Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
Perjalanan dengan auto rickshaw selama 30 menit mengantarkan kami ke Stasiun Jaipur. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri kawasan kota tua. Beberapa langkah kemudian, sebuah bangunan tiba-tiba muncul di hadapan kami dan langsung mencuri perhatian. Dari dekat, bangunan berwarna merah muda pucat itu menjulang seperti tirai raksasa dari batu, dipenuhi ratusan jendela kecil yang tersusun rapat dan bertingkat. Inilah Hawa Mahal, tujuan utama kami hari ini.
Bagian luar Hawa MahalDari depan, bangunan ini tampak seperti dinding istana yang berdiri sendiri, menghadap langsung ke jalan utama yang sibuk. Lalu lintas mengalir tepat di bawahnya, sementara Hawa Mahal berdiri tenang, seolah menjadi penonton abadi kehidupan kota. Bentuknya unik, hampir menyerupai sarang lebah raksasa, dengan jendela-jendela kecil berjeruji halus yang menjadi ciri khasnya. Di titik inilah orang-orang biasanya berhenti, menengadah, dan berfoto, karena seluruh wajah ikonik Hawa Mahal memang sengaja dirancang menghadap langsung ke jantung kota tua Jaipur.
Setelah sampai di Stasiun Jaipur, kami baru sadar satu hal yang agak merepotkan: ternyata tidak ada tempat penitipan tas resmi di stasiun itu. Kami sempat kebingungan sebentar, lalu memutuskan bertanya ke beberapa petugas stasiun yang berjaga di sana.
Salah satu dari mereka kemudian menawarkan solusi yang sama sekali tidak kami duga. Tas besar kami boleh dititipkan saja di kantor mereka, semacam ruang kerja petugas atau kantor masinis. Tanpa formulir, tanpa ribet, tanpa biaya. Karena yang menawarkan adalah petugas resmi dan tas kami juga tidak berisi barang berharga, kami akhirnya setuju.
Kami menyerahkan tas dengan perasaan campur aduk antara ragu dan lega. Tapi cara mereka menjelaskan begitu tenang dan ramah, membuat kami merasa cukup percaya. Di perjalanan India ini, kejadian-kejadian kecil seperti ini sering membuatku terenyuh. Di tengah sistem yang kadang terasa semrawut, kebaikan personal justru muncul dari obrolan sederhana.
Kami kembali berjalan kaki menuju Hawa Mahal. Di perjalanan kesana, kami sempat mampir ke sebuah toko oleh-oleh kecil karena aku mau beli tas backpack. Tas slempang yang kupakai sebelumnya talinya putus sejak di Mumbai, jadi mau tidak mau harus mencari pengganti. Akhirnya aku mendapatkan sebuah backpack kecil yang sederhana dan cukup murah. Tidak istimewa, tapi fungsional. Yang penting bisa menampung barang-barang penting, kamera, dompet, dan sebotol air minum.
Seperti kebiasaan yang sering kami temui di India, setelah transaksi selesai, kami malah diajak foto bersama oleh pemilik toko, tentu saja memakai kamera kami sendiri, wkwk. Sampai sekarang aku juga tidak benar-benar tahu gunanya apa untuk mereka. Mungkin sekadar kenang-kenangan, mungkin juga kebanggaan pernah berfoto dengan orang asing yang mampir ke tokonya.
Tidak butuh waktu lama untuk kami sampai di Hawa Mahal. Tiket masuknya sekitar dua ratus Rupee, termasuk tiket komposit yang bisa dipakai untuk beberapa tempat wisata lain di Jaipur. Dan di titik inilah aku harus jujur mengakui satu hal yang agak memalukan.
Saat itu posisi Fredo masih kuliah semester akhir, sementara aku sudah lulus. Fredo jelas masih berstatus mahasiswa dan punya kartu student. Sementara aku? Sudah bukan student sama sekali. Masalahnya, perbedaan harga tiket di Jaipur benar-benar terasa untuk backpacker. Tiket foreign tourist saat itu sekitar Rp 235.000, sementara tiket student foreign tourist hanya sekitar Rp 50.000. Selisihnya jauh sekali.
Dan ya… aku tidak sepenuhnya jujur hari itu.
Ketika petugas tiket bertanya soal student ID, aku ikut mengantre bersama Fredo dan dengan percaya diri menyamar sebagai mahasiswa juga. Saat diminta kartu identitas mahasiswa, aku mengeluarkan KTP Indonesia. Bukan kartu mahasiswa. Bukan kartu pelajar. KTP biasa, dengan tulisan berbahasa Indonesia yang jelas-jelas tidak familiar baginya.
