Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

2.16.2016

Hutan Kera Nepa 10 September 2015: Dilarang mengambil kera!

Perjalanan saya di Madura berlanjut ke Hutan Kera Nepa. Sebuah hutan di pesisir Laut Jawa yang sarat cerita sejarah.

Beberapa kilometer keluar dari Air Terjun Toroan (pada Jalan Sampang - Ketapang - Banyuates), sementara berkendara santai di atas motor, sudut mata saya melihat ada plang bertuliskan "Hutan Kera Nepa". Menurut beberapa sumber yang saya baca, lokasi Hutan Kera Nepa ini ternyata masih satu kawasan dengan Air Terjun Toroan. Hutan Kera Nepa terletak di Desa Nepa, Kecamatan Banyuates. Saya mengarahkan motor mengikuti petunjuk plang tersebut dan kebingungan karena saya malah mutar-mutar di perkampungan dengan jalan sempit.

Saya pesimis. 

"Masak hutan ada di tengah kampung begini? Tetapi plang-nya benar menunjukkan ke arah sini kok."

Akhirnya setelah bertanya kepada seorang bapak, saya pun sampai di Hutan Kera Nepa. Ternyata Hutan Kera Nepa ini memang terletak di ujung kampung, pada pesisir Laut Jawa Utara. Saat kami datang suasana sangat sepi, tak ada wisatawan sama sekali padahal waktu itu sedang akhir pekan. Kami hanya perlu membayar Rp 3000 untuk biaya parkir motor, setelahnya masuk kesini gratis.

 Dilarang menebang pohon dan mengambil kera (GALUH PRATIWI)

Begitu memasuki gerbang bertuliskan Hutan Kera Nepa, saya sudah disambut oleh puluhan kera yang malu-malu mendekati saya. Mereka cukup jinak dan tidak agresif sama sekali. Tetapi saya tetap berhati-hati. Saya sudah tahu trik-trik kera seperti ini, dan menjaga semua bawang bawaan saya dengan super ekstra hati-hati. Hal yang menurut saya sedikit lucu, pada bagian depan gerbang terpampang larangan untuk "mengambil kera". Saya pikir siapa yang akan mencuri kera disini ya? 

Begitu memasuki hutan lebih jauh, di kiri kanan kami terhampar tumbuhan tropika yang menjulang tinggi dan rapat. Sinar matahari sore menyeruak melalui celah ranting dan dedaunan. Kami berjalan semakin ke dalam dan menikmati udara segar yang berhembus melalui dedaunan. Semakin ke dalam, jumlah monyet yang melirik-lirik kami semakin sedikit. 
Kera-kera jinak di Hutan Kera Nepa (GALUH PRATIWI)

 Bagian dalam Hutan Kera Nepa (GALUH PRATIWI)

Rimbunnya pepohonan di Hutan Kera Nepa (GALUH PRATIWI)

  Bangku-bangku kosong (GALUH PRATIWI)

Kera jinak dan tidak agresif (GALUH PRATIWI)

Fasilitas yang disediakan di dalam Hutan Kera Nepa ini sendiri menurut saya sudah cukup yakni terdapat beberapa bangku panjang dan tempat sampah. Sepenglihatan saya, tempat wisata ini sangat bersih hampir tak ada sampah sedikitpun, hanya guguran dedaunan yang menghampar luas.

Berdasarkan literatur yang saya baca, Hutan Kera Nepa ini ternyata bukan sekedar hutan dengan puluhan kera di dalamnya. Konon, di dalam hutan ini ada dua kelompok kera yang menempati dua bagian dari kawasan hutan yaitu sebelah utara dan selatan. Dua kawasan itu dibatasi oleh sebuah kayu yang dianggap sebagai tugu perbatasan. Mitos yang berkembang, masing-masing kelompok kera tidak akan mau menyeberangi atau melewati tugu tersebut kecuali ada kera yang sakit atau membutuhkan pertolongan untuk melahirkan. Mitos lainnya yang berkembang dari masyarakat sekitar, hutan ini merupakan merupakan tempat berpijaknya manusia pertama kali yang babat alas pulau madura bernama Bindoro Gong (pada abad XII-IX).
"Bindoro Gong merupakan pendatang yang mendirikan kerajaan pertama kali di Madura dan mewariskan kerajaannya kepada putranya bernama Raden Segoro (yang dimakamkan di tengah hutan dengan penanda/ nisan berupa kayu pohon). Karena Raden Segoro tidak mempunyai ahli waris maka sebelum meninggal dia menunjuk seorang pemimpin untuk menggantikannya. Karena merasa tidak puas dengan pemimpin yang baru maka kedua kelompok rakyat pun sering bertikai, Raden Praseno bersedih melihat hal ini dan akhirnya beliau membagi wilayah tersebut menjadi dua bagian,
Tapi dasar sifat manusia yang selalu kurang puas dengan apa yang didapatkannya mereka masih sering bertikai antara kelompok satu dengan yang lainya dan pada akhirnya membuat dewata marah dan mengutuk mereka menjadi monyet dan memberi penanda diantara batas wilayah tersebut dengan patok kayu (pohon) dan barang siapa melanggar batas kayu tersebut akan mendapat kutukan bertubi tubi kecuali yang melanggar untuk saling memberi pertolongan dan pengobatan (kera yang sakit dan akan melahirkan)."
Well, sejarah yang sangat menarik dari tempat wisata yang secara tidak sengaja saya temukan dan kunjungi. Saya selalu tertarik dengan tempat sederhana yang menyimpan banyak sejarah, dan Hutan Kera Nepa telah membuktikannya.

Air Terjun Toroan 10 September 2015: Setitik kesegaran di gersangnya Pulau Madura

Air terjun satu-satunya di Pulau Madura!

Gelar itulah yang disematkan pada Air Terjun Toroan yang membuat saya semakin penasaran kesini. Saya ingat, pertama kali mengetahui ada objek wisata bernama Air Terjun Toroan pada 2012 melalui sebuah link di Facebook. Melihat keelokan air terjun tersebut - dimana aliran airnya langsung terjun ke laut lepas - saya tertarik dan berjanji akan mengunjungi Air Terjun ini suatu saat nanti. Janji itu terpenuhi pada 10 September 2015.

