Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

9.06.2026

Boyolali, 6 September 2026 : Memandang Kehilangan dari Hamparan Serengeti...


Musik untuk menggambarkan perasaanku..Musik ini kudengarkan sembari menulis tulisan ini..

 Maret 2026, aku mengunjungi Taman Nasional Serengeti di Tanzania, Afrika—salah satu bentang alam liar paling terkenal di dunia, tempat jutaan satwa hidup dan bergerak mengikuti siklus alam yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Sampai sekarang rasanya masih sulit menjelaskan betapa besarnya kehidupan yang kulihat di sana. Bukan hanya karena Serengeti sangat luas, tetapi karena hampir ke mana pun mata memandang, ada kehidupan. Ratusan zebra bergerak di antara padang rumput, wildebeest/nyumbu terlihat di mana-mana, kadang dalam kelompok kecil, kadang memenuhi savana hingga jauh ke cakrawala. Ada impala dan berbagai jenis antelop yang bahkan tidak semuanya kukenal namanya, jerapah yang berjalan pelan di kejauhan, kawanan gajah, kerbau, burung-burung, singa, hyena, dan begitu banyak makhluk lain yang hidup di bentang alam yang sama. Rasanya seperti sedang melihat kehidupan dalam bentuknya yang paling nyata, paling telanjang.


Di Serengeti, semuanya terus bergerak. Hewan-hewan mencari rumput dan air, kawanan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, induk menjaga anaknya, sementara di tempat lain predator mengintai mangsa. Ada yang baru lahir, ada yang sedang berjuang mempertahankan hidup, dan tentu ada yang mati. Rumput tumbuh lalu dimakan herbivora, herbivora menjadi mangsa predator, bangkai dimakan scavenger dan diuraikan organisme lain, kemudian materinya kembali ke tanah dan masuk lagi ke dalam kehidupan berikutnya. Di bentang alam seluas itu, kehidupan dan kematian tidak terlihat sebagai dua hal yang benar-benar terpisah. Keduanya seperti bagian dari satu proses panjang yang terus berlangsung.

Beberapa bulan setelah perjalanan itu, pada Juni 2026, Ibu meninggal. Setelah kepergiannya, untuk beberapa waktu aku bahkan seperti melupakan betapa menakjubkannya perjalanan ke Afrika bulan Maret itu. Foto dan video Serengeti yang sebelumnya terasa begitu berharga justru hampir tidak pernah kubuka. Ada rasa kecewa dan penyesalan yang sulit kuhindari. Aku sempat bertanya-tanya, mengapa beberapa bulan sebelumnya aku memilih pergi begitu jauh, sampai ke belahan dunia lain, ketika ternyata waktu yang tersisa bersama Ibu sudah begitu sedikit. Padahal saat aku berangkat, kondisi Ibu cukup stabil dan tentu saja saat itu aku tidak pernah tahu bahwa hidup akan berjalan seperti ini.

Butuh waktu sampai akhirnya aku mulai berdamai dengan pikiran-pikiran itu. Perlahan aku menyadari bahwa aku sedang menilai keputusan di masa lalu menggunakan sesuatu yang baru kuketahui setelah semuanya terjadi. Aku yang berangkat ke Afrika pada bulan Maret tidak memiliki pengetahuan yang dimiliki oleh diriku pada bulan Juni. Saat itu aku hanya menjalani kehidupan sebagaimana biasanya, sementara Ibu pun masih berada dalam kondisi yang cukup stabil.

Setelah melewati sebagian proses penerimaan itu, suatu hari aku memberanikan diri membuka kembali foto dan video perjalananku di Serengeti. Awalnya kupikir aku hanya akan kembali melihat sebuah perjalanan yang pernah kulakukan. Namun ternyata rasanya sudah sama sekali berbeda. Hamparan savana yang luas, ratusan zebra dan wildebeest yang bergerak dalam kawanan, gajah yang berjalan bersama kelompoknya, impala yang berlarian, hingga jerapah yang tampak begitu kecil di tengah bentang alam yang seolah tidak berujung kini berbicara kepadaku dengan cara yang berbeda.

Anehnya, yang muncul bukan rasa bersalah seperti yang kutakutkan. Justru ada rasa nyaman dan tenang. Semakin lama melihat kehidupan yang bergerak begitu bebas dan nyata di hadapanku dalam rekaman-rekaman itu, semakin muncul pula suatu perasaan yang awalnya sulit kupahami. Entah bagaimana, aku merasa sedikit lebih dekat dengan Ibu. Bukan karena aku membayangkan Ibu berada di Serengeti, bukan pula karena aku menganggap ini sebagai tempat keberadaan orang-orang yang sudah meninggal. Rasanya bukan seperti itu. Mungkin Serengeti hanya mengubah skala pikiranku dalam memandang kehidupan dan kematian.

Dalam kehidupan sehari-hari, kehilangan seseorang yang sangat dekat terasa sangat personal. Setelah Ibu meninggal, pikiran mudah berhenti pada satu kenyataan sederhana : Ibu sudah tidak ada. Tidak ada lagi suaranya, tidak ada lagi orang yang bisa kupanggil “Ma..”, tidak ada lagi percakapan-percakapan kecil yang dahulu terasa biasa. Rumah yang sama pun bisa terasa berbeda hanya karena satu manusia tidak lagi berada di dalamnya. Dalam skala kehidupan sehari-hari, kematian terasa seperti sebuah kekosongan. Dulu ada, sekarang tidak ada.

