar roda doa atau roda mani yang berisi mantra suci (GALUH PRATIWI)

Monasteri di dalam Stupa Boudhanat (GALUH PRATIWI)

Stupa Boudhanat sedang dalam renovasi setelah gempa dahsyat pada 25 April 2015 (GALUH PRATIWI)

Part Selanjutnya: DISINI

[PART 13] Menggapai Himalaya : Menjelajah Jantung Kota Tua Kathmandu !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                           Part Sebelumnya: DISINI

Bermain bersama merpati di Kathmandu Durbar Square, dengan latar salah satu kuil yang masih dalam proses pemulihan pasca gempa Nepal 2015

Menjelang pukul lima pagi, setelah hampir semalaman berguncang di jalanan pegunungan Nepal yang rusak dan berliku, bus akhirnya memasuki Kathmandu. Aku langsung menoleh ke luar jendela. Langit masih gelap kebiruan, sementara lampu-lampu jalan masih menyala samar. Jalanan terlihat lengang, jauh berbeda dengan bayanganku tentang ibu kota Nepal yang selama ini hanya kulihat dari foto dan cerita para backpacker.

Beberapa menit kemudian bus memasuki kawasan Thamel. Inilah kawasan yang sejak awal menjadi tujuan kami. Hampir semua backpacker yang datang ke Kathmandu pasti mengenal nama ini. Thamel adalah jantung wisata Kathmandu, tempat berkumpulnya hotel murah, agen trekking, restoran, money changer, hingga toko perlengkapan pendakian Himalaya.

Bus berhenti dan kami segera turun sambil memanggul ransel masing-masing.

Meski tidak tidur hampir semalaman, entah kenapa aku justru tidak merasa mengantuk. Atau mungkin lebih tepatnya, rasa kantuk itu kalah oleh rasa penasaran dan antusiasme. Ada kota baru yang menunggu untuk dieksplorasi. Ada pengalaman-pengalaman baru yang mungkin akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Udara pagi Kathmandu terasa jauh lebih dingin dibandingkan Lumbini. Aku langsung merapatkan jaket sambil berjalan menyusuri lorong-lorong Thamel yang masih sepi.

Suasananya terasa unik.

Deretan toko berjajar di kanan kiri jalan dengan pintu rolling door yang masih tertutup rapat. Beberapa papan nama hotel, restoran, money changer, dan toko perlengkapan gunung menggantung di atas jalan sempit yang hampir kosong. Sesekali terlihat satu dua orang berjalan kaki, sementara sebagian besar kota tampaknya masih tertidur.

Kami berjalan perlahan sambil mencari penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Saat itu GPS di ponsel belum secanggih sekarang dan internet juga tidak selalu tersedia. Jadi kami beberapa kali berhenti untuk mencocokkan alamat yang kami bawa dengan papan-papan nama yang ada di sepanjang jalan.

Akhirnya penginapan itu ditemukan.

Sayangnya ada satu masalah kecil.

Pintunya masih tertutup rapat.

Aku melihat jam tangan. Baru pukul lima pagi.

Tentu saja terlalu pagi untuk check-in.

Kami sempat mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Mau tidak mau kami akhirnya duduk di depan penginapan sambil menunggu pemiliknya bangun atau resepsionis mulai bekerja.

Dan justru saat itulah rasa kantuk mulai datang menyerang. Kepalaku terasa berat. Mataku mulai sulit terbuka. Setelah semalaman berjaga di dalam bus yang melaju di tepi jurang, tubuhku akhirnya mulai menagih istirahatnya.

Aku duduk bersandar di dinding sambil memperhatikan Thamel yang perlahan mulai terbangun dari tidurnya. Satu per satu toko mulai membuka rolling door. Seorang pria tua terlihat menyapu trotoar di depan tokonya. Dari kejauhan terdengar suara motor pertama pagi itu. Cahaya matahari perlahan mulai menyusup di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri rapat di sepanjang jalan.

Aku menarik napas panjang.

Beberapa jam yang lalu aku masih berada di jalan pegunungan yang membuatku berpikir tentang kematian. Kini aku duduk di jantung Kathmandu, menunggu sebuah penginapan dibuka.

Begitulah perjalanan.

Kadang dalam satu malam saja, hidup bisa membawa kita dari rasa takut menuju rasa bahagia. Dan pagi itu, meski mataku nyaris tertutup karena kantuk, ada satu perasaan yang jauh lebih kuat daripada rasa lelah.

Aku akhirnya sampai di Kathmandu. Kota yang selama bertahun-tahun hanya menjadi titik kecil di peta dan daftar mimpi seorang mahasiswa yang gemar membaca buku-buku perjalanan. Aku benar-benar disini.

***

Sekitar pukul sepuluh pagi, aku akhirnya terbangun. Entah berapa lama aku tertidur setelah berhasil check-in pagi tadi. Yang jelas, rasa lelah akibat perjalanan panjang dari Lumbini sudah jauh berkurang. Setelah mandi dan membereskan barang-barang seperlunya, kami memutuskan untuk langsung keluar mengeksplorasi Kathmandu.

Tujuan pertama tentu saja kawasan Thamel.

Kalau Khao San Road adalah jantung backpacker di Bangkok, maka Thamel bisa dibilang versi Nepalnya. Kawasan ini sudah menjadi pusat wisatawan asing sejak era 1970-an, ketika gelombang hippie dan pelancong dari Eropa mulai berdatangan ke Nepal untuk mencari petualangan, spiritualitas, maupun sekadar menikmati suasana Himalaya. Sejak saat itu, gang-gang sempit Thamel berkembang menjadi labirin hotel, restoran, toko suvenir, agen perjalanan, money changer, hingga toko perlengkapan gunung.

Begitu mulai berjalan kaki, aku langsung paham kenapa banyak backpacker betah berhari-hari tinggal di sini.

Hampir setiap bangunan di sepanjang jalan menawarkan sesuatu. Ada toko yang menjual pashmina, syal kasmir, dan kerajinan tangan khas Nepal. Di sebelahnya berdiri agen trekking yang menawarkan pendakian ke Everest Base Camp, Annapurna Circuit, hingga Langtang. Tak jauh dari sana ada money changer, toko buku bekas, rental sepeda, hingga restoran dengan menu dari berbagai penjuru dunia.

Satu hal yang langsung menarik perhatianku adalah kondisi kabel listriknya.

Aku sudah cukup sering melihat kabel semrawut di berbagai negara Asia, tetapi yang ada di Kathmandu benar-benar berada di level yang berbeda. Di beberapa persimpangan, kabel-kabel hitam menggantung kusut membentuk gumpalan raksasa yang sulit dibedakan mana kabel listrik, mana kabel telepon, dan mana kabel internet. Kalau tidak melihat langsung, mungkin aku akan mengira itu sarang burung berukuran raksasa yang menempel di tiang listrik.

Meski terlihat semrawut, justru pemandangan seperti itulah yang membuat Kathmandu terasa memiliki karakter yang kuat. Kota ini sama sekali tidak berusaha tampil rapi atau modern seperti Singapura. Ia tampil apa adanya.

Menjelang siang, perut kami mulai kembali mengingatkan bahwa sejak pagi belum ada makanan yang benar-benar mengenyangkan masuk ke lambung. Kami akhirnya mampir ke salah satu restoran di kawasan Thamel dan memesan steak yang harganya sekitar empat dolar Amerika.

