Bayangkan kita sedang traveling di dalam maupun luar negeri dan menginap di sebuah hostel yang berada di lantai enam. Saat itu, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Kita sedang tertidur pulas ketika tiba-tiba kasur terasa bergerak.
Awalnya, kita mungkin masih setengah sadar dan berpikir, "Hah? Aku pusing, ya? Kok kasurnya kayak bergerak?"
Namun, beberapa detik kemudian, gantungan baju mulai bergoyang, pintu lemari bergetar, dan lampu gantung bergerak ke kanan dan ke kiri. Guncangan semakin terasa hingga akhirnya kita menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.
GEMPA BUMI!
Situasi seperti ini tentu berbeda dengan kebakaran hotel atau hostel. Ketika terjadi kebakaran, kita perlu segera melakukan evakuasi apabila jalur keluar aman untuk dilewati. Namun, ketika gempa bumi terjadi, tindakan yang harus kita lakukan justru berbeda. Naluri pertama kita mungkin mengatakan, "Waduh, gempa! Cepat keluar! Turun lewat tangga darurat!"
Padahal, ketika guncangan masih berlangsung, berlari melewati koridor, menuruni tangga, atau berusaha keluar dari bangunan justru dapat membahayakan keselamatan kita. Guncangan dapat membuat kita kehilangan keseimbangan, sementara kaca jendela, lampu gantung, plafon, lemari, dan benda-benda lainnya berpotensi jatuh atau pecah.
Apalagi jika kita sedang menginap di lantai enam sebuah hostel yang bangunannya sama sekali tidak kita kenal. Kita mungkin belum mengetahui lokasi tangga darurat, kondisi koridor, maupun jalur evakuasi yang dapat digunakan setelah guncangan berhenti.
Karena itu, hal terpenting ketika gempa bumi terjadi bukanlah berusaha keluar dari bangunan secepat mungkin saat masih berguncang, melainkan melindungi diri terlebih dahulu dari benda-benda yang berpotensi jatuh dan menyebabkan cedera.
Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan apabila gempa bumi terjadi ketika sedang menginap di hotel atau hostel, terutama jika kita berada di lantai atas dan jauh dari pintu keluar?
Agar lebih mudah dipahami, panduan survival gempa bumi ini akan dibagi menjadi tiga fase utama, yaitu:
SEBELUM GEMPA → SAAT GUNCANGAN → SETELAH GUNCANGAN.
Setiap fase memiliki langkah keselamatan yang berbeda, mulai dari persiapan sederhana ketika pertama kali check-in, tindakan melindungi diri saat bangunan berguncang, hingga prosedur evakuasi setelah guncangan berhenti.
1. Saat Check-in, Kenali Bangunan Tempat Kita Menginap
Seperti halnya ketika menghadapi kebakaran, persiapan untuk menghadapi gempa bumi sebenarnya sudah dapat kita lakukan sejak pertama kali check-in di hotel atau hostel. Meskipun kita tidak dapat memprediksi kapan gempa akan terjadi, setidaknya kita dapat mengenali lingkungan tempat menginap agar tidak kebingungan apabila suatu saat harus melakukan evakuasi.
Setelah mendapatkan kamar atau bed dorm, luangkan waktu beberapa menit untuk mencari tahu lokasi pintu keluar darurat (emergency exit), tangga darurat, lobi, serta titik kumpul atau assembly point apabila tersedia. Perhatikan juga peta evakuasi (evacuation map) yang biasanya ditempel di belakang pintu kamar atau di sepanjang koridor hotel.
Kita tentu tidak perlu berjalan mengelilingi seluruh bangunan hanya untuk menghafalkan setiap lorong dan tangga. Setidaknya, kita mengetahui posisi tangga darurat terdekat dari kamar dan jalur yang harus dilewati untuk mencapai pintu keluar bangunan.
Misalnya, ketika menginap di lantai enam sebuah hostel, kita mengetahui bahwa tangga darurat berada di ujung koridor sebelah kanan, sedangkan jalur keluar alternatif berada di dekat lift. Dengan mengetahui kedua jalur tersebut, kita memiliki gambaran mengenai arah evakuasi apabila salah satu jalur tidak dapat digunakan akibat kerusakan bangunan setelah gempa.
Informasi sederhana seperti ini dapat menjadi sangat berharga apabila gempa terjadi pada malam hari ketika kita sedang tertidur. Bayangkan jika guncangan menyebabkan listrik padam, penerangan koridor mati, dan seluruh penghuni hostel keluar dari kamar secara bersamaan. Dalam situasi seperti itu, mengetahui lokasi tangga darurat dan pintu keluar dapat membantu kita menentukan arah evakuasi tanpa harus mencari-cari jalur di tengah kepanikan.
Namun, perlu diingat bahwa mengetahui lokasi tangga darurat bukan berarti kita harus langsung berlari menuju tangga ketika gempa mulai terjadi. Selama guncangan masih berlangsung, prioritas utama adalah melindungi diri dari benda-benda yang berpotensi jatuh atau pecah. Jalur evakuasi baru digunakan setelah guncangan berhenti dan kondisinya aman untuk dilewati, kecuali terdapat bahaya langsung yang mengharuskan kita berpindah ke tempat yang lebih aman.
Kesimpulannya, setelah check-in, lakukan beberapa hal berikut:
a. Cari tahu lokasi pintu keluar darurat (emergency exit) dan tangga darurat terdekat dari kamar.
b. Kenali jalur evakuasi alternatif apabila jalur utama tidak dapat digunakan setelah gempa.
c. Perhatikan lokasi lobi dan titik kumpul atau assembly point yang telah ditentukan oleh pihak hotel atau hostel.
d. Baca peta evakuasi (evacuation map) yang biasanya ditempel di belakang pintu kamar atau di sepanjang koridor.
e. Ingat arah dan belokan menuju tangga darurat agar tidak kebingungan apabila penerangan mati atau banyak penghuni melakukan evakuasi secara bersamaan.
f. Jangan langsung berlari menuju tangga darurat ketika gempa masih berlangsung. Lindungi diri terlebih dahulu dan lakukan evakuasi setelah guncangan berhenti apabila jalur keluar aman untuk dilewati.
GEMPA MULAI TERASA
2. Jangan Langsung Berlari Keluar
Bayangkan kita sedang tertidur di kamar hostel lantai enam ketika tiba-tiba kasur mulai bergoyang. Awalnya, guncangan mungkin terasa ringan, tetapi beberapa detik kemudian semakin kuat hingga lampu gantung bergerak ke kanan dan ke kiri, pintu lemari bergetar, dan barang-barang mulai berjatuhan dari rak.
Dalam situasi seperti ini, naluri pertama kita mungkin mengatakan, "Waduh, gempa! Cepat keluar! Turun lewat tangga darurat!"
Namun, jangan langsung berlari menuju koridor, tangga darurat, atau pintu keluar ketika guncangan masih berlangsung. Tindakan tersebut justru dapat meningkatkan risiko cedera karena kita harus melewati bagian bangunan yang mungkin sedang mengalami kerusakan akibat guncangan.
Ketika gempa terjadi, berbagai benda di dalam bangunan dapat bergerak atau jatuh secara tiba-tiba. Lampu gantung dapat terlepas dari langit-langit, kaca jendela dapat pecah, lemari dan rak dapat roboh, sementara bagian plafon maupun material bangunan lainnya dapat berjatuhan. Guncangan yang kuat juga dapat membuat kita kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh ketika mencoba berlari atau menuruni tangga.
Apalagi jika kita sedang menginap di lantai enam sebuah hostel. Untuk mencapai pintu keluar bangunan, kita mungkin harus melewati koridor yang panjang dan menuruni beberapa lantai melalui tangga darurat. Jika guncangan masih berlangsung, perjalanan tersebut dapat membuat kita terpapar lebih banyak bahaya dibandingkan apabila kita segera mencari perlindungan di tempat yang aman di dalam kamar.
Karena itu, ketika gempa mulai terasa, jangan langsung berlari keluar hanya karena ingin segera meninggalkan bangunan. Prioritas utama kita adalah melindungi kepala, leher, dan tubuh dari benda-benda yang berpotensi jatuh atau pecah selama guncangan berlangsung.
Salah satu prinsip keselamatan gempa bumi yang digunakan secara luas adalah Drop, Cover, and Hold On, yaitu tindakan menjatuhkan posisi tubuh, mencari perlindungan, dan mempertahankan posisi tersebut hingga guncangan berhenti.
Bagaimana cara menerapkan ketiga langkah tersebut apabila kita sedang berada di dalam kamar hotel atau hostel? Hal ini akan dibahas secara lebih detail pada langkah berikutnya.
Kesimpulannya, ketika gempa mulai terasa:
a. Jangan langsung berlari menuju pintu keluar, koridor, atau tangga darurat selama guncangan masih berlangsung.
b. Waspadai benda-benda yang berpotensi jatuh atau pecah, seperti lampu gantung, kaca jendela, lemari, rak, dan bagian plafon.
c. Jangan mencoba menuruni tangga ketika bangunan masih berguncang karena kita dapat kehilangan keseimbangan atau terkena material yang berjatuhan.
d. Segera cari perlindungan yang aman di dekat posisi kita dan hindari berpindah terlalu jauh selama guncangan berlangsung.
e. Terapkan prinsip Drop, Cover, and Hold On untuk melindungi kepala, leher, dan tubuh dari benda-benda yang berpotensi jatuh.
f. Tetap berada dalam posisi perlindungan hingga guncangan berhenti, kemudian periksa kondisi sekitar sebelum menentukan langkah selanjutnya.
3. DROP — Turunkan Tubuh
Ketika kita menyadari bahwa bangunan mulai berguncang akibat gempa bumi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera menurunkan posisi tubuh dengan bertumpu pada kedua tangan dan lutut. Jangan menunggu sampai guncangan menjadi sangat kuat atau sampai benda-benda di sekitar mulai berjatuhan.
Mengapa kita harus menurunkan posisi tubuh?
Ketika gempa bumi terjadi, guncangan dapat membuat kita kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba. Jika kita tetap berdiri atau mencoba berjalan menuju pintu keluar, kita berisiko terjatuh dan mengalami cedera, terutama apabila guncangan semakin kuat. Dengan menurunkan posisi tubuh, pusat gravitasi kita menjadi lebih rendah sehingga kita dapat mempertahankan keseimbangan dengan lebih baik.
Posisi bertumpu pada tangan dan lutut juga memungkinkan kita untuk bergerak menuju tempat perlindungan terdekat tanpa harus berdiri. Misalnya, apabila kita sedang berada di samping tempat tidur dan terdapat meja kokoh yang dapat dijangkau dengan aman, kita dapat bergerak menuju meja tersebut sambil tetap mempertahankan posisi tubuh yang rendah.
Namun, jangan mencoba merangkak melintasi seluruh kamar hanya untuk mencari meja apabila tindakan tersebut justru membuat kita melewati kaca jendela, lemari tinggi, atau benda-benda lain yang berpotensi jatuh. Jika tidak terdapat meja kokoh yang dapat dijangkau dengan aman, tetaplah berada di posisi rendah dan segera lindungi kepala serta leher menggunakan kedua lengan.
Intinya, begitu kita menyadari bahwa guncangan yang sedang terjadi adalah gempa bumi, segera turunkan tubuh. Jangan menunggu sampai guncangan semakin kuat dan membuat kita kehilangan keseimbangan.
Kesimpulannya, ketika gempa mulai terasa:
a. Segera turunkan posisi tubuh dengan bertumpu pada kedua tangan dan lutut.
b. Jangan tetap berdiri atau mencoba berjalan ketika guncangan kuat sedang berlangsung karena kita berisiko kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
c. Pertahankan posisi tubuh yang rendah agar lebih stabil dan tetap dapat bergerak menuju tempat perlindungan terdekat.
d. Jika terdapat meja kokoh yang dapat dijangkau dengan aman, bergeraklah menuju meja tersebut sambil tetap mempertahankan posisi tubuh yang rendah.
e. Jangan merangkak terlalu jauh atau melewati benda-benda yang berpotensi jatuh hanya untuk mencari tempat perlindungan.
f. Jika tidak terdapat meja kokoh yang dapat dijangkau dengan aman, tetaplah berada di posisi rendah dan segera lindungi kepala serta leher menggunakan kedua lengan.
4. COVER — Lindungi Kepala dan Leher
Setelah menurunkan posisi tubuh, langkah berikutnya adalah segera mencari perlindungan untuk kepala dan leher. Kedua bagian tubuh ini merupakan prioritas utama karena benturan akibat benda yang jatuh, pecahan kaca, atau material bangunan dapat menyebabkan cedera serius.
