Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

1.28.2026

[Part 6 ] Cam on Vietnam : Menyusuri Son Tra dan Marble Mountain, Dua Wajah Alam Da Nang ..

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Patung Buddha Gautama di bagian atas Marble Mountain. Berada disini rasanya sangat damai...


Ho Chi Minh City, 5 Februari 2023

Sesuai itin yang sudah kususun jauh-jauh hari, hari ini agenda kami adalah terbang ke Kota Danang. Danang sendiri merupakan salah satu kota terbesar di Vietnam Tengah. Kota ini sering dibilang sebagai penghubung antara utara dan selatan Vietnam, sekaligus pintu masuk ke banyak destinasi menarik seperti Hoi An dan Hue. Jaraknya dari Ho Chi Minh City sekitar 600-an kilometer, jadi sebenarnya bisa ditempuh jalur darat juga dengan naik bus atau kereta. Tapi setelah melihat waktu tempuhnya... duh.. naik bus sleeper bisa 20 jam dari Ho Chi Minh City. Naik kereta ga kalah lamanya. Sedangkan naik pesawat 'cuma' 400ribuan aja sekali jalan naik maskapai andalan mereka, Vietjet. Ga sebanding lah rasa capeknya naik bus/kereta dibanding naik pesawat. Lebih simpel dan sat-set, sejam terbang udah landing. Toh harganya nggak beda jauh sama bus/kereta, tapi hemat waktu dan tenaga jauuuh banget. Jadi tanpa ragu, opsi pesawat adalah pilihan paling masuk akal.

Sejak pagi aku sudah sibuk menyiapkan sarapan sederhana, yang penting perut terisi gitu aja. Bubur instan jadi andalan. Tinggal masak air panas pakai rice cooker mini yang selalu ikut aku bawa ke mana-mana. Praktis, murah, dan cukup mengganjal perut sebelum perjalanan. Lumayan banget buat menghemat pengeluaran, apalagi kalau lagi traveling panjang gini.

Sambil nunggu air mendidih, aku beberes ransel, memastikan semua barang sudah aman dan nggak ada yang tertinggal. Setelah sarapan dan beres-beres, kami siap-siap check out dan bersiap menuju bandara. Perasaan selalu campur aduk tiap ganti kota — ada sedikit capek, tapi juga rasa excited karena sebentar lagi bakal melihat wajah Vietnam yang berbeda. 

Lanjut dari hotel, aku dan travelmate berjalan menuju stasiun bus yang lokasinya tidak jauh. Dari sana kami naik bus kota yang mengarah ke Bandara Internasional Tan Son Nhat. Tarifnya murah dan cukup praktis. Perjalanan memakan waktu sekitar 30–40 menit, lalu kami sudah tiba di bandara. Proses check-in dan boarding berjalan sangat lancar dan cepat, apalagi kami memang tidak membawa bagasi sama sekali, jadi semuanya terasa sat set tanpa drama.
Tak lama kemudian pesawat lepas landas. Penerbangannya cukup nyaman, minim turbulensi, dan kondisi pesawatnya menurutku lumayan bagus. Sekitar pukul 11 siang, kami sudah mendarat mulus di Bandara Internasional Da Nang.
Keluar dari bandara, kami langsung pesan Grab mobil untuk menuju tempat penyewaan motor. Motor ini sebenarnya sudah aku sewa sejak dari Indonesia, jadi tinggal ambil saja. Rencananya kami mau cari makan siang dulu, lalu menitipkan tas di luggage storage yang ada di pusat kota. Setelahnya baru eksplor Kota Danang. Belum ada klue khusus tempat mana yang akan kami datangi, ikut alur saja.

***

Danang, 5 Februari 2023

“Jadi semuanya 450.000 dong ya untuk sewa 3 hari,” kata pria muda penjaga tempat penyewaan motor itu. Aku mengangguk, lalu menyerahkan selembar 500.000 dong beserta paspor untuk dia foto sebagai data penyewaan.