Berbekal sepeda motor Suzuki Shogun 2004, uang 200 ribu, 3 buah pear, sebotol air minum dan seorang kawan, saya melarikan diri dari penat dan panasnya Kota Surabaya menuju Pulau Madura - yang sebenarnya malah lebih panas. Kami berangkat pukul 10 pagi dan menempuh perjalanan sekitar 108 km melewati Jalur Pantura Pulau Madura. Rute yang kami lewati yakni Surabaya - Jembatan Suramadu - Kota Bangkalan - Aermata - Klampis -Ketapang - Air Terjun Toroan. 

Rute Surabaya-Toroan

Sebenarnya untuk menuju Air Terjun Toroan ada 3 jalur. Jika dilihat pada gambar diatas, -bisa memilih jalur merah (jalur Pantura), jalur biru (jalur Kamal-Kalianget 1) ataupun jalur abu-abu (jalur Kamal-Kalianget 2). Tapi karena alasan belum pernah lewat Pantura, saya memutuskan akan lewat Pantura. Rute yang benar-benar menggosongkan kulit saya. Madura benar-benar panas! Apalagi kalau kita melakukan perjalanan tengah hari (kayak saya yang kurang kerjaan). 


Perjalanan saya sempat terhenti di sebuah rumah makan sederhana di pinggir jalan daerah Ketapang untuk makan siang ayam bakar. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 dan panas semakin menggila. Kami berteduh beberapa saat disini dan mengobrol dengan seorang bapak sebelum melanjutkan kembali perjalanan.

Sampai di Pasar Ketapang kami cukup kebingungan karena tidak ada petunjuk apapun mengenai Air Terjun Toroan (saat itu kami masih belum mengenal teknologi GPS - hahaha). Bertanya kepada beberapa orang (yang menurut saya mereka ramah sehingga saya bertanya-tanya letak galaknya orang Madura dimana), saya diberi petunjuk bahwa setelah pasar ini saya disuruh lurus terus ke arah timur sampai melewati 2 jembatan besar berwarna kuning. Pada jembatan kedua inilah Air Terjun Toroan berada. Kami mengikuti sarannya dan menemukan Air Terjun Toroan dengan cukup mudah.

Air Terjun Toroan ini memang tidak terlihat dari jalan. Ketika sudah sampai di jembatan kuning kedua, kita akan dihadapkan pada suatu turunan tanah yang cukup curam. Bagi yang membawa motor, bisa dititipkan di bawah (dekat pertambangan pasir) dengan biaya Rp 5000/motor. Dari parkir motor, kita cukup berjalan sekitar 200 meter ke arah barat untuk bisa menyaksikan keindahan air terjun ini.


 Air Terjun Toroan (GALUH PRATIWI)

  Tonjolan bebatuan gamping di sekitar Air Terjun Toroan (GALUH PRATIWI)

 Pohon tumbuh dengan subur di sekitar Air Terjun Toroan (GALUH PRATIWI)

                       Aliran Air Terjun Toroan langsung menuju ke laut (GALUH PRATIWI)

Begitu melihat Air Terjun Toroan saya benar-benar kaget! Madura yang begitu gersang dan panas ternyata memiliki objek wisata seindah ini! Meskipun Indonesia masih dilanda musim kemarau, limpahan air dari Sungai Sumber Payung yang membentuk Air Terjun Toroan ini masih cukup banyak. Dengan ketinggian air terjun mencapai 20 meter, limpahan air terdengar bergemericik merdu sebelum bermuara ke Laut Jawa. Tonjolan bebatuan gamping di sekitarnya melengkapi keindahan pemandangan. Pohon-pohon terlihat subur dan bahagia karena limpahan air yang menerus tanpa henti. Saya rasa, inilah surga Pulau Madura. Untuk bermain di sekitar Air Terjun saya rasa cukup aman karena tonjolan bebatuan gamping melindungi dari limpasan ombak Laut Jawa. Hanya jika ingin berenang di kolam pas di bawah air terjun saya sarankan hati-hati karena info yang saya dapat katanya cukup dalam.

Di tengah keindahan Air Terjun Toroan, saya melihat suatu ironi yang cukup menyayat hati. Perempuan dan laki-laki usia paruh baya sibuk bolak-balik mengambil pasir laut dengan keranjang ataupun ember kecil mereka. Disini memang dilakukan penambangan pasir laut tradisional. Para laki-laki bertubuh kekar sibuk mengeruk pasir dengan sekop mereka untuk diletakkan di tempat penampungan sementara, sementara para perempuan dan laki-laki lainnya mengangkutnya keatas. Jangan tanya, jalan yang harus mereka lewati adalah bebatuan gamping yang cukup tajam disana-sini. Semua itu mereka lakukan demi rupiah, demi menghidupi keluarga mereka. Saya mengamati semangat dan kelenturan mereka dalam membawa ember-ember pasir yang ditahan di kepala.


 Melawan ganasnya ombak Laut Jawa untuk mengeruk pasir (GALUH PRATIWI)

Mengangkut pasir dari tempat penampungan ke atas (GALUH PRATIWI)

 Mengangkut pasir dengan ember kecil (GALUH PRATIWI)

Saya masih duduk dan menikmati pemandangan sejenak disini. Sebenarnya ingin sekali menyaksikan sunset, tetapi karena keterbatasan waktu (perjalanan kembali ke Surabaya memakan waktu 3 jam) saya memutuskan segera jalan pulang setelah puas menikmati kesejukan Air Terjun Toroan. Sungguh, traveling selalu mengajarkan saya untuk selalu bersyukur dan menghargai hidup beserta semua elemen yang Tuhan berikan pada kita.
 Saya di Air Terjun Toroan (GALUH PRATIWI)

2.08.2016

Solo 8 Februari 2016: RUSSIA


"Believe....believe...believe..."

Lantunan lagu Justin Bieber berkumandang merdu dari speaker HP saya. Entah kenapa, saya selalu termotivasi ketika mendengar lagu berjudul "believe" ini. Karena bagi orang sepertiku - pemimpi - , kata "believe" atau percaya adalah salah satu pendorong/booster untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Karena tanpa kepercayaan kepada diri kita untuk mewujudkan mimpi tersebut, saya yakin, mimpi tersebut hanya akan menjadi angan-angan belaka sebelum tidur.

Saya masih ingat, ketika SMA saya mempunyai sebuah notebook yang berisi cerita-cerita perjalanan hidup saya. Mulai dari kegagalan saat mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Makassar pada 2008 sampai akhirnya berhasil dapat medali di OSN Jakarta 2009, cerita saat saya masuk UGM, mendapatkan beasiswa, cerita tentang mimpi-mimpi ke luar negeri, dan lain-lain. Di dalam buku tersebut saya menuliskan nama beberapa negara yang saya sangat ingin sekali mengunjunginya suatu saat nanti. Pada daftar tersebut, salah satunya tertulis nama RUSSIA.

