Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

4.20.2025

[3] Explore Sumba : Bendungan Waikelo Sawah, Kampung Adat Prai Ijing, Bukit Warinding dan Pantai Walakiri !

Part Sebelumnya : DISINI


Kampung Adat Prai Ijing dari atas bukit..

Hoaahm… pagi telah kembali menyapa. Selamat pagi dunia...kembali bersyukur tidur semalam cukup nyenyak dan pagi ini aku masih diberi kesehatan untuk mengawali hari dengan baik. Tidak menunggu lama aku segera mandi dan bersiap-siap. Begitu keluar kamar, aku disambut oleh udara pagi Tambolaka yang sejuk.  Hari ini kami bersiap agak pagi karena berdasarkan jadwal yang dibuat Arin, kami akan mengunjungi wisata di tiga kabupaten sekaligus yaitu Bendungan Waikelo Sawah yang masih berada di Kabupaten Sumba Barat Daya, Kampung Adat Prai Ijing yang berada di Kabupaten Sumba Barat, dan Bukit Warinding yang berada di Kabupaten Sumba Timur; dimana kami akan mengakhiri hari dengan menginap di hotel Kota Waingapu di Sumba Timur. Artinya, roadtrip sebenarnya akan dimulai. Kami akan menempuh jarak cukup jauh hari ini dari barat ke timur. Menilik dari google maps, total jarak tempuh kami adalah 172 km.

Rute perjalanan hari ini...

Sejak semalam, kami sudah packing semua barang-barang. Setelah sarapan sederhana dari hotel —sepiring nasi goreng hangat, telur mata sapi, dan secangkir teh manis—kami langsung masuk ke mobil yang sudah standby.

Rasa excited tentu mulai muncul setelah keindahan-keindahan yang kami lihat  kemarin. Aku yakin hari ini jalanan akan menantang dan pemandangan bakal luar biasa. Dari desa-desa tradisional, bukit-bukit sabana, rumah adat, biru kristal laguna, sampai senyum anak-anak lokal yang tulus di sepanjang perjalanan—semuanya sudah ada dalam bayangan.

Dan begitulah, mesin mobil pun dinyalakan, perlahan meninggalkan Kota Tambolaka. Di balik jendela, kota kecil ini mulai menghilang dari pandangan. Destinasi pertama kami hari ini adalah Bendungan Waikelo Sawah, sebuah bendungan unik yang juga berfungsi sebagai sumber irigasi utama bagi pertanian. Dari Tambolaka, perjalanan menuju Waikelo Sawah memakan waktu sekitar 45-60 menit, dengan jarak sekitar 30 kilometer ke arah selatan, mendekati perbatasan dengan Kabupaten Sumba Tengah.

Begitu sampai di lokasi, pemandangan pertama yang aku lihat adalah air jernih mengalir deras dari dalam gua. Iya, dari gua! Dan bukan gua biasa, tapi gua dengan warna air biru toska yang bening banget sampe dasar-dasarnya kelihatan. Saking jernihnya, aku pengen banget segera merendam kaki disitu. Seger banget pastinya. Aliran air dari gua tersebut mengalir di irigasi yang terlihat begitu bening dan segar. Airnya ngalir tenang membelah pematang sawah yang hijau terbentang luas di kejauhan. Suara gemericik air, ditambah udara bersih pedesaan, langsung bikin hati adem. Aku sempat berhenti cukup lama di sini, sekadar duduk di tepi irigasi sambil ngeliatin sawah dan percikan air — suasananya tenang banget.

Aliran air dari Bendungan Waikelo Sawah


Nama Waikelo Sawah sendiri berasal dari bahasa Sumba, yang terdiri dari dua kata:

"Wai" berarti air

"Kelo" atau "Kelo Sawah" merujuk pada sistem irigasi yang mengalir ke sawah

Jadi, Waikelo Sawah bisa diartikan sebagai "air yang mengalir ke sawah", sesuai dengan fungsi utama bendungan ini yang sejak dulu digunakan untuk mengairi area persawahan dan pertanian di sekitarnya.

Nama ini juga membedakannya dari Waikelo lainnya, karena di Sumba terdapat beberapa sumber air atau sungai yang menggunakan nama Waikelo, tetapi hanya Waikelo Sawah yang memiliki bendungan dan fungsi irigasi utama bagi masyarakat setempat.

Air di Waikelo Sawah berasal dari sumber mata air alami yang berada di dalam gua. Mata air ini begitu melimpah sehingga sejak zaman dahulu digunakan untuk mengairi sawah dan ladang di sekitarnya. Bendungan ini merupakan satu-satunya sistem irigasi besar di Sumba yang berperan penting dalam pertanian lokal. Selain sebagai sumber irigasi, air dari Waikelo Sawah juga digunakan sebagai pembangkit listrik mikro hidro, yang menyuplai listrik ke beberapa desa di sekitar wilayah ini.

"Eh yuk kita naik keatas mendekati gua," kataku ke mereka bertiga.

