Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

1.28.2026

[Part 5] Cam on Vietnam : Eksplor Kota Ho Chi Minh (2)!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI

Gereja Tan Dinh di Ho Chi Minh City

Ho Chi Minh City, 4 Februari 2023

 Hari ini kami bangun agak siang, hampir jam 12 tepatnya. Hoahhmmm... aku mengangkat badan sambil menggeliat. Badan rasanya masih berat karena semalam tidak terlalu bisa tidur, baru benar-benar terlelap lewat jam tiga pagi. Namun yaa.. show must go on! Hari ini rencana kami adalah melanjutkan eksplor Kota Ho Chi Minh, dengan target tempat-tempat yang dikunjungi seperti Museum of Vietnamese History, Gereja Tan Dinh, dan selebihnya mengikuti alur kaki saja. Mau tidak mau, kami harus tetap menjalankan itinerary karena besok sudah akan bergeser ke kota selanjutnya, Danang.

Seperti kemarin, siang kami awali dengan makan di KFC dekat penginapan. Entah kenapa KFC jadi pilihan paling aman selama di sini—rasanya konsisten, porsinya dan harganya jelas. Setelah makan, kami berjalan ke halte dan naik bus kota menuju sebuah museum yang cukup terkenal di Ho Chi Minh City, yaitu Museum of Vietnamese History. Aku sendiri cukup menyukai kunjungan ke museum karena disinilah kita bisa mendapatkan pengetahuan singkat tentang sejarah negara yang kita kunjungi.

Begitu masuk, hal pertama yang kami lihat adalah peta kunjungan museum. Alurnya disusun kronologis, membawa pengunjung menyusuri sejarah Vietnam dari masa prasejarah, kerajaan-kerajaan awal, hingga pengaruh budaya asing yang membentuk identitas Vietnam hari ini. Peta ini jadi semacam panduan arah kami berjalan, supaya kami tidak sekadar melihat artefak, tapi paham konteks zamannya.

Di salah satu ruang awal, kami mulai diperkenalkan pada Budaya Óc Eo, sebuah peradaban kuno yang berkembang di wilayah Vietnam Selatan sekitar abad pertama hingga ketujuh Masehi. Di dinding terpajang panel informasi tentang artefak keagamaan, menampilkan nama-nama yang terdengar akrab bagi kita di Asia Tenggara seperti Buddha, Vishnu, hingga Nandi. Dari sini langsung terlihat bahwa sejak ribuan tahun lalu, wilayah Vietnam sudah terhubung dengan dunia luar, terutama India, lewat jalur perdagangan maritim.

Beberapa artefak batu memperlihatkan patung-patung dewa dan figur religius dengan gaya pahatan yang halus namun tegas. Ada arca penjaga dengan wajah garang dan postur kokoh, yang dulunya kemungkinan ditempatkan di pintu masuk candi atau bangunan suci. Patung-patung ini bukan sekadar hiasan, tapi simbol perlindungan spiritual, penanda bahwa kepercayaan memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat kala itu.

Kami juga melihat potongan patung tubuh manusia, sebagian sudah kehilangan kepala atau tangan. Meski tidak utuh, justru dari ketidaksempurnaannya terasa betapa tuanya artefak-artefak ini. Mereka adalah saksi bisu dari peradaban yang pernah berjaya, lalu perlahan terkikis oleh waktu, alam, dan perubahan sejarah.

Salah satu patung yang paling menarik perhatian adalah arca manusia dalam posisi duduk bersila, tangan menyatu di depan dada, wajahnya tenang dan damai. Ini jelas menunjukkan pengaruh ajaran Buddha yang kuat di Vietnam, terutama pada periode ketika agama ini berkembang pesat dan menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat.

Tak hanya batu, museum ini juga menyimpan patung-patung kayu kuno. Bentuknya sederhana, bahkan cenderung kasar, namun justru terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat masa lalu. Patung-patung kayu ini kemungkinan berasal dari lingkungan rawa atau sungai, di mana kondisi tanah membantu mengawetkannya selama ratusan tahun. Dari sini terlihat bahwa sejarah Vietnam bukan hanya milik istana dan candi, tapi juga kehidupan rakyat biasa.

