Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
Part Sebelumnya: DISINI
Setelah berpamitan dengan bapak ibu kenalan baru kami, kami kembali naik ke rickshaw tua kami. Kali ini, kayuhan sepeda bapak tua membawa kami menuju pemberhentian berikutnya yaitu Kompleks Royal Thai Monastery, sebuah biara megah yang dibangun oleh negara Thailand.
Saat kami tiba di sana, hari sudah beranjak sore, sekitar jam 16.30. Namun matahari khas Nepal masih menyinari bumi dengan sangat terik dan menyengat, seolah enggan meredupkan sinarnya. Untungnya, kompleks ini dikelilingi oleh banyak pepohonan rimbun. Di antara batang-batang pohon itu, angin sore berembus sepoi-sepoi, lumayan memberikan sedikit kesegaran di tengah hawa panas yang membakar kulit.
Suasana kompleks biara terasa begitu sepi, lengang, dan damai. Tidak ada keriuhan turis ataupun hiruk-pikuk kota; hanya ada kesunyian yang pekat, seakan-akan waktu sedang melambat di sini. Di beberapa sudut, tampak satu-dua peziarah berjalan dalam diam atau duduk termenung, benar-benar larut dalam keheningan tempat ini.
Begitu memasuki area gerbang, sebuah bangunan bergaya arsitektur khas Thailand langsung mencuri perhatian kami. Desain atapnya yang bertumpuk dengan hiasan merah menyala dan ukiran emas murni kelihatan kontras sekali dengan dinding putihnya yang bersih dan megah. Aku sempat berpose sebentar di depan tangga utamanya, menangkupkan kedua tangan di dada untuk memberi salam hormat.
Lagi-lagi, kami harus melepas alas kaki sebelum mengeksplorasi lebih jauh. Berjalan di atas pelataran ubinnya yang masih menyimpan sisa panas matahari siang membuat kami harus melangkah cepat-cepat supaya telapak kaki tidak melepuh. Di area halaman luar yang beralaskan rumput hijau, perhatianku tersita oleh sebuah tenda yang menaungi deretan batu bulat besar berlapis emas. Batu-batu tersebut dipenuhi oleh tempelan kertas emas yang disematkan oleh para peziarah yang datang ke sini untuk berdoa. Di belakangnya, terdapat papan pengumuman beraksara Thailand.
Kami kemudian melangkah perlahan ke bagian dalam aula utama biara. Begitu melewati pintu besar, hawa terik dari luar langsung berganti dengan kesejukan yang menenangkan. Aula dalam ini dibangun dengan sangat megah, memiliki langit-langit tinggi berwarna merah marun yang dihiasi pola-pola dekoratif keemasan. Di bagian tengah ruangan, sebuah altar emas bertingkat berdiri dengan anggun, menopang patung Buddha yang berkilau indah di bawah temaram lampu dalam ruangan.
Fredo memintaku untuk duduk di anak tangga marmer putih, tepat di depan batas pagar altar utama. Sambil menikmati keheningan total di dalam ruangan, aku tersenyum menghadap kamera. Di dekat altar utama, terdapat juga sebuah patung emas berukuran kecil yang menggambarkan sosok Pangeran Siddharta semasa bayi dengan satu tangan menunjuk ke langit, dihiasi rangkaian bunga segar yang ditata rapi di bawah tatakannya.
Sebelum menyudahi kunjungan singkat di biara Thailand ini, kami sempat berjalan ke sisi sayap bangunan yang seluruh arsitekturnya dilapisi warna putih bersih dengan ukiran yang detail. Di sudut lorongnya yang teduh, terlihat dua orang peziarah sedang duduk santai, menikmati semilir angin sore yang berembus pelan di antara pilar-pilar putih.
Keluar dari ketenangan biara Thailand, kami kembali disambut embusan angin sore yang kering. Bapak tua pengayuh rickshaw langsung mengarahkan sepedanya menuju kompleks berikutnya yang tidak kalah mencuri perhatian. Dari kejauhan, sebuah stupa dengan arsitektur yang sangat mencolok dan berbeda dari biara-biara sebelumnya sudah melambai-lambai minta dikunjungi.
Tempat ini bernama The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa. Begitu turun dari rickshaw, aku sempat tertegun melihat perpaduan warnanya. Berbeda dengan biara Thailand yang didominasi warna putih bersih, stupa beraliran Tibet ini berani bermain warna. Atapnya berbentuk kanopi besar berwarna jingga terang, menopang struktur stupa putih di atasnya yang dihiasi ukiran serta relief warna-warni yang sangat meriah khas Vajrayana. Di bagian depan, sebuah papan nama berbentuk lengkungan megah mempertegas nama tempat suci ini.
Sinar matahari sore yang mulai condong masih terasa menyengat saat aku memutuskan duduk sejenak di tepian semen pelataran depan. Bertelanjang kaki di atas lantai yang hangat, aku tersenyum tipis ke arah kamera dengan latar belakang tangga putih yang menanjak menuju bangunan utama. Di sisi kanan tangga, sebuah patung kecil berwarna keemasan berdiri anggun di antara rimbunnya tanaman hias, seolah ikut mengawasi ketenangan tempat ini.
Ritual di Lumbini ini memang melatih kesabaran telapak kaki. Kami kembali melepas alas kaki untuk mengeksplorasi area halamannya yang asri dan beralaskan rumput hijau. Di salah satu sudut taman yang dirawat rapi, langkah kami terhenti di depan sebuah rupang yang sangat indah. Patung seorang perempuan bergaun biru dan kain merah sedang berbaring menyamping dengan posisi yang sangat anggun. Di dekatnya, ada patung gajah putih kecil yang bersembunyi di balik semak. Suasana taman yang sepi, ditemani gesekan daun-daun dari pepohonan sekitar karena tiupan angin sore, membuat momen melihat rupang ini terasa sangat syahdu.
Sebelum naik ke bangunan utama, kami melewati sebuah paviliun terbuka yang menyimpan roda doa raksasa (prayer wheel atau Mani wheel) berwarna merah menyala dengan ukiran mantra Om Mani Padme Hum berwarna emas yang timbul. Ukurannya luar biasa besar, bahkan tingginya melebihi badanku sendiri.
Aku tidak melewatkan kesempatan untuk berdiri di samping roda doa tersebut. Sambil menyentuh permukaannya yang kokoh, aku berfoto di sana. Rasanya magis sekali bisa menyentuh salah satu simbol spiritual Tibet ini langsung di tanah kelahiran Buddha.




0 comments:
Posting Komentar