Ternate adalah sebuah kota kecil di Provinsi Maluku Utara, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Maluku. Kalau dilihat di peta, pulaunya memang kecil banget. Di tengah pulau berdiri Gunung Gamalama yang menjulang dan masih aktif sampai sekarang, sementara permukiman dan jalan-jalan kotanya berkembang mengelilingi kaki gunung sampai ke pesisir. Jadi mau bergerak ke arah luar pulau hampir ke mana pun, ujung-ujungnya ya ketemu laut.
Ane sendiri pertama kali mengunjungi Ternate pada tahun 2018. Sejak saat itu sampai sekarang, total ane sudah 8 kali bolak-balik ke Ternate. Kalau seluruh waktu kunjungan itu digabung, mungkin ane sudah menghabiskan waktu lebih dari dua bulan lebih di sini. Jadi bukan sekadar datang dua atau tiga hari, mengunjungi tempat wisata terkenal, foto-foto, terus pulang. Ane sempat cukup lama menjalani kehidupan sehari-hari di Ternate, keliling kotanya, eksplor banyak tempat, naik kendaraan umum, makan makanan lokal, ngobrol dengan orang-orangnya, sampai beberapa hal yang awalnya terasa asing lama-lama justru terasa biasa.
Dan mungkin karena berkali-kali datang itulah, ketika sekarang ane mengingat Ternate, yang muncul di kepala justru bukan cuma tempat-tempat wisatanya. Malah banyak hal receh yang mungkin hanya bisa dirasakan saat kita benar-benar sempat hidup disana. Berikut ini merupakan hal-hal unik yang baru aku sadari setelah tinggal di pulau kecil yang indah ini:
1. Di Ternate, Gunung Gamalama seperti ada dimana-mana!
Ini mungkin salah satu hal pertama yang paling terasa ketika ane berada di Ternate. Gunung Gamalama seperti ada di mana-mana, bahkan sejak ane mendarat di Bandara Sultan Babullah sampe mau masuk kamar wkwk. Bukan literally gunungnya pindah-pindah ya, tapi karena Pulau Ternate pada dasarnya merupakan sebuah pulau vulkanik dengan Gunung Gamalama berdiri tepat di tengahnya, keberadaan gunung ini terasa sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari di kota.
Kalau cuaca sedang cerah, hampir dari berbagai sudut kota kita tinggal nengok ke arah tengah pulau dan puncak Gamalama bakal kelihatan menjulang di belakang rumah-rumah. Bahkan kadang ane nggak perlu sengaja mencari pemandangan gunung. Lagi lewat jalan biasa, keluar dari penginapan, makan, atau sekadar keliling kota, tiba-tiba Gamalama sudah nongol gede banget sebagai latar belakang.
Posisi Kota Ternate sendiri memang unik. Permukiman dan jalan-jalannya berkembang di antara lereng Gunung Gamalama dan garis pantai, sehingga kotanya terasa seperti menempel di kaki gunung. Semakin bergerak ke arah tengah pulau, jalan mulai menanjak menuju lereng Gamalama. Sebaliknya, kalau bergerak menjauhi gunung ke arah luar pulau, ya ujung-ujungnya ketemu laut. Jadi kalau mau disederhanakan banget, orientasi geografis Ternate kurang lebih terasa seperti ini: ke atas = gunung, ke luar/kebawah = laut. Wkwk.
Buat warga Ternate yang sejak lahir sudah melihat Gamalama setiap hari mungkin pemandangan seperti ini terasa biasa aja. Tapi buat ane yang datang dari luar, tetap ada momen-momen ketika lagi melihat ke arah gunung terus kepikiran,
"Buset... itu gunung deket banget."
Apalagi Gamalama bukan gunung mati yang sekadar menjadi latar belakang kota. Gunung setinggi sekitar 1.700 meter ini masih merupakan gunung berapi aktif dan punya sejarah letusan yang panjang. Jadi rasanya memang spesial, ada sebuah kota yang cukup ramai, pelabuhan, pasar, rumah-rumah, hotel dan aktivitas sehari-hari seperti biasa, sementara tepat di belakang semuanya berdiri sebuah gunung berapi aktif yang ukurannya mendominasi hampir seluruh pulau.
Mungkin karena itulah, setelah berkali-kali datang ke Ternate, buat ane Gunung Gamalama bukan sekadar salah satu objek wisata atau pemandangan di kota ini. Gamalama seperti bagian dari identitas Ternate itu sendiri. Mau ke mana-mana rasanya dia selalu ada di belakang sana, seperti sedang mengawasi seluruh kota.
2. Orang Ternate punya patokan arah yang simpel: naik dan turun
Nah, kondisi geografis Ternate yang tadi ane ceritakan ternyata juga berpengaruh ke cara orang memahami arah. Di kota lain kita mungkin terbiasa menggunakan kanan-kiri, utara-selatan, atau menyebut nama jalan dan kawasan. Di Ternate, ada satu patokan arah yang jauh lebih gampang dipahami secara intuitif yaitu naik dan turun. Simpelnya, naik berarti bergerak ke arah Gunung Gamalama, sedangkan turun berarti bergerak ke arah laut.
Dan kalau sudah melihat bentuk Pulau Ternate, sistem seperti ini sebenarnya bisa dipahami. Gunung Gamalama berdiri di tengah pulau, sementara sebagian besar permukiman berkembang dari lereng bagian bawah sampai kawasan pesisir. Otomatis semakin bergerak dari pantai menuju tengah pulau, elevasinya semakin tinggi. Sebaliknya, kalau bergerak menjauhi gunung, jalannya akan semakin turun menuju laut.
Jadi selama berada di Ternate, ane lama-lama punya semacam kompas sederhana di kepala. Kalau jalan yang dilewati mulai nanjak, berarti ane sedang bergerak ke arah dalam atau mendekati gunung. Kalau jalannya turun terus, berarti sedang menuju arah pantai.
Buat pendatang, konsep ini malah lumayan membantu karena Ternate adalah pulau yang relatif kecil. Bahkan ketika sedang agak bingung posisi, setidaknya masih ada satu pegangan yang gampang banget dikenali yaitu lihat kemiringan jalan dan cari Gamalama. Misalnya ketika bertanya lokasi suatu tempat, petunjuknya bisa terasa seperti:
"Dari sini naik sedikit, nanti di pertigaan belok kiri."
Atau:
"Oh, tempatnya di bawah. Turun terus aja ke arah laut."
Buat orang yang baru datang mungkin sempat mikir, “Naik ke mana? Turun ke mana?” Wkwk. Soalnya kalau di Jawa ane mendengar kata “naik”, yang kebayang ya naik tangga, naik kendaraan, atau benar-benar menuju tempat yang lebih tinggi.
Tapi di Ternate konteksnya gampang dipahami. “Naik” berarti bergerak ke arah lereng Gunung Gamalama, sedangkan “turun” berarti bergerak ke arah pesisir. Jadi orang nggak harus selalu menyebut utara, selatan, timur atau barat. Bentuk pulaunya sendiri sudah menyediakan patokan arah yang sangat jelas.
Misalnya ada orang bilang, “Dari pasar naik sedikit,” ya ane sudah punya gambaran bahwa harus bergerak menjauhi laut dan menuju bagian pulau yang lebih tinggi. Sebaliknya kalau dibilang “turun lagi,” berarti balik ke arah pesisir.
Setelah beberapa lama di Ternate, konsep ini malah terasa simpel banget. Gunung di tengah, laut di luar. Naik ke gunung, turun ke laut.Susah nyasar kalau urusannya cuma menentukan mana atas dan mana bawah. Wkwk.
3. Jauh di Ternate kadang sebenarnya nggak jauh-jauh amat!
Ini salah satu efek samping tinggal di pulau yang ukurannya kecil. Setelah beberapa kali datang ke Ternate, ane mulai merasa kalau konsep jauh di sini agak berbeda dengan konsep jauh yang biasa ane bayangkan di Jawa. Pusat aktivitas Kota Ternate sendiri relatif kompak dan banyak kawasan terhubung oleh jalan yang mengikuti bagian luar pulau. Jadi untuk aktivitas sehari-hari, perjalanan dari satu tempat ke tempat lain sebenarnya sering kali nggak membutuhkan waktu terlalu lama. Apalagi kalau tujuan kita masih berada di sisi pulau yang sama.
Yang mulai menarik justru ketika tujuan kita berada di sisi pulau yang berbeda. Kalau lihat peta, kadang rasanya dekat banget. Tinggal tarik garis lurus dari titik A ke titik B dan secara jarak memang kelihatannya nggak seberapa.
Masalahnya kita nggak bisa seenaknya motong lurus lewat tengah pulau karena di bagian tengahnya tentu saja ada Gunung Gamalama. Jadi mau nggak mau perjalanan harus mengikuti jalan yang memutari lereng bawah dan pesisir pulau. Dua tempat yang kalau dilihat di peta seolah cuma dipisahkan beberapa kilometer dalam garis lurus, jarak tempuh sebenarnya bisa jauh lebih panjang karena harus muter.
Tapi justru karena ukuran Pulau Ternate nggak terlalu besar, muter pulau di sini juga bukan berarti perjalanan antarkota berjam-jam seperti yang mungkin kita bayangkan di Jawa. Bahkan salah satu hal yang menurut ane menyenangkan dari Ternate adalah kita bisa berkendara menyusuri jalan mengelilingi pulau sambil berganti-ganti pemandangan. Sebentar melewati permukiman, kebun, tebing atau lereng Gamalama, lalu laut muncul lagi di samping jalan. Total 2 jam-lah untuk mengelilingi keseluruhan pulau secara melingkar.
4. Orang Ternate ngomong pakai kita, tapi artinya bukan kita
Nah, ini salah satu hal yang dulu bikin ane perlu adaptasi sebentar ketika pertama kali berada di Ternate. Dalam percakapan sehari-hari, orang Ternate banyak menggunakan Melayu Ternate, dan beberapa kosakatanya bisa bikin orang dari Jawa salah nangkep kalau belum terbiasa. Salah satu yang paling terasa adalah penggunaan kata kita. Kalau dalam Bahasa Indonesia kata kita berarti aku dan kamu atau sekelompok orang yang mencakup lawan bicara, dalam percakapan Melayu Ternate 'kita' justru berarti aku atau saya.
Jadi kalau ada orang bilang,
"Kita tara tau."
jangan bingung dan jangan mikir dia sedang mewakili satu kelompok orang yang semuanya nggak tahu. Wkwk. Maksudnya sederhana saja:
"Aku nggak tahu."
Lalu kalau mau bilang kita atau kami dalam pengertian sekelompok orang, ada kata 'torang'. Misalnya:
"Torang pi sana."
Artinya kurang lebih, “Kita pergi ke sana.”
Ada beberapa kata lain yang lama-lama juga cukup sering ane dengar selama berada di Ternate. “Ngana” berarti kamu, “dorang” berarti mereka, “tara” berarti tidak, sementara “deng” berarti dengan. Kata “pi” yang muncul dalam contoh tadi berarti pergi.
Jadi setelah mulai terbiasa, percakapan seperti:
"Ngana pi deng dorang?"
sudah nggak terdengar terlalu membingungkan lagi. Kurang lebih artinya, “Kamu pergi dengan mereka?”
Awalnya memang perlu sedikit waktu buat otak melakukan semacam penerjemahan otomatis. Terutama kata “kita”, karena maknanya bertabrakan langsung dengan Bahasa Indonesia yang ane gunakan sehari-hari. Tapi setelah cukup lama berada di Ternate, lama-lama telinga terbiasa sendiri. Begitu ada orang bilang “kita”, otak sudah nggak menerjemahkannya sebagai kita rame-rame, tetapi langsung sebagai “aku”.