Bayangkan kita sedang berada di dalam kamar hostel ketika gempa mulai mengguncang bangunan. Lampu gantung bergerak ke kanan dan ke kiri, barang-barang mulai berjatuhan dari rak, dan lemari di dekat tempat tidur terlihat bergoyang. Dalam situasi seperti ini, kita perlu segera mencari perlindungan terdekat tanpa harus berpindah terlalu jauh dari posisi awal.
Apabila terdapat meja yang kokoh di dekat kita, segera berlindung di bawahnya. Pastikan kepala dan leher berada di bawah permukaan meja sehingga benda-benda yang berjatuhan tidak langsung mengenai tubuh kita. Meja yang kokoh dapat memberikan perlindungan dari sejumlah benda yang jatuh, meskipun tentu saja tidak menjamin keselamatan apabila terjadi kerusakan struktur bangunan yang berat.
Namun, bagaimana apabila kamar hostel kita tidak memiliki meja? Atau meja berada terlalu jauh sehingga kita harus melewati lemari, kaca jendela, dan berbagai benda yang berpotensi jatuh untuk mencapainya?
Dalam situasi seperti ini, jangan memaksakan diri bergerak terlalu jauh hanya untuk mencari meja. Tetaplah berada dalam posisi rendah, jauhi benda-benda yang berpotensi jatuh apabila memungkinkan, kemudian gunakan kedua lengan untuk melindungi kepala dan leher. Kita dapat menundukkan kepala dan meletakkan kedua tangan di bagian belakang kepala serta leher untuk mengurangi risiko cedera akibat benturan.
Lalu, bagaimana apabila gempa terjadi ketika kita sedang tertidur di tempat tidur?
Mengutip panduan keselamatan gempa bumi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), apabila seseorang sedang berada di tempat tidur ketika gempa terjadi, ia dianjurkan untuk tetap berada di tempat tidur dan melindungi kepala serta leher menggunakan bantal. Tindakan ini dapat mengurangi risiko cedera akibat mencoba berjalan atau berlari ketika guncangan masih berlangsung, terutama apabila lantai sudah dipenuhi pecahan kaca atau benda-benda yang berjatuhan.
Karena itu, apabila kita terbangun akibat gempa ketika sedang tidur di kamar hotel atau hostel, jangan langsung melompat dari tempat tidur dan berlari menuju pintu keluar. Jika tidak terdapat bahaya langsung di sekitar tempat tidur, tetaplah berada di atas kasur, turunkan posisi tubuh agar lebih stabil, kemudian gunakan bantal untuk melindungi kepala dan leher hingga guncangan berhenti.
Namun, kita tetap perlu memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Apabila tepat di atas tempat tidur terdapat lampu gantung yang berat, rak dinding yang tidak stabil, atau benda lain yang jelas berpotensi jatuh mengenai tubuh kita, segera cari posisi perlindungan terdekat yang lebih aman apabila dapat dilakukan tanpa harus melewati area berbahaya.
Hal yang sama berlaku apabila kita sedang tidur di ranjang susun atau bunk bed yang banyak digunakan di hostel. Jika berada di ranjang bagian atas, jangan langsung mencoba menuruni tangga ranjang ketika guncangan kuat sedang berlangsung karena kita dapat kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tetaplah berada di atas kasur, lindungi kepala dan leher menggunakan bantal, serta hindari bergerak mendekati tepi ranjang. Setelah guncangan berhenti, barulah kita dapat menilai kondisi sekitar dan turun dengan hati-hati apabila aman.
Intinya, tujuan utama dari prinsip COVER adalah melindungi kepala dan leher dari benda-benda yang berpotensi jatuh selama gempa berlangsung. Kita tidak harus selalu mencari meja apabila tempat perlindungan tersebut terlalu jauh atau sulit dijangkau. Gunakan perlindungan terbaik yang tersedia di dekat posisi kita dan hindari melakukan gerakan yang justru meningkatkan risiko cedera.
Kesimpulannya, ketika melakukan COVER:
a. Prioritaskan perlindungan kepala dan leher dari benda-benda yang berpotensi jatuh, pecahan kaca, dan material bangunan.
b. Apabila terdapat meja kokoh yang dapat dijangkau dengan aman, segera berlindung di bawahnya.
c. Jika tidak terdapat meja kokoh di dekat kita, tetaplah berada dalam posisi rendah dan gunakan kedua lengan untuk melindungi kepala serta leher.
d. Jangan bergerak terlalu jauh atau melewati benda-benda yang berpotensi jatuh hanya untuk mencari meja.
e. Apabila sedang berada di tempat tidur dan tidak terdapat bahaya langsung di sekitarnya, tetaplah berada di atas kasur dan gunakan bantal untuk melindungi kepala serta leher.
f. Hindari melompat dari tempat tidur dan berlari tanpa alas kaki ketika guncangan masih berlangsung, terutama apabila lantai berpotensi dipenuhi pecahan kaca.
g. Jika terdapat benda berat yang jelas berpotensi jatuh tepat di atas tempat tidur, cari posisi perlindungan terdekat yang lebih aman apabila dapat dilakukan tanpa melewati area berbahaya.
h. Apabila sedang tidur di ranjang susun bagian atas, jangan langsung menuruni tangga ranjang ketika guncangan kuat berlangsung. Lindungi kepala dan leher, jauhi tepi ranjang, dan tunggu hingga guncangan berhenti sebelum turun dengan hati-hati.
6. Jauhi Jendela dan Benda-Benda yang Berpotensi Jatuh
Ketika gempa bumi terjadi, salah satu hal yang perlu kita perhatikan adalah posisi kita terhadap benda-benda di sekitar kamar. Hotel atau hostel biasanya memiliki berbagai perabot, seperti lemari pakaian, televisi, cermin, rak dinding, dan lampu gantung, yang dapat bergeser, roboh, pecah, atau terlepas akibat guncangan.
Bayangkan kita sedang menginap di lantai enam sebuah hotel ketika tiba-tiba terjadi gempa bumi. Karena penasaran dengan apa yang sedang terjadi, kita mungkin tergoda untuk berjalan mendekati jendela dan melihat kondisi jalanan di bawah.
"Wah, orang-orang di luar pada lari nggak, ya?"
Jangan mendekati jendela untuk melihat situasi di luar ketika gempa masih berlangsung. Kaca jendela dapat pecah akibat pergerakan bangunan atau benturan benda lain. Pecahannya dapat melukai kita, terutama jika kita berdiri tepat di dekat jendela tanpa perlindungan.
Selain jendela, perhatikan pula posisi cermin besar, lemari tinggi, rak dinding, televisi, lampu gantung, dan benda-benda berat lainnya. Lemari yang tidak terpasang kuat pada dinding dapat roboh, televisi dapat terjatuh dari meja, sedangkan barang-barang yang disimpan di rak bagian atas dapat berjatuhan ketika guncangan semakin kuat.
Apabila kita berada di dekat benda-benda tersebut ketika gempa mulai terasa, segera menjauh ke posisi perlindungan terdekat yang lebih aman jika memungkinkan. Namun, jangan mencoba berlari melintasi kamar atau melewati perabot yang sedang bergoyang hanya untuk mencapai tempat lain. Tetaplah merendah dan prioritaskan perlindungan kepala serta leher.
Lalu, bagaimana jika kita sedang menginap di kamar dorm yang dipenuhi ranjang susun atau bunk bed?
Bayangkan ada delapan orang yang sedang tertidur di sebuah kamar dorm. Ketika gempa terjadi, beberapa penghuni mungkin langsung terbangun dan berusaha keluar kamar secara bersamaan. Dalam kondisi gelap dan penuh kepanikan, orang-orang dapat saling bertabrakan, tersandung barang bawaan, atau terjatuh ketika mencoba menuruni tangga ranjang.
Karena itu, jangan ikut panik dan berebut keluar kamar ketika guncangan masih berlangsung. Jika kita sedang berada di tempat tidur dan tidak terdapat bahaya langsung di atas atau di sekitarnya, tetaplah berada di atas kasur dan lindungi kepala serta leher menggunakan bantal.
Apabila kita berada di ranjang susun bagian atas, hindari bergerak mendekati tepi ranjang atau mencoba menuruni tangganya selama guncangan kuat berlangsung. Lindungi kepala dan leher, pertahankan posisi tubuh agar tidak terjatuh, kemudian tunggu hingga guncangan berhenti sebelum turun dengan hati-hati.
Setelah guncangan berhenti, barulah kita dapat memeriksa kondisi kamar, mengenakan alas kaki untuk menghindari pecahan kaca, dan menentukan apakah perlu melakukan evakuasi melalui jalur yang aman.
Intinya, ketika gempa bumi terjadi, jangan hanya memikirkan bagaimana cara keluar dari bangunan. Perhatikan pula benda-benda di sekitar kita yang dapat menjadi sumber bahaya selama guncangan berlangsung.
Kesimpulannya, ketika gempa terjadi:
a. Jangan mendekati jendela untuk melihat situasi di luar karena kaca dapat pecah dan menyebabkan cedera.
b. Hindari berada di dekat cermin besar, lemari tinggi, rak dinding, televisi, lampu gantung, dan benda-benda berat lainnya yang berpotensi jatuh atau roboh.
c. Jika berada di dekat benda yang berpotensi jatuh, berpindahlah ke posisi perlindungan terdekat yang lebih aman apabila dapat dilakukan tanpa melewati area berbahaya.
d. Jangan berlari melintasi kamar hanya untuk mencari tempat perlindungan yang lebih jauh ketika guncangan masih berlangsung.
e. Apabila sedang berada di kamar dorm, jangan ikut panik atau berebut keluar bersama penghuni lainnya selama bangunan masih berguncang.
f. Jika sedang berada di tempat tidur dan tidak terdapat bahaya langsung di sekitarnya, tetaplah berada di atas kasur dan lindungi kepala serta leher menggunakan bantal.
g. Jika sedang berada di ranjang susun bagian atas, jauhi tepi ranjang dan jangan mencoba menuruni tangga ranjang selama guncangan kuat berlangsung.
h. Setelah guncangan berhenti, periksa kondisi sekitar dan kenakan alas kaki sebelum berjalan untuk mengurangi risiko cedera akibat pecahan kaca atau benda tajam lainnya.
7. Kalau Sedang Tidur di Upper Bunk?
Salah satu situasi yang cukup khas ketika kita menginap di hostel adalah tidur di ranjang susun bagian atas atau upper bunk. Bayangkan kita sedang tertidur pulas di sana ketika tiba-tiba seluruh ranjang mulai bergoyang akibat gempa bumi. Kita terbangun, melihat barang-barang di sekitar bergetar, lalu spontan berpikir, “Waduh, gempa! Aku harus cepat turun!”
Namun, jangan langsung melompat dari upper bunk atau terburu-buru menuruni tangga ranjang ketika guncangan masih berlangsung. Ranjang yang bergoyang dapat membuat kita kehilangan keseimbangan. Jika memaksakan diri turun, kita justru berisiko terpeleset, terjatuh dari ketinggian, atau terbentur rangka ranjang.
Apabila kita sudah berada di atas kasur ketika gempa mulai terasa, usahakan tetap berada di sana selama guncangan kuat berlangsung. Rendahkan posisi tubuh agar lebih stabil, jauhi tepi ranjang, dan gunakan bantal atau kedua lengan untuk melindungi kepala serta leher. Jika memungkinkan, pegang bagian rangka ranjang yang kokoh untuk membantu mempertahankan posisi tubuh. Namun, jangan sampai tindakan memegang rangka membuat kepala dan leher kita kehilangan perlindungan.
Perhatikan juga benda-benda di sekitar tempat tidur. Jika ranjang berada tepat di samping jendela, cermin besar, atau rak yang dipenuhi barang, usahakan menjauh dari sisi yang berpotensi terkena pecahan kaca atau benda jatuh. Lakukan hanya apabila kita dapat mengubah posisi dengan aman tanpa harus berdiri, merangkak melewati tepi ranjang, atau melakukan gerakan yang meningkatkan risiko terjatuh.
Bagaimana jika penghuni ranjang bawah sudah berteriak dan berusaha keluar kamar?
Jangan otomatis mengikuti mereka dengan melompat dari tempat tidur. Kondisi kita berbeda karena berada di ketinggian. Selama tidak ada bahaya langsung yang mengharuskan kita segera berpindah, fokuslah mempertahankan posisi tubuh dan melindungi kepala serta leher hingga guncangan kuat berhenti.
Setelah guncangan berhenti, periksa terlebih dahulu apakah rangka ranjang masih stabil, apakah tangganya masih terpasang dengan baik, dan apakah terdapat pecahan kaca atau barang yang berserakan di lantai. Jika kondisinya aman, turunlah secara perlahan dengan berpegangan pada tangga ranjang. Jangan langsung melompat ke lantai hanya karena ingin segera keluar dari kamar.