Di sudut lain, berdiri prasasti batu dengan tulisan aksara kuno yang rapat dan penuh simbol. Tulisan-tulisan ini biasanya berisi doa, penetapan wilayah suci, atau catatan peristiwa penting. Prasasti semacam ini menandai awal tradisi tulis di Vietnam, bukti bahwa peradaban di sini sudah mengenal sistem kepercayaan dan pemerintahan yang terstruktur.

Deretan pilar batu candi dengan ukiran floral dan geometris menunjukkan sisa-sisa kejayaan arsitektur kuno. Meski kini hanya berdiri sebagai fragmen, pilar-pilar ini memberi gambaran tentang bangunan besar dan megah yang pernah ada, memperlihatkan tingkat keterampilan seni dan teknik yang tinggi pada zamannya.

Di bagian lain, kami menemukan koleksi Lingga dan Yoni, simbol penting dalam ajaran Hindu yang melambangkan kesuburan, penciptaan, dan keseimbangan alam. Kehadiran simbol ini menegaskan bahwa wilayah Vietnam Selatan pernah menjadi ruang pertemuan berbagai budaya dan kepercayaan, jauh sebelum Vietnam modern terbentuk.

Tak jauh dari situ, sebuah batu besar berbentuk datar dengan lubang di tengahnya menarik perhatianku. Ini adalah bagian dari struktur Yoni, pasangan dari Lingga. Permukaannya halus oleh waktu, namun bentuknya masih jelas. Melihatnya dari dekat, rasanya seperti menatap altar yang pernah menjadi pusat ritual berabad-abad lalu, ketika manusia percaya bahwa kehidupan, kesuburan, dan keseimbangan alam harus selalu dijaga lewat simbol dan upacara.

Panel informasi di dinding menjelaskan tentang konsep Lingga sebagai simbol Dewa Siwa, prinsip penciptaan sekaligus penghancuran dalam ajaran Hindu. Penjelasan itu membuat artefak batu di depan kami terasa hidup. Bukan lagi benda mati, tapi penanda sebuah fase sejarah ketika kepercayaan India mengalir masuk ke wilayah Vietnam melalui jalur perdagangan dan pertukaran budaya.

Kami kemudian masuk ke ruang dengan panel besar yang menjelaskan seni pahat batu di Asia Tenggara. Meski beberapa contoh berasal dari wilayah yang kini masuk Kamboja, pengaruhnya jelas terasa hingga Vietnam. Relief-relief batu yang dipamerkan memperlihatkan betapa erat hubungan budaya di kawasan ini. Tema-tema keagamaan, makhluk mitologis, hingga motif alam dipahat dengan detail luar biasa, mencerminkan keterampilan tinggi para pengrajin masa lalu.

Salah satu relief panjang menampilkan adegan penuh gerak: manusia, hewan, dan ornamen tumbuhan saling bertaut. Ukirannya rumit, padat, dan nyaris tanpa ruang kosong. Relief seperti ini biasanya menghiasi dinding candi atau bangunan suci, menjadi “cerita visual” bagi masyarakat yang mungkin belum mengenal tulisan secara luas.

Tak jauh dari sana, sebuah kepala patung Buddha dengan ukiran halus berdiri sendiri. Wajahnya tenang, matanya setengah terpejam, dikelilingi hiasan yang rumit di bagian kepala. Meski tubuhnya sudah tak utuh, ekspresi wajahnya masih menyimpan keteduhan. Patung semacam ini mengingatkan bahwa ajaran Buddha juga pernah mengakar kuat di wilayah ini, hidup berdampingan dengan pengaruh Hindu dalam waktu yang lama.

Di ruang lain, diorama besar menampilkan adegan pertempuran di pegunungan. Miniatur tentara, bendera, dan medan terjal disusun dengan detail luar biasa. Diorama ini menceritakan perjuangan militer Vietnam di masa lalu, memperlihatkan bagaimana alam yang keras sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah peperangan dan pertahanan wilayah.