Kalau di Ho Chi Minh City aku masih agak ragu untuk eksplor kota dengan motor—maklum, lalu lintasnya terkenal benar-benar ramai dan kacau—di Da Nang justru aku cukup PD. Dari yang kubaca dan kulihat langsung, lalu lintas di sini jauh lebih tertib dan tidak se-chaotic Ho Chi Minh. Selain itu, transportasi umumnya juga terasa kurang jelas dan kurang fleksibel kalau mau ke sana-sini, jadi motor memang pilihan paling masuk akal.

Aku sendiri menyewa motor bebek, Honda Blade. Simpel, irit, dan nyaman. Kalau dirupiahkan, biayanya sekitar 150 ribuan VND/hari atau setara 95 ribuan per hari, menurutku murah banget untuk kebebasan bergerak seharian penuh. 

“Kita ke penitipan tas dulu aja ya, biar nggak ribet,” kataku ke travelmate. Dia langsung mengangguk setuju. Setelah itu aku set Google Maps ke lokasi luggage storage dan kami mulai jalan. Awal-awal nyetir di Vietnam Tengah ini rasanya masih agak kagok, terutama karena harus nyetir di kanan. Pas belok dan putar balik, otak masih kebiasaan refleks kiri, jadi beberapa kali harus ekstra fokus. Tapi pelan-pelan mulai kebiasa juga.

Setelah tas dititipkan, kami muter-muter sebentar cari makan siang. Perut sudah mulai minta jatah lagi. Tiba-tiba di pinggir jalan kami nemu sebuah warung yang tampilannya mirip banget sama warteg di Indonesia. Sederhana, etalase lauknya terbuka, dan yang bikin yakin yaitu ramai orang lokal. Kalau sudah ramai orang lokal, biasanya aman.

Kami pun berhenti. Ternyata sistemnya simpel. Semua menu harganya 25.000 dong. Kalau dirupiahkan, itu sekitar 16 ribuan. Murah banget. Aku pesan sayur dan ikan gurame, sementara travelmate pesan menu lain. Dan… OMG. Ini enak banget. Rasanya beneran mirip masakan Indonesia. Sayurnya gurih, ikannya pas, nggak aneh-aneh bumbunya. Bahkan ada menu nasi, sayur tumis, sama iga yang harganya juga tetap 25.000 dong. Murah, kenyang, dan memuaskan. Karena saking miripnya sama masakan rumah di Indonesia, kami sampai becanda dan menamainya “Bu Surti”. Rasanya kayak makan di warteg langganan, tapi lokasinya di Da Nang. Hehe.


Perut kenyang, tenaga sudah terisi penuh. Setelah lihat-lihat Google Maps lagi, kami memutuskan untuk lanjut ke Son Tra Mountain, kawasan pegunungan yang berada di sisi timur Kota Da Nang. Dari pusat kota jaraknya sekitar 10–12 kilometer saja. Tidak terlalu jauh, dan katanya pemandangannya bagus.

Kami kembali naik motor, membelah kota Da Nang yang terasa jauh lebih santai dibanding Ho Chi Minh. Jalanan lebar, lalu lintas relatif tertib, dan pengendara motor nggak saling serobot. Semakin ke arah timur, jalan mulai menyempit dan berkelok. Bangunan kota perlahan berganti pepohonan, dan suasana jadi lebih hijau. Di titik ini, aku mulai merasa lebih PD nyetir di kanan. Badan sudah menyesuaikan, tangan dan mata juga mulai sinkron.

Perjalanan dari pusat kota ke kawasan Son Tra memakan waktu sekitar 30–40. Semakin mendekati tujuan, angin mulai terasa lebih sejuk, dan jalanan yang menanjak pelan-pelan bikin perjalanan terasa menyenangkan, bukan melelahkan. 