Apabila ranjang terlihat rusak, miring, atau tidak stabil, jangan memaksakan diri menggunakan tangganya. Nilai jalur turun yang paling aman dan mintalah bantuan apabila diperlukan. Setelah berhasil turun, kenakan alas kaki, periksa kondisi sekitar, dan bersiap melakukan evakuasi jika diperlukan.
Intinya, ketika gempa terjadi saat kita tidur di upper bunk, jangan sampai kepanikan membuat kita terjatuh dari ranjang. Lindungi diri terlebih dahulu, pertahankan posisi yang stabil, dan turun dengan hati-hati setelah guncangan berhenti.
Kesimpulannya, jika sedang tidur di upper bunk ketika gempa terjadi:
a. Jangan langsung melompat dari ranjang atau terburu-buru menuruni tangga ketika guncangan masih berlangsung.
b. Tetap berada di atas kasur apabila tidak terdapat bahaya langsung yang mengharuskan kita berpindah.
c. Rendahkan posisi tubuh, jauhi tepi ranjang, dan lindungi kepala serta leher menggunakan bantal atau kedua lengan.
d. Jika memungkinkan, pegang bagian rangka ranjang yang kokoh untuk membantu mempertahankan posisi tubuh tanpa mengorbankan perlindungan kepala dan leher.
e. Hindari sisi ranjang yang berdekatan dengan jendela, cermin, rak, atau benda lain yang berpotensi pecah dan jatuh, selama kita dapat mengubah posisi dengan aman.
f. Tunggu hingga guncangan kuat berhenti sebelum mencoba turun dari ranjang.
g. Periksa kestabilan rangka dan tangga ranjang sebelum turun. Jika aman, turunlah perlahan sambil berpegangan.
h. Setelah berada di lantai, kenakan alas kaki dan periksa kondisi kamar sebelum bergerak menuju jalur evakuasi.
8. Jangan Berdiri di Bawah Kusen Pintu Hanya karena Mitos Lama
Kita mungkin pernah mendengar nasihat dari orang tua atau melihatnya di film: “Kalau gempa, cepat berdiri di bawah kusen pintu! Di situ paling aman!”
Nasihat ini sudah dikenal sejak lama. Namun, berdiri di bawah kusen pintu bukanlah tindakan perlindungan yang secara umum dianjurkan ketika gempa terjadi di bangunan modern. Kusen pintu tidak otomatis lebih kuat daripada bagian bangunan lainnya. Selain itu, berdiri di sana tidak melindungi kepala dan leher kita dari lampu, pecahan kaca, atau benda-benda lain yang dapat jatuh akibat guncangan.
Bayangkan kita sedang berada di dalam kamar hostel ketika gempa mulai terasa. Karena teringat nasihat tersebut, kita langsung bangkit dari tempat tidur dan berusaha mencapai pintu kamar. Padahal, untuk sampai ke sana, kita harus melewati lemari yang sedang bergoyang dan televisi yang berpotensi jatuh dari meja.
Sesampainya di pintu, kita mungkin juga kesulitan mempertahankan keseimbangan karena guncangan semakin kuat. Belum lagi jika daun pintu bergerak tiba-tiba dan mengenai tubuh atau jari kita.
Dalam situasi seperti ini, berusaha mencapai kusen pintu justru dapat membuat kita meninggalkan tempat perlindungan yang lebih aman di dekat posisi awal. Apabila terdapat meja kokoh yang dapat dijangkau dengan aman, berlindunglah di bawahnya. Jika tidak ada, tetaplah merendah dan lindungi kepala serta leher menggunakan kedua lengan. Apabila kita sedang berada di tempat tidur tanpa bahaya langsung di sekitarnya, tetaplah berada di sana dan gunakan bantal untuk melindungi kepala serta leher.
Lalu, bagaimana jika kebetulan kita sedang berdiri tepat di ambang pintu ketika gempa mulai terjadi?
Kita tidak perlu berlari melintasi ruangan untuk mencari tempat lain. Segera turunkan posisi tubuh dan cari perlindungan terdekat yang dapat dijangkau dengan aman, sambil menghindari daun pintu yang mungkin bergerak akibat guncangan.
Intinya, jangan menjadikan kusen pintu sebagai tujuan utama ketika gempa terjadi. Daripada berusaha mencapai pintu dan berdiri di bawahnya, lebih baik segera menerapkan prinsip Drop, Cover, and Hold On di lokasi yang aman dan sedekat mungkin dengan posisi kita.
Kesimpulannya, ketika gempa terjadi:
a. Jangan langsung berlari menuju kusen pintu hanya karena menganggapnya sebagai bagian bangunan yang paling aman.
b. Ingat bahwa kusen pintu pada bangunan modern tidak otomatis lebih kuat daripada bagian bangunan lainnya dan tidak memberikan perlindungan memadai dari benda-benda yang jatuh.
c. Jangan meninggalkan tempat perlindungan yang aman hanya untuk mencapai ambang pintu, terutama jika kita harus melewati lemari, kaca, atau benda-benda yang berpotensi jatuh.
d. Jika terdapat meja kokoh yang dapat dijangkau dengan aman, segera berlindung di bawahnya dan lindungi kepala serta leher.
e. Jika tidak terdapat meja kokoh, tetaplah berada dalam posisi rendah dan lindungi kepala serta leher menggunakan kedua lengan.
f. Jika kebetulan sedang berada di ambang pintu, segera cari posisi perlindungan terdekat yang aman dan hindari daun pintu yang dapat bergerak akibat guncangan.
g. Prioritaskan prinsip DROP — COVER — HOLD ON hingga guncangan berhenti.
9. Jangan Gunakan Lift
Bayangkan kita sedang menginap di lantai delapan sebuah hotel ketika gempa bumi terjadi. Setelah beberapa saat, guncangan mulai berkurang dan akhirnya berhenti. Kita keluar dari posisi perlindungan, mengambil barang-barang penting, lalu bersiap meninggalkan kamar.
Karena berada di lantai yang cukup tinggi, kita mungkin spontan berpikir, “Waduh, masih delapan lantai lagi! Mending cepat turun pakai lift sebelum gempa susulan datang!”
Namun, jangan menggunakan lift untuk mengevakuasi diri setelah gempa bumi. Meskipun lift terlihat masih berfungsi dan lampu di dalamnya menyala, kita tidak dapat memastikan apakah sistem kelistrikan, mekanisme penggerak, maupun komponen lift lainnya masih berada dalam kondisi aman setelah bangunan mengalami guncangan.
Gempa bumi dapat menyebabkan listrik padam secara tiba-tiba atau mengakibatkan kerusakan pada sistem lift. Jika kita sedang berada di dalamnya ketika gangguan terjadi, lift berpotensi berhenti di antara lantai dan membuat kita terjebak. Situasi tersebut dapat menjadi semakin berbahaya apabila terjadi gempa susulan, kebakaran, atau kerusakan bangunan yang menghambat proses penyelamatan.
Karena itu, apabila setelah guncangan berhenti kita perlu meninggalkan hotel atau hostel, gunakan tangga darurat yang kondisinya aman untuk dilewati, bukan lift. Periksa keadaan di sekitar pintu kamar dan koridor terlebih dahulu. Perhatikan apakah terdapat retakan besar, material bangunan yang berjatuhan, asap, atau kerusakan lain yang dapat membahayakan kita selama perjalanan menuju tangga.
Jika tangga darurat terlihat rusak, dipenuhi reruntuhan, atau tidak aman untuk dilewati, jangan memaksakan diri menuruninya. Cari jalur evakuasi alternatif yang aman apabila tersedia, atau tetap berada di lokasi yang relatif aman sambil meminta bantuan dan mengikuti arahan petugas hotel maupun tim penyelamat.
Bagaimana jika kita menginap di lantai delapan dan harus menuruni banyak anak tangga?
Turunlah dengan hati-hati, gunakan pegangan tangga apabila tersedia, dan hindari berdesakan dengan penghuni lainnya. Kita memang perlu segera menuju tempat yang aman apabila bangunan harus dievakuasi, tetapi bukan berarti kita harus berlari tanpa memperhatikan kondisi tangga dan lingkungan sekitar.
Intinya, jangan menjadikan lift sebagai jalan pintas untuk keluar dari bangunan setelah gempa. Gunakan tangga yang aman dan tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan selama proses evakuasi.
Kesimpulannya, setelah guncangan berhenti:
a. Jangan menggunakan lift untuk mengevakuasi diri dari hotel atau hostel setelah gempa bumi.
b. Ingat bahwa gempa dapat menyebabkan gangguan listrik maupun kerusakan pada sistem lift sehingga kita berisiko terjebak di dalamnya.
c. Jika evakuasi diperlukan, gunakan tangga darurat yang kondisinya aman untuk dilewati.
d. Periksa kondisi koridor dan tangga sebelum melintas. Jangan memasuki jalur yang terlihat rusak, terhalang reruntuhan, atau memiliki bahaya lain.
e. Jika tangga utama tidak aman, cari jalur evakuasi alternatif yang aman atau ikuti arahan petugas dan tim penyelamat.
f. Saat menuruni tangga, bergeraklah dengan hati-hati, gunakan pegangan tangga apabila tersedia, dan hindari berlari atau berdesakan.
g. Tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Jika guncangan kembali terjadi saat kita sedang melakukan evakuasi, segera cari posisi perlindungan terdekat yang aman dan lindungi kepala serta leher.
GUNCANGAN BERHENTI
Setelah beberapa saat, guncangan akhirnya berhenti. Lampu gantung tidak lagi bergoyang, lemari kembali diam, dan kita mulai bisa berdiri dengan lebih stabil.
Namun, berhentinya guncangan bukan berarti seluruh bahaya telah berlalu. Gempa bumi yang besar dapat diikuti oleh aftershock atau gempa susulan. Selain itu, benda-benda yang bergeser selama gempa mungkin masih berada dalam posisi tidak stabil dan dapat jatuh sewaktu-waktu.
Karena itu, jangan langsung berlari keluar kamar begitu guncangan berhenti. Periksa terlebih dahulu kondisi diri sendiri dan lingkungan sekitar sebelum mulai bergerak.
10. Cek Kondisi Diri Sendiri
Bayangkan kita baru saja mengalami gempa bumi ketika sedang tidur di lantai enam sebuah hostel. Setelah guncangan berhenti, kita mungkin ingin segera mengambil tas, membuka pintu kamar, dan berlari menuju tangga darurat.
Namun, sebelum melakukan semua itu, luangkan waktu beberapa detik untuk memeriksa kondisi tubuh kita sendiri.
Apakah ada bagian tubuh yang terasa sakit? Apakah kepala kita sempat terbentur? Apakah terdapat luka atau perdarahan? Apakah tangan dan kaki masih dapat digerakkan dengan normal?
Ketika gempa terjadi, kita mungkin tidak langsung menyadari bahwa tubuh telah mengalami cedera. Dalam situasi yang menegangkan, perhatian kita sering kali lebih terfokus pada keinginan untuk segera keluar dari bangunan daripada memeriksa kondisi tubuh sendiri.
Jika terdapat luka yang mengeluarkan darah, lakukan pertolongan pertama sesuai tingkat keparahannya. Untuk perdarahan luar yang cukup banyak, tekan langsung bagian yang terluka menggunakan kain bersih atau bahan lain yang tersedia sambil meminta bantuan. Jika mengalami cedera serius pada kepala, leher, punggung, atau kaki, jangan memaksakan diri berdiri dan berjalan apabila tindakan tersebut dapat memperparah cedera.
Setelah memastikan kondisi tubuh memungkinkan untuk bergerak, perhatikan lantai di sekitar tempat tidur.
Gempa bumi dapat menyebabkan kaca jendela, cermin, gelas, atau benda-benda lainnya pecah dan berserakan di lantai. Pecahan kaca yang kecil mungkin sulit terlihat, terutama jika gempa terjadi pada malam hari dan listrik hotel padam.
Bayangkan kita langsung melompat dari tempat tidur dalam keadaan bertelanjang kaki, lalu tanpa sengaja menginjak pecahan gelas yang jatuh dari meja. Kita mungkin berhasil selamat dari guncangan gempa, tetapi justru mengalami luka pada telapak kaki ketika hendak melakukan evakuasi.
Karena itu, jangan berjalan tanpa alas kaki apabila terdapat kemungkinan pecahan kaca atau benda tajam berserakan di lantai.
Jika sepatu atau sandal berada di dekat tempat tidur dan dapat dijangkau dengan aman, kenakan terlebih dahulu sebelum mulai berjalan. Sepatu tertutup dengan sol yang cukup kuat lebih baik untuk melindungi kaki dari pecahan kaca dan benda tajam dibandingkan sandal tipis.
Inilah salah satu alasan mengapa ketika menginap di hotel atau hostel, ada baiknya kita meletakkan alas kaki di lokasi yang mudah dijangkau dari tempat tidur. Persiapan sederhana ini dapat membantu kita bergerak dengan lebih aman apabila harus melakukan evakuasi pada malam hari.