Hal kecil kayak begini yang menurut ane menarik ketika tinggal agak lama di suatu daerah. Bahasanya sebenarnya masih bisa kita pahami, tetapi ada beberapa kata sederhana yang maknanya justru berbeda dari yang selama ini tertanam di kepala.
| Melayu Ternate | Bahasa Indonesia |
|---|---|
| kita | saya / aku |
| ngana | kamu |
| torang | kita / kami |
| dorang | mereka |
| tara | tidak / nggak |
| iyo | iya |
| pi | pergi |
| mari | datang / kemari |
| deng | dengan / dan |
| pe | punya / penanda kepunyaan |
| so | sudah |
| balom | belum |
| mo | mau |
| ada | ada / sedang, tergantung konteks |
| baku | saling |
| lia | lihat |
| makang | makan |
| minum | minum |
| tidur | tidur |
| rumah | rumah |
| samua | semua |
| banya | banyak |
| sadiki | sedikit |
| bagini | begini |
| bagitu | begitu |
| apa ini? | apa ini? |
| jang | jangan |
Yang menarik sebenarnya bukan cuma kata-katanya satu per satu, tapi ketika kata-kata tadi mulai digabungkan menjadi kalimat. Di situlah ane dulu mulai benar-benar ngeh dengan pola percakapan sehari-hari orang Ternate.
Misalnya ada yang bertanya, “Ngana so makang?” Artinya sederhana, “Kamu sudah makan?” Kata ngana berarti kamu, so berarti sudah, sementara makang ya makan. Atau kalimat “Kita tara tau” yang berarti “Aku nggak tahu.” Nah, yang terakhir ini mungkin agak membingungkan buat orang Jawa karena secara otomatis otak kita menganggap kita ya berarti “kita”. Padahal di sini kita berarti aku atau saya.
Kalau sudah mulai terbiasa, kalimat yang agak panjang pun sebenarnya gampang ditebak. Misalnya “Torang mo pi sana”. Torang berarti kita atau kami, mo berarti mau, dan pi berarti pergi. Jadi artinya ya “Kita mau pergi ke sana.”
Ada satu kata lagi yang menurut ane cukup menarik, yaitu “pe”. Kata ini sering digunakan untuk menunjukkan kepunyaan. Jadi kalau ada yang bilang “kita pe rumah”, artinya rumahku. “Ngana pe motor” berarti motormu, sementara “dorang pe makanan” berarti makanan mereka. Pertama kali mendengarnya mungkin terasa agak aneh, tapi begitu ngerti polanya malah simpel banget.
Begitu juga dengan kata “so” yang berarti sudah. Kata ini bakal sering banget muncul dalam percakapan. “So makan” berarti sudah makan, “so datang” berarti sudah datang, dan “so lama” berarti sudah lama.
Jadi sebenarnya setelah tahu beberapa kata kuncinya, percakapan Melayu Ternate nggak sesulit yang mungkin dibayangkan. Ane yang awalnya harus menerjemahkan satu-satu di kepala, lama-lama juga mulai ngerti secara otomatis. Bahkan setelah cukup lama berada di sana, dengar “ngana”, “torang”, “tara”, “so”, atau “pe” rasanya sudah biasa aja.
5. Setelah beberapa hari, 'ngana', 'torang', 'dorang' dan 'tara' mulai masuk sendiri ke otak
Nah, ini bagian yang menurut ane cukup lucu. Ketika pertama kali datang ke Ternate, beberapa kata dalam percakapan sehari-hari tentu terdengar asing. Orang ngomong “ngana”, dalam hati ane mungkin masih mikir, “Ngana apaan?” Wkwk.
Beberapa hari kemudian mulai ngerti. Oh, ngana berarti kamu. Torang berarti kita atau kami. Dorang berarti mereka. Tara berarti tidak. Belum sampai tahap bisa ngomong, tapi setidaknya kalau mendengar orang ngobrol, otak sudah mulai bisa menerjemahkan sendiri.
Yang lucu justru setelah berada di Ternate agak lama. Kata-kata tadi perlahan nggak perlu diterjemahkan lagi. Begitu dengar “ngana”, otak langsung menangkap “kamu”. Begitu dengar “tara”, langsung ngerti “nggak”. Prosesnya kayak terjadi begitu saja tanpa pernah duduk serius sambil menghafalkan kosakata.
Lebih lucu lagi ketika tanpa sadar malah mulai ikut nyeletuk pakai kata-kata tersebut. Ditanya sesuatu, bukannya jawab “nggak”, malah spontan keluar,
“Tara...” Nah loh. Wkwk.
Ane rasa memang begitulah kalau cukup lama berada di suatu daerah. Bahasa yang digunakan terus-menerus dalam percakapan sehari-hari lama-lama diserap sendiri oleh otak. Apalagi ane bolak-balik ke Ternate sampai delapan kali dan kalau ditotal menghabiskan waktu lebih dari dua bulan di sana. Ada banyak kesempatan buat mendengar kata-kata yang sama digunakan berulang-ulang dalam konteks yang berbeda.
Akhirnya sesuatu yang pada kunjungan pertama terdengar asing, pada kunjungan-kunjungan berikutnya sudah terasa biasa aja. Ane memang nggak tiba-tiba bisa fasih Melayu Ternate, tapi setidaknya telinga sudah jauh lebih familiar. Kadang bahkan kita ngerti maksud suatu kalimat tanpa sadar kapan sebenarnya mulai belajar artinya.
Dan menurut ane, pengalaman seperti ini justru salah satu bagian paling menarik dari traveling agak lama di suatu tempat. Kita nggak cuma pulang membawa foto dan cerita tempat wisata, tapi tanpa sadar membawa pulang sedikit kebiasaan orang sana juga.
6. Intonasi ngomong orang sini bisa terdengar seperti lagi marah, padahal biasa aja
Ini juga salah satu hal yang cukup ane notice ketika pertama kali berada di Ternate. Buat telinga ane yang sejak kecil lebih terbiasa mendengar gaya bicara orang Jawa, percakapan sehari-hari orang Ternate kadang terdengar jauh lebih tegas. Tempo bicaranya bisa cepat, intonasinya naik-turun dengan jelas, dan volume suaranya kadang terdengar lebih kuat.
Makanya waktu awal-awal berada di sana, sesekali ane mendengar dua orang sedang ngobrol dari kejauhan terus sempat mikir,
"Lho... ini mereka lagi berantem?"
Ane perhatiin lagi.Kok yang satu santai. Yang satunya juga santai. Nggak lama malah ketawa bareng. Oh...Ternyata lagi ngobrol biasa.Wkwk.
Mungkin karena ane terbiasa dengan lingkungan Jawa yang dalam banyak situasi gaya bicaranya relatif lebih pelan dan intonasinya cenderung halus, telinga ane secara otomatis menerjemahkan suara yang lebih keras dan intonasi yang tegas sebagai tanda orang sedang kesal atau marah. Padahal standar seperti itu tentu nggak bisa langsung dipakai ketika kita berada di daerah lain. Cara orang berbicara memang berbeda-beda, dan volume suara yang menurut ane terdengar tinggi belum tentu membawa emosi negatif bagi orang yang mengucapkannya.
Apalagi ketika percakapannya menggunakan Melayu Ternate dengan tempo yang cepat. Kata-kata seperti ngana, torang, dorang, tara, so, dan pe keluar bertubi-tubi dengan intonasi yang menurut telinga ane terdengar sangat ekspresif. Kalau belum memahami bahasanya sekaligus belum terbiasa dengan intonasinya, lengkap sudah. Ane cuma bisa melihat dua orang ngobrol sambil mencoba menebak, “Ini sebenarnya sedang bahas apa dan kenapa kedengarannya serius banget?” Padahal bisa jadi cuma ngomongin makan siang. Wkwk.
Setelah beberapa hari, telinga mulai beradaptasi sendiri. Ane mulai bisa menangkap bahwa intonasi tegas bukan berarti marah, suara keras bukan otomatis berarti sedang bertengkar, dan percakapan cepat bukan berarti sedang terjadi perdebatan. Lama-lama mulai kelihatan juga bedanya antara orang yang memang sedang emosi dengan orang yang cuma... ya memang cara ngomongnya begitu.
Menurut ane ini juga salah satu contoh kenapa ketika datang ke daerah baru kita jangan terlalu cepat menilai perilaku orang berdasarkan kebiasaan dari daerah asal sendiri. Sesuatu yang menurut kita terdengar kasar, keras atau galak, belum tentu dimaksudkan seperti itu. Bisa saja standar intonasi dan ekspresi dalam percakapan sehari-harinya memang berbeda.
Dan setelah berkali-kali datang ke Ternate, suara percakapan seperti ini akhirnya terasa normal-normal aja di telinga ane. Yang awalnya bikin nengok karena ane kira ada orang berantem, lama-lama bahkan nggak terlalu ane perhatikan lagi.
7. Angkot Ternate dengan musiknya yang jedag-jedug
Kalau pernah tinggal atau traveling cukup lama di beberapa kota Indonesia Timur, mungkin bakal memperhatikan pola yang sama, yaitu angkot/bemo di sini kadang bukan sekadar alat transportasi, tapi juga berjalan sambil membawa sound system. Wkwk.
Ane pernah tinggal di Kupang dan pernah mengunjungi Kota Ambon, jadi pemandangan angkot dengan musik keras sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar asing. Ada angkot yang musiknya terdengar sampai keluar kendaraan, ada yang interiornya ikut dimodifikasi, dan kadang suasana di dalamnya malah lebih mirip sedang duduk di tempat nongkrong berjalan daripada naik kendaraan umum.
Nah, Ternate juga pernah punya budaya seperti ini. Angkot di Ternate cukup terkenal sebagai angkot musik. Kendaraannya berupa mikrolet yang banyak berwarna biru dan musik menjadi salah satu bagian yang cukup menonjol dari pengalaman naik angkot di kota ini. Musik diputar keras, kadang keras banget, sampai keberadaan angkotnya bisa terdengar bahkan sebelum kendaraannya benar-benar lewat di depan kita.
Jadi mungkin dari jauh mobilnya belum kelihatan. Tapi...dug dug dug dug... sudah kedengaran duluan. Wkwk. Yang diputar juga nggak harus satu jenis musik tertentu. Bisa lagu pop yang sedang terkenal pada masanya, lagu-lagu lama, sampai lagu rohani. Jadi pengalaman naik angkot bukan cuma perkara duduk, bayar ongkos, kemudian turun di tujuan. Ada soundtrack-nya juga.
Menurut ane hal-hal receh seperti ini justru menarik untuk diingat karena menunjukkan kalau angkot di berbagai kota Indonesia ternyata punya budaya masing-masing. Di satu daerah kita mengenali angkot dari warnanya, di tempat lain dari bentuk dan modifikasinya, sementara di beberapa kota Indonesia Timur musik keras justru menjadi salah satu ciri yang gampang diingat.
8. Ojek adalah solusi untuk hampir semua hal
Selain angkot, satu jenis transportasi yang menurut ane sangat praktis selama berada di Ternate adalah ojek. Dengan ukuran kota yang relatif kompak, jarak antartempat yang kebanyakan nggak terlalu jauh, ditambah banyak jalan lingkungan yang tentu lebih gampang dimasuki motor daripada kendaraan umum, ojek memang terasa cocok banget dengan kondisi kotanya.
Kalau males menunggu angkot? Ojek.
Mau cepat? Ojek.
Mau pergi ke tempat yang nggak dilewati angkot? Ya...ojek lagi. Wkwk.
Dan setidaknya dari pengalaman ane selama bolak-balik ke Ternate, mencari ojek juga gampang. Kita nggak harus selalu pergi ke pangkalan tertentu. Kita bisa langsung cegat tukang ojek yang lewat di pinggir jalan, bilang mau ke mana, tanya atau sepakati ongkos kalau perlu, kemudian berangkat. Buat perjalanan jarak pendek di dalam kota, cara seperti ini praktis banget.