Menurut saya, RUSSIA itu negara yang sangat eksotis, dingin, nun jauh di utara sana. Saya tertarik sekali ingin mengunjungi negara ini karena keanekaragaman budaya serta sejarah perang dunia II maupun komunisme di masa lalu. Selain itu, berdasarkan searching saya di internet, pembuatan visa Russia tidaklah sesulit visa USA/Schengen/Australia sehingga saya semakin optimis akan kesini. Selain itu lagi, nilai tukar rubel - mata uang Russia - sedang rendah (1 rubel sekitar Rp 178) sehingga saya tidak terlalu terkendala masalah perbedaan currency.

Saya merencanakan akan mengunjungi RUSSIA pada musim panas 2017, tepatnya bulan Juni-Juli, sewaktu libur Idul Fitri 2017. Untuk tiket kesana saya akan mengusahakan mencari tiket termurah menggunakan Turki Airlines KL-Moscow-KL (7 juta PP dengan transit di Turki). Kota yang ingin saya kunjungi adalah Moscow (beserta kota-kota kecil di sekitarnya yang sering disebut Golden Triangle), St. Pettersburg dan Murmanks (kota yang sudah hampir berada di Kutub Utara pada pesisir Laut Barents - mungkin saya bisa melihat Aurora Borealis). Rencana saya akan mengambil penerbangan yang transit di Turki-nya cukup lama supaya saya bisa jalan-jalan di Kota Istanbul juga. Untuk pemegang paspor WNI, pembuatan visa Turki cukup dengan VOA dan membayar 45 USD.

Saya sadar, tanpa uang trip ini akan mustahil untuk dilaksanakan. Oleh karenanya, saya terus memotivasi diri saya untuk menabung. Trik menabung saya adalah sebagai berikut: saya mempunyai 2 ATM (1 CIMB Niaga, 1 Bank Jatim). Uang yang ada di ATM CIMB Niaga saya gunakan untuk biaya hidup sehari-hari, sementara uang yang ada di ATM Bank Jatim saya gunakan untuk menabung. Setiap ada pemasukan di luar gaji, saya langsung masukkan di ATM Bank Jatim. Syukurlah sedikit demi sedikit, tabungan saya mulai bertambah. Saya merencanakan dalam waktu dekat akan menonaktifkan ATM Bank Jatim saya supaya tidak tergoda untuk comol-comol uang.

Doakan ya Fellas, mimpi saya benar terwujud, karena saya telah berusaha keras! See you and always be optimistic!! (smile) (smile) (smile)


UPDATE:
23 AGUSTUS 2016

I Got the Ticket!!!!!

Oh my God, I still can't believe it.






Pada suatu malam yang biasa saja, tetiba salah satu teman travelingku mengirimkan pesan via whats app. Memberi informasi tentang promo tiket ke Moscow, Russia lewat traveloka. Hanya 5 jutaan PP dari Kuala Lumpur. Untuk penerbangan ke Moscow, itu termasuk murah karena untuk tarif normal bisa sekitar 7-8 Juta PP dari Kuala Lumpur.

Aku bahkan masih tidak percaya sudah menekan tombol konfirmasi....

Dari sebuah impian sederhana, sekarang aku benar-benar harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk tahun depan pergi kesana.

Spasiba (Thank You), GOD!!

You really awesome!

Sementara perkembangan baru di tiket saja. Tiket Indonesia-KUL PP belum beli, nanti saja menunggu promo. Akan aku update jika ada perkembangan lagi. Jangan takut bermimpi ya, kawan!!


UPDATE : September 21, 2016
Europe is to close!

Ketika pertama kali aku melihat peta negara russia untuk membuat rencana perjalanan, aku melihat negara yang begitu luas dan besar. 

"From east to west, Russia is 5,592 miles wide. The country has a total land mass of almost 6,600,000 square miles and spans two continents, Europe and Asia. It is the largest country in the world in terms of land area."



Pada perbatasan sebelah barat, aku melihat deretan negara Scandinavia seperti Norwegia, Finlandia dan negara-negara Eropa Timur seperti Estonia, Latvia, Belarus, serta Ukraina. Dari kota terakhir yang kukunjungi di Russia - St. Petersburg - negara-negara tersebut terlihat sangat dekat dan terjangkau. Aku mulai berpikir, kenapa tidak pergi kesana juga? Aku mulai mencari informasi negara-negara di Eropa Timur yang tidak membutuhkan visa bagi Warga Negara Indonesia. Aku menemukan nama negara Armenia dan Belarusia.

Aku mengusulkan kepada calon travelmate, bagaimana kalau kita sekalian mengunjungi Armenia? Sekilas aku melihat negara ini dari google, aku menjumpai negara yang sangat cantik dengan perbukitan dan kastilnya. Negara ini bahkan jarang terdengar namanya di Indonesia, mungkin malah banyak yang tidak tahu lokasinya dimana.

Travelmate setuju, malah beranggapan kita bisa sekalian mengunjungi Eropa Timur yang memiliki kastil-kastil indah. Aku mulai bersemangat! Eropa Timur? Oh, benarkah aku akan merencanakan kesana? Impian yang mungkin sudah kupendam bertahun-tahun. Aku seakan takut membayangkannya.

Aku mulai mencari-cari informasi negara di Eropa Timur yang memiliki kastil-kastil cantik, dan pandanganku tertuju ke Republik Ceko, tepatnya kota Prague. Beberapa orang yang berkeliling Eropa selalu memuji-muji Prague dengan keindahan arsitektur kotanya.

Aku mulai melihat peta Eropa lagi, Eropa Barat terlihat terlalu dekat, serta tiket pesawat murah antar kota di Eropa bertebaran. Aku menatap Italia, mengusulkan nama Roma dan Vatikan kepada travelmate. Alternatif adalah Perancis. Kami mempunyai waktu sangat singkat dengan begitu banyak rencana, klasik khas gaya jalan saya dengan travelmate saya ini.

Dia Setuju!!


Rencana rute : KL - Hanoi - Moscow - St. Petersburg - Riga (Latvia) - Prague (Rep. ceko), Roma (Italia) - Vatican - Moscow - Ho Chi Minh City - KL

PS: Riga (Latvia) kami kunjungi jika ada waktu transit yang memungkinkan dari penerbangan St. Petersburg (Russia) - Prague (Rep. Ceko)

Bagaimana mungkin ini? Aku telah berani memutuskan pergi ke salah satu negara yang sudah menjadi impianku sejak aku kecil. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Mungkin emmang masih ada tembok visa yang menghadang, tapi aku cukup optimis.