Kami  berjalan lebih dekat hingga ke mulut gua, tempat di mana air deras keluar dari dalam tanah, yang awalnya merupakan sungai bawah tanah di gua. Jalur menuju gua cukup licin dan berbatu, jadi aku berjalan super hati-hati. Saat semakin mendekati, kami bisa melihat air yang keluar dari gua begitu deras dan segar, menciptakan pemandangan yang eksotis dan alami. Tapi buatku yang tidak bisa berenang, membayangkan renang disitu agak ngeri hehehe.. Soalnya alirannya terlihat tenang, menandakan 'mungkin saja' dalam. 

Bagian dalam guanya sendiri bikin aku cukup terpukau. Airnya tenang, jernih, dan dikelilingi dinding batu kapur yang berlumut. Cahaya matahari yang masuk dari mulut gua bikin permukaan air berkilau. Rasanya tenang dan damai memandangnya. Tempat ini cocok banget buat ngadem secara fisik maupun batin. Duduk aja di pinggiran batu sambil dengerin suara air, udah cukup bikin hati adem.

Sungai bawah tanah yang keluar dari gua ini merupakan asal muasal air di Bendungan Waikelo Sawah

Waikelo Sawah ini sendiri merupakan sistem irigasi peninggalan yang sudah aktif dari tahun 1976 yang masih aktif sampai sekarang. Fungsinya untuk menyuplai air bersih ke masyarakat sekitar, mengairi sawah-sawah, bahkan dulu sempat digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air skala kecil. Jadi bukan cuma indah, tapi juga bermanfaat nyata buat kehidupan warga. Jadi bisa dibayangkan, 1976-2018, wow, debit air yang benar-benar besar.

Derasnya air yang mengalir keluar dari sungai bawah tanah

Aliran air sungai bawah tanah mengaliri sawah disekitarnya

Derasnya air yang mengalir keluar dari sungai bawah tanah

Kami menghabiskan waktu 40 menit disini. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Adat Prai Ijing, salah satu kampung adat yang paling terkenal, terletak di Kabupaten Sumba Barat. Dari Waikelo Sawah, perjalanan menuju Prai Ijing memakan waktu sekitar 45-60 menit, dengan jarak sekitar 30 kilometer.

Jalan yang kami lalui cukup bersahabat karena lewat jalur utama yang sudah beraspal. Tapi jangan bayangin jalan lurus mulus terus ya — khas Sumba, rute ini tetap dihiasi tanjakan dan tikungan tajam yang cukup menantang. Tapi sebagai gantinya, pemandangan sepanjang jalan nggak main-main. Perbukitan hijau, padang savana, dan rumah-rumah adat Sumba yang muncul di kejauhan bikin mata terus dimanjain.

Begitu tiba di Kampung Adat Prai Ijing, kesan pertama langsung wow. Di atas bukit berdiri megah deretan rumah adat khas Sumba dengan atap tinggi berbentuk kerucut, terbuat dari alang-alang kering. Warna cokelat alami dari kayu dan bambu mendominasi seluruh tampilan rumah, ngasih kesan tradisional yang kuat banget. Jalan setapak berbatu membelah kampung, mengarahkan langkah kami ke tengah-tengah perkampungan.

Arin, Aku dan Fredo di Kampung Adat Prai Ijing

Penduduk lokal terlihat santai, duduk di beranda rumah sambil ngobrol atau sekadar menikmati angin sore. Beberapa di antaranya tersenyum ramah dan menyapa kami, bikin suasana makin hangat. Anak-anak kecil lari-larian tanpa alas kaki, tertawa lepas. Sementara itu, di sudut lain, tampak ibu-ibu sedang menenun kain tenun khas Sumba di depan rumah mereka — tenang, penuh konsentrasi, tapi tetap ramah ketika kami menyapa.

Di tengah kampung, terdapat batu-batu besar yang merupakan kuburan megalitik leluhur mereka, sebuah ciri khas yang masih dipertahankan dalam budaya Sumba. Batu-batu ini memiliki ukiran dan ornamen khas, mencerminkan status sosial orang yang dimakamkan di sana

Kuburan Batu Megalitik yang berada di bagian tengah Kampung Adat Prai Ijing

Mama yang sedang menenun kain adat..

Kain dan syal adat hasil buatan mama-mama yang dijual di Kampung Adat Prai Ijing

Dari kampung ini, pemandangan perbukitan hijau membentang luas sejauh mata memandang. Langit biru, awan menggantung rendah, dan udara yang sejuk bikin betah banget berlama-lama di sini.

Rumah adat di Prai Ijing disebut "Uma Mbatangu", yang artinya rumah menara. Disebut begitu karena bentuk atapnya yang tinggi dan runcing seperti menara. Atap ini biasanya dibuat dari ijuk atau alang-alang, sementara dindingnya dari kayu atau bambu. Uniknya, tinggi atap ini ternyata nggak sembarangan — semakin tinggi atapnya, semakin tinggi pula status sosial pemilik rumah di masyarakat. Jadi selain arsitekturnya keren, rumah-rumah ini juga menyimpan filosofi dan struktur sosial yang dalam.