Namun, jangan sampai kita justru merangkak melewati pecahan kaca atau mendekati lemari yang hampir roboh hanya untuk mengambil sepatu. Jika alas kaki tidak dapat dijangkau dengan aman, periksa kondisi lantai dan cari cara bergerak yang paling aman sambil menghindari area yang dipenuhi pecahan kaca.
Setelah memeriksa kondisi diri sendiri dan mengenakan alas kaki, barulah kita dapat mulai menilai keadaan kamar serta menentukan langkah selanjutnya.
Intinya, sebelum terburu-buru meninggalkan kamar setelah gempa, pastikan terlebih dahulu bahwa tubuh kita mampu bergerak dan jalur yang akan dilewati tidak membahayakan kaki.
Kesimpulannya, setelah guncangan berhenti:
a. Luangkan waktu beberapa detik untuk memeriksa kondisi tubuh sebelum mulai bergerak.
b. Periksa apakah terdapat luka, perdarahan, benturan pada kepala, atau cedera pada tangan dan kaki.
c. Jika mengalami perdarahan luar yang cukup banyak, lakukan penekanan langsung pada luka menggunakan kain bersih atau bahan lain yang tersedia sambil meminta bantuan.
d. Jika mengalami cedera serius pada kepala, leher, punggung, atau kaki, jangan memaksakan diri berdiri atau berjalan apabila tindakan tersebut berpotensi memperparah cedera.
e. Perhatikan kondisi lantai sebelum turun dari tempat tidur karena mungkin terdapat pecahan kaca, gelas, atau benda tajam lainnya.
f. Kenakan sepatu atau alas kaki yang cukup kuat sebelum berjalan apabila dapat dijangkau dengan aman. Hindari berjalan tanpa alas kaki di lantai yang berpotensi dipenuhi pecahan kaca.
g. Jangan mengambil alas kaki dengan cara melewati area berbahaya atau mendekati benda-benda yang berpotensi roboh.
h. Setelah memastikan kondisi tubuh memungkinkan untuk bergerak, periksa keadaan kamar dan bersiap menghadapi kemungkinan gempa susulan.
11. Ambil Barang Esensial Hanya Jika Benar-benar Dekat
Setelah guncangan berhenti dan kita memastikan kondisi tubuh memungkinkan untuk bergerak, mungkin kita langsung teringat barang-barang penting yang disimpan di dalam kamar hostel.
"HP-ku mana? Paspor masih di money belt, kan? Kunci kamar tadi kutaruh di mana, ya?"
Jika barang-barang tersebut berada tepat di dekat kita dan dapat dijangkau dengan aman, ambillah sebelum meninggalkan kamar. Misalnya, HP berada di meja samping tempat tidur, money belt berisi paspor dan uang berada di bawah bantal, sedangkan sepatu sudah kita letakkan di samping ranjang sejak malam sebelumnya.
HP dapat digunakan untuk menghubungi layanan darurat, memberi kabar kepada keluarga, atau mengakses informasi resmi mengenai gempa. Paspor dan uang tentu juga penting, terutama karena kita sedang berada di luar negeri. Sementara itu, alas kaki dapat melindungi kaki ketika kita harus melewati lantai yang mungkin dipenuhi pecahan kaca atau benda tajam.
Namun, jangan sampai keinginan menyelamatkan barang-barang membuat kita menunda evakuasi atau menempatkan diri dalam bahaya.
Bayangkan kita sudah berhasil turun dari tempat tidur, tetapi kemudian teringat bahwa laptop masih berada di dalam loker, kamera tersimpan di bagian bawah backpack, dan charger tertinggal di dekat stopkontak.
Kita mungkin tergoda untuk berpikir, "Sekalian packing dulu deh. Sayang kalau barang-barangku ketinggalan."
Lalu kita mulai membuka loker, mengeluarkan laptop, menggulung kabel charger, memasukkan pakaian, mengambil perlengkapan mandi, dan merapikan isi backpack. Tanpa terasa, beberapa menit berlalu hanya untuk mengemasi barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan untuk menyelamatkan diri.
Padahal, setelah gempa besar, kita perlu tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, kerusakan bangunan, kebakaran, maupun bahaya lain yang belum terlihat. Menghabiskan waktu untuk mengemasi barang dapat membuat kita terlambat meninggalkan bangunan apabila evakuasi memang diperlukan.
Karena itu, jika pihak hotel menginstruksikan evakuasi, terlihat tanda-tanda kerusakan yang membahayakan, atau terdapat ancaman langsung seperti kebakaran, segera bergerak menuju jalur keluar yang aman. Jangan kembali ke kamar atau mendekati area berbahaya hanya untuk mengambil barang yang tertinggal.
Bagaimana jika paspor kita masih berada di dalam loker yang terkunci?
Apabila mengambilnya memerlukan waktu lama, kita harus mencari kunci terlebih dahulu, atau lokasi loker sudah tidak aman untuk didekati, tinggalkan sementara. Kehilangan paspor ketika traveling di luar negeri memang akan menimbulkan masalah administratif, tetapi dokumen tersebut dapat diurus kembali melalui kedutaan atau konsulat Indonesia setelah kita berada di tempat yang aman.
Hal yang sama berlaku untuk laptop, kamera, pakaian, dan backpack. Barang-barang tersebut mungkin berharga, bahkan menyimpan banyak kenangan perjalanan kita. Namun, semuanya tetap dapat dipikirkan setelah keselamatan diri terjamin.
Intinya, ambil barang esensial hanya apabila benar-benar berada dalam jangkauan, dapat diambil dengan cepat, dan tidak menghambat evakuasi. Jika harus memilih antara menyelamatkan barang atau segera meninggalkan bangunan yang berbahaya, prioritaskan keselamatan manusia.
Kesimpulannya, setelah guncangan berhenti:
a. Ambil barang esensial seperti HP, kunci kamar, paspor, money belt, dan alas kaki apabila berada dalam jangkauan serta dapat diambil dengan cepat dan aman.
b. Kenakan alas kaki yang memadai sebelum berjalan apabila dapat dijangkau dengan aman, terutama jika terdapat kemungkinan pecahan kaca atau benda tajam di lantai.
c. Jangan mulai mengemasi backpack, menggulung charger, mengambil perlengkapan mandi, atau merapikan pakaian ketika bangunan perlu segera dievakuasi.
d. Jangan membuka loker atau mencari barang yang tersimpan jauh dari posisi kita apabila tindakan tersebut akan menunda evakuasi atau membuat kita mendekati area berbahaya.
e. Jika paspor atau barang berharga tertinggal di kamar, jangan kembali mengambilnya sebelum bangunan dinyatakan aman oleh pihak yang berwenang.
f. Jika terdapat instruksi evakuasi atau ancaman langsung terhadap keselamatan, segera tinggalkan bangunan melalui jalur yang aman tanpa menunda perjalanan untuk mengambil barang.
g. Ingat bahwa barang-barang yang tertinggal dapat dipikirkan dan diurus setelah kita berada di tempat yang aman.
Prioritas utama dalam situasi darurat adalah menyelamatkan manusia, bukan menyelamatkan backpack.
12. Periksa Lingkungan Sekitar
Setelah memastikan kondisi tubuh kita baik-baik saja dan mengambil barang esensial yang berada dalam jangkauan, langkah berikutnya adalah memeriksa keadaan di sekitar kamar. Jangan langsung menganggap bahwa situasi sudah aman hanya karena guncangan gempa telah berhenti.
Bayangkan kita sedang menginap di lantai enam sebuah hostel. Setelah gempa berhenti, kita membuka mata dan melihat beberapa barang berserakan di lantai. Lampu kamar masih menyala, tetapi dari luar terdengar suara alarm dan orang-orang berbicara dengan panik.
Kita mungkin berpikir, “Oke, gempanya sudah berhenti. Sekarang aku harus ngapain?”
Sebelum bergerak lebih jauh, luangkan waktu sejenak untuk melihat, mendengarkan, dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Apakah terdapat kerusakan pada kamar? Apakah ada suara atau bau yang tidak biasa? Apakah petugas hostel memberikan instruksi kepada para penghuni?
Hal ini penting karena gempa bumi tidak hanya menimbulkan bahaya selama guncangan berlangsung, tetapi juga dapat memicu bahaya sekunder setelahnya. Misalnya, instalasi listrik yang rusak dapat menimbulkan percikan api, kebocoran gas dapat meningkatkan risiko kebakaran, dan bagian bangunan yang mengalami kerusakan mungkin masih berpotensi runtuh ketika terjadi gempa susulan.
Perhatikan apakah terdapat asap, api, bau gas, percikan listrik, plafon yang runtuh, atau kerusakan serius pada dinding, lantai, dan bagian bangunan lainnya. Dengarkan pula apakah alarm kebakaran berbunyi atau terdapat instruksi evakuasi dari petugas hotel maupun hostel.
Jika tercium bau gas atau terdengar suara mendesis yang diduga berasal dari kebocoran gas, jangan menyalakan atau mematikan sakelar lampu, menggunakan peralatan listrik, menyalakan api, ataupun mencoba mencari sumber kebocoran. Jika jalur keluar aman, segera menjauh dari area tersebut dan laporkan kepada petugas atau layanan darurat setelah berada di tempat yang aman.
Begitu pula jika kita melihat asap atau tanda-tanda kebakaran. Jangan membuka pintu kamar secara sembarangan apabila terdapat kemungkinan api atau asap di baliknya. Periksa terlebih dahulu kondisi pintu dan celah di sekitarnya. Jika jalur evakuasi dipenuhi asap, jangan memaksakan diri melewatinya. Cari jalur alternatif yang aman atau tetap berada di lokasi yang lebih terlindung sambil meminta bantuan apabila tidak tersedia jalan keluar yang aman.
Bagaimana jika kita melihat retakan pada dinding kamar?
Tidak semua retakan menunjukkan bahwa bangunan akan runtuh. Namun, kita juga tidak dapat memastikan keamanan struktur bangunan hanya dengan melihatnya sekilas. Apabila terdapat kerusakan yang tampak serius, seperti bagian dinding atau kolom yang hancur, lantai yang berubah bentuk, plafon yang runtuh, atau tangga yang mengalami kerusakan, jangan mendekati bagian tersebut. Ikuti instruksi evakuasi dan jangan kembali memasuki bangunan sebelum dinyatakan aman oleh pihak yang berwenang.
Jika petugas hotel atau hostel menginstruksikan seluruh penghuni untuk melakukan evakuasi, segera bersiap meninggalkan gedung melalui jalur yang aman. Jangan menunda evakuasi untuk mengemasi barang atau kembali ke kamar mengambil benda yang tertinggal.
Namun, tetap perhatikan kondisi jalur yang akan dilewati. Perintah evakuasi bukan berarti kita harus berlari melewati koridor yang dipenuhi asap, tangga yang rusak, atau area yang berpotensi runtuh. Jika jalur utama tidak aman, cari jalur alternatif atau ikuti arahan petugas penyelamat.
Ingat pula bahwa gempa susulan dapat terjadi ketika kita sedang memeriksa kamar atau bersiap meninggalkan bangunan. Jika guncangan kembali terasa, segera lindungi kepala dan leher serta lakukan Drop, Cover, and Hold On di lokasi yang memungkinkan.
Intinya, setelah guncangan berhenti, jangan hanya memeriksa apakah kita terluka. Perhatikan juga apakah gempa telah menimbulkan bahaya baru di dalam bangunan.
Kesimpulannya, setelah guncangan berhenti:
a. Periksa keadaan kamar dan lingkungan sekitar sebelum mulai bergerak menuju jalur evakuasi.
b. Waspadai tanda-tanda bahaya sekunder, seperti asap, kebakaran, bau gas, percikan listrik, plafon runtuh, dan kerusakan serius pada bangunan.
c. Dengarkan apakah alarm kebakaran berbunyi atau terdapat instruksi evakuasi dari petugas hotel maupun hostel.
d. Jika mencurigai adanya kebocoran gas, jangan mengoperasikan sakelar atau peralatan listrik, menyalakan api, maupun mencoba mencari sumber kebocoran. Segera menjauh melalui jalur yang aman.
e. Jika terdapat asap atau kebakaran, jangan memaksakan diri melewati jalur yang dipenuhi asap. Cari jalur evakuasi alternatif yang aman atau minta bantuan apabila tidak tersedia jalan keluar yang aman.
f. Hindari bagian bangunan yang terlihat mengalami kerusakan serius, termasuk koridor dan tangga yang rusak atau terhalang reruntuhan.
g. Jika terdapat instruksi evakuasi atau kondisi bangunan tampak membahayakan, segera bersiap meninggalkan gedung melalui jalur yang aman tanpa menunda untuk mengemasi barang.
h. Tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Jika guncangan kembali terjadi, segera lindungi kepala dan leher serta cari posisi perlindungan yang aman.