Sekarang ini aku masih berjuang mengumpulkan uang saku dan persiapan untuk membuat visa. Semoga semuanya berjalan lancar. Terimakasih Tuhan!



UPDATE : November 2, 2016

France is too hard to be missed!

Plan has changed!
What was that??

I decided to skip Czech Republic and choosed France as alternate. Why so suddenly? Well, because I though France was really hard to be missed!

How can I visit those Collosseum, Oblique Tower, Vatican City, without visit Eiffel Tower, Louvre Museum and Notre Damme Cathedral also? It is too close, and airplane ticket cost only 30 USD from Paris to Rome. I can't missed it.

I want to hike Eiffel Tower until it's peak and see Paris City from above. It cost 17 euro. I want to see Leonardo Davinci's most famous work, MONALISA, I want to hang out in outdoor cafe in Paris. I'm so excited!!

Here are my new rough itinerary:



2.07.2016

Pulau Noko 18 Oktober 2015: Keindahaan Sebuah Penerimaan

Bagi saya, ketulusan Mama Tegar untuk mengundang dan menerima saya di rumahnya lebih bernilai daripada keindahan Pulau Noko yang ada di foto ini.
Pulau Noko (GALUH PRATIWI)
Sudah 3 jam lebih aku menunggu kapal yang akan menyeberangkanku ke Pulau Gili Timur tanpa hasil. Aku mendengus kesal. Matahari bersinar semakin garang, seakan tak mempedulikan para manusia yang memohon ampunan di bawahnya. Semakin siang, semakin banyak orang yang mengantri akan menyeberang ke Pulau Gili Timur. Mereka adalah orang-orang Pulau Bawean yang akan menghadiri pernikahan di Pulau Gili Timur. Saya diperbolehkan menumpang kapal gratis, dengan syarat, diangkut bersama rombongan paling terakhir.

Mama Tegar, itulah nama ibu yang sempat mengobrol dengan saya sembari menunggu kapal. Mama Tegar merupakan warga asli Pulau Gili Timur yang hari ini berkunjung ke Pulau Bawean untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Perawakannya yang tinggi besar berbanding terbalik dengan sifatnya yang begitu akrab saat mengajak saya mengobrol. Mama Tegar bertanya apa alasan saya ke Pulau Bawean. Saya berkata saya tidak tahu, saya hanya ingin mengunjungi Pulau Bawean, itu saja. Tetapi sebenarnya, di balik itu saya ingin melihat Indonesia secara lebih mendalam. Saya ingin mencari alasan, apa yang membuat masyarakat di pulau kecil ini masih mau bertahan di daerah yang notabene terpencil dan hampir dikatakan serba kekurangan.

Kawatir dengan nasib saya, Mama tegar mengajak saya menginap di rumahnya. Saya mengiyakan, karena memang tidak mempunyai rencana apapun. Saya akhirnya tidak jadi ikut kapal pernikahan, tetapi naik kapal rakyat dengan tarif 5ribu/orang. Perjalanan selama 1 jam yang membuat saya merinding disko karena ombak yang terus memukul-mukul kapal tanpa ampun. Pada beberapa kesempatan, cipratan air yang begitu tinggi sudah masuk ke tubuh kapal. Saya hanya bisa berpasrah, berharap Tuhan akan menyertai langkah saya.

Rumah Mama Tegar adalah sebuah rumah sederhana tanpa listrik maupun sinyal HP sepeserpun di pesisir Pulau Gili Timur. Saya tidak diperbolehkan melakukan apapun disini, saya tidak diperbolehkan membantu menyiapkan makanan, membantu mencuci piring, membantu mengangkut air, membantu apapun tidak boleh. Saat akan minum, saya diberikan air minum Club 1,5 liter yang mereka beli di Pulau Bawean, karena air disitu rasanya payau (mereka sendiri meminum air payau tersebut). Saat akan tidur, saya diberikan karpet khusus dengan bantal dan selimut tebal (padahal mereka tidur beralaskan tikar tipis di lantai). Saat saya memaksa membantu, saya malah dimarahi. Saya hanya disuruh duduk. Semua perlakuan istimewa itu membuat saya gundah dan merasa tidak enak, begitulah Mama Tegar.

Siangnya, suami Mama Tegar mengantarkan saya ke Pulau Manokan Aeng, sebuah pulau yang bisa dicapai dengan berjalan kaki ketika air laut surut. Katanya saya bisa diculik kalau jalan sendirian (hehehe ada-ada saja, saya pikir siapa yang akan menculik saya yang terlihat banget tidak punya uang ini). Sorenya, dengan kapal kecil mereka, Mama Tegar, suaminya dan kedua anaknya mengantarkan saya ke Pulau Noko, sebuah pulau kecil dengan pasir seputih tepung yang bisa dicapai dengan berjalan kaki ketika air laut surut. Karena sore itu air sudah pasang, kami harus menggunakan perahu klotok.

Pulau Noko adalah sebuah pulau kecil berukuran seperti lapangan sepakbola dengan pasir putih seperti tepung dan air biru bersih. Saya berlari-lari, berenang, mencari bintang laut, mencari rumput laut, ikan, kerang-kerang dengan anak-anak Mama Tegar, sementara Mama tegar dan suaminya mengamati kami dari gubuk-gubuk kecil sembari bermesraan. Saya merasa begitu bahagia dengan kesederhanaan dan penerimaan ini. Semua ambisi saya seketika hilang berbaur dengan penerimaan dan rasa syukur yg mendalam. Saya merasa begitu bahagia karena senyum-senyum keikhlasan mereka. Inilah yang akan selalu saya ingat dan kenang, Terimakasih.

"Travelling is not about destination, but about the experience itself"

Perjalanan dari Pulau Bawean ke Pulau Gili Timur (GALUH PRATIWI)

Pemukiman di pesisir Pulau Gili Timur(GALUH PRATIWI)

Pemandangan dari Pulau Manokan Aeng (GALUH PRATIWI)

1.28.2016

BROMO 25 Maret 2014: Tersesat di Kegelapan Lautan Pasir Tengger


Bromo, salah satu gunung api paling aktif di Jawa Timur dengan ketinggian 2.329 meter akan menjadi tujuanku selanjutnya. Dari Air Terjun Madakaripura, aku memacu motor Supra Fit kesayangan ke arah selatan menuju Desa Cemoro Lawang. Jalan yang harus kami lalui cukup terjal, berupa jalanan khas pegunungan yang meliuk-liuk tajam. Dibandingkan dengan jalan ke Tawangmangu atau Kaliadem, jalan menuju Cemoro Lawang yang merupakan titik terakhir sebelum Lautan Pasir Tengger lebih curam dan banyak kelokan.