Bagi ukuran backpacker dengan anggaran terbatas, menu itu sebenarnya sudah tergolong mewah.

Aku masih ingat piring besi panas yang mengepulkan asap saat diantar ke meja. Dagingnya disiram saus lada hitam, ditemani kentang goreng dan sayuran rebus. Setelah beberapa hari terakhir lebih sering makan makanan India dan Nepal, menyantap steak sederhana seperti itu terasa seperti hadiah kecil untuk diri sendiri.

Selesai makan, kami kembali melanjutkan eksplorasi.

Semakin jauh berjalan dari pusat Thamel, suasana kota mulai berubah. Jalan-jalan yang kami lewati terlihat jauh lebih berdebu. Di beberapa titik tampak proyek perbaikan jalan yang masih berlangsung. Tumpukan pasir, batu, dan material bangunan terlihat di pinggir jalan. Kendaraan, sepeda motor, pejalan kaki, hingga becak barang berbagi ruang yang sama di jalanan yang sempit.

Sesekali kami harus menepi memberi jalan pada motor yang melintas dari arah berlawanan.

Meski terlihat kacau, kehidupan kota berjalan dengan ritmenya sendiri.

Pedagang membuka toko, pekerja mengangkut barang menggunakan gerobak dorong, anak-anak pulang sekolah, dan para wisatawan berjalan sambil sesekali melihat peta atau bertanya arah.

Aku juga cukup menikmati melihat etalase toko-toko kecil yang menjual berbagai macam barang. Ada toko alat tulis, toko mainan, toko pakaian, hingga kios-kios kecil yang bahkan sulit kutebak apa sebenarnya yang mereka jual. Banyak di antaranya menempati bangunan tua yang usianya mungkin sudah puluhan tahun.

Berjalan kaki di Kathmandu saat itu terasa seperti menyusuri kota yang sedang berusaha bangkit.

Kurang dari satu setengah tahun sebelumnya, Nepal baru saja diguncang gempa besar pada April 2015 yang menewaskan ribuan orang dan merusak banyak bangunan bersejarah di Kathmandu Valley. Meski kehidupan sudah kembali berjalan normal, jejak-jejak bencana tersebut masih bisa ditemukan di berbagai sudut kota.

Dan tak lama kemudian, kami melihat salah satu contohnya secara langsung.

Di sebuah area terbuka yang dipagari sementara, tampak hamparan bata merah dan puing-puing bangunan tua yang masih dalam proses penataan. Beberapa warga terlihat sedang melakukan ritual keagamaan di dekatnya, sementara papan informasi menjelaskan bahwa lokasi tersebut adalah Kasthamandap.

Konon, bangunan bersejarah inilah yang menjadi asal-usul nama Kathmandu. Kasthamandap merupakan paviliun kayu kuno yang dipercaya dibangun pada abad ke-12 dan selama berabad-abad menjadi salah satu ikon kota. Sayangnya, bangunan tersebut runtuh saat gempa besar Nepal tahun 2015.

Saat kami berdiri di sana, yang tersisa hanyalah area reruntuhan dan proses pemulihan yang masih berlangsung. Sulit membayangkan bahwa bangunan yang pernah bertahan selama ratusan tahun bisa roboh hanya dalam hitungan menit.

Namun di sisi lain, melihat warga yang tetap beraktivitas, beribadah, dan melanjutkan kehidupan di sekitar reruntuhan itu juga menunjukkan sesuatu yang lain. Kathmandu memang terluka oleh gempa. Tapi jelas dia tidak menyerah.

Dari Thamel kami terus berjalan kaki menuju Kathmandu Durbar Square. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar belasan menit berjalan santai melewati gang-gang tua Kathmandu yang terasa hidup sekaligus semrawut. Semakin dekat ke pusat kota lama, suasananya mulai berubah. Bangunan-bangunan modern perlahan berganti dengan rumah-rumah bata merah berusia ratusan tahun, jendela kayu berukir khas Newari, serta kuil-kuil kecil yang muncul hampir di setiap sudut jalan.

Ketika akhirnya memasuki kawasan Durbar Square, kesan pertama yang muncul justru bukan kekaguman, melainkan rasa haru. Aku datang ke Nepal hanya sekitar satu tahun setelah Gempa Nepal 2015, salah satu bencana terbesar dalam sejarah negara itu. Gempa berkekuatan 7,8 magnitudo tersebut menewaskan ribuan orang dan menghancurkan banyak bangunan bersejarah di Lembah Kathmandu yang telah berdiri selama berabad-abad.

Dan jejak bencana itu masih terlihat jelas di mana-mana. Beberapa kuil masih ditopang balok-balok kayu besar agar tidak roboh. Sebagian bangunan hanya menyisakan pondasi dan tumpukan batu bata. Di beberapa titik berdiri papan informasi yang menjelaskan bangunan mana yang rusak, mana yang sedang direstorasi, dan mana yang hancur total akibat gempa.

Namun yang menarik, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Di salah satu sudut lapangan, aku melihat beberapa perempuan sedang melakukan ritual keagamaan di depan api kecil yang menyala. Orang-orang lalu lalang, berdoa, berbincang, atau sekadar duduk menikmati sore. Bagi warga Kathmandu, kawasan ini bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Kathmandu Durbar Square sendiri merupakan jantung Kerajaan Kathmandu pada masa lalu. Selama berabad-abad kawasan ini menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja Dinasti Malla sebelum Nepal dipersatukan oleh Prithvi Narayan Shah pada abad ke-18. Karena nilai sejarah dan budayanya yang sangat tinggi, kawasan ini kemudian ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Berjalan di sini rasanya seperti berjalan di sebuah museum terbuka.

Hampir setiap bangunan memiliki cerita. Hampir setiap sudut menyimpan sejarah.

Salah satu bangunan yang menarik perhatianku adalah Kasthamandap, bangunan kuno yang konon menjadi asal-usul nama "Kathmandu". Menurut legenda, bangunan tersebut dibangun dari kayu satu pohon raksasa pada abad ke-12. Sayangnya ketika aku datang, yang tersisa hanya area reruntuhan dan proses restorasi. Gempa 2015 menghancurkan bangunan bersejarah tersebut hingga rata dengan tanah.

Melihat foto-foto kondisi sebelum gempa yang dipasang di papan informasi lalu membandingkannya dengan kondisi di depanku membuatku benar-benar menyadari betapa dahsyatnya bencana itu.

Tidak jauh dari sana berdiri beberapa kuil tua yang masih bertahan. Sebagian terlihat miring, sebagian lagi ditopang balok-balok kayu darurat. Anehnya, justru kondisi itulah yang membuat tempat ini terasa begitu nyata. Aku tidak sedang melihat bangunan bersejarah yang sempurna, melainkan melihat sebuah kota tua yang sedang berjuang bangkit.

Di antara bangunan-bangunan kuno itu, ada satu hal lain yang tidak mungkin dilewatkan.

Merpati.

Jumlahnya luar biasa banyak.

Atap-atap kuil seolah berubah menjadi rumah bagi ribuan merpati. Mereka bertengger di setiap sudut genteng, memenuhi halaman kuil, bahkan nyaris menutupi tumpukan batu bata bekas bangunan yang runtuh. Para pedagang menjual biji-bijian untuk wisatawan yang ingin memberi makan mereka.

