SUMBER MATERI : Artikel ini merupakan terjemahan Bahasa Indonesia dengan sedikit tambahan gambar. Baca artikel aslinya disini: Management of Cold Water Immersion oleh Jay W. Fox.
Banyak orang yang mempunyai hobi dan pekerjaan yang mewajibkan mereka tetap aktif di alam terbuka sepanjang tahun. Bagi banyak dari kami, hal ini berarti melakukan aktivitas di luar ruangan dalam kondisi udara yang sejuk hingga sangat dingin, bahkan mungkin berada di sekitar perairan yang dingin. Baik ketika sedang mendaki di sepanjang sungai atau danau maupun mendayung di atas air, jika secara tidak sengaja terjatuh ke dalam air dingin, peluang untuk bertahan hidup sebenarnya cukup baik apabila kita memahami bagaimana tubuh bereaksi terhadap air dingin dan mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan diri sampai bantuan tiba.
Dr. Gordon Giesbrecht dari University of Manitoba telah melakukan penelitian yang luas mengenai paparan terhadap air dingin dan memberikan beberapa rekomendasi berikut. Pertama, mari kita melihat suhu air. Suhu air untuk berenang secara sederhana dapat dikelompokkan menjadi:
Dalam kondisi “nyaman”, berenang terasa menyenangkan dan mudah dilakukan tanpa perlindungan tambahan terhadap dingin, seperti wetsuit.
Dalam kondisi “cukup nyaman”, pada awalnya air akan terasa agak dingin, tetapi tubuh kemudian dapat terbiasa dengannya. Ketika air berada dalam kategori “dingin menusuk”, air akan terasa sangat dingin ketika pertama kali masuk. Namun, orang yang berpengalaman masih dapat berenang selama beberapa waktu sebelum hipotermia menjadi risiko yang serius.
Pada suhu air kategori “sangat dingin”, masuk ke dalam air akan terasa menyakitkan dan berenang hanya dapat ditoleransi selama beberapa menit sebelum muncul risiko yang signifikan.
Sementara itu, seperti yang mungkin sudah kita duga, pada kategori “membekukan”, berada di dalam air akan terasa sangat menyakitkan dan waktu berada di air sebaiknya dibatasi hanya sekitar satu atau dua menit.
Perlu diingat juga bahwa secara umum suhu air tidak berubah secepat suhu udara sepanjang hari. Begitu air menjadi dingin, misalnya akibat malam-malam yang dingin, suhu air kemungkinan tidak akan meningkat banyak pada siang hari.
Karena itu, apabila seseorang jatuh ke dalam air pada musim dingin, suhu air bisa saja lebih rendah daripada suhu udara pada siang hari. Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa air tawar membeku pada suhu 32°F (0°C), sedangkan air laut membeku pada suhu yang sedikit lebih rendah. Jadi, meskipun air laut belum membeku, suhunya sebenarnya masih dapat berada di bawah 32°F atau 0°C.
Dr. Gordon Giesbrecht dari University of Manitoba telah melakukan penelitian ekstensif mengenai paparan air dingin pada manusia. Ia memberikan rekomendasi mengenai apa yang harus dilakukan apabila kita tiba-tiba berada di dalam air dingin.
PRINSIP 1 MENIT - 10 MENIT - 1 JAM
Mari kita memahami lebih jauh apa yang terjadi ketika tubuh secara tidak sengaja tercebur ke dalam air dingin. Kabar baiknya, manusia dapat bertahan cukup lama di dalam air dingin apabila tidak panik, tetap tenang, dan mengetahui apa yang harus dilakukan.
a. 1 menit pertama — Cold Shock Response
Ketika tubuh tiba-tiba masuk ke dalam air dingin, respons pertama yang muncul adalah cold shock response atau respons syok dingin. Tubuh secara refleks akan menarik napas secara tiba-tiba dan tidak terkendali (gasping), kemudian bernapas sangat cepat atau mengalami hiperventilasi. Bayangkan sensasi ketika seseorang tiba-tiba menyiram tubuhmu dengan seember air es.
Karena itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah JANGAN PANIK dan pertahankan kepala tetap berada di atas permukaan air.
Hal ini sangat penting karena ketika refleks gasping terjadi, kita dapat secara tidak sengaja menghirup air masuk ke dalam paru-paru (aspirasi). Kondisi tersebut sangat berbahaya dan dapat menyebabkan tenggelam bahkan sebelum hipotermia menjadi masalah.
Terus ingatkan diri sendiri : 1) Tetap tenang, 2) Pertahankan kepala di atas air 3)Kendalikan pernapasan.
Usahakan mengatur napas hingga menjadi stabil, teratur, dan tidak terlalu cepat. Setelah pernapasan mulai terkendali dan tubuh sudah lebih rileks, barulah pikirkan tindakan berikutnya.
Jadi, tujuan utama pada sekitar 1 menit pertama bukan langsung berenang sekuat tenaga, melainkan mengendalikan pernapasan dan mencegah kepala tenggelam.
b. Sekitar 10 menit berikutnya — Cold Incapacitation
Setelah sekitar 1 menit berada di dalam air yang sangat dingin, masalah berikutnya mulai muncul, yaitu cold incapacitation atau hilangnya kemampuan fisik akibat dingin.