13. Kalau Harus Evakuasi, Gunakan Tangga
Setelah guncangan berhenti, kita telah memeriksa kondisi tubuh, mengenakan alas kaki, dan memastikan bahwa kita perlu meninggalkan bangunan. Sekarang saatnya menuju pintu keluar darurat atau emergency exit yang sudah kita identifikasi ketika pertama kali check-in.
Bayangkan kita sedang menginap di lantai enam sebuah hostel. Begitu keluar dari kamar, kita melihat beberapa penghuni lain berjalan menuju ujung koridor. Sebagian tampak panik dan ingin segera mencapai lantai dasar.
Kita mungkin ikut berpikir, “Ayo cepat! Pokoknya harus segera keluar dari gedung ini!”
Namun, jangan berlari tanpa memperhatikan kondisi jalur evakuasi. Gempa mungkin telah menyebabkan kerusakan yang belum terlihat ketika kita masih berada di dalam kamar. Koridor dan tangga darurat yang sebelumnya aman digunakan bisa saja dipenuhi pecahan kaca, genangan air, puing bangunan, atau bagian plafon yang berjatuhan.
Karena itu, ketika menuju tangga darurat, perhatikan kondisi lantai dan lingkungan di depan kita. Hindari menginjak pecahan kaca atau melewati bagian koridor yang terlihat rusak. Jika terdapat material bangunan yang menggantung atau benda berat yang tampak tidak stabil, jangan berjalan tepat di bawahnya apabila tersedia jalur lain yang lebih aman.
Jangan menggunakan lift untuk melakukan evakuasi setelah gempa bumi. Meskipun lift terlihat masih berfungsi, guncangan dapat menyebabkan gangguan kelistrikan atau kerusakan pada sistemnya. Jika lift berhenti di antara lantai, kita berisiko terjebak di dalamnya ketika gempa susulan atau bahaya lain terjadi.
Gunakan tangga darurat yang aman untuk dilewati. Saat menuruni tangga, bergeraklah dengan hati-hati dan gunakan pegangan tangga apabila tersedia. Perhatikan setiap anak tangga karena mungkin terdapat pecahan kaca, air, atau puing yang membuat permukaannya licin dan tidak rata.
Jika banyak penghuni hostel melakukan evakuasi secara bersamaan, jangan saling mendorong atau berdesakan. Ikuti alur pergerakan dengan tertib sambil tetap memperhatikan kondisi jalur di depan. Berlari menuruni tangga ketika semua orang sedang panik justru dapat menyebabkan kita tersandung, terjatuh, atau menabrak penghuni lainnya.
Lalu, bagaimana jika kita sampai di pintu tangga darurat dan melihat sebagian anak tangganya runtuh atau tertutup puing?
Jangan memaksakan diri melewati tangga yang terlihat rusak atau tidak aman. Cari jalur evakuasi alternatif apabila tersedia dan dapat dijangkau dengan aman. Jika tidak ada jalur keluar yang aman, menjauhlah dari bagian bangunan yang rusak, cari lokasi yang relatif terlindung, dan hubungi petugas hotel atau layanan darurat untuk meminta bantuan. Sampaikan lokasi kita secara spesifik, termasuk nama hotel, nomor lantai, dan posisi terakhir kita berada.
Perhatikan pula kemungkinan gempa susulan selama proses evakuasi. Jika guncangan kembali terasa ketika kita masih berada di koridor, segera cari posisi perlindungan terdekat dan lindungi kepala serta leher. Apabila kita sedang berada di tangga, jangan mencoba berlari menuruninya saat bangunan berguncang. Berpeganganlah pada pegangan tangga jika tersedia, rendahkan posisi tubuh sejauh memungkinkan tanpa meningkatkan risiko terjatuh, dan lindungi kepala serta leher sampai guncangan berhenti.
Setelah mencapai lantai dasar, lanjutkan perjalanan menuju area terbuka atau titik kumpul yang telah ditentukan, selama jalurnya aman. Jangan berhenti tepat di depan pintu keluar karena hal tersebut dapat menghambat penghuni lain yang masih berusaha meninggalkan bangunan.
Intinya, evakuasi setelah gempa bukan sekadar bergerak secepat mungkin menuju lantai dasar. Kita juga harus memastikan bahwa jalur yang dilewati aman dan tidak menambah risiko cedera.
Kesimpulannya, ketika harus melakukan evakuasi:
a. Gunakan pintu keluar darurat dan tangga yang sudah kita identifikasi sebelumnya, selama kondisinya aman untuk dilewati.
b. Jangan menggunakan lift untuk mengevakuasi diri setelah gempa bumi.
c. Perhatikan kondisi koridor dan tangga. Waspadai pecahan kaca, genangan air, puing bangunan, plafon yang berjatuhan, serta kerusakan pada anak tangga.
d. Turuni tangga dengan hati-hati dan gunakan pegangan tangga apabila tersedia. Jangan berlari, saling mendorong, atau berdesakan dengan penghuni lainnya.
e. Jangan memaksakan diri melewati tangga yang terlihat rusak, runtuh, atau terhalang material bangunan. Cari jalur alternatif yang aman dan ikuti instruksi petugas.
f. Jika tidak tersedia jalur keluar yang aman, cari lokasi yang relatif terlindung dan hubungi petugas hotel atau layanan darurat. Sampaikan posisi kita agar tim penyelamat dapat menemukan kita.
g. Tetap waspada terhadap gempa susulan selama evakuasi. Jika guncangan kembali terjadi, segera lindungi kepala dan leher tanpa melakukan gerakan yang meningkatkan risiko terjatuh.
h. Setelah berhasil keluar dari bangunan, lanjutkan perjalanan menuju titik kumpul atau area terbuka yang aman. Jangan berhenti dan berkumpul tepat di depan pintu keluar karena dapat menghambat evakuasi penghuni lainnya.
14. Jangan Kembali ke Kamar untuk Mengambil Backpack
Bayangkan kita sudah berhasil menuruni tangga darurat dari lantai enam dan akhirnya keluar dari bangunan hostel. Kita berjalan menuju titik kumpul bersama penghuni lainnya. Setelah memastikan kondisi diri sendiri baik-baik saja, tiba-tiba kita teringat sesuatu.
"Waduh, laptopku masih di kamar! Backpack-ku juga belum kubawa!"
Apalagi jika kita sedang traveling ke luar negeri selama beberapa minggu. Di dalam backpack mungkin terdapat pakaian, kamera, laptop, perlengkapan traveling, bahkan barang-barang berharga yang sudah kita kumpulkan selama bertahun-tahun.
Kita mungkin tergoda untuk berpikir, "Naik sebentar aja, deh. Kamarku juga nggak jauh dari tangga. Ambil tas, terus langsung turun lagi."
Namun, jangan kembali memasuki bangunan yang telah diperintahkan untuk dikosongkan hanya untuk mengambil barang-barang yang tertinggal. Meskipun guncangan sudah berhenti dan bangunan terlihat masih berdiri dengan baik, kita tidak dapat memastikan apakah kondisi di dalamnya benar-benar aman.
Gempa bumi dapat menyebabkan kerusakan pada bagian bangunan yang tidak langsung terlihat oleh penghuni. Misalnya, sambungan struktur mengalami kerusakan, bagian plafon menjadi tidak stabil, atau tangga dan koridor mengalami retakan. Ketika gempa susulan terjadi, bagian-bagian yang sebelumnya sudah melemah tersebut dapat mengalami kerusakan lebih lanjut.
Bayangkan kita sudah berhasil keluar dengan selamat, tetapi kemudian kembali naik ke lantai enam untuk mengambil laptop. Ketika sedang berada di dalam kamar, tiba-tiba gempa susulan mengguncang bangunan. Kita harus kembali mencari perlindungan, sementara kondisi tangga dan koridor yang sebelumnya berhasil dilewati mungkin sudah berubah.
Risiko tersebut tentu tidak sebanding dengan barang-barang yang ingin kita selamatkan.
Bagaimana jika paspor dan seluruh uang kita tertinggal di dalam kamar?
Kehilangan paspor ketika traveling di luar negeri memang dapat menimbulkan masalah yang cukup merepotkan. Kita mungkin harus menghubungi kedutaan atau konsulat Indonesia, mengurus dokumen perjalanan pengganti, dan menyesuaikan rencana perjalanan berikutnya.
Namun, jangan mempertaruhkan keselamatan diri untuk mengambil paspor atau uang dari bangunan yang belum dinyatakan aman. Setelah berada di tempat yang aman, laporkan barang-barang yang tertinggal kepada petugas hotel atau hostel. Jika diperlukan, hubungi kedutaan atau konsulat Indonesia untuk mendapatkan bantuan terkait dokumen perjalanan.
Apabila pihak hotel menyampaikan bahwa penghuni belum diperbolehkan kembali ke kamar, patuhi instruksi tersebut. Jangan mencoba masuk melalui pintu lain, menggunakan tangga belakang, atau meminta penghuni lain mengambilkan barang kita.
Tunggu sampai pihak yang berwenang menyatakan bahwa bangunan aman untuk dimasuki kembali. Setelah akses diizinkan, barulah kita dapat mengambil barang-barang yang tertinggal sesuai arahan petugas.
Intinya, setelah berhasil keluar dari bangunan yang harus dievakuasi, jangan mengambil risiko dengan kembali masuk hanya demi menyelamatkan backpack. Barang-barang dapat diganti atau diurus kembali, sedangkan keselamatan diri harus menjadi prioritas utama.
Kesimpulannya, setelah berhasil keluar dari bangunan:
a. Jangan kembali ke kamar untuk mengambil backpack, laptop, kamera, pakaian, atau barang-barang lainnya apabila bangunan telah diperintahkan untuk dikosongkan.
b. Ingat bahwa gempa susulan dapat terjadi dan memperparah kerusakan bangunan yang sebelumnya tidak terlihat.
c. Jangan menganggap bangunan sudah aman hanya karena masih berdiri atau karena guncangan telah berhenti.
d. Jika paspor, uang, atau barang berharga tertinggal di kamar, laporkan kepada petugas hotel atau hostel setelah kita berada di tempat yang aman.
e. Jika paspor tidak dapat diambil kembali, hubungi kedutaan atau konsulat Indonesia untuk memperoleh bantuan terkait dokumen perjalanan pengganti.
f. Jangan mencoba memasuki bangunan melalui pintu alternatif atau meminta orang lain mengambilkan barang apabila akses masih dilarang.
g. Tunggu sampai pihak yang berwenang menyatakan bahwa bangunan aman untuk dimasuki kembali sebelum mengambil barang-barang yang tertinggal.
Ingat, tujuan evakuasi adalah menyelamatkan diri dari bahaya, bukan memindahkan seluruh isi backpack ke luar bangunan.
15. Setelah Keluar, Jauhi Bangunan
Bayangkan kita akhirnya berhasil keluar dari hostel setelah menuruni tangga darurat dari lantai enam. Di depan pintu masuk, sudah ada beberapa penghuni lain yang berkumpul. Sebagian sedang menelepon keluarga, sebagian duduk di trotoar, sementara yang lain berdiri sambil memandangi bangunan hotel.
Kita mungkin merasa lega dan berpikir, “Oke, akhirnya berhasil keluar. Di sini aman, kan?”
Namun, berhasil keluar dari bangunan bukan berarti kita sudah berada di tempat yang aman. Area tepat di depan pintu hotel atau hostel masih dapat terkena material yang jatuh dari bagian luar bangunan, terutama jika terjadi gempa susulan.
Gempa bumi dapat menyebabkan kaca jendela pecah, papan reklame terlepas, atau material fasad bangunan menjadi tidak stabil. Bagian-bagian tersebut mungkin tidak langsung jatuh ketika guncangan pertama terjadi, tetapi dapat terlepas beberapa saat kemudian atau ketika bangunan kembali berguncang.
Karena itu, setelah berhasil keluar, jangan berhenti tepat di depan pintu masuk hanya karena ingin beristirahat atau menunggu teman. Jika jalurnya aman, teruslah bergerak menjauhi bangunan menuju titik kumpul atau assembly point yang telah ditentukan oleh pihak hotel.
Apabila tidak tersedia titik kumpul khusus, carilah area terbuka yang aman dan cukup jauh dari bangunan, kaca jendela, tembok, papan reklame, tiang listrik, serta benda-benda lain yang berpotensi roboh atau jatuh.
Bayangkan kita sedang berada di kawasan perkotaan yang dipenuhi gedung bertingkat. Trotoar di depan hotel mungkin terlihat cukup luas, tetapi jika tepat di atasnya terdapat jendela kaca, balkon, atau papan reklame berukuran besar, lokasi tersebut belum tentu aman untuk dijadikan tempat berkumpul.