Tentu saja aku ikut mencobanya.

Beberapa genggam biji-bijian langsung mengubah suasana. Dalam hitungan detik puluhan merpati berhamburan mendekat. Sayap mereka mengepak ke segala arah, menciptakan suara gemuruh yang khas. Aku tertawa sendiri melihat betapa agresifnya mereka berebut makanan.

Mungkin terdengar sederhana, tetapi momen itu menjadi salah satu kenangan yang paling kuingat dari Kathmandu.

Di sekelilingku berdiri kuil-kuil berusia ratusan tahun yang sebagian masih luka akibat gempa. Di atasnya ribuan merpati beterbangan tanpa peduli pada sejarah, politik, maupun bencana yang pernah terjadi. Dan di tengah semua itu, aku berdiri sebagai seorang backpacker yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Nepal.

Kadang-kadang kebahagiaan memang sesederhana itu.

Tidak perlu naik gunung. Tidak perlu mencapai tujuan besar. Cukup berdiri di sebuah tempat yang selama bertahun-tahun hanya ada dalam imajinasi, lalu menyadari bahwa akhirnya kita benar-benar berada di sana.

Setelah puas berkeliling dan bermain bersama merpati, kami melanjutkan langkah menyusuri bagian lain Kathmandu Durbar Square. Semakin jauh berjalan, semakin banyak detail menarik yang bermunculan. Toko-toko kecil menjual lukisan thangka berwarna-warni, ukiran kayu khas Nepal, patung-patung Buddha dan Hindu, hingga berbagai kerajinan tangan yang memenuhi teras bangunan tua di sepanjang alun-alun.

Dan tanpa sadar, hampir setengah hari telah berlalu hanya untuk menjelajahi satu sudut kecil Kathmandu.

Padahal masih banyak tempat lain yang menunggu untuk kami lihat.

Setelah puas berkeliling di sekitar Kathmandu Durbar Square, aku terus melangkah menyusuri lorong-lorong dan halaman-halaman kecil yang saling terhubung satu sama lain. Semakin jauh berjalan, semakin terasa bahwa kawasan ini bukan sekadar sebuah alun-alun bersejarah. Seluruh area ini seperti sebuah kota tua yang masih hidup, tempat sejarah, agama, dan kehidupan sehari-hari bercampur menjadi satu tanpa batas yang jelas.

Di salah satu sudut, aku menemukan sebuah gerbang bata merah yang cukup mencolok. Gerbang itu dihiasi ukiran warna-warni yang rumit, sementara sepasang singa putih berdiri menjaga pintu masuknya. Dari kejauhan bangunan tersebut terlihat megah, namun ketika didekati, bekas-bekas gempa bumi yang mengguncang Nepal setahun sebelumnya masih tampak jelas di berbagai sudutnya.

Sebagian bangunan di sekitarnya masih disangga balok-balok kayu besar. Tumpukan bata merah terlihat di sana-sini. Beberapa kuil tampak kehilangan bagian atap atau ornamen yang dulu menghiasinya. Namun yang menarik, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Warga duduk santai di teras bangunan bersejarah, pedagang menawarkan dagangannya, sementara wisatawan dan peziarah lalu-lalang memenuhi kawasan tersebut.

Pemandangan seperti ini membuatku terus teringat bahwa Kathmandu bukanlah kota yang dibangun untuk wisatawan. Ini adalah kota yang benar-benar hidup.

Bangunan-bangunan tua di sini bukan museum yang dipagari dan dijaga ketat. Kuil-kuil masih digunakan untuk beribadah. Halaman-halaman kuno masih menjadi tempat berkumpul warga. Bahkan beberapa bangunan yang sedang direstorasi pun tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kathmandu.

Di tengah kawasan aku juga menemukan beberapa kuil khas Nepal yang bentuknya sangat berbeda dengan kuil-kuil yang biasa kulihat di Asia Tenggara. Atapnya bertingkat-tingkat seperti pagoda dengan dominasi kayu berukir yang luar biasa detail. Sulit membayangkan bahwa sebagian besar bangunan tersebut dibangun ratusan tahun lalu oleh para pengrajin Newari yang terkenal akan kemampuan seni pahat mereka.

Setiap sudut seolah memiliki cerita.

Ada kuil yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Malla saat Kathmandu masih berupa kerajaan-kerajaan kecil yang saling bersaing. Ada bangunan yang menjadi bagian dari kompleks Hanuman Dhoka, istana kerajaan Nepal selama berabad-abad. Ada pula bangunan keagamaan yang menjadi saksi berbagai upacara kerajaan, penobatan raja, hingga festival-festival besar yang masih berlangsung sampai sekarang.

Yang membuatku semakin terkesan adalah bagaimana kawasan ini berhasil bertahan melewati begitu banyak peristiwa sejarah. Gempa bumi besar berkali-kali mengguncang Kathmandu selama ratusan tahun, termasuk gempa dahsyat tahun 2015 yang meruntuhkan banyak bangunan bersejarah. Namun masyarakat Nepal selalu membangunnya kembali, batu demi batu, kayu demi kayu.

Di beberapa lokasi bahkan aku bisa melihat langsung proses restorasi yang masih berlangsung. Balok penyangga dipasang di dinding bangunan tua, sementara tumpukan bata merah menunggu untuk digunakan kembali. Pemandangan itu mungkin terlihat biasa bagi warga setempat, tetapi bagiku justru menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sesuatu yang bisa bertahan dengan sendirinya. Selalu ada orang-orang yang bekerja keras untuk menjaganya tetap hidup.

Tak jauh dari sana berdiri sebuah stupa putih yang bentuknya cukup kontras dibandingkan bangunan bata merah di sekitarnya. Stupa tersebut dikenal sebagai Kathesimbhu Stupa, salah satu stupa Buddha penting di pusat Kathmandu. Konon stupa ini dibangun sebagai replika dari Swayambhunath yang berada di atas bukit sebelah barat kota. Pada masa lalu, tidak semua orang mampu melakukan perjalanan ke Swayambhunath, sehingga dibangunlah stupa ini agar masyarakat tetap bisa beribadah di pusat kota.

Suasananya terasa jauh lebih tenang dibandingkan area utama Durbar Square. Beberapa warga berjalan memutari stupa sambil berdoa, sementara yang lain duduk santai menikmati sore yang mulai mendung.

Aku berhenti cukup lama di sana.

Bukan karena ada aktivitas khusus yang ingin kulihat, melainkan karena aku mulai menyadari betapa menariknya Kathmandu. Kota ini memang tidak selalu cantik dalam pengertian yang biasa. Jalanannya berdebu, kabel listrik semrawut menggantung di mana-mana, bangunan tua berdempetan dengan bangunan modern yang seadanya, dan bekas gempa masih terlihat jelas di berbagai sudut.

Namun justru semua ketidaksempurnaan itu yang membuat Kathmandu terasa begitu nyata.

Kota ini tidak mencoba menjadi rapi atau megah untuk menyenangkan wisatawan. Ia tampil apa adanya. Penuh sejarah, penuh luka, penuh kehidupan.

Dan semakin lama aku berjalan di antara kuil-kuil tua, stupa, rumah-rumah bata merah, serta keramaian warga lokal, semakin aku merasa bahwa inilah alasan mengapa banyak orang jatuh cinta pada Kathmandu. Bukan karena kotanya sempurna, melainkan karena kota ini memiliki jiwa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata...


