Paspor adalah salah satu dokumen identitas paling penting ketika kita traveling ke luar negeri. Sejak kita berangkat dari Indonesia, melewati pemeriksaan imigrasi, memasuki negara tujuan, check-in di penginapan, sampai akhirnya keluar dari negara tersebut dan pulang ke Indonesia, paspor menjadi dokumen yang membuktikan identitas dan kewarganegaraan kita sekaligus berfungsi sebagai dokumen perjalanan internasional.
Karena itulah, kehilangan paspor ketika sedang berada di luar negeri bukan perkara sepele. Kehilangan baju, charger, atau barang bawaan lainnya mungkin cukup diselesaikan dengan membeli pengganti. Tetapi ketika paspor hilang, kita nggak bisa sekadar datang ke toko lalu membeli yang baru. Ada prosedur resmi yang harus dilalui, mulai dari melaporkan kehilangan, menghubungi Perwakilan Republik Indonesia, mengurus dokumen perjalanan pengganti, sampai dalam kondisi tertentu berurusan dengan otoritas imigrasi negara tempat kita berada.
Lebih merepotkan lagi kalau kehilangan tersebut terjadi di tengah perjalanan. Bayangkan kita sedang backpacking di luar negeri. Besok pagi rencananya kita akan pindah ke negara berikutnya. Tiket pesawat sudah dibeli, hostel di kota tujuan sudah dipesan, dan itinerary beberapa hari ke depan sudah tersusun rapi. Malam sebelum keberangkatan, sambil rebahan di hostel, kita mulai membereskan barang supaya besok pagi nggak perlu buru-buru.
HP ada. Dompet ada. Kartu ATM ada. Charger sudah masuk backpack. Tinggal paspor. Kita meraba money belt yang biasanya digunakan untuk menyimpannya. Kosong...
"Lho?"
Kita mulai membuka backpack. Kompartemen depan nggak ada. Kantong bagian dalam nggak ada. Kantong jaket diperiksa. Loker dibuka. Selimut diangkat. Bantal dibalik. Bahkan backpack yang sebenarnya sudah kosong dibongkar untuk kedua kalinya karena kita masih berharap paspor tiba-tiba muncul dari tempat yang lima menit lalu sudah diperiksa. Tetap nggak ada. Barulah muncul pikiran yang sejak tadi berusaha kita hindari.
"Waduh. Pasporku mana?"
Mulai deh otak memutar ulang perjalanan seharian. Terakhir kali lihat paspor kapan? Tadi waktu check-in hostel rasanya masih ada. Atau jangan-jangan tertinggal di resepsionis? Apa jatuh di kereta? Jangan-jangan waktu membuka tas di stasiun tadi ikut terjatuh? Atau kemungkinan yang lebih buruk, tas sempat terbuka dan paspor dicuri? Lalu pikiran berikutnya mulai bermunculan.
"Besok aku terbang gimana?"
"Kalau paspor hilang berarti aku nggak bisa keluar dari negara ini?"
"Terus tiket ke negara berikutnya gimana?"
Wajar kalau kita langsung panik. Kehilangan paspor di luar negeri memang berbeda dengan kehilangan paspor ketika masih berada di Indonesia. Kita sedang berada di wilayah negara lain, sementara dokumen yang digunakan untuk membuktikan identitas dan perjalanan internasional kita justru hilang. Tanpa dokumen perjalanan yang sah, kita tidak bisa begitu saja datang ke bandara lalu berharap petugas imigrasi membiarkan kita terbang hanya karena kita bisa menunjukkan foto paspor di HP.
Tetapi kehilangan paspor juga bukan berarti kita akan terjebak selamanya di negara tersebut. WNI yang kehilangan paspor di luar negeri tetap mempunyai jalur resmi untuk mendapatkan bantuan melalui kepolisian setempat, Perwakilan Republik Indonesia seperti KBRI atau KJRI, dan apabila diperlukan otoritas imigrasi negara tempat kita berada. Masalahnya memang merepotkan, mungkin menghabiskan waktu, mungkin juga membuat itinerary berubah total, tetapi ada prosedur untuk menyelesaikannya.
Justru karena itu, menurutku kehilangan paspor termasuk salah satu situasi yang wajib diketahui backpacker sebelum benar-benar mengalaminya. Jangan sampai kita baru mencari tahu apa itu KBRI, bagaimana membuat laporan kehilangan, atau dokumen apa yang harus disiapkan ketika paspor sudah benar-benar nggak ada. Dan seperti banyak keadaan darurat lainnya, urusan kehilangan paspor sebenarnya nggak dimulai ketika paspornya hilang. Persiapannya dimulai jauh sebelum itu.
Karena itu, artikel ini akan aku bagi menjadi tiga bagian. Pertama, apa yang bisa kita lakukan sebelum kehilangan terjadi supaya risikonya sekecil mungkin. Kedua, apa yang harus dilakukan step by step ketika paspor benar-benar hilang di luar negeri. Ketiga, apa yang masih harus dibereskan setelah kita mendapatkan dokumen perjalanan pengganti dan berhasil keluar dari situasi tersebut.
Kita mulai dari bagian yang paling sederhana, tetapi justru paling penting: pencegahan.
A. SEBELUM PASPOR HILANG — PENCEGAHAN
Tentu nggak ada cara yang bisa menjamin paspor kita 100 persen nggak akan pernah hilang. Kita bisa saja sudah sangat hati-hati tetapi tetap menjadi korban pencopetan, tas bisa tertinggal di kendaraan, atau sesuatu yang sama sekali nggak kita perkirakan terjadi. Jadi tujuan pencegahan bukan membuat kehilangan menjadi sesuatu yang mustahil. Yang bisa kita lakukan adalah memperkecil kemungkinan paspor hilang sekaligus mempersiapkan diri agar satu paspor yang hilang tidak langsung membuat kita benar-benar kehilangan arah.
1. Paspor Harus Punya Satu Tempat Penyimpanan Khusus
Salah satu kebiasaan paling sederhana tetapi menurutku sangat penting ketika traveling ke luar negeri adalah menentukan satu tempat khusus untuk menyimpan paspor. Tempat khusus tersebut selama perjalanan tidak boleh berpindah-pindah. Kalau aku memilih money belt, misalnya, maka urutannya selalu sama:
PASPOR → ZIPLOCK → MONEY BELT → DI BALIK PAKAIAN
Ziplock berfungsi sebagai perlindungan tambahan dari air dan kelembapan, sedangkan money belt menjadi tempat penyimpanan utamanya. Karena dikenakan di balik pakaian, paspor juga relatif tersembunyi dari pandangan orang lain dan tidak mudah dijangkau tanpa kita sadari. Yang paling penting sebenarnya bukan sekadar memilih tempat yang aman, tetapi konsisten mengembalikan paspor ke tempat yang sama setiap kali selesai digunakan.
Selama perjalanan, paspor memang beberapa kali harus keluar dari tempat persembunyiannya. Kita mengeluarkannya ketika melewati imigrasi, check-in penerbangan, naik transportasi internasional tertentu, atau ketika penginapan meminta melihat paspor untuk mencatat data tamu. Begitu urusan selesai, jangan berpikir,
"Nanti aja masukinnya, toh sebentar lagi dipakai lagi."
Justru kebiasaan seperti inilah yang sering membuat barang penting tercecer. Setelah paspor dikembalikan oleh petugas, sebisa mungkin langsung masukkan kembali ke ziplock, lalu ke money belt. Baru setelah itu lanjut melakukan hal lain.
Hindari kebiasaan memindah-mindahkan paspor hanya karena saat itu terasa lebih praktis. Hari ini paspor berada di money belt, besok karena buru-buru dimasukkan ke kantong jaket, setelah itu pindah ke kantong kecil backpack, malamnya diletakkan di bawah bantal hostel, lalu pagi-pagi kita lupa terakhir menaruhnya di mana. Masalahnya, ketika sebuah barang tidak mempunyai tempat tetap, otak kita harus mengingat kejadian terakhir ketika barang tersebut digunakan.
"Tadi malam pasporku aku taruh di mana, ya?"
"Kayaknya di tas..."
"Atau tadi aku masukin kantong jaket?"
"Jangan-jangan masih di meja resepsionis?"
Dan mulailah acara bongkar tas yang sebenarnya tidak perlu.
Sebaliknya, kalau sejak awal kita sudah membuat aturan bahwa paspor hanya boleh berada di satu tempat, kita tidak perlu mengingat-ingat lagi. Ketika ingin memastikan paspor masih ada, tangan secara otomatis tahu harus mengecek ke mana.
Prinsip ini sebenarnya bisa diterapkan pada barang penting lainnya selama traveling. Kartu ATM cadangan, uang darurat, atau dokumen perjalanan penting sebaiknya juga mempunyai tempat penyimpanan yang konsisten. Tetapi untuk paspor, aturan ini menurutku harus lebih ketat karena kehilangan paspor di luar negeri jauh lebih merepotkan dibandingkan kehilangan sebagian besar barang bawaan lainnya.
Ada satu kebiasaan kecil yang juga bisa dilakukan setiap kali hendak meninggalkan suatu tempat. Sebelum keluar dari hostel, hotel, bandara, kereta, bus, atau restoran, lakukan mental checklist singkat terhadap barang-barang paling penting.
Baru jalan.
Kelihatannya sepele, tetapi selama perjalanan panjang kita bisa berpindah tempat berkali-kali, dalam keadaan lelah, mengantuk, terburu-buru mengejar kereta, atau sambil memikirkan banyak hal sekaligus. Dalam kondisi seperti itulah benda penting paling gampang tertinggal.
Karena itu, jangan mengandalkan ingatan saja. Buat sebuah sistem sederhana dan lakukan terus-menerus sampai menjadi kebiasaan. Paspor punya satu tempat penyimpanan. Setiap kali selesai digunakan, langsung pulangkan ke rumahnya. Money belt bisa dibeli secara online dengan harga sangat terjangkau.
2. Lindungi Paspor dari Air
Paspor bukan sekadar buku kecil yang berisi identitas dan stempel perjalanan. Di dalamnya terdapat halaman biodata, berbagai fitur keamanan, serta chip elektronik pada paspor elektronik. Karena itu, selama traveling aku selalu menganggap paspor sebagai salah satu barang yang harus dijaga dari air dan kelembapan.
Cara paling sederhana dan murah adalah memasukkan paspor ke dalam plastik ziplock berukuran pas sebelum menyimpannya di money belt atau tempat penyimpanan lainnya. Nggak perlu ziplock besar atau tebal. Yang penting paspor bisa masuk dengan nyaman, plastik dapat ditutup rapat, dan paspor tetap mudah dikeluarkan ketika dibutuhkan.
Jangan membayangkan risiko paspor basah hanya terjadi kalau kita tercebur ke sungai, kehujanan deras, atau mengalami kejadian ekstrem lainnya. Justru kejadian sehari-hari yang kelihatannya sepele lebih mungkin terjadi. Misalnya, kita memasukkan botol minum ke dalam backpack dan ternyata tutupnya kurang rapat. Air perlahan merembes ke bagian bawah tas dan mengenai barang-barang di dalamnya. Bisa juga backpack berada di bagasi bus yang ternyata basah, terkena hujan ketika berjalan mencari hostel, atau terkena tumpahan minuman.
Kalau paspor hanya dilempar begitu saja ke dalam tas tanpa perlindungan, air bisa meresap ke halaman-halamannya. Paspor dapat menjadi lembap, halaman bergelombang atau menempel satu sama lain, tinta atau stempel bisa terdampak, dan kerusakan yang cukup parah berpotensi membuat paspor bermasalah ketika digunakan.
Jangan menganggap kerusakan kecil pada paspor pasti akan ditoleransi. Petugas imigrasi maupun maskapai di beberapa negara dapat mempertanyakan atau bahkan menolak dokumen perjalanan yang dianggap rusak, terutama apabila kerusakan mengenai halaman biodata/identitas, foto, tulisan, machine readable zone (MRZ), fitur keamanan, atau menyebabkan informasi di dalamnya sulit dibaca. Bekas air, tinta yang luntur, halaman yang sobek, atau bagian identitas yang berubah bentuk bisa menjadi masalah meskipun menurut kita kerusakannya terlihat sepele.
Yang membuat situasi seperti ini merepotkan adalah penilaian terhadap kondisi paspor pada akhirnya berada pada otoritas yang memeriksanya. Paspor yang sebelumnya berhasil digunakan belum tentu otomatis diterima pada pemeriksaan berikutnya apabila petugas menilai kondisinya sudah tidak memenuhi persyaratan sebagai dokumen perjalanan yang sah. Karena itu, kalau kerusakan sudah mengenai bagian identitas atau fitur keamanan, sebaiknya jangan mengambil risiko dengan berpikir, "Ah, cuma kena air sedikit."
Karena itulah aku lebih suka membuat dua lapis perlindungan sederhana:
PASPOR → ZIPLOCK → MONEY BELT
Ziplock melindungi paspor terutama dari air dan kelembapan, sedangkan money belt berfungsi sebagai tempat penyimpanan yang lebih aman dari kehilangan atau pencopetan. Setelah paspor dimasukkan ke dalam ziplock, keluarkan udara berlebih secukupnya lalu tutup penguncinya sampai benar-benar rapat. Sesekali periksa juga kondisi plastiknya. Kalau sudah sobek, berlubang, atau bagian penutupnya tidak lagi rapat, tinggal ganti dengan yang baru. Barangnya murah dan ringan, tetapi bisa menyelamatkan salah satu dokumen paling penting selama perjalanan.
3. Jangan Tinggalkan Paspor sebagai Jaminan Jika Ada Alternatif yang Sah
Selama traveling, ada beberapa situasi ketika kita memang perlu menyerahkan paspor sebentar kepada orang lain. Ketika check-in hotel atau hostel, misalnya, resepsionis mungkin perlu melihat paspor untuk memverifikasi identitas, mencatat data tamu, atau memenuhi kewajiban administrasi setempat. Hal seperti ini wajar. Tetapi setelah proses administrasi selesai, pastikan paspor asli kembali ke tangan kita.
Jangan langsung meninggalkan meja resepsionis sambil sibuk membawa backpack, mengambil kunci kamar, atau ngobrol dengan teman. Tunggu sampai paspor dikembalikan, lalu langsung masukkan lagi ke "rumahnya" yaitu ziplock dan money belt.
Situasi yang menurutku perlu lebih diperhatikan adalah ketika paspor asli diminta untuk ditinggalkan sebagai jaminan, misalnya ketika menyewa motor, mobil, sepeda, perlengkapan tertentu, atau menggunakan jasa lainnya. Kalau hal ini terjadi, tanyakan terlebih dahulu apakah ada alternatif yang sah. Beberapa usaha mungkin menerima deposit uang, kartu kredit, salinan paspor, atau bentuk jaminan lain sesuai aturan dan kebijakan mereka. Tentunya kita juga harus mengikuti peraturan yang berlaku di negara tersebut dan persyaratan sah dari penyedia jasa.