Apalagi Ternate bukan kota yang bentuknya melebar ke segala arah seperti kota-kota besar di Jawa. Ruang kotanya berkembang mengikuti bagian pesisir dan lereng bawah Gunung Gamalama. Ada jalan utama yang menghubungkan kawasan-kawasan kota, tetapi begitu tujuan kita masuk ke jalan yang lebih kecil, naik ke arah permukiman di lereng, atau berada agak jauh dari jalur angkot, motor jelas jauh lebih fleksibel.
Sekarang pilihannya malah semakin banyak karena sudah ada ojek online. Kalau dulu ane tinggal berdiri di pinggir jalan dan mencari ojek yang lewat, sekarang orang juga bisa tinggal buka aplikasi, tentukan titik jemput dan tujuan, lalu menunggu pengemudi datang. Jadi budaya ojek di Ternate sebenarnya nggak hilang karena kehadiran aplikasi. Bentuknya saja yang bertambah.
Ojek pangkalan atau ojek konvensional masih ada, ojol juga ada. Mau cara old school, tinggal cari atau cegat ojek di jalan. Mau lebih praktis dengan tarif dan tujuan yang langsung muncul di HP, tinggal pakai aplikasi. Dan menurut ane motor memang salah satu kendaraan yang paling masuk akal buat Ternate. Kotanya kecil, banyak perjalanan relatif pendek, jalan lingkungan cukup banyak, sementara kalau salah jalan pun ya... selama belum mulai mendaki Gamalama atau nyemplung ke laut, masih aman. Wkwk.
9. Mau pergi ke kota sebelah = speed boat!
Nah, ini salah satu hal yang mungkin terasa biasa banget buat orang Ternate, tapi buat ane yang berasal dari Jawa tetap terasa unik meskipun sudah berkali-kali datang ke sana. Kalau mau pergi ke daerah sebelah, kendaraan yang dicari belum tentu mobil atau bus. Bisa jadi malah speedboat. Soalnya Ternate berada di wilayah kepulauan. Di seberangnya ada Pulau Tidore, sementara Sofifi yang menjadi ibu kota Provinsi Maluku Utara berada di Pulau Halmahera. Secara visual tempat-tempat ini bahkan terasa dekat. Dari Ternate kita bisa melihat daratan pulau lain di seberang laut. Tapi ya masalahnya ada satu, semuanya dipisahkan air.
Jadi pola pikir transportasinya otomatis berbeda. Kalau di Jawa ane mau pergi ke kota sebelah, biasanya yang pertama kepikiran adalah, “Naik bus dari mana?”, “Travel ada nggak?”, atau sekarang tinggal buka Google Maps dan lihat jalur daratnya. Di Ternate, untuk beberapa tujuan pertanyaannya malah berubah menjadi, “Kapalnya dari mana?”, “Naik speedboat dari pelabuhan mana?”, atau “Nyebrangnya berapa lama?”, “Jadwalnya gimana?”
Dan yang menarik, speedboat di sini bukan kendaraan wisata yang cuma dinaiki turis ketika mau island hopping. Speedboat adalah bagian dari transportasi sehari-hari. Orang naik kapal karena mau kerja, punya urusan pemerintahan, berdagang, mengunjungi keluarga, atau memang ada keperluan di pulau sebelah. Jadi menyeberang laut bukan sebuah perjalanan besar seperti yang mungkin ane bayangkan ketika masih tinggal di Jawa. Buat banyak orang di sini, ya memang bagian dari mobilitas sehari-hari.
Ane sendiri beberapa kali merasakan perjalanan seperti ini selama berada di Maluku Utara. Datang ke pelabuhan, cari kapal atau speedboat sesuai tujuan, naik, menyeberangi laut, kemudian beberapa waktu kemudian sudah berada di pulau lain, seperti Tidore atau Halmahera. Rasanya memang unik karena batas antara satu kota atau daerah dengan daerah lainnya bukan jalan raya, sawah, atau deretan bangunan, melainkan laut.
Ini juga membuat konsep dekat dan jauh di Maluku Utara terasa berbeda. Sebuah tempat bisa kelihatan jelas di depan mata, bahkan daratannya terlihat dekat banget dari Ternate, tapi kita tetap nggak bisa sekadar naik motor lalu meluncur ke sana. Tetap harus turun ke pelabuhan dan menyeberang dulu.
10. Laut di Ternate seperti bukan tempat wisata, tapi halaman rumah
Kalau tinggal di Jawa, apalagi di daerah yang cukup jauh dari pantai seperti tempat ane tinggal, pergi ke laut biasanya merupakan sebuah kegiatan yang memang direncanakan. Misalnya tiba-tiba ada yang ngajak, “Besok ke pantai yuk.” Ya berarti memang mau jalan-jalan. Tentukan pantainya di mana, berangkat naik kendaraan, mungkin bawa makanan, cari parkiran, main beberapa jam, kemudian pulang lagi. Intinya, laut adalah tujuan.
Nah, selama berada di Ternate ane merasa hubungannya dengan laut agak berbeda. Di sini laut nggak selalu terasa sebagai tempat wisata yang harus sengaja didatangi. Laut memang sudah menjadi bagian dari kota. Pulau Ternate kecil, pusat kotanya berkembang di sepanjang pesisir, dan di banyak tempat kita cuma perlu bergerak sedikit ke arah luar pulau untuk ketemu air.
Jadi setelah beberapa hari tinggal di sana, pemandangan laut perlahan terasa seperti bagian dari kehidupan sehari-hari. Sore-sore orang duduk menghadap laut, ngobrol dengan teman, makan, nongkrong, anak-anak main, motor berjejer parkir, sementara kapal dan speedboat sesekali lewat di kejauhan. Nggak ada kesan bahwa semua orang sedang pergi wisata ke pantai. Mereka ya cuma sedang menjalani sore seperti biasa.
Beberapa ruang publik di pesisir seperti Taman Nukila dan kawasan Falajawa juga sejak lama menjadi tempat warga berkumpul. Orang datang bukan harus karena ingin berenang atau melakukan aktivitas wisata tertentu. Kadang ya cuma duduk, ngobrol, cari makan, menikmati angin, atau menunggu matahari turun. Lautnya sekadar ada di depan sana sebagai background. Dan justru bagian ini yang menurut ane menarik. Buat ane yang datang dari Jawa, melihat laut biasanya langsung memunculkan suasana “wah, lagi di pantai.” Sementara di Ternate, ane bisa sedang melakukan aktivitas yang sangat biasa—makan, duduk-duduk atau ngobrol—tapi beberapa meter di depan sudah ada laut.
Lama-lama ane merasa laut di Ternate itu bukan halaman belakang kota. Malah seperti halaman depannya. Kota menghadap langsung ke laut, aktivitas masyarakat berlangsung di sepanjang pesisir, kapal datang dan pergi, dan pulau-pulau lain bahkan terlihat di seberang. Laut bukan sesuatu yang memisahkan kehidupan kota dari dunia luar, tetapi justru menjadi salah satu jalur yang menghubungkannya.
Mungkin buat orang Ternate sendiri semua ini terasa biasa aja. Dari kecil sudah lihat laut, sore nongkrong dekat laut, mau ke daerah sebelah juga nyebrang laut. Tapi buat ane tetap ada momen ketika duduk santai di pinggir kota sambil melihat pemandangan di depan terus mikir,
"Enak amat ya... nongkrong biasa aja background-nya laut seindah ini."
11. Sore hari seperti ada migrasi kecil menuju pinggir laut
Kalau ane perhatikan selama berada di Ternate, kota ini seperti punya ritmenya sendiri sepanjang hari. Pagi sampai siang orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Jalanan ramai, pasar hidup, orang kerja, sekolah, berdagang dan menyelesaikan berbagai urusan. Siang hari matahari juga bisa terasa cukup menyengat, jadi rasanya memang bukan waktu paling nikmat buat duduk lama-lama di luar.
Nah, menjelang sore suasananya mulai berubah. Matahari mulai turun, udara perlahan lebih nyaman, angin dari laut mulai terasa, dan orang-orang mulai keluar. Ane kadang merasa seperti ada migrasi kecil menuju pinggir laut. Wkwk. Kawasan pesisir yang siang hari terasa panas perlahan menjadi lebih hidup. Ada yang datang bersama teman, pasangan atau keluarga, ada yang cari makanan, ada yang sekadar duduk-duduk sambil ngobrol dan menikmati angin laut.
Enaknya lagi, di sepanjang beberapa kawasan pesisir Ternate juga ada banyak tempat makan, warung sampai kafe yang memang memanfaatkan posisi mereka yang menghadap laut. Jadi nongkrong sore di sini nggak harus berarti pergi ke tempat wisata tertentu. Tinggal cari tempat duduk, pesan minuman atau makanan, kemudian ngobrol sambil melihat laut.
Dan ini yang ane suka. Di kota besar mungkin kita sengaja mencari kafe dengan interior bagus, rooftop, taman atau city view. Di Ternate, salah satu pemandangan terbaiknya sudah disediakan alam. Duduk di kafe tepi laut sambil makan atau minum, dengar suara deburan ombak, kena angin laut, melihat kapal lewat dan pulau-pulau di kejauhan. Kadang cuma perlu sambil bengong.
Apalagi menjelang matahari terbenam. Cahaya mulai berubah, udara semakin adem, suara ombak terdengar dari dekat, sementara orang-orang di sekitar tetap ngobrol dan makan seperti biasa. Buat ane yang datang dari daerah yang jauh dari laut, suasana seperti ini terasa spesial. Tapi melihat santainya orang-orang lokal, ane juga sadar bahwa bagi mereka ini mungkin cuma aktivitas sore biasa.
Dan menurut ane, justru pada jam-jam seperti inilah Ternate terasa paling hidup sebagai sebuah kota, bukan sebagai destinasi wisata.Makanya kalau datang ke Ternate, ane rasa jangan cuma bikin jadwal dari pagi sampai siang untuk mengejar Danau Tolire, benteng, pantai dan berbagai objek wisata lainnya, lalu sore balik ke hotel. Keluar lagi menjelang sore. Cari kawasan pesisir, pilih warung atau kafe yang menghadap laut, pesan sesuatu, kemudian duduk aja.
Nggak harus melakukan apa-apa. Dengerin suara ombak, lihat kapal lewat, perhatikan orang-orang datang dan pergi, lalu nikmati suasana kota ketika matahari mulai turun. Kadang justru dari kegiatan sesederhana itu kita bisa melihat seperti apa kehidupan sehari-hari Ternate sebenarnya.
12. Pisang goreng mulut bebek
Sebagai orang Jawa, konsep pisang goreng yang tertanam di kepala ane sejak kecil sebenarnya sederhana banget. Pisang digoreng, rasanya manis, kemudian dimakan sebagai camilan. Kalau mau dibuat lebih meriah paling ditambah gula, cokelat, susu atau keju. Pokoknya dalam bayangan ane, pisang goreng itu sudah jelas masuk kubu makanan manis. Sampai akhirnya ane datang ke Ternate pertama kali tahun 2018 dan menemukan bahwa pisang goreng ternyata bisa punya jalan hidup yang berbeda. Di sini pisang goreng bukannya ketemu cokelat atau keju, tapi malah ketemu sambal. Wkwk.
Salah satu yang paling khas dan gampang ditemukan di Ternate adalah pisang goreng mulut bebek atau pisang mulu bebe. Selama ane berada di Ternate, makanan ini rasanya ada di mana-mana. Banyak warung, tempat makan sampai tempat nongkrong yang menjualnya, jadi nggak susah kalau pengen mencobanya. Pisangnya diiris memanjang dan tipis sehingga bentuknya melebar, kemudian digoreng sampai bagian luarnya renyah. Tapi yang bikin pisang goreng ini menarik tentu bukan cuma bentuknya, melainkan cara makannya.