Berjalan membelah kampung menuju titik tertinggi

Secara tradisional, rumah adat di Sumba terdiri dari tiga bagian utama:

1. Bagian bawah (parona) → tempat hewan ternak seperti kuda, babi, dan kerbau.

2. Bagian tengah → tempat tinggal penghuni rumah.

3. Bagian atas (ubuduma) → tempat menyimpan benda-benda pusaka dan hasil panen.

Rumah-rumah ini dihuni oleh masyarakat asli Sumba yang masih memegang teguh adat istiadat Marapu, kepercayaan leluhur yang masih dianut di Sumba hingga sekarang.

Kami melanjutkan eksplorasi kampung dengan mendaki ke titik tertinggi. Dari sana, pemandangan yang kami dapat luar biasa. Seluruh kawasan kampung adat terbentang di bawah — rumah-rumah dengan atap runcing berjajar rapi, dikelilingi hijau perbukitan Sumba yang membentang sampai ke cakrawala. Angin berhembus pelan, adem banget, dan suasananya tenang. Kami pun menyempatkan ambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan dari tempat yang begitu indah dan damai ini.

Pemandangan dari titik tertinggi Kampung Adat Prai Ijing

Selfie di titik tertinggi untuk mengabadikan momen

Dari sini, kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Warinding. Jarak dari Kampung Adat Prai Ijing ke Bukit Warinding sekitar 40-45 menit, dengan jarak sekitar 25 km. Kami melewati jalanan berbatu dan beberapa tanjakan curam, tetapi pemandangan sepanjang perjalanan membuat rasa lelah kami terbayar lunas. Rute yang kami lalui menuju Bukit Warinding terkenal sebagai salah satu rute terindah di dunia karena pemandangan alamnya yang memukau, berupa perbukitan hijau yang berkelok-kelok dan lanskap alam yang sangat dramatis.

Setibanya di Bukit Warinding, kami naik ke salah satu view point dan langsung disambut oleh bukit yang terlihat bermelekuk-melekuk, seperti undakan alami yang membentuk pola yang sangat cantik. Saat kami mengunjungi tempat ini pada bulan Desember, semua bukit tampak berwarna hijau subur, hasil dari curah hujan yang cukup tinggi di musim penghujan. Pemandangan ini mirip seperti yang kami lihat di Bukit Lendongara yang kami kunjungi di hari pertama kemarin, hanya Bukit Warinding ini sangat luasss, jauh lebih luas dari Bukit Lendongara. Langit biru yang mulai terang memberi kontras sempurna dengan hijaunya perbukitan. Bukit-bukit kecil itu tampak seperti ombak laut yang membeku, baris demi baris sampai ke ujung horizon. 

Hijaunya Bukit Warinding..

Hijaunya Bukit Warinding..

Dari atas juga, kami melihat sebuah ceruk alami yang terbentuk di tengah pertemuan kaki-kaki bukit. Sekeliling ceruk itu ditumbuhi pepohonan yang rimbun dan hijau pekat. Ceruk ini memberikan indikasi bahwa sumber air terdapat di sini, memungkinkan pepohonan tumbuh dengan begitu lebat di sekitar aliran sungai tersebut. Vegetasi hijau yang tumbuh di ceruk ini sangat kontras dengan bukit-bukit kering yang lebih tinggi, menciptakan pemandangan yang memukau dan menambah keindahan alami Bukit Warinding. Kami merasa sangat beruntung bisa menyaksikan keajaiban alam ini, di mana air dan kehidupan tumbuh subur di tengah gurun perbukitan Sumba yang menakjubkan.

Bukit Warinding yang membentuk gelombang-gelombang

Ceruk-ceruk yang bertemu di kaki bukit ditumbuhi pepohonan

Setelah puas menjelajah dan mengagumi pemandangan, kami pun mulai sibuk dengan urusan dokumentasi wkwk. Beberapa dari kami duduk di atas batu kapur putih yang jadi semacam spot alami buat selfie. Aku pun sempat ambil foto bareng teman-teman, dengan latar belakang perbukitan hijau membentang luas — foto yang pastinya akan jadi kenangan yang awet banget. Angin di atas bukit cukup kencang, bikin jilbab dan kemeja beterbangan, tapi justru itu yang bikin suasana makin hidup.

Making memories together in Bukit Warinding..

Tidak lupa mengabadikan momen di Bukit Warinding..

Setelah menikmati keindahan Bukit Warinding, perjalanan kami berlanjut ke destinasi terakhir hari itu — Pantai Walakiri, yang udah lama terkenal sebagai spot sunset paling magis di Sumba. 

"Itu nanti ada pohon-pohon bakau unik yang berdiri sendiri-sendiri di garis pantai. Pas sunset jadi keren banget siluet pohon-pohon bakaunya," kata Arin menjelaskan ketika aku bertanya tentang sunset ini.

Perjalanan dari Warinding ke Walakiri sekitar 30–40 menit. Dan untungnya, kami tiba di sana saat sore masih cukup muda. Langit masih terang, suasana pantai belum terlalu ramai, dan waktu rasanya berjalan pelan. Kami pun memutuskan untuk duduk-duduk santai dulu di pasir pantai yang lembut, menikmati desir angin laut yang berhembus sepoi-sepoi. 

Matahari mulai condong ke barat...