Tetapi ketika melihat Serengeti, perspektif itu seperti ditarik mundur sangat jauh. Ratusan zebra yang kulihat saat itu masing-masing memiliki kehidupannya sendiri. Begitu pula wildebeest, impala, gajah, jerapah, singa, burung, serangga, pepohonan, dan rumput yang menutupi savana. Sebagian baru memulai kehidupan, sebagian berada di tengahnya, dan sebagian akan segera mengakhirinya. Tetapi kehidupan secara keseluruhan terus berjalan.

Dari sana aku mulai melihat kematian Ibu dengan perspektif yang sedikit berbeda. Ibu pernah menjadi bagian dari fenomena besar bernama kehidupan ini. Ia pernah lahir sebagai seorang bayi, menjadi anak kecil, tumbuh dewasa, memiliki keinginan, ketakutan, kegembiraan dan kesedihannya sendiri. Ia pernah tertawa, marah, bepergian, menikmati makanan yang disukainya, mencintai orang-orang di sekitarnya, lalu suatu hari menjadi ibuku. Selama puluhan tahun ia menjalani bagian kecilnya dalam sejarah kehidupan di planet ini, sampai akhirnya kehidupan biologis itu berhenti.

Aku pun berada di dalam proses yang sama. Begitu pula zebra yang kulihat berlari di Serengeti, wildebeest yang berjalan melintasi padang rumput, anak impala yang mengikuti induknya, kawanan gajah yang bergerak perlahan, atau jerapah yang berdiri di kejauhan. Bentuk kehidupan kami berbeda, panjang waktunya berbeda, dan cerita yang kami jalani tentu berbeda. Tetapi semuanya muncul untuk sementara di dunia yang sama, menjalani kehidupan, bersinggungan dengan kehidupan lain, lalu suatu hari berakhir.

Ada istilah dalam psikologi yang disebut awe, yaitu perasaan ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang begitu besar sehingga pikiran harus memperluas kerangka yang biasa digunakannya untuk memahami dunia. Perasaan ini bisa muncul ketika berdiri di depan lautan, melihat pegunungan yang sangat besar, memandang langit malam penuh bintang, atau berada di tengah bentang alam seperti Serengeti. Dalam keadaan seperti itu, 'aku' terasa mengecil. Bukan berarti keberadaan kita menjadi tidak penting, melainkan kita menyadari bahwa diri kita hanyalah satu bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih luas.

Mungkin itulah yang terjadi padaku. Serengeti tidak menghilangkan kesedihanku karena kehilangan Ibu. Aku tetap merindukannya dan tidak ada pemandangan alam sebesar apa pun yang dapat menggantikan keberadaan seorang ibu. Tetapi Serengeti memberiku ruang yang lebih luas untuk meletakkan kesedihan itu. Kematian Ibu tidak lagi hanya terlihat sebagai satu peristiwa menyakitkan yang terjadi dalam kehidupan pribadiku, tetapi sebagai bagian dari sesuatu yang telah terjadi pada setiap makhluk hidup sejak kehidupan pertama muncul di Bumi.

Ketika melihat kehidupan dari jarak sangat dekat, pikiranku berkata, 'Ibu sudah tidak ada.' Tetapi ketika melihatnya dari jarak yang jauh lebih besar, seperti ketika memandang hamparan Serengeti, kalimat itu perlahan berubah menjadi,

“Ibu pernah menjadi bagian dari kehidupan ini. Aku pun masih menjadi bagian darinya. Dan di hadapan Serengeti, aku seperti melihat kehidupan sebagaimana adanya, dalam bentuknya yang paling telanjang: sesuatu lahir, tumbuh, bertahan untuk sementara, lalu mati, sementara kehidupan terus bergerak. Di sana aku mulai memahami bahwa kematian bukanlah sesuatu yang berdiri di luar kehidupan, bukan pula lawan dari kehidupan. Ia adalah bagian alami dari siklus yang sama.”

Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah kematian. Aku tidak tahu apakah kesadaran tetap ada setelah tubuh berhenti bekerja, dan aku juga tidak merasa harus menciptakan jawaban untuk sesuatu yang memang belum kuketahui. Anehnya, justru ketidaktahuan itu sekarang terasa sedikit lebih mudah diterima. Kadang cukup melihat kembali Serengeti. Kawanan zebra dan wildebeest yang terus bergerak, gajah yang berjalan melintasi savana, jerapah yang berdiri di cakrawala, rumput yang bergoyang diterpa angin, serta kehidupan yang terus berlangsung tanpa menunggu siapa pun.

Dari miliaran manusia yang pernah lahir di planet ini, kehidupan Ibu dan kehidupanku kebetulan bertemu dalam hubungan yang begitu dekat. Ia menjadi ibuku dan aku menjadi anaknya. Selama beberapa puluh tahun, perjalanan kami bahkan berjalan berdampingan. Sekarang aku masih melanjutkan bagianku sementara bagian hidup Ibu sudah selesai.

Mungkin karena itulah melihat Serengeti membuatku merasa dekat dengannya. Bukan karena aku merasa Ibu berada di antara zebra, wildebeest, gajah, atau hamparan savana Afrika, tetapi karena Serengeti mengingatkanku bahwa aku dan Ibu pernah menjadi bagian dari kehidupan yang sama. Di tengah siklus kehidupan yang begitu besar, kami pernah hadir pada waktu yang sama, saling mengenal, saling mencintai, dan menjalani sebagian kecil perjalanan ini bersama.

Dan ketika melihatnya dari skala sebesar itu, entah kenapa kematian terasa sedikit tidak semenakutkan biasanya...