Pisang mulu bebe biasanya disajikan dengan sambal colo-colo atau sambal pedas, dan bisa dipadukan dengan ikan teri asin serta kacang. Pertama kali melihatnya, sebagai orang yang seumur hidup mengenal pisang goreng sebagai makanan manis, ane tentu sempat mikir, “Hah? Ini serius pisang goreng dimakan pakai sambal?” Belum selesai sampai situ, ternyata ada teri dan kacangnya juga. Kalau cuma melihat bahan-bahannya secara terpisah, rasanya seperti beberapa makanan yang salah meja. Pisang harusnya masuk meja camilan, sambal masuk meja makan, sementara teri dan kacang entah kenapa ikut nimbrung. Wkwk.
Tapi setelah dicoba, ternyata kombinasi ini justru masuk banget. Rasa pisangnya yang sedikit manis dan gurih bertemu dengan pedas dan segarnya sambal colo-colo, kemudian ada rasa asin dari ikan teri dan tekstur renyah dari kacang. Dalam sekali makan jadinya ada rasa manis, gurih, asin dan pedas sekaligus. Ane yang awalnya melihat kombinasi ini dengan penuh kecurigaan akhirnya cuma bisa mikir, “Oh... pantes.”
Setelah beberapa kali makan selama berada di Ternate, kombinasi yang tadinya terasa aneh malah lama-lama terasa normal, bahkan.... enaaaak banget! Akhirnya pisang goreng dengan sambal ini akhirnya menjadi salah satu makanan yang langsung ane asosiasikan dengan Ternate. Kalau di Jawa ane melihat pisang goreng terus kepikiran teh atau kopi, di Ternate yang dicari malah sambalnya.
Menurut ane ini juga salah satu bagian paling menarik ketika traveling ke daerah lain. Makanan yang bagi pendatang awalnya terdengar seperti kombinasi random, bagi masyarakat lokal sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang sangat biasa. Dan kadang memang jangan buru-buru bilang aneh sebelum mencoba sendiri. Soalnya dalam kasus pisang mulu bebe, ane yang awalnya mikir “pisang kok pakai sambal?” akhirnya malah ngerti kenapa hampir di mana-mana ada yang jual.
Ternyata memang enak. Wkwk. Duh nulis ini jadi pengeeen!
13. Minuman jahe di sini namanya air guraka
Kalau malam-malam nongkrong di Ternate dan pengen minuman hangat, salah satu yang gampang ditemui adalah air guraka. Pertama kali dengar namanya mungkin kita bakal bertanya-tanya, “Air apaan nih?” Padahal sebenarnya konsepnya cukup familiar buat orang Jawa karena guraka berarti jahe dalam Melayu Ternate. Jadi sederhananya, air guraka adalah minuman jahe hangat khas Maluku Utara.
Air guraka biasanya dibuat dari jahe yang direbus bersama gula aren atau gula merah sehingga rasanya manis, hangat dan sedikit pedas khas jahe. Pada beberapa penyajian bisa ditambahkan bahan aromatik atau rempah lain, tetapi ada satu tambahan yang menurut ane langsung membuat minuman ini terasa lebih khas Ternate, yaitu kenari. Potongan atau taburan kenari biasanya diberikan di atas minuman, sehingga selain rasa hangat dari jahe dan manis dari gula aren, ada tekstur serta rasa gurih dari kenari ketika diminum.
Kalau dipikir-pikir, buat ane yang berasal dari Jawa konsepnya sebenarnya nggak terlalu asing. Kita juga punya berbagai minuman jahe seperti wedang jahe, wedang ronde atau wedang uwuh. Sama-sama diminum hangat, sama-sama berbasis jahe, dan sama-sama enak diminum malam hari. Bedanya, begitu jahe bertemu gula aren dan taburan kenari lalu disebut air guraka, identitas Maluku Utaranya langsung terasa.
Dan air guraka ini enak banget diminum ketika malam sambil nongkrong dekat pesisir. Udara sudah nggak sepanas siang hari, angin laut mulai terasa, lalu kita duduk sambil memegang gelas minuman jahe hangat. Jahe memberikan sensasi hangat di tenggorokan, gula aren memberi rasa manis, kemudian sesekali ada potongan kenari yang ikut masuk ketika diminum. Simpel, tapi cocok banget dengan suasananya.
14. Kenari di sini muncul di mana-mana
Satu lagi bahan makanan yang lama-lama bikin aku ngeh kalau sedang berada di Maluku Utara adalah kenari. Kalau di Jawa kenari bukan termasuk kacang yang terlalu sering aku temui dalam makanan sehari-hari, di Ternate ceritanya beda. Di sini kenari lumayan sering nongol dalam berbagai makanan dan minuman sampai lama-lama aku mikir, “Ini kenapa kenari muncul terus sih?” Wkwkwk. Salah satu yang paling gampang ditemui adalah air guraka, minuman jahe hangat khas Maluku Utara yang biasanya dibuat dari jahe dan gula aren, lalu bagian atasnya ditaburi potongan kenari. Perpaduannya ternyata enak banget karena rasa jahe yang hangat dan agak pedas ketemu manisnya gula aren dan tekstur kenari yang renyah. Jadi bukan sekadar wedang jahe versi Ternate, karena taburan kenari itulah yang menurut aku langsung memberi identitas Maluku Utara-nya.
Kenari juga muncul dalam berbagai makanan lain. Salah satu yang cukup terkenal adalah halua kenari, camilan manis yang dibuat dari kenari yang dilapisi atau dicampur gula hingga menghasilkan rasa manis dan tekstur renyah. Selain itu kenari juga bisa ditemukan pada berbagai kue dan olahan makanan lokal. Jadi kalau di Jawa kita terbiasa melihat kacang tanah muncul dari pecel, rempeyek, sambal kacang sampai bumbu sate, di Maluku Utara salah satu kacang yang terasa jauh lebih menonjol ya kenari ini.
Awalnya aku menganggapnya cuma kebetulan karena beberapa makanan yang aku coba kebetulan menggunakan kenari. Tapi ternyata memang masuk akal secara geografis. Pohon kenari (Canarium spp.) tumbuh luas di kawasan Maluku dan sudah lama dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai sumber pangan. Bagian bijinya yang kaya minyak bisa dimakan langsung, dipanggang maupun digunakan sebagai bahan berbagai makanan. Kenari juga merupakan salah satu hasil perkebunan yang masih tercatat di Maluku Utara. Jadi penggunaan kenari dalam kuliner di sini bukan sekadar tren atau tambahan topping supaya terlihat cantik, tetapi berhubungan dengan bahan pangan yang memang tersedia dan sudah lama dikenal masyarakat setempat.
Dan ini salah satu hal kecil yang aku suka ketika traveling keliling Indonesia. Kadang identitas suatu daerah nggak harus ditemukan dari bangunan bersejarah atau objek wisatanya. Cukup lihat apa yang berkali-kali muncul di piring dan gelas orang lokal. Di Jawa kita ketemu kacang tanah di mana-mana, di beberapa wilayah Indonesia Timur kelapa sangat dominan, sementara selama di Ternate aku mulai sadar kalau kenari punya tempat tersendiri dalam kulinernya. Sampai akhirnya setiap melihat makanan ditaburi potongan kacang, pikiran aku otomatis: “Kenari lagi nih?” Wkwkwk.
15. Ikan di sini benar-benar bagian dari kehidupan sehari-hari
Namanya juga tinggal di pulau kecil yang dikelilingi laut, sebenarnya nggak mengherankan kalau ikan menjadi bagian penting dari makanan sehari-hari orang Ternate. Tapi satu hal adalah tahu secara teori, dan hal lain adalah benar-benar berada di sana lalu menyadari betapa seringnya ikan muncul di depan mata. Mau makan pagi ketemu ikan, makan siang ikan, malam ikan lagi. Ke pasar lihat ikan, jalan dekat pesisir lihat nelayan, mampir warung ketemu berbagai olahan ikan. Lama-lama aku mikir, “Oke... aku benar-benar sedang tinggal di pulau.” Wkwkwk.
Yang menarik, ikannya juga nggak cuma dimasak dengan satu-dua cara. Cakalang dan tuna termasuk ikan yang sangat umum dijumpai di Maluku Utara, lalu diolah menjadi berbagai macam makanan. Ada yang dibakar dan dimakan dengan sambal, dimasak berkuah, dibuat gohu ikan dari potongan ikan mentah segar yang diberi jeruk, cabai dan bawang, sampai diasap menjadi ikan fufu. Bahkan makanan yang buatku identik dengan sarapan seperti nasi kuning pun di Ternate bisa ditemani ikan tongkol atau cakalang suwir. Jadi kalau di Jawa aku terbiasa melihat nasi kuning dengan ayam, telur atau kering tempe, di sini laut ikut masuk sampai ke menu sarapan.
Dan justru menurutku bagian menariknya ada di situ. Hubungan masyarakat Ternate dengan ikan bukan sekadar karena “Ternate punya makanan khas berbahan ikan”, tetapi karena laut memang menjadi bagian dari kehidupan kota. Pulau Ternate dikelilingi perairan yang menjadi ruang tangkap nelayan, sementara ikan hasil tangkapan masuk ke pasar-pasar lokal dan kemudian ke dapur masyarakat. Kalau datang pagi-pagi ke kawasan pasar ikan seperti Dufa-Dufa, kita bahkan bisa melihat aktivitas perdagangan ikan yang sudah berjalan sejak subuh. Kapal nelayan datang membawa hasil tangkapan, ikan diturunkan, pedagang mulai membeli, lalu dari sinilah sebagian ikan menyebar ke berbagai tempat di kota. Jadi ikan yang beberapa jam kemudian nongol di meja makan itu sebenarnya baru saja melewati rantai perjalanan yang sangat pendek dari laut ke pasar lalu ke dapur.
Buatku ini juga salah satu perbedaan paling terasa dibanding tinggal di Jawa. Di daerah tempatku tinggal, ikan laut tentu gampang ditemukan, tapi lautnya sendiri jauh dan hubungan antara makanan yang ada di piring dengan tempat asalnya nggak terlalu kelihatan. Di Ternate hubungan itu terasa jauh lebih dekat. Laut ada di depan mata, nelayan bisa kita lihat, pasar ikan ada, lalu malamnya ikan muncul lagi di piring. Semuanya seperti tersambung.
Makanya setelah beberapa lama di Ternate, aku mulai merasa kalau ikan di sini bukan cuma lauk. Ikan adalah bagian dari ritme kehidupan pulau. Dan mungkin itu sebabnya variasi olahannya juga banyak banget. Kalau bosan ikan bakar, masih ada ikan kuah. Bosan ikan kuah, ada gohu. Bosan gohu, ada ikan fufu. Besok pagi bangun...ketemu ikan lagi di nasi kuning. Wkwkwk.
16. Pasar ikan sudah hidup ketika sebagian orang masih tidur
Kalau mau melihat sisi Ternate yang benar-benar sehari-hari dan bukan versi tempat wisata, menurutku salah satu waktu terbaik adalah pagi-pagi banget, bahkan sejak subuh, di kawasan pasar ikan. Salah satunya di Dufa-Dufa, kawasan pesisir di bagian utara Kota Ternate yang punya aktivitas perikanan cukup kuat. Ketika sebagian dari kita mungkin masih enak-enaknya tidur, pencet snooze alarm lalu menarik selimut lagi, kehidupan di pesisir sebenarnya sudah berjalan. Kapal-kapal nelayan mulai datang membawa hasil tangkapan, pedagang menunggu ikan diturunkan, transaksi mulai berlangsung, dan ikan yang beberapa jam sebelumnya masih berada di laut perlahan mulai masuk ke rantai perdagangan kota.