Tetapi kalau sebuah rental motor atau mobil mengatakan bahwa paspor asli wajib ditinggalkan selama kendaraan kita gunakan, sementara ada penyedia lain yang menerima bentuk jaminan yang lebih aman, aku pribadi akan mencari rental lain. Paspor terlalu penting untuk ditinggalkan begitu saja.
Bayangkan kita menyewa motor selama tiga hari, menyerahkan paspor sebagai jaminan, kemudian setelah mengembalikan motor kita buru-buru mengejar bus menuju kota berikutnya. Beberapa jam kemudian, ketika sudah berada ratusan kilometer jauhnya, baru muncul pikiran:
"Astaga. Pasporku masih di rental motor kemarin."
Kalau perjalanan kita santai mungkin masih bisa kembali. Tetapi bagaimana kalau malam itu kita harus naik pesawat? Atau besok pagi harus menyeberang ke negara lain? Masalah kecil bisa berubah menjadi kekacauan itinerary hanya gara-gara satu dokumen tertinggal.
Karena itu, kalau memang berencana menyewa motor atau mobil selama traveling, jangan menunggu sampai tiba di lokasi untuk mencari tahu persyaratan rental. Sebelum berangkat, cek secara daring terlebih dahulu. Buka website mereka, baca FAQ atau syarat penyewaan, lihat ulasan traveler lain, atau hubungi rental melalui WhatsApp, email, maupun direct message. Tanyakan secara spesifik: "Apakah paspor asli harus ditinggalkan selama masa penyewaan?"
Kalau jawabannya iya, tanyakan apakah tersedia alternatif berupa deposit atau bentuk jaminan lain yang sah. Kalau tidak ada dan kita merasa tidak nyaman meninggalkan paspor, cari penyedia lain sebelum perjalanan dimulai. Dengan begitu kita nggak perlu mengambil keputusan terburu-buru setelah tiba di negara tujuan.
Hal yang sama berlaku ketika menginap. Kalau sebuah penginapan meminta menahan paspor sampai check-out, tanyakan dengan sopan mengapa paspor perlu disimpan dan apakah administrasinya dapat diselesaikan saat itu juga sehingga paspor bisa langsung dikembalikan. Namun tetap perhatikan aturan setempat karena prosedur registrasi tamu berbeda-beda antarnegara.
4. Scan Halaman Identitas Paspor
Sebelum berangkat ke luar negeri, luangkan beberapa menit untuk scan atau foto halaman identitas paspor dengan jelas. Ini salah satu persiapan kecil yang sering terasa nggak penting—sampai suatu hari paspor benar-benar hilang. Pastikan seluruh halaman identitas terlihat utuh dan tidak ada bagian yang terpotong. Nama lengkap, foto, nomor paspor, kewarganegaraan, tanggal lahir, tanggal penerbitan, tanggal kedaluwarsa, serta bagian Machine Readable Zone (MRZ) di bawah halaman sebaiknya dapat terbaca dengan jelas.
Kalau menggunakan kamera HP, ambil foto di tempat yang terang dan hindari pantulan cahaya pada halaman paspor. Jangan sampai kita merasa sudah mempunyai cadangan, tetapi ketika dibutuhkan ternyata nomor paspornya blur atau sebagian halaman tertutup bayangan tangan sendiri.
Setelah itu, jangan hanya menyimpan fotonya di galeri HP. Ini kesalahan yang gampang banget dilakukan karena rasanya paling praktis. Masalahnya, barang-barang penting terkadang hilang dalam satu kejadian yang sama. Backpack dicuri, misalnya, dan di dalamnya ada paspor sekaligus HP. Paspor hilang. HP hilang. Salinan paspor yang cuma ada di HP ikut hilang. Karena itu aku lebih suka membuat beberapa lapis cadangan yang disimpan terpisah satu sama lain.
Misalnya, satu file digital disimpan di penyimpanan daring pribadi yang terlindungi dengan baik, sehingga masih bisa diakses melalui perangkat lain. Kemudian bawa satu fotokopi halaman identitas paspor dan simpan di tempat yang berbeda dari paspor asli.
Jangan menyimpan fotokopi tersebut berdempetan dengan paspor asli. Kalau paspor berada di money belt, fotokopinya bisa berada di bagian aman dalam backpack atau koper. Tujuannya sederhana yaitu kalau salah satunya hilang, kita masih mempunyai yang lain.
Salinan digital juga sebaiknya diperlakukan sebagai dokumen sensitif, bukan sekadar foto perjalanan biasa. Halaman identitas paspor berisi cukup banyak data pribadi, jadi jangan menyimpannya sembarangan di perangkat umum, membagikannya tanpa alasan, atau mengunggahnya ke tempat yang dapat diakses publik. Gunakan penyimpanan daring pribadi dengan akun yang terlindungi, idealnya menggunakan autentikasi dua faktor.
Lalu sebenarnya untuk apa salinan ini?
Kalau paspor asli hilang di luar negeri, scan atau fotokopi tidak dapat digunakan sebagai pengganti paspor untuk melintasi perbatasan. Tetapi salinan tersebut dapat sangat membantu ketika kita perlu melaporkan kehilangan dan mengurus dokumen perjalanan pengganti melalui perwakilan Republik Indonesia. Setidaknya kita masih mempunyai catatan mengenai nomor paspor dan data penting lainnya tanpa harus mengandalkan ingatan.
Selain itu, ada kalanya kita perlu mengetahui nomor paspor ketika mengisi formulir, melakukan reservasi tertentu, atau mengurus administrasi perjalanan. Daripada berkali-kali mengeluarkan paspor asli di tempat umum, kita bisa melihat datanya dari salinan apabila memang cukup untuk keperluan tersebut.
Kalau mau sedikit lebih rapi, sebelum berangkat aku akan menyiapkan:
Dengan sistem seperti ini, kita tidak menggantungkan semuanya pada satu barang atau satu perangkat. Prinsipnya sama seperti membuat backup data penting yaitu jangan menaruh semua cadangan di tempat yang sama dengan barang aslinya. Karena kalau tempat tersebut yang hilang, semua cadangan ikut hilang bersamanya.
5. Simpan Salinan Visa dan Dokumen Keimigrasian
Selain halaman identitas paspor, dokumen lain yang menurutku wajib mempunyai salinan adalah visa dan dokumen keimigrasian yang berkaitan dengan perjalanan tersebut. Kalau kita menggunakan visa berbentuk stiker yang ditempel di paspor, foto atau scan halaman tersebut dengan jelas. Pastikan nomor visa, jenis visa, masa berlaku, jumlah izin masuk (single/multiple entry), dan informasi penting lainnya dapat terbaca.
Kalau menggunakan e-visa, jangan hanya mengandalkan email tempat dokumen tersebut dikirimkan atau website tempat kita mengajukannya. Setelah visa diterbitkan, unduh PDF-nya dan simpan salinan yang bisa dibuka secara offline di HP. Simpan juga satu salinan di penyimpanan daring pribadi sebagai cadangan.
Tetapi menurutku e-visa sebaiknya tetap dicetak, meskipun namanya electronic visa. Aku biasanya lebih nyaman membawa setidaknya dua lembar print e-visa. Satu lembar disiapkan untuk digunakan atau diserahkan kepada petugas imigrasi apabila memang diminta, sedangkan satu lembar lainnya tetap disimpan sebagai backup di tempat khusus di dalam backpack.
Kenapa masih perlu membawa versi cetak kalau PDF-nya sudah ada di HP?
Karena dalam perjalanan kita nggak pernah tahu dalam kondisi seperti apa dokumen tersebut akan dibutuhkan. HP bisa kehabisan baterai tepat ketika sampai di konter imigrasi, layar bisa rusak, perangkat bisa hilang, atau file yang kita kira sudah tersimpan ternyata nggak bisa dibuka. Internet juga belum tentu tersedia. SIM card mungkin belum aktif, Wi-Fi bandara bermasalah, atau website tempat kita memperoleh visa sedang nggak bisa diakses.
Bayangkan setelah penerbangan panjang kita sampai di negara tujuan, petugas meminta melihat e-visa, lalu HP ternyata mati. Daripada berdiri di depan konter imigrasi sambil mencari charger dan colokan, jauh lebih sederhana kalau kita tinggal mengeluarkan selembar kertas dari tas. Karena itu, untuk e-visa aku lebih suka menggunakan beberapa lapis cadangan sekaligus:
Kalau lembar pertama diambil oleh petugas imigrasi atau harus diserahkan untuk suatu proses administrasi, kita masih mempunyai satu salinan fisik. Sebaiknya salinan cadangan ini juga disimpan di tempat yang berbeda dari paspor asli. Jadi kalau paspor berada di money belt, print cadangan e-visa bisa disimpan di kompartemen dokumen di dalam backpack.
Prinsip yang sama berlaku untuk dokumen keimigrasian lainnya yang kita terima selama perjalanan. Di beberapa negara atau dalam jenis perjalanan tertentu, traveler mungkin memperoleh bukti izin masuk, kartu atau formulir kedatangan, bukti registrasi, landing slip, dokumen izin tinggal sementara, atau dokumen lain yang berkaitan dengan status keimigrasian. Kalau dokumen tersebut penting untuk membuktikan status keberadaan kita di negara itu, simpan baik-baik dan kalau memungkinkan buat salinannya (minimal lewat foto, kemudian disimpan secara daring juga).
Ini menjadi sangat penting ketika paspor hilang. Dalam kondisi normal, petugas cukup melihat paspor kita untuk mengetahui identitas dan, tergantung sistem negara tersebut, sebagian riwayat atau bukti perjalanan. Tetapi ketika paspor tiba-tiba hilang, persoalannya bukan lagi hanya:
"Bagaimana caranya mendapatkan paspor atau dokumen perjalanan pengganti?"
Ada pertanyaan lain yang sama pentingnya:
"Bagaimana aku membuktikan bahwa aku masuk ke negara ini secara sah?"
Misalnya kita masuk menggunakan visa yang masih berlaku, kemudian beberapa hari kemudian paspor dicuri. Visa fisik yang ditempel pada paspor otomatis ikut hilang. Begitu pula stempel masuk yang mungkin menjadi salah satu bukti kapan kita memasuki negara tersebut.
Otoritas imigrasi di banyak negara memang mempunyai catatan perjalanan dalam sistem mereka. Tetapi mempunyai salinan dokumen sendiri dapat membantu kita menyediakan informasi yang dibutuhkan ketika melaporkan kehilangan atau menjelaskan status perjalanan. Kita masih mempunyai nomor visa, tanggal penerbitan, masa berlaku, dan informasi lain yang dapat membantu proses penelusuran. Karena itu aku akan memperlakukan dokumen perjalanan dengan sistem yang sama seperti paspor:
PASPOR → scan halaman identitas
VISA STIKER → scan/foto halaman visa
E-VISA → PDF offline + penyimpanan daring + 2 print fisik
BUKTI IZIN MASUK/DOKUMEN IMIGRASI → foto atau scan jika relevan
Kemudian simpan salinannya di lebih dari satu tempat yang aman. Tujuannya bukan sekadar mempunyai banyak salinan, tetapi memastikan satu kejadian tidak menghilangkan semuanya sekaligus.
Tentu saja, sama seperti scan paspor, salinan visa atau dokumen keimigrasian bukan berarti kita otomatis bisa menggunakannya sebagai pengganti dokumen asli untuk melewati imigrasi. Fungsi utamanya adalah sebagai cadangan informasi dan bukti pendukung apabila dokumen asli hilang. Untuk e-visa, versi cetak juga sangat praktis ketika petugas meminta dokumen fisik atau ketika perangkat elektronik kita nggak bisa digunakan.
Jadi ketika mempersiapkan perjalanan ke luar negeri, jangan hanya berpikir:
"Aku sudah punya paspor dan e-visa di HP."
Pikirkan juga:
"Kalau HP-ku mati atau hilang dan pasporku ikut hilang, apa yang masih aku punya?"
Kalau jawabannya masih ada PDF di penyimpanan daring dan satu print e-visa di dalam backpack, setidaknya kita nggak memulai penyelesaian masalah dari nol. Sedikit persiapan sebelum berangkat bisa membuat situasi yang sangat merepotkan menjadi jauh lebih mudah ditangani.
6. Catat Kontak KBRI/KJRI
Sebelum berangkat ke luar negeri, cari tahu Perwakilan Republik Indonesia yang menangani wilayah tujuan kita. Bisa berupa KBRI, KJRI, atau Perwakilan RI lainnya tergantung negara dan wilayah tempat kita berada. Jangan menunggu sampai terjadi masalah baru mencari:
"KBRI Indonesia di sini ada di mana, ya?"
Dalam kondisi normal, mencari informasi seperti ini memang gampang. Tinggal buka Google, cari alamat, lalu telepon. Tetapi bayangkan kalau kita baru saja kehilangan tas yang berisi paspor sekaligus HP. Kita berada di kota asing, mungkin sedang panik, nggak punya akses ke akun sendiri, dan bahkan belum tahu harus menghubungi siapa. Karena itu, sebelum perjalanan aku akan mencatat setidaknya nama Perwakilan RI yang menangani wilayah tersebut, alamat, nomor telepon, serta nomor atau kontak darurat jika tersedia. Kalau perjalanannya melewati beberapa negara, lakukan hal yang sama untuk setiap negara. Apalagi kalau itinerary cukup panjang dan berpindah-pindah kota.
Perlu diingat juga bahwa satu negara bisa mempunyai lebih dari satu Perwakilan RI. Misalnya, Amerika Serikat mempunyai KBRI Washington D.C. sekaligus beberapa KJRI di kota lain. Jadi yang perlu kita cari bukan sekadar "KBRI Indonesia di Amerika", tetapi Perwakilan RI mana yang wilayah kerjanya mencakup lokasi tempat kita akan berada.
Sebaliknya, ada pula perjalanan ke negara atau wilayah yang tidak mempunyai KBRI/KJRI tepat di kota tempat kita berada. Dalam kondisi seperti ini, penting mengetahui sejak awal Perwakilan RI mana yang menangani wilayah tersebut. Informasi seperti ini jauh lebih enak dicari ketika kita masih duduk santai di rumah daripada ketika sedang menghadapi keadaan darurat di luar negeri.
Kemudian jangan hanya menyimpan semua informasi tersebut di kontak HP. Prinsipnya sama seperti salinan paspor. Kalau HP hilang bersama paspor, semua nomor penting yang hanya tersimpan di dalam HP ikut hilang. Simpan salinan informasi tersebut di tempat lain yang dapat diakses menggunakan perangkat berbeda, misalnya penyimpanan daring pribadi.
Kalau mau lebih aman lagi, buat catatan darurat kecil dalam bentuk fisik dan selipkan di tempat yang berbeda dari paspor. Nggak perlu panjang-panjang. Cukup nama perwakilan, kota, nomor telepon, dan nomor darurat.
Misalnya:
Kertas sekecil itu hampir nggak menambah berat backpack, tetapi bisa sangat berguna ketika HP hilang, rusak, kehabisan baterai, atau kita sedang nggak mempunyai akses internet.