Kami lalu berhenti di depan beberapa panel batu berukir motif naga dan pola geometris. Motif-motif ini memperlihatkan peralihan gaya, dari pengaruh India menuju identitas lokal yang semakin kuat. Bentuk naga, misalnya, kemudian menjadi simbol penting dalam budaya Vietnam, berbeda maknanya dengan naga dalam tradisi India maupun Tiongkok.

Patung-patung kayu berwarna yang menggambarkan figur bangsawan atau tokoh penting juga ikut dipamerkan. Warna catnya memang sudah memudar, beberapa bagian terkelupas, tapi justru itu yang membuatnya terasa manusiawi. Ekspresi wajah dan gestur tubuhnya memperlihatkan bagaimana seni tidak hanya digunakan untuk pemujaan, tapi juga untuk merekam struktur sosial dan kehidupan sehari-hari.

Di bagian lain, koleksi keramik ritual dipajang rapi. Ada tempat dupa, kaki lampu, dan wadah persembahan dengan hiasan naga, awan, dan motif floral. Keramik-keramik ini menunjukkan bagaimana praktik keagamaan terus berkembang, beradaptasi dengan budaya lokal, dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Vietnam selama berabad-abad.

Begitu masuk ke ruang pamer berikutnya, kami langsung disambut sebuah patung besar Avalokitesvara bermuka banyak dan berlengan seribu yang berdiri megah di tengah ruangan. Patung ini benar-benar mencuri perhatian. Dalam tradisi Buddha Mahayana yang berkembang kuat di Vietnam, Avalokitesvara melambangkan welas asih tanpa batas. Banyaknya wajah dan tangan bukan sekadar estetika, tapi simbol kemampuan untuk melihat penderitaan dari segala arah dan menolong siapa pun yang membutuhkan. Melihat patung ini, aku langsung paham kenapa ajaran Buddha begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat Vietnam selama berabad-abad, bukan hanya sebagai agama, tapi juga sebagai nilai hidup.

Beranjak ke etalase berikutnya, kami melihat koleksi koin-koin kuno yang disusun rapi berdasarkan masa pemerintahan. Koin-koin ini berasal dari periode Dinasti Tây Sơn hingga awal Dinasti Nguyen. Dari benda sekecil ini, terlihat jelas bagaimana Vietnam membangun sistem ekonomi dan administrasi negara sendiri, sekaligus menunjukkan pengaruh kuat Tiongkok lewat bentuk koin berlubang di tengah yang memudahkan pengikatan. Uang-uang ini bukan cuma alat tukar, tapi juga penanda kedaulatan dan legitimasi kekuasaan raja-raja Vietnam di masa lalu.

Tak jauh dari situ, koleksi peralatan ritual berbahan perunggu dipajang dengan pencahayaan temaram. Bentuknya rumit, penuh ukiran naga, burung, dan motif kosmis. Benda-benda ini dulunya digunakan dalam upacara keagamaan dan ritual istana, terutama pada masa Dinasti Nguyen. Dari sini terasa jelas betapa seni, spiritualitas, dan kekuasaan saling terjalin erat dalam sejarah Vietnam—bahwa benda ritual bukan hanya alat ibadah, tapi juga simbol status dan otoritas.

Di sisi lain ruangan, kami menemukan deretan sendok dan wadah kecil dari berbagai bahan. Sekilas terlihat sederhana, tapi benda-benda ini memberi gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat Vietnam tempo dulu. Dari peralatan makan dan minum seperti ini, terlihat bahwa budaya minum teh, ritual keluarga, dan kebiasaan domestik sudah berkembang sejak lama, bahkan di kalangan bangsawan.

Langkah kami kemudian terhenti di depan koleksi pakaian istana yang dipajang di balik kaca besar. Jubah-jubah bersulam naga dan awan ini dulunya dikenakan oleh keluarga kerajaan Dinasti Nguyen. Motif naga melambangkan kaisar, sementara warna dan detail sulaman menunjukkan hierarki sosial. Melihatnya dari dekat, aku baru benar-benar menyadari bahwa pakaian di masa itu adalah bahasa visual kekuasaan—siapa yang boleh memakai apa, semua diatur ketat oleh negara.