Suasananya tentu berbeda banget dengan pasar pada siang hari. Ikan masih segar, aktivitas bongkar hasil tangkapan berlangsung, orang sibuk memilih dan menimbang ikan, sementara pedagang sudah mulai mempersiapkan dagangannya untuk hari itu. Jenis ikannya juga macam-macam tergantung hasil tangkapan dan musim, mulai dari cakalang, tuna, tongkol sampai berbagai ikan karang dan ikan pelagis lainnya. Dari sinilah sebagian ikan kemudian menyebar ke pasar lain, rumah makan dan dapur-dapur masyarakat Ternate. Jadi kalau siangnya kita makan ikan bakar atau malamnya ketemu cakalang di warung, ada kemungkinan hari ikan tersebut sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum hari kita sendiri dimulai.
Yang bikin aku suka melihat aktivitas seperti ini adalah kita jadi sadar bahwa sebuah kota sebenarnya nggak pernah benar-benar mulai hidup jam delapan pagi. Ada kelompok masyarakat yang ritme hidupnya dimulai jauh lebih awal. Nelayan bahkan sudah bekerja sejak malam atau dini hari ketika kebanyakan orang masih tidur, sementara pedagang ikan sudah harus berada di tempat ketika hasil tangkapan datang. Saat aku mungkin masih bergulat antara bangun atau tidur lima menit lagi, di pesisir sana orang sudah bongkar ikan, tawar-menawar harga dan mencari rezeki. Wkwkwk.
Dan menurutku pemandangan seperti inilah yang justru menarik kalau kita ingin benar-benar mengenal Ternate. Tempat wisata memang memperlihatkan wajah cantik sebuah kota, tapi pasar memperlihatkan bagaimana kota itu hidup. Dari pasar ikan kita bisa melihat hubungan Ternate dengan laut secara langsung: nelayan berangkat ke laut, ikan dibawa kembali ke daratan, pedagang membelinya, lalu hasil tangkapan tersebut tersebar ke seluruh kota dan akhirnya sampai ke meja makan. Rantai itu terjadi setiap hari dan sudah menjadi rutinitas biasa bagi masyarakat setempat.
Jadi kalau suatu hari berada di Ternate dan kebetulan bisa memaksa diri bangun pagi, menurutku sesekali menarik juga melihat aktivitas pasar ikan sebelum kota benar-benar ramai. Nggak harus datang untuk belanja ikan. Cukup berdiri sebentar dan memperhatikan kesibukannya saja sudah memberi gambaran bahwa ketika kita masih tidur pulas, ada bagian lain dari Ternate yang ternyata sudah bekerja sejak subuh.
17. Ikan fufu
Pertama kali dengar nama ikan fufu, entah kenapa aku langsung merasa namanya lucu. “Fufu? Apaan tuh?” Wkwkwk. Tapi tenang, ini bukan typo dan bukan pula nama ikannya. Fufu adalah sebutan untuk ikan yang diawetkan dengan cara diasap, dan olahan seperti ini sangat familiar di Maluku Utara serta beberapa wilayah Indonesia Timur lainnya. Jadi kalau ada yang menawarkan ikan fufu, jangan membayangkan ada spesies ikan bernama ikan fufu berenang-renang di laut Ternate ya. Ikan yang digunakan bisa berupa jenis ikan seperti cakalang atau tuna, sementara kata fufu merujuk pada cara pengolahannya.
Proses pembuatannya sebenarnya sederhana, tetapi membutuhkan waktu dan keterampilan. Ikan segar dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dibelah atau disiapkan sesuai ukuran sebelum diasapi di atas bara atau sumber asap. Proses pengasapan membuat kadar air pada ikan berkurang sekaligus memberikan aroma asap yang khas. Hasil akhirnya adalah ikan dengan tekstur yang lebih padat, warna permukaan cenderung kecokelatan dan aroma smoky yang kuat. Selain membuat rasanya berbeda, teknik pengasapan sejak dulu juga menjadi salah satu cara masyarakat memperpanjang daya simpan ikan ketika teknologi pendinginan belum semudah sekarang.
Kalau dipikir-pikir, keberadaan ikan fufu sangat masuk akal di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara. Hasil laut bisa melimpah, sementara ikan segar termasuk bahan pangan yang cepat rusak di iklim tropis. Sebelum ada kulkas dan freezer di setiap rumah, masyarakat tentu membutuhkan cara supaya hasil tangkapan nggak harus langsung habis dimakan pada hari yang sama. Salah satu jawabannya ya diasap. Dari kebutuhan praktis itulah kemudian lahir makanan yang akhirnya menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat.
Di Ternate ikan fufu juga bukan sekadar makanan yang sengaja dibuat untuk wisatawan. Sampai sekarang kita masih bisa menemukannya dijual di pasar dan dibuat oleh masyarakat sebagai mata pencaharian. Ikan yang sudah diasap bisa dimakan bersama nasi, kasbi atau singkong rebus, pisang rebus maupun makanan lokal lainnya, kemudian ditemani sambal yang pedas. Kombinasi ikan yang gurih dan beraroma asap dengan sambal memang susah salah. Apalagi kalau makannya masih hangat. Diet bisa dibicarakan besok. Wkwkwk.
Yang aku suka dari ikan fufu sebenarnya bukan cuma rasanya, tetapi cerita sederhana di belakangnya. Dari satu makanan saja kita bisa melihat bagaimana masyarakat pesisir beradaptasi dengan lingkungan. Laut menyediakan ikan dalam jumlah besar, lalu manusia mencari cara supaya hasil tangkapannya bisa bertahan lebih lama. Teknik yang awalnya sangat praktis akhirnya diwariskan dari generasi ke generasi sampai berubah menjadi bagian dari identitas kuliner daerah.
Jadi setelah tahu artinya, setiap kali dengar kata ikan fufu aku sudah nggak bingung lagi. Yang terbayang justru ikan dengan aroma asap yang kuat, sambal pedas dan sepiring nasi hangat.
18. Sarapan nasi kuning, lauknya ikan
Kalau dengar nasi kuning, makanan ini sebenarnya sama sekali nggak asing buatku. Di Jawa nasi kuning gampang banget ditemukan, apalagi kalau ada acara ulang tahun, syukuran atau hajatan. Buat sarapan pun bukan sesuatu yang aneh. Biasanya yang langsung terbayang di kepalaku adalah nasi kuning dengan telur, ayam, mie atau bihun, kering tempe, sambal dan mungkin kerupuk. Jadi pertama kali melihat nasi kuning di Ternate, sekilas rasanya familiar banget. “Oh, nasi kuning. Ini mah aku tahu.” Sampai kemudian melihat lauknya dan baru sadar ada sesuatu yang berbeda: ikannya mana-mana. Wkwkwk.
Di Ternate, salah satu pasangan nasi kuning yang umum adalah ikan tongkol atau cakalang yang dimasak berbumbu lalu disuwir-suwir. Biasanya nasi kuning disajikan bersama ikan, telur dan lauk pendamping lainnya. Jadi secara bentuk masih terasa familiar, tetapi begitu dimakan karakter Indonesia Timurnya langsung muncul. Kalau di Jawa aku lebih terbiasa bertemu ayam atau kering tempe sebagai lauk utama nasi kuning, di sini hasil laut ikut masuk bahkan ke menu sarapan.
Dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, ya masuk akal banget. Ternate adalah pulau yang dikelilingi laut dan ikan merupakan bagian besar dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Tongkol dan cakalang mudah dijumpai dan sudah lama menjadi bahan makanan penting di Maluku Utara. Jadi daripada memaksakan lauk yang biasa aku temui di Jawa, masyarakat di sini secara alami memasangkan nasi kuning dengan bahan yang memang dekat dengan kehidupan mereka. Hasilnya adalah makanan yang sekilas sama, tetapi punya identitas daerah yang berbeda.
Menurutku justru hal-hal seperti ini menarik banget ketika traveling keliling Indonesia. Kita sering menemukan makanan yang namanya sama di berbagai daerah, tetapi begitu sampai di piring ternyata isinya bisa berbeda. Nasi kuning di Jawa punya karakter sendiri, nasi kuning di Sulawesi bisa berbeda lagi, dan nasi kuning di Ternate punya sentuhan laut yang kuat. Makanan ternyata ikut beradaptasi dengan lingkungan tempat masyarakatnya tinggal. Kalau sumber protein yang tersedia melimpah adalah ikan, ya ikanlah yang akhirnya ikut masuk ke menu sehari-hari.
Nasi kuning Ternate juga bukan makanan yang harus dicari di restoran mahal atau tempat wisata tertentu. Justru enaknya makanan seperti ini dinikmati sebagai sarapan biasa, dibeli di warung atau tempat makan lokal ketika pagi hari. Menurutku di situlah sensasinya. Kita duduk pagi-pagi, mungkin masih agak ngantuk, lalu di depan kita ada sebungkus nasi kuning hangat dengan ikan cakalang atau tongkol berbumbu. Nggak ada sesuatu yang mewah, tapi justru terasa sangat lokal.
19. Makanan 'kebun' bukan berarti kita makan di kebun
Ada satu istilah yang menurutku cukup menarik ketika mengenal makanan masyarakat Maluku Utara, yaitu makanan kebun, atau kadang disebut juga makanan kobong. Pertama kali dengar istilahnya, otakku sempat membayangkan orang pergi ke kebun bawa bekal terus makan rame-rame di sana. Wkwkwk. Ternyata bukan begitu maksudnya. Istilah ini merujuk pada berbagai bahan pangan yang berasal dari kebun dan sejak lama menjadi bagian dari makanan masyarakat setempat, seperti kasbi atau singkong, batata atau ubi jalar, pisang, talas dan berbagai umbi-umbian lainnya.
Buat aku yang besar di Jawa, konsep makanan pokok rasanya sangat identik dengan nasi. Sampai ada ungkapan klasik yang mungkin hampir semua orang Indonesia pernah dengar: “belum makan kalau belum makan nasi.” Mau pagi sudah makan roti, siang ngemil bakso, sore makan mie, kalau belum ketemu nasi kadang masih bilang, “Aku belum makan.” Wkwkwk. Nah, berada di Indonesia Timur bikin aku semakin sadar kalau pola makan masyarakat Indonesia sebenarnya jauh lebih beragam daripada yang sering kita bayangkan dari Jawa. Di Maluku Utara, berbagai hasil kebun tadi sejak lama menjadi sumber karbohidrat penting dan bisa dimakan sebagai pendamping lauk tanpa harus selalu ditemani nasi.
Kasbi misalnya cukup direbus sampai empuk lalu dimakan bersama ikan dan sambal. Kedengarannya sederhana banget, tapi justru kombinasi seperti ini terasa sangat masuk akal di Ternate: hasil kebun ketemu hasil laut. Ada singkong atau pisang sebagai sumber karbohidrat, kemudian ikan fufu, ikan bakar atau olahan ikan lainnya sebagai lauk, lalu sambal untuk membuat semuanya makin mantap. Nggak perlu terlalu banyak macam makanan di meja. Kalau bahan-bahannya segar, sudah enak.
Menariknya, istilah kasbi sendiri merupakan sebutan yang umum digunakan untuk singkong di Maluku dan beberapa wilayah Indonesia Timur. Jadi kalau ada orang bilang makan kasbi, jangan bingung mencari makanan aneh-aneh. Itu singkong. Sama seperti ketika kita mulai terbiasa mendengar ngana, torang atau guraka, lama-lama kosakata makanan lokal juga ikut masuk ke kepala. Traveling memang kadang seperti kursus bahasa gratis, cuma gurunya penjual makanan. Wkwkwk.
Menurutku keberadaan makanan kebun juga menunjukkan hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup. Sebelum distribusi beras semudah sekarang, manusia tentu makan dari bahan pangan yang bisa tumbuh di sekitarnya. Umbi-umbian, pisang dan berbagai hasil kebun menjadi sumber energi yang penting, sementara laut menyediakan ikan sebagai sumber protein. Kombinasi kebun + laut akhirnya membentuk pola makan yang sangat masuk akal untuk masyarakat kepulauan.
