Kami sempatkan makan siang ringan di restoran hotel, lalu kembali ke kamar untuk leyeh-leyeh sejenak. Badan memang butuh istirahat, apalagi tidur di kereta meskipun lumayan nyenyak, tetap tidak bisa menggantikan rebahan di kasur empuk hotel.
“Eh, mas… nanti jam 2.30-an kita langsung ke Amber Fort aja ya. Jadi besok bisa fokus eksplor kota Jaipur. Lagian enak juga kalau sore nggak terlalu panas,” kataku sambil tiduran dan memainkan HP. Fredo hanya mengangguk setuju, masih sibuk bongkar tasnya.
Oh ya, ada satu hal yang cukup menantang di perjalanan India kali ini, kami sama sekali tidak menggunakan internet di luar hotel. Membeli nomor lokal dan paket data ternyata ribet, jadi kami memutuskan untuk jalan “offline” saja, hanya mengandalkan peta offline dan sedikit insting. Anehnya, itu malah bikin perjalanan lebih seru—ada sensasi petualangan yang lebih nyata tanpa notifikasi atau Google Maps yang selalu siaga.
Jadinya, setiap kali kembali ke kamar dan tersambung ke Wi-Fi hotel, rasanya seperti menemukan harta karun. Saat-saat browsing bebas inilah yang kami gunakan untuk mencari informasi tambahan, membaca tips wisata, atau sekadar melepas kangen dengan dunia luar.
Sekitar pukul 2.30 sore, setelah cukup rebahan di hotel, kami mulai berjalan kaki menuju Amber Fort. Letaknya hanya sekitar 500 meter dari Amer Hotel, jadi benar-benar bisa ditempuh santai. Sepanjang jalan, suasananya rame banget—ternyata bukan cuma turis asing, tapi juga banyak warga lokal yang berkunjung sore itu. Aku sempat melihat kereta sederhana yang ditarik sapi, lalu ibu-ibu bersari warna-warni menggandeng anak-anak mereka, semua tampak sumringah seakan sedang liburan keluarga.
“Untung kita datang sore, ya. Kalau siang panasnya pasti bikin gosong,” kataku.
Harga tiket masuknya sekitar 500 Rupee per orang. Dari gerbang, jalan menuju dalam benteng terasa megah. Tembok tinggi menjulang dengan warna keemasan bercampur merah muda, khas batu pasir dan marmer yang dipakai sejak berabad-abad lalu.
Amber Fort atau Amer Fort memang punya sejarah yang cukup panjang dan berlapis. Benteng ini mulai dibangun pada akhir abad ke-16 oleh Raja Man Singh I, salah satu panglima militer paling dipercaya oleh Kaisar Mughal Akbar. Pada masa itu, wilayah Amer merupakan pusat kekuasaan klan Kachwaha Rajput, jauh sebelum kota Jaipur dirancang dan dibangun. Amer berfungsi sebagai ibu kota kerajaan, sehingga benteng ini tidak hanya berperan sebagai pertahanan, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan dan kehidupan istana.
Pembangunan Amber Fort tidak terjadi dalam satu masa saja. Setelah Man Singh I, para penerusnya terus memperluas dan menyempurnakan kompleks ini selama beberapa generasi. Setiap penguasa menambahkan bangunan, halaman, dan paviliun baru sesuai kebutuhan dan selera zamannya. Karena itu, benteng ini memperlihatkan perpaduan arsitektur Rajput dan Mughal, terlihat dari penggunaan batu pasir kuning, marmer, gerbang besar, halaman bertingkat, serta tata ruang yang simetris namun tetap mengikuti kontur bukit.
Letaknya di atas bukit bukan sekadar untuk estetika. Dari posisi ini, benteng memiliki pandangan luas ke sekeliling lembah dan ke arah Maota Lake di bawahnya. Danau tersebut dulunya berfungsi penting sebagai sumber air utama bagi benteng dan kota Amer. Kombinasi ketinggian, dinding tebal, dan jalur masuk yang berlapis membuat Amber Fort sulit ditembus musuh, sekaligus nyaman sebagai kediaman keluarga kerajaan.
