Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

6.09.2026

[PART 12] Menggapai Himalaya : Perjalanan Menantang Maut dari Lumbini ke Kathmandu !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI


Bus Lumbini - Kathmandu yang kami tumpangi..

"Tidak, tidak ada bus turis yang berangkat malam hari. Jika kamu harus berangkat malam ini, kamu harus memakai bus lokal."

"Tidak masalah, di mana aku bisa membeli tiketnya?" jawabku. Aku justru senang. Bus lokal pasti lebih murah tentunya.

Ternyata perjalanan malam hari itu menyadarkanku sesuatu, bahwa kematian itu begitu dekat. Kematian bisa mengincar kita kapan saja.

Aku melihat sisi kiriku, roda bus hanya berjarak kurang dari satu meter ke bibir jurang! Kalau sampai bus ini terpeleset dan jatuh, tidak ada kesempatan lagi. Kami akan digilas oleh derasnya aliran sungai yang membelah perbukitan di bawah sana.

Jantungku berdegup kencang. Aku nyaris tidak tidur semalaman. Busku berjalan lambat beriringan dengan beberapa bus dan truk di depan. Jalanan bergelombang, rusak parah dan berlubang-lubang mengular berpuluh-puluh kilometer ke depan. Jalanan basah dan licin sehabis diguyur hujan deras, sebelah kiri jurang menganga. Medan perbukitan meliuk-liuk menanti kami. Menambah sedikit kecepatan lagi tentunya mempertaruhkan nyawa puluhan penumpang di bus yang kebanyakan tertidur pulas.

Di tengah ketakutanku aku membuka jendela. Semburan angin dingin langsung menampar wajahku. Aku tersenyum bahagia. Aku telah resmi memasuki kawasan Pegunungan Himalaya. Bukankah ini mimpiku sejak dulu? Aku biarkan udara dingin menerpa wajahku selama beberapa saat. Kurapatkan jaketku. Ketakutanku sedikit berkurang.

Pada tengah malam, kami berhenti beberapa saat di sebuah kedai kecil untuk makan dan buang air kecil.

"Aku malas makan, ayo kita beli teh chai saja," kataku ke temanku.

Perjalanan kembali berlanjut, kututup kembali kaca jendelaku. Udara semakin dingin. Aku mencoba memejamkan mata. Berpasrah pada Tuhan, pada sopir bus, pada takdir. Aku sedikit tersenyum, apakah aku berbahagia di tengah kematian yang bisa saja mengincarku?

0 comments:

Posting Komentar