Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

9.17.2026

[Ep 3] SURVIVAL : Hipotermia (Gejala, Tahapan, dan Cara Penanganannya)

SUMBER MATERI : Artikel ini merupakan terjemahan Bahasa Indonesia dengan  tambahan narasi pelengkap dari CDC dan American Red Cross. Baca artikel aslinya disini: HIPOTERMIA oleh ACEBOATER.

1. Apa Saja Gejala Hipotermia?

Hipotermia adalah kondisi ketika suhu inti tubuh turun secara tidak normal karena tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk memproduksinya. Secara medis, hipotermia umumnya didefinisikan sebagai suhu inti tubuh di bawah 35°C. Hipotermia tidak hanya terjadi di daerah bersalju atau tempat dengan suhu ekstrem. Kondisi ini juga dapat terjadi ketika seseorang:

  • terlalu lama terendam di dalam air dingin;

  • berada di udara dingin dengan pakaian yang basah; atau

  • terpapar suhu rendah dalam waktu lama.

Air menjadi perhatian khusus karena tubuh kehilangan panas jauh lebih cepat ketika berada di dalam air dibandingkan di udara. Karena itu, seseorang yang jatuh ke laut atau danau dapat mengalami hipotermia meskipun suhu air tidak mendekati titik beku.

a. Gejala Hipotermia Ringan atau Tahap Awal

Pada tahap awal, tubuh masih berusaha mempertahankan suhu inti dengan menghasilkan panas melalui kontraksi otot. Karena itulah salah satu tanda paling khas adalah menggigil (shivering)Gejala lainnya yang dapat muncul antara lain:

  • menggigil;

  • merasa sangat dingin;

  • kelelahan;

  • tangan mulai sulit melakukan gerakan halus;

  • koordinasi tubuh mulai menurun;

  • mulai kebingungan atau sulit berkonsentrasi;

  • bicara mulai tidak jelas atau pelo (slurred speech);

  • masih sadar, tetapi perhatian mulai terganggu.

Menggigil sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Kontraksi otot yang terjadi berulang-ulang membantu menghasilkan panas.

b. Hipotermia Sedang

Jika kehilangan panas terus berlangsung, fungsi otak dan sistem saraf mulai semakin terganggu. Orang tersebut dapat menunjukkan:

  • koordinasi tubuh yang semakin buruk;

  • kebingungan dan disorientasi;

  • perilaku atau keputusan yang tidak rasional;

  • rasa kantuk yang semakin berat;

  • kesulitan berjalan atau berdiri;

  • bicara semakin tidak jelas;

  • denyut nadi melambat;

  • pernapasan menjadi lebih lambat.

Salah satu hal yang membuat hipotermia berbahaya adalah orang yang mengalaminya dapat kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam bahaya.

c. Hipotermia Berat

Ketika suhu inti tubuh terus turun, kondisi menjadi keadaan darurat medis. Gejalanya dapat berupa:

  • menggigil berkurang atau bahkan berhenti;

  • kulit sangat dingin dan dapat tampak pucat atau kebiruan;

  • pupil melebar;

  • kesadaran menurun hingga tidak sadar;

  • denyut nadi sangat lambat dan lemah;

  • pernapasan sangat lambat, dangkal, atau tidak teratur;

  • pada kondisi ekstrem, denyut nadi dan pernapasan mungkin sangat sulit dideteksi.

Berhentinya menggigil bukan berarti korban sudah membaik. Pada seseorang yang masih berada dalam kondisi dingin, hilangnya menggigil justru dapat menjadi tanda bahwa hipotermia telah menjadi lebih berat.

Menurut CDC, hipotermia merupakan keadaan darurat medis. Jika suhu tubuh diketahui berada di bawah 35°C, pertolongan medis harus segera dicari.

2. Bagaimana Menolong Orang yang Mengalami Hipotermia?

Prioritas pertama adalah menghentikan kehilangan panas lebih lanjutJika korban baru saja diselamatkan dari laut, danau, sungai, atau lingkungan dingin, pindahkan korban secepat mungkin ke tempat yang terlindung dari air, angin, dan udara dingin. Di kapal, misalnya, pindahkan korban ke dalam kabin atau ruangan yang paling hangat dan kering. Tangani korban dengan lembut, terutama jika hipotermianya sudah berat.

a. Lepaskan Pakaian yang Basah

Jika memungkinkan, lepaskan pakaian yang basah dan keringkan tubuh korban. Ganti dengan pakaian kering. Jika tidak tersedia pakaian pengganti, bungkus tubuh dengan selimut, sleeping bag, handuk, atau bahan isolasi kering lainnya. Lapisan luar tahan air atau vapour barrier, misalnya lembaran plastik, juga dapat membantu mengurangi kehilangan panas akibat penguapan dan angin.