Pada awal abad ke-18, pusat kekuasaan kerajaan Kachwaha dipindahkan ke kota baru yang lebih terencana, yaitu Jaipur, oleh Maharaja Sawai Jai Singh II. Sejak saat itu, Amber Fort tidak lagi menjadi istana utama, meskipun tetap digunakan untuk kegiatan tertentu dan upacara kerajaan. Perlahan, perannya berubah dari pusat kehidupan politik menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.
Begitu berdiri di bawah benteng, aku benar-benar terdiam beberapa saat. Ukurannya jauh lebih besar dari bayanganku. Dindingnya menjulang tinggi, memanjang mengikuti kontur bukit, warnanya cokelat keemasan dengan bekas waktu yang jelas terlihat di setiap sudut. Aku sempat berhenti dan berfoto di bawah, sekadar ingin mengabadikan momen berdiri kecil di hadapan bangunan raksasa yang sudah bertahan ratusan tahun ini. Dari posisi itu saja, Amber Fort sudah terasa sangat megah dan sedikit mengintimidasi.
Sore itu ternyata bukan cuma kami yang datang. Banyak sekali warga lokal yang juga baru mulai naik ke atas, sepertinya ini waktu favorit untuk berkunjung karena matahari sudah tidak terlalu terik. Perempuan-perempuan dengan sari warna cerah, keluarga yang membawa anak-anak, pasangan muda, semuanya bergerak perlahan menaiki jalur yang sama. Seperti biasa di India, kami cukup sering dilihatin. Ada yang sekadar menoleh penasaran, ada yang tersenyum, ada juga yang berani minta foto bareng. Sudah jadi hal yang hampir rutin setiap kali kami jalan di tempat wisata.
Di sepanjang jalur naik, ada cukup banyak pengemis. Beberapa duduk diam di pinggir tembok sambil menadahkan tangan, sebagian lain berjalan pelan mengikuti arus pengunjung. Ada yang membawa anak kecil, ada yang sudah tua. Rasanya campur aduk. Di satu sisi aku sedang menikmati keindahan sejarah dan arsitektur, di sisi lain realitas sosial terasa sangat dekat dan nyata, bahkan sebelum kami benar-benar masuk ke dalam.
Tangga demi tangga kami lewati. Jalurnya landai tapi panjang, dibatasi dinding batu rendah di kiri kanan. Dari sini, pemandangan mulai terbuka. Di belakang, terlihat kawasan permukiman di kaki bukit, rumah-rumah kecil dengan warna kusam, menyatu dengan lanskap kering Rajasthan. Di kejauhan, tembok panjang benteng terlihat membentang mengikuti kontur bukit, seperti ular batu yang melingkari perbukitan.
Setelah melewati jalur naik, kami tiba di sebuah lapangan luas di dalam kompleks benteng. Area ini terasa seperti halaman penyambutan. Ruang terbuka lebar dengan lantai batu, dikelilingi bangunan-bangunan tua berwarna pasir. Orang-orang duduk, berjalan santai, anak-anak berlarian, sebagian berfoto dengan latar dinding benteng.
Lapangan ini bernama Jaleb Chowk. Di masa lalu, inilah alun-alun utama di dalam Amer Fort. Tempat berkumpulnya pasukan, lokasi apel militer, sekaligus area penyambutan tamu dan rombongan kerajaan yang baru tiba dari luar benteng. Letaknya memang strategis, tepat setelah akses tangga masuk, seolah menjadi ruang peralihan sebelum orang benar-benar masuk ke jantung istana. Secara tata ruang, Jaleb Chowk dibuat sangat luas dan terbuka. Bukan tanpa alasan. Area ini dulu harus mampu menampung banyak orang, pergerakan pasukan, bahkan gajah-gajah kerajaan. Dari sini, barulah akses menuju bagian-bagian istana yang lebih privat terbuka ke atas dan ke dalam.