Part Selanjutnya: DISINI

[PART 12] Menggapai Himalaya : Perjalanan Menantang Maut dari Lumbini ke Kathmandu !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI

Bus Lumbini - Kathmandu yang kami tumpangi..

"Tidak, tidak ada bus turis yang berangkat malam hari. Jika kamu harus berangkat malam ini, kamu harus memakai bus lokal."

"Tidak masalah, di mana aku bisa membeli tiketnya?" jawabku. Aku justru senang. Bus lokal pasti lebih murah tentunya.

Ternyata perjalanan malam hari itu menyadarkanku sesuatu, bahwa kematian itu begitu dekat. Kematian bisa mengincar kita kapan saja.

Aku melihat sisi kiriku, roda bus hanya berjarak kurang dari satu meter ke bibir jurang! Kalau sampai bus ini terpeleset dan jatuh, tidak ada kesempatan lagi. Kami akan digilas oleh derasnya aliran sungai yang membelah perbukitan di bawah sana.

Jantungku berdegup kencang. Aku nyaris tidak tidur semalaman. Busku berjalan lambat beriringan dengan beberapa bus dan truk di depan. Jalanan bergelombang, rusak parah dan berlubang-lubang mengular berpuluh-puluh kilometer ke depan. Jalanan basah dan licin sehabis diguyur hujan deras, sebelah kiri jurang menganga. Medan perbukitan meliuk-liuk menanti kami. Menambah sedikit kecepatan lagi tentunya mempertaruhkan nyawa puluhan penumpang di bus yang kebanyakan tertidur pulas.

Di tengah ketakutanku aku membuka jendela. Semburan angin dingin langsung menampar wajahku. Aku tersenyum bahagia. Aku telah resmi memasuki kawasan Pegunungan Himalaya. Bukankah ini mimpiku sejak dulu? Aku biarkan udara dingin menerpa wajahku selama beberapa saat. Kurapatkan jaketku. Ketakutanku sedikit berkurang.

Pada tengah malam, kami berhenti beberapa saat di sebuah kedai kecil untuk makan dan buang air kecil.

"Aku malas makan, ayo kita beli teh chai saja," kataku ke temanku.

Perjalanan kembali berlanjut, kututup kembali kaca jendelaku. Udara semakin dingin. Aku mencoba memejamkan mata. Berpasrah pada Tuhan, pada sopir bus, pada takdir. Aku sedikit tersenyum, apakah aku berbahagia di tengah kematian yang bisa saja mengincarku?

Part Selanjutnya: DISINI

[PART 11] Menggapai Himalaya : Melacak Jejak Langkah Buddha di Tanah Suci Lumbini ! (2)

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                              Part Sebelumnya: DISINI 

Roda doa raksasa (prayer wheel atau Mani wheel) berwarna merah menyala dengan ukiran mantra Om Mani Padme Hum yang berada di The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa (biara beraliran Buddha Tibet)

Setelah berpamitan dengan bapak ibu kenalan baru kami, kami kembali naik ke rickshaw tua kami. Kali ini, kayuhan sepeda bapak tua membawa kami menuju pemberhentian berikutnya yaitu Kompleks Royal Thai Monastery, sebuah biara megah yang dibangun oleh negara Thailand.

Saat kami tiba di sana, hari sudah beranjak sore, sekitar jam 16.30. Namun matahari khas Nepal masih menyinari bumi dengan sangat terik dan menyengat, seolah enggan meredupkan sinarnya. Untungnya, kompleks ini dikelilingi oleh banyak pepohonan rimbun. Di antara batang-batang pohon itu, angin sore berembus sepoi-sepoi, lumayan memberikan sedikit kesegaran di tengah hawa panas yang membakar kulit.

Suasana kompleks biara terasa begitu sepi, lengang, dan damai. Tidak ada keriuhan turis ataupun hiruk-pikuk kota; hanya ada kesunyian yang pekat, seakan-akan waktu sedang melambat di sini. Di beberapa sudut, tampak satu-dua peziarah berjalan dalam diam atau duduk termenung, benar-benar larut dalam keheningan tempat ini.

Begitu memasuki area gerbang, sebuah bangunan bergaya arsitektur khas Thailand langsung mencuri perhatian kami. Desain atapnya yang bertumpuk dengan hiasan merah menyala dan ukiran emas murni kelihatan kontras sekali dengan dinding putihnya yang bersih dan megah. Aku sempat berpose sebentar di depan tangga utamanya, menangkupkan kedua tangan di dada untuk memberi salam hormat.

Lagi-lagi, kami harus melepas alas kaki sebelum mengeksplorasi lebih jauh. Berjalan di atas pelataran ubinnya yang masih menyimpan sisa panas matahari siang membuat kami harus melangkah cepat-cepat supaya telapak kaki tidak melepuh. Di area halaman luar yang beralaskan rumput hijau, perhatianku tersita oleh sebuah tenda yang menaungi deretan batu bulat besar berlapis emas. Batu-batu tersebut dipenuhi oleh tempelan kertas emas yang disematkan oleh para peziarah yang datang ke sini untuk berdoa. Di belakangnya, terdapat papan pengumuman beraksara Thailand.

Kami kemudian melangkah perlahan ke bagian dalam aula utama biara. Begitu melewati pintu besar, hawa terik dari luar langsung berganti dengan kesejukan yang menenangkan. Aula dalam ini dibangun dengan sangat megah, memiliki langit-langit tinggi berwarna merah marun yang dihiasi pola-pola dekoratif keemasan. Di bagian tengah ruangan, sebuah altar emas bertingkat berdiri dengan anggun, menopang patung Buddha yang berkilau indah di bawah temaram lampu dalam ruangan.

Fredo memintaku untuk duduk di anak tangga marmer putih, tepat di depan batas pagar altar utama. Sambil menikmati keheningan total di dalam ruangan, aku tersenyum menghadap kamera. Di dekat altar utama, terdapat juga sebuah patung emas berukuran kecil yang menggambarkan sosok Pangeran Siddharta semasa bayi dengan satu tangan menunjuk ke langit, dihiasi rangkaian bunga segar yang ditata rapi di bawah tatakannya.

Sebelum menyudahi kunjungan singkat di biara Thailand ini, kami sempat berjalan ke sisi sayap bangunan yang seluruh arsitekturnya dilapisi warna putih bersih dengan ukiran yang detail. Di sudut lorongnya yang teduh, terlihat dua orang peziarah sedang duduk santai, menikmati semilir angin sore yang berembus pelan di antara pilar-pilar putih.

Keluar dari ketenangan biara Thailand, kami kembali disambut embusan angin sore yang kering. Bapak tua pengayuh rickshaw langsung mengarahkan sepedanya menuju kompleks berikutnya yang tidak kalah mencuri perhatian. Dari kejauhan, sebuah stupa dengan arsitektur yang sangat mencolok dan berbeda dari biara-biara sebelumnya sudah melambai-lambai minta dikunjungi.