Untuk mencari informasi resmi sebelum perjalanan, salah satu tempat yang bisa digunakan adalah portal Peduli WNI — Kementerian Luar Negeri RI. Portal tersebut menyediakan informasi pelayanan dan Perwakilan RI berdasarkan negara, serta menjadi portal pelayanan dan pelindungan WNI di luar negeri.
Portal Peduli WNI juga mencantumkan kontak Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri. Namun untuk perjalanan tertentu, tetap catat kontak Perwakilan RI yang secara khusus menangani wilayah tujuan karena merekalah yang paling relevan ketika kita membutuhkan bantuan konsuler di lokasi tersebut.
Dan kalau paspor benar-benar hilang, informasi ini akan menjadi salah satu hal pertama yang kita butuhkan. Setelah melakukan langkah-langkah yang diperlukan di negara tempat kehilangan terjadi, kita sudah tahu harus menghubungi siapa dan ke mana harus mencari bantuan untuk mengurus dokumen perjalanan.
Jadi jangan hanya menyiapkan:
PASPOR + VISA + TIKET.
Siapkan juga:
"Kalau pasporku hilang di negara ini, siapa yang harus aku hubungi?"
Semoga catatan itu nggak pernah perlu digunakan. Tetapi kalau suatu hari benar-benar dibutuhkan, kita akan sangat bersyukur sudah menyiapkannya sejak sebelum berangkat.
7. Biasakan "Passport Check"
Selain memberikan satu tempat penyimpanan khusus untuk paspor, aku juga menyarankan membuat satu kebiasaan kecil selama traveling yaitu 'selalu melakukan Passport Check'. Caranya sangat sederhana. Setiap kali kita akan meninggalkan tempat tertentu, tanyakan satu hal kepada diri sendiri:
"Paspor?"
Lalu sentuh atau cek tempat paspor biasa disimpan untuk memastikan benda itu benar-benar ada.
Sebelum meninggalkan pesawat:
"Paspor?"
Sebelum turun dari kereta atau bus:
"Paspor?"
Sebelum check-out dari hostel:
"Paspor?"
Sebelum meninggalkan meja imigrasi:
"Paspor?"
Sebelum meninggalkan rental kendaraan:
"Paspor?"
Kebiasaan itu hanya membutuhkan beberapa detik.
Aku lebih suka menjadikannya sebagai refleks setiap kali berpindah tempat, terutama setelah berada di lokasi di mana paspor kemungkinan sempat dikeluarkan.
Bandara adalah contoh paling jelas. Dalam waktu relatif singkat kita bisa mengeluarkan paspor berkali-kali yaitu ketika check-in, melewati imigrasi, menunjukkan dokumen di boarding gate, kemudian mungkin mengeluarkannya lagi ketika tiba di negara tujuan. Di saat yang sama kita juga sedang membawa backpack, koper, boarding pass, HP, jaket, botol minum, dan barang lainnya.
Belum lagi kalau penerbangannya panjang. Kita turun dari pesawat dalam keadaan mengantuk, capek, dan pikiran sudah sibuk memikirkan cara menuju hostel. Kondisi seperti inilah yang membuat barang penting gampang tertinggal. Karena itu, sebelum meninggalkan kursi pesawat, aku akan melakukan pemeriksaan singkat:
"Paspor? HP? Dompet?"
Setelah itu baru berdiri dan berjalan keluar. Hal yang sama berlaku setelah melewati imigrasi. Jangan menerima paspor dari petugas kemudian berjalan sambil memegangnya, memasukkannya sembarangan ke kantong, atau meletakkannya bersama dokumen lain karena antrean di belakang kita panjang.
Begitu paspor dikembalikan, kalau situasinya memungkinkan, langsung pulangkan ke tempat penyimpanannya.
PASPOR → ZIPLOCK → MONEY BELT.
Kemudian lanjut jalan.
Kebiasaan ini menjadi semakin penting ketika kita melakukan perjalanan panjang yang melibatkan banyak perpindahan. Hari ini pesawat, besok kereta, lusa bus malam, kemudian hostel, ferry, pesawat lagi. Semakin banyak perpindahan, semakin banyak pula kesempatan kita meninggalkan sesuatu. Kalau paspor tertinggal di pesawat, menyadarinya ketika masih berada di bandara tentu jauh lebih baik daripada baru menyadarinya dua jam kemudian setelah kita naik kereta menuju kota lain.
Begitu pula kalau paspor tertinggal di hostel. Menyadarinya ketika baru berjalan 100 meter dari hostel jauh lebih mudah daripada baru teringat setelah bus yang kita naiki sudah melaju ke kota berikutnya.
Inilah alasan aku menyukai Passport Check. Tujuannya bukan membuat kita paranoid dan mengecek paspor setiap lima menit. Justru sebaliknya yaitu kita membuat momen-momen tertentu sebagai pemicu otomatis untuk mengecek.
Lama-lama kebiasaan ini bisa menjadi seperti mengecek HP sebelum meninggalkan meja restoran. Kita melakukannya hampir tanpa berpikir. Beberapa detik mungkin terasa nggak berarti. Tetapi beberapa detik itulah yang bisa menyelamatkan kita dari perjalanan berjam-jam kembali ke kota sebelumnya hanya karena satu buku kecil berwarna hijau tertinggal di suatu tempat.
B. SAAT PASPOR BENAR-BENAR HILANG
Sekarang kita masuk ke skenario yang paling nggak kita inginkan. Paspor sudah dicari di tempat biasanya, money belt sudah diperiksa, backpack sudah dibongkar, tetapi benda kecil yang sangat penting itu tetap nggak ditemukan. Dalam kondisi seperti ini, pikiran biasanya langsung berlari ke mana-mana. Kita mulai memikirkan penerbangan besok pagi, tiket yang mungkin hangus, hotel di kota berikutnya yang sudah dibayar, visa yang ikut hilang, sampai pertanyaan paling menakutkan selalu: "Terus aku pulang ke Indonesia gimana?"
Masalah-masalah tersebut memang nantinya harus dipikirkan, tetapi jangan mencoba menyelesaikan semuanya sekaligus. Ketika paspor hilang di luar negeri, kita perlu menyelesaikan masalah berdasarkan urutan prioritas. Tiket, hotel, dan itinerary bisa dipikirkan setelahnya. Hal pertama yang perlu dipastikan adalah apakah paspor benar-benar hilang atau sebenarnya hanya tertinggal di suatu tempat.
8. Cari Secara Sistematis
Sebelum menyimpulkan bahwa paspor benar-benar hilang atau dicuri, lakukan satu kali pencarian lagi secara menyeluruh. Namun kali ini jangan sekadar membongkar backpack berkali-kali sambil berharap tiba-tiba paspor muncul dari tempat yang sebelumnya sudah kita periksa. Cara yang lebih efektif adalah mencoba merekonstruksi perjalanan sejak terakhir kali kita benar-benar melihat atau memegang paspor. Coba tanyakan kepada diri sendiri, "Kapan terakhir kali aku melihat pasporku?" Bukan kapan kita merasa paspor masih ada, tetapi kapan terakhir kali kita benar-benar melihat benda tersebut berada di tangan kita.
Misalnya kita masih ingat bahwa pagi tadi paspor digunakan ketika check-out dari hostel. Berarti setidaknya sampai saat itu paspor masih ada. Setelah itu coba ingat kembali perjalanan secara kronologis. Setelah check-out kita mungkin naik metro menuju stasiun, kemudian naik kereta ke kota berikutnya, mampir makan, membeli SIM card, lalu check-in di hostel baru. Dari seluruh rangkaian tersebut, kapan ada kemungkinan paspor dikeluarkan lagi?
Mungkin petugas kereta meminta melihat identitas. Mungkin kita mengeluarkannya ketika membeli SIM card. Bisa juga paspor sebenarnya sudah diserahkan kepada resepsionis hostel baru untuk proses check-in dan kita lupa mengambilnya kembali. Dengan mengurutkan kejadian satu per satu, area pencarian yang tadinya terasa sangat luas perlahan bisa dipersempit.
Setelah itu baru periksa barang bawaan secara sistematis. Mulailah dari tempat yang seharusnya menjadi "rumah" paspor, misalnya money belt. Keluarkan seluruh isinya dan jangan hanya meraba dari luar. Setelah itu periksa backpack dari satu kompartemen ke kompartemen berikutnya, termasuk kantong-kantong kecil yang jarang digunakan. Periksa pula kantong celana dan jaket yang dipakai hari itu, pakaian yang baru saja diganti, loker hostel, brankas, meja, sela tempat tidur, bawah kasur, dan tempat-tempat lain yang mungkin sempat digunakan untuk meletakkan barang.
Intinya, lakukan satu pencarian yang benar-benar teliti dan tenang, bukan berkali-kali membuka kompartemen tas yang sama dalam keadaan panik.
Kalau setelah semuanya diperiksa paspor tetap nggak ditemukan, perluas pencarian ke tempat-tempat yang sebelumnya kita datangi. Tanyakan kepada resepsionis hostel atau hotel tempat kita sedang menginap. Kalau baru saja berpindah penginapan, segera hubungi penginapan sebelumnya dan minta mereka memeriksa kamar, loker, brankas, meja resepsionis, atau bagian lost and found. Semakin cepat kita menghubungi mereka, semakin besar kemungkinan barang yang tertinggal masih bisa ditemukan sebelum kamar dibersihkan atau digunakan tamu berikutnya.
Hal yang sama berlaku jika terakhir kali paspor terlihat ketika berada di pesawat, kereta, bus, atau ferry. Segera hubungi operator transportasi atau bagian lost and found mereka. Berikan informasi sejelas mungkin, seperti tanggal perjalanan, nomor penerbangan atau kereta, rute, nomor kursi jika ada, serta lokasi terakhir kita ingat memegang paspor. Kalau baru menyadari kehilangan ketika masih berada di bandara atau stasiun, jangan buru-buru meninggalkan tempat tersebut. Datangi bagian informasi, lost and found, petugas maskapai, atau operator transportasi yang bersangkutan dan laporkan kehilangan saat itu juga.
Misalnya paspor ternyata tertinggal di kantong kursi pesawat. Menyadarinya ketika kita masih berada di bandara tentu jauh lebih baik daripada baru teringat dua jam kemudian ketika kereta yang kita naiki sudah membawa kita puluhan kilometer menuju pusat kota.
Namun ada satu hal yang juga perlu dihindari, yaitu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengulangi pencarian yang sama. Karena merasa paspor pasti masih berada di sekitar kita, kadang kita terus membuka backpack, menutupnya, memeriksa jaket, membuka koper, lalu kembali membongkar backpack dari awal. Padahal semua tempat tersebut sudah diperiksa berkali-kali.
Kalau barang bawaan sudah diperiksa dengan teliti, tempat terakhir paspor digunakan sudah dihubungi, penginapan dan operator transportasi yang relevan sudah ditanyakan, tetapi paspor tetap nggak ditemukan, kita perlu menerima kemungkinan bahwa paspor memang benar-benar hilang. Pada tahap ini, terutama jika ada kemungkinan paspor dicuri, waktu sebaiknya mulai digunakan untuk mengurus masalah berikutnya.
Jadi jangan langsung panik dan menyimpulkan paspor hilang begitu kita nggak menemukannya di money belt. Cari terlebih dahulu dengan tenang dan sistematis, rekonstruksi perjalanan, lalu hubungi tempat-tempat yang paling mungkin. Tetapi setelah pencarian yang masuk akal sudah dilakukan dan hasilnya tetap nihil, jangan menghabiskan berjam-jam mencari benda yang sama di tempat yang sama.
9. Jangan Mengejar Pencuri
Kalau paspor hilang karena kita lupa meletakkannya, masalah utamanya adalah mencari kembali benda tersebut. Tetapi situasinya berbeda kalau paspor hilang bersama tas atau dompet akibat pencopetan, penjambretan, atau perampokan. Dalam kondisi seperti ini, prioritas pertama bukan lagi paspor, melainkan keselamatan diri sendiri.
Bayangkan seseorang mengambil tas kita lalu berlari. Reaksi spontan yang muncul mungkin adalah mengejarnya. Apalagi kalau kita tahu di dalam tas tersebut ada paspor, uang, kartu ATM, dan mungkin HP yang berisi banyak data penting. Rasanya tentu nggak rela melihat seluruh barang perjalanan kita dibawa pergi begitu saja.
Tetapi kita nggak tahu siapa orang yang sedang kita kejar. Kita nggak tahu apakah dia sendirian atau mempunyai teman yang menunggu di tempat lain, dan kita juga nggak tahu apakah dia membawa pisau, senjata, atau benda lain yang dapat digunakan untuk melukai kita. Mengejar seseorang ke gang, jalan sepi, atau tempat yang nggak kita kenal hanya demi mendapatkan kembali tas bisa mengubah kehilangan barang menjadi situasi yang jauh lebih berbahaya.
Hal yang sama berlaku ketika kita berhadapan langsung dengan perampok. Kalau pelaku mengancam dengan senjata atau melakukan kekerasan, jangan mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mempertahankan paspor atau backpack. Barang-barang tersebut mungkin sangat penting dan kehilangan semuanya tentu akan membuat perjalanan menjadi sangat merepotkan, tetapi tetap saja semuanya adalah barang yang bisa diganti.
Paspor dapat diganti. Keselamatan kita tidak!
Kalau tas sudah berhasil dibawa pergi, jangan mengejar pelaku. Perhatikan situasi di sekitar dan bergeraklah menuju tempat yang lebih aman, misalnya toko, hotel, restoran, stasiun, pos keamanan, atau tempat ramai lainnya. Setelah berada di tempat yang aman, cari polisi atau petugas keamanan dan jelaskan apa yang baru saja terjadi.
Kalau memungkinkan dan aman dilakukan, coba ingat informasi mengenai kejadian tersebut tanpa kembali mendekati pelaku. Misalnya lokasi kejadian, perkiraan waktu, arah pelaku pergi, ciri-ciri pakaian, kendaraan yang digunakan, atau barang apa saja yang ikut hilang. Informasi seperti ini nantinya dapat membantu ketika membuat laporan kepada polisi. Tetapi jangan mengambil risiko hanya untuk mendapatkan foto, merekam video, atau melihat nomor kendaraan dari jarak dekat.
Kalau HP masih berada di tangan kita dan kartu bank ikut dicuri, setelah berada di tempat aman kita juga bisa mulai menghubungi bank untuk memblokir kartu. Kalau HP justru ikut hilang, langkah pengamanan akun dan nomor telepon juga perlu dilakukan sesegera mungkin dari perangkat lain. Tetapi semuanya dilakukan setelah kita berada dalam kondisi aman.
Jangan pula kembali sendirian ke lokasi kejadian karena berharap tas dibuang oleh pencuri setelah uangnya diambil. Memang ada kemungkinan pencuri hanya menginginkan barang berharga dan kemudian membuang tas beserta dokumen yang dianggap nggak berguna, termasuk paspor. Namun kalau ingin memeriksa kemungkinan tersebut, lakukan melalui polisi, petugas keamanan, atau pihak setempat yang dapat membantu.