Petugas itu menatap KTP-ku cukup lama. Benar-benar lama. Bolak-balik melihat kartu itu, lalu melihat wajahku. Jujur saja, di kepalaku saat itu hanya ada satu pikiran, “Kalau ditolak ya sudahlah.” Tapi entah karena ia tidak memahami isi tulisannya, atau mungkin tidak terlalu peduli, akhirnya ia mengangguk dan memberikan tiket harga mahasiswa kepadaku.
Selesai. Aku lolos.
Lega? Iya. Tapi bersamaan dengan itu muncul rasa tidak enak yang tipis tapi nyata. Ini benar-benar tindakan tidak terpuji dan jelas tidak patut ditiru. Bahkan sekarang, bertahun-tahun kemudian saat menuliskannya kembali, aku masih merasa perlu memberi catatan kaki moral untuk diriku sendiri.
Entah kenapa aku tetap menuliskannya. Mungkin karena perjalanan bukan hanya soal tempat-tempat indah dan cerita heroik. Tapi juga tentang sisi manusiawi yang kadang pelit, licik, lelah, dan penuh kompromi kecil. India, dengan segala kontras dan tekanannya, sering memunculkan sisi-sisi itu tanpa permisi.
Dengan tiket di tangan dan rasa bersalah kecil yang ikut masuk bersama kami, aku dan Fredo pun melangkah ke dalam Hawa Mahal. Angin dari lorong-lorong sempit mulai terasa, dan Jaipur perlahan terlihat dari balik jendela-jendela kecil yang berjajar rapat.
Hawa Mahal sendiri dibangun pada tahun 1799 oleh Maharaja Sawai Pratap Singh, cucu dari pendiri kota Jaipur, Sawai Jai Singh II. Arsiteknya adalah Lal Chand Ustad. Tujuan bangunan ini bukan sebagai istana tempat tinggal utama, melainkan sebagai perpanjangan dari City Palace. Di sinilah para perempuan kerajaan, sesuai tradisi purdah saat itu, bisa mengamati kehidupan kota tanpa terlihat dari luar. Mereka dapat menyaksikan prosesi kerajaan, arak-arakan, pasar, dan kehidupan jalanan dari balik jendela-jendela kecil yang rapat.
Dari dalam, Hawa Mahal ternyata tidak sempit. Ada lorong-lorong bertingkat, tangga landai yang menghubungkan satu lantai ke lantai lain, serta halaman dalam yang terbuka. Ruang-ruangnya didominasi warna kuning lembut dan putih, dengan garis-garis dekoratif yang halus. Cahaya masuk dari jendela-jendela kecil, menciptakan bayangan lembut di lantai dan dinding. Udara mengalir terus, sejuk dan ringan, benar-benar terasa fungsi bangunan ini sebagai istana angin.
Kami naik ke lantai-lantai atas. Dari balkon dan jharokha kecil itu, pemandangan Kota Jaipur terbentang luas. Dari sini terlihat jelas mengapa Jaipur disebut Pink City, meskipun warna dominannya lebih ke kuning pucat dan merah muda lembut. Bangunan-bangunan kota tua tersusun rapi, atap datar, dinding berwarna hangat, dan jalan-jalan yang tampak sibuk namun teratur. Dari ketinggian ini, hiruk-pikuk kota terasa terasa lebih tenang, seperti miniatur kehidupan yang bergerak pelan.
Di salah satu lantai, terdapat aula dengan lengkungan-lengkungan indah dan jendela kecil di setiap sisi. Ruang ini dulu digunakan sebagai tempat berkumpul, bersantai, dan menikmati angin sore. Aku berdiri cukup lama di sana, membiarkan angin masuk lewat jendela kecil, membayangkan bagaimana ratusan tahun lalu para perempuan kerajaan duduk di tempat yang sama, mengamati kota yang sama, hanya dengan wajah dan cerita yang berbeda.
Semakin ke atas, suasananya semakin sunyi. Tangga-tangga batu membawa kami ke teras terbuka. Dari titik tertinggi ini, langit Jaipur terlihat luas dan terang. Kota di bawah tampak tenggelam dalam warna-warna lembut khas Rajasthan. Tidak ada gedung tinggi, tidak ada kaca mengilap. Yang ada hanya bangunan tua, tembok-tembok berwarna pasir, dan kehidupan yang mengalir di sela-selanya.
Dari Hawa Mahal, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju satu tempat yang sejak awal membuatku penasaran: kompleks astronomi kuno India yang terkenal itu, Jantar Mantar. Jaraknya tidak jauh, masih berada di kawasan kota tua Jaipur. Jalanan ramai, dipenuhi pejalan kaki, pedagang kecil, dan suara klakson yang bersahut-sahutan, tapi langkah kami terasa ringan karena rasa penasaran sudah keburu besar.