Tempat ini bernama The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa. Begitu turun dari rickshaw, aku sempat tertegun melihat perpaduan warnanya. Berbeda dengan biara Thailand yang didominasi warna putih bersih, stupa beraliran Tibet ini berani bermain warna. Atapnya berbentuk kanopi besar berwarna jingga terang, menopang struktur stupa putih di atasnya yang dihiasi ukiran serta relief warna-warni yang sangat meriah khas Vajrayana. Di bagian depan, sebuah papan nama berbentuk lengkungan megah mempertegas nama tempat suci ini.

Sinar matahari sore yang mulai condong masih terasa menyengat saat aku memutuskan duduk sejenak di tepian semen pelataran depan. Bertelanjang kaki di atas lantai yang hangat, aku tersenyum tipis ke arah kamera dengan latar belakang tangga putih yang menanjak menuju bangunan utama. Di sisi kanan tangga, sebuah patung kecil berwarna keemasan berdiri anggun di antara rimbunnya tanaman hias, seolah ikut mengawasi ketenangan tempat ini.

Ritual di Lumbini ini memang melatih kesabaran telapak kaki. Kami kembali melepas alas kaki untuk mengeksplorasi area halamannya yang asri dan beralaskan rumput hijau. Di salah satu sudut taman yang dirawat rapi, langkah kami terhenti di depan sebuah rupang yang sangat indah. Patung seorang perempuan bergaun biru dan kain merah sedang berbaring menyamping dengan posisi yang sangat anggun. Di dekatnya, ada patung gajah putih kecil yang bersembunyi di balik semak. Suasana taman yang sepi, ditemani gesekan daun-daun dari pepohonan sekitar karena tiupan angin sore, membuat momen melihat rupang ini terasa sangat syahdu.

Sebelum naik ke bangunan utama, kami melewati sebuah paviliun terbuka yang menyimpan roda doa raksasa (prayer wheel atau Mani wheel) berwarna merah menyala dengan ukiran mantra Om Mani Padme Hum berwarna emas yang timbul. Ukurannya luar biasa besar, bahkan tingginya melebihi badanku sendiri.

Aku tidak melewatkan kesempatan untuk berdiri di samping roda doa tersebut. Sambil menyentuh permukaannya yang kokoh, aku berfoto di sana. Rasanya magis sekali bisa menyentuh salah satu simbol spiritual Tibet ini langsung di tanah kelahiran Buddha.

Kami kemudian melangkah masuk ke dalam area stupa Tibet ini. Di dalam ruangan, suasananya begitu teduh dan membuatku terpaku. Dindingnya dipenuhi oleh ribuan laci dan kotak kaca kecil yang masing-masing berisi rupang Buddha berukuran mini. Di tengah ruangan tersebut, terdapat altar berwarna merah-emas yang berdiri dengan sangat megah dengan patung Buddha di dalamnya. Aku melangkah mendekat, berdiri di depan altar utama yang indah ini sambil menangkupkan kedua tangan di dada, meresapi setiap jengkal kunjungan spiritual yang begitu berharga.


Kemegahan Klasik Zhong Hua Chinese Buddhist Monastery

Hanya beberapa kayuhan dari stupa Tibet, bapak tua pengayuh rickshaw membawa kami memasuki gerbang biara berikutnya yang suasananya mendadak terasa sangat berbeda. Begitu melihat arsitekturnya, ingatan kami langsung melempar pada film-film kolosal Tiongkok. Ya, ini adalah Zhong Hua Chinese Buddhist Monastery, biara resmi milik negara China di Lumbini.

Matahari sore yang semakin condong ke barat justru memancarkan kilau keemasan yang indah pada atap-atap keramik kuil ini. Berbeda dengan biara-biara sebelumnya yang berukuran lebih bersahaja, kuil China ini terasa sangat megah, kokoh, dan simetris. Halamannya berupa hamparan rumput hijau berhias bunga-bunga tropis yang dirawat sangat rapi. Di tengah jalan setapak menuju bangunan utama, berdiri sebuah tempat pembakaran dupa (incense burner) raksasa dari perunggu, memberikan atmosfer spiritual yang kental.

Uniknya, di sepanjang pagar tanaman dan jalur pejalan kaki di area luar ini, terbentang untaian bendera doa warna-warni (prayer flags) khas Buddha Tibet. Perpaduan antara bendera doa Tibet yang berkibar ditiup angin sore dengan bangunan megah berarsitektur khas dinasti China kuno ini menciptakan pemandangan yang luar biasa cantik. Saat melangkah mendekati aula utama, bentangan bendera doa itu bergelantungan rendah di atas kepala, menciptakan lorong warna-warni yang estetik. Di pelataran depan, tampak beberapa orang lokal dan peziarah sedang bersantai atau mengobrol, menikmati keteduhan sore di area kuil yang bersih ini.

Sebelum masuk ke dalam, kami disambut oleh dua patung penjaga raksasa yang berdiri gagah di balik pagar pembatas kayu. Detail pakaian perang mereka diukir dengan sangat rumit dan dicat warna-warni; yang satu berwajah garang sambil memegang ular kobra hitam, sementara yang satu lagi tampak memegang payung suci dan pusaka. Tatapan mata mereka yang tegas seolah sedang menjaga kesucian tempat ini dari hal-hal negatif.

Di dalam bangunan utama kuil, suasana terasa sangat adem dan sunyi. Di tengah ruangan, sebuah patung Buddha Gautama bertubuh emas berukuran raksasa duduk dengan anggun di atas singgasana teratai. Di belakang rupang tersebut, terdapat lingkaran pelindung berukir emas yang sangat megah. Langit-langit aula dipenuhi oleh panel kayu kotak-kotak berukir khas arsitektur China klasik, menciptakan ruang yang begitu sakral dan membuat siapa pun yang masuk otomatis mengecilkan suara mereka.

Melangkah keluar dari area biara China, sebuah momen tak terduga kembali mewarnai sore kami. Di bawah rindangnya sebatang pohon, kami melihat seorang Bhante sedang duduk santai di dekat motornya. Jubah oranye yang dikenakannya terlihat mencolok di tengah teduhnya pepohonan. Di samping beliau juga tampak sebuah patra besar yang biasa digunakan untuk menerima persembahan.

Melihat beliau yang tampak ramah, aku pun memberanikan diri menghampiri. Bhante itu menyambut kami dengan senyum hangat. Tak lama kemudian aku sudah ikut duduk di sampingnya, beralaskan tanah seperti beliau. Kami mengobrol sebentar, berfoto bersama, lalu melanjutkan perjalanan. Pertemuan yang hanya berlangsung beberapa menit itu entah kenapa terasa begitu berkesan dan menjadi salah satu kenangan manis yang kubawa pulang dari Lumbini.

Setelah berpamitan, bapak tua pengayuh rickshaw kembali mengayuh sepedanya menyusuri jalanan kompleks yang kini terasa jauh lebih teduh dibandingkan siang tadi. Beberapa menit kemudian kami tiba di sebuah pelataran terbuka. Di tengahnya berdiri sebuah patung emas Pangeran Siddharta semasa bayi yang langsung menarik perhatian.

Patung tersebut berdiri di atas alas teratai berwarna emas dengan satu tangan menunjuk ke langit. Sinar matahari sore yang mulai melandai membuat permukaannya berkilauan indah. Pada bagian bawahnya terdapat plakat bertuliskan The Bodhisattva Siddhartha – Visit Lumbini Year 2012.