Beberapa menit kemudian, matahari semakin turun ke arah barat dan langit mulai menyuguhkan pertunjukan cahaya yang luar biasa. Warna oranye pastel mulai muncul di horizon, disusul gradasi ungu dan merah muda yang menyebar ke seluruh langit barat. Matahari turun perlahan ke laut, dan cahaya lembutnya mulai memantul di permukaan air dangkal, menciptakan kilau yang seperti kaca.

Dan di tengah momen itu — pohon-pohon bakau yang jadi ikon Pantai Walakiri, mulai mempertontonkan kemagisannya. Bentuknya nggak seperti bakau biasa. Batangnya melengkung elegan, akarnya menjulang keluar dari pasir dan air dangkal, menciptakan siluet dramatis yang bener-bener artistik. Rasanya kayak ada di galeri seni, tapi versi alam liar.

Sunset menciptakan pemandangan dramatis di Pantai Walakiri...

Sunset menciptakan pemandangan dramatis di Pantai Walakiri...

Kami pun nggak mau kehilangan momen. Kamera langsung keluar semua. Di titik itu, cahaya sunset lagi “mateng-matengnya”. Warna langit berubah cepat, dari peach ke pink, terus ke ungu tua. Dan setiap detiknya berubah. Kami mengambil foto dengan latar belakang pohon-pohon bakau yang berdiri gagah di atas pantulan air. Komposisinya luar biasa. Bahkan hanya dengan berdiri di situ tanpa pose berlebihan, hasil fotonya udah keren banget.

Beberapa foto kami tunjukin bayangan refleksi sempurna pohon-pohon itu di atas pasir basah. Langit seolah meleleh ke bawah, dan pohon-pohon itu jadi semacam penjaga senja. Momen kayak gini cuma bisa didapetin beberapa menit saja — ketika cahaya dan air dalam kondisi paling ideal.

Saat langit mulai gelap, justru warna-warna senja makin jadi. Merah oranye yang tadinya lembut berubah jadi merah pekat, berpadu dengan ungu tua dan semburat biru gelap yang mulai mengambil alih langit. Momen transisi ini luar biasa, dan jujur — ini bagian paling aku tunggu.

Pohon bakau penjaga senja di Pantai Walakiri...

Kami pun kembali ke barisan pohon bakau yang berdiri megah di tengah pasir basah. Tapi kali ini nuansanya berubah total. Siluet pohon-pohon itu terlihat makin tegas dan dramatis, tercermin sempurna di permukaan air dangkal. Langit terbakar jingga-merah, dan refleksi warna itu tumpah ke seluruh permukaan pantai — kayak cermin besar yang memantulkan lukisan alam.

Indahnya... can't say a word..

Beberapa temanku sibuk mengambil foto siluet. Ada yang berdiri tepat di antara batang-batang bakau, menciptakan siluet manusia di tengah bentang pohon yang bentuknya artistik banget. Di satu titik, aku sempat berdiri sendiri menghadap lautan, hanya ditemani cahaya merah dari langit dan suara debur kecil ombak. Rasanya memang beneran magis.

Kami memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum gelap total. Setiap detik terasa mahal. Awan-awan yang tadinya cuma background, sekarang berubah jadi elemen penting, menyerap warna langit dan memantulkannya ke air di bawah.

Selain berfoto, aku juga meluangkan waktu sejenak menikmati momen tenang ini dengan mata, merasa bersyukur atas keputusan melakukan perjalanan ini. Sunset ini benar-benar memikat hati, meninggalkan kenangan indah yang sulit untuk dilupakan.

Saat pantai sudah benar-benar menjadi gelap, kami melanjutkan perjalanan menuju Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, untuk beristirahat setelah hari yang penuh petualangan. Perjalanan dari Pantai Walakiri ke hotel di Waingapu memakan waktu sekitar 1-1,5 jam. Begitu tiba di hotel, kami langsung check in, makan dan setelahnya beristirahat. Terimakasih Sumba untuk hari ini. Kamu sangat cantik!


Part Selanjutnya : DISINI

4.14.2025

[2] Explore Sumba: Laguna Waikuri, Pantai Mandorak, Kampung Adat Ratenggaro dan Tanjung Mareha!

 Part Sebelumnya : Disini

Laguna Weekuri

Tambolaka, 22 Desember 2018

Hoaahhmmm… Pagi telah menyapa dari Tambolaka. Aku meregangkan badan perlahan, membiarkan rasa kantuk tersisa menguap sedikit demi sedikit. Cahaya matahari mulai masuk melalui celah gorden, menciptakan siluet lembut di dinding kamar.

Aku meraih HP di samping bantal, menyalakan layar. 'Sudah jam tujuh kurang… harus segera mandi dan bersiap-siap,' gumamku dalam hati. Aku duduk sejenak di tepi tempat tidur, mengumpulkan energi sebelum beranjak ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku membuka pintu kamar. Seketika udara luar yang lebih segar menyambut, membawa aroma khas pagi di Sumba.

Aku segera melangkah menuju area sarapan. Disana Arin dan Mbak Hayu terlihat sudah mulai sarapan. Aroma makanan sudah tercium sejak aku masuk ruang makan, menggugah selera yang mulai terbangun. Sarapan yang disajikan cukup sederhana namun lezat. Ada pilihan nasi goreng, nasi putih, sayuran tumis, ayam, telur, serta buah-buahan segar yang tersusun rapi di meja prasmanan. Aku mengambil piring, memilih beberapa menu, lalu duduk bersama Arin dan Mbak Hayu di meja dekat jendela.