Son Tra sendiri sebenarnya adalah sebuah semenanjung sekaligus kawasan pegunungan yang berada di sisi timur Kota Da Nang. Area ini sering disebut juga sebagai Son Tra Peninsula atau Monkey Mountain. Kawasan ini masih cukup alami, dipenuhi hutan tropis, jalan berkelok naik-turun, dan jadi salah satu “paru-paru hijau” Da Nang. Selain dikenal dengan pemandangan laut dari ketinggian, Son Tra juga merupakan habitat langur douc berkaki merah, satwa langka yang jadi ikon kawasan ini. Nggak heran kalau Son Tra dilindungi dan dijaga cukup ketat.

Setelah sekitar setengah jam berkendara dari pusat kota, kami akhirnya sampai di area Son Tra. Di pintu masuk, kami berhenti sebentar untuk membayar tiket masuk. Biayanya tidak mahal, hanya 20.000 dong per orang (kalau dirupiahkan cuma belasan ribu). Setelah itu kami lanjut masuk dan mencari area parkir motor.
Motor kami parkir di area yang sudah disediakan, lalu kami turun dan mulai berjalan kaki. Di sana ada beberapa papan penunjuk arah yang cukup jelas, menunjukkan jalur menuju bagian atas bukit dan beberapa spot pandang. Kami mengikuti sign yang mengarah ke atas, mulai menyusuri jalan setapak yang perlahan menanjak.



Langkah demi langkah, suasana makin terasa hening. Suara kota sudah jauh tertinggal, digantikan suara angin, dedaunan, dan sesekali suara serangga. Jalurnya tidak terlalu ekstrem, tapi cukup untuk bikin napas sedikit naik. Dari sela-sela pepohonan, mulai terlihat kilasan laut biru di kejauhan. 


“Eh, aku ngopi dulu ya,” kataku ke travelmate begitu kami selesai menuruni bukit. Kebetulan di bagian bawah ada sebuah kafe kecil yang kelihatannya santai. Nggak mewah, tapi pas banget buat istirahat sebentar. Aku langsung pesan segelas kopi Vietnam—minuman yang entah kenapa selalu bikin aku pengen setiap kali lihat kafe. Wkwk. Rasanya emang khas dan nagih. Sekalian aku tambah semangkuk kentang goreng buat ganjel perut. Duduk sebentar sambil ngopi setelah kena angin sejuk di atas bukit itu rasanya nikmat banget, semacam jeda kecil yang sempurna di tengah perjalanan.

Setelah cukup istirahat dan badan terasa lebih segar, kami lanjutkan perjalanan. Target berikutnya adalah Marble Mountains. Kami kembali mengarahkan motor ke arah kota, lalu melaju ke selatan menyusuri jalan utama. Perlahan suasana pegunungan berganti lagi dengan hiruk-pikuk kota, hotel-hotel pesisir, dan lalu lintas yang mulai sedikit lebih ramai. 

Sepanjang jalan pesisir menuju Marble Mountains, mataku terus menangkap satu hal yang sama: restoran dan warung seafood berjajar tanpa henti. Dari yang kelihatannya sederhana sampai yang tampilannya cukup niat, semuanya memajang foto-foto kepiting, udang, dan kerang segar. Angin laut, aroma asin, dan papan-papan menu itu benar-benar godaan.

“Eh aduh, aku pengen banget kepiting, ada nggak ya?” teriakku dari depan motor sambil sedikit menoleh.

“Iya, nanti boleh lah kita coba seafood,” jawab travelmate setengah berteriak juga, ngalahin suara angin dari belakang. “Tapi kayaknya mending ke Marble Mountain dulu aja.”

“Siaaap,” jawabku singkat, meski di kepala sudah mulai terbayang gurihnya kepiting.

Tidak lama kemudian, kami akhirnya sampai di pintu masuk Marble Mountains. Bahkan sebelum benar-benar masuk, suasananya sudah terasa berbeda. Di sepanjang jalan menuju area parkir, berjejer banyak toko dan pedagang yang menjual patung-patung batu: Buddha, bodhisattva, dewa-dewi, singa penjaga, sampai ukiran-ukiran dekoratif. Ukurannya macam-macam, dari kecil sampai besar dan berat. Dari sini sudah kelihatan jelas kalau tempat ini memang punya hubungan erat dengan batu dan seni pahat.