Tak jauh dari situ, sebuah panel khusus menampilkan seni enamel Dinasti Nguyen. Benda-benda ini menunjukkan tingkat keterampilan luar biasa para pengrajin Vietnam abad ke-19. Seni enamel berkembang pesat saat Vietnam mulai menyerap teknologi dan teknik dari luar, tapi tetap mengolahnya dengan identitas lokal. Ini menjadi bukti bahwa Vietnam bukan sekadar penerima budaya, tapi juga kreator yang adaptif.

Kami kemudian kembali bertemu dengan koleksi mata uang, kali ini ditata lebih lengkap dan kronologis. Dari sini terlihat bagaimana sistem moneter Vietnam terus berubah mengikuti dinamika politik, dari raja-raja awal Nguyen hingga masa-masa terakhir kerajaan sebelum kolonialisme Prancis menguat. Setiap koin seolah menjadi saksi kecil dari pergantian kekuasaan yang besar.

Di bagian bawah etalase, dipamerkan batangan perak dan cetakan mata uang . Batangan ini dulunya digunakan sebagai alat transaksi bernilai tinggi dan cadangan kekayaan negara. Keberadaannya menegaskan bahwa Vietnam pernah memiliki sistem ekonomi yang cukup kompleks dan terorganisir, jauh sebelum modernisasi ala Barat masuk.

Ruang berikutnya membawa kami ke koleksi busana etnis dari berbagai kelompok minoritas [Foto 9]. Warna-warnanya kuat, motifnya khas, dan tiap detailnya mencerminkan identitas komunitas yang berbeda. Vietnam ternyata bukan hanya satu wajah, tapi mosaik budaya dari pegunungan utara hingga dataran rendah selatan. Koleksi ini mengingatkanku bahwa sejarah Vietnam tidak hanya ditulis oleh istana dan perang, tapi juga oleh kehidupan masyarakat adat yang terus bertahan dengan caranya sendiri.

Dan akhirnya, kami sampai di salah satu titik paling hening sekaligus paling menggetarkan di museum ini [Foto 10]. Di balik kaca, terbaring tubuh seorang biksu yang diawetkan dalam posisi meditasi. Ia bukan sekadar jenazah, melainkan simbol disiplin spiritual tingkat tinggi. Biksu ini diyakini mencapai kondisi meditasi mendalam sebelum wafat, dan tubuhnya kemudian diawetkan oleh murid-muridnya sebagai bentuk penghormatan. Tidak ada kesan seram—yang ada justru rasa sunyi dan hormat. Di titik ini, sejarah terasa sangat manusiawi: tentang keyakinan, pengabdian, dan pencarian makna hidup.

Museum sudah hampir tutup ketika kami selesai mengelilingi seluruh bagiannya. Jam menunjukkan hampir pukul lima sore, kaki rasanya sudah berat, kepala penuh oleh potongan-potongan sejarah Vietnam yang tadi kami lihat satu per satu—dinasti, agama, kolonialisme, sampai perlawanan. Namun aku sangat puas, aku memang senang jika mendapatkan informasi spesifik dan lengkap dari setiap tempat yang kukunjungi.

“Eh, kita mampir ke Gereja Tan Dinh juga ya,” kataku ke travelmate. Alasannya sederhana tapi kuat: Tan Dinh bukan cuma gereja yang terkenal karena warnanya yang pink mencolok, tapi juga saksi kehadiran Katolik di Vietnam sejak masa kolonial Prancis. Gereja ini dibangun akhir abad ke-19, di masa ketika Saigon masih sangat kental nuansa Eropa, dan menjadi salah satu pusat komunitas Katolik terbesar di kota ini. 

Kami pun naik bus, membelah kota Ho Chi Minh yang mulai berubah ritmenya menjelang sore. Dari jendela bus, Saigon terasa sibuk. Motor masih lalu-lalang, cahaya matahari mulai lebih lembut, dan udara panas siang tadi perlahan turun tensinya. Tak lama, kami turun persis di halte depan gereja. Lokasinya benar-benar strategis, seperti sengaja diletakkan agar siapa pun yang lewat mau tak mau menoleh.