Perhatikan pula kondisi jalan di sekitar kita. Jangan terburu-buru menyeberang jalan tanpa melihat lalu lintas hanya karena ingin mencapai area terbuka di seberang. Jika terdapat kabel listrik yang jatuh atau menggantung rendah, jauhi area tersebut dan jangan menyentuh kabel maupun benda yang bersentuhan dengannya.
Bagaimana jika hotel kita berada di kawasan yang sangat padat dan sulit menemukan area terbuka?
Jangan memaksakan diri berlari jauh melewati bangunan yang rusak atau jalan yang dipenuhi bahaya. Carilah lokasi yang paling aman dan dapat dijangkau, jauhi bagian bangunan yang terlihat tidak stabil, serta ikuti arahan petugas hotel dan tim penyelamat mengenai lokasi berkumpul.
Setelah tiba di tempat yang aman, tetaplah berada di sana sambil menunggu informasi lebih lanjut. Jangan kembali mendekati bangunan hanya untuk mengambil foto, melihat kerusakan, atau mencari barang yang tertinggal.
Jika gempa susulan terjadi ketika kita sudah berada di luar ruangan, tetaplah berada di area terbuka, jauhi bangunan dan benda-benda yang berpotensi jatuh, lalu rendahkan posisi tubuh apabila diperlukan untuk menjaga keseimbangan.
Intinya, tujuan evakuasi bukan sekadar berhasil melewati pintu keluar hotel, melainkan mencapai lokasi yang aman dari bangunan dan benda-benda di sekitarnya.
Kesimpulannya, setelah berhasil keluar dari bangunan:
a. Jangan berhenti atau berkumpul tepat di depan pintu masuk hotel atau hostel karena material dari bagian luar bangunan masih berpotensi jatuh.
b. Segera bergerak menuju titik kumpul atau assembly point yang telah ditentukan, selama jalur menuju lokasi tersebut aman.
c. Jika tidak tersedia titik kumpul, carilah area terbuka yang aman dan cukup jauh dari bangunan serta benda-benda yang berpotensi roboh atau jatuh.
d. Jauhi kaca jendela, fasad bangunan, balkon, papan reklame, tembok, tiang listrik, dan kabel listrik yang jatuh atau menggantung rendah.
e. Jangan menyeberang jalan secara terburu-buru atau melewati area berbahaya hanya untuk mencapai tempat terbuka.
f. Jika berada di kawasan perkotaan yang padat, cari lokasi aman yang dapat dijangkau dan ikuti arahan petugas mengenai tempat berkumpul.
g. Jangan kembali mendekati bangunan untuk mengambil foto, melihat kerusakan, atau mengambil barang yang tertinggal sebelum akses dinyatakan aman.
h. Tetap waspada terhadap gempa susulan. Jika guncangan kembali terjadi ketika kita berada di luar ruangan, jauhi bangunan dan benda-benda yang berpotensi jatuh serta pertahankan keseimbangan tubuh.
Ingat, kita baru benar-benar menyelesaikan proses evakuasi setelah mencapai tempat yang aman, bukan sekadar setelah berhasil keluar dari pintu hotel.
16. Bersiap Menghadapi Gempa Susulan
Bayangkan kita sudah berhasil keluar dari hostel dan berkumpul di area terbuka bersama penghuni lainnya. Setelah beberapa menit, suasana mulai terasa lebih tenang. Kita mungkin sedang duduk di tepi lapangan, menghubungi keluarga, atau berbicara dengan sesama traveler ketika tiba-tiba tanah kembali berguncang.
"Lho, gempa lagi? Ah, paling cuma aftershock."
Jangan menganggap gempa susulan pasti lebih lemah atau tidak berbahaya. Setelah gempa utama, gempa susulan dapat terjadi dalam hitungan menit, jam, hari, bahkan lebih lama. Sebagian mungkin hanya terasa sebagai getaran ringan, tetapi sebagian lainnya dapat cukup kuat untuk membuat kita kehilangan keseimbangan, menjatuhkan benda, atau memperparah kerusakan pada bangunan yang sebelumnya sudah mengalami guncangan.
Inilah alasan mengapa kita tidak boleh langsung kembali memasuki hotel atau hostel hanya karena gempa pertama telah berhenti. Bangunan yang tampak masih berdiri mungkin memiliki bagian yang rusak atau tidak stabil. Jika terjadi gempa susulan, kaca, material fasad, plafon, atau bagian bangunan lainnya dapat kembali berjatuhan.
Lalu, apa yang harus kita lakukan apabila gempa susulan terjadi ketika kita sudah berada di luar bangunan?
Jika kita berada di area terbuka yang aman, tetaplah berada di sana. Jangan berlari kembali ke dalam hotel, mendekati tembok, atau berlindung di bawah papan reklame dan tiang listrik. Jauhi benda-benda yang berpotensi roboh atau jatuh. Apabila guncangan cukup kuat hingga kita kesulitan berdiri, turunkan posisi tubuh agar tidak terjatuh dan lindungi kepala serta leher menggunakan kedua lengan sampai guncangan berhenti.
Bagaimana jika gempa susulan terjadi ketika kita masih berada di dalam kamar atau sedang berjalan menuju pintu keluar?
Segera cari perlindungan terdekat yang aman dan terapkan kembali prinsip DROP — COVER — HOLD ON. Jangan memaksakan diri berlari menuruni tangga atau melewati koridor ketika bangunan sedang berguncang. Setelah guncangan berhenti, periksa kembali kondisi sekitar karena jalur yang sebelumnya aman mungkin telah berubah akibat gempa susulan.
Apabila kita sedang berada di tangga ketika guncangan kembali terjadi, jangan mencoba berlari turun. Berpeganganlah pada pegangan tangga jika tersedia, rendahkan posisi tubuh sejauh memungkinkan tanpa meningkatkan risiko terjatuh, dan lindungi kepala serta leher. Setelah guncangan berhenti, periksa kondisi tangga sebelum melanjutkan evakuasi.
Selama berada di titik kumpul, perhatikan informasi dari petugas hotel, layanan darurat, atau otoritas setempat. Jangan kembali memasuki bangunan yang telah dievakuasi sebelum pihak berwenang menyatakan bahwa bangunan tersebut aman.
Intinya, gempa susulan bukan alasan untuk panik, tetapi juga bukan sesuatu yang boleh kita abaikan. Setiap kali guncangan kembali terjadi, segera lakukan tindakan perlindungan yang sesuai dengan lokasi kita saat itu.
Kesimpulannya, ketika menghadapi gempa susulan:
a. Jangan menganggap gempa susulan pasti lebih lemah atau tidak berbahaya dibandingkan gempa utama.
b. Jika sudah berada di area terbuka yang aman, tetaplah berada di sana dan jauhi bangunan, tembok, tiang listrik, serta benda-benda yang berpotensi jatuh.
c. Apabila guncangan kuat membuat kita sulit berdiri, turunkan posisi tubuh dan lindungi kepala serta leher hingga guncangan berhenti.
d. Jika masih berada di dalam kamar atau koridor, segera terapkan kembali prinsip DROP — COVER — HOLD ON di lokasi perlindungan terdekat yang aman.
e. Jika sedang berada di tangga, jangan berlari ketika guncangan berlangsung. Pertahankan keseimbangan, lindungi kepala serta leher, dan periksa kembali kondisi tangga sebelum melanjutkan evakuasi.
f. Setelah setiap gempa susulan, periksa kembali lingkungan sekitar karena kerusakan bangunan dan kondisi jalur evakuasi dapat berubah.
g. Jangan kembali memasuki hotel atau hostel yang telah dievakuasi sebelum pihak berwenang menyatakan bahwa bangunan aman.
h. Tetap berada di lokasi berkumpul yang aman dan ikuti informasi serta instruksi dari petugas atau otoritas setempat.
Ingat, setiap kali tanah kembali berguncang, lindungi diri terlebih dahulu. Jangan berasumsi bahwa kita sudah aman hanya karena berhasil melewati gempa pertama.
18. Kalau Sedang di Kamar Mandi
Bayangkan kita sedang mandi di kamar mandi hostel ketika tiba-tiba lantai terasa bergoyang. Awalnya, kita mungkin mengira sedang pusing atau kehilangan keseimbangan. Namun, beberapa detik kemudian, pintu kaca kamar mandi mulai bergetar, botol sampo berjatuhan dari rak, dan suara benda-benda bergeser terdengar dari luar.
"Waduh, gempa! Aku harus cepat keluar dari kamar mandi!"
Naluri kita mungkin langsung ingin membuka pintu dan berlari menuju kamar. Namun, jangan terburu-buru berlari keluar ketika guncangan masih kuat, terutama jika lantai kamar mandi basah dan licin. Kita dapat terpeleset, terbentur wastafel atau kloset, bahkan terkena pecahan kaca apabila pintu atau sekat kamar mandi pecah akibat guncangan.
Jika sedang berdiri di bawah shower, segera turunkan posisi tubuh agar lebih stabil. Apabila memungkinkan, bergeraklah sedikit menjauh dari pintu kaca, cermin, rak gantung, atau benda-benda lain yang berpotensi pecah dan jatuh. Namun, jangan memaksakan diri melintasi kamar mandi yang licin hanya untuk mencari tempat perlindungan yang lebih jauh.
Jika tidak tersedia meja atau tempat berlindung yang kokoh, tetaplah berada dalam posisi rendah dan gunakan kedua lengan untuk melindungi kepala serta leher. Hindari berpegangan pada pintu kaca, rak yang tidak stabil, atau benda yang berpotensi terlepas dari dinding.
Bagaimana jika kita sedang berada di dalam bilik shower yang dibatasi pintu kaca?
Jika terdapat ruang yang lebih aman dan dapat dijangkau tanpa risiko terpeleset, menjauhlah dari kaca tersebut sambil tetap mempertahankan posisi tubuh yang rendah. Namun, jangan mencoba menerobos pintu kaca atau berlari melewati lantai basah ketika bangunan masih berguncang. Lindungi kepala dan leher serta pertahankan posisi yang paling aman hingga guncangan berhenti.
Hal yang sama berlaku apabila gempa terjadi ketika kita sedang menggunakan toilet. Jangan langsung berdiri dan berlari menuju pintu. Jika memungkinkan, rendahkan posisi tubuh dan lindungi kepala serta leher dari benda-benda yang berpotensi jatuh. Jika tetap duduk merupakan posisi yang lebih stabil dalam kondisi tersebut, pertahankan posisi sambil melindungi kepala dan leher hingga guncangan berhenti.
Setelah guncangan berhenti, jangan langsung berjalan keluar tanpa memperhatikan kondisi lantai. Periksa apakah terdapat pecahan kaca, keramik yang terlepas, botol yang pecah, atau genangan air yang dapat membuat kita terpeleset.
Jika handuk dan pakaian berada dalam jangkauan serta tidak ada bahaya langsung yang mengharuskan kita segera meninggalkan ruangan, kenakan seperlunya. Ambil alas kaki yang aman digunakan apabila dapat dijangkau tanpa melewati pecahan kaca atau area berbahaya. Jika alas kaki berada di luar kamar mandi, periksa jalur menuju pintu terlebih dahulu dan bergeraklah dengan hati-hati.
Apabila tercium bau gas, terlihat asap, atau terdapat kerusakan bangunan yang serius, jangan menunda upaya menyelamatkan diri hanya untuk berpakaian lengkap atau mengambil perlengkapan mandi. Prioritaskan keselamatan dan segera menuju lokasi yang lebih aman melalui jalur yang dapat dilewati.
Intinya, ketika gempa terjadi saat kita berada di kamar mandi, jangan sampai kepanikan membuat kita terpeleset atau terkena pecahan kaca. Rendahkan posisi tubuh, lindungi kepala dan leher, serta tunggu hingga guncangan berhenti sebelum bergerak keluar dengan hati-hati.
Kesimpulannya, jika gempa terjadi ketika sedang berada di kamar mandi:
a. Jangan langsung berlari keluar ketika guncangan masih kuat, terutama jika lantai kamar mandi basah dan licin.
b. Segera turunkan posisi tubuh untuk mengurangi risiko kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
c. Jauhi pintu kaca, cermin, rak gantung, dan benda-benda yang berpotensi pecah atau jatuh apabila dapat dilakukan dengan aman.
d. Gunakan kedua lengan untuk melindungi kepala serta leher jika tidak tersedia tempat perlindungan yang kokoh.
e. Jangan berpegangan pada pintu kaca atau rak yang tidak stabil untuk mempertahankan keseimbangan.
f. Jika sedang berada di bilik shower, jangan mencoba menerobos pintu kaca atau berlari melewati lantai licin selama guncangan berlangsung.
g. Setelah guncangan berhenti, periksa kondisi lantai dan waspadai pecahan kaca, keramik, botol yang pecah, serta genangan air.
h. Kenakan pakaian dan alas kaki seperlunya apabila dapat dilakukan dengan cepat dan aman. Jangan menunda penyelamatan diri untuk berpakaian lengkap jika terdapat bahaya langsung.
i. Keluar dari kamar mandi dengan hati-hati, periksa kondisi kamar, dan bersiap melakukan evakuasi apabila diperlukan.