Setelah memarkir motor, kami berjalan masuk ke area utama. Marble Mountains sendiri—atau dalam bahasa Vietnam disebut NgÅ© Hành SÆ¡n—adalah kompleks lima bukit batu kapur dan marmer yang berdiri terpisah di dekat pesisir Da Nang. Nama kelima bukit ini diambil dari konsep lima elemen dalam filosofi Timur: logam, kayu, air, api, dan tanah. Yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah Gunung Thá»§y (Air), karena di sinilah sebagian besar gua, pagoda, dan jalur pendakian berada.

Sejak berabad-abad lalu, kawasan ini sudah dianggap sebagai tempat yang sakral. Di dalam bukit-bukit batu ini terdapat gua-gua alami yang kemudian dimanfaatkan sebagai tempat ibadah Buddha dan Tao, lengkap dengan altar, patung, dan ruang meditasi. Pada masa perang, beberapa gua bahkan digunakan sebagai tempat persembunyian dan rumah sakit darurat. Jadi Marble Mountains bukan cuma tempat wisata alam, tapi juga ruang spiritual dan sejarah yang hidup.
Kami mulai naik, menyusuri jalur yang membawa kami masuk ke dalam bukit. Tangga-tangga batu membawa kami melewati lorong-lorong gua yang lembap dan sejuk. Cahaya matahari masuk dari celah-celah di langit-langit gua, menciptakan efek cahaya yang dramatis. Di beberapa titik, berdiri patung-patung Buddha yang tenang, dikelilingi dupa dan persembahan kecil dari pengunjung lokal.
Semakin ke dalam, suasananya makin hening. Rasanya seperti berjalan di antara alam dan kepercayaan, di mana batu, cahaya, dan doa bertemu dalam satu ruang. Dari atas beberapa titik pandang, kami juga bisa melihat laut biru terbentang di kejauhan, kontras dengan warna abu-abu batu kapur di sekeliling kami.

Setelah puas mengeksplor bagian bawah gua, kami dihadapkan pada pilihan berikutnya: naik ke bagian atas. Sebenarnya ada jalur tangga dari dalam gua yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi setelah kami lihat lebih dekat, tangganya tampak basah, licin, dan cukup ramai oleh wisatawan yang naik-turun. Dengan kondisi begitu, rasanya malah bikin deg-degan sendiri.
“Mending bayar lagi aja dan naik lift ya, lebih aman,” kataku ke travelmate. Dia langsung setuju tanpa banyak debat. Kami pun memilih opsi lift, meskipun harus nambah biaya sedikit, tapi jauh lebih tenang.

Begitu pintu lift terbuka di atas, suasananya langsung berubah. Kami tiba di area terbuka di puncak gunung, dengan angin yang cukup kencang dan pemandangan yang terasa lebih luas. Di sini berdiri beberapa kuil kecil dan altar, tertata rapi di antara bebatuan dan pepohonan. Tempat ini terasa lebih terang, lebih lapang, dan sekaligus lebih sakral.

Di salah satu sudut, berdiri patung Dewi Kuan Im yang anggun. Dalam tradisi Buddha Mahayana, Kuan Im dikenal sebagai bodhisattva welas asih—simbol kasih sayang, perlindungan, dan pengampunan. Banyak orang datang ke patung ini untuk berdoa, menyalakan dupa, atau sekadar menundukkan kepala dengan hening. Wajah patungnya lembut, posturnya tenang, seolah memberi rasa aman bagi siapa pun yang berdiri di depannya.