Kami – aku dan Arin – menghabiskan malam di sebuah penginapan sederhana di Desa Cemoro Lawang bertarif Rp 150.000/malam/kamar. Desa Cemoro Lawang merupakan titik terakhir yang bisa digunakan para wisatawan untuk bermalam sebelum menyaksikan sunrise di Puncak Penanjakan keesokan subuhnya. Di Desa Cemoro Lawang juga inilah para pemburu sunrise bisa memesan/melakukan booking jeep yang bisa mereka gunakan untuk menjelajah Lautan Pasir Tengger esok pagi. Bagi kami yang ingin berhemat, cukup dengan sepeda motor Supra Fit. Aku yakin sepeda motor ini bisa berjalan di Lautan Pasir Tengger.

Udara sore maupun malam di Cemoro Lawang pada bulan Maret benar-benar dingin sampai menggigit tulang. Selepas meletakkan barang-barang dan membersihkan diri, dengan balutan selimut tebal aku sempatkan keluar dan duduk di balkon tingkat dua untuk menikmati pemandangan. Muka langsung beku begitu duduk di luar, tapi entah kenapa aku tidak ingin masuk. Sembari menarik nafas dalam-dalam, aku mulai berpikir alangkah hebatnya orang-orang di sini yang bisa menahan dingin seperti ini setiap hari.

Sembari duduk menikmati pemandangan, sayup-sayup aku mendengar alunan Bahasa Sansekerta yang melantun dengan merdu dari sebuah pengeras suara nun jauh di sana. Aku sempat mengira suara tersebut adalah suara pengajian dari masjid. Setelah aku telaah sesaat, aku tahu bahasa tersebut bukan Bahasa Arab yang biasa digunakan saat pengajian atau shalat, melainkan Bahasa Sansekerta. Segera aku sadar, bahwa di Kawasan Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru ini berdiam Suku Tengger, salah satu suku yang diyakini merupakan keturunan langsung dari Kerajaan Majapahit dan memeluk Agama Hindu sebagai kepercayaan utama mereka. Aku memberi hormat dalam hati, menikmati setiap lantunan Bahasa Sansekerta yang menyusup sampai ke relung hati.

Malam harinya, kami sempat keluar untuk makan malam dan mencari bensin untuk persiapan menuju Puncak Penanjakan esok pagi. Aku juga sempat membeli sarung tangan karena lupa membawa. Kami tidur awal untuk menjaga stamina karena esok harus bangun subuh-subuh.

Jam 3 pagi, aku sudah terbangun. Setelah membersihkan diri, aku segera bersiap menggunakan pakaian setebal mungkin untuk berangkat ke Puncak Penanjakan. Badan aku tak bisa berhenti menggigil karena tusukan udara dingin yang begitu menggigit. Setelah Dataran Tinggi Dieng, aku rasa di Kawasan Tengger inilah aku merasakan dingin yang begitu menggigit. Setiap tarikan nafas membuat bagian ujung hidung aku linu dan mengeras, setiap bersentuhan dengan air serasa tertusuk ratusan jarum. Namun aku berusaha mengalahkan semua itu dan menetapkan satu tujuan, Puncak Penanjakan.

Langit masih gelap gulita ketika aku dan Arin memacu motor menuju Lautan Pasir Kaldera Tengger. Tidak ada yang bisa kami lihat selain pasir yang tersorot oleh lampu depan motor. Jeep-jeep yang sudah dipesan (kebanyakan oleh turis mancanegara) terlihat sudah bersiap-siap berangkat. Awalnya, aku tidak merasa takut. Karena aku yakin, aku bisa jalan beriringan dengan jeep. Aku yakin, jalan pasir yang biasa dilalui jeep akan menjadi keras dan bisa dilalui motor aku. Ternyata, aku salah total.

Belum 500 meter kami berjalan, kami sudah tak tahu arah! Semuanya hitam, gelap, dan seakan tak berujung. Kami tidak menjumpai jeep seperti yang kami harapkan. Justru kegelapan tak berujung yang entah kemana. Oh sial, kami telah tersesat!

Aku berhenti sesaat dan berdiskusi dengan Arin, apakah ini benar jalan ke Puncak Penanjakan. Kalau iya, kenapa tidak ada satu pun jeep yang kami jumpai dari tadi. Kenapa lampu jeep yang berwarna kuning pucat malah terlihat di kejauhan sana? Ketakutan mulai menjalar ke tubuh aku. Kami ini kemana??

Di tengah ketakutan dan kebingungan, aku mendengar sayup-sayup suara bapak-bapak yang memanggil kami. Aku semakin takut, jika dia adalah kriminal, aku sudah pasrah. Aku hanya berharap, niat baik kami ke sini bisa dipahami oleh Lautan Pasir Tengger dengan tidak membiarkan hal buruk terjadi pada kami.

“Mbak...mbak....mau kemana?”

“Mau ke Puncak Penanjakan, Pak.”

“Wah, kalian salah jalan. Ini jalan ke arah Tumpang (ke arah Malang). Kalau jalan ke Puncak Penanjakan lewat sana. Mari saya antar.”

Awalnya kami sempat menolak menggunakan pemandu karena akan menambah beban biaya dan mengurangi sense of adventure. Tetapi prinsip seperti itu terkadang tidak bisa diaplikasikan di lapangan, di lautan pasir luas seperti ini, di kegelapan total seperti ini. Setelah berunding tarif singkat, kami sepakat untuk memberi bapak itu Rp 50.000 untuk mengantarkan kami sampai ke Puncak Penanjakan. Aku tetap berboncengan dengan Arin, sementara bapak itu berjalan di depan kami, menunjukkan jalan yang benar.