Kami makan dengan lahap, menikmati setiap suapan sambil sesekali berbincang ringan. Di luar, sinar matahari mulai menghangatkan pagi Tambolaka, menandakan hari yang cerah dan penuh petualangan menanti. Selesai makan, sekitar jam 8 pagi, driver kami sudah tiba di hotel dan siap mengantar kami hari ini. Tujuan pertama kami hari itu adalah Laguna Waikuri, laguna alami dengan air biru kehijauan yang tenang dan jernih, salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Sumba Barat Daya.

Rute perjalanan kami hari ini

Jarak dari hotel menuju Laguna Weekuri sekitar 45 km. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan mobil. Di sekitar Kota Tambolaka, pagi itu jalanan masih cukup ramai dengan aktivitas pagi—warga berlalu lalang, beberapa toko dan warung kecil sudah buka, dan anak-anak berseragam sekolah berjalan beriringan di pinggir jalan.

Semakin melaju ke arah barat, pemandangan mulai berubah. Rumah-rumah sederhana berdiri di lahan yang luas, beberapa beratapkan seng, ada juga yang masih beratapkan ilalang. Ternak seperti sapi dan kuda berkeliaran bebas, menambah nuansa khas Sumba. Jalanan juga mulai lebih sepi, hanya sesekali kami berpapasan dengan truk pengangkut hasil bumi atau motor warga setempat.

Aku memperhatikan, lanskap juga semakin kering. Hamparan padang rumput coklat keemasan terbentang luas, berpadu dengan batu karang yang berserakan di sana-sini. Vegetasi di sekitar semakin jarang, didominasi semak belukar dan beberapa pohon lontar yang berdiri tegak, menciptakan suasana khas Sumba yang eksotis. Aku menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan yang terasa begitu berbeda dari kota-kota lain yang pernah kukunjungi.

Pemandangan sepanjang jalan dari Tambolaka ke Laguna Weekuri

Pemandangan yang cukup sering kami jumpai. Rumah modern dengan sentuhan adat, dikelilingi oleh bebatuan yang cukup gersang.

Tak lama kemudian, dari kejauhan mulai terlihat lautan biru yang berkilauan di bawah sinar matahari. Jalanan makin sempit dan berkelok, dengan beberapa tanjakan kecil. Angin laut mulai terasa, membawa aroma asin yang khas. Di beberapa titik, kami melihat perahu nelayan tertambat di pesisir.

"Sudah sampai, Kak," kata Bapak Driver sembari menghentikan mobil perlahan. "Dari sini jalan kaki aja ke bawah sampai nemu tangga. Nanti udah sampai di Lagunanya."

"Iya pak siap," jawabku.

Kami mengikuti arahan Bapak Driver dan setibanya di Laguna Waikuri, kami benar-benar langsung terpesona oleh keindahannya...... Oh wow... .Terhampar di depan mata, sebuah laguna luas yang memanjang dengan air berwarna biru kristal yang begitu jernih. Laguna tersebut memantulkan cahaya matahari dan menciptakan gradasi warna yang memukau, dikelilingi oleh pepohonan hijau rindang yang memberikan kesejukan alami..

Biru kristal air di Laguna Weekuri

Indahnya Laguna Weekuri....

"Wuahh bagusnyaaa..." Kataku.

"Iya baguuss banget," Arin menimpali.

"Aduhh aku pengen cepet-cepet nyebur."

"Kita keliling aja dulu biar fotonya bagus," Fredo menimpali.

Hmm benar juga yaa. Meskipun biru kristalnya air Laguna seakan-akan sudah menarikku untuk berenang, aku menahan diri. Lebih baik memang mengelilingi seluruh bagian Laguna dulu supaya dapat foto-foto yang bagus. Kalau renang dulu kan badan basah semua, ntar fotonya kurang keren😁.

Kami bergegas berjalan menyusuri jembatan kayu yang mengelilingi laguna. Dari jembatan kayu, kami bisa melihat dengan jelas perpaduan biru jernih air dan hijau subur pepohonan yang mengelilingi laguna. Dari sini, meskipun sinar matahari bersinar cukup terik, angin sepoi-sepoi dari arah laut bertiup menyegarkan. Dari sini kami bisa melihat beberapa pengunjung tampak berenang di laguna, menikmati kesejukan airnya yang payau—perpaduan unik antara air laut dan air tawar. Di sebelah kiri, aku bisa melihat hamparan laut lepas dengan ombak yang cukup besar menghantam bibir pantai. Laut ini berwarna biru gelap, dengan gelombang yang terlihat cukup kuat, kontras dengan pemandangan di sebelah kananku yaitu Laguna Weekuri itu sendiri. Warnanya yang tenang dan jernih memberikan kesan yang sangat nyaman dan damai. Rasanya seperti berada di sebuah oasis alami, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar. Air danau yang begitu jernih dan tenang memberi rasa ketenangan. Sedangkan melihat lautan yang luas dan gelap itu, aku merasa ada perasaan takut dan respek terhadap kekuatan alam yang begitu besar dan tak terduga. Dua pemandangan yang luar biasa ini benar-benar menunjukkan betapa alam bisa memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang, namun tetap memukau dengan keindahan masing-masing.