Begitu masuk ke dalam kompleks Jantar Mantar, suasananya langsung berubah. Hiruk pikuk kota seakan tertinggal di luar pagar. Di hadapan kami berdiri struktur-struktur batu raksasa dengan bentuk aneh dan tidak lazim. Ada yang seperti segitiga besar menjulang ke langit, ada yang melengkung, ada yang berbentuk setengah lingkaran dengan garis-garis skala di permukaannya. Sekilas tampak seperti instalasi seni modern, padahal semuanya dibangun ratusan tahun lalu.
Jantar Mantar dibangun pada awal abad ke-18 oleh Maharaja Sawai Jai Singh II, penguasa Jaipur sekaligus seorang pengamat astronomi yang sangat serius. Ia bukan hanya raja, tapi juga ilmuwan. Pada masa itu, Jai Singh merasa tabel astronomi yang digunakan di India banyak yang tidak akurat. Alih-alih bergantung pada alat kecil dari logam seperti teleskop Eropa, ia justru merancang instrumen astronomi berukuran raksasa dari batu dan marmer, agar pengukuran posisi benda langit bisa dilakukan dengan presisi tinggi dan minim kesalahan.
Nama Jantar Mantar sendiri berasal dari kata Sanskerta “Yantra Mantra”, yang secara kasar berarti instrumen perhitungan. Tempat ini bukan observatorium simbolik, tapi benar-benar laboratorium astronomi terbuka. Semua bangunan di sini punya fungsi ilmiah yang jelas.
Struktur paling mencolok adalah Samrat Yantra, jam matahari raksasa yang menjulang tinggi. Bayangannya bergerak perlahan mengikuti pergerakan matahari, dan dengan alat ini waktu bisa diukur hingga akurasi hitungan detik. Berdiri di dekatnya membuatku merasa sangat kecil. Bayangkan, ratusan tahun lalu orang sudah bisa membaca waktu dengan ketelitian luar biasa, hanya dengan cahaya matahari dan bayangan batu.
Instrumen lain digunakan untuk menentukan posisi matahari, bulan, dan planet, menghitung gerhana, memprediksi perubahan musim, hingga menentukan kalender keagamaan. Ada alat untuk mengukur deklinasi bintang, ada pula yang dipakai untuk membaca lintang dan bujur suatu tempat. Semuanya bekerja tanpa listrik, tanpa mesin, hanya mengandalkan geometri, bayangan, dan pergerakan langit.
Yang membuatku kagum, semua ini dibangun sebelum teknologi modern seperti jam atom, GPS, atau komputer. Ilmu pengetahuan, arsitektur, dan matematika berpadu dalam bentuk yang sangat fisik. Batu-batu besar ini bukan hiasan, tapi rumus yang diwujudkan dalam ruang tiga dimensi.
Berjalan di antara instrumen-instrumen itu rasanya seperti masuk ke buku sains raksasa yang dibuka di bawah langit terbuka. Aku dan Fredo beberapa kali berhenti, membaca papan penjelasan, lalu saling menatap sambil geleng-geleng kepala. India memang sering identik dengan spiritualitas, tapi di tempat ini, sisi ilmiahnya terasa sangat kuat dan nyata. Di tengah panas Rajasthan dan bangunan-bangunan tua, Jantar Mantar berdiri sebagai pengingat bahwa rasa ingin tahu manusia terhadap langit sudah ada sejak lama, dan pernah diwujudkan dengan cara yang begitu berani dan monumental.
Setelah puas berkeliling Jantar Mantar, perut kami mulai protes. Mata sudah kenyang oleh instrumen astronomi raksasa, sekarang giliran perut yang minta diisi. Kami makan siang sederhana di sekitar kawasan kota tua. Tidak yang istimewa, tapi cukup mengenyangkan. Duduk sebentar, minum, istirahat kaki, lalu lanjut jalan lagi.
Dari sana, kami berjalan menuju satu bangunan yang dari kejauhan sudah terlihat menjulang di antara bangunan-bangunan rendah Jaipur, Isarlat Sargasooli. Menara ini sering luput dari radar turis, padahal lokasinya masih satu kawasan dengan Hawa Mahal dan City Palace. Dari Jantar Mantar menuju Isarlat, kami memilih berjalan kaki. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi perjalanannya cukup menguras fokus. Jaipur, di satu sisi memang benar-benar chaotic dengan lalu lintas yang kacau, tapi di sisi lainnya justru terasa indah dengan caranya sendiri.
Berjalan di jalanan India artinya harus menebalkan telinga. Orang-orang di sini sangat hobi mengklakson. Jalan sepi pun tetap diklakson. Kadang klaksonnya panjang, bisa lebih dari sepuluh detik, mengesalkan dan memekakkan telinga. Beberapa kali aku ingin rasanya memaki ketika ada kendaraan yang mengklakson tepat di belakangku, padahal aku sudah berjalan serapi mungkin di pinggir jalan.