Kehilangan paspor di luar negeri memang bisa terasa seperti bencana besar pada saat itu. Kita mungkin langsung membayangkan urusan polisi, KBRI atau KJRI, imigrasi, tiket pesawat, sampai itinerary yang berantakan. Tetapi semua masalah administratif tersebut masih mempunyai jalan keluar.
Jadi kalau paspor hilang karena pencurian atau perampokan, jangan mempertaruhkan diri untuk mendapatkannya kembali. Pergi ke tempat aman terlebih dahulu, cari bantuan, kemudian mulai urus barang dan dokumen yang hilang satu per satu.
10. Buat Laporan Kehilangan di Kepolisian Setempat
Setelah pencarian sudah dilakukan dan kita cukup yakin paspor benar-benar hilang, langkah berikutnya adalah melaporkan kehilangan tersebut kepada kepolisian setempat. Laporan polisi dapat menjadi salah satu dokumen pendukung yang diperlukan ketika kita mengurus kehilangan paspor dan dokumen perjalanan pengganti, sehingga sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah kehilangan diketahui.
Cari kantor polisi terdekat atau tanyakan kepada resepsionis hotel, hostel, petugas keamanan, maupun penduduk setempat mengenai tempat yang tepat untuk membuat laporan kehilangan. Kalau paspor hilang di bandara, stasiun, atau tempat wisata besar, kita juga bisa meminta petugas keamanan di sana mengarahkan ke kantor atau unit kepolisian yang menangani laporan tersebut.
Ketika sampai di kantor polisi, nggak perlu menjelaskan semuanya dengan bahasa Inggris yang rumit. Kalimat sederhana sudah cukup untuk membuka percakapan:
"I am an Indonesian citizen. I lost my passport and I need to make a police report."
Setelah itu, ceritakan kronologi kehilangan sesuai dengan apa yang benar-benar kita ketahui. Jelaskan kapan terakhir kali melihat paspor, di mana kemungkinan paspor hilang, kapan menyadari paspor sudah nggak ada, dan barang apa saja yang ikut hilang jika kehilangan terjadi bersama tas atau dompet.
Misalnya kita terakhir melihat paspor ketika check-in hostel, kemudian baru menyadari kehilangan pada malam hari setelah bepergian menggunakan metro. Ceritakan seperti itu. Nggak perlu membuat cerita yang terdengar lebih meyakinkan.
Kalau kita memang melihat seseorang mengambil tas, kita bisa menjelaskan bahwa barang tersebut dicuri. Tetapi kalau kita nggak tahu apakah paspor jatuh, tertinggal, atau dicopet tanpa disadari, jangan mengatakan paspor dicuri hanya karena merasa kemungkinan itu lebih masuk akal.
Cukup katakan:
"I don't know whether it was lost or stolen. I noticed that my passport was missing when I arrived at my hotel."
Laporan polisi adalah dokumen resmi, jadi kronologi yang kita berikan sebaiknya sesuai dengan fakta yang kita ketahui. Jangan mengarang detail, waktu, lokasi, atau modus pencurian yang sebenarnya nggak kita lihat sendiri.
Di sinilah persiapan pada bagian sebelumnya mulai terasa manfaatnya. Kalau kita sudah mempunyai scan atau foto halaman identitas paspor, tunjukkan kepada polisi. Informasi tersebut membantu kita memberikan nama lengkap, nomor paspor, tanggal lahir, dan data lainnya secara akurat tanpa harus mengingat semuanya di tengah situasi yang mungkin cukup membuat stres.
Kalau paspor hilang bersama barang lain, sebutkan pula barang-barang penting yang ikut hilang sesuai kebutuhan laporan, misalnya dompet, kartu bank, HP, atau tas. Kalau ada informasi yang bisa membantu menjelaskan kejadian—seperti nomor penerbangan, nomor kereta, alamat hostel, lokasi kejadian, atau perkiraan waktu kehilangan—siapkan juga informasi tersebut.
Kendala bahasa mungkin menjadi masalah di beberapa negara. Kalau petugas tidak berbicara bahasa Inggris dan kita tidak menguasai bahasa setempat, gunakan aplikasi penerjemah atau minta bantuan pihak penginapan bila memungkinkan. Yang penting, sebelum menyetujui atau menandatangani suatu laporan, usahakan memahami isi pokok dokumen tersebut, terutama bagaimana kronologi kehilangan dicatat.
Setelah laporan selesai dibuat, tanyakan apakah kita akan memperoleh salinan laporan kehilangan, nomor laporan, atau dokumen resmi lain sebagai bukti bahwa kehilangan sudah dilaporkan. Bentuk dokumennya bisa berbeda-beda tergantung negara dan sistem kepolisian setempat.
Jangan kehilangan dokumen ini juga. Begitu menerimanya, foto atau scan dokumen tersebut dan buat cadangan digital. Simpan dokumen aslinya bersama dokumen penting lainnya karena laporan tersebut dapat diperlukan ketika berurusan dengan Perwakilan RI, otoritas imigrasi setempat, perusahaan asuransi perjalanan jika relevan, atau pihak lain dalam proses penyelesaian kehilangan.
Setelah laporan polisi berada di tangan, kita sudah mempunyai bukti resmi bahwa kehilangan tersebut telah dilaporkan. Sekarang waktunya masuk ke langkah yang paling penting untuk bisa kembali mempunyai dokumen perjalanan yaitu menghubungi KBRI/KJRI atau Perwakilan Republik Indonesia yang menangani wilayah tempat kita berada.
11. Hubungi KBRI/KJRI yang Berwenang
Setelah laporan kehilangan dari kepolisian setempat sudah kita dapatkan, langkah berikutnya adalah menghubungi Perwakilan Republik Indonesia yang berwenang menangani wilayah tempat kita berada. Di sinilah catatan kontak KBRI/KJRI yang sudah kita persiapkan sebelum perjalanan akan sangat berguna.
Jangan langsung berasumsi bahwa kita harus pergi ke ibu kota negara tersebut. Indonesia bisa mempunyai beberapa Perwakilan dalam satu negara dengan wilayah kerja yang berbeda-beda. Sebaliknya, di negara tertentu keberadaan atau cakupan layanan Perwakilan RI juga bisa berbeda. Karena itu, pastikan terlebih dahulu Perwakilan RI mana yang menangani lokasi tempat kita kehilangan paspor.
Setelah menemukan Perwakilan yang tepat, hubungi mereka dan jelaskan situasinya secara sederhana. Misalnya:
"Saya WNI yang sedang traveling. Paspor saya hilang di [nama kota]. Saya sudah membuat laporan kehilangan di kepolisian setempat. Dokumen apa saja yang perlu saya bawa dan bagaimana prosedur yang harus saya lakukan selanjutnya?"
Sampaikan pula kondisi perjalanan kita. Kalau dua hari lagi mempunyai tiket pesawat, masa izin tinggal hampir habis, atau sedang berada ratusan kilometer dari kantor Perwakilan RI, beri tahu petugas. Informasi tersebut membantu mereka memahami situasi yang sedang kita hadapi dan memberikan arahan yang sesuai.
Yang penting, hubungi Perwakilan terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan jauh menuju kantornya, terutama kalau kita sedang berada di kota lain. Jangan sampai setelah kehilangan paspor kita buru-buru membeli tiket kereta selama delapan jam menuju ibu kota, kemudian setelah tiba ternyata pelayanan memerlukan janji terlebih dahulu, ada dokumen yang belum kita miliki, atau kita sebenarnya harus mengikuti prosedur tertentu sebelum datang.
Saat menghubungi Perwakilan RI, tanyakan dengan jelas apa saja dokumen yang perlu disiapkan. Beri tahu kalau kita masih mempunyai scan atau fotokopi paspor, visa atau e-visa, laporan polisi, kartu identitas Indonesia, tiket perjalanan, maupun dokumen lain yang dapat membantu membuktikan identitas dan perjalanan kita. Petugas Perwakilan nantinya dapat menjelaskan dokumen mana yang memang diperlukan sesuai kasus kita.
Tanyakan pula mekanisme pelayanannya. Apakah kita bisa langsung datang atau harus membuat janji terlebih dahulu? Apakah ada formulir yang harus diisi sebelumnya? Apakah perlu membawa pasfoto dengan ukuran tertentu? Berapa biaya yang harus dibayarkan dan bagaimana metode pembayarannya? Apakah ada dokumen tambahan yang perlu diperoleh dari otoritas setempat?
Jangan malu bertanya sedetail mungkin. Dalam keadaan seperti ini lebih baik kita mengetahui persyaratan sejak awal daripada sudah menempuh perjalanan jauh lalu mengetahui ada satu dokumen yang tertinggal.
Hal lain yang sangat penting untuk ditanyakan adalah apa yang harus dilakukan setelah dokumen perjalanan pengganti diterbitkan. Kehilangan paspor tidak selalu selesai hanya dengan memperoleh dokumen baru dari Perwakilan RI. Tergantung negara tempat kita berada, mungkin ada persoalan mengenai visa, izin tinggal, catatan masuk, atau prosedur keluar dari negara tersebut yang harus diselesaikan dengan otoritas imigrasi setempat. Karena prosedurnya berbeda antarnegara, jangan menebak sendiri. Tanyakan langsung kepada Perwakilan RI apakah ada langkah tambahan yang harus dilakukan dan instansi mana yang perlu kita datangi.
Kalau kehilangan terjadi di luar jam kerja dan situasinya mendesak, periksa apakah Perwakilan RI tersebut menyediakan nomor hotline atau kontak darurat untuk WNI. Gunakan kontak darurat sesuai kebutuhan, terutama jika kehilangan paspor terjadi bersamaan dengan keadaan yang menyangkut keselamatan, penahanan, kecelakaan, atau kondisi mendesak lainnya.
Pada tahap ini, kita nggak perlu mengetahui seluruh prosedur keimigrasian negara tersebut sendiri. Yang kita butuhkan adalah mendapatkan arah resmi mengenai langkah berikutnya. Karena itu, setelah paspor benar-benar dinyatakan hilang dan laporan polisi sudah dibuat, prinsipnya sederhana yaitu Jangan menebak prosedurnya. Hubungi Perwakilan RI yang berwenang, jelaskan situasinya, tanyakan persyaratannya, lalu ikuti arahan yang diberikan.
12. Siapkan Semua Bukti Identitas yang Masih Dimiliki
Setelah mendapatkan arahan dari KBRI/KJRI atau Perwakilan RI yang berwenang, mulailah mengumpulkan sebanyak mungkin dokumen yang dapat membantu membuktikan identitas kita. Inilah alasan kenapa sejak awal aku menyarankan membuat scan paspor, visa dan menyimpan salinannya di tempat yang berbeda dari dokumen asli.
Kalau persiapannya sudah dilakukan sejak sebelum berangkat, situasinya akan jauh lebih mudah. Kita tinggal membuka penyimpanan daring dan mengambil scan halaman identitas paspor, e-visa, atau dokumen perjalanan lainnya. Kalau membawa fotokopi fisik yang disimpan terpisah, keluarkan juga dokumen tersebut.
Beberapa dokumen yang mungkin berguna antara lain laporan kehilangan dari kepolisian setempat, scan atau fotokopi paspor yang hilang, KTP, Kartu Keluarga, akta kelahiran, visa atau e-visa, tiket perjalanan, serta dokumen lain yang diminta oleh Perwakilan RI.
Namun daftar tersebut jangan dipahami sebagai daftar persyaratan yang selalu sama untuk setiap kasus. Kita nggak harus panik karena kebetulan nggak membawa KK atau akta kelahiran ketika backpackeran. Dokumen yang diperlukan dapat bergantung pada kondisi kehilangan dan prosedur Perwakilan RI yang menangani kita. Karena itu, ikuti daftar persyaratan yang diberikan oleh petugas.
Tujuan mengumpulkan dokumen-dokumen tersebut pada dasarnya adalah membantu proses verifikasi identitas dan informasi perjalanan kita. Scan paspor lama, misalnya, dapat memberikan nomor paspor serta data identitas secara lengkap. KTP dapat menjadi bukti identitas tambahan, sedangkan visa, tiket pesawat, atau dokumen perjalanan lainnya dapat membantu memberikan informasi mengenai perjalanan yang sedang kita lakukan.
Bagaimana kalau KTP, KK, atau dokumen lain yang dibutuhkan berada di Indonesia?
Nggak perlu meminta keluarga mengirimkan dokumen fisiknya melalui kurir internasional kecuali memang diarahkan demikian. Hubungi keluarga atau orang yang dapat mengakses dokumen tersebut dan minta mereka mengirimkan scan atau foto yang jelas apabila salinan digital memang diperlukan. Dokumen bisa dikirim melalui sarana yang aman sesuai kebutuhan, kemudian kita tunjukkan atau cetak di negara tempat kita berada jika diminta.
Di sinilah mempunyai salinan dokumen di penyimpanan daring juga terasa sangat membantu. Kita nggak perlu membongkar rumah dari jarak ribuan kilometer sambil menelepon keluarga:
"Tolong cari fotokopi pasporku. Kayaknya ada di lemari... atau di laci meja... aku lupa."
Tetapi bagaimana kalau skenarionya lebih buruk?
Backpack dicuri dan di dalamnya ada paspor, dompet, KTP, serta semua fotokopi dokumen. HP juga ikut hilang. Kita nggak mempunyai scan paspor di cloud, nggak hafal nomor paspor, dan praktis nggak memegang satu pun dokumen identitas.
Tetap hubungi KBRI/KJRI atau Perwakilan RI yang berwenang.
Jangan berpikir, "Aku nggak punya fotokopi paspor, berarti KBRI nggak bisa membantu." Kehilangan seluruh barang justru merupakan salah satu situasi ketika kita membutuhkan bantuan konsuler. Jelaskan dengan jujur apa saja yang hilang dan dokumen apa yang masih bisa kita akses. Petugas kemudian dapat memberikan arahan mengenai proses verifikasi identitas dan dokumen apa yang perlu diusahakan sesuai kondisi kita.
Kalau masih mempunyai akses ke keluarga di Indonesia, beri tahu mereka mengenai situasi tersebut. Selain dapat membantu mencari dokumen, mempunyai seseorang di Indonesia yang mengetahui kondisi kita juga berguna apabila nantinya ada informasi atau dokumen tambahan yang perlu diperoleh. Yang penting, jangan membuat atau mengubah dokumen sendiri hanya karena sedang terdesak. Kalau ada dokumen yang nggak kita miliki, katakan memang nggak memilikinya dan tanyakan alternatif yang dapat diterima.
Jadi pada tahap ini tugas kita sebenarnya sederhana yaitu kumpulkan semua bukti identitas yang masih dapat diakses, susun dengan rapi, lalu bawa sesuai arahan Perwakilan RI. Kalau sejak awal kita sudah melakukan langkah-langkah pencegahan pada bagian sebelumnya, mungkin sekarang kita sudah mempunyai scan paspor, salinan visa, laporan polisi, dan data perjalanan yang siap digunakan.
Kalau ternyata kita nggak mempunyai satu pun?
