-
Assalamualaikum Oman
Kisah Perjalananku ke Oman -
KISAH PERJALANANKU DI RUSIA
Aurora, Huskey, Suku Samii, St. Petersburg dan Moscow -
KISAH PERJALANANKU DI EROPA
Islandia, Belanda, Italia, Yunani -
KISAH PERJALANANKU DI HAWAI'I
Eksplor Pulau Oahu
2.16.2016
Hutan Kera Nepa 10 September 2015: Dilarang mengambil kera!
Air Terjun Toroan 10 September 2015: Setitik kesegaran di gersangnya Pulau Madura
Saya masih duduk dan menikmati pemandangan sejenak disini. Sebenarnya ingin sekali menyaksikan sunset, tetapi karena keterbatasan waktu (perjalanan kembali ke Surabaya memakan waktu 3 jam) saya memutuskan segera jalan pulang setelah puas menikmati kesejukan Air Terjun Toroan. Sungguh, traveling selalu mengajarkan saya untuk selalu bersyukur dan menghargai hidup beserta semua elemen yang Tuhan berikan pada kita.
2.08.2016
Solo 8 Februari 2016: RUSSIA
UPDATE:
23 AGUSTUS 2016
I Got the Ticket!!!!!
Oh my God, I still can't believe it.
Pada suatu malam yang biasa saja, tetiba salah satu teman travelingku mengirimkan pesan via whats app. Memberi informasi tentang promo tiket ke Moscow, Russia lewat traveloka. Hanya 5 jutaan PP dari Kuala Lumpur. Untuk penerbangan ke Moscow, itu termasuk murah karena untuk tarif normal bisa sekitar 7-8 Juta PP dari Kuala Lumpur.
Aku bahkan masih tidak percaya sudah menekan tombol konfirmasi....
Dari sebuah impian sederhana, sekarang aku benar-benar harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk tahun depan pergi kesana.
Spasiba (Thank You), GOD!!
You really awesome!
Sementara perkembangan baru di tiket saja. Tiket Indonesia-KUL PP belum beli, nanti saja menunggu promo. Akan aku update jika ada perkembangan lagi. Jangan takut bermimpi ya, kawan!!
UPDATE : September 21, 2016
Europe is to close!
Ketika pertama kali aku melihat peta negara russia untuk membuat rencana perjalanan, aku melihat negara yang begitu luas dan besar.
"From east to west, Russia is 5,592 miles wide. The country has a total land mass of almost 6,600,000 square miles and spans two continents, Europe and Asia. It is the largest country in the world in terms of land area."
Pada perbatasan sebelah barat, aku melihat deretan negara Scandinavia seperti Norwegia, Finlandia dan negara-negara Eropa Timur seperti Estonia, Latvia, Belarus, serta Ukraina. Dari kota terakhir yang kukunjungi di Russia - St. Petersburg - negara-negara tersebut terlihat sangat dekat dan terjangkau. Aku mulai berpikir, kenapa tidak pergi kesana juga? Aku mulai mencari informasi negara-negara di Eropa Timur yang tidak membutuhkan visa bagi Warga Negara Indonesia. Aku menemukan nama negara Armenia dan Belarusia.
Aku mengusulkan kepada calon travelmate, bagaimana kalau kita sekalian mengunjungi Armenia? Sekilas aku melihat negara ini dari google, aku menjumpai negara yang sangat cantik dengan perbukitan dan kastilnya. Negara ini bahkan jarang terdengar namanya di Indonesia, mungkin malah banyak yang tidak tahu lokasinya dimana.
Travelmate setuju, malah beranggapan kita bisa sekalian mengunjungi Eropa Timur yang memiliki kastil-kastil indah. Aku mulai bersemangat! Eropa Timur? Oh, benarkah aku akan merencanakan kesana? Impian yang mungkin sudah kupendam bertahun-tahun. Aku seakan takut membayangkannya.
Aku mulai mencari-cari informasi negara di Eropa Timur yang memiliki kastil-kastil cantik, dan pandanganku tertuju ke Republik Ceko, tepatnya kota Prague. Beberapa orang yang berkeliling Eropa selalu memuji-muji Prague dengan keindahan arsitektur kotanya.