Tak jauh dari lokasi patung itu, kami menemukan sebuah papan informasi besar yang menjelaskan kawasan Sacred Garden atau Taman Suci Lumbini. Dari sinilah aku kembali membaca sejarah tempat yang selama ini hanya kukenal dari buku-buku dan cerita keagamaan. Kawasan ini merupakan bagian paling penting di Lumbini karena di sinilah dipercaya Siddharta Gautama dilahirkan.

Di dekat gerbang masuk taman suci, perhatianku sempat tertarik pada bendera Nepal yang berkibar tertiup angin sore. Bentuknya yang unik, berupa dua segitiga yang bertumpuk, memang berbeda dari bendera negara mana pun di dunia. Di sekelilingnya terpasang untaian bendera doa warna-warni yang menambah suasana khas kawasan suci ini. Tentu saja aku tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto di sana.

Tak lama kemudian kami berjalan menuju area inti dari seluruh Kompleks Lumbini, yaitu Kuil Mayadevi. Beberapa petugas berjaga di sekitar pintu masuk, sementara suasana di dalam kawasan terasa tenang dan tertata rapi. Pepohonan besar, taman hijau, dan jalur pejalan kaki yang bersih membuat tempat ini terasa jauh berbeda dibandingkan keramaian kota-kota yang sebelumnya kami datangi di India.

Begitu melewati gerbang, bangunan utama Kuil Mayadevi langsung terlihat di depan kami. Bangunan berwarna putih ini sengaja dibangun untuk melindungi situs arkeologi asli yang diyakini sebagai tempat kelahiran Sang Buddha. Di salah satu sisinya terdapat prasasti yang menandai kawasan ini sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sebelum masuk lebih jauh, kami sempat membaca papan informasi yang menjelaskan berbagai temuan arkeologi penting di dalam kompleks tersebut. Mulai dari Marker Stone yang diyakini sebagai titik kelahiran Buddha, relief Ratu Mayadevi, hingga peninggalan Raja Asoka yang berasal dari abad ke-3 sebelum Masehi.

Kami kemudian berjalan mengelilingi area luar kuil. Di sekeliling bangunan utama terbentang reruntuhan bata kuno yang merupakan sisa-sisa vihara, stupa, dan bangunan keagamaan dari berbagai periode sejarah. Bata-bata merah tua itu tersusun membentuk fondasi dan dinding rendah yang kini dikelilingi hamparan rumput hijau.

Saat melangkah masuk ke dalam interior kuil, suasananya mendadak berubah menjadi sangat senyap, sejuk, dan remang-remang. Di sana, kami dihadapkan pada situs arkeologi yang posisinya berada di bawah tanah, layaknya sebuah area ekskavasi yang digali ke bawah. Kami berjalan menyusuri jembatan kayu yang dibangun mengambang di atas hamparan batu-batuan kuno yang bersahaja. Di titik paling bawah dari labirin batu bata purba itulah, terdapat sebuah batu penanda asli (Marker Stone) yang dilindungi kaca tebal. Melihat langsung batuan sederhana di area bawah tanah yang menjadi saksi bisu lahirnya sebuah ajaran besar dunia ini benar-benar memberikan sensasi magis yang spiritual sekaligus membuatku merinding.

Setelah beberapa saat berada di dalam bangunan, kami kembali keluar menuju area terbuka. Cahaya matahari sore yang hangat langsung menyambut kami. Tak jauh dari Kuil Mayadevi terdapat sebuah kolam persegi panjang yang dikenal dengan nama Puskarini atau Sacred Pond.

Menurut tradisi Buddhis, kolam inilah tempat Ratu Mayadevi mandi sebelum melahirkan Siddharta Gautama. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa bayi Siddharta dimandikan di tempat ini setelah kelahirannya. Permukaan air kolam tampak tenang, memantulkan warna langit sore yang perlahan mulai berubah keemasan. Di sekelilingnya, beberapa peziarah duduk menikmati suasana yang damai sambil sesekali memandangi bangunan Kuil Mayadevi yang berdiri di belakangnya.

Kami kemudian melanjutkan langkah menyusuri area taman suci yang dipenuhi sisa-sisa bangunan kuno dari berbagai periode sejarah. Bata-bata merah tua yang tersusun membentuk fondasi dan dinding rendah tersebar di berbagai sudut kawasan. Sebagian merupakan bekas vihara, sebagian lagi adalah sisa-sisa stupa dan bangunan keagamaan yang pernah berdiri di sini berabad-abad lalu.

Menjelang keluar dari kawasan Sacred Garden, kami tiba di sebuah monumen bersejarah lain yang tak kalah penting, yaitu Pilar Asoka.

Pilar batu besar ini didirikan oleh Raja Asoka sekitar tahun 249 SM saat beliau melakukan perjalanan ziarah ke Lumbini. Pada bagian prasastinya tertulis keterangan yang menyebutkan bahwa tempat ini merupakan lokasi kelahiran Sakyamuni Buddha. Keberadaan prasasti tersebut menjadi salah satu bukti arkeologis terkuat yang menghubungkan Lumbini dengan kelahiran Siddharta Gautama.

Kami sempat berhenti cukup lama di depan pilar tersebut sambil membaca papan informasi yang menjelaskan sejarah penemuannya kembali pada akhir abad ke-19. Sulit membayangkan bahwa pilar yang kini berdiri tenang di tengah taman ini telah bertahan lebih dari dua ribu tahun dan masih menjadi saksi bisu perjalanan sejarah hingga hari ini.

Namun saat itu hari sudah benar-benar sore. Bayangan pepohonan mulai memanjang dan langit perlahan berubah warna. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri kunjungan di Sacred Garden.

Setelah berjalan kembali menuju pintu keluar, kami menemui bapak tua pengayuh rickshaw yang sejak tadi menunggu dengan sabar. Beliau lalu mengantar kami kembali ke terminal bus tempat kami membeli tiket siang tadi.

Saat tiba di terminal, suasananya sudah jauh lebih ramai dibandingkan siang hari. Para penumpang mulai berdatangan dengan tas dan barang bawaan mereka masing-masing. Sementara itu langit di atas Lumbini perlahan berubah menjadi jingga.

Petualangan kami di kota kelahiran Sang Buddha akhirnya berakhir di sini.

Malam ini, sebuah perjalanan panjang menanti. Bus menuju Kathmandu sudah bersiap berangkat, dan kami akan kembali menghabiskan semalaman di jalan untuk menuju tujuan berikutnya di Nepal.

Part Selanjutnya: DISINI 

[PART 10] Menggapai Himalaya : Melacak Jejak Langkah Buddha di Tanah Suci Lumbini ! (1)

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI

Pagoda Lokamani Cula Burma (milik negara Myanmar) di dalam Kompleks Lumbini

Aku tertegun menatap lembaran peta Kompleks Lumbini yang membentang di depanku.

Peta Kompleks Lumbini 

"Wuahh... ternyata luas banget, Mas. Enggak mungkin kita keliling jalan kaki, apalagi waktu kita cuma dua jam sebelum bus ke Kathmandu berangkat," kataku pada Fredo, agak sangsi melihat skala areanya.

Belum sempat Fredo merespons, seorang lelaki tua dengan gurat wajah khas lokal mendekati kami. Mengikuti arah pandang kami ke peta, dia langsung menawarkan tumpangan cycle rickshaw—becak kayuh tradisional—untuk berkeliling. Dengan bahasa isyarat dan logat lokalnya, dia meyakinkan kami bahwa berjalan kaki mengelilingi Lumbini dalam waktu singkat adalah misi mustahil, kecuali kami rela kaki gempor dan membuang waktu berharga. Untuk jasanya, lelaki tua itu meminta tarif 500 Rupee Nepal.