Jangan kawatir. Tetap minta bantuan. Tidak mempunyai fotokopi paspor bukan berarti identitas kita tiba-tiba hilang bersama paspor tersebut. Tugas berikutnya adalah membantu Perwakilan RI melakukan verifikasi sehingga dokumen perjalanan pengganti dapat diproses sesuai ketentuan.
13. Urus Dokumen Perjalanan Pengganti
Setelah identitas kita berhasil diverifikasi dan semua persyaratan yang diminta sudah disiapkan, Perwakilan RI akan menentukan dokumen perjalanan apa yang dapat diterbitkan sesuai dengan kondisi kita. Jadi jangan datang dengan asumsi bahwa setiap traveler yang kehilangan paspor di luar negeri pasti akan mendapatkan jenis dokumen yang sama.
Dalam kondisi tertentu, WNI dapat memperoleh Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). SPLP merupakan dokumen pengganti paspor yang diberikan dalam keadaan tertentu ketika paspor biasa tidak dapat diberikan. Untuk WNI yang berada di luar Indonesia, permohonannya diproses melalui Perwakilan Republik Indonesia. SPLP untuk WNI berlaku paling lama dua tahun, hanya dapat digunakan untuk satu kali perjalanan, dan tidak dapat diperpanjang.
Layanan dokumen perjalanan bagi WNI di luar negeri juga tersedia melalui sistem pelayanan resmi pemerintah, termasuk melalui portal Peduli WNI. Prosedur dan persyaratan aktual tetap perlu dikonfirmasi kepada Perwakilan RI yang menangani kita karena kondisi pemohon dan ketentuan di negara tempat kita berada bisa berbeda.
Hal yang menurutku sangat penting dipahami adalah jangan menganggap dokumen perjalanan pengganti otomatis mempunyai fungsi yang sama seperti paspor biasa untuk melanjutkan backpackeran ke beberapa negara. Misalnya itinerary awal kita adalah:
Thailand → Vietnam → China → Indonesia
Kemudian paspor hilang ketika kita masih berada di Thailand. Setelah mendapatkan dokumen perjalanan pengganti dari Perwakilan RI, jangan langsung berpikir:
"Oke, paspor sudah diganti. Berarti besok lanjut Vietnam seperti itinerary awal."
Belum tentu. Dokumen yang kita terima mungkin mempunyai ketentuan penggunaan tertentu. Selain itu, perjalanan ke negara berikutnya bukan hanya bergantung pada dokumen yang diterbitkan Indonesia. Negara tujuan dan negara transit juga mempunyai ketentuan sendiri mengenai dokumen perjalanan apa yang mereka terima, belum lagi persoalan visa yang sebelumnya mungkin melekat atau terhubung dengan nomor paspor yang hilang. Karena itu, ketika menerima dokumen perjalanan pengganti, tanyakan secara spesifik kepada petugas Perwakilan RI:
"Dengan dokumen yang diberikan kepada saya, apakah saya harus kembali ke Indonesia atau masih dapat melakukan perjalanan sesuai rute saya?"
Kalau rute pulang harus transit di negara lain, sampaikan juga secara lengkap. Misalnya kita berada di Bangkok dan tiket pulang adalah Bangkok → Kuala Lumpur → Jakarta. Jangan hanya bertanya apakah dokumen tersebut bisa digunakan untuk pulang ke Indonesia. Tanyakan juga apakah ada persoalan dengan transit melalui Malaysia dan apakah ada persyaratan tambahan yang perlu diperiksa.
Hal yang sama berlaku untuk tiket yang sudah kita miliki. Beri tahu petugas tanggal penerbangan, rute, negara transit, serta status visa kita. Semakin lengkap informasi yang diberikan, semakin mudah kita mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum membeli tiket baru atau mengubah perjalanan.
Pada beberapa kasus kehilangan paspor, urusannya juga belum tentu selesai begitu dokumen perjalanan pengganti sudah berada di tangan. Kita mungkin masih perlu berhubungan dengan otoritas imigrasi negara tempat kita berada, misalnya untuk menyelesaikan persoalan catatan masuk, visa, atau izin keluar. Prosedurnya berbeda antarnegara; bahkan panduan resmi Safe Travel untuk beberapa wilayah mencantumkan laporan kepada imigrasi setempat sebagai bagian dari proses kehilangan paspor.
Di sinilah salinan dokumen yang kita persiapkan sebelumnya kembali berguna. Scan paspor lama, salinan visa atau e-visa, bukti masuk, laporan polisi, tiket penerbangan, dan dokumen lainnya dapat membantu ketika kita harus menjelaskan bagaimana dan kapan kita masuk ke negara tersebut.
Jadi jangan buru-buru membeli tiket baru begitu dokumen perjalanan pengganti selesai dibuat. Pastikan terlebih dahulu dokumen apa yang kita terima, untuk perjalanan apa dokumen tersebut dapat digunakan, apakah negara transit akan menerimanya, dan apakah masih ada prosedur yang harus diselesaikan dengan imigrasi setempat.
Kalau ternyata arahan yang diberikan adalah pulang ke Indonesia, ya untuk sementara itinerary harus dikorbankan. Vietnam dan China masih bisa dikunjungi lain waktu. Memaksakan perjalanan hanya karena hotel dan tiket sudah telanjur dibayar justru berpotensi menimbulkan masalah baru di perbatasan negara berikutnya.
Pada tahap ini prinsipnya bukan lagi:
"Bagaimana caranya supaya itinerary-ku tetap berjalan?"
Tetapi:
"Dengan dokumen yang sekarang aku miliki, perjalanan apa yang secara sah dapat aku lakukan?"
Ikuti jawaban dari Perwakilan RI dan otoritas terkait. Setelah kita mengetahui dengan pasti bagaimana dokumen tersebut dapat digunakan, barulah atur ulang tiket, penginapan, dan perjalanan selanjutnya.
14. Urus Status Keimigrasian di Negara Tempat Paspor Hilang
Mendapatkan dokumen perjalanan pengganti dari KBRI/KJRI belum tentu berarti seluruh masalah selesai. Ada satu bagian yang gampang terlupakan ketika paspor hilang di luar negeri, yaitu status keimigrasian kita di negara tempat kehilangan tersebut terjadi.
Coba lihat situasinya dari sudut pandang imigrasi negara tersebut. Kita masuk menggunakan satu dokumen, misalnya paspor Indonesia dengan nomor A1234567. Ketika masuk, data kedatangan, visa, izin tinggal, atau stempel masuk kita berkaitan dengan paspor tersebut.
Beberapa hari kemudian paspor itu hilang. Sekarang kita hendak keluar dari negara tersebut menggunakan dokumen perjalanan yang berbeda (anggap saja SPLP), dengan nomor dokumen yang juga berbeda. Wajar kalau dalam kondisi tertentu otoritas imigrasi perlu mencocokkan identitas kita dengan catatan kedatangan sebelumnya.
Karena itu, ketika mengurus dokumen perjalanan pengganti di KBRI/KJRI, jangan hanya bertanya:
"Dokumen penggantinya kapan selesai?"
Tanyakan juga:
"Setelah mendapatkan dokumen ini, apakah saya harus datang ke kantor imigrasi setempat sebelum meninggalkan negara ini?"
Pertanyaan ini penting karena prosedur kehilangan paspor dapat berbeda dari satu negara ke negara lainnya. Di suatu negara mungkin data kedatangan kita sudah tercatat secara elektronik dan dapat diverifikasi oleh petugas. Di negara lain mungkin ada prosedur tambahan yang harus diselesaikan sebelum keberangkatan. Kalau visa berada dalam bentuk stiker pada paspor yang hilang, mungkin ada pula persoalan mengenai bukti visa atau izin tinggal yang perlu dibereskan.
KBRI/KJRI dapat memberikan arahan mengenai prosedur yang perlu dilakukan dan instansi setempat yang harus dihubungi. Jika memang diminta mendatangi kantor imigrasi negara tersebut, bawalah seluruh dokumen pendukung yang masih kita miliki atau yang diminta, misalnya laporan polisi, dokumen perjalanan pengganti, scan paspor lama, salinan visa atau e-visa, bukti kedatangan, tiket perjalanan, dan dokumen lainnya.
Sekali lagi, di sinilah kebiasaan menyimpan scan paspor, salinan visa, dan dokumen keimigrasian menjadi sangat berguna. Kalau paspor asli sudah hilang, kita setidaknya masih mempunyai nomor paspor lama, nomor visa, tanggal kedatangan, serta informasi lain yang dapat membantu petugas mencari catatan perjalanan kita.
Jangan pula berasumsi bahwa masalah ini bisa diselesaikan begitu saja di konter imigrasi bandara pada hari keberangkatan. Bayangkan penerbangan kita pukul 10 pagi. Kita datang ke bandara pukul 7 pagi dengan membawa SPLP atau dokumen perjalanan pengganti lainnya, kemudian baru mengetahui bahwa kita sebenarnya harus mendatangi kantor imigrasi tertentu untuk menyelesaikan administrasi kehilangan paspor atau status izin tinggal.
Pesawat tetap akan berangkat pukul 10 pagi, tidak peduli bagaimana peliknya suasana kita. Karena itu, selesaikan persoalan keimigrasian sebelum hari keberangkatan jika memang prosedur negara tersebut mengharuskannya. Jangan menunggu sampai sudah berdiri di depan konter check-in atau pemeriksaan imigrasi.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah visa. Kalau kita masuk menggunakan visa yang berbentuk stiker di paspor, visa tersebut tentu ikut hilang bersama paspor. Kalau menggunakan e-visa, kita mungkin masih mempunyai PDF dan print yang sudah disiapkan sebelumnya. Tetapi jangan berasumsi bahwa menunjukkan fotokopi atau PDF otomatis menyelesaikan semuanya. Tanyakan kepada otoritas terkait apakah ada prosedur penggantian, verifikasi, atau pencatatan tertentu yang perlu dilakukan.
Begitu pula kalau negara tersebut menggunakan izin tinggal atau bukti kedatangan tertentu. Pastikan status kita sudah jelas dan tanyakan apakah ada dokumen yang harus dibawa ketika meninggalkan negara tersebut.
Intinya, ada dua persoalan yang berbeda tetapi saling berkaitan. Perwakilan RI membantu kita memperoleh dokumen perjalanan yang sesuai. Sementara itu, otoritas negara tempat kita berada menentukan persoalan visa, izin tinggal, catatan kedatangan, dan prosedur keluar dari wilayah mereka. Kita membutuhkan keduanya agar perjalanan keluar dapat berlangsung sesuai ketentuan.
Karena itu jangan berpikir:
"Yang penting SPLP sudah jadi. Besok tinggal ke bandara."
Sebelum membeli atau mengubah tiket, pastikan dengan KBRI/KJRI apakah masih ada prosedur yang harus diselesaikan dengan imigrasi setempat. Kalau ada, selesaikan terlebih dahulu dan simpan semua bukti atau dokumen yang diberikan.
Baru setelah dokumen perjalanan pengganti sudah siap dan status keimigrasian setempat sudah dibereskan, kita bisa mulai memikirkan langkah berikutnya: apakah perjalanan masih dapat dilanjutkan sesuai itinerary atau kita harus mengubah rute dan kembali ke Indonesia.
15. Jangan Langsung Membeli Tiket Baru
Ketika paspor hilang dan kebetulan tiket pulang tinggal satu atau dua hari lagi, kepanikan berikutnya biasanya langsung berpindah ke tiket pesawat.
"Penerbanganku besok. Berarti harus beli tiket baru."
Tunggu dulu. Jangan langsung membuka aplikasi penerbangan lalu membeli tiket baru untuk dua atau tiga hari kemudian hanya karena merasa waktu tersebut pasti cukup untuk menyelesaikan semuanya. Pada tahap ini kita belum tentu tahu berapa lama proses penerbitan dokumen perjalanan pengganti akan berlangsung, apakah ada persyaratan tambahan yang harus dilengkapi, dan apakah setelah dokumen tersebut selesai kita masih harus mengurus sesuatu dengan otoritas imigrasi setempat. Kalau kita terburu-buru membeli tiket baru untuk dua hari kemudian, sementara ternyata seluruh proses membutuhkan waktu lebih lama, kita justru berisiko mempunyai dua tiket yang sama-sama hangus.
Karena itu, kalau penerbangan yang sudah kita miliki kemungkinan besar nggak dapat digunakan, langkah pertama adalah hubungi maskapai atau agen tempat tiket dibeli. Jelaskan bahwa paspor kita hilang di luar negeri dan saat ini sedang mengurus dokumen perjalanan pengganti melalui Perwakilan RI.
Tanyakan apa saja pilihan yang tersedia untuk tiket tersebut. Apakah jadwal penerbangan bisa diubah? Apakah tanggal keberangkatan dapat digeser? Berapa biaya perubahan tiketnya? Apakah jenis tiket yang kita beli memungkinkan perubahan jadwal? Kalau penerbangannya terdiri dari beberapa segmen dalam satu pemesanan, tanyakan juga apa yang terjadi pada penerbangan berikutnya apabila kita tidak menaiki penerbangan pertama.
Bagian terakhir ini penting terutama kalau itinerary penerbangan terdiri dari beberapa segmen. Jangan sekadar melewatkan satu penerbangan lalu berasumsi segmen berikutnya akan tetap aktif. Kebijakan tiket berbeda-beda, sehingga lebih aman meminta maskapai atau agen menjelaskan apa yang akan terjadi pada keseluruhan pemesanan kita.
Kalau mempunyai travel insurance, ini juga saat yang tepat untuk memeriksa polis dan menghubungi perusahaan asuransi. Beberapa polis mungkin memberikan perlindungan tertentu terkait kehilangan paspor atau biaya perjalanan yang timbul akibat kehilangan dokumen, tetapi cakupan dan persyaratannya berbeda-beda. Jangan menganggap semua biaya otomatis akan diganti. Tanyakan terlebih dahulu dokumen apa yang perlu disimpan untuk mengajukan klaim, misalnya laporan polisi, bukti perubahan tiket, kuitansi, atau dokumen dari Perwakilan RI.
Setelah itu, fokuskan energi pada penyelesaian dokumen perjalanan dan status keimigrasian. Tanyakan kepada KBRI/KJRI mengenai tahapan yang masih harus dilalui, tetapi jangan memaksa petugas memberikan tanggal pasti kalau memang prosesnya masih bergantung pada verifikasi atau instansi lain.
Begitu dokumen perjalanan pengganti sudah jelas, prosedur dengan imigrasi setempat sudah diketahui atau diselesaikan, dan kita sudah mempunyai kepastian mengenai kapan secara realistis dapat meninggalkan negara tersebut, barulah tentukan penerbangan berikutnya. Kalau tiket lama masih bisa diubah, kita mungkin cukup melakukan reschedule. Kalau nggak bisa, barulah mempertimbangkan membeli tiket baru.
