Hari ini sebenarnya tidak terjadi apa-apa yang istimewa. Aku sedang kepikiran membuat perpustakaan kecil di rumah. Aku ingin mengisinya dengan buku-buku yang kusukai dan, suatu hari nanti, buku-buku tentang perjalanan hidupku sendiri. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa waktu berjalan cepat sekali. Aku takut terlalu sibuk menjalani hidup sampai lupa bagaimana rasanya hidup di masa ini.
Pagi ini, tidak seperti biasanya, aku sudah terbangun sekitar pukul 06.30. Aku membuka gorden kamar dan melihat semburat keemasan matahari pagi masuk dari luar. Indah juga.
“Wah, harus berjemur nih. Lumayan vitamin D-nya,” pikirku.
Tapi ya beginilah aku. Alih-alih langsung bangkit dan keluar menikmati matahari pagi, tanganku malah mengambil ponsel. Aku membuka game lepas-lepas baut yang belakangan sedang sering kumainkan. Levelku sudah lima puluhan. Niatnya mungkin cuma sebentar, tapi game ini ternyata benar-benar membuatku candu. Tanpa terasa, lebih dari satu jam sudah berlalu.
Setelah akhirnya berhasil melepaskan diri dari game, aku masih sempat keluar sebentar untuk berjemur. Matahari tentu sudah tidak serendah ketika pertama kali aku membuka gorden, tapi setidaknya niat pagiku tidak gagal sepenuhnya. Aku berdiri menikmati hangat matahari beberapa saat sebelum akhirnya masuk lagi dan memulai hari.
Setelah itu aku mandi, memberi makan kucing, lalu sarapan. Hari ini sebenarnya ada satu urusan penting: membawa laptop ke tempat servis.
Kemarin, karena kecerobohanku sendiri, kopi susu tumpah mengenai keyboard laptop. Rasanya kesal juga mengingatnya. Laptop itu akhirnya kutinggalkan di tempat servis dan dijanjikan bisa selesai sore nanti.
Karena laptop sedang diperbaiki sementara ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, aku memutuskan pergi ke Solo. Rencananya aku mau bekerja menggunakan komputer publik di Dinas Perpustakaan. Sudah jauh-jauh ke sana, ternyata mobilku tidak mendapat tempat parkir. Akhirnya batal.
Karena sudah telanjur berada di Solo, aku mampir ke Gramedia. Aku berjalan pelan menyusuri rak-rak buku, melihat satu demi satu koleksinya. Ada sesuatu yang selalu menyenangkan dari berada di antara begitu banyak buku, meskipun hari ini tidak ada satu pun yang benar-benar membuatku ingin membawanya pulang.
Tidak lama kemudian datang kabar bahwa laptopku sudah selesai diperbaiki.
Aku pun kembali ke Boyolali, mengambil laptop, lalu mampir ke Kopi Kenangan. Kupikir akhirnya aku bisa duduk tenang, membuka laptop, dan mulai bekerja.
Ternyata tidak.
Justru dari situlah kekacauan kecil hari ini dimulai.
Beberapa bagian Windows tiba-tiba bermasalah. Word tidak mau membuka file. Global Mapper tidak berjalan sebagaimana mestinya. ArcGIS juga bermasalah. Satu demi satu aplikasi yang kubutuhkan seperti sepakat untuk mogok bersamaan.
Aku stres.
Alih-alih menyelesaikan pekerjaan, waktuku habis untuk mencoba memperbaiki laptop. Aku membuka ChatGPT dan mulai mencari tahu masalahnya satu per satu. Mencoba perintah ini, mengecek pengaturan itu, membuka Command Prompt, mencoba lagi, gagal lagi, lalu mencoba cara berikutnya. Ada beberapa yang akhirnya berhasil diperbaiki, tetapi setiap satu masalah selesai rasanya muncul masalah lain.
Lucu juga kalau dipikir-pikir. Pagi tadi aku kehilangan satu jam karena game baut. Sorenya aku kehilangan berjam-jam karena “bermain” dengan Windows yang rusak. Bedanya, permainan yang kedua sama sekali tidak menyenangkan.
Malam datang tanpa terasa.
Aku mampir ke angkringan untuk makan malam sebelum akhirnya pulang ke rumah. Setelah seharian mondar-mandir Boyolali–Solo, servis laptop, Gramedia, Kopi Kenangan, dan berurusan dengan komputer yang membuat kepala panas, rasanya menyenangkan akhirnya kembali ke rumah.
Malam itu aku sempat mengobrol dengan Bapak. Kami membicarakan hal yang sebenarnya sangat sehari-hari: soal iuran tujuhbelasan di tempat tinggalku yang lama. Di sana rupanya ada iuran untuk menyambut 17 Agustus, sementara di perumahan tempatku tinggal sekarang justru tidak ada yang menarik iuran.
Tumben.