Laut lepas di sebelah barat Laguna Weekuri. Airnya berwarna biru gelap.

Laguna Weekuri di sebelah laut lepas persis. Sangat berbeda..

Setelah selesai mengelilingi jembatan kayu, menikmati pemandangan dan puas berfoto-foto, aku rasanya udah ga tahan untuk segera menikmati kesegaran laguna. 

"Ayo mas nyebur," kataku ke Fredo. "Tasnya taruh sini aja, kayaknya aman," tambahku lagi. 

Tidak menunggu waktu lama, kami langsung menceburkan diri dan berenang bebas di segarnya air Laguna. Begitu kami terjun ke dalam air, rasanya benar-benar membahagiakan—airnya yang dingin dan jernih membuat semua persoalan seakan menguap begitu saja. Aku berenang kesana kemari, menggunakan pelampung dada yang memang kubawa untuk ini.

Segarnyaa berenang disini...

"Riin, Mbak Hayu, ayo nyebur," kataku ke mereka setengah berteriak dari Laguna. Mereka terlihat sedang asyik berfoto-foto dari atas Laguna.

"Nggak ah, nanti ajaa," kata Arin menimpali.

Freedom.....aku menggunakan pelampung dada.

Tidak berapa lama Fredo melihat papan loncat kayu di sudut danau. Ketinggiannya lumayan, mungkin sekitar 3 meteran. Dari situ kita bisa meloncat terjun ke Laguna.

Papan loncat.. 

"Berani nggak, loncat dari atas?" Tantang Fredo kepadaku.

"Berani lah. Tapi nanti kamu standby di bawah ya," kataku. Well itu wajib karena aku emang belum bisa renang dan ngambang. Soalnya habis loncat pasti kan terdorong masuk lumayan dalam.

"Wokee, yaudah aku duluan ya yang loncat," katanya sambil berjalan naik ke atas.

"Byuurrrr..." cipratan air terlontar dengan keras begitu Fredo meloncat ke dalam air. Aku yang ga suka ketinggalan dan gampang penasaran pun langsung mengikuti melangkah ke atas dan siap meloncat.

Aku meloncat dari ketinggian 3 meter

"Byuurrr..", tubuhku masuk cukup dalam ke dalam air sebelum terdorong naik kembali. Disitu Fredo sudah standby membawakan pelampungku. 

"Wuaaah mantaap!" Kataku sembari menyeka air laut yang bercucuran dari rambutku.

Selanjutnya kami masih menghabiskan waktu untuk berenang kesana kemari. Karena perairan Laguna ini memang begitu segar, rasanya masih nggak puas aja biarpun aku udah meloncat dua kali dari papan dan berenang berputar kesana kemari.

Berenang di Laguna Weekuri. Siapa yang nggak "termehek-mehek" dengan biru kristal airnya?

Making memories....

Akhirnya setelah merasa cukup puas, kami segera naik dan bilas di kamar mandi umum. Kami akan segera melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, Pantai Mandorak.

Perjalanan dari Laguna Weekuri ke Pantai Mandorak tidak terlalu jauh, berjarak 2 km dan kami tempuh dalam waktu 10 menit saja. Begitu sampai, kami disambut oleh pantai berkarang yang airnya membiru bersih. Suasana di sana begitu tenang, hanya terdengar suara ombak yang menghantam karang dan desir angin yang lembut menyapu wajah.

Pantai Mandorak

Pantai Mandorak dikelilingi dua tebing batu karang besar yang seolah menjadi gerbang alami menuju laut. Di antara kedua tebing itu, terbentang pasir putih bersih yang tidak terlalu luas, tapi cukup menawan. Kami segera berjalan naik di atas salah satu batu karang, memandangi laut lepas yang membentang biru kehijauan untuk mencari spot foto yang bagus. Beberapa wisatawan lain terlihat juga sedang menikmati keindahan dan berfoto-foto di sudut karang yang lain.

Tebing-tebing karang di Pantai Mandorak

Pemandangan Pantai Mandorak

Dari atas tebing karang, pemandangan luar biasa terbentang luas—ombak memecah di sela karang, pasir putih di bawah seolah memanggil, dan langit biru membentang tanpa batas. Kami berfoto-foto dengan banyak pose, berusaha mengabadikan momen sebanyak mungkin di tempat ini.

Laut lepas..

Beberapa saat kemudian, sekelompok anak lokal mulai mendekati kami. Awalnya terasa biasa saja, mereka hanya mengajak ngobrol-ngobrol ringan—menanyakan dari mana kami, berapa lama di sana, hal-hal kecil yang membuatku merasa mereka hanya ingin berteman atau sekadar ingin tahu. Aku pun menanggapi dengan ramah, karena memang aku suka berinteraksi dengan warga lokal saat bepergian.