Saat mencari penerbangan pengganti, perhatikan juga rute transitnya. Jangan hanya memilih tiket termurah. Dokumen perjalanan pengganti yang kita miliki belum tentu diperlakukan sama seperti paspor biasa, sehingga transit melalui negara ketiga dapat menimbulkan persoalan tambahan. Kalau rute pulang harus transit di negara lain, konfirmasikan terlebih dahulu apakah perjalanan tersebut memungkinkan dengan dokumen yang sekarang kita pegang. Misalnya kita kehilangan paspor di Bangkok dan akhirnya harus pulang ke Indonesia. Ada tiket murah:
Bangkok → Kuala Lumpur → Jakarta
tetapi ada pula penerbangan langsung:
Bangkok → Jakarta
Jangan otomatis memilih rute pertama hanya karena lebih murah. Dengan dokumen perjalanan pengganti, kita perlu memastikan apakah transit di Malaysia diperbolehkan dan apakah ada persyaratan tambahan. Kalau ragu, tanyakan kepada Perwakilan RI dan maskapai sebelum membeli tiket.
Intinya, setelah kehilangan paspor jangan mencoba menyelamatkan itinerary dengan membuat keputusan terburu-buru. Tiket pesawat memang bisa mahal, dan melihat penerbangan yang sudah dibayar akhirnya terlewat tentu menyebalkan. Tetapi membeli tiket kedua tanpa mengetahui kapan kita benar-benar bisa bepergian dapat membuat kerugian menjadi lebih besar.
Urutannya lebih aman dibuat seperti ini:
Hubungi maskapai → tanyakan kemungkinan perubahan tiket → urus dokumen perjalanan → selesaikan urusan imigrasi setempat → pastikan rute perjalanan memungkinkan → baru ubah atau beli tiket baru.
Dalam keadaan seperti ini, itinerary memang mungkin berantakan. Tetapi tujuan utamanya bukan lagi mempertahankan semua rencana perjalanan seperti semula. Tujuan utamanya adalah memastikan kita dapat meninggalkan negara tersebut dengan dokumen yang benar, melalui rute yang memungkinkan, dan tanpa menciptakan masalah baru di perjalanan pulang.
16. Hati-hati Memilih Penerbangan Transit
Kalau akhirnya kita memang harus membeli tiket baru untuk pulang ke Indonesia menggunakan SPLP atau dokumen perjalanan pengganti lainnya, jangan menggunakan cara mencari tiket seperti biasanya. Dalam kondisi normal aku mungkin akan membuka aplikasi pencarian penerbangan, memasukkan kota keberangkatan dan Jakarta, lalu mengurutkannya berdasarkan:
"Cheapest."
Tetapi setelah kehilangan paspor, tiket paling murah belum tentu menjadi pilihan yang paling sederhana untuk digunakan. Kita perlu memperhatikan negara transit dan mekanisme transitnya. Misalnya kita sedang berada di Eropa dan menemukan tiket pulang yang sangat murah, tetapi rutenya melewati dua negara berbeda, menggunakan maskapai yang berbeda, dan mempunyai tulisan kecil: Self-transfer.
Dalam perjalanan normal mungkin kita masih mau mengambilnya demi menghemat uang. Tetapi ketika dokumen yang kita pegang bukan lagi paspor biasa, setiap perpindahan tersebut perlu diperiksa lebih teliti. Masalahnya bukan sekadar apakah kita mempunyai tiket menuju Indonesia. Kita juga harus memastikan apakah negara transit menerima dokumen perjalanan yang kita gunakan dan apakah perjalanan tersebut mengharuskan kita melewati imigrasi mereka.
Transit yang benar-benar berlangsung di area internasional bandara dapat mempunyai ketentuan yang berbeda dengan perjalanan yang mengharuskan penumpang keluar melalui imigrasi. Sementara itu, self-transfer sering kali membuat perjalanan menjadi lebih rumit karena tiket berada dalam pemesanan terpisah dan kita mungkin harus mengambil bagasi, berpindah terminal, melakukan check-in kembali, atau bahkan secara resmi masuk ke negara transit sebelum dapat melanjutkan penerbangan berikutnya. Kalau harus melewati imigrasi, muncul pertanyaan baru.
Apakah dokumen perjalanan pengganti kita diterima untuk masuk ke negara tersebut?
Apakah kita membutuhkan visa transit atau visa masuk?
Apakah visa yang sebelumnya kita miliki masih dapat digunakan setelah paspor lama hilang?
Apakah maskapai bersedia mengangkut kita dengan dokumen tersebut?
Inilah sebabnya tiket murah dengan dua atau tiga transit bisa berubah menjadi persoalan yang jauh lebih rumit daripada selisih harga tiketnya. Misalnya tersedia dua pilihan penerbangan pulang:
dan
Dalam kondisi normal, kalau Pilihan B jauh lebih murah mungkin kita akan mempertimbangkannya. Tetapi ketika pulang menggunakan dokumen perjalanan pengganti, sekarang ada lebih banyak hal yang harus dipastikan: aturan Malaysia, aturan Singapura, ketentuan masing-masing maskapai, mekanisme bagasi, dan apakah pada salah satu transit kita harus melewati imigrasi. Setiap negara tambahan berarti satu yurisdiksi tambahan yang aturannya perlu diperiksa.
Karena itu, sebelum membeli tiket, tunjukkan atau jelaskan rute yang kita rencanakan kepada Perwakilan RI. Jangan hanya mengatakan, "Saya mau pulang ke Indonesia." Berikan rute lengkapnya, termasuk kota transit dan maskapai yang digunakan.
Misalnya:
"Saya berencana pulang menggunakan rute Bangkok–Kuala Lumpur–Jakarta. Apakah rute ini memungkinkan dengan dokumen perjalanan yang saya miliki?"
Setelah itu, konfirmasikan juga kepada maskapai. Perwakilan RI dapat memberikan arahan mengenai dokumen kita, tetapi maskapai tetap melakukan pemeriksaan dokumen sebelum mengizinkan penumpang naik pesawat. Kalau tiket melibatkan beberapa maskapai, terutama dengan pemesanan terpisah, pastikan bagian perjalanan yang relevan sudah diperiksa.
Jangan hanya mengandalkan informasi dari forum traveler atau pengalaman seseorang yang melakukan perjalanan serupa beberapa tahun lalu. Aturan masuk dan transit dapat berubah, sementara jenis dokumen perjalanan dan kondisi setiap penumpang juga belum tentu sama.
Kalau ada pilihan penerbangan langsung menuju Indonesia dengan harga yang masih masuk akal, rute tersebut secara administratif biasanya lebih sederhana karena kita mengurangi satu atau beberapa perbatasan yang harus dihadapi. Kalau penerbangan langsung tidak tersedia dan transit memang nggak bisa dihindari, usahakan mencari rute dengan transit sesederhana mungkin dan hindari self-transfer kalau hal tersebut membuat kita harus keluar melalui imigrasi tanpa kepastian dokumen kita dapat digunakan.
Bukan berarti semua penerbangan transit harus dihindari. Banyak perjalanan pulang memang hanya tersedia dengan transit. Yang penting adalah jangan membeli tiket transit sebelum mengetahui bahwa rutenya dapat digunakan dengan dokumen yang sekarang kita miliki.
Dalam situasi normal, mungkin prinsip kita:
"Yang penting paling murah."
Tetapi setelah kehilangan paspor, prioritasnya berubah menjadi:
"Yang penting rutenya jelas, dokumennya diterima, dan aku bisa sampai Indonesia tanpa menciptakan masalah baru di negara transit."
Selisih harga tiket mungkin terasa menyakitkan, tetapi masih jauh lebih baik daripada membeli tiket murah kemudian tertahan di bandara karena ternyata salah satu bagian perjalanan membutuhkan dokumen yang nggak kita miliki.
C. SETELAH MENDAPATKAN DOKUMEN PENGGANTI
Kita sudah membuat laporan kehilangan di kepolisian. Sudah menghubungi dan datang ke KBRI/KJRI atau Perwakilan RI yang menangani wilayah tempat kita berada. Identitas sudah diverifikasi, dokumen perjalanan pengganti sudah berada di tangan, dan kalau memang diperlukan kita juga sudah berurusan dengan otoritas imigrasi setempat.
Rasanya pasti lega banget. Setelah beberapa hari dipenuhi pikiran tentang paspor, tiket pesawat, visa, kantor polisi, KBRI/KJRI, dan berbagai urusan administrasi lainnya, akhirnya kita kembali memegang sebuah dokumen yang memungkinkan kita melakukan perjalanan.
Tetapi jangan langsung berpikir:
"Oke. Beres. Tinggal ke bandara dan pulang."
Masih ada beberapa hal terakhir yang perlu dipastikan sebelum benar-benar meninggalkan negara tersebut.
17. Pastikan Kita Benar-benar Bisa Keluar dari Negara Tersebut
Satu atau dua hari sebelum penerbangan—atau segera setelah seluruh dokumen selesai kalau waktunya memang sangat sempit—lakukan pengecekan akhir terhadap semua urusan perjalanan kita. Tujuannya sederhana yaitu jangan sampai ada satu prosedur yang terlewat dan baru kita ketahui ketika sudah berdiri di depan meja imigrasi bandara.
Ingat kembali kondisi kita. Kita masuk ke negara tersebut menggunakan paspor lama, sementara sekarang kita akan keluar menggunakan dokumen perjalanan yang berbeda. Kalau sebelumnya KBRI/KJRI mengarahkan kita untuk mendatangi kantor imigrasi setempat, memperoleh bukti tertentu, mengurus status visa, atau melakukan prosedur tambahan lainnya, pastikan semuanya benar-benar sudah selesai.
Jangan berhenti pada asumsi:
"Kayaknya sudah cukup."
Kalau masih ada sesuatu yang nggak jelas, tanyakan. Sebelum berangkat ke bandara, keluarkan semua dokumen dan periksa satu per satu. Dokumen yang perlu dibawa tentu bergantung pada kasus dan negara tempat kita berada, tetapi secara umum kita mungkin perlu memastikan sudah membawa dokumen perjalanan pengganti, laporan kehilangan dari kepolisian jika diperlukan, dokumen atau bukti mengenai visa dan status keimigrasian, tiket penerbangan, serta dokumen tambahan yang diberikan oleh KBRI/KJRI atau otoritas setempat.
Kalau ada dokumen yang diberikan oleh imigrasi setempat setelah kita melaporkan kehilangan paspor, jangan memasukkannya sembarangan ke dasar backpack. Satukan seluruh dokumen yang akan diperlukan selama perjalanan di tempat yang aman tetapi mudah diakses. Aku mungkin akan membuat satu travel document folder sederhana:
Nggak semuanya pasti akan diminta. Tetapi jauh lebih nyaman membawa dokumen pendukung tersebut daripada harus mencarinya di antara pakaian ketika petugas meminta sesuatu.
Simpan juga versi digital dari dokumen-dokumen penting di HP dan penyimpanan daring pribadi seperti yang sudah kita lakukan sejak awal. Tetapi untuk perjalanan setelah kehilangan paspor, aku pribadi akan membawa dokumen fisik yang relevan dan sudah diberikan kepada kita. Kita sudah mengalami satu keadaan darurat; nggak perlu menambah masalah hanya karena HP tiba-tiba kehabisan baterai.
Periksa juga rute penerbangannya sekali lagi. Kalau penerbangan langsung menuju Indonesia, persoalannya relatif lebih sederhana. Kalau harus transit di negara lain, pastikan pertanyaan mengenai penggunaan dokumen perjalanan tersebut selama transit sudah mendapat jawaban. Terutama kalau tiket melibatkan self-transfer, pergantian maskapai, pengambilan bagasi, atau kemungkinan harus melewati imigrasi negara transit.
Kalau masih ragu apakah suatu dokumen diperlukan untuk keluar dari negara tersebut, jangan menunggu sampai hari keberangkatan untuk mencari jawabannya. Hubungi Perwakilan RI atau otoritas yang sebelumnya menangani kasus kita dan tanyakan secara spesifik apa yang masih harus dilakukan. Lebih baik bertanya:
"Besok saya akan keluar dari negara ini menggunakan dokumen perjalanan pengganti melalui Bandara X. Apakah seluruh prosedur saya sudah selesai atau masih ada dokumen/prosedur lain yang harus saya urus sebelum ke bandara?"
daripada baru mengetahui ada masalah ketika penerbangan tinggal dua jam lagi.
Pada hari keberangkatan, aku juga akan datang ke bandara lebih awal daripada biasanya. Perjalanan dengan dokumen pengganti berpotensi membutuhkan pemeriksaan tambahan atau petugas perlu melakukan verifikasi yang tidak kita alami ketika bepergian menggunakan paspor biasa. Memberikan waktu tambahan membuat kita nggak perlu menyelesaikan semuanya sambil terus melihat jam keberangkatan.
Setelah sampai di bandara, simpan dokumen perjalanan dan semua dokumen pendukung di tempat yang mudah diambil tetapi tetap aman. Jangan sampai setelah berhasil melewati seluruh drama kehilangan paspor, kita justru panik mencari laporan polisi atau dokumen imigrasi yang ternyata terselip di dasar backpack.
Intinya, dokumen perjalanan pengganti selesai diterbitkan bukan selalu merupakan garis akhir. Garis akhirnya adalah ketika kita sudah memastikan bahwa dokumen perjalanan kita dapat digunakan, status keimigrasian sudah dibereskan, rute penerbangan sudah sesuai, dan nggak ada prosedur penting yang masih tertinggal.
Barulah setelah semuanya jelas kita bisa menuju bandara dengan jauh lebih tenang. Kali ini, sebelum keluar dari hotel, passport check-nya memang sedikit berubah:
"Dokumen perjalanan? Dokumen imigrasi? Tiket? HP? Dompet?"
Lengkap. Sekarang baru berangkat.
18. Konfirmasi kepada Maskapai
Setelah memastikan urusan dengan KBRI/KJRI dan imigrasi setempat sudah selesai, ada satu pihak lagi yang sebaiknya kita pastikan sejak sebelum hari keberangkatan yaitu maskapai penerbangan. Maskapai mempunyai kepentingan untuk memastikan bahwa penumpang membawa dokumen perjalanan yang dapat diterima untuk rute yang akan diterbangkan. Karena itu, ketika kita bepergian menggunakan SPLP atau dokumen perjalanan pengganti lainnya, jangan berasumsi bahwa proses check-in akan berlangsung sama persis seperti ketika menggunakan paspor biasa. Kalau memungkinkan, hubungi maskapai sebelum hari keberangkatan dan jelaskan situasinya secara spesifik. Jangan hanya mengatakan:
"Saya kehilangan paspor."
Jelaskan bahwa paspor Indonesia kita hilang selama perjalanan, kita sudah memperoleh dokumen perjalanan pengganti dari Perwakilan RI, dan sekarang akan melakukan perjalanan menggunakan dokumen tersebut. Kemudian berikan rute penerbangan secara lengkap.
Misalnya:
"Saya WNI dan paspor saya hilang selama berada di Thailand. Saya sudah mendapatkan dokumen perjalanan pengganti dari KBRI. Saya akan terbang Bangkok–Kuala Lumpur–Jakarta. Apakah dokumen ini dapat digunakan untuk penerbangan tersebut dan apakah ada dokumen tambahan yang perlu saya tunjukkan saat check-in?"