Tak jauh dari sana, terdapat patung Buddha dalam posisi meditasi. Duduk bersila, wajahnya tenang dan damai, kontras dengan angin yang berembus cukup kencang di puncak. Patung-patung ini bukan sekadar hiasan, tapi bagian dari praktik spiritual yang masih hidup. Terlihat beberapa pengunjung lokal berdoa dengan khusyuk, membuat suasana jadi terasa lebih sakral dan menghormati.
Berjalan di area atas ini rasanya seperti berada di pertemuan antara langit, laut, dan batu. Dari beberapa titik, kami bisa melihat laut lepas di kejauhan, kota Da Nang terbentang di bawah, dan bukit-bukit batu kapur yang berdiri kokoh di sekitar kami. Marble Mountains benar-benar menunjukkan sisi Vietnam yang berbeda—bukan hanya soal kota dan pantai, tapi juga tentang ruang spiritual yang menyatu dengan alam.

Setelah puas berkeliling area atas Marble Mountains dan duduk sebentar menikmati angin, kami akhirnya sepakat untuk bergeser. Waktu sudah mulai sore, dan masih ada satu urusan penting yang harus dibereskan: mengambil tas di luggage storage. Selain itu, tujuan utama hari ini sebenarnya belum selesai, karena malam nanti kami berencana lanjut motoran ke Hoi An.

Kami turun kembali, naik motor, lalu bergerak ke arah kota. Jalanan sore itu cukup ramai, tapi masih dalam batas nyaman. Di kepala, satu rencana kecil yang tadi sempat tertunda kembali muncul—makan seafood. Hehehe. Sejak melewati deretan restoran di sepanjang pesisir tadi, rasanya sayang kalau Danang dilewati tanpa mencicipi seafood-nya.

Dalam perjalanan pulang, kami pelan-pelan memperhatikan restoran-restoran di pinggir jalan. Setelah melewati beberapa tempat, akhirnya kami sepakat berhenti di sebuah restoran seafood buffet. Harganya 230.000 dong per orang. Kalau dirupiahkan, sekitar seratus lima puluh ribuan. Masih masuk akal, apalagi setelah seharian jalan dan tenaga sudah lumayan terkuras.

Kami diarahkan ke lantai dua, lalu duduk di meja dengan kompor hotpot di tengah. Pilihan kuahnya ada dua—satu tom yum, satunya lagi kuah bening entah namanya apa, aku juga lupa. Hehe. Yang jelas, dua-duanya hangat dan cocok buat sore menjelang malam.

Seafood-nya cukup lengkap: ada udang, cumi, gurita, dan beberapa jenis kerang. Memang nggak ada kepiting—sedikit kecewa sih, tapi ya sudahlah. Kami juga dikasih berbagai macam sayur untuk hotpot, tahu, dan pelengkap lain. Plus dua botol bir Tiger per orang.

Duduk santai sambil menunggu kuah mendidih, badan rasanya langsung turun tegangnya. Setelah panas, kami mulai memasukkan seafood satu per satu ke dalam panci. Uap panas naik, aroma kuah bercampur seafood langsung bikin perut makin lapar. Makanannya enak, nggak yang wah banget, tapi pas. Hangat, gurih, dan bikin nyaman setelah seharian motoran dan jalan kaki.

Kami makan tanpa terburu-buru, sambil ngobrol ringan, sesekali lihat keluar jendela. Ini tipe makan yang memang bukan soal rasa doang, tapi soal jeda—jeda sebelum perjalanan berikutnya.

Setelah cukup kenyang dan puas, kami bayar dan kembali ke motor. Langit mulai gelap, lampu-lampu jalan sudah menyala. Dari sini, kami langsung menuju luggage storage untuk mengambil tas. Setelah semua barang kembali lengkap, perjalanan belum selesai. 

Dengan membawa satu tas ransel besar dan satu koper, kami akhirnya benar-benar memulai perjalanan motoran menuju Kota Hoi An. Ransel besar kupakai di punggung, sementara koper diikat rapi di belakang motor. Di depan, dari tas kecil yang kugantung, headset menjulur keluar—Google Maps setia memberi arahan: belok kiri, lurus, putar balik, lalu lurus lagi. Aku tinggal fokus jaga gas dan keseimbangan.