Belum lagi soal rintangan di jalan. Saat berjalan kaki, kami harus sigap menghindari berbagai macam “penghuni” kota yang berkeliaran bebas. Sapi berjalan santai di tengah jalan, kambing bergerombol di sudut, keledai menarik gerobak, babi menyelinap di sela-sela bangunan, bahkan unta sesekali muncul seperti tidak merasa aneh sama sekali berada di kota. Semua harus diantisipasi sambil tetap memperhatikan kendaraan yang lewat.
Di bawah kaki, tantangannya juga tidak kalah seru. Setiap langkah harus waspada menghindari “jackpot hot chocolate” di tanah dan ludahan manusia yang tersebar di mana-mana. Jalan kaki di India memang bukan sekadar soal jarak, tapi soal kewaspadaan penuh dari kepala sampai kaki.
Stress? Tidak juga. Aneh tapi nyata, aku sudah terbiasa dengan semua itu. Lagipula, travelmate-ku selalu mengingatkan satu hal sederhana, saat traveling harus tetap bahagia, bagaimanapun keadaannya. Aku rasa dia benar juga. Hehehe.
Isarlat Sargasooli adalah menara pengamatan yang dibangun pada abad ke-18 oleh Maharaja Sawai Ishwari Singh. Tingginya sekitar 44 meter, ramping, dan berdiri seperti penunjuk arah ke langit di tengah kota tua. Dari bawah, menara ini tampak sederhana, bahkan sedikit tersembunyi di antara bangunan pasar dan rumah-rumah tua. Tapi justru itu yang membuatnya menarik.
Kami naik melalui tangga spiral sempit yang berputar terus ke atas. Langkah demi langkah terasa melelahkan, tapi juga menimbulkan rasa penasaran. Dinding batu di kanan kiri dingin dan agak lembap. Nafas mulai terengah, kaki terasa berat, tapi tidak ada keinginan untuk berhenti. Tangga ini seperti mengajak naik perlahan, tanpa terburu-buru.
Begitu sampai di atas, semua rasa capek langsung terbayar. Dari puncak Isarlat, Jaipur terbentang 360 derajat. Kota tua terlihat jelas dengan bangunan-bangunan rendah berwarna kuning dan merah muda pucat, jalan-jalan sempit yang saling bersilangan, dan keramaian yang dari atas justru terasa jinak. Tidak bising, tidak kacau. Hanya pola-pola kehidupan yang bergerak pelan.
Dari sini terlihat jelas mengapa Jaipur terasa berbeda. Tidak ada gedung tinggi yang mendominasi. Warna kota terasa seragam dan hangat. Di kejauhan, perbukitan Aravalli membingkai kota seperti pagar alami. Angin bertiup cukup kencang di atas menara, membawa debu halus dan udara panas Rajasthan, tapi justru terasa menyegarkan.
Kami berdiri cukup lama di atas sana. Tidak banyak pengunjung. Tidak ada teriakan, tidak ada kerumunan. Hanya kami, beberapa orang lokal, dan kota Jaipur yang terbuka lebar di bawah kaki. Isarlat terasa seperti tempat jeda. Bukan tempat megah seperti istana, bukan pula ikon yang ramai difoto, tapi titik sunyi untuk melihat kota secara utuh.
Setelah puas mengeksplor Pink City, kami kembali ke stasiun Jaipur. Kereta kami ke Agra berangkat sore itu juga, pukul 15.45, menggunakan Marudhar Express. Jarak Jaipur–Agra tidak terlalu jauh, sekitar dua ratus empat puluh kilometer, dan ditempuh dalam waktu kurang lebih empat sampai lima jam perjalanan. Setelah mengambil tas yang kami titipkan, kami bergegas naik ke kereta sebelum suasana stasiun semakin ramai.
Perjalanan sore itu berjalan lancar. Gerbong tidak terlalu penuh, jadi kami bisa tiduran santai sambil menikmati sisa-sisa lelah perjalanan. Sesekali aku terlelap, terbangun sebentar, lalu tidur lagi. Kereta melaju stabil, tanpa drama berarti.
Sekitar pukul delapan malam, kami tiba di Agra. Udara terasa sedikit lebih lembap dibanding Jaipur. Dari stasiun, kami langsung naik auto rickshaw menuju Sai Palace, penginapan nyaman yang lokasinya cukup dekat dengan South Gate Taj Mahal. Lokasi ini memang kami pilih sengaja, supaya besok pagi bisa berjalan kaki saja tanpa ribet transport.
Malam itu kami makan di rooftop restoran penginapan. Duduk santai, menikmati makan malam sederhana, sambil melihat lampu-lampu kota Agra di kejauhan. Badan lelah, tapi hati tenang. Setelah itu kami langsung naik ke kamar dan tidur lebih awal.



0 comments:
Posting Komentar