Anggapan aku bahwa jalan bekas jeep itu keras dan bisa dilalui dengan mudah oleh motor ternyata salah juga. Jalur tersebut tetaplah berupa pasir lunak yang menenggelamkan ban motor aku setiap saat. Jeep-jeep melesat dengan leluasa di samping kami, seperti menertawakan motor aku yang tersengal-sengal melawan gundukan pasir. Aku menertawakan pikiran aku yang pada awalnya sempat ingin berjalan beriringan dengan jeep untuk menuju Puncak Penanjakan. Jeep yang berjalan setengah jam setelah kami saja melesat mendahului kami dengan leluasa, bagaimana mau berjalan beriringan? Yang ada kami disundul jeep, bukan mengiringi jeep.

Gundukan pasir semakin tinggi, kemudian setelahnya turunan yang cukup tajam. Bisa ditebak, aku dan Arin terjatuh. Untung saja motor tidak menimpa kami. Bapak pemandu jalan yang tahu segera menyarankan supaya Arin membonceng dia saja. Aku menyarankan hal serupa, sehingga akhirnya Arin berboncengan motor dengan pemandu, aku sendirian.

Kebiasaan menjadi pemandu rupanya membuat bapak itu melaju dengan leluasa di gundukan pasir Kaldera Tengger. Aku semakin jauh tertinggal di belakang karena masih jalan dengan motor tersengal-sengal. Kekhawatiran aku semakin menjadi ketika aku mulai kehilangan jejak bapak pemandu dan Arin. Tapi aku berusaha sabar dan kuat, aku tetap mengegas motor dengan tangan yang sudah sekaku mayat. Aku sudah tidak bisa merasakan tangan aku lagi. Rasanya begitu sakit ketika digunakan untuk mengegas motor.

Setengah jam bergumul dengan jalan gundukan pasir, kami akhirnya menjumpai jalan aspal yang mengarah ke atas. Aku lega sekali ketika menjumpai jalan ini, karena tidak harus berjuang dengan gundukan pasir lagi. Jalan aspal ini merupakan jalan utama untuk menuju Puncak Penanjakan. Kami harus melalui sekitar 2 kilometer ke atas untuk sampai ke tempat parkir Puncak Penanjakan.

Sampai di tempat parkir, kami masih harus jalan kaki sekitar 10 menit untuk sampai ke Puncak Penanjakan. Karena tangan aku yang semakin kram dan tidak terasa, aku mampir warung kopi untuk menyeruput secangkir coklat panas dan memanaskan tangan. Tangan aku langsung kesemutan begitu panas dari anglo menjalar. Ahh, begitu nikmat arti sebuah udara panas di sini. Betapa aku sering mengomel udara terlalu panas ketika sedang di rumah.

Selesai menghangatkan diri, kami melanjutkan perjalanan ke atas. Banyak sekali wisatawan lokal maupun mancanegara yang mengunjungi Puncak Penanjakan, bahkan menurut pengamatan aku turis mancanegara lebih mendominasi. Kami sampai di atas pukul 4.00 dan segera mencari tempat terbaik di antara ratusan orang untuk menyaksikan sunrise.

Menunggu matahari terbit di tengah udara dingin Puncak Penanjakan sepertinya memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Aku terus menggigil sembari meremas-remas tangan. Langit masih gelap gulita, dengan lukisan Perbukitan Tengger yang gagah menjulang. Aku terus menunggu pertunjukan alam yang sebentar lagi akan tersaji di depan mata aku. Sunrise.

Perlahan demi perlahan, semburat jingga kekuningan mulai muncul di belakang perbukitan. Semburat ini semakin lama semakin terang dan membesar, seakan mengungkap keagungan ciptaan Tuhan selembar demi selembar. Para turis mancanegara maupun lokal mulai sibuk mengarahkan kamera masing-masing. Semua yang hadir seakan tidak mau terlewatkan momen sedikitpun saat sang raja tata surya mulai naik ke peraduan.

Dipadu dengan semburan angin dingin pegunungan, perlahan demi perlahan matahari mulai terlihat. Sinar yang dipancarkan sangat indah, mengusir semua kegelapan dan kekosongan yang ada di depannya. Semuanya takjub, kagum, dan tak bisa melepas mata. Ini sangat indah!








1.19.2016

Air Terjun Madakaripura, 24 Maret 2014: Persinggahan Terakhir Patih Gadjah Mada

Air terjun tertinggi di Jawa. Itulah gelar yang disematkan pada Air Terjun Madakaripura yang berlokasi di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dengan ketinggiannya yang mencapai 200 meter, Madakaripura hanya kalah tinggi dari Air Terjun Sigura-gura yang berada di Sungai Asahan, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara dengan ketinggian 250 meter.

Perjalananku ke sini sebenarnya berawal dari ketidaksengajaan. Awalnya aku sedang memegang tugas hidup yang sangat penting di Pasuruan (mengambil data skripsi–red). Kebetulan ada teman dari Jogja (Arin) yang berencana akan menemaniku mengambil data skripsi, kemudian kami berencana akan mengunjungi Gunung Bromo setelahnya. Perjalanan dari Pasuruan ke Gunung Bromo mengantarkan kami mampir sejenak ke Air Terjun Madakaripura. Air Terjun Madakaripura ini sendiri sudah berada pada kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Kami sampai di Air Terjun Madakaripura pukul sepuluh, kemudian membayar Rp 3.000 untuk tiket masuk dan menitipkan tas besar serta helm di warung setempat. Sewaktu mengisi perut untuk persiapan trekking menuju air terjun utama, kami sempat didesak oleh para guide lokal yang terus memaksa untuk menggunakan jasa mereka. Aku dan Arin menolak tegas karena kami rasa bisa melalui jalur trekking via sungai tersebut. Sebenarnya pemerintah Kabupaten Probolinggo sudah cukup berbaik hati dengan menyediakan jalur untuk jalan kaki dari tempat parkir ke air terjun utama, tetapi karena berbagai hal, jalan tersebut banyak yang runtuh sehingga pada beberapa titik kami harus berjalan lewat sungai yang (cukup) deras di bagian bawah (info tahun 2014).

Arca Patih Gajah Mada

Oya, ketika sampai di tempat parkir air terjun, kami akan menjumpai arca Patih Gajah Mada yang sedang bersemedi. Menurut penduduk setempat yang diambil dari cerita zaman dahulu, kata Madakaripura mempunyai makna “tempat terakhir”. Konon, Patih Gajah Mada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di goa dekat air terjun utama.

Kami memulai perjalanan trekking ke Air Terjun Madakaripura. Karena jalan dekat tempat parkir rusak, sejak awal trekking kami harus melewati aliran hilir sungai yang cukup deras dengan bebatuan andesit besar yang terhampar tak karuan. Baru beberapa langkah berjalan di air sungai yang dingin, kami terperosok, dan aku menyarankan Arin supaya menggunakan pemandu saja. Arin awalnya menolak. Tapi aku tidak mau mengambil risiko, jalan terlalu berbahaya dan licin.