Sekarang tentu nasi sudah sangat mudah ditemukan dan menjadi bagian besar dari pola makan masyarakat Ternate seperti di daerah Indonesia lainnya. Tapi makanan kebun nggak serta-merta hilang. Kasbi, pisang, ubi dan bahan pangan lokal lainnya masih tetap dimakan dan menjadi bagian dari identitas kuliner Maluku Utara. Bahkan menurutku justru makanan sederhana seperti inilah yang menarik dicoba ketika datang ke suatu daerah, karena kita bisa merasakan pola makan yang sudah ada jauh sebelum restoran modern dan makanan viral bermunculan.
20. Pasar Gamalama bukan sekadar tempat belanja
Kalau tinggal cukup lama di sebuah kota, biasanya kita akan menemukan satu kawasan yang rasanya menjadi pusat segala macam aktivitas. Di Ternate, salah satunya adalah Gamalama. Nama Gamalama tentu langsung mengingatkan kita pada gunung yang berdiri di tengah Pulau Ternate, tapi di pusat kota nama ini juga melekat kuat pada Pasar Gamalama, salah satu pusat perdagangan utama masyarakat Ternate. Buat pendatang mungkin kelihatannya ya cuma pasar seperti pasar tradisional pada umumnya. Tapi kalau diperhatikan lebih lama, tempat seperti ini sebenarnya jauh lebih menarik karena di sinilah banyak bagian kehidupan sehari-hari kota bertemu.
Dari pagi kawasan pasar sudah ramai dengan orang yang datang untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Ada sayuran, buah, ikan, bumbu, pakaian, kebutuhan rumah tangga dan berbagai macam barang lainnya. Pedagang membuka lapak, pembeli mondar-mandir membawa belanjaan, kendaraan keluar masuk, orang berhenti sebentar untuk makan, kemudian ada lagi yang datang cuma untuk mengambil atau mengantarkan barang. Pokoknya suasananya khas pusat perdagangan kota: ramai, semrawut dikit, suara orang di mana-mana, tapi semuanya seperti punya jalurnya sendiri.
Yang menurutku menarik, pasar di kota seperti Ternate nggak cuma berfungsi sebagai tempat pertukaran barang. Pasar juga menjadi ruang sosial. Orang datang bukan hanya untuk membeli sesuatu, tetapi juga bertemu orang yang dikenal, ngobrol dengan pedagang langganan, bertukar kabar sampai mengetahui apa yang sedang terjadi di kota. Kadang kita bisa tahu kehidupan sebuah daerah justru dari obrolan-obrolan kecil di tempat seperti ini. Harga ikan naik, kapal belum datang, barang dari luar terlambat, cuaca sedang buruk, ada acara tertentu—informasi sehari-hari ikut bergerak bersama orang yang datang dan pergi.
Lokasi Ternate sebagai kota kepulauan juga membuat pasar punya cerita yang sedikit berbeda dibanding pasar di Jawa. Nggak semua barang yang dijual di sini berasal dari Pulau Ternate sendiri. Sebagian kebutuhan kota harus datang dari daerah lain melalui jalur laut maupun udara. Sayuran dan hasil pertanian bisa datang dari Halmahera dan daerah sekitarnya, sementara berbagai barang kebutuhan lain masuk dari luar Maluku Utara. Jadi ketika melihat barang menumpuk di pasar, sebenarnya di belakangnya ada jaringan distribusi yang cukup panjang: kapal datang, barang dibongkar, masuk pasar, baru kemudian sampai ke tangan masyarakat.
Dan karena Ternate merupakan pulau yang relatif kecil, kawasan perdagangan seperti Gamalama terasa sangat sentral. Mau belanja, cari kendaraan, cari makanan atau sekadar melewati pusat kota, kemungkinan besar kita akan bersinggungan dengan kawasan ini. Rasanya seperti satu titik tempat berbagai lapisan masyarakat Ternate bertemu. Pegawai kantoran ada, pedagang ada, ibu-ibu belanja ada, sopir ada, anak sekolah lewat, orang dari luar pulau yang baru datang pun ada.
Aku justru suka tempat-tempat seperti ini ketika traveling. Memang nggak secantik pantai, nggak sefotogenik benteng dan jelas bukan tempat yang biasanya muncul besar-besar di brosur pariwisata. Tapi kalau ingin melihat bagaimana sebuah kota benar-benar hidup, pasar hampir selalu menjadi tempat yang menarik. Di sini kita bisa melihat apa yang dimakan masyarakatnya, barang apa yang mereka beli, bahasa yang mereka gunakan, bagaimana mereka berinteraksi sampai bagaimana sebuah kota kepulauan mendapatkan kebutuhan sehari-harinya.
Jadi kalau objek wisata menunjukkan wajah Ternate yang ingin dilihat pendatang, menurutku Pasar Gamalama menunjukkan wajah Ternate yang dipakai masyarakatnya setiap hari. Nggak selalu rapi, nggak selalu tenang, kadang panas dan ramai banget, tapi justru itu kehidupan kotanya.
Dan seperti pasar-pasar lainnya di Indonesia, datang ke sini dengan niat “cuma lihat-lihat sebentar” juga cukup berbahaya. Entah bagaimana caranya...pulang-pulang bawa plastik belanjaan. Wkwkwk.
21. Orang bisa tahu satu sama lain lebih cepat daripada yang kita kira
Salah satu hal yang pelan-pelan aku rasakan selama berada di Ternate adalah lingkaran sosial di kota ini terasa dekat. Tentu bukan berarti seluruh orang Ternate saling kenal satu sama lain ya, penduduknya juga banyak. Tapi karena ukuran kotanya relatif kecil dan pusat aktivitas masyarakat terkonsentrasi di area yang nggak terlalu luas, kemungkinan bertemu orang yang sama atau menemukan hubungan antara satu orang dengan orang lainnya terasa jauh lebih besar dibanding ketika tinggal di kota besar.
Misalnya kita kenalan dengan seseorang. Beberapa hari kemudian ngobrol dengan orang lain, eh ternyata dia kenal juga dengan orang yang pertama. Kenalan lagi sama orang ketiga, ternyata masih ada hubungan entah sebagai teman, saudara, teman sekolah, teman kerja atau minimal, “Oh iya, kita tau dia.” Lama-lama aku mulai mikir, “Ini orang-orang kok nyambung semua sih?” Wkwkwk. Apalagi kalau sudah lama tinggal di Ternate, sekolah di sana, bekerja di sana dan keluarganya memang berasal dari sana, jaringan pertemanannya tentu semakin luas.
Ukuran Pulau Ternate sendiri memang nggak terlalu besar dan kehidupan kotanya banyak terkonsentrasi di wilayah pesisir serta lereng bawah Gamalama. Orang-orang berbelanja di pasar yang sama, makan di tempat yang sama, nongkrong di kawasan yang sama, anak-anak sekolah di lingkungan kota yang sama dan berbagai urusan sehari-hari juga membawa orang ke titik-titik yang itu-itu lagi. Jadi kemungkinan berpapasan kembali dengan orang yang pernah kita temui cukup tinggi. Hari ini ketemu di pasar, beberapa hari kemudian lihat lagi di tempat makan, minggu depannya ternyata nongol di acara teman. “Lho, ngana lagi?” Wkwkwk.
Menurutku suasana seperti ini membuat Ternate punya rasa kota kecil yang cukup kuat meskipun secara fungsi kotanya lengkap. Hubungan antarorang terasa lebih dekat dan identitas seseorang kadang nggak berhenti pada nama. Orang bisa dikenal dari keluarganya, kampungnya, sekolahnya, pekerjaannya atau lingkaran pertemanannya. Obrolan sederhana seperti “Ngana orang mana?” bisa berkembang panjang karena ternyata ada saja titik yang menghubungkan satu orang dengan orang lainnya.
Buat aku yang terbiasa dengan kehidupan di Jawa, fenomena seperti ini sebenarnya nggak sepenuhnya asing. Di kota kecil atau kampung di Jawa juga sama. Kadang baru kenal seseorang lima menit, setelah ditelusuri ternyata bapaknya kenal pakde kita, ibunya teman ibunya teman kita, rumah neneknya ternyata cuma beda dua gang. Dunia mendadak mengecil. Bedanya di Ternate sensasi itu diperkuat oleh kondisi geografisnya: kita benar-benar hidup bersama di sebuah pulau kecil yang dikelilingi laut dengan Gunung Gamalama berdiri di tengah-tengahnya.
Ada sisi menyenangkan dari kehidupan seperti ini. Ketika sudah mulai punya kenalan, sebuah kota yang awalnya asing bisa cepat terasa familiar. Datang ke suatu tempat ada yang menyapa, lewat kawasan tertentu ketemu orang yang dikenal, lalu dari satu teman kita bisa dikenalkan ke teman lainnya. Buat pendatang, proses merasa “punya orang yang dikenal di kota ini” bisa terjadi lebih cepat daripada yang dibayangkan.
Tapi tentu ada konsekuensinya juga. Kalau di kota besar kita mungkin bisa menghilang di tengah jutaan orang tanpa ada yang peduli, di kota kecil ceritanya agak beda. Salah tingkah sedikit...besok-besok jangan kaget kalau ternyata temannya teman sudah dengar ceritanya. Wkwkwk.
22. Kita cepat kehilangan perasaan sedang berada di pulau kecil
Sebelum datang ke Ternate, coba deh buka Google Maps lalu zoom out sedikit. Pulau Ternate kelihatan kecil banget. Bentuknya kurang lebih seperti sebuah gunung yang nongol dari tengah laut, dengan Kota Ternate menempel di bagian pesisirnya. Pertama kali melihat petanya aku sempat membayangkan suasananya bakal benar-benar terasa seperti tinggal di sebuah pulau kecil: sepi, jalan sedikit sudah pantai, fasilitas terbatas dan kehidupan mungkin nggak seramai kota-kota di Jawa. Tapi setelah benar-benar berada di sana, ternyata perasaan “aku sedang tinggal di pulau kecil” itu bisa hilang dengan cepat.
Soalnya kehidupan kotanya ternyata cukup lengkap. Ada bandara, rumah sakit, kampus, sekolah, hotel, pusat perbelanjaan, pasar, bank, kafe, restoran, angkot, ojek sampai berbagai layanan yang biasa kita temukan di kota lain. Jalanan pusat kota juga ramai oleh motor dan mobil, toko berjajar, orang berangkat kerja, anak sekolah lalu-lalang dan pusat perdagangan sibuk sejak pagi. Kalau sedang berada di tengah Kota Ternate dan nggak melihat peta, rasanya ya seperti berada di kota biasa. Bahkan kadang bisa macet juga. Jadi bayangan pulau kecil yang sunyi dengan beberapa rumah dan pohon kelapa langsung buyar. Wkwkwk.
Apalagi Ternate sejak lama memang berfungsi sebagai salah satu pusat perdagangan, pendidikan, jasa dan transportasi di Maluku Utara. Walaupun ibu kota provinsi sekarang berada di Sofifi, aktivitas perkotaan di Ternate tetap sangat kuat. Orang dari berbagai wilayah Maluku Utara datang ke sini untuk sekolah, kuliah, berobat, berdagang, bekerja, transit atau melanjutkan perjalanan ke daerah lain. Bandara Sultan Babullah dan pelabuhan-pelabuhannya membuat Ternate menjadi salah satu pintu masuk penting kawasan ini. Jadi secara ukuran pulaunya memang kecil, tapi fungsi kotanya jauh lebih besar daripada ukuran geografisnya.
Yang lucu, perasaan sedang berada di pulau biasanya baru balik lagi ketika kita bergerak sedikit keluar dari pusat kota. Tiba-tiba jalan mulai mengikuti garis pantai, laut kelihatan di sebelah kita, pulau-pulau lain muncul di kejauhan dan Gunung Gamalama berdiri besar di belakang. Kadang cuma perlu berhenti sebentar di pinggir laut, melihat Tidore atau Maitara di kejauhan, lalu baru ngeh lagi, “Oh iya ya... aku sekarang benar-benar tinggal di sebuah pulau di tengah Maluku Utara.”