Perjalanan dari Da Nang ke Hoi An kami tempuh lewat jalan raya yang sebagian membentang di sepanjang pesisir. Sore itu langit mulai berubah warna, biru terang pelan-pelan meredup. Di sisi kanan, laut terlihat luas dan tenang, sementara di kiri berjajar bangunan, hotel, dan sesekali warung kecil. Angin pantai cukup kencang, tapi justru bikin perjalanan terasa segar. Motor melaju stabil, lalu lintas tidak terlalu padat, dan suasananya jauh lebih santai dibanding Ho Chi Minh City.

Semakin mendekati Hoi An, cahaya mulai berkurang. Matahari benar-benar turun, dan lampu jalan satu per satu menyala. Begitu masuk area kota, suasananya langsung terasa berbeda. Hoi An lebih gelap, lebih tenang, dan tidak seramai Da Nang. Jalanannya lebih sempit, ritme kotanya juga terasa lebih pelan.

Kami berhenti di depan penginapan yang sudah kubooking sebelumnya. Bangunannya terlihat sederhana, dengan pintu kaca transparan di bagian depan. Aku turun dari motor dan mencoba mengetuk pintu kaca itu beberapa kali. Sepi. Nggak ada orang. Aku coba lagi, lebih keras sedikit. Tetap tidak ada respons.

“Waduh… bentar ya, aku chat mereka di Booking deh,” kataku ke travelmate.

Aku buka aplikasi Booking, dan baru sadar—ternyata sejak siang mereka sudah beberapa kali mengirim pesan, nanya aku akan sampai jam berapa. Aku scroll chat-nya, dan di situ tertulis kalau penginapan tersebut sudah tutup lebih awal karena sedang ada acara. Jujur, di situ aku sempat bengong sebentar. Malam, sudah sampai Hoi An, badan capek, dan penginapan malah tidak bisa ditempati. Rasanya agak buntu.

Tapi ya mau gimana. Panik nggak akan menyelesaikan apa-apa.

Aku langsung balas chat mereka, minta supaya kartu kreditku tidak di-charge, karena penginapan ini memang tidak bisa dicancel. Untungnya mereka responsif dan mengerti situasinya. Setelah itu, tanpa banyak mikir, aku langsung cari penginapan lain di sekitar Hoi An lewat aplikasi.

Nggak lama, ketemu satu tempat yang kelihatannya menarik. Namanya ada kata library-library gitu. Foto-fotonya bagus, ulasannya juga tinggi—rating 9,6. Tanpa ragu, aku langsung booking dan set Google Maps ke sana. Kami kembali naik motor dan meluncur, berharap kali ini nggak zonk lagi.

Beberapa menit kemudian, kami sampai. Begitu berhenti di depan penginapan ini, kesannya langsung beda. Bangunannya hangat, rapi, dan terasa “niat”. Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya menyambut kami dengan senyum ramah. Dari awal rasanya sudah lega.

Proses check-in cepat dan tanpa ribet. Kami diajak naik ke lantai dua, dan saat pintu kamar dibuka… jujur, kami kaget. Kamarnya bagus banget. Bersih, rapi, lengkap, tempat tidurnya nyaman, kamar mandinya juga oke. Jauh di atas ekspektasi kami. Yang bikin makin nggak nyangka, harga kamar ini cuma sekitar 125 ribu rupiah per malam.

Kami saling pandang dan langsung merasa bersyukur banget. Dari sempat panik karena penginapan pertama zonk, malah berujung dapat tempat yang kualitasnya jauh lebih baik. Kadang perjalanan memang gitu—ada sedikit chaos di tengah, tapi ujung-ujungnya justru dikasih bonus.

Malam itu kami nggak ke mana-mana lagi. Badan sudah capek setelah beraktivitas dari pagi-pagi buta. Kami memilih mandi, rebahan, dan istirahat total. Besok masih ada satu kota yang menunggu untuk dijelajahi dengan lebih santai.

Cảm ơn, Da Nang.
Hoi An, sampai jumpa besok.


Part Selanjutnya : DISINI

0 comments:

Posting Komentar