Begitu masuk ke dalam gereja, suasananya langsung berubah. Interiornya terang, tinggi, dan terasa megah tanpa berlebihan. Langit-langitnya menjulang dengan lengkungan-lengkungan khas Eropa, lampu gantung klasik, deretan bangku kayu yang rapi, dan kaca patri di altar yang memantulkan cahaya dengan lembut. Di sini, aku bisa merasakan bagaimana agama, arsitektur, dan sejarah kolonial bertemu dalam satu ruang yang hening.

Gereja Tan Dinh sendiri selesai dibangun sekitar tahun 1876, pada masa pemerintahan kolonial Prancis. Ia menjadi simbol bagaimana Katolik—yang dibawa misionaris Eropa—berakar cukup kuat di Vietnam, berdampingan dengan Buddhisme dan kepercayaan tradisional. Bangunannya sempat direnovasi beberapa kali, dan warna pink yang ikonik itu justru baru muncul jauh belakangan, menjadikannya salah satu gereja paling fotogenik di Asia Tenggara.

Setelah puas melihat-lihat bagian dalam, kami keluar dan mulai mengambil beberapa foto di bagian depan. Dari dekat, fasad gereja terlihat anggun dengan detail-detail kecil khas arsitektur Gothic dan Romanesque yang disederhanakan. Menaranya menjulang, jam besar di tengahnya seakan mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, meski bangunannya sendiri sudah berdiri lebih dari satu abad.

Namun belum lama kami berdiri dan foto-foto, datang seorang bapak-bapak yang sepertinya bertugas di sana. Nada bicaranya tegas tapi tidak marah. Ia bilang gereja akan segera digunakan untuk misa dan sementara ditutup untuk pengunjung. Dari raut wajahnya, kelihatan jelas ia kurang suka melihat turis berkumpul terlalu lama—ya wajar sih, ini tetap tempat ibadah, bukan objek wisata semata. Kami cuma bisa senyum-senyum kecil sambil mengangguk, lalu perlahan mundur.

Akhirnya kami menyeberang jalan dan melanjutkan memotret dari seberang. Dari sudut ini, warna pink gereja justru terlihat lebih jelas, kontras dengan langit sore yang mulai kebiruan. Tan Dinh tampak tenang, berdiri anggun di tengah hiruk-pikuk kota, seperti pengingat bahwa Saigon bukan cuma soal perang dan revolusi, tapi juga tentang iman, budaya, dan jejak panjang sejarah yang berlapis-lapis.

Dari Tan Dinh, waktu sudah menunjukkan cukup sore. Sebenarnya kami sudah tidak punya target tempat spesifik lagi yang ingin dikunjungi hari itu. Kaki juga mulai terasa berat, tapi entah kenapa rasanya masih malas kalau harus langsung pulang ke hotel. Toh besok kami sudah meninggalkan Ho Chi Minh City. Aku lalu nyeletuk ke travelmate, “Bentar ya, aku lihat Google Maps dulu. Cari area yang masih bisa dikunjungi dan masih rame kalau malam.”

Aku scroll peta, zoom in–zoom out, sampai akhirnya mataku tertarik ke satu titik di tepi sungai. Riverside park. Di beberapa ulasan tertulis kalau di area ini ada water taxi yang bisa dipakai buat keliling Sungai Saigon (yang masih satu sistem dengan Sungai Mekong). “Eh, ini katanya bisa naik water taxi keliling sungai. Mau cobain?” tanyaku. Tanpa mikir lama, travelmate langsung jawab, “Boleh lah, sikat.”

Setelah set tujuan di Google Maps, kami naik bus membelah kota Ho Chi Minh yang mulai masuk jam pulang kerja. Lampu-lampu gedung mulai menyala, lalu lintas padat tapi terasa hidup. Sekitar setengah jam perjalanan, kami turun di sebuah area terbuka dengan patung besar berdiri gagah di tengahnya.