Air dingin memengaruhi fungsi saraf dan otot. Gerakan otot mulai terasa menyakitkan, sementara kemampuan kita mengendalikan tangan dan kaki semakin memburuk. Akibatnya, kita semakin kesulitan berenang, memegang benda, menarik tubuh ke atas perahu, atau bahkan sekadar mempertahankan pegangan.
Dalam kondisi air yang sangat dingin, selama sekitar 10–20 menit berikutnya, kemampuan menggunakan anggota tubuh dapat terus menurun sampai tangan dan kaki pada akhirnya hampir tidak dapat digunakan secara efektif.
Karena itu, setelah pernapasan berhasil dikendalikan, kita harus segera membuat keputusan dan melakukan tindakan penyelamatan sebelum kemampuan otot menurun terlalu jauh.
Target utamanya adalah: Dalam sekitar 10 menit pertama, keluarkan sebanyak mungkin bagian tubuh dari air. Jika sebelumnya berada di atas kapal atau perahu lalu tercebur, jangan panik. Kendalikan pernapasan, kemudian kembalilah menuju perahu jika memungkinkan. Cobalah naik kembali ke dalamnya. Jika perahu terbalik tetapi masih mengapung, naiklah ke atas badan perahu yang terbalik sehingga sebanyak mungkin tubuh keluar dari air.
Jika jatuh ke danau atau sungai dari tepian atau jembatan, prinsip yang sama berlaku: jangan panik, kendalikan pernapasan, lalu cari benda yang dapat dinaiki atau tempat terdekat untuk keluar dari air, dan usahakan melakukannya sebelum kemampuan tangan dan kaki menurun drastis.
c. 1 jam berikutnya — Hipotermia mulai menjadi ancaman utama
Hipotermia (hypothermia) adalah kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah tingkat normal. Seberapa cepat hipotermia terjadi dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk suhu air, seberapa banyak bagian tubuh yang terendam, ukuran tubuh, pakaian, serta kondisi fisik seseorang.
Dalam air dingin—dalam sumber ini didefinisikan sebagai air di bawah 68°F atau sekitar 20°C—banyak orang dapat mulai mengalami hipotermia dalam kisaran 1–2 jam, meskipun waktunya sangat bervariasi.
Jika setelah sekitar 10 menit kita tetap tidak mampu keluar dari air, strategi selanjutnya bukan lagi berenang tanpa tujuan. Sebaliknya, hemat energi dan kurangi kehilangan panas tubuh sebanyak mungkin sambil menunggu pertolongan.
Di sinilah posisi H.E.L.P. — Heat Escape Lessening Position digunakan.
Posisi HELP dilakukan dengan mendekatkan lutut ke dada, merapatkan kedua kaki, dan menjaga kedua lengan sedekat mungkin dengan tubuh. Tujuannya adalah mengurangi paparan bagian tubuh yang kehilangan panas dengan cepat, terutama daerah ketiak, sisi dada, dan selangkangan.
Posisi ini jauh lebih efektif apabila menggunakan life jacket/pelampung badan, karena pelampung menjaga kepala tetap berada di atas air tanpa kita harus terus menggerakkan tangan dan kaki.
Jika ada beberapa orang yang mengalami kondisi yang sama, strategi yang lebih baik adalah membentuk HUDDLE. Orang-orang berkumpul dan merapatkan tubuh satu sama lain untuk mengurangi kehilangan panas. Semua orang tetap menggunakan pelampung dan sebisa mungkin mempertahankan kepala serta dada bagian atas di atas permukaan air.
Jika hipotermia semakin berat
Ketika hipotermia berkembang semakin parah, seseorang pada akhirnya dapat kehilangan kesadaran. Jika pendinginan tubuh terus berlanjut, fungsi jantung juga dapat terganggu dan akhirnya dapat terjadi henti jantung.
Namun, angka 1 jam bukan berarti manusia pasti hanya dapat hidup satu jam di air dingin. Prinsip 1–10–1 merupakan panduan sederhana untuk mengingat urutan ancaman. Waktu sebenarnya sangat bergantung pada suhu air, kondisi laut, pakaian, pelampung, ukuran tubuh, dan berbagai faktor lainnya.
Karena itu, prinsipnya dapat diringkas menjadi:
1 MENIT → kendalikan napas.
Cold shock terjadi. Jangan panik, jaga kepala di atas air dan stabilkan pernapasan.
10 MENIT → manfaatkan kemampuan bergerak.
Sebelum tangan dan kaki kehilangan fungsi akibat dingin, usahakan naik kembali ke kapal, ke rakit, ke benda terapung, atau keluar dari air.
1 JAM → pertahankan panas tubuh.
Jika tidak bisa keluar, jangan menghabiskan energi dengan berenang tanpa tujuan. Dengan life jacket, gunakan HELP jika sendirian atau HUDDLE jika bersama orang lain sambil menunggu penyelamatan.
Intinya, keluar dari air sebanyak mungkin tetap menjadi prioritas. Bahkan naik ke badan kapal yang terbalik, rakit, atau benda terapung sehingga sebagian besar tubuh tidak lagi terendam dapat sangat membantu mengurangi kehilangan panas.
Dan inilah alasan life jacket sebaiknya sudah dikenakan sebelum terjadi kecelakaan, bukan baru dicari setelah kapal tenggelam. Ketika cold shock terjadi dan beberapa menit kemudian fungsi tangan mulai menurun, mengenakan pelampung di dalam air bisa menjadi jauh lebih sulit.






0 comments:
Posting Komentar