Tapi lama-kelamaan, arah interaksinya jadi agak berbeda. Mereka mulai meminta ini-itu—ada yang minta bolpoin, ada yang minta buku, bahkan ada yang mulai bicara soal uang. Aku jadi merasa agak canggung, bahkan sedikit tertekan. Aku tahu mungkin mereka hanya melihat kami sebagai tamu yang mungkin bisa memberi sesuatu, tapi di saat itu aku jadi merasa tidak bebas. Ada rasa bersalah kalau tidak memberi, tapi juga ada rasa janggal kalau harus menuruti semua permintaan yang datang begitu saja.

Kami sempat berpindah spot beberapa kali, mencoba menikmati berbagai sudut keindahan Pantai Mandorak. Namun ada satu hal yang cukup membuat tidak nyaman. Anak-anak lokal itu masih terus mengikuti kami. Mereka terus mendekat, berharap diberikan sesuatu. Kami sempat berdiskusi apakah harus memberi mereka sesuatu atau tidak, tetapi kami juga khawatir tindakan itu justru memperkuat kebiasaan meminta kepada wisatawan.

Mbak Hayu dikelilingi anak lokal

Selfiee hehehe..

Akhirnya, karena merasa kurang nyaman, kami memutuskan untuk meninggalkan pantai dan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, Kampung Adat Ratenggaro. Perjalanan menuju Ratenggaro menempuh jarak 20 km dan memakan waktu sekitar 1 jam dengan melewati jalanan berbatu khas pedalaman Sumba. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan padang savana yang luas dengan beberapa ekor kuda liar yang berlarian bebas. Rumah-rumah adat khas Sumba sesekali terlihat di kejauhan, dengan atap menjulang tinggi yang menjadi ciri khas arsitektur Sumba Barat Daya.

Akhirnya kami tiba di Kampung Adat Ratenggaro. Impresi pertamaku, desa tradisional ini masih sangat terjaga keasliannya, dengan deretan rumah adat beratap tinggi yang menjulang hingga lebih dari 10 meter. Di jalan masuk menuju desa terlihat batu-batu kubur megalitik yang berjajar. Dua lembaran batu tebal vertikal, ditopang oleh satu lembaran batu horizontal diatasnya. Bentuk kubur batu ini selalu membuatku penasaran, bagaimana cara mereka (masyarakat kuno Sumba) mengangkat batu besar tersebut ke atas? Apakah mungkin menggunakan tali?

Kuburan batu megalitik di pintu masuk Kampung Adat Ratenggaro

Kami berjalan perlahan menyusuri kampung, menikmati suasana yang begitu autentik. Warga setempat yang kebetulan bertatapan mata menyambut kami dengan senyum, beberapa di antaranya terlihat sedang menenun di teras mereka dan masih mengenakan kain tenun khas Sumba. Dari desa ini, kami juga bisa melihat pemandangan pantai yang begitu indah, dengan air laut berwarna biru cerah yang berpadu dengan pasir putih, yang akhirnya kami tau ini Pantai Ratenggaro.

Sedikit cerita sejarah, Kampung Adat Ratenggaro adalah salah satu desa tradisional tertua di Sumba yang masih mempertahankan budaya dan adat istiadat leluhurnya. Nama Ratenggaro berasal dari dua kata dalam bahasa Sumba, yaitu "Rate" yang berarti kuburan dan "Garo" yang merujuk pada nama suku yang pernah mendiami wilayah ini. Konon, kampung ini dulunya adalah tempat pertempuran antara suku Garo dengan suku lain, yang berakhir dengan kemenangan bagi suku yang sekarang menetap di sini. Sebagai tanda kemenangan, suku yang menguasai Ratenggaro membangun banyak kuburan batu megalitik untuk menghormati para leluhur yang gugur dalam pertempuran. Hingga kini, kuburan batu berusia ratusan tahun tersebut masih berdiri kokoh di sekitar kampung.

Saat ini, Kampung Adat Ratenggaro dihuni oleh masyarakat asli Sumba yang masih sangat menjaga tradisi mereka. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, peternak kuda dan kerbau, serta pengrajin kain tenun khas Sumba. Mereka hidup dalam komunitas yang masih memegang teguh sistem adat, termasuk dalam hal perkawinan, upacara adat, dan sistem kepercayaan yang sebagian besar masih menganut Marapu (kepercayaan tradisional masyarakat Sumba).

Kampung Adat Ratenggaro dengan rumah adat khas Sumba

Uma Mbatangu

Kami berjalan lebih dalam masuk ke dalam kampung melewati jalan setapak yang kering. Di sisi jalan, aku melihat beberapa ekor kuda terikat rapi di kandang terbuka. Kuda-kuda itu gagah dan tenang, dengan bulu kecoklatan yang berkilau di bawah matahari sore. Tiba-tiba seorang pemuda mendekati kami. Wajahnya ramah, mungkin usianya sekitar dua puluhan. Ia menyapa dengan sopan.

“Kak, mungkin mau foto dengan kuda… nanti bisa dengan rumah adat. 50 ribu aja, bisa foto sepuasnya.”

Aku saling pandang sebentar dengan teman-temanku, lalu tersenyum.
Dalam hati aku langsung mikir, wah ini menarik juga! Kapan lagi bisa foto naik kuda Sumba dengan latar belakang rumah adat yang eksotis begitu?

“Boleh deh,” jawabku sambil mengangguk. "Kamu mau Rin?"