Aku sampai merasa agak lucu sendiri. Biasanya menjelang Agustusan ada saja urusan iuran atau kegiatan lingkungan, tapi kali ini di tempat tinggalku sekarang malah tidak ada. Obrolan kecil seperti itu mungkin terdengar sama sekali tidak penting untuk dicatat. Tapi justru karena itulah aku ingin menuliskannya. Puluhan tahun lagi, siapa tahu aku bahkan sudah lupa seperti apa suasana lingkungan tempatku tinggal sekarang dan hal-hal kecil apa yang biasa dibicarakan di rumah bersama Bapak.
Di sela-sela malam itu aku juga sempat berpikir tentang besok. Mungkin aku ingin mengajak kakakku dan anak-anaknya makan bersama di suatu tempat. Belum tahu mau makan di mana. Bahkan sampai aku menulis ini pun tempatnya belum ketemu. Tidak ada acara khusus sebenarnya. Hanya kepikiran ingin pergi makan bersama mereka.
Mungkin besok jadi. Mungkin juga rencananya berubah.
Dan entah kenapa, sekarang aku merasa hal seperti itu pun layak dicatat. Sebab kehidupan rupanya bukan hanya kumpulan peristiwa yang benar-benar terjadi. Ada juga rencana-rencana kecil yang muncul malam sebelumnya, keinginan spontan untuk bertemu seseorang, dan hal-hal sederhana yang saat itu sedang kita nantikan.
Malam ini aku juga membeli dua buku: Ikigai dan sebuah buku tentang Buddha.
Entah bagaimana, dari membeli buku itu pikiranku kemudian melompat ke sebuah ide: bagaimana kalau aku membuat perpustakaan mini di rumah?
Aku mulai membayangkan sebuah sudut dengan rak-rak berisi buku yang kupilih sendiri. Buku yang sudah kubaca, buku yang kusukai, buku yang suatu saat ingin kubaca kembali.
Lalu muncul pikiran lain yang jauh lebih menarik.
Bagaimana kalau di antara buku-buku karya orang lain itu, suatu hari ada buku-bukuku sendiri?
Bukan berarti semuanya harus diterbitkan atau dibaca orang lain. Buku-buku itu boleh hanya ada satu eksemplar dan dibuat untuk diriku sendiri.
Aku ingin menulis tentang India. Tentang perjalanan menuju Himalaya. Tentang Tibet dan perjalanan sampai Everest Base Camp. Tentang Afrika yang masih menjadi mimpi. Tentang masa sekolah, olimpiade, kuliah, pekerjaan, perjalanan-perjalanan kecil, dan mungkin juga tentang hari-hari biasa seperti hari ini.
Tiba-tiba perpustakaan kecil itu tidak lagi terasa sekadar sebagai tempat menyimpan buku.
Aku membayangkannya sebagai tempat menyimpan hidup.
Mungkin suatu hari, puluhan tahun dari sekarang, aku akan berdiri di depan rak itu dengan rambut yang sudah memutih. Tanganku mengambil sebuah buku bertuliskan 2026, membukanya secara acak, lalu menemukan halaman ini.
Aku akan membaca tentang pagi ketika aku bangun pukul setengah tujuh dan melihat cahaya keemasan dari balik gorden. Tentang niat berjemur yang sempat tertunda gara-gara game lepas-lepas baut, tetapi akhirnya tetap kulakukan walaupun hanya sebentar. Tentang kopi susu yang membuat laptop masuk tempat servis. Tentang perjalanan sia-sia ke Solo karena tidak mendapat parkir. Tentang berjalan-jalan di Gramedia tanpa menemukan buku yang kusukai. Tentang sore yang kacau karena Word, Global Mapper, ArcGIS, dan Windows. Tentang makan malam di angkringan.
Aku mungkin juga akan membaca kembali tentang obrolan kecil bersama Bapak mengenai iuran tujuhbelasan dan tertawa karena ternyata aku sampai mencatat hal seremeh itu. Lalu membaca bahwa malam itu aku sedang memikirkan akan mengajak kakakku dan anak-anaknya makan keesokan harinya, meskipun bahkan belum tahu mau pergi ke mana.
Hal-hal yang hari ini rasanya sama sekali tidak penting.
Tetapi mungkin pada saat itu aku akan memberikan apa saja hanya untuk bisa kembali sebentar ke hari biasa ini.
Aku tidak tahu akan menjadi seperti apa hidupku nanti. Aku juga tidak tahu berapa banyak tempat yang masih akan kudatangi, berapa banyak orang yang akan kutemui, atau berapa banyak hal yang akan berubah.
Yang kutahu, waktu rupanya memang tidak pernah menunggu.
Mungkin aku tidak bisa membuatnya berjalan lebih lambat. Tapi setidaknya aku bisa meninggalkan beberapa penanda di sepanjang jalan—foto, cerita, buku, atau sekadar beberapa paragraf tentang sebuah pagi yang sebenarnya biasa saja.
Supaya suatu hari nanti, ketika aku menoleh ke belakang, hidupku tidak hanya terasa seperti sesuatu yang pernah berlalu dengan cepat.
Aku masih bisa membuka sebuah halaman dan berkata,
“Oh, ternyata begini rasanya menjadi aku pada 13 Agustus 2026.”



0 comments:
Posting Komentar