Rute treking ke Air Terjun Utama

Terkadang harus berjalan di sungai dengan air yang sedingin es

Memakai pemandu membuat suasana trekking menjadi lebih aman. Sungai ini dipeluk oleh punggung-punggung bukit yang begitu tinggi. Hujan yang masih mengguyur sebagian besar Probolinggo telah menyebabkan tanaman tumbuh menghijau dengan begitu rimbun. Air sungai bergemericik, berusaha meloloskan diri melalui celah-celah bebatuan yang mungkin telah melalui perjalanan jauh dari gunung sana. Burung-burung berkicau bahagia. Memang udara segar, air bersih melimpah, serta makanan yang melimpah ruah menjadikan kawasan ini tempat tinggal yang sempurna untuk makhluk hidup.

Kami meneruskan perjalanan menuju air terjun utama. Beberapa kali kami harus berjalan menyeberang sungai karena jalan trekking ambruk. Kemungkinan diserang banjir karena konstruksinya tidak terlalu kuat. Beberapa kali aku maupun Arin hampir terjatuh, tetapi pemandu kami dengan sigap segera menangkap. Memang untuk penyusur sungai pemula sepertiku, medan ini masih terlalu berat. Setidaknya kami harus berjalan sekitar 1 kilometer untuk bisa melihat kenampakan air terjun utama yang merupakan tertinggi di Jawa.

Limpahan air berbentuk tirai alami

Setengah jam berjalan, pakaianku sudah setengah basah. Padahal besok aku masih harus menggunakan celana ini untuk menangkal dinginnya Gunung Bromo. Kekhawatiran itu langsung sirna begitu aku menyaksikan pemandangan yang begitu indah tak biasa. Di depanku terhampar sebuah ceruk yang dikelilingi tebing menjulang tinggi dan meneteskan air sejajar membentuk tirai tembus pandang. Tebing tersebut dibungkus oleh tanaman hijau yang begitu tebal dan menyegarkan. Ketinggiannya tidak main-main, sekali alam mengamuk dan melongsorkan masa batuannya, kami tak tahu lagi kepada siapa harus berlindung. Hanya Tuhanlah yang senantiasa menjaga semua yang mengunjungi Air Terjun Madakaripura hari itu.

Jalan sempit nan licin sebelum mencapai lokasi utama (sebelah kanan)

Kami berjalan lebih jauh lagi untuk mencari keberadaan sang air terjun utama. Kami dihadapkan pada sebuah tebing licin, basah, dan sempit yang harus sedikit didaki untuk mendekat ke air terjun utama. Pemandu menyarankan untuk ekstra berhati-hati di sini, karena kalau terpeleset akibatnya bisa fatal. Kami merangkak dengan hati-hati dan akhirnya sampai di bawah air terjun utama.

VOILA!! Akhirnya aku benar-benar mengunjungi air terjun tertinggi di Jawa, tertinggi kedua di Indonesia!!!

Bukan perjuangan mudah untuk trekking ke sini, dan aku berhasil melaluinya. Aku begitu takjub dengan ciptaan Tuhan di depanku. Air jatuh dengan begitu derasnya dari hulu sungai di atas sana. Begitu tingginya sampai aku harus mendongakkan kepalaku sampai ujung pangkal leher. Air terjun tersebut berada pada sebuah ruangan alam berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 meter. Desiran air dan angin terus menerpa tubuhku tanpa ampun. Dengan ketinggian seperti itu, memang wajar gaya gravitasi akan menyebabkan kecepatan yang luar biasa pada saat air jatuh. Badanku sudah basah kuyup, tapi aku tak peduli dan terus menikmati keindahan alam ini.

Air Terjun Madakaripura

Di balik air terjun utama, terdapat sebuah goa yang merupakan tempat Patih Gajah Mada bersemedi sebelum akhir hayatnya. Goa tersebut sangat sulit untuk dicapai karena untuk ke sana kita harus melewati kolam air tempat jatuhnya air dengan kedalaman 7 meter dan arus air yang sangat deras. Menurut cerita dari pemanduku, pernah ada kasus orang tewas di kolam itu karena dikira kedalamannya dangkal. Kami cukup berhati-hati untuk tidak terlalu mendekat dengan kolam tersebut.

Perjalanan trekking kembali mengajarkanku tentang satu hal: bahwa manusia terlihat begitu kecil di hadapan Sang Pencipta. Alam ini begitu baik mengizinkan kita untuk melihat keelokannya. Haruslah rasa syukur dan rendah hati senantiasa terus berkembang di ketulusan hati yang paling dalam.

Manusia begitu kecil dibandingkan ciptaan Tuhan.


Part Selanjutnya : Disini

[PART 11] Tinta Hindustan: Ganga Aarti

Trip ini merupakan cerita perjalananku menjelajah India dari 21 Agustus 2012 - 2 September 2012. Part sebelumnya : Disini

Udara di Varanasi bulan Agustus benar-benar panas. Panas yang menyiksa, demikianlah bisa aku gambarkan. Kami mendapatkan penginapan tua yang sangat panas dan lembab. Sebuah kipas tua mendenging tanpa henti, semakin menambah lembab serta panas kamar kami karena menguapkan air untuk mendinginkan kamar. Setelah mandi yang kurang menyegarkan, kami bersiap menuju Ghat Dassaswameth untuk menyaksikan Ganga Aarti.

Berdasar cerita yang aku dapat dari supir Auto Rickshaw, banyak orang-orang India dari seluruh penjuru negeri yang memang khusus datang ke Varanasi untuk melakukan ritual keagamaan. Bahkan menurut statistik yang ada, ada sekitar 60 ribu orang yang datang ke Varanasi baik dari penjuru India maupun dunia setiap tahunnya.

Pengunjung Ghat Dassaswameth

Ritualnya ada beberapa macam.  Pertama, mereka akan mandi suci di Sungai Gangga dulu kemudian setelahnya akan melakukan puja kepada Dewa Shiva (di Shiva Temple yang ada di dalam kompleks Banares Hindu University), Dewa Hanoman (di Monkey Temple), dan tempat pemujaan lainnya. Bukan hanya melakukan ritual keagamaan, bahkan mereka yang sudah tua (dan merasa sudah akan mati) akan pindah ke Varanasi supaya bisa mati disana dan abunya dibuang ke Sungai Gangga. Pada pagi hari, akan semakin banyak orang-orang yang mandi dan melakukan ritual doa disini. Ritual mandinya adalah mereka akan mencelup-celupkan tubuhnya beberapa kali sampai kepala terendam. Beberapa orang memotong rambutnya kemudian potonnya dibuang ke Sungai gangga. Hal itu dipercaya akan membawa keberuntungan dan umur panjang.