Di Jaleb Chowk ini kami sempat berhenti cukup lama. Bukan cuma karena capek setelah naik, tapi karena suasananya memang hidup. Saat aku berdiri agak ke tengah lapangan, tiba-tiba sekelompok orang lokal menghampiri. Mereka tersenyum, sedikit malu-malu, lalu minta foto bersama. Aku mengangguk sambil tertawa kecil. Momen seperti ini selalu terasa hangat. Bukan sekadar turis dan tempat wisata, tapi pertemuan singkat antar manusia yang sama-sama penasaran satu sama lain.
Dari sisi lapangan, pandangan terbuka ke arah luar benteng. Dari ketinggian ini, kota Amer terlihat jelas. Rumah-rumah berwarna pucat dan pastel menyebar di kaki bukit, bertumpuk rapat mengikuti kontur lembah. Di kejauhan, dinding benteng memanjang mengikuti punggungan bukit, seperti ular batu yang melilit perbukitan kering Rajasthan. Garis tembok itu tegas, panjang, dan terasa sangat defensif, mengingatkan bahwa tempat ini dulu dibangun bukan hanya untuk keindahan, tapi untuk bertahan hidup.
Di seberang lapangan, tampak sebuah bangunan berwarna putih pucat dengan lengkungan-lengkungan tinggi dan lampu gantung di tengah ruangannya. Bangunan ini adalah Chand Pol, atau Moon Gate, gerbang penting yang dahulu menjadi pintu masuk utama bagi masyarakat umum ke dalam kompleks istana. Di lantai atas gerbang ini dulu terdapat Naubat Khana, ruang musik kerajaan tempat genderang dan alat musik dibunyikan pada waktu-waktu tertentu sebagai penanda ritual, upacara, atau peristiwa penting. Musik di sini bukan sekadar hiburan, tapi bagian dari sistem istana yang penuh aturan dan simbol.
Sebelum naik ke lantai dua, kami melewati area transisi di bawah gerbang ini. Orang-orang duduk di bangku batu, melepas alas kaki, berbincang santai. Anak-anak berlarian tanpa beban, sementara wisatawan mondar-mandir mencari sudut foto terbaik. Ruang ini terasa seperti jeda. Bukan lagi gerbang luar, tapi belum sepenuhnya masuk ke area istana yang lebih privat.
Dari lapangan besar itu, kami mulai naik tangga batu yang mengarah ke bagian atas kompleks. Dari atas, pemandangan lapangan tadi terlihat makin jelas. Bentangan batu yang luas, pohon-pohon kecil yang ditanam simetris, dan orang-orang yang bergerak perlahan di bawah sana membuat tempat ini terasa hidup, bukan sekadar situs sejarah yang beku.
Begitu sampai di atas, kami masuk ke area yang lebih “istana”. Di sinilah nuansa Amber Fort benar-benar terasa sebagai kediaman kerajaan, bukan cuma benteng. Bangunan-bangunan mulai lebih halus detailnya. Dinding berwarna kuning keemasan dengan sentuhan merah muda, lorong-lorong panjang dengan lengkungan khas Rajput, dan paviliun kecil beratap kubah yang berdiri anggun di sudut-sudut halaman. Paviliun-paviliun ini dulu digunakan sebagai tempat berteduh, menunggu, atau sekadar menikmati angin sore sambil memandang ke arah lembah dan Maota Lake.
Kami berjalan menyusuri balkon dan selasar atas, dari sini terlihat jelas perbukitan Aravalli di kejauhan, lengkap dengan tembok panjang yang menjalar mengikuti punggungan bukit. Dari sudut tertentu, tembok itu tampak seperti ular raksasa yang memeluk bukit-bukit kering Rajasthan. Angin bertiup cukup kencang di bagian atas ini, membawa sedikit debu, tapi juga memberi rasa sejuk yang sangat menyenangkan setelah berjalan naik.
Di salah satu sisi, kami melewati bangunan aula besar yang dulunya berfungsi sebagai ruang audiensi publik, tempat raja bertemu rakyat atau menerima tamu penting. Ruang ini terbuka, penuh pilar, dan terasa megah tanpa harus berlebihan. Tak jauh dari situ, terlihat gerbang besar dengan ornamen lukisan dan motif bunga. Gerbang ini adalah salah satu pintu menuju bagian paling privat dari istana, area kediaman raja dan keluarga kerajaan.