Aku mulai melihat peta Eropa lagi, Eropa Barat terlihat terlalu dekat, serta tiket pesawat murah antar kota di Eropa bertebaran. Aku menatap Italia, mengusulkan nama Roma dan Vatikan kepada travelmate. Alternatif adalah Perancis. Kami mempunyai waktu sangat singkat dengan begitu banyak rencana, klasik khas gaya jalan saya dengan travelmate saya ini.
Dia Setuju!!
Sekarang ini aku masih berjuang mengumpulkan uang saku dan persiapan untuk membuat visa. Semoga semuanya berjalan lancar. Terimakasih Tuhan!
UPDATE : November 2, 2016
France is too hard to be missed!
Plan has changed!
What was that??
I decided to skip Czech Republic and choosed France as alternate. Why so suddenly? Well, because I though France was really hard to be missed!
How can I visit those Collosseum, Oblique Tower, Vatican City, without visit Eiffel Tower, Louvre Museum and Notre Damme Cathedral also? It is too close, and airplane ticket cost only 30 USD from Paris to Rome. I can't missed it.
I want to hike Eiffel Tower until it's peak and see Paris City from above. It cost 17 euro. I want to see Leonardo Davinci's most famous work, MONALISA, I want to hang out in outdoor cafe in Paris. I'm so excited!!
Here are my new rough itinerary:
2.07.2016
Pulau Noko 18 Oktober 2015: Keindahaan Sebuah Penerimaan
1.28.2016
BROMO 25 Maret 2014: Tersesat di Kegelapan Lautan Pasir Tengger
Kami – aku dan Arin – menghabiskan malam di sebuah penginapan sederhana di Desa Cemoro Lawang bertarif Rp 150.000/malam/kamar. Desa Cemoro Lawang merupakan titik terakhir yang bisa digunakan para wisatawan untuk bermalam sebelum menyaksikan sunrise di Puncak Penanjakan keesokan subuhnya. Di Desa Cemoro Lawang juga inilah para pemburu sunrise bisa memesan/melakukan booking jeep yang bisa mereka gunakan untuk menjelajah Lautan Pasir Tengger esok pagi. Bagi kami yang ingin berhemat, cukup dengan sepeda motor Supra Fit. Aku yakin sepeda motor ini bisa berjalan di Lautan Pasir Tengger.
Udara sore maupun malam di Cemoro Lawang pada bulan Maret benar-benar dingin sampai menggigit tulang. Selepas meletakkan barang-barang dan membersihkan diri, dengan balutan selimut tebal aku sempatkan keluar dan duduk di balkon tingkat dua untuk menikmati pemandangan. Muka langsung beku begitu duduk di luar, tapi entah kenapa aku tidak ingin masuk. Sembari menarik nafas dalam-dalam, aku mulai berpikir alangkah hebatnya orang-orang di sini yang bisa menahan dingin seperti ini setiap hari.
Sembari duduk menikmati pemandangan, sayup-sayup aku mendengar alunan Bahasa Sansekerta yang melantun dengan merdu dari sebuah pengeras suara nun jauh di sana. Aku sempat mengira suara tersebut adalah suara pengajian dari masjid. Setelah aku telaah sesaat, aku tahu bahasa tersebut bukan Bahasa Arab yang biasa digunakan saat pengajian atau shalat, melainkan Bahasa Sansekerta. Segera aku sadar, bahwa di Kawasan Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru ini berdiam Suku Tengger, salah satu suku yang diyakini merupakan keturunan langsung dari Kerajaan Majapahit dan memeluk Agama Hindu sebagai kepercayaan utama mereka. Aku memberi hormat dalam hati, menikmati setiap lantunan Bahasa Sansekerta yang menyusup sampai ke relung hati.
Malam harinya, kami sempat keluar untuk makan malam dan mencari bensin untuk persiapan menuju Puncak Penanjakan esok pagi. Aku juga sempat membeli sarung tangan karena lupa membawa. Kami tidur awal untuk menjaga stamina karena esok harus bangun subuh-subuh.