19. Kalau Listrik Mati
Bayangkan kita sedang menginap di lantai enam sebuah hostel ketika gempa bumi terjadi pada pukul 02.00 dini hari. Setelah beberapa saat, guncangan mulai berkurang, tetapi tiba-tiba seluruh lampu kamar padam. Suasana yang sebelumnya terang berubah menjadi gelap gulita.
Dari luar kamar terdengar suara penghuni lain yang mulai panik. Kita mungkin spontan berpikir, “Waduh, listriknya mati! Gimana caranya aku keluar dari sini?”
Jangan panik dan jangan langsung berlari menuju pintu dalam keadaan gelap. Setelah gempa, lantai kamar mungkin dipenuhi barang-barang yang jatuh, pecahan kaca, atau perabot yang bergeser dari posisi semula. Berjalan terburu-buru tanpa penerangan dapat membuat kita tersandung atau mengalami cedera.
Jika HP berada dalam jangkauan dan dapat diambil dengan aman, gunakan fitur flashlight atau senter untuk menerangi lingkungan sekitar. Apabila kita membawa senter kecil, alat tersebut juga dapat digunakan sebagai sumber penerangan alternatif.
Arahkan cahaya terlebih dahulu ke lantai dan area di sekitar tempat tidur. Periksa apakah terdapat pecahan kaca, barang yang berserakan, atau benda-benda yang dapat menghalangi jalan. Setelah memastikan kondisi tubuh memungkinkan untuk bergerak dan guncangan telah berhenti, kenakan alas kaki apabila tersedia dan dapat dijangkau dengan aman.
Bagaimana jika kita harus meninggalkan kamar dan koridor hostel juga dalam keadaan gelap?
Gunakan senter untuk membantu melihat jalur di depan kita. Bergeraklah dengan hati-hati menuju tangga darurat yang telah kita identifikasi sebelumnya. Perhatikan kondisi lantai, dinding, plafon, dan anak tangga karena mungkin terdapat kerusakan atau material bangunan yang berjatuhan akibat gempa.
Namun, jangan memaksakan diri melewati koridor atau tangga yang tidak dapat dipastikan aman hanya karena kita memiliki senter. Jika jalur terlihat rusak, tertutup puing, atau dipenuhi asap, carilah jalur alternatif yang aman atau ikuti arahan petugas.
Lalu, bagaimana jika baterai HP kita hampir habis?
Dalam situasi darurat, HP bukan hanya berfungsi sebagai senter. Kita mungkin juga membutuhkannya untuk menghubungi layanan darurat, mengirimkan lokasi kepada keluarga, membaca informasi resmi, atau berkomunikasi dengan pihak hotel. Karena itu, gunakan baterai seperlunya. Jika memiliki senter kecil terpisah, kita dapat menggunakannya untuk penerangan agar baterai HP tetap tersedia untuk komunikasi.
Jangan menggunakan lilin, korek api, atau sumber api terbuka sebagai penerangan setelah gempa. Kita belum tentu mengetahui apakah guncangan telah menyebabkan kebocoran gas atau kerusakan pada instalasi dan bahan-bahan yang mudah terbakar. Menyalakan api dalam kondisi tersebut dapat memicu kebakaran atau ledakan.
Apabila tercium bau gas atau terdengar suara mendesis yang diduga berasal dari kebocoran gas, jangan menyalakan atau mematikan sakelar lampu maupun mengoperasikan peralatan listrik. Jika jalur keluar aman, segera menjauh dari area tersebut dan laporkan kepada petugas atau layanan darurat setelah berada di tempat yang aman.
Inilah salah satu alasan mengapa ketika traveling, terutama jika menginap di hostel atau hotel bertingkat, ada baiknya kita selalu menjaga baterai HP dan power bank agar tidak benar-benar habis. Kita juga dapat meletakkan senter kecil di tempat yang mudah dijangkau dari tempat tidur sehingga tidak perlu mencari-carinya dalam keadaan gelap.
Namun, perlu diingat bahwa persiapan tersebut sebaiknya dilakukan sebelum keadaan darurat terjadi. Jangan menunda evakuasi dari bangunan yang berbahaya hanya untuk mencari power bank, charger, atau senter yang tertinggal di dalam kamar.
Kesimpulannya, apabila listrik padam setelah gempa:
a. Jangan panik atau langsung berlari menuju pintu dalam keadaan gelap. Tunggu hingga guncangan berhenti dan periksa kondisi sekitar sebelum bergerak.
b. Gunakan fitur flashlight pada HP atau senter kecil untuk menerangi kamar dan jalur yang akan dilewati.
c. Arahkan cahaya ke lantai untuk memeriksa apakah terdapat pecahan kaca, barang yang berserakan, atau benda-benda yang dapat menyebabkan kita tersandung.
d. Kenakan alas kaki apabila dapat dijangkau dengan aman sebelum berjalan melewati area yang berpotensi dipenuhi pecahan kaca.
e. Jika harus melakukan evakuasi, gunakan senter untuk membantu melihat kondisi koridor dan tangga darurat. Jangan memaksakan diri melewati jalur yang rusak atau tidak aman.
f. Jangan menggunakan lilin, korek api, atau sumber api terbuka sebagai penerangan karena mungkin terdapat kebocoran gas atau bahan mudah terbakar.
g. Jika mencurigai adanya kebocoran gas, jangan mengoperasikan sakelar atau peralatan listrik. Segera menjauh melalui jalur yang aman dan laporkan kondisi tersebut kepada petugas atau layanan darurat.
h. Gunakan baterai HP secara bijak karena perangkat tersebut mungkin masih diperlukan untuk komunikasi darurat dan memperoleh informasi resmi.
i. Sebagai persiapan ketika traveling, usahakan baterai HP dan power bank tetap terisi serta letakkan senter kecil di lokasi yang mudah dijangkau dari tempat tidur.
Ingat, ketika listrik padam setelah gempa, tujuan kita bukan sekadar mendapatkan penerangan, tetapi memastikan bahwa kita dapat bergerak dan melakukan evakuasi tanpa menambah risiko cedera.
20. Kalau Mencium Bau Gas
Bayangkan kita baru saja mengalami gempa bumi ketika sedang menginap di sebuah hostel. Setelah guncangan berhenti, kita mulai memeriksa kondisi kamar dan bersiap melakukan evakuasi. Namun, tiba-tiba tercium bau menyengat yang tidak biasa, menyerupai bau gas dari kompor.
Kita mungkin langsung berpikir, “Lho, ini bau gas dari mana? Jangan-jangan ada pipa yang bocor akibat gempa?”
Jangan mengabaikan bau gas setelah gempa bumi. Guncangan dapat merusak pipa, sambungan, atau instalasi gas di dalam bangunan sehingga menyebabkan kebocoran. Jika gas yang mudah terbakar terkumpul di suatu ruangan, percikan api kecil sekalipun berpotensi memicu kebakaran atau ledakan.
Karena itu, apabila kita mencium bau gas atau mendengar suara mendesis yang diduga berasal dari kebocoran, jangan mencoba mencari sumbernya dengan menyalakan korek api, lilin, atau rokok. Jangan pula menyalakan kompor atau menggunakan sumber api terbuka lainnya.
Bagaimana jika kamar sedang gelap karena listrik padam?
Kita mungkin spontan ingin menyalakan lampu untuk memeriksa kondisi ruangan. Namun, jangan menyalakan atau mematikan sakelar listrik apabila mencurigai adanya kebocoran gas. Pengoperasian sakelar maupun peralatan listrik dapat menghasilkan percikan yang berpotensi menyulut gas yang mudah terbakar.
Jika lampu sudah menyala, biarkan sakelarnya tetap pada posisi semula. Jangan mencabut atau memasang charger, mengoperasikan kipas angin, maupun menggunakan peralatan listrik lainnya di area yang diduga mengalami kebocoran gas.
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Jika jalur keluar dapat dilewati dengan aman, segera tinggalkan kamar dan menjauhlah dari area yang diduga mengalami kebocoran. Jangan membuang waktu untuk mencari lokasi pipa yang rusak, memperbaiki instalasi gas, atau mengemasi barang-barang yang tertinggal.
Apabila memungkinkan, beri tahu penghuni lain yang berada di dekat kita agar mereka juga menjauh dari area berbahaya. Namun, jangan sampai tindakan tersebut membuat kita harus kembali memasuki ruangan yang diduga dipenuhi gas.
Setelah berada di lokasi yang aman, segera laporkan kondisi tersebut kepada petugas hotel atau hostel serta layanan darurat setempat. Sampaikan lokasi yang spesifik, misalnya nama hotel, nomor lantai, dan area tempat kita mencium bau gas.
Bagaimana jika kita ingin menggunakan HP untuk menghubungi petugas?
Sebagai tindakan pencegahan, jangan mengoperasikan HP atau perangkat elektronik di area yang diduga mengalami kebocoran gas. Menjauhlah terlebih dahulu, kemudian gunakan HP untuk menghubungi petugas atau layanan darurat setelah berada di tempat yang aman.
Jika petugas telah menginstruksikan evakuasi, ikuti arahan mereka dan jangan kembali memasuki bangunan sampai pihak yang berwenang menyatakan bahwa kondisinya aman.
Intinya, apabila mencium bau gas setelah gempa, jangan mencoba menyelidiki atau memperbaiki kebocoran sendiri. Hindari sumber api dan tindakan yang berpotensi menghasilkan percikan, segera menjauh melalui jalur yang aman, lalu laporkan kepada petugas.
Kesimpulannya, apabila mencium bau gas setelah gempa:
a. Anggap bau gas atau suara mendesis yang tidak biasa sebagai tanda kemungkinan kebocoran yang perlu segera diwaspadai.
b. Jangan menyalakan korek api, rokok, lilin, kompor, atau sumber api terbuka lainnya.
c. Jangan menyalakan maupun mematikan sakelar lampu atau mengoperasikan peralatan listrik di area yang diduga mengalami kebocoran gas.
d. Jangan mencabut atau memasang charger dan jangan mencoba mencari sumber kebocoran menggunakan api.
e. Jika jalur keluar aman, segera tinggalkan kamar dan menjauhlah dari area yang diduga mengalami kebocoran gas.
f. Beri tahu penghuni lain yang berada di dekat kita apabila dapat dilakukan tanpa menempatkan diri dalam bahaya.
g. Setelah berada di lokasi yang aman, hubungi petugas hotel atau hostel serta layanan darurat setempat. Sampaikan lokasi dan tanda-tanda kebocoran yang kita temukan.
h. Jangan kembali memasuki bangunan atau area yang diduga mengalami kebocoran sampai pihak yang berwenang menyatakan bahwa kondisinya aman.
Ingat, ketika mencurigai adanya kebocoran gas, prioritas kita adalah menjauh dari sumber bahaya, bukan mencari tahu sendiri dari mana gas tersebut berasal.
GEMPA DI DAERAH PANTAI: ADA SATU ATURAN TAMBAHAN YANG SANGAT PENTING
Situasi akan sedikit berbeda apabila kita sedang traveling di daerah pesisir. Hal ini sangat relevan bagi backpacker karena banyak destinasi wisata di Asia berada di kawasan pantai, termasuk Indonesia, Thailand, Filipina, Jepang, Taiwan, dan berbagai wilayah lain di sekitar Samudra Pasifik maupun Samudra Hindia.
Bayangkan kita sedang menginap di sebuah hostel yang lokasinya hanya beberapa ratus meter dari pantai. Pada pukul 02.00 dini hari, gempa kuat mengguncang bangunan hingga membuat kita terbangun. Setelah guncangan berhenti, kita berhasil keluar dari hostel dan berkumpul bersama penghuni lainnya.
Kita mungkin berpikir, “Oke, gempanya sudah berhenti. Kalau bangunannya aman, aku bisa balik tidur, kan?”
Namun, apabila kita berada di kawasan pesisir, ada satu bahaya tambahan yang perlu segera dipertimbangkan, yaitu TSUNAMI.
21. Setelah Gempa Kuat di Pantai, Pikirkan TSUNAMI
Tidak semua gempa bumi menyebabkan tsunami. Namun, gempa tertentu yang terjadi di bawah laut dapat menggerakkan dasar laut dan memindahkan sejumlah besar air, sehingga menghasilkan gelombang tsunami yang merambat menuju wilayah pesisir.
Karena itu, apabila kita sedang berada di kawasan pantai dan merasakan gempa yang kuat atau berlangsung lama, jangan langsung kembali ke kamar hostel hanya karena guncangan sudah berhenti.