Menurutku kontras inilah yang menarik dari Ternate. Di satu sisi kita mendapatkan kehidupan perkotaan yang cukup lengkap, tapi alam nggak pernah benar-benar jauh. Nggak perlu berkendara berjam-jam untuk keluar dari kota dan mencari gunung atau laut karena dua-duanya memang sudah mengepung kita. Ke arah tengah pulau ada Gamalama, sementara ke arah luar ada laut. Jadi meskipun sedang duduk di kafe, belanja di pusat kota atau terjebak kendaraan di jalan, secara geografis kita sebenarnya tetap berada di sebidang daratan kecil yang dikelilingi laut.
Dan setiap kali melihat Ternate lagi dari peta, aku tetap suka merasa agak nggak percaya.
"Serius, tadi semua kehidupan kota itu muat di pulau sekecil ini?"
Ternyata muat. Bandara muat. Pasar muat. Kampus muat. Hotel muat. Orang-orang muat. Bahkan macet pun masih sempat-sempatnya ikut muat. Wkwkwk.
23. Dari kota ramai ke kebun dan pantai ternyata dekat banget
Salah satu hal yang menurutku menarik dari Ternate adalah perubahan suasananya bisa cepat banget. Beberapa menit sebelumnya kita masih berada di tengah kota dengan toko berjajar, motor lalu-lalang, angkot, orang belanja, sekolah, kantor dan berbagai keramaian lainnya. Tapi begitu mulai bergerak menjauh dari pusat kota mengikuti jalan yang mengelilingi Pulau Ternate, pelan-pelan pemandangannya berubah. Bangunan mulai nggak sepadat tadi, jalan terasa lebih tenang, kebun mulai muncul, Gunung Gamalama terasa semakin dominan dan laut semakin sering terlihat di samping jalan.
Buat aku yang terbiasa dengan kota-kota di Jawa, perubahan seperti ini terasa menarik karena biasanya untuk benar-benar keluar dari suasana perkotaan kita harus melewati kawasan permukiman yang panjang dulu. Kota habis, ketemu perumahan, ketemu pinggiran kota, ketemu kawasan industri atau desa-desa padat, baru kemudian suasananya benar-benar berubah. Di Ternate transisinya bisa terasa lebih cepat karena ukuran pulaunya memang kecil dan wilayah perkotaannya terkonsentrasi terutama di beberapa bagian pesisir. Jadi jarak antara pusat kota yang ramai dengan suasana kampung, kebun dan pesisir yang tenang nggak sejauh yang mungkin kita bayangkan.
Dan semakin menjauh dari pusat kota, karakter Ternate sebagai pulau vulkanik mulai semakin kelihatan. Jalan mengikuti bentuk lereng Gamalama, kadang naik dan turun, sementara di satu sisi kita bisa melihat gunung dan di sisi lainnya laut. Rumah-rumah penduduk bercampur dengan pepohonan dan kebun. Di beberapa kawasan kita juga bisa menjumpai tanaman yang sejak lama identik dengan Maluku Utara seperti cengkeh, pala dan berbagai tanaman kebun lainnya. Rasanya agak aneh karena belum lama sebelumnya aku masih berada di kawasan perdagangan yang ramai, lalu nggak lama kemudian pemandangannya sudah hijau dan terasa jauh lebih santai.
Yang paling aku suka tentu ketika jalan mulai benar-benar dekat dengan laut. Kadang laut muncul begitu saja di sela-sela rumah atau pepohonan. Di kejauhan bisa terlihat pulau lain, perahu nelayan atau kapal yang melintas. Nggak ada momen dramatis seperti, “Sekarang kita sudah meninggalkan kota dan memasuki kawasan alam.” Perubahannya berlangsung pelan-pelan sampai tiba-tiba aku baru sadar, “Eh, kok tadi masih ramai banget, sekarang sudah begini?”
Menurutku ini salah satu keuntungan tinggal di kota kecil yang berada di sebuah pulau. Kalau penat dengan keramaian pusat kota, kita nggak perlu merencanakan perjalanan panjang untuk mencari suasana yang lebih tenang. Tinggal naik motor, ikuti jalan mengelilingi pulau dan terus jalan. Lama-lama bangunan berkurang, angin laut mulai terasa, pemandangan terbuka dan suasana kota seperti menghilang dengan sendirinya.
Lucunya, kalau terus dilanjutkan, perjalanan itu pada akhirnya akan membawa kita kembali lagi ke keramaian karena jalan utama Ternate memang mengitari kaki Gamalama.
Jadi konsep jalan-jalan tanpa tujuan di sini sebenarnya gampang. Keluar rumah → ikuti jalan → lihat laut → lihat kebun → lihat kampung → terus jalan → muter pulau → tahu-tahu balik lagi.
Kalau nyasar?Selama nggak nekat naik ke tengah Gamalama...harusnya nanti ketemu kota lagi.Wkwkwk.
24. Pulau kecil tapi macet tetap bisa terjadi
Kalau melihat Pulau Ternate di peta, mungkin kita akan membayangkan lalu lintasnya santai. Pulaunya kecil, jarak antartempat nggak terlalu jauh, penduduknya juga tentu nggak sebanyak kota-kota besar di Jawa. Harusnya naik motor ke mana-mana lancar dong? Ternyata jangan salah. Ternate juga bisa macet. Wkwkwk. Memang jelas bukan macet level Jakarta atau Surabaya yang bisa bikin kita mempertanyakan keputusan hidup, tapi pada jam dan lokasi tertentu kendaraan bisa menumpuk dan perjalanan yang seharusnya dekat terasa lebih lama.
Kalau dipikir secara geografis sebenarnya masuk akal. Pulau Ternate memang kecil, tetapi justru ruang yang bisa digunakan untuk membangun kota juga terbatas. Bagian tengah pulau ditempati Gunung Gamalama beserta lerengnya, sementara sebagian besar aktivitas perkotaan berkembang di dataran yang relatif sempit di antara lereng gunung dan laut. Akibatnya jalan, rumah, toko, sekolah, kantor, pasar dan berbagai aktivitas masyarakat terkonsentrasi pada koridor yang kurang lebih sama. Jadi bukan masalah pulaunya besar atau kecil, tetapi berapa banyak orang dan kendaraan yang harus berbagi ruang pada bagian pulau yang bisa digunakan.
Pusat kota tentu menjadi bagian yang paling terasa. Kawasan perdagangan seperti Gamalama dan jalan-jalan di sekitarnya ramai oleh orang yang datang untuk belanja, bekerja, sekolah atau sekadar melintas. Motor mendominasi, tapi mobil, angkot, ojek dan kendaraan pengangkut barang juga menggunakan jalan yang sama. Ditambah lagi aktivitas naik-turun penumpang dan kendaraan yang berhenti di pinggir jalan, maka pada waktu tertentu arus lalu lintas gampang tersendat. Jam berangkat sekolah dan kerja, jam pulang, atau ketika aktivitas pasar sedang ramai biasanya menjadi waktu ketika jalan terasa lebih padat.
Buatku ini agak lucu karena bertentangan dengan bayangan awal tentang kehidupan di pulau kecil. Dalam imajinasi, tinggal di pulau itu harusnya identik dengan jalan sepi, angin laut, pohon kelapa dan orang naik motor santai sambil menikmati pemandangan. Kenyataannya, manusia tetap manusia. Begitu terkumpul cukup banyak orang, motor dan mobil pada satu tempat, kemacetan akan menemukan jalannya sendiri. Wkwkwk.
Dan kondisi geografis Ternate membuat pilihan jalannya memang nggak sebebas kota yang dibangun di dataran luas. Kalau satu koridor utama padat, kita nggak selalu punya banyak alternatif untuk mengambil jalan memutar jauh karena ke arah satu sisi ada laut dan ke sisi lainnya lereng Gamalama. Kota ini seperti berada di sabuk sempit yang melingkari gunung. Mau memperlebar ruang kota ke tengah juga nggak bisa seenaknya karena semakin ke atas topografinya semakin terjal.
Menurutku ini justru contoh menarik bagaimana geografi ikut menentukan kehidupan sehari-hari sebuah kota. Gunung Gamalama bukan cuma background cantik untuk foto Ternate. Keberadaan gunung raksasa di tengah pulau ikut menentukan di mana orang bisa membangun rumah, ke mana jalan berkembang, di mana pusat kota tumbuh dan akhirnya bagaimana kendaraan bergerak setiap hari.
25. Keluar pulau bukan berarti perjalanan besar
Buat aku yang berasal dari Jawa, istilah “keluar pulau” kedengarannya seperti sebuah perjalanan besar. Kalau bilang mau keluar pulau, yang langsung terbayang adalah beli tiket pesawat atau kapal, packing baju, bawa tas, berangkat ke bandara atau pelabuhan dan mungkin baru pulang beberapa hari kemudian. Pokoknya harus ada persiapan. Tapi setelah berada di Ternate, konsep keluar pulau ini jadi terasa sangat berbeda. Di sini seseorang bisa keluar dari Pulau Ternate cuma untuk pergi sebentar, menyelesaikan urusan, lalu sore atau malamnya sudah balik lagi.
Contoh paling gampang tentu perjalanan ke Tidore. Dari Ternate, Pulau Tidore bahkan bisa kelihatan jelas di seberang laut. Untuk pergi ke sana kita tinggal menuju titik penyeberangan, naik speedboat atau moda penyeberangan yang tersedia, menyeberang, lalu sampailah di pulau lain. Nggak ada sensasi seperti sedang melakukan perjalanan antarpulau yang besar dan dramatis. Buat masyarakat yang memang rutin bergerak antara Ternate dan Tidore, menyeberangi laut seperti ini adalah bagian biasa dari mobilitas sehari-hari. Ada yang pergi karena kerja, kuliah, mengunjungi keluarga, berdagang atau sekadar punya urusan beberapa jam.
Begitu juga kalau mau menuju Sofifi di Pulau Halmahera, yang sekarang menjadi ibu kota Provinsi Maluku Utara. Dari Ternate perjalanan memang harus melibatkan penyeberangan laut karena kedua kota berada di pulau berbeda. Jadi bayangkan saja kalau kita tinggal di salah satu pusat aktivitas terbesar provinsi tetapi mau mengurus sesuatu ke ibu kota provinsi, salah satu kendaraan yang harus dipikirkan justru kapal atau speedboat. Buat orang lokal ini biasa saja. Buat aku yang terbiasa berpindah kota lewat jalan raya, tetap terasa unik.
Hal seperti ini lama-lama mengubah cara kita memahami jarak. Di Jawa aku terbiasa berpikir bahwa laut adalah batas yang cukup besar. Kalau sudah ketemu laut berarti perjalanan darat selesai dan pergi ke pulau lain adalah tahap perjalanan berikutnya. Di Maluku Utara, laut justru berfungsi seperti jalan raya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya. Pulau-pulaunya memang terpisah secara daratan, tetapi kehidupan masyarakatnya tetap saling terhubung melalui laut. Jadi secara mental, Tidore mungkin terasa lebih dekat bagi orang Ternate daripada sebuah kota yang secara kilometer sebenarnya tidak terlalu jauh tetapi akses transportasinya sulit.
Makanya pelabuhan dan tempat keberangkatan speedboat di sini terasa seperti terminal dalam kehidupan masyarakat di Jawa. Orang datang, menunggu kendaraan, barang dinaikkan, penumpang masuk, kapal berangkat, lalu beberapa saat kemudian mereka sudah berada di pulau lain.
Menurutku baru setelah tinggal atau menghabiskan cukup banyak waktu di daerah kepulauan kita benar-benar memahami bahwa laut nggak selalu berfungsi sebagai pemisah. Kadang justru sebaliknya. Laut adalah penghubung. Selama ada kapal, dua pulau yang kelihatannya terpisah di peta bisa mempunyai hubungan sehari-hari yang sangat dekat.