Jam 3 pagi, aku sudah terbangun. Setelah membersihkan diri, aku segera bersiap menggunakan pakaian setebal mungkin untuk berangkat ke Puncak Penanjakan. Badan aku tak bisa berhenti menggigil karena tusukan udara dingin yang begitu menggigit. Setelah Dataran Tinggi Dieng, aku rasa di Kawasan Tengger inilah aku merasakan dingin yang begitu menggigit. Setiap tarikan nafas membuat bagian ujung hidung aku linu dan mengeras, setiap bersentuhan dengan air serasa tertusuk ratusan jarum. Namun aku berusaha mengalahkan semua itu dan menetapkan satu tujuan, Puncak Penanjakan.
Langit masih gelap gulita ketika aku dan Arin memacu motor menuju Lautan Pasir Kaldera Tengger. Tidak ada yang bisa kami lihat selain pasir yang tersorot oleh lampu depan motor. Jeep-jeep yang sudah dipesan (kebanyakan oleh turis mancanegara) terlihat sudah bersiap-siap berangkat. Awalnya, aku tidak merasa takut. Karena aku yakin, aku bisa jalan beriringan dengan jeep. Aku yakin, jalan pasir yang biasa dilalui jeep akan menjadi keras dan bisa dilalui motor aku. Ternyata, aku salah total.
Belum 500 meter kami berjalan, kami sudah tak tahu arah! Semuanya hitam, gelap, dan seakan tak berujung. Kami tidak menjumpai jeep seperti yang kami harapkan. Justru kegelapan tak berujung yang entah kemana. Oh sial, kami telah tersesat!
Aku berhenti sesaat dan berdiskusi dengan Arin, apakah ini benar jalan ke Puncak Penanjakan. Kalau iya, kenapa tidak ada satu pun jeep yang kami jumpai dari tadi. Kenapa lampu jeep yang berwarna kuning pucat malah terlihat di kejauhan sana? Ketakutan mulai menjalar ke tubuh aku. Kami ini kemana??
Di tengah ketakutan dan kebingungan, aku mendengar sayup-sayup suara bapak-bapak yang memanggil kami. Aku semakin takut, jika dia adalah kriminal, aku sudah pasrah. Aku hanya berharap, niat baik kami ke sini bisa dipahami oleh Lautan Pasir Tengger dengan tidak membiarkan hal buruk terjadi pada kami.
“Mbak...mbak....mau kemana?”
“Mau ke Puncak Penanjakan, Pak.”
“Wah, kalian salah jalan. Ini jalan ke arah Tumpang (ke arah Malang). Kalau jalan ke Puncak Penanjakan lewat sana. Mari saya antar.”
Awalnya kami sempat menolak menggunakan pemandu karena akan menambah beban biaya dan mengurangi sense of adventure. Tetapi prinsip seperti itu terkadang tidak bisa diaplikasikan di lapangan, di lautan pasir luas seperti ini, di kegelapan total seperti ini. Setelah berunding tarif singkat, kami sepakat untuk memberi bapak itu Rp 50.000 untuk mengantarkan kami sampai ke Puncak Penanjakan. Aku tetap berboncengan dengan Arin, sementara bapak itu berjalan di depan kami, menunjukkan jalan yang benar.
Anggapan aku bahwa jalan bekas jeep itu keras dan bisa dilalui dengan mudah oleh motor ternyata salah juga. Jalur tersebut tetaplah berupa pasir lunak yang menenggelamkan ban motor aku setiap saat. Jeep-jeep melesat dengan leluasa di samping kami, seperti menertawakan motor aku yang tersengal-sengal melawan gundukan pasir. Aku menertawakan pikiran aku yang pada awalnya sempat ingin berjalan beriringan dengan jeep untuk menuju Puncak Penanjakan. Jeep yang berjalan setengah jam setelah kami saja melesat mendahului kami dengan leluasa, bagaimana mau berjalan beriringan? Yang ada kami disundul jeep, bukan mengiringi jeep.
Gundukan pasir semakin tinggi, kemudian setelahnya turunan yang cukup tajam. Bisa ditebak, aku dan Arin terjatuh. Untung saja motor tidak menimpa kami. Bapak pemandu jalan yang tahu segera menyarankan supaya Arin membonceng dia saja. Aku menyarankan hal serupa, sehingga akhirnya Arin berboncengan motor dengan pemandu, aku sendirian.