Gempa kuat atau lama yang terasa di kawasan pesisir merupakan tanda alami bahwa kita perlu segera melakukan evakuasi tsunami, tanpa menunggu peringatan resmi.
Bayangkan kita sedang menginap di sebuah hostel di tepi pantai. Setelah gempa berhenti, listrik padam dan koneksi internet tidak berfungsi. Kita belum menerima pemberitahuan apa pun dari pemerintah setempat, sementara beberapa penghuni hostel mulai kembali ke kamar masing-masing.
Dalam situasi seperti ini, jangan menganggap tidak adanya peringatan berarti tidak ada bahaya tsunami. Apabila gempa terasa kuat atau berlangsung lama, segera bergerak menuju tempat tinggi atau menjauhi pantai ke arah daratan melalui jalur evakuasi yang aman.
Jika tersedia rambu tsunami evacuation route, ikuti petunjuk tersebut. Di beberapa kawasan pesisir, pemerintah setempat juga telah menentukan lokasi evakuasi khusus, seperti bukit, dataran tinggi, atau bangunan evakuasi tsunami yang dirancang untuk digunakan dalam keadaan darurat.
Bagaimana jika kita tidak mengetahui lokasi tempat tinggi terdekat?
Ikuti rambu evakuasi dan arahan petugas setempat apabila tersedia. Jika tidak ada petunjuk, bergeraklah menjauhi pantai menuju daratan yang lebih tinggi melalui jalur yang aman. Jangan menunda evakuasi hanya untuk mencari informasi di internet, mengemasi backpack, atau menunggu seluruh penghuni hostel berkumpul.
Jangan pergi ke pantai untuk melihat apakah laut surut
Kita mungkin pernah mendengar bahwa sebelum tsunami datang, air laut dapat tiba-tiba surut jauh dari garis pantai. Dasar laut yang biasanya tertutup air menjadi terlihat, bahkan perahu-perahu mungkin tampak terdampar.
Pemandangan seperti ini memang dapat menjadi salah satu tanda alami tsunami. Namun, jangan pergi ke pantai hanya untuk memastikan apakah air laut sedang surut.
Bayangkan setelah gempa kita justru berjalan mendekati pantai sambil berpikir, “Coba lihat dulu, lautnya surut nggak, ya? Kalau surut berarti tsunami.”
Tindakan tersebut sangat berbahaya karena tsunami tidak selalu diawali oleh air laut yang surut. Dalam beberapa kejadian, gelombang pertama justru dapat datang sebagai kenaikan muka air laut secara tiba-tiba. Selain itu, tsunami yang berasal dari sumber gempa dekat pantai dapat tiba dalam waktu yang sangat singkat.
Jadi, apabila kita sudah merasakan gempa kuat atau lama di kawasan pesisir, jangan menunggu air laut surut untuk memutuskan melakukan evakuasi.
Tanda alami lain yang perlu diwaspadai adalah suara gemuruh yang tidak biasa dari arah laut atau perubahan muka air laut secara tiba-tiba, baik berupa surut yang sangat jauh maupun kenaikan air yang cepat. Jika melihat atau mendengar tanda-tanda tersebut, segera menjauh dari pantai dan menuju lokasi evakuasi yang aman.
Jangan kembali ke pantai setelah gelombang pertama
Bagaimana jika kita sudah berada di tempat tinggi, kemudian melihat gelombang tsunami pertama datang dan akhirnya air mulai surut kembali?
Jangan langsung menganggap bahaya telah berakhir.
Tsunami dapat terdiri atas beberapa gelombang yang datang dengan jeda waktu tertentu. Gelombang pertama juga tidak selalu merupakan gelombang yang paling besar. Arus air yang kuat dapat tetap membahayakan kawasan pesisir selama berjam-jam setelah gelombang pertama tiba.
Karena itu, tetaplah berada di lokasi evakuasi dan ikuti informasi resmi dari otoritas setempat. Jangan kembali ke hostel, pantai, atau kawasan pesisir hanya karena air laut terlihat sudah surut.
Intinya, apabila kita sedang traveling di daerah pesisir dan merasakan gempa kuat atau lama, segera pertimbangkan bahaya tsunami. Jangan menunggu air laut surut, peringatan resmi, atau kedatangan gelombang pertama sebelum bergerak menuju tempat yang lebih aman.
Kesimpulannya, apabila terjadi gempa kuat atau lama di kawasan pesisir:
a. Segera pertimbangkan kemungkinan tsunami, meskipun guncangan gempa sudah berhenti dan bangunan tempat kita menginap terlihat masih berdiri.
b. Jika merasakan gempa kuat atau lama, segera lakukan evakuasi menuju tempat tinggi atau menjauhi pantai ke arah daratan melalui jalur yang aman. Jangan menunggu peringatan resmi.
c. Ikuti rambu tsunami evacuation route, lokasi evakuasi yang telah ditentukan, dan instruksi petugas setempat apabila tersedia.
d. Jangan kembali ke kamar hostel untuk tidur, mengemasi backpack, atau mengambil barang yang tertinggal apabila terdapat ancaman tsunami.
e. Jangan pergi ke pantai untuk memeriksa apakah air laut sedang surut. Tsunami tidak selalu diawali oleh surutnya air laut.
f. Waspadai tanda alami tsunami, seperti air laut yang tiba-tiba surut jauh, kenaikan muka air laut secara cepat, atau suara gemuruh yang tidak biasa dari arah laut.
g. Jika melihat atau mendengar tanda-tanda alami tersebut, segera menjauh dari pantai dan menuju lokasi evakuasi yang aman.
h. Jangan kembali ke kawasan pesisir setelah gelombang pertama berlalu karena gelombang berikutnya masih dapat datang dan berpotensi lebih besar.
i. Tetap berada di lokasi evakuasi hingga otoritas setempat menyatakan bahwa ancaman tsunami telah berakhir dan kawasan tersebut aman untuk dimasuki kembali.
Ingat, ketika gempa kuat atau lama terjadi di kawasan pantai, jangan menunggu untuk melihat apakah tsunami benar-benar datang. Segera menuju tempat yang lebih aman.
22. Jangan Mengandalkan Internet Saja
Bayangkan kita baru saja berhasil keluar dari hostel setelah mengalami gempa kuat di kawasan pesisir. Seluruh penghuni berkumpul di luar bangunan, sementara sebagian orang mulai membuka HP untuk mencari informasi mengenai gempa yang baru saja terjadi.
Kita mungkin langsung membuka Google atau media sosial sambil berpikir, “Gempanya berapa magnitudo, ya? Ada peringatan tsunami nggak? Aku harus pergi ke mana sekarang?”
Namun, ketika mencoba membuka internet, halaman yang kita akses tidak kunjung muncul. Pesan WhatsApp gagal terkirim, sementara koneksi seluler yang biasanya lancar tiba-tiba menjadi sangat lambat.
Jangan mengandalkan internet sebagai satu-satunya sumber informasi ketika terjadi gempa bumi. Setelah gempa besar, jaringan komunikasi dapat mengalami gangguan akibat kerusakan infrastruktur, pemadaman listrik, atau lonjakan penggunaan secara bersamaan oleh masyarakat yang berusaha menghubungi keluarga dan mencari informasi.
Karena itu, selain menggunakan HP, perhatikan pula informasi dan peringatan yang disampaikan melalui sarana lain di sekitar kita. Dengarkan apakah terdapat sirene peringatan tsunami, pengumuman melalui pengeras suara, atau instruksi dari petugas hotel, polisi, pemadam kebakaran, maupun tim penyelamat.
Jika pemerintah setempat menginstruksikan evakuasi, segera ikuti arahan tersebut melalui jalur yang aman. Jangan menunda hanya karena kita belum berhasil menemukan informasi yang sama di internet.
Jika internet masih tersedia, gunakan sumber resmi
Apabila koneksi internet masih berfungsi, gunakan kesempatan tersebut untuk mencari informasi dari lembaga resmi yang menangani gempa bumi, tsunami, dan penanggulangan bencana di negara tempat kita berada.
Misalnya, ketika traveling di Indonesia, kita dapat memeriksa informasi gempa dan peringatan dini tsunami melalui BMKG. Jika sedang berada di Jepang, kita dapat mengikuti informasi dari Japan Meteorological Agency (JMA). Di negara lain, carilah lembaga resmi yang memiliki kewenangan mengeluarkan peringatan bencana dan instruksi evakuasi.
Informasi yang perlu kita cari antara lain lokasi dan waktu kejadian gempa, peringatan tsunami yang berlaku untuk wilayah tempat kita berada, lokasi atau jalur evakuasi, serta instruksi terbaru dari pemerintah setempat.
Namun, jangan menunggu informasi mengenai magnitudo gempa muncul di internet sebelum memutuskan untuk menyelamatkan diri. Apabila kita berada di kawasan pesisir dan merasakan gempa kuat atau lama, segera lakukan evakuasi tsunami tanpa menunggu pemberitahuan melalui HP. Hal yang sama berlaku apabila kita melihat tanda alami tsunami atau mendengar instruksi evakuasi dari otoritas setempat.
Jangan langsung percaya informasi dari media sosial
Setelah gempa besar, media sosial biasanya dipenuhi berbagai unggahan mengenai kondisi bangunan, kerusakan jalan, korban, hingga kemungkinan tsunami. Sebagian informasi mungkin benar dan bermanfaat, tetapi sebagian lainnya dapat berupa rekaman lama, informasi yang belum terverifikasi, atau kabar yang tidak sesuai dengan kondisi di lokasi kita.
Bayangkan seseorang mengunggah video gelombang besar dengan keterangan, “Tsunami sudah sampai! Semua orang harus segera keluar!”
Sebelum menyebarkan informasi tersebut kepada orang lain, periksa apakah video benar-benar berasal dari kejadian yang sedang berlangsung, apakah lokasinya sesuai, dan apakah informasi tersebut telah dikonfirmasi oleh otoritas yang berwenang.
Namun, jangan sampai proses memverifikasi unggahan media sosial membuat kita mengabaikan tanda bahaya yang sedang terjadi di depan mata. Jika terdapat ancaman langsung atau instruksi evakuasi resmi, prioritaskan tindakan penyelamatan diri.
Bagaimana jika internet dan jaringan telepon sama-sama tidak berfungsi?
Jika kita tidak dapat mengakses internet maupun melakukan panggilan telepon, jangan menghabiskan waktu hanya untuk mencoba menyambungkan HP berulang kali.
Perhatikan informasi yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti sirene, papan petunjuk evakuasi, pengumuman melalui pengeras suara, dan arahan petugas. Jika sudah berada di titik kumpul, tetaplah berada di lokasi yang aman dan ikuti informasi yang disampaikan oleh pihak berwenang.
Apabila kita sedang berada di negara asing dan tidak memahami bahasa setempat, perhatikan simbol pada rambu evakuasi dan mintalah bantuan kepada petugas atau orang di sekitar untuk memahami instruksi yang diberikan.
Intinya, internet merupakan alat yang sangat membantu ketika terjadi bencana, tetapi keselamatan kita tidak boleh bergantung sepenuhnya pada ketersediaan koneksi internet. Perhatikan tanda bahaya di sekitar, dengarkan peringatan resmi, dan ikuti instruksi evakuasi tanpa menunggu informasi muncul di layar HP.
Kesimpulannya, setelah gempa terjadi:
a. Jangan mengandalkan internet sebagai satu-satunya sumber informasi karena jaringan komunikasi dapat mengalami gangguan setelah gempa besar.
b. Perhatikan sirene peringatan, pengumuman melalui pengeras suara, alarm darurat, dan instruksi dari petugas hotel maupun otoritas setempat.
c. Jika internet masih tersedia, gunakan sumber resmi untuk mengetahui informasi gempa, peringatan tsunami, lokasi evakuasi, dan instruksi pemerintah.
d. Perhatikan notifikasi peringatan darurat atau emergency alert yang diterima melalui HP, apabila layanan tersebut tersedia di negara tempat kita berada.
e. Jangan menunggu informasi mengenai magnitudo gempa atau peringatan tsunami muncul di internet apabila kita sudah merasakan gempa kuat atau lama di kawasan pesisir. Segera lakukan evakuasi menuju tempat yang aman.
f. Jangan langsung mempercayai atau menyebarkan unggahan media sosial yang belum terverifikasi, terutama informasi mengenai tsunami, korban, dan kondisi jalur evakuasi.
g. Jika internet dan jaringan telepon tidak berfungsi, ikuti rambu evakuasi, sirene, pengumuman, serta arahan petugas di lapangan.
h. Jika tidak memahami bahasa setempat, mintalah bantuan kepada petugas atau orang di sekitar untuk memahami instruksi keselamatan.
Ingat, ketika menghadapi bencana, jangan sampai kita terlalu sibuk mencari informasi di HP hingga terlambat mengambil tindakan untuk menyelamatkan diri.






0 comments:
Posting Komentar