Informasi mengenai transit jangan sampai dihilangkan. Bagi kita tujuan akhirnya memang Indonesia, tetapi bagi maskapai perjalanan tersebut juga melibatkan negara transit. Kalau pada salah satu bagian perjalanan kita harus melewati imigrasi, mengambil bagasi, melakukan check-in ulang, atau berpindah maskapai, ketentuan dokumen yang harus dipenuhi bisa menjadi lebih kompleks.
Hal ini semakin penting kalau perjalanan menggunakan beberapa maskapai.
Misalnya tiket pertama:
Bangkok → Kuala Lumpur — Maskapai A
kemudian dilanjutkan:
Kuala Lumpur → Jakarta — Maskapai B
Kalau seluruh perjalanan berada dalam satu tiket dan satu pemesanan, mekanismenya mungkin berbeda dengan dua tiket yang kita beli secara terpisah. Karena itu jangan hanya menghubungi salah satu maskapai lalu menganggap seluruh perjalanan otomatis aman. Jelaskan struktur tiket kita dan tanyakan apakah ada bagian perjalanan yang memerlukan pemeriksaan tambahan.
Perhatian ekstra juga diperlukan untuk tiket self-transfer. Dalam perjalanan self-transfer, kita mungkin harus mengambil bagasi sendiri, keluar dari area transit, melewati imigrasi, berpindah terminal, kemudian melakukan check-in lagi untuk penerbangan berikutnya. Kalau demikian, persoalannya bukan lagi sekadar:
"Apakah aku boleh transit di negara ini?"
tetapi bisa berubah menjadi:
"Apakah dengan dokumen yang sekarang aku miliki aku diperbolehkan masuk ke negara transit untuk melakukan proses self-transfer tersebut?"
Itulah alasan kenapa tiket self-transfer yang biasanya menarik karena murah bisa menjadi pilihan yang jauh lebih rumit setelah kehilangan paspor.
Saat menghubungi maskapai, tanyakan juga dokumen pendukung apa yang sebaiknya dibawa ke konter check-in. Mungkin kita hanya perlu menunjukkan dokumen perjalanan yang sah untuk rute tersebut, tetapi dalam kasus tertentu petugas dapat meminta informasi atau dokumen tambahan untuk melakukan verifikasi. Karena kondisinya berbeda-beda, lebih baik mendapatkan petunjuk langsung daripada menebak-nebak sendiri.
Kalau mendapat jawaban melalui email atau chat resmi maskapai, simpan percakapannya. Screenshot atau simpan email tersebut sehingga mudah dibuka kembali di bandara. Ini bukan jaminan bahwa kita otomatis akan lolos pemeriksaan—petugas tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku pada saat perjalanan—tetapi setidaknya kita mempunyai catatan mengenai komunikasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Dan sekali lagi, jangan mengandalkan pengalaman traveler lain sebagai satu-satunya acuan.
"Temanku pernah pakai SPLP dan bisa kok."
Bisa saja benar. Tetapi mungkin teman tersebut terbang langsung ke Indonesia, sedangkan kita transit di dua negara. Bisa juga maskapainya berbeda, bandara transitnya berbeda, atau ketentuan yang berlaku saat itu berbeda. Dalam keadaan seperti ini, detail perjalanan sangat menentukan.
Karena itu, sebelum hari keberangkatan aku akan memastikan tiga pihak sudah memberikan arahan yang jelas sesuai kewenangannya: Perwakilan RI mengenai dokumen perjalanan, otoritas imigrasi setempat mengenai status keluar dari negara tersebut, dan maskapai mengenai dokumen yang diperlukan untuk rute penerbangan yang akan digunakan. Kalau semuanya sudah jelas, barulah kita mempunyai alasan yang jauh lebih kuat untuk datang ke bandara dengan tenang.
Setelah semua drama kehilangan paspor, hal terakhir yang kita inginkan tentu saja adalah berdiri di depan konter check-in, menyerahkan dokumen perjalanan pengganti, lalu mendengar petugas berkata:
"Please wait. We need to verify your travel document."
Verifikasi tambahan mungkin tetap terjadi. Tetapi setidaknya kita sudah melakukan sebanyak mungkin persiapan sebelum hari keberangkatan, bukan baru mencari jawabannya ketika pesawat sebentar lagi berangkat.
19. Pertimbangkan Menghentikan Itinerary dan Pulang
Ini mungkin menjadi salah satu keputusan yang paling menyebalkan bagi seorang backpacker. Kita sudah membeli tiket pesawat atau kereta berbulan-bulan sebelumnya, hostel di beberapa kota sudah dipesan, mungkin ada tiket atraksi yang non-refundable, dan itinerary sudah disusun sedemikian rupa supaya semuanya nyambung. Bahkan perjalanan tersebut mungkin sudah direncanakan selama berbulan-bulan dan masih ada dua atau tiga negara yang sangat ingin kita kunjungi. Lalu tiba-tiba paspor hilang di tengah perjalanan.
Dalam situasi seperti ini, wajar kalau muncul keinginan untuk mempertahankan itinerary sebisa mungkin. Kita mulai mikir, "Sayang banget tiket Vietnam sudah dibeli. Hostel di China juga sudah dibayar. Tinggal seminggu lagi kok. Masa gara-gara paspor hilang semuanya harus batal?" Apalagi kalau uang yang sudah dikeluarkan cukup banyak, rasanya pasti berat sekali untuk menghentikan perjalanan begitu saja.
Tetapi kehilangan paspor memang dapat mengubah seluruh kondisi perjalanan. Dokumen perjalanan pengganti yang sekarang kita pegang belum tentu memberikan kemampuan yang sama seperti paspor biasa untuk memasuki negara berikutnya. Visa tertentu mungkin juga berkaitan dengan nomor paspor yang hilang, sementara negara tujuan maupun negara transit mempunyai ketentuan sendiri mengenai dokumen perjalanan yang mereka terima.
Misalnya itinerary awal kita adalah Thailand → Vietnam → China → Indonesia, kemudian paspor hilang ketika kita masih berada di Thailand. Secara mental kita mungkin masih melihat Vietnam dan China sebagai bagian perjalanan yang tinggal dilanjutkan. Tiket sudah ada, hostel sudah dibayar, dan itinerary sudah tersusun rapi. Tetapi secara administratif, situasinya sekarang sudah berbeda. Paspor yang digunakan ketika memulai perjalanan sudah hilang dan kita sekarang menggunakan dokumen perjalanan pengganti dengan ketentuan penggunaannya sendiri.
Karena itu, jangan mempertahankan itinerary hanya karena berpikir, "Sayang, semuanya sudah dibayar." Dalam pengambilan keputusan ada konsep yang disebut sunk cost, yaitu biaya yang sudah terlanjur kita keluarkan dan nggak bisa dikembalikan. Karena sudah mengeluarkan banyak uang, kita sering merasa harus tetap menjalankan rencana supaya uang tersebut nggak terasa sia-sia. Padahal keputusan berikutnya seharusnya dibuat berdasarkan kondisi yang kita hadapi sekarang, bukan semata-mata berdasarkan berapa banyak uang yang sudah terlanjur dikeluarkan.
Kalau tiket menuju negara berikutnya akhirnya hangus, tentu saja menyebalkan. Tetapi memaksakan perjalanan tanpa kepastian mengenai dokumen yang kita miliki dapat menciptakan masalah yang jauh lebih besar. Kita mungkin harus membeli tiket tambahan, mengalami penolakan saat check-in, atau menghadapi persoalan ketika transit maupun tiba di perbatasan negara berikutnya. Kerugian yang tadinya hanya berupa tiket dan hostel yang hangus akhirnya justru bisa bertambah.
Bukan berarti kehilangan paspor otomatis membuat seluruh perjalanan harus dihentikan. Kalau berdasarkan arahan Perwakilan RI serta ketentuan negara tujuan dan transit kita memang masih dapat melanjutkan perjalanan menggunakan dokumen yang diberikan, tentu situasinya berbeda. Namun jangan mengambil keputusan tersebut hanya berdasarkan asumsi. Tanyakan dengan jelas apakah dokumen perjalanan yang kita miliki dapat digunakan untuk melanjutkan rute yang direncanakan, kemudian pastikan pula persoalan visa, transit, dan penerimaan dokumen oleh maskapai.
Sebaliknya, kalau berdasarkan arahan Perwakilan RI dan ketentuan negara terkait pilihan yang memungkinkan adalah kembali ke Indonesia, ya sudah, ubah perjalanan dan pulang. Tiket mungkin hangus, hostel mungkin nggak bisa di-refund, dan kota yang sudah lama ingin kita kunjungi akhirnya nggak jadi didatangi. Rasanya tentu menyebalkan, tetapi semua itu masih bisa dibuat lagi. Vietnam nggak akan ke mana-mana. China juga masih bisa dikunjungi dalam perjalanan berikutnya. Itinerary yang sudah dibuat bahkan bisa disimpan dan digunakan lagi ketika kita mempunyai kesempatan untuk kembali.
Pada akhirnya, itinerary hanyalah rencana perjalanan, bukan sesuatu yang wajib diselesaikan apa pun yang terjadi. Salah satu kemampuan penting ketika traveling justru mengetahui kapan kita masih bisa melanjutkan perjalanan dan kapan keadaan sudah berubah sehingga rencana harus dilepaskan.
Kalau perjalanan memang harus berhenti sampai di sini, terima saja bahwa trip kali ini selesai lebih cepat dari rencana. Pulang ke Indonesia, urus semuanya sampai selesai, buat paspor baru jika diperlukan, lalu rencanakan kembali negara-negara yang belum sempat dikunjungi.
Itinerary bisa dibuat lagi!
20. Kalau Paspor Lama Tiba-tiba Ditemukan, Jangan Langsung Digunakan
Bayangkan kita sudah melewati semua proses yang melelahkan. Sudah membuat laporan polisi, menghubungi KBRI/KJRI, mengurus berbagai dokumen, dan akhirnya mendapatkan dokumen perjalanan pengganti. Tiket pulang bahkan mungkin sudah diubah dan kita tinggal menunggu hari keberangkatan.
Tiga hari setelah paspor dinyatakan hilang, tiba-tiba hostel tempat kita menginap sebelumnya mengirim pesan:
"Hi, we found your passport!"
Senang? Tentu saja. Setelah berhari-hari mengurus kehilangan paspor, rasanya mungkin seperti mendapatkan kembali barang paling berharga dalam perjalanan. Reaksi pertama kita bisa saja langsung berpikir, "Wah, bagus! Berarti aku nggak perlu pakai dokumen pengganti. Tinggal ambil pasporku dan perjalanan bisa kembali normal."
Tetapi jangan langsung menggunakan paspor tersebut untuk bepergian. Begitu kehilangan paspor sudah dilaporkan dan proses penggantian dokumen sudah berjalan, kita nggak boleh berasumsi bahwa paspor lama otomatis kembali dapat digunakan hanya karena fisiknya sudah ditemukan. Dalam proses penggantian paspor karena hilang memang terdapat mekanisme pemeriksaan dan tindakan keimigrasian terhadap dokumen lama, sehingga status paspor yang sudah dilaporkan hilang perlu dipastikan terlebih dahulu kepada pihak berwenang.
Karena itu, kalau paspor lama tiba-tiba ditemukan, hubungi kembali KBRI/KJRI atau Perwakilan RI yang menangani kasus kita. Jelaskan bahwa paspor yang sebelumnya dilaporkan hilang sekarang sudah ditemukan dan kita sudah memperoleh—atau sedang dalam proses memperoleh—dokumen perjalanan pengganti. Kemudian tanyakan apa yang harus dilakukan terhadap paspor tersebut.
Jangan mencoba menentukan sendiri status paspornya hanya dengan melihat tanggal kedaluwarsa di halaman identitas. Secara fisik paspor mungkin masih terlihat sempurna dan masa berlakunya bahkan masih beberapa tahun, tetapi yang perlu kita ketahui adalah status dokumen tersebut setelah dilaporkan hilang dan setelah proses penggantian dilakukan.
Ini juga alasan kenapa kita sebaiknya nggak mencoba membawa paspor lama ke bandara sambil berpikir, "Coba saja dulu. Kalau bisa di-scan berarti masih berlaku." Pemeriksaan dokumen perjalanan bukan sesuatu yang layak diuji dengan cara seperti itu. Kalau status paspor sudah berubah dalam sistem, persoalannya justru baru muncul ketika kita sedang berhadapan dengan maskapai atau petugas imigrasi.
Kalau paspor ditemukan oleh hostel, hotel, maskapai, kepolisian, atau pihak lain, tanyakan kepada Perwakilan RI bagaimana cara penanganannya. Bisa jadi kita diminta mengambilnya dan menyerahkannya kepada pihak tertentu, atau mengikuti prosedur lain sesuai status dokumen dan ketentuan yang berlaku. Jangan merusak, membuang, atau mengambil keputusan sendiri terhadap paspor tersebut karena paspor Indonesia merupakan dokumen negara.
Hal yang sama berlaku kalau paspor ditemukan sebelum dokumen pengganti selesai diterbitkan. Segera beri tahu Perwakilan RI yang sedang menangani permohonan kita. Jangan diam-diam menghentikan proses lalu menggunakan paspor lama tanpa memberi tahu mereka. Biarkan petugas memeriksa statusnya dan memberikan arahan apakah paspor tersebut masih dapat digunakan atau harus diperlakukan dengan cara lain.
Jadi kalau setelah semua drama kehilangan paspor tiba-tiba muncul pesan:
"We found your passport!"
boleh lega karena dokumennya akhirnya ditemukan. Tetapi jangan langsung memasukkannya kembali ke money belt lalu membawanya ke bandara. Hubungi KBRI/KJRI terlebih dahulu, jelaskan bahwa paspor yang dilaporkan hilang sudah ditemukan, dan pastikan statusnya. Jangan bepergian menggunakan paspor lama sampai benar-benar mendapat kejelasan bahwa dokumen tersebut masih dapat digunakan. Dalam urusan dokumen perjalanan, fakta bahwa paspornya sudah kembali ke tangan kita belum tentu berarti statusnya juga kembali seperti sebelum dilaporkan hilang.
21. Simpan Semua Dokumen Kehilangan
Setelah akhirnya berhasil keluar dari negara tersebut dan kembali ke Indonesia, rasanya mungkin kita ingin segera melupakan seluruh drama kehilangan paspor. Laporan polisi, kuitansi, fotokopi, tiket baru, dan berbagai kertas yang selama beberapa hari memenuhi tas rasanya sudah nggak berguna lagi dan pengen langsung dibuang.
Jangan dulu. Simpan semua dokumen yang berkaitan dengan kejadian tersebut setidaknya sampai seluruh urusan benar-benar selesai. Dokumen itu bisa berupa laporan kehilangan dari kepolisian setempat (police report), dokumen atau surat yang diberikan KBRI/KJRI, kuitansi dan bukti pembayaran, dokumen dari otoritas imigrasi setempat, tiket penerbangan lama maupun tiket pengganti, bukti perubahan jadwal penerbangan, serta dokumen lain yang muncul selama proses kehilangan dan penggantian paspor.