Kebiasaan menjadi pemandu rupanya membuat bapak itu melaju dengan leluasa di gundukan pasir Kaldera Tengger. Aku semakin jauh tertinggal di belakang karena masih jalan dengan motor tersengal-sengal. Kekhawatiran aku semakin menjadi ketika aku mulai kehilangan jejak bapak pemandu dan Arin. Tapi aku berusaha sabar dan kuat, aku tetap mengegas motor dengan tangan yang sudah sekaku mayat. Aku sudah tidak bisa merasakan tangan aku lagi. Rasanya begitu sakit ketika digunakan untuk mengegas motor.
Setengah jam bergumul dengan jalan gundukan pasir, kami akhirnya menjumpai jalan aspal yang mengarah ke atas. Aku lega sekali ketika menjumpai jalan ini, karena tidak harus berjuang dengan gundukan pasir lagi. Jalan aspal ini merupakan jalan utama untuk menuju Puncak Penanjakan. Kami harus melalui sekitar 2 kilometer ke atas untuk sampai ke tempat parkir Puncak Penanjakan.
Sampai di tempat parkir, kami masih harus jalan kaki sekitar 10 menit untuk sampai ke Puncak Penanjakan. Karena tangan aku yang semakin kram dan tidak terasa, aku mampir warung kopi untuk menyeruput secangkir coklat panas dan memanaskan tangan. Tangan aku langsung kesemutan begitu panas dari anglo menjalar. Ahh, begitu nikmat arti sebuah udara panas di sini. Betapa aku sering mengomel udara terlalu panas ketika sedang di rumah.
Selesai menghangatkan diri, kami melanjutkan perjalanan ke atas. Banyak sekali wisatawan lokal maupun mancanegara yang mengunjungi Puncak Penanjakan, bahkan menurut pengamatan aku turis mancanegara lebih mendominasi. Kami sampai di atas pukul 4.00 dan segera mencari tempat terbaik di antara ratusan orang untuk menyaksikan sunrise.
Menunggu matahari terbit di tengah udara dingin Puncak Penanjakan sepertinya memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Aku terus menggigil sembari meremas-remas tangan. Langit masih gelap gulita, dengan lukisan Perbukitan Tengger yang gagah menjulang. Aku terus menunggu pertunjukan alam yang sebentar lagi akan tersaji di depan mata aku. Sunrise.
Perlahan demi perlahan, semburat jingga kekuningan mulai muncul di belakang perbukitan. Semburat ini semakin lama semakin terang dan membesar, seakan mengungkap keagungan ciptaan Tuhan selembar demi selembar. Para turis mancanegara maupun lokal mulai sibuk mengarahkan kamera masing-masing. Semua yang hadir seakan tidak mau terlewatkan momen sedikitpun saat sang raja tata surya mulai naik ke peraduan.
Dipadu dengan semburan angin dingin pegunungan, perlahan demi perlahan matahari mulai terlihat. Sinar yang dipancarkan sangat indah, mengusir semua kegelapan dan kekosongan yang ada di depannya. Semuanya takjub, kagum, dan tak bisa melepas mata. Ini sangat indah!
1.19.2016
Air Terjun Madakaripura, 24 Maret 2014: Persinggahan Terakhir Patih Gadjah Mada
Air terjun tertinggi di Jawa. Itulah gelar yang disematkan pada Air Terjun Madakaripura yang berlokasi di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dengan ketinggiannya yang mencapai 200 meter, Madakaripura hanya kalah tinggi dari Air Terjun Sigura-gura yang berada di Sungai Asahan, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara dengan ketinggian 250 meter.