b. Tutupi Tubuh, Termasuk Kepala dan Leher

Bungkus tubuh dengan beberapa lapisan bahan kering. Jangan lupa melindungi kepala dan leher, karena bagian tubuh yang tidak terlindungi tetap dapat menjadi tempat hilangnya panas. Namun, jangan menutup wajah sehingga mengganggu pernapasan.

c. Hangatkan Bagian Tengah Tubuh Terlebih Dahulu

Prioritaskan pemanasan pada bagian tengah tubuh (core), terutama:

dada → leher → kepala → area selangkangan

Kompres hangat, botol berisi air hangat, atau heating pack dapat digunakan. Bungkus sumber panas dengan kain terlebih dahulu sehingga tidak langsung menyentuh kulit dan menyebabkan luka bakar.

Hindari memusatkan pemanasan pada tangan dan kaki terlebih dahulu, terutama pada hipotermia sedang hingga berat. American Red Cross juga menyarankan pemanasan tubuh dilakukan secara perlahan dengan memprioritaskan bagian inti tubuh.

d. Jangan Menggosok atau Memijat Tangan dan Kaki

Jangan menggosok atau memijat ekstremitas korban untuk mencoba membuatnya cepat hangat. Pada hipotermia sedang atau berat, korban harus ditangani dengan lembut. Pemanasan ekstremitas secara agresif juga tidak dianjurkan karena dapat memperburuk penurunan suhu inti dan meningkatkan risiko gangguan irama jantung. Karena itu jangan menggosok tubuh dengan keras, jangan memijat tangan dan kaki, dan jangan mencoba menghangatkan korban secara ekstrem atau mendadak.

e. Berikan Minuman Hangat Hanya Jika Korban Sadar

Jika korban:

  • sadar sepenuhnya;

  • mampu menelan dengan baik; dan

  • tidak mengalami penurunan kesadaran,

minuman hangat dapat diberikan sedikit demi sedikit. Pilihan sederhana misalnya air hangat atau kuah hangat. Jangan memberikan alkohol. Alkohol dapat membuat seseorang merasa hangat sementara, tetapi justru dapat meningkatkan kehilangan panas tubuh.

Sebaiknya hindari pula minuman berkafein. Jangan pernah memberikan makanan atau minuman kepada orang yang tidak sadar atau kesulitan menelan karena dapat menyebabkan tersedak.

f. Jangan Memanaskan Korban Terlalu Cepat

Kesalahan lain adalah mencoba membuat korban panas secepat mungkin, misalnya dengan memasukkannya ke bak mandi berisi air sangat panas atau menempelkan sumber panas yang sangat panas langsung ke kulit.

Pada hipotermia sedang hingga berat, metode seperti ini tidak dianjurkan. Pemanasan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terkontrol, terutama dengan menghangatkan bagian inti tubuh.

g. Pantau Pernafasan dan Kesadaran

Perhatikan terus:

  • apakah korban masih sadar;

  • apakah korban masih bernapas;

  • apakah kondisinya semakin memburuk.

Pada hipotermia berat, denyut jantung dan pernapasan dapat menjadi sangat lambat dan lemah, sehingga terkadang sulit dideteksi.

Jika korban tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera minta bantuan medis darurat dan lakukan CPR sesuai pelatihan yang dimiliki, sambil tetap melakukan upaya menghangatkan korban.

Hipotermia berat dapat membuat seseorang tampak seperti sudah meninggal karena denyut jantung dan pernapasannya begitu lambat. Karena itu, korban hipotermia berat tidak boleh langsung dianggap tidak dapat diselamatkan.

3. Intinya : Hangatkan Perlahan, Bukan Mendadak

Jika seseorang mengalami hipotermia setelah terlalu lama berada di laut atau lingkungan dingin, ingat urutannya:

Keluar dari sumber dingin → berlindung dari angin dan air → lepaskan pakaian basah → keringkan → bungkus tubuh → hangatkan bagian inti tubuh → berikan minuman hangat jika sadar → cari bantuan medis.

Dan yang tidak kalah penting:

jangan beri alkohol, jangan menggosok atau memijat tangan dan kaki, dan jangan memanaskan tubuh secara ekstrem atau mendadak.

Hipotermia bukan sekadar kondisi ketika seseorang merasa sangat kedinginan. Ketika suhu inti tubuh terus turun, fungsi otak, pernapasan, dan jantung ikut melambat. Pada tahap berat, kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, henti jantung, dan kematian.

0 comments:

Posting Komentar