Di sinilah kami menemukan satu area yang untuk masuk ke dalamnya harus membeli tiket tambahan sekitar 500 Rupee per orang. Dari luar saja sudah terlihat bahwa itu adalah bagian istana dengan interior paling mewah, terkenal dengan hiasan cermin, lukisan detail, dan dekorasi halus. Namun kami hanya saling pandang dan tertawa kecil. Rasanya sudah cukup. Dari luar pun kami sudah merasa puas. Cahaya sore yang jatuh di dinding-dinding tua, bayangan kubah kecil, dan pemandangan lapangan luas di bawah sana sudah memberi pengalaman yang lengkap.
Tak jauh dari situ, kami melewati sebuah bangunan berwarna lebih terang, dominan putih, dengan halaman kecil dan air mancur di tengahnya. Area ini dulunya merupakan bagian dari ruang hunian dan tempat bersantai keluarga kerajaan. Air mancur di tengah halaman berfungsi sebagai pendingin alami, membantu menurunkan suhu udara di sekitarnya. Dikelilingi serambi beratap dan pilar-pilar ramping, tempat ini terasa jauh lebih intim dibanding Jaleb Chowk yang luas dan terbuka. Bisa dibayangkan, di masa lalu, area seperti ini menjadi ruang istirahat, tempat berbincang, atau sekadar menikmati angin sore setelah aktivitas istana.
Dari lantai atas ini, kami kemudian mulai turun kembali ke area bawah. Tangga batu yang kami lewati cukup lebar, dengan pijakan yang sudah aus dimakan waktu. Di sinilah sifat extrovert Fredo kembali bekerja dengan sempurna. Saat kami berhenti sejenak di salah satu bangku, ia dengan santainya mengajak ngobrol sebuah keluarga India yang sedang beristirahat juga. Obrolan mengalir ringan, dari asal kami, perjalanan kami di India, sampai rencana liburan mereka hari itu.
Mereka sangat ramah. Bahkan sempat mengundang kami untuk mampir ke rumah di Kota Jaipur. Sebuah tawaran yang terasa tulus dan hangat, meskipun akhirnya Fredo menolak dengan halus karena hari sudah semakin sore. Anak perempuan mereka cantik sekali, dengan mata besar dan senyum malu-malu. Kami sempat berbincang cukup lama sebelum akhirnya berpisah, saling melambaikan tangan dengan perasaan hangat yang anehnya menetap cukup lama.
Perjalanan turun menuju gerbang keluar terasa lebih santai. Di sepanjang jalur, kami mulai sering bertemu monyet-monyet liar yang duduk santai di tembok, atap, dan sudut-sudut bangunan. Mereka terlihat begitu terbiasa dengan manusia, mengamati setiap orang yang lewat dengan ekspresi waspada tapi malas. Beberapa melompat ringan dari satu dinding ke dinding lain, sementara yang lain duduk diam menikmati sore.
Semakin ke bawah, pemandangan Danau Maota mulai terbuka lebar. Airnya tenang, memantulkan cahaya langit sore yang lembut, dengan perbukitan kering mengelilinginya seperti pelukan raksasa. Benteng Amber berdiri kokoh di atas segalanya, sementara danau dan lembah di bawahnya menciptakan kontras yang menenangkan. Suasana saat itu terasa sangat damai. Hanya angin, cahaya sore, perbukitan, dan rasa puas setelah berjalan jauh menyusuri sejarah berabad-abad.
Tanpa terasa, matahari sudah hampir tenggelam di balik perbukitan Aravalli, meninggalkan semburat jingga keemasan di langit Jaipur. Siluet benteng yang megah tampak semakin dramatis, berdiri kokoh dengan pantulan cahaya senja di dindingnya. Di jalan keluar, masih terlihat rombongan ibu-ibu bersari warna-warni, langkah mereka perlahan, kainnya berkibar lembut diterpa angin sore. Pemandangan itu bikin Jaipur terasa begitu hidup, indah sekaligus sederhana.