Mengingat kondisi kantong, naluri tawar-menawar backpacker kami langsung aktif. Aku mencoba menawar di angka 400 Rupee, beralasan bahwa kami hanyalah mahasiswa yang sedang melanglang buana dengan modal pas-pasan. Setelah negosiasi singkat, dia akhirnya tersenyum setuju. Dia mulai mengayunkan pedal sepedanya dengan penuh semangat, membawa kami menyusuri jalur-jalur teduh di situs suci ini.

Lumbini bukanlah sekadar destinasi wisata biasa. Situs yang terletak di Distrik Rupandehi ini merupakan salah satu pilar ziarah paling sakral bagi umat Buddha di seluruh dunia. Berdasarkan tradisi kuno, di tanah sinilah Ratu Mayadevi melahirkan Pangeran Siddharta Gautama pada tahun 528 SM, tepat di titik yang kini dilindungi oleh Kuil Mayadevi.

Salah satu gerbang keluar Kompleks Lumbini (GALUH PRATIWI)

Tata ruang Situs Lumbini dirancang dengan sangat unik dan penuh filosofi. Di dalam kawasan mahaluas ini, jangan harap kamu bisa menemukan deretan toko suvenir, hotel, atau restoran bising. Semuanya steril, menyisakan zona biara luas yang memancarkan ketenangan. Area biara ini secara geopolitik spiritual dibagi menjadi dua zona utama: Zona Biara Timur dan Zona Biara Barat.

Zona biara dibagi dua yaitu zona biara barat (bagian atas) dan zona biara timur (bagian selatan). Zona tersebut berdasarkan aliran Buddha yang diyakini. (GALUH PRATIWI)

Zona Timur didedikasikan untuk biara-biara beraliran Theravada (tradisi yang lebih tua dan konservatif). Sementara Zona Barat menjadi rumah bagi biara-biara megah beraliran Mahayana dan Vajrayana. Uniknya, kompleks-kompleks biara di sini dibangun langsung oleh berbagai negara di dunia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha, seperti Myanmar, India, Thailand, hingga Sri Lanka. Bahkan, negara-negara Eropa seperti Jerman dan Prancis pun turut mendirikan biara dengan arsitektur memukau di sini.

Pemberhentian pertama kami adalah kompleks biara milik negara Myanmar. Sebuah bangunan suci megah bernama Pagoda Lokamani Cula Burma langsung berdiri gagah menyambut kami. Kubah pagodanya yang dilapisi warna keemasan tampak berkilau megah di bawah sengatan matahari siang. Dengan ukiran arsitektur yang luar biasa detail, cantik, dan presisi, bangunan ini benar-benar memanjakan mata kamera.

Namun, kekaguman itu langsung diuji oleh realitas cuaca. "Panas... panas banget!" ujarku tertahan kepada Fredo.

Sesaat setelah melangkahkan kaki ke pelataran untuk mengelilingi pagoda, telapak kaki kami langsung disambut oleh ubin yang membara. Di setiap area biara di Lumbini, semua pengunjung memang diwajibkan untuk melepas alas kaki sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

Pagoda Lukamani Cula Burma (milik Myanmar) (GALUH PRATIWI)

"Udah, ayo kita keliling cepat aja, terus segera lanjut!" sahut Fredo yang tampaknya juga mulai kepanasan.

Kami pun setengah berjalan cepat mengitari kemegahan pagoda emas itu, mengambil beberapa foto detail, lalu bergegas kembali ke cycle rickshaw. Lelaki Nepal pengayuh becak kami tampak luar biasa. Keringat deras mulai bercucuran di pelipisnya, tetapi gumpalan otot di kakinya tetap stabil mengayuh kayuhan demi kayuhan di jalur berdebu. Keramahannya pun tak surut; dia dengan senang hati melayani rentetan pertanyaan kami tentang Nepal.

"Sir, di Nepal ini mayoritas penduduknya Hindu atau Buddha?" tanyaku, penasaran karena agak ironis mengingat di sinilah tempat lahirnya Sang Buddha.

"Hindu, Madam... Sekitar 70 persen orang Nepal itu beragama Hindu," jawabnya ramah dari atas sadel.

Semangat mengantarkan kami keliling (GALUH PRATIWI)

"Tapi Sir, di sini rasanya sangat tenang dan damai. Sebelumnya kami di India, keadaannya sangat riuh dan berisik. Jadi rasanya agak aneh sekarang suasananya sepi begini," timpal Fredo.

"Yeah, di sini jauh lebih baik dan tenang daripada di Kathmandu," kata lelaki itu seraya tersenyum.

"Sir, kalau bahasa Hindi, kamu bisa bicarakan juga?" tanya Fredo lagi.

"No, kami berbicara bahasa Nepal di sini, Sir," jawabnya tanpa kilah lelah.

Percakapan mengalir santai diselingi tawa kecil sepanjang jalan. Kami melintasi rimbunnya vegetasi Lumbini sebelum akhirnya tiba di pemberhentian berikutnya: kompleks biara milik negara India. Beberapa anak tangga batu menyambut kami di gerbang masuk utama. Dan seperti biasa, ritual melepas alas kaki kembali dilakukan.

Kenampakan bagian depan biara milik India (GALUH PRATIWI)

Saat hendak melangkah masuk, sebuah sayup percakapan yang sangat akrab di telinga menghentikan gerakan kami.

"Dari Indonesia ya Pak?" aku mendengar Fredo tiba-tiba bertanya kepada seorang pria paruh baya yang juga bersiap memasuki biara India.

"Iya, iya," jawab Bapak tersebut dengan wajah terkejut sekaligus sumringah, "Kamu juga?"

"Iya Pak..." jawab Fredo bersemangat.

"Wah, Bapak dari Indonesia ya? Kami baru ketemu orang Indonesia pertama ini, Pak, selama perjalanan darat dari India!" kataku langsung ikut nimbrung dengan perasaan luar biasa senang.

Bertemu dengan teman sebangsa di pelosok negara orang selalu memunculkan kehangatan instan yang magis. Pertemuan itu mencairkan status kami yang asing menjadi seolah kerabat dekat. Kami pun mengobrol akrab, saling melempar cerita perjalanan.

Sembari mengobrol santai, mataku perlahan menjelajahi dinding-dinding biara India yang luar biasa indah. Di sepanjang dinding tersebut, berderet lukisan relief yang merangkum seluruh epik perjalanan spiritual Sang Buddha secara visual. Cerita gambarnya begitu hidup dan memikat, membuatku menghentikan langkah di setiap sudut untuk mengabadikannya lewat lensa kamera. Sebagai seseorang yang sangat menghormati Buddha, berada di ruang penuh visual historis ini rasanya luar biasa.

Lukisan-lukisan tersebut bercerita runtut seperti garis waktu kehidupan:

  • Dimulai dari kelahiran legendaris Pangeran Siddharta, di mana langkah pertamanya di bumi langsung ditandai dengan mekarnya bunga teratai di bawah kakinya, sementara sang ibu, Ratu Mayadevi, mengawasi di latar belakang.