Sampah di Sungai Gangga tidak jauh dari Ghat Dassaswameth

Satu hal yang membuatku cukup menelan ludah adalah tingkat polusi berupa sampah, bahan kimia serta jasad yang membusuk pada Sungai Gangga. Menurut riset yang saya baca, dalam 100 mililiter air dari Sungai Gangga terkandung bakteri sebanyak 1,5 juta. Padahal air bersih yang kita biasa gunakan untuk mandi normalnya mengandung 500 bakteri dalam 100 mililiter air. Bisa kita bayangkan, sungguh luar biasa kotornya, tetapi bagaimanapun, Sungai Gangga tetap menjadi salah satu sumber kehidupan bagi masyarakat Varanasi dan akan selalu disucikan oleh pemeluk agama Hindu.

Seorang nenek dengan penjual diya

Drama keagamaan dan kehidupan terjadi bersamaan pada ghat-ghat Sungai Gangga. Di satu ghat kita bisa melihat orang-orang yang melakukan ritual keagamaan, sementara pada sisi ghat yang lain ada orang yang mencuci pakaian, gosok gigi, maupun membuang limbah. Tetapi mereka yang mandi disana seakan tidak memperdulikan semua itu dan hanya fokus kepada hubungan mereka dengan Tuhan. Itulah yang aku kagumi! Orang India sangat religius. Tidak ada yang membatasi hubungan mereka dengan Tuhan.

Begitu besarnya arti Sungai Gangga bagi pemeluk agama Hindu India sehingga mereka melakukan upacara pemujaan Ganga Aarti yang dilaksanakan di tepi Ghat Dassaswameth. Ganga Aarti dilaksanakan ketika hari mulai petang di tiga kota tersuci India yakni Haridwar, Rishikesh dan Varanasi. Ganga Aarti merupakan ritual keagamaan yang menggunakan api sebagai persembahan kepada Dewi Gangga (Dewi sungai tersuci di India). Persembahan tersebut berbentuk lampu berbentuk seperti pohon natal dengan api kecil pada ceruk-ceruknya. Ritual ini dilengkapi dengan diya, berupa bunga dengan lilin yang dilepaskan ke Sungai Gangga. Dengan melepas bunga dengan lilin ini, dipercaya keinginan kita akan dikabulkan.

Pukul setengah 7 malam, setelah sebelumnya membeli diya, saya sudah duduk di sebuah boat yang terikat di pinggir Sungai Gangga untuk menyaksikan Ganga Aarti. Semakin jarum jam berputar, semakin banyak orang-orang yang berdatangan ke Ghat Dassaswameth. Boat-boat dan pinggiran Ghat Dassaswameth dipenuhi oleh ratusan orang-orang yang seakan begitu saja datang entah dari penjuru mana. Tidak ada batasan usia. Anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, nenek, kakek, turis semuanya tumpah ruah disini dengan satu tujuan. Bagi mereka yang benar-benar ingin beribadah, mereka ingin memuja Dewi Gangga. Bagi turis, kami hanya ingin melihat bagaimana tradisi orang Hindu India dalam memuja Dewi Gangga. Aku sempat berbincang dengan seorang ibu muda yang datang dari Kolkata khusus untuk melakukan ritual keagamaan disini. 

Tumpah riuh penonton Ganga Aarti

Ganga Aarti dimulai pukul tujuh malam, dengan empat pendeta Hindu yang berbaris sejajar sembari membawakan lagu pujian untuk Dewi Gangga. Suasana religius menggantung di udara ketika mereka mulai membunyikan lonceng keempat arah penjuru bumi dengan searah jarum jam (utara, timur, selatan, barat). Setelahnya lonceng tetap dibawa, kemudian dengan tangan satunya mereka mengangkat cawan kecil berasap, dilanjutkan cawan besar berasap, lampu api, sesuatu berbentuk seperti kipas, dan lain-lain. Semuanya terdiam dan takjub, larut pada suasana keintiman dengan Dewi penguasa Sungai.
“Krincing…krincing…krincing...krincing”

Suara alunan lonceng terus membelah kesunyian Sungai Gangga. Pujian pemujaan terus dikumandangkan dalam Bahasa Hindi. Orang-orang yang mempunyai tujuan beribadah mulai menakupkan telapak tangan mereka. Kata-kata doa senantiasa keluar dari bibir mereka, dengan pandangan fokus pada empat pendeta Hindu yang terus melantunkan lagu pemujaan.
Pendeta Hindu melakukan pemujaan kepada Dewi Gangga

Ganga Aarti berlangsung selama satu jam, dan pada akhir pemujaan, empat pendeta Hindu tersebut meneriakkan kata-kata, "Yaaa!!!! Yaaaa!!!!", yang kemudian diikuti oleh semua umat Hindu maupun turis yang menonton. Semuanya bergembira dan senang. Sesaat kemudian, ritual selesai ditandai dengan para umat menagkup api dengan tangan pada diya masing-masing dan mengangkat telapak tangan mereka setinggi dahi untuk mendapatkan pemurnian dan berkah dari Dewi Gangga.
Seorang wanita India dengan diya

Lantunan doa tak hentinya diucapkan sembari mengangkat diya

Selesai upacara orang-orang mulai beranjak meninggalkan Ghat Dassaswameth. Wajah setiap orang terlihat bahagia, lepas dari dosa dan diberkahi. Aku dan kedua travelmate tetap berada di tempat sejenak untuk menikmati suasana Sungai Gangga pada malam hari. Saat memandang Sungai Gangga dari boat, aku bergidik ngeri. Begitu suci, luas dan terhormatnya sungai ini. Di kejauhan aku hanya bisa melihat sungai yang nyaris tanpa batas. Gelap, gelap dan gelap. Aku bahkan tidak tahu sudah berapa mayat yang ada di dasar sungai ini sekarang. Semua itu membuatku merasa kecil dibandingkan semua kuasa Tuhan yang menciptakan semua ini.

Boat Sungai Gangga

PART Selanjutnya : Disini