Perjalanan turun menuju gerbang keluar terasa jauh lebih santai. Di sepanjang jalur batu yang menurun, kami mulai benar-benar berbagi ruang dengan penghuni asli benteng ini yaitu monyet abu-abu India, atau langur. Tubuhnya ramping, bulunya abu-abu keperakan dengan wajah dan tangan berwarna hitam pekat. Mereka duduk berjejer di atas tembok bergerigi, di kubah kecil, bahkan di pagar pembatas jalan, seperti penjaga benteng yang sudah kelelahan bertugas berabad-abad. Langur-langur ini memang banyak di Amber Fort karena kawasan perbukitan, pepohonan, dan bangunan tua menyediakan tempat berlindung alami, sementara wisatawan—sadar atau tidak—membuat mereka terbiasa dengan kehadiran manusia.
Semakin ke bawah, pemandangan Danau Maota mulai terbuka lebar. Airnya tenang, memantulkan cahaya langit sore yang lembut, dengan perbukitan kering mengelilinginya seperti pelukan raksasa. Benteng Amber berdiri kokoh di atas segalanya, sementara danau dan lembah di bawahnya menciptakan kontras yang menenangkan. Suasana saat itu terasa sangat damai. Tidak ada tergesa-gesa, tidak ada kebisingan kota besar. Hanya angin, cahaya sore, perbukitan, dan rasa puas setelah berjalan jauh menyusuri sejarah berabad-abad.
Sesampainya di bawah, kami duduk sejenak di rerumputan. Melepas lelah, mengamati orang-orang yang berlalu, monyet yang masih setia mengawasi dari kejauhan, dan benteng yang kini berdiri sunyi di atas bukit. Tak ada rencana besar, hanya kesepakatan diam-diam bahwa hari ini sudah cukup penuh. Dari situ, kami pun memutuskan berjalan kembali ke penginapan—membawa pulang rasa tenang, debu batu di sepatu, dan potongan kecil India yang entah kenapa terasa hangat.
Di jalan pulang menuju hotel, sekitar lima ratus meter dari area benteng, kami kembali diingatkan bahwa India selalu punya kejutan kecil di sudut-sudut paling biasa. Di tengah jalan aspal yang tenang, seekor unta berjalan santai menarik gerobak sederhana, dipandu seorang pria tua berpakaian putih. Langkahnya pelan, anggun, seolah tidak tergesa oleh klakson motor atau lalu lintas di sekitarnya.
Pemandangan itu terasa kontras sekaligus sangat India: bangunan tua berwarna kuning kusam di belakangnya, motor dan pejalan kaki berbagi ruang, dan seekor unta yang masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar atraksi. Kami sempat memperlambat langkah, memperhatikan bagaimana masa lalu dan masa kini berjalan berdampingan tanpa canggung.
Sampai di hotel, kami tidak banyak melakukan apa-apa. Hanya membuka bermain HP, memanfaatkan Wi-Fi yang terasa seperti “kemewahan” setelah seharian offline. Kami browsing sebentar, update informasi, lalu rebahan untuk mengisi tenaga.
Malamnya, kami memutuskan makan di restoran hotel yang berada di lantai atas. Dari sana, pemandangan kota terlihat berbeda: Jaipur dalam balutan malam. Lampu-lampu jalan berkelip di kejauhan, membentuk garis-garis samar di antara bangunan tua. Udara lebih sejuk, angin malam membawa aroma gurun yang khas. Jika menoleh ke arah utara, samar-samar Amber Fort masih terlihat—sebagian dindingnya diterangi lampu kuning temaram, membuat benteng itu tampak anggun, seolah masih berjaga di atas bukit sejak ratusan tahun lalu.
Kami makan malam sederhana sambil menikmati pemandangan itu, lalu memutuskan tidur lebih awal. Besok, agenda kami adalah menjelajahi kota Jaipur sepenuhnya, dan untuk itu, tubuh harus benar-benar segar.
Thank you Amer Fort, you are so beautiful !
Part Selanjutnya : DISINI




0 comments:
Posting Komentar