  • Lalu, transisi dramatis ketika sang Pangeran memutuskan meninggalkan semua kemewahan istana dan kesengsaraan duniawi. Ada gambar di mana beliau memotong rambut panjangnya dengan pedang di tepi Sungai Anoma untuk menempuh jalan hidup sebagai pertapa suci.

  • Lukisan berikutnya menggambarkan masa-masa sulit penyiksaan diri ekstrem yang dijalani Siddharta di Hutan Uruvela, Gaya, selama enam tahun. Tubuhnya digambarkan menjadi sangat kurus kering dan lemah hingga tulang-tulangnya menonjol.

  • Hingga tiba pada titik balik esensial: seorang perempuan desa bernama Sujata Garh, yang tidak tega melihat kondisi sang pertapa yang sekarat, mengulurkan semangkuk nasi susu (kheer). Makanan itu menyelamatkan nyawanya dan menyadarkan Siddharta bahwa penyiksaan diri yang ekstrem bukanlah jalan menuju pencerahan—melainkan "Jalan Tengah" (Majjhima Patipada). Di bawah Pohon Bodhi setelah momen itu, beliau akhirnya mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha.

  • Relief berikutnya menampilkan kisah-kisah penuh welas asih, seperti saat seekor gajah dan kera hutan dengan tulus menawarkan madu serta buah-buahan untuk Sang Buddha, hingga momen mengharukan saat beliau dengan tangannya sendiri merawat Biksu Putigatta Tissa yang sedang menderita sakit parah.

  • Ada pula gambaran khotbah pertama pembubaran roda Dhamma (Dhammacakkappavattana Sutta) kepada lima pengikut pertamanya di Taman Rusa Sarnath, India.

  • Kisah legendaris penaklukan Nalagiri, seekor gajah murka yang dilepas untuk membunuhnya, namun justru bertekuk lutut dengan tenang di hadapan pancaran cinta kasih (metta) Sang Buddha.

  • Dan akhirnya, gambar posisi terakhir Sang Buddha saat mangkat dan mencapai Mahaparinibbana di Kusinara—posisi berbaring menyamping ke kanan yang kelak diabadikan dalam patung-patung Reclining Buddha terkenal di berbagai belahan dunia, mulai dari Wat Pho di Bangkok hingga Mahavira Majapahit di Mojokerto.

  • Kelahiran dan langkah pertama Pangeran Siddharta, dibelakangnya adalah sosok Ibunya, Ratu Mayadevi. Langkah kaki Pangeran Siddharta ditandai oleh bunga teratai. (GALUH PRATIWI)

    Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan semua kesengsaraan duniawi dan memotong rambutnya di Sungai Anoma untuk menjadi seorang pertapa (GALUH PRATIWI)

    Pangeran Siddharta melakukan praktek meditasi di Uruvela, Gaya selama 6 tahun. Melakukan penyiksaan diri untuk melepaskan diri dari kesengsaraan duniawi. Tubuhnya menjadi sangat kurus dan lemah saat itu. (GALUH PRATIWI)

    Seorang perempuan desa bernama Sujata Garh tidak tega melihat kondisi Pangeran Siddharta yang sudah sangat lemah sehingga menawarinya nasi susu. Dari situlah Pangeran Siddharta menyadari bahwa penyiksaan diri yang ekstrim bukanlah jalan untuk memperoleh pencerahan. Kemudian beliau pindah bermeditasi di bawah pohon bodhi dan memperoleh pencerahan, mengajarkan ajaran "jalan tengah" dan menjadi Buddha (GALUH PRATIWI)

    Seekor gajah dan kera menawari Buddha madu dan buah-buahan untuk dimakan (GALUH PRATIWI)

    Buddha merawat Biksu Putigatta Tissa yang sedang sakit (GALUH PRATIWI)

    Buddha mengajarkan Dhamma kepada pengikut-pengikutnya di Sarnath (sekarang di India dekat kota Bodh Gaya) (GALUH PRATIWI)

    Buddha menjinakkan gajah yang mengamuk di Nalagiri (GALUH PRATIWI)

    Posisi terakhir Buddha sebelum meninggal. Posisi ini banyak diabadikan di beberapa patung Buddha di berbagai belahan dunia seperti Bangkok (Wat Pho) dan Mojokerto (Mahavira Majapahit) (GALUH PRATIWI)

Di tengah keasyikanku memotret, istri dari Bapak tadi menyusul dan bergabung bersama kami setelah selesai mengitari sudut lain kompleks.

"Ibu beragama Buddha ya? Saya lihat tadi Ibu sempat berdoa di dalam," tanyaku dengan nada sopan.

"Tidak, saya Katolik," jawab Ibu tersebut hangat sambil tersenyum tulus. "Tapi tidak apa-apa kan kita berdoa di sini? Kita harus selalu mengucap syukur karena perjalanan kita sudah diberkahi sampai bisa menginjakkan kaki di tempat sejauh ini."

"Iya, benar sekali, Bu. Oya, asalnya dari mana, Bu?" tanyaku lagi.

"Kami dari Surabaya. Ini sudah hari-hari terakhir kami di Nepal. Sebelumnya kami dari Kathmandu dan Pokhara. Saya senang sekali di sini karena suasananya tenang sekali. Kalau di Kathmandu kemarin sering hujan. Kalau kalian sendiri rutenya dari mana?"

"Kami backpacker-an dari India, Bu. Rencananya setelah ini baru mau lanjut naik bus ke Kathmandu. Di sana bagus ya, Bu?" tanya Fredo bergantian.

"Yah, bagus kok. Cuma pas kami di sana kemarin sayangnya mendung terus setiap hari," cerita Ibu itu menceritakan pengalamannya. "Kalau Pokhara, menurut kami ya biasa saja, rasanya malah mirip seperti Sarangan. Tahu Telaga Sarangan kan? Yang di lereng Gunung Lawu itu? Mirip seperti itu," tambahnya jujur.

Mendengar ucapan Ibu itu, aku dan Fredo langsung tertawa kecil. "Wah, terima kasih banyak informasinya, Bu! Kalimat Ibu barusan jujur sedikit menghibur kami. Soalnya rencana awal kami itu mau ke Pokhara, tapi gara-gara kereta dari India kemarin telat parah, rute ke Pokhara terpaksa kami batalkan."

Kami masih melanjutkan obrolan panjang yang gayeng setelah itu, bertukar cerita tentang suka duka di jalanan, hingga menyempatkan diri untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Usia Bapak dan Ibu ini bisa dibilang sudah tidak muda lagi, rambut mereka memutih, namun pancaran energi dan semangat menjelajah mereka benar-benar mengagumkan.

Melihat mereka, dalam hati aku menggantungkan sebuah harapan: kelak saat aku menua, aku ingin menjadi seperti mereka. Tetap memiliki jiwa petualang yang menyala-nyala, tanpa pernah membiarkan angka usia menjadi batas untuk melihat indahnya dunia.

Waktu dua jam kami akhirnya berputar cepat. Setelah saling melempar senyum dan rentetan nasihat perjalanan yang berharga, kami pun berpisah ke arah yang berlawanan.

Terima kasih, Bapak dan Ibu asal Surabaya. Di tengah tanah suci Lumbini yang asing ini, kehangatan kalian akan selalu saya ingat dalam hati.

Part Selanjutnya: DISINI