Patung itu adalah patung Trần Hưng Đạo, salah satu pahlawan nasional Vietnam yang sangat dihormati. Ia adalah jenderal legendaris Dinasti Trần yang berhasil memukul mundur invasi Mongol dari Dinasti Yuan pada abad ke-13. Melihat patung pahlawan bersejarah ini berdiri di tengah kawasan modern yang dipenuhi gedung-gedung tinggi rasanya cukup simbolis — sejarah dan Vietnam modern berdiri berdampingan, tanpa saling meniadakan.

Selesai foto-foto sebentar, kami berjalan mendekat ke arah tepi sungai. Di sepanjang riverwalk ini berjajar kafe dan tempat nongkrong dengan kursi-kursi santai menghadap air. Kami memilih salah satu kafe, masuk ke bagian dalam, lalu memesan es kopi masing-masing dan sepotong cake. Duduk santai sambil ngelihat sungai di depan mata, rasanya pas banget buat nutup hari yang panjang.

Setelah ngopi, kami keluar lagi ke area luar kafe. Di tepi sungai, banyak kursi santai berjajar rapi. Awalnya kami pikir itu kursi umum yang memang disediakan pemerintah buat duduk-duduk. Jadi ya kami duduk aja dengan santainya.

Sampai tiba-tiba aku nyeletuk, “Aku laper deh.”
Tanpa banyak mikir, aku langsung buka Grab dan pesan nasi ayam porsi jumbo. Dalam kepala kami, ini rencananya ideal: duduk santai di tepi sungai, makan malam, sambil lihat suasana malam kota. Wkwk.

Nggak lama kemudian, pesanan Grab datang. Kami makan dengan penuh kenikmatan, sampai di tengah-tengah makan, tiba-tiba datang seorang perempuan yang sepertinya pegawai dari kafe tadi. Dengan sopan, dia meminta kami untuk memesan minuman lagi.

Awalnya kami agak bengong. Lah, bukannya ini kursi umum? Kami juga barusan pesan minuman di dalam. Tapi setelah aku lihat sekeliling lebih seksama, baru sadar… semua kursi ini ternyata bagian dari kafe. Dan kami dengan polosnya malah makan nasi ayam pesan Grab di area mereka. Astaga....

Begitu sadar, aku langsung berdiri dan pesan satu minuman lagi. Biar nggak makin malu. Wkwk.

Malam makin turun, suasana riverwalk justru makin ramai. Banyak anak muda nongkrong, keluarga jalan-jalan, pasangan duduk santai, musik pelan terdengar dari beberapa kafe. Lampu-lampu gedung di seberang sungai memantul di permukaan air, bikin suasananya hangat dan hidup.

Kami sempat tanya-tanya soal water taxi, tapi ternyata antreannya panjang banget. Setelah dipikir-pikir, ya sudahlah. Nongkrong seperti ini saja sudah cukup menyenangkan. Aku sempat buka laptop dan lanjut ngerjain sedikit kerjaan. Jujur aja sih, nggak terlalu fokus. Namanya juga lagi liburan, tapi deadline tetap jalan. Hidup memang kadang begitu, wkwk.

Sekitar jam 9 malam, setelah cukup lama duduk dan ngobrol, kami akhirnya memutuskan untuk mulai jalan pulang ke hotel. Kami menyusuri taman-taman kecil di sepanjang tepi Sungai Saigon. Jalurnya rapi, bersih, dengan lampu-lampu taman yang lembut. Banyak orang duduk di rumput, ada yang sekadar ngobrol, ada yang menikmati angin malam.

Perlahan rasa capek baru benar-benar terasa. Kami menunggu bus di pinggir jalan, lalu akhirnya kembali ke hotel dengan badan lelah tapi hati cukup penuh. Hari ini rasanya lengkap — sejarah, kota modern, kopi, sungai, dan sedikit kejadian konyol yang justru bikin perjalanan makin berkesan.

Terima kasih, Ho Chi Minh City, untuk satu hari yang memorable ini. Kuabadikan dalam bentuk tulisan ini....


PART Selanjutnya : DISINI

0 comments:

Posting Komentar