Kita mungkin masih membutuhkan sebagian dokumen tersebut setelah kembali ke Indonesia, misalnya ketika mengurus administrasi lanjutan terkait paspor atau ketika ada hal yang perlu diklarifikasi mengenai perjalanan sebelumnya. Daripada beberapa minggu kemudian baru sadar ada satu dokumen yang ternyata dibutuhkan dan kita sudah membuangnya di tempat sampah hostel, jauh lebih aman menyimpan semuanya untuk sementara.
Dokumen-dokumen ini menjadi semakin penting kalau kita mempunyai travel insurance. Tergantung isi polis yang kita beli, beberapa biaya yang timbul akibat kehilangan paspor mungkin termasuk dalam perlindungan asuransi. Namun jangan langsung berasumsi bahwa semua pengeluaran otomatis dapat diklaim. Setiap perusahaan dan polis mempunyai cakupan, pengecualian, batas manfaat, serta persyaratan bukti yang berbeda.
Karena itu, sejak proses kehilangan masih berlangsung, biasakan menyimpan bukti setiap pengeluaran yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Kalau membayar biaya administrasi, simpan kuitansinya. Kalau harus membeli tiket penerbangan baru atau membayar biaya perubahan jadwal, simpan bukti transaksinya. Kalau ada biaya transportasi tertentu yang ingin diajukan dalam klaim, simpan juga kuitansi atau bukti pembayarannya apabila tersedia.
Jangan hanya mengandalkan kertas asli. Begitu menerima dokumen penting, foto atau scan dengan jelas kemudian simpan salinannya di penyimpanan daring pribadi. Kertas kecil seperti kuitansi gampang sekali hilang, kusut, basah, atau tintanya memudar, sementara versi digital setidaknya memberikan satu lapisan cadangan tambahan.
Aku mungkin akan membuat satu folder khusus setelah kejadian tersebut, misalnya:
PASSPORT LOSS – THAILAND 2026
Di dalam folder digital itu aku akan memasukkan scan police report, dokumen dari KBRI/KJRI, dokumen imigrasi setempat, kuitansi, bukti pembayaran, tiket lama dan tiket baru, bukti komunikasi penting dengan maskapai, serta dokumen lain yang berkaitan dengan kehilangan paspor. Dokumen fisiknya juga akan aku kumpulkan dalam satu tempat sampai seluruh urusan selesai.
Kalau mempunyai travel insurance, hubungi perusahaan asuransi dan tanyakan dokumen apa saja yang dibutuhkan untuk mengajukan klaim. Jangan menunggu terlalu lama karena polis dapat mempunyai prosedur dan batas waktu pengajuan tertentu. Ikuti ketentuan polis yang kita miliki dan kirimkan bukti yang memang diminta.
Intinya, ketika kita akhirnya berhasil pulang ke Indonesia, jangan menganggap semua kertas yang terkumpul selama proses kehilangan paspor sebagai sampah perjalanan. Mungkin sebagian besar nggak akan pernah kita gunakan lagi, tetapi kita belum tahu dokumen mana yang ternyata masih dibutuhkan.
Simpan dulu semuanya, buat salinan digitalnya, selesaikan seluruh urusan administrasi dan klaim jika ada, baru setelah itu tentukan dokumen mana yang sudah aman untuk tidak disimpan lagi.
22. Setelah Kembali ke Indonesia, Urus Paspor Baru Jika Diperlukan
Kalau akhirnya kita kembali ke Indonesia menggunakan SPLP atau dokumen perjalanan pengganti lainnya karena paspor sebelumnya hilang, perjalanan memang sudah selesai, tetapi urusan dokumen perjalanan kita belum tentu ikut selesai. Kita sekarang sudah berada di Indonesia, tetapi untuk perjalanan internasional berikutnya kita tentu perlu mempunyai paspor yang berlaku lagi.
Karena itu, setelah kembali dan keadaan sudah lebih tenang, simpan baik-baik SPLP, laporan kehilangan dari kepolisian negara tempat paspor hilang, dokumen dari KBRI/KJRI, serta dokumen lain yang berkaitan dengan proses kehilangan dan kepulangan kita. Jangan langsung membuangnya hanya karena kita sudah berhasil melewati imigrasi Indonesia dan sampai di rumah. Dokumen tersebut dapat berguna ketika kita menjelaskan kronologi kehilangan paspor pada proses administrasi berikutnya.
Ketika akan mengurus paspor baru, sampaikan kondisi yang sebenarnya kepada Kantor Imigrasi. Jelaskan bahwa paspor sebelumnya hilang ketika kita sedang berada di luar negeri, kehilangan tersebut sudah dilaporkan, kita sudah mengurusnya melalui Perwakilan RI, dan akhirnya kembali ke Indonesia menggunakan dokumen perjalanan pengganti. Bawa dokumen pendukung yang kita miliki dan ikuti persyaratan serta prosedur yang diberikan oleh Kantor Imigrasi.
Penggantian paspor karena hilang memang mempunyai prosedur tersendiri. Imigrasi dapat melakukan pemeriksaan terhadap permohonan penggantian paspor yang hilang, termasuk meminta dokumen yang berkaitan dengan kehilangan tersebut. Karena itu, jangan menganggap prosesnya pasti sama persis seperti membuat atau mengganti paspor biasa. Persyaratan dan prosedur terbaru sebaiknya diperiksa kembali ketika kita benar-benar akan mengajukan permohonan.
Kalau SPLP yang kita gunakan untuk pulang masih berada di tangan kita, simpan juga dokumen tersebut. Jangan berpikir, "Aku sudah sampai Indonesia, berarti ini nggak berguna lagi," lalu membuangnya bersama boarding pass dan kertas-kertas perjalanan lainnya. Setidaknya tunggu sampai proses pengurusan paspor berikutnya benar-benar selesai dan kita sudah mengetahui apakah dokumen tersebut masih diperlukan.
Hal yang sama berlaku untuk police report. Walaupun laporan itu dibuat oleh kepolisian negara lain dan mungkin ditulis dalam bahasa asing, tetap simpan dokumen aslinya beserta scan atau fotonya. Kalau selama proses kehilangan kita sudah mengikuti saran sebelumnya dan membuat satu folder digital berisi seluruh dokumen, jangan buru-buru menghapus folder tersebut setelah pulang.
Setelah paspor baru akhirnya diterbitkan, jangan lupa satu hal lagi yang sering luput: nomor paspor kita sekarang berubah. Kalau sebelumnya kita mempunyai visa, izin perjalanan, akun perjalanan, tiket penerbangan mendatang, atau dokumen lain yang mencantumkan nomor paspor lama, periksa apakah ada data yang perlu diperbarui atau apakah dokumen tersebut masih berlaku dengan paspor baru. Ketentuannya berbeda-beda tergantung negara dan jenis dokumennya, jadi jangan berasumsi bahwa visa atau izin yang terhubung dengan paspor lama otomatis berpindah ke paspor baru.
Kalau ternyata masih ada visa yang masa berlakunya panjang pada paspor yang hilang, periksa langsung ketentuan negara penerbit visa tersebut. Bisa saja kita perlu mengajukan visa baru, memperbarui data paspor, atau mengikuti prosedur tertentu sebelum perjalanan berikutnya. Lebih baik mengetahui hal tersebut ketika masih berada di rumah daripada baru menyadarinya beberapa hari sebelum terbang.
Setelah seluruh proses selesai dan paspor baru sudah berada di tangan, baru kita benar-benar bisa mengatakan bahwa urusan kehilangan paspor dalam perjalanan kemarin sudah selesai. Dan mungkin setelah mengalami semua proses itu, kebiasaan kecil yang dibahas sejak awal artikel akan terasa jauh lebih masuk akal:
PASPOR → ZIPLOCK → MONEY BELT → DI BALIK PAKAIAN.
Setiap selesai digunakan, langsung kembalikan ke tempatnya. Karena kehilangan paspor memang bisa diatasi. Ada prosedur, ada Perwakilan RI yang dapat dihubungi, dan ada dokumen perjalanan pengganti untuk kondisi tertentu. Tetapi kalau masalah sebesar ini bisa dicegah hanya dengan beberapa kebiasaan kecil selama traveling, tentu jauh lebih enak kalau kita nggak perlu mengalami seluruh prosesnya sejak awal.
Sumber Kantor Imigrasi Relevan: FAQ Kantor Imigrasi Juanda menjelaskan bahwa kasus paspor hilang diproses melalui pemeriksaan/BAP. Menariknya, untuk kasus paspor yang hilang di luar negeri, Imigrasi juga menyebut SPLP dan surat kehilangan dari kepolisian luar negeri sebagai dokumen yang dibawa dalam pengurusan tersebut.
FAQ Paspor Hilang — Kantor Imigrasi Juanda
Standar Pelayanan Imigrasi 2026 juga menjelaskan proses penggantian paspor hilang di Indonesia: surat kehilangan kepolisian, dokumen identitas, BAP, Berita Acara Pendapat, keputusan Kepala Kantor Imigrasi, lalu proses penerbitan paspor apabila disetujui.
Standar Pelayanan Imigrasi 2026 — Penggantian Paspor Hilang
Ada pula ketentuan Imigrasi yang menjelaskan bahwa apabila kehilangan terjadi di luar negeri dan pemohon memperoleh SPLP untuk kembali ke Indonesia, biaya beban kehilangan tidak dikenakan di luar negeri pada tahap SPLP; ketentuan biaya tersebut kemudian terkait dengan permohonan paspor di kantor imigrasi.
23. Perbarui Visa dan Dokumen Perjalanan untuk Trip Berikutnya
Setelah seluruh proses selesai dan paspor baru akhirnya berada di tangan, masih ada satu pekerjaan kecil yang sebaiknya dilakukan sebelum mulai merencanakan perjalanan berikutnya. Ingat bahwa paspor baru berarti kita sekarang mempunyai nomor paspor baru, sementara berbagai dokumen perjalanan yang pernah kita buat sebelumnya mungkin masih mencantumkan nomor paspor yang hilang.
Karena itu, sebelum traveling lagi, periksa satu per satu dokumen yang sebelumnya berkaitan dengan paspor lama. Yang paling penting tentu saja visa dan e-visa yang masa berlakunya masih panjang. Jangan langsung berasumsi bahwa karena visanya belum kedaluwarsa, kita tinggal membawa paspor baru dan menggunakannya seperti biasa. Setiap negara mempunyai aturan sendiri mengenai visa yang terhubung dengan paspor lama, terlebih kalau paspor tersebut hilang dan bukan sekadar habis masa berlakunya.
Pada beberapa sistem, mungkin tersedia prosedur untuk memperbarui data paspor. Dalam kondisi lain, kita mungkin harus mengajukan visa atau izin perjalanan baru. Ada pula negara yang mempunyai ketentuan tersendiri mengenai visa yang berada pada paspor lama. Karena aturannya berbeda-beda, periksa langsung informasi resmi dari negara penerbit visa sebelum membeli tiket perjalanan berikutnya.
Hal yang sama berlaku untuk electronic travel authorization atau izin perjalanan elektronik lainnya. Dokumen seperti ini sering kali terhubung secara elektronik dengan nomor paspor yang digunakan ketika mengajukan permohonan. Secara fisik memang nggak ada stiker visa yang menempel di paspor, tetapi bukan berarti izin tersebut otomatis mengikuti kita ketika nomor paspor berubah.
Jadi kalau sebelumnya kita pernah memperoleh izin perjalanan menggunakan paspor lama, cek kembali statusnya. Jangan hanya membuka email lama, melihat tulisan "Valid until 2028", lalu berpikir semuanya masih aman. Bisa saja masa berlakunya memang sampai 2028, tetapi izin tersebut terhubung dengan nomor paspor yang sudah nggak kita gunakan.
Selain dokumen keimigrasian, periksa juga perjalanan yang sudah dipesan untuk masa mendatang. Kalau kita sudah mempunyai tiket pesawat yang dibeli sebelum paspor hilang dan nomor paspor lama sudah dimasukkan ke dalam data penumpang, periksa apakah data tersebut perlu diperbarui. Hubungi maskapai kalau kita nggak menemukan cara mengubahnya sendiri atau kalau ada ketidaksesuaian data yang nggak bisa diperbaiki melalui aplikasi.
Aku juga akan memeriksa akun-akun perjalanan yang sering digunakan, misalnya akun maskapai dan program frequent flyer. Kalau nomor paspor lama tersimpan sebagai travel document di profil, hapus atau perbarui datanya dengan paspor baru supaya nanti nggak tanpa sadar menggunakan informasi lama ketika melakukan check-in atau mengisi data perjalanan berikutnya.
Prinsip yang sama berlaku untuk dokumen atau layanan lain yang mencantumkan nomor paspor. Kita nggak perlu panik dan mengganti semuanya sekaligus, tetapi sebelum perjalanan internasional berikutnya lakukan semacam audit kecil terhadap identitas perjalanan kita. Cari dokumen apa saja yang masih menggunakan nomor paspor lama dan periksa apakah perlu diperbarui, diajukan ulang, atau dibiarkan karena memang tidak terpengaruh oleh pergantian paspor.
Aku mungkin akan melakukan pengecekan sederhana seperti ini sebelum membeli tiket berikutnya: apakah visa masih dapat digunakan, apakah e-visa atau izin perjalanan elektronik perlu diperbarui, apakah tiket yang sudah dibeli mencantumkan data paspor lama, dan apakah nomor paspor yang tersimpan di akun maskapai sudah diganti.
Yang paling penting, jangan menganggap visa atau izin perjalanan yang sebelumnya terhubung dengan paspor lama otomatis dapat digunakan bersama paspor baru. Periksa ketentuan resmi negara penerbit dokumen tersebut karena aturan untuk setiap visa dan setiap negara bisa berbeda.
Setelah semuanya sudah diperbarui, buat kembali sistem cadangan yang kita bahas sejak awal. Scan halaman identitas paspor baru, simpan di penyimpanan daring pribadi, buat fotokopi jika diperlukan, unduh dan print e-visa untuk perjalanan berikutnya, lalu perbarui folder dokumen perjalanan kita dengan informasi terbaru.
Paspor lama memang sudah hilang, tetapi jangan sampai nomor paspornya masih ikut traveling bersama kita karena tersimpan di tiket, visa, atau akun perjalanan yang lupa diperbarui. Begitu semua data sudah sesuai dengan paspor baru, barulah kita benar-benar siap memulai perjalanan berikutnya.
Rumus Sederhana yang Perlu Diingat
Artikel ini disusun berdasarkan informasi resmi dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Safe Travel dan Peduli WNI, informasi pelayanan kekonsuleran Perwakilan Republik Indonesia, serta informasi resmi Direktorat Jenderal Imigrasi Republik Indonesia mengenai paspor hilang dan penggantian paspor. Prosedur kehilangan paspor, persyaratan SPLP/paspor pengganti, serta ketentuan keimigrasian dapat berbeda tergantung negara dan Perwakilan RI yang menangani wilayah tempat kehilangan terjadi. Karena itu, selalu konfirmasikan prosedur terbaru kepada KBRI/KJRI dan otoritas imigrasi negara tempat kita berada.


.png)


0 comments:
Posting Komentar