26. Kalau cuaca cerah, “tetangga” Ternate kelihatan jelas
Salah satu hal yang paling aku suka dari Ternate adalah ketika cuaca sedang cerah dan pandangan ke laut terbuka lebar. Dari pesisir kita nggak cuma melihat hamparan laut kosong sampai horizon, tetapi bisa melihat pulau-pulau lain berdiri jelas di seberang. Ada Tidore dengan Gunung Kie Matubu yang menjulang, ada Pulau Maitara yang mungil di dekatnya, dan dari bagian tertentu Pulau Ternate kita juga bisa memandang ke arah Halmahera. Jadi rasanya seperti tinggal di sebuah kompleks perumahan, cuma rumah tetangganya berupa pulau dan halaman depannya Samudra Pasifik. Wkwkwk.
Yang paling mencolok tentu Tidore. Bentuk gunungnya besar dan gampang dikenali sehingga kalau udara bersih, pulau itu terlihat seperti berada dekat banget. Padahal kita sedang berdiri di pulau yang berbeda dan di antara keduanya terbentang laut. Buat orang lokal mungkin pemandangan seperti ini sudah terlalu biasa sampai nggak diperhatikan lagi. Tapi buat pendatang seperti aku, tetap ada sensasi aneh ketika melihat sebuah kota atau pulau lain secara langsung dari tempat kita berdiri. Di Jawa aku terbiasa melihat kota tetangga lewat papan penunjuk jalan: Solo 20 km, Semarang 80 km. Di sini nggak perlu papan. Pulaunya sendiri kelihatan.
Lalu ada Maitara, pulau kecil yang berada di antara Ternate dan Tidore. Kalau namanya terasa familiar, mungkin karena pemandangan Maitara dan Tidore pernah menjadi sangat terkenal di Indonesia setelah digunakan sebagai ilustrasi pada uang kertas Rp1.000 emisi tahun 2000. Gambar uang seribuan berwarna biru yang dulu sering kita pegang menampilkan pemandangan Pulau Maitara dan Tidore dari kawasan Ternate. Jadi ketika melihat pemandangan aslinya, rasanya agak lucu juga: “Lho, ini yang dulu ada di uang seribuan itu?”
Dan pemandangan ini sekaligus membuat geografi Maluku Utara yang sebelumnya cuma berupa nama-nama di peta mendadak terasa nyata. Ternate, Tidore, Maitara, Halmahera—kalau dibaca di atlas semuanya tampak seperti pulau-pulau terpisah. Tapi ketika berdiri di pesisir Ternate dan melihat beberapa daratan sekaligus di depan mata, baru terasa bahwa pulau-pulau tersebut sebenarnya hidup dalam satu ruang geografis yang saling berdekatan. Kapal mondar-mandir di antaranya, masyarakat menyeberang untuk bekerja atau mengunjungi keluarga, barang bergerak dari satu pulau ke pulau lain dan hubungan antarpulau berlangsung setiap hari.
Kadang aku juga suka membayangkan bagaimana pemandangan yang sama dilihat manusia ratusan tahun lalu. Sebelum ada speedboat, pesawat, Google Maps atau GPS, orang Ternate sudah melihat Tidore berdiri di seberang sana. Orang Tidore juga melihat Ternate dengan Gamalama-nya. Dua pulau yang secara visual begitu dekat ini kemudian tumbuh menjadi dua kesultanan besar yang sejarahnya berkali-kali saling bersinggungan. Jadi gunung yang sekarang kita lihat dengan santai sambil duduk di pinggir laut sebenarnya sudah menjadi bagian dari pandangan manusia di kawasan ini selama berabad-abad.
Menurutku pemandangan pulau-pulau yang saling terlihat seperti ini adalah salah satu hal yang bikin tinggal di Ternate terasa berbeda. Kita selalu diingatkan bahwa Ternate bukan daratan yang berdiri sendirian. Di sekelilingnya ada pulau lain, masyarakat lain dan kehidupan lain yang terhubung oleh laut.
Dan ketika cuaca sedang benar-benar cerah, rasanya pengen nunjuk satu-satu:
"Itu Tidore."
"Itu Maitara."
"Yang jauh sana Halmahera."
27. Ternate seperti punya dua ritme: sebelum dan setelah matahari terbenam
Salah satu hal yang aku rasakan selama berada di Ternate adalah suasana kotanya berubah cukup terasa ketika sore mulai datang. Sejak pagi sampai siang, Ternate berjalan seperti kota pada umumnya. Orang berangkat kerja, anak-anak pergi sekolah, pasar ramai, kendaraan lalu-lalang dan matahari Maluku Utara yang panas membuat aktivitas di luar ruangan kadang terasa lumayan menguras tenaga. Apalagi ketika matahari sedang terik-teriknya, rasanya pilihan paling masuk akal memang mencari tempat teduh atau ruangan ber-AC. Wkwkwk.
Tapi menjelang sore, suasananya mulai berbeda. Matahari turun, udara perlahan lebih nyaman dan orang-orang mulai keluar. Kawasan pesisir seperti Falajawa, Taman Nukila dan waterfront menjadi lebih hidup. Ada yang datang bersama keluarga, nongkrong dengan teman, duduk melihat laut, membeli makanan atau sekadar menghabiskan waktu sambil menunggu matahari terbenam. Anak-anak bermain, penjual makanan mulai ramai dan jalanan di sekitar kawasan tersebut ikut terasa lebih hidup.
Menurutku ini salah satu konsekuensi menyenangkan dari bentuk Kota Ternate yang langsung berhadapan dengan laut. Di banyak kota, kalau mau menikmati sunset di pantai kita harus merencanakan perjalanan khusus: “Besok sore kita ke pantai yuk.” Di Ternate, laut sudah menjadi bagian dari kota. Jadi habis bekerja atau menyelesaikan urusan, orang bisa langsung mampir ke pesisir tanpa harus merasa sedang melakukan perjalanan wisata. Duduk menghadap laut pada sore hari bukan selalu aktivitas liburan; bisa menjadi bagian biasa dari kehidupan sehari-hari.
Setelah matahari benar-benar tenggelam, ritmenya berubah lagi. Panas siang hari hilang, lampu-lampu kota mulai menyala dan aktivitas makan serta nongkrong mengambil alih. Warung, kedai dan tempat makan mulai ramai. Orang mencari ikan bakar, nasi kuning, gorengan, kopi, saraba atau air guraka, sementara kelompok anak muda mulai memenuhi tempat-tempat nongkrong. Kota yang beberapa jam sebelumnya terasa panas dan sibuk berubah menjadi lebih santai.
Yang menarik, laut tetap menjadi latar belakang semuanya. Kalau cuaca cerah, dari beberapa bagian pesisir kita masih bisa melihat siluet Tidore dan Maitara yang perlahan berubah menjadi gelap. Kapal dan speedboat masih terlihat bergerak, sementara lampu-lampu dari daratan lain mulai muncul di kejauhan. Saat seperti ini baru terasa bahwa malam di Ternate bukan cuma tentang kotanya sendiri, tetapi juga tentang pulau-pulau lain yang kelihatan di seberang.
Buatku suasana seperti ini membuat Ternate seolah mempunyai dua ritme kehidupan. Pagi sampai siang adalah waktunya kota bekerja: pasar, sekolah, kantor, perdagangan dan berbagai urusan sehari-hari. Sore sampai malam, sebagian kehidupan bergeser ke ruang yang lebih santai: pesisir, tempat makan, warung dan tempat nongkrong.
Dan mungkin karena itu, kalau siang hari Ternate terasa terlalu panas, jangan buru-buru menilai kotanya. Tunggu mataharinya turun sedikit. Begitu sore datang, Ternate seperti ganti mode.
28. Pada akhirnya, yang paling aku ingat justru hal-hal kecilnya
Kalau ditanya apa yang paling terkenal dari Ternate, jawabannya mungkin gampang. Gunung Gamalama, Kesultanan Ternate, rempah-rempah, benteng peninggalan kolonial, Danau Tolire, sampai pemandangan Maitara dan Tidore. Semuanya memang menarik dan menjadi bagian penting dari identitas Ternate. Kalau datang sebagai wisatawan beberapa hari, kemungkinan besar tempat-tempat itulah yang akan masuk itinerary.
Tapi setelah pernah tinggal dan menjalani kehidupan sehari-hari di sini, anehnya justru bukan tempat wisatanya yang paling sering muncul di kepalaku ketika mengingat Ternate.
Yang aku ingat malah hal-hal receh.
Aku ingat bagaimana Gamalama hampir selalu ada di belakang kota, sampai lama-lama keberadaannya terasa biasa. Aku ingat konsep arah yang perlahan berubah karena ada gunung di tengah dan laut di pinggir. Aku ingat pertama kali mendengar orang menggunakan kata “kita” untuk menyebut dirinya sendiri, lalu otakku harus berhenti beberapa detik untuk menerjemahkan siapa sebenarnya yang sedang dibicarakan. Lama-lama malah kata ngana, torang, dorang, dan tara ikut terasa familiar.
Aku ingat pisang goreng yang bukannya ditemani teh manis malah ketemu sambal. Aku ingat air guraka hangat dengan kenari di atasnya. Aku ingat kenari yang entah kenapa muncul lagi, muncul lagi, dan muncul lagi di makanan. Aku ingat ikan yang seperti nggak pernah benar-benar jauh dari meja makan: nasi kuning pakai ikan, ikan fufu, gohu ikan, ikan bakar, pasar ikan yang sudah sibuk sejak pagi buta.
Aku juga ingat betapa cepatnya suasana bisa berubah. Beberapa menit sebelumnya masih berada di pusat kota yang ramai, lalu nggak lama kemudian sudah melihat kebun, kampung dan laut. Aku ingat naik motor mengikuti jalan yang mengelilingi kaki Gamalama dan tahu bahwa kalau diteruskan, pada akhirnya aku akan kembali lagi ke tempat semula. Aku ingat melihat Tidore dan Maitara di seberang laut dan perlahan terbiasa dengan kenyataan bahwa untuk pergi ke “kota sebelah” kita kadang harus naik speedboat.
Dan mungkin inilah yang nggak bisa kita dapatkan kalau hanya datang dua atau tiga hari sebagai wisatawan.
Kita bisa melihat tempat wisata dalam beberapa hari, tetapi untuk mengenal kebiasaan sebuah kota kita perlu menjalani kehidupan di dalamnya.
Kita perlu pergi ke pasar, naik kendaraan umum, mencari makan ketika lapar, kepanasan di siang hari, nongkrong menjelang sore, mendengar cara orang berbicara, salah memahami beberapa kata, memperhatikan apa yang dimakan orang, melihat bagaimana mereka bepergian dan pelan-pelan mengikuti ritme kehidupan mereka.
Dari situlah sebuah tempat berhenti menjadi sekadar nama di peta.
Ternate buatku akhirnya bukan cuma sebuah pulau kecil di Maluku Utara dengan gunung api di tengahnya. Ternate adalah suara orang berbicara dengan logat yang dulu terasa asing, aroma ikan dari pasar, rasa pedas sambal yang ketemu pisang goreng, kenari di atas air guraka, speedboat yang mondar-mandir antarpulau, Gamalama yang muncul hampir setiap kali menoleh ke arah daratan dan Tidore yang berdiri diam di seberang laut.
Tapi bertahun-tahun kemudian, justru hal-hal kecil seperti itulah yang kadang muncul tiba-tiba di kepala dan membuat kita berpikir,
“Oh iya... dulu aku pernah tinggal di Ternate.”
Dan ternyata, sebuah kota paling lama tinggal dalam ingatan bukan selalu karena tempat-tempat spektakulernya. Kadang cuma karena cara orang berbicara, makanan yang kita makan, jalan yang pernah kita lewati, dan kehidupan biasa yang dulu sempat menjadi kehidupan kita juga.