Perjalananku ke sini sebenarnya berawal dari ketidaksengajaan. Awalnya aku sedang memegang tugas hidup yang sangat penting di Pasuruan (mengambil data skripsi–red). Kebetulan ada teman dari Jogja (Arin) yang berencana akan menemaniku mengambil data skripsi, kemudian kami berencana akan mengunjungi Gunung Bromo setelahnya. Perjalanan dari Pasuruan ke Gunung Bromo mengantarkan kami mampir sejenak ke Air Terjun Madakaripura. Air Terjun Madakaripura ini sendiri sudah berada pada kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Kami sampai di Air Terjun Madakaripura pukul sepuluh, kemudian membayar Rp 3.000 untuk tiket masuk dan menitipkan tas besar serta helm di warung setempat. Sewaktu mengisi perut untuk persiapan trekking menuju air terjun utama, kami sempat didesak oleh para guide lokal yang terus memaksa untuk menggunakan jasa mereka. Aku dan Arin menolak tegas karena kami rasa bisa melalui jalur trekking via sungai tersebut. Sebenarnya pemerintah Kabupaten Probolinggo sudah cukup berbaik hati dengan menyediakan jalur untuk jalan kaki dari tempat parkir ke air terjun utama, tetapi karena berbagai hal, jalan tersebut banyak yang runtuh sehingga pada beberapa titik kami harus berjalan lewat sungai yang (cukup) deras di bagian bawah (info tahun 2014).
Oya, ketika sampai di tempat parkir air terjun, kami akan menjumpai arca Patih Gajah Mada yang sedang bersemedi. Menurut penduduk setempat yang diambil dari cerita zaman dahulu, kata Madakaripura mempunyai makna “tempat terakhir”. Konon, Patih Gajah Mada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di goa dekat air terjun utama.
Kami memulai perjalanan trekking ke Air Terjun Madakaripura. Karena jalan dekat tempat parkir rusak, sejak awal trekking kami harus melewati aliran hilir sungai yang cukup deras dengan bebatuan andesit besar yang terhampar tak karuan. Baru beberapa langkah berjalan di air sungai yang dingin, kami terperosok, dan aku menyarankan Arin supaya menggunakan pemandu saja. Arin awalnya menolak. Tapi aku tidak mau mengambil risiko, jalan terlalu berbahaya dan licin.
Memakai pemandu membuat suasana trekking menjadi lebih aman. Sungai ini dipeluk oleh punggung-punggung bukit yang begitu tinggi. Hujan yang masih mengguyur sebagian besar Probolinggo telah menyebabkan tanaman tumbuh menghijau dengan begitu rimbun. Air sungai bergemericik, berusaha meloloskan diri melalui celah-celah bebatuan yang mungkin telah melalui perjalanan jauh dari gunung sana. Burung-burung berkicau bahagia. Memang udara segar, air bersih melimpah, serta makanan yang melimpah ruah menjadikan kawasan ini tempat tinggal yang sempurna untuk makhluk hidup.
Kami meneruskan perjalanan menuju air terjun utama. Beberapa kali kami harus berjalan menyeberang sungai karena jalan trekking ambruk. Kemungkinan diserang banjir karena konstruksinya tidak terlalu kuat. Beberapa kali aku maupun Arin hampir terjatuh, tetapi pemandu kami dengan sigap segera menangkap. Memang untuk penyusur sungai pemula sepertiku, medan ini masih terlalu berat. Setidaknya kami harus berjalan sekitar 1 kilometer untuk bisa melihat kenampakan air terjun utama yang merupakan tertinggi di Jawa.
Di balik air terjun utama, terdapat sebuah goa yang merupakan tempat Patih Gajah Mada bersemedi sebelum akhir hayatnya. Goa tersebut sangat sulit untuk dicapai karena untuk ke sana kita harus melewati kolam air tempat jatuhnya air dengan kedalaman 7 meter dan arus air yang sangat deras. Menurut cerita dari pemanduku, pernah ada kasus orang tewas di kolam itu karena dikira kedalamannya dangkal. Kami cukup berhati-hati untuk tidak terlalu mendekat dengan kolam tersebut.
Perjalanan trekking kembali mengajarkanku tentang satu hal: bahwa manusia terlihat begitu kecil di hadapan Sang Pencipta. Alam ini begitu baik mengizinkan kita untuk melihat keelokannya. Haruslah rasa syukur dan rendah hati senantiasa terus berkembang di ketulusan hati yang paling dalam.