"Iya aku mau juga," jawab Arin.

Pemuda itu langsung dengan sigap membantu kami—dia menuntun kudanya keluar kandang, menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan, kemudian membantuku untuk naik ke atas. Pemuda itu memegang tali kendali kudanya sambil sesekali memberi arahan agar aku bisa duduk dengan nyaman. Aku pun mencoba rileks meski deg-degan juga—namanya juga naik kuda, takut tiba-tiba dia lari! Hehehe. 

"Oke mas, foto sekarang ya. Rumah adatnya usahakan jangan kepotong," instruksiku ke Fredo yang memegang HP-ku.

Sumba dan Kuda

Sumba dan Kuda

Fredo berdiri agak mundur, mengambil beberapa langkah ke belakang, mengatur angle. Di atas kuda, aku mengambil berbagai macam gaya. Dengan latar rumah adat beratap tinggi, langit biru bersih, dan pantai yang membentang luas, aku rasa ini menjadi salah satu highlight foto disini.

Dan ya… 50 ribu untuk pengalaman seperti itu? Totally worth it.

Atap yang tinggi...

Sedikit cerita, Rumah adat di Ratenggaro memiliki arsitektur khas Sumba yang unik, dikenal dengan nama Uma Mbatangu, yang berarti rumah menara. Beberapa ciri khas rumah adat di Ratenggaro antara lain:

  1. Atap Menjulang Tinggi – Rumah-rumah di sini memiliki atap berbentuk menara yang bisa mencapai 15 meter atau lebih, menjadikannya salah satu rumah adat tertinggi di Indonesia. Atap yang menjulang ini bukan hanya estetika, tetapi juga melambangkan hubungan antara manusia dengan para leluhur dan dunia spiritual.
  2. Material Tradisional – Rumah adat Ratenggaro dibangun menggunakan bahan alami seperti kayu, bambu, dan alang-alang sebagai atapnya.
  3. Tiga Bagian Rumah – Rumah adat Sumba memiliki tiga tingkatan yang melambangkan filosofi kehidupan:
    • Bagian bawah untuk hewan ternak (kerbau, kuda, babi).
    • Bagian tengah sebagai tempat tinggal keluarga.
    • Bagian atas sebagai tempat menyimpan pusaka leluhur dan benda sakral.
  4. Dekat dengan Kuburan Megalitik – Banyak rumah adat di Ratenggaro yang berdekatan dengan batu kubur leluhur, karena masyarakat masih sangat menghormati roh nenek moyang mereka.
Anak-anak di Kampung Adat Ratenggaro. Tidak ketinggalan si "ngok-ngok"

Penampakan dekat rumah adat Sumba

Dari Kampung Adat Ratenggaro, kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Mareha, sebuah destinasi alam yang masih alami dan jarang dikunjungi wisatawan. Jarak antara Ratenggaro dan Tanjung Mareha sekitar 6-7 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit menggunakan kendaraan. Perjalanan menuju tanjung ini cukup menantang, melewati jalan berbatu dan tanah merah yang berkelok-kelok.Sepanjang perjalanan, kami kembali disuguhi pemandangan khas Sumba: padang savana yang luas, kuda liar yang berlarian, serta garis pantai yang membentang jauh di kejauhan.

Memasuki Tanjung Mareha

Setibanya di Tanjung Mareha, kami langsung dibuat takjub oleh pemandangan yang begitu spektakuler. Kami berdiri di atas tebing tinggi, menghadap langsung ke Samudra Hindia yang tampak begitu luas dan tanpa batas. Dari sini, kami bisa melihat ombak besar yang bergulung-gulung, berdebur keras menghantam tebing-tebing karang di bawahnya. Angin laut bertiup kencang, menambah kesan dramatis pada tempat ini.

Tebing yang menjorok ke laut...

Pemandangan laut lepas.. sangat luas dan indah..

Batuan yang berlubang karena abrasi air laut

Salah satu hal yang paling menarik di Tanjung Mareha adalah tebing berlubang akibat hempasan ombak yang terus-menerus mengikis batuan karang selama bertahun-tahun. Lubang alami ini memberikan pemandangan unik, seolah menjadi jendela alam yang mengarah langsung ke lautan lepas. Saat ombak besar datang, air laut masuk ke dalam lubang itu dan menyembur ke atas, menciptakan efek yang luar biasa indah.

Tanjung Mareha..

Amaze me...

Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini, duduk di tepi tebing sambil menikmati panorama laut yang begitu megah. Matahari perlahan mulai turun ke ufuk barat, langit berubah menjadi jingga keemasan, menciptakan suasana yang tenang dan damai. Kami benar-benar merasa kecil di hadapan alam yang begitu luas dan kuat ini.

Making memories di Tanjung Mareha

Hampir menjelang magrib, kami memutuskan untuk kembali ke hotel di kota Tambolaka, Sumba Barat Daya. Perjalanan kembali memakan waktu sekitar 1-1,5 jam, melewati jalan yang mulai gelap tanpa banyak penerangan. Namun, perasaan puas dan takjub atas keindahan alam Sumba masih terus membekas dalam benak kami sepanjang perjalanan pulang.

Simple Happiness...


